Anda di halaman 1dari 11

Laporan Praktikum Fisiologi

Pendengaran &Keseimbangan

Kelompok : B5
Ketua : Aditya Pratama Putra 102017081
Anggota : Rosalinda Yuniasih 102015172
Nicholas Jeremy Maruli 102016227
Puteri Paramesyawara Devi Tanarto 102017018
Clara July Deby Sainuka 102017076
Adriawati Lisditiya Salarupa 102017133
Hanna Astuti Puteri Wongkar 102017161
Hanniel Dwi Putra Gundo 102017175

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Telp. 021-56942061

1
A. Tujuan Praktikum
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami mekanisme kerja dan
cara menguji fungsi dari telinga dengan cara Rinne, Weber, dan Schwabach. Selain itu,
praktikum ini juga bertujuan untuk memahami sistem keseimbangan (vestibular) yang
berhubungan erat dengan telinga.
B. Alat dan bahan
Percobaan 1: Pemeriksaan Pendengaran
1. Penala dengan berbagai frekuensi
2. Kapas untuk menyumbat telinga
Percobaan II: Sikap dan Keseimbangan Badan
1. Kursi putar Barany
2. Tongkat atau statif yang panjang
C. Cara Kerja
Percobaan I: Pemeriksaan Pendengaran
a. Cara Rinne:
1. Menggetarkan penala dan meletakkan ujung tangkai penala pada processus
mastoideus kanan pasien simulasi.
2. Memastikan pasien simulasi dapat mendengar getaran (dengungan) dari
penala dan meminta pasien simulasi memberi tanda apabila getaran
(dengungan) sudar tidak terdengar.
3. Setelah diberi tanda oleh pasien simulasi, secepat mungkin memposisikan
ujung kepala penala sedekat mungkin dengan liang telinga kanan pasien
simulasi tanpa menyentuhnya.
4. Menanyakan apakah pasien simulasi dapat mendengar dengungannya,
kemudian mencatat hasilnya.
5. Mengulangi langkah ke-1 hingga ke-4, namun kali ini pada processus
mastoideus dan telinga kiri pasien simulasi.
b. Cara Weber:
1. Menggetarkan penala dan menekankan ujung tangkai penala pada garis
medial dahi pasien simulasi.
2. Menanyakan kepada pasien simulasi apakah ia mendengar getaran
(dengungan) sama kuat pada kedua telinganya, kemudian mencatat hasilnya.
3. Apabila tidak terjadi lateralisasi, maka untuk menimbulkan lateraisasi yaitu
dengan cara menyumbat telinga kiri pasien simulasi dengan kapas dan
mengulangi langkah ke-1 hingga ke-2.
c. Cara Schwabach
1. Menggetarkan penala dan meletakkan tangkainya pada processus mastoideus
kanan pasien simulasi.

2
2. Memastikan pasien simulasi dapat mendengar getaran (dengungan) dari
penala dan meminta pasien simulasi memberi tanda apabila getaran
(dengungan) sudar tidak terdengar.
3. Setelah diberi tanda oleh pasien simulasi, secepat mungkin memindahkan
ujung tangkai penala ke processus mastoideus kanan pemeriksa.
4. Mencatat apakah getaran (dengungan) masih dapat didengar atau tidak.
5. Menggetarkan penala dan meletakkan ujung tangkai penala pada processus
mastoideus kanan pemeriksa.
6. Saat getaran (dengungan) sudah tidak dapat didengar, secepat mungkin
memindahkan tangkainya ke processus mastoideus kanan pasien simulasi
7. Menanyakan apakah getaran (dengungan) masih dapat didengar atau tidak,
kemudian mencatat hasilnya.
8. Mengulangi langkah ke-1 hingga ke-7, namun kali ini melakukan pada
processus mastoideus kiri pasien simulasi dan pemeriksa.

Percobaan II: Sikap dan Keseimbangan Badan


A. Pengaruh Kedudukan Kepala dan Mata yang Normal terhadap
Keseimbangan Badan:
1. Meminta pasien simulasi untuk berjalan mengikuti suatu garis lurus di lantai
dengan mata terbuka dan cara jalan normal.
2. Memperhatikan cara jalan pasien simulasi dan menanyakan apakah ia
mengalami kesulitan dalam berjalan mengikuti garis lurus tersebut, kemudian
mencatat hasilnya.
3. Mengulangi langkah ke-1 dan ke-2, namun kali ini pasien simulasi menutup
mata.
4. Mengulangi langkah ke-1 hingga ke-3 sebanyak dua kali lagi, namun kali ini
pasien simulasi memiringkan kepalanya dengan kuat masing-masing ke kiri
dan ke kanan.
B. Percobaan Kursi Putar Barany:
I. Nistagmus:
1. Memposisikan pasien duduk tegak di atas kursi putar Barany dengan tangan
memegang erat lengan kursi, mata tertutup, dan kepala ditundukkan ke depan.
2. Memutar kursi putar Barany menurut arah jarum jam sebanyak 10 kali dalam
20 detik secara teratur tanpa sentakan.
3. Setelah 10 kali putaran, menghentikan kursi putar Barany secara tiba-tiba.
4. Meminta pasien simulasi untuk membuka mata dan melihat lurus ke depan.
5. Memperhatikan mata pasien simulasi dan mencatat hasilnya.
II. Tes Penyimpangan Penunjukkan:
1. Memposisikan pasien duduk tegak di atas kursi putar Barany dengan tangan
memegang erat lengan kursi, mata tertutup, dan kepala ditundukkan ke depan.

3
2. Memutar kursi putar Barany menurut arah jarum jam sebanyak 10 kali dalam
20 detik secara teratur tanpa sentakan.
3. Setelah 10 kali putaran, menghentikan kursi putar Barany secara tiba-tiba.
4. Mengulurkan tangan kepada pasien simulasi dan meminta pasien simulasi
untuk mengangkat lengan kanannya dan menurunkannya kembali dengan
cepat untuk menyentuh tangan pemeriksa.
5. Memperhatikan adanya penyimpangan penunjukkan pada pasien simulasi,
kemudian mencatat hasilnya.
III. Tes Jatuh:
1. Memposisikan pasien duduk di atas kursi putar Barany dengan tangan
memegang erat lengan kursi, mata tertutup, serta kepala dan badan
ditundukkan hingga kepala membentuk sudut ke depan.
2. Memutar kursi putar Barany menurut arah jarum jam sebanyak 10 kali dalam
10 detik secara teratur tanpa sentaskan.
3. Setelah 10 kali putaran, menghentikan kursi putar Barany secara tiba-tiba.
4. Meminta pasien simulasi untuk membuka mata dan menegakkan badannya.
5. Memperhatikan ke arah mana pasien simulasi akan jatuh dan menanyakan ke
arah mana rasanya ia akan jatuh.
6. Mengulangi langkah ke-1 hingga ke-5 sebanyak dua kali lagi, namun kali ini
memiringkan kepala pasien simulasi masing-masing ke kanan dan ke
belakang.
IIII. Kesan (sensasi):
1. Memposisikan pasien duduk tegak di atas kursi putar Barany dengan tangan
memegang erat lengan kursi dan mata tertutup.
2. Memutar kursi putar Barany menurut arah jarum jam dengan kecepatan yang
bertambah dan menanyakan kesan yang dirasakan oleh pasien simulasi
kemudian mencatatnya.
3. Mengulangi langkah ke-2 sebanyak tiga kali lagi, namun kali ini memutar
kursi putar Barany menurut arah jarum jam masing-masing dengan kecepatan
yang tetap, berkurang, dan berhenti.
C. Percobaan Canalis Semicircularis Horizontalis:
1. Meminta pasien simulasi untuk berjalan memutari tongkat panjang menurut
arah jarum jam sambil berpegangan pada tongkat tersebut dengan mata
tertutup dan kepala ditundukkan sebanyak 10 kali dalam 30 detik.
2. Setelah 10 kali putaran, meminta pasien simulasi untuk berhenti dan
membuka matanya, kemudian berjalan lurus.
3. Memperhatikan cara jalan pasien simulasi dan mencatat hasilnya.
4. Mengulangi langkah ke-1 hingga ke-3, namun kali ini meminta pasien
simulasi untuk berjalan memutari tongkat panjang berlawanan arah jarum
jam.

4
D. Hasil Percobaan
Percobaan I: Pemeriksaan Pendengaran
a. Cara Rinne
Hasil percobaan menunjukkan OP dapat mendengar suara melalui hantaran
udara (aerotimpanal) bahkan setelah OP tidak mendengar dengungan melalui
hantaran tulang. Hal ini menunjukkan bahwa telinga OP normal.
b. Cara Weber
Hasil percobaan awal menunjukkan OP mendengar suara dengungan sama kuat
pada kedua telinga, lateralisasi negatif. Saat disumbat, OP mendengar suara
pada telinga yang disumbat lebih kuat, menunjukkan lateralisasi ke telinga itu.
Hal ini menunjukkan telinga OP normal.
c. Cara Schwabach
Hasil percobaan menunjukkan OP dan pemeriksa mendengar dengungan pada
rentang yang sama, membuktikan bahwa keduanya memiliki Schwabach
normal.
Percobaan II: Sikap dan Keseimbangan Badan
A. Pengaruh Kedudukan Kepala dan Mata yang Normal Terhadap
Keseimbangan Badan:
1. Ketika mata terbuka, OP dapat berjalan lurus mengikuti garis lurus.
2. Saat mata tertutup, OP mulai berjalan kearah dan pergerakannya semakin
lambat
3. Pada saat OP mata tertutup dan kepala dimiringkan kearah kiri, OP tidak
dapat berjalan lurus ke muka, namun berjalan kearah kanan
4. Pada saat OP mata tertutup dan kepala dimiringkan kearah kanan, OP tidak
dapat dapat berjalan lurus, namun berjalan kearah kiri.
B. Latihan dengan Kursi Barany
I. Nistagmus:
Mata OP bergerak ke kiri terlebih dahulu kemudian ke kanan, dengan kecepatan
mata kiri lebih cepat berbanding kanan.
II. Tes Penyimpangan Penunjukan:
Setelah OP membuka mata, OP terus bisa menyentuh tangan pemeriksa untuk
kali pertama, namun kali ke 2,3 & 4 tangan OP jatuh ke kanan dan tidak bisa
menyentuh tangan pemeriksa. Kali ke 5, OP bisa menyentuh tangan pemeriksa
dengan lurus.
III. Tes Jatuh:
i. Sudut 120o, kepala bungkuk: OP bergerak ke kanan tetapi merasakan sensasi
ke kiri
ii. Sudut 90o, kepala kearah bahu kanan: OP bergerak ke atas tetapi merasakan
sensasi ke bawah

5
iii. Sudut 60o, kepala ke belakang: OP bergerak ke kiri, tetapi merasa sensasi ke
kanan
IIII. Kesan (Sensasi): Arah putar kanan
i. Rasa berputar: Kiri
ii. Sewaktu kecepatan berputar masih bertambah: Kiri
iii. Sewaktu kecepatan putar menetap: Kiri
iiii. Sewaktu kecepatan putar dikurangi: Kanan
v. Segera setelah kursi dihentikan: Kiri
C. Latihan Sederhana untuk Kanalis Semisirkularis Horizontalis
1. Saat berputar menurut arah jarum jam, OP berjalan lebih kearah ke kanan.
2. Saat berputar menurut arah berlawanan dengan arah jarum jam, OP berjalan
lebih kearah ke kiri.
E. Pembahasan
Percobaan I: Pemeriksaan Pendengaran
a. Cara Rinne
Tes Rinne digunakan untuk membandingkan kemampuan telinga untuk
menangkap suara melalui hantaran udara (aerotimpanal) dan melalui hantaran
tulang.
Penghantaran udara merupakan hantaran melalui semua bagian telinga,
dari kanalis auditoius eksternus, membrana timpani, tulang-tulang pendengaran
lalu ke fenestra ovalis. Penghantaran tulang adalah melalui tulang langsung ke
telinga bagian dalam.
Pada percobaan ditemukan hasil Positif. Hal ini menunjukkan OP memiliki
telinga normal, karena penghantaran melalui udara lebih besar daripada
penghantaran melalui tulang. Pada gangguan pendengaran konduktif, stimulus
lewat hantaran tulang akan terdengar lebih keras daripada lewat hantaran udara.
Pada gangguan pendengaran sensorineural, baik persepsi lewat hantaran udara
maupun tulang akan berkurang, tetapi keduanya akan berkurang jika
dibandingkan dengan telinga normal.
b. Cara Weber
Tes Weber digunakan untuk membandingkan hantaran tulang antara tulang
telinga kiri dan kanan. Lateralisasi terjadi apabila bunyi dengungan terdengar
lebih kuat pada salah satu telinga. Ketika salah satu telinga disumbat, maka
suara terdengar lebih jelas pada telinga tersebut.
Gangguan pada pendengaran umumnya ada dua jenis yaitu gangguan
hantaran bunyi di dalam telinga luar dan tengah hal ini berarti tuli hantar,
sedangkan kerusakan sel rambut atau jaras saraf berarti tuli saraf. Sebab tuli
hantar antara lain sumbatan meatus akustikus ekternus oleh serumen ataupun
benda asing, perusakan ossicula auditus, penebalan mambrana timpani.
Sedangkan tuli saraf antara lain disebabkan oleh degenerasi toksin sel rambut

6
yang dihasilkan oleh streptomisin dan gentamisin, yang terkonsentrasi di dalam
endolymphe. Kerusakan sel rambut luar oleh antibiotika atau pemaparan lama
ke bising disertai dengan ketulian. Sebab lain bisa juga karena tumor
N.vestibulocochlearis dan angulus cerebellopontin serta kerusakan vaskular di
dalam medula oblongata.
Tuli hantar dan saraf dapat dibedakan oleh sejumlah tes dengan
mnggunakan garpu tala, Tes Weber:
Metode: Basis garpu tala berfibrasi ditempatkan pada vertex tengkorak
Normal: Terdengar suara sama kuat di kedua telinga
Tuli hantar: Bunyi lebih keras pada telinga sakit, karena efek penutupan
bising lingkungan tidak ada pada sisi yang sakit
Tuli saraf: Bunyi lebih keras pada telinga normal
c. Cara Schwabach
Tes Schwabach digunakan untuk membandingkan hantaran suara melalui
tulang pada OP dan pemeriksa (dianggap normal).
Hasil dari orang percobaan menunjukkan schawabach memendek normal,
ketika orang percobaan sudah tidak mendengar dengungan orang pemeriksa
juga tidak mendengar adanya dengungan. Pada pemeriksaan selanjutnya,
schawabach memanjang atau normal karena ketika pada orang percobaan dan
juga pada pemeriksa tidak mendengar dengungan.
Percobaan II: Sikap dan Keseimbangan Badan
Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam
keseimbangan, kontrol kepala, dan gerak bola mata. Di telinga bagian dalam, sistem
keseimbangan terdiri atas tiga kanalis semisirkularis yang mengandung cairan dan
sensor yang mendeteksi pergerakan rotasi kepala. Setiap kanalis semisirkularis
berada pada sudut yang berbeda, dan terletak di sudut 90o satu sama lain. Kanalis
semisirkularis berfungsi dengan gerakan yang berbeda, gerakan atas ke bawah, sisi
ke sisi dan memiringkan dari satu sisi ke sisi yang lain. Di tiap ujung kanalis
semisirkularis ada pelebaran (ampula) yaitu tempat krista ampularis. Krista
ampularis terdiri atas sel-sel rambut (reseptor) dan kupula di atasnya. Pergerakan sel-
sel rambut diaktifkan oleh gerakan cairan telinga bagian dalam yaitu
endolimfe. Apabila kepala diputarkan, cairan endolimfe akan bergerak ke arah yang
berlawanan dengan arah putaran. Cairan endolimfe akan mendorong kupula
danmelengkungkan sel-sel rambut. Apabila kecepatan konstan telah dicapai, cairan
memutar dengan kecepatan yang sama seperti kecepatan tubuh dan kupula mengayun
kembali ke posisi tegak. Apabila rotasi berhenti, deselerasi menimbulkan gerakan
endolimfe searah dengan putaran dan kupula terayun kea rah yang berlawanan
dengan arah waktu akselerasi dan kembali ke posisi tengah.
Ketika posisi tubuh dalam keadaan berdiri seimbang, susunan saraf pusat
berfungsi untuk menjaga pusat massa tubuh (center of body mass) dalam keadaan
stabil dengan batas bidang tumpu yang tidak berubah, kecuali tubuh membentuk

7
batas bidang tumpu lain. Contohnya saat kita melangkah. Pengontrol keseimbangan
pada tubuh manusia terdiri dari tiga komponen penting, yaitu sistem informasi
sensorik (visual, vestibular dan somatosensoris), central processing dan efektor.
Pada sistem informasi, visual berperan dalam membedakan pola, bayangan dan
membedakan jarak. Selain itu masukan (input) visual juga berfungsi sebagai kontrol
keseimbangan, pemberi informasi, serta untuk memprediksi datangnya gangguan.
Bagian vestibular berfungsi sebagai pemberi informasi gerakan dan posisi kepala ke
susunan saraf pusat untuk respon sikap dan memberi keputusan tentang perbedaan
gambaran visual dan gerak yang sebenarnya. Inputproprioseptor pada sendi, tendon
dan otot dari kulit di telapak kaki juga merupakan hal penting untuk mengatur
keseimbangan saat berdiri static maupun dinamik.
Central processing berfungsi untuk memetakan lokasi titik gravitasi, menata
respon sikap, serta mengorganisasikan respon dengan sensorimotor. Selain itu,
efektor berfungsi sebagai perangkat biomekanik untuk merealisasikan renspon yang
telah terprogram di pusat, yang terdiri dari unsur lingkup gerak sendi, kekuatan otot,
alignment sikap, serta stamina.
Postur merupakan posisi atau sikap tubuh. Tubuh dapat membentuk banyak
postur yang memungkinkan tubuhseseorang dalam posisi yang nyaman untuk waktu
yang lama. Pada saat berdiri tegak, pada tubuh hanya terdapat gerakan kecil yang
muncul dan hal ini biasanya disebut dengan ayunan tubuh. Luas dan arah ayunan
diukur dari permukaan tumpuan dengan menghitung gerakan yang menekan di
bawah telapak kaki, yang sering disebut pusat tekanan (center of pressure – COP).
Jumlah ayunan tubuh ketika berdiri tegak di pengaruhi oleh faktor posisi kaki dan
lebar dari bidang tumpu.
Posisi tubuh ketika berdiri dapat dilihat kesimetrisannya dengan posisi kaki
selebar sendi pinggul, lengan di sisi tubuh, dan mata menatap ke depan. Walaupun
posisi ini dapat dikatakan sebagai posisi yang paling nyaman, tetapi tidak dapat
bertahan lama, karena seseorang akan segera berganti posisi untuk mencegah
kelelahan.
Sistem informasi sensoris meliputi visual, vestibular, dan
somatosensoris. Visual memegang peran penting dalam sistem
sensoris. Keseimbangan akan terus berkembang sesuai umur seseorang. Mata akan
membantu agar tetap fokus pada titik utama untuk mempertahankan
keseimbangan dan sebagai monitor tubuh selama melakukan gerak statik atau
dinamik.
Penglihatan juga merupakan sumber utama informasi tentang lingkungan dan
tempat kita berada, penglihatan memegang peran penting untuk mengidentifikasi dan
mengatur jarak gerak sesuai lingkungan tempat kita berada. Penglihatan muncul
ketika mata menerima sinar yang berasal dari obyek sesuai jarak pandang. Dengan
informasi visual, maka tubuh dapat menyesuaikan atau bereaksi terhadap perubahan

8
bidang pada lingkungan aktivitas sehingga memberikan kerja otot yang sinergis
untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.
Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting dalam
keseimbangan, kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensoris vestibular
berada di dalam telinga. Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis
semisirkularis, utrikulus, serta sakulus. Reseptor dari sistem sensoris ini disebut
dengan sistem labyrinthine. Sistem labyrinthine mendeteksi perubahan posisi kepala
dan percepatan perubahan sudut. Melalui refleks vestibulo-occular, mereka
mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat obyek yang bergerak. Mereka
meneruskan pesan melalui saraf kranialis VIII ke nukleus vestibular yang berlokasi
di batang otak. Beberapa stimulus tidak menuju nukleus vestibular tetapi ke
serebelum, formatio retikularis, thalamus dan korteks serebri.
Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth, retikular
formasi, dan serebelum. Keluaran (output) dari nukleus vestibular menuju ke motor
neuron melalui medula spinalis, terutama ke motor neuron yang menginervasi otot-
otot proksimal, kumparan otot pada leher dan otot-otot punggung (otot-otot postural).
Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga membantu mempertahankan
keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot postural.
Sistem somatosensoris terdiri dari taktil atau proprioseptif serta persepsi-
kognitif. Informasi propriosepsi disalurkan ke otak melalui kolumna dorsalis medula
spinalis. Sebagian besar masukan (input) proprioseptif menuju serebelum, tetapi ada
pula yang menuju ke korteks serebri melalui lemniskus medialis dan talamus.
Kesadaran akan posisi berbagai bagian tubuh dalam ruang sebagian bergantung
pada impuls yang datang dari alat indra dalam dan sekitar sendi. Alat indra tersebut
adalah ujung-ujung saraf yang beradaptasi lambat di sinovia dan ligamentum. Impuls
dari alat indra ini dari reseptor raba di kulit dan jaringan lain, serta otot di proses di
korteks menjadi kesadaran akan posisi tubuh dalam ruang.
Organ otolit terdiri dari utrikulus dan sakulus, utrikulus yang terletak hampir
horisontal dan sakulus yang terletak pada bidang hampir vertikal. Berbeda dengan
sel rambut kanalis semisirkularis, polarisasi sel rambut pada organ otolit tidak
semuanya sama. Pada makula utrikulus, kinosilia terletak di bagian samping sel
rambut yang terdekat dengan daerah sentral yaitu striola. Maka pada saat kepala
miring atau mengalami percepatan linear sebagaian serabut aferen akan tereksitasi
sementara lainnya akan terinhibisi.
Namun demikian hal ini tidak berarti pembatalan respon pada SSP. Serabut
aferen dengan polarisasi tertentu dpat mengarahkan pada neuron-neuron berbeda
dalam nuklei vestibularis dan dapat melakukan fungsi-fungsi yang berbeda pula.
Dengan adanya polarisasi pada tiap makula maka SSP mendapat informasi tentang
gerak linea dalam tiga dimensi walaupun sesungguhnya hanya ada 2 makula.
Reflek vestibularis berjalan menuju SSP dan bersinap pada neuron inti
vestibularis di batang otak. Selanjutnya neuron vestibularis menuju kebagian lain

9
dari otak, sebagian langsung menuju motoneuron yang mensarafi otot-otot
ekstraokular dan motoneuron spinalis yang lain menju formatia retikularis batang
otak, serebelum dan lainnya.
Pada percobaan pengaruh kedudukan kepala dan mata yang normal terhadap
keseimbangan badan, tubuh membutuhkan input seperti visual, somatosensorik, dan
vestibuler untuk menjaga keseimbangannya, kekurangan salah satu komponen
tersebut akan berpengaruh pada keseimbangan tubuh. Hal ini dapat dilihat saat input
visual dihilangkan, terjadi gangguan pada keseimbangan. Ketika kepala dimiringkan,
akan terjadi perangsangan asimetris pada reseptor proprioseptif (untuk sikap dan
posisi tubuh) di otot leher dan alat vestibuler yang menyebabkan tonus yang asimetris
pula pada otot-otot ekstrimitas. Dalam keadaan seperti ini, mata yang terbuka
berusaha untuk mempertahankan sikap badan yang seimbang sehingga OP bisa
berjalan lurus ke depan. Apabila mata ditutup, maka keseimbangan akan terganggu.
Hal ini dipengaruhi oleh propioseptif leher dan informasi propioseptif dan
eksteroseptif dari bagian-bagian tubuh lainnya. Apparatus vestibular hanya
mendeteksi orientasi dan gerakan kepala. Oleh karena itu, pada prinsipnya pusat-
pusat saraf juga menerima informasi yang sesuai mengenai orientasi kepala
sehubungan dengan keadaan tubuh. Apabila kepala condong ke salah satu sisi akibat
menekuknya leher, impuls yang berasal dari propioseptif leher dapat mencegah
sinyal yang terbentuk di dalam apparatus vestibular sehinngga menyebabkan
timbulnya ketidakseimbangan pada seseorang. Informasi propioseptif yang berasal
dari bagian tubuh selain leher juga penting untuk menjaga keseimbangan.
F. Kesimpulan
Percobaan I: Pemeriksaan Pendengaran
Tes Rinne bertujuan untuk membandingkan hantaran melalui udara dan tulang pada
telinga yang diperiksa. Apabila tes Rinne menunjukan hasil yang positif, maka orang
yang diperiksa didiagnosa tidak memiliki gangguan pendengaran atau normal.
Sedangkan apabila tes Rinne menunjukan hasil negatif, dapat dikatakan orang yang
diperiksa memiliki gangguan pendengaran. Pada tes Weber jika menunjukkan
adanya lateralisasi maka orang yang diperiksa didiagnosa memiliki gangguan pada
indera pendengarannya. Tes ini bertujuan untuk mengetahui keseimbangan
pendengaran orang yang diperiksa melalui hantaran tulang. Dan pada pemerikaan
dengan menggunakan tes Schwabach menunjukkan hasil Scwabach normal maka
orang yang diperiksa memiliki pendengaran yang normal. Sedangkan jika hasil tes
menunjukkan Schwabach memanjang atau memendek maka orang yang diperiksa
didiagnosa memiliki kelainan pada pendengarannya.
Percobaan II Sikap dan Keseimbangan Badan
Ketika posisi tubuh dalam keadaan berdiri seimbang, susunan saraf pusat berfungsi
untuk menjaga pusat massa tubuh dalam keadaan stabil dengan batas bidang
tumpu yang tidak berubah, kecuali tubuh membentuk batas bidang tumpu

10
lain.Pengontrol keseimbangan pada tubuh manusia terdiri dari tiga komponen
penting, yaitu sistem informasi sensorik (visual, vestibular dan
somatosensoris), central processing dan efektor. Sistem informasi sensoris meliputi
visual, vestibular, dan somatosensoris. Visual memegang peran penting dalam sistem
sensoris. Komponen vestibular merupakan sistem sensoris yang berfungsi penting
dalam keseimbangan, kontrol kepala, dan gerak bola mata. Reseptor sensoris
vestibular berada di dalam telinga. Reseptor pada sistem vestibular meliputi kanalis
semisirkularis, utrikulus, serta sakulus. Pada percobaan pengaruh kedudukan kepala
dan mata yang normal terhadap keseimbangan badan, tubuh membutuhkan
input seperti visual, somatosensorik, dan vestibuler untuk menjaga
keseimbangannya, kekurangan salah satu komponen tersebut akan berpengaruh
pada keseimbangan tubuh.
G. Referensi
Percobaan I: Pemeriksaan Pendengaran
1. Sloane E. Fisiologi kedokteran. Jakarta: EGC, 2004.
2. Swart MH. Buku ajar diagnostik fisik. Jakarta: EGC; 1995.
3. Ginsberg L. Neurologi. Edisi ke-8. Jakarta: Erlangga; 2007.
4. Asdie AH, editor. Harrison: prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: EGC;
1995.
5. Ganong, WF. Buku ajar fisiologi kedokteran. edisi 14. Jakarta: EGC;
1992.h.165-6.
6. Sherwood L. Fisiologi Manusia Dari Sel ke Sistem. Edisi 6. Jakarta: EGC;
2012.h.240-1.
7. Percobaan II: Sikap dan Keseimbangan Badan
8. Pudjiastuti SS . Fisioterapi .Dalam : Ester M, editor.Fungsi motorik. Edisi ke 1.
Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2002 .h. 22-5.
9. Isselbacher. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Dalam :Braunwald
E,editor.Dizzinessdan vertigo.Edisi ke-1. Jakarta: EGC; 1999.h.115-8.
10.Arvin BK. Ilmu kesehatan anak . Dalam :Wahab AS, editor.
Somatosensory.Edisi ke 15. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran
EGC;2000.h.2092-4.
11.Sherwood L. Human physiology. From cells to systems. 8thedition. China:
Brooks/Cole, Cengage Learning; 2013: p.237-40.
12.American speech-language-hearing association. How our balance system works
[diketik 2016 Apr 28]. Diunduh dari: http://www.asha.org/public/hearing/How-
Our-Balance-System-Works/.

11