Anda di halaman 1dari 10

KASUS BEDAH

Nama Peserta : dr. Marthin Fernandes Pasaribu


Nama Wahana: RSU Lakipadada Tana Toraja
Topik: Bronkopneumonia
Tanggal (kasus) : 29-03-2019
Nama Pasien : An. O.H. No. RM : 1331470
Tanggal presentasi : Pendamping: dr. Paris/dr. Henry
Tempat presentasi: RSU Lakipadada
Obyek presentasi : Power Point
Keilmuan Keterampilan Penyegaran Tinjauan pustaka
Diagnostik Manajemen Masalah Istimewa
Neonatus Bayi Anak Remaja Dewasa Lansia Bumil
Deskripsi: Seorang anak laki-laki 3 tahun masuk UGD rumah sakit dengan keluhan sesak sekali
disertai dengan batuk dan deman kurang lebih 1 hari. Demam dirasakan naik turun dan os
sudah pergi berobat tetapi tidak ada sama sekali. Os batuk berdahak warna kadang putih
kadang kehijauan. Pilek disangkal. Os tidak ada riwayat serangan asma sebelumnya ataupun
riwayat alergi. Keluhan lain tidak ada. Os di keluarga tidak ada yang sedang sakit dan tidak ada
yang seperti ini. Riwayat imunisasi lengkap. Bak dan BAB normal. Os belum pernah dirawat di
rumah sakit karena sakit lain sebelumnya. Nafsu makan menurun.
Tujuan: menegakkan diagnosis Benign Prostat Hyperplasia dan penanganannya
Bahan Tinjauan Riset Kasus Audit
bahasan: pustaka
Cara Diskusi Presentasi dan E-mail Pos
membahas: diskusi
Data Pasien: Nama: An. O.H. No.Registrasi: 1331470
Nama klinik RS Lakipadada

Data utama untuk bahan diskusi:


Diagnosis/gambaran klinis: Seorang anak laki-laki 3 tahun masuk UGD rumah sakit
dengan keluhan sesak sekali disertai dengan batuk dan deman kurang lebih 1 hari.
Demam dirasakan naik turun dan os sudah pergi berobat tetapi tidak ada sama sekali.
Os batuk berdahak warna kadang putih kadang kehijauan. Pilek disangkal. Os tidak ada
riwayat serangan asma sebelumnya ataupun riwayat alergi. Keluhan lain tidak ada. Os
di keluarga tidak ada yang sedang sakit dan tidak ada yang seperti ini. Riwayat
imunisasi lengkap. Bak dan BAB normal. Os belum pernah dirawat di rumah sakit
karena sakit lain sebelumnya. Nafsu makan menurun.

Riwayat pengobatan: (+)


Riwayat kesehatan/penyakit sebelumnya:
- Riwayat penyakit paru (-)
- Riwayat penyakit jantung (-)
- Riwayat penyakit asma (-)
- Riwayat trauma (-)
- Riwayat alergi (-)
- Riwayat imunisasi (+)
Imunisasi Jumlah

Hepatitis B I, II, III (usia 0, 1, 6 bulan)

BCG I (usia 1 bulan)

DPT I, II, III (usia 2, 3, 4 bulan)

Polio I, II, III, IV (usia 0, 2, 4, 6 bulan)

Campak -

Riwayat keluarga: Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama.
Riwayat pekerjaan: -
Lain-lain: -
Daftar Pustaka:
1. Nelson .2000.Ilmu Kesehatan Anak, Edisi 15,Volume 2.Jakarta :EGC.

2. Latief, abdul, dkk. 2009. Pelayanan kesehetan anak di rumah sakit standar WHO. Jakarta
Depkes

3. Rahajoe, Nastini.N.2008.Buku Ajar Respirologi,Edisi 1.Jakarta : IDAI


.
Hasil pembelajaran:
1. Kriteria Bronkopneumonia
2. Penanganan Bronkopneumonia
Rangkuman hasil pembelajaran portofolio:

Diagnosis/gambaran klinis: Seorang anak laki-laki 3 tahun masuk UGD rumah


sakit dengan keluhan sesak sekali disertai dengan batuk dan deman kurang lebih 1
hari. Demam dirasakan naik turun dan os sudah pergi berobat tetapi tidak ada
sama sekali. Os batuk berdahak warna kadang putih kadang kehijauan. Pilek
disangkal. Os tidak ada riwayat serangan asma sebelumnya ataupun riwayat alergi.
Keluhan lain tidak ada. Os di keluarga tidak ada yang sedang sakit dan tidak ada
yang seperti ini. Riwayat imunisasi lengkap. Bak dan BAB normal. Os belum pernah
dirawat di rumah sakit karena sakit lain sebelumnya. Nafsu makan menurun.

1. Obyektif:
Dari hasil pemeriksaan fisik yang dilakukan di IRD diperoleh:
 Keadaan umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : Compos mentis
BB : 12 kg
 Tanda-tanda vital :
Tekanan darah : -
Nadi : 100x/menit (reguler)
Nafas : 40x/menit
Suhu : 38,5°C
Pemeriksaan khusus
Kepala dan leher
 Kulit dan wajah : Wajah tidak pucat
 Mata : Konjungtiva tidak anemis, sclera tidak ikterik, mata cekung (-
)
 Mulut : Lidah tidak kotor, bibir kering, sianosis (-), gusi tidak ada
perdarahan, faring tidak hiperemis, pembesaran tonsil (-), gigi
berlobang (-)
 Leher : JVP dalam batas normal

Thorax
Paru
 Inspeksi : Pengembangan dada simetris kiri dan kanan, gerak nafas
simetris, tidak ada bagian yang tertinggal.
 Palpasi : Vokal fremitus kanan = kiri
 Perkusi : Sonor pada kedua lapangan paru
 Auskultasi : Vesikuler kedua lapangan paru,ronki (+/+), wheezing (+/+)
Jantung
 Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
 Palpasi : Ictus cordis teraba pada SIK (sela interkosta) IV, 2 jari medial
garis linea midclavicularis sinistra
 Perkusi :
o Batas jantung kiri atas : SIK II garis parasternal sinistra
o Batas jantung kiri bawah : SIK VI 2 jari medial dari garis linea
midclavicularis sinistra
o Batas jantung kanan atas : SIK III garis sternalis dextra
o Batas jantung kanan bawah : SIK V faris midclavicularis sinistra
 Auskultasi : Bunyi jantung I-II regular, murmur (-), gallop (-).

Abdomen
 Inspeksi : Perut datar, venektasi (-), distensi (-)
 Auskultasi : Bising usus (+), bunyi tambahan (-)
 Palpasi : Kenyal, hepar dan lien tidak teraba
 Perkusi : Timpani

Ekstremitas
Edema pretibial (-)

2. Assesment:
Pneumonia merupakan infeksi yang mengenai parenkim paru. Bronkopneumonia
disebut juga pneumoni lobularis, yaitu radang paru-paru yang disebabkan oleh
bakteri, virus, jamur dan benda-benda asing. Bronkopneumonia didefinisikan sebagai
peradangan akut dari parenkim paru pada bagian distal bronkiolus terminalis dan
meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris, sakus alveolaris, dan alveoli.

Klasifikasi

Pneumonia dapat diklasifikasikan berdasarkan :

1. Asal infeksi
a. Community-acquired pneumonia (CAP)
infeksi parenkim paru yang didapatkan individu yang tidak sedang dalam
perawatan di rumah sakit paling sedikit 14 hari sebelum timbulnya gejala.

b. Hospital-acquired pneumonia (HAP)


infeksi parenkim paru yang didapatkan selama perawatan di rumah sakit yang
terjadi setelah 48 jam perawatan (Depkes : 72 jam) atau karena perawatan di
rumah sakit sebelumnya, dan bukan dalam stadium inkubasi.

2. Lokasi lesi di paru

c. Bronkopneumonia
d. Pneumonia lobaris
e. Pneumonia interstitialis

3. Etiologi
- Infeksi
Berdasarkan mikroorganisme penyebab :
a. Pneumonia bakteri
b. Pneumonia virus
c. Pneumonia jamur
d. Pneumonia mikoplasma
- Non infeksi
Aspirasi makanan/asam lambung/benda asing/hidrokarbon/substansi lipoid,
reaksi hipersensitivitas, drug- dan radiation-induced pneumonitis.

4. Karakteristik penyakit
- Pneumonia Tipikal
- Pneumonia Atipikal (mis. Mycoplasma pneumoniae, Chlamydia
pneumoniae, Mycobacterium tuberculosis)

5. Derajat keparahan penyakit


Untuk mengklasifikasikan beratnya pneumonia perlu diperhatikan adanya tanda
bahaya (danger signs), yaitu : takipnea dan tarikan dinding dada bagian bawah ke
arah dalam (retraksi epigastrik).
Berdasarkan kedua tanda ini, maka klasifikasi beratnya pneumonia pada anak
bawah lima tahun (balita) ditentukan berdasarkan usia, sebagai berikut :

Klasifikasi Anak usia < 2 bulan Anak usia 2 bulan – 5


tahun

Pneumonia sangat  Hipo/hipernatremi  Kesadaran turun


berat  Kesadaran turun  Tidak mau
 Kurang mau minum minum
 Kejang  Kejang
 Wheezing  Stridor
 Stridor  Sianosis sentral
 Gizi buruk

Pneumonia berat  Tarikan dinding dada  Tarikan dinding


dalam yang tampak dada dalam
jelas  Dapat minum
 Takipnea  Sianosis (-)

Pneumonia  Takipnue
 Tarikan dinding
dada dalam (-)

Bukan pneumonia Tarikan dinding dada dalam (-), takipnea (-)

Patogenesis

Dalam keadaan sehat pada paru tidak akan terjadi pertumbuhan


mikroorganisme, keadaan ini disebabkan oleh adanya mekanisme pertahanan paru.
Terdapatnya bakteri di dalam paru merupakan ketidakseimbangan antara daya tahan
tubuh, sehingga mikroorganisme dapat berkembang biak dan berakibat timbulnya
infeksi penyakit. Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran nafas dan paru dapat
melalui berbagai cara, antara lain :
1. Inhalasi langsung dari udara
2. Aspirasi dari bahan-bahan yang ada di nasofaring dan orofaring.
3. Perluasan langsung dari tempat-tempat lain.
4. Penyebaran secara hematogen.

Mekanisme daya tahan traktus respiratorius sangat efisien untuk mencegah infeksi
yang terdiri dari :
1. Susunan anatomis rongga hidung.
2. Jaringan limfoid di nasofaring.
3. Bulu getar yang meliputi sebagian besar epitel traktus respiratorius dan sekret lain
yang dikeluarkan oleh sel epitel tersebut.
4. Refleks batuk.
5. Refleks epiglotis yang mencegah terjadinya aspirasi sekret yang terinfeksi.
6. Drainase sistem limfatis dan fungsi menyaring kelenjar limfe regional.
7. Fagositosis aksi limfosit dan respon imunohumoral terutama dari Ig A.
Sekresi enzim – enzim dari sel-sel yang melapisi trakeo-bronkial yang bekerja sebagai
antimikroba yang non spesifik

Gejala klinis

Sebagian besar gambaran klinis pneumonia pada anak berkisar antara ringan
hingga sedang, sehingga dapat berobat jalan saja. Hanya sebagian kecil yang berat,
mengancam kehidupan, dan mungkin terdapat komplikasi sehingga memerlukan
perawatan dirumah sakit. Beberapa faktor yang mempengaruhi gambaran klinis
pneumonia pada anak adalah imaturitas anatomik dan imunologik, mikroorganisme
penyebab yang luas, gejala klinis yang kadang-kadang tidak khas terutama pada
bayi, terbatasnya penggunaan prosedur diagnostic invasive, etiologi noninfeksi yang
relative lebih sering, dan faktor patogenesis. Disamping itu, kelompok usia pada
anak merupakan faktor penting yang menyebabkan karakteristik penyakit berbeda-
beda, sehingga perlu dipertimbangkan dalam tatalaksana pneumonia.

Gambaran klinis pneumonia pada bayi dan anak bergantung pada berat
ringannya infeksi, tetapi secara umum adalah sebagai berikut :
- Gejala infeksi umum, yaitu : demam, sakit kepala, gelisah, malaise, penurunan
nafsu makan, keluhan gastrointestinal seperti : mual, muntah atau diare ; kadang-
kadang ditemukan gejala infeksi ekstrapulmoner.
- Gejala gangguan respiratori, yaitu : batuk, sesak napas, retraksi dada, takipnea,
napas cuping hidung, air hunger, merintih, dan sianosis.

1. Pemeriksaan fisik

Dalam pemeriksaan fisik penderita bronkopneumoni ditemukan hal-hal sebagai


berikut :

- Pada nafas terdapat retraksi otot epigastrik, interkostal, suprasternal, dan


pernapasan cuping hidung.
- Pada palpasi ditemukan vokal fremitus yang simetris.
Konsolidasi yang kecil pada paru yang terkena tidak menghilangkan getaran
fremitus selama jalan napas masih terbuka, namun bila terjadi perluasan infeksi
paru (kolaps paru/atelektasis) maka transmisi energi vibrasi akan berkurang.
- Pada perkusi tidak terdapat kelainan
- Pada auskultasi ditemukan crackles sedang nyaring.
Crackles adalah bunyi non musikal, tidak kontinyu, interupsi pendek dan
berulang dengan spektrum frekuensi antara 200-2000 Hz. Bisa bernada tinggi
ataupun rendah (tergantung tinggi rendahnya frekuensi yang mendominasi),
keras atau lemah (tergantung dari amplitudo osilasi) jarang atau banyak
(tergantung jumlah crackles individual) halus atau kasar (tergantung dari
mekanisme terjadinya). Crackles dihasilkan oleh gelembung-gelembung udara
yang melalui sekret jalan napas/jalan napas kecil yang tiba-tiba terbuka.
Berdasarkan lokasi lesi di paru :
bronkopneumonia Interstitial Pneumonia lobaris

- Lobularis - Interstitial - Segmental/lobus

- Ronki selalu - Pendataran - Konsolidasi


terdengar diafragma dan
- Ronki (+) saat kongestif
hiperinflasi
- Dullness (-) dan resolusi
- Ronki ±, wheezing +
- Dullness (+) di lobus
- Dullness (-) yang terkena

Diagnosis

Dari anamnesa didapatkan gejala non respiratorik dan gejala respiratorik. Dasar
diagnosis tergantung umur, beratnya penyakit dan jenis organisme penyebab. Pada
bayi/anak kecil (balita) pemeriksaan auskultasi sering tidak jelas, maka nafas cepat
dan retraksi/tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam dipakai sebagai parameter.
Kriteria nafas cepat, yaitu :

 Umur < 2 bl : ≥ 60x/menit


 2 bl-< 12 bl : ≥ 50x/menit
 12 bl-5 th : ≥ 40x/menit
 ≥ 5 tahun : ≥ 30x/menit

Klasifikasi Nafas cepat retraksi


< 2 bl Pneumonia berat + +
Bukan Pneumonia - -
2 bl-5 th Pneumonia + +
berat
Pneumonia + -
Bukan Pneumonia - -

Dapat juga dipakai kriteria paling sedikit 3 dari 5 gejala/tanda berikut


- Sesak nafas disertai pernafasan cuping hidung dan tarikan dinding dada
- Panas badan
- Ronki basah sedang nyaring pada bronkopneumonia atau suara pernafasan
bronkial (pada daerah yang dengan perkusi bernada pekak) pada pneumonia
lobaris
- Foto toraks menunjukkan adanya infiltrat berupa bercak-bercak (bronko)
difus merata (lober) pada satu atau beberapa lobus
- Leukositosis Pada infeksi virus tidak melebihi 20.000/mm3 dengan limfosit
predominan, dan bakteri 15.000-40.000/mm3 neutrofil dominan.

Kadar leukosit berdasarkan umur:

o Anak umur 1 bulan : 5000 – 19500


o Anak umur 1-3 tahun : 6000 – 17500
o Anak umur 4-7 tahun : 5500 – 15500
o Anak umur 8-13 tahun : 4500 - 13500
Pedoman diagnose dan tatalaksana yang lebih sederhana menurut WHO.
Berdasarkan pedoman tersebut bronkopneumoni dibedakan berdasarkan :
- Bronkopneumonia sangat berat :
Bila terjadi sianosis sentral dan anak tidak sanggup minum, maka anak harus
dirawat di rumah sakit dan diberi antibiotika.
- Bronkopneumonia berat :
Bila di jumpai adanya retraksi, tanpa sianosis dan masih sanggup minum,
maka anak harus dirawat di rumah sakit dan d beri antibiotic.

Diagnosis Sementara/Diagnosis Kerja


Retensi Urine ec Benign Prostat Hyperplasia grade II
RENCANA PENATALAKSANAAN
Farmakologi :
 IVFD D5% 12tpm
 Cefotaxime 500mg/12jam/iv
 Gentamicin 25mg/12jam/iv
 Ambroxol 3 x ½ cth
 Cetirizine 3x ½ Cth
 Nebu combivent ½ ampul /12jam

1 Evaluation
 Prognosis
Prognosis Sembuh total, mortalitas kurang dari 1 %, mortalitas bisa lebih
tinggi didapatkan pada anak-anak dengan keadaan malnutrisi energi-protein dan
datang terlambat untuk pengobatan.

 Konsultasi:
Dijelaskan perlunya untuk berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Anak untuk
dilakukan terapi
 Rujukan:

Diperlukan jika terjadi komplikasi serius yang harusnya ditangani di rumah sakit
dengan sarana dan prasarana yang lebih memadai

Peserta Pendamping Pendamping

dr.Marthin Fernandes Pasaribu dr. Paris Sampeliling dr. Henry Sallipadang