Anda di halaman 1dari 32
Oleh: Rizki Siti Nurfitria, MSM., Apt. Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

Oleh: Rizki Siti Nurfitria, MSM., Apt. Sekolah Tinggi Farmasi Bandung

 Definisi Obat  Aktivitas dan Mekanisme Kerja Obat  Penggolongan Obat

Definisi Obat

Aktivitas dan Mekanisme Kerja Obat

Penggolongan Obat

 UMUM : Semua bahan tunggal atau campuran yang digunakan oleh semua mahluk baik pada

UMUM : Semua bahan tunggal atau campuran yang digunakan oleh semua mahluk baik pada bagian dalam maupun luar tubuh guna mencegah, meringankan, atau menyembuhkan penyakit

Menurut UU : Suatu bahan atau campuran bahan untuk digunakan dalam menentukan diagnosa, mencegah, mengurangi, menghilangkan, menyembuhkan penyakit atau gejalanya, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah manusia, hewan, tumbuhan termasuk untuk memperoleh tubuh/bagian tubuh manusia.

KHUSUS : obat jadi, obat paten, obat baru, obat asli, obat tradisional, obat esensial, obat generik

Obat adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk mencegah (preventif), meningkatkan kesehatan/kebugaran (promotif) dan
Obat adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk mencegah (preventif), meningkatkan kesehatan/kebugaran (promotif) dan
Obat adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk mencegah (preventif), meningkatkan kesehatan/kebugaran (promotif) dan

Obat adalah senyawa kimia yang berfungsi untuk mencegah

(preventif), meningkatkan kesehatan/kebugaran (promotif) dan menyembuhkan penyakit (kuratif).

A. Syarat suatu Obat

1.

Mempunyai Efek atau aktivitas Farmakologi

 

2.

Aman digunakan

Uji Toksisitas

2. Aman digunakan Uji Toksisitas Indeks Terapi

Indeks Terapi

IT = LD 50 /ED 50

3.

Mempunyai mutu atau karakter

 

Dapat Diidentifikasi dengan suatu metode analisis

Jelas Strukturnya

O H C C O H N H N OCCH 3 OCCH 3 OOCCH 3
O H C C O
O
H
C
C
O
O H C C O H N H N OCCH 3 OCCH 3 OOCCH 3 COOH

H

N

H

N

OCCH 3

OCCH 3

OOCCH 3 COOH
OOCCH 3
COOH
OH COONa
OH
COONa

Parasetamol

Fenasetin

Asetosal

Natrium salisilat

 OBAT JADI : Obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, tablet, pil,

OBAT JADI : Obat dalam keadaan murni atau campuran dalam bentuk serbuk, tablet, pil, kapsul, supositoria, cair, salep, atau bentuk sediaan lain yang scr teknis sesuai dg Farmakope Indonesia/buku resmi lain yg diverifikasi

pemerintah

OBAT PATEN : Obat jadi dgn nama dagang yang sudah

terdaftar atas nama pembuat yang diberi kuasa dan dijual

dalam bungkus asli pabrik yang memproduksinya

OBAT BARU : Obat yang berisi zat, baik yang berkhasiat maupun tidak spt lapisan, pengisi, pelarut, pembantu, atau komponen lainnya, yang belum dikenal sehingga

belum diketahui khasiat dan kegunaan aslinya.

 OBAT ASLI : Obat yang didapat langsung dari bahan alamiah Indonesia, diolah secara sederhana

OBAT ASLI : Obat yang didapat langsung dari bahan alamiah Indonesia, diolah secara sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional/modern

OBAT TRADISIONAL : Obat yang di dapat dari bahan alam

(berupa mineral, tumbuhan ,hewan) diolah scr sederhana berdasarkan pengalaman dan digunakan dalam pengobatan tradisional

OBAT ESENSIAL : Obat yang paling banyak dibutuhkan untuk

layanan kesehatan masyarakat dan tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) yang ditetapkan Menteri Kesehatan RI

OBAT GENERIK : Obat dengan nama resmi yang ditetapkan

dalam Farmakope Indonesia untuk zat berkhasiat yang

dikandungnya

OBAT HERBAL INDONESIA
OBAT HERBAL INDONESIA

IMMUNO

(Empirical based herbal medicine)

HERBAL INDONESIA IMMUNO (Empirical based herbal medicine) JAMU SWA PENGOBATAN OBAT TRADISIONAL, SEDIAAN ESKTRAK
JAMU SWA PENGOBATAN OBAT TRADISIONAL, SEDIAAN ESKTRAK ALAM (Scientific based herbal medicine) YANKES FORMAL
JAMU
SWA
PENGOBATAN
OBAT TRADISIONAL,
SEDIAAN ESKTRAK
ALAM
(Scientific based herbal medicine)
YANKES FORMAL
FITOFARMAKA
ANTI

(Clinical based herbal medicine)

MODULATOR

PEMBUKTIAN EMPIRIS TURUN TEMURUN HIGIENE DAN SANITASI
PEMBUKTIAN EMPIRIS
TURUN TEMURUN
HIGIENE DAN SANITASI
UJI PRA - KLINIK SIMPLISIA TELAH TERSTANDARISASI
UJI PRA - KLINIK
SIMPLISIA TELAH
TERSTANDARISASI
UJI KLINIK
UJI KLINIK

OKSIDAN

 Antaraksi kemobiodinamik Obat ~ Sifat Molekul Tubuh ~ Sifat Biologi  Perjalanan Obat dalam

Antaraksi kemobiodinamik Obat ~ Sifat Molekul

Tubuh ~ Sifat Biologi Perjalanan Obat dalam tubuhsasaran/target

Obat ~ Sifat Molekul Tubuh ~ Sifat Biologi  Perjalanan Obat dalam tubuh  sasaran/target 2

2 faktor kerja obat

obat

Tempat kerja (reseptor) Terikat Bebas Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat

Tempat kerja (reseptor)

Terikat

Tempat kerja (reseptor) Terikat Bebas

Bebas

Depot jaringan

Bebas Terikat
Bebas
Terikat
(reseptor) Terikat Bebas Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit
(reseptor) Terikat Bebas Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit
(reseptor) Terikat Bebas Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit
(reseptor) Terikat Bebas Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit
Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit
Sirkulasi
sistemik
Obat bebas
Obat Terikat
Metabolit
Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit Biotransformasi Absorpsi Ekskresi

Biotransformasi

Absorpsi

Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit Biotransformasi Absorpsi Ekskresi
Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit Biotransformasi Absorpsi Ekskresi

Ekskresi

Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit Biotransformasi Absorpsi Ekskresi
Depot jaringan Bebas Terikat Sirkulasi sistemik Obat bebas Obat Terikat Metabolit Biotransformasi Absorpsi Ekskresi
 Adalah aspek efek biokimia dan fisiologi /efek obat serta mekanisme kerjanya.

Adalah aspek efek biokimia dan fisiologi/efek obat serta mekanisme kerjanya.

Timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel organisme Terjadi perubahan biokimiawi dan fisiologi yg

Timbul karena interaksi obat dengan reseptor pada sel organismeTerjadi perubahan biokimiawi dan fisiologi yg merupakan respon khas u/ obat tsb Reseptor adalah makromolekul

Terjadi perubahan biokimiawi dan fisiologi ygkarena interaksi obat dengan reseptor pada sel organisme merupakan respon khas u/ obat tsb Reseptor adalah

merupakan respon khas u/ obat tsb

Reseptor adalah makromolekul fungsionalbiokimiawi dan fisiologi yg merupakan respon khas u/ obat tsb yang mencakup 2 konsep penting yaitu

yang mencakup 2 konsep penting yaitu

agonis dan antagonis

 Komponen penting : protein (asetilkolinesterase, Na + , K + ATPase, tubulin, dll)

Komponen penting : protein (asetilkolinesterase, Na +, K + ATPase, tubulin, dll)

 Komponen penting : protein (asetilkolinesterase, Na + , K + ATPase, tubulin, dll)
 Ikatan obat-reseptor : ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der waals, kovalen.  Struktur kimia

Ikatan obat-reseptor : ikatan ion, hidrogen, hidrofobik, van der waals, kovalen.

Struktur kimia suatu obat berhubungan erat dengan afinitasnya thd reseptor

Hubungan dosis dengan intensitas efek

D + R

Intensitas efek obat berbanding lurus dengan

DR + Efek

dosis dengan intensitas efek D + R Intensitas efek obat berbanding lurus dengan DR + Efek

fraksi reseptor yang diduduki

 Menurut  Kegunaan  Cara Penggunaan Obat  Cara Kerja  UU  Sumber

Menurut

Kegunaan

Cara Penggunaan Obat

Cara Kerja

UU

Sumber Obat

Bentuk Sediaan

Proses Fisiologis Dan Biokimia

 Menyembuhkan ( kuratif)  Mencegah (Prophylactic/preventif)  Mendiagnosis (Diagnostik)  Memelihara

Menyembuhkan ( kuratif)

Mencegah (Prophylactic/preventif)

Mendiagnosis (Diagnostik)

Memelihara kesehatan (rehabilitatif)

Meningkatkan kesehatan (promotif)

 Medicamentum Ad Usum Internum /Obat Dalam  Oral  Etiket Putih  Medicamentum Ad

Medicamentum Ad Usum Internum/Obat Dalam

Oral Etiket Putih

Medicamentum Ad Usum Externum/Obat Luar

Implantasi, Injeksi, Mukosa Membran, Rektal,

Vaginal, Nasal, Opthalmic, Aurical, Collutio/Gargarisma

Etiket Biru

 Obat Lokal : Bekerja Pada Jaringan Setempat.  Contoh: Obat Topikal  Obat Sistemik

Obat Lokal : Bekerja Pada Jaringan Setempat.

Contoh: Obat Topikal

Obat Sistemik : Didistribusikan Ke Seluruh

Tubuh.

Contoh: Tablet Analgesik

1. Obat Bebas 2. Obat Bebas Terbatas 3. Obat Keras 4. Obat Wajib Apotek 5.

1.

Obat Bebas

2.

Obat Bebas Terbatas

3.

Obat Keras

4.

Obat Wajib Apotek

5.

Obat Narkotika

6.

Obat Psikotropika

Obat Bebas Terbatas 3. Obat Keras 4. Obat Wajib Apotek 5. Obat Narkotika 6. Obat Psikotropika
Obat Bebas/OTC (Over the Counter) Obat Bebas Terbatas (W : waarschuwing) Obat Keras (G :
Obat Bebas/OTC (Over the Counter) Obat Bebas Terbatas (W : waarschuwing)
Obat
Bebas/OTC
(Over the
Counter)
Obat Bebas
Terbatas (W :
waarschuwing)
Obat Keras (G : Gevaarlijk)
Obat Keras
(G : Gevaarlijk)
OWA
OWA
(W : waarschuwing) Obat Keras (G : Gevaarlijk) OWA Obat yang dapat OBH, Paracetamol, dijual bebas
Obat yang dapat OBH, Paracetamol, dijual bebas kepada Vit. C, B Kompleks, dll.
Obat yang dapat
OBH, Paracetamol,
dijual bebas kepada
Vit. C, B Kompleks,
dll.
umum tanpa resep dokter
umum tanpa resep
dokter
Obat bebas yang pada penjualannya disertai tanda peringatan.
Obat bebas yang
pada penjualannya
disertai tanda
peringatan.
Antihistamin, klorokuin, suppositoria, dll.
Antihistamin,
klorokuin,
suppositoria, dll.
Obat berbahaya jika pemakaiannya tidak berdasarkan resep dokter. Adrenalin, antibiotika, antihistamin, dll.
Obat berbahaya jika
pemakaiannya tidak
berdasarkan resep
dokter.
Adrenalin,
antibiotika,
antihistamin, dll.
Obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker tanpa resep dokter. Linestrenol, antasid, salbutamol, basitrasin
Obat keras yang
dapat diserahkan
oleh apoteker tanpa
resep dokter.
Linestrenol, antasid,
salbutamol,
basitrasin krim,
ranitidin, dll.
diserahkan oleh apoteker tanpa resep dokter. Linestrenol, antasid, salbutamol, basitrasin krim, ranitidin, dll.
diserahkan oleh apoteker tanpa resep dokter. Linestrenol, antasid, salbutamol, basitrasin krim, ranitidin, dll.
diserahkan oleh apoteker tanpa resep dokter. Linestrenol, antasid, salbutamol, basitrasin krim, ranitidin, dll.
Narkotika Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan, sintetis atau semisintetis yang dapat
Narkotika Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan, sintetis atau semisintetis yang dapat
Narkotika Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan, sintetis atau semisintetis yang dapat
Narkotika
Narkotika
Narkotika Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan, sintetis atau semisintetis yang dapat menyebabkan
Zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan, sintetis atau semisintetis yang dapat menyebabkan
Zat atau obat yang berasal dari
tanaman atau bukan, sintetis atau
semisintetis yang dapat
menyebabkan penurunan atau
perubahan kesadaran, hilangnya
Tanaman Papaver
somniferum,
kokain, ganja,
heroin, morfin,
opium, kodein,
rasa, mengurangi sampai
lisergida (LSD),
menghilangkan rasa nyeri.
psilosibina, dll.
Zat atau obat baik alamiah
maupun sintetis bukan narkotika
yang berkhasiat psikoaktif melalui
diazepam,
fenobarbital,
klordiazepoksida,
pengaruh selektif pada SSP yang
dll.
menyebabkan perubahan khas
pada aktifitas mental dan perilaku.
Psikotropika
Psikotropika
pengaruh selektif pada SSP yang dll. menyebabkan perubahan khas pada aktifitas mental dan perilaku. Psikotropika
 Narkotika gol. 1  hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam
 Narkotika gol. 1  hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam
 Narkotika gol. 1  hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam

Narkotika gol. 1 hanya digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi yang sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Tanaman Papaver Somniferum L , koka, ganja

Opium mentah

Kokain

Heroin

Ekstasi (MDMA)

Lisergida (LSD)

Psilosibina

Amfetamin, Deksamfetamin, Metamfetamin

Karisoprodol

 Narkotika Gol. II  berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam

Narkotika Gol. II berkhasiat pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan serta

mempunyai potensi yang tinggi mengakibatkan ketergantungan.

Fentanil

Metadon

Morfin

Petidin

 Narkotika Gol. III  berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan

Narkotika Gol. III berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau

untuk tujuan ilmu pengembangan

pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan.

Etilmorfin Kodein

Obat psikotropika terbagi menjadi empat golongan, yaitu:  Golongan I , yaitu obat psikotropika dengan
Obat psikotropika terbagi menjadi empat golongan, yaitu:  Golongan I , yaitu obat psikotropika dengan
Obat psikotropika terbagi menjadi empat golongan, yaitu:  Golongan I , yaitu obat psikotropika dengan

Obat psikotropika terbagi menjadi empat golongan, yaitu:

Golongan I, yaitu obat psikotropika dengan daya candu (dapat menyebabkan ketergantungan) yang sangat kuat seperti rolisiklidin/STP, etisiklidin. Psikotropika jenis ini dilarang digunakan untuk terapi dan hanya untuk kepentingan pengembangan ilmu pengetahuan.

Golongan II, yaitu psikotropika dengan daya kuat, contohnya

amineptina, metilfenidat, sekobarbital yang berguna untuk penelitian dan pengobatan.

Golongan III, yaitu psikotropika dengan daya candu sedang dan berguna untuk penelitian dan pengobatan, misalnya

flunitrazepam, pentobarbital, buprenorsina, lumibal

Golongan IV, yaitu psikotropika dengan daya candu ringan dan boleh digunakan untuk pengobatan medis. Contoh jenis psokotropika golongan ini adalah diazepam (Valium), nitrazepam (dumolid, mogadon, BK), dan alprazolam (Xanax), barbital, fenobarbital, flurazepam, klobazam, lorazepam

 Tumbuhan (Flora/Nabati) : Digitalis, Kina, Minyak Jarak  Hewan (Fauna): Minyak Ikan, Adeps Lanae,

Tumbuhan (Flora/Nabati) : Digitalis, Kina, Minyak Jarak

Hewan (Fauna): Minyak Ikan, Adeps Lanae,

Cera

Mineral (Penambangan) : Iodkali, Garam Dapur,

Parafin, Vaselin, Sulfur

Sintetis (Tiruan/Buatan) : Kamper Sintetis, Vit. C

Mikroba Dan Fungi : Penisilin

 Padat : Serbuk, Tablet, Pil, Kapsul, Supositoria  Setengah Padat : Salep, Krim, Pasta,

Padat : Serbuk, Tablet, Pil, Kapsul, Supositoria

Setengah Padat : Salep, Krim, Pasta, Gel

Cair : Potio, Sirop, OT, Gargarisma,cairan Injeksi

Gas : Inhalasi, Spray, Aerosol

Sediaan Obat Padat 1. Serbuk dan Bubuk 2. Tablet dan Komprimat 3. Tablet Bersalut 1.

Sediaan Obat Padat

1. Serbuk dan Bubuk

2. Tablet dan Komprimat

3. Tablet Bersalut

dan Bubuk 2. Tablet dan Komprimat 3. Tablet Bersalut 1. Sediaan Obat Padat 2. Sediaan Obat

1.

Sediaan Obat Padat

1. Sediaan Obat Padat

2.

Sediaan Obat Plastis/

Semipadat

3.

Sediaan Obat Cair

4.

Sediaan Obat Berbentuk Gas

4. Sediaan Depo Peroral

5. Kapsul (-keras, -lunak, -mikro, -

nano)

6. Supositoria dan Ovula

Sediaan Obat Plastis

1. Salap (gel hidrokarbon, gel emulsi, gel PEG, hidrogel)

2. Salap Mata

3. Pasta

4. Plester

Sediaan Obat Cair

1. Larutan (sirop, spiritus obat, minyak obat, air aromatik)

2. Emulsi

3. Suspensi

4. Injeksi dan Infusi (Suspensi injeksi, infus elektrolit, plasma

ekspander, nutrisi, radiofarmaka, larutan pencuci)

5. Tetes Mata (larutan dalam air, dalam minyak, suspensi, air pencuci mata, inserte)

Sediaan Obat Berbentuk Gas

1. Aerosol

2. Inhalat

Sediaan Fitofarmaka

1. Sari

2. Tinktur

3. Ekstrak

 Obat Farmakodinamik : Bekerja terhadap inang dg mempercepat atau memperlambat proses fisika dan biokimia

Obat Farmakodinamik : Bekerja terhadap inang dg mempercepat atau memperlambat proses fisika dan biokimia dalam tubuh

hormon, diuretik, hipnotik, obat otonom

Obat Kemoterapeutik : Membunuh parasit dan kuman di dalam

tubuh inang. Obat ini memiliki kegiatan farmakodinamik sekecil- kecilnya terhadap inang dan melawan sebanyak mungkin parasit (cacing, protozoa), mikroorganisme (bakteri, virus)

onkolitika, sitostatika, obat kanker

Obat Diagnostik : Obat yg dapat membantu dalam pengenalan penyakit.

Barium sulfat u/ mendiagnosa penyakit pada saluran lambung dan usus, natrium miopanoat serta asam iod organik membantu mendiagnosa

penyakit saluran empedu

PENGGOLONGAN OBAT BERDASARKAN

PENGGOLONGAN OBAT BERDASARKAN Indikasi Obat : Obat Cacing, Obat sakit kepala, obat Infeksi, obat kanker, hipnotikum,
Indikasi Obat :
Indikasi Obat :

Obat Cacing, Obat sakit kepala, obat Infeksi, obat kanker,

hipnotikum, sedatif, oksitosik, medriasis, emetik, diuretik,

ekspektorans, katartika, sudorivika, dsb.

diuretik, ekspektorans, katartika, sudorivika, dsb. Berdasarkan Mekanisme Kerja  Bekerja terhadap penyakit
Berdasarkan Mekanisme Kerja
Berdasarkan Mekanisme Kerja
 Bekerja terhadap penyakit (antibiotik)  Mencegah (serum, vaksin)  Simptomatik (analgesik) 
 Bekerja terhadap penyakit (antibiotik)
 Mencegah (serum, vaksin)
 Simptomatik (analgesik)
 Menambah/mengganti (vitamin )
 Plasebo (aqua injectionum)