Anda di halaman 1dari 15

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Hidup sehat, bugar, dan tetap aktif sekalipun di usia lanjut merupakan dambaan banyak
orang. Namun, setting bertambahnya usia, fungsi organ tubuh pun berangsur – angsur
menurun dan berakibat timbulnya berbagai macam penyakit. Masalah kesehatan pada usia
lanjut yang sering di temui dan perlu mendapat perhatian adalah penyakit osteoporosis.
Osteoporosis atau pengoroposan tulang memang rawan menyerang orang - orang berusia di
atas 40 tahun, terutama pada kaum perempuan. Dari hasil penelitian di amerika serikat pada
orang berusia di atas 50 tahun, 1 dari 4 perempuan dan 1 dari 8 laki – laki terkena
osteoporosis. Osteoporosis dapat dijumpai tersebar di seluruh dunia dan sampai saat ini
masih merupakan masalah dalam kesehatan masyarakat terutama di negara berkembang. Di
Amerika Serikat osteoporosis menyerang 20-25 juta penduduk, 1 diantara 2-3 wanita post-
menopause dan lebih dari 50% penduduk di atas umur 75-80 tahun. Sekitar 80% persen klien
penyakit osteoporosis adalah wanita, termasuk wanita muda yang mengalami penghentian
siklus menstruasi (amenorrhea). Hilangnya hormon estrogen setelah menopause
meningkatkan risiko terkena osteoporosis.
Penyakit osteoporosis lebih banyak menyerang wanita, pria tetap memiliki risiko terkena
penyakit osteoporosis. Sama seperti pada wanita, penyakit osteoporosis pada pria juga
dipengaruhi estrogen. Bedanya, laki-laki tidak mengalami menopause, sehingga osteoporosis
datang lebih lambat. Jumlah usia lanjut di Indonesia diperkirakan akan naik 414 persen dalam
kurun waktu 1990-2025, sedangkan perempuan menopause yang tahun 2000 diperhitungkan
15,5 juta akan naik menjadi 24 juta pada tahun 2015. Beberapa fakta seputar penyakit
osteoporosis yang dapat meningkatkan kesadaran akan ancaman osteoporosis di Indonesia
adalah Prevalensi osteoporosis untuk umur kurang dari 70 tahun untuk wanita sebanyak 18-
36%, sedangkan pria 20-27%, untuk umur di atas 70 tahun untuk wanita 53,6%, pria 38%.
Lebih dari 50% keretakan osteoporosis pinggang di seluruh dunia kemungkinan terjadi di
Asia pada 2050. Mereka. Satu dari tiga perempuan dan satu dari lima pria di Indonesia
terserang osteoporosis atau keretakan tulang. Dua dari lima orang Indonesia memiliki risiko
terkena penyakit osteoporosis. Berdasarkan data Depkes, jumlah klien osteoporosis di
Indonesia jauh lebih besar dan merupakan Negara dengan klien osteoporosis terbesar ke 2
setelah Negara Cina.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Apa pengertian Osteoporosis?
2. Bagaimana anatomi fisiologi tulang?
3. Apa klasifikasi osteoporosis?
4. Bagaimana patofisiologi Osteoporosis?
5. Apa etiologi Osteoporosis?

1
2

6. Apa manifestasi klinis Osteoporosis?


7. Apa saja penatalaksanaan medis Osteoporosis?
8. Bagaimana asuhan keperawatan pada klien Osteoporosis?

1.3 TUJUAN PENULISAN :


Mahasiswa/i dapat melakukan asuhan keperawatan klien dengan ”Osteoporosis”.
 Tujuan Umum :
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini yaitu sebagai proses pembelajaran
mahasiswa dalam memahami Osteoporosis, dan mahasiswa mampu memahami
defenisi, etiologi, manifestasi klinis, klasifikasi, penatalaksanaan medis dan
keperawatan serta asuhan keperawatan dari Osteoporosis.

 Tujuan Khusus :

1. Mahasiswa mampu memahami definisi osteoporosis


2. Mahasiswa mampu memahami anatomi fisiologi tulang
3. Mahasiswa mampu memahami klasifikasi osteoporosis
4. Mahasiswa mampu memahami patofisiologi Osteoporosis
5. Mahasiswa mampu memahami etiologi Osteoporosis
6. Mahasiswa mampu memahami manifestasi klinis Osteoporosis
7. Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan medis dari osteoporosis
8. Mahasiswa mampu memahami asuhan keperawatan pada klien osteoporosis

2
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 PENGERTIAN

Osteoporosis adalah penyakit metabolic tulang yang memiliki penurunan matriks


dan proses mineralisasi yang normal tetapi massa atau densitas tulang berkurang
(Gallagher, 99). Osteoporosis adalah penyakit metabolisme tulang yang cirinya adalah
pengurangan masa tulang dan kemunduran mikroarsitektur tulang sehingga
meningkatkan resiko fraktur oleh karena fragilitas tulang meningkat. Osteoporosis adalah
penyakit tulang yang mempunyai sifat sifat khas berupa masa tulang yang rendah, disertai
mikroarsitektur tulang dan penurunan kualitas jaringan tulang yang dapat akhirnya
menimbulkan kerapuhan tulang. Jadi, osteoporosis adalah gangguan metabolisme tulang
yang menyebabkan masa tulang mengalami pengurangan sehingga tulang menjadi mudah
rapuh.

2.2 ANATOMI FISIOLOGI

Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk
melekatnya otot-otot yang menggerakkan rangka tubuh. Ruang di tengah tulang-tulang
tertentu berisi jaringan hematopoietik, yang membentuk berbagai sel darah. Tulang juga
merupakan tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan fosfat.
Komponen-komponen nonselular utama dar jaringan tulang adalah mineral-mineral dan
matriks organik (kolagen dan proteoglikan). Kalsium dan fosfat membentuk suatu garam
kristal (hidroksiapatit), yang tertimbun pada matriks kolagen dan proteoglikan. Mineral-
mineral ini memampatkan kekuatan tulang. Matriks organik tulang disebut juga sebagai
osteoid. Materi organik lain yang menyusun tulang berupa proteoglikan seperti asam
hialuronat.
Bagian-bagian khas dari sebuah tulang panjang :
 Diafisis atau batang, adalah bagian tengah tulang yang berbentuk silinder. Bagian
ini tersusun dari tulang kortikal yang memiliki kekuatan yang besar. Sumsum
kuning terdapat pada diafisis, terutama terdiri dari sel-sel lemak.
 Metafisis, adalah bagian tulang yang melebar di dekat ujung akhir batang. Daerah
ini terutama disusun oleh tulang trabekular atau tulang spongiosa yang
mengandung sel-sel hematopoietik. Sumsum merah juga terdapat di bagian
epifisis dan diafisis tulang.
 Lempeng epifisis, adalah daerah pertumbuhan longitudinal pada anak-anak, dan
bagian ini akna menghilang pada tulang dewasa. Bagian epifisis langsung
berbatasan dengan sendi tulang panjang yang bersatu dengan metafisis sehingga
pertumbuhan memanjang tulang berhenti. Seluruh tulang diliputi oleh lapisan
fibrosa yang disebut perioteum yang mengandung sel-sel yang dapat berproliferasi
3
4

yang berperan dalam proses pertumbuhan transversal tulang panjang. Kebanyakan


tulang panjang mempunyai arteria nutrisi khusus. Lokasi dan keutuhan dari arteri-
arteri inilah yang menentukan berhasil atau tidaknya proses penyembuhan suatu
tulang yang patah.

Tulang adalah suatu jaringan dinamis yang terususun dari tiga jenis sel :
osteoblas, osteosit, dan osteoklas. Osteoblas membangun tulang dengan membentuk
kolagen tipe I dan prteoglikan sebagai metriks tulang atau jaringan oeteoid melalui suatu
proses yang disebut osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jarigan osteoid,
osteoblas mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali yang memegang peranana
penting dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Osteoklas adalah sel-sel besar berinti banyak yang memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorpsi. Sel-sel ini menghasilkan enzim-enzim proteolitik yang
memecahkan matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang, sehingga
kalsium dan fosfat terlepas ke dalam aliran darah.

2.3 KLASIFIKASI
Osteoporosis dibagi 3, yaitu:
Osteoporosis primer
Osteoporosis primer sering menyerang wanita pasca menopause dan juga pada pria usia
lanjut dengan penyebab yang belum diketahui.

Osteoporosis sekunder
Sedangkan Osteoporosis sekunder disebabkan oleh penyakit yang berhubungan dengan:
 Chusing disease
 Hyperthyroidism
 Hyperparathyroidism
 Hipogonadism
 Kelainan hepar
 Kegagalan ginjal kronis
 Kurang gerak
 Kebiasaan minum alkoho
 Pemakaian obat obatan/kortikosteroid
 Kelebihan kafein
 Merokok

Osteoporosis idiopatik
Osteopoprosis yang tidak diketahui penyebabnya yang sering ditemukan pada:
 Usia anak anak
 Usia remaja

4
5

 Wanita pramenopouse
 Pria usia pertengahan.

2.4 PATOFISIOLOGI

Remodeling tulang normal pada orang dewasa akan meningkatkan massa tulang
sampai sekitar usia 35 tahun. Genetik, nutrisi, gaya hidup (merokok, minum kopi), dan
aktifitas fisik mempengaruhi puncak massa tulang. Kehilangan karena usia mulai segera
setelah tercapai puncaknya massa tulang. Menghilangnya estrogen pada saat menopause
mengakibatkan percepatan reasorbsi tulang dan berlangsung terus selama tahun-tahun
pasca menopause.
Faktor nutrisi mempengaruhi pertumbuhan osteoporosis. Vitamin D penting untuk
absorbsi kalsium dan untuk mineralisasi tulang normal. Diet mengandung kalsium dan
vitamin D harus mencukupi untuk mempertahankan remodelling tulang dan fungsi tubuh.
Asupan kalsium dan vitamin D yang tidak mencukupi selama bertahun-tahun
mengakibatkan pengurangan massa tulang dan pertumbuhan osteoporosis.

2.5 ETIOLOGI
Penyebab osteoporosis secara pasti belum diketahui.
Faktor resiko terjadinya osteoporosis:

1. Jenis kelamin wanita


2. Diet rendah kalisum
3. Orang caucasion atau Asian-Amerika
4. Pecandu alkohol
5. Perokok
6. Kurang aktivitas
7. Penggunaan obat dalam jangka waktu lama: kortikosteroid

5
6

2.6 MANIFESTASI KLINIS


Osteoporosis dapat berjalan lambat beberapa dekade, hal ini disebabkan karena
osteoporosis tidak menyebabkan gejala fraktur tulang. Benerapa fraktur osteoporosis
dapat terdeteksi hingga beberapa tahun kemudian. Tanda klinis utama dari osteoporosis
adalah frkatur pada vertebra, pergelangan tangan, pinggul, humerus, dan tibia. Gejala
yang palig lazim dari fraktur korpus vertebra adalha nyeri pada punggung dan deformitas
pada tulang belakang.
Nyeri biasanya terjadi akibat kolabs vertebra terutama pada daerah dorsal atau
lumbal. Secara khas awalnya akut dan sering menyebar ke sekitar pinggang hingga ke
dalam perut. Nyeri dapat meningkat walaupun dengan sedikit gerakan misalnya berbalik
di tempat tidur. Istirahat di tempat tidur dapat meringankan nyeri untuk sementara, tetapi
akan berulang dengan jangka waktu yang bervariasi. Serangan nyeri akut juga dpat
disertai oleh distensi perut dan illeus.

Osteoporosis terjadi karena adanya interaksi yang menahun antara factor genetic
dan factor lingkungan.

Ø Factor genetic meliputi:


Usia jenis kelamin, ras keluarga, bentuk tubuh, tidak pernah melahirkan.
Ø Factor lingkungan meliputi:
Merokok, Alcohol, Kopi, Defisiensi vitamin dan gizi, Gaya hidup, Mobilitas,
anoreksia nervosa dan pemakaian obat-obatan.
Kedua factor diatas akan menyebabkan melemahnya daya serap sel terhadap
kalsium dari darah ke tulang, peningkatan pengeluaran kalsium bersama urin, tidak
tercapainya masa tulang yang maksimal dengan resobsi tulang menjadi lebih cepat yang
selanjutnya menimbulkan penyerapan tulang lebih banyak dari pada pembentukan tulang
baru sehingga terjadi penurunan massa tulang total yang disebut osteoporosis

2.7 PENATALAKSANAAN MEDIS


Adapun penatalaksanaan pada klien dengan osteoporososis meliputi :
· Pengobatan
 Perempuan yang menderita osteoporosis, harus mengonsumsi kalsium dan
vitamin D dalam jumlah yang mencukupi dan Bifosonat juga digunakan untuk
mengobati osteoporosis.
 Perempuan pascamenopause yang menderita osteoporosis juga bisa
mendapatkan estrogen ( biasanya bersama dengan progesterone) atau
alendronat, yang dapat memperlambat atau menghentikan penyakitnya.
Sebelum terapi sulih estrogen dilakukan,biasanya dilakukan pemeriksaan
tekanan darah, pemeriksaan payudara dengan mammogram, pemeriksaan
kandungan, serta PAP smear untuk mengetahui apakah ada kanker atau tidak.

6
7

Terapi ini tidak di anjurkan pada perempuan yang pernah mengalami kanker
payudara dan kanker kandungan (ndometrium).
Pemberian alendronat, yang berfungsi untuk :
1. Mengurangi kecepatan penghancuran tulang pada perempuan pasca
menopause.
2. Meningkatkan massa tulang di tulang belakang dan tulang panggul.
3. Mengurangi angka kejadian patah tulang.
 Pemberian Kalsitonin, untuk diberikan kepada orang yang menderita patah
tulang belakang yang disertai nyeri. Obat ini bisa diberikan melalui suntikan
atau melalui semprot hidung.
 Laki – laki yang menderita osteoporosis biasanya menapatkan kalsium dan
tambahan vitamin D
 Pemberian Nutrilife-deer Velvet merupakan alternative terkini yang bisa
mengatasi osteoporosis. Nutrilife-deer Velvet yang terbuat dari tanduk Rusa
Merah New Zealand, terbukti bermanfaat untuk mencegah osteoporosis dan
telah digunakan selama lebih dari 10.000 tahun oleh China, Korea, dan Rusia.
Obat ini mengandung delapan factor pertumbuhan, prostaglandin, asam lemak,
asam amino, dan komponen dari kartilago, dan dosisnya 1x1/kapsul 1 hari.
 Pengobatan patah Tulang pada Osteoporosis. Patah tulang panggul biasanya di
atasi dengan tindakan pembedahan. Patah tulang pergelangan biasanya digips
atau di perbaiki dengan pembedahan. Jika terjadi penipisan tulang belakang
disertai nyeri panggung yang hebat, dapat di berikan obat pereda nyeri, di
pasang supportive back brace, dan dilakukan terapi fisik dengan mengompres
bagian yang nyeri dengan menggunakan air hangat atau dingin selama 10 – 20
menit.
 Meningkatkan pembentukan tulang, obat-obatan yg dapat meningkatkan
pembentukan tulan adalah Na-fluorida dan steroid anabolic
 Menghambat resobsi tulang, obat-obatan yang dapat mengahambat resorbsi
tulang adalah kalsium, kalsitonin, estrogen dan difosfonat.

2.8 ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN OSTEOPOROSIS

PENGKAJIAN

Riawayat Keperawatan. Dalam pengkajian riwayat keperawatan perawat perlu


menidentifikasi adanya:

a) Rasa nyeri atau sakit tulang punggung (bagian bawah), leher, dan pinggang.
b) Berat badan menurun
c) Biasanya diatas 45 tahun
d) Jenis kelamin sering pada wanita
e) Pola latihan dan aktivitas
7
8

f) Keadaan nutrisi (mis, kurang vitamin D serta kalsium)


g) Merokok, mengkonsumsim alkohol dan kafein
h) Adanya penyakit endokrin: diabetes mellitus, hipertioroid, hiperparatiroid, sindrom
cushing, hipogonadisme

Pemeriksaan Fisik
B6 (Bone)
Pada inspeksi dan palpasi daerah kolumna vertebralis, klien osteoporosis sering
menunjukkan kifosis atau gibbus (doager ‘s hump’) dan penurunan tiggi badan dan berat
badan. Ada perubahan gaya berjalan, deformitas tulang, leg-length inequality, dan nyeri
spinal. Lokasi frakur yang sering terjadi adalah antara vertebra torakalis 8 dan lumbalis 3.

Riwayat Psikososial
Penyakit ini sering terjadi pada wanita. Buasanya sering timbul kecemasan, takut
melakukan aktivitas dan perubahan konsep diri. Perawat perlu mengkaji masalah masalah
psikologis yang timbul akibat proses ketuaan dan efek penyakit yang menyertainya.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Radiologi
Gejala radiologi yang khas adalha densitas atau masa tulang yang menurun yang
dapat dilihat pada vertebra spinalis. Dinding dekat korpus vertebra biasanya merupakan
lokasi yang paling berat. Penipisan korteks dan hilangnya trabekula tranversal metupakan
kelainan yang paling sering ditemukan. Lemahnya korpus vertebra menyebabkan
penonjolan yang menggelembung dari nucleus pulposus ke dalam ruang intervertebral
dan menyebabkan deformitas binkonkaf.

CT-Scan
Dapat megukur densitas tulang secara kuantitatif yang mempunyai nilai penting
dalam diagnostic dan terapi follow up. Mineral vertebra diatas 110mg/cm3 biasanya tidak
menimbulkan fraktur vertebra atau penonjolan, sedangkan mineral vertebra dobawah
65mg/cm3 ada pada hampir semua klien yang mengalami fraktur.

Pemeriksaan Laoratorium
 Kadar Ca, P, dan fofatase alkali tidak menunjukkan kelainan yang nyata.
 Kadar HPT (pada pasca menopause kadarr HPT meningkat) dan Ct (terapi esterogen
merangsang pembentukan Ct)
 Kadar 1,25-(OH)-D3 dan absorbsi Ca menurun
 Ekskresi fosfat hidrosiprolin terganggu sehingga meningkat kadarnya.

8
9

DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan data pengkajian, diagnosis keperawatan untuk pasien osteoporosis sebagai


berikut:
1. Hambatan mobilitas fisik yang berhubungan dengan disfungsi sekunder akibat
perubahan skeletal (kifosis), nyeri sekunder.
2. Gangguan body image berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh
3. Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari fraktur vertebra
4. Resiko cedera (fraktur) berhubungan dengan tulang osteoporosis
5. Kurang oengetahuan tentang perawatan di rumah

INTERVENSI
DIAGNOSA TUJUAN INTERVENSI
KEPERAWATAN KEPERAWATAN KEPERAWATAN
1. Hambatan mobilitas Dapat meningkatkan  Gunakan matras
fisik mobilitas dan aktivitas fisik dengan tempat tidur
papan untuk
membantu
memperbaiki posisi
tulang belakang
 Bantu pasien
menggunakan alat
bantu walker atau
tongkat
 Bantu dan ajarkan
latihan ROM setiap 4
jam untuk
meningkatkan fungsi
persendian dan
mencegah kontraktur
 Anjurkan
mengguankan brace
punggung atau korset,
pasien perlu dilatih
menggunakannya dan
jelaskan tujuannya
 Kolabirasi dengan
ahli gizi dalam
program diet tinggi
kalsium serta vitamin
D
 Kolaborasi dengan
petugas laboratorium

9
10

dalam memantau
kadar kalsium
2. Gangguan konsep Dapat menggunakan koping  Bantu pasien
diri yang positif mengekspresikan
peraaan dan
dengarkan dengan
penuh perhatian.
Perhatian sungguh
sungguh dapat
meyakinkan pasien
bahwa perawat
bersedia membantu
mengatasi
masalahnya dan akan
tercipta hubungan
yang harmonis
sehingga timbul
koordinasi
 Klarifikasi jika terjadi
kesalahpahaman
tentang proses
penyakut dan
pengobtan yang telah
diberikan. Klarifikasi
ini dapat
meningkatkan
koordinasi pasien
selama perawatan
 Bantu pasien
mengidentifikasi
pengalaman masa
lalu yang
menimbulkan
kesuksesan atau
kebanggan saat itu.
Ini dapat membantu
upaya mengenal diri
dan menerima diri
kembali
 Identifikasi bersama
pasien tentan
alternatif pemevahan
masalah yang positif.
Hal ini dapat
mengembalikan rasa
percaya diri

10
11

 Bantu untuk
meningkatkan
komunikasi dengan
keluarga dan teman
3. Nyeri berhubngan Nyeri reda  Anjurkan istirahat di
dengan fraktur dan tempat tidur dengan
spasme otot posisi terlentang atau
miring
 Atur posisi lutu fleksi
menigkatkan rasa
nyaman dengan
merelaksasi otot
 Kompres hangat
intermiten dan pijit
punggung dapat
memperbaiki
relaksasi otot
 Anjurkan posisi
tubuh yang baik dan
ajarkan mekanika
tubuh
 Guakan korset atau
brace punggung, saat
pasien turun dari
tempat tidur
 kolaborasi dalam
pemberian analgesic
untuk mengurangi
nyeri
4. resiko cedera Cedera tidak terjadi  anjurkan melakukan
(fraktur) yang aktivitas fisik untuk
berhubungan dengan memperkuat otot,
tulang osteoporosis mencegah atrofi, dan
memperkuat
demineralisasi tulang
progresif
 latihan isometric
dapat digunakan
untuk memperkuat
oto batang tubuh
 anjurkan pasien untuk
berjalan, mekanika
tubuh yang baik dan
postur tubuh yang
baik
 hindari aktivitas

11
12

membungkuk
mendadak,
melengggok, dan
mengangkat beban
lama
 Lakukan aktivitas
diluar ruangan dan di
bawah sinar matahari
untuk memperbaiki
kemampuan tubuh
menghasilkan vitamin
D
5. Kurang pengetahuan Memahami osteoporosis dan  Jelaskan pentingnya
program pengobatan diet yang tepat,
latihan, dan aktivitas
fisik yang sesuai serta
istirahat yang cukup
 Jelaskan penggunaan
obat serta efek
samping obat yang
diberikan secara
detail
 Jelaskan pentingnya
lingkungan yang
aman. Misalnya lantai
tidak licin, tangga
menggunakan
pegangan untuk
menghindar jatuh
 Anjurkan mengurangi
kafein, alkohol, dan
rokok
 Jelaskan pentingnya
perawatan lanjutan

12
13

EVALUASI
Setelah dilakukan intervensi keperawatan diharapkan:
1. Aktivitas dan mobilitas fisik terpenuhi
a. Melakukan rom secara teratur
b. Menggnunakan alat bantu saat aktivitas
c. Menggunakan brace atau korset saat aktivitas
2. Koping pasien positif
a. Mengekspresikan perasaan
b. Memilih alternatif pemecahan masalah
c. Meningkatkan komunikasi
3. Nyeri berkurang atau hilang
a. Mengalami peredaan nyeri saat istirahat
b. Mengalami ketidaknyamanan minimal selama aktivitas sehari hari
c. Menunjukkan berkurangnya nyeri tekan pada tempat fraktur
4. Tidak terjadi cedera
a. Mempertahankan postur tubuh yang baik
b. Menggunakan mekanika tubuh yang baik
c. Latihan isometric
d. Berpartisipasi aktivitas di luar rumah
e. Menghindari aktivitas yang menimbulkan cedera
5. Mendapatkan pengetahuan mengenai osteoporosis dan program pengobatan
a. Menyebutkan hubungan asupan kalsium dan latihan fisik terhadap masa tulang
b. Mengkonsumsi kalsium dengan jumlah yang cukup
c. Meningkatkan latihan fisik
d. Mengetahui waktu perawatan lanjutan

13
14

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Osteoporosis adalah kondisi terjadinya penurunan densitas/matriks/massa tulang,


peningkatan porositas tulang, dan penurunan proses mineralisasi disertai dengan
kerusakan arsitektur mikro jaringan tulang yang mengakibatkan penurunan kekokohan
tulang sehingga tulang menjadi mudah patah (buku ajar asuhan keperawatan klien
gangguan system musculoskeletal). Penyakit osteoporosis adalah berkurangnya
kepadatan tulang yang progresif, sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah.
Tulang terdiri dari mineral-mineral seperti kalsium dan fosfat, sehingga tulang menjadi
keras dan padat. Jika tubuh tidak mampu mengatur kandungan mineral dalam tulang,
maka tulang menjadi kurang padat dan lebih rapuh, sehingga terjadilah osteoporosis.

3.2 SARAN
Tidak ada saran yang terlalu mengikat dalam kasus ini, hanya saja diharapkan
makalah ini bisa memberikan masukan bagi rekan- rekan mahasiswa calon perawat,
sebagai bekal untuk dapat memahami mengenai “Asuhan Keperawatan pada Klien
dengan Osteoporosis” menjadi bekal dalam pengaplikasian dan praktik bila menghadapi
kasus yang kami bahas ini. Untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan maka
penulis memberikan saran-saran sebagai berikut :
1. Pada pengkajian perawat perlu melakukan pengkajian dengan teliti melihat kondisi
klien serta senantiasa mengembangkan teknik terapeutik dalam berkomunikasi
dengan klien.
2. Agar dapat memberikan asuhan keperawatan yang berkualitas meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan serta sikap profesional dalam menetapkan diagnosa
keperawatan.

14
15

DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan KeperawatanKlien Gangguan Sistem


Muskuloskeletal. Penerbit Buku Kedokteran EGC : Jakarta
Kumar, Vinay, Abul K. Abbas dan Nelson Fausto. 2005.Robbins and Cotran Pathologic
Basis of Disease.Seventh Edition. Philadelphia : Elsevier Saunders.
Lewis, Sharon L. 2007. Medical Surgical Nursing : Assessment and Management of
Clinical Problems Volume 2. Seventh Edition. St.Louis : Mosby.
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. Alih bahasa : Brahm U. Pendit.
2005. Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit Volume 1.Edisi
6.Jakarta : EGC.
Sherwood, Lauralee. Alih bahasa : Brahm U. Pendit. 2001. Fisiologi Manusia Dari Sel ke
Sistem. Edisi 2. Jakarta : EGC.
Noer, Sjaifoellah. 1999. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Cet 3, Ed. 2. Jakarta: Balai
Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Brunner and Sudart. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Volume 3. Jakarta: EGC
Doengoes E Mrilynn, 2000, Rencana Asuhan Kperawatan. Jakarta: EGC
Kalim, Handono, 1996., Ilmu Penyakut Dalam. Jakarta: Balai Penerbit FKUI
Mansjoer, Arif, 2000., Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius FKUI

15