Anda di halaman 1dari 87

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.Ny. S DAN By.Ny.

A
DENGAN HIPERBILIRUBIN DI RUANG PERINA 2A
RS MULYA- TANGERANG
2018

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun Oleh:
SESNI SELVIA LOREN, S.Kep
NIM 201707029

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMC BINTARO


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TANGERANG SELATAN
2018
ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.Ny. S DAN By.Ny. A
DENGAN HIPERBILIRUBIN DI RUANG PERINA 2A
RS MULYA- TANGERANG
2018

KARYA TULIS ILMIAH

Disusun Oleh:
SESNI SELVIA LOREN, S.Kep
NIM 201707029

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMC BINTARO


PROGRAM STUDI PROFESI NERS
TANGERANG SELATAN
2018

i
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME

Saaya yang bertanda tangan dibawah inidengan sebenar – benarnya menyatakan


bahwa karya tulis ilmiah ini, saya susun tanpa tindakan plagiarism sesuai
peraturan yang berlaku di STIKes IMC Bintaro

Jika dikemudian hari ternyata saya melakukan tindakan plagiarism saya akan
bertanggung jawab sepenuhnya dan menerima sanksi yang dijatuhkan oleh
STIKes IMC Bintaro kepada saya.

Tangerang Selatan ……. Agustus 2018

Sesni Selvia Loren

ii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA TULIS ILMIAH

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa karya tulis ilmiah yang berjudul:

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.Ny. S DAN By.Ny. A


DENGAN HIPERBILIRUBIN DI RUANG PERINA 2A
RS MULYA- TANGERANG
2018

Yang dibuat untukl melengkapi sebagai syarat mendapatkan gelar profesi ners
pada Program Studi Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC Bintaro,
sejauh yang saya ketahui bukan merupakan tiruan atau duplikasi dari karya tulis
ilmiah yang dipublikasikan atau telah dipakai untuk mendapatkan gelar ners
dilingkungan sekolah tinggi ilmu kesehatan IMC Bintaro maupun perguruan
tinggi ataupun instansi lainnya, kecuali bagian sumber informasi dan dicantumkan
sebagai refrensi.

Tangerang Selatan ……. Agustus 2018

Sesni Selvia Loren

iii
LEMBAR PERSETUJUAN

APLIKASI ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.Ny. S DAN By.Ny. A


DENGAN HIPERBILIRUBIN DI RUANG PERINA 2A
RS MULYA- TANGERANG
2018

Karya tulis ilmiah ini telah disetujui, diperiksa dan siap diujikan dihadapan tim
penguji program studi profesi Ners Sekolah tinggi ilmu kesehatan IMC Bintaro

Tangerang Selatan, ……. Agustus 2018

Menyetujui,

Pembimbing,

(Ns. Oryza Intan Suri, M.Kep)

Mengetahui

Ketua Program Studi Profesi Ners

STIKes IMC Bintaro

Ns. Dewa Ayu Sri Saraswati, S.Kep.M. Kes

iv
LEMBAR PENGESAHAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Karya Tulis Ilmiah dengan judul :

ASUHAN KEPERAWATAN PADA By.Ny. S DAN By.Ny. A


DENGAN HIPERBILIRUBIN DI RUANG PERINA 2A
RS MULYA- TANGERANG
2018

Dibuat untuk melengkapi sebagian persyaratan menyelesaikan Program Studi


Profesi Ners. KTI ini telah diujikan pada sidang ujian KTI pada tanggal 24
Agustus 2018 dan dinyatakan memenuhi syarat/sah sebagai KTI pada Program
Studi Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC BINTARO.

Tangerang, ........... 2018

Menyetujui

Penguji I Penguji II

.............................. Ns. Dewa Ayu Sri Saraswati, S.Kep.,M.Kes.

Mengetahui, Mengesahkan,

Ketua Program Studi Profesi Ners Ketua STIKes IMC


Bintaro STIKes IMC Bintaro

Ns. Dewa Ayu Sri Saraswati, S.Kep.M. Kes. Ir. Peters Simanjuntak, MBA

v
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI
TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Saya yang bertandatangan dibawah ini:

Nama : Sesni Selvia Loren

NPM :

Program studi : Profesi Ners

Stikes : STIKes IMC Bintaro

Jenis karya : Karya Tulis Ilmiah

Dengan ini menyetujui untuk memberikan izin kepada pihak stikes IMC Bintaro
Hak Bebas Royalti Non Eksklusif (Non_exlusive Royalty_ free right) atas karya
atas karya ilmiah saya yang berjudul: ASUHAN KEPERAWATAN PADA BAYI
NY.S DAN BAYI. NY. A DENGAN HIPERBILIRUBIN DI RUANG PERINA
2A RUMAH SAKIT MULYA TANGERANG 2018.

Beserta perangkat yang ada Stikes IMC bintaro berhat mengalihkan,


memindahkan, menyimpan dan mengelola bentuk pangkalan data,
mempublikasikan, menampilkan dimedia untuk kepentingan akademisitanapa
perlu meminta izin selama tetap mencantumkan nama penulis sebagai pemilik
Hak Cipta.

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar – benarnya.

Tangerang, ……Agustus 2018

Sesni Selvia Loren

vi
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa yang
telah memberikan memberikan kasih dan karunianya sehingga penulis dapat
menyelesaikan KTI yang berjudul : “Asuhan Keperawatan Pada Bayi Ny.S Dan
Bayi. Ny. A Dengan Hiperbilirubin di Ruang Perina 2A Rumah Sakit Mulya
Tangerang” yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk
menyelesaikan Program Studi Profesi NERS Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC
Bintaro. Penyusunan KTI ini telah dapat diselesaikan atas bimbingan, arahan dan
bantuan berbagai pihak, dan pada kesempatan ini penulis dengan rendah hati
mengucapkan terimakasih dengan setulus-tulusnya kepada:
1. Bapak Ir. Peters Simanjuntak, MBA Selaku Ketua Sekolah Tinggi Ilmu
Kesehatan IMC Bintaro.
2. Ibu Ns. Royani, M. Kep Selaku Puket Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC
Bintaro.Dr.
3. Bapak Daelani Ahmad, S.AG. MSI Selaku Ketua II Keuangan Mahasiswa.
4. Ibu Ns. Dewa Ayu Sri Saraswati, S.Kep, M.Kep, Selaku Ketua Program Studi
Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan IMC Bintaro.
5. Ibu Ns. Dewa Ayu Sri Seraswati, S.Kep, M.Kep, Selaku Pembimbing dalam
menyusun Karya Tulis Ilmiah
6. Pihak terkait dalam hal ini yaitu Rumah Sakit Mulya Tangerang Selatan yang
telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan Aplikasi
Asuhan Keperawatan.
7. Seluruh Dosen dan Staf Prodi Profesi Ners Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
IMC Bintaro. yang telah memberikan ilmu dan bimbingan selama menjalani
perkuliahan.
8. Keluarga tercinta (Suami, anak) yang telah memberikan bantuan dan
dorongan doa, motivasi kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan karya
tulis ilmiah.
9. Rekan - rekan seperjuangan yang telah membantu penulis selama masa
belajar maupun sewaktu menyelesaikan karya tulis ilmiah.

vii
10. Rekan-rekan kerja diruang perawatan Bayi PERINA 2A RS Mulya
Tangerang Selatan yang telah banyak memberikan motivasi, bersedia untuk
membagi pengetahuan.
11. Rekan-rekan kerja diruang perawatan Bayi RS Grha Kedoya lantai 7B yang
telah memberikan motivasi, bersedia tukar jadwal dinas sehingga penulis
dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah
12. Ns. M. Ridwan, S.Kep, yang telah mendukung memberikan semangat,
mengumpulkan pustaka dan kontribusi pikiran dalam penyusunan Karya
Tulis Ilmiah
13. Pihak-pihak terkait yang tidak dapat disebutkan satu-persatu yang telah
membantu penulis menyelesaikan karya tulis ilmiah.

Penulis menyadari sepenuhnya masih banyak kekeliruan dan kesalahan


penulisan karrya tulias ilmiah ini, oleh karena itu penulis memerlukan kritik
maupun saran yang bersifat membangun untuk menyempurnakan karya tulis
ilmiah ini. Akhirnya besar harapan penulis semoga tugas ini berguna bagi semua.
Akhir kata penulis ucapkan banyak terimakasih.

Tangerang, 14 Agustus 2018

Sesni Selvia Loren, S.Kep

viii
DAFTAR ISI

Hal
HALAMAN JUDUL .. .................................................................................... . i
SURAT PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME ....................................... .. ii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN KTI .................................................... . iii
LEMBAR PERSETUJUAN............................................................................. . iv
LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................. . v
LEMBAR PERNYATAAN PUBLIKASI ....................................................... . vi
KATA PENGANTAR ..................................................................................... . vii
DAFTAR ISI .................................................................................................... . ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................ . xi
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... . xii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................... . 1


A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 6
C. Tujuan.............................................................................................. 6
D. Manfaat Penulis .............................................................................. 7

BAB II TINJAUAN PUSTAKA....................................................................... 8


A. Hiperbilirubin ................................................................................... 8
1. Definisi ....................................................................................... 8
2. Klasifikasi ................................................................................... 8
3. Etiologi ....................................................................................... 10
4. Jaundice ...................................................................................... 11
5. Patofisiologi Metabolisme Bilirubin .......................................... 11
6. Pathway ...................................................................................... 13
7. Metabolisme Hiperbilirubin yang berhungan dengan ASI ......... 13
8. Tatalaksana Neonatus Hiperbilirubi ........................................... 14
9. Kompikasi Hiperbilirubin ........................................................... 17
10. Asuhan Keperawatan Secara Teori............................................. 14

BAB III TINJAUAN KASUS ........................................................................... 26


A. Gambaran Umum Lokasi .............................................................. 26
B. Resume .......................................................................................... 26
C. Pengakajian Kasus 1 ..................................................................... 27
D. Analisa Data .................................................................................. 28
E. Prioritas Diagnosa Keperawatan Kasus 1 ..................................... 30
F. Rencana Intervensi Keperawatan Kasus 1 .................................... 31
G. Implementasi Keperawtaan Kasus 1 ............................................. 36
H. Evaluasi Kasus 1 ........................................................................... 40
I. Pengkajian Kasus 2 ....................................................................... 47
J. Analisa Data .................................................................................. 48
K. Prioritas Diagnosa Keperawatan Kasus 2 ..................................... 50
L. Rencana Intervensi Keperawatan Kasus 2 .................................... 51
M. Implementasi Keperawatan Kasus 2 ............................................. 56
N. Evaluasi Kasus 2 ........................................................................... 60

ix
BAB IV PEMBAHASAN ................................................................................. 66
A. Pengakajian .................................................................................. 66
B. Diagnosa Keperawatan................................................................. 68
C. Intervensi keperawatan ................................................................ 69
D. Implementasi Keperawatan .......................................................... 70
E. Evaluasi Keperawatan .................................................................. 71

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................ 72


A. Kesimpulan...................................................................................... 72
B. Saran ............................................................................................... 73
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

x
DAFTAR TABEL

Hal

Tabel 2.1 Tatalakasana Hiperbilirubin ............................................................ 66


Tabel 2.2 Rencana Intervensi Keperawatan .................................................... 19
Tabel 3.1 Analisa Data Kasus 1 ...................................................................... 28
Tabel 3.2 Rencana Intervensi Keperawatan Kasus 1 ...................................... 31
Tabel 3.3 Implementasi Keperawatan Kasus 1 ............................................... 36
Tabel 3.4 Evaluasi Keperawatan Kasus 1 ....................................................... 40
Tabel 3.5 Analisa Data Kasus 2 ...................................................................... 48
Tabel 3.6 Rencana Intervensi Keperawatan Kasus 2 ...................................... 51
Tabel 3.7 Implementasi Keperawatan Kasus 2 ............................................... 56
Tabel 3.8 Evaluasi Keperawatan Kasus 2 ....................................................... 60

xi
DAFTAR GAMBAR

Hal

Tabel 2.1 Phatway Hiperbilirubin ................................................................... 13


Tabel 2.2 Pedoman Phototerapy ..................................................................... 16

xii
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan nasional dilaksanakan pada segala bidang dan salah satu
bidang yang tidak kalah pentingnya adalah bidang kesehatan. Pembangunan
kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan
kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan
masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan
sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomi (Kemenkes,
2009).

Menurut World Health Organization (2009) sehat adalah kesejahteraan yang


meliputi fisik, mental dan sosial yang tidak hanya bebas dari penyakit atau
kecacatan. Menurut UU Kesehatan no. 36 tahun 2009 sehat adalah keadaan
sehat, baik secara fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan
setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Dengan
demikian maka dapat ditarik kesimpulan definisi secara komprehensif yaitu
keadaan sehat secara bio-psiko-sosio terbebas dari penyakit sehingga
seseorang dapat melakukan aktivitas secara optimal (Depkes RI, 2006).

Berbagai tinjauan kementrian kesehatan mengenai profil kesehatan


masyarakat Indonesia hal-hal yang diperhatikan tentang kesehatan masyarakat
salah satunya adalah Angka Kematian anak atau Bayi (AKB), peninjauan
profil AKB dimulai pada tahun 1990 yang merupakan pekerjaan besar bagi
kementerian kesehatan beserta jajarannya (Kemenkes, 2015).

Indonesia menempati posisi ke 9 dengan angka kematian bayi sebasar 30 per


1000 kelahiran hidup (Depkes RI, 2011). Sedangkan berdasarkan data dari
Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Kemenko Kesra) jumlah
bayi yang meninggal di Indonesia mencapai 34 kasus per 1000 kelahiran
hidup. Jumlah tersebut lebih tinggi dari angka MDGs yakni 25 kasus per 1000
kelahiran hidup (Sarmun, 2012).

1
2

Hasil survei berdasarkan Survey Demografi dan Kesehatan Indonesia


(SDKI) angka kematian neonatus memberikan kontribusi besar
terhadap angka kematian bayi yaitu sebayak 59%, angka kematian
neonatus di Indonesia usia 0-28 hari pada tahun 2012 menujukan hasil
yang cukup besar yaitu sebayak 19 dari 1000 kelahiran hidup angka ini
menujukan hasil yang hampir sama pada angka kematian neonatus pada
tahun 2002, 2003 yaitu hanya selisih 1 point yaitu 20 dari 1000
kelahiran hidup (Kemenkes, 2015). Angka Kematian Bayi (AKB) 23
per 1000 kelahiran hidup pada 2015, Angka Kematian Balita (AKBA)
32 per 1000 kelahiran hidup pada 2015, Angka Kematian Neonatal
(AKN) menurun dengan acuan SDKI (Survey Demografi dan
Kesehatan Indonesia) 19 per 1000 kelahiran hidup pada tahun 2015
(Kemenkes RI, 2011).

Sebagai upaya pemerintah menekan angka kematian neonatus dengan


komplikasi neonatorum menyediakan Fasilitas Layanan Kesehatan
(FasYanKes) baik dokter, bidan, dan perawat yang dapat memberikan
bantuan dasar penanganan komplikasi neonatus dengan komplikasi,
berdasarkan standart Manajemen Terpadu Bayi Muda (MTBM)
(Kemenkes, 2015). Angka kematian bayi diklasifikasikan berdasarkan
penyebab kematiannya faktor penyebab kematian bayi diantaranya
yaitu komplikasi kematian neonatus usia 0-48 jam pasca lahir meliputi
cacat kongenital termasuk bayi kuning berdasarkan pengkajian MTBM
(Manajemen Terpadu Bayi Muda), kematian bayi asfiksia, kematian
bayi lahir dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR), kematian bayi
karena penyakit yang dapat di cegah (BCG, Campak), sepsis
neonatorum, trauma lahir, tetanus neonatorum, dehidrasi, hipotermi,
kejang, kematian neonatus lahir hiperbilirubin/Ikterus. (Karlina, 2016).

Neonatus ikterik atau terjadinya hiperbilirubinemia indirek di Indonesia


dijumpai pada sekitar 60% bayi aterm dan 80% bayi premature (Nelson,
2007). Angka kejadian menunjukkan bahwa lebih 50% bayi baru lahir
3

menderita ikterus yang dapat dideteksi secara klinis dalam minggu


pertama kehidupannya, Ikterus pada neonatus dapat dibedakan menjadi
dua macam, yaitu fisiologis dan patologis. Ikterus neonatorum fisiologis
timbul akibat peningkatan dan akumulasi bilirubin indirek < 5 mg/dl/24
jam yaitu terjadi 24 jam pasca persalinan. Hal ini karena metabolisme
bilirubin neonatus belum sempurna masih dalam masa transisi dari
masa janin ke masa dewasa (Ermalida, 2016).

Ikterus neonatorum patologis adalah ikterus yang timbul dalam 24 jam


pertama pasca persalinan dimana peningkatan dan akumulasi bilirubin
indirek > 5 mg/dl/24 jam dan ikterus akan tetap menetap hingga 8 hari
atau lebih pada bayi cukup bulan (matur) sedangkan pada bayi kurang
bulan (prematur) ikterus akan tetap ada hingga hari ke-14 atau lebih
(Karlina, 2016). Ikterik bila tidak ditangani dengan tepat dapat
menimbulkan masalah kesehatan serius yang mengancam hingga
terjadinya kematian pada neonatus atau terjadinya kern icterus.

Dampak atau komplikasi dari ikterus adalah terjadinya Kern - icterus


yaitu encefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonatus
cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin indirect lebih dari 20 mg%
atau >18 mg% pada bayi berat badan lahir rendah) disertai dengan
gejala kerusakan otak berupa mata berputar, latergi, kejang, tidak
mampu menyusu ASI, tonus otot meningkat, leher kaku, dan sianosis,
serta dapat diikuti dengan ketulian, gangguan berbicara, dan retardasi
mental dikemudian hari (Surasmi, 2003). Kern icterus timbul akibat
akumulasi bilirubin indirek di susunan saraf pusat yang melebihi batas
toksisitas bilirubin pada ganglia basalis dan hipocampus. Ikterus
neonatorum perlu mendapat perhatian dan penanganan yang baik
sehingga menurunkan angka kematian bayi Infant Mortality Rate
(IMR) yang masih tinggi di Indonesia. Bayi yang menderita
ensefalopati bilirubin/kern icterus akan mengalami gangguan proses
4

pertumbuhan dan perkembangan seperti retardasi mental, serebral palsy


dan gangguan pendengaran (Nursanti, 2011).

Klinis ikterus pada bayi baru lahir dapat ditandai dengan berbagai data
penunjang klinis yaitu diantaranya hasil pemeriksaan labolatorium
bilirubin sebagai berikut ini: bilirubin total >10 mg% pada bayi cukup
bulan dan > 12,5 mg% pada bayi premature atau kurang bulan,
sedangkan Ermalinda (2016) mengungkapkan icterus neonatorum dapat
dibedakan berdasarkan derajatnya dan nilai total tafsiran bilirubin
berdasarkan gejala yang timbul secara visual seperti: derajat satu
kuning pada leher dan kepala atau dengan kadar bilirubin (0,5 mg%),
derajat dua sampai badan bagian atas dengan kadar bilirubin (9,0
mg%), derajat 3 kuning sampai badan bagian bawah hingga tungkai,
perkiraan kadar bilirubin 10,4 mg%, Derajat kuning hingga meliputi
tangan dan tugkai, perkiraan bilirubin dalam darah 12,4 mg%, dan
Derajat 5 kuning meliputi telapak tangan dan kaki, perkiraan kadar
bilirubin 16,0 mg%. penunjang lainnya dapat dilakuka USG dan
radiographer untuk melihat organ empedu.

Penatalaksanaan maupun perhatian khusus neonatus ikterik fisiologis


diberikan pada 24 jam pertama hingga usia satu minggu post kelahiran,
(Depkes, 2004). Pencegahan komplikasi ikterus, meliputi: Promosi dan
dukungan pemberian ASI (Air Susu Ibu) dengan intake yang memadai,
melakukan penilaian sistematis kadar bilirubin, tindak lanjut
menurunkan kadar bilirubin dengan fototerapi atau tranfusi tukar bila
dalam 48 jam bilirubin >12 mg/dl (Nursanti, 2011).

Pemberian terapi cairan pada bayi ikterik adalah mempertahankan bayi


dari dehidrasi yang akan memicu terjadinya penumpukan kadar
bilirubin dalam darah karena tidak mampu keluar bersamaan dengan
urine maupun feses. Asupan cairan pada bayi salah satunya dengan
memberikan ASI ekslusif atau dengan ASI sambung. Pemberian cairan
5

ASI atau susu formula mampu memenuhi kebutuhan bayi baik dari
nilai gizi yang terkandung maupun manfaat lain seperti mencegah
reabsorsi bilirubin terserap kembali kedalam darah yang seharusnya
terbuang bersama feses (mekonium) dan urin, memberikan keamanan
bagi sistem pencernaan karena sangat mudah di cerna oleh organ
pencernaan yang belum matur, mencegah konstipasi, mempercepat
pembuangan mekonium sisa, mencegah terjadinya dehidrasi, serta
sebagai antibodi alamiah bagi bayi yang retan dan sensitif terhadap
mikro orgaisme yang memungkinkan mengkontaminasi sepanjang daur
kehidupan bayi, mempercepat pengeluaran placenta pada ibu,
memberikan stimulus agar memperbanyak produksi ASI,
mempersingkat perdarahan pada ibu melahirkan (Walyani, 2015).

Hiperbilirubin juga dapat ditangani dengan melakukan penyinaran pada


bayi atau sering disebut fototerapi namun beberapa penelitian
mengungkapkan metode jemur bayi juga efektif menghilangkan tanda
dan gejala ikterus pada neonatus, terapi jemur lebih dianjurkan ketika
bayi pulang dari pelayanan kesehatan karena dirumah tidak mempunyai
alat fototerapi. Terapi sinar matahari mempunyai mekanisme kerja yang
hampir sama dengan metode fototerapi yaitu memanfaatkan sinar
ultraviolet untuk memecahkan bilirubin yang tak terkonjugasi
(Walyani, 2015).

Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan oleh penulis pada


bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2018 dari data di Ruang
Perina 2A Rumah saki Mulya Tangerang total rawat bayi ikterus
sebanyak 20 bayi. Bayi mengalami hiperbilirubin fisiologis pada 48 jam
pertama pasca lahir dengan klasifikasi hiperbilirubin yang berbeda-
beda. Hiperbilirubin kategori ringan yaitu dengan nilai bilirubin rata-
rata ≤ 12 mg/dl maka berdasarkan tabel rujukan (AAP) The American
Academy of Pediatrics tidak dilakukan penyinaran terhadap bayi
tersebut tetapi pemberian ASI ditingkatkan dan harus mencukupi
6

kebutuhan, bayi dengan nilai bilirubin dengan kadar bilirubin ≥ 12


dilakukan fotoherapy maksimal 48 jam.

Hasil evaluasi selama 1 minggu terhadap aktivitas ibu menyusui rata-


rata ibu perhari memberikan ASI kepada bayi dengan frekuensi delapan
kali pemberian ASI, apabila dihubungkan dengan frekuensi rujukan
AAP frekuensi pemberian ASI pada bayi masih terbilang kurang yang
mana nilai rujukannya adalah minimal enam sampai sepuluh kali
pemberian ASI selama 24 jam (Suradi, 2010). Berdasarkan hasil studi
pendahuluan ini penulis sangat tertarik untuk melakukan aplikasi
asuhan keperawatan terhadap neonatus dengan Hiperbilirubin yang
lahir Di Rumah Sakit Mulya-Tangerang tahun 2018.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas” Bagaimana penerapan
Asuhan keperawatan pada neonatus dengan hiperbilirubin di ruang
Perina 2A RS Mulya tahun 2018 ?”

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui Efektivitas Asuhan keperawatan Terhadap bayi
Hiperbilirubin Di Rumah Sakit Mulya-Tangerang 2018.

2. Tujuan Khusus
1) Mengidentifikasi data hasil pengkajian pada neonatus dengan
hiperbilirubin di ruang Perina RS Mulya Tangerang
2) Merumuskan diagnosa keperawatan pada neonatus dengan kasus
hiperbilirubin di ruang Perina 2A RS Mulya Tangerang
3) Menyusun rencana asuhan keperawatan pada neonatus dengan kasus
hiperbilirubin di ruang Perina 2A RS Mulya Tangerang
4) Melaksanakan asuhan keperawatan pada neonatus dengan kasus
hiperbilirubin di ruang Perina 2A RS Mulya Tangerang
7

5) Melaksakan evaluasi keperawatan pada neonatus dengan kasus


hiperbilirubin di ruang Perina 2A RS Mulya Tangerang

D. Manfaat penelitian
1. Manfaat Teoritis
Membantu dalam pengembangan ilmu pengetahuan di bidang
keperawatan maternitas terkait manajemen penanganan bayi baru lahir
aterm ikterus.
2. Manfaat Praktis
1) Bagi Rumah Sakit
Menambah wawasan bagi petugas rumah sakit tentang penanganan
bayi dengan hiperbilirubin dengan pemberian cairan ASI dan
Terapi jemur yang phototerapy.
2) Bagi peneliti
Menambah pengetahuan peneliti tentang pengaruh pemberian ASI
ekslusif dan terapi jemur terhadap kadar bilirubin bayi baru lahir
aterm
3) Bagi pasien
Meningkatkan efektivitas penanganan manajemen bayi ikterus
dengan pemberian ASI ekslusif dan jemur bayi
4) Bagi petugas kesehatan
Sebagai masukan dan pertimbangan dalam memberikan pelayanan
kesehatan, memberikan pendampingan terhadap orang tua dengan
bayi ikterik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Hiperbilirubin
1. Definisi
Hiperbilirubinemia adalah konsentrasi bilirubin serum total
(BST) ≥ 5 mg/dl (86µmoI/L) keadaan ini dapat ditemukan pada bayi
dengan berbagai usia gestasi, pada bayi dengan usia gestasi 35 minggu
ditemukan sekitar 60% (Rulina, 2010). Ikterus pada bayi atau yang
dikenal dengan istilah ikterus neonatarum adalah keadaan klinis pada bayi
yang ditandai oleh pewarnaan ikterus pada kulit dan sklera, mukosa
akibat akumulasi bilirubin tak terkonjugasi yang berlebih, orang dewasa
atau anak akan tampak ikterus apabila serum bilirubin >2
mg/dl(>17μmol/L) sedangkan pada neonatus baru tampak apabila serum
bilirubin > 5mg/dl (86μmol/L) (Karlina, 2016).

Ikterus lebih mengacu pada gambaran klinis berupa pewaranaan kuning


pada kulit, sedangkan hiperbilirubinemia lebih mengacu pada gambaran
kadar bilirubin serum total, Hiperbilirubin merupakan terjadinya
peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang nilainya lebih dari normal,
dimana sesuai nilai rujukan atau nilai batas normal bilirubin indirek 0,3-
1,1 mg/dl sedangkan bilirubin direk 0,4 mg/dl, hiperbilirubin ditandai
dengan gejala klinis seperti kuning pada badan, sklera, hal ini dapat
terjadi pada bayi lahir normal maupun tidak normal (Karlina, 2016).

2. Klasifikasi hiperbilirubin Neonatus


Menurut Rulina (2010) ikterus atau keadaan hiperbilirubinemia
umumnya adalah kejadian yang normal dan terdapat 10% kejadian
hiperbilirubin menjadi patologis (enselopati bilirubin) hiperbilirubin yang
mengarah kearah patologis diantaraya, ialah sebagai berikut:
1) Timbul pada saat lahir atau hari pertama saat kehidupan
2) Kenaikan bilirubin berlangsung cepat > 5 mg/dl per hari
3) Bayi lahir premature

8
9

4) Bayi dengan lahir kuning dan menetap hingga usia bayi 2 minggu
pasca kelahiran
5) Kenaikan bilirubin direk > 2 mg/dl atau > 20% dari BST.

Menurut Karlina (2016) kejadian ikterus pada neonatus dapat dibedakan


menjadi dua bagian , yaitu:
a. Ikterus fisiologis
Ikterus fisiologi adalah ikterus yang timbul pada hari kedua dan hari
ketiga serta tidak mempunyai dasar patologi atau tidak mempunyai
potensi menjadi karena ikterus. Adapun tanda-tanda sebagai berikut :
1) Timbul pada hari kedua dan ketiga
2) Kadar bilirubin indirek tidak melebihi 10 mg% pada neonatus
cukup bulan.
3) Kecepatan peningkatan kadar bilirubin tidak melebihi 5% per
hari.
4) Kadar bilirubin direk tidak melebihi 1 mg %.
5) Ikterus menghilang pada 10 hari pertama. Tidak terbukti
mempunyai hubungan dengan keadaan patologis.
b. Ikterus patologis
Ikterus patologis adalah ikterus yang mempunyai dasar patologis
atau kadar bilirubin mencapai suatu nilai yang disebut
hiperbilirubinemia Adapun tanda-tandanya sebagai berikut :
1) Ikterus terjadi dalam 24 jam pertama.
2) Kadar bilirubin melebihi 10 mg% pada neonatus cukup bulan
atau melebihi 12,5% pada neonatus kurang bulan.
3) Peningkatan bilirubin lebih dari 5 mg% per hari.
4) Ikterus menetap sesudah 2 minggu pertama.
5) Kadar bilirubin direk melebihi 1 mg%.
6) Mempunyai hubungan dengan proses hemolitik.

Menurut Ermalinda (2016) ikterus neonaturum dibedakan menjadi


lima derajat, yaitu sebagai berikut:
1) Derajat 1 : kuning daerah kepala, leher perkiraan bilirubin 0,5 mg %
10

2) Derajat 2 : kuning sampai badan atas, perkiraan bilirubin 9,0 mg%


3) Derajat 3 : kuning sampai badan bagian bawah hingga tungkai,
perkiraan kadar bilirubin 10,4 mg%
4) Derajat 4 : kuning hingga meliputi tangan dan tugkai, perkiraan
bilirubin dalam darah 12,4 mg%
5) Derajat 5 : kuning meliputi telapak tangan dan kaki, perkiraan kadar
bilirubin 16,0 mg%.

3. Penyebab hiperbilirubin Neonatus


Menurut Karlina (2016) Ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri
sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Secara garis besar
penyebab ikterus neonatarum adalah sebagai berikut:
a. Produksi yang berlebihan hal ini melebihi kemampuan bayi untuk
mengeluarkannya, misalnya pada hemolisis yang meningkat pada
inkompatibilitas Rh, ABO, golongan darah lain, defisiensi G6PD,
piruvat kinase, perdarahan tertutup dan sepsis.
b. Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi hepar
Gangguan ini dapat disebabkan oleh imaturitas hepar, kurangnya
substram untuk konjugasi bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat
asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukorinil
transferase (Sindrom Criggler-Najjar). Penyebab lain adalah
defisiensi protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam
uptake bilirubin ke sel hepar.
c. Gangguan transport
Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkut ke
hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh
obat misalnya salisilat, sulfarazole. Defisiensi albumin menyebabkan
lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah
yang mudah melekat ke sel otak.
d. Gangguan dalam eksresi
Gangguan ini dapat terjadi akibat obstruksi dalam hepar atau di luar
hepar. Kelainan di luar hepar biasanya diakibatkan oleh kelainan
11

bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat infeksi atau


kerusakan hepar oleh penyebab lain.
e. Ikterus fisiologis
Sulitnya pengeluaran bilirubin tak terkonjugasi dalam saluran
pencernaan pada neonatus, karena belum maturnya sistem
pencernaan pada bayi
f. Brestfeeding jaundice
Kurangnya asupan ASI pada neonatus dan biasanya terjadi pada hari
ke dua dan ketiga pasca lahir.
g. Breastmilk jaundice
Terjadi ikterus akibat ASI ibu yang tidak cocok sehingga terjadi
penumpukan bilirubin indirek, selain itu terjadi pemanjangan fase
ikterik fisiologis yang mencapai 4-7 hari
h. Ketidakcocokan golongan darah atau ABO inkompatibilitas
Terjadinya kasus autoimun dimana anti bodi ibu akan memangsa sel
darah merah janin sehingga menyebabkan pecahnya sel darah merah
sehingga akan menyebabkan pelepasan bilirubin berlebihan.

4. Jaundice
Jaundice adalah suatu tanda klinis yang dapat terlihat pada kulit,
mukosa, sklera yang disebabkan terjadinya penumpukan kadar bilirubin
didalam darah atau bilirubin tak terkonjugasi, terjadinya akumulasi
bilirubin dalam darah akan menimbulkan pigmentasi bilirubin yang
berwarna kuning. Jaundice adalah gambaran klinis berupa pewarnaan
kuning pada kulit dan mukosa karena adanya deposisi produk akhir
katabolisme hem yaitu bilirubin. Secara klinis, ikterus pada neonatus akan
tampak bila konsentrasi bilirubin serum lebih 5 mg/dL (Karlina, 2010).

5. Patofisiologi Metabolisme bilirubin


Pemecahan hemoglobin menjadi heme dan globin, heme akan di
oksidasikan oleh enzime heme oksigenase menjadi bentuk biliverdin
(pigmen hijau) kemudian selanjutnya biliverdin yang larut dalam air
12

mengalami proses degradasi menjadi bentuk bilirubin indirek, yaitu


bilirubin yang tidak larut dalam air dan akan diikat oleh albunmin untuk
dibawa kedalam hati untuk dimetabolisme menjadi bilirubin direk.
Kemudian selanjutnya bilirubin direk akan ditransfer kedalam bilier oleh
transpoter spesifik, setelah dieksresi kedalam hati bilirubin akan
disimpan dalam kantong empedu, proses minum akan memicu
pengeluaran empedu kedalam duodenum.
Bilirubin direk tidak akan diserap oleh epitel usus melainkan dipecah
menjadi sterkobilin dan urobilinogen yang akan dieksresikan melalui
feses dan urine, bilirubin direk sebagian kecil akan didekonjugasi oleh
beta-glukoronidase yang ada pada epitel usus menjadi bilirubin indirek
dan akan diangkut kembali kedalam hati yang disebut proses
enterohepatik (Rulina, 2010). Proses metabolisme bilirubin tersebut
dipengaruhi beberapa factor meliputi yang dapat menimbulkan masalah
metabolisme bilirubin dan gangguan kesehatan hingga menimbulkan
gejala meningkatnya kadar bilirubin, ikterus, malaise, dehidrasi, letargi.
Hal ini disebabkan beberapa factor penyebab yaitu, Peningkatan bilirubin,
Gangguan fungsi hati, Gangguan transport, Gangguan eksresi,
Peningkatan sirkulasi entrohepatik (Karlina 2016).
13

6. Phatway Hiperbilirubin

Hemoglobin

Heme Globin

Etiologi: Biliverdin
1. Peningkatan bilirubin
2. Gangguan fungsi hati Bilirubin
3. Gangguan transport
4. Gangguan eksresi
5. Peningkatan sirkulasi
entrohepatik

Enzyme glukoronil
transferase
Bilirubin Bilirubin Direk
indirek Phototherapy
meningkat
Toksik bagi jaringan Urobilinogen Sterkobilin
(Ikterik, Malaise, MK: Hiperbilirubinemia
Lethargi).
Eksresi tinja
dan urine
MK: Risk Radiasi Metabolisme
Kerusakan
integritas
Peristaltic usus
jaringan Suhu ruang dan Frekuensi menyusu
meningkat
tubuh menurun

Diare
MK: Hipertermi MK:Devisit volume
Ceiran

Gambar. 2.1

7. Metabolisme Hiperbilirubin yang berhubungan dengan ASI


Menurut Rulina (2010) mekanisme terjadinya hiperbilirubin
yang berhubungan dengan ASI pada neonatus dapat terjadi
Breastfeeding jaundice , yaitu sebagai berikut:
14

Proses metabolisme biliribin dimulai dari pemecahan hemoglobin


menjadi heme dan globin yang begitu singkat yaitu sekitar 70-90 hari
sehingga mengakibatkan peningkatan biliverdin sebagai hasil dari
proses enzim heme oksigenasi yang akan mengalami proses degradasi
menjadi bilirubin indirek yang akan diubah menjadi bilirubin direk
melalui proses pengikatan oleh albumin untuk di transfer kedalam hati
dan dimetabolisme sehingga menghasilkan bilirubik direk yang cukup
banyak karena pemecahan hemoglobin yang cepat. Bilirubin direk
kemudian disimpan didalam empedu kemudian akan dikeluarkan
dengan dirangsang oleh asupan cairan ASI, empedu (bilirubin direk)
keluar dan masuk kedalam duodenum untuk di pecah menjadi
sterkobilin dan urobilinogen untuk dieksresi melalui tinja dan urine
sedangkan bilirubin direk akan direabsorsi kedalam darah dan diikat
kembali oleh albumin untuk ditrasfer kedalam hati yang disebut proses
enterohepatik, proses ini bila terjadi terus menerus akan menyebabkan
penumpukan bilirubin sehingga menyebabkan ikterik atau jaundice
yang dapat disebabkan oleh kurangnya asupan ASI yang merangsang
pengeluaran bilirubin dalam bentuk sterkobilin dan urobilinogen
(Rulina, 2010).

8. Tatalaksanaan Neonatus Hiperbilirubin


Menurut Karlina (2016) ada beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam menangani neonatus ikterus , diantaranya ialah:
1) Segera hubungi pelayanan kesehatan dan bawa segera ke pelayanan
kesehatan bila bayi tampak kuning:
a) Timbul kuning dalam 24 jam pertama kelahiran
b) Kuning menetap lebih dari 8 hari pada bayi aterm dan lebih dari
14 hari pada bayi prematur
c) Tinja berwarna pucat
d) Pada bayi dengan tanda warna kuning pada kulit mencapai lutut
e) Bayi menolak minum/ menyusu, kaki dan tangan lemas dan suhu
> 37,5
2) Pemeriksaa laboratorium diperlukan untuk menunjang diagnosa
15

3) Berikan ASI cukup dengan frekuensi pemberian 8 samapai 12 kali


dalam 24 jam
4) Lakukan penyinaran oleh matahari untuk membantu memecahkan
bilirubin dengan cara menempatkan bayi ruang yang terpapar sinar
matahari pagi antara jam 7 hingga jam 8 pagi dan hindari sinar
matahari berpaparan langsung dengan mata bayi, lakukan selama 30
menit. 15 menit dengan posisi terlentang dan 15 menit dengan posisi
telungkup dengan kondisi bayi tidak menggunakan pakaian.
5) Berikan terapi medis phototherapy dan bila diperlukan tranfusi tukar.
Menurut panduan AAP dalam Rulina (2010) Penatalaksanaa
hiperbilirubin berdasarkan parameter yang dibuat The America
Academy Of Pediatrics (AAP) menyatakan terapi hiperbillirin selain
dilakukan penyinaran AAP memberikan suport diberikannya ASI
dengan frekuensi 8-10 kali dalam 24 jam, selanjutnya dilakukan
pemantauan jumlah asi yang diberikan cukup atau tidak, pemberian
asi sejak lahir minimal 8 kali dalam 24 jam, tidak memberikan cairan
per oral selain ASI, memantau kenaikan berat badan serta frekuensi
BAB dan BAK dan jika kadar bilirubin mencapai 15 mg/dl perlu
diberikan cairan ASI ektra, jika kadar bilirubin 20 mg/dl dilakukan
penyinaran phototherapy.
Wong, (2009) mengungkapkan tatalaksana phototerapi pada neonatus
ikterus mempunyai resiko yang perlu diwaspadai diataranya dapat
menimbulkan dehidrasi, gangguan thermoregulasi, eritema pada
permukaan tubuh terutama kulit kulit, peningkatan metabolism
(diare). Hal ini sejalan dengan ungkapan Sastromoro (2004) yang
mengungkapkan efek dari terapi radiasi yaitu terjadi dehidrasi atau
terjadi peningkatan IWL, bronze baby syndrome, diare, dan terjadi
eritema.

Berikut ini adalah tabel panduan penatalaksanaan hiperbilirubin menurut


AAP pada bayi cukup bulan sehat, adalah sebagai berikut:
Tabel 2.1 Tatalaksana hiperbilirubin pada bayi cukup bulan sehat
Kadar Bilirubin Serum Total (BST) (mg/dl atau µmol/L)
16

Usia Pertimbangkan terapi Terapi sinar Tranfusi tukar Tranfusi tukar da


(jam) sinar jika terapi sinar terapi sinar
gagal instensif
≤ 24 - - - -
25-48 ≥12 (170) ≥15 (260) ≥20 (340) ≥25 (430)
49-72 ≥15(260) ≥18 (310) ≥25 (430) ≥30 (510)
>72 ≥17(290) ≥20 (340) ≥25 (430) ≥30 (510)
Subcommitte on hyperbilirubinnemia AAP Pediatrik 1994 dalam Rulina
(2010)
Keterangan:
1. Terapi sinar yang dilakukan merupakan pilihan yang disesuaikan dengan
penilaian klinis
2. Terapi sinar intensif menurunkan BST sebesar 1-2 mg/dl. Kadar BST
dapat turun lagi dan menetap dibawah ambang batas untuk terapi
tranfusi tukar, jika hal ini tidak terpenuhi maka terapi sinar di anggap
gagal
3. Bayi cukup bulan yang tampak kuning pada usia ≥ 24 jam dianggap tidak
sehat dan memerlukan evaluasi

Gambar. 2.2 pedoman terapi sinar pada bayi usia gestasi ≥ 35 minggu

Keterangan:
1. Gunakan penilaian pada acuan nilai bilirubin serum total tanpa
dikurangi bilirubin direk atau indirek
17

2. Faktor resiko: penyakit isoimun, defisiesi G6PD, asfiksia, letargi


signifikan, instabilitas suhu, sepsis, asidosis, albumin < 3.0 gr/dl
3. Untuk neonatus usia 35-37 minggu dengan kondisi sehat: intervesi
dapat mengacu pada resiko sedang

9. Komplikasi Hiperbilirubin
1) Bilirubin enchepalopathy (komplikasi serius)
2) Kernikterus; kerusakan neurologis, cerebral palsy, retardasi mental,
hiperaktif, bicara lambat, tidak ada koordinasi otot dan tangisan yang
melengking.

B. Asuhan keperawatan bayi hiperbilirubin


1. Pengkajian fokus
1) Riwayat Penyakit
Terdapat riwayat gangguan hemolisis darah (ketidaksesuaian
golongan Rh atau golongan darah A,B,O). Polisistemia, infeksi,
hematoma, gangguan metabolisme hepar obstruksi saluran pencernaan
ibu menderita DM.
2) Riwayat Kehamilan
Kurangnya antenatal care yang baik. Penggunaan obat-obat yang
meningkatkan ikterus. Contoh: salisilat sulkaturosic oxitosin yang dapat
mempercepat proses konjungasi sebelum ibu partus.
3) Riwayat Persalinan
Lahir prematur / kurang bulan, riwayat trauma persalinan.
4) Riwayat Postnatal
Adanya kelainan darah, yang mengakibatkan kadar bilirubin
meningkat, sehingga kulit bayi tampak kuning.
5) Riwayat Kesehatan Keluarga
Seperti ketidak cocokan darah ibu dan anak Polycythenia,
gangguan saluran cerna dan hati (hepatitis)
6) Riwayat Pikososial
Kurangnya kasih sayang karena perpisahan, perubahan peran orang tua
7) Pengetahuan Keluarga
18

Penyebab perawatan pengobatan dan pemahaman orang tua pada bayi


yang ikterus
8) Pemeriksaan Fisik
Ikterus terlihat pada sklera selaput lendir, urin pekat seperti teh, letargi,
hipotonus, refleks menghisap kurang, peka rangsang, tremor, kejang,
tangisan melengking. Selain itu, keadaan umum lemah, TTV tidak stabil
terutama suhu tubuh. Reflek hisap pada bayi menurun, BB turun,
pemeriksaan tonus otot (kejang/tremor). Hidrasi bayi mengalami
penurunan. Kulit tampak kuning dan mengelupas, sclera mata kuning
(kadang – kadang terjadi kerusakan pada retina) perubahan warna urine
dan feses.

2. Diagnosa keperawatan
1) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan aktif
volume cairan (evaporasi), diare.
2) Hipertermi b/d paparan lingkungan panas (efek fototerapi), dehidrasi
3) Diare b/d efek fototerapi
4) Resiko kerusakan integritas kulit b/d pigmentasi (jaundice), hipertermi,
perubahan turgor kulit, eritema.
5) Ikterik neonatorum berhubungan dengan usia kurang dari 7 hari
19

3. Rencana intervensi keperawatan


No Diagnose NOC NIC
1 Defisit Volume cairan b/d  Fluid balance Fluid management :
kehilangan aktif volume cairan  Hydration 1. Timbang popok/pembalut jika diperlukan
(evaporasi), diare.  Nutritional Status : Food and Fluid Intake 2. Pertahankan catatan intake dan output yang
Kriteria Hasil : akurat
Definisi : Penurunan cairan
1. Mempertahankan urine output sesuai dengan usia 3. Monitor status hidrasi ( kelembaban
intravaskuler, interstisial, dan/atau
dan BB, BJ urine normal, HT normal. membran mukosa, nadi adekuat, tekanan
intrasellular. Ini mengarah ke
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas darah ortostatik ), jika diperlukan
dehidrasi, kehilangan cairan
normal 4. Monitor vital sign
dengan pengeluaran sodium
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, Elastisitas turgor 5. Monitor masukan makanan / cairan dan
kulit baik, membran mukosa lembab, tidak ada hitung intake kalori harian
rasa haus yang berlebihan 6. Kolaborasikan pemberian cairan IV
7. Monitor status nutrisi
8. Berikan cairan IV pada suhu ruangan
9. Dorong masukan oral
10. Berikan penggantian nesogatrik sesuai
output
11. Dorong keluarga untuk membantu pasien
makan
20

12. Kolaborasi dokter jika tanda cairan


berlebih muncul memburuk
13. Persiapan untuk tranfusi

Hypovolemia Management
1. Monitor status cairan termasuk intake dan
ourput cairan
2. Pelihara IV line
3. Monitor tingkat Hb dan hematokrit
4. Monitor tanda vital
5. Monitor responpasien terhadap
penambahan cairan
6. Monitor berat badan
7. Dorong pasien untuk menambah intake
oral
8. Pemberian cairan Iv monitor adanya tanda
dan gejala kelebihanvolume cairan
9. Monitor adanya tanda gagal ginjal
2 Hipertermi b/d paparan lingkungan Thermoregulation Fever treatment
panas (efek fototerapi), dehidrasi Kriteria Hasil : 1. Monitor suhu sesering mungkin
21

1. Suhu tubuh dalam rentang normal 2. Monitor IWL


Definisi : suhu tubuh naik diatas 2. Nadi dan RR dalam rentang normal 3. Observasi warna dan suhu kulit
rentang normal 3. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada 4. Monitor penurunan tingkat kesadaran
pusing 5. Monitor WBC, Hb, dan Hct
Batasan Karakteristik:
6. Monitor intake dan output
 kenaikan suhu tubuh diatas 7. Berikan anti piretik
rentang normal 8. Berikan pengobatan untuk mengatasi
 serangan atau konvulsi (kejang) penyebab demam
 kulit kemerahan 9. Selimuti pasien
 Pertambahan RR 10. Lakukan tapid sponge
 Takikardi 11. Berikan cairan intravena
 saat disentuh tangan terasa 12. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
hangat 13. Tingkatkan sirkulasi udara
14. Berikan pengobatan untuk mencegah
terjadinya menggigil

Temperature regulation
1. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
2. Rencanakan monitoring suhu secara
kontinyu
22

3. Monitor TD, nadi, dan RR


4. Monitor warna dan suhu kulit
5. Monitor tanda-tanda hipertermi dan
hipotermi
6. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
7. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya
kehangatan tubuh
8. Ajarkan pada pasien cara mencegah
keletihan akibat panas
9. Diskusikan tentang pentingnya pengaturan
suhu dan kemungkinan efek negatif dari
kedinginan
10. Beritahukan tentang indikasi terjadinya
keletihan dan penanganan emergency yang
diperlukan
11. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan
penanganan yang diperlukan
12. Berikan anti piretik jika perlu

Vital sign Monitoring


23

1. Monitor TD, nadi, suhu, dan RR


2. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
3. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk,
atau berdiri
4. Auskultasi TD pada kedua lengan dan
bandingkan
5. Monitor TD, nadi, RR, sebelum, selama,
dan setelah aktivitas
6. Monitor kualitas dari nadi
7. Monitor frekuensi dan irama pernapasan
8. Monitor suara paru
9. Monitor pola pernapasan abnormal
10. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
11. Monitor sianosis perifer
12. Monitor adanya cushing triad (tekanan nadi
yang melebar, bradikardi, peningkatan
sistolik)
13. Identifikasi penyebab dari perubahan vital
sign
24

3 Diare b/d efek fototerapi Bowel elimination Diarhea Management


1. Evaluasi efek samping pengobatan
 Fluid Balance
terhadap gastrointestinal
 Hydration
2. Instruksikan pasien/keluarga untuk
 Electrolyte and Acid base Balance
mencatat warna, jumlah, frekuenai dan
Kriteria Hasil :
konsistensi dari feses
1. Feses berbentuk, BAB sehari sekali- tiga hari 3. Evaluasi intake makanan yang masuk
2. Menjaga daerah sekitar rectal dari iritasi 4. Identifikasi factor penyebab dari diare
3. Tidak mengalami diare 5. Monitor tanda dan gejala diare
4. Menjelaskan penyebab diare dan rasional 6. Observasi turgor kulit secara rutin
tendakan 7. Ukur diare/keluaran BAB
5. Mempertahankan turgor kulit 8. Hubungi dokter jika ada kenanikan bising
usus
9. Monitor persiapan makanan yang aman
4 Resiko kerusakan integritas kulit Tissue Integrity: Skin and Mucous Membranes Pressure Management
b/d pigmentasi (jaundice),
Kriteria Hasil : 1. Jaga kebersihan kulit agar tetap bersih dan
hipertermi, perubahan turgor kulit,
kering
eritema. 1. Integritas kulit yang baik bisa dipertahankan
2. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
(sensasi, elastisitas, temperatur, hidrasi,
setiap dua jam sekali
pigmentasi)
3. Monitor kulit akan adanya kemerahan
25

2. Tidak ada luka/lesi pada kulit 4. Monitor aktivitas dan mobilisasi pasien
3. Perfusi jaringan baik 5. Monitor status nutrisi pasien
4. Menunjukkan pemahaman dalam proses 6. Memandikan pasien dengan sabun dan air
perbaikan kulit dan mencegah terjadinya sedera hangat
berulang
5. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan
kelembaban kulit dan perawatan alami

5 Ikterus neonatorum berhubungan NOC NIC


dengan usia bayi kurang dari 7 hari
1. Pigmentasi kulit tidak tampak ikterik 1. Lakukan pemeriksaan tanda - tanda vital
2. Kadar bilirubin dalam darah dalam batas normal meliputi Nadi, Respirasi, suhu
(≤ 10 mg/dl) 2. Observasi perubahan warna kulit, sclera
3. Anjurkan orang tua bayi agar sesering
mungkin menyusui
4. Kolaborasi dengan dokter memberikan
terapi fototerapi
BAB III
TINJAUAN KASUS

Pada bab ini peulis akan melakukan analisa tentang studikasus yang dilakukan pada 2
responden yaitu pasien dengan gangguan sistem Metabolisme bilirubin. Hasil analisa akan
penulis uraikan dan tuangkan dalam bentuk distribusi data responden berdasarkan
karakteristik data demografi meliputi usia, jenis kelamin, selain itu penulis akan
mencantumkan data lain melitputi hasil pengkajian fisik head to toe, hasil analisa penunjang,
diagnosa keperawatan, rencana intervensi, implementasi dan evaluasi hasil intervensi
keperawatan.

A. Gambaran umum lokasi studi kasus


Ruang Perina 2A RS Mulya Kabupaten Tangerang merupakan salah satu bentuk
pelayanan yang disediakan kepada masyarakat dalam upaya pemenuhan pelayanan
kesehatan dalam bentuk pelayanan untuk kasus hiperbilirubin pada neonatus.

B. Resume
Kasus 1
By. Ny. S berjenis kelamin laki – laki usia 6 hari 0 bulan 0 tahun, lahir dengan jalan lahir
Caesar atas indikasi CPD pada tanggal 20 Mei 2018, usia kehamilan 38 minggu, G1 P1A0
Berat badan lahir 2850 Gram, panjang badan 48, golongan darah O positif, ASI ekslusif,
dengan diagnose medis Hyperbilirubin.

Kasus: 2
By. Ny. A berjenis kelamin laki-laki usia 3 hari 0 bulan 0 tahun, lahir dengan jalan lahir
Caesar atas indikasi CPD pada tanggal 25 Mei 2018, usia kehamilan 39 minggu, G1 P1A0
Berat badan lahir 3260 Gram, panjang badan 48, golongan darah O positif, ASI ekslusif,
dengan diagnose medis Hyperbilirubin.

26
27

C. Pengkajian
Kasus: 1
 Identitas
Nama : By. Ny S
Tanggal Lahir : 20 Mei 2018
Tanggal rawat : 26 Mei 2018
Jenis kelamin : Laki - Laki
Tanggal/ usia lahir : 6 Hari 0 Bulan 0 Tahun

Nama orangtua : Tn.K dan Ny. S


Pekerjaan Orangtua : Karyawan swasta/Ibu rumahtangga
Usia Orangtua : 32 Thn/ 30 Thn

 Riwayat bayi lahir


Apgar score : 1 menit 8
5 menit 9
Usia Gestasi : 38 Minggu
Berat badan : 2850 Gram
Panjang badan : 48cm
Jenis persalinan : Caesar atas indikasi CPD
Komplikasi persalinan : Tidak ada
Lama hari rawat pasca lahir 3 hari dalam kondisi sehat, kesadaran komposmentis,
pergerakan bayi aktif, diberikan ASI ekslusif dengan frekuensi 6x, reflek menghisap
baik, observasi TTV didapatkan denyut jantung 141x/menit, suhu 36,70C, respiratori
rate 42x/menit, buang air besar 14 jam pasca kelahiran, BAK normal
 Riwayat bayi saat ini
Bayi Ny.S control pada 26 Mei 2018, dengan hasil pemeriksaan penunjang kadar total
bilirubin 20,70 mg/dl, tampak ikterik pada wajah, badan hingga tungkai, Ny. S
mengatakan bayinya kuat menyusu namun produksi ASI masih sedikit, tidak Buang
air besar sudah 3 hari, BAK lebih dari 6 dalam sehari dan sedikit
 Riwayat kehamilan
G1 P1 A0 dengan usia kehamilan 38 minggu, tidak terdapat masalah saat masa
kehamilan, namun di prediksi panggul dan kepala bayi tidak sesuai
28

 Riwayat pesalinan
Usia kehamilan 38 minggu, persalinan dengan cara sectio caesarea atas indikasi CPD,
bayi tidak aspirasi meconium, TTV dalam rentang normal.
 Pemeriksaan fisik
Bayi cenderung rewel, kekuningan pada area wajah, badan, hingga tungkai, motorik
aktif, TTV denyut jantung 132x/menit, Suhu 370C dan respirasi rate 36x/menit, turgor
kulit elastis, fontanel anterior tidak cembung atau cekung, konjungtiva tidak anemis,
seklera ikterik, reflex moro, menghisap, menggenggam baik, tonus otot baik dan
menangis kuat, abdomen tidak kembung, ekspasi dada simetris saat eksipirasi dan
inspirasi, suara nafas vesikuler dengan pernafasan spontan, abdomen tidak distensi,
peristaltic usus tidak hiper aktif, umbilical kering, genital baik, gerak ekstermitas kaki
aktif. BB: 2700 Gram.

D. Analisa data
Nama : By. Ny. S Ruang : Perina 2A
Umur : 6 Hari 0 Bulan 0 tahun RM : 15-61-66
No Analisa Data Diagnosa Etiologi
1 Ds: Ikterik neonatorum Usia bayi ≤ 7 hari,
 Ny.S mengatakan Terhambat pengeluaran
produksi ASI sedikit feses
 Bayi rewel
 Bayi tampak kuning
setelah 2 hari pulang dari
RS
 Tidak BAB >3hari
 BAK 6x sehari
Do:
 Tampak kuning area
badan hingga tungkai kaki
 Bilirubin total 20,70 mg/dl
 Tampak malaise dan bayi
rewel
29

 Warna urine Jernih,


volume sedikit
 Abdomen supel tidak
kembung
2 Ds: Kekurang volume cairan Penurunan pengeluaran
 Ny. S mengatakan volume urine
produksi ASI sedikit
 Bayi rewel,
 Frekuensi BAK jarang dan
sedikit
Do:
 By. Ny. S kulit elastic,
tidak kering
 Warna kulit
kekuningan
 Reflek bayi seperti
kehausan
 BB: 2700 Gram
 UUB Datar
 Mukosa bibir kering
3 Ds: - Gangguan integritaas Efeksamping terapi
Do: jaringan/ kulit sinar/ radiasi,
 Intruksi terapi fototerapy perubahan pigmentasi
double
 Terapi double siklus
pertama penyinaran 1 x 24
jam
 Perubahan warna
pigmentasi kuning pada
badan bayi meliputii area
dada hingga tungkai
 Usia bayi < 7 hari
30

E. Prioritas diagnosa
1. Ikterus neonatorum berhubungan dengan usia bayi ≤ 7 hari, perlamabatan pengeluaran
feses
2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan penurunan volume urine
3. Gangguan integritas kulit/ Jaringan berhubungan dengan efek terapi sinar/ radiasi,
perubahan pigmentasin kulit.
31

F. Rencana intervensi keperawatan


Kasus 1
No Diagnose NOC NIC Rasional
1 Ikterus neonatorum  Breasfeeding interrupted Photerapy: Neonatus
berhubungan dengan usia bayi  Liver fuction risk of impaired
Intervensi keperawatan mandiri:
≤ 7 hari, perlamabatan  Blooed glucose risk for
pengeluaran feses unstatebel 1. Lakukan pemeriksaan tanda - 1. Evaluasi dini terhadap
Setelah dilakukan intervensi tanda vital meliputi Nadi, perubahan TTV pada bayi
keperawatan selama 3 x 24 jam Respirasi, suhu ikterik
diharapkan dapat teratasi; 2. Observasi perubahan warna 2. Evaluasi tanda dan gejala
Kriteria hasil: kulit, sclera hiperbilirubin
1. Asupan ASI yang adekuat 3. Laporkan nilai penunjang jika 3. Mencegah terjadinya
2. Frekuensi menyusu cukup 8 – terdapat hasil terbaru dehidrasi dan mempercepat
10 kali per 24 jam pengeluaran feses dan urine
3. Kadar gula dalam rentang 4. Observasi tanda dan gejala 4. Mempercepat pemecahan
normal (90 – 120 mg/dl) dehidrasi meliuti (depresi bilirubin indirek agar dapat
4. Pigmentasi kulit tidak tampak fontanel, turgor, kehilangan dikonjugasi
ikterik BB)
5. BAB minimal 3x/ hari 5. Monitor BAB, warna, 5. Memperlambat penyerapan
6. Kadar bilirubin dalam darah konsistensi, volume bilirubin dalam usus
32

dalam batas normal (≤ 5 mg/dl)


7. Ventilasi adekuat
Kolaborasi:

1. Lakukan analisa factor resiko,


Rh, ABO, Polisitemia,
2. Kolaborasi dengan dokter
memberikan terapi phototerapi
3. Kolaborasi mempertimbangkan
keperluan tranfusi tukar

Penkes:

1. Anjurkan orang tua bayi agar


sesering mungkin menyusui (8
– 10 kali/ 24 jam)
2. Edukasi keluarga melakukan
tatalaksana ikterik saat dirumah
2 Kekurangan volume cairan  Fluid balance Fluid management :
berhubungan dengan  Hydration Hypovolemia management:
penurunan volume urine  Nutritional Status : Food and Intervensi keperawatan mandiri:
Fluid Intake 1. Hitung intake dan ouput 1. Menghitung intake dan
33

Kriteria Hasil : ouput secara tepat


1. Mempertahankan urine 2. Catatan intake dan output yang 2. Mengenali tanda gejala
output sesuai dengan usia akurat dehidrasi secara dini
dan BB, BJ urine normal, 3. Monitor status hidrasi 3. Evaluasi adanya perubahan
HT normal. (kelembaban membran mukosa, TTV
2. Tekanan darah, nadi, suhu nadi adekuat, tekanan darah
tubuh dalam batas normal ortostatik ), jika diperlukan
3. Tidak ada tanda tanda 4. Monitor vital sign meliputi 4. Mempertahankan intake
dehidrasi, Elastisitas turgor Nadi, respirasi, suhu dan secara adekuat
kulit baik, membran mukosa hemodinamik
lembab, tidak ada rasa haus
yang berlebihan Kolaborasi:
1. Monitor nilai/ tingkat Hb dan 1. Menghitung jenis
hematokrit satuan darah yang
2. Pemberian cairan intravena line menandakan adanya
dehidrasi
Penkes:
1. Anjurkan orangtua pasien untuk
menambah intake oral ASI
dengan frekuensi menyusui 8 -
34

10 kali dalam 24 jam


2. Edukasi orangtua klien
mengenali tanda dan gejalan
dehidrasi

3 Gangguan integritas kulit Tissue Integrity : Skin and Mucous Pressure Management :
berhubungan dengan efek Membranes Eye care:
terapi sinar/ radiasi Kriteria Hasil : Intervensi keperawatan mandiri:
1. Integritas kulit yang baik bisa 1. Jaga kebersihan kulit agar tetap 1. Mempertahankan
dipertahankan (sensasi, bersih dan kering kelembaban kulit
elastisitas, temperatur, hidrasi, 2. Mobilisasi pasien (ubah posisi 2. Meminimalkan area
pigmentasi) pasien) setiap 30 menit sekali tertekan dan mencegah
2. Tidak ada luka/lesi pada kulit injury
3. Perfusi jaringan baik 3. Observasi berkala tanda iritasi 3. Evaluasi sedini mungkin
4. Menunjukkan pemahaman kulit/ jaringan akan adanya terhadap perubahan warna
dalam proses perbaikan kulit kemerahan kulit
dan mencegah terjadinya sedera 4. Observasitanda kemerahan,
berulang cairan, ulcer pada kornea
5. Mampu melindungi kulit dan 5. Gunakan pelindung pada mata
mempertahankan kelembaban 6. Mobilisasi pasien setiap 30
35

kulit dan perawatan alami menit dengan merubah posisi


7. Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat
Kolaborasi:
1. Berikan obat zalf atau tetes
mata jika diperlukan
Penkes:
1. Edukasi orang tua terkait
adanya resiko kerusaakan pada
mata
36

G. Implementasi
Kasus 1
No.dx Jam/Tgl Implementasi TTD
Hari ke -1
1 26/05/18 1. Melakukan pemeriksaan tanda - tanda vital
14.00 > Nadi: 132x/menit, Respirasi: 28x/ Menit, suhu:
36,60C
2. Melakukan Observasi perubahan warna kulit,
sclera mata, Warna feses, dan Urine.
>Warna kulit: Ikterik pada area badan hingga
tungkai kaki, sclera ikterik, belum BAB
15.00 3. Penkes menganjurkan orang tua bayi agar sesering
Sesni,S.Kep
mungkin menyusui 8 - 10 kali per hari.
> Orangtua mengerti
16.00 4. Berkolaborasi melakukan pemeriksaan golongan
darah dan Rh
-> Glongan darah: O, Rh: Positif
5. Berkolaborasi dengan dokter memberikan terapi
Phototerapy double.
-> Phototerapy : 1 x 24 jam full
2 26/05/18 1. Melakukan pencatatan intake dan output yang
14.00 akurat
> Intake : 180cc/24jam, Output:.140cc/24jam,
IWL: 54cc/KgBB/24jam
Balance: (-) 14cc/KgBB/24jam
2. Melakakan monitor status hidrasi (kelembaban Sesni,S.Kep
membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik)
> Membran mucosa: lembab, Nadi: 132x/menit
15.00 3. Memotivasi keluarga memberikan intake oral ASI
secara adekuat
>Frekuensi pemberian ASI: 8x, Volume ASI: 20cc
37

4. Memonitor hasil tingkat Hb dan hematokrit


>Hb: 18,2 mg/dl Hematoktrit: 50,3 mg/dl
5. Melakukan pemeriksaan berat badan
>BB: 2700 gram
3 26/05/18 1. Mengobservasi dan melakukan perawatan
14.00 kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
>kulit bersih, elastis
14.15 2. Memobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap
3jam sekali terhadap paparan sinar posisi: Sesni,S.Kep
Supinasi, posisi: Pronasi.
3. Memakaikan pelindung mata saat terapi
berlangsung
>Pelindung mata terpasang benar
15.45 4. Melakukan Observasi tanda kerusakan kulit,
kornea
>Kulit: Hiperpigmentasi (Ikterik), Kornea: Normal
tidak tampak iritasi atau lesi.
16.00 5. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
>Kulit bersih
Hari ke -2
1 27/05/18 1. Melakukan pemeriksaan tanda - tanda vital Sesni,S.Kep
14.00 >Nadi: 130x/menit, Respirasi: 42x/ Menit,
suhu: 36,70C
2. Melakukan Observasi perubahan warna kulit,
sclera mata, warna feses, warna urine
>Warna kulit: Ikterik pada area badan, sclera mata
ikterik berkurang, feses hitam kehijauan 1x/24jam,
urine jernih 4x/24jam.
3. Mengevaluasi frekuensi pemberian ASI
>Frekuensi: 6 – 8 x per hari
16.00 4. Berkolaborasi dengan dokter memberikan terapi
Phototerapy double.
38

>Phototerapy : 1 x 24 jam
5. Berkolaborasi melakukan pemeriksaan bilirubin
>Bilirubin: 14, 62 mg/dl
2 14.00 1. Melakukan pencatatan intake dan output yang Sesni,S.Kep
akurat
>Intake : 200cc/24jam, Output: 160cc/24jam
IWL : 55cc/kgBB/24jam
Balance: (-) 15cc/KgBB24jam
15.00 2. Melakaukan monitor status hidrasi (kelembaban
membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik)
>Membran mucosa: lembab, Nadi: 130x/menit
3. Memotivasi keluarga memberikan intake oral ASI
secara adekuat
>Frekuensi pemberian ASI: 8x, Volume ASI: 30cc
4. Melakukan pemeriksaan berat badan
BB: 2730 gram
3 14.55 1. Mengobservasi dan melakukan perawatan Sesni,S.Kep
kebersihan kulit agar tetap bersih dan lembab
>Kondisi: Kulit bersih, lembab.
15.25 2. Memobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap : 3
Jam sekali terhadap paparan sinar posisi: Supinasi,
posisi: Pronasi.
16.00 3. Memakaikan pelindung mata saat terapi
berlangsung
14.55 >Pelindung mata terpasang benar
4. Melakukan Observasi tanda kerusakan kulit,
kornea
>Kulit: Tampak samar Ikterik pada area badan,
Kornea: Normal tidak tampak iritasi atau lesi.
5. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
39

Hari ke -3
1 28/05/18 1. Melakukan pemeriksaan tanda - tanda vital
08.15 >Nadi: 131x/menit, Respirasi:42x/ Menit, suhu:
36,90C
2. Melakukan Observasi perubahan warna kulit,
sclera mata, warna feses, warna urine
>Warna kulit: Normal sesuai, sclera mata putih Sesni,S.Kep
tidak ikterik, feses hitam tidak pekat 3x/24jam,
urine jernih5x/24 jam
11.15 3. Mengevaluasi frekuensi pemberian ASI
>Frekuensi: 6 – 9 x per hari
4. Berkolaborasi dengan dokter memberikan terapi
Phototerapy single
>Phototerapy : 6 jam
10.00 5. Berkolaborasi melakukan evaluasi nilai Bilirubin
Serum Total
BST: 10,92 mg/dl
2 8.15 1. Melakukan pencatatan intake dan output yang
akurat
>Intake : 250cc/24 jam, Output: 190cc/24 jam
IWL : 56cc/KgBB/24jam
Balance: (-) 4cc/KgBB/24jam
2. Melakaukan monitor status hidrasi (kelembaban
membran mukosa, nadi adekuat, tekanan darah
ortostatik)
>Membran mucosa: lembab, Nadi: 130x/menit
3. Memotivasi keluarga memberikan intake oral ASI Sesni,S.Kep
secara adekuat saat dirumah
>Frekuensi pemberian ASI: 8 – 10 x, Volume
ASI: 40cc
4. Melakukan pemeriksaan berat badan
BB: 2800 gram
40

3 28/5/18 1. Mengobservasi dan melakukan perawatan


08.55 kebersihan kulit agar tetap bersih dan kering
>Kondisi: Kulit bersih, lembab
2. Memobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap 3
Jam sekali terhadap paparan sinar posisi: Supinasi,
posisi: Pronasi.
3. Memakaikan pelindung mata saat terapi
berlangsung
11.15 >Pelindung mata terpasang benar
4. Melakukan Observasi tanda kerusakan kulit,
kornea
>Kulit: Tidak hiperpigmentasi (tidak ikterik),
Kornea: Normal tidak tampak iritasi atau lesi.

H. Evaluasi
Kasus 1
No dx Jam/tgl Evaluasi TTD
Hari Ke – 1
1 S:
 Ny. S mengatakan saat ini pemberian ASI
Sudah maksimal hingga 8 kali pemberian
namun produksi ASI masih sedikit.
O:
 Nadi: 132x/ menit, Suhu: 36,6oC, Respirasi:
28x/menit
Sesni,S.Kep
 Tampak kuning pada area badan hingga
tungkai
 BAB (-), BAK (+) warna kuning jernih
 Golongan darah : O dengan Rh: Positif
A: Intervensi tercapai sebagian
1. Melaksanakan fototerapy selama 1 x 24 jam
full time
41

2. Tanda – tanda vital dalam rentang normal


Nadi: 132x/menit, RR:28x/menit, Suhu:36,60C
3. Tidak ABO income
P: Lanjutkan Intervensi
1. Kolaborasi melakukan phototerapy
2. Evaluasi tanda – tanda vital
3. Observasi perubahan warna kulit, feses, urine
4. Evaluasi adanya komplikasi hiperbilirubin dan
efek phototerapi
5. Kolaborasi eveluasi pemeriksaan kadar
bilirubin serum total dalam darah
2 S:
 Ny. S mengatakan jika volume ASI kurang
mengijinkan bayinya diberikankan susu
formula sebagai penyerta ASI.
O:
 BB: 2700 gram
 Hb: 18,2 mg/dl, Hematokrit: 50,2 mg/dL
 Intake : 180cc/24jam, Output:.140cc/24jam,
IWL: 54cc/KgBB/24jam,
Balance: (-) 14cc/KgBB/24jam
 Mukosa bibir lembab, fontanel datar Sesni,S.Kep
 TTV dalam rentang normal Nadi: 132x/menit,
RR:28x/menit, Suhu: 36,60C.
A: Intervensi Tercapai sebagian
1. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
Nadi: 132x/menit, RR:28x/menit, Suhu:
36,60C.
2. Volume intake ASI belum mencukupi
Intake : 180cc/24jam, Output:.140cc/24jam,
IWL: 54cc/KgBB/24jam
Balance: (-) 14cc/KgBB24jam
42

P: Lanjutkan Intervensi
1. Monitoring intake dan output cairan
2. Pastikan asupan ASI adekuat bantu susu
formula bila volume ASI belum maksimal
3. Periksa berat badan secara berkala
4. Observasi tanda dehidrasi turgor kulit, mukosa
dan tanda vital secara berkala.
3 S:-
O:
 Tidak tampak adanya tanda iritasi pada kulit
 Sclera mata tampak kuning.
 Kulit dalam kondisi bersih dan lembab
 Suhu Tubuh : 36,60C
 Hiperpigmentasi ikterik pada area badan
hingga ke tungkai kaki.
A: Intervensi tercapai sebagian
Sesni,S.Kep
1. Tidak didapatkan adanya tanda iritasi pada
kulit, Kornea mata.
2. Permukaan kulit lembab tidak basah dan tidak
kotor
P: Intervensi lanjut
1. Observasi adanya komplikasi yang timbul
akibat efek radiasi/ sinar, adanya tanda ikterik
2. Jaga kebersihan kulit secara continue
3. Pastikan permukaan kulit tidak basah
Hari Ke – 2
1 S: -
O:
 Nadi: 130x/ menit, Suhu: 36,7oC, Respirasi:
Sesni,S.Kep
42x/menit
 Tampak kuning berkurang pada area badan
bayi
43

 BAB (+) Hitam Kehijauan 1x/24jam,


 BAK (+) warna kuning jernih
 Bilirubin total: 14,62 mg/dl
A: Intervensi tercapai sebagian
1. Melaksanakan fototerapy selama 1 x 24 jam
2. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
Nadi: 130x/menit, RR:42x/menit, Suhu:36,70C
3. Bilirubin total: 14,62 mg/dl
4. Area ikterik berkurang, pigmentasi berkurang
P: Lanjutkan Intervensi
1. Kolaborasi melakukan phototerapy single
selama 1x24jam
2. Evaluasi tanda – tanda vital (Nadi, RR, Suhu)
3. Observasi perubahan warna kulit, feses, urine
4. Evaluasi adanya komplikasi hiperbilirubin dan
efek phototerapi
5. Kolaborasi eveluasi pemeriksaan kadar
bilirubin serum total dalam darah
2 S:
 Ny. S mengatakan jika volume ASI kurang
mengijinkan bayinya diberikankan susu
formula sebagai penyerta ASI
O:
 BB: 2730 gram
 Intake : 200cc/24jam, Output: 160cc/24jam,
Sesni,S.Kep
IWL : 55cc/kgBB/24jam
Balance: (-) 15cc/KgBB24jam
 Mukosa bibir lembab, fontanel datar
 TTV dalam rentang normal Nadi: 130x/menit,
RR:42x/menit, Suhu: 36,70C.
A: Intervensi Tercapai sebagian
1. Produksi urin masih ada, Output: 160cc/24jam
44

Balance(-) 15cc/KgBB24jam
2. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
Nadi: 130x/menit, RR:42x/menit, Suhu:
36,70C.
3. Volume intake tercukupi
P: Lanjutkan Intervensi
1. Monitoring intake dan output cairan
2. Pastikan asupan ASI adekuat bantu susu
formula bila volume ASI belum maksimal
3. Periksa berat badan secara berkala
4. Observasi tanda dehidrasi turgor kulit, mukosa
dan tanda vital secara berkala.
3 S:-
O:
 Tidak tampak adanya tanda iritasi pada kulit
 Sclera mata tampak kuning berkurang,
 Kulit dalam kondisi bersih dan lembab
 Suhu Tubuh : 36,40C
 Hiperpigmentasi ikterik pada area badan bayi.
 Pigmentasi ikterik berkurang
A: Intervensi tercapai sebagian
1. Tidak didapatkan adanya tanda iritasi pada
Sesni,S.Kep
kulit, Kornea mata.
2. Permukaan kulit lembab tidak basah dan tidak
kotor
P: Intervensi lanjut
1. Observasi adanya komplikasi yang timbul
akibat efek radiasi/ sinar, adanya tanda ikterik
2. Jaga kebersihan kulit secara continue
3. Pastikan permukaan kulit tidak basah
45

Hari Ke – 3
1 S: -
O:
 Nadi: 131x/ menit, Suhu: 36,9oC,
Respirasi: 42x/menit
 Warna kulit sesuai warna dasar
 BAB (+) warna hitam kehijauan 3x/24jam,
BAK (+) warna jernih kekuningan 5x/24jam
 Nilai Bilirubin total: 10,92 mg/dl
A: Intervensi tercapai
1. Tanda – tanda vital dalam rentang normal Sesni,S.Kep
Nadi: 131x/menit, RR:42x/menit, Suhu:36,90C
2. Warna kulit tak tampak hiperpigmentasi
3. BST: 10,92 mg/dl
P: Lanjutkan Intervensi
1. Pertahankan kondisi kesehatan pasien
2. Edukasi Orangtua perubahan warna kulit, fese,
urine.
3. Edukasi tatalaksana hiperbilirubin pasca
fototherapy
2 S: -
O:
 BB: 2800 gram
 Intake : 250cc/24 jam, Output: 190cc/24 jam
IWL : 56cc/KgBB/24jam
Balance: (-) 4cc/KgBB/24jam
Sesni,S.Kep
 Mukosa bibir lembab, fontanel datar
 TTV dalam rentang normal Nadi: 131x/menit,
RR:42x/menit, Suhu: 36,90C.
A: Intervensi Tercapai
1. Produksi urin masih ada Output: 190cc/24 jam
Balance Balance: (-) 4cc/KgBB/24jam
46

2. Tanda – tanda vital dalam rentang normal


Nadi: 131x/menit, RR: 42x/menit, Suhu:
36,90C.
3. Volume intake ASI mencukupi dibantu susu
formula
P: Lanjutkan Intervensi
1. Edukasi orangtua untuk memantau intake dan
output cairan
2. Periksa berat badan secara berkala
3. Kontrol sesuai jadwal.
3 S:-
O:
 Tidak tampak adanya tanda iritasi pada kulit
 Sclera mata ikterik berkurang,
 Kulit dalam kondisi bersih dan lembab
 Suhu Tubuh : 36,90C
 Tak tampak ikterik pada hasil pengkajian fisik
A: Intervensi tercapai
1. Tidak didapatkan adanya tanda iritasi pada
kulit, Kornea mata.
2. Permukaan kulit lembab tidak basah dan tidak
kotor
P: Intervensi lanjut
1. Edukasi Orangtua terkait kebersihan kulit
secara continue
47

Kasus 2
1. Identitas
Nama : By. Ny A
Tanggal Lahir : 25 Mei 2018
Tanggal rawat : 28 Mei 2018
Jenis kelamin : Laki-laki
Tanggal/ usia lahir : 3 Hari 0 Bulan 0 Tahun

Nama orangtua : Tn.R dan Ny. A


Pekerjaan Orangtua : Karyawan swasta/Ibu rumahtangga
Usia Orangtua : 30 Thn/ 28 Thn

2. Riwayat bayi lahir


Apgar score : 1 menit 9
5 menit 9
Usia Gestasi : 39 Minggu
Berat badan : 3260 Gram
Panjang badan : 48cm
Jenis persalinan : Caesar atas indikasi CPD
Komplikasi persalinan : Tidak ada
Lama`hari rawat pasca lahir 3 hari, dalam kondisi sehat, kesadaran komposmentis,
pergerakan bayi aktif, diberikan ASI ekslusif dengan frekuensi 8-10x/hari, reflek
menghisap baik, observasi TTV didapatkan denyut jantung 130x/menit, suhu 36,70C,
respiratori rate 40x/menit, mekonium keluar 24 jam pasca kelahiran, miksi keluar 6
jam pasca kelahiran.
3. Riwayat bayi saat ini
Bayi Ny.A Hasil pemeriksaan penunjang tanggal 28 Mei 2018, kadar total bilirubin
15,48 mg/dl, tampak ikterik pada area wajah dan dada, Ny. A mengatakan bayinya
kurang kuat menyusu, produksi ASI masih minimal, BAB 1x/24 jam BAK 4x/24
jam.
4. Riwayat kehamilan
G1 P1 A0 dengan usia kehamilan 39 minggu, tidak terdapat masalah saat masa
kehamilan.
48

5. Riwayat pesalinan
Usia kehamilan 39 minggu, persalinan dengan cara section caesarea atas indikasi
CPD, bayi tidak aspirasi meconium, TTV dalam rentang normal.
6. Pemeriksaan fisik
Bayi cenderung tidur, kekuningan pada area wajah dan dada, reflek gerak cukup
aktif, TTV denyut jantung 140x/menit, Suhu 36,90C dan respirasi rate 44x/menit,
turgor kulit elastis, fontanel anterior tidak cembung atau cekung, konjungtiva tidak
anemis, seklera agak ikterik, reflex moro +, menghisap +, menggenggam baik, tonus
otot baik dan menangis keras, abdomen tidak kembung, ekspasi dada simetris saat
eksipirasi dan inspirasi, suara nafas vesikuler dengan pernafasan spontan, abdomen
tidak distensi, peristaltic usus tidak hiperaktif, umbilical kering, genital baik, gerak
ekstermitas kaki aktif. BB: 3160 Gram

I. Analisa data
Nama : By.A Ruang : Perina 2A
Umur : 3 hari 0 Bulan 0 tahun RM : 15-63-04
No Analisa Data Diagnosa Etiologi
1 DS : Ikterik neonatorum Usia bayi ≤ 7 hari
 Ny A mengatakan bayi
mulai tampak kuning 2
hari pasca lahir,
 BAB 1x/24jam warna
hitam, BAK 4x/24jam
warna urine jernih
 Asupan cairan ASI dan
susu formula
Do:
 By. Ny. A tampak kuning
pada regio, dada, perut,
dan paha
 Nilai bilirubin total 15,48
mg/dl
49

 BAB 1x warna feses hitam


pekat
 Warna urine jernih
2 Ds: Gangguan integritaas Efeksamping terapi
Do: kulit sinar
 Instruksi terapi
fototerapy double
 Hiperpigmentasi pada
permukaan kulit
(ikterik)
 Paparan sinar selama 1
x 24 jam
3 DS : Resiko Kekuranga radiasi Faktor
 Ny. A mengatakan volume cairan resiko resiko
saat ini asupan kegagalan
makanan dibantu mekanisme regulasi
dengan susu formula
dari rumah sakit,
produksi ASI belum
banyak
 Ny. A mengatakan
bayinya cenderung
tidur
Do:
 By.Ny A turgor kulit
elastic
 Fontanel lembut datar
 Mukosa bibi lembab
 By. Ny A tampak
sedang tidur
 BAK (+) volume
sedikit
50

J. Prioritas diagnosa
1. Ikterus neonatorum berhubungan dengan usia bayi ≤ 7 hari
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan efek terapi sinar/ radiasi,
perubahan pigmentasi
3. Resiko Kekurangan volume cairan berhubungan dengan Faktor resiko kegagalan
mekanisme regulasi
51

K. Rencana intervensi keperawatan


Kasus 2
No Diagnose NOC NIC Rasional
1 Ikterus neonatorum  Breasfeeding interrupted Photerapy: Neonatus
berhubungan dengan usia  Liver fuction risk of impaired
Intervensi keperawatan mandiri:
bayi ≤ 7 hari,  Blooed glucose risk for
perlamabatan unstatebel 1. Lakukan pemeriksaan tanda - 1. Evaluasi dini terhadap
pengeluaran feses Setelah dilakukan intervensi tanda vital meliputi Nadi, perubahan TTV pada bayi
keperawatan selama 3 x 24 jam Respirasi, suhu ikterik
diharapkan dapat teratasi; 2. Observasi perubahan warna 2. Evaluasi tanda dan gejala
Kriteria hasil: kulit, sclera, warna feses, urine hiperbilirubin
1. Asupan ASI yang adekuat 3. Laporkan nilai penunjang jika 3. Mencegah terjadinya
2. Bayi mau menyusu terdapat hasil terbaru dehidrasi dan mempercepat
3. Frekuensi menyusu cukup 8 – 10 pengeluaran feses dan urine
kali per 24 jam 4. Observasi tanda dan gejala 4. Mempercepat pemecahan
4. Pigmentasi kulit tidak tampak dehidrasi meliuti (depresi bilirubin indirek agar dapat
ikterik fontanel, turgor, kehilangan dikonjugasi
5. Kadar bilirubin dalam darah BB)
dalam batas normal (≤ 5 mg/dl)
52

Kolaborasi:

1. Lakukan analisa factor


resiko, Rh ABO,
Polisitemia,
2. Kolaborasi dengan dokter
memberikan terapi
phototerapi single
3. Kolaborasi
mempertimbangkan
keperlua tranfusi tukar

Penkes:

1. Anjurkan orang tua bayi


agar sesering mungkin
menyusui (8 – 10 kali/ 24
jam)
2. Edukasi keluarga
melakukan tatalaksana
ikterik saat dirumah
53

2 Gangguan integritas kulit Tissue Integrity : Skin and Mucous Pressure Management :
berhubungan dengan efek Membranes Eye care:
terapi sinar/ radiasi Kriteria Hasil : Intervensi keperawatan mandiri:
1. Integritas kulit yang baik bisa
1. Jaga kebersihan kulit agar
dipertahankan (sensasi, 1. Mempertahankan
tetap bersih dan kering
elastisitas, temperatur, hidrasi, kelembaban kulit
pigmentasi) 2. Meminimalkan area
2. Mobilisasi pasien (ubah posisi
2. Tidak ada luka/lesi pada kulit tertekan dan mencegah
pasien) setiap 15 menit sekali
3. Perfusi jaringan baik injury
4. Menunjukkan pemahaman dalam
proses perbaikan kulit dan 3. Observasi berkala tanda iritasi 3. Evaluasi sedini mungkin
mencegah terjadinya sedera kulit/ jaringan akan adanya terhadap perubahan warna
berulang kemerahan kulit
5. Mampu melindungi kulit dan 4. Observasi tanda kemerahan,
mempertahankan kelembaban cairan, ulcer pada kornea
kulit dan perawatan alami 5. Gunakan pelindung pada mata
6. Mobilisasi pasien setiap 30
menit dengan merubah posisi
7. Memandikan pasien dengan
sabun dan air hangat
54

Kolaborasi:
1. Berikan obat zalf atau tetes
mata jika diperlukan

Penkes:
1. Edukasi orang tua terkait
adanya kerusaakan pada
mata, kulit
3 Resiko kekurangan  Fluid balance Fluid management :
volume cairan  Hydration Hypovolemia management:
berhubungan dengan  Nutritional Status : Food and Intervensi keperawatan mandiri: 1. Menghitung intake dan
factor resiko gangguan Fluid Intake 1. Hitung intake dan ouput ouput secara tepat
thermoregulasi Kriteria Hasil : 2. Catatan intake dan output yang 2. Mengenali tanda gejala
1. Mempertahankan urine output akurat dehidrasi secara dini
sesuai dengan usia dan BB, BJ 3. Monitor status hidrasi 3. Evaluasi adanya perubahan
urine normal, HT normal. (kelembaban membran TTV
2. Tekanan darah, nadi, suhu tubuh mukosa, nadi adekuat, tekanan
dalam batas normal darah ortostatik), jika
3. Tidak ada tanda tanda dehidrasi, diperlukan
Elastisitas turgor kulit baik,
55

membran mukosa lembab, tidak 4. Monitor vital sign meliputi 4. Mempertahankan intake
ada rasa haus yang berlebihan Nadi, respirasi, suhu dan secara adekuat
hemodinamik

Kolaborasi:
1. Monitor nilai/ tingkat Hb
dan hematokrit
2. Pemberian cairan intravena
line
Penkes:
1. Anjurkan orangtua pasien
untuk menambah intake
oral ASI dengan frekuensi
menyusui 8 -10 kali dalam
24 jam
2. Edukasi orangtua klien
mengenali tanda dan
gejalan dehidrasi
56

L. Implementasi
Kasus 2
No.dx Jam/Tgl Implementasi TTD
Hari ke -1
1 28/05/18  Melakukan pemeriksaan tanda - tanda vital Sesni, SKep
14.00 meliputi Nadi, Respirasi, suhu.
>Nadi: 140x/menit, Respirasi: 44x/menit,
Suhu: 36,90C.
 Melakukan Observasi perubahan warna kulit,
sclera mata, feses dan urine.
>Kulit tampak ikterik, sklera mata agak
ikterik, feses warna kehitaman, urine kuning
16.00 jernih
 Menganjurkan orangtua bayi agar rutin
memberikan ASI.
>Orang tua mengerti
 Berkolaborasi dengan dokter memberikan
terapi fototerapy single dengan waktu
penyinaran 1x24jam

2 28/05/18 1. Memastikan kebersihan kulit agar tetap bersih Sesni, SKep


14.00 dan lembab
>Kulit bersih, lembab
2. Memobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
setiap 3jam sekali terhadap paparan sinar
phototerapy
3. Melakukan observasi kulit, kornea akan
adanya kemerahan dan lesi, ulcer,
16.30 hiperpigmentasi dan iritasi lainnya.
>Kornea mata tidak kemerahan.
4. Memakaikan pelindung mata atau kornea
terhadap paparan sinar phototerapy
>Pelindung mata terpasang dengan benar.
57

3 28/05/18 1. Mempertahankan catatan intake dan output Sesni, SKep


14.00 yang akurat
>Intake : 180cc/24jam, Output : 130cc/24jam
IWL : 63,2cc/KgBB/24jam
Balance : (-) 13,2cc/KgBB/24jam
2. Melakaukan monitor status hidrasi
(kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik)
>Membran mucosa : lembab,
HR: 140x/menit
3. Memotivasi keluarga memberikan intake oral
ASI dan MPASI
>Ibu bayi mengerti
4. Memonitor hasil tingkat Hb dan hematokrit
>Hb : 18,9 mg/dl, HT : 51 mg/dl
5. Melakukan pemeriksaan berat badan
>BB: 3160 gram
Hari ke -2
1 29/05/18 1. Melakukan pemeriksaan tanda - tanda vital Sesni, SKep
14.00 meliputi Nadi, Respirasi, suhu.
>HR: 144x/menit, RR: 40x/menit,
suhu: 37,10C
2. Melakukan Observasi perubahan warna kulit,
sclera mata, warna feses, urine
>Feses: kehitaman, urine jernih, warna kulit
kuning pada region dada dan perut
16.00 3. Berkolaborasi dengan dokter memberikan
terapi fototerapy single selama 1x24 jam
4. Berkolaborasi dengan dokter melakukan
evaluasi nilai bilirubin total.
18.00 >BST : 12,46 mg/dl
58

2 14.00 1. Memastikan kebersihan kulit agar tetap bersih Sesni, SKep


dan lembab
>Kulit bersih dan lembab
2. Melakukan observasi kulit, kornea akan
adanya kemerahan dan lesi, ulcer,
16.15 hiperpigmentasi dan iritasi lainnya.
>Kornea mata tidak ada kemerahan
3. Memakaikan pelindung mata atau kornea
terhadap paparan sinar phototerapy
>Pelindung matra terpasang dengan benar
4. Memobilisasi pasien (ubah posisi pasien)
setiap 3jam sekali terhadap paparan sinar
single phototerapy
3 14.55 1. Mempertahankan catatan intake dan output
yang akurat
>Intake : 200cc/24jam, Output : 145cc/24jam
IWL : 63,8cc/KgBB/24jam
Balance : (-) 8,8cc/KgBB/24jam
15.25 2. Melakukan monitoring status hidrasi
(kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik)
>Membran mucosa : lembab,
HR: 144x/menit
3. Memotivasi keluarga memberikan intake oral
ASI dan susu formula
>Ibu bayi bersemangat untuk memberikan
ASI
4. Melakukan pemeriksaan berat badan
>BB: 3190 gram
59

Hari ke -3
1 30/05/18 1. Melakukan pemeriksaan tanda - tanda vital
08.15 meliputi Nadi, Respirasi, suhu.
>HR: 150x/menit, RR: 40x/menit, suhu: 370C
2. Melakukan Observasi perubahan warna kulit,
sclera mata, warna feses, urine
>Feses: Hijau kehitaman, urine jernih
kekuningan, tidak tampak hiper pigmentasi
atau ikterik pada fisik bayi.
09.00 3. Berkolaborasi dengan dokter melakukan
evaluasi nilai bilirubin total.
Nilai Bilirubin total : 9,40 mg/dl

2 8.15 1. Melakukan observasi kulit, kornea akan


adanya kemerahan dan lesi, ulcer,
hiperpigmentasi (Ikterik) dan iritasi lainnya.
>Tidak ada kemerahan pada kornea
3 1. Melakukan monitoring status hidrasi
(kelembaban membran mukosa, nadi adekuat,
tekanan darah ortostatik)
>Membran mucosa : lembab,
HR: 144x/menit
2. Mempertahankan catatan intake dan output
yang akurat
>Intake : 240cc/24jam, Output : 160cc/24jam
IWL : 64cc/KgBB/24jam
Balance : (+) 16/KgBB/24jam
2. Memotivasi keluarga memberikan intake oral
ASI dan susu formula saat perawatan
dirumah.
>Ibu bayi akan memberikan ASI saja atau
60

Susu formula jika perlu saja


3. Melakukan pemeriksaan berat badan
BB: 3200 gram
M. Evaluasi
Kasus 2
No. Dx Jam/Tgl Evaluasi TTD
28/5/18 S:-
O:
 HR: 130x/menit, Suhu: 36,50C,
RR: 33x/menit
 Tampak kuning pada area dada, perut dan
paha.
 Feses kehitaman, Urine jernih
A: Intervensi tercapai sebagian
1 1. Melaksanakan fototerapy selama 1x24jam
2. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
HR: 130x/menit, Suhu: 36,50C,
RR: 33x/menit
P: Lanjutkan Intervensi
1. Kolaborasi melakukan fototerapy
2. Evaluasi tanda – tanda vital
3. Observasi perubahan warna kulit
4. Evaluasi adanya komplikasi
S:-
O:
 Tidak tampak adanya tanda iritasi pada kulit,
sclera mata meliputi (kemerahan, lesi).
2  Kulit dalam kondisi bersih dan lembab
 Tampak ikterik (hiperpigmentasi pada area
dada, perut.
A: Intervensi tercapai sebagian
1. Tidak didapatkan adanya tanda iritasi pada
61

kulit
2. Permukaan kulit lembab dan bersih
P: Intervensi lanjut
1. Observasi adanya komplikasi yang timbul
akibat efek radiasi/ sinar
2. Jaga kebersihan kulit secara continue
3. Pastikan permukaan kulit tidak basah.
4. Observasi tanda dan gejala
hiperpigmentasi pada fisik bayi
S: -
O:
 BB: 3160 gram
 Urin output: 130cc/KgBB/24jam
Intake cairan: 180cc/24jam,
IWL : 63,2cc/KgBB/24jam
Balance: (-) 13,2cc/KgBB/24jam
 Mukosa bibir lembab,
 TTV dalam rentang normal
 Fontanel datar

3 A: Intervensi Tercapai sebagian


1. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
Nadi: 132x/menit, RR:28x/menit, Suhu:
36,60C.
2. Volume intake ASI belum mencukupi
Intake: 180cc/24jam, Output:.130cc/24jam,
IWL: 63,2cc/KgBB/24jam
Balance: (-) 13,2cc/KgBB24jam
P : Intervensi dilanjutkan
1. Monitoring intake dan output cairan
2. Pastikan asupan ASI adekuat bantu susu
formula bila ASI belum maksimal
62

3. Periksa berat badan secara berkala


4. Observasi turgor kulit, mukosa dan tanda
vital secara berkala

Hari Ke – 2
29/05/18 S:-
O:
 HR: 133x/menit, Suhu: 36,10C
RR: 30x/menit
 Tampak kuning berkurang pada area dada,
perut
 Feses hujau kehitaman, Urine jernih
 BST : 12,46 mg/dl
1
A: Intervensi tercapai sebagian
1. Melaksanakan fototerapy selama 1x24jam
2. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
P: Lanjutkan Intervensi
1. Kolaborasi melakukan fototerapy
2. Evaluasi tanda – tanda vital
3. Observasi perubahan warna kulit
4. Evaluasi adanya komplikasi
29/05/2018 S:-
O:
 Tidak tampak adanya tanda iritasi pada kulit,
sclera mata meliputi (kemerahan, lesi).
2  Kulit dalam kondisi bersih dan tidak lembab
 Tampak ikterik (hiperpigmentasi pada area
dada, perut.
A: Intervensi tercapai sebagian
1. Tidak didapatkan adanya tanda iritasi pada
63

kulit
2. Permukaan kulit tidak lembab dan tidak
kotor
P: Intervensi lanjut
1. Observasi adanya komplikasi yang timbul
akibat efek radiasi/ sinar
2. Jaga kebersihan kulit secara continue
3. Pastikan permukaan kulit tidak basah.
4. Observasi tanda dan gejala
hiperpigmentasi pada fisik bayi
29/05/2018 S: -
O:
 BB: 3190 gram
 Intake : 200cc/24jam,
Output : 145cc/24jam
IWL : 63,8cc/KgBB/24jam
Balance : (-) 8,8cc/KgBB/24jam
 Mukosa bibir lembab,
 TTV dalam rentang normal
 Fontanel datar
A: Intervensi Tercapai sebagian
3
1. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
Nadi: 132x/menit, RR:28x/menit, Suhu:
36,60C.
2. Volume intake ASI belum mencukupi
Intake: 200cc/24jam, Output:.145cc/24jam,
IWL: 63,8cc/KgBB/24jam
Balance: (-) 8cc/KgBB24jam
P : Intervensi dilanjutkan
1. Monitoring intake dan output cairan
2. Pastikan asupan ASI adekuat bantu susu
formula bila ASI belum maksimal
64

3. Periksa berat badan secara berkala


4. Observasi turgor kulit, mukosa dan tanda
vital secara berkala
Hari Ke – 3
30/05/2018 S:-
O:
 HR: 150x/menit, Suhu: 370C
RR: 40x/menit
 Tidak Tampak kuning atau
hiperpigmentasi
 Feses Kehijauan 4x/24jam
1  Urine jernih 6x/24jam
 Bilirubin toltal : 9,40mg/dl
A: Intervensi tercapai
1. Tanda – tanda vital dalam rentang normal
2. Ikterik tak tampak pada fisik bayi
P: Lanjutkan Intervensi
1. Observasi perubahan warna kulit jika
terjadi dirumah pasca rawat
30/05/2018 S:-
O:
 Tidak tampak adanya tanda iritasi pada kulit,
sclera mata meliputi (kemerahan, lesi).
 Kulit dalam kondisi bersih dan lembab
 Tidak tampak ikterik (hiperpigmentasi pada
2 area dada, perut.
A: Intervensi tercapai
1. Tidak didapatkan adanya tanda iritasi pada
kulit
2. Permukaan kulit lembab dan tidak kotor
P: Intervensi lanjut
1. Jaga kebersihan kulit secara continue
65

2. Pastikan permukaan kulit tidak basah.


3. Ajarkan keluarga cara Observasi tanda
dan gejala hiperpigmentasi kekuningan
pada fisik bayi
30/05/2018 S: -
O:
 BB: 3200 gram
 Urin output: 160cc/24jam
Intake cairan: 240cc/24 jam
IWL 64cc/KgBB/24jam
Balance: (+) 16cc/KgBB/24jam
3
 Mukosa bibir lembab,
 TTV dalam rentang normal
 Fontanel datar
A: Intervensi Tercapai
1. Asupan ASI adekuat bantu susu formula
bila ASI belum maksimal
2. Periksa berat badan secara berkala
BAB IV
PEMBAHASAN

Pada bab ini akan menguraikan hasil penulisan karya tulis ilmiah meliputi
pengkajian, masalah keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi dan
evaluasi pada pasien By.Ny.S dan By. Ny A dengan hiperbilirubin neonatus di RS
Mulya Tangerang. Kemudian nenbahas adanya kesesuaian dan kesenjangan antara
teori dengan kasus, berikut ini adalah uraian pembahasan sesuai urutan aplikasi
asuhan keperawatan

A. Pengkajian
Pengkajian merupakan tahapan yang sistematis dalam pengumpulan data
tentang individu, keluarga, dan kelompok. Pengkajian harus dilakukan secara
komprehensif terkait dengan aspek biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual.
(Haryanto, 2010). Perry & Potter (2005) mengungkapkan bahwa asuhan
keperawatan dilaksanakan berdasarkan hasil anamnesa kasus secara komprehensif

Hiperbilirubin pada neonatus dapat ditinjau dari berbagai aspek diantaranya yaitu
riwayat penyakit, riwayat kehamilan, riwayat persalinan dan berdasarkan riwayat
kesehatan bayi saat ini, data fokus pada anamnesa neonatus hiperbilirubin
didukung oleh data hasil pemeriksaan penunjang angka bilirubin total > 5 mg/dl.
hal ini dapat terjadi hingga 2 minggu pasca kelahiran, hiperbilirubin biologis
dapat terjadi pada 72 jam pasca kelahiran sedangkan hiperbilirubin patologis
dapat terjadi pada 24 jam pertama pasca lahir dengan kadar bilirubin serum total
>10 mg% pada bayi cukup umur dan 12,5 mg% pada bayi premature (Karlina
2016).

Data lainnya yang termasuk sebagai data fokus adalah hasil pemeriksaan kelainan
yang memicu terjadinya hiperbilirubin diantaranya pemeriksaan G6PD, Golongan
darah dan Rhesus yang berbeda, kekuningan pada badan bayi, malaise, letarghi,
sepsis, dehidrasi, demam (Purwadianto, 2013) Hal ini juga di ungakapkan oleh
Karlina (2016) pengkajian terhadap fisik pada bayi dengan hiperbilirubin juga
dapat ditemukan keluhan khas sebagai berikut ikterus pada sclera, urine pekat
seperti terhadap rangsangan menurun, penurunan berat badan, dehidrasi, letargi,
66
67

reflek menghisap kurang, tremor, kejang, TTV tidak stabil, dan perubahan warna
feses.

Ungkapan tersebut sejalan dengan hasil pengkajian data fokus yang penulis
dapatkan dari analisa melalui wawancara, data rekam medis, dan observasi secara
langsung dari 2 kasus bayi hiperbilirubin pada By Ny. S terjadi hiperbilirubin
pada 6 hari pasca kelahiran, ikterik pada area badan, BAB tertahan 14 jam paska
lahir, BAK sedikit, malaise, rewel. Riwayat Kesehatan: usia 6 hari 0 bulan 0
tahun, lahir dengan jalan lahir Caesar atas indikasi CPD pada tanggal 20 Mei
2018, usia kehamilan 38 minggu, G1 P1A0 Berat badan lahir 2850 Gram, panjang
badan 48, ASI ekslusif. Pemeriksaan Fisik TTV: N: 141x/menit, Suhu 36,70C,
Respiratory rate 42x/ menit, Pemeriksaan fisik: turgor kulit elastis, fontanel
anterior tidak cembung atau cekung, konjungtiva tidak anemis, seklera ikterik,
reflex moro, menghisap pelan, menggenggam baik, tonus otot baik dan menangis
kuat, abdomen tidak kembung, ekspansi dada simetris saat eksipirasi dan
inspirasi, suara nafas vesikuler dengan pernafasan spontan, abdomen tidak
distensi, peristaltic usus tidak hiper aktif, umbilical kering, genital baik, gerak
ekstermitas kaki aktif. BB: 2700 Gram. Pemerisaan Labolatorium: BST 20,70
mg/dl, Golongan darah O Positif.

Sedangkan pada By. Ny. A terjadi hiperbilirubin pada pada 72 jam pertama pasca
lahir. Bayi Ny.A Hasil pemeriksaan penunjang tanggal 28 Mei 2018, Riwayat
Kesehatan: G1 P1 A0 dengan usia kehamilan 39 minggu, tidak terdapat masalah
saat masa kehamilan, persalinan dengan cara section caesarea atas indikasi CPD,
bayi tidak aspirasi meconium. Pemeriksaan Fisik: Tampak ikterik pada area
wajah dan dada, kekuningan pada area wajah dan dada, reflek gerak cukup aktif,
TTV denyut jantung 140x/menit, Suhu 36,90C dan respirasi rate 44x/menit, turgor
kulit elastis, fontanel anterior tidak cembung atau cekung, konjungtiva tidak
anemis, seklera agak ikterik, reflex moro +, menghisap +, menggenggam baik,
tonus otot baik dan menangis keras, abdomen tidak kembung, ekspasi dada
simetris saat eksipirasi dan inspirasi, suara nafas vesikuler dengan pernafasan
spontan, abdomen tidak distensi, peristaltic usus tidak hiperaktif, umbilical kering,
68

genital baik, gerak ekstermitas kaki aktif. BB: 3160 Gram. Pemeriksaan
Labolatorium: kadar total bilirubin 15,48 mg/dl, Hiperbilirubin yang terjadi pada
kasus ini sejalan dengan teori, bahwa kejadian hiperbilirubin pada neonatus dapat
terjadi pada 2 minggu pasca kelahiran. Pola nutrisi dan Eliminasi: Ny. A
mengatakan bayinya kurang kuat menyusu, produksi ASI masih minimal, BAB
1x/24 jam BAK 4x/24 jam Bayi cenderung tidur.
Hiperbilirubin yang terjadi pada dua kasus yang berbeda 100% responden
mengalami hiperbilirubin dengan kadar bilirubin total diatas > 5 mg/dl. Hal ini
sesuai yang diungkapkan Purwadianto (2013) yang menyatakan bahawa
hiperbilirubin terjadi peningkatan kadar bilirubin total lebuih dadri 5 mg/dl per
hari, dari hasil pengkajian dapat disimpulkan bahwa icterus neonatus pada dua
kasus tersebut tergolong icterus fisiologik. Namun demikian data penunjang yang
lebih akurat justru tidak dilakukan pemeriksaan diantaranya pemeriksaan kelainan
seperti pemeriksaan G6PD atau polisitemia, yang mana dalam hal ini data
kelainan diperlukaan sebagai data penunjang pasien resiko tinggi hiperbilirubin
dengan kadar > 20 mg/dl.

B. Diagnosis keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan Suatu penilaian klinis tentang respon individu,
keluarga atau komunitas terhadap masalah kesehatan aktual, risiko, sejahtera
yang membutuhkan intervensi dari domain yang dilakukan oleh tenaga
professional keperawatan (Perry & Potter, 2017). Menurut karlina, (2016)
diagnosa potensial yang mungkin akan muncul pada kasus hiperbilirubin terdapat
lima diagnosa aktual berdasarkan patofisiologi hiperbilirubin meliputi: Ikterik
neonatus berhubungan dengan usia bayi kurang dari 7 hari atau hambatan
eliminasi mekonium, Hipertermi berhubungan dengan dehidrasi atau metabolism
berlebihan, kekurangan volume cairan berhubungan dengan kegagalan mekanisme
regulasi atau kekurangan intake cairan, kerusakan integritas jaringan/ kulit
berhubungan dengan hiperpigmentasi pada kulit, dan diare berhubungan dengan
malabsorbsi.

Diagnosa yang dapat ditegakan oleh penulis 75% dari data pasien yang
dianamnesa sejalan dengan teori yang ada, namun 25% diagnose yang tidak dapat
69

ditegakan dalam dua kasus ini dikarenakan keberagaman karakteristik kasus,


seperti hiperbilirubin yang tidak disertai gejala diare, tidak menandakan adanya
demam selama masa penyinaran, mapun sebelum penyinaran phototerapy.
Diagnose keperawatan yang penulis tuangkan adalah berdasarkan data fokus dari
hasil anamnesa yaitu didapatkan data subjective maupun objective.

Oleh karena itu penulis dalam hal ini tidak terpaku pada adiagnosa yang lazim
terjadi namun diagnosa ditegakan berdasarkan data yang didapatkan dari hasil
anamnesa kasus. Namun dalam hal ini penulis membenarkan bahwa tidak
menutup kemungkinan akan dapat ditegakan diagnose tersebut apabila
menemukan data focus pada kasus hiperbilirubin pada neonatus.

C. Intervensi keperawatan
Intervensi merupakan suatu petunjuk tertulis yang menggambarkan secara
tepat rencana tindakan keperawatan yang dilakukan terhadap klien dengan
kebutuhannya berdasarkan diagnosis keperawatan. Menurut Asmadi (2010), tahap
perencanaan memiliki beberapa tujuan penting, diantaranya sebagai alat
komunikasi perawat dan tim kesehatan lainya, meningkatkan kesinambungan
asuhan keperawatan bagi klien, serta mendokumentasikan proses dan kriteria hasil
asuhan keperawatan yang ingin dicapai. Unsur terpenting dalam tahap
perencanaan ini adalah membuat prioritas urutan diagnosa keperawatan,
merumuskan tujuan, merumuskan kriteria evaluasi, dan merumuskan intervensi
keperawatan.

Tatalaksana pada dua kasus neonatus hiperbilirubin penulis membuat strategi dan
rencana tindakan keperawatan dimulai dari tindakan mandiri keperawatan,
tindakan kolaborasi dan pendidikan kesehatan direncanakan untuk
diimplementasikan dalam bentuk asuhan keperawatan. Rencana tindakan
keperawatan dilakukan berdasarkan actual masalah atau prioritas masalah
keperawatan, dalam hal ini penulis memprioritaskan diagnosa ikterus neonatus,
gangguan integritas jaringan/kulit, dan melakukan pencegahan resiko kekurangan
volume cairan, intervensi keperawatan penulis implementasikan selama 3 x 24
jam.
70

Asuhan keperawatan ikterik neonatus melaksanakan observasi, kolaborasi dan


pendidikan kesehatan kepada keluarga, asuhan keperawatan dengan gangguan
integritas kulit/jaringan penulis melakukan asuhan keperawatan mandiri
melakukan kolaborasi, dan melakukan pendidikan kesehatan, resiko deficit
volume cairan penulis melakukan tindakan keperawatan mandiri, kolaborasi, dan
pendidikan kesehatan pada keluarga, rencana tindakan yang dilaksanakan oleh
penulis sejalan dengan yang diungkapkan oleh Karlina (2016) bahwa sebagai
tatalaksana pada kasus neonatus hiperbilirubin perlu dilakukan monitoring
perkembangan, pemberian intake cairan adekuat, dan penyinaran dengan
phototherapy, penyinaran phototerapy dilaksanakan sesuai indikasi yang
direkomendasikan oleh AAP.

Intervensi yang direncanakan oleh penulis pada kasus hiperbilirubin berkolaborasi


dengan melakukan penyinaran phototerapy pada bayi Ny. S dilakukan 3x 24 jam,
bayi Ny. A 3x24 jam tanpa istirahat dan selanjutnya dilakukan phototerapy
dengan siklus 3 jam sekali merubah posisi, selain dilakukan phototerapy juga
dilakukan management laktasi yang tepat agar menjaga kecukupan kebutuhan
cairan tubuh dengan meningkatkan frekuensi pemberian Asi dan susu formula.
Rencana intervensi keperawatan ini sejalan dengan yang di ungkapkan Karlina
(2016) yang menyatakan bahwa terapi pada neonatus ikterus dilakukan
phototerapi dan mempertahankan keadekuatan asupan cairan, agar dapat
memepercepat metabolism dalam tubuh.

D. Implementasi keperawatan
Implementasi merupakan tahap proses keperawatan di mana perawat memberikan
intervensi keperawatan langsung dan tidak langsung terhadap klien (Potter&Perry,
2010). Tatalaksan pada kasus hiperbilrubin dilakukan secara sistematis dan
berkelanjutan hingga pasien dipulangkan, pada kasus hiperbilirubin ini penulis
melakukan implementasi tatalaksana hiperbilirubin yang dilakukan setiap jam
shift. Implementasi dilaksanakan berdasarkan rencana asuhan keperawatan, yaitu
diagnosa actual ikterik neonatus berhubungan dengan usia bayi ≤ 7 hari,
,gangguan integritas jaringan kulit berhubungan dengan factor resiko paparan
71

sinar/radiasi, resiko devisit volume cairan berhubungan dengan kurangnya


haluaran urine ouput. Masing – masing diagnosa dilakukan implementasi selama
3 hari perawatan. Setiap implementasi kemudian dilaksanakan evaluasi secara
berkala untuk mengukur tingkat pencapaian asuhan yang diberikan.

E. Evaluiasi
Evaluasi merupakan langkah proses keperawatan yang memungkinkan
perawat untuk menentukan apakah intervensi keperawatan telah berhasil
meningkatkan kondisi klien (Potter&Perry, 2010). Sedangkan menurut setiadi,
2013. Tahap penilaian atau evaluasi adalah perbandingan yang sistematis dan
terencaan tentang kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan, dilakukan
dengan cara bersinambungan dengan melibatkan klien, keluarga, dan tenaga
kesehatan lainnya.

Berdasarkan intervensi yang telah dilakukan selama tiga hari secara


berkesinambungan kepada By. Ny S, baik intervensi mandiri keperawatan
maupun tindakan bebentuk kolaborasi dapat dipastikan mengatasi masalah
keperawatan, adapun diantaranya diagnose yang teratasi pada kasus 1 meliputi:
Ikterus Neonatus berhubungan dengan, tertahannya feses atau usia bayi kurang
dati 7 hari, deficit volume cairan berhubungan dengan kurangnya asupan cairan,
dan kerusakan integritas jaringan atau kulit berhubungan dengan pigmentasi kulit
atau efek sinar terapi

Sedangkan intervensi yang dilakukan pada BY. Ny A yang dilakukan intervensi


selama tiga hari secara berkesinambungan intervensi keperawatan teratasi dengan
kriteria hasil sesuai yang diharapkan sesuai dengan diagnosa keperawatan yang
ditegakan diataranya yaitu, Ikterus Neonatus berhubungan dengan, tertahannya
feses atau usia bayi kurang dati 7 hari, dan kerusakan integritas jaringan atau kulit
berhubungan dengan hiperpigmentasi kulit atau efek sinar terapi, resiko deficit
volume cairan berhubungan dengan kurangnya asupan cairan atau gangguan
termoregulasi.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil studi kasus komprehensif “ Asuhan keperawatan pada neonatus
hiperbilirubin di Rumah Sakit Mulya Tangerang” dapat disimpulkan sebagai
berikut ini:
1. Pengkajian klien dapat menggambarkan kondisi klien yang sebenarnya pasien
neonatus hiperbilirubin seperti didapatkan tanda dan gejala ikterus,
perlambatan BAB, menurunnya volume urine, rewel, produksi ASI terbatas,
kadar bilirubin >10 mg/dl hal ini memenuhi syarat dilakukan asuhan
keperawatan di Rumah Sakit Mulya Tangerang
2. Diagnosa keperawatan 75% diagnosa keperawatan dapat di implementasikan
kepada klien RS, diantaranya adalah: (a) Ikterus Neonatus berhubungan
dengan, tertahannya feses atau usia bayi kurang dati 7 hari, (b) deficit volume
cairan berhubungan dengan kurangnya asupan cairan, dan (c) kerusakan
integritas jaringan atau kulit berhubungan dengan pigmentasi kulit atau efek
sinar terapi
3. Intervensi keperawatan dapat dilakukan berdasarkan aktualnya masalah
keperawatan yaitu hiperbilirubin, Ikterus Neonatus berhubungan dengan,
tertahannya feses atau usia bayi kurang dati 7 hari, deficit volume cairan
berhubungan dengan kurangnya asupan cairan, dan kerusakan integritas
jaringan atau kulit berhubungan dengan pigmentasi kulit atau efek sinar terapi
hal ini dapat dilakukan secara kontinue selama pasien dalam masa perawatan.
4. Implementasi keperawatan dalam hal ini implementasi yang direncana pada
renpra dapat dilakukan dengan baik dan dilakukan secara berkesinambungan
baik tindakan mandiri keperawatan maupun tindakan kolaborasi, tindakan
keperawatan dilaksankan setiap jam shift oleh penulis dan dilanjutkan oleh
shift selanjutnya.
5. Evaluasi yang dapat disimpulkan dari asuhan keperawatan yang telah
dilaksankan kepada By. Ny. S dan Bayi Ny. A dapat terlaksana dan
nmengatasi masalah yang timbul, evaluasi dilakukan secara
berkesinambungan sehingga penulis dapat memastikan perubahan yang terjadi
72
73

B. Saran
1. Bagi institusi pendidikan
Bagi institusi pendidikan agar dapat megembangkan lagi studi kasus yang
telah dilakukan agar medapatkan data yang lebih spesifik, akurat dan dapat di
implementasikan oleh instansi – instansi pendidikan maupun pelayanan
kesehatan lainnya
2. Bagi pelayanan kesehatan
Agar dapat melakukan intervesi keperawatan secara komprehensif
berdasarkan aktualisasi masalah keperawatan yang di dapatkan saat
pengkajian keperawatan dilakukan, dan memprioritaskan aktual masalah
keperawatan
3. Bagi penulis selanjutnya
Dapat menjadi gambaran untuk melakukan inovasi dalam perkembangan ilmu
keperawatan selanjutnya, dan tatalaksana pasien dengan rencana perawatan
dirumah pasca rawat inap bayi < 7 hari.
74

Daftar Pustaka
Depkes RI. (2006). Profil kesehatan indonesia 2005.
http://www.depkes.co.id/profil_kesehatan_indoesia. _2006.pdf.

Depkes RI. (2011). Profil kesehatan indonesia 2011.


http://www.depkes.co.id/profil_kesehatan_indoesia. _2011.pdf.

Depkes RI. (2006). Profil kesehatan indonesia 2010.


http://www.depkes.go.id/profil_kesehatan_indonesia_2010.pdf

Johnson. (2004). Nursing Outcomes Classification (NOC). USA: Mosby.

Ida, Nursanti. (2011). Pengaruh pemberia asi on demand terhadap ikterus


pada bayi baru lahir di RSUD Wates: Jurnal: Akses April 2017.

Novi, Karlina. (2016). Asuhan kebidanan kegawat daruratan: Maternal dan


Neonatal. Bogor: IN Media

NANDA International. 2012. Nursing Diagnosis: definition and classification.


Jakarta: EGC.

Novi, Karlina. (2016). Asuhan kebidanan kegawat daruratan: Maternal dan


Neonatal. Bogor: IN Media

Sukadi. (2008). Hiperbilirubin fisiologis pada neonatorum. Yogyakarta: Meco


medika.

Rulina, Suradi. dkk. (2010) Indonesia Menyusui asi ekslusif. Jakarta : IDAI.

Purwadianto, Agus. (2013) Kedaruratan Medik :Pedoman Tatalaksana Praktis.


Tangerang Selatan. Bina Rupa Aksara.

Anda mungkin juga menyukai