Anda di halaman 1dari 10

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Matematika merupakan suatu wahana pendidikan yang mempunyai
kontribusi yang berarti bagi masa depan bangsa, khususnya dalam mencerdaskan
kehidupan bangsa. Matematika dapat membentuk kepribadian seseorang
mengembangkan kemampuan tertentu dan dituntut menemukan suatu cara
berpikir dalam mengungkapkan ide-ide mereka ke model matematika atau bentuk
pengganti dari suatu situasi masalah yang digunakan untuk menemukan solusi, hal
ini sering disebut juga kemampuan representasi matematis. Dimana, kemampuan
representasi matematis akan mempermudah dan memperjelas dalam penyelesaian
masalah matematika untuk mengubah ide abstrak menjadi konsep nyata, misalnya
dengan gambar, simbol, kata-kata, grafik, tabel dan lain-lain. Sehingga masalah-
masalah yang rumit dapat dilihat dengan lebih sederhana dapat disajikan lebih
mudah. Namun kenyataannya, berdasarkan data yang diperoleh dari observasi yg
dilakukan, ada empat kesulitan siswa SMP Negeri 1 Talawi dalam meningkatkan
kemampuan representasi matematis yaitu belum mampu menyajikan masalah ke
bentuk visual, kurang mampu menyelesaikan masalah dengan persamaan atau
ekspresi matematis, kurang mampu menjawab soal dengan kata-kata atau teks
tertulis dan kurangnya latihan dalam mengerjakan soal matematika. Tentu untuk
mengatasi diperlukan suatu tindakan atau strategi dalam proses pembelajaran.
Permasalahan yang pertama yaitu siswa kurang mampu menyajikan
masalah ke bentuk visual. Dalam pengerjaan soal matematika, sering sekali
ditemukan menyelesaikan soal yang sederhana menjadi sangat rumit. Tidak dapat
merepresentasikan soal secara kreatif kebentuk lain untuk membantu
menyelesaikan masalah. Membandingkan masalah antara logika lalu dituangkan
menggunakan berbagai penyajian visual untuk memperjelas masalah dalam
membantu penyampaian pikiran atau ide yang siswa miliki sesuai konsep yang
benar.

1
Gambar 1.1. Jawaban siswa dari soal tes diagnostik no. 1a dan 1c
Siswa dituntut menyelesaikan masalah yang telah diubah ke bentuk gambar.
Sedangkan dari jawaban diatas, masih terdapat kesalahan pada pembuatan gambar
dan pada penyelesaiannya.
Permasalahan selanjutnya yaitu siswa kurang mampu menyelesaikan
masalah dengan persamaan atau ekspresi matematis. Jika diberikan suatu masalah,
kebanyakan siswa lebih mementingkan hasil akhir daripada proses. Karena itu,
sering sekali siswa menyelesaikan masalah dengan logika berpikir mereka sendiri
tanpa melibatkan persamaan atau ekspresi matematika dalam menyelesaikan soal
tersebut, sehingga dalam menyelesaikan masalah tersebut siswa masih salah.

Gambar 1.2. Jawaban siswa dari soal tes diagnostik no. 1b


Dari jawaban siswa diatas, siswa masih kurang mampu menyelesaikan soal
menggunakan ekspresi atau persamaan matematis dengan benar terlihat bahwa
siswa menjawab soal dengan mengalikan apa yang diketahui dari soal sehingga
dalam menyelesaikan masalah tersebut siswa masih salah.
Permasalahan berikutnya yaitu kurang mampu menjawab soal dengan
kata-kata atau teks tertulis. Dalam menyelesaikan soal, siswa tidak dapat

2
menceritakan atau menyusun cerita yang sesuai dari suatu representasi yang telah
diberikan serta tidak dapat menuliskan langkah-langkah penyelesaian masalah
matematik dengan kata-kata atau teks tertulis. Hal ini terlihat dari jawaban siswa
ketika menjawab soal tes diagnostik yang telah diberikan peneliti.

Gambar 1.3. Jawaban siswa dari soal tes diagnostik no. 2b


Dapat dilihat dari jawaban diatas, siswa kurang mampu dalam menjawab soal ke
bentuk kata-kata atau teks tertulis, sehingga dalam menyelesaikan masalah
tersebut siswa masih salah.
Permasalahan yang terakhir yaitu siswa kurang melatih kemampuan dalam
mengerjakan soal matematika. Terbukti bahwa siswa enggan mengulang atau
menyisihkan waktunya untuk mengerjakan soal latihan setelah pulang sekolah dan
tidak ada ketertarikan dalam mengerjakan latihan matematika. Hal ini diketahui
dari hasil wawancara peneliti kepada beberapa siswa setelah melakukan tes
diagnostik pada siswa kelas VIII-E SMP Negeri 1 Talawi.
Tes diagnostik representasi matematis yang diberikan oleh peneliti pada
tanggal 28 januari 2019 sebanyak 2 soal. Banyaknya siswa kelas VIII-E SMP
Negeri 1 Talawi adalah berjumlah 32 orang. Kedua soal ini dirancang agar
penyelesaian dapat menunjukkan indikator representasi yaitu (visual, persamaan
atau ekspresi matematis, tes tertulis). Berdasarkan hasil tes yang diberikan
diperoleh sebanyak 1 orang siswa yang memiliki kemampuan representasi sangat
tinggi (3,1%), 2 orang siswa memiliki kemampuan representasi dalam kategori
tinggi (6,3%), 2 orang siswa memliki kemampuan representasi dalam kategori
sedang (6,3%), 11 orang pada kategori rendah (34,4%), dan 16 orang dalam
kategori sangat rendah (50%).

3
Disisi lain kemampuan repesentasi sangat penting. Hal ini sejalan dengan
pendapat Vergnaud (dalam Hasratuddin, 2015:124) menyatakan : “kemampuan
representasi merupakan unsur yang penting dalam teori belajar-mengajar
matematika, tidak hanya karena pemakaian sistem simbol yang juga penting
dalam matematika dan kaya akan kalimat dan kata, beragam dan universal, tetapi
juga karena matematika mempunyai peranan penting dalam mengkonseptualisasi
dunia nyata atau sikap”.
Pentingnya kemampuan representasi ini juga sejalan dengan tujuan
pelajaran matematika untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah bahwa siswa
dituntut untuk memiliki kemampuan representasi yang baik. Berdasarkan
Permendiknas No. 22 tahun 2006 dalam Standar Isi adalah agar peserta didik
memiliki kemampuan berikut :
1. Memahami konsep matematika, menjelaskan keterkaitan antar konsep, dan
mengaplikasikan konsep atau algoritma secara luwes, akurat, efisien, dan tepat
dalam pemecahan masalah.
2. Menggunakan penalaran pada pola dan sifat, melakukan manipulasi
matematika dalam membuat generalisasi, menyusun bukti atau menjelaskan
gagasan dan pernyataan matematika.
3. Memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah,
merancang model matematika, menyelesaikan model, dan menafsirkan solusi
yang diperoleh.
4. Mengkomunikasikan gagasan dengan symbol, tabel, diagram, atau media lain
untuk memperjelas keadaan atau masalah.
5. Memiliki sikap menghargai kegunaan matematika dalam kehidupan, yaitu rasa
ingin tahu, perhatian, dan minat dalam mempelajari matematika, serta sikap
ulet dan percaya diri dalam pemecahan masalah.
Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh bahwa pembelajaran yang
dilakukan oleh guru SMP Negeri 1 Talawi umumnya adalah pembelajaran
langsung (Direct Instruction). Dimana pembelajaran lebih cenderung berpusat
pada guru, sehingga siswa sangat jarang mengajukan pertanyaan pada guru dan
guru lebih menjelaskan apa yang telah dipersiapkan. Kebanyakan siswa hanya

4
menerima apa saja yang disampaikan guru, sehingga siswa kurang mendapatkan
kesempatan untuk berkembang secara maksimal dalam mengungkapkan ide-
idenya. Siswa menjadi pasif karena guru yang lebih banyak mengambil peran
dalam proses belajar mengajar.
Menurut Kardi (2012) pembelajaran langsung merupakan suatu model
pembelajaran dari pendekatan yang bersifat Teacher Center. Pembelajaran
langsung digunakan untuk menyampaikan pelajaran yang ditransformasikan
langsung oleh guru kepada siswa. Penyusunan waktu yang digunakan untuk
mencapai tujuan pembelajaran harus seefesien mungkin, sehingga guru dapat
merancang dengan tepat waktu yang digunakan. Untuk itu guru harus mempunyai
metode-metode yang paling sesuai untuk bidang studi dan membimbing siswa
untuk turut berperan aktif dalam proses pembelajaran.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Maonde (2015:261) bahwa :


Seorang guru profesional diharapkan dapat meningkatkan minat dan
dorongan siswa dalam belajar matematika. Meningkatkan prestasi belajar
siswa tidak terlepas dari guru berperan sebagai penentu dan faktor utama
dalam melakukan instruksi di kelas.
Faktor lain juga dapat berkontribusi terhadap kemampuan matematis dan
sikap belajar matematis siswa, yaitu gaya belajar siswa. Gaya Belajar adalah suatu
karakteristik afektif, kognitif dan psikomotoris. Sebagai indikator supaya
pembelajar merasa paling berhubungan dan bereaksi terhadap lingkungan belajar
pembelajar (NASSP, dalam Ardhana dan Wills,1980).
Handayani (2004) yang mengungkapkan bahwa salah satu cara yang dapat
dilakukan orang tua agar anaknya memiliki prestasi yang baik adalah dengan
menemukan gaya belajar anak dan menerima anak sesuai dengan kemampuan
yang dimiliki. Drummond (1998:186) mendefinisikan gaya belajar sebagai “an
individual’s preferred mode and desired contition of learning. Maksudnya, gaya
belajar dianggap sebagai cara belajar atau kebiasaan belajar yang disukai oleh
pembelajar
Sebagaimana yang diungkapkan oleh (Aunurrahman, 2009: 119) bahwa
daya keaktifan yang dimiliki anak secara kodrati itu akan dapat

5
berkembang ke arah yang positif saat lingkungannya memberikan ruang
yang baik untuk perkembangan keaktifan itu.
Mengingat kenyataan dalam pembelajaran matematika dan kebutuhan
dalam kehidupan sehari-hari tersebut, diperlukan pembelajaran yang dapat
membekali siswa dalam suatu kemampuan untuk dapat berfikir aktif dalam
merepresentasikan masalah dalam proses pembelajaran matematika. Proses
pembelajaran matematika pada hakekatnya untuk mengembangkan keaktifan
siswa melalui berbagai interaksi dan pengalaman belajar. Aktifitas siswa menjadi
hal yang penting karena kadangkala guru lebih menekankan pada aspek kognitif,
dengan menekankan pada kemampuan mental yang dipelajari sehingga hanya
berpusat pada pemahaman bahan pengetahuan. Guru perlu menyadari bahwa pada
saat mengajar, guru lebih memposisikan dirinya sebagai fasilitator.
Berdasarkan kondisi di atas, maka perlu adanya perbaikan dalam proses
pembelajaran. Untuk meningkatkan kemampuan representasi matematis siswa
terhadap matematika, diperlukan model pembelajaran yang menuntut siswa untuk
mengeksplorasi, mengolah, menggunakan potensi, dan pengetahuan yang ada
pada dirinya dalam menyelesaikan suatu masalah dengan semaksimal mungkin.
Misalnya dalam pembelajaran siswa diberikan kesempatan untuk
merepresentasikan hasil pemikirannya kepada teman lainnya, memberikan
kesempatan untuk belajar kelompok, berdiskusi, sehingga dalam pembelajaran
tidak hanya menumbuhkan keterampilan berpikir siswa saja tapi juga
menumbuhkan kepercayaan diri siswa.
Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah model
Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK). Model Pembelajaran Interaktif
Setting Kooperatif (PISK) merupakan hasil dari model modifikasi pembelajaran
interaktif pada pembelajaran kooperatif yang menekankan pada interaksi siswa
secara luas. Dalam setting kooperatif ini siswa dikelompokkan secara heterogen
sehingga dalam satu kelompok terdapat siswa dengan kemampuan akademik,
jenis kelamin ras, dan latar belakang yang berbeda-beda. Perbedaan ini akan
menciptakan suatu interaksi yang saling mencerdaskan dan saling ketergantungan
positif antar anggota kelompok.

6
Hal ini didukung hasil penelitian oleh Fhela Vhantoria Ningrum, dkk
(2014) diperoleh Prestasi belajar matematika siswa yang dikenai model
Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK) lebih baik dibandingkan siswa
yang dikenai model STAD dan konvensional.
Untuk meningkatkan kemampuan representasi siswa dengan model
pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK) diperlukan adanya hubungan
antara materi dengan kehidupan sehari-hari agar siswa menjadi tertarik dan
menghasilkan pembelajaran yang lebih baik, dengan cara mengaitkan materi
pelajaran dengan budaya yang terdapat di lingkungan tempat tinggal siswa
tersebut, yaitu budaya Melayu . Ini bertujuan agar siswa lebih mudah memahami
dan mampu merepresentasikan masalah matematis. Dimana, siswa sudah
memiliki pengetahuan dasar tentang daerah tempat tinggal mereka tersebut.
Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa perlu untuk melakukan
penelitian dengan judul “Peningkatan Kemampuan Representasi Matematis
siswa Menggunakan Model Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif
Berbasis Budaya Melayu di SMP Negeri 1 Talawi T.A. 2018/2019”.

1.2. Identifikasi Masalah


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas, maka identifikasi
masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Kemampuan representasi matematis siswa di SMP Negeri 1 Talawi masih
rendah
2. Pembelajaran matematika yang dilaksanakan masih berpusat pada guru
(teacher centered)
3. Masih banyak siswa yang pasif dalam proses pembelajaran

1.3. Batasan Masalah


Berdasarkan identifikasi masalah diatas, peneliti membatasi masalah agar
hasil penelitian ini dapat lebih terarah dan jelas. Masalah yang akan dikaji dalam
penelitian ini dibatasi pada peningkatan kemampuan representasi matematis siswa

7
menggunakan model pembelajaran interaktif setting kooperatif berbasis budaya
Melayu di SMP Negeri 1 Talawi T.A. 2018/2019.

1.4. Rumusan Masalah


Berdasarkan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah :
1. Apakah kemampuan representasi matematis siswa yang diterapkan model
Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK) berbasis budaya Melayu
lebih tinggi daripada siswa yang diterapkan pembelajaran langsung?
2. Apakah ada interaksi antara model Pembelajaran Interaktif Setting
Kooperatif (PISK) berbasis budaya Melayu dan kemampuan awal
matematis terhadap kemampuan representasi matematis siswa kelas VIII
SMP Negeri 1 Talawi T.A. 2018/2019?

1.5. Tujuan Penelitian


Sejalan dengan latar belakang dan rumusan masalah yang telah disebutkan
di atas, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui apakah kemampuan representasi matematis siswa yang
diterapkan model Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK)
berbasis budaya Melayu lebih tinggi daripada siswa yang diterapkan
pembelajaran langsung.
2. Untuk mengetahui apakah ada interaksi antara model Pembelajaran
Interaktif Setting Kooperatif (PISK) berbasis budaya Melayu dan gaya
belajar terhadap kemampuan representasi matematis siswa .

1.6. Manfaat Penelitian


Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bagi usaha-usaha
memperbaiki proses pembelajaran matematika dengan menerapkan model
pembelajaran. Selain itu hasil penelitian ini diharapkan juga memberikan :

8
1. Bagi siswa, melalui model Pembelajaran Interaksi Setting Kooperatif
(PISK) berbasis budaya Melayu diharapkan terbina sikap belajar yang
positif dan kreatif untuk meningkatkan representasi matematis siswa.
2. Bagi guru, sebagai bahan pertimbangan dalam memilih model Pembelajaran
Interaksi Setting Kooperatif (PISK) berbasis budaya Melayu dan
pembelajaran langsung dapat meningkatkan kemampuan representasi
matematis siswa.
3. Bagi sekolah, sebagai masukan untuk meningkatkan kebijakan dalam
menerapkan inovasi pembelajaran baik matematika maupun pelajaran
lainnya upaya meningkatkan kualitas pendidikan, kualitas guru, dan kualitas
siswa.
4. Bagi peneliti, sebagai bahan informasi sekaligus sebagai bahan pegangan
bagi peneliti dalam menjalankan tugas pengajaran sebagai calon tenaga
pengajar di masa yang akan datang.

1.7. Definisi Operasional


Agar tidak terjadi perdebatan pemahaman tentang istilah-istilah yang
digunakan juga untuk mempermudah peneliti agar lebih terarah, maka beberapa
istilah yang digunakan dalam penelitian ini adalah
1. Kemampuan representasi matematis membantu menggambarkan,
menjelaskan, atau memperluas ide matematika dengan berfokus pada fitur-
fitur pentingnya. Representasi meliputi symbol, persamaan, kata-kata,
gambar, tabel, grafik, objek manipulative, dan tindakan serta mental, cara
internal berpikir tentang ide matematika. Siswa dapat memperluas
pemahaman ide matematika atau hubungan dengan berpindah dari satu jenis
representasi ke representasi yang berbeda dari hubungan yang sama.
2. Model Pembelajaran Interaktif Setting Kooperatif (PISK) merupakan hasil
dari model modifikasi pembelajaran interaktif pada pembelajaran kooperatif
yang menekankan pada interaksi siswa secara luas. Adapun fase-fase yang
dimiliki yaitu (1) pengantar, (2) aktivitas atau pemecahan masalah, (3)
presentasi dan berdiskusi, (4) penutup dan (5) penilaian.

9
3. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction) merupakan salah satu
model pengajaran yang berpusat pada guru dan dirancang khusus untuk
mengembangkan belajar siswa tentang pengetahuan prosedural dan
pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan baik dan dapat dipelajari
selangkah demi selangkah.
4. Interaksi adalah kerja sama dua atau lebih variabel dalam mempengaruhi
variabel dependen. Dengan kata lain interaksi adalah pengaruh variabel
independen terhadap variabel dependen pada level variabel dependen
lainnya (Kerlinger, 1986: 398). Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa
"interaksi terjadi setiap kali variabel bebas memiliki efek yang berbeda pada
variabel dependen di berbagai tingkat variabel independen lainnya". Dalam
penelitian ini, interaksi yang digunakan adalah pengaruh antara model
pembelajaran dan gaya belajar siswa pada kemampuan representasi
matematis siswa.

10