Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOTERAPI II

KARDIOVASKULAR
KASUS CHF & ARITMIA

Disusun oleh :

Kaefiyah Nurul Insani G1F014016


Laras Ratna Sari G1F014020
Nita Triana Sari G1F014022
Nabila Fasya G1F014024

Tanggal Diskusi Kelompok : 16 Mei 2017


Tanggal Diskusi Dosen : 3 Juni 2017
Asisten : Khumrotik Entik
Dosen : Laksmi Maharani, M.Sc., Apt

Laboratorium Farmasi Klinik


Jurusan Farmasi Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan
Universitas Jenderal Soedirman
2016
FARMAKOTERAPI PASIEN CHF & ARITMIA
A. PATOFISIOLOGI
Congestive heart failure (CHF) terjadi karena adanya abnormalitas pada struktur
jantung, fungsi, ritme, atau konduktivitas jantung. Pada umumnya benyak kasus CHF
disebabkan oleh disfungsi ventrikel dan menyebabkan gangguan lain misalnya infark
miokard, hipertensi, dan banyak gangguan lain. CHF penyebab utamanya yakni penyakkit
kelainan katup degenerative, kardiomiopati idiopatik, dan kardiomiopati alkoholik.
Perubahan struktural termasuk peregangan miokard, fibrosis dan pembentukan bekas luka,
ruang dilatasi, dan perubahan arus ion selular, reseptor dan gap junction, menghasilkan
respon yang cukup untuk menyebabkan aritmia. Awal setelah depolarisasi oleh
pengurangan dalam repolarisasi K+ dan peningkatan depolarisasi arus seperti Na dan Ca
memperpanjang potensial aksi durasi dan repolarisasi. Perubahan dari Na + / Ca + ion
exchange tersebut akan menyebabkan aritmia. x (Figueroa and peters, 2006; Kantharia,
2010).

Patofisiologi aritmia (Wit et al., 1983)


Aritmia adalah gangguan detak jantung atau irama jantung. Hal ini ditandai deengan
jantung berdetak lebih cepat. Aritmia dapat disebabkan impuls awal dan atau
konduktivitas impuls. Impuls awal yang lama disebabkan karena ada gangguan pada
aktivitas automatisaisi listrik jantung. Aktivitas tersebut terjadi karena depolarisasi terlalu
lama atau depolarisasi terlalu cepat. Konduktivitas abnormal impuls dapat menghasilkan
eksitasi yang lama, biasanya kombinasi konduktivitas lambat dan tidak langsung dapat
menghambat jantung untuk memulai konduktivitas baru. Konduktivitas lama dan
hambatan dapat menurunkan potensial dan kecepatan depolarisasi (Wit et al., 1983).

B. PROFIL PASIEN
Nama pasien : Ny. S
Usia : 60 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
No. rekam medik : 910543
Alamat : Munjul, Kutasari
Riwayat MRS : Sesak nafas sejak 2 hari yg lalu, pusing kepala
Diagnosa : CHF, Aritmia

Terapi yang didapatkan pasien dari kasus

Tanggal
Obat Dosis Freq
11/02 12/02 13/02 14/02 15/02

Inf.. Asering 20 tpm √ √ √ √ √

ISDN 5 mg 2x 1 tab √

Inj. Antrain 1 gr/2ml 2x1 A √

Inj. Rantin 25 2x1 A √ √ √ √ √


mg/2ml

Inj. Furosemid 10 mg/ml 1 A drip √ √ √

O2 6 Lpm √ √ √ √ √

Captopril 6,25 mg 3x1 √ √ √ √

Spironolakton 100 mg 1x1 √ √ √ √

Digoxin 0,25 mg 1x1 √ √ √ √

Tyarit 200 mg 1x1 √ √ √ √

Bisoprolol 2,5 mg 1x1 √ √ √

PCT 500 mg 3x1 √ √ √

Cernevit 1 A/ 24 jam √ √

Furosemid 40 mg 1x1 √ √

Terapi KRS yang didapatkan pasien dari kasus

Nama Obat Dosis Frekuensi Jumlah

Captopril 12,5 mg 1x1 -

Spironolakton 25 mg 1x1 -

Bisoprolol 10 mg 1x1 -

Tyarit 200 mg 1x1 -

C. CHF
1. SUBJEKTIF : Sesak nafas sejak 2 hari yang lalu
2. OBJEKTIF
a. Parameter Penyakit

Tanggal
TTV Nilai Normal Keterangan
11/02 12/02 13/02 14/02 15/02 16/02

TD 120/80 mmHg 150/90 110/80 90/60 80/60 100/60 100/60 Meningkat


kemudian
Menurun
(Hipertensi)
RR 16-20 nafas/min 36 24 20 22 20 20 Meningkat
(Sesak Nafas)

Sesak + + (CHF)

Pusing + + ++ (CHF)

(Kemenkes, 2011).

b. Data Laboratorium

Tanggal
Pemeriksaan Satuan Nilai Normal Keterangan
11/02

CKMB u/L <10 51 Meningkat


(Gangguan jantung)

(Kemenkes, 2011).

c. Pemeriksaan Penunjang

Nama
Tanggal Pemeriksaan Hasil
Pemeriksaan

EKG 11 Februari - Borderline EKG


- Possible left enlargement
- Sinus tachycardia with occasional
- Premature ventricular compleyer

EKG 12 Februari - Normal sinus rhythm


- Abnormal ECG
- Cannot rule out Anterior infarct, age
undetermined

15/2 - Normal sinus rythm


- Prolonged QT
- Abnormal EKG

3. ASSESSMENT

No. Subjektif, Problem Assesment Rekomendasi


Objectiv Medik

1. S :Batuk Hipertensi, DRP : Obat tidak efektif Captopril diganti


O: TD CHF Captopril dapat menginduksi batuk dengan ramipil karena
150/90 sehingga kurang efektif digunakan menurukan semua
mmHG pada pasien ini karena pasien sudah kasus mortalitas
(meningkat) mengalami batuk sehingga dapat termasuk heart failure
memperpara batuknya (Javad, (Weiping, 2016).
2014)

2. S : Pusing, CHF DRP : Obat tidak efektif Digoxin dihentikan.


sesak
Digoxin pada terapi pasien dengan
O : CKMB aritmia dapat memperlambat laju
51 μ/L ventrikel dan kurang efektif untuk
(meningkat) exercise. (Veldhuisen, et al, 2013).

3. S : Pusing, CHF DRP : Adverse Drug Reaction Infus Asering diganti


sesak dengan infus
Infus asering bisa menyebabkan
dextrose.
O : CKMB demam, infeksi dan radang
51 μ/L pembuluh darah pada lokasi injeksi
(meningkat) dan hyperkalemia. Selain itu juga
kotraindikasi untuk pasien CHF
(MIMS, 2016).

Sedangkan infus dextrose tidak


kontraindikasi pada pasien CHF
dan aritmia. Namun tetap
dilakukan moniroting untuk kadar
gula pasien (MIMS, 2016)

4. S : Pusing Pusing DRP : Obat tidak efektif PCT tidak diberikan.


Diberikan injeksi
O:- Pasien mendapatkan obat PCT dan
antrain (Elmaghraby,
Inj. Antrain yang berisi Metamizole
2014)
sodium. Saat menggunakan Antrai
pasien tidak mengalami pusing,
tetapi saat diganti PCT pasien
mengalami pusing kembali.
Metamizole sodium lebih efektif
daripada PCT sebagai antipiretik
(Elmaghraby, 2014)

5. S : Pusing, CHF DRP : Kebutuhan Terapi Tambahan Digunakan kombinasi


sesak ISDN dan hidralazin
Terapi kombinasi antara hidralazin
(Farag et al, 2015).
O : CKMB 51 dan ISDN lebih efektif dalam CHF
μ/L dibandingkan penggunaan tunggal
(meningkat) masing-masing obat karena
kombinasi mengurangi mortalitas
kardiovaskular lebih tinggi
dibandingkan dengan penggunaan
tunggal (Farag et al, 2015).

4. PLAN
a. Tujuan Terapi
1. Mengatasi CHF dengan memberikan terapi non farmakologi dan farmakologi
2. Mencegah komplikasi yang lebih parah
b. Terapi Non Farmakologi
1. Menjaga pola makan seperti diet garam dan lemak
2. Menjauhi asap rokok
3. Melakukan pemantauan berat badan
4. Mengatur asupan cairan
5. Membatasi aktivitas sesuai beratnya keluhan
6. Mengurangi stres fisik
7. Olahraga secara rutin

c. Terapi Farmakologi

Tanggal
Obat Dosis Freq
11/2 12/2 13/2 14/2 15/2 16/2

Inf. Dextrose 10 tpm √ √ √ √ √ √

ISDN + 20mg / 37,5 3 x sehari √ √ √ √ √ √


Hidralazin mg
O2 6 lpm √ √ √ √ √ √

Ramipril p.o 2.5 mg 2 x sehari √ √ √ √ √ √

Inj. Antrain 500 mg 2 x sehari √ √ √ √ √ √

Spironolakton 100 mg 1 x sehari √ √ √ √ √ √

Furosemid 20-80 mg 1 x sehari √ √ √ √ √ √

d. Terapi KRS

Obat Dosis Freq Jumlah Durasi

Ramipril 2.5 mg 2x1 14 tablet Selama 1 minggu

1. Ramipril
Pada tatalaksana terapi CHF, first-line terapi yang direkomendasikan adalah
obat golongan ACEI (National Heart Foundation, 2011). Ramipril merupakan obat dari
golongan ACEI yang tingkat mortalitas yang lebih baik pada kasus dengan heart
failure dan ESO nya paling rendah serta efektivitasnya sama dengan captopril
( Weiping,2016)

2. ISDN dan Hidralazin


Berdasarkan hasil pemeriksaan EKG, pasien mengalami infark arteri yang
merupakan faktor resiko angina sehingga diperlukan terapi profilaksis angina. ISDN
diindikasikan untuk pencegahan angina pektoris, diberikan sekali sehari (dengan agen
extended release) atau 2-3 kali sehari (dengan formulasi immediate release) (Archer,
2015).
Terapi kombinasi antara hidralazin dan ISDN lebih efektif dalam CHF
dibandingkan penggunaan tunggal masing-masing obat karena kombinasi mengurangi
mortalitas kardiovaskular lebih tinggi dibandingkan dengan penggunaan tunggal
(Farag et al, 2015).
3. Infus Dextrose
Infuse dextrose dapat membantu meminimalkan deplesi glikogen hati dan
memberikan tindakan hemat protein. Injeksi dekstrosa mengalami oksidasi menjadi
karbon dioksida dan air. Ini menghasilkan sebagian besar energi tubuh yang cepat.
Infus dextrose tidak kontraindikasi pada pasien CHF dan aritmia, namun harus
dilakukan monitoring juga terhadap beberapa parameter seperti kadar gula darah
pasien (MIMS, 2016).
4. Injeksi Antrain
Injeksi Antrain mengandung Metamizole sodium yang mempunyai khasiat
analgesic. Bekerja menghambat transmisi rasa sakit ke susunan saraf pusat dan perifer
(Elmaghraby, 2014). Antrain memiliki efek analgesic yang sama dengan parasetamol
(Caliskan et al., 2013). Penggunaan antrain untuk mengatasi pusing pada pasien pada
hari pertama MRS terbukti efektif menghilangkan pusing pada pasein, namun
penggunaan parasetamol pada hari ke 3-5 tidak dapat menyembuhkan pusing pasien.
Sehingga digunakan injeksi antrain..
5. Oksigen
Pasien mengalami gejala sesak, sehingga membutuhkan oksigen untuk
memperlancar napasnya. Pemberian oksigen telah digunakan untuk manajeman terapi
pada pasien dengan penyakit jantung (Sepehrvand, 2016).

D. ARITMIA
1. ASSESSMENT

No. Subjektif Objektif Assesment Rekomendasi

1 - - DRP : Adverse Drug Reaction Tyarit diberikan

Tyarit (amidaron) memilki efek


samping mayor yaitu menyebakan
prolong QT syndrome (AAFP, 2003).

2. PLAN
a. Tujuan Terapi
1. Mengatasi aritmia
2. Meningkatkan kualitas hidup pasien.
b. Terapi Non Farmakologi
1. Pemasangan alat pacu jantung
2. Penggunaan karsioversi eksternal
3. Ablasi
(Firdaus, 2007).
c. Terapi Farmakologi

Obat Dosis Freq Tanggal


11/2 12/2 13/2 14/2 15/2 16/2

Bisoprolol 2,5 mg 1 x sehari √ √ √ √ √ √

1. Bisoprolol
Bisoprolol adalah golongan beta bloker yang dapat digunakan sebagai terapi
pada aritmia takikardia dengan premature ventricular contraction (Deshpande,2009)
Bisoprolol juga menunjukkan efikasi untuk penekanan fibrilasi atrium paroksismal dan
memiliki efek setara dalam menjaga ritme sinus untuk fibrilasi atrium akut (Isghiguro
H, 2008)

E. DISLIPIDEMIA
1. ASSESSMENT

No. Subjektif Objektif Assesment Rekomendasi

1 - Kolesterol DRP : Kebutuhan Terapi Tambahan Digunakan


total: 257 rosuvastatin karena
Kolesterol total pasien meningkat
mg/dL lebih efektif daripada
sehingga membutuhkan terapi
atorvastatin,
untuk meonrmalkan nilai kolesterol
simvastatin, dan
yaitu golongan statin (AAFP, 2014)
pravastatin (Mc
Kenney, 2003).

2. PLAN
a. Tujuan Terapi :
1. Menormalkan kadar kolesterol total dalam darah
2. Mencegah komplikasi yang lebih parah
b. Terapi Non-Farmakologi
Melakukan gaya hidup sehat seperti mengurangi asupan asam lemak jenuh,
meningkatkan asupan serat, mengurangi asupan karbohidrat dan alkohol,
meningkatkan aktivitas fisik sehari-hari, mengurangi berat badan berlebih dan
menghentikan kebiasaan merokok.
c. Terapi Farmakologi

Obat Dosis Freq Tanggal


11/2 12/2 13/2 14/2 15/2 16/2

Rosuvastatin 10 mg 4 x sehari √ √ √ √ √ √

Terapi KRS

Obat Dosis Freq.

Rosuvastatin 10 mg 4 x sehari selama 6 minggu

1. Rosuvastatin

Terapi untuk mengatasi disiplidemia adalah golongan statin. Rosuvastatin 10


sampai 40mg memiliki khasiat yang lebih besar daripada atorvastatin 10 sampai 80
mg, simvastatin 10 sampai 80mg, dan pravastatin 10 sampai 40mg untuk pencapaian
target ATP III LDL-C dan non-HDL-C (Mc Kenney, 2003).

F. PROBLEM MEDIK LAIN

No. Subjektif Objektif Assesment Rekomendasi

1 - - DTP : Terapi tanpa indikasi Rantin tidak


Rantin mengandung ranitidine yang
digunakan
bekerja pada gangguan GI. Indikasi
rantin untuk mengatasi dyspepsia
(Medscape, 2016). Pasien tidak
mengalami gangguan GI

2 - - DTP: Terapi yang tidak perlu Cernevit tidak


Cernevit
digunakan
Cernevit diindikasikan sebagai
suplemen multivitamin harian
untuk pasien nutrisi parenteral dan
situasi lain yang menyebabkan
pemeberian nutrisinya melalui IV
(MIMS, 2016).
G. MONITORING

H. MONITORING DATA LABORATORIUM

I. KIE
a. KIE TENAGA KESEHATAN
1. Memberikan edukasi kepada pasien mengenai penyakitnya, pengobatan serta pertolongan yang
dapat dilakukan sendiri,
2. Melakukan pemeriksaan kadar kolesterol, trigliserida dan CKMB pasien.
b. KIE DOKTER
1. Menginformasikan untuk menyesuaikan resep sesuai dengan terapi yang
direkomendasikan.
c. KIE PASIEN
1. Memberikan jadwal minum obat
2. Menjaga pola hidup sehat
3. Menghindari perilaku yang dapat memperburuk kondisi.
KIE KELUARGA PASIEN
1. Memberikan jadwal minum obat seperti yang diberikan pada pasien
2. Mengingatkan pasien untuk melakukan pola hidup sehat.

KESIMPULAN

1. Beberapa DRP yang terjadi pada kasus ini diantaranya: obat tidak efektif yaitu
captopril diganti ramipril, digoxin tidak digunakan, PCT tidak digunakan dan
injeksi antrain digunakan, ADR yaitu infus astering diganti infus dekstrose dan
tyarit tidak digunakan, kebutuhan terapi tambahan yaitu rosuvastatin dan
ISDN dikombinasikan dengan hirdralazine, terapi tanpa indikasi yaitu rantin,
carnevit.
2. Penatalaksanaan terapi yang diberikan adalah infus dekstrose untuk
homeostatis, injeksi antrain untuk antipiretik, oksigen untuk mangatasi sesak,
ramipril untuk CHF, spironolakton dan furosemide untuk CHF, ISDN +
hydralazine untuk profilaksis angina, bisoprolol untuk CHF dan aritmia,
rosuvastatin untuk disiplidemia. Terapi KRS yang diberikan yaitu Ramipril
dan rosuvastatin.
DAFTAR PUSTAKA

AAFP, 2013, Amiodarone: Guidelines for Use and Monitoring, American Academy of
Family Physicians :Amerika.
Farag M, Mabote T, Shoaib A, Zhang J, Nabhan AF, Clark AL, Cleland JG, 2015,
Hydralazine and nitrates alone or combined for the management of chronic heart
failure: A systematic review, International Journal of Cardiology 196 (2015) 61–69.
ULSFCH, 2017, Epilepsy in Young Children, The University of Iowa Stead Family Children’s
Hospital
Weiping S, Zhang H, Guo J, Zhang X, Zhang L, Li C, Zhang L, 2016, Comparison of the
Efficacy and Safety of Different ACE Inhibitors in Patients With Chronic Heart
Failure, Volume 95, Number 6 : 0025-7974.
Figuero, M.S., and Peters, J.I., 2006, Congestive Heart Failure: Diagnosis, Pathophysiology,
Therapy, and Implications for Respiratory Care, Respiratory care, 51(4) : 403-413.
Katharia, B.K., 2010, Cardiac arrhythmias in congestive heart failure, Expert Rev.
Cardiovasc. Ther, 8(2) : 137–140
National Heart Foundation of Australia, 2011, Guidelines for the Prevention, Detection and
Management of Chronic Heart Failure, National Heart Foundation of Australia,
Australia.
Deshpande ,et al, 2009, beta-blockers: Are they useful in arrhythmias, supplement of
japi,december 2009,VOL. 57
Consumer Report,2011, Using Beta-Blockers to treat: High Blood Pressure and Heart Disease
Comparing Effectiveness, Safety, and Price, Consumers Union of the U.S
McKenney M, James, et al, 2003, Comparison of the efficacy of rosuvastatin versus
atorvastatin, simvastatin, and pravastatin in achieving lipid goals: results from the
STELLAR trial, CURRENT MEDICAL RESEARCH AND OPINION® VOL. 19,
NO. 8, 2003, 689–698.
AAFP, 2014, ACC/AHA Release Updated Guideline on the Treatment of Blood Cholesterol
to Reduce ASCVD Risk, Practice Guidelines, Volume 90, Number 4, August 15, 2014
MIMS, 2016, Asering-5, URL: https://www.mims.com/indonesia/drug/info/asering-5/ diakses
pada 14 April 2016.
Elmagthraby, N.A., Khames, A., Meabed, M.H., and Elmaraghy, A.H., 2014, Comparison
The Antipyretic Effect of Paracetamol, Metamizole Sodium and Diclofenac Potssium
Kemenkes, 2011, Pedoman Interpretasi Data Klinis, DepKes RI, Jakarta.