Anda di halaman 1dari 19

BAB I PENDAHULUAN

I.1 Latar belakang


Negara Indonesia adalah Negara yang berkembang, baik dalam pembangunan
maupun pertumbuhan perekonomiannya. Kedua perkembangan tersebut akan
saling berkesinambungan atau saling sambung, perekonomian yang tumbuh
dengan baik tidak akan terjadi jika tidak ada pembangunan Negara yang lancar.
Begitu juga pembangunan, tidak akan dapat terlaksana jika perekonomian Negara
Indonesia tidak berjalan dengan baik dan sistematis. Karena permasalahan
perekonomian Negara Indonesia banyak terletak pada sistem pemasukan Negara
yang kurang begitu dimanfaatkan dengan baik. Salah satu sumber pemasukan
yang paling vital yaitu perpajakan yang kurang begitu dipandang sebagai sumber
pendapatan yang sangat membantu pemasukan keuangan negara. Maka setelah
dipandang sektor perpajakan sangat berpotensi sebagai salah satu sumber
pemasukan keuangan Negara yang sangat besar, Negara Indonesia mulai
membenahi sistem perpajakan. Saat ini Negara Indonesia sedang benar – benar
membenahi sistem perekonomian yang digunakan untuk mencari pendapatan
yang akan digunakan sebagai aset atau pemasukan yang terbesar atau terpenting.
Oleh karena itu, Negara Indonesia melakukan reformasi perpajakan yang
digunakan sebagai pemasukan yang terpenting dalam menentukan APBN. Sistem
perpajakan yang lama ternyata sudah tidak sesuai lagi dengan tingkat kehidupan
sosial masyarakat Indonesia, baik dari segi kegotong – royongan nasional maupun
dari laju pembangunan nasional yang telah dicapai. Di samping itu sistem
perpajakan yang lama belum dapat menggerakkan peran dari semua lapisan
subjek pajak yang besar peranannya dalam menghasilkan penerimaan dalam
negeri yang sangat diperlukan guna mewujudkan kelangsungan dan peningkatan
pembangunan nasional (Mardiasmo, 2006). Reformasi perpajakan dilakukan
untuk menghilangkan pandangan masyarakat yang selalu melihat bahwa
perpajakan di Indonesia adalah tempat untuk terjadinya penyelewengan
pemasukan Negara, selain untuk menghilangkan pandangan tersebut reformasi
pajak juga dilakukan sebagai pemanfaatan atau memaksimalkan pemasukan dari
berbagai sektor perekonomian. Pembenahan tersebut sejalan dengan arah dan
tujuan pembangunan nasional serta kebijakan pemerintah dalam PJP tahap II
yang antara lain berbunyi Sistem perpajakan terus disempurnakan, pemungutan
pajak yang diintensifkan dan aparat perpajakan harus makin mampu dan bersih
(Mardiasmo, 2006). Ciri dari pembenahan sistem perpajakan tersebut adalah:
1.

Pemungutan pajak merupakan perwujudan dari pengabdian dan peran serta Wajib
Pajak untuk secara langsung dan bersama – sama melaksanakan kewajiban
perpajakan yang diperlukan untuk pembiayaan Negara dan pembangunan
nasional. 2.

Tanggung jawab atas kewajiban pelaksanaan pemungutan pajak sebagai


pencerminan kewajiban di bidang perpajakan berada pada anggota masyarakat
Wajib Pajak sendiri. Pemerintah dalam hal ini sebagai aparatur perpajakan sesuai
dengan fungsinya berkewajiban melakukan pembinaan, pelayanan dan
pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban perpajakan berdasarkan ketentuan
yang telah digariskan dalam peraturan perundang – undangan perpajakan. 3.

Anggota masyarakat wajib diberi kepercayaan untuk dapat melaksanakan


kegotong – royongan nasional melalui sistem menghitung, memperhitungkan,
membayar, dan melaporkan sendiri pajak yang terutang (
self assessment
), sehingga melalui sistem ini administrasi perpajakan diharapkan dapat
dilaksanakan dengan rapi, terkendali, sederhana, dan mudah unutk dipahami oleh
anggota masyarakat Wajib Pajak. Reformasi perpajakan juga dilakukan karena
Ditjen pajak melihat banyak sektor yang masih bisa dipungut pajak guna
mendapat pemasukan secara maksimal. Salah satunya adalah pemungutan pajak
penghasilan dari penjualan

bahan bakar minyak dan gas oleh pertamina. Pada saat ini hampir seluruh
masyarakat Indonesia sangat bergantung pada transportasi kendaraan bermotor,
dan kendaraan bermotor membutuhkan bahan bakar untuk beroperasi, dari sinilah
Ditjen pajak melihat perlu pemanfaatan pajak yang maksimal dari penjualan
bahan bakar yang di kelola oleh pertamina atau badan lain yang bergerak dalam
bidang bahan bakar minyak dan gas. Atas dasar tersebut, penulis mencoba
menelaah dengan melakukan penelitian dalam laporan praktek kerja lapangan
yang berjudul
“ Penerapan Penghitungan Pajak Penghasilan Pasal 22 atas Premium dan
Solar untuk SPBU”. I.2 Perumusan Masalah
1.

Bagaimana perhitungan pemungutan pajak penghasilan pasal 22 untuk SPBU? 2.

Apakah pemungutan oleh Pertamina sudah sesuai dengan ketentuan – ketentuan


perpajakan yang diperbaharui? 3.

Masalah apa saja yang muncul sehubungan dengan pemungutan pajak


penghasilan pasal 22 untuk SPBU? 4.

Solusi untuk mengatasi masalah yang muncul sehubungan dengan pemungutan


pajak penghasilan pasal 22 untuk SPBU?

I.3 Tujuan Penulisan


1.

Untuk mengetahui bagaimana perhitungan pemungutan pajak penghasilan pasal


22 untuk SPBU. 2.

Untuk mengetahui apakah pelaksanaan pemungutan pajak penghasilan sudah


sesuai dengan ketentuan – ketentuan perpajakan yang diperbaharui. 3.

Untuk mengetahui masalah yang muncul sehubungan dengan pemungutan pajak


penghasilan pasal 22 untuk SPBU. 4.

Untuk mengatasi masalah yang muncul sehubungan dengan pemungutan pajak


penghasilan pasal 22 untuk SPBU.
I.4 Manfaat Penulisan
1.

Bagi instansi atau Wajib Pajak Memberikan informasi tentang perhitungan pajak
penghasilan pasal 22 dan solusi untuk masalah yang muncul sehubung dengan
pemungutan. 2.
Bagi Penulis Menambah pengetahuan bagi penulis mengenai berbagai masalah
yang muncul dalam dunia kerja khususnya di bidang perpajakan. 3.

Bagi Pembaca Sebagai bahan referensi dan menambah pengetahuan tentang


perhitungan pajak penghasilan pasal 22 pada SPBU.

I.5 Sistematika penulisan


Sistematika penulisan dalam penelitian ini secara garis besar akan dibagi menjadi
lima bagian, yaitu: BAB I : PENDAHULUAN Pendahuluan berisi latar belakang
penelitian, perumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat penulisan, dan
sistematika penulisan dalam penelitian ini. BAB II : LANDASAN TEORI
Membahas teori – teori yang akan berhubungan dengan penelitian dan akan
digunakan sebagai landasan teori atau pedoman dalam pembahasan yang akan
dikemukakan. BAB III: GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN Berisi
gambaran umum dan sejarah singkat berdirinya Kantor Pelayanan Pajak Pratama
Semarang Tengah Satu. BAB IV: HASIL DAN PEMBAHASAN Berisi tentang
pembahasan masalah BAB V : PENUTUP Berisi kesimpulan dan saran berdasar
penelitian yang dilakukan

BAB II LANDASAN TEORI


I.

Definisi dan Unsur Pajak


Definisi atau pengertian pajak menurut Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH dalam
Mardiasmo (2009), adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang –
undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal
(kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan
untuk membayar pengeluaran umum. Dari definisi tersebut, dapat disimpulkan
bahwa pajak memiliki unsur – unsur: 1.

Iuran dari rakyat kepada Negara. Yang berhak memungut pajak hanyalah Negara,
iuran tersebut berupa uang ( bukan barang) 2.

Berdasarkan undang – undang. Pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan


undang – undang serta aturan pelaksanaannya.

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari Negara yang secara langsung dapat
ditunjuk. Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi
individual oleh pemerintah. 4.

Digunakan untuk membiayai rumah tangga Negara, yakni pengeluaran –


pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.
II.2 Fungsi Pajak
Ada dua fungsi pajak (Mardiasmo, 2009) yaitu: 1.

Fungsi
budgetair
Pajak sebagai sumber dana bagi pemerintah untuk membiayai pengeluaran –
pengeluarannya. 2.

Fungsi mengatur (
regulerend
) Pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijaksanaan pemerintah
dalam bidang sosial dan ekonomi.
II.3 Pengelompokan Pajak
Pajak dapat dikelompokkan menurut golongan, sifat, dan lembaga pemungutnya
(Mardiasmo, 2009) yaitu: 1.
Menurut golongannya a.

Pajak langsung, yaitu pajak yang harus dipikul sendiri oleh wajib pajak dan tidak
dapat dibebankan atau dilimpahkan kepada orang lain.

b.Pajak tidak langsung, yaitu pajak yang pada akhirnya dapat dibebankan atau
dilimpahkan kepada orang lain. 2.

Menurut sifatnya a.

Pajak subjektif, yaitu pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya,
dalam arti memperhatikan keadaan diri Wajib Pajak. b.

Pajak objektif, yaitu pajak yang berpangkal pada objeknya, tanpa memperhatikan
keadaan diri Wajib Pajak. 3.

Menurut lembaga pemungutnya a.

Pajak pusat, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga Negara. b.

Pajak daerah, yaitu pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah dan digunakan
untuk membiayai rumah tangga daerah. Pajak daerah terdiri atas: - Pajak propinsi,
contoh: pajak kendaraan bermotor, pajak bahan bakar kendaraan bermotor. -
Pajak kabupaten, contoh: pajak hotel, pajak restoran, dan pajak hiburan. II.4
Pajak Penghasilan Pasal 22
Merupakan pembayaran pajak penghasilan dalam tahun berjalan yang dipungut
(Rusdji, 2007) oleh: - Bendaharawan pemerintah baik pusat maupun daerah,
instansi atau lembaga pemerintahan dan lembaga – lembaga Negara lainnya
sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan barang. - Badan – badan
tertentu, baik badan pemerintahan maupun swasta berkenaan dengan kegiatan di
bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. - Dasar hukum pengenaan Pajak
Penghasilan Pasal 22 adalah Pasal 22 Pajak Penghasilan, selanjutnya diikuti
dengan Keputusan Menteri Keuangan, terakhir dengan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 236/KMK.03/2003 sebagai perubahan Keputusan Menteri
Keuangan Nomor 254/KMK.03/2001. Keputusan Menteri Keuangan ini berlaku
dan ditetapkan pada 2 januari 2003.
II.4.1 Pemungut Pajak
- Pemungut pajak penghasilan pasal 22 (Rusdji, 2007) adalah: 1.

Bank Devisa dan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, atas impor barang

2.

Direktorat Jenderal Anggaran, Bendaharawan Pemerintah baik di tingkat Pusat


maupun Pemerintah Daerah, yang melakukan pembayaran atas pembelian
barang. 3.

Badan Usaha Milik Negara dan Badan Usaha Milik Daerah yang melakukuan
pembayaran atas pembelian barang yang dananya dari anggaran belanja Negara
atau belanja daerah, kecuali badan – badan pada butir 4. 4.

Bank Indonesia (BI), Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Badan


Urusan Logistik (BULOG), PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT
Perusahaan Listrik Negara (PLN), PT garuda Indonesia. PT Indosat, PT Krakatau
Steel, Pertamina, dan bank – bank BUMN yang melakukan pembelian barang
yang dananya bersumber baik dari APBN maupun non-APBN. 5.

Badan usaha yang bergerak di bidang industri semen, industri rokok, industri
kertas, industri baja dan industri otomotif yang ditunjuk oleh Kepala Kantor
Pelayanan Pajak, atas penjualan hasil produksinya di dalam negeri. 6.

Pertamina serta badan usaha selain Pertamina yang bergerak di bidang bahan
bakar minyak jenis premix, super TT, dan gas, atas penjualan hasil produksinya.

7.
Industri dan eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan,
pertanian, dan perikanan yang ditunjuk oleh Kepala Kantor Pelayanan pajak, atas
pembelian bahan – bahan untuk keperluan industri atau ekspor mereka dari
pedagang pengumpul. - Dengan ketentuan baru ditegaskan bahwa Menteri
Keuangan dapat menetapkan pemungut PPh pasal 22: 1.

Bendaharawan pemerintah memungut pajak sehubungan dengan pembayaran


atau penyerahan barang, sesuai dengan ketentuan undang-undang Pajak
Penghasilan bahwa pihak yang dapat ditunjuk sebagai pemungut adalah
Bendaharawan Pemerintah, termasuk bendaharawan pemerintah pusat,
pemerintah daerah, instansi, dan lembaga pemerintahan. Berkenaan dengan
pembayaran atas penyerahan barang, termasuk juga dalam pengertian bendahara
adalah pemegang kas dan pejabat lain yang menjalankan fungsi yang sama. 2.

Badan-badan tertentu untuk memungut pajak dari wajib pajak yang melakukan
kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain. Dan badan-badan
tertentu,

baik badan pemerintah maupun swasta berkenaan di bidang impor atau kegiatan
usaha produk barang tertentu antara lain otomotif dan semen. 3.

Wajib Pajak Badan tertentu untuk memungut pajak dari pembeli atas penjualan
barang yang tergolong sangat mewah. Wajib Pajak Badan tertentu akan
memungut pajak dari pembeli atas penjualan barang yang memenuhi kriteria
tertentu sebagai barang yang tergolong sangat mewah. Pemungutan pajak oleh
Wajib Pajak Badan tertentu sebagai barang yang tergolong sangat mewah, baik
dilihat dari jenis barang atau harga barangnya. - Dalam pelaksanaan ketentuan ini
Menteri Keuangan mempertimbangkan antara lain: a.

Penunjukan Pemungut Pajak secara selektif, demi pelaksanaan pemungutan pajak


secara efektif dan efisien. b.
Tidak mengganggu kelancaran atau lalu lintas barang. c.

Prosedur pemungutan yang sederhana sehingga mudah dilaksanakan.


Pemungutan pajak berdasarkan ketentuan ini, dimaksudkan untuk meningkatkan
peran serta masyarakat dalam pengumpulan dana melalui sistem pembayaran
pajak dan untuk tujuan kesederhanaan, kemudahan, dan pengenaan pajak yang
tepat waktu. Sehubungan dengan hal tersebut, pemungutan pajak berdasarkan
ketentuan ini dapat bersifat final.
II.4.2 Objek Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22
Yang merupakan objek pemungutan pajak penghasilan pasal 22 (Rusdji, 2007)
adalah: 1.

Impor barang. 2.

Pembayaran atas pembelian barang yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal


Anggaran, Bendaharawan Pemerintah baik di tingkat Pusat maupun Daerah. 3.

Pembayaran atas pembelian barang yang di lakukan Badan Usaha Milik Negara
dan Badan Usaha Milik Daerah yang dananya dari belanja negar dan atau belanja
daerah. 4.

Penjualan dari hasil produksi di dalam negeri yang dilakukan oleh badan usaha
yang bergerak dalam bidang industri semen, industri rokok, industri kertas,
industri baja, dan industri otomotif.

5.

Penjualan hasil produksi yang dilakukan oleh Pertamina dan badan usaha selain
Pertamina yang bergerak di bidang bahan bakar minyak jenis premix dan gas. 6.

Pembelian bahan – bahan untuk keperluan industri atau eksport industri dan
eksportir yang bergerak dalam sektor perhutanan, perkebunan, pertanian, dan
perikanan dari pedagang pengumpul. 7.
Penjualan barang yang tergolong sangat mewah, barang yang sangat mewah
tersebut adalah pesawat udara pribadi dengan harga lebih dari Rp 20.000.000.000;
kapal pesiar dan sejenisnya yang harga jualnya lebih dari Rp 10.000.000.000;
rumah beserta tanahnya dengan harga jual atau pengalihan lebih dari Rp
10.000.000.000 dan luas bangunan lebih dari 500M2; apartemen, kondominium,
dan sejenisnya dengan harga jual atau pengalihan lebih dari Rp 10.000.000.000
dan luas bangunan lebih dari 400M2. 8.

kendaraan bermotor roda empat pengangkut kurang dari 10 orang berupa sedan,
jeep, sport utility vehicle (SUV), multi purpose vehicle (MPV), minibus dan
sejenisnya dengan harga jual lebih dari Rp 5.000.000.000 dan dengan kapasitas
silinder lebih dari 3.000 CC.

II.4.3 Tarif Pajak Penghasilan Pasal 22 yang Dipungut Oleh Pertamina


dan Badan Usaha Selain Pertamina
Besarnya pajak penghasilan pasal 22 yang wajib dipungut oleh pertamina dan
badan usaha lainnya yang bergerak dalam bidang bahan bakar minyak jenis
premix, super TT, dan gas atas penjualan hasil produksinya adalah sebagai
berikut:
Tabel 2.1 Tarif Pemungutan Pajak pasal 22 atas SPBU
(berdasarkan harga per 2009)
Objek pajak SPBU Swastanisasi SPBU Pertamina
Premium 0,3% dari penjualan atau Rp 13.500/KL 0,25% dari penjualan atau Rp
11.250/KL Solar 0,3% daripenjualan atau Rp 13.500/KL 0,25% dari
penjualan atau Rp 11.250/KL Premix 0,3% dari penjualan 0,25% dari penjualan
Sumber : Peraturan Pertamina th 2009
Besarnya pungutan di atas yang diterapkan terhadap Wajib Pajak yang tidak
memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak menjadi lebih tinggi 100% daripada Wajib
Pajak yang memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak.

II.4.4 Saat Terutang dan Pelunasan Pajak Penghasilan Pasal 22


Penetapan saat terutang dan pelunasan Pajak Penghasilan pasal 22 diatur sebagai
(Rusdji, 2007) berikut: 1.
Atas kegiatan impor barang, PPh pasal 22 terutang pada saat bersamaan dengan
saat pembayran bea masuk. Apabila pembayaran bea masuknya ditunda atau
dibebaskan, PPh pasal 22 terutang pada saat penyelesain dokumen P1B. 2.

Atas kegiatan pembelian barang, PPh pasal 22 terutang dan dipungut pada saat
pembayaran. 3.

Atas pembelian hasil produksi PPh pasal 22 terutang dan dipungut saat penjualan.
4.

Atas penjualan hasil produksi atau pengolahan barang, PPh pasal 22 terutang dan
dipungut pada saat Surat Perintah Penerbitan Barang (
delivery order
).
II.4.5 Dikecualikan Dari Pemungutan Pajak
Dikecualikan dari pemungutan Pajak Penghasilan pasal 22 (Rusdji, 2007):
1.Impor barang dan atau penyerahan barang yang berdasarkan ketentuan
peraturan perundang-undangan tidak terutang Pajak Penghasilan.

2.Impor barang yang dibebaskan dari pungutan Bea Masuk atau Pajak
Pertambahan Nilai: a.

Barang perwakilan Negara asing beserta para pejabatnya yang bertugas di


Indonesia berdasarkan asas timbal balik. b.

Barang untuk keperluan badan internasional yang diakui dan terdaftar pada
pemerintah Indonesia beserta pejabatnya dan tidak memegang paspor Indonesia.
c.

Barang kiriman hadiah untuk keperluan ibadah umum, amal, sosial atau
kebudayaan. d.

Barang untuk keperluan museum, kebun binatang dan tempat lain semacam itu
yang terbuka untuk umum. e.
Barang untuk keperluan dan kepentingan penelitian dan pengembangan ilmu
pengetahuan. f.

Barang untuk keperluan khusus kaum tunanetra dan penyandang cacat lainnya. g.

Peti atau kemasan lain yang berisi jenasah atau abu jenasah. h.

Barang pindahan. i.

Barang pribadi penumpang, awak saran pengangkut, pelintas barang dan barang
kiriman sampai batas jumlah tertentu sesuai dengan ketentuan
perundang-undangan pebean. j.

Barang yang di impor pemerintah pusat atau daerah untuk kepentingan umun. k.

Persenjataan, amunisi, dan perlengkapan militer, termasuk suku cadang


diperuntukkan bagi keperluan pertahanan dan keamanan Negara. l.

Barang dan bahan yang digunakan untuk menghasilakan pertahanan Negara. m.

Vaksin polio dalam rangka untuk pelaksanaan program Pekan Imunisasi


Nasional. n.

Buku-buku pelajaran umum, kitab suci, dan buku pelajaran agama. o.

Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau, dan kapal angkutan
penyeberangan, kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang
dan suku cadang serta alat keselamatan pelayaran atau penyelamatan manusia
yang di impor oleh Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional atau Peusahaan
Penangkapan Ikan Nasional.
p.
Pesawar udara serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan manusia,
peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang di impor dan digunakan oleh
Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional. 3.

Dalam hal impor sementara jika pada waktu impornya nyata-nyata untuk di
ekspor kembali. 4.

Pembayaran yang jumlah paling banyak Rp 1.000.000 (satu juta) dan


pembayarannya tidak terpecah-pecah. 5.

Pembayaran untuk pembelian bahan bakar minyak, listrik, gas, air minum dan
benda-benda pos. 6.

Emas batang yang akan diproses untuk barang perhiasan dan emas untuk tujuan
ekspor.
BAB III GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN
III. Sejarah Berdirinya KPP Pratama Semarang Tengah Satu
Berdirinya Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama Semarang Tengah Satu
merupakan rangkaian yang tidak dapat dipisahkan dari sejarah perkembangan
perpajakan di Indonesia, khususnya bagi perkembangan kemajuan perpajakan di
kota Semarang sendiri. Dimulai dari tahun 1946, di Indonesia dibentuklah suatu
kementrian keuangan yang memiliki beberapa jawatan antara lain : 1.

Jawatan Pajak 2.

Jawatan Moneter 3.

Jawatan Bea Cukai 4.

Jawatan Anggaran Guna memudahkan pemerintah dalam mengawasi


pelaksanaan pajak, maka didirikanlah Kantor

Instansi

Keuangan di kota-kota besar di seluruh Indonesia. Untuk di kota Semarang


sendiri, awalnya pada tahun 1950 terdapat Kantor Inspeksi Keuangan. Pada
jaman pemerintahan Belanda, pajak sudah ada dengan nama
Inspection van Finantein.
Pada tanggal 1 Januari 1957, pemerintah mengganti semua istilah untuk Kantor
Inspeksi Keuangan di seluruh Indonesia menjadi Direktorat Jenderal Pajak yang
membawahi : 1.

Direktorat Pajak Langsung. 2.

Direktorat Pajak Tidak Langsung. 3.

Direktorat Penerimaan dan Penagihan. 4.

Direktorat Penyusutan dan Pengendalian Wilayah. 5.


Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak yang membawahi : a.

Kantor Inspeksi Pajak b.

Kantor Inspeksi IPEDA Sekretariat Direktorat Jenderal Pajak membawahi Kantor


Inspeksi Keuangan yang kemudian sesuai dengan Surat Keputusan Direktorat
Jenderal Pajak Nomor 675/PJ.12/1957 diganti menjadi Kantor Inspeksi Pajak.
Pada tanggal 10 Juli 1983, Kantor Inspeksi Pajak Semarang dibagi menjadi dua,
yaitu : 1.

Kantor Inspeksi Pajak Semarang Barat yang terletak di JL. Ronggolawe


Semarang. 2.

Kantor Inspeksi Pajak Semarang Timur yang terletak di JL. Imam Bonjol no. 1
Semarang.

Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan No. 276/KMK.01/1989 pada tanggal


2 Maret 1989 nama Kantor Inspeksi Pajak diganti menjadi Kantor Pelayanan
Pajak yang kemudian pecah menjadi : 1.

Kantor Inspeksi Pajak Semarang Barat berubah menjadi KPP Semarang Barat
yang berlokasi di JL. Pemuda no. 1 Semarang. 2.

KPP Salatiga yang kemudian pada tahun 1994 dibentuk KPP Semarang Selatan.
3.

Kantor Inspeksi Pajak Semarang Timur berubah menjadi KPP Semarang Timur
yang berlokasi di JL. Ki Mangunsarkoro no. 34 Semarang. Berdasarkan
Keputusan Menteri Keuangan No. 443/KMK.01/2001 tanggal 23 Juli 2001
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor Pelayanan Pajak, maka terbentuklah
KPP Semarang Tengah yang merupakan pecahan dari KPP Semarang Timur
terhitung mulai tanggal Surat Keputusan. Sehubungan dengan Keputusan
Direktorat Jenderal Pajak Nomor KEP-141/PJ/2007 tanggal 3 Oktober 2007
tentang penerapan Organisasi dan Tata Kerja maka KPP Semarang Tengah
dipecah, sehingga terbentuklah KPP Pratama Semarang Tengah I mulai tanggal 6
November 2007 yang berlokasi di JL. Pemuda no. 2 dan KPP Pratama Semarang
Tengah II yang berlokasi di JL. Imam Bonjol no. 1B
III.2 Struktur Organisasi KPP Pratama Semarang Tengah Satu
KPP Pratama Semarang Tengah Satu dalam menjalankan tugas dan aktivitasnya
memerlukan suatu struktur organisasi supaya hubungan antara pihak-pihak dalam
organisasi dapat lebih jelas, termasuk di dalamnya hubungan
pertanggungjawaban dan wewenag dari pimpinan sampai masing-masing bagian
sehingga mempermudah dalam melaksanakan tugas. Untuk lebih jelasnya dapat
dilihat pada
Gambar 3.1
III.3 Tugas dan Fungsi KPP Pratama Semarang Tengah Satu
KPP mempunyai tugas melaksanakan pelayanan, pengawasan administrative dan
pemeriksaan sederhana terhadap wajib pajak dibidang perpajakan dalam wilayah
wewenangnya berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dalam
menyelenggarakan tugasnya, KPP menyelenggarakan fungsi : 1.

Penyuluhan dan Konsultasi Perpajakan. 2.

Pelaksanaan Administratif KPP. 3.

Koordinator Pelaksana pengumpulan dan pengolahan data, penyajian informasi


perpajakan, pengamatan potensi perpajakan dan ekstensifikasi wajib pajak. 4.

Penelitian dan penatausahaan SPT Tahunan, SPT Masa serta berkas wajib pajak.
5.

Pengawasan pembayaran masa PPh, PPN, PPnBM dan Pajak Tidak Langsung
lainnya. 6.

Penatausahaan piutang pajak, penerimaan, penagihan, penyelesaian keberatan,


penatausahaan banding, dan penyelesaian restitusi PPh, PPN, PPnBM dan Pajak
Tidak Langsung lainnya. 7.

Pemeriksaan sederhana dan penerapan sanksi perpajakan. 8.


Penerbitan Surat Ketetapan Pajak. 9.

Pembetulan Surat Ketetapan Pajak. 10.

Pengurangan sanksi pajak.


III.4 Lokasi dan Wilayah Kerja KPP Pratama Semarang Tengah Satu
Wilayah Kerja KPP Pratama Semarang Tengah Satu meliputi tujuh kelurahan,
yaitu : 1.

Kelurahan Pekunden 2.

Kelurahan Miroto 3.

Kelurahan Karang Kidul 4.

Kelurahan Sekayu 5.

Kelurahan Pindrikan Kidul 6.

Kelurahan Jagalan 7.

Kelurahan Brumbungan
Batas-batas wilayah kecamatan KPP Pratama Semarang Tengah Satu, meliputi :
1.

Utara : Kecamatan Semarang Utara (wilayah kerja KPP Pratama Semarang


Utara) terdapat rel kereta api, JL. Hasanudin, JL. Letjend. Suprapto. 2.

Timur : Kecamatan Semarang Timur (wilayah kerja KPP Semarang Timur)


terdapat JL. M.T. Haryono (mataram). 3.

Selatan : Kecamatan Semarang Selatan (wilayah kerja KPP Semarang Selatan)


terdapat JL. Ahmad Yani, JL. Pandanaran, JL. MGR. Soegijapranata. 4.
Barat : Kecamatan Semarang Barat (wilayah kerja KPP Semarang Barat) terdapat
sungai Banjir Kanal Barat.
III.5 Gambaran Umum Kegiatan Operasional
1. Kegiatan Pemasaran Kegiatan pemasaran yang dilakukan KPP Pratama
Semarang Tengah Satu adalah dengan melakukan penyuluhan-penyuluhan
dibidang perpajakan, melakukan penyisiran ke daerah-daerah yang termasuk
dalam wilayah KPP Pratama Semarang Tengah Satu dan mengirim Surat
Pemberitahuan kepada masyarakat yang masuk dalam subyek pajak yang belum
mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak agar mau

mendaftarkan diri sebagai Wajib Pajak di KPP Pratama Semarang Tengah Satu.
2. Kegiatan Akuntansi dan Keuangan Dalam kegiatan akuntansi dan keuangan di
KPP Pratama Semarang Tengah Satu, tiap seksi membuat laporan keuangan dan
administrasi bulanan masing-masing dan selanjutnya laporan dari tiap seksi
tersebut disampaikan ke bagian umum. Hasil laporan keuangan dan administrasi
dari tiap seksi tersebut oleh sub bagian umum dibuat buku besar dan secara
periodik laporan keuangan tersebut dikirim ke Kantor Pusat Jakarta.
III.6 Metode Penelitian 1. Jenis Data
Jenis data yang digunakan dalam Laporan Praktek Kerja Lapangan ini adalah
Data Sekunder, merupakan data yang diperoleh dengan menggunakan dokumen-
dokumen yang sudah diolah sebagai bahan masukan dan informasi untuk
pembuatan penerapan penghitungan pajak pasal 22 atas SPBU swastanisasi. Data
yang digunakan adalah data transaksi pemesanan, penebusan dan penyetoran
SPBU 44.595.04 Demak, peraturan standar SPBU swastanisasi, buku kebijakan
keuangan SPBU. 2. Metode Pengumpulan data
- Metode Wawancara Penulis melakukan tanya jawab dengan seksi pelayanan
serta seksi pengolahan data mengenai prosedur penghitungan, pemotongan dan
penyetoran pajak penghasilan pasal 22 untuk SPBU pada Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Semarang Tengah Satu untuk mendapatkan gambaran tentang
bagaimana sistem pemotongan pajak penghasilan pasal 22 pada SPBU
swastanisani. -
Metode kepustakaan Metode ini dilakukan dengan mengumpulkan dan
mempelajari buku-buku dan dokumen-dokumen yang berhubungan dengan
penghitungan pajak penghasilan pasal 22 pada SPBU swastanisasi.
3. Metode Analisis Data
Metode analisis data yang digunakan dalam penyusunan laporan praktek kerja
lapangan ini adalah deskriptif kualitatif, yaitu metode analisis data dengan cara
mengumpulkan data, menganalisis dan mengolah data berdasarkan teori yang
ada. Metode ini digunakan untuk menganalisis permasalahan dalam penelitian ini.