Anda di halaman 1dari 6

Jurnal Teknik Pertanian Lampung Vol.3, No.

3: 233-238

PENDUGAAN KEBUTUHAN AIR TANAMAN DAN NILAI KOEFISIEN


TANAMAN (Kc) KEDELAI (Glycine max (L) Merril ) VARIETAS
TANGGAMUS DENGAN METODE LYSIMETER

ESTIMATION OF WATER REQUIREMENT AND CROP COEFFICIENT (Kc) OF


SOYBEAN (Glycine max (L) Merril) VARIETY OF TANGGAMUS WITH
LYSIMETER
Tia Yuliawati1, Tumiar Katarina Manik2, R.A.Bustomi Rosadi3

1
Mahasiswa Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
2
Staf Pengajar Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung
3
Staf Pengajar Teknik Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung

komunikasi e-mail :tiayuliawati31@gmail.com

Naskah ini diterima pada 16 Oktober 2014; revisi pada 22 Oktober 2014;
disetujui untuk dipublikasikan pada 24 Oktober 2014

ABSTRACT
Production of soybean is unbalanced. Increasing number and need of the population is one causes of soybeans
scarcity. One factor needs to be considered in soybean cultivation is crop water requirement. This study aims to
determine the water requirement of soybean by measuring evapotranspiration of soybean local varieties directly
by lysimeter (2x3x1) meters. Field observations carried out at two lysimeters to measure crop evapotranspiration
(ETc) variety of Tanggamus and one plot planted with grass as standard evapotranspiration (potential). The
results showed that total soybean crop water requirement (ETc) for Tanggamus is 490.02 mm or 6.3 mm/hari and
the total per-phase ETc is 5.4; 4.8; 6.7; 7.9 mm/hari. Soybean crop coefficient values (Kc) in the early growth
phase, active vegetative, fertilization or seed pod filling, and maturity for the varieties Tanggamus is 0:48; 0.69;
0.9; 0.78.

Keywords: Soybean, lysimeter, evapotranspiration, crop coefficient.

ABSTRAK
Produksi kedelai yang tidak seimbang dengan bertambahnya jumlah dan kebutuhan penduduk merupakan salah
satu penyebab kelangkaan komoditi kedelai. Untuk memenuhi kebutuhan kedelai, salah satu hal yang perlu
diperhatikan dalam budidaya tanaman kedelai adalah kebutuhan air tanaman. Penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui kebutuhan air tanaman kedelai varietas Tanggamus dengan cara mengukur evapotranspirasi tanaman
kedelai secara langsung dengan menggunakan lysimeter (2x3x1) meter. Penelitian ini dilakukan pada dua bangunan
lysimeter untuk mengukur evapotranspirasi tanaman (ETc) varietas Tanggamus dan yang satu petak ditanami
rumput sebagai evapotranspirasi standar (potensial). Hasil penelitian menunjukkan, bahwa total kebutuhan air
tanaman kedelai (ETc) untuk varietas Tanggamus adalah 490.02 mm dengan total ETc per-fase berturut-turut
adalah 5.4; 4.8; 6.7; 7.9 mm/hari. Nilai koefisien tanaman kedelai (Kc) pada fase pertumbuhan awal, vegetatif
aktif, pembuahan atau pengisian polong, dan kematangan biji untuk varietas Tanggamus yaitu 0.48; 0.69; 0.9;
0.78.

Kata kunci : Kedelai, lysimeter, evapotranspirasi, koefisien tanaman.

I. PENDAHULUAN merupakan salah satu penyebab kelangkaan


komoditi kedelai. Untuk memenuhi kebutuhan
Pertanian merupakan salah satu sektor penting kedelai maka perlu adanya peningkatan dalam
dalam ekonomi Indonesia. Namun, permasalahan produktivitas yaitu dengan cara menerapkan
yang baru-baru ini terjadi adalah produksi yang teknologi pembudidayaan yang lebih baik,
tidak seimbang seiring dengan bertambahnya ataupun dengan cara perluasaan areal tanaman.
jumlah dan kebutuhan penduduk, yang Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam

233
Pendugaan kebutuhan air.... (Tia Y, Tumiar M dan Bustomi R)

pembudidayaan tanaman kedelai adalah satu set ombrometer yang digunakan untuk
kebutuhan air tanaman. Oleh karena itu, mengukur curah hujan.
kebutuhan air tanaman kedelai perlu diketahui
agar pemberian air menjadi lebih efektif dan Rumus yang digunakan untuk menghitung
efisien serta memberikan hasil panen yang lebih evapotranspirasi tanaman adalah sebagai
baik. berikut:

Kebutuhan air tanaman bagi satu rumpun ET = I + CH – P ± ES ………………………………. (1)


tanaman kedelai adalah sama dengan banyaknya
air yang hilang akibat proses evapotranspirasi Ket :
dalam satu satuan waktu (Fagi dan Tangkuman, ET = evapotranspirasi tanaman (mm/hari)
1985). Kebutuhan air irigasi pada areal produksi I = irigasi (mm)
dapat dihitung, jika kebutuhan air tanaman CH = curah hujan (mm)
kedelai sudah diketahui. P = perkolasi
ES = perubahan kadar air tanah (% volume)
Metode pendugaan yang direkomendasikan oleh
FAO (Food and Agriculture Organization) dalam Penelitian ini dilakukan di dalam dan di luar
menghitung laju evapotranspirasi adalah metode Lysimeter namun, untuk tanaman yang berada
Penman Monteith, tetapi metode ini di luar lysimeter, air hanya di peroleh pada curah
dikembangkan di negara Sub-tropis dan hujan yang turun. Data pengamatan harian yang
membutuhkan banyak unsur iklim dalam diambil yaitu data curah hujan, data air irigasi ,
perhitungannya. Oleh sebab itu, maka diperlukan data perkolasi, dan kadar air tanah. Sedangkan
penelitian ini untuk mengetahui kebutuhan air data mingguan yang diambil adalah data tinggi
tanaman kedelai dengan cara mengukur tanaman, jumlah daun per tanaman, indeks luas
evapotranspirasi tanaman kedelai varietas lokal daun (ILD), jumlah polong, berat berangkasan
(varietas Tanggamus) secara langsung dengan atas, berat berangkasan bawah, jumlah biji, dan
menggunakan Lysimeter. berat kering biji. Data yang di didapat dianalisis
dan disajikan dalam bentuk grafik dan tabel.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menduga
evapotranspirasi tanaman (ETc) kedelai varietas III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Tanggamus dan menghitung nilai koefisien
tanaman (Kc) varietas Tanggamus pada setiap 3.1 Pengukuran Evapotranspirasi Standar
periode tumbuh dengan menggunakan (ETo)
Lysimeter. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan selama
penelitian (4 November 2013 – 17 Januari
II. BAHAN DAN METODE 2014), didapatkan nilai ETo selama masa periode
tumbuh tanaman kedelai adalah sebesar 658.82
Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober mm air atau 8.45 mm air per hari (Lampiran
tahun 2013 sampai dengan bulan Januari tahun Tabel 19), dengan jumlah ETo per-stadia adalah
2014, yang bertempat di Laboratorium 167.9; 104.5; 254.7; 131.6 mm air dengan rata-
Lapangan Terpadu Universitas Lampung dan rata harian masing-masing adalah 11.2; 6.9; 7.3;
Laboratorium Rekayasa Sumber Daya Air dan 10.1 mm/hari.
Lahan Jurusan Teknik Pertanian, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung. Menurut Linsey, dkk. (1985) beberapa faktor
yang mempengaruhi laju evapotranspirasi adalah
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian (1) faktor iklim; mencakup radiasi netto, suhu,
ini adalah dua bangunan Lysimeter dengan kelembaban, dan arah kecepatan angin, (2) faktor
ukuran 2 x 3 x 1 meter. Lysimeter digunakan tanaman; mencakup jenis tanaman, derajat
untuk mengukur evapotranspirasi tanaman penutupannya, struktur tanaman, stadia
(ETc) varietas Tanggamus dengan jarak tanam perkembangan sampai masak, keteraturan dan
20 x 30 cm dan yang satu petak ditanami rumput banyaknya stomata serta mekanisme menutup
sebagai evapotranspirasi standar (potensial) dan dan membukanya stomata, dan (3) faktor tanah;
234
Jurnal Teknik Pertanian Lampung Vol.3, No. 3: 233-238

mencakup kondisi tanah, aerasi tanah, potensial pertumbuhan lebih banyak membutuhkan air
air tanah, dan kecepatan aliran air tanah menuju dibandingkan dengan prediksi FAO. Untuk fase
akar tanaman. vegetatif aktif, evapotranspirasi yang terjadi
pada varietas Tanggamus tidak berbeda jauh
3.2 Pengukuran Evapotranspirai Tanaman dengan prediksi FAO. Sedangkan untuk fase
(ETc) pembuahan, evapotranspirasi yang terjadi lebih
Nilai ETc didapat dari perhitungan nilai ETo yang rendah dibandingkan yang di prediksi FAO.
didapat dari Lysimeter rumput dikalikan dengan Dengan demikian, pada fase vegetatif aktif dan
koefisien tanaman kedelai menurut standar FAO. pembuahan varietas Tanggamus lebih sedikit
Menurut FAO, koefisien tanaman (Kc) untuk membutuhkan air dibandingkan prediksi FAO.
tanaman kedelai yaitu 0.3 pada pertumbuhan Pada fase kematangan biji, evapotranspirasi
awal, 0.7 pada vegetatif aktif, 1.1 pada yang terjadi lebih tinggi jika dibandingkan dengan
pertumbuhan maksimal, dan 0.7 pada akhir evapotranspirasi menurut prediksi FAO. Jadi,
pertumbuhan. dapat disimpulkan bahwa varietas Tanggamus
membutuhkan lebih banyak air pada fase
Dari perhitungan yang telah dilakukan, pertumbuhan awal dan kematangan biji
didapatkan nilai ETc sesuai dengan fase pada dibandingkan dengan prediksi FAO.
tanaman kedelai yaitu pada fase pertumbuhan
awal, vegetatif aktif, pembuahan dan Evapotranspirasi tanaman yang meningkat dan
kematangan biji masing-masing adalah 50.38; menurun pada setiap fase menunjukkan bahwa
73.17; 280.22 dan 92.12 mm air dengan total tanaman dalam tahap perkembangan
evapotranspirasi 495.9 mm air atau 6.4 mm per (development) dan pertengahan (mid season)

Gambar 1. Grafik perbandingan evapotranspirasi tanaman (ETc) varietas Tanggamus dan


berdasarkan rekomendasi FAO
Waktu yang diperlukan untuk varietas dan kembali menurun pada tahap penuaan (end
Tanggamus pada fase pertumbuhan awal, season). Hal ini disebabkan karena tanaman
vegetatif aktif, pembuahan, dan kematangan biji memiliki kebutuhan air yang berbeda-beda
masing-masing adalah 15 hari, 15 hari, 35 hari selama pertumbuhan sesuai proses dalam
dan 13 hari. Dari Gambar 1, dapat diketahui tanaman. Pada awal pertumbuhan, laju
adanya perbedaan hasil antara ETc pengukuran evapotransipasi lebih rendah karenakan
langsung dengan prediksi FAO. permukaan transpirasi masih kecil, maka
absorbsi air oleh tanaman rendah dan sebaliknya
Evapotranspirasi yang diukur secara langsung absorbsi tanaman akan meningkat dengan
pada Lysimeter pada fase pertumbuhan awal berkembangannya tanaman dan akan mencapai
lebih tinggi dibandingkan dengan prediksi FAO. maksimum pada saat indeks luas daun
Hal ini menunjukkan bahwa, kedelai pada awal maksimum. Selanjutnya dengan gugurnya daun

235
Pendugaan kebutuhan air.... (Tia Y, Tumiar M dan Bustomi R)

tua, maka indeks luas daun akan turun diikuti nilai Kc < 1, maka dapat dipastikan bahwa,
dengan penurunan kebutuhan air (Islami dan kebutuhan air kedelai lokal ini lebih rendah
Utomo, 1995). daripada nilai ET potensial, sehingga
penanaman kedelai dapat dilakukan selama CH
Hasil yang sama didapat pada penelitian Oktaviani, > ETo.
dkk. (2013) dengan menggunakan varietas
Anjasmoro. Evapotranspirasi yang dihasilkan Tabel 1 menunjukkan bahwa Kc FAO pada fase
memberikan hasil yang berbeda pada setiap fase. awal pertumbuhan lebih rendah dibandingkan
Hal ini membuktikan bahwa, setiap varietas kedelai Kc pengukuran langsung. Pada fase selanjutnya,
memiliki nilai evapotranspirasi yang berbeda- yaitu fase vegetatif aktif Kc tanaman kedelai
beda. Menurut Islami dan Utomo (1995) besarnya nilainya hampir sama, sedangkan pada fase
evapotranspirasi yang terjadi dipengaruhi oleh pembuahan K c FAO lebih tinggi jika
absorbsi air oleh akar ke tanaman. Selain itu dibandingkan dengan Kc yang didapat dari
besarnya evapotranspirasi aktual lebih pengukuran langsung. Selanjutnya, nilai Kc
dipengaruhi oleh faktor fisiologi tanaman dan mendekati sama pada fase akhir (kematangan
unsur tanah (Asdak, 1995). biji).
Berbeda dengan hasil penelitian Manik, dkk.
3.3 Penentuan Koefisien Tanaman (K c ) (2012), nilai K c yang didapat dari Panci
Kedelai Evaporasi dan Penman-Monteith pada awal
Berikut merupakan nilai koefisien tanaman (Kc) pertumbuhan dan di akhir pertumbuhan lebih
varietas Tanggamus yang didapat dari pengukuran rendah daripada nilai Kc yang diperoleh pada
langsung dengan Lysimeter (ETc) dibagi dengan penelitian ini. Nilai Kc yang berbeda juga
pengukuran evapotranspirasi pada lysimeter didapatkan dari penelitian Sanjaya (2014).
rumput (ETo).Koefisien Tanaman (K ) pada Lysimeter
Tabel 1. Nilai c
Kc F a se

P e rt u m b u h a n V e ge ta t if A ktif P em buahan K e m a ta n ga n
Aw al B iji
Ta n g ga m u s 0 .4 8 0 .6 9 0 .9 2 0 .7 8

FA O 0 .3 0 .7 1 .1 0 .7

Nilai Kc yang diperoleh (Tabel 1), dapat dikalikan Pada penelitian Sanjaya (2014), nilai Kc yang
dengan data evapotranspirasi yang bisa didapat dari didapat pada fase pertumbuhan awal, vegetatif
stasiun klimatologi terdekat, seperti pada panci aktif, pembuahan, dan kematangan biji masing-
evaporasi sehingga dapat digunakan untuk masing adalah 0.18; 0.65; 0.85 dan 0.51. Dengan
menduga kebutuhan air tanaman kedelai. Karena demikian, dapat disimpulkan bahwa, nilai Kc

Gambar 2. Perbandingan tinggi tanaman pada Lysimeter dan Petak Lapang


236
Jurnal Teknik Pertanian Lampung Vol.3, No. 3: 233-238

yang didapat dari beberapa penelitian cukup lapang (Gambar 2,3 dan 4) dapat diketahui
beragam. Oleh karena itu, perlu adanya bahwa, tanaman di dalam lysimeter
penyesuaian lokasi dan kondisi cuaca yang menunjukkan hasil yang lebih baik jika
berbeda untuk menghitung nilai Kc (Bamber and dibandingkan dengan petak lapang. Tinggi
Mc Glinchey, 2003). tanaman, jumlah daun dan indeks luas daun
memberikan hasil yang lebih baik pada lysimeter.
3.4 Pertumbuhan tanaman Hal ini membuktikan bahwa, tanaman di dalam
Berikut merupakan hasil pengamatan varietas Lysimeter selalu dalam keadaan air tersedia
Tanggamus selama masa pertumbuhan. sehingga pertumbuhan tanaman menjadi lebih
Dari hasil pengamatan pada Lysimeter dan petak optimal.

Gambar 3. Perbandingan jumlah daun pada Lysimeter dan Petak Lapang

Gambar 4. Perbandingan Indeks Luas Daun (ILD) pada Lysimeter dan Petak Lapang

Tabel 2. Hasil (panen) varietas Tanggamus pada lysimeter dan petak lapang
H a s il
Ly sim eter (a) P e ta k L a p a n g ( b ) R asio ( a/b )
P en g am a tan

J u m l a h P o lo n g
251 149 1 6 8 .5 %
(buah)

B e ra n g k a s a n
8 1 .6 5 4 .4 150 %
A ta s (gram )

B e ra n g k a s a n
1 8 .4 1 9 .7 9 3 .4 %
B aw ah (gra m )

J u m la h B i ji
754 446 1 6 9 .1 %
(buah)

B e r a t K e r i n g B i ji
9 0 .7 4 7 .1 1 9 2 .6 %
(g r a m )

237
Pendugaan kebutuhan air.... (Tia Y, Tumiar M dan Bustomi R)

Dari Tabel 2, dapat diketahui bahwa berangkasan DAFTAR PUSTAKA


atas pada Lysimeter lebih berat dibandingkan
dengan petak lapang sedangkan pada berat Fagi, A.M dan Tangkuman, F. 1985. Pengolahan
berangkasan bawah hasil yang didapat lebih Air untuk Tanaman Kedelai. Balai Penelitian
berat pada petak lapang dibandingkan Tanaman Pangan. Sukamandi.
Lysimeter. Menurut Islami, dkk. (1995)
perkembangan sistem perakaran dipengaruhi Islami, T., dan W.H. Utomo, 1995. Hubungan
oleh faktor dalam (hereditas) dan faktor luar Tanah, Air dan Tanaman. IKIP : Semarang
(lingkungan), di antaranya adalah kelembaban Press. Semarang.
tanah, suhu tanah, kesuburan tanah, keasaman
tanah (pH), aerasi tanah, hambatan mekanis Linsley, R.K. dan J.B. Franzini. 1985. Teknik
tanah, kompetisi, dan interaksi perakaran. Sumber Daya Air. Erlangga. Jakarta.
Sehingga dapat dikatakkan bahwa, pada petak
lapang air tidak cukup tersedia sehingga akar Manik, T. K., R. B. Rosadi, dan A. Karyanto. 2012.
mencari sumber air ke segala arah sedangkan Evaluasi Metode Penman-Monteith dalam
pada Lysimeter keadaan air selalu berada pada Menduga Laju Evapotranspirasi Standar
air segera tersedia (RAW) sehingga, berangkasan (ETo)di Dataran Rendah Propinsi Lampung,
bawah pada petak lapang lebih berat jika Indonesia. Jurnal Keteknikan Pertanian. Vol
dibandingkan dengan Lysimeter. Untuk jumlah 26 (2) : 121-128.
polong, jumlah biji dan berat kering biji pada
lysimeter menunjukkan hasil yang lebih banyak Oktaviani, S. Triyono, dan N. Haryono. 2013.
dibandingkan dengan petak lapang. Hal ini Analisi Neraca Air BudidayaTanaman
menunjukkan, air sangat diperlukan dalam Kedelai (Glycine max [L] Merr.)pada Lahan
pembentukkan biji. Kering. Jurnal Teknik Pertanian Lampung.
Vol 2 No. 1:7-16.
IV.KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan
Total kebutuhan air tanaman kedelai (ETc) untuk
varietas Tanggamus adalah 490.02 mm air atau
6.3 mm/hari dengan total ETc per-fase berturut-
turut adalah 80.3 ; 72.2; 234,5 dan 102.5 mm air
atau 5.4; 4.8; 6.7; 7.9 mm/hari dengan nilai
koefisien tanaman kedelai (K c) pada fase
pertumbuhan awal, vegetatif aktif, pembuahan
atau pengisian polong dan kematangan biji
berturut-turut adalah 0.48; 0.69; 0.9; 0.78. Selain
itu, dari hasil pengamatan yang dilakukan
tanaman di dalam lysimeter tumbuh lebih baik
jika dibandingkan dengan petak lapang. Ini
membuktikan bahwa tanaman kedelai tetap lebih
baik jika kebutuhan air tersedia.

238