Anda di halaman 1dari 5

Pembahasan no 6

Ada tiga jenis sampel yang digunakan pada percobaan ini. Ketiga sampel tersebut adalah
sampel buah-buahan, sampel vitamin C tablet, dan sampel minuman kemasan. Berdasarkan
Tabel 3.1 Hasil Penentuan Kadar Vitamin C pada Beberapa Sampel Buah, sampel buah yang
digunakan adalah jambu biji merah, jeruk nipis, dan alpukat. Lalu dari ketiga sampel buah
dilakukan dua kali percobaan oleh kelompok yang berbeda tersebut didapatkan hasil kadar
vitamin C pada buah jambu biji sebesar 0,440% dan 0,880%; jeruk nipis sebesar 0,616% dan
0,660%; dan alpukat sebesar 0,572% dan 0,660%. Berdasarkan Tabel 3.2 Hasil Penentuan
Kadar Vitamin C pada Beberapa Sampel Tablet, sampel tablet yang digunakan adalah Xon
Ce, Vicee, dan Vitacimin. Dari ketiga sampel tablet tersebut dilakukan percobaan sebanyak
dua kali dengan kelompok yang berbeda dan diperoleh hasil kadar vitamin C dari xon ce,
vicee, dn vitacimin berturut-turut sebesar 310,200%; 352,000%; 330,000%; 589,600%;
569,800%; dan 330,000%. Lalu berdasarkan Tabel 3.3 Hasil Penentuan Kadar Vitamin C
pada Beberapa Sampel Minuman Kemasan, minuman kemasan yang digunakan adalah
buavita mangga, buavita leci, dan buavita jeruk. Ketiga sampel minuman kemasan tersebut
diuji sebanyak dua kali dengan kelompok yang berbeda dan diperoleh hasil kadar vitamin C
dari buavita mangga, buavita leci, dan buavita jeruk berturut-turut sebesar 0,381%; 0,323%;
0,227%; 0,205%; 0,264%; dan 0,235%.

Tipus bahan

Vitamin C (asam askorbat) merupakan suatu senyawa suatu senyawa reduktor


dan juga dapat bertindak sebagai precursor untuk pembentukan warna coklat
nonenzimatik. Asam-asam askorbat berada dalam keseimbangan dengan asam
dehidroaskorbat. Sumber vitamin C sebagian berasal besar dari sayuran dan buah-buahan,
terutama buah-buahan segar. Karena itu vitamin C sering disebut Fresh Food
Vitamin.Buah yang masih mentah lebih banyak kandungan vitamin C-nya, semakin tua
buah semakin berkurangnya kandungan vitamin C-nya (Walingo, 2005).
Vitamin C (asam askorbat-L; 2,3 endiol-L gulonic asam-g-lakton) yang larut
dalam air merupakan vitamin mapan. Telah lama diketahui bahwa kekurangan vitamin C
menyebabkan penyakit kudis, penyakit ditandai dengan gusi berdarah, gangguan
penyembuhan luka, anemia, kelelahan, dan depresi, yang, tanpa perawatan yang tepat,
akhirnya bisa berakibat fatal. Asam askorbat (AA) adalah kofaktor dalam berbagai reaksi
fisiologis, termasuk hidroksilasi pasca-translasi prolin dan lisin dalam kolagen dan ikat
lainnya protein jaringan, ekspresi gen kolagen, sintesis norepinefrin dan hormon adrenal,
aktivasi berbagai peptida hormon, dan sintesis karnitin (Phillip dkk., 2010).
Vitamin C diproduksi oleh tumbuhan dalam jumlah yang besar. Fungsi vitamin
C bagi tumbuhan adalah sebagai agen antioksidan yang dapat menetralkan singlet oksigen
yang sangat reaktif, berperan dalam pertumbuhan sel, berfungsi seperti hormon, dan
ikut berperan dalam proses fotosintesis. Vitamin C hanya dapat dibentuk oleh
tumbuhan dan terdapat pada sayuran serta buah-buahan dalam jumlah yang besar.
Analisis kandungan vitamin C dilakukan dengan metode titrasi iodometri (Dumbrava et
al, 2012).
Phillips, Katherine M. a, Maria Teresa Tarrago -Trani. Susan E. Gebhardt. Jacob Exler.
Kristine Y. Patterson b. David B. Haytowitz b. Pamela R. Pehrsson b. Joanne M.
Holden. 2010. Stability of vitamin C in frozen raw fruit and vegetable homogenates.
Journal of Food Composition and Analysis
Dumbrava, Delia Gabriela; Moldova, Camelia; Raba, Diana Nicoleta and Popa, Mirela
Viorica. 2012. Comparative analysis of vitamin C content and antioxidant activity of
some fruits extracts. Journal of Agroalimentary Processes and Technologies, Vol. 18,
No. 3, 2012
Walingo, Mary. 2005. Role Of Vitamin C (Ascorbic Acid) On Human Health- A Review.
African Journal of Food Agriculture and Nutritional Development (AJFAND), Vol. 5,
No 1, 2005

Metodologi

1. Alat
a. Beaker glass
b. Buret
c. Erlenmeyer
d. Labu takar
e. Pipet tetes
f. Pipet volum
2. Bahan
a. Aquades
b. Buah-buahan (jambu biji merah, jeruk nipis, alpukat)
c. Indikator amilum
d. Iodin
e. Minuman kemansan (buavita mangga, buavita leci, buavita leci)
f. Vitamin tablet (xon ce, vicee, vitacimin)
3. Cara kerja
a. Penetapan kadar vitamin C dengan sampel buah
Sampel buah (alpukat, jambu biji, jeruk)

Penghalusan dengan mortar

Penimbangan 10 gram

Pemindahan ke labu takar 100 ml

Aquades Penambahan hingga tanda tera

Pengocokan hingga homogen dan


pengambilan 20 ml

Pemasukkan ke erlenmeyer 100 ml

1 ml indikator amilum Penambahan

Penitrasian dengan iodin 0,1 N

Gambar 3.1 Diagram Alir Penentuan Kadar Vitamin C dengan Sampel Buah
b. Penetapan Kadar Vitamin C dengan sampel Tablet
Sampel tablet (vicee, xon ce, vitacimin)

Penghalusan dengan mortar

Penimbangan 0,2 gram

Pemindahan ke labu takar 100 ml

Aquades Penambahan hingga tanda tera

Pengocokan hingga homogen dan


pengambilan 10 ml

Pemasukkan ke erlenmeyer 100 ml

1 ml indikator amilum Penambahan

Penitrasian dengan iodin 0,1 N

Gambar 3.2 Diagram Alir Penentuan Kadar Vitamin C dengan Sampel Tablet
c. Penetapan kadar vitamin C dengan sampel minuman kemasan
Sampel minuman kemasan (buavita jambu, jeruk, dan leci)

Penimbangan 30 ml dalam beaker glass

Pemindahan ke labu takar 100 ml

Aquades Penambahan hingga tanda tera

Pengocokan hingga homogen dan


pengambilan 20 ml

Pemasukkan ke erlenmeyer 100 ml

1 ml indikator amilum Penambahan

Penitrasian dengan iodin 0,1 N

Gambar 3.3 Diagram Alir Penentuan Kadar Vitamin C dengan Sampel Minuman Kemasan