Anda di halaman 1dari 34

PROPOSAL PENELITIAN TINDAKAN KELAS

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN DISCOVERY LEARNING UNTUK


MENINGKATKAN HASIL BELAJAR PESERTA DIDIK PADA MATERI POKOK
RUANG LINGKUP BIOLOGI KELAS X.C SMA NEGERI 2 KEDIRI

TAHUN PELAJARAN 2016/2017

DISUSUN OLEH :

NAMA : SULASTRI
NIM : E1A013051
PRODI : PENDIDIKAN BIOLOGI
KELAS :A

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN


UNIVERSITAS MATARAM
2016
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Menurut UU tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha
sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar
peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan
yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara. Pendidikan nasional berfungsi
mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk
berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan
menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Pada hakekatnya kegiatan belajar mengajar adalah suatu proses interaksi atau hubungan
timbal balik antara guru dan siswa dalam satuan pembelajaran. Guru sebagai salah satu
komponen dalam proses belajar mengajar merupakan pemegang peran yang sangat penting.
Guru bukan hanya sekedar penyampai materi saja, tetapi lebih dari itu guru dapat dikatakan
sebagai sentral pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran ditunjukkan oleh dikuasainya
tujuan pembelajaran oleh siswa. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan
pembelajaran. Salah satu faktor tersebut adalah: kemampuan guru dalam merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran. Pembelajaran yang efektif tidak akan muncul dengan
sendirinya tetapi guru harus menciptakan pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara optimal. Secara umum tugas guru dalam
pembelajaran adalah: sebagai fasilitator yang bertugas menciptakan situasi yang
memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa, dan sebagai pengelola
pembelajaran yang bertugas menciptakan kegiatan pembelajaran yang aktif, menyenangkan,
dan menantang( Mudjiono,2006).
Hakikat pembelajaran yang efektif adalah proses belajar mengajar yang bukan saja
terfokus kepada hasil yang dicapai peserta didik, namun bagaimana proses pembelajaran
yang efektif mampu memberikan pemahaman yang baik, kecerdasan, ketekunan,
kesempatan dan mutu serta dapat memberikan perubahan prilaku dan mengaplikasikannya
dalam kehidupan mereka.Pembelajaran IPA merupakan proses interaksi antara siswa dengan
pendidik, sumber belajar, media belajar, dan lingkungan belajar guna mencapai kompetensi
IPA yang telah ditentukan (Sukardjo, 2: 2012). Keberhasilan pembelajaran IPA tergantung
pada proses pembelajaran dan hasil belajar IPA. Mengacu pada hakikat IPA, yaitu ilmu yang
diperoleh dan dikembangkan melalui serangkaian proses yang dikenal dengan proses ilmiah
yang dibangun atas dasar sikap ilmiah dengan hasil berupa produk ilmiah yang tersusun atas
konsep, prinsip, dan teori yang berlaku secara universal maka proses pembelajaran IPA
menekankan pada adanya pengalaman langsung sehingga memberi ruang kepada siswa
untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, kreatif dan bersikap ilmiah secara holistik.
Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan untuk meningkatkan hasil
belajar peserta didik adalah model pembelajaran Discovery Learning adalah didefinisikan
sebagai proses pembelajaran yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam
bentuk finalnya, tetapi diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner,
bahwa: “Discovery Learning can be defined as the learning that takes place when the
student is not presented with subject matter in the final form, but rather is required to
organize it him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Ide dasar Bruner ialah
pendapat dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di
kelas. Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui
proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43).
Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk
menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi,
klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive
process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps
and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Hasil penelitian relevan menunjukkan Model pembelajaran (discovery learning
disertai metode praktikum,discovery learning, dan konvensional) pada materi ekosistem
berpengaruh terhadap keaktifan siswa kelas X MAN Yogyakarta II. Hasil perhitungan
menunjukkan nilai signifikan 0,000 < 0,05 (taraf signifikan (α 5%), maka H0 ditolak dan
Haditerima, artinya ketiga kelas tersebut berbeda secara signifikan. Hasil uji Tukey
menunjukkan bahwa a) model discovery learningdengan metode praktikum berpengaruh
daripada konvensional terhadap keaktifan siswa. b) model discovery learningdengan metode
praktikum berpengaruh daripada model discovery learningtanpa praktikum terhadap
keaktifan siswa. c) model discoverylearning tanpa praktikum tidak berpengaruh daripada
konvensional terhadap keaktifan siswa.
Berdasarkan hasil wawancara proses pembelajaran yang digunakan di SMA Negeri 2
Kediri adalah pembelajaran yang berpusat pada guru (Teacher Centered) sehingga memiliki
minat belajar rendah yang menyebabkan keaktifan peserta didik dalam proses pembelajaran
berkurang sehingga hasil belajar peserta didik menjadi menurun.Salah satu model
pebelajaran yang mampu meinngkatkan hsil belajar peserta didik yaitu model pembelajran
Discovery learning. Model Discovery Learning digunakan untuk meningkatkan hasil belajar
peserta didik karena melalui model ini peserta didik dapat berpikir lebih kritis dan peserta
didik menjadi lebih aktif.
Berdasarkan uraian diatas penulis mencoba menerapkan salah satu model
pembelajaran, yaitu model pembelajaran Discovery learning untuk mengungkapkan apakah
dengan model Discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik. Dengan
demikian, peneliti dalam penelitian ini mengambil judul " Penerapan Model Pembelajaran
Discovery learning Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Peserta Didik Pada Materi Pokok
Ruang Lingkup Biologi Kelas X.C SMA Negeri 2 Kediri Tahun Ajaran 2016/2017.

B. Rumusan Masalah
Apakah penerapan model pembelajaran Discovery learning dapat meningkatkan hasil
belajar peserta didik pada materi pokok Ruang Lingkup Biologi kelas X.C Sma Negeri 2
Kediri tahun pelajaran 2016/2017?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang sudah diuraikan, maka tujuan penelitian ini adalah
untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik pada materi pokok Ruang Lingkup Biologi
kelas X.C Sma Negeri 2 Kediri tahun pelajaran 2016/2017?

D. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah :
1. Manfaat Teoritis
a. Dari hasil penelitian ini, diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan
khususnya dalam mata pembelajaran biologi.
b. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan untuk penelitian yang lebih
lanjut.
c. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi untuk
melakukan penelitian berikutnya.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peserta didik
1. Dengan adanya penelitian ini diharapkan keaktifan belajar peserta didik di
kelas meningkat.
2. Membantu memudahakan peserta didik dalam mengatasi berbagai kendala
dalam belajar sehingga akhirnya dapat meningkatkan keaktifan dan hasil
belajarnya.
3. Membantu memudahkan pemahaman peserta didik kelas terhadap berbagai
materi yang diajarkan dalam pelajaran biologi.
b. Bagi Guru
1. Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan para guru
agar dapat menerapkan metode kerja kelompok sebagai usaha meningkatkan
hasil belajar peserta didik.
2. Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan dalam merencanakan dan
melaksanakan pembelajaran biologi dengan penerapan model pembelajaran
discovery learning.
3. Hasil penelitian dapat dijadikan sebagai alternatif dalam memilih model
pembelajaran guna meningkatkan aktivitas dan hasil belajar peserta didik
sekaligus perbaikan proses belajar mengajar.
c. Bagi Sekolah
Dapat dijadikan informasi bagi sekolah bahwa penerapan model
pembelajaran discovery learning merupakan salah satu upaya dalam
meningkatkan kualitas pembelajaran sekolah.
d. Bagi Peneliti
Sebagai calon guru diharapkan agar hasil penelitian ini dapat memperkaya dan
menambah wawasan mengenai model-model pembelajaran yang dapat digunakan
sebagai acuan dalam mengajar.

E. Hipotesis Tindakan
Jika model pembelajaran discovery learning dilaksanakan dengan benar, maka hasil
belajar peserta didik pada materi ruang lingkup biologi kelas X.C SMAN 2 Kediri tahun
Pelajaran 2016/2017 akan meningkat.

F. Ruang Lingkup
Berdasarkan latar belakang di atas, dalam penelitian ini akan dibahas masalah upaya
meningkatkan hasil belajar peserta didik melalui penerapan model pembelajaran discovery
learning dalam penelitian ini indiktor untuk melihat peningkatan hasil belajar siswa dalam
proses pembelajaran selama menggunakan model pembelajaran discovery learning.

G. Batasan Masalah
1. Hasil belajar peserta didik yang dibatasi pada hasil belajar ranah kognitif.
2. Subjek penelitian ini adalah siwa kelas X.C SMA Negeri 2 Kediri tahun ajaran
2016/2017.
3. Materi yang digunakan adalah ruang lingkup biologi.

H. Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan penafsiran makna judul dalam penelitian ini, maka perlu
adanya penjelasan dari istilah-istilah tersebut. Istilah yang perlu peneliti jelaskan adalah
sebagai berikut:
1. Definisi atau Konsep
Model Discovery Learning adalah didefinisikan sebagai proses pembelajaran
yang terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi
diharapkan mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery
Learning can be defined as the learning that takes place when the student is not
presented with subject matter in the final form, but rather is required to organize it
him self” (Lefancois dalam Emetembun, 1986:103). Ide dasar Bruner ialah pendapat
dari Piaget yang menyatakan bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.
Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan,
melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih,
2005:43). Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses
mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan
melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses
tersebut disebut cognitive process sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental
process of assimilatig conceps and principles in the mind (Robert B. Sund dalam
Malik, 2001:219).
2. Hasil Belajar
Hasil belajar adalah prestasi belajar yang dicapai siswa dalam proses kegiatan
belajar mengajar dengan membawa suatu perubahan dan pembentukan tingkah laku
seseorang. Untuk menyatakan bahwa suatu proses belajar dapat dikatakan berhasil,
setiap guru memiliki pandangan masing-masing sejalan dengan filsafatnya. Namun
untuk menyamakan persepsi sebaiknya kita berpedoman pada kurikulum yang berlaku
saat ini yang telah disempurnakan, antara lain bahwa suatu proses belajar mengajar
tentang suatu bahan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila tujuan pembelajaran
khususnya dapat dicapai.
Belajar terjadi bila ada hasilnya yang dapat diperlihatkan. Bila kita
mengajarkan sesuatu, maka siswa harus dapat mengingat dan menjawab bila ia ditanya
tentang itu, walaupun dalam jangka waktu yang pendek sekali setelah diajarkan. Jadi,
belajar terjadi hanya dapat diketahui bila ada sesuatu yang diingat dari apa yang
dipelajari itu. Suatu fakta yang dipelajari harus dapat diingat dengan baik segera
setelah diajarkan. Akan tetapi dalam jangka waktu tertentu dapat terjadi perubahan,
karena yang diingat itu dapat dilupakan sebagian atau seluruhnya. Faktornya : jumlah
hal yang dipelajari dalam waktu tertentu, adanya kegiatan-kegiatan lain sesudah
belajar yang merupakan “interference” yang mengganggu apa yang diingat itu, waktu
yang lewat setelah berlangsungnya belajar itu, yang juga dapat mengandung kegiatan
yang mengganggu (Nasution, 2005:141-142).
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Hakekat Pembelajaran Biologi


Pembelajaran adalah kegiatan yang bertujuan membelajarkan siswa. Pembelajaran
diartikan sebagai suatu konsep yang bisa berkembang seirama dengan tuntutan kebutuhan
hasil pendidikan yang berkaitan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
melekat pada wujud pengembangan kualitas sumber daya manusia. Pembelajaran
merupakan kemampuan dalam mengelola secara operasional dan efisien terhadap
komponen-komponen yang berkaitan dengan pembelajaran, sehingga menghasilkan nilai
tambah terhadap komponen tersebut menurut standar yang berlaku. Komponen yang
berkaitan dengan sekolah dalam rangka peningkatan kualitas pembelajaran antara lain
adalah pembelajar, peserta didik, pembina sekolah sarana/prasarana, dan proses
pembelajaran (Yamin, 2013).
Dick mendefinisikan pembelajaran sebagai intervensi pendidikan yang dilaksanakan
dengan tujuan tertentu, bahan atau prosedur yang ditargetkan pada pencapaian tujuan
tersebut, dan pengukuran yang menentukan perubahan yang diingikan pada perilaku
(Yamin, 2013). Jadi, pembelajaran berorientasi pada bagaimana membuat pembelajar
mengalami proses belajar, yaitu cara-cara yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang
berkaitan dengan cara pengorganisasian materi, cara penyampaian pelajaran, dan cara
mengelola pembelajaran.
Biologi berasal dari bahasa Yunani, yakni kata “bio” yang artinya hidup, dan “logos”
yang artinya ilmu. Jadi, biologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang makhluk hidup.
Menurut Permen 22 Tahun 2006 tentang standar isi, biologi sebagai salah satu bidang IPA
menyediakan berbagai pengalaman belajar untuk memahami konsep dan proses sains.
Keterampilan proses ini meliputi keterampilan mengamati, mengajukan hipotesis,
menggunakan alat dan bahan secara baik dan benar dengan selalu mempertimbangkan
keamanan dan keselamatan kerja, mengajukan pertanyaan, menggolongkan dan menafsirkan
data, serta mengkomunikasikan hasil temuan secara lisan atau tertulis, menggali dan
memilah informasi faktual yang relevan untuk menguji gagasan-gagasan atau memecahkan
masalah sehari-hari. Mata pelajaran biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir
analitis, induktif, dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan
peristiwa alam sekitar. Penyelesaian masalah yang bersifat kualitatif dan kuantitatif
dilakukan dengan menggunakan pemahaman dalam bidang matematika, fisika, kimia dan
pengetahuan pendukung lainnya(Nasution, 2005)
Pembelajaran biologi merupakan upaya membelajarkan siswa dengan tujuan
terjadinya perubahan sikap kearah yang lebih baik dan mengembangkan kemampuan
berpikir kritis siswa dengan menggunakan prinsip dasar biologi dalam berinteraksi antar
sesama makhluk hidup dan lingkungannya serta meningkatkan kesadaran dan berperan serta
dalam menjaga kelestarian alam.

B. Penelitian Relevan
Penelitian relevan menunjukkan bahwa beberapa masalah yang dapat diidentifikasi
yaitu: dalam proses pembelajaran guru cenderung masih menggunakan metode ceramah dan
diskusi di dalam kelas, pengadaan praktikum pada materi tertentu sudah cukup diterapkan
tetapi pada materi pokok ekosistem jarang dilakukan dalam proses pembelajaran, selain itu
meteri biologi yang kurang menekankan pada penemuan sendiri sehingga siswa kurang aktif
dalam proses pembelajaran, kemuadian siswa juga menganggap pelajaran biologi adalah
pelajaran menghafal yang membosankan dan menyebabkan keaktifan siswa dalam
pembelajaran biologi belum tercapai, dimana hal ini dibuktikan dengan rendahnya hasil
belajar biologi siswa di MAN Yogyakarta II yang tidak mencapai kriteria ketuntasan
minimal (KKM) yaitu hanya mencapai 52.00. berdasarkan masalah yang diidentifikasi maka
pembatasan masalah yang digunakan adalah subjek penelitiannya terdapat pada 3 kelas yaitu
X MIA 1 dengan perlakuan 1, X MIA 3 dengan perlakuan 2dan X MIA 2 sebagai kelas
kontrol, materi yang digunakan adalah materi biologi ekosistem dan hasil belajarnya terbatas
pada aspek pengetahuan (kognitif) menurut taksonomi Bloom yang dibatasi pada ranah C1
sampai C4.
Permasalahan dalam penelitian ini berdasarkan identifikasi masalah dan pembatasan
masalah dapat ditentukan yaitu: apakah model pembelajaran (discovery lerning desertai
metode praktikum, discovery learning dan konvensional) pada materi ekosistem
berpengaruh terhadap keaktifan siswa kelas X MAN Yogyakarta II dan apakah model
pembelajaran (discovery lerning desertai metode praktikum, discovery learning dan
konvensional) berpengaruh terhadap hasil belajar aspek kognirif siswa kelas X MAN
Yogyakarta II. Sehingga tujuan yang didapatkan adalah mengetahui model pembelajaran
(discovery lerning desertai metode praktikum, discovery learning dan konvensional) pada
materi ekosistem berpengaruh terhadap keaktifan siswa kelas X MAN Yogyakarta II, dan
mengetahui model pembelajaran (discovery lerning desertai metode praktikum, discovery
learning dan konvensional) berpengaruh terhadap hasil belajar aspek kognirif siswa kelas X
MAN Yogyakarta II. Hasil penelitian relevan ini menunjukkan bahwa model pembelajaran
(discovery lerning desertai metode praktikum, discovery learning dan konvensional) pada
materi ekosistem berpengaruh terhadap keaktifan siswa kelas X MAN Yogyakarta II. Hasil
pengujian hipotesis ini menunjukkan nilai signifikan yang dihasilkan sebesar 0,000 yang
berarti signifikan < 0,05, maka H0 ditolak dan Ha diterima, artinya ketiga kelas tersebut
berbeda secara signifikan. Hasil uji Tukey menunjukkan a) model discovery learnig disertai
metode praktikum berpengaruh daripada pembelajaran konvensioal terhadap keaktifan
siswa, b) model discovery learning disertai metode praktikum berpengaruh daripada model
discovery learning terhadap keaktifan siswa, c) model pembelajaran discovery learning tidak
berpengaruh dari pada model pembelajaran konvensional terhadap keaktifan siswa. Hasil
yang lain adalah model pembelajaran (discovery lerning desertai metode praktikum,
discovery learning dan konvensional) pada materi ekosistem tidak berpengaruh terhadap
hasil belajar aspek kognitif siswa kelas X MAN Yogyakarta II. Hasil pengujian hipotesis ini
menunjukkan bahwa nilai signifikan 0,330 > 0,05 (taraf signifikan (α 5%), maka H0 diterima
dan Ha ditolak, artinya ketiga kelas tersebut tidak berbeda secara signifikan. Kemudian
dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning disertai praktikum lebih
mempersiapkan secara matang, terkait alokasi waktu untuk masing-masing tahapan dan juga
dengan penggunaan model ini disertai metode praktikum sebaiknya guru lebih kreatif dalam
menumbuhkan keaktifa siswa dalam bertanya, mengamati, observasi dan menemukan suatu
konsep dalam proses pembelajaran serta adanya pengkondisian awal pada saat pembentukan
kelompok untuk mengurangi kegaduhan kelas dan efisiensi waktu.

C. Model Pembelajaran Kooperatif


1. Pengertian Pembelajaran kooperatif
Pembelajaran kooperatif Adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada
penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi
belajar untuk mencapai tujuan belajar. Pada dasarnya manusia mempunyai perbedaan,
dengan perbedaan itu manusia saling asah, asih, asuh (saling mencerdaskan). Dengan
pembelajaran kooperatif diharapkan saling menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh
sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya terpaku
belajar pada guru, tetapi dengan sesama siswa juga. Pembelajaran kooperatif adalah
pembelajaran yang secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh
untuk menghindari ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan
permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.

2. Ciri-ciri pembelajaran kooperatif


Didalam pembelajaran kooperatif terdapat elemen-elemen yang berkaitan.
Menurut Lie (2004):
a) Saling ketergantungan positif
Dalam pembelajaran kooperatif, guru menciptakan suasana yang
mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan atau yang biasa disebut dengan
saling ketergantungan positif yang dapat dicapai melalui: saling ketergantungan
mencapai tujuan, saling ketergantungan menyelesaikan tugas, saling
ketergantungan bahan atau sumber, saling ketergantungan peran, saling
ketergantungan hadiah.
b) Interaksi tatap muka
Dengan hal ini dapat memaksa siswa saling bertatap muka sehingga mereka
akan berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru tetapi dengan teman
sebaya juga karena biasanya siswa akan lebih luwes, lebih mudah belajarnya
dengan teman sebaya.
c) Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok.
Penilaian ditunjukkan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi
pelajaran secara individual. Hasil penilaian ini selanjutnya disampaikan oleh guru
kepada kelompok agar semua kelompok mengetahui siapa kelompok yang
memerlukan bantuan dan siapa yang dapat memberikan bantuan,maksudnya yang
dapat mengajarkan kepada temannya. Nilai kelompok tersebut harus didasarkan
pada rata-rata, karena itu anggota kelompok harus memberikan kontribusi untuk
kelompnya. Intinya yang dimaksud dengan akuntabilitas individual adalah
penilaian kelompok yang didasarkan pada rata-rata penguasaan semua anggota
secara individual.
d) Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial dalam menjalin hubungan antar siswa harus diajarkan. Siswa
yang tidak dapat menjalin hubungan antar pribadi akan memperoleh teguran dari
guru juga siswa lainnya.
Tujuan Pembelajaran Kooperatif
Adapun tujuan pembelajaran kooperatif yaitu :
a) Meningkatkan hasil belajar akademik
Meskipun pembelajaran kooperatif meliputi berbagai macam
tujuan social, tetapi juga bertujuan untuk meningkatkan kinerja siswa
dalam tugas – tugas akademik. Beberapa ahli berpendapat bahwa model ini
unggul dalam membantu siswa memahami konsep – konsep yang sulit.
b) Penerimaan terhadap keragaman
Pembelajaran kooperatif memberi peluang kepada siswa yang
berbada latar belakang dan kondisi untuk bekerja saling bergantung satu
sama lain atas tugas – tugas bersama.
c) Pengembangan keterampilan social
Mengajarkan kepada siswa keterampilan kerjasama dan kolaborasi
untuk saling berinteraksi dengan teman yang lain.

3. Unsur-unsur dalam pembelajaran cooperative


Lungdren dalam Isjoni (2009: 16) mengemukakan unsur-unsur dalam
pembelajaran kooperatif sebagai berikut:
 para siswa harus memiliki persepsi sama
 para siswa harus memiliki tanggung jawab terhadap siswa lain dalam
kelompoknya, selain tanggung jawab terhadap diri sendiri dalam mempelajari
materi yang dihadapi;
 para siswa harus berpendapat bahwa mereka semua memiliki tujuan yang sama;
 para siswa membagi tugas dan berbagi tanggung jawab di antara para anggota
kelompok;
 para siswa diberikan satu evaluasi atau penghargaan yang akan ikut berpengaruh
terhadap evaluasi kelompok;
 para siswa berbagi kepemimpinan sementara mereka memperoleh keterampilan
bekerja sama selama belajar;
 setiap siswa akan diminta mempertanggung jawabkan secara individual materi
yang ditangani dalam kelompok kooperatif.

Roger dan David (Agus Suprijono, 2009: 58) mengatakan bahwa tidak semua
belajar kelompok bisa dianggap pembelajaran kooperatif. Untuk mencapai hasil yang
maksimal, terdapat lima unsur dalam model pembelajaran kooperatif yang harus
diterapkan. Lima unsur tersebut adalah sebagai berikut:
1) Positive interdependence (saling ketergantungan positif)

Unsur ini menunjukkan bahwa dalam pembelajaran kooperatif ada dua


pertanggungjawaban kelompok. Pertama, mempelajari bahan yang ditugaskan
kepada kelompok. Kedua, menjamin semua anggota kelompok secara individu
mempelajari bahan yang ditugaskan tersebut.
2) Personal responsibility (tanggung jawab perseorangan)

Pertanggungjawaban ini muncul jika dilakukan pengukuran terhadap keberhasilan


kelompok. Tujuan pembelajaran kooperatif adalah membentuk semua anggota
kelompok menjadi pribadi yang kuat. Tanggungjawab perseorangan adalah kunci
untuk menjamin semua anggota yang diperkuat oleh kegiatan belajar bersama.
Artinya, setelah mengikuti kelompok belajar bersama, anggota kelompok harus
dapat menyelesaikan tugas yang sama.
3) Face to face promotive interaction (interaksi promotif)
Unsur ini penting karena dapat menghasilkan saling ketergantungan positif. Ciri-
ciri interaksi promotif adalah saling membantu secara efektif dan efisien, saling
memberikan informasi dan sarana yang diperlukan, memproses informasi bersama
secara lebih efektif dan efisien, saling mengingatkan, saling membantu dalam
merumuskan dan mengembangkan argumentasi serta meningkatkan kemampuan
wawasan terhadap masalah yang dihadapi, saling percaya, dan saling memotivasi
untuk memperoleh keberhasilan bersama.
4) Interpersonal skill (komunikasi antaranggota)

Untuk mengkoordinasikan kegiatan siswa dalam pencapaian tujuan siswa harus


saling mengenal dan mempercayai, mampu berkomunikasi secara akurat dan
tidak ambisius, saling menerima dan saling mendukung, serta mampu
menyelesaikan konflik secara konstruktif.
5) Group processing (pemrosesan kelompok)

Pemrosesan mengandung arti menilai. Melalui pemrosesan kelompok dapat


diidentifikasi dari urutan atau tahapan kegiatan kelompok dan kegiatan dari anggota
kelompok. Siapa di antara anggota kelompok yang sangat membantu dan siapa
yang tidak membantu. Tujuan pemrosesan kelompok adalah meningkatkan
efektivitas anggota dalam memberikan kontribusi terhadap kegiatan kolaboratif
untuk mencapai tujuan kelompok. Ada dua tingkat pemrosesan yaitu kelompok
kecil dan kelas secara keseluruhan.

D. Model Pembelajaran Discovery Learning


Model Discovery Learning adalah didefinisikan sebagai proses pembelajaran yang
terjadi bila pelajar tidak disajikan dengan pelajaran dalam bentuk finalnya, tetapi diharapkan
mengorganisasi sendiri. Sebagaimana pendapat Bruner, bahwa: “Discovery Learning can be
defined as the learning that takes place when the student is not presented with subject matter
in the final form, but rather is required to organize it him self” (Lefancois dalam
Emetembun, 1986:103). Ide dasar Bruner ialah pendapat dari Piaget yang menyatakan
bahwa anak harus berperan aktif dalam belajar di kelas.
Model Discovery Learning adalah memahami konsep, arti, dan hubungan, melalui
proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan (Budiningsih, 2005:43).
Discovery terjadi bila individu terlibat, terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk
menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi,
klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferi. Proses tersebut disebut cognitive
process sedangkan Discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilatig conceps
and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001:219).
Discovery Learning mempunyai prinsip yang sama dengan inkuiri (inquiry). Tidak
ada perbedaan yang prinsipil pada kedua istilah ini, pada Discovery Learning lebih
menekankan pada ditemukannya konsep atau prinsip yang sebelumnya tidak diketahui.
Perbedaannya dengan Discovery ialah bahwa pada Discovery masalah yang diperhadapkan
kepada siswa semacam masalah yang direkayasa oleh guru, sedangkan pada inkuiri
masalahnya bukan hasil rekayasa, sehingga siswa harus mengerahkan seluruh pikiran dan
keterampilannya untuk mendapatkan temuan-temuan di dalam masalah itu melalui proses
penelitian.
Di dalam proses belajar, Bruner mementingkan partisipasi aktif dari tiap siswa, dan
mengenal dengan baik adanya perbedaan kemampuan. Untuk menunjang proses belajar
perlu lingkungan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa pada tahap eksplorasi. Lingkungan ini
dinamakan Discovery Learning Environment, yaitu lingkungan dimana siswa dapat
melakukan eksplorasi, penemuan-penemuan baru yang belum dikenal atau pengertian yang
mirip dengan yang sudah diketahui. Lingkungan seperti ini bertujuan agar siswa dalam
proses belajar dapat berjalan dengan baik dan lebih kreatif. Untuk memfasilitasi proses
belajar yang baik dan kreatif harus berdasarkan pada manipulasi bahan pelajaran sesuai
dengan tingkat perkembangan kognitif siswa. Manipulasi bahan pelajaran bertujuan untuk
memfasilitasi kemampuan siswa dalam berpikir (merepresentasikan apa yang dipahami)
sesuai dengan tingkat perkembangannya (Sanjaya, 2010).
Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang
ditentukan oleh bagaimana cara lingkungan, yaitu: enactive, iconic, dan symbolic. Tahap
enaktive, seseorang melakukan aktivitas-aktivitas dalam upaya untuk memahami lingkungan
sekitarnya, artinya, dalam memahami dunia sekitarnya anak menggunakan pengetahuan
motorik, misalnya melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainya. Tahap iconic,
seseorang memahami objek-objek atau dunianya melalui gambar-gambar dan visualisasi
verbal. Maksudnya, dalam memahami dunia sekitarnya anak belajar melalui bentuk
perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi). Tahap symbolic, seseorang telah
mampu memiliki ide-ide atau gagasan-gagasan abstrak yang sangat dipengaruhi oleh
kemampuannya dalam berbahasa dan logika. Dalam memahami dunia sekitarnya anak
belajar melalui simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.
Komunikasinya dilakukan dengan menggunakan banyak simbol. Semakin matang
seseorang dalam proses berpikirnya, semakin dominan sistem simbolnya. Secara sederhana
teori perkembangan dalam fase enactive, iconic dan symbolic adalah anak menjelaskan
sesuatu melalui perbuatan (ia bergeser ke depan atau kebelakang di papan mainan untuk
menyesuaikan beratnya dengan berat temannya bermain) ini fase enactive. Kemudian pada
fase iconic ia menjelaskan keseimbangan pada gambar atau bagan dan akhirnya ia
menggunakan bahasa untuk menjelaskan prinsip keseimbangan ini fase symbolic (Sanjaya,
85:2009).
Dalam mengaplikasikan metode Discovery Learning guru berperan sebagai
pembimbing dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar secara aktif,
sebagaimana pendapat guru harus dapat membimbing dan mengarahkan kegiatan belajar
siswa sesuai dengan tujuan (Sardiman, 2005:145). Kondisi seperti ini ingin merubah
kegiatan belajar mengajar yang teacher oriented menjadi student oriented. Dalam metode
Discovery Learning bahan ajar tidak disajikan dalam bentuk akhir, siswa dituntut untuk
melakukan berbagai kegiatan menghimpun informasi, membandingkan, mengkategorikan,
menganalisis, mengintegrasikan, mereorganisasikan bahan serta membuat kesimpulan.
a. Fakta Empirik Keberhasilan Pendekatan dalam Proses dan Hasil Pembelajaran.
Berdasarkan fakta dan hasil pengamatan, penerapan pendekatan Discovery
Learning dalam pembelajaran memiliki kelebihan-kelebihan dan kelemahan-kelemahan,
antara lain :
1) Kelebihan Penerapan Discovery Learning.
a. Membantu siswa untuk memperbaiki dan meningkatkan keterampilan-
keterampilan dan proses-proses kognitif. Usaha penemuan merupakan kunci
dalam proses ini, seseorang tergantung bagaimana cara belajarnya.
b. Pengetahuan yang diperoleh melalui model ini sangat pribadi dan ampuh
karena menguatkan pengertian, ingatan dan transfer.
c. Menimbulkan rasa senang pada siswa, karena tumbuhnya rasa menyelidiki dan
berhasil.
d. Model ini memungkinkan siswa berkembang dengan cepat dan sesuai dengan
kecepatannya sendiri.
e. Menyebabkan siswa mengarahkan kegiatan belajarnya sendiri dengan
melibatkan akalnya dan motivasi sendiri.
f. Membantu siswa memperkuat konsep dirinya, karena memperoleh kepercayaan
bekerja sama dengan yang lainnya.
g. Berpusat pada siswa dan guru berperan sama-sama aktif mengeluarkan
gagasan-gagasan. Bahkan gurupun dapat bertindak sebagai siswa, dan sebagai
peneliti di dalam situasi diskusi.
h. Membantu siswa menghilangkan skeptisme (keragu-raguan) karena mengarah
padakebenaran yang final dan tertentu atau pasti.
i. Siswa akan mengerti konsep dasar dan ide-ide lebih baik.
j. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer kepada situasi proses
belajar yang baru.
k. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas inisiatif sendiri.
l. Mendorong siswa berpikir intuisi dan merumuskan hipotesis sendiri.
m. Memberikan keputusan yang bersifat intrinsik.
n. Situasi proses belajar menjadi lebih terangsang.
o. Proses belajar meliputi sesama aspeknya siswa menuju pada pembentukan
manusia seutuhnya.
p. Meningkatkan tingkat penghargaan pada siswa.
q. Kemungkinan siswa belajar dengan memanfaatkan berbagai jenis sumber
belajar.
r. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
2) Kelemahan Penerapan Discovery Learning.
a. Menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk belajar. Bagi siswa
yang kurang pandai, akan mengalami kesulitan abstrak atau berpikir atau
mengungkapkan hubungan antara konsep-konsep, yang tertulis atau lisan,
sehingga pada gilirannya akan menimbulkan frustasi.
b. Tidak efisien untuk mengajar jumlah siswa yang banyak, karena membutuhkan
waktu yang lama untuk membantu mereka menemukan teori atau pemecahan
masalah lainnya.
c. Harapan-harapan yang terkandung dalam model ini dapat buyar berhadapan
dengan siswa dan guru yang telah terbiasa dengan cara-cara belajar yang lama.
d. Pengajaran Discovery lebih cocok untuk mengembangkan pemahaman,
sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan dan emosi secara
keseluruhan kurang mendapat perhatian.
e. Pada beberapa disiplin ilmu, misalnya IPA kurang fasilitas untuk mengukur
gagasan yang dikemukakan oleh para siswa
f. Tidak menyediakan kesempatan-kesempatan untuk berpikir yang akan
ditemukan oleh siswa karena telah dipilih terlebih dahulu oleh guru.

b. Langkah-langkah Operasional Implementasi dalam Proses Pembelajaran.


Menurut Syah (2004:244) dalam mengaplikasikan Discovery Learning di
kelas,ada beberapa prosedur yang harus dilaksanakan dalam kegiatan belajar mengajar
secara umum antara lain sebagai berikut :
1) Stimulation (Stimulasi/Pemberian Rangsangan)
Pertama-tama pada tahap ini siswa dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan
tanda tanya, kemudian dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul
keinginan untuk menyelidiki sendiri. Di samping itu guru dapat memulai kegiatan
PBM dengan mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas
belajar lainnya yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah.
2) Problem Statement (Pernyataan/Identifikasi Masalah)
Setelah dilakukan stimulasi langkah selanjutya adalah guru memberi kesempatan
kepada siswa untuk mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda-agenda masalah
yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan
dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan masalah)
(Syah 2004:244). Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan
dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban
sementara atas pertanyaan yang diajukan. Memberikan kesempatan siswa untuk
mengidentifikasi dan menganalisis permasalahan yang mereka hadapi, merupakan
teknik yang berguna dalam membangun siswa agar mereka terbiasa untuk
menemukan suatu masalah.
3) Data Collection (Pengumpulan Data)
Ketika eksplorasi berlangsung guru juga memberi kesempatan kepada para siswa
untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis (Syah, 2004:244). Pada tahap ini
berfungsi untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya
hipotesis.
Dengan demikian siswa diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek, wawancara
dengan narasumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya. Konsekuensi dari
tahap ini adalah siswa belajar secara aktif untuk menemukan sesuatu yang
berhubungan dengan permasalahan yang dihadapi, dengan demikian secara tidak
disengaja siswa menghubungkan masalah dengan pengetahuan yang telah
dimiliki.
4) Data Processing (Pengolahan Data)
Semua informasi hasil bacaan, wawancara, observasi, dan sebagainya, semuanya
diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan cara
tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu (Djamarah, 2002:22).
Data processing disebut juga dengan pengkodean/kategorisasi yang berfungsi
sebagai pembentukan konsep dan generalisasi. Dari generalisasi tersebut siswa
akan mendapatkan pengetahuan baru tentang alternatif jawaban/ penyelesaian
yang perlu mendapat pembuktian secara logis.
5) Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini siswa melakukan pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan
benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan alternatif,
dihubungkan dengan hasil data processing (Syah, 2004:244). Verification menurut
Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep,
teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya.
Berdasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan
atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah
terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.
6) Generalization (Menarik Kesimpulan/Generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan adalah proses menarik sebuah
kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan berlaku untuk semua kejadian
atau masalah yang sama, dengan memperhatikan hasil verifikasi (Syah,
2004:244). Berdasarkan hasil verifikasi maka dirumuskan prinsip-prinsip yang
mendasari generalisasi. Setelah menarik kesimpulan siswa harus memperhatikan
proses generalisasi yang menekankan pentingnya penguasaan pelajaran atas
makna dan kaidah atau prinsip-prinsip yang luas yang mendasari pengalaman
seseorang, serta pentingnya proses pengaturan dan generalisasi dari pengalaman-
pengalaman itu.

E. Hasil Belajar
Menurut Catharina Tri Anni (2002:4) hasil belajar merupakan perubahan perilaku
yang diperoleh pembelajar setelah mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar juga
merupakan kemampuan yang diperoleh siswa setelah melalui kegiatan belajar (H. Nashar,
2004: 77). Hasil belajar adalah terjadinya perubahan dari hasil masukan pribadi berupa
motivasi dan harapan untuk berhasil dan masukan dari lingkungan berupa rancangandan
pengelolaan motivasional tidak berpengaruh terdadap besarnya usaha yang dicurahkan oleh
siswa untuk mencapai tujuan belajar (Keller dalam H Nashar, 2004: 77). Seseorang dapat
dikatakan telah belajar sesuatu apabila dalam dirinya telah terjadi suatu perubahan, akan
tetapi tidak semua perubahan yang terjadi. Jadi hasil belajar merupakan pencapaiantujuan
belajar dan hasil belajar sebagai produk dari proses belajar, maka didapat hasil belajar.
Hasil belajar adalah perolehan siswa setelah mengikuti proses belajar dan
perolehan tersebut meliputi tiga bidang kemampuan, yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor
(Bloom, 1974). Hasil belajar memiliki ciri:
1. Tingkah laku baru berupa kemampuan yang aktual,
2. Kemampuan baru tersebut berlaku dalam waktu yang lama, dan
3. Kemampuan baru tersebut diperolehmelalui suatu peristiwa belajar (Snelbecker, 1974).
Perbuatan dan hasil belajar itu dapat dimanifestasikan dalam wujud (1) pertambahan
materi pengetahuan yang berupa fakta; informasi, prinsip atau hukum atau kaidah prosedur
atau pola kerja atau teori sistem nilai-nilai dan sebagainya, (2) penguasaan pola-pola
perilaku kognitif (pengamatan) proses berpikir; mengingat atau mengenal kembali, perilaku
afektif (sikap-sikap apresiasi, penghayatan, dan sebagainya); perilaku psikomotorik
(keterampilan-keterampilan psikomotorik termasuk yang bersifat ekspresif), dan (3)
perubahan dalam sifatsifat kepribadian baik yang tangible maupun intangible(Syamsudin,
2001).
Hasil belajar dapat dilihat dari terjadinya perubahan hasil masukan pribadi berupa
motivasi dan harapan untuk berhasil (Keller dalam H Nashar, 2004:77). Masukan itu berupa
rancangan dan pengelolaan motivasional yang tidak berpengaruh langsung terhadap
besarnya usaha yang dicurahkan oleh siswa untuk mencapai tujuan belajar. Perubahan itu
terjadi pada seseorang dalam disposisi atau kecakapan manusia yang berupa penguasaan
ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh melalui usaha yang sungguh – sungguh
dilakukan dalam satu waktu tertentu atau dalam waktu yang relatif lama. Hasil belajar yang
diharapkan biasanya berupa prestasi belajar yang baik atau optimal. Namun dalam
pencapaian hasil belajar yang baik masih saja mengalami kesulitan dan prestasi yang didapat
belum dapat dicapai secara optimal. Dalam peningkatan hasil belajar siswa dipengaruhi oleh
banyak faktor, salah satunya yakni motivasi untuk belajar.

F. Ranah Kognitif
Pada dasarnya Kognitif adalah kemampuan intelektual siswa dalam berpikir,
menegtahui dan memecahkan masalah. Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut
aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif berhubungan dengan
kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami,
mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi Dalam ranah
kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah
sampai dengan jenjang yang paling tinggi.
1. Pengetahuan (Knowledge) Adalah kemampuan seseorang untuk mengingat-ingat
kembali (recall) atau mengenali kembali tentang nama, istilah, ide, rumus-rumus, dan
sebagainya, tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunkannya. Pengetahuan atau
ingatan di sebut sebagai proses berfikir yang paling rendah.
2. Pemahaman (Comprehension) Adalah kemampuan untuk mengerti atau memahami
sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat. Dengan kata lain, memahami adalah
mengetahui tentang sesuatu dan dapat melihatnya dari berbagai segi. Seseorang peserta
didik dikatakan memahami sesuatu apabila ia dapat memberikan penjelasan atau
memberi uraian yang lebih rinci tentang hal itu dengan menggunakan kata-katanya
sendiri.
3. Aplikasi, yakni penerapan didasarkan atas realita yang ada di masyarakat atau realita
yang ada dalam teks bacaan.
4. Analisis, yaitu usaha memilah suatu integritas menjadi unsur-unsur atau bagian-bagian
sehingga jelas hierarkinya dan atau susunannya.
5. Sintesis, yakni kemampuan menemukan hubungan yang unik, kemampuan menyusun
rencana atau langkah-langkah operasi dari suatu tugas atau problem yang ditengahkan,
kemampuan mengabstraksikan sejumlah besar gejala, data, dan hasil observasi menjadi
terarah.
6. Evaluasi, yaitu pemberian keputusan tentang nilai sesuatu yang mungkin dilihat dari
segi tujuan, gagasan, cara bekerja, pemecahan masalah, metode, materil, dll.
G. Konsep Pemikiran

Kondisi Saat ini Tindakan Tujuan atau Hasil

 Belum ditemukan  Penjelasan pembelajaran  Guru mampu


strategi yang tepat discovery learning melaksanak model
 Rendahnya hasil  Pelatihan model pembelajaran
belajar discovery learning discovery learning
 Simulasi model  Hasil belajar peserta
pembelajaran discovery didik meningkat
learning
 Melaksanakan model
discovery learning di
kelas

Diskusi Penerapan model


pemecahan discovery learning
masalah

Evaluasi awal Evaluasi akhir


Evaluasi efek
BAB III
METODE PENELITIAN

A. Latar dan Subjek Penelitian


Tempat penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Kediri Kelas X.C. Penelitian ini
melibatkan semua siswa kelas X.C SMA Negeri 2 Kediri. Ciri-ciri siswa yang dijadikan
responden yaitu sebagian besar siswa kurang memiliki motivasi dalam belajar, kebanyakan
siswa memiliki pemahaman yang kurang mendalam terhadap makna pembelajaran yang
diikutinya,selain itu banyak siswa yang gaduh dan ramai pada saat proses belajar sehingga
berpengaruh terhadap hasil belajarnya.

B. Rancangan Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas karena dikelas X.C SMA Negeri 2
Kediri terdapat permasalahan yaitu sebagian besar siswa yang mengikuti mata pelajaran
biologi kurang memiliki motivasi dalam kegiatan pembelajaran sehingga berpengaruh
terhadap hasil belajar dikelas. Oleh karena itu perlu diadakan penelitian tindakan kelas untuk
menyelesaikan permasalahan tersebut dengan menerapkan model pembelajaran Discovery
learning untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas X.C SMA Negeri 2 Kediri pada
materi pokok ruang lingkup biologi.

C. Perencanaan Penelitian
Penelitian ini direncanakan akan dilaksanakan dalam 2 siklus. Siklus pertama
dilaksanakan pada minggu pertama bulan September, dan siklus ke dua dilaksanakan pada
minggu kedua bulan September. Adapun skema penelitian sebagai berikut :

Siklus I Siklus II

1. Tahap Perencanaan 4. Tahap Perencanaan


tindakan tindakan
2. Tahap Pelaksanaan 5. Tahap Pelaksanaan
tindakan dan tindakan dan
observasi observasi
3. Refleksi 6. Refleksi
Skema Proses Penelitian

D. Prosedur Pelaksanaan Tindakan dan Pengamatan


Siklus I :
 Perencanaan :
1. Membuat surat permohonan melakuan penelitian disekolah
2. Mengecek surat di bagian ruang tata usaha
3. Menghubungi wakasek kurikulum
4. Menghubungi guru mata pelajaran
5. Diskusi dan menentukan kelas subyek penelitian
6. Wawancara dengan gurru mata pelajaran
7. Menyiapkan rencana pembelajaran
8. Menentukan fokus observasi dan aspek-aspek yang diamati (lembar observasi)
9. Menentukan pelaku observasi (observer), alat bantu observasi, pedoman
observasi dan pelaksanaan observasi
10. Menentukan cara pelaksanaan dan pelaku refleksi
11. Menyusun instrumen penelitian
12. Menetapkan kriteria keberhasilan
 Pelaksanaan
Langkah-langkah pembelajaran Discover learning adalah sebagai berikut :
a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
Guru memberikan stimulasi, pertama-tama pada tahap ini peserta didik
dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan
mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya
yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini
berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat
mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
b. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi
masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih
dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan
masalah)
c. Data collection (Pengumpulan Data).
Ketika eksplorasi berlangsung guru memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk
menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan
demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek,
wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Guru membantu siswa dalam mengolah data dan informasi yang telah di
peroleh siswa baik melalui wawancara, observasi , dan sebagainya, semuanya
diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan
cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu
e. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan
alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing . Verification menurut
Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep,
teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya.
f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan peserta didik bersama dengan
guru menarik kesimpulan yang dapat diijadikan satu konsep baru dari hasil
pembuktian.

 Pengamatan
1. Guru mengamati setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa. Dimulai
memunculkan permasalahan pada awal pembelajaran hinggan pemecahan
masalah di akhir pelajar. Berikan penilaian untuk masing-masing siswa tentang
indikator motivasi dan keaktifan dan yang telah disiapkan.
2. Guru mengamati jalannya pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning. Melihat bagaimana siswa mampu
menemukan sendiri penyelesaian dari masalah yang diberikan pada awal
pembelajaran.
3. Guru mengamati jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning dan membimbing siswa yang mengalami
kesulitan.

 Refleksi
1. Secara kolaboratif guru dan observer menganalisis hasil pengamatan terhadap
proses pembelajaran dikelas. Selanjutnya bersama – sama membuat suatu
refleksi dan membuat kesimpulan sementara terhadap pelaksanaan siklus 1.
2. Mendiskusikan hasil analisis berdasarkan hasil indikator pengamatan,
3. Membuat suatu perbaikan tindakan atau rancanngan revisi berdasarkan hasil
analisis pencapaian indikator.
4. Apabila hasil penelitian siklus I kurang memuaskan maka akan dilanjutkan pada
penelitian siklus II sampai kegiatan penelitian dianggap telah berhasil mencapai
sasaran.

Siklus II :
 Perencanaan
1. Meninjau kembali rancangan pembelajaran yang disiapkan untuk siklus 2
dengan melakukan revisi terhadap hasil refleksi pada siklus 1.
2. Menyiapkan lembar kerja siswa.
 Pelaksanaan
a. Stimulation (stimulasi/pemberian rangsangan)
Guru memberikan stimulasi, pertama-tama pada tahap ini peserta didik
dihadapkan pada sesuatu yang menimbulkan kebingungannya, kemudian
dilanjutkan untuk tidak memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk
menyelidiki sendiri. Disamping itu guru dapat memulai kegiatan PBM dengan
mengajukan pertanyaan, anjuran membaca buku, dan aktivitas belajar lainnya
yang mengarah pada persiapan pemecahan masalah. Stimulasi pada tahap ini
berfungsi untuk menyediakan kondisi interaksi belajar yang dapat
mengembangkan dan membantu siswa dalam mengeksplorasi bahan.
b. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah
Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk mengidentifikasi
masalah yang relevan dengan bahan pelajaran, kemudian salah satunya dipilih
dan dirumuskan dalam bentuk hipotesis (jawaban sementara atas pertanyaan
masalah)
c. Data collection (Pengumpulan Data).
Ketika eksplorasi berlangsung guru memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya yang relevan untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis. Pada tahap ini berfungsi untuk
menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis, dengan
demikian anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan (collection)
berbagai informasi yang relevan, membaca literatur, mengamati objek,
wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri dan sebagainya.
d. Data Processing (Pengolahan Data)
Guru membantu siswa dalam mengolah data dan informasi yang telah di
peroleh siswa baik melalui wawancara, observasi , dan sebagainya, semuanya
diolah, diacak, diklasifikasikan, ditabulasi, bahkan bila perlu dihitung dengan
cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.
e. Verification (Pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara cermat untuk
membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang ditetapkan tadi dengan temuan
alternatif, dihubungkan dengan hasil data processing . Verification menurut
Bruner, bertujuan agar proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika
guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep,
teori, aturan atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia jumpai dalam
kehidupannya.
f. Generalization (menarik kesimpulan/generalisasi)
Tahap generalisasi/ menarik kesimpulan peserta didik bersama dengan
guru menarik kesimpulan yang dapat diijadikan satu konsep baru dari hasil
pembuktian.
.
 Pengamatan
1. Guru mengamati setiap kegiatan pembelajaran yang dilakukan siswa. Dimulai
memunculkan permasalahan pada awal pembelajaran hingga pemecahan
masalah di akhir pelajar. Berikan penilaian untuk masing-masing siswa tentang
indikator motivasi dan keaktifan dan yang telah disiapkan.
2. Guru mengamati jalannya pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning. Melihat bagaimana siswa mampu
menemukan sendiri penyelesaian dari masalah yang doberikan pada awal
pembelajaran.
3. Guru mengamati jalannya proses pembelajaran dengan menggunakan model
pembelajaran Discovery Learning dan membimbing siswa yang mengalami
kesulitan.
 Refleksi
1. Secara kolaboratif guru dan observer menganalisis hasil pengamatan terhadap
proses pembelajaran dikelas. Selanjutnya bersama – sama membuat suatu
refleksi dan membuat kesimpulan terhadap pelaksanaan siklus II.
2. Mendiskusikan hasil analisis berdasarkan hasil indikator pengamatan.

E. Instrumen Pengumpulan Data Penelitian


Instrumen yang digunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini berupa tes dan
pemberian lembar observasi. Tes hasil belajar digunakan untuk mengetahui mengukur
prestasi atau hasil belajar siswa. Sedangkan lembar observasi berfungsi untuk mengamati
aktivitas siswa dalam proses belajar-mengajar berlangsung. Dalam proses belajar mengajar
di kelas, peneliti melakukan proses observasi dengan mengisi lembar observasi setelah
dilakukannya proses pembelajaran menggunakan model Discovery Learning

1. Lembar Observasi Keaktifan Siswa

Jumlah
Kualitas
No. Keaktifan Belajar Siswa Siswa yang
Keaktifan
Aktif
Pengetahuan yang dipelajari dan didapatkan
A. --- ---
oleh siswa
1. Melakukan pengamatan atau penyelidikan --- ---
2. Diskusi dengan aktif --- ---
3. Membaca dengan aktif --- ---
4. Menjawab pertanyaan --- ---
5. Mengajukan pertanyaan dengan antusias --- ---
6. Menyimak dengan penuh perhatian --- ---
7. Mendengarkan dengan aktif --- ---
B. Siswa membangaun pemahaman mereka --- ---
dengan melakukan sesuatu untuk memahami
materi pelajaran
1. Berlatih --- ---
2. Berpikir kreatif --- ---
3. Berfikir inovatif
4. Berpikir kritis --- ---
Siswa mengkomunikasikan sendiri hasil
C. --- ---
pemikirannya
1. Mengemukakan pendapat --- ---
2. Menjelaskan --- ---
3. Berdiskusi --- ---
4. Bertanya bila kurang jelas --- ---
5. Menjawab pertanyaan sesuai kemampuannya --- ---
6. Mempresentasi laporan --- ---
7. Memajang hasil karya --- ---
D. Siswa berpikir reflektif --- ---
Mengomentari dan menyimpulkan proses
1. --- ---
pembelajaran
Memperbaiki kesalahan atau kekurangan dalam
2. --- ---
proses pembelajaran
Menyimpulkan materi pembelajaran dengan kata-
3. --- ---
katanya sendiri
4. Bertanggung jawab atas hasil yang didapatkan --- ---

 Banyak siswa :
Skor siswa 0 bila< 20% siswa yang aktif
Skor siswa 1 bila 20% sampai 40% siswa yang aktif
Skor siswa 3 bila 40% sampai 60% siswa yang aktif
Skor siswa 4 bila 60% sampai 80% siswa yang aktif
Skor siswa 5 bila 80% sampai 100% siswa yang aktif
 Kualitas : 1 = sangat kurang; 2 = kurang; 3 = cukup; 4 = baik; 5 = baik sekali
2. Lembar pedoman penilaian keaktifan siswa perindividu

No Nama Siswa Aspek penilaian (skor)


1 2 3 4 5 6 7 8 9 10
1
2
3
4
5
N

Keterangan:
1 =Minat / motivasi siswa dalam pembelajaran
2 =Aktif dalam memperhatikan penjelasan dari guru
3 =Mencatat penjelasan dari guru
4 =Mengerjakan tugas yang diberikan guru
5 =Memberikan masukan dalam pembelajaran
6 =Kemampuan memecahkan masalah
7 =Bekerjasama dengan kelompok
8 =Mengajukan pendapat dalam diskusi kelompok
9 =Memberikan tanggapan terhadap pendapat orang lain
10 =Mendengarkan pendapat anggota kelompoknya
Catatan : Skor diisi dengan angka 1 sampai 4 pada setiap aspek yang dilakukan oleh
siswa sesuai dengan kriteria penilaian.

3. Hasil belajar siswa


Hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan tingkat pemahaman kognitifnya yang
meliputi aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi dan evaluasi. Hasil kognitif siswa
ditentukan dari skor perolehan dari hasil pengerjaan soal test pada masing-masing siklus.
Menurut Riyanto (2001: 103) “Tes adalah serentetan atau latihan yang digunakan untuk
mengukur keterampilan, pengetahuan, sikap, intelegensi, kemampuan atau bakat yang
dimiliki oleh individu atau kelompok. Metode tes digunakan untuk mengetahui seberapa
besar penyerapan terhadap materi pelajaran.
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa instrumen soal test dalam
bentuk pilihan ganda dengan empat pilihan jawaban. Untuk setiap butir soal, jawaban
yang benar diberi skor 1 dan jawaban yang salah diberi skor 0. Selain tes pilihan ganda,
hasil belajar siswa juga diperoleh dari penilaian praktik. Penilaian praktek ini berupa
penilaian pada persiapan kerja, proses, hasil kerja, dan sikap kerja siswa. Bentuk tes yang
digunakan dalam penelitian ini adalah tes formatif. Tes ini diberikan pada saat pertemuan
terakhir.

F. Teknik Analisis Data


1. Analisis data hasil pengamatan keaktifan
Keaktifan belajar siswa diobservasi dengan lembar observasi keaktifan belajar
siswa yang berisi indikator keaktifan yang harus dicapai siswa. Penilaian pada
lembar observasi ini adalah dengan menentukan persentase keatifan setiap siswa.
Persentase keaktifan Siswa (PKS) diperoleh dengan rumus (Utami, 2011):

𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑡𝑒𝑟𝑝𝑒𝑛𝑢ℎ𝑖


𝑃𝐾𝑆 = × 100%
𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑖𝑛𝑑𝑖𝑘𝑎𝑡𝑜𝑟 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ𝑎𝑛
Selanjutnya data kuantitatif tersebut ditafsirkan dengan kalimat yang bersifat deskriptif.

2. Hasil belajar siswa


Hasil belajar siswa dianalisis berdasarkan tingkat pemahaman kognitifnya yang
meliputi aspek pengetahuan, pemahaman, aplikasi dan evaluasi. Hasil kognitif siswa
ditentukan dari skor perolehan dari hasil pengerjaan soal test pada masing-masing
siklus. Dalam penelitiantindakan kelas ini tes yang digunakan adalah bentuk pilihan
ganda. Perhitungan skor kognitif (SK) setiap siswa menggunakan rumus sebagai
berikut:

𝑆𝐾𝑂𝑅 𝐽𝐴𝑊𝐴𝐵𝐴𝑁 𝑆𝐼𝑆𝑊𝐴


𝑆𝐾 = × 100%
𝑆𝐾𝑂𝑅 𝑀𝐴𝐾𝑆𝐼𝑀𝑈𝑀
TABEL. KRITERA TINGKAT PENCAPAIAN HASIL BELAJAR

SKOR KOGNITIF KRITERIA


81 – 100 Sangat baik

61 – 80 Baik

41 – 60 Cukup baik

21 – 40 Kurang baik

00 – 20 Tidak baik

Kriteria keberhasilan penelitian ini adalah jika minimal 75% siswanya aktif,maka
siswa dikatakan aktif jika persentase keaktifan siswa 𝑃𝐾𝑆>50%. Selain itu jika rata-rata
hasil belajar siswa lebih tinggi dari rata-rata hasil belajar siswa pada tes sebelumnya dan
minimal 75% siswanya mencapai nilai SKBM (minimal 75).