Anda di halaman 1dari 9

Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98

https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | e-ISSN 2597-8667

Studi Kasus: Asuhan Keperawatan Pada Klien Isolasi Sosial Pasca Pasung

Muhammad Fadly1, Giur Hargiana1*

1Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia, Kampus FIK UI


*Corresponding Author: giurhargiana@ui. ac. id

Abstrak

Isolasi sosial merupakan keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan bahkan sama sekali tidak mampu
berinteraksi dengan orang lain di sekitarnya. Tujuanstudi kasus ini adalah untuk menganalisis tentang asuhan
keperawatan isolasi sosial pasca pasung pada Tn. P dengan skizofrenia paranoid. Proses asuhan keperawatan dilakukan
berdasarkan standar asuhan keperawatan generalis selama enam hari rawat pada tanggal 7-12 Mei 2018 pada Tn. P
dengan usia 32 tahun dan berjenis kelamin laki-laki. Hasil didapatkan masalah keperawatan utama adalah isolasi sosial.
Implementasi keperawatan berfokus pada kemampuan klien membina hubungan saling percaya dan meningkatkan
kemampuan klien berinteraksi secara bertahap. Intervensi keperawatan memberikan dampak yang positif kepada klien
dilihat dengan penurunan tanda dan gejala isolasi sosial pada aspek kognitif, afektif, fisiologis dan sosial, namun belum
tampak penurunan pada aspek perilaku. Faktor yang menyebabkan klien sulit membina hubungan dengan perawat yaitu
faktor internal dimana klien memiliki penilaian negatif terhadap diri sendiri, orang lain dan lingkungan dan faktor
eksternal dimana klien menganggap perawat sebagai stressor yang membahayakan. Rencana tindak lanjut pelayanan
keperawatan diharapkan dapat dimaksimalkan baik secara individu, keluarga, kelompok dan komunitas.
Kata Kunci: isolasi sosial, skizofrenia paranoid, standar asuhan keperawatan

Abstract

Social isolation is characterized by decline or loss inability to interact with others. This paper aimed to analyze the nursing
care of social isolation on Mr. P with schizophrenia paranoid. The nursing care process is based on the standard of
generalist nursing care which provided for six days from May 7th throughout 12th 2018 on Mr. P aged 32 years male.
Main nursing problem was social isolation. Nursing intervention was emphasized on client’s ability to establish mutual
relationship and improve client’s communication skills gradually. Nursing interventions affected client positively as
manifested gy decreased signs and symptoms of social isolation on the cognitive, affective, physiological and social
aspects, but there had not been a decline in behavioral aspects. Client’s barriers in establishing relationship with nurses
were internal factors in which clients had negative judgments about themselves, others and the environment and
external factors where clients considered the nurse as a threatening stressor. Nursing care follow-up plans are expected
to be maximized for individually, family, group and community.
Keywords: schizophrenia paranoid, social isolation, standard of nursing care

90
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

Pendahuluan dilakukan untuk mengatasi masalah isolasi sosial


Gangguan jiwa (psikosis) merupakan suatu dengan memberikan berbagai intervensi
keadaan jiwa yang tidak mempunyai hubungan keperawatan yaitu Social Affiliation Enhancement
dengan realitas, dimana selama periode gangguan Tasks,SocializationEnhancement, Social Network
jiwa, individu tersebut tidak menyadari apa yang Intervention, Behavior Modification: socialskills,
dialami orang lain tentang hal yang sama dan orang e-Intervention, Terapi Aktivitas Kelompok
lain tidak mempunyai respons dengan cara yang Sosialisai (TAKS), Strategies Against Stigma and
sama ( Stuart, Keliat & Pasaribu, 2016). Gangguan Discrimination (SASD), Psychoeducation Social
jiwa yang banyak dirawat di rumah sakit adalah Skills Training (SST), dan Cognitive Behavioral
skizofrenia dengan angka prevalensi skizofrenia di Therapy (CBT) (Kopelowicz & Liberman, 2003;
dunia cukup tinggi yaitu sekitar 24 juta orang, Li, et al, 2010; Gomes & Miguel, 2012; Tarzian, et
sedangkan di Indonesia berdasarkan laporan Riset al, 2013; Bulechek,Bulechek, et al, 2013;
Kesehatan Dasar 2013 berjumlah 1,7 permil atau McCarthy, et al, 2017; Chipps, Jarvis & Ramlall,
dapat dikatakan bahwa terdapat satu sampai dua 2017).
orang yang mengalami gangguan jiwa dalam Penulis menemukan dari 20 klien yang ada di
seribu penduduk Indonesia (Kemenkes, 2013; ruang Subadra RSMM Bogor dan dirawat oleh
WHO, 2011). mahasiswa praktik profesi Ners didapatkan
Isolasi sosial adalah salah satu diagnosis sebanyak 12 orang atau 60% mengalami isolasi
keperawatan berdasarkan tanda negatif dari klien sosial. Penulis melakukan pengelolaan asuhan
skzofrenia. Isolasi sosial terjadi dipengaruhi oleh keperawatan pada klien Tn. P dengan diagnosis
berbagai faktor yaitu usia, gender, pendidikan, keperawatan isolasi sosial selama enam hari
pekerjaan, latar belakang budaya, keyakinan religi, perawatan. Tanda dan gejala yang didapatkan pada
politik, kemiskinan, penghasilan rendah, tinggal Tn. P yaitu klien menghindari pembicaraan dengan
sendirian, penyakit kronis, tidak mempunyai anak, cara pergi secara tiba-tiba saat diajak interaksi,
tidak ada kontak dengan keluarga dan kesulitan pembicaraan seadanya, pelan dan sulit didengar,
akses transportasi (Massom, 2016; DeVylder & senang menyendiri di kamar dan tampak takut
Hilimire, 2015; Junardi, Daulima & Wardani, bertemu dengan orang lain. Klien mengatakan
2015; Wakhid, Hamid & Helena, 2013). Perbedaan tidak mau berhubungan dengan orang lain karena
jenis kelamin juga dapat menjadi faktor terjadinya merasa takut ketika berhadapan dengan orang lain.
isolasi sosial yaitu jenis kelamin laki-laki lebih Upaya untuk mengatasi masalah isolasi sosial
banyak dibandingkan wanita (Penaloza, pada Tn. P adalah dengan meningkatkan hubungan
Fuentealba & Gallardo, 2017). Berbagai faktor- saling percaya kepada klien secara bertahap,
faktor di atas sangat penting untuk diperbaiki agar memenuhi kebutuhan aktivitas harian klien, dan
tidak menimbulkan dampak isolasi sosial yang meningkatkan kemampuan yang dimiliki klien
semakin luas. yaitu selalu mengajak klien interaksi, berbincang-
Isolasi sosial telah dikenal mempunyai bincang dan mulai melakukan berkenalan secara
dampak yaitu sebagai faktor risiko terjadinya bertahap dengan beberapa orang klien dan perawat
morbiditas dan mortalitas (Cacioppo et al, 2015). yang ada di Ruang Subadra. Berdasarkan latar
Individu yang mengalami isolasi sosial yang belakang yang telah diuraikan di atas mendasari
berkepanjangan dapat menyebabkan munculnya penulis untuk melakukan analisis lebih lanjut
masalah lain yaitu menarik diri, halusinasi, defisit mengenai asuhan keperawatan pada klien dengan
perawatan diri dan risiko perilaku kekerasan masalah keperawatan isolasi sosial di ruang
(Trimelia, 2011). Perawat sangat dibutuhkan untuk Subadra Rumah Sakit dr. Marzoeki Mahdi Bogor.
berperan dalam mengurangi dan mencegah akibat
yang lebih lanjut yang dapat memperburuk klien. Gambaran Kasus
Tindakan keperawatan klien isolasi sosial Klien Tn. P, usia 32 tahun, jenis kelamin laki-
yaitu dengan cara membantu klien laki, belum menikah, pekerjaan swasta, masuk ke
mengidentifikasi penyebab, manfaat mempunyai RSMM tanggal 16 April 2018 dengan diagnosis
teman,kerugian tidak mempunyai teman, latihan medis skizofrenia paranoid. Klien dibawa ke
berkenalan dengan orang lain secara bertahap rumah sakit karena mengamuk di rumah,
(Keliat & Akemat, 2010). Beberapa studi telah meresahkan keluarga dan masyarakat, berperilaku

91
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

aneh, sering marah-marah dan bicara sendiri. Klien dirawat klien bekerja sebagai supir angkutan kota.
mengalami gejala berperilaku aneh sejak 13 tahun Klien mengatakan sekolah hanya sampai SMP.
yang lalu mulai berobat secara tradisional namun Ketika ditanya apakah klien merasa puas dirinya
penyakit bertambah parah dan akhirnya dibawa ke sebagai laki-laki klien menjawab puas. Klien
rumah sakit. Sebelum masuk rumah sakit klien berperan sebagai anak ketika di ruamah dan
sempat dipasung dengan cara dikurung di kamar sebagai supir di kelompok angkutan kota. Klien
dan tangan diikat. mampu melaksanakan peran sebagai supir dan
Saat dilakukan pengkajian tanggal 7 Mei 2018 menyetir mobil dengan baik. Ketika ditanya
klien tampak mondar-mandir tanpa tujuan yang harapan klien menjawab ingin sembuh dan cepat
jelas, pakaian tidak rapi, celana miring, rambut pulang, ingin segera bekerja kembali, ingin
panjang dan tidak rapi, gigi kotor, kuku panjang menikah dan berkeluarga. Ketika sakit klien sering
dan kotor, kontak mata kurang, sering menatap ke mondar mandir di rumah, tidak mempunyai teman
satu arah dalam waktu yang lama, mulut berkomat dan tidak mau keluar rumah. Keluarga mengatakan
kamit dengan suara yang pelan, tubuh tampak klien mempunyai sifat pemalu dan betah tinggal di
membungkuk, gerakan kaki berulang-ulang seperti rumah.
orang yang sedang berjalan di tempat. Pembicaraan Berdasarkan hasil pengkajian dan analisis data
baik namun suara pelan dan klien tidak mampu didapatkan diagnosis keperawatan yaitu risiko
berinteraksi dalam waktu yang lama, tidak mampu perilaku kekerasan, isolasi sosial, defisit perawatan
berkonsentrasi, kehilangan rasa tertarik pada diri, gangguan sensori persepsi halusinasi
kegiatan sosial, klien tidak mampu memulai pendengaran, dan harga diri rendah kronis.
pembicaraan, menjawab pertanyaan seadanya, Diagnosis keperawatan utama yang diangkat
klien merasa tidak aman di dekat orang lain, dan berdasarkan prioritas adalah isolasi sosial. Data
cenderung menghindari pembicaraan dengan cara subjektif didapatkan klien mengatakan takut
pergi meninggalkan perawat tanpa sebab. Ketika bertemu orang lain. Data objektif yang ditemukan
ditanya bagaimana perasaannya klien menjawab yaitu klien bicara pelan, kontak mata kurang,
tidak nyaman dan takut bertemu orang lain. Klien mudah beralih, menghindari pembicaraan dan
mengatakan belum mandi, sikat gigi dan potong suara pelan, tidak mampu berinteraksi dalam waktu
kuku. Ketika ditanya apakah mendengan atau yang lama, klien tidak mampu memulai
melihat sesuatu yang tidak nyata klien mengatakan pembicaraan, klien menjawab pertanyaan
tidak ada, namun baru pada hari ke 5 klien seadanya, menghindari pembicaraan dengan pergi
mengatakan mendengar suara harimau. meninggalkan perawat.
Klien belum pernah masuk rumah sakit Rencana tindakan keperawatan pada klien:
gangguan jiwa pada masa lalu dan belum pernah Tujuan tindakan keperawatan untuk klien yaitu: 1)
mendapat pengobatan sebelumnya, namun klien membina hubungan saling percaya; 2) menyadari
pernah dibawa ke puskesmas dan mendapat penyebab isolasi sosial; dan 3) berinteraksi dengan
pengobatan di puskesmas namun kurang berhasil. orang lain. Tindakan keperawatan yang dapat
Klien mempunyai riwayat melakukan kekerasan diberikan yaitu: 1) membina hubungan saling
fisik yaitu dengan merusak kaca rumah dan percaya; 2) membantu klien mengenal penyebab
mengamuk tanpa sebab yang jelas. Sebelum sakit isolasi sosial; 3) membantu klien mengenali
klien bekerja sebagai supir angkutan kota dan keuntungan dari membina hubungan dengan orang
dikenal dengan orang yang rajin bekerja, namun lain; 4) membantu klien mengenal kerugian dari
klien menjadi berubah dan menjadi berperilaku tidak membina hubungan; 5) membantu klien
aneh tanpa sebab atau mempunyai suatu masalah untuk berinteraksi dengan orang lain secara
yang jelas. Riwayat anggota keluarga yang bertahap (Keliat, Akemat, Helena, & Nurhaeni,
mengalami gangguan jiwa tidak ada, namun klien 2011).
ketika ditanya pengalaman tidak menyenangkan Implementasi keperawatan pada hari pertama
klien mengatakan pernah dikurung di kamar. didapatkan data subjektif klien mengatakan ingin
Klien mengatakan dirinya biasa saja, ketika pulang dan klien mengatakan tidak mengatakan
ditanya bagian tubuh yang tidak disukai klien tidak mengenal siapapun di sini. Data objektif yang
menunjukkan kaki kanannya dan ketika ditanya ditemukan yaitu mondar- mandir di kamar, kontak
bagian tubuh yang disukai klien tidak menunjuk mata kurang, gerakan kaki berulang-ulang, klien
bagian tubuh manapun. Klien mengatakan sebelum menghindari pembicaraan. Diagnosis keperawatan

92
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

yaitu isolasi sosial. Implementasi keperawatan Rencana tindak lanjut yaitu ulangi latihan
yang dilakukan yaitu membina hubungan saling mengenal isolasi sosial dan cara berkenalan dan
percaya, mengidentifikasi penyebab isolasi sosial, latih klien berkenalan dengan 1-2 orang
memasukkan kegiatan ke dalam jadwal harian. perawat/klien. Evaluasi subjektif didapatkan klien
Rencana tindak lanjut latih mengenal isolasi sosial mengatakan ingin ke kamar. Evaluasi objektif yaitu
dan cara berkenalan. Evaluasi subjektif yaitu klien mau berjabat tangan, menjawab salam,
mengatakan ingin kembali ke kamar. Evaluasi menyebutkan nama, klien mulai mampu mengingat
objektif yang mau berjabat tangan, mau menjawab nama perawat, klien pergi meninggalkan perawat
salam, menyebutkan nama, belum mampu padahal kontrak belum selesai, kontak mata
mengingat nama perawat, kontak mata kurang, kurang, klien menghindari pembicaraan, klien
klien menghindari pembicaraan dengan pergi tanpa belum mampu mengenal isolasi sosial dan klien
sebab, klien belum mampu mengenal isolasi social belum mampu mempraktekkan cara berkenalan.
dan klien belum mampu mempraktekkan cara Analisis yaitu masalah isolasi sosial belum teratasi.
berkenalan. Analisis masalah isolasi sosial belum Planning pasien yaitu latih mengenal isolasi sosial.
teratasi. Planning bagi klien yaitu latih mengenal Implementasi keperawatan pada hari keempat
isolasi sosial. didapatkan data subjektif yaitu klien mengatakan
Implementasi keperawatan pada hari ke-dua ingin masuk ke kamar dan klien mengatakan tidak
didapatkan data subjektif klien mengatakan ingin mau berkenalan dengan temannya. Data objektif
pulang dan klien mengatakan belum mempunyai yaitu mondar-mandir, kontak mata kurang, gerakan
teman. Data objektif yaitu mondar-mandir di kaki berulang-ulang, klien menghindari
kamar, kontak mata kurang, gerakan kaki pembicaraan dan klien mulai merangkul perawat.
berulang-ulang dan klien menghindari Diagnosis keperawatan yaitu isolasi sosial.
pembicaraan. Diagnosis keperawatan yaitu isolasi Implementasi keperawatan yaitu mengevaluasi
sosial. Implementasi keperawatan yang dilakukan kegiatan harian klien, mengidentifikasi isolasi
yaitu membina hubungan saling percaya, social, melatih klien berkenalan dengan 1 orang
mengevaluasi kegiatan klien, mengidentifikasi klien dan memasukkan kegiatan ke dalam jadwal
penyebab isolasi sosial, keuntungan berteman dan harian. Rencana tindak lanjut yaitu optimalkan
kerugian tidak berteman dan memasukkan kegiatan latihan mengenal isolasi sosial dan cara
ke dalam jadwal harian. Rencana tindak lanjut berkenalan, latih berkenalan dengan 1-2 orang
yaitu ulangi latihan mengenal isolasi sosial dan klien/perawat dan latih mengikuti aktivitas ruangan
cara berkenalan. Evaluasi subjektif didapatkan sambil berinteraksi dengan orang lain.
klien mengatakan belum mempunyai teman dan Evaluasi subjektif didapatkan yaitu klien
belum mau belajar cara berkenalan. Evaluasi mengatakan “mau kemana Pak?” dan klien
objektif yaitu mau berjabat tangan, menjawab mengatakan senang ikut jalan-jalan tadi pagi.
salam, menyebutkan nama, belum mampu Evaluasi objektif yaitu klien mulai mau menyapa
mengingat nama perawat, kontak mata kurang, perawat, klien mampu berinteraksi dengan perawat
klien menghindari pembicaraan dengan pergi tanpa dengan waktu yang singkat (5 menit), kontak mata
sebab, klien belum mampu mengenal isolasi sosial kurang, klien berusaha menghindari pembicaraan,
dan klien belum mampu mempraktekkan cara klien belum mampu mengenal isolasi sosial dan
berkenalan. Analisis yaitu masalah isolasi sosial klien mempraktekkan cara berkenalan dengan 1
belum teratasi. Planning untuk pasien yaitu latih orang klien dengan bantuan perawat. Analisis yaitu
mengenal isolasi sosial. masalah isolasi sosial belum teratasi. Planning
Implementasi keperawatan pada hari ke-tiga yaitu latih mengenal isolasi sosial dan latih
didapatkan data subjektif yaitu klien mengatakan berkenalan dengan 1 orang satu kali sehari.
ingin masuk ke kamar. Data objektif didapatkan Implementasi keperawatan pada hari ke-lima
mondar-mandir, kontak mata kurang, gerakan kaki didapatkan data subjektif klien mengatakan senang
berulang-ulang dan klien menghindari sendirian di kamar. Data objektif didapatkan klien
pembicaraan. Diagnosis keperawatan isolasi sosial. mondar-mandir di kamar, kontak mata kurang,
Implementasi keperawatan yaitu membina gerakan kaki berulang- ulang, klien menghindari
hubungan saling percaya, mengevaluasi kegiatan pembicaraan dan tidur malam cukup namun tidur
harian klien, mengidentifikasi isolasi sosial dan siang kurang. Diagnosis keperawatan yaitu isolasi
memasukkan kegiatan ke dalam jadwal harian. sosial. Implementasi yang dilakukan yaitu

93
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

mengevaluasi kegiatan harian klien, melatih intervensi keperawatan yang akandirencanakan.


mengikuti kegiatan yang ada di ruangan, melatih Model stres adaptasi Stuart cukup efektif untuk
berkenalan dengan 1 orang klien dan memasukkan menggambarkan kondisi klinis klien dan
kegiatan ke dalam jadwal harian. Rencana tindak menggambarkan proses terjadinya isolasi sosial
lanjut yaitu latih mengenal isolasi sosial dan cara pada klien (Junardi, et al, 2015).
berkenalan, latih berkenalan dengan 1 orang Faktor predisposisi yang didapatkan yaitu
perawat dan optimalkan mengikuti kegiatan di usia, jenis kelamin, pekerjaan, status pernikahan
ruangan. Evaluasi subjektif didapatkan klien dan tingkat pendidikan. Usia 32 tahun yang
mengatakan senang jalan-jalan di luar dan klien merupakan usia dewasa awal dan berjenis kelamin
mengatakan ingin pulang. Evaluasi objektif yaitu laki-laki mempunyai tingkat stres yang tinggi dan
klien tampak ingin keluar terus, kontak mata dapat memicu gangguan jiwa dimana menurut
kurang, klien mampu berinteraksi dengan perawat penelitian usia rata-rata klien dengan masalah
dalam waktu yang lebih lama (30 menit) dan klien isolasi sosial yaitu 31 tahun (Halter, 2014; Wakhid,
mempraktekkan cara berkenalan dengan 1 orang el al, 2015; Junardi, et al 2015; Stuart, et al, 2016).
klien dengan bantuan perawat. Analisis yaitu Pekerjaan dengan penghasilan yang rendah
masalah isolasi sosial belum teratasi. Planning membuat klien sulit memenuhi kebutuhannya
yaitu latih mengenal isolasi sosial, latih berkenalan sehingga kurang mendapatkan penghargaan dari
1 x sehari dan latih kegiatan jalan santai setiap pagi. orang lain dan klien merasa adanya
Implementasi keperawatan pada hari keenam ketidaksesuaian antara keinginan dan kenyataan
didapatkan data subjektif klien mengatakan ingin yang ada, merasa gagal dan tidak berguna (Yosep
sendiri di kamar dan klien mengatakan sudah & Sutini, 2014; Junardi, et al, 2015). Klien yang
mandi pagi. Data objektif didapatkan yaitu belum menikah dapat menjadi faktor terjadinya
mondar-mandir, kontak mata kurang, gerakan kaki isolasi sosial karena klien gagal menemukan
berulang-ulang dan klien mampu berinteraksi pasangan hidup, tidak mempunyai pertahanan yang
dengan perawat dengan waktu yang singkat. kuat dan stresor yang semakin menumpuk
Diagnosis keperawatan isolasi sosial. mengakibatkan klien malu untuk bersosialisasi
Implementasi yang dilakukan yaitu mengevaluasi (Cacioppo, et al, 2015; Wakhid, et al, 2013;
kegiatan harian klien, mengidentifikasi isolasi Junardi, et al, 2015; Napolion, et al, 2012).
sosial dan berkenalan dengan 1 orang dan Penelitian juga menunjukkan bahwa klien isolasi
memasukkan kegiatan ke dalam jadwal harian. sosial sebagian besar memiliki latar belakang
Rencana tindak lanjut yaitu latih mengenal isolasi pendidikan menengah dimana sangat
sosial dan cara berkenalan dan optimalkan memengaruhi klien dalam berperilaku, membuat
mengikuti kegiatan di ruangan. Evaluasi subjektif keputusan, cara menilai stresor dan menyelesaikan
didapatkan yaitu klien mengatakan ingin jalan- masalahnya (Napolion, et al, 2012; Wakhid, et al,
jalan keluar dan ingin pulang. Data objektif 2013).
didapatkan kontak mata kurang, klien mampu Faktor presipitasi klien isolasi sosial pada Tn.
berinteraksi dengan perawat dalam waktu yang P yaitu putus obat. Keluarga klien mengatakan
singkat, klien belum mampu mengenal isolasi klien pernah dibawa ke puskesmas dan mendapat
social dan klien mempraktekkan cara berkenalan pengobatan namun hasilnya kurang memuaskan
dengan 1 orang klien dengan bantuan perawat. dan akhirnya keluarga memutuskan untuk dibawa
Analisis yaitu masalah isolasi sosial belumm ke rumah sakit. Selain putus obat, kondisi penyakit
teratasi. Planning yaitu latih mengenal isolasi klien yang sudah lama yaitu 13 tahun,
sosial, latih berkenalan 1 kali sehari dan latih menunjukkan klien mengalami keterlambatan
mengikuti kegiatan jalan santai setiap pagi. dalam penanganan sehingga kondisi gangguan jiwa
sudah menjadi kronis. Masalah yang dihadapi klien
Pembahasan dalam kurun waktu yang cukup lama membuat
Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan stresor yang dihadapi klien menjadi menumpuk.
beberapa faktor predisposisi, faktor presipitasi dan Jumlah stresor yang banyak, baik dari stresor
respons terhadap stresor. Tanda gejala isolasi sosial internal maupun stresor eksternal, akan
dianalisis berdasarkan batasan karakeristik membutuhkan penyelesaian dalam bentuk koping
penegakan diagnosis keperawatan dan kondisi yang semakin banyak pula. Koping yang
klien. Diagnosis keperawatan menentukan dibutuhkan mesti adekuat dan bervariasi agar

94
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

mampu mengatasi stresornya (Stuart, Keliat & hubungan yang signifikan antara kemampuan
Pasaribu, 2016). perawat pelaksana yang memiliki kemampuan
Kondisi klien saat dilakukan pengkajian yaitu membina hubungan saling percaya dengan tanda
didapatkan tanda gejala aspek kognitif merasa dan gejala isolasi sosial dimana perawat yang
tidak aman di dekat orang lain, tidak mampu memiliki kemampuan yang tinggi dapat membantu
berkonsentrasi dan kehilangan rasa tertarik pada menurunkan tanda dan gejala klien isolasi sosial
kegiatan sosial, aspek afektif yaitu merasa tidak (Syafrini, Keliat & Putri, 2015). Pemberi asuhan
nyaman dengan orang lain, afek tumpul dan takut hendaknya meningkatkan hubungan perawat dan
berada dekat orang lain, aspek fisiologis yaitu sulit klien dengan cara hubungan yang alami sehingga
tidur dan wajah murung, aspek perilaku yaitu tidak klien lebih nyaman dan percaya dalam menerima
ada kontak mata, berdiam diri di kamar, banyak perawat (Harwood, et al, 2007).
melamun, aspek sosial yaitu menarik diri, sulit Teknik komunikasi yang dilakukan dalam
berinteraksi dengan orang lain dan curiga terhadap intervensi klien isolasi sosial yang digunakan yaitu
orang lain. Data tersebut masuk dalam batasan menghadirkan diri (presence) yaitu perawat berada
karakteristik diagnosis keperawatan isolasi sosial bersama klien baik secara fisik maupun psikologis
dari NANDA yaitu klien ingin sendiri, menarik pada saat klien membutuhkan kehadiran orang lain
diri, merasa tidak aman di tempat umum, tidak ada (Bulechek, et al, 2013). Perawat melakukan
kontak mata dan adanya tindakan berulang menghadirkan diri agar terjadi fondasi yang baik
(Herdman & Kamitsuru, 2015). Townsend (2011) untuk menunjukkan adanya caring dari perawat.
juga menjelaskan batasan karakteristik isolasi Penelitian menunjukkan bahwa kehadiran perawat
sosial yaitu menyendiri di kamar, tidak dapat meningkatkan keefektifan manajemen
komunikatif, menarik diri, tidak ada kontak mata, keperawatan dan meningkatkan caring oleh
sedih, tidur dengan posisi fetal, mengungkapkan perawat (Gomes & Miguel, 2012). Saat melakukan
rasa penolakan atau kesepian, aktivitas yang tidak teknik kehadiran ini, respons yang diberikan Tn P
bermakna, dan menolak interaksi. yaitu menghindar dan meninggalkan perawat tanpa
Penelitian menunjukkan bahwa klien dengan sebab sehingga kontak sosial menjadi kurang.
isolasi sosial sulit untuk mencapai hubungan saling Penulis melakukan strategi dengan melakukan
percaya karena beberapa faktor yaitu faktor kontak sosial yang singkat namun sering dalam
internal dan faktor eksternal. Faktor internal yaitu proses membina hubungan saling percaya.
bahwa klien dengan isolasi sosial memiliki Penelitian menunjukkan adanya hubungan yang
penilaian negatif terhadap diri sendiri, orang lain signifikan antara frekuensi kontak sosial terhadap
dan lingkungan sehingga menimbulkan perilaku gejala negatif, fungsi psikososial dan kalitas hidup
negatif yaitu menarik diri. Faktor eksternal yang klien dengan skizofrenia dimana semakin tinggi
dapat dirasakan oleh klien yaitu pemberi asuhan kontak sosial klien akan menurunkan gejala negatif
keperawatan itu sendiri. Penelitian menunjukkan skizofrenia dan meningkatkan fungsi sosial secara
bahwa klien isolasi sosial biasanya menilai bahwa bersamaan (Siegrist,et al, 2015).
proses pemberian asuhan keperawatan dianggap Klien Tn. P juga memiliki diagnosis
sebagai suatu stressor yang dapat menimbulkan keperawatan defisit perawatan diri. Hal ini
bahaya bagi klien, yang menyebabkan klien membuat strategi penulis untuk membina
menolak interaksi kepada perawat (Syafrini, et al, hubungan saling percaya dan meningkatkan
2015; Stuar, et al, 2016). interaksi dengan klien. Intervensi NIC memberikan
Hubungan saling percaya dilakukan oleh pilihan intervensi keperawatan pada klien isolasi
penulis agar klien lebih nyaman dan percaya dalam sosial yaitu bantuan perawatan diri (Bulechek, et
menerima perawat yang dibuktikan dengan klien , al, 2013). Hal ini bertujuan meningkatkan kontak
mau berjabat tangan, mau menjawab salam, mau dengan klien yaitu dengan memenuhi kebutuhan
menyebutkan nama dan mau berkenalan (Syafrini, harian klien seperti mandi, berhias, makan, dan
et al, 2015; Jumaini, Keliat & Hastono, 2010). eliminasi. Namun demikian diperlukan juga
Namun klien belum mampu menerima kehadiran strategi lain yaitu dengan memperhatikan jarak
perawat yaitu pada saat interaksi klien menghindari ketika interaksi dengan klien pada area yang
pembicaraan dengan cara memutus interaksi dan ditoleransi oleh klien agar mengurangi kecemasan
pergi meninggalkan perawat tanpa alasan yang klien. Mencari tempat berinteraksi yang sepi dan
jelas. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat kondusif dan berada di luar dari wilayah teritori

95
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

klien agar klien merasa tidak terancam teritorinya. maka akan semakin cepat dan bermakna perubahan
Strategi posisi tubuh juga penting dimana ketika pada respons yang ditampilkan klien.
klien merasa terancam dengan bertatap muka maka Hambatan yang lain yaitu klien mendapat
posisi diubah menjadi posisi duduk menyamping terapi pengobatan yang dapat mempengaruhi tanda
dan perawat dapat memberikan sentuhan pada saat dan gejala isolasi sosial klien. Penelitian
yang tepat dan dilakukan dengan hati-hati (Stuart, menunjukkan bahwa pemberian terapi
Keliat & Pasaribu, 2016). psikofarmaka dapat menyebabkan tidak adanya
Tanda dan gejala isolasi sosial dapat hubungan yang signifikan antara pemberian asuhan
berkurang dengan diberikan tindakan keperawatan keperawatan dengan pendekatan manajemen,
sesuai rencana asuhan keperawatan yang telah kompensasi dan penghargaan serta hubungan
ditetapkan. Penelitian menunjukkan bahwa tanda profesional dengan tanda dan gejala klien isolasi
dan gejala isolasi sosial dapat berkurang setelah sosial (Syafrini, Keliat & Putri, 2015). Proses
klien mendapat asuhan keperawatan isolasi sosial asuhan keperawatan pada klien berakhir karena
secara berkesinambungan (Komala, Mustikasari & masa rawat inap klien sudah mencapai batas
Wardani, 2017). Penelitian lain juga menemukan maksimal hari rawat menurut kebijakan rumah
bahwa terjadi penurunan tanda dan gejala isolasi sakit dan jaminan kesehatan. Klien pulang
sosial yang ada pada klien pada aspek kognitif, dijemput keluarga yang bekerjasama dengan
afektif, fisiologis, perilaku dan sosial pemerintah kabupaten Tasikmalaya. Walaupun
(Rachmawati, Keliat & Wardani 2015). Respons kondisi klien belum maksimal, proses pemulangan
kognitif terjadi penurunan yaitu klien mulai merasa tetap harus dilakukan. Pemberian asuhan
aman dekat dengan orang lain dan mulai keperawatan diakhiri di rumah sakit dan akan
mempunyai ketertarikan pada kegiatan sosial yang dilanjutkan di rumah. Oleh karena itu perlunya
ada di ruangan (Rachmawati, et al, 2015; pendidikan kesehatan bagi keluarga agar keluarga
Renidayati, et al, 2008). mampu merawat klien ketika di rumah berupa
Respons afektif terjadi penurunan ditunjukkan psikoedukasi keluarga (Rachmawati, et al, 2015).
dengan klien mulai merasa aman dan nyaman Beberapa studi telah dilakukan sebagai
dengan perawat dan tidak takut berada didekat alternatif untuk mengatasi masalah isolasi sosial
perawat (Rachmawati, et al, 2015; Wakhid, et al, dengan memberikan berbagai intervensi
2013; Townsend, 2014). Perubahan pada aspek keperawatan yaitu Social Affiliation Enhancement
fisiologis yaitu dari hari pertama perawatan klien Tasks,SocializationEnhancement, Social Network
sulit tidur namun pada hari ke enam klien mulai Intervention, Behavior Modification:social skills,
mudah tidur (Rachmawati, et al, 2015; Wakhid, et e-Intervention, Strategies Against Stigma and
al, 2013; Stuart, et al, 2016). Respons sosial klien Discrimination (SASD), Psycho-education Social
setelah diberikan intervensi yaitu klien menjadi Skills Training (SST), dan Cognitive Behavioral
mau berinteraksi dan berkomunikasi dengan Therapy (CBT) (Kopelowicz & Liberman, 2003;
perawat dan mampu berpartisipasi dalam kegiatan Li, et al, 2010; Gomes & Miguel, 2012; Tarzian, et
sosial di ruangan seperti jalan santai dan senam al, 2013; Bulechek, et al, 2013; McCarthy, et al,
pagi (Rachmawati, et al, 2015; Keliat, et al, 1999). 2017; Chipps, Jarvis & Ramlall, 2017).
Respons perilaku klien Tn. P secara umum belum
terjadi penurunan tanda dan gejala isolasi sosial Simpulan
yaitu klien masih berdiam diri di kamar, tidak ada Masalah keperawatan utama yang ditemukan
kontak mata dan sering melamun sendirian. pada klien kelolaan Tn. P yaitu masalah isolasi
Hambatan dalam proses pemberian asuhan sosial. Proses pemberian asuhan keperawatan pada
keperawatan kepada klien yaitu lama perawatan, masalah isolasi sosial berfokus pada kemampuan
terapi psikofarmaka dan kesinambungan proses klien membina hubungan saling percaya dan
perawatan. Brady (2004) dalam Syafrini, Keliat meningkatkan kemampuan klien berinteraksi
dan Putri (2015) menyebutkan bahwa jarak antara secara bertahap. Faktor yang memengaruhi klien
munculnya gejala dengan perawatan dan sulit mendapatkan hubungan saling percaya antara
pengobatan pertama akan mempengaruhi perawat dan klien yaitu faktor internal berupa klien
kecepatan dan kualitas respons pengobatan dan memiliki penilaian negatif terhadap diri sendiri,
gejala negatif yang muncul, dimana semakin cepat orang lain serta lingkungan. Factor selanjutnya
klien mendapat pengobatan setelah terdiagnosis adalah faktor eksternal, klien menganggap perawat

96
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

sebagai stressor eksternal yang mengancam rasa empowerment-part I. CANNT Journal, 17(1):
aman dan nyamannya. 22
Intervensi keperawatanmemberikan manfaat Herdman, T . H. , & Kamitsuru, S. (2015).
bagi klien, hal ini ditandai dengan adanya Diagnosis KeperawatanDefinisi &
penurunan tanda dan gejala isolasi sosial pada Klasifikasi2015-2017 Edisi 10. Jakarta: EGC.
klien. Pemberian asuhan keperawatan memerlukan Jumaini, Keliat, B. A. & Hastono, S. P. (2010).
waktu untuk memberikan perubahan pada klien, Pengaruh cognitive behavioral social skills
namun karena keterbatasan waktu dalam masa training (CBSST) terhadap kemampuan
perawatan maka diperlukan langkah lain berupa bersosialisasi klien isolasi sosial di BLU RS
edukasi kepada keluarga agar keluarga mampu DR. H. Marzoeki Mahdi. Tesis. Depok: UI
meneruskan perawatan pada klien selama di ANA.
rumah. Rencana tindak lanjut terhadap kondisi Junardi, Daulima, N. H. C. & Wardani, I. Y.
klien yang belum maksimal dapat dilakukan (2015). Asuhan keperawatan spesialis j iwa
dengan memberikan intervensi-intervensi terbaru pada klien dengan isolasi sosial melalui
yang mempunyai evidence based practice dan pendekatan teori stres adaptasi Stuart di ruang
melakukan rujukan kepada perawat spesialis jiwa Antareja Rumah Sakit dr. H. Marzoeki Mahdi
yang memiliki kompetensi yang lebih mumpuni. Bogor. Karya Ilmiah Akhir. Depok: UI ANA.
Keliat, B. A. , & Akemat. (2010). Model praktik
Referensi keperawatan profesional jiwa. Jakarta:
Bulechek, G. M. , Butcher, H. K. , Dochterman, J. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
M. , & Wagner, C. M. (Eds) (2013). Nursing Keliat, B. A, Akemat, Helena, N. , dan Nurhaeni,
intervention classification (NIC). 6th Ed. St, H. (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa
Louis Missouri: Mosby Elsevier. Komunitas CMHN (Basic Course). Jakarta:
Cacioppo, J. T. , Cacioppo, S. , Capitanio, J. P. & EGC.
Cole, S. W. (2015). The neuroendocrinology Keliat, B. A. , & Pawirowiyono. (2015).
of social isolation. The Annual Review of Keperawatan jiwa: terapi aktivitas
Psychology, 66(9), 1-9. kelompok(2nd ed. ). Jakarta: Penerbit Buku
Chipps, J. , Jarvis. , M. A. , & Ramlall, S. (2017). Kedokteran EGC.
The effectiveness of e-Interventions on Keliat, B. A. , Panjaitan, R. U. , Mustikasari, &
reducing social isolation in older persons: A Helena, N. (1999). Pengaruh model terapi
systematic review of systematic reviews. aktivitas kelompok sosialisasi (TAKS)
Journal of Telemedicine and Telecare. terhadap kemempuan komunikasi verbal dan
sagepub. co. uk/journalsPermissions. nav. non verbal pada klien menarik diri di rumah
DOI:10. 1177/1357633X17733773 sakit jiwa. Jurnal Keperawatan Indonesia. 2
DeVylder, J. E. , & Hilimire, M. R. (2015). Suicide (8).
Risk, Stress Sensitivity, and Self-Esteem Kemenkes RI. (2013). Riset kesehatan dasar
among Young Adults Reporting Auditory (RISKESDAS) 2013. Laporan Nasional 2013.
Hallucinations. Health and SocialWork, Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
40(3), 175-182. http://doi. org Kesehatan Kementrtian Kesehatan RI.
Gomes, L. M. & Miguel, L. (2012). Nursing http://doi. org
presence as a nursing care: study of Komala, E. P. E. , Mustikasari & Wardani, I. Y.
development of nursing presence in (2017). Perubahan tanda gejala dan
psychiatric context. Thesis. Research Gate: kemampuan klien isolasi social setelah
tersedia dalam https://www. researchgate. net dinerikan latihan keterampilan social dan
Halter, M. J. (2014). Varcarolis’ foundation of psiedukasi keluarga. Karya Ilmiah Akhir.
psychiatric mental health nursing (7th ed. ). Depok: UIANA.
St. Louis: Saunders Elsevier Kopelowicz, A. & Liberman, R. (2003).
Harwood, L. , et al. (2007). Nurses’ perceptions of Integrating treatment with rehabilitation for
the impact of a renal nursing professional persons with major mental illnesses.
practice model on nursing outcomes, Psychiatric Services, 54 (11): 25-32.
characteristics of a practice environments and Li, J. , Huang, Y. G. , Ran, M. S. , Fan, Y. , Chen,
W. , Lacko, S. E. , & Thornicroft, G. (2010).

97
Faletehan Health Journal, 5 (2) (2018) 90-98
https://journal.lppm-stikesfa.ac.id
ISSN 2088-673X | 2597-8667

Community-based comprehensive psychosocial funtioning and quality of life in


intervention for people with schizophrenia in patient with schizophrenia. Psychiatry
Guangzhou, China: effects on clinical Research. 230(15): 860866
symptoms, social functioning, internalized Stuart, G. W, Keliat,B. A. , Pasaribu,J. (2016)
stigma and discrimination. Asian Journal of Prinsip dan praktik keperawatan kesehatan
Psychiatry. https://doi. org/10. 1016 jiwa Stuart, Edisi Indonesia. Jakarta: Elsevier
Massom, M. R. (2016). Social isolation of the Syafrini, R. O. , Keliat, B. A. , & Putri, Y. S. E.
stateless and the destitute: A study on the (2015). Efektifitas implementasi asuhan
Refuge-Camp and the Sullied Slum of Dhaka keperawatan isolasi sosial dalam MPKP jiwa
City. terhadap kemampuan klien. JurnalNers.
McCarthy, J. M. , Bradshaw, K. R. , Catalano, L. 10(1): 175-182
T. , Garcia, C. P. , Malik, A. , Bennett, M. E. Tarzian, E. , Tognoni, G. , Bracco, R. , Ruggieri, E.
& Blanchard, J. J. (2017). Negative symptoms D. , Ficociello, R. A. , Mezzina, R. , & Pillo,
and the formation of social affiliative bonds in G. (2013). Social Network Intervention in
schizophrenia. Schizophrenia research. patients with schizophrenia and marked social
http://dx. doi. org withdrawal: A randomized controlled study.
Napolion, K. , Keliat, B. A. , & Mustikasari. Psychiatry. 58(11): 622-631
(2012). Penerapan terapi spesialis Townsend, M. C. (2014). Psychiatric nursing:
keperawatan jiwa social skills training dan Assessment, care plans, and medications (9th
cognitive behavior therapy pada klien isolasi ed. ). Philadelphia: F. A. Davis Company.
sosial dengan pendekatan model hubungan Townsend, M. C. (2011). Nursing diagnoses in
interpersonal H. E. Peplau di RS Marzoeki psychiatric nursing: Care plans and
Mahdi Bogor. Karya Ilmiah Akhir Spesialis. psychotropic medications. 8th Ed.
Depok: UI ANA. Philadelphia: F. A. Davis Company.
Penaloza, M. R. , Fuentealba, P. G. & Gallardo, P. Trimelia. (2011). Asuhan keperawatan klien
C. (2017). Sex differences and the influence halusinasi. Jakarta: CV Trans Info Media.
of social factors in a Chilean urban psychiatric Wakhid, A. , Hamid, A. Y. S. , & Helena, N.
hospital population. International Journal of (2013). Penerapan terapi latihan keterampilan
Social Psychiatry, 17. 1-14. sosial pada klien isolasi sosial dan harga diri
Rachmawati, U. , Keliat, B. A. , & Wardani, I. Y. rendah dengan pendekatan model hubungan
(2015). Tindakan keperawatan pada klien, interpersonal Peplau di RS Dr Marzoeki
keluarga dan kader kesehatan jiwa dengan Mahdi Bogor. Jurnal Keperawatan Jiwa.
diagnosa keperawatan isolasi sosial di (1)1: 34-48.
komunitas. Jurnal Keperawatan Jiwa. 3 (2): WHO. (2011). Improving health system and
97-106. services for mental health (Mental health
Renidayati. ,Keliat,B. A. , & Sabri, L (2008) policy and service guidance package).
Pengaruh social skills training pada klien Geneva: WHO Press.
isolasi sosial di Rumah Sakit Jiwa Prof HB Yosep, I. , & Sutini, T. (2014). Buku ajar
Saanin Padang Sumatera Barat. Tesis. Depok: keperawatan jiwa. Bandung: PT Refika
UIANA. Aditama.
Siegrist, K. , Millier, A. , Amri, I. , Aballea, S. , &
Toumi, M. (2015). Association between social
contact frequency and negative symptoms,

98