Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

PERUBAHAN FISIOLOGIS PADA SISTEM INTEGUMEN


BAYI BARU LAHIR NORMAL
(ASUHAN NEONATAL)

Dosen Pembimbing
Yuningsih, S. ST., M. Keb

Disusun Oleh :
1. Puri Endah Kristanti (18030043)
2. Silvirian Nur Hidayah (18030056)
3. Siti Ika Nurzaimah (18030061)
4. Sri Wahyuni (18030064)

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN dr. SOEBANDI JEMBER
TAHUN AKADEMIK 2018/2019

Jalan dr. Soebandi No. 99, Jember, Telp/Fax (0331) 483536


e-mail : jstikesdr.soebandi@yahoo.com
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah Subhanallahu Wa Ta’ala,


Rabb Penguasa alam, Rabb yang tiada henti-hentinya memberikan kenikmatan
dan karunia kepada semua makhluk-Nya sehingga kami bisa menyelesaikan tugas
makalah ini. Shalawat serta salam semoga selalu tercurah kepada Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya, para sahabatnya, serta
orang-orang yang mengikuti risalahnya hingga akhir zaman.
Alhamdulillah, dengan izin Allah kami telah menyelesaikan tugas makalah
tentang “Perubahan Fisiologis Sistem Integumen pada Bayi Baru Lahir Normal
(Asuhan Neonatal)”. Penyusunan makalah ini dapat terwujud tak lepas dari
bimbingan, pengarahan, dan bantuan dari berbagai pihak yang tidak dapat kami
sebutkan satu per satu.
Penyusun menyadari dalam makalah ini masih banyak kekurangan, karena
keterbatasan kemampuan maupun pengalaman kami. Maka dari itu kami
mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi memperbaiki kekurangan
ataupun kekeliruan yang ada. Harapan kami semoga makalah ini dapat bermanfaat
bagi para mahasiswa kebidanan untuk menambah wawasan dalam bidang
kesehatan.
Penyusun mohon maaf apabila dalam pembuatan makalah ini masih
terdapat kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat
diharapkan penyusun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Penyusun
berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Jember,07 April 2019

[i]
DAFTAR ISI
Kata Pengantar ...................................................................................................................... i
Daftar Isi ................................................................................................................................. ii
BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................... 1
1.3 Tujuan ................................................................................................................. 2
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................... 3
2.1 Pengertian Sistem Integumen ............................................................................. 3
2.2 Perubahan Fisiologis Sistem Integumen pada Neonatus .................................... 3
BAB 3 PENUTUP ................................................................................................................. 6
3.1 Kesimpulan ....................................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................. 7

[ii]
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam uterus semua kebutuhan janin secara sempurna dilayani pada
kondisi normal yaitu; nutrisi dan oksigen disuplai oleh sikulasi ibu melalui
plasenta, produk buangan tubuh dikeluarkan dari janin melalui plasenta,
lingkungan yang aman disekat oleh plasenta, membran dan cairan amnion
untuk menghindari syok dan trauma, infeksi dan perubahan dalam temperatur.
Perubahan fisiologis yang menonjol yang diperlukan pada bayi baru lahir
adalah peralihan dari sirkulasi plasenta atau janin ke pernafasan sendiri.
Kehilangan hubungan plasenta berarti kehilangan penopang metabolik
sepenuhnya, terutama suplai oksigen dan pelepasan karbondioksida. Stress
persalinan yang normal menimbulkan perubahan pola pertukaran gas plasenta,
keseimbangan asam basa dalam darah dan aktifitas normal ini atau
meningkatkan asfiksia janin (suatu kondisi hipoksemia, hiperkapnia, dan
asidosis) akan mempengaruhi penyesuaian janin ke kehidupan di luar uterus.
Saat-saat dan jam pertama kehidupan di luar rahim merupakan salah satu
siklus kehidupan. Pada saat bayi dilahirkan beralih ketergantungan pada ibu
menuju kemandirian fisiologi. Proses perubahan yang komplek ini dikenal
sebagai periode transisi atau saat dimulainya adaptasi bayi baru lahir terhadap
kehidupan di luar uterus. Tenaga kesehatan, khususnya bidan, perawat
maternitas dan perawat perinatologi harus selalu berupaya untuk mengetahui
periode transisi/adaptasi ini yang berlangsung sangat cepat. Bayi baru lahir,
dalam hal ini bayi yang berusia kurang dari satu bulan merupakan golongan
umur yang paling rentan atau memiliki resiko gangguan paling tinggi. Proses
transisi atau adaptasi terjadi di segala sistem pada tubuh bayi, termasuk pada
sistem integumen.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apa itu Sistem Integumen?
1.2.2 Apa saja Perubahan Fisiologis Sistem Integumen pada Neonatus?

[1]
1.3 Tujuan
1.3.1 Untuk mengetahui pengertian atau definisi dari Sistem Integumen
1.3.2 Untuk mengetahui Perubahan Fisiologis Sistem Integumen pada
Neonatus

[2]
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Sistem Integumen


Sistem integumen adalah sistem organ yang membedakan, memisahkan,
melindungi, dan menginformasikan hewan/manusia terhadap lingkungan
sekitarnya. Sistem integumen adalah sistem organ yang paling luas. Sistem
ini terdiri atas kulit dan aksesorisnya, termasuk kuku, rambut, kelenjar
(keringat dan sebaseous), dan reseptor saraf khusus (untuk stimuli perubahan
internal atau lingkungan eksternal). Integumen merupakan kata yang berasal
dari bahasa Latin “integumentum“, yang berarti “penutup”. Sesuai dengan
fungsinya, organ-organ pada sistem integumen berfungsi menutup organ atau
jaringan dalam manusia dari kontak luar.
Sistem Integumen pada manusia terdiri dari kulit, kuku, rambut, kelenjar
keringat, kelenjar minyak dan kelenjar susu. Sistem integumen mampu
memperbaiki sendiri (self-repairing) dan mekanisme pertahanan tubuh
pertama (pembatas antara lingkungan luar tubuh dengan dalam tubuh).

2.2 Perubahan Fisiologis Sistem Integumen pada Neonatus


Kulit, yang mulai berkembang selama minggu ke-11 kehamilan, yang
terdiri dari (tiga) lapisan, yaitu epidermis, dermis, jaringan subkutan.
Epidermis adalah lapisan terluar yang terdiri dari 4 lapisan. Lapisan
paling atas atau lapisan tanduk (stratum korneum) adalah lapisan yang paling
utama dalam melindungi hemostatis internal tubuh. Melanin, dihasilkan oleh
regenerasi lapisan epidermis, merupakan pigmen kulit yang utama.
Dermis adalah lapisan di bawah epidermins dan mengandung pembuluh
darah, pembuluh limfe, folikel rambut, dan saraf. Jaringan subkutan terletak
di bawah dermis dan membantu untuk melindungi, membentuk, dan
menyekat tubuh. Lapisan terakhir ini mengandung kelenjar keringat dan
kelenjar sebasea. Kelenjar sebasea menghasilkan sebum yang mempunyai
beberapa efek bakterisida. Kulit mampu mencegah infeksi dan mempunyai 4

[3]
fungsi utama yaitu: melindungi terhadap cedera, termoregulasi,
impermeabilitas, dan sensoor terhadap sentuhan, nyeri, panas dan dingin.
Pada saat lahir semua struktur kulit tersebut ada, tetapi banyak fungsi
kulit yang belum matang. PH kulit yang normal adalah asam, yang berguna
untuk melindungi kulit dari penyebaran bakteri. Pada bayi PH kulit lebih
tinggi, kulit lebih tipis, dan sekresi keringat dan sebum sedikit. Akibatnya,
bayi lebih rentan terhadap infeksi kulit daripada anak yang lebih besar atau
orang dewasa. Selanjutnya, karena perlekatan yang longgar antara dermis dan
epidermis kulit bayi cenderung mudah melepuh. Sebagai contoh, hal ini
tampak sangat nyata bayi mudah cepat alergi terhadap plester.
Kulit pada bayi memainkan bagian yang sangat penting dalam mencegah
infeksi dan oleh karena itu, sangat penting untuk mempertahankan integritas
kulit sebaik mungkin. Hal ini berarti, bahwa beberapa lesi pada kulit dapat
menyebabkan infeksi. Iga tidak terdapat pada saat lahir dan hanya mulai
terbentuk sekitar 2 minggu setelah lahir, yang menyebabkan penurunan
imunitas kulit dan usus.
Kelenjar keringat terdapat pada saat lahir tetapi memerlukan waktu untuk
berfungsi secara efisien. Substansi seperti keju, yaitu vernix caseosa, yang
meutupi kulit pada bayi baru lahir, diproduksi oleh kelenjar sebaseorsa.
Bintik-bintik putih kecil yang dikenal sebagai milia bisa terdapat
pengelupasan kulit pada saat lahir dan merupakan kelenjar sebaseoa yang
bergelembung. Deskuamasi kulit hanya timbul beberapa hari setelah lahir.
Jika terdapat pengelupasan kulit pada saat lahir dapat mengindikasikan
kehamilan yang berlangsung lama (postmatur), reterdasi pertumbuhan, atau
infeksi dalam rahim seperti sifilis. Kulit bayi baru lahir ditutupi oleh rambut
yang sangat halus yang dikenal sebagai lanugo.
Bayi cukup bulan memiliki kulit kemerahan beberapa jam setelah lahir,
setelah itu warna kulit memucat menjadi normal. Kulit sering terlihat
berbecak, terutama di daerah ekstremitas.
Tangan dan kaki terlihat sedikit sianosis. Warna kebiruan ini disebut
akrosianosis yang disebabkan oleh ketidakstabilan vasomotor, statis kapiler,
dan kadar hemoglobin yang tinggi. Keadaan ini dianggap normal dan bersifat

[4]
sementara biasanya berlangsung selama 7-10 hari terutama bila terpajan pada
udara yang dingin. Edema pada wajah dan memar dapat timbul akibat
presentasi muka atau kelahidran dengan forsep. Petepkir dapat timbul jika
daerah tersebut ditekan. Apabila tampak petikie di seluruh tubuh dapat
mengindikasikan adanya masalah seperti hitung platetet rendah atau infeksi
yang harus dilaporkan pada dokter anak.
Beberapa kondisi kulit yang abnormal seperti rash, pustula seharusnya
dilaporkan juga ke dokter karena dapat mengindikasikan adanya infeksi.
Beberapa warna kulit yang abnormal yakni: bruishing, sangat pucat, ikterus
atau sianosis seharusnya dilaporkan pada dokter segera.
Fase pertumbuhan folikel rambut terjadi simultan pada waktu lahir.
Selang beberapa bulan, kesinkronan antara kehilangan rambut dengan
pertumbuhan rambut terganggu dan akan menyebabkan banyaknya rambut
yang tumbuh, dan sebaliknya terjadi kebotakan. Pertumbuhan rambut lebih
cepat pada bayi pria daripada bayi wanita.

[5]
BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada saat lahir, seluruh struktur kulit sudah terdapat, namun fungsi dari
integumen belum optimal. Kelenjar sebasea sangat aktif pada masa akhir
janin dan awal bayi karena tingginya tingkat androgen dari ibu. Tersumbatnya
kelenjar sebasea dapat mengakibatkan milia. Fase pertumbuhan folikel
rambut terjadi simultan pada waktu lahir. Pertumbuhan tambut lebih cepat
pada bayi pria daripada bayi wanita.

[6]
DAFTAR PUSTAKA

1. Muryanani, Anik, dkk.. 2008. Asuhan Bayi Baru Lahir Normal (Asuhan
Neonatal). Jakarta: Trans Info Media
2. Muryani, Anik. 2016. Asuhan Neonatus, Bayi, Balita & Anak Pra-Sekolah.
Bogor: In Meida.

[7]