Anda di halaman 1dari 69

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Tuberkulosis (TB) sampai dengan saat ini masih merupakan salah satu
masalah kesehatan masyarakat di dunia walaupun upaya penanggulangan TB telah
dilaksanakan di banyak negara sejak tahun 1995. Menurut laporan WHO tahun
2017, ditingkat global diperkirakan terdapat 10.900.000 kasus TB baru dengan 3,2
juta kasus diantaranya adalah perempuan, dan 1.400.000 juta kematian karena TB.
Dari kasus TB tersebut ditemukan 1.170.000 (12%) HIV positif dengan kematian
390.000 orang. TB Resistan Obat (TB-RO) dengan kematian 190.000 orang. Dari
9,6 juta kasus TB baru, diperkirakan 1 juta kasus TB Anak (di bawah usia 15
tahun) dan 140.000 kematian/tahun.1
Menurut hasil survey terbaru dalam Laporan Tuberkulosis Global tahun
2017 yang dirilis WHO, Indonesia berada di peringkat kedua dengan kasus TB
terbanyak di dunia setelah India, kemudian disusul oleh China, Filipina, Pakistan,
Nigeria, dan Afrika selatan. Jumlah kasus TB di Indonesia diperkirakan ada
1.020.000 kasus TB baru pertahun (399 per 100.000 penduduk) dengan 100.000
kematian pertahun (41 per 100.000 penduduk). Diperkirakan terdapat 78.000
kasus TB dengan HIV positif (10 per 100.000 penduduk), dengan mortalitas
26.000. Jumlah seluruh kasus 324.539 kasus, diantaranya 314.965 adalah kasus
baru. Secara nasional prevalensi HIV diantara pasien TB diperkirakan sebesar
6,2%. Jumlah kasus TB-RO diperkirakan sebanyak 10.000 kasus yang berasal dari
1,9% kasus TB-RO dari kasus baru TB dan ada 12% kasus TB-RO dari TB
dengan pengobatan ulang.1,2
Secara regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia dikelompokkan
dalam 3 wilayah, yaitu wilayah Sumatera angka prevalensi TB adalah 160 per
100.000 penduduk, wilayah Jawa dan Bali angka prevalensi TB adalah 110 per
100.000 penduduk, serta wilayah Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah
210 per 100.000 penduduk. Khusus untuk propinsi DIY dan Bali angka prevalensi
TB adalah 68 per 100.000 penduduk.3
Sekitar 75% pasien TB adalah kelompok usia yang paling produktif secara
ekonomis (15-50 tahun). Diperkirakan seorang pasien TB dewasa, akan
kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan. Hal tersebut berakibat pada
kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%. Jika ia
meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 tahun.
Selain merugikan secara ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya
secara sosial stigma bahkan dikucilkan oleh masyarakat.3
Berdasarkan data yang telah dipaparkan di atas, maka penyakit TB
merupakan suatu masalah kesehatan yang serius dan harus diperhatikan. Kerugian
yang diakibatkannya sanga besar, bukan hanya dari aspek kesehatan namun juga
dari aspek sosial maupun ekonomi. Maka dari itu, untuk meningkatkan
kesejahteraan rakyat secara menyeluruh maka harus dilakukan suatu
penanggulangan. Penanggulangan TB adalah segala upaya kesehatan yang
mengutamakan aspek promotif dan preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif
dan rehabilitatif yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat,
menurunkan angka kesakitan, kecacatan atau kematian, serta memutuskan
penularan.1 Usaha ini tentunya mengharuskan semua pihak untuk dapat
bekerjasama, terutama Puskesmas sebagai lini pertama fasilitas kesehatan di
Indonesia, serta peran serta masyarakat. Oleh karena itu, untuk tercapainya target
program pencegahan dan pemberantasan TB masih diperlukan upaya
pengembangan program dengan meningkatkan pelayanan kesehatan dan
penyuluhan (promosi) mengenai penyakit TB langsung ke lapangan agar
masyarakat dapat lebih memahami penyakit TB dan turut aktif membantu dalam
pelaksanaan program ini.

1.2 RUMUSAN MASALAH


1. Bagaimana pelaksanaan program pencegahan dan pemberantasan TB
di wilayah Puskesmas Kelurahan Bintaro?
2. Adakah kendala yang dialami dalam menjalankan program pencegahan
dan pemberantasan TB di wilayah Puskesmas Kelurahan Bintaro?
3. Apakah faktor-faktor penyebab masih rendahnya angka penemuan
suspek kasus TB paru di wilayah Puskesmas kelurahan Bintaro?
4. Bagaimana gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat
terhadap Tuberkulosis paru di RW 12 Kelurahan Bintaro Kecamatan
Pesanggrahan, Jakarta Selatan tahun 2018?

1.3 TUJUAN KEGIATAN MINI PROJECT


1.3.1 Tujuan Umum
Meningkatkan kualitas pelaksanaan program pencegahan dan
pemberantasan TB di wilayah Puskesmas Kelurahan Bintaro.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Mengetahui alternatif pemecahan masalah yang sesuai dengan
penyebab masalah yang ditemukan.
2. Mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat
terhadap Tuberkulosis paru di RW 12 Kelurahan Bintaro Kecamatan
Pesanggrahan, Jakarta Selatan tahun 2018.

1.4 MANFAAT KEGIATAN


Kegiatan ini diharapkan dapat dijadikan sebagai salah satu referensi untuk
menambah informasi serta dapat dikembangkan untuk kegiatan
selanjutnya, khususnya dalam meningkatkan pelaksanaan program
pencegahan dan pemberantasan TB di Puskesmas Kelurahan Bintaro,
Kecamatan Pesanggarahan, Jakarta Selatan Tahun 2018
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tuberkulosis4,5


Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis) yang menyerang jaringan
(parenkim) paru, tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus.
Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ
tubuh lainnya.
Tuberkulosis merupakan suatu penyakit granulomatosa kronis menular
dimana biasanya bagian tengah granuloma tuberkular mengalami nekrosis
perkijuan.

2.2 Epidemiologi Tuberkulosis4,6,7


Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang
penting di dunia ini. Pada tahun 1992 World Health Organization (WHO)
telah mencanangkan tuberkulosis sebagai “ Global Emergency” .Laporan
WHO tahun2004 menyatakan bahwa terdapat 8,8 juta kasus baru tuberkulosis
pada tahun 2002, dimana 3,9 juta adalah kasusBTA (Basil Tahan Asam)
positif. Sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman tuberkulosis dan
menurut regionalWHO jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia tenggara yaitu
33 % dari seluruh kasus TB di dunia, namun bila dilihatdari jumlah penduduk
terdapat 182 kasus per 100.000 penduduk. Di Afrika hampir 2 kali lebih besar
dari Asiatenggara yaitu 350 per 100.000 pendduduk.
Diperkirakan angka kematian akibat TB adalah 8000 setiap hari dan 2 -
3 juta setiap tahun. Laporan WHO tahun 2004 menyebutkan bahwa jumlah
terbesar kematian akibat TB terdapat di Asia tenggara yaitu 625.000 orang
atau angka mortaliti sebesar 39 orang per 100.000 penduduk. Angka mortaliti
tertinggi terdapat di Afrika yaitu 83 per 100.000 penduduk, dimana prevalensi
HIV yang cukup tinggi mengakibatkan peningkatan cepat kasus TB yang
muncul.
Indonesia masih menempati urutan ke 3 di dunia untuk jumlah kasus
TB setelah India dan China.Setiap tahun terdapat 250.000 kasus baru TB dan
sekitar 140.000 kematian akibat TB. Di Indonesia tuberkulosis adalah
pembunuh nomor satu diantara penyakit menular dan merupakan penyebab
kematian nomor tiga setelah penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut
pada seluruh kalangan usia.
Berikut ini adalah gambaran penyebaran penyakit Tuberkulosis di
seluruh dunia

Gambar 1. Penyebaran Penyakit Tuberkulosis di Seluruh Dunia

2.3 Penularan Tuberkulosis8,9


2.3.1 Cara penularan
1. Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif.
2. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam
bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan
sekitar 3000 percikan dahak.
3. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada
dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan,
sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan
dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan
lembab.
4. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang
dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut.
5. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh
konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.

2.3.2 Risiko penularan8,9


1. Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak.
Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko
penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif.
2. Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of
Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko
Terinfeksi TB selama satutahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh)
orang diantara 1000 pendudukterinfeksi setiap tahun.
3. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%.
4. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negatif menjadi
positif.

2.3.3 Risiko menjadi sakit TB8,9


1. Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB.
2. Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata
terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi
sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA
positif.
3. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB
adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan
malnutrisi (gizi buruk).
4. HIV merupakan faktor risiko yang paling kuat bagi yang terinfeksi TB
menjadi sakit TB. Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya
tahan tubuh seluler (cellular immunity), sehingga jika terjadi infeksi
penyerta (oportunistic), seperti tuberkulosis, maka yang bersangkutan akan
menjadi sakit parah bahkan bias mengakibatkan kematian. Bila jumlah
orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat,
dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.
Pasien TB yang tidak diobati, setelah 5 tahun, akan:
1. 50% meninggal
2. 25% akan sembuh sendiri dengan daya tahan tubuh yang tinggi
3. 25% menjadi kasus kronis yang tetap menular
Gambar 2. Faktor Risiko Kejadian TB

2.4 Patogenesis Tuberkulosis9,10,11


Paru merupakan port d’entrée lebih dari 98% kasus infeksi TB. Karena
ukurannya yang sangat kecil, kuman TB dalam percik renik (droplet nuclei)
yang terhirup, dapat mencapai alveolus. Masuknya kuman TB ini akan segera
diatasi oleh mekanisme imunologis non spesifik. Makrofag alveolus akan
menfagosit kuman TB dan biasanya sanggup menghancurkan sebagian besar
kuman TB. Akan tetapi, pada sebagian kecil kasus, makrofag tidak mampu
menghancurkan kuman TB dan kuman akan bereplikasi dalam makrofag.
Kuman TB dalam makrofag yang terus berkembang biak, akhirnya akan
membentuk koloni di tempat tersebut. Lokasi pertama koloni kuman TB di
jaringan paru disebut Fokus Primer GOHN.
Dari fokus primer, kuman TB menyebar melalui saluran limfe menuju
kelenjar limfe regional, yaitu kelenjar limfe yang mempunyai saluran limfe ke
lokasi fokus primer.Penyebaran ini menyebabkan terjadinya inflamasi di
saluran limfe (limfangitis) dan di kelenjar limfe (limfadenitis) yang terkena.
Jika fokus primer terletak di lobus paru bawah atau tengah, kelenjar limfe
yang akan terlibat adalah kelenjar limfe parahilus, sedangkan jika fokus
primer terletak di apeks paru, yang akan terlibat adalah kelenjar paratrakeal.
Kompleks primer merupakan gabungan antara fokus primer, kelenjar limfe
regional yang membesar (limfadenitis) dan saluran limfe yang meradang
(limfangitis).
Waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman TB hingga
terbentuknya kompleks primer secara lengkap disebut sebagai masa inkubasi
TB. Hal ini berbeda dengan pengertian masa inkubasi pada proses infeksi lain,
yaitu waktu yang diperlukan sejak masuknya kuman hingga timbulnya gejala
penyakit. Masa inkubasi TB biasanya berlangsung dalam waktu 4-8 minggu
dengan rentang waktu antara 2-12 minggu.Dalam masa inkubasi tersebut,
kuman tumbuh hingga mencapai jumlah 103-104, yaitu jumlah yang cukup
untuk merangsang respons imunitas seluler.
Selama berminggu-minggu awal proses infeksi, terjadi pertumbuhan
logaritmik kuman TB sehingga jaringan tubuh yang awalnya belum
tersensitisasi terhadap tuberkulin, mengalami perkembangan sensitivitas. Pada
saat terbentuknya kompleks primer inilah, infeksi TB primer dinyatakan telah
terjadi.Hal tersebut ditandai oleh terbentuknya hipersensitivitas terhadap
tuberkuloprotein, yaitu timbulnya respons positif terhadap uji
tuberkulin.Selama masa inkubasi, uji tuberkulin masih negatif.Setelah
kompleks primer terbentuk, imunitas seluler tubuh terhadap TB telah
terbentuk.Pada sebagian besar individu dengan sistem imun yang berfungsi
baik, begitu sistem imun seluler berkembang, proliferasi kuman TB
terhenti.Namun, sejumlah kecil kuman TB dapat tetap hidup dalam
granuloma. Bila imunitas seluler telah terbentuk, kuman TB baru yang masuk
ke dalam alveoli akan segera dimusnahkan.
Setelah imunitas seluler terbentuk, fokus primer di jaringan paru
biasanya mengalami resolusi secara sempurna membentuk fibrosis atau
kalsifikasi setelah mengalami nekrosis perkijuan dan enkapsulasi. Kelenjar
limfe regional juga akan mengalami fibrosis dan enkapsulasi, tetapi
penyembuhannya biasanya tidak sesempurna fokus primer di jaringan paru.
Kuman TB dapat tetap hidup dan menetap selama bertahun-tahun dalam
kelenjar ini.
Kompleks primer dapat juga mengalami komplikasi.Komplikasi yang
terjadi dapat disebabkan oleh fokus paru atau di kelenjar limfe regional.Fokus
primer di paru dapat membesar dan menyebabkan pneumonitis atau pleuritis
fokal. Jika terjadi nekrosis perkijuan yang berat, bagian tengah lesi akan
mencair dan keluar melalui bronkus sehingga meninggalkan rongga di
jaringan paru (kavitas). Kelenjar limfe hilus atau paratrakea yang mulanya
berukuran normal saat awal infeksi, akan membesar karena reaksi inflamasi
yang berlanjut. Bronkus dapat terganggu.Obstruksi parsial pada bronkus
akibat tekanan eksternal dapat menyebabkan ateletaksis.Kelenjar yang
mengalami inflamasi dan nekrosis perkijuan dapat merusak dan menimbulkan
erosi dinding bronkus, sehingga menyebabkan TB endobronkial atau
membentuk fistula.Massa kiju dapat menimbulkan obstruksi komplit pada
bronkus sehingga menyebabkan gabungan pneumonitis dan ateletaksis, yang
sering disebut sebagai lesi segmental kolaps-konsolidasi.
Selama masa inkubasi, sebelum terbentuknya imunitas seluler, dapat
terjadi penyebaran limfogen dan hematogen.Pada penyebaran limfogen,
kuman menyebar ke kelenjar limfe regional membentuk kompleks
primer.Sedangkan pada penyebaran hematogen, kuman TB masuk ke dalam
sirkulasi darah dan menyebar ke seluruh tubuh.Adanya penyebaran hematogen
inilah yang menyebabkan TB disebut sebagai penyakit sistemik.
Penyebaran hamatogen yang paling sering terjadi adalah dalam bentuk
penyebaran hematogenik tersamar (occult hamatogenic spread).Melalui cara
ini, kuman TB menyebar secara sporadik dan sedikit demi sedikit sehingga
tidak menimbulkan gejala klinis. Kuman TB kemudian akan mencapai
berbagai organ di seluruh tubuh. Organ yang biasanya dituju adalah organ
yang mempunyai vaskularisasi baik, misalnya otak, tulang, ginjal, dan paru
sendiri, terutama apeks paru atau lobus atas paru. Di berbagai lokasi tersebut,
kuman TB akan bereplikasi dan membentuk koloni kuman sebelum terbentuk
imunitas seluler yang akan membatasi pertumbuhannya.
Di dalam koloni yang sempat terbentuk dan kemudian dibatasi
pertumbuhannya oleh imunitas seluler, kuman tetap hidup dalam bentuk
dorman.Fokus ini umumnya tidak langsung berlanjut menjadi penyakit, tetapi
berpotensi untuk menjadi fokus reaktivasi.Fokus potensial di apkes paru
disebut sebagai Fokus SIMON. Bertahun-tahun kemudian, bila daya tahan
tubuh pejamu menurun, fokus TB ini dapat mengalami reaktivasi dan menjadi
penyakit TB di organ terkait, misalnya meningitis, TB tulang, dan lain-lain.
Bentuk penyebaran hamatogen yang lain adalah penyebaran
hematogenik generalisata akut (acute generalized hematogenic spread). Pada
bentuk ini, sejumlah besar kuman TB masuk dan beredar dalam darah menuju
ke seluruh tubuh.Hal ini dapat menyebabkan timbulnya manifestasi klinis
penyakit TB secara akut, yang disebut TB diseminata.TB diseminata ini
timbul dalam waktu 2-6 bulan setelah terjadi infeksi.Timbulnya penyakit
bergantung pada jumlah dan virulensi kuman TB yang beredar serta frekuensi
berulangnya penyebaran.Tuberkulosis diseminata terjadi karena tidak
adekuatnya sistem imun pejamu (host) dalam mengatasi infeksi TB, misalnya
pada balita.
Tuberkulosis milier merupakan hasil dari acute generalized
hematogenic spread dengan jumlah kuman yang besar. Semua tuberkel yang
dihasilkan melalui cara iniakan mempunyai ukuran yang lebih kurang sama.
Istilih milier berasal dari gambaranlesi diseminata yang menyerupai butir
padi-padian/jewawut (millet seed).Secarapatologi anatomik, lesi ini berupa
nodul kuning berukuran 1-3 mm, yang secarahistologi merupakan granuloma.
Bentuk penyebaran hematogen yang jarang terjadi adalah protracted
hematogenic spread. Bentuk penyebaran ini terjadi bila suatu fokus perkijuan
menyebar kesaluran vaskular di dekatnya, sehingga sejumlah kuman TB akan
masuk danberedar di dalam darah. Secara klinis, sakit TB akibat penyebaran
tipe ini tidak dapatdibedakan dengan acute generalized hematogenic spread.
Hal ini dapat terjadisecara berulang.
Pada anak, 5 tahun pertama setelah infeksi (terutama 1 tahun pertama),
biasanya sering terjadi komplikasi. Menurut Wallgren, ada 3 bentuk dasar TB
paru pada anak, yaitu penyebaran limfohematogen, TB endobronkial, dan TB
paru kronik. Sebanyak 0.5-3% penyebaran limfohematogen akan menjadi TB
milier atau meningitis TB, hal ini biasanya terjadi 3-6 bulan setelah infeksi
primer. Tuberkulosis endobronkial (lesi segmental yang timbul akibat
pembesaran kelenjar regional) dapat terjadi dalam waktu yang lebih lama (3-9
bulan). Terjadinya TB paru kronik sangat bervariasi, bergantung pada usia
terjadinya infeksi primer. TB paru kronik biasanya terjadi akibat reaktivasi
kuman di dalam lesi yang tidak mengalami resolusi sempurna.Reaktivasi ini
jarang terjadi pada anak, tetapi sering pada remaja dan dewasa muda.
Tuberkulosis ekstrapulmonal dapat terjadi pada 25-30% anak yang
terinfeksi TB. TB tulang dan sendi terjadi pada 5-10% anak yang terinfeksi,
dan paling banyak terjadi dalam 1 tahun tetapi dapat juga 2-3 tahun kemudian.
TB ginjal biasanya terjadi 5-25 tahun setelah infeksi primer.

Gambar 3. Skema Perkembangan Sarang Tuberkulosis Post Primer dan


Perjalanan Penyembuhannya
Gambar 4. Patogenesis Tuberkulosis

2.5 Diagnosis Tuberkulosis10,11,12


Diagnosis tuberkulosis dapat ditegakkan berdasarkan gejala klinik,
pemeriksaan fisik/jasmani, pemeriksaan bakteriologik, radiologik dan
pemeriksaan penunjang lainnya.
A. Gejala klinik
Gejala klinik tuberkulosis dapat dibagi menjadi 2 golongan, yaitu
gejala lokal dan gejala sistemik, bila organ yang terkena adalah paru maka
gejala lokal ialah gejala respiratorik (gejala lokal sesuai organ yang terlibat).
1. Gejala respiratorik
a. batuk-batuk lebih dari 2 minggu
b. batuk darah
c. sesak napas
d. nyeri dada
Gejala respiratorik ini sangat bervariasi, dari mulai tidak ada gejala
sampai gejala yang cukup berat tergantung dari luas lesi. Kadang pasien
terdiagnosis pada saat medical check up. Bila bronkus belum terlibat dalam
proses penyakit, maka pasien mungkin tidak ada gejala batuk. Batuk yang
pertama terjadi karena iritasi bronkus, dan selanjutnya batuk diperlukan untuk
membuang dahak ke luar.
2. Gejala sistemik
a. Demam
b. Gejala sistemik lain: malaise, keringat malam, anoreksia, berat badan
menurun.
3. Gejala tuberkulosis ekstra paru
Gejala tuberkulosis ekstra paru tergantung dari organ yang terlibat,
misalnya pada limfadenitis tuberkulosa akan terjadi pembesaran yang lambat
dan tidak nyeri dari kelenjar getah bening, pada meningitis tuberkulosa akan
terlihat gejala meningitis, sementara pada pleuritis tuberkulosa terdapat gejala
sesak napas & kadang nyeri dada pada sisi yang rongga pleuranya terdapat
cairan.
B. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik, kelainan yang akan dijumpai tergantung dari
organ yang terlibat. Pada tuberkulosis paru, kelainan yang didapat tergantung
luas kelainan struktur paru.Pada permulaan (awal) perkembangan penyakit
umumnya tidak (atau sulit sekali) menemukan kelainan. Kelainan paru pada
umumnya terletak di daerah lobus superior terutama daerah apeks dan segmen
posterior (S1 & S2) , serta daerah apeks lobus inferior (S6). Pada pemeriksaan
fisik dapat ditemukan antara lain suara napas bronkial, amforik, suara napas
melemah, ronki basah, tanda-tanda penarikan paru, diafragma & mediastinum.
Pada pleuritis tuberkulosa, kelainan pemeriksaan fisik tergantung dari
banyaknya cairan di rongga pleura.Pada perkusi ditemukan pekak, pada
auskultasi suara napas yang melemah sampai tidak terdengar pada sisi yang
terdapat cairan.
Pada limfadenitis tuberkulosa, terlihat pembesaran kelenjar getah
bening, tersering di daerah leher (pikirkan kemungkinan metastasis tumor),
kadang-kadang di daerah ketiak. Pembesaran kelenjar tersebut dapat menjadi
“cold abscess”
Gambar 5. Paru : Apeks Lobus Superior dan Apeks Lobus Inferior

C. Pemeriksaan Bakteriologik
1. Bahan pemeriksasan
Pemeriksaan bakteriologik untuk menemukan kuman tuberkulosis
mempunyai arti yang sangat penting dalam menegakkan diagnosis. Bahan
untuk pemeriksaan bakteriologik ini dapat berasal dari dahak, cairan pleura,
liquorcerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar (bronchoalveolar lavage/BAL), urin, faeces dan jaringan
biopsi (termasuk biopsi jarum halus/BJH)
2. Cara pengumpulan dan pengiriman bahan
Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS):
a. Sewaktu / spot (dahak sewaktu saat kunjungan)
b. Pagi ( keesokan harinya )
c. Sewaktu / spot ( pada saat mengantarkan dahak pagi) atau setiap pagi 3
hari berturut-turut.
Bahan pemeriksaan/spesimen yang berbentuk cairan
dikumpulkan/ditampung dalam pot yang bermulut lebar, berpenampang 6 cm
atau lebih dengan tutup berulir, tidak mudah pecah dan tidak bocor. Apabila
ada fasilitas, spesimen tersebut dapat dibuat sediaan apus pada gelas objek
(difiksasi) sebelum dikirim ke laboratorium.
Bahan pemeriksaan hasil BJH, dapat dibuat sediaan apus kering di
gelas objek, atau untuk kepentingan biakan dan uji resistensi dapat
ditambahkan NaCl 0,9% 3-5 ml sebelum dikirim ke laboratorium.
Spesimen dahak yang ada dalam pot (jika pada gelas objek
dimasukkan ke dalam kotak sediaan) yang akan dikirim ke laboratorium, harus
dipastikan telah tertulis identitas pasien yang sesuai dengan formulir
permohonan pemeriksaan laboratorium.
Bila lokasi fasilitas laboratorium berada jauh dari klinik/tempat
pelayanan pasien, spesimen dahak dapat dikirim dengan kertas saring melalui
jasa pos. Cara pembuatan dan pengiriman dahak dengan kertas saring:
a. Kertas saring dengan ukuran 10 x 10 cm, dilipat empat agar terlihat
bagian tengahnya.
b. Dahak yang representatif diambil dengan lidi, diletakkan di bagian
tengah dari kertas saring sebanyak + 1 ml.
c. Kertas saring dilipat kembali dan digantung dengan melubangi pada
satu ujung yang tidak mengandung bahan dahak.
d. Dibiarkan tergantung selama 24 jam dalam suhu kamar di tempat yang
aman, misal di dalam dus.
e. Bahan dahak dalam kertas saring yang kering dimasukkan dalam
kantong plastik kecil.
f. Kantong plastik kemudian ditutup rapat (kedap udara) dengan
melidahapikan sisi kantong yang terbuka dengan menggunakan lidi.
g. Di atas kantong plastik dituliskan nama pasien dan tanggal
pengambilan dahak.
h. Dimasukkan ke dalam amplop dan dikirim melalui jasa pos ke alamat
laboratorium.
3. Cara pemeriksaan dahak dan bahan lain.
Pemeriksaan bakteriologik dari spesimen dahak dan bahan lain (cairan
pleura, liquor cerebrospinal, bilasan bronkus, bilasan lambung, kurasan
bronkoalveolar /BAL, urin, faeces dan jaringan biopsi, termasuk BJH) dapat
dilakukan dengan cara :
a. Pemeriksaan mikroskopik:
- Mikroskopik biasa : pewarnaan Ziehl-Nielsen
- Mikroskopik fluoresens: pewarnaan auramin-rhodamin (khususnya
untuk screening) lnterpretasi hasil pemeriksaan dahak dari 3 kali
pemeriksaan ialah bila :
1) 3 kali positif atau 2 kali positif, 1 kali negative: BTA positif
2) 1 kali positif, 2 kali negative: ulang BTA 3 kali kecuali bila
ada fasilitas foto toraks, kemudian
 bila 1 kali positif, 2 kali negatif : BTA positif
 bila 3 kali negatif : BTA negatif
Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dengan skala IUATLD
(rekomendasi WHO). Skala IUATLD (International Union Against
Tuberculosis and Lung Disease) :
1) Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif
2) Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah
kuman yang ditemukan.
3) Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+).
4) Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+).
5) Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+).
Interpretasi hasil dapat juga dengan cara Bronkhorst atau Skala
Bronkhorst (BR) :
1) BR I : ditemukan 3-40 batang selama 15 menit pemeriksaan.
2) BR II : ditemukan sampai 20 batang per 10 lapang pandang.
3) BR III : ditemukan 20-60 batang per 10 lapang pandang.
4) BR IV : ditemukan 60-120 batang per 10 lapang pandang.
5) BR V : ditemukan > 120 batang per 10 lapang pandang.
b. Pemeriksaan biakan kuman: Pemeriksaan biakan M.tuberculosis dengan
metode konvensional ialah dengan cara :
1) Egg base media: Lowenstein-Jensen (dianjurkan), Ogawa, Kudoh.
2) Agar base media : Middle brook.
Melakukan biakan dimaksudkan untuk mendapatkan diagnosis pasti,
dan dapat mendeteksi Mycobacterium tuberculosis dan juga
Mycobacterium other than tuberculosis (MOTT).Untuk mendeteksi MOTT
dapat digunakanbeberapa cara, baik dengan melihat cepatnya pertumbuhan,
menggunakan uji nikotinamid, uji niasin maupunpencampuran dengan
cyanogen bromide serta melihat pigmen yang timbul.

D. Pemeriksaan Radiologik
Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas
indikasi: foto lateral, top-lordotik, oblik, CT-Scan. Pada pemeriksaan foto
toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk
(multiform).
Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif :
1. Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas
paru dan segmen superior lobus bawah.
2. Kavitas, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak
berawan atau nodular.
3. Bayangan bercak milier.
4. Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang).
Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif
1. Fibrotik
2. Kalsifikasi
3. Schwarte atau penebalan pleura
Luluh paru (destroyed Lung ) :
1. Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang
berat, biasanya secara klinis disebut luluh paru .Gambaran radiologik
luluh paru terdiri dari atelektasis, ektasis/ multikavitas dan fibrosis
parenkim paru. Sulit untuk menilai aktivitas lesi atau penyakit hanya
berdasarkan gambaran radiologik tersebut.
2. Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktiviti
proses penyakit.
Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan
dapat dinyatakan sbb (terutama pada kasus BTA negatif) :
1. Lesi minimal ,bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru
dengan luas tidak lebih dari sela iga 2 depan (volume paru yang
terletak di atas chondrostemal junction dari iga kedua depan dan
prosesus spinosus dari vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra
torakalis 5), serta tidak dijumpai kavitas
2. Lesi luas, bila proses lebih luas dari lesi minimal.

E. Pemeriksaan Khusus
Salah satu masalah dalam mendiagnosis pasti tuberkulosis adalah
lamanya waktu yang dibutuhkan untuk pembiakan kuman tuberkulosis secara
konvensional.Dalam perkembangan kini ada beberapa teknik yang lebih baru
yang dapat mengidentifikasi kuman tuberkulosis secara lebih cepat.
1. Pemeriksaan BACTEC
Dasar teknik pemeriksaan biakan dengan BACTEC ini adalah
metode radiometrik.M tuberculosis memetabolisme asam lemak yang
kemudian menghasilkan CO2 yang akan dideteksi growth indexnya
oleh mesin ini. Sistem ini dapat menjadi salah satu alternatif
pemeriksaan biakan secara cepat untuk membantu menegakkan
diagnosis dan melakukan uji kepekaan.
2. Polymerase chain reaction (PCR)
Pemeriksaan PCR adalah teknologi canggih yang dapat
mendeteksi DNA, termasuk DNA M.tuberculosis.Salah satu masalah
dalam pelaksanaan teknik ini adalah kemungkinan kontaminasi.Cara
pemeriksaan ini telah cukup banyak dipakai, kendati masih
memerlukan ketelitian dalam pelaksanaannya.
Hasil pemeriksaan PCR dapat membantu untuk menegakkan
diagnosis sepanjang pemeriksaan tersebut dikerjakan dengan cara yang
benar dan sesuai standar internasional. Apabila hasil pemeriksaan PCR
positif sedangkan data lain tidak ada yang menunjang kearah diagnosis
TB, maka hasil tersebut tidak dapat dipakai sebagai pegangan untuk
diagnosis TB.
Pada pemeriksaan deteksi M.tb tersebut diatas, bahan /
spesimen pemeriksaan dapat berasal dari paru maupun ekstra paru
sesuai dengan organ yang terlibat.
3. Pemeriksaan serologi, dengan berbagai metoda :
a. Enzym linked immunosorbent assay (ELISA)
Teknik ini merupakan salah satu uji serologi yang dapat
mendeteksi respon humoral berupa proses antigenantibodi yang terjadi.
Beberapa masalah dalam teknik ini antara lain adalah kemungkinan
antibodi menetap dalam waktu yang cukup lama.

b. ICT
Uji Immunochromatographic tuberculosis (ICT tuberculosis)
adalah uji serologik untuk mendeteksi antibodi M. tuberculosis dalam
serum.Uji ICT merupakan uji diagnostik TB yang menggunakan 5
antigen spesifik yangberasal dari membran sitoplasma M.tuberculosis,
diantaranya antigen M.tb 38 kDa.Ke 5 antigen tersebutdiendapkan
dalam bentuk 4 garis melintang pada membran immunokromatografik
(2 antigen diantaranyadigabung dalam 1 garis) disamping garis
kontrol. Serum yang akan diperiksa sebanyak 30 ml diteteskan
kebantalan warna biru, kemudian serum akan berdifusi melewati garis
antigen. Apabila serum mengandung antibodyIgG terhadap
M.tuberculosis, maka antibodi akan berikatan dengan antigen dan
membentuk garis warna merahmuda. Uji dinyatakan positif bila setelah
15 menit terbentuk garis kontrol dan minimal satu dari empat
garisantigen pada membran.
c. Mycodot
Uji ini mendeteksi antibodi antimikobakterial di dalam tubuh
manusia.Uji ini menggunakan antigen lipoarabinomannan (LAM) yang
direkatkan pada suatu alat yang berbentuk sisir plastik. Sisir plastik ini
kemudian dicelupkan ke dalam serum pasien, dan bila di dalam serum
tersebut terdapat antibodi spesifik anti LAM dalam jumlah yang
memadai sesuai dengan aktiviti penyakit, maka akan timbul perubahan
warna pada sisir dan dapat dideteksi dengan mudah.
d. Uji peroksidase anti peroksidase (PAP)
Uji ini merupakan salah satu jenis uji yang mendeteksi reaksi
serologi yang terjadi dalam menginterpretasi hasil pemeriksaan
serologi yang diperoleh, para klinisi harus hati hati karena banyak
variabel yang mempengaruhi kadar antibodi yang terdeteksi.
e. Uji serologi yang baru / IgG TB
Saat ini pemeriksaan serologi belum dapat dipakai sebagai
pegangan untuk diagnosis.

F. Pemeriksaan Lain
1. Analisis Cairan Pleura
Pemeriksaan analisis cairan pleura & uji Rivalta cairan pleura perlu
dilakukan pada pasien efusi pleura untuk membantu menegakkan
diagnosis.Interpretasi hasil analisis yang mendukung diagnosis tuberkulosis
adalah uji Rivalta positif dan kesan cairan eksudat, serta pada analisis cairan
pleura terdapat sel limfosit dominan dan glukosa rendah.
2. Pemeriksaan histopatologi jaringan
Pemeriksaan histopatologi dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis TB.Pemeriksaan yang dilakukan ialah pemeriksaan histologi. Bahan
jaringan dapat diperoleh melalui biopsi atau otopsi, yaitu :
a. Biopsi aspirasi dengan jarum halus (BJH) kelenjar getah bening
(KGB)
b. Biopsi pleura (melalui torakoskopi atau dengan jarum abram, Cope
dan Veen Silverman)
c. Biopsi jaringan paru (trans bronchial lung biopsy/TBLB) dengan
bronkoskopi, trans thoracal biopsy/TTB, biopsy paru terbuka).
d. Otopsi
Pada pemeriksaan biopsi sebaiknya diambil 2 sediaan, satu sediaan
dimasukkan ke dalam larutan salin dan dikirim ke laboratorium mikrobiologi
untuk dikultur serta sediaan yang kedua difiksasi untuk pemeriksaan histologi.
3. Pemeriksaan darah
Hasil pemeriksaan darah rutin kurang menunjukkan indikator yang
spesifik untuk tuberkulosis. Laju endap darah ( LED) jam pertama dan kedua
dapat digunakan sebagai indikator penyembuhan pasien. LED sering
meningkat pada proses aktif, tetapi laju endap darah yang normal tidak
menyingkirkan tuberkulosis. Limfositpun kurang spesifik.
4. Uji tuberkulin
Uji tuberkulin yang positif menunjukkan adanya infeksi tuberkulosis.
Di Indonesia dengan prevalensi tuberculosis yang tinggi, uji tuberkulin
sebagai alat bantu diagnostik penyakit kurang berarti pada orang dewasa. Uji
ini akan mempunyai makna bila didapatkan konversi, bula atau apabila
kepositifan dari uji yang didapat besar sekali. Pada malnutrisi dan infeksi HIV
uji tuberkulin dapat memberikan hasil negatif.
Gambar 6. Alur Diagnosis TB Paru

2.6 Klasifikasi Tuberkulosis9,10,11,12


A. Tuberkulosis Paru
Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan paru, tidak
termasuk pleura.
1. Berdasar hasil pemeriksaan dahak (BTA), TB paru dibagi atas:
a. Tuberkulosis paru BTA (+) adalah:
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak menunjukkan hasil BTA positif.
Hasil pemeriksaan satu spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan kelainan
radiologik menunjukkan gambaran tuberkulosis aktif.Hasil pemeriksaan satu
spesimen dahak menunjukkan BTA positif dan biakan positif.
b. Tuberkulosis paru BTA (-)
1) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif, gambaran klinik
dan kelainan radiologis menunjukkan tuberkulosis aktif.
2) Hasil pemeriksaan dahak 3 kali menunjukkan BTA negatif dan biakan M.
tuberculosis positif.
2. Berdasarkan tipe pasien
Tipe pasien ditentukan berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya. Ada
beberapa tipe pasien yaitu :
a. Kasus baru
Adalah pasien yang belum pernah mendapat pengobatan dengan OAT atau sudah
pernah menelan OAT kurang dari satu bulan.
b. Kasus kambuh (relaps)
Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan
tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, kemudian
kembali lagi berobat dengan hasil pemeriksaan dahak BTA positif atau biakan
positif.
Bila BTA negatif atau biakan negatif tetapi gambaran radiologik dicurigai lesi aktif
/ perburukan dan terdapat gejalaklinis maka harus dipikirkan beberapa
kemungkinan :
1) Infeksi non TB (pneumonia, bronkiektasis dll) Dalam hal ini berikan dahulu
antibiotik selama 2 minggu, kemudian dievaluasi.
2) Infeksi jamur
3) TB paru kambuh
Bila meragukan harap konsul ke ahlinya.
c. Kasus defaulted atau drop out
Adalah pasien yang tidak mengambil obat 2 bulan berturut-turut atau lebih
sebelum masa pengobatannya selesai.
d. Kasus gagal
1) Adalah pasien BTA positif yang masih tetap positif atau kembali menjadi
positif pada akhir bulan ke-5 (satu bulan sebelum akhir pengobatan).
2) Adalah pasien dengan hasil BTA negatif gambaran radiologik positif menjadi
BTA positif pada akhir bulan ke-2 pengobatan.
e. Kasus kronik / persisten
Adalah pasien dengan hasil pemeriksaan BTA masih positif setelah selesai
pengobatan ulang kategori 2 dengan pengawasan yang baik.
Catatan:

a. Kasus pindahan (transfer in):


Adalah pasien yang sedang mendapatkan pengobatan di suatu kabupaten dan
kemudian pindah berobat ke kabupaten lain. Pasien pindahan tersebut harus
membawa surat rujukan / pindah.
b. Kasus Bekas TB:
1) Hasil pemeriksaan BTA negatif (biakan juga negatif bila ada) dan gambaran
radiologik paru menunjukkan lesi TB yang tidak aktif, atau foto serial
menunjukkan gambaran yang menetap. Riwayat pengobatan OAT adekuat
akan lebih mendukung.
2) Pada kasus dengan gambaran radiologik meragukan dan telah mendapat
pengobatan OAT 2 bulan serta pada foto toraks ulang tidak ada perubahan
gambaran radiologic.
B. Tuberkulosis Ekstra Paru
Tuberkulosis ekstra paru adalah tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain
selain paru, misalnya pleura, kelenjar getah bening, selaput otak, perikard, tulang,
persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin dan lain-lain.
Diagnosis sebaiknya didasarkan atas kultur positif atau patologi anatomi.
Untuk kasus-kasus yang tidak dapat dilakukan pengambilan spesimen maka
diperlukan bukti klinis yang kuat dan konsisten dengan TB ekstra paru aktif.

2.7 Penatalaksanaan11,12,13
Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan)
dan fase lanjutan 4 atau 7 bulan.Paduan obat yang digunakan terdiri dari paduan obat
utama dan tambahan.
A. Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
1. Prinsip pengobatan
Pengobatan tuberkulosis dilakukan dengan prinsip - prinsip sebagai berikut:
a. OAT harus diberikan dalam bentuk kombinasi beberapa jenis obat, dalam jumlah
cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Jangan gunakan OAT
tunggal (monoterapi). Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tetap (OAT-KDT) lebih
menguntungkan dan sangat dianjurkan.
b. Untuk menjamin kepatuhan pasien menelan obat, dilakukan pengawasan langsung
(DOT = Directly Observed Treatment) oleh seorang Pengawas Menelan Obat
(PMO).
c. Pengobatan TB diberikan dalam 2 tahap, yaitu tahap intensif dan lanjutan.

Tahap awal (intensif)


a. Pada tahap intensif (awal) pasien mendapat obat setiap hari dan perlu diawasi
secara langsung untuk mencegah terjadinya resistensi obat.
b. Bila pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya pasien
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu.
c. Sebagian besar pasien TB BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam 2
bulan.

Tahap Lanjutan
a. Pada tahap lanjutan pasien mendapat jenis obat lebih sedikit, namun dalam jangka
waktu yang lebih lama
b. Tahap lanjutan penting untuk membunuh kuman persister sehingga mencegah
terjadinya kekambuhan

2. Paduan OAT yang digunakan di Indonesia


Pengobatan tuberkulosis dibagi menjadi:
a. TB paru (kasus baru), BTA positif atau pada foto toraks: lesi luas
Paduan obat yang dianjurkan :
1) 2 RHZE / 4 RH atau
2) 2 RHZE / 4R3H3 atau
3) 2 RHZE/ 6HE.
Paduan ini dianjurkan untuk
1) TB paru BTA (+), kasus baru
2) TB paru BTA (-), dengan gambaran radiologik lesi luas (termasuk luluh paru)
Pada evaluasi hasil akhir pengobatan, bila dipertimbangkan untuk
memperpanjang fase lanjutan, dapat diberikan lebih lama dari waktu yang
ditentukan.(Bila perlu dapat dirujuk ke ahli paru). Bila ada fasilitas biakan dan uji
resistensi, pengobatan disesuaikan dengan hasil uji resistensi
b. TB paru kasus kambuh
Pada TB paru kasus kambuh menggunakan 5 macam OAT pada fase intensif
selama 3 bulan (bila ada hasil uji resistensi dapat diberikan obat sesuai hasil uji
resistensi). Lama pengobatan fase lanjutan 5 bulan atau lebih, sehingga paduan
obat yang diberikan : 2 RHZES / 1 RHZE / 5 RHE. Bila diperlukan pengobatan
dapat diberikan lebih lama tergantung dari perkembangan penyakit. Bila tidak ada /
tidak dilakukan uji resistensi, maka alternatif diberikan paduan obat : 2 RHZES/1
RHZE/5 R3H3E3 (P2 TB).
c. TB Paru kasus gagal pengobatan
Pengobatan sebaiknya berdasarkan hasil uji resistensi dengan menggunakan
minimal 5 OAT (minimal 3 OAT yang masih sensitif), seandainya H resisten tetap
diberikan.Lama pengobatan minimal selama 1 - 2 tahun. Sambil menunggu hasil
uji resistensi dapat diberikan obat 2 RHZES, untuk kemudian dilanjutkan sesuai uji
resistensi
1) Bila tidak ada / tidak dilakukan uji resistensi, maka alternatif diberikan paduan
obat : 2 RHZES/1 RHZE/5 H3R3E3 (P2TB)
2) Dapat pula dipertimbangkan tindakan bedah untuk mendapatkan hasil yang
optimal
3) Sebaiknya kasus gagal pengobatan dirujuk ke ahli paru

d. TB Paru kasus putus berobat


Pasien TB paru kasus lalai berobat, akan dimulai pengobatan kembali sesuai
dengan kriteria sebagai berikut :
1) Pasien yang menghentikan pengobatannya < 2 bulan, pengobatan OAT
dilanjutkan sesuai jadwal.
2) Pasien menghentikan pengobatannya 2 bulan:
o Berobat 4 bulan, BTA saat ini negatif , klinik dan radiologik tidak aktif /
perbaikan, pengobatan OAT STOP. Bila gambaran radiologik aktif, lakukan
analisis lebih lanjut untuk memastikan diagnosis TB dengan
mempertimbangkan juga kemungkinan penyakit paru lain. Bila terbukti TB
maka pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang lebih kuat
dan jangka waktu pengobatan yang lebih lama. Jika telah diobati dengan
kategori II maka pengobatan kategori II diulang dari awal.
o Berobat > 4 bulan, BTA saat ini positif : pengobatan dimulai dari awal
dengan paduan obat yang lebih kuat dan jangka waktu pengobatan yang
lebih lama. Jika telah diobati dengan kategori II maka pengobatan kategori
II diulang dari awal.
o Berobat < 4 bulan, BTA saat ini positif atau negatif dengan klinik dan
radiologik positif: pengobatan dimulai dari awal dengan paduan obat yang
sama
Jika memungkinkan sebaiknya diperiksa uji kepekaan (kultur resistensi)
terhadap OAT.
e. TB Paru kasus kronik
1) Pengobatan TB paru kasus kronik, jika belum ada hasil uji resistensi, berikan
RHZES. Jika telah ada hasil uji resistensi, sesuaikan dengan hasil uji resistensi
(minimal terdapat 3 macam OAT yang masih sensitif dengan H tetap diberikan
walaupun resisten) ditambah dengan obat lini 2 seperti kuinolon, betalaktam,
makrolid.
2) Jika tidak mampu dapat diberikan INH seumur hidup.
3) Pertimbangkan pembedahan untuk meningkatkan kemungkinan penyembuhan.
4) Kasus TB paru kronik perlu dirujuk ke ahli paru
Catatan : TB diluar paru lihat TB dalam keadaan khusus

Paket Kombipak.
Adalah paket obat lepas yang terdiri dari Isoniasid, Rifampisin, Pirazinamid
dan Etambutol yang dikemas dalam bentuk blister.Paduan OAT ini disediakan
program untuk digunakan dalam pengobatan pasien yang mengalami efek samping
OAT KDT.
Pengembangan pengobatan TB paru yang efektif merupakan hal yang penting
untuk menyembuhkan pasien dan menghindari MDR TB (multidrug resistant
tuberculosis).Pengembangan strategi DOTS untuk mengontrol epidemi TB
merupakan prioriti utama WHO.International Union Against Tuberculosis and Lung
Disease (IUALTD) dan WHO menyarakan untuk menggantikan paduan obat tunggal
dengan kombinasi dosis tetap dalam pengobatan TB primer pada tahun 1998.Dosis
obat tuberkulosis kombinasi dosis tetap berdasarkan WHO seperti terlihat pada tabel
3.

Keuntungan kombinasi dosis tetap antara lain:


1. Penatalaksanaan sederhana dengan kesalahan pembuatan resep minimal.
2. Peningkatan kepatuhan dan penerimaan pasien dengan penurunan kesalahan
pengobatan yang tidak disengaja.
3. Peningkatan kepatuhan tenaga kesehatan terhadap penatalaksanaan yang benar dan
standar.
4. Perbaikan manajemen obat karena jenis obat lebih sedikit.
5. Menurunkan risiko penyalahgunaan obat tunggal dan MDR akibat penurunan
penggunaan monoterapi.
Tabel 1. Jenis dan Dosis OAT
Dosis (mg) / BB (kg)
Obat Dosis Dosis yang dianjurkan Dosis
Harian Intermitten
(mg/kgBB/Har Maksimu
< 40 40-60 > 60
(mg/kgBB/Har (mg/kgBB/Har
i) m
i) i)
R 8-12 10 10 600 300 450 600
H 4-6 5 10 300 150 300 450
Z 20-30 25 35 750 1000 1500
E 15-20 15 30 750 1000 1500
S 15-18 15 15 1000 Sesuai 750 1000
BB

Tabel 2. Dosis untuk paduan OAT KDT untuk Kategori 1


Berat Badan Tahap Intensif Tahap Lanjutan
tiap hari selama 56 hari 3 kali seminggu selama 16 minggu
RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)
30-37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
38-54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
55-70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT

Tabel 3. Dosis paduan OAT-Kombipak untuk Kategori 1


Dosis per hari / kali Jumlah
Tablet Kaplet Tablet Tablet
Tahap Lama hari/kali
Isoniasid Rifampisin Pirazinamid Etambutol
Pengobatan Pengobatan menelan
@ 300 mg @ 450 mg @ 500 mg @ 250 mg
obat
Intensif 2 bulan 1 1 3 3 56
Lanjutan 4 bulan 2 1 - - 48
Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3)
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
a. Pasien baru TB paru BTA positif.
b. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif
c. Pasien TB ekstra paru

Tabel 4. Dosis untuk paduan OAT KDT Kategori 2


Tahap Intensif Tahap Lanjutan
Berat Tiap hari 3 kali seminggu
Badan RHZE (150/75/400/275) + S RH (150/150) + E (400)
Selama 56 hari Selama 28 hari Selama 20 minggu
30-37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 4KDT 2 tablet 2KDT
+ 500 mg Streptomisin inj. + 2 tablet Etambutol
38-54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT 3 tablet 2KDT
+ 750 mg Streptomisin inj. + 3 tablet Etambutol
55-70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT 4 tablet 2KDT
+ 1000 mg Streptomisin inj. + 4 tablet Etambutol
≥ 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT 5 tablet 2KDT
+ 1000 mg Streptomisin inj. + 5 tablet Etambutol

Tabel 5. Dosis paduan OAT Kombipak untuk Kategori 2


Tahap Lama Tablet Kaplet Tablet Etambutol Streptomis Jumlah/
Tablet Tablet
Pengobat Pengobata Isoniasi Rifampisi Pirazinami in Injeksi kali
@ 250 @ 400
an n d n d menelan
mg mg
@ 300 @ 450 @ 500 mg obat
mg mg
Tahap
Intenif 2 bulan 1 1 3 3 - 0,75 gr 56
(dosis 1 bulan 1 1 3 3 - - 28
harian
Tahap
Lanjutan 4 bulan 2 1 - 1 2 - 60
(dosis 3x
seminggu
)

Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3)


Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati
sebelumnya:
a. Pasien kambuh
b. Pasien gagal
c. Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)
Catatan:
a. Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untuk streptomisin
adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan.
b. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaan khusus.
c. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu dengan menambahkan aquabidest
sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml. (1ml = 250mg).

Tabel 6. Dosis KDT untuk Sisipan


Berat Badan Tahap Intensif tiap hari selama 28 hari
RHZE (150/75/400/275)
30-37 kg 2 tablet 4KDT
38-54 kg 3 tablet 4KDT
55-70 kg 4 tablet 4KDT
≥ 71 kg 5 tablet 4KDT

Tabel 7. Dosis OAT Kombipak untuk Sisipan


Tahap Lamanya Tablet Kaplet Tablet Tablet Jumlah
Pengobatan Pengobatan Isoniasid Rifampisin Pirazinamid Etambutol hari/kali
@ 300 mg @ 450 mg @ 500 mg @ 250 mg menelan obat
Tahap
Intensif 1 bulan 1 1 3 3 28
(dosis
harian)

Penentuan dosis terapi kombinasi dosis tetap 4 obat berdasarkan rentang dosis
yang telah ditentukan oleh WHO merupakan dosis yang efektif atau masih termasuk
dalam batas dosis terapi dan non toksik. Pada kasus yang mendapat obat kombinasi
dosis tetap tersebut, bila mengalami efek samping serius harus dirujuk ke rumah
sakit / dokter spesialis paru / fasiliti yang mampu menanganinya.

B. Tatalaksana TB Anak
Diagnosis TB pada anak sulit sehingga sering terjadi misdiagnosis baik
overdiagnosis maupun underdiagnosis.Pada anak-anak batuk bukan merupakan gejala
utama. Pengambilan dahak pada anak biasanya sulit, maka diagnosis TB anak perlu
kriteria lain dengan menggunakan sistem skor .
Unit Kerja Koordinasi Respirologi PP IDAI telah membuat Pedoman Nasional
Tuberkulosis Anak dengan menggunakan sistem skor (scoring system), yaitu
pembobotan terhadap gejala atau tanda klinis yang dijumpai.Pedoman tersebut secara
resmi digunakan oleh program nasional penanggulangan tuberkulosis untuk diagnosis
TB anak.Lihat tabel 8.tentang sistem pembobotan (scoring system) gejala dan
pemeriksaan penunjang.
Setelah dokter melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan
penunjang, maka dilakukan pembobotan dengan sistem skor. Pasien dengan jumlah
skor yang lebih atau sama dengan 6 (>6), harus ditatalaksana sebagai pasien TB dan
mendapat OAT (obat anti tuberkulosis). Bila skor kurang dari 6 tetapi secara klinis
kecurigaan kearah TB kuat maka perlu dilakukan pemeriksaan diagnostik lainnya
sesuai indikasi, seperti bilasan lambung, patologi anatomi, pungsi lumbal, pungsi
pleura, foto tulang dan sendi,
funduskopi, CT-Scan, dan lain lainnya.
Tabel 8. Sistem skoring (scoring system) gejala dan pemeriksaan
penunjang TB
Parameter 0 1 2 3 Jumlah
Kontak TB Tidak Laporan BTA (+)
jelas keluarga, BTA
(-) atau tidak
tahu, BTA tidak
jelas
Uji Tuberkulin Negatif Positif (≥ 10
mm, atau ≥ 5
mm pada
keadaan
imunosupresi)
Berat badan/ Bawah garis merah Klinis gizi buruk
keadaan gizi (KMS) atau BB/U (BB/U < 60%)
< 80 %
Demam tanpa ≥ 2 minggu
sebab
Batuk ≥ 3 minggu
Pembesaran ≥ 1 cm, jumlah > 1,
kelenjar linfe tidak nyeri
koli, aksila,
inguinal
Pembengkakan Ada pembengkakan
tulang/sendi
panggul, lutut,
falang
Foto toraks Normal/ Kesan TB
tidak jelas
Jumlah
Catatan :
a. Diagnosis dengan sistem skoring ditegakkan oleh dokter.
b. Batuk dimasukkan dalam skor setelah disingkirkan penyebab batuk kronik lainnya
seperti Asma, Sinusitis, dan lain-lain.
c. Jika dijumpai skrofuloderma (TB pada kelenjar dan kulit), pasien dapat langsung
didiagnosis tuberkulosis.
d. Berat badan dinilai saat pasien datang (moment opname).--> lampirkan tabel badan
badan.
e. Foto toraks toraks bukan alat diagnostik utama pada TB anak
f. Semua anak dengan reaksi cepat BCG (reaksi lokal timbul < 7 hari setelah
penyuntikan) harus dievaluasi dengan sistem skoring TB anak.
g. Anak didiagnosis TB jika jumlah skor > 6, (skor maksimal 14)
h. Pasien usia balita yang mendapat skor 5, dirujuk ke RS untuk evaluasi lebih lanjut.
Perlu perhatian khusus jika ditemukan salah satu keadaan di bawah ini:
1. Tanda bahaya:
a. kejang, kaku kuduk
b. penurunan kesadaran
c. kegawatan lain, misalnya sesak napas
2. Foto toraks menunjukkan gambaran milier, kavitas, efusi pleura
3. Gibbus, koksitis
Gambar 7. Alur Tatalaksana Pasien TB Anak Pada Unit Pelayanan
Kesehatan Dasar

Pada sebagian besar kasus TB anak pengobatan selama 6 bulan cukup


adekuat.Setelah pemberian obat 6 bulan, lakukan evaluasi baik klinis maupun
pemeriksaan penunjang.Evaluasi klinis pada TB anak merupakan parameter terbaik
untuk menilai keberhasilan pengobatan.Bila dijumpai perbaikan klinis yang nyata
walaupun gambaran radiologik tidak menunjukkan perubahan yang berarti, OAT tetap
dihentikan.
Kategori Anak (2RHZ/ 4RH)
Prinsip dasar pengobatan TB adalah minimal 3 macam obat dan diberikan
dalam waktu 6 bulan.OAT pada anak diberikan setiap hari, baik pada tahap intensif
maupun tahap lanjutan dosis obat harus disesuaikan dengan berat badan anak.

Tabel 9. Dosis OAT Kombipak pada anak


Jenis Obat BB < 10 kg BB 10 - 19 kg BB 2 - 32 kg
Isoniasid 50 mg 100 mg 200 mg
Rifampisin 75 mg 150 mg 300 mg
Pirazinamid 150 mg 300 mg 600 mg

Tabel 10. Dosis OAT KDT pada anak


Berat badan (kg) 2 bulan tiap hari 4 bulan tiap hari
RHZ (75/50/150) RH (75/50)
5-9 1 tablet 1 tablet
10-19 2 tablet 2 tablet
20-32 4 tablet 4 tablet
Keterangan:
a. Bayi dengan berat badan kurang dari 5 kg dirujuk ke rumah sakit
b. Anak dengan BB 15-19 kg dapat diberikan 3 tablet.
c. Anak dengan BB ≥33 kg , dirujuk ke rumah sakit.
d. Obat harus diberikan secara utuh, tidak boleh dibelah
e. OAT KDT dapat diberikan dengan cara : ditelan secara utuh atau digerus sesaat
sebelum diminum.

Pengobatan Pencegahan (Profilaksis) untuk Anak


Pada semua anak, terutama balita yang tinggal serumah atau kontak erat
dengan penderita TB dengan BTA positif, perlu dilakukan pemeriksaan menggunakan
sistem skoring. Bila hasil evaluasi dengan skoring system didapat skor < 5, kepada
anak tersebut diberikan Isoniazid (INH) dengan dosis 5-10 mg/kg BB/hari selama 6
bulan. Bila anak tersebut belum pernah mendapat imunisasi BCG, imunisasi BCG
dilakukan setelah pengobatan pencegahan selesai.

C. Efek Samping OAT


Sebagian besar pasien TB dapat menyelesaikan pengobatan tanpa efek
samping.Namun sebagian kecil dapat mengalami efek samping, oleh karena itu
pemantauan kemungkinan terjadinya efek samping sangat penting dilakukan selama
pengobatan.
Efek samping yang terjadi dapat ringan atau berat (terlihat pada tabel 4 & 5), bila efek
samping ringan dan dapat diatasi dengan obat simtomatik maka pemberian OAT dapat
dilanjutkan.
1. Isoniazid (INH)
Efek samping ringan dapat berupa tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi,
kesemutan, rasa terbakar di kaki dan nyeri otot.Efek ini dapat dikurangi dengan
pemberian piridoksin dengan dosis 100 mg perhari atau dengan vitamin B
kompleks.Pada keadaan tersebut pengobatan dapat diteruskan. Kelainan lain ialah
menyerupai defisiensi piridoksin
(syndrom pellagra).
Efek samping berat dapat berupa hepatitis imbas obat yang dapat timbul pada
kurang lebih 0,5% pasien. Bila terjadi hepatitis imbas obat atau ikterik, hentikan OAT
dan pengobatan sesuai dengan pedoman TB pada keadaan khusus
2. Rifampisin
Efek samping ringan yang dapat terjadi dan hanya memerlukan pengobatan
simtomatik ialah :
a. Sindrom flu berupa demam, menggigil dan nyeri tulang
b. Sindrom perut berupa sakit perut, mual, tidak nafsu makan, muntah kadang-kadang
diare
c. Sindrom kulit seperti gatal-gatal kemerahan
d. Efek samping yang berat tetapi jarang terjadi ialah :
e. Hepatitis imbas obat atau ikterik, bila terjadi hal tersebut OAT harus distop dulu
dan penatalaksanaan sesuai pedoman TB pada keadaan khusus
f. Purpura, anemia hemolitik yang akut, syok dan gagal ginjal. Bila salah satu dari
gejala ini terjadi, rifampisin harus segera dihentikan dan jangan diberikan lagi
walaupun gejalanya telah menghilang
g. Sindrom respirasi yang ditandai dengan sesak napas
Rifampisin dapat menyebabkan warna merah pada air seni, keringat, air mata,
air liur. Warna merah tersebut terjadi karena proses metabolisme obat dan tidak
berbahaya. Hal ini harus diberitahukan kepada pasien agar dimengerti dan tidak perlu
khawatir.
3. Pirazinamid
Efek samping utama ialah hepatitis imbas obat (penatalaksanaan sesuai
pedoman TB pada keadaan khusus).Nyeri sendi juga dapat terjadi (beri aspirin) dan
kadang-kadang dapat menyebabkan serangan arthritis Gout, hal ini kemungkinan
disebabkan berkurangnya ekskresi dan penimbunan asam urat. Kadang-kadang terjadi
reaksi demam, mual, kemerahan dan reaksi kulit yang lain.
4. Etambutol
Etambutol dapat menyebabkan gangguan penglihatan berupa berkurangnya
ketajaman, buta warna untuk warna merah dan hijau. Meskipun demikian keracunan
okuler tersebut tergantung pada dosis yang dipakai, jarang sekali terjadi bila dosisnya
15-25 mg/kg BB perhari atau 30 mg/kg BB yang diberikan 3 kali seminggu.
Gangguan penglihatan akan kembali normal dalam beberapa minggu setelah obat
dihentikan. Sebaiknya etambutol tidak diberikan pada anak karena risiko kerusakan
okuler sulit untuk dideteksi
5. Streptomisin
Efek samping utama adalah kerusakan syaraf kedelapan yang berkaitan
dengan keseimbangan dan pendengaran. Risiko efek samping tersebut akan
meningkat seiring dengan peningkatan dosis yang digunakan dan umur pasien. Risiko
tersebut akan meningkat pada pasien dengan gangguan fungsi ekskresi ginjal. Gejala
efek samping yang
terlihat ialah telinga mendenging (tinitus), pusing dan kehilangan keseimbangan.
Keadaan ini dapat dipulihkan bila obat segera dihentikan atau dosisnya dikurangi
0,25gr.Jika pengobatan diteruskan maka kerusakan alat keseimbangan makin parah
dan menetap (kehilangan keseimbangan dan tuli).
Reaksi hipersensitiviti kadang terjadi berupa demam yang timbul tiba-tiba
disertai sakit kepala, muntah dan eritema pada kulit.Efek samping sementara dan
ringan (jarang terjadi) seperti kesemutan sekitar mulut dan telinga yang mendenging
dapat terjadi segera setelah suntikan.Bila reaksi ini mengganggu maka dosis dapat
dikurangi 0,25gr Streptomisin dapat menembus barrier plasenta sehingga tidak boleh
diberikan pada wanita hamil sebab dapat merusak syaraf pendengaran janin.

Tabel 11. Efek Samping Minor OAT dan Penatalaksanaannya


Efek samping Kemungkinan Penyebab Tatalaksana
Minor OAT diteruskan
Tidak nafsumakan, mual, Rifampisin Obat diminum malam sebelum tidur
sakit perut
Nyeri sendi Pirazinamid Beri aspirin/allopurinol
Kesemutan sampai dengan INH Beri vitamin B6 1x100 mg/hari
rasa terbakar di kaki
Warna kemerahan pada air Rifampisin Beri penjelasan, tidak perlu diberi
seni apa-apa

Tabel 12. Efek Samping Mayor OAT dan Penatalaksanaannya


Efek samping Kemungkinan Penyebab Tatalaksana
Mayor Hentikan pengobatan
Gatal dan kemerahan pada Semua jenis OAT Beri antihistamin dan
kulit dievaluasi ketat
Tuli Streptomisin Streptomisisn dihentikan,
ganti etambutol
Gangguan keseimbangan Streptomisin Streptomisisn dihentikan,
(vertigo dan nistagmus) ganti etambutol
Ikterik/Hepatitis Imbas Sebagian besar OAT Hentikan semua OAT
Obat (penyebab lain sampai ikterik menghilang
disingkirkan) dan boleh diberikan
hepatoprotektor
Muntah dan bingung Sebagian besar OAT Hentikan semua OAT dan
(suspect drug-induced pre- lakukan uji fungsi hati
icteric hepatitis)
Gangguan penglihtatan Etambutol Hentikan Etambutol
Kelainan sistemik, Rifampisin Hentikan Rifampisin
termasuk syok dan purpura

Catatan : Penatalaksanaan efek samping obat:


1. Efek samping yang ringan seperti gangguan lambung yang dapat diatasi secara
simptomatik
2. Pasien dengan reaksi hipersensitif seperti timbulnya rash pada kulit, umumnya
disebabkan oleh INH dan rifampisin. Dalam hal ini dapat dilakukan pemberian
dosis rendah dan desensitsasi dengan pemberian dosis yang ditingkatkan perlahan-
lahan dengan pengawasan yang ketat. Desensitisasi ini tidak bias dilakukan
terhadap obat lainnya
3. Kelainan yang harus dihentikan pengobatannya adalah trombositopenia, syok atau
gagal ginjal karena rifampisin, gangguan penglihatan karena etambutol, gangguan
nervus VIll karena streptomisin dan dermatitis exfoliative dan agranulositosis
karena thiacetazon
4. Bila suatu obat harus diganti, maka paduan obat harus diubah hingga jangka waktu
pengobatan perlu dipertimbangkan kembali dengan baik.

D. Pengobatan Suportif / Simptomatik


Pada pengobatan pasien TB perlu diperhatikan keadaan klinisnya.Bila keadaan
klinis baik dan tidak ada indikasi rawat, pasien dapat dibeikan rawat jalan.Selain OAT
kadang perlu pengobatan tambahan atau suportif/simtomatik untuk meningkatkan
daya tahan tubuh atau mengatasi gejala/keluhan.
1. Pasien rawat jalan
a. Makan makanan yang bergizi, bila dianggap perlu dapat diberikan vitamin
tambahan (pada prinsipnya tidak ada larangan makanan untuk pasien
tuberkulosis, kecuali untuk penyakit komorbidnya)
b. Bila demam dapat diberikan obat penurun panas/demam
c. Bila perlu dapat diberikan obat untuk mengatasi gejala batuk, sesak napas atau
keluhan lain.
2. Pasien rawat inap
Indikasi rawat inap :
TB paru disertai keadaan/komplikasi sbb :
a. Batuk darah (profus)
b. Keadaan umum buruk
c. Pneumotoraks
d. Empiema
e. Efusi pleura masif / bilateral
f. Sesak napas berat (bukan karena efusi pleura)
TB di luar paru yang mengancam jiwa :
a. TB paru milier
b. Meningitis TB
Pengobatan suportif / simtomatik yang diberikan sesuai dengan keadaan klinis dan
indikasi rawat

E. Terapi Pembedahan
lndikasi operasi
1. Indikasi mutlak
a. Semua pasien yang telah mendapat OAT adekuat tetetapi dahak tetap positif
b. Pasien batuk darah yang masif tidak dapat diatasi dengan cara konservatif
c. Pasien dengan fistula bronkopleura dan empiema yang tidak dapat diatasi
secara konservatif
2. lndikasi relatif
a. Pasien dengan dahak negatif dengan batuk darah berulang
b. Kerusakan satu paru atau lobus dengan keluhan
c. Sisa kavitas yang menetap.
Tindakan Invasif (Selain Pembedahan)
1. Bronkoskopi
2. Punksi pleura
3. Pemasangan WSD (Water Sealed Drainage)
Kriteria Sembuh
1. BTA mikroskopik negatif dua kali (pada akhir fase intensif dan akhir pengobatan)
dan telah mendapatkan pengobatan yang adekuat
2. Pada foto toraks, gambaran radiologik serial tetap sama/ perbaikan
3. Bila ada fasiliti biakan, maka kriteria ditambah biakan negatif
F. Evaluasi Pengobatan
Evaluasi pasien meliputi evaluasi klinik, bakteriologik, radiologik, dan efek
samping obat, serta evaluasi keteraturan berobat.
Evaluasi klinik
1. Pasien dievaluasi setiap 2 minggu pada 1 bulan pertama pengobatan selanjutnya
setiap 1 bulan
2. Evaluasi : respons pengobatan dan ada tidaknya efek samping obat serta ada
tidaknya komplikasi penyakit
3. Evaluasi klinik meliputi keluhan , berat badan, pemeriksaan fisik.
Evaluasi bakteriologik (0 - 2 - 6 /9 bulan pengobatan)
1. Tujuan untuk mendeteksi ada tidaknya konversi dahak
2. Pemeriksaan & evaluasi pemeriksaan mikroskopik
a. Sebelum pengobatan dimulai
b. Setelah 2 bulan pengobatan (setelah fase intensif)
c. Pada akhir pengobatan
3. Bila ada fasiliti biakan : dilakukan pemeriksaan biakan dan uji resistensiEvaluasi
radiologik (0 - 2 – 6/9 bulan pengobatan)
Pemeriksaan dan evaluasi foto toraks dilakukan pada:
1. Sebelum pengobatan
2. Setelah 2 bulan pengobatan (kecuali pada kasus yang juga dipikirkan kemungkinan
keganasan dapat dilakukan 1 bulan pengobatan)
3. Pada akhir pengob

Evaluasi efek samping secara klinik


1. Bila mungkin sebaiknya dari awal diperiksa fungsi hati, fungsi ginjal dan darah
lengkap
2. Fungsi hati; SGOT,SGPT, bilirubin, fungsi ginjal : ureum, kreatinin, dan gula darah
, serta asam urat untuk data dasar penyakit penyerta atau efek samping pengobatan
3. Asam urat diperiksa bila menggunakan pirazinamid
4. Pemeriksaan visus dan uji buta warna bila menggunakan etambutol (bila ada
keluhan)
5. Pasien yang mendapat streptomisin harus diperiksa uji keseimbangan dan
audiometri (bila ada keluhan)
6. Pada anak dan dewasa muda umumnya tidak diperlukan pemeriksaan awal
tersebut. Yang paling penting adalah evaluasi klinik kemungkinan terjadi efek
samping obat. Bila pada evaluasi klinik dicurigai terdapat efek samping, maka
dilakukan pemeriksaan laboratorium untuk memastikannya dan penanganan efek
samping obat sesuai pedoman
Evalusi keteraturan berobat
1. Yang tidak kalah pentingnya adalah evaluasi keteraturan berobat dan diminum /
tidaknya obat tersebut. Dalam hal ini maka sangat penting penyuluhan atau
pendidikan mengenai penyakit dan keteraturan berobat. Penyuluhan atau
pendidikan dapat diberikan kepada pasien, keluarga dan lingkungannya.
2. Ketidakteraturan berobat akan menyebabkan timbulnya masalah resistensi.
Evaluasi pasien yang telah sembuh
Pasien TB yang telah dinyatakan sembuh tetap dievaluasi minimal dalam 2
tahun pertama setelah sembuh, hal ini dimaksudkan untuk mengetahui
kekambuhan.Hal yang dievaluasi adalah mikroskopik BTA dahak dan foto toraks.
Mikroskopik BTA dahak 3,6,12 dan 24 bulan (sesuai indikasi/bila ada gejala)
setelah dinyatakan sembuh. Evaluasi foto toraks 6, 12, 24 bulan setelah dinyatakan
sembuh.

2.8 Pengetahuan, Sikap dan Perilaku terhadap Tuberkulosis15


Hasil survei prevalensi TB (2004) mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku
menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat anggota keluarga yang menderita TB dan
hanya 13% yang menyembunyikan keberadaan mereka. Meskipun 76% keluarga
pernah mendengar tentang TB dan 85% mengetahui bahwa TB dapat disembuhkan,
akan tetapi hanya 26% yang dapat menyebutkan dua tanda dan gejala utama TB. Cara
penularan TB dipahami oleh 51% keluarga dan hanya 19% yang mengetahui bahwa
tersedia obat TB gratis. Mitos yang terkait dengan penularan TB masih dijumpai di
masyarakat. Sebagai contoh, studi mengenai perjalanan pasien TB dalam mencari
pelayanan di Yogyakarta telah mengidentifikasi berbagai penyebab TB yang tidak
infeksius, misalnya merokok, alkohol, stres, kelelahan, makanan gorengan, tidur di
lantai, dan tidur larut malam. Stigma TB di masyarakat terutama dapat dikurangi
dengan meningkatkan pengetahuan dan persepsi masyarakat mengenai TB,
mengurangi mitos-mitos TB melalui kampanye pada kelompok tertentu dan membuat
materi penyuluhan yang sesuai dengan budaya setempat.
Survei pada tahun 2004 tersebut juga mengungkapkan pola pencarian
pelayanan kesehatan. Apabila terdapat anggota keluarga yang mempunyai gejala TB,
66% akan memilih berkunjung ke Puskesmas, 49% ke dokter praktik swasta, 42% ke
rumah sakit pemerintah, 14% ke rumah sakit swasta dan sebesar 11% ke bidan atau
perawat praktik swasta. Namun pada responden yang pernah menjalani pengobatan
TB, tiga FPK utama yang digunakan adalah rumah sakit, Puskesmas dan praktik
dokter swasta. Analisis lebih lanjut di tingkat regional menunjukkan bahwa
Puskesmas merupakan FPK utama di KTI, sedangkan untuk wilayah lain rumah sakit
merupakan fasilitas yang utama. Keterlambatan dalam mengakses fasilitas DOTS
untuk diagnosis dan pengobatan TB merupakan tantangan utama di Indonesia dengan
wilayah geografis yang sangat luas.

2.9 Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia16,17,18


Penanggulangan Tuberkulosis (TB) di Indonesia sudah berlangsung sejak
zaman penjajahan Belanda namun terbatas pada kelompok tertentu.Setelah perang
kemerdekaan, TB ditanggulangi melalui Balai Pengobatan Penyakit Paru Paru (BP-
4).Sejak tahun 1969 penanggulangan dilakukan secara nasional melalui
Puskesmas.Obat anti tuberkulosis (OAT) yang digunakan adalah paduan standar INH,
PAS dan Streptomisin selama satu sampai dua tahun.Para Amino Acid (PAS)
kemudian diganti dengan Pirazinamid.Sejak 1977 mulai digunakan paduan OAT
jangka pendek yang terdiri dari INH, Rifampisin dan Ethambutol selama 6bulan.
Pada tahun 1995, program nasional penanggulangan TB mulai menerapkan
strategi DOTS dan dilaksanakan di Puskesmas secara bertahap. Sejak tahun 2000
strategi DOTS dilaksanakan secara Nasional di seluruh UPK terutama Puskesmas
yang di integrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar.
Fakta menunjukkan bahwa TB masih merupakan masalah utama kesehatan
masyarakat Indonesia, antara lain:
 Indonesia merupakan negara dengan pasien TB terbanyak ke-3 di dunia
setelah India dan Cina. Diperkirakan jumlah pasien TB di Indonesia sekitar
10% dari total jumlah pasien TBdidunia.
 Tahun 1995, hasil Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) menunjukkan
bahwa penyakit TB merupakan penyebab kematian nomor tiga (3) setelah
penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan pada semua
kelompok usia, dan nomor satu (1) dari golongan penyakitinfeksi.
 Hasil Survey Prevalensi TB di Indonesia tahun 2004 menunjukkan bahwa
angka prevalensi TB BTA positif secara Nasional 110 per 100.000
penduduk. Secara Regional prevalensi TB BTA positif di Indonesia
dikelompokkan dalam 3 wilayah, yaitu: 1) wilayah Sumatera angka
prevalensi TB adalah 160 per 100.000 penduduk; 2) wilayah Jawa dan Bali
angka prevalensi TB adalah 110 per 100.000 penduduk; 3) wilayah
Indonesia Timur angka prevalensi TB adalah 210 per 100.000 penduduk.
Khusus untuk propinsi DIY dan Bali angka prevalensi TB adalah 68 per
100.000penduduk.
Mengacu pada hasil survey prevalensi tahun 2004, diperkirakan penurunan
insiden TB BTA positif secara Nasional 3-4 % setiap tahunnya.
 Sampai tahun 2005, program Penanggulangan TB dengan Strategi DOTS
menjangkau 98% Puskesmas, sementara rumah sakit dan BP4/RSP baru
sekitar 30%
A. VISI DANMISI
 Visi: Masyarakat yang mandiri dalam hidup sehat di mana tuberkulosis tidak
lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat.
BAB 1 Misi
 Menjamin bahwa setiap pasien TB mempunyai akses terhadap pelayanan
yang bermutu, untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian karena
TB
 Menurunkan resiko penularanTB
 Mengurangi dampak sosial dan ekonomi akibatTB
BAB 2 KEGIATAN
Tatalaksana PasienTB:
 Penemuan tersangka TB
 Diagnosis
 Pengobatan
ManajemenProgram:
 Perencanaan
 Pelaksanaan
o Pencatatan danPelaporan
o Pelatihan
o Bimbingan teknis
o Pemantapan mutulaboratorium
o Pengelolaanlogistik
 Pemantauan danEvaluasi
Kegiatanpenunjang:
 Promosi
 Kemitraan
 Penelitian
Kolaborasi TB/HIV di Indonesia,meliputi:
 Membentuk mekanismekolaborasi,
 Menurunkan beban TB pada ODHAdan
 Menurunkan beban HIV pada pasienTB

B. PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PROGRAM TB


(PSDM-TB)
Pengembangan SDM adalah suatu proses yang sistematis dalam memenuhi
kebutuhan ketenagaan yang cukup dan bermutu sesuai kebutuhan. Proses ini meliputi
kegiatan penyediaan tenaga, pembinaan (pelatihan, supervisi, kalakarya/on the job
training), dan kesinambungan (sustainability).
Tujuan Pengembangan Sumber Daya Manusia dalam program TB adalah
tersedianya tenaga pelaksana yang memiliki keterampilan, pengetahuan dan sikap
(dengan kata lain “kompeten”) yang diperlukan dalam pelaksanaan program TB,
dengan jumlah yang memadai pada tempat yang sesuai dan pada waktu yang tepat
sehingga mampu menunjang tercapainya tujuan program TB nasional. Didalam bab
ini istilah pengembangan SDM merujuk kepada pengertian yang lebih luas, tidak
hanya yang berkaitan dengan pelatihan tetapi keseluruhan manajemen pelatihan dan
kegiatan lain yang diperlukan untuk mencapai tujuan jangka panjang pengembangan
SDM yaitu tersedianya tenaga yang kompeten dan profesional dalam
penanggulanganTB.
Bab ini akan membahas 3 hal kegiatan pokok yang sangat penting dalam
pengembangan sumber daya manusia untuk menunjang tercapainya tujuan program
yaitu standar ketenagaan program, pelatihan dan supervisi.

BAB 3 STANDAR
KETENAGAAN
Ketenagaan dalam program penanggulangan TB memiliki standar-standar
yang menyangkut kebutuhan minimal (jumlah dan jenis tenaga) untuk
terselenggaranya kegiatan program TB di suatu unit pelaksana.
BAB 4 Unit PelayananKesehatan
1) Puskesmas
 Puskesmas Rujukan Mikroskopis dan Puskesmas Pelaksana
Mandiri : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari 1
dokter, 1 perawat/petugas TB, dan 1 tenagalaboratorium.
 Puskesmas satelit : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih
terdiri dari 1 dokter dan 1 perawat/petugasTB
 Puskesmas Pembantu : kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih
terdiri dari 1 perawat/petugasTB.
4.1 Rumah Sakit UmumPemerintah
 RS kelas A :kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari
6 dokter, 3 perawat/petugas TB, dan 1 tenagalaboratorium
 RS kelas B :kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari
6 dokter, 3 perawat/petugas TB, dan 1 tenagalaboratorium
 RS kelas C :kebutuhan minimal tenaga pelaksana terlatih terdiri dari
4 dokter, 2 perawat/petugas TB, dan 1 tenagalaboratorium
 RS kelas D, RSTP dan BP4 :kebutuhan minimal tenaga pelaksana
terlatih terdiri dari 2 dokter, 2 perawat/petugas TB, dan 1 tenaga
laboratorium
 RS swasta :menyesuaikan.
2) Dokter Praktek Swasta, minimal telahdilatih
BAB 5 Tingkat Kabupaten/Kota
1) Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan, jumlah tergantung
beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas, RS dan
UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Secara
umum seorang supervisor membawahi 10 – 20 UPK. Bagi wilayah yang
memiliki lebih dari 20 UPK dapat memiliki lebih dari
seorangsupervisor.
2) Gerdunas-TB/Tim DOTS/Tim TB, dan lain-lainnya, jumlah tergantung
kebutuhan.
BAB 6 Tingkat Provinsi
1) Supervisor/Supervisor terlatih pada Dinas Kesehatan, jumlah tergantung
beban kerja yang secara umum ditentukan jumlah puskesmas, RS dan
UPK lain diwilayah kerjanya serta tingkat kesulitan wilayahnya. Secara
umum seorang supervisor membawahi 10-20 kabupaten/kota. Bagi
wilayah yang memiliki lebih dari 20 kabupaten/kota dapat memiliki
lebih dari seorangsupervisor.
2) Koordinator DOTS RS yang bertugas mengkoordinir dan membantu
tugas supervisi program pada RS dapat ditunjuk sesuai
dengankebutuhan.
3) Gerdunas-TB/Tim DOTS/Tim TB, dan lain-lainnya, jumlah tergantung
kebutuhan.
4) Tim Pelatihan: 1 koordinator pelatihan, 5 fasilitator pelatihan (untuk 25
orang peserta).

BAB 7 TUJUAN DAN TARGET


BAB 8 Tujuan
Menurunkan angka kesakitan dan angkara kematian TB, memutuskan rantai
penularan, serta mencegah terjadinya MDR TB
 Target
Target program penanggulangan TB adalah tercapainya penemuan pasien baru
TB BTA positif paling sedikit 70% dari perkiraan dan menyembuhkan 85% dari semua
pasien tersebut serta mempertahankannya. Target ini diharapkan dapat menurunkan
tingkat prevalensi dan kematian akibat TB hingga separuhnya pada tahun 2010
dibanding tahun 1990, dan mencapai tujuan millenium development goals (MDGs)
pada tahun 2015.

BAB 9 KEBIJAKAN
a. Penanggulangan TB di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan azas
desentralisasi dengan Kabupaten/kota sebagai titik berat manajemen program
dalam kerangka otonomi yang meliputi: perencanaan, pelaksanaan,
monitoring dan evaluasi serta menjamin ketersediaan sumber daya (dana,
tenaga, sarana danprasarana).
b. Penanggulangan TB dilaksanakan dengan menggunakan strategi DOTS
c. Penguatan kebijakan untuk meningkatkan komitmen daerah terhadap program
penanggulanganTB.
d. Penguatan strategi DOTS dan pengembangannya ditujukan terhadap
peningkatan mutu pelayanan, kemudahan akses untuk penemuan dan
pengobatan sehingga mampu memutuskan rantai penularan dan mencegah
terjadinyaMDR-TB.
e. Penemuan dan pengobatan dalam rangka penanggulangan TB dilaksanakan
oleh seluruh Unit Pelayanan Kesehatan (UPK), meliputi Puskesmas, Rumah
Sakit Pemerintah dan swasta, Rumah SakitParu (RSP), Balai Pengobatan
Penyakit Paru Paru (BP4), Klinik Pengobatan lain serta Dokter Praktek
Swasta(DPS)
f. Penanggulangan TB dilaksanakan melalui promosi, penggalangan kerja sama
dan kemitraan dengan program terkait, sektor pemerintah, non pemerintah dan
swasta dalam wujud Gerakan Terpadu Nasional Penanggulangan TB
(GerdunasTB).
g. Peningkatan kemampuan laboratorium diberbagai tingkat pelayanan ditujukan
untuk peningkatan mutu pelayanan danjejaring.
h. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) untuk penanggulangan TB diberikan kepada
pasien secara cuma-cuma dan dijaminketersediaannya.
i. Ketersediaan sumberdaya manusia yang kompeten dalam jumlah yang
memadai untuk meningkatkan dan mempertahankan kinerjaprogram.
j. Penanggulangan TB lebih diprioritaskan kepada kelompok miskin dan
kelompok rentan terhadapTB.
k. Penanggulangan TB harus berkolaborasi dengan penanggulanganHIV.
l. PasienTBtidakdijauhkandarikeluarga,masyarakatdanpekerjaannya.
m. Memperhatikan komitmen internasional yang termuat dalamMDGs.

2.10 Profil Puskesmas Kelurahan Bintaro15


Profil Geografis Kelurahan Bintaro
Kelurahan Bintaro adalah salah satu dari lima kelurahan di dalam wilayah kerja
Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Kelurahan Bintaro memiliki luas wilayah
terbesar di Kecamatan Pesanggrahan, yakni sebesar 455,5 Ha2.Di sebelah utara,
Bintaro berbatasan dengan dua kelurahan di Kecamatan Kebayoran Lama, yakni
Kelurahan Kebayoran Lama Utara dan Kelurahan Kebayoran Lama Selatan.Di
sebelah selatan, berbatasan dengan Kelurahan Rempoa.Di sebelah barat, berbatasan
dengan Kelurahan Pesanggrahan, Kota Tangerang Selatan, dan Kota
Tangerang.Sedangkan di sebelah timur, berbatasan dengan Kelurahan Pondok Pinang,
Kecamatan Kebayoran Lama.Gambar mengilustrasikan letak Kelurahan Bintaro di
wilayah administratif Kecamatan Pesanggrahan.

Gambar 8. Peta Kelurahan Bintaro 18

Profil Demografis Kelurahan Bintaro


Jumlah penduduk di Kelurahan Bintaro sebanyak 61.125 jiwa dengan jumlah
laki-laki lebih banyak, yaitu 30.964 jiwa. Sedangkan, jumlah perempuan sebanyak
30.161 jiwa. Jumlah kepala keluarga di Bintaro adalah 17.960 kepala keluarga
dengan 15 rukun warga (RW) dan 143 rukun tetangga (RT). Daerah Kelurahan
Bintaro memiliki beberapa lokasi yang rawan terkena banjir, yaitu RW 04, RW 05,
RW 10, dan RW 12.

BAB III
METODE KEGIATAN
3.1 Ruang Lingkup
Mini Project ini dilaksanakan di RW 12 yang berada di dalam area Kelurahan
Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
3.2 Desain
Mini Project ini menggunakan desain studi cross sectional untuk mengetahui
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap penyakit Tuberkulosis.
3.3 Analisis Penyebab Masalah
Hal yang mendasari timbulnya kesenjangan antara hasil yang diharapkan
dengan hasil yang dicapai dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Untuk membantu
menentukan kemungkinan penyebab masalah dapat dipergunakan diagram tulang ikan
(fish bone). Untuk menganalisa penyebab masalah manajemen puskesmas, digunakan
pola pendekatan sistem dan pendekatan mutu. Pendekatan sistem meliputi input
( Man, Method, Money, Machine, Material ), proses ( P1 : Perencanaan, P2 :
Penggerakkan dan Pelaksanaan, P3 : Pengawasan, Pengendalian, dan Penilaian ) dan
lingkungan.
Tabel 13. Kemungkinan penyebab masalah manajemen Puskesmas dengan
Pendekatan system
INPUT PENYEBAB MASALAH
MAN  Minimnya SDM untuk melakukan screening aktifuntuk
(Tenaga Kerja) menemukan suspek TB paru pada masyarakat.
 Beban kerja yang merangkap.

MONEY  Tidak ada pengalokasian dana khusus untuk penyuluhan.


(Pembiayaan) Namun hal ini tidak dirasa sebagai kendala.

METHOD  Kurangnya program Puskesmas yang


(Metode) berkesinambungan seperti penyuluhan yang menarik
kepada masyarakat mengenai pencegahan, penyebab
serta pengobatan TB.
 Edukasi dan motivasi belum menjadi SOP tiap tatap
muka pasien TB
 Penyuluhan yang tidak dijadwalkan secara rutin
(hanya pada pekan TB)
 Tidak ada screening khusus untuk TB, hanya
berdasarkan pasien yang datang (passive).
MATERIAL  Tidak tersedia tempat khusus untuk melakukan
(Perlengkapan) pemeriksaan laboratorium. Hal tersebut dilakukan
dengan cara mengirim pasien ke puskesmas kecamatan.
MACHINE  -
(Peralatan)

PROSES KEKURANGAN
P1  Penemuan kasus aktif baru dilakukan pada akhir tahun.
 Belum adanya perencanaan berkelanjutan terhadap petugas
untuk mendapatkan pelatihan dalam kegiatan penemuan
kasus secara aktif.
P2  Kerjasama antar lintas program TB dengan promkes belum
berjalan
P3  Kurangnya monitoring dan follow up bagi pasien yang di
duga suspek TB
 Tidak ada evaluasi proses tentang deteksi dini suspek TB.

PROSES KEKURANGAN
Lingkungan  Kurangnya pengetahuan warga mengenai penyakit TB
 Kurangnya pengetahuan warga mengenai lingkungan dan
rumah sehat
 Stigma negatif masyarakat terhadap pasien TB

3.3.1 Konfirmasi Kemungkinan Penyebab Masalah


Setelah melakukan konfirmasi kepada kepala puskesmas dan koordinator
program pemberantasan penyakit menular khususnya penemuan suspek TB paru, dari
kemungkinan penyebab masalah diatas didapatkan masalah yang paling mungkin
yaitu :
1. Kurangnya pengetahuan mengenai bahaya TB yang mengakibatkan kurang
kooperatifnya masyarakat
2. Kurangnya tenaga kerja khususnya di bidang pemberantas TB di wilayah
setempat
3. Stigma negatif penyakit TB yang diketahui masyarakat
4. Kurangnya perwujudan sanitasi rumah sehat sebagai preventif.
Minimnya SDM untuk melakukan screening aktif untuk
menemukan suspek TB paru pada masyarakat.
Beban kerja yang merangkap.

Kurangnya program Puskesmas yang berkesinambungan berupa penyuluhan


kepada masyarakat mengenai pencegahan dan penyebab serta pengobatan TB
INPUT MAN Edukasi dan motivasi belum menjadi SOP tiap tatap muka pasien TB
Penyuluhan yang tidak dijadwalkan secara rutin (hanya pada pekan TB)
Pendanaan dirasa cukup Tidak ada screening khusus untuk TB, hanya berdasarkan pasien yang datang.
MONEY
METHOD

MATERIAL
MACHINE -
Tidak tersedia tempat untuk melakukan
pemeriksaan laboratorium

Cakupan
Cakupan penemuan
penemuan
LINGKUNGAN Kurangnya perencanaan P1
pelatihan. suspek
suspek TB
TB Paru
Paru
Penemuan kasus aktif baru
16,6%
16,6%
Kurangnya pengetahuan warga dicananngkan di akhir tahun.
mengenai penyakit TB

Kurangnya pengetahuan warga


mengenai lingkungan dan rumah
sehat
Kerjasama lintas program antara promkes
Stigma negatif masyarakat terhadap P2
pasien TB dan tb belum berjalan
P3
Kurangnya monitoring dan follow up bagi
pasien yang di duga suspek TB
Tidak ada evaluasi proses tentang deteksi
dini suspek TB.
PROSES

Gambar 9. Diagram Fish Bone


3.4 Identifikasi Variabel
3.4.1 Variabel bebas:
- Pengetahuan masyarakat
- Sikap masyarakat
- Perilaku masyarakat
3.4.2 Variabel terikat:
Warga yang berdomisili di daerah rawan TB.

3.5 Definisi Operasional Variabel


Beberapa definisi dan batasan operasional yang digunakan dalam kegiatan ini
disajikan sebagai berikut.

Tabel Hasil survei prevalensi TB (2004) mengenai pengetahuan, sikap dan perilaku
menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat anggota keluarga yang menderita TB
dan hanya 13% yang menyembunyikan keberadaan mereka. Meskipun 76%
keluarga pernah mendengar tentang TB dan 85% mengetahui bahwa TB dapat
disembuhkan, akan tetapi hanya 26% yang dapat menyebutkan dua tanda dan
gejala utama TB. Cara penularan TB dipahami oleh 51% keluarga dan hanya 19%
yang mengetahui bahwa tersedia obat TB gratis. Mitos yang terkait dengan
penularan TB masih dijumpai di masyarakat. Sebagai contoh, studi mengenai
perjalanan pasien TB dalam mencari pelayanan di Yogyakarta telah
mengidentifikasi berbagai penyebab TB yang tidak infeksius, misalnya merokok,
alkohol, stres, kelelahan, makanan gorengan, tidur di lantai, dan tidur larut
malam. Stigma TB di masyarakat terutama dapat dikurangi dengan meningkatkan
pengetahuan dan persepsi masyarakat mengenai TB, mengurangi mitos-mitos TB
melalui kampanye pada kelompok tertentu dan membuat materi penyuluhan yang
sesuai dengan budaya setempat.4. Definisi Operasional Kegiatan

No. Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Kategori Skala


Pengetahuan, Sikap, Perilaku Masyarakat
1. Pengetahuan Kemampuan responden Kuesioner 1. Baik Ordinal
Masyarakat untuk menjawab benar (≥60%
tentang cara pencegahan jawaban
penyakit tuberkulosis, benar)
meliputi: 2. Kurang
1. Penyakit TB paru (<60%
(3 soal) jawaban

52
2. Upaya benar)
pencegahan TB
paru (7 soal)
3. Pengetahuan
tentang
pengobatan (2
soal)
Jumlah soal sebanyak 12
pertanyaan, jika benar
skor 1 jika salah skor 0
2. Sikap Kemampuan responden Kuesioner Kategori: Ordinal
Masyarakat dalam menanggapi upaya
pencegahan penyakit TB 1. Negatif,
paru, meliputi: jika skor
antara 1-11.
1. Sikap terhadap 2. Positif,
upaya jika skor
penanggulangan antara 12-21
TB paru (2 soal)
2. Sikap terhadap
upaya pencegahan
penularan TB (5
soal)

Jumlah soal sebanyak


7 pernyataan terdiri
dari pertanyaan
favourable dan
unfavourable. Untuk
pertanyaan favourble
jika sangat setuju=3,
setuju=2, tidak
setuju=1, sangat tidak
setuju=0. Untuk
pertanyaan
unfavourable skor
adalah sebaliknya.

3. Perilaku Kemampuan responden Kuesioner 1. Prilaku Ordinal


Masyarakat untuk menjawab negatif,
pertanyaan tentang jika skor
praktik atau tindakan
<9
pencegahan
2. Prilaku
penyakit TB paru, positif
meliputi: jika skor
≥9
1. Kebiasaan orang
tua (3 soal)
2. Kebersihan

53
rumah (2 soal)
3. Kondisi
lingkungan
rumah (3 soal)

Jumlah soal sebanyak 8


pertanyaan terdiri dari
pertanyaan favourable
dan unfavourable. Untuk
pertanyaan favourable
jika jawaban ya skor 2,
kadang- kadang skor 1,
dan tidak skor 0. Untuk
pertanyaan unfavourable
skor adalah sebaliknya.

3.6 Subjek
3.6.1 Populasi Target
Populasi target adalah masyarakat RW 12 Kelurahan Bintaro, Kecamatan
Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

3.6.2 Populasi Terjangkau


Populasi terjangkau adalah masyarakat yang berdomisili di wilayah rawan TB
di RW 12 Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

3.6.3 Sampel
Sampel Mini Project merupakan populasi terjangkau yang memenuhi kriteria
inklusi dan tidak memiliki kriteria eksklusi.

3.7 Kriteria Inklusi dan Eksklusi


3.7.1 Kriteria Inklusi
- Masyarakat yang berdomisili di wilayah RT dengan pasien terdiagnosis TB
3.7.2 Kriteria Eksklusi
- Masyarakatyang tidak bersedia mengisi kuesioner
3.8 Sampel
Sampel pada kegiatanmini project ini diambil menggunakan metode
convenient sampling, di mana sampel diambil dari populasi yang dapat
direkrut. Populasi ini harus memenuhi kriteria inklusi dan tidak termasuk
kriteria eksklusi.

54
3.9 Instrumen
Instrumen yang digunakan dalam rangka pengambilan data mini project ini
menggunakan kuesioner. Adapun informasi yang tercakup dalam kuesioner
meliputi data dasar (nama, usia, jenis kelamin, alamat, riwayat penyakit) dan
pertanyaan yang berkaitan untuk menilai pengetahuan, sikap dan perilaku
masyarakat/kader mengenai program TB.

3.10 Cara Pengambilan Data


3.10.1 Alur

Penyusunan
proposal
Pelaksanaan

Populasi terjangkau

Seleksi berdasarkan kriteria


inklusi dan kriteria eksklusi

Sampel Tidak sesuai

Wawancara & mengisi Tidak diikutsertakan


kuesioner

Pengolahan dan analisis


data
Pelaporan hasil

Gambar Hasil survei prevalensi TB (2004) mengenai pengetahuan, sikap dan


perilaku menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat anggota keluarga yang
menderita TB dan hanya 13% yang menyembunyikan keberadaan mereka.
Meskipun 76% keluarga pernah mendengar tentang TB dan 85% mengetahui

55
bahwa TB dapat disembuhkan, akan tetapi hanya 26% yang dapat
menyebutkan dua tanda dan gejala utama TB. Cara penularan TB dipahami
oleh 51% keluarga dan hanya 19% yang mengetahui bahwa tersedia obat TB
gratis. Mitos yang terkait dengan penularan TB masih dijumpai di masyarakat.
Sebagai contoh, studi mengenai perjalanan pasien TB dalam mencari pelayanan
di Yogyakarta telah mengidentifikasi berbagai penyebab TB yang tidak
infeksius, misalnya merokok, alkohol, stres, kelelahan, makanan gorengan, tidur
di lantai, dan tidur larut malam. Stigma TB di masyarakat terutama dapat
dikurangi dengan meningkatkan pengetahuan dan persepsi masyarakat
mengenai TB, mengurangi mitos-mitos TB melalui kampanye pada kelompok
tertentu dan membuat materi penyuluhan yang sesuai dengan budaya setempat.0
. Alur Kegiatan

3.10.2 Cara Pengumpulan Data


Pengumpulan data dilakukan di bulan November- Desember 2018 di RW 12
Kelurahan Bintaro, Kecamatan Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Data primer
diambil dengan cara menyebarkan kuesioner kepada masyarakat yang sedang
terlibat dalam kegiatan Posbindu dan Posyandu di wilayah rawan TB. Panduan
akan diberikan kepada para pengisi kuesioner jika mereka menemukan hal –
hal yang kurang mereka pahami.

3.11 Pengolahan dan Teknik Analisis Data


3.11.1 Verifikasi Data
Kelengkapan dan kesesuaian data yang didapat dari kuesioner diperiksa
setelah dikumpulkan.

3.11.2 Entry Data


Setelah diverifikasi, data akan diklasifikasikan menurut jenisnya.

3.11.3 Analisis Data


Analisis dilakukan setelah data diverifikasi dan entry.

3.12 Jadwal Pelaksanaan Mini Project


Tabel Hasil survei prevalensi TB (2004) mengenai pengetahuan, sikap dan
perilaku menunjukkan bahwa 96% keluarga merawat anggota keluarga yang

56
menderita TB dan hanya 13% yang menyembunyikan keberadaan mereka.
Meskipun 76% keluarga pernah mendengar tentang TB dan 85% mengetahui
bahwa TB dapat disembuhkan, akan tetapi hanya 26% yang dapat
menyebutkan dua tanda dan gejala utama TB. Cara penularan TB dipahami
oleh 51% keluarga dan hanya 19% yang mengetahui bahwa tersedia obat TB
gratis. Mitos yang terkait dengan penularan TB masih dijumpai di masyarakat.
Sebagai contoh, studi mengenai perjalanan pasien TB dalam mencari pelayanan
di Yogyakarta telah mengidentifikasi berbagai penyebab TB yang tidak
infeksius, misalnya merokok, alkohol, stres, kelelahan, makanan gorengan, tidur
di lantai, dan tidur larut malam. Stigma TB di masyarakat terutama dapat
dikurangi dengan meningkatkan pengetahuan dan persepsi masyarakat
mengenai TB, mengurangi mitos-mitos TB melalui kampanye pada kelompok
tertentu dan membuat materi penyuluhan yang sesuai dengan budaya setempat.4
. Jadwal Pelaksanaan Mini Project

Kegiatan Waktu
Pembuatan Kuesioner November 2018
Pengambilan Data Desember 2018
Pengolahan Data Desember 2018
Pembuatan laporan Desember-Januari 2018

57
BAB IV
HASIL DAN DISKUSI

4.1 Demografi Responden RW 12


Berdasarkan data yang didapatkan dari kuesioner yang diisi oleh
responden di RW 12, didapatkan data demografi sebagai berikut:

Tabel 15. Karakteristik demografi


Jumlah
Karakteristik Demografi
(N = 10)

Usia
Remaja Akhir 5
Dewasa 2
Lansia 3
Pendidikan terakhir
SD 3
SMP 1
SMA 4
Perguruan Tinggi 2
Pekerjaan
Tidak bekerja 7
Bekerja 3

Berdasarkan data yang didapat, 50% responden tergolong dalam usia


remaja akhir, sedangkan responden lainnya tergolong dalam usia dewasa
(20%) dan lansia (30%). Sedangkan data pendidikan terakhir responden
hasilnya bervariasi, dengan 3 orang lulusan SD, 1 orang SMP, 4 orang SMA
dan 2 orang perguruan tinggi. Dari seluruh responden, hanya 3 orang (30%)
yang bekerja. Sebagian besar responden yaitu sebanyak 7 orang (70%) tidak
bekerja. Kebanyakan dari mereka adalah ibu rumah tangga.

58
4.2 Penilaian Terhadap Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Responden di RW
12 Terhadap Tuberkulosis Paru
Berdasarkan kuesioner mengenai pengetahuan, sikap, dan perilaku
terhadap tuberkulosis paru yang diisi oleh 10 orang responden di RW 12,
didapatkan hasil sebagai berikut:

Tabel 16. Hasil kuesioner pengetahuan-sikap-perilaku


Jumlah
Karakteristik Demografi
(N = 10)
Pengetahuan
Baik 9
Kurang 1
Sikap
Positif 8
Negatif 2
Perilaku
Positif 9
Negatif 1
Keterangan;
Pengetahuan: Baik(≥60% jawaban benar); (<60% jawaban benar);
Sikap: Negatif, jika skor antara 1-11; Positif, jika skor antara 12-21
Perilaku: Negatif jika skor <9; Positif, jika skor ≥9

Gambar 11. Diagram pengetahuan

59
Gambar 12. Diagram sikap dan perilaku

Data dari kuesioner menunjukkan bahwa pengetahuan responden di


RW 12 sudah sangat baik, dimana hanya didapatkan 1 responden yang
memiliki pengetahuan kurang. Sembilan responden lainnya sudah mengerti
dengan baik mengenai penyakit tuberkulosis paru termasuk cara untuk
mencegah penularannya, serta pengobatannya. Pada bagian sikap responden
terhadap penanggulangan dan pencegahan penyakit tuberkulosis juga sudah
baik dimana 8 dari 10 responden didapatkan sikap positif. Begitu pula dengan
perilaku responden, dimana didapatkan di hasil 9 dari 10 responden sudah
memiliki perilaku yang positif terhadap penyakit tuberkulosis.

60
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Melihat ketiga aspek yang kami amati, yakni pengetahuan, sikap dan
perilaku, dapat disimpulkan bahwa secara umum, masyarakat di RW 12
Kelurahan Bintaro memiliki pengetahuan, sikap, dan perilaku yang baik
mengenai penyakit Tuberkulosis paru secara umum. Pengetahuan mengenai
TB sangatlah penting untuk membantu meningkatkan deteksi dini TB di dalam
masyarakat. Selain petugas medis yang telah terlatih, adanya masyarakat yang
mengetahui hal-hal mendasar mengenai TB beserta apa yang harus dilakukan,
ternyata sangat membantu dalam menemukan kasus TB, karena mereka dapat
melaporkan dan memotivasi orang sekitar lingkungan tempat tinggal mereka
yang memiliki gejala TB untuk berobat. Menurut data yang dimiliki
Puskesmas Kelurahan Bintaro, RW 12 merupakan salah satu wilayah dengan
penderita TB terbanyak di Kelurahan Bintaro. Namun karena kurangnya
proses penjaringan TB secara aktif menyebabkan kurangnya jumlah pasien
yang diobati, yang akhirnya menyebabkan capaian kasus baru yang diobati di
Puskesmas Kelurahan Bintaro hanya 16,66%, jauh sekali dari target
capaiannya yaitu 100%.
Adapun keterbatasan pada kegiatan ini meliputi terbatasnya jumlah
subjek penelitian dan variasi variabel yang diteliti. Penulis menyarankan untuk
dilakukannya penelitian lebih lanjut dengan jumlah responden yang lebih
banyak dan wilayah yang lebih luas agar dapat mencakup seluruh populasi
kelurahan Bintaro dan melihat faktor – faktor lain yang mempengaruhi
pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat mengenai Tuberkulosis paru,
seperti status sosioekonomi, dukungan keluarga, dan dukungan tenaga
kesehatan untuk mereka memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Penulis juga menyarankan untuk melakukan analisis bivariat untuk melihat
hubungan antarvariabel.

61
5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan diatas, perlu untuk
dilakukan konseling aktif (terutama kepada pasien dan keluarga pasien) agar
meningkatkan inisiatif masyarakat untuk segera berobat atau membawa
anggota keluarganya yang memiliki gejala TB ke puskesmas untuk dilakukan
screening TB dan diberikan pengobatan TB. Selain itu diharapkan adanya
kerjasama lintas program antara program TB dan program promkes, dengan
penyuluhan yang rutin dan terjadwal untuk meningkatkan pengetahuan
masyarakat. Diperlukan penyampaian penyuluhan dengan tema dan media
informasi yang lebih menarik, misalnya dengan menampilkan video bergambar,
dialog interaktif dengan menampilkan pasien sebagai narasumber dan fun
game. Dengan penyuluhan dan tema yang bervariasi ini, diharapkan
masyarakat lebih mudah menyerap dan memahami materi penyuluhan yang
diberikan, sehingga masyarakat yang memiliki pengetahuan yang mendasar
mengenai TB dapat berperan aktif dalam membantu para praktisi medis
khususnya di Puskesmas Kelurahan Bintaro dengan melaporkan apabila ada
anggota keluarga maupun tetangga mereka yang memiliki gejala yang sesuai
dengan gejala TB.
Selain itu, perlu dibentuk tim khusus untuk menjaring dan melakukan
edukasi secara langsung ke rumah serta wilayah pemukiman warga yang
dicurigai TB. Untuk itu dapat memanfaatkan peran aktif masyarakat dengan
membentuk tim JUMANTUK (Juru Pemantau Batuk) yang terdiri dari kader-
kader yang ditunjuk oleh pemegang program di Puskesmas Kelurahan Bintaro,
dan telah diberikan pelatihan sebelumnya. Selain dapat menjaring penderita
TB, para kader ini juga diharapkan dapat menjadi PMO dilingkungan tempat
tinggalnya. Kemudian setiap bulannya perlu diadakan evaluasi rutin terhadap
kinerja program TB secara keseluruhan, agar seluruh kegiatan dapat terpantau,
kerjasama tim yang baik dapat tercipta, dan diharapkan capaian program TB
akan meningkat hingga mencapai target.

62
DAFTAR PUSTAKA

1. Kementrian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian


Penyakit. Kebijakan Program Penanggulangan Tuberkulosis.
Jakarta:Kementrian Kesehatan RI;2017.p.4-17
2. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2017. Available at:
www.who.int/tb/publications/global_report/gtbr2017_main_text.pdf.
Accessed: November 25th, 2018.
3. Departemen Kesehatan RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.
2nd ed. .Jakarta:Departemen Kesehatan RI;2018
4. Eddy, PS. Sejarah dan Epidemiologi Penyakit Tuberkulosis. Simposium
Tuberkulosis. Surabaya, Des. 1982 : 11-20.
5. Raviglione MC, Snider DE, Kochi Arata, Global Epidemiology of
Tuberculosis JAMA 1995 ; 273 : 220-26.
6. WHO.TB A Clinical manual for South East Asia. Geneva, 1997; 19-23.
7. Aditama T.Y. Tuberculosis Situation in Indonesia, Singapore, Brunei
Darussalam and in Philippines, Cermin Dunia Kedokteran 1993 ; 63 : 3 –7.
8. Broekmans, JF. Success is possible it best has to be fought for, World Health
Forum An International Journal of Health Development. WHO, Geneva,
1997 ; 18 : 243 – 47.
9. Bing, K. Diagnostik dan klasifikasi tuberkulosis paru. RTD Diagnosis dan
Pengobatan Mutakhir Tuberkulosis Pam Semarang, Mei 1989 1-6.
10. Werdhani, Retno Asti. Patofisiologi, Diagnosis, Dan Klafisikasi
Tuberkulosis. Departemen Ilmu Kedokteran Komunitas, Okupasi, Dan
Keluarga FKUI. 2002.
11. PDPI. Tuberkulosis Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di
Indonesia, Jakarta. 2002.
12. Hudoyo, A. Penerapan Strategi DOTS bagi Penderita TB, Dalam
Simposium dan Semiloka TB Terintegrasi. RSUP Persahabatan, Jakarta, 1999.
13. Depkes RI. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis. Jakarta,
2007; 3-4.
14. Widodo, Eddy. Upaya Peningkatan Peran Masyarakat Dan Tenaga
Kesehatan Dalam Pemberantasan Tuberkulosis. IPB, Bogor. 2004.

63
15. Mulyadi, RR. Syahruddin, E. Hubungan Sikap dengan Prevalensi
Masalah Kesehatan Respirasi pada Masyarakat Perumahan di Kelurahan
Bintaro. FKUI. 2014.
16. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis: Pedoman
Diagnosis Dan Penatalaksanaan Di Indonesia. PDPI. 2013. Available at:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/tb/tb.html. Accessed on 6th Desember
2015.
17. Mulyadi, RR. Syahruddin, E. Hubungan Sikap dengan Prevalensi
Masalah Kesehatan Respirasi pada Masyarakat Perumahan di Kelurahan
Bintaro. FKUI. 2014
18. Profil Kesehatan Provinsi DKI Jakarta. 2016. Available at :
http://www.depkes.go.id/resources/download/profil/PROFIL_KES_PROVINS
I_2016/11_DKI_Jakarta_2016.pdf
19. Hadi H. Hubungan antara pengetahuan, sikap, dan
perilaku ibu tentang pencegahan penyakit TB Paru dengan
kejadian TB paru anak usia 0-14 tahun, UNNES; 2011.

64
LAMPIRAN

KUESIONER PENELITIAN(19)

PENGETAHUAN, SIKAP DAN PERILAKU MASYARAKAT TENTANG


PENCEGAHAN PENYAKIT TB DI LINGKUNGAN PUSKESMAS
KELURAHAN BINTARO

Nomor Responden :

Identitas:

Nama : Tanggal lahir :

Alamat :

Pendidikan :

Pekerjaan :

Petunjuk:

 Pada bagian I dan II lingkari satu jawaban yang dirasa paling tepat
 Pada bagian III dan IV beri tanda centang (√) pada pernyataan yang
dianggap benar.

I. Pengetahuan Masyarakat tentang Pencegahan TB Paru

1. Apakah penyakit TB paru itu?


a. Penyakit akibat kekurangan darah
b. Penyakit yang menyerang paru-paru
c. Penyakit keturunan

2. Apa penyabab penyakit TB paru?

65
a. Kuman/ bakteri
b. Udara kotor
c. Asap rokok

3. Apakah penyakit TB paru adalah penyakit yang tidak menular?


a. Ya b. Tidak

4. Penyakit TB paru dapat dicegah dengan....


a. Imunisasi DPT
b. Imunisasi BCG
c. Imunisasi Hepatitis

5. Apakah orang yang tinggal serumah dengan penderita TB paru tidak akan tertular?
a. Ya b. tidak

6. Lingkungan rumah yang baik untuk pencegahan TB paru adalah........


a. Rumah yang ada ventilasi/ pencahayaan baik dan tidak padat penghuni
b. Rumah yang bersih
c. Rumah yang mewah

7. Perilaku dibawah ini dapat menurunkan risiko penularan penyakit TB paru,


kecuali......
a. Kebersihan lingkungan
b. Kebersihan pribadi
c. Kebersihan peralatan makan

8. Apakah perbaikan gizi masyarakat tidak ada pengaruhnya terhadap pencegahan


penyakit TB paru?
a. Ya b. Tidak

9. Cara membuang dahak yang tidak benar adalah :


66
a. Meludah di kamar mandi
b. Meludah di wastafel kemudian disiram dengan air mengalir
c. Meludah sembarangan

10. Kebiasaan membuka jendela yang dianjurkan :


a. Tidak pernah membuka jendela
b. Membuka jendela saat bersih-bersih
c. Membuka jendela setiap hari sekitar jam 09.00

II. Pengetahuan Tentang Pengobatan TB di Fasilitas Kesehatan


1. Pengobatan TB dapat diperoleh di tempat-tempat berikut:
a. Puskesmas
b. Rumah Sakit
c. Semua Benar

2. Pengobatan TB dapat diperoleh secara gratis selama 6 bulan / sampai selesai


pengobatan meskipun tidak memiliki kartu JKN/BPJS
a. Benar b. Salah

II. Sikap tentang Pencegahan TB Paru

67
No Pertanyaan SS S TS STS

11. Upaya penanggulangan tb paru sangat


dibutuhkan masyarakat

12. Untuk menghindari penularan tb


paru, alat makan dan minum yang
digunakan penderita yang sudah
dicuci sebaiknya dijadikan satu
dengan alat makan lainnya

13. Apabila batuk atau bersin, penderita


tb paru harus menutup mulutnya,
untuk mencegah penularan kuman
TB

14. Bayi dan anak harus secepatnya di


imunisasi BCG untuk mencegah
tertularnya penyakit TB Paru

15. Untuk mencegah tertularnya


penyakit TB paru dibutuhkan
lingkungan yang bersih

16. Membuka jendela dan ventilasi


bukan upaya pencegahan TB paru

17. Pencegahan penyakit TB paru hanya


tanggung jawab Departemen
Kesehatan

SS = Sangat Setuju TS = Tidak Setuju

S = Setuju STS= Sangat Tidak Setuju

III. Perilaku Masyarakat Tentang Pencegahan TB Paru

No Pertanyaan Ya Terkadang Tidak

68
18. Mengonsumsi makanan
sehat dan bergizi setiap
hari
19. Membuka jendela atau
ventilasi untuk pertukaran
udara
20. Meludah di sembarang
tempat
21. Menghindari polusi dalam
rumah, seperti asap rokok
dan asap dapur
22. Mengusahakan sinar
matahari dapat masuk ke
dalam rumah (melalui
genteng kaca, lubang
angin, dll)
23. Lantai tidak disemen atau
dikeramik
24. Kesesuaian luas lantai
dengan jumlah hunian
dalam satu kamar tidak
boleh lebih dari 3 orang
25. Tidak segera membawa
ke pelayanan kesehatan
jika anggota keluarga
megalami gejala batuk-
batuk

Dokumentasi Kegiatan

69
70