Anda di halaman 1dari 9

KASUS BEDAH

Nama Peserta : dr. Marthin Fernandes Pasaribu


Nama Wahana: RSU Lakipadada Tana Toraja
Topik: Retensio Urin e.c Benign Prostat Hyperplasia
Tanggal (kasus) : 26-03-2019
Nama Pasien : Tn. I No. RM : 028058
Tanggal presentasi : Pendamping: dr. Paris/dr. Henry
Tempat presentasi: RSU Lakipadada
Obyek presentasi : Power Point
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Seorang laki-laki 55 tahun masuk rumah sakit dengan keluhan tidak bisa buang air
kecil sejak 6 jam yang lalu. Sebelumnya pasien mengeluh susah buang air kecil sejak ± 1 tahun
terakhir. Sebelum-sebelumnya pasien merasakan sulit memulai buang air kecil dan harus
didahului mengedan untuk memulai buang air kecil. Selain itu pancaran kencing dirasakan
makin lemah dengan kaliber yang makin kecil. Penderita juga merasakan rasa tidak puas setiap
habis kencing dan biasanya diikuti dengan kencing menetes pada akhir kencing. Penderita juga
sering-sering merasakan ingin buang air kecil. Pasien biasanya buang air kecil setiap 2-3 jam
sekali meskipun tidak banyak minum. Pada malam hari pasien kerapkali terbangun karena rasa
ingin buang air kecil, biasanya 5-6 kali dalam semalam. Tidak ada keluhan kencing berpasir atau
kencing bernanah. BAB kesan lancar.
Tujuan: menegakkan diagnosis Benign Prostat Hyperplasia dan penanganannya
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
bahasan: pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
membahas: diskusi
Data Pasien: Nama: Tn. I No.Registrasi: 028058
Nama klinik RS Lakipadada

Data utama untuk bahan diskusi:


Diagnosis/gambaran klinis: Seorang laki-laki 55 tahun masuk rumah sakit dengan
keluhan tidak bisa buang air kecil sejak 6 jam yang lalu. Sebelumnya pasien mengeluh
susah buang air kecil sejak ± 1 tahun terakhir. Sebelum-sebelumnya pasien merasakan
sulit memulai buang air kecil dan harus didahului mengedan untuk memulai buang air
kecil. Selain itu pancaran kencing dirasakan makin lemah dengan kaliber yang makin
kecil. Penderita juga merasakan rasa tidak puas setiap habis kencing dan biasanya
diikuti dengan kencing menetes pada akhir kencing. Penderita juga sering-sering
merasakan ingin buang air kecil. Pasien biasanya buang air kecil setiap 2-3 jam sekali
meskipun tidak banyak minum. Pada malam hari pasien kerapkali terbangun karena
rasa ingin buang air kecil, biasanya 5-6 kali dalam semalam. Tidak ada keluhan
kencing berpasir atau kencing bernanah. BAB kesan lancar.

Riwayat pengobatan: (-)


Riwayat kesehatan/penyakit sebelumnya:
- Riwayat penyakit hipertensi (+) sejak 10 tahun
- Riwayat penyakit paru (-)
- Riwayat penyakit jantung (-)
- Riwayat penyakit DM (-)
- Riwayat trauma (-)
- Riwayat merokok (-)
Riwayat keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama.
Riwayat pekerjaan: Pasien seorang pensiunan pegawai negeri
Lain-lain: -
Daftar Pustaka:
1. Deters LA, Costabile RA, Leveillee RJ, Moore CR, Patel VR. Benign Prostat Hyperplasia. [Online].; 2014
[cited 2015 2 5]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/437359.

2. Reksoprodjo S. Hipertrofi Prostat. In Ilmu Bedah. Jakarta: Binapura Aksara; 2004. p. 134.

3. Rosette Jdl, Perachino M, Thomas D, Madersbacher S, Desgrandchamps F, Alivizatos G, et al.


Guidelines on Benign Prostat Hyperplasia. European Association of Urology. 2001 September; 40(3):
p. 256-63.

Hasil pembelajaran:
1. Kriteria Benign Prostat Hyperplasia
2. Penanganan Benign Prostat Hyperplasia
Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:
1. Subyektif:
1. Diagnosis/gambaran klinis: Seorang laki-laki 55 tahun masuk rumah sakit dengan
keluhan tidak bisa buang air kecil sejak 6 jam yang lalu. Sebelumnya pasien
mengeluh susah buang air kecil sejak ± 1 tahun terakhir. Sebelum-sebelumnya pasien
merasakan sulit memulai buang air kecil dan harus didahului mengedan untuk
memulai buang air kecil. Selain itu pancaran kencing dirasakan makin lemah dengan
kaliber yang makin kecil. Penderita juga merasakan rasa tidak puas setiap habis
kencing dan biasanya diikuti dengan kencing menetes pada akhir kencing. Penderita
juga sering-sering merasakan ingin buang air kecil. Pasien biasanya buang air kecil
setiap 2-3 jam sekali meskipun tidak banyak minum. Pada malam hari pasien
kerapkali terbangun karena rasa ingin buang air kecil, biasanya 5-6 kali dalam
semalam. Tidak ada keluhan kencing berpasir atau kencing bernanah. BAB kesan
lancar.
2. Obyektif:
Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan di IRD diperoleh:
 Keadaan umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos mentis
BB : 78 kg TB : 178cm
 Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : 160/90 mmHg
Nadi : 74x/menit (reguler)
Nafas : 20x/menit
Suhu : 36,5°C
Pemeriksaan khusus
Kepala dan leher
 Kulit dan wajah : Wajah tidak pucat
 Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, mata cekung (-
)
 Mulut : Lidah tidak kotor, bibir kering, sianosis (-), gusi tidak ada
perdarahan, faring tidak hiperemis, pembesaran tonsil (-), gigi
berlobang (-)
 Leher : JVP dalam batas normal
Thorax
Paru
 Inspeksi : Pengembangan dada simetris kiri dan kanan, gerak nafas
simetris, tidak ada bagian yang tertinggal.
 Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri
 Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
 Auskultasi : Vesikuler kedua lapangan paru,ronki (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIK (sela interkosta) IV, 2 jari medial
garis linea midclavicularis sinistra
 Perkusi :
o Batas jantung kiri atas : SIK II garis parasternal sinistra
o Batas jantung kiri bawah : SIK VI 2 jari medial dari garis linea
midclavicularis sinistra
o Batas jantung kanan atas : SIK III garis sternalis dextra
o Batas jantung kanan bawah : SIK V faris midclavicularis sinistra
 Auskultasi : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-).

Abdomen
 Inspeksi : Perut datar, venektasi (-), distensi (-)
 Auskultasi : Bising usus (+), bunyi tambahan (-)
 Palpasi : Kenyal, hepar dan lien tidak teraba, blast (+) full
 Perkusi : Pekak pada Supra Pubik

Rectal Touche
Sphincter ani mencekik, ampula kosong, teraba massa prostat ukuran 2-3 cm,
permukaan licin, konsistensi kenyal, pole atas tidak teraba, terfiksasi.

Ekstremitas
Edema pretibial (-)

3. Assesment:
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak di sebelah
inferior buli-buli dan membungkus uretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ
ini membuntu uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar
dari buli-buli.
Pada usia lanjut, beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. Keadaan
ini dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan ± 80% pria yang berusia 80 tahun.
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia
prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat kaitannya
dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging (menjadi tua).
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya hiperplasia prostat adalah
(1) teori dihidrotestosteron; (2) adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron;
(3) interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat; (4) berkurangnya kematian sel
(apoptosis); dan (5) teori stem sel. Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada
saluran kemih, maupun keluhan di luar saluran kemih.
Keluhan pada saluran kemih bagian bawah (LUTS) terdiri atas gejala
obstruksi dan gejala iritatif. Gejala obstruksi yaitu hesitansi, pancaran miksi lemah,
intermitensi, miksi tidak puas, dan menetes setelah miksi. Gejala iritatif yaitu sering
miksi (frekuensi), terbangun untuk miksi pada malam hari (nokturi), perasaan ingin
miksi yang sangat mendesak (urgensi), dan nyeri pada saat miksi (disuria).
Keluhan ini biasanya disusun dalam bentuk skor simtom. Terdapat beberapa
jenis klasifikasi yang dapat digunakan untuk membantu diagnosis dan menentukan
tingkat beratnya penyakit, diantaranya adalah skor internasional gejala-gejala prostat
WHO (IPSS), dan skor Madsen Iversen. Dari skor IPSS dapat dikelompokkan gejala
LUTS dalam 3 derajat, yaitu (1) ringan: skor 0 – 7, (2) sedang: skor 8 – 19, dan (3) berat:
skor 20 – 35.
Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli untuk
mengeluarkan urine. Pada suatu saat, otot buli-buli mengalami kepayahan, sehingga
jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urine akut.
Gejala pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara lain nyeri
pinggang, benjolan di pinggang (tanda hidronefrosis), atau demam yang merupakan
tanda infeksi atau urosepsis. Gejala di luar saluran kemih dapat berupa hernia inguinalis
atau hemoroid, akibat sering mengejan pada waktu miksi sehingga mengakibatkan
peningkatan tekanan intraabdominal.
Pada pemeriksaan fisis mungkin didapatkan buli-buli yang terisi penuh dan
teraba massa kistus di daerah supra simfisis akibat retensi urine. Kadang-kadang
didapatkan urine yang selalu menetes tanpa disadari oleh pasien, yang merupakan tanda
inkontinensia paradoksa.
Colok dubur pada pembesaran prostat benigna menunjukkan konsistensi prostat kenyal
seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul.
Sedimen urine diperiksa untuk mencari kemungkinan adanya proses infeksi atau
inflamasi pada saluran kemih. Kultur urine berguna untuk mencari jenis kuman dan
menentukan sensitivitas kuman terhadap beberapa antimikroba. Selain itu juga dilakukan
tes faal ginjal dan gula darah.
Pemeriksaan radiologi yang dapat dilakukan adalah foto polos abdomen,
pielogravi intravena, USG, dan sistoskopi. Tujuan pemeriksaan pencitraan adalah untuk
memperkirakan volume BPH, menentukan derajat disfungsi buli-buli dan volume residu
urine, dan mencari kelainan patologi lain.
Pemeriksaan derajat obstruksi prostat dapat diperkirakan dengan cara mengukur residual
urine dan pancaran urine (flow rate).
Ada 3 cara untuk mengukur besarnya hipertropi prostat, yaitu (a) rectal
toucher (b) clinical grading dan (c) intraurethra grading.

a. Rectal Toucher
Rectal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli kosong.
Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam penilaian. Dengan rectal
toucher diperkirakan dengan beberapa cm prostat menonjol ke dalam lumen dan
rectum. Menonjolnya prostat dapat ditentukan dalam grade. Pembagian grade
sebagai berikut :
0 – 1 cm……….: Grade 0
1 – 2 cm……….: Grade 1
2 – 3 cm……….: Grade 2
3 – 4 cm……….: Grade 3
Lebih 4 cm…….: Grade 4
Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena benjolan
masuk ke dalam cavum rectum.
b. Clinical grading
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa urine.
Pengukuran ini dilakukan dengan cara, pagi hari pasien bangun tidur disuruh
berkemih sampai selesai, kemudian dimasukkan kateter ke dalam kandung kemih
untuk mengukur sisa urine.
Sisa urine 0 cc…………………….. Normal
Sisa urine 0 – 50 cc…………….… Grade 1
Sisa urine 50 – 150 cc…….…..…. Grade 2
Sisa urine >150 cc……………….. Grade 3
Sama sekali tidak bisa kemih…… Grade 4
c. Intraurethra grading
Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen urethra.
Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopi dan sudah menjadi bidang dari
urologi yang spesifik.
Penatalaksanaan
1) Observasi (watchfull waiting)
Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan ringan. Nasehat yang diberikan
adalah mengurangi minum setelah makan malam untuk mengurangi nokturia,
menghindari obat-obat dekongestan (parasimpatolitik), mengurangi minum kopi
dan tidak diperbolehkan minum alkohol agar tidak terlalu sering miksi.
Setiap 3 bulan dilakukan kontrol keluhan (sistem skor), sisa kencing dan
pemeriksaan colok dubur.
2) Terapi medikamentosa
a. Penghambat adrenergik α
Yang sering dipakai adalah prazosin, doxazosin, terazosin, afluzosin, atau
yang lebih selektif α-1a (tamsulosin). Dosis dimulai 1 mg/hari, sedangkan
dosis tamsulosin adalah 0,2 – 0,4 mg/hari.
b. Penghambat enzim 5-α-reduktase
Obat yang dipakai adalah finasteride (Proscar) dengan dosis 1x5 mg/hari.
c. Fitoterapi
Pengobatan fitoterapi yang ada di Indonesia antara lain eviprostat.
3) Terapi bedah
Waktu penanganan untuk tiap pasien bervariasi tergantung beratnya gejala dan
komplikasi. Indikasi absolute untuk terapi bedah yaitu :
- Retensio urine berulang
- Hematuria
- Tanda penurunan fungsi ginjal
- Infeksi saluran kemih berulang
- Tanda-tanda obstruksi berat yaitu divertikel, hidroureter, hidronefrosis
- Ada batu saluran kemih.
Jenis pengobatan ini paling tinggi efektivitasnya. Intervensi bedah yang dapat
dilakukan meliputi Transurethral Resection of the Prostate (TUR-P),
Transurethral Incision of the Prostate (TUIP), prostatektomi terbuka, dan
prostatektomi dengan laser dengan Nd-YAG atau Ho-YAG.
TURP masih merupakan standar emas. Indikasi TURP adalah gejala-gejala sedang
sampai berat, volume prostat kurang dari 90gr, dan pasien cukup sehat untuk
menjalani operasi.
Bila volume prostat tidak terlalu besar atau ditemukan kontraktur leher vesika atau
prostat fibrotic, dapat dilakukan TUIP. Indikasinya adalah keluhan sedang atau
berat, dengan volume prostat normal atau kecil.
Karena pembedahan tidak mengobati penyebab BPH, maka biasanya penyakit ini
akan timbul kembali 8 – 10 tahun kemudian.
4) Terapi invasive minimal
- Transurethral Microwave Thermotherapy (TUMT)
- Dilatasi balon transuretra (TUBD)
- High-intensity Focused Ultrasound
- Ablasi jarum transuretra (TUNA)
- Stent prostat

Diagnosis Sementara/Diagnosis Kerja


Retensi Urine ec Benign Prostat Hyperplasia grade II
RENCANA PENATALAKSANAAN
Farmakologi :
 Pemasangan kateter 18F
 pasien dianjurkan untuk kontrol di Poliklinik Bedah untuk terapi definitif terhadap
hipertropi prostat nya.
 Pengobatan untuk hipertropi prostat ada 2 macam Konservatif dan Operatif. Pada
kasus ini, Hipertropi Prostat Grade III, dapat dilakukan pembedahan reseksi
endoskopik/TURP (Transurethral Resection of Prostate), apabila diperkiraan prostat
sudah cukup besar sehingga reseksi tidak cukup dengan satu jam sebaiknya dilakukan
pembedahan terbuka (Open Prostatectomy).

1 Evaluation
 Prognosis
Prognosis BPH bonam dan tidak menyebabkan kematian jika penanggulangan
dilakukan dengan tepat dan cepat.
 Pendidikan:
Dilakukan kepada pasien dan keluarganya agar mengetahui indikasi operasi, teknik
operasi secara garis besar, serta risiko yang mungkin terjadi pasca-operasi
 Konsultasi:
Dijelaskan perlunya untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Bedah untuk
dilakukan terapi pembedahan mengatasi Hipertropi Prostat.
 Rujukan:

Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit
dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai

Peserta Pendamping Pendamping

dr.Marthin Fernandes Pasaribu dr. Paris Sampeliling dr. Henry Sallipadang