Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum

Agroklimatologi

PENGENALAN ALAT-ALAT STASIUN KLIMATOLOGI

NAMA : ANDI SUCI AULIA

NIM : G011181014

KELAS :G

KELOMPOK : 15

ASISTEN : RAHMAT NUR

PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI


DEPARTEMEN BUDIDAYA PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Indonesia sebagai negara beriklim tropis, dalam pembangunan seharusnya
dapat memanfaatkan keuntungan iklim tropis seperti energi matahari yang
berlimpah, wilayah yang sering hujan, dan tanah yang subur sehingga dapat
ditumbuhi berbagai jenis tanaman seperti yang diterapkan di negara tropis lain
dalam pembangunan fisik kota. Pertanian merupakan salah satu bidang
pembangunan yang sangat dipengaruhi oleh keadaan iklim (Nasir, 2011).
Pertanian merupakan budaya yang pertama kali dikembangkan manusia
sebagai respon terhadap tantangan kelangsungan hidup yang berangsur menjadi
sukar karena semakin menipisnya sumber pangan di alam bebas akibat laju
pertambahan manusia. Pengelolahan hamparan tanaman memadukkan faktor-
faktor produksi bahan organik secara sinergi dengan tujuan meningkatkan
produksi bahan organik secara optimal atau bertujuan meningkatkan penampilan
tanaman menurut selera konsumen Pengelolaan pertanaman meliputi kegiatan
yang berkaitan dengan efisiensi pemanfaatan radiasi matahari, komponen iklim
makro dan mikro, hara tanaman dan air tanah oleh tanaman (Hanum, 2009).
Perubahan iklim tersebut berdampak pada perubahan unsur-unsur iklim antara
lain curah hujan, suhu, dan kelembaban udara, maupun intensitas radiasi yang
dirasakan semakin bergeser dari kondisi alami. Perubahan tersebut seharusnya
dijadikan bentuk keprihatinan dan kewaspadaan bagi setiap manusia yang
mendiami bumi ini (Hanum, 2009).
Berdasarkan uraian diatas maka perlu dilaksanakan praktikum mengenai alat-
alat klimatologi untuk mengetahui manfaatnya di bidang pertanian.
1.2 Tujuan dan Kegunaan
Tujuan dari praktikum ini yakni untuk mengetahui alat-alat klimatologi yang
terdapat pada stasiun klimatologi serta fungsi dari alat alat tersebut. Selain itu
untuk mengetahui peranan iklim dalam dunia pertanian.
Kegunaan dari praktikum ini yakni agar mampu memahami hubungan antara
klimatologi dengan dunia pertanian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika


Klimatologi berasal dari bahasa Yunani yakni “Klima” yang berarti
kemiringan (slope) yang diarahkan ke lintang suatu tempat dan “Logos” yang
berarti ilmu. Sehingga, klimatologi merupakan ilmu yang mencari gambaran dan
sifat iklim serta merupakan suatu cabang dari ilmu atmosfer. Jika dihubungkan
dengan meteorologi yang mempelajari cuaca jangka pendek, maka klimatologi
mempelajari frekuensi dimana sistem cuaca ini terjadi (Tjasyono, 2009).
Klimatologi pada juga diartikan sebagai ilmu yang mencari gambaran dan
penjelasan mengapa iklim dan cuaca di berbagai belahan bumi bisa berbeda, serta
bagaimana hubungan antara iklim dengan kehidupan manusia sehari-hari.
Klimatologi merupakan salah satu dari cabang-cabang ilmu geografi yang sering
disejajarkan dengan meteorologi karena memiliki kemiripan, namun keduanya
memiliki perbedaan mendasar dalam kajiannya, meteorologi fokus mengkaji
proses di atmosfer sedangkan klimatologi lebih mengkaji pada hasil akhir dari
proses-proses atmosfer (Fontain, 2010).
Meteorologi adalah ilmu yang mempelajari masalah atmosfer, seperti, suhu,
udara, cuaca, angin, dan berbagai sifat fisika dan kimia atmosfer lainnya yang
digunakan untuk keperluan prakiraan cuaca. Dalam kamus besar bahasa Indonesia
(KBBI), meteorologi di definiskan sebagai cabang ilmu geografi yang
mempelajari tentang ciri-ciri fisik dan kimia atmosfer untuk meramalkan keadaan
cuaca di suatu tempat secara khusus dan di seluruh dunia secara umum.
Pengertian meteorologi yang lain adalah bahwa meteorologi adalah ilmu yang
mempelajari proses fisis dan gejala cuaca yang terjadi di dalam atmosfer terutama
pada lapisan bawah yaitu troposfer (Katrina, 2014).
Geofisika merupakan bagian dari ilmu bumi yang mempelajari bumi
menggunakan kaidah atau prinsip-prinsip fisika. Di dalamnya termasuk juga
meteorologi, elektrisitas atmosferis dan fisika ionosfer. Penelitian geofisika untuk
mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran di atas
permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di
dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan
kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal.
Dalam skala yang berbeda, metode geofisika ini dapat diterapkan secara global
yaitu untuk menentukan struktur bumi, secara lokal yaitu untuk eksplorasi mineral
dan pertambangan termasuk minyak bumi dan dalam skala kecil yaitu termasuk
untuk aplikasi geoteknik (Supangat, 2000).
2.2 Penempatan Stasiun Klimatologi
Stasiun klimatologi pertanian memerlukan sebidang tanah yang cukup luas
yang terdiri atas taman alat dan daerah terbuka. Ukuran luas yang diperlukan
tergantung pada jumlah alat dan persyaratan karakteristik masing-masing alat
pengukur. Taman alat adalah sebidang tanah dimana tempat alat-alat pengukur
unsur cuaca dipasang (Ariffin, 2010).
Menurut Ariffin (2010), persyaratan dasar yang harus dipenuhi untuk
pembuatan taman alat adalah sebagai berikut
1. Berada di permukaan tanah datar, rata, dan sepenuhnya tertutup rumput
pendek yang terpelihara dengan baik.
2. Diletakkan ditengah-tengah daerah terbuka, jauh dari pepohonan dan gedung.
3. Cukup luas dan masing-masing alat tersususn dengan baik, sehingga tidak
saling menghalangi.
4. Diberi pagar kawat setinggi kira-kira 1-2 meter.
Luas taman alat tergantung jumlah dan jenis alat yang ada atau seberapa
banyak alat yang akan disimpan pada taman alat tersebut. Menurut WMO untuk
pemasangan alat yang terdiri dari pengukur suhu udara dan kelembaban udara
saja, hanya memerlukan sebidang tanah berukuran paling sempit yaitu 9x6 meter,
sementara itu untuk stasiun klimatologi yang memiliki alat-alat yang lengkap
menurut WMO, dibutuhkan daerah terbuka yang berukuran paling sempit 10
meter x 10 meter (Ariffin, 2010).
Daerah terbuka ialah sebidang tanah di sekeliling taman alat, yang di
dalamnya tidak terdapat suatu penghalang yang dapat mengganggu bekerjanya
alat pengukur cuaca, baik yang bersifat temporer maupun permanen. Daerah
terbuka diperlukan agar hasil pengukuran dalam taman alat dapat mewakili
keadaan iklim daerah sekitar dengan jangkauan yang lebih luas (Ariffin, 2010).
2.3 Alat-alat Klimatologi
Menurut Khaeruddin (2010), Alat-alat yang umum digunakan di stasiun
klimatologi yaitu :
2.3.1 Pengukur Radiasi
Alat ukur radiasi umumnya dua tipe:
1. Pengukur jumlah energi radiasi (Cal/cm2/waktu)
2. Pengukur lamanya penyinaran surya (jam).
Tipe pertama contohnya :
1. Aktinograf
Berperekam atau otomatis mengukur setiap saat pada siang hari radiasi
surya yang jatuh ke alat. Sensor atau yang peka bila kena sinar surya terdiri atas
bimetal (dwilogam) berwarna hitam mudah menyerap radiasi surya. Panas karena
radiasi yang diserap ini membuat bimetal melengkung. Besarnya lengkungan
sebanding radiasi yang diterima sensor. Lengkungan ini disampaikan secara
mekanis ke jarum penulis di atas pias yang berputar menurut waktu. Hasil
rekaman sehari ini berbentuk grafik. Luas grafik/integral dari grafik sebanding
dengan jumlah radiasi surya yang ditangkap oleh sensor selama sehari.
2. Campbell Stokes
Prinsip alat adalah pembakaran pias. Panjang pias yang terbakar dinyatakan
dalam jam. Alat ini mengukur lama penyinaran surya. Hanya pada keadaan
matahari terang saja pias terbakar, sehingga yang terukur adalah lama penyinaran
surya terang. Pias ditaruh pada titik api bola lensa. Pembakaran pias terlihat
seperti garis lurus di bawah bola lensa. Kertas pias adalah kertas khusus yang tak
mudah terbakar kecuali pada titik api lensa.
Alat dipasang di tempat terbuka, tak ada halangan ke arah Timur matahari
terbit dan ke barat matahari terbenam. Kemiringan sumbu bola lensa disesuaikan
dengan letak lintang setempat. Posisi alat tak berubah sepanjang waktu hanya
pemakaian pias dapat diganti-ganti setiap hari. Ada 3 tipe pias yang digunakan
pada alat yang sama yaitu pias waktu matahari di ekuator, pias waktu matahari di
utara dan pias waktu matahari di selatan.
3. Gun Bellani
Prinsip alat adalah menangkap radiasi pada benda berbentuk bola sensor.
Panas yang timbul akan menguapkan zat cair dalam bola hitam. Ruang uap zat
cair berhubungan dengan tabung kondensasi. Uap zat cair yang timbul akan
dikondensasi dalam tabung berbentuk buret yang berskala. Banyaknya air
kondensasi sebanding dengan radiasi surya diterima oleh sensor dalam sehari.
Pengukuran dilakukan sekali dalam 24 jam, yaitu pada pagi hari dibandingkan
dengan alat yang pertama hasilnya lebih kasar.
2.3.2 Pengukur Suhu
Setiap benda yang perubahan bentuknya sebagai fungsi dari suhu dapat
digunakan sebagai thermometer. Perubahan bentuk ini akibat pemuaian thermal.
Pada umumnya yang dipakai dalam instrumen klimatologi adalah air raksa dalam
tabung kapiler gelas.
1. Termometer Maksimum
Ciri khas dari termometer ini adalah terdapat penyempitan pada pipa kapiler
di dekat reservoir. Air raksa dapat melalui bagian yang sempit ini pada suhu naik
dan pada suhu turun air raksa tak bisa kembali ke reservoir, sehingga air raksa
tetap berada posisi sama dengan suhu tertinggi. Setelah dibaca posisi ujung air
raksa tertinggi, air raksa dapat dikembalikan ke reservoir dengan perlakuan
khusus (diayun-ayunkan). Termometer maksimum diletakkan pada posisi hampir
mendatar, agar mudah terjadi pemuaian . Pengamatan sekali dalam 24 jam.
2. Termometer Minimum
Mengukur suhu udara ekstrim rendah. Zat cair dalam kapiler gelas adalah
alkohol yang bening. Pada bagian ujung atas alkohol yang memuai atau menyusut
terdapat indeks. Indeks ini hanya dapat didorong ke bawah pada suhu rendah oleh
tegangan permukaan bagian ujung kapiler alkohol. Bila suhu naik alkohol
memuai, indeks tetap menunjukkan posisi suhu terendah.
Setelah ujung indeks yang dekat miniskus alkohol dibaca dan dicatat,
dengan perlakuan khusus indeks dikembalikan mendekati miniskus alkohol.
Posisi termometer pada waktu mengukur hampir sama dengan termometer
maksimum yaitu agak mendatar. Perlu diperhatikan bahwa kapiler alkohol harus
dalam keadaan bersambung, tidak boleh terputus-putus. Bila kapiler alkohol
terputus, termometer tidak boleh lagi dipakai sebagai alat pengukur suhu, harus
dibetulkan terlebih dahulu, Pengamatan sekali dalam 24 jam.
3. Termometer Tanah
Prinsipnya hampir sama dengan termometer biasa, hanya bentuk dan
panjangnya berbeda. Pengukuran suhu tanah lebih teliti daripada suhu udara.
Perubahannya lambat sesuai dengan sifat kerapatan tanah yang lebih besar
daripada udara.Suhu tanah yang diukur umumnya pada kedalaman 5 cm, 10 cm,
20 cm, 50 cm dan 100 cm. Macam alat disesuaikan dengan kedalaman yang akan
diukur. Termometer tanah untuk kedalaman 50 cm dan 100 cm bentuknya berbeda
dengan kedalaman lain.
4. Termometer biasa
Mengukur suhu udara sesaat, zat cair yang digunakan adalah air raksa.
Umumnya termometer ini disebut termometer bola kering yang dipasang
berdampingan dengan termometer bola basah. Kedua termometer ini dipasang
dalam keadaan tegak. Semua termometer pengukur suhu udara pada waktu
pengukuran berada di dalam sangkar cuaca. Maksudnya adalah termometer tidak
dipengaruhi radiasi surya langsung maupun radiasi dari bumi. Kemudian
terlindung dari hujan ataupun angin kencang. Warna sangkar cuaca putih
menghindari penyerapan radiasi surya. Panas ini dapat mempengaruhi pengukuran
suhu udara.
2.3.3 Curah Hujan
Mengukur tinggi hujan seolah-olah air yang jatuh ke tanah menumpuk ke
atas merupakan kolom air. Bila air yang tertampung volumenya dibagi dengan
luas corong penampung maka hasilnya dalah tinggi. Satuan yang dipakai adalah
milimeter. Penakar hujan yang baku digunakan di Indonesia adalah tipe
observatorium. Semua alat penakar hujan yang beragam bentuknya atau yang
otomatis dibandingkan dengan alat penakar hujan otomatis (OBS).
2.3.4 Angin
Angin merupakan suatu vektor yang mempunyai besaran dan arah.
Besaran yang dimaksud adalah kecepatannya sedang arahnya adalah darimana
datangnya angin. Kecepatan angin dapat dihitung dari jelajah angin (cup counter
anemometer) dibagi waktu (lamanya periode pengukuran). Ada alat pengukuran
angin yang langsung mengukur kecepatannya. Jadi jarum penunjuk suatu
kecepatan tertentu bila ada angin. Arah angin ditunjukkan oleh wind-vane yang
dihubungkan dengan alat penunjuk arah mata angin atau dalam angka. Angka 360
derajat berarti ada angin dari utara, angka 90 ada angin dari timur demikian
seterusnya. Waktu pengamatan arah angin lebih dari sekali dalam 24 jam. Arah
yang paling banyak ditunjuk dalam 24 jam merupakan arah rata-rata dalam hari
tersebut. Sensor yang menghubungkan dengan alat mencatat otomatis disebut
anemograf. Alat ini mencatat kecepatan dan arah angin setiap saat pada kertas
pias. Alat pencatat ini ada yang harian, mingguan ataupun bulanan.
2.3.5 Pengukur Evaporasi
Pengukuran air yang hilang melalui penguapan (evaporasi) perlu diukur
untuk mengetahui keadaan kesetimbangan air antara yang didapat melalui curah
hujan dan air yang hilang melalui evaporasi. Alat pengukur evaporasi yang paling
banyak digunakan sekarang adalah Panci kelas A. Evaporasi yang diukur dengan
panci ini dipengaruhi oleh radiasi surya yang datang, kelembapan udara, suhu
udara dan besarnya angin pada tempat pengukuran.
2.3.6 Pengukur Kelembapan
1. Pisikometer
Ada beberapa tipe dan prinsip kerja alat pengukur kelembapan udara. Pada
umumnya alat yang digunakan adalah psikrometer. Alat ini terdiri dari dua
termometer yang disebut termometer bola basah dan termometer bola kering.
Kelembapan udara sebanding dengan selisih kedua termometer yang dapat dicari
melalui tabel atau rumus. Alat pengukur kelembapan lain adalah sensor rambut.
Prinsipnya bila udara lembab rambut bertambah panjang dan udara kering rambut
menyusut. Perubahan panjang ini secara mekanis dapat ditransfer ke jarum
penunjuk pada skala antara 0 sampai 100%. Alat pengukur kelembapan udara tipe
ini disebut higrometer.
2. Psikrometer Standar
Alat pengukur kelembapan udara terdiri dari dua termometer bola basah
dan bola kering. Pembasah termometer bola basah harus dijaga agar jangan
sampai kotor. Gantilah kain pembasah bila kotor atau daya airnya telah berkurang.
Dua minggu atau sebulan sekali perlu diganti, tergantung cepatnya kotor. Musim
kemarau pembasah cepat sekali kotor oleh debu.
3. Termohigrograf
Menggunakan prinsip dengan sensor rambut untuk mengukur kelembapan
udara dan menggunakan bimetal untuk sensor suhu udara. Kedua sensor
dihubungkan secara mekanis ke jarum penunjuk yang merupakan pena penulis di
atas kertas pias yang berputar menurut waktu. Alat dapat mencatat suhu dan
kelembapan setiap waktu secara otomatis pada pias. Melalui suatu koreksi dengan
psikrometer kelembapan udara dari saat ke saat tertentu.
2.4 Agroklimatologi Bagi Pertanian
Agroklimatologi pertanian adalah cabang ilmu yang mengkaji proses fisik
dari atmosfer yang membentuk kondisi skala mikro yang berhubungan dengan
proses produksi sedangkan dalam arti luas sebagai subyek yang mengkaji tanggap
organisme terhadap lingkungan fisik. Dalam hal ini dapat dijelaskan bahwa
bidang agroklimatologi lebih tertuju kearah pengambilan kebijakan untuk
pengembangan daerah pertanian (Sabaruddin, 2014).
Pengamatan unsur cuaca dan prediksi dampak perubahannnya terhadap
produktivitas padi di suatu daerah yang luas dengan data satelit inderaha adalah
sangat efektif dan efisien. Analisis perubahan cuaca melalui pengamatan liputan
awan dan intensitas radiasi surya di areal persawahan Pulau Jawa dari data satelit
inderaja dan memprediksi dampaknya terhadap produktivitas padi. Kebutuhan
pangan akan meningkat dengan bertambahnya penduduk, untuk itu Pemerintah
Indonesia dalam memenuhi kebutuhan tersebut, selain mengadakan ekstensifikasi
yang ditempuh dengan jalan mencetak lahan pertanian baru di luar Pulau Jawa,
juga meningkatkan panca usaha tani untuk peningkaran produksi pertanian. Guna
mengambil kebijaksanaan pemerintah untuk menangani kebutuhan pangan perlu
dilakukan pemantauan terhadap kondisi daerah pertanian, khususnya
padi.Produksi tanaman pertanian lebih banyak dipengaruhi oleh faktor cuaca dan
iklim.Pertumbuhan dari produksi padi lebih banyak ditentukn oleh aktifitas
fotosintesa tanaman padi yang banyak dipengaruhi oleh liputan awan yang
menaungi tanaman tersebut (Handoko, 2010).
Iklim merupakan faktor produksi tanaman yang penting, tetapi sangat sulit
dikendalikan sehingga produksi tanaman yang ditimbulkan oleh iklim relatif
tinggi.Untuk memperkecil resiko tersebut, beberapa aspek seperti penyesuaian
terhadap iklim, substitusi unsur-unsur iklim, modifikasi iklim, dan prakiraan
musim perlu dipahami. Kemajuan pertanian pada masa yang akan datang harus
melaksanakan berbagai aspek tersebut karena kemungkinan tidak ada lagi lahan
yang iklimnya benar-benar sesuai untuk suatu tanaman (Las, 2011).
Pengaruh iklim terhadap tanaman diawali oleh pengaruh langsung cuaca,
terutama pengaruh radiasi dan suhu terhadap fotosintesis, respirasi, transpirasi,
maupun proses metabolisme lain di dalam sel organ tanaman. Faktor utama yang
menentukan hasil tanaman yaitu tanah, iklim, dan vegetasi itu sendiri.Agar hasil
yang diperoleh optimum, maka ketiga faktor tersebut harus dalam keadaan
optimum. Hal ini mengingat setiap hasil usaha akan ditentukan oleh faktor yang
berada dalam jumlah minimum (Las, 2011).
Peranan iklim dalam budidaya tanaman sampai saat ini cukup
besar.Hampir tidak ada tanaman di muka bumi ini yang hasilnya tidak ditentukan
oleh iklim. Kondisi iklim di suatu daerah terutama penerimaan radiasi matahari,
kondisi suhu udara dan tanah akan menentukan pertumbuhan, perkembangan, dan
kandungan kimiawi pada organ tanaman. Jika unsur iklim dalam keadaan normal
maka hasil pertanian pun akan berbanding lurus dengan hasilnya yakni
menguntungkan. Sebaliknya, jika unsur iklim dalam keadaan tidak seimbang
maka hasil yang didapatkan akan merugikan (Las, 2011).
BAB III
METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada hari kamis, 21 Februari 2019 pukul 13.00
WITA samapai selesai di Laboratorium Ekofisiologi dan Nutrisi Tanaman,
Fakultas Pertanian, Universitas Hasaniddin, Makassar.
3.2 Alat dan Bahan
Untuk praktikum di laboratorium, alat yang digunakan adalah laptop dan
proyektor atau LCD sebagai alat persentasi, sedangkan bahan yang digunakan
adalah alat-alat klimatologi dalam bentuk materi.
Untuk praktikum di lapangan, alat yang digunakan adalah alat tulis menulis
dan kamera, sedangkan bahan yang digunakan adalah alat-alat klimatologi di
taman alat stasiun klimatologi.
3.3 Metode Praktikum
Adapun prosedur kerja dalam praktikum ini yaitu:
1. Menyiapkan alat tulis menulis yang akan digunakan.
2. Memperhatikan presentasi alat-alat klimatologi yang telah disiapkan oleh
Asisten dalam bentuk materi.
3. Mencatat hal-hal yang di tampilkan dan dijelaskan oleh asisten.
4. Melakukan sesi tanya jawab dengan asisten.
5. Melakukan evaluasi hasil dari materi pengenalan alat-alat klimatologi.
DAFTAR PUSTAKA

Ariffin, M.S. 2010. Modul Klimatilogi. Jawa Timur: Fakultas Pertanian


Universitas Brawijaya.
Fontain. 2010. Analisis Klimatologi Indeks Osilasi Selatan (SOI) untuk
Pendugaan Musim-Tiga Bulan Ke depan Menggunakan Regresi Linier:
Pendugaan SOI Musim JFM Tahun 2002. Jurnal Sains dan Teknologi
Modifikasi Cuaca, vol. 3 (1), hal. 23-45.
Handoko, 2010. Klimatologi Dasar, Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan
Unsur-Unsur Iklim. Bogor: IPB.
Hanum, C. 2009. Penuntun Praktikum Agroklimatologi. Program Studi
Agronomi. Medan: Fakultas Pertanian. Universitas Sumatera Utara,
Medan.
Katrina, Tuminar. 2014. Klimatologi Dasar. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Khaeruddin. 2010. Pengantar Klimatologi Pertanian. Jakarta: Departemen
Pendidikan Nasional Proyek Pengembangan Sistem Standar
Pengelolaan SMK.
Las, dkk.2011. Analisis Hubungan Tebal Hujan dan Durasi Hujan Pada Stasiun
Klimatologi Lansiana Kota Lampung. Jurnal Teknik Sipil, vol.2 (2),
hal. 34-46.
Nasir. 2011. Pengantar Ilmu Iklim untuk Pertanian. Bogor: Pustaka Jaya.
Sabaruddin, Laode. 2014. Agroklimatologi Aspek-Aspek Klimatik untuk Sistem
Budidaya Tanaman. Bandung: Alfabeta.
Supangat, Agus. 2000. Pengantar Oseanografi. Bandung: ITB.
Tjasyono, Tukiyo. 2009. Pengaruh Iklim pada Tanah. Jakarta: Kompas.