Anda di halaman 1dari 7

Komunikasi Sel

Komunikasi sel berfungsi untuk mengkoordinasikan aktivitas yang dilakukan oleh


sel-sel. Sel merupakan unit terkecil penyusun organisme. Sel tidak akan mampu
bekerja dan membentuk sebuah jaringan bila tidak ada koordinasi antara satu dengan
yang lain. Miliaran sel penyusun setiap makhluk hidup harus berkomunikasi untuk
mengkoordinasikan aktivitasnya.
Komunikasi antar sel berperan penting untuk pengaturan dan pengendalian kegiatan sel,
jaringan, dan organ tubuh. Dalam membentuk jaringan terdapat dua mekanisme dasar
untuk menjaga integritas sel-sel menjadi satu-kesatuan, baik kesatuan struktural
maupun kesatuan fungsional. Integritas struktural dicapai melalui struktur hubungan
antar sel, sedang integritas fungsional dicapai melalui mekanisme komunikasi antar sel.
Komunikasi antar sel melibatkan sel pengirim sinyal dan sel sasaran yang menerima
sinyal melalui molekul reseptor.
Informasi yang dihantarkan sepanjang sel saraf berbentuk potensial aksi. Penghantaran
informasi dari sel saraf ke sel target berlangsung melalui sinaps, yang dikenal sebagai
transmisi sinaps. Sedangkan komunikasi kimiawi berlangsung lebih lambat namun
efeknya lebih lama. Komunikasi saraf dan komunikasi kimiawi dapat terjadi secara
tumpang tindih. Beberapa zat kimia seperti neurotransmitter, hormon, dan
neurohormon tidak dapat menembus sel. Informasi yang akan dihantarkan harus diubah
dulu oleh protein membran sel ke sinyal kimia di dalam sel

1. Kontak langsung
Sel yang akan melakukan komunikasi harus ada
kontak satu sama lain. Kedua sel yang
berkomunikasi dihubungkan oleh suatu reseptor
yang terletak di permukaan sel target
(cell-surface receptor). Sementara itu, sel yang
memberi sinyal akan mengeluarkan molekul
sinyal yang terikat pada permukaan membran
selnya.
Baik sel pemberi sinyal maupun sel target yang
bersentuhan langsung dihubungkan oleh sebuah
saluran (gap junction). Saluran ini akan menjadi
jalan bagi molekul sinyal untuk mencapai sel
target.

2. Sifat molekul sinyal yang disekresikan


a. Hidrofobik : Gas, turunan lemak
b. Hidrofilik : Molekul kecil, polipeptida

3. Jenis reseptor sinyal


a. Intracellular Receptor
Reseptor sinyal terletak di dalam
membran sel

b. Cell-surface Receptor
Reseptor terletak pada permukaan
membran sel

4. Jenis sinyal
a. Long distance signal Endocrine signaling
Sinyal akan masuk ke
dalam peredaran darah
untuk mencapai sel target

Synaptic signaling
Sinyal akan melalui serabut
saraf

b. Local signal Paracrine


Sinyal dikirimkan pada sel
target yg terletak di sekitar
sel pemberi sinyal

Autocrine
Target sinyal berada di
dalam sel pemberi sinyal
(komunikasi langsung)

Sistem komunikasi suatu sel berperan penting dalam menentukan respon seluler yang
akan dilakukan oleh sel. Seluruh peristiwa yang terangkum dalam dogma biologi
molekuler diawali oleh adanya aktivitas komunikasi. Untuk dapat menjalankan
komunikasi tersebut sebuah sel eukariotik dilengkapi berbagai jenis reseptor yang
terdapat di membran plasmanya. Reseptor ini biasanya meupakan bagian struktural dari
protein integral yang terdapat di sela-sela lemak lapis ganda (fosfolipid bilayer).

Molekul sinyal yang bersifat hidrofobik:


1. Cortisol
2. Estradiol
3. Testosterone
4. Tiroksin
5. Vitamin D3
6. Asam retinoat

Reseptor intraseluler:
1. Inactive receptor
2. Active receptor

Reseptor membran sel:


1. Reseptor G-protein
Reseptor G-protein merupakan suatu reseptor pada sel membran yang mempunyai
tujuh heliks transmembran. Penyaluran sinyal yang timbul setelah reseptor G-protein
berikatan dengan ligan, baru mungkin terjadi bila G-protein ikut berperan aktif untuk
mempengaruhi efektor yang berada di bawah pengaruhnya.
Reseptor terkopel protein G adalah reseptor membran plasma yang bekerja dengan
bantuan protein G, protein yang mengikat molekul GDP/GTP yang kaya energi.
Banyak molekul sinyal yang berbeda menggunakan reseptor terkopel protein G.
Struktur molekulnya terdiri dari 7 heliks α, β danγ transmembran. Dalam keadaan tidak
aktif protein G mengikat GDP (guanosin diposfat) melalui subunit α dipermukaan
dalam dinding sel. Saat molekul sinyal berikatan dengan sisi ekstraseluler maka protein
G akan bergeser melepaskan GDP dan diganti oleh molekul GTP. GTP kemudian
mengaktivasi subunit α untuk melepaskan diri dan
berikatan dengan efektor lain yaitu adenilil siklase. Saat itulah memicu langkahnya
pada respon seluler. Perubahan pada enzim dan protein G juga bersifat sementara
karena protein G juga berfungsi sebagai enzim GTP-ase maka subunit α akan
menghidrolisis GTP menjadi GDP. Karena tidak aktif lagi, protein G meninggalkan
enzim dan kembali ke kondisi awal sehingga siap digunakan kembali.9

2. Reseptor tirosin kinase (RTK)


Reseptor yang terdapat pada membran sel terkadang bukan hanya suatu protein yang
bekerja sebagai reseptor saja, namun juga merupakan suatu enzim yang mampu
menambah grup fosfat kepada residu tirosin spesifik dari protein itu sendiri. Kinase
adalah enzim yang mengkatalisis transfer gugus fospat dari ATP ke asam amino tirosin.
Reseptor tirosin kinase (RTK) adalah reseptor yang memiliki aktivitas kinase pada
protein tirosin, yaitu mengkatalisis transfer fosfat dari ATP ke gugus hidroksil (OH)
tirosin pada protein target. Reseptor ini merupakan reseptor membran yang terdapat
dalam jumlah cukup banyak (terbanyak kedua setelah reseptor G-Protein). RTK
merupakan protein transmembran yang memiliki tempat ikatan ligan pada sisi luar
membran plasma dan hanya memiliki satu segmen transmembran, atau dikatakan
berbentuk monomer. Reseptor tirosin kinase (RTK) merupakan keluarga reseptor yang
memiliki struktur yang mirip satu sama lain. Keluarga reseptor ini memiliki satu tirosin
kinase domain, yaitu yang akan memfosforilasi protein pada residu tirosin, satu hormon
domain pengikat, yaitu tempat ikatan dengan ligan atau hormon, dan satu segmen
karboksil terminal dengan tirosin ganda untuk autofosforilasi. Contoh reseptor yang
tergolong reseptor tirosin kinase antara lain adalah reseptor-reseptor
faktor pertumbuhan.9

3. Reseptor saluran ion


Reseptor ini terdiri dari satu molekul sederhana atau gabungan molekul-molekul
kompleks dan memiliki kemampuan untuk memperbolehkan lewatnya atom-atom yang
memiliki muatan atau disebut juga dengan ion. Regulasi saluran ion dipengaruhi oleh
kehidupan dalam sel dan fungsinya dalam keadaan normal dan patologik. Satu molekul
ion dapat merubah bentuknya dan mengontrol aliran arus dalam durasi sepersekian
detik. Pembukaan dan penutupan satu saluran ion dapat dilakukan dengan diameter
sekecil satu ion natrium atau ion klorida. Beberapa saluran ion diregulasi oleh reseptor
yang terlokalisasi pada satu bagian molekul yang selama aktivasi akan merubah
bentuknya. Reseptor molekul ion misalnya pada molekul neurotransmiter yang
dilepaskan sinapsis antara dua sel saraf berikatan dengan saluran ion sehingga
menyebabkan saluran membuka dan memicu timbulnya sinyal listrik yang merambat
ke sel penerima.

Proses Pensinyalan Sel


Proses pensinyalan sel dibagi menjadi tiga tahap, yaitu:
1. Penerimaan sinyal
Penerimaan sinyal merupakan pendeteksian sinyal yang datang dari luar sel oleh sel
target. Sel kimiawi terdeteksi apabila sinyal tersebut terikat pada protein seluler,
biasanya pada permukaan sel yang bersangkutan. Pada umumnya, molekul sinyal
adalah substansi kimia yang dihasilkan oleh sel, namun molekul sinyal juga bisa berupa
nutrisi, cahaya dan efek mekanik dari luar sel. Biasanya molekul sinyal berbentuk
molekul kecil, seperti asam amino, peptida, dan protein.4

Sel target dapat menggunakan berbagai mekanisme intra sel untuk menanggapi
peningkatan konsentrasi sinyal ekstra sel atau mengubah suatu sinyal pendek menjadi
respon yang panjang dan lama. Dengan cara tersebut, sel melakukan adaptasi atau
mengubah kepekaannya terhadap sinyal sehingga dapat tetap berespon walaupun
konsentrasi molekul sinyal mengalami perubahan yang bermakna.4

2. Transduksi sinyal

Ikatan antara molekul sinyal dan reseptor mendorong terjadinya proses transduksi
sinyal, yaitu perubahan sinyal mekanik atau kimia menjadi bentuk lainnya. Proses
transduksi sinyal dilakukan oleh enzim dalam hubungannya dengan pembentukan
pembawa pesan kedua. Transduksi sinyal diawali dengan pengikatan molekul sinyal
mengubah protein reseptor. Tahap transduksi ini mengubah sinyal menjadi suatu
bentuk yang dapat menimbulkan respon seluler spesifik. Tujuannya adalah penguatan
(amplifikasi) pesan molekul sinyal. Kerja pembawa pesan kedua yaitu mempengaruhi
molekul sensor dan efektor di dalam sel yang akan mendorong proses fosforilasi
protein pada substrat tertentu. Fosforilasi akan membangkitkan respon atau tanggapan
sel target. Respon sel target dapat berupa proliferasi, diferensiasi, sekresi, kontraksi,
metabolisme, fertilisasi dan eksitabilitas membran sel.3,4
Secara singkat, langkah-langkah transduksi sinyal yaitu dimulai dari sintesis molekul
sinyal oleh sel yang memberi sinyal. Kemudian pelepasan molekul sinyal oleh sel yang
memberi sinyal dan transpor sinyal oleh sel target. Lalu pengikatan sinyal oleh reseptor
spesifik yang menyebabkan aktivasi reseptor tersebut. Inisiasi satu atau lebih jalur
transduksi sinyal intrasel dan perubahan spesifik fungsi, metabolisme, atau
perkembangan sel. Kemudian pembuangan sinyal yang mengakhiri respon sel.4

Transduksi sinyal meliputi aktifitas sebagai berikut :

Pengenalan berbagai sinyal dari luar terhadap reseptor spesifik yang terdapat pada

permukaan membran sel.

Penghantaran sinyal melalui membran sel ke dalam sitoplasma.

Penghantaran sinyal kepada molekul efektor spesifik pada bagian membran sel atau
efektor spesifik dalam sitoplasma. Hantaran sinyal ini kemudian akan menimbulkan
respon spesifik terhadap sinyal tersebut. Respon spesifik yang timbul tergantung pada
jenis sinyal yang diterima. Respon dapat berupa peningkatan atau penurunan aktifitas
enzim-enzim metabolik, rekonfigurasi sitoskeleton, perubahan permeabilitas membran
sel, aktifasi sintesa DNA, perubahan ekspresi genetik atupun program apoptosis.5

3. Respon
Pada tahap akhir yaitu respon, sinyal ditransduksi akhirnya memicu respon tertentu
dalam sel. Sinyal yang ditransduksi akhirnya memicu respon seluler spesifik. Respon
ini dapat berupa aktivitas seluler seperti katalisis oleh suatu enzim, penyusunan ulang
sitoskeleton, atau pengaktifan gen spesifik di dalam nukleus. Proses pensinyalan sel
membantu memastikan bahwa aktivitas penting seperti ini terjadi pada sel yang benar,
pada waktu yang tepat, dan pada koordinasi yang sesuai dengan sel lain dalam
organisme yang bersangkutan.5

Daftar Pustaka
1. Campbell NA. Biologi. Edisi ke-5. Jakarta: Erlangga; 2004. h.202-19
2. William DS, Jaime SC. Biologi molekuler dan sel. Jakarta: Erlangga; 2006.
h.97-102.
3. Azhar TN. Dasar-dasar biologi molekular. Bandung: Widya Padjadjaran; 2008.
4. Campbell NA, Reece JB. Biologi. Edisi ke-8. Jakarta: Erlangga; 2008. h.222-6.
5. Subowo. Biologi sel. Bandung: CVAngkasa Subowo; 2012.

6. Poli PS. Komunikasi sel dalam biologi molekular. Jakarta: EGC; 2012.
7. Karyanto A. Mekanisme kinerja hormon. Lampung: UNILA; 2005.
8. Saryono. Biokimia hormon. Yogyakarta: Nuha Medika; 2009.
9. Poedjiadi A. Dasar-dasar biokimia. Jakarta: UI-Press; 2009.

Anda mungkin juga menyukai