Anda di halaman 1dari 15

5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM

SEMOGA BERMANFAAT SEBAGAI
TAMBAHAN WAWASA AKAN ILMU
HUKUM

Home News Politik Ekonomi Teknologi Olahraga Otomotif Kesehatan Lifestyle Hiburan Travel Lainnya

free space

Home » » HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Entri Populer
HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
Monday, 15 July 2013
Dasar­Dasar Ilmu Hukum
  RANGKUMAN Dasar­Dasar ...
  3   17   11.7K 0
HUKUM ACARA PERDATA
HUKUM ACARA PERDATA
Rangkuman RUSLIN ABDUL GANI,
SH,MH Oleh : Muchammad Nasikin 
HUKUM ACARA PERDATA I.      ...

HUKUM ADMINISTRASI NEGARA
I.     PENDAHULUAN 1.1.        Penamaan/ Istilah H.T.P
     :      SK Menteri P & K 30 Desember 1972 No.
0198/U...

ASAS­ASAS HUKUM PIDANA
RANGKUMAN ASAS­ASAS HUKUM PIDANA DR.ANDI
HAMZAH,SH   BAB I PENDAHULUAN Pengertian
Hukum Pidana Huku...

ASAS­ASAS HUKUM DAGANG
I.   PENDAHULUAN
Oleh : Muchammad Nasikin ASAS­
1.1.       Penamaan/ Istilah ASAS HUKUM DAGANG I.           
PENDAHULUAN Sebelum kita
H.T.P      :     SK Menteri P & K 30 Desember 1972 No. 0198/U/1972 (Kurikulum minimal 1972) melangkah lebih jauh dan ...
H.A.N.     :     ­     Pertemuan Dosen Pengajar Mata Kuliah Sejenis di Cibubur
                           Tanggal 26­28 Maret 1973. SOSIOLOGI HUKUM
­          SK Mendikbud No. 31/Dj/Kep/1983 (Kurikulum inti Program
 SOSIOLOGI HUKUM Oleh :
Pendidikan Sarjana Bidang Hukum)
Muchammad Nasikin BAB I
H.T.U.N   :     UU No. 5/1986. UU. No. 9/2004
PENDAHULUAN 1.       Latar Belakang
                     UUDS 1950 Pasal 108 dan 142
Secara etimologis , Sosi...
Arti Istilah Administrasi dalam Konsep H.A.N dan L.A.N
Metodologi Penelitian Hukum
ILMU PENGETAHUAN DAN PENELITIAN Ilmu
Pengetahuan Ilmu lahir karena manusia diberikan
Tuhan sifat ingin tahu, rasa ingin tahu sese...
B      =    Kn – (rg + rh)
Kn    =    Kekuasaan/ Kegiatan                             Negara
Pengertian Hukum Administrasi
rg     =    Regelgwving
Negara
rh     =    Rechspraak
B      =    Besturen/ BestUUr Pengertian Hukum Administrasi Negara
              (Fungsi Pemerintahan. Hubungaan Administrasi Negara
Dengan Ilmu Hukum Lainnya ...

Hukum Perdata Indonesia
  Bab I   Menikmati dan Hehilangan Hak­hak
Kewargaan Hukum perdata Indonesia Hukum adalah
   sekumpulan peraturan ...

Sumber Hukum Internasional ( sources of
international law )
Pendahuluan   Sumber hukum yang dimaksud disini
adalah dasar berlakunya hukum intemasional. Ada tiga
macam sumber hukum: pertama, su...

Blog Archive

1.2.       Pengertian HAN Blog Archive

Dalam Kamus Bahasa Indonesia, Administrasi diartikan :

­          Usaha dan kegiatan yang meliputi penetapan tujuan serta penetapan cara­cara penyelenggaraan pembinaan Organisasi.

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 1/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
­          Usaha dan kegiatan yang dikaitkan dengan penyelenggaraan kebijaksanaan serta mencapai tujuan.
­          Kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan Pemerintahan.
­          Kegiatan kantor dan Tata usaha.

Prajudi Atmosudirdjo mengatakan Administrasi Negara mempunyai 3 arti sebagai berikut :

1.   Sebagai salah satu fungsi Pemerintah
2.   Sebagai aparatur dan aparat Pemerintahan
3.   Sebagai Proses penyelenggaraan tugas pekerjaan, memerlukan kerjasama secara teratur.

E. Utrecht Administrasi Negara adalah gabungan jabatan­jabatan, aparat (alat) Administrasi yang dibawah pimpinan Pemerintahan
melakukan sebagian dari pekerjaan Pemerintahan.

Dimock & Dimock   Administrasi  Negara  adalah  aktifitas­aktifitas  Negara  dalam  melaksanakan  kekuasaan­kekuasaan  politiknya
dalam arti sempit, altifitas­aktifitas badan eksekutif saja dalam melaksanakan Pemerintahan.

Pemerintah/ Pemerintahan
Secara teroti dan praktek, terdapat perbedaan antara Pemerintah dan Pemerintahan. Pemerintah adalah bestUUrvoering
atau pelaksanaan tugas Pemerintah, sedangkan Pemerintahan adalah Organ/ alat atau aparat yang menjalankan  Pemerintahan.
Pemerintah sebagai alat kelengkapan Negara dapat diartikan secara luas dan dalam arti sempit.
­           Pemerintah  dalam  arti  Luas  :  mencakup  semua  alat  kelengkapan  Negara  yang  pada  pokoknya  terdiri  dari  cabang­cabang
kekuasaan eksekutif, legislative dan yudisial atau alat kelengkapan Negara lain yang bertindak untuk dan atas nama Negara.
­          Pemerintah dakan arti sempit : yaitu cabang kekuasaan eksekutif atau Organ/alat perlengkapan Negara yang diserahi tugas
Pemerintahan atau melaksanakan Undang­undang.

Untuk jelasnya dapat dikemukakan beberapa pendapat di bawah ini :

a.   Pemerintahan dalam arti luas


            Menurut ajaran “Trias Politica” oleh Montesquieu melupti tiga kekuasaan :

­          Pembentukan Undang­undang
­          Pelaksanaan
­          Peradilan

b.       Pemerintahan dalam arti sempit


Yang dimaksut Pemerintahan/ Administrasi dalam arti sempit itu ialah hanya badan pelaksanaan tidak termasuk
badan Perundang­undangan, badan peradilan dan badan kepolisian.
Dalam berbagai keputusan ustilah Pemerintahan disebutkan memiliki dua pengertian antara lain :

­           sebagai  fungsi    :  yakni  aktifitas  Pemerintah  adalah  melaksanakan  tugas­tugas  Pemerintahan,  dalam  istilah  Donner,
Penyelenggaraan kepentingan umum oleh dinas publik/ Pemerintahan (umum) sebagai Organ kumpulan Organ­Organ dari
Organisasi Pemerintahan  yang dibebani dengan melaksanakan tugas Pemerintahan.
­                    sebagai  Organisasi  :    Pemerintah  sebagai  Organisasi  bila  mana  kita  mempelajari  ketentuan­ketentuan  susunan
Organisasi,  termasuk  didalamnya  fungsi,  penugasan,  kewenangan,  dan  kewajiban  masing­masing  departemen
Pemerintahan.  Pemerintah  sebagai  fungsi  kita  meneliti  ketentuan­ketentuan  yang  mengatur  apa  dan  cara  tindakan
aparatur Pemerintah sesuai dengan kewenangan masing­masing.

1.3.       Diskripsi/ Pengertian  HAN


HAN  adalah  merupakan  bagian  dari  Hukum  publik,  yakni  Hukum  yang  mengatur  tindakan  Pemerintah  dan  mengatur
hubungan antara Pemerintah dengan warga Negara atau hubungan antara Organ Pemerintah. HAN memuat keseluruhan peraturan
yang  berkenaan  dengan  cara  bagaimana  Organ  Pemerintahan  melaksanakan  tugasnya.  Jadi  HAN  berisi aturan main yang
berkenaan dengan fungsi Organ­Organ Pemerintahan.

HAN/HTP  adalah  merupakan  instrument  juridis  yang  digunakan  oleh  Pemerintah  untuk  secara  aktif  terlibat  dalam
kehidupan masyarakat, disisi lain HAN merupakan Hukum yang dapat digunakan oleh anggota masyarakat untuk mempengaruhi dan
memperoleh perlindungan dari Pemerintah. Jadi HAN memuat peraturan mengenai aktifitas Pemerintah.

HAN  meliputi  peraturan­peraturan  yang  berkenaan  dengan  Administrasi  .  Administasi    berarti  sama  dengan
Pemerintahan.  Oleh  karena  itu  HAN  disebut  juga  HTP.  Perkataan  Pemerintah  dapat  disamakan  dengan  kekuasaan  eksekutif,
artinya  Pemerintahan  merupakan  bagian  dari  Organ  dan  fungsi  Pemerintahan,  yang  bukan  Organ  dan  fungsi  pembuat  Undang­
undang dan peradilan.

1.4.       Ruang Lingkup HAN/HTP


“Sturen”  merupakan  suatau  kegiatan  yang  kontinyu,  kekuasaan  Pemerintahan  dalam  hal  menerbitkan  ijin  mendirikan
bangunan  misalnya  tindaklah  berhenti  dan  diterbitkannya  ijin  mendirikan  bangunan.  Kekuasaan  Pemerintah  senantiasa  mengawasi
agar izin tersebut digunakan dan ditaati.

Stureb  berkaitan  dengan  penggunaan  kekuasaan,  konsep  kekuasaan  adalah  konsep  Hukum  publik,  sebagai  konsep
Hukum publik. Penggunaan kekuasaan harus dilandaskan pada asas­asas Negara Hukum, asas demokrasi dan asas instrumental.
Dengan  asas  demokrasi  tidaklah  sekedar  adanya  badan  perwakilan  rakyat.  Disamping  badan  perwakilan  rakyat,  asas  keterbukaan
dan  lembaga  peran  serta  masyarakat(inspraak)  dalam  pengambilan  keputusan  sangat  penting  artinya.  Asas  instrumental  berkaitan
dengan hakekat Hukum Administrasi sebagai instrument.

Parajudi Atmosudirdjo membagi HAN dalam dua bagian:

­          HAN Heteronom       :     Bersumber pada UUD, Tap MPR dan UU.


­          HAN Otonomi           :     Ialah Hukum operasional yang diciptakan                              Pemerintah  dan  Administrasi
Negara.

1.5.       Letak/ Kedudukan Hukum Administrasi Dalam Lapangan Hukum


Hukum Administrasi materiil terletak diantara Hukum prifat dan Hukum pidana, karena itu disebut juga Hukum antara sifat
dan letak Hukum Administrasi yang demikian dapat digambarkan dalam skema di bawah ini :

1. Hukum Konstitusi/ HTN

2.         Hukum Perdata Formil 4.         Hukum Administrasi Formil 6.         Hukum Pidana Formil


3.         Hukum Perdata Materiil 5.         Hukum Administrasi Materiil 7.         Hukum Pidana Materiil

Sebagai  perbandingan  dapat  juga  diketengahkan  skema  tentang  pembentukan  dan  penegakan  Hukum  materiil/  F.A.M.
Stroinkes :

Hukum Prifat

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 2/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
   Pembentuk UU                                      Hakim
  

                    Penduduk Penduduk                                    Penduduk Penduduk

Hukum Pidana

               Pembentuk UU                            Hakim Pidana   X
  

       Penduduk                                                    Penduduk

Hukum Administrasi

Penguasa                         Penguasa                      Penguasa
               Penetapan                     Penegakan                    Perlindungan
               Sepihak                                    Sepihak                                    Hukum

Penduduk             Penduduk                      Penduduk

1.6.    Hubungan HAN Dengan Cabang Hukum Lainnya


1.6.1. Hubungan HAN Dengan HTN
a.      Van Hollenhoven : Badan  Pemerintah  tanpa  aturan  Hukum  Tata  Negara  akan  lumpuh,  oleh  karena  badan  ini  mempunyai
wewenang  apapun  atau  wewenangnya  tidak  berketentuan  dan  Badan  Pemerintah  tanpa  Hukum  Administrasi  Negara  akan
bebas sepenuhnya. Oleh karena  badan dapat menjalankan wewenangnya menurut kehendaknya sendiri.
b.   J.B.J.M. Ten Berger : adalah sebagai perpanjangan dari HTN atau Hukum sekunder dari HTN.
c.   Bacsan Mustafa : HTN dan HAN itu merupakan dua jenis Hukum yang dapat dibedakan akan tetapi tidak dapat dipisahkan yang
satu dengan yang lain.
d.   W.F. Prins : tidak mungkin untuk menarik batas yang tegas antara dua jenis Hukum ini.
e.   Kranemburg :  bahwa kita tidak mungkin mempelajari Hukum Administrasi tanpa didahului dengan pelajaran HTN.
Hubungan semacam ini agaknya sama seperti yang terjadi pada Hukum dagang dan Hukum Perdata.

1.7.     Landasan Hukum Administrasi Negara


Landasan Hukum Administrasi Negara terbagi tiga sebagai berikut :

a.       Negara Hukum
­          Asas legalitas dalam Pelaksanaan Pemerintah
­          HAM
­          Pembagian Kekuasaan
­          Pengawasan Pengadilan
b.       Demokrasi
­          Badan Perwakilan Rakyat
­          Asas Keterbukaan
­          Peran Serta Masyarakat
c.       Karakteristik Ajaran Instrumental

1.8.     Fungsi Hukum Administrasi Negara


Dua konsep yang menjadi rujukan yaitu :

1.    P. De Haar ct Dalam bukunya bestUUrecht in de Sociale Rechtstaat (1986) memaparkan tiga fungsi Hukum Administrasi yaitu :


       a.   Fungsi Normatif Meliputi Organisasi dan instrument Pemerintah
       b.   Fungsi Instrumental aktif dalam bentuk kewenangan, berupa beleid.
       c.   Fungsi Jaminan jaminan Pemerintah menyangkut keterbukaan, berbagai       mekanisme control, perlindungan Hukum dang
anti kerugian.

2.        J. Van Der Hoven Dalam  bukunya  De  Drie  Dimensies  Van  Het  BestUUrsrecht  (1989)  memaparkan  tiga  sisi  Hukum
Administrasi yaitu :
       a. Yaitu Hukum tentang kekuasaan Pemerintahan
       b. De Organizatie en instrumentarium.
       c. De rechtsposotie vander burger regenover het bestUUr

II. SUMBER­SUMBER HAN (Hukum Administrasi Negara)

2.1. Pengertian Sumber Hukum


Secara  sederhana  Sumber  Hukum  adalah  :  segala sesuatu yang dapat menimbulkan aturan Hukum dan tempat
dutemukannya aturan­aturan Hukum.
Menurut Soedikno Martokusumo, kata sumber Hukum sering digunakan dalam beberapa arti yaitu :
a.   Sebagai asas Hukum, sebagai sesutau yang merupakan permulaan Hukum, misalnya kehendak Tuhan, akal manusia, jiwa bangsa
dan sebagainya.
b.   menunjukkan Hukum terdahulu yang memberi bahan­bahan pada Hukum yang sekarang berlaku, seperti Hukum Prancis, Hukum
Romawi.
c.   sebagai sumber berlakunya, yang memberi kekuatan berlaku secara formal kepada peraturan Hukum (Penguasa, masyarakat)
d.   sebagai sumber dari mana kita dapat mengenal Hukum, misalnya dokumen, UU Lontar, batu tertulis.
e.   sebagai sumber terjadinya Hukum, sumber yang menimbulkan Hukum.

2.2. Macam­macam Sumber Hukum

Macam­macam sumber Hukum ini dapat di bagi menjadi dua :

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 3/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM

a.  Sumber Hukum Materiil

Adalah factor­faktor yang ikut mempengaruhi isi dari atura­aturan huku. Factor tersebut adalah :

­          Sumber Hukum Historis


Sumber Hukum ini mempunyai dua arti yaitu :
1.              sebagai  sumber  pengenalan/  tempat  menemukan  Hukum  pada  saat  tertentu  misalnya  :  UU,  Putusan­putusan
Hakim,  tulisan­tulisan  ahli  Hukum  dan  tidak  tulisan  yang  bersifat  Yuridis  sepanjang  membuat  pemberitahuan
mengenai lembaga­lembaga Hukum
2.              sebagai  sumber  dimana  pembuat  Undang­undang  mengambil  bahan  dalam  membentuk  peraturan  Perundang­
undangan  misalkan,  system­sistem  Hukum  pada  masa  lalu  yang  pernah  berlaku  pada  tempat  tertentu  seperti
system Hukum Romawi, system hukuk Perancis dan sebagainya.

­          Sumber Hukum Sosiologis


Adalah  factor­faktor  social  yang  mempengaruhi  isi  Hukum  positif,  artinya  peraturan  Hukum  tertentu  mencerminkan
kenyataan yang hidup dalam masyarakat.

­          Sumber Hukum Filosofis


Memiliki dua arti yaitu :
Pertama : sebagai sumber Hukum untuk isi Hukum yang adil.
Kedua : sebagai sumber untuk kekuatan mengikat dari Hukum.

b.  Sumber Hukum Formal

Sumber Hukum Formal adalah berbagai bentuk aturan Hukum yang ada, sumber Hukum ini terdiri dari :

1.       Peraturan Perundang­undangan
Dalam  keputusan  Hukum,  tidak  semua  peraturan  dapat  dikategorikan  sebagai  peraturan  Hukum,  suatu  peraturan  adalah
peraturan Hukum bilamana peraturan itu mengikat setiap orang dank arena itu ketaatannya dapat dipaksakan oleh Hakim.
Berdasarkan  penjelasan  Pasal  1  angka  2  UU  No.  5/1986  Peraturan  Perundang­undangan  adalah  semua  peraturan  yang
bersifat mengikat secara umum yang dikeluarkan oleh Badan Perwakilan Rakyat bersama Pemerintah, baik di tingkat pusat
maupun Daerah, serta semua keputusan Badan atau Pejabat TUN baik ditingkat  pusat maupun Daerah yang juga mengikat
umum.

2.       Konvensi/ Praktek Administrasi Negara atau Hukum Tidak Tertulis


Meskipun  Undang­undang  dianggap  sebagai  sumber  Hukum  Administrasi  Negara  yang  paling  penting,  namun  Undang­
undang sebagai peraturan tertulis mempunyai kelemahan.

3.       Yurisprudensi
Yurisprudensi  adalah  Peradilan  akan  tetapi  dalam  arti  sempit  yang  dimaksut  dengan  Yurisprudensi  adalah  ajaran  Hukum
yang  tersusun  dan  dalam  radilan,  yang  kemudian  dipakai    sebagai  landasan  Hukum.  Yurisprudensi  juga  diartikan  sebagai
himpunan putusan­putusan pengadilan yang disusun sistematik.

4.       Doktrin
Meskipun  ajaran  Hukum  atau  pendapat  para  sarjana  Hukum  tidak  memiliki  kekuatan  mengikat,  namun  pendapat  sarjana
Hukum  ini  begitu  penting  bahkan  dalam  sejarah  pernah  terdapat  ungkapan  bahwa  orang  tidak  boleh  menyimpang  dari
pendapat umum para ahli Hukum.

Skema sumber Hukum Administrasi dalam arti Formal (Menurut Philipus Hadjon. Hal. 55)

  

Selanjutnya dalam perjalanannya, sumber Hukum Administrasi dalam arti formal yaitu :

1.       UUD 1945
2.       Tap MPR
3.       UU dan PERPU
4.       PP
5.       Kepres
6.       Peraturan Menteri dan Surat Keputusan Menteri
7.       Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah
8.       Yurisprudensi
9.       Hukum Tidak tertulis
10.   Hukum Internasional
11.   Kepurusan Tata Udaha Negara
12.   Doktrin

III. ORGANISASI ADMINISTRASI NEGARA

3.1. Pengertiaan Administrasi Negara


a.   Organisasi adalah suatu jaringan sistematis dari bagian­bagian yang saling ketergantungan untuk membentuk suatu kesatuan yang
bulat dimana koordinasi dan pengawasan dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan.
b.      Organisasi  Administrasi  Negara  adalah  pola  hubungan  formal  yang  dibentuk  dengan  peraturan  Perundang­undangan    dalam
Pemerintahan.  Hal  ini  berdasarkan  sifat  dan  beban  kerja  yang  harus  diselesaikan,  sesuai  dengan  syarat­syarat  efesiensi,
menjamin  penggunaan  yang  efektif  dari  manusia  dan  material  serta  tanggung  jawabnya.  Organisasi  ini  dibentuk  berdasarkan 

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 4/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
suatu kewenangan tertentu yang harus dilaksanakan, biasanya dilengkapi dengan bagan­bagan dan diagram yang mengambarkan
hubungan kerja.

3.2. Organisasi Pemerintah Pusat


Adalah Organ yang menjalankan urusan Pemerintahan di tingat pusat
­ Presiden
­ Wakil Presiden
­ Menteri dan Departemen

a.   Lembaga Pemerintah Non Departemen


1.   SAKORSURTANAL (Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional)
2.   LAN (Lembaga Administrasi Negara)
3.   LSN (Lembaga Sandi Negara)
4.   BAPPENAS (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
5.   LAPAN (Lembaga Penerbangan dan Antariksa Negara)
6.   Arsip Nasional
7.   Dewan HANKAMNAS (Pertahanan Keamanan Nasional)
8.   BULOG (Badan Urusan Logistik)
9.   BAKN (Badan Administrasi Kepegawaian Negara)
10   BPP Teknologi (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi)
11.  BPKP (Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan)
12.  BKKBN (Badan Koordinasi Keluarga Berencana)
13.  BKPM   (Badan Koordinasi Penanaman Modal)
14.  BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional)
15.  BIN (Badan Intelijen Negara)
16.  LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
17.  BPN (Badan Pertanahan Negara)
18.  BPS (Biro Pusat Statistik)

3.3. Organisasi Pemerintah Daerah


wilayah  Negara  keastuan  RI  dibagi  dalam  Daerah  Propinsi  dan  Propinsi  dibagi  atas  Kabupaten  dan  Kora  yang  masing­
masing mempunyai Pemerintahan Daerah. Daerah Propinsi disamping sebagai memiliki status Daerah Otonom, juga berkedudukan
sebagai wilayah Administrasi. Sedangkan Daerah Kota dan Daerah Kabupaten sepenuhnya berkedudukan sebagai Daerah Otonom.
Daerah Otonom adalah  :  Daerah  kesatuan  masyarakat  Hukum  yang  mempunyai  batas­batas  wilayah  yang  berwenang  mengatur
dan  mengurus  urusan  Pemerintahan  dan  kepentingan  masyarakat  setempat  menurut  prakarsa  sendiri  berdasarkan  aspirasi
masyarakat dalam sisten Negara kesatuan R.I. (UU No.32/2004)
Penyelenggaraan Pemerintah Daerah adalah Pemerintah Daerah dan DPRD (Pasal 1 ayat 2 UU No.32/2004)
Pemerintah Daerah terdiri atas Kepala Daerah dan perangkat Daerah (Pasal 3 ayat 2 UU 32/2004)
Dalam  menyelenggarakan  Pemerintahan,  Pemerintah  menggunakan  Asas  Desentralisasi,  tugas  pembantuan  dan
Dekonsentrasi sesuai dengan peraturan Perundang­undangan (Pasal 20 ayat 2 UU 32/2004)
Desentralisasi adalah : penyerahan wewenang Pemerintah oleh Pemerintah kepada Daerah Otonomi untuk mengatur dan mengurus
urusan Pemerintahan dalam sisti Negara kesatuan R.I (Pasal 7 ayat 7)
Tugas Pembantuan  adalah penugasan dari Pemerintah kepada Daerah dan atau desa dari Pemerintah Propinsi kepada
Kabupaten/Kota/desa serta dari Pemerintah Kabupaten/ Kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu (Pasal 1 ayat 9)
Demokrasi   adalah  pelimpahan  wewenang  Pemerintahan  oleh  Pemerintah  kepada  Gubernur  sebagai  wakil  Pemerintah
dan/atau kepada isntansi di wilayah tertentu (Pasal 1 ayat 8)
Otonomi Daerah adalah hak, kewenangan dan kewajiban Daerah Otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan
Pemerintahan dan kegiatan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan Perundang­undangan. (Pasal 1 ayat 5)
Daerah Otonom/ Daerah adalah  kesatuan  masyarakat  Hukum  yang  mempunyai  batas  wilayah  yang  berwenang
mengatur dan mengurus urusan Pemerintahan dan kepentingan masyarakat setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi
masyarakat dalam system Negara Republik Indonesia (Pasal 1 Ayat 6 UU No. 32/2004)
Dalam Menyelenggarakan Pemerintahan Daerah,  Pemerintah  Daerah  menggunakan  Asas  Otonomi  dan  tugas
Pembantuan. (Pasal 20 ayat 3 UU No.32/2004)
Asas Demokrasi  hanya diterapkan di Daerah­daerah Propinsi yang dan Kabupaten/Kota    yang  belum  siap  atau  belum
sepenuhnya melaksanakan prinsip Otonomi sebagaimana ditentukan dalam Undang­undang Dasar.

3.4.  Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah


Negara  Indonesia  sebagai  Negara  Kesatuan  menganut  asas  Desentralisasi  dalam  penyelenggaraan  Pemerintahan,
dengan memberikan kesempatan dan kekuasaan kepada Daerah untuk menyelenggarakan Otonomi Daerah. Hal tersebut merupakan
tindak lanjut dari ketentuan Pasal 18 UUD 1945 yang menyatakan :
(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas Daerah­daerah Propinsi dan Daerah Propinsi itu dibagi atas Kabupaten dan
Kota, yang tiap­tiap Propinisi, Kabupaten, dan Kota itu mempunyai Pemerintahan Daerah, yang di atur dengan Undang­
undang.
(2)  Pemerintah Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten dan Kota mengatur dan mengurus sendiri urusan Pemerintahan menurut
asas Otonomi  dan tugas pembantuan.
(3)  Pemerintah Daerah Propinsi, Daerah Kabupaten dan Kota memiliki Dewan Perwakilan Daerah yang anggota­anggotanya
dipilih melalui pemilihan umum.
(4)  Gubernur, Bupati, dan wali Kota masing­masing sebagai kepala Pemerintah Daerah Propinsi, Kabupaten, dan Kota dipilih
secara demokrasi.
(5)    Pemerintah  Daerah  menjalankan  Otonomi  seluas­luasnya,  kecuali  urusan  Pemerintahan  yang  oleh  Undang­undang
ditentukan sebagai urusan Pemerintah Pusat.
(6)  Pemerintah Daerah berhak menetapkan peraturan Daerah dan peraturan­peraturan lain untuk melaksanakan Otonomi dan
tugas pembantuan.
(7)  Susunan dan Tata cara penyelenggaraan Pemerintah Daerah diatur dalam Undang­undang.

Walaupun Otonomi Daerah diterapkan dengan menganuit system Otonomi luas, pelaksanaan Otonomi tersebut tentunya
tidak dapat melepaskan dari konteks Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dinyatakan dalam Undang­undang Pasal 1
(1) UUD 1945.
Ketentuan  diatas  merupakan  dasar  dibentuknya  Daerah­daerah  yang  mempunyai  hak  Otonomi  ataupun  wilayah
administratief. Pembagian ini dimaksudkan untuk mencapai efektifitas dan efisiensi serta demokratisasi pelaksanaan Pemerintahan.
Hubungan  antara  Pemerintah  Pusat  dengan  Daerah  dalam  Negara  Kesatuan  yang  didesentralisasikan  tidak  dapat
dilepaskan dari system pembagian kekuasaan secara vertical yang didasarkan pada desentralisasi akan melahirkan Daerah­daerah
Otonom yang mempunyai kewenangan untuk mengurus rumah tangganya sendiri. (Pasal 10 No. 32/2004)

3.5.   Kewenangan Pemerintah


a.   Asas Legalitas
1.              Asas  Legalitas  merupakan  salah  satu  prinsip  utama  yang  dijadikan  sebagai  dasar  dalam  setiap  penyelenggaraan
Pemerintahan dan kenegaraan di setiap Negara Hukum.
2.       Asas legalitas berkaitan erat dengan gagasan Negara Hukum dan gagasan Negara demokrasi.
Gagasan Demokrasi : menuntut agar setiap bentuk Undang­undang dan berbagai keputusan menuntut persetujuan dari
wakil rakyat dan sebanyak mungkin memperhatikan kepentingan rakyat.
Gagasan Negara Hukum :   menuntut  agat  penyelenggaraan  kenegaraan  dan  Pemerintahan  harus  didasarkan  pada
Undang­undang dan memberikan jaminan terhadap hak­hak dasar rakyat.
3.       Asas Legalitas menjadi dasar legitimasi tindakan Pemerintahan dan jaminan perlindungan dari hak­hak rakyat.

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 5/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
b.  Wewenang Pemerintahan
1. Penyelenggaraan kenegaraan dan Pemerintahan harus memiliki legitimasi kewenangan yang diberikan oleh Undang­undang.
2.   Sumber wewenang bagi Pemerintah adalah peraturan Perundang­undangan.

Cara Memperoleh Wewenang Pemerintahan melalui 3 cara yaitu :

1.       Atribusi : Pemberi Wewenang Pemerintah Oleh pembuat Undang­undang kepada Organ Pemerintahan.
2.        Delegasi : Pelimpahan  wewenang  Pemerintahan  dari  satu  Organ  Pemerintahan  kepada  Organ  Pemerintahan  Kepada
Organ pemeritnahan lainnya.
3.       Mandat :  Terjadi ketika Organ Pemerintahan mengizinkan kewenangannya dijalankan oleh Organ lain atas namanya.

No Delegasi No Mandat

1. Overdracht Van Bevoegdheid 1. Opdracht Tot Nivoering (Perintah Untuk
(Pelimpahan Wewenang) Melaksanakan)

2. Kewenangan tidak dapat dijalankan 2. Kewenangan dapat sewaktu – waktu
secara incidental oleh Organ yang dilaksanakan oleh mandans.
memiliki kewenangan asli.

Terjadi Peralihan Tanggung Jawab. Tidak terjadi peralihan tanggung jawab.
3. 3.
Harus Berdasarkan Undang­ undang. Tidak Harus berdasarkan Undang­undang .

4. Harus Tertulis 4. Dapat Tertulis, dapat pula secara lisan.

5. 5.

IV. ASAS­ASAS UMUM PEMERINTAHAN YANG LAYAK/ AAUPL/ AAUPB


(Algemene Beginselen Van Behoorlijk BestUUr)

4.1  Pengertian AAUPL


Pemahaman tentang AAUPL tidak dapat dilepaskan dari konteks kesejarahan, disamping dari segi kebahasan, karena asas
ini muncul dari proses sejarah.
Dengan bersandar dengan kedua konteks ini AAUPL dapat difahami sebagai asas­asas umum yang dijadikan sebagai dasar
dan Tata cara dalam penyelenggaraan pemerintan yang layak. Dengan cara demikian penyelenggaraan Pemerintahan itu menjadi baik
dan  sopan,  adil  dan  terhormati,  bebas  dan  kezhaliman,  pelanggaran  peraturan,  tindakan  penyalahgunaan  wewenang  dan  tidakan
sewenang­wenang.
Berdasarkan Penelitiannya, Jazim Hamidi menemukan pengertian AAUPL sebagai berikut :

a.       AAUPL merupakan nilai­nilai etik yang hidup dan berkembang dalam lingkungan Hukum Administrasi Negara.
b.              AAUPL  berfungsi  sebagai  pegangan  bagi  pejabat  Administrasi  Negara  dalam  menjalankan  fungsinya,  merupakan  alat  uji  bagi
Hakim Administrasi menilai tindakan Administrasi Negara, dan sebagai dasar pengajuan gugatan bagi pihak penggugat.
c.       Sebagian besar AAUPL masih merupakan asas­asas yang tidak tertulis, masih abstrak, dan tidak digali dalam praktek kehidupan
di masyarakat.
d.        Sebagian  asas  yang  lain  sudah  menjadi  kaidah  Hukum  tertulis  dan  terpencar  dalam  berbagai  peraturan  Hukum  positif.  Meskipun  sebagian
asas itu berubah menjadi kaidah Hukum tertulis, namun sifatnya tetap sebagai asas Hukum.

4.2.  Hakekat AAUPB


­ AAUPB Merupakan norma Pemerintah
­ AAUPB Merupakan Hukum Tidak tertulis
­ AAUPB berbeda dengan asas­asas umum
­ AAUPB lahir dari praktek

4.3. Pengembangan AAUPB


Kekuasaan  bebas  (discrectionary  bevoegheid)  yang  semula  se  akan­akan  tidak  terjamah  oleh  rechtmatigheidstoetsing
sudah lama ditingalkan. Criteria Hukum yang digunakan untuk menilai segi kekuasaan bebas itu di Belanda.
Unsur­unsur semula di usulkan oleh G.J. Wiarda lima asas sbb :

1. Asas
2. Asas Kecermatan
3. Asas sasaran yang tepat
4. Asas keseimbangan
5. Asas kepastian Hukum.

Dalam Yurisprudensi AROB (Peradilan Administrasi Belanda) asas­asas meliputi :

a.       Asas Pertimbangan
b.       Asas kecermatan
c.       Asas kepastian Hukum
d.       Asas kepercayaan atau asas menanggapi harapan yang telah ditimbulkan.
e.       Asas persamaan
f.         Asas keseimbangan
g.       Asas kewenangan
h.       Asas fai play
i.         Larangan
j.         Larangan bertindak sewenang­wenang

Sistematisasi AAUPB dikutip oleh Indroharto dalam bukunya berjudul Usaha Memahami UU tentang PTUN hal  .  307­312


asas tersebut dikelompokkan menjadi :

a.             Asas formal mengenai pembentukan keputusan yang meliputi kecermatan formal, asas fairplay
b.             Asas­asas formal mengenai dormulasi keputusan yang meliputi :
­          Asas pertimbangan
­          Asas kepastian Hukum formal
c.             Asas material mengenai keputusan yang meliputi :
­ Asas kepastian Hukum material
­ Asas kepercayaan atau harapan­harapan yang telah ditimbulkan
­ Asas persamaan

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 6/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
­ Asas kecermatan material
­ Asas keseimbangan

Sebagai perbandingan diketengahkan juga asas serupa di Perancis “Asas­asas Umum Hukum Publik” :

1. Asas persamaan
2. Asas larangan mencabut keputusan bermanfaat
3. Asas larangan berlaku surat
4. Asas jaminan kebebasaan masyarakat
5. Asas Keseimbangan

4.4. Fungsi dan Macam­macam AAUPL


AAUPL adalah merupakan Hukum tidak tertulis.

a.   Fungsi dan Macam­macam AAUPL


o    Bagi  Administrasi  Negara  :  bermanfaat  sebagai  pedoman  dalam  melakukan  penafsiran  dan  penerapan  terhadap  ketentuan­
ketentuan, Perundang­undangan yang bersifat sumir, samara, atau tidak jelas
o   Bagi warga masyarakat sebagai pencari keadilan, AAUPL sebagai dasar gugatan.
o   Bagi Hakim TUN : sebagai alat untuk menguji dan membatalkan keputusan pejabat TUN.
o   Bagi Badan Legislatif : berguna dalam merancang Undang­undang.

b.   Macam­macam AAUPL


Prof. Koentjoro Purbopranoto Mengatakan macam­macam AAUPL sebagai berikut :

1)   Asas kepastian Hukum
2)   Asas keseimbangan
3)   Asas kesamaan dalam mengambil keputusan
4)   Asas bertindak cermat
5)   Asas motivasi untuk setiap keputusan
6)   Asas tidak mencampuradukan kewenangan
7)   Asas permainan yang layak
8)   Asas keadilan dan kewajaran
9)   Asas kepercayaan dan menanggapi pengharapan yang wajar
10)  Asas meniadakan akibat suatu keputusan yang batal.
11)  Asas perlindungan atas pandangan atau cara hidup pribadi
12)  Asas Kebijaksanaan
13)  Asas penyelenggaraan kepentingan umum.

Asas­asas Umum Pemerintahan yang Layak menurut Prof. Kuntjoro Purbopranoto, SH :

1.   Asas Kepastian Hukuk
­          bahwa  asas  ini  menghendaki  adanya  dihormatinya  hak  yang  telah  diperoleh  seseorang  berdasarkan  suatu  keputusan
Pangreh sekalipun itu salah.
­     Bahwa suatu keputusan Pemerintah harus memenuhi syarat materiil dan formil. Syarat materiil menuntut kewenangan
dalam bertindak, sedangkan syarat formil yaitu mengenai bentuk daripada keputusan itu sendiri.
2.   Asas Keseimbangan
Asas ini menghendaki adanya keseimbangan antara Hukuman jabatan dan kelalaian atau kealpaan seseorang pegawai.
3.   Asas kesamaan dalam Mengabil Keputusan Pangreh.
            Asas  ini  menghendaki  agar  badan  Pemerintah  harus  mengabil  tindakan  yang  sama/  tidak  bertentangan  atas  kasus­kasus
yang faktanya sama.
4.   Asas bertindak cermat
      Asas ini ditegaskan dalam yurisprudensi Hogeraad Nederland  antara lain tanggal 9 Januari 1942 : bahwa kewajiban seorang
wali Kota untuk memperingatkan para pemakai jalan umum, bahwa ada bagian jalan yang rusak, atau ada perbaikan jalan.
5.   Asas motivasi untuk setiap keputusan.
      Asas ini menghendaki bahwa keputusan badan Pemerintahan harus didasari alas an atau motivasi yang cukup, motivasi itu
sendiri haruslah adil dan jelas.
6.   Asas jangan mencampuradukan wewenang.
            Badan  Pemerintah  yang  mempunyai  kewenangan  untuk  mengambil  keputusan  menurut  Hukum,  tidak  boleh  menggunakan
kewenangan itu untuk lain tujuan, selain tujuan yang telah ditetapkan untuk kewenangan itu.
7.   Asas Permainan yang layak
            bahwa  badan  Pemerintah  harus  memberikan  kesempatan  yang  seluas­luasnya  kepada  warga  Negara  untuk  mencari
kebenaran dan keadilan, asa ini sangat menghargai instansi banding dan badan peradilan.
8.   Asas keadilan dan kewenangan
            bahwa  suatu  tindakan  adalah  terlarang  apabila    badan  Pemerintahan  bertindang  yang  bertentangan  dengan  asa  ini,  maka
tindakan itu dapat dibatalkan
9.   Asas menanggapi pengharapan yang wajar.
            Contoh,  seorang  pegawai  meminta  izin  untuk  menggunakan  kendaraan  pribadi  di  waktu  dinas,  untuk  itu  diberikan  izin,
kemudian ternyata bahwa pegawai tidak mendapatkan kompensasi biaya.
10.  Asas meniadakan akibat suatu keputusan yang batal.
            Kadang­kadang  keputusan  tentang  pemecatan  seorang  pegawai  dibatalkan  oleh  yang  berwenang.  Dalam  hal  demikian
Pemerintahan  yang  demikian  tidak  hanya  menerima  kembali  pegawai  yang  dipecat,  tetapi  juga  harus  membayar  segala
kerugian yang disebabkan oleh keputusan tentang pemecatan itu yang tidak dibenarkan.
11.  Asas Perlindungan atas Pandangan Hidup atau Cara Hidup.
      Asas ini menghendaki agar pegawai negeri diberi kebebasan atau hak untuk mengatur kehidupan pribadinya sesuai dengan
pandangan/ cara hidup yang di anut
12.  Asas Kebijaksanaan
asa  ini  menghendaki  agar  dalam  melaksanakan  tugasnya,  Pemerintah  diberi  kebebasan  untuk  melakukan  kebijaksanaan
tanpa harus selalu menunggu instruksi. Pemberian kebebasan iniberkaitan dengan perlunya tindakan positif dari Pemerintah
yang menyelenggarakan kepentingan umum.
13.  Asas Penyelenggaraan kepentingan Umum
      asas ini menghendaki agar dalam menyelenggarakan tugasnya Pemerintah selalu mengutamakan kepentingan umum.

Penyelenggaraan Pemerintah berpedoman pada asas umum penyelenggaraan Negara yang terdiri atas :

a.       Asas Kepastian Hukum
b.       Asas tetib peyelenggaraan Negara
c.       Asas kepentingan umum
d.       Asas keterbukaan
e.       Asas proporsionalitas
f.        Asas akuntabilitas
g.       Asas efesiensi
h.       Asas efektifitas
(Pasal 20 Ayat 1 UU No. 32/2004)

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 7/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM

Dalam  menyelenggarakan  Pemerintahan,  Pemerintah  menggunakan  asas  Desentralisasi,  tugas  pembantuan  dan
dekonsentrasi sesuai dengan peraturan Perundang­undangan (Pasal, 20 ayat 2 UU No. 32 tahun 2004)

Dalam  menyelenggarakan  Pemerintah  Daerah,  Pemerintah  Daerah  menggunakan  asas  Otonomi  dan  tugas
pembantuan (Pasal 20 ayat 3 UU No. 32/2004)

Asas  umum  penyelenggaraan  Negara  menurut  Undang­undang No. 28 Tahun 1999  tentang  penyelenggaraan
Negara yang baik dan bersih dan bebas dari KKN sesuai Pasal 3 sebagai berikut :

a.       Asas Kepastian Hukum


Asas  dalam  Negara  Hukum  yang  mengutamakan  landasan  peraturan  Perundang­undangan,  kepatutan  dan  keadilan  dalam
setiap kebijaksanaan penyelenggaraan Negara.

b.      Asas Tertip penyelenggaraan Negara


Asas yang menjadi landasan keteraturan, kesesuaian, dan keseimbangan dalam pengendalian penyelenggaraan Negara.

c.       Asas Kepentingan Umum


Asas yang mendahulukan kesejahteraan umum, dengan cara yang aspiratif, akomodatif, dan selektif.

d.      Asas Keterbukaan
Asas  yang  membuka  diri  terhadap  hak  masyarakat  untuk  memperoleh  informasi  yang  benar,  jujur  dan  tidak  diskriminatif
tentang  penyelenggaraan  Negara  dengan  tetap  memperhatikan  perlindungan  terhadap  hak  asasi  pribadi,  golongan  dan
rahasia Negara.

e.       Asas Proporsionalitas
Asas yang mengutamakan keseimbangan antara hak dan kewajiban penyelenggara Negara.

f.        Asas Profesionalitas
Asas yang mengutamakan keahlian yang berlandaskan kode etik dan ketentuan peraturan Perundang­undangan.

g.      Asas Akuntabilitas
Asas  yang  menentukan  bahwa  setiap  kegiatan  dan  hasil  akhir  dari  kegiatan  penyelenggara  Negara  harus  dapat
dipertanggung  jawabkan  kepada  masyarakat/  rakyat  sebagai  pemengang  kedaulatan  tertinggi  Negara  sesuai  dengan
ketentuan Perundang­undangan.

V. TINDAKAN PEMERINTAHAN

5.1. Definisi dan Pengertian Tindakan Pemerintahan


Tindakan Pemerintahan adalah pemeliharaan kepentingan Negara dan rakyat secara spontan dan tersendiri oleh penguasa
tinggi dan rendahan “Prinsip Herarkhi” (pendapat Van Vollenhoven).
Pendapat  Romeyn,  tindak  Pangreh  adalah  tiap  tindakan/  perbuatan  daripada  satu  alat  perlengkapan  Pemerintahan,  juga
diluar  lapangan  Hukum  Tata  Pemerintahan,  misalnya  keamanan,  peradilan,  yang  bermaksut  menimbulkan  akibat  Hukum  di  bidang
Hukum Administrasi.
Komisi  Van  Poelje  (Laporan tahun 1972 hal. 4)  tindakan­tindakan  Hukum  yang  dilakukan  oleh  penguasa  dalam
menjalankan fungsi Pemerintahan.

5.2. Pembatasan dan Cara Bertindak Pemerintah


Pembatasan  :  tindak  Pemerintahan  tidak  boleh  bertentangan  dengan  peraturan  Perundang­undangan  atau  kepentingan
umum antara lain :
1.   Tidak boleh melawan Hukum baik formil maupun materiil, dalam arti luas.
2.   Tidak boleh melampaui atau menyelewengkan kewenangan menurut Undang­undang.
Cara Bertindak : cara bertindak alat Pemerintahan harus berdasarkan kebijaksanaan pada umumnya atau dengan mengingat
asas “freies ermenssen” tidak perlu mendasari secara ketat, norma­norma Undang­undang seperti Hakim (peradilan), akan tetapi harus
cepat  segera  bertindak  menurut  keperluan,  untuk  mengatasi  situasi  mendadak  dan  sebagainya,  asal  bijaksana  dan  tidak  melampaui
batas kewenangan dan Hukum.

5.3. Macam­macam Tindakan Pemerintahan


Skema : Macam­macam Tindakan Pemerintahan
  

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 8/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM

Pemerintah atau Negara adalah sebagai subyek Hukum, sebagai pendukung hak­hak dan kewajiban­kewajiban. Sebagai


subyek  Hukum  Permerintah  sebagaimana  seperti  subyek  Hukum  lainnya  melakukan  berbagai  tindakan,  baik  tindakan  nyata  maupun
tindakan  Hukum  tidak  nyata/  materiil  adalah  tindakan  yang  tidak  ada  relevansinya  dengan  Hukum  dan  oleh  karenanya  tidak
menimbulkan akibat Hukum.

Pemerintah atau Administrasi Negara adalah  subyek  Hukum  yang  mewakili  dua  institusi  yaitu  Jabatan
Pemerintahan   dan  Badan Hukum Pemerintahan/ Badan Hukum Publik, sehingga  tindakan  Hukum  yang  dilakukan  Pemerintah
dalam menjalankan fungsi Pemerintahan dapat dibedakan dalam tindakan Hukum publik dan tindakan Hukum privat. Tindakan Hukum
Publik Adalah  tindakan  Hukum  yang  dilakukan  itu  yang  didasarkan  atas  Hukum  publik.  Sedangkan  tindakan  Hukum  Perdata  berarti
tindakan Hukum yang dilakukan tersebut yang didasarkan pada ketentuan Hukum Perdata.

Secara teoritis cara untuk menentukan apakah tindakan Pemerintahan itu diatur oleh Hukum publik atau Hukum Perdata
adalah  dengan  melihat  kedudukan  pemeritah  dalam  menjalankan  tindakan  tersebut.  Jika  Pemerintah  bertindak  dalam  kualitasnya
sebagai Pemerintah, maka hanya Hukum publiklah yang berlaku, dan jika Pemerintah bertindak tidak dalam kualitas Pemerintah, maka
Hukum privatlah yang berlaku.

Tindakan Hukum publik yang  dilakukan  Pemerintah  dalam  menjalankan  Pemerintahannya,  dapat  dibedakan  tindakan
Hukum  publik  yang  bersifat  sepihak  dan  tindakan  banyak  pihak.  Peraturan  bersama  antar  Kabupaten  atau  antar  Kabupaten  dengan
Propinsi adalah contoh tindakan Hukum publik beberapa pihak.

Dikalangan  para  sarjana  perbedaan  pendapat  mengenai  sifat  tindakan  Hukum  Pemerintahan  ini.  Sebagian  mengatakan
bahwa  perbuatan  Hukum  yang  terjadi  dalam  lingkup  Hukum  publik  selalu  bersifat  sepihak  atau  hubungan  Hukum  bersegi  satubagi
mereka tidak ada perbuatan Hukum publik yang bersegi dua, tidak ada perjanjian yang diatur oleh Hukum publik. Bila mana Pemerintah
dengan  seorang  partikelir  diadakan  suatu  perjanjian,  maka  Hukum  yang  mengatur  perjanjian  itu  senantiasa  Hukum  privat.  Perjanjian
ialah  suatu  perbuatan  Hukum  yang  bersegi  dua  karena  diadalan  oleh  dua  kehendak  (yang  ditentukan  dengan  sukarela)  yakni  suatu
persesuaian  kehendak  antara  dua  pihak  sebagian  penulis  lain  mengatakan,  ada  perbuatan  Hukum  Pemerintah  bersegi  dua,  mereka
mengakui  adanya  perjanjian  yang  diatur  oleh  Hukum  publik  seperti  perjanjian  kerja  yang  berlaku  selama  jangka  pendek.  Meskipun
dikenal  adanya  tindakan  Pemerintah  yang  bersegi  dua  namun  dari  argumentasi  dari  masing­masing  penulis  bahwa  pada  prinsipnya
semua tindakan Pemerintah dalam menyelenggarakan tugas­tugas publik lebih merupakan tindakan sepihak atau bersegi satu.

Ada  beberapa  contoh  seperti  pada  ijin  usaha  pertambangan  tidak  dapat  dikatakan  bahwa  pihak  yang  bersangkutan
berkesempatan  untuk  terlebih  dahulu  menyatakan  persetujuannya,  sebab  ijin  pegusahaan  pertambangan  dan  konsesi  pertambangan
tersebut terjadinya justru keputusan Pemerintah, yang sifatnya sepihak dan berlaku seketika.

5.4. Syarat Keabsahan Tindakan Pemerintahan


Syarat keabsahan tindakan Pemerintah dapat di bagi sebagai berikut:
1.   Perbuatan tersebut harus berdasarkan Peraturan Perundang­undangan.
2.   Perbuatan  tersebut  dilakukan  oleh  aparat  Pemerintah  dalam  kedudukannya  sebagai  penguasa  maupun  sebagai  alat  perlengkapan
Pemerintah.
3.   Perbuatan tersebut dilaksanakan dalam rangka menjalankan fungsi Pemerintah.
4.   Perbuatan tersebut dimaksudkan sebagai sarana untuk menimbulkan akibat Hukum di bidang Hukum Administrasi.
5.   Perbuatan yang bersangkutan dilakukan dalam rangka pemeliharaan kepentingan Negara dan rakyat.

5.5. Perbuatan Melanggar Hukum Oleh Pemerintahan


Secara konseptual ruang lingkup tanggung gugat Pemerintah dibagi menjadi dua :

1.       Tanggung gugat bidang Hukum Perdata dalam bentuk perbuatan melanggar Hukum oleh penguasa melalui peradilan umum.
2.       Tanggung gugat bidang Hukum Administrasi khusus tentang KTUN melalui peradilan TUN.

Ad. 1. Tanggung Gugat Pemerintah Melalui Peradilan Umum


Tanggung gugat Pemerintah di peradilan umum pada dasarnya berkaitan dengan tuntutan pembayaran ganti kerugian, gugat
harus diajukan ke peradilan umum, dengan alasan gugatan perbuatan melanggar Hukum/ melawan Hukum oleh penguasa. Landasannya
penjelasan umum UU No. 5/1986 sebagai berikut :
Sengketa TUN lainnya yang menurut Undang­undang ini tidak menjadi wewenang PTUN diselesaikan melalui peradilan Umum.

Dalam  gugatan  Perdata  formulasinya  ditujukan  kepada  Pemerintah  RI  dan  untuk  tingkat  Daerah  dirumuskan  Pemerintah
Daerah.

Ad. 2. Tanggung Gugat Pemerintah Melalui PTUN


Tujuan utama orang menggugat di PTUN adalah agar KTUN tersebut dibatalkan, dan dapat pula ditambahkan tuntutan ganti

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 9/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
rugi dan tehabilitasi (Pasal 53 ayat 1 UU No. 9/2004)
Dalam  tanggung  gugat  bidang  TUN,  maka  yang  menjadi  tergugat  adalah  pejabat,  maka  rumusnya  adalah  :  Presiden,
Menteri, Gubernur, Bupati, WaliKota.

VI. INSTRUMEN PEMERINTAHAN

6.1. Pengertian Instrumen Pemerintahan


Instrument  Pemerintah  adalah  alat­alat  atau  sarana­sarana  yang  digunakan  Pemerintah  atau  Administrasi  Negara  dalam
melaksanakan  tugas­tugasnya,  baik  menggunakan  sarana  yang  terhimpun  dalam  publik  domein/  kepunyaan  publik  maupun
menggunakan sarana Yuridis.

6.2. Macam­macam Instrumen Pemerintahan


Macam­macam Intrumen Pemerintahan sebagai berikut :

1.  Sarana yang terhimpun dalam publik domein, misalnya : alat tulis menulis, sarana transportasi, gedung­gedung perkantoran, dll.
2.  sarana/ instrument Yuridis

1)       Peraturan Perundangan­undangan
Peraturan  adalah  merupakan  Hukum  yang  sifatnya  mengikat  umum  (berlaku  umum)  dan  tugasnya  mengatur  hal­hal
yang bersifat umum (general).
Secara teoritik istilah Perundang­undangan mempunyai dua pengertian sebagai berikut :

1.        Perundang­undangan  merupakan  proses  pembentukan  peraturan­peraturan  Negara,  baik  ditingkat  pusat  maupun  ditingkat
Daerah.
2.              Perundang­undangan  adalah  segala  peraturan  Negara  yang  merupakan  hasil  pembentukan  peraturan­peraturan,  baik  di
tingkat pusat maupun di tingkat Daerah.

Ciri­ciri Peraturan Perundang­undangan sebagai berikut :

a.       Bersifat Umum dan komptehensif, yang demikian merupakan kebalikan dari sifat yang khusus dan terbatas.
b.        Bersifat  universal,  ia  diciptakan  untuk  menghadapi  peristiwa  yang  akan  dating  dan  belum  jelas  bentuk  kongkritnya.  Oleh
karena itu tidak dapat dirumuskan untuk mengatasi peristiwa tertentu saja.
c.              Memiliki  kekuatan  untuk  mengoreksi  dan  memperbaiki  dirinya  sendiri,  adalah  lazim  bagi  suatu  peraturan  untuk
mencantumkan klausula yang memuat kemungkinan dilakukannya peninjauan kembali.

2)       Peraturan Kebijaksanaan
Pelaksanaan  Pemerintah  sehari­hari  menunjukkan,  badan  atau  pejabat  Tata  Usaha  Negara  acap  kali  menempuh  berbagai
langkah  kebijaksanaan  tertentu,  antara  lain  menciptakan  apa  yang  kini  sering  dinamakan  peraturan  kebijaksanaan.  Produk  semacam
peraturan kebijaksanaan tidak terlepas kaitan penggunaan freies  ermessen.  Karena  itu  sebelum  menjelaskan  peraturan  kebijaksanaan
terlebih dahulu dikemukakan mengenai “freies ermessen”

Freies ermessen  berasal  dari  kata  Freies  artinya  bebas,  lepas,  tidak  terkait,  dan  merdeka.  Sedangkan  ermessen
mempertimbangkan,  menilai,  menduga,  dan  memperkirakan.  Jadi  Freies ermessen  adalah  orang  yang  memiliki  kebabasan  untuk
menilai, menduga, dan mempertimbangkan sesuatu, istilah ini secara khas digunakan Pemerintah. Sehingga Freies ermessen diartikan
juga sebagai salah satu sarana yang memberikan ruang gerak bagi pejabat atau Badan Administrasi Negara untuk melakukan tindakan
tanpa harus terikat sepenuhnya pada Undang­undang.

Didalam  praktek  penyelenggaraan  Pemerintahan,  Freies ermessen  dilakukan  oleh  aparat  Pemerintah  atau  Administrasi
Negara dalam hal­hal sebagai berikut :

1.       Belum ada peraturan Perundang­undangan yang mengatur tentang penyelesaian in konkrito terhadap suatu masalah tertentu,
padahal masalah tersebut menuntut penyelesaian segera. Misalnya dalam menghadapi bencana alam, atau wabah penyakit
menular.
2.       Peraturan Perundang­undangan yang menjadi dasar berbuat aparat Pemerintah memberikan kebebasan sepenuhnya, missal
dalam  pemberian  ijin  berdasarkan  pasal  1  HO,  setiap  pemberi  ijin  bebas  untuk  menafsirkan  pengertian  “menimbulkan
keadaan bahaya” sesuai dengan situasi dan kondisi daerah masing­masing.
3.       Adanya delegasi Undang­undang, maksudnya aparat Pemerintah diberi kekuasaan untuk mengatur sendiri, yang sebenarnya
kekuasaan ini merupakan kekuasaan aparat yang lebih tinggi tingkatannya, missal dalam menggali sumber­sumber keuangan
daerah. Daerah bebas untuk mengelolahnya asalkan sumber itu merupakan sumber yang sah.
3)   Pengertian Peraturan Kebijaksanaan
Didalam  penyelenggaraan  tugas  Administrasi  Negara  Pemerintah  banyak  mengeluarkan  kebijaksanaan  yang
dituangkandalam berbagai bentuk seperti : Garis­garis Kebijaksanaan, peraturan­peraturan, pedoman­pedoman, petunjuk­petunjuk,
surat edaran, resolusi­resolusi, instruksi­instruksi, nota kebijaksanaan, peraturan menteri, keputusan dan pengumuman.

Secara praktis kewenangan Diskresioner Administrasi Negara yang kemudian melahirkan peraturan, kebijaksanaan,
mengandung dua aspek pokok sebagai berikut :

1.       Kebebasan menafsirkan ruang lingkup wewenang yang dirumuskan dalam peraturan dasar wewenagnya, aspek pertama ini
lazim dikenal dengan kebebasan menilai yang bersifat obyektif.
2.        Kebebasan untuk menentukan sendiri dengan cara bagaimana dan kapan wewenang yang dimiliki Administrasi Negara itu
dilaksanakan.  Aspek  kedua  ini  dikenal  dengan  kebebasan  menilai  yang  bersifat  subyektif.  Kewenangan  bebas  untuk
menafsirkan secara mandiri dari Pemerintah inilah yang melahirkan peraturan kebijaksanaan.

4)   Ciri­ciri Peraturan Kebijaksanaan


Bagir Manan menyebutkan cirri­ciri peraturan kebijaksanaan sebagai berikut :

1.        Peraturan kebijaksanaan bukan merupakan peraturan Perundang­undangan
2.         Asas­asas  pembatasan  dan  pengujian  terhadap  peraturan  Perundang­undangan  tidak  dapat  diberlakukan  pada  peraturan
kebijaksanaan.
3.         Peraturan  kebijaksanaan  tidak  dapat  di  uji  secara  wetwatigheid  karena  memang  tidak  ada  dasar  peraturan  Perundang­
undangan untuk membuat keputusan peraturan kebijaksanaan tersebut.
4.                Peraturan  kebijaksanaan  dibuat  berdasarkan  Freies  Ermessen  dan  ketiadaan  wewenang  Administrasi  bersangkutan
membuat peraturan Perundang­undangan.
5.        Pengujian terhadap peraturan lebih diserahkan pada doelmatigheid dank arena itu Bantu ujinya adalah asas­asas umum
Pemerintahan yang layak.
6.        dalam praktek diberikan format dalam berbagai bentuk dan jenis peraturan yaitu :
keputusan, instruksi, surat edaran, pengumuman dan lain­lain.  Bahkan dapat ditemui dalam bentuk peraturan­peraturan.

5)   Fungsi dan Penormaan Peraturan Kebijaksanaan


Peraturan kebijaksanaan dapat difungsikan secara tepat guna dab berdaya guna sebagai berikut :

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 10/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
1.       Tepat guna dan berdaya guna sebagai sarana peraturan yang melengkapai menyempurnakan dan mengisi kekurangan yang
ada pada peraturan Perundang­undangan.
2.       Tepat guna dan berdaya guna sebagai sarana pengatur bagi keadaan vacuum peraturan Perundang­undangan.
3.        Tepat  guna  dan  berdaya  guna  sebagai  serasana  pengaturan  kepentingan  yang  belum  terakomodasi  secara  patut,  layak,
benar, dan adil dalam peraturan Perundang­undangan.
4.       Tepat guna dan berdaya guna sarana pengaturan mengenai kondisi peraturan Perundang­undangan yang sudah ketinggalan
jaman.
5.        Tepat guna dan berdaya guna kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi Administrasi Negara di bidang Pemerintahan dan
pembangunan yang bersifat cepat berubah atau memerlukan pembaharuan sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapi.

6)  Rencana­rencana
Negara  merupakan  Organisasi  yang  memunyai  tujuan.  Bagi  Negara  Indonesia  tujuan  Negara  itu  dituangkan  dalam
Alinea ke empat UUD 1945,  mengindikasikan  bahwa  Indonesia  merupakan  Negara  Hukum  yang  menganut  konsepsi  Welfare
state tujuan kehidupan bernegara meliputi berbagai dimensi, terhadap berbagai dimensi ini Pemerintah membuat rencana­rencana.

Dalam Perspektif Hukum Administrasi Negara rencana  merupakan  salah  satu  instrument  Pemerintah  yang  sifat
Hukumnya berada diantara peraturan kebijaksanaan, Perundang­undangan, dan ketetapan, dengan demikian perencanaan memiliki
bentuk  sendiri  patuh  pada  peraturan  sendiri  serta  mempunyai  tujuan  sendiri,  yang  berbeda  dengan  peraturan  kebijaksanaan,
peraturan perundangan­undangan dan ketetapan.

Rencana merupakan himpunan kebijaksanaan yang akan di tempuh pada masa yang akan dating, akan tetapi ia bukan
peraturan  kebijaksanaan  karena  kewenangan  untuk  membuatnya  ditentukan  oleh  peraturan  perundan­undangan  atau  didasarkan
pada wewenang Pemerintah yang jelas. Rencana memiliki sifat norma yang umum abstrak, namun ia bukan peraturan Perundang­
undangan,  karena  tidak  semua  rencana  itu  mengikat  umum  dan  tidak  selalu  mempunyai  akibat  Hukum  langsung.  Rencana
merupakan  hasil  penetapan  oleh  Organ  Pemerintahan  tertentu  atau  dituangkan  dalam  bentuk  ketetapan,  tetapi  ia  bukan
Beschikking karena didalamnya memuat peraturan yang bersifat umum.

Perencanaan terbagi dalam tiga kategori sebagai berikut :
a.              Perencanaan Informative yaitu  rancangan  estimasi  mengenai  perkembangan  masyarakat  yang  dituangkan  dalam
alternative­alternative kebijakan tertentu. Rencana seperti ini tidak memiliki akibat Hukum bagi warga Negara.
b.      Perencanaan Indikatif adalah rencana yang memuat kebijakan yang akan di tempuh dan mengindikasikan bahwa kebijakan
itu  akan  dilaksanakan.  Kebijakan  ini  masih  harus  diterjemahkan  ke  dalam  keputusan  operasional  atau  normative.
Perencanaan seperti ini memiliki akibat Hukum yang tidak langsung.
c.        Perencanaan Operasional atau Normative, merupakan  rencana  yang  terdiri  dari  persiapan,  perjanjian,  dan  ketetapan,
rencana Tata ruang kota, pembebasan tanah, pemberian subsidi, dll.

7)  Unsur­unsur Rencana.


Dalam perspektif HAN, J.B.J.M. ten Berge menggunakan unsur rencana sebagai berikut :

­          Schriftelijke (tertulis)
­          Keputusan atau tindakan terkandung pilihan
­          Oleh Organ Pemerintahan
­          Ditujukan pada waktu yang akan datang
­          Unsur­unsur Rencana (sering kali berbentuk tindakan­tindakan atau keputusan­keputusan).
­          Memiliki sifat yang tidak sejenis, beragam.
­          Sering kali secara programatis
­          Untuk jangka waktu tertentu.
­          Gambaran tertulis.

8)  Perizinan
Pengertian Perizinan yaitu dispensasi, konsesi, dan lisensi. Dipensasi adalah keputusan Administrasi Negara yang
membebaskan suatu perbuatan dari kekuasaan peraturan yang menolak perbuatan tersebut.

9) Unsur­unsur izin
­ Instrumen Yuridis
­ Peraturan Perundang­undangan
­ Peristiwa kongkrit
­ Prosedur dan persyaratan.

10) Tujuan dan Fungsi Perizinan


Secara Umum dapat disebutkan sebagai berikut :

­          Keinginan mengarahkan (mengendalikan “sturen”) aktivitas tertentu (misalkan ijin bangunan)
­          Mencegah bahaya bagi lingkungan (izin­izin lingkungan)
­          Keinginan melindungi obyek­obyek tertentu (izin terbang, izin membongkar pada monument­monumen)
­          Hendak membagi benda­benda yang sedikit (izin menghuni didaerah padat penduduk)
­           Pengarahan,  dengan  menyeleksi  orang­orang  dan  aktivitas  (izin  berdasarkan  dimana  pengurus  harus  memenuhi  syarat
tertentu)

11) Bentuk dan isi Izin


Izin selalu dibuat dalam bentuk tertulis, sebagai ketetapan tertulis izin memuat hal­hal sebagai berikut :

­          Organ yang berwenang
­          Yang dialamatkan
­          Ketentuan, pembatasan, serta syarat­syarat.
­          Pemberian alasan
­          Pemberitahuan, tambahan.
a.       Penggunaan Instrumen Hukum KePerdataan
Kedudukan  Hukum  Pemerintah  dalam  melakukan  kegiatan  sehari­hari  tampil  dengan  dua  kedudukan  yaitu
sebagai  wakil  dari  Badan  Hukum  dan  wakil  dari  Jabatan  Pemerintahan.  Sebagai  wakil  Badan  Hukum  Pemerintah  tidak
berbeda dengan seseorang atau Badan Hukum Perdata pada umumnya yaitu diatur dan tunduk pada ketentuan­ketentuan
Hukum KePerdataan.

Pemerintah  sebagaimana  manusia  dan  Badan  Hukum  Perdata  dapat  terlibat  dalam  pergaulan  Hukum  Privat,
Pemerintah  melakukan  jual  beli,  sewa  menyewa,  membuat  perjanjian  dan  mempunyai  hak.  Pemerintah  juga  bertanggung
jawab ketika terjadi perbuatan melawan Hukum yang dilakukan Pemerintah.

b.      Perjanjian Perdata Biasa


Pemerintah  sering  menggunakan  perjanjian  dalam  memenuhi  berbagai  kepentingan  Pemerintahan  dan  manjadi
salah satu pihak dalam perjanjian ini seperti perjanjian jual beli, sewa menyewa, pemborongan dan lain­lain.

c.       Perjanjian Perdata dengan Syarat standar


Pada umumnya dengan syarat standar ini berbentuk konsesi, penentuan syarat secara sepihak oleh Pemerintah
dapat dibolehkan dengan dua caTatan yaitu :

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 11/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM

­          Penentuan syarat dalam rangka memberikan perlindungan untuk kepentingan umum yang harus dilajukan oleh
Pemerintah.
­                    Ketentuan  syarat­syarat  tersebut  harus  dilakukan  secara  terbuka  misalnya,  melalui  penawaran  umum  agar
dikatahui  sebelumnya  oleh  pihak  lawan  berkontrak,  sehingga  pihak  swasta  dapat  dengan  sukarela  menyetujui
terhadap syarat yang telah ditentukan tersebut.

d.      Perjanjian Mengenai Kewenangan Publik


Menurut Indroharto,  yang  dimaksud  dengan  perjanjian  mengenai  wewenang  Pemerintahan  adalah  perjanjian
antara  Badan  atau  Pejabat  Tata  Usaha  Negara  dengan  warga  masyarakat  dan  yang  diperjanjikan  adalah  mengenai  cara
Badan atau pejabat Tata Usaha menggunakan wewenang Pemerintahannya.

e.       Perjanjian Mengenai Kebijaksanaan Pemerintahan.


Menurut Liaca Marzuki, perjanjian  kebijaksanaan  adalah  perbuatan  Hukum  yang  menjadikan  kebijaksanaan
publik  sebagai  obyek  perjanjian.  Oleh  karena  kebijaksanaan  yang  diperjanjikan  adalah  kebijaksanaan  Tata  Usaha  Negara,
maka salah satu pihak yang mengadakan perjanjian itu tidak lain dari badan atau pejabat Tata usaha Negara yang secara
Administratiefrechletijk memiliki kewanangan untuk menggunakan kebijaksanaan publik yang diperjanjikan tersebut.

VII. KEPUTUSAN/KETETAPAN TUN (Tata Usaha Negara)

7.1.  Pengertian Ketetapan/ Keputusan


Ketetapan  Tata  usaha  Negara  pertama  kali  diperkenalkan  oleh  seorang  sarjana  Jerman  “Otto  Mayer”  dengan  istilah
“verwaltungsakt”,  istilah  ini  diperkenalkan  di  negeri  Belanda  dengan  nama  “beschikking”  di  Indonesia  istilah  ini  pertama  kali
diperkenalkan oleh W.F. Prins istilah yang menerjemahkan “ketetapan” .
Menurut  para  sarjana  terdapat  beberapa  perbedaan  dalam  mendefinisikan  istilah  ketetapan/  keputusan.  Berikut  definisi
terserbut :

1.   Ketetapan  adalah  pernyataan  kehendak  dari  Organ  Pemerintahan  untuk  melaksanakan  hal  khusus,  ditujukan  untuk
menciptakan hubungan Hukum baru, menghapus serta meniadakan Hukum yang ada.
2.   Ketetapan adalah suatu  pernyataan kehendak yang disebabkan oleh surat permohonan yang diajukan, atau setidak­
tidaknya keinginan atau keperluan yang dinyatakan.
3.   Beschikking adalah keputusan tertulis dari Administrasi Negara yang mempunyai akibat Hukum.
4.   Beschikking adalah perbuatan Hukum publik bersegi satu (yang dilakukan oleh alat Pemerintahan berdasarkan suatu
kekuasaan istimewa).
5.   Beschikking adalah suatu tindakan Hukum yang bersifat sepihak dalam bidang Pemerintahan yang dilakukan oleh
suatu Badan Pemerintah berdasarkan wewenang yang luas biasa.

a.   Definisi Keputusan Tata Usaha Negara berdasarkan Pasal 1 (3) UU No. 5/1986.
Suatu penetapan tertulis yang dikeluarkan oleh Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara yang berisi tindakan
Hukum  yang  berdasarkan  peraturan  Perundang­undangan  yang  berlaku,  yang  bersifat  konkrit,  individual  dan  final,  yang
menimbulkan akibat Hukum bagi seseorang atau Badan Hukum Perdata.

b.   Rumusan Pasal 1 (3) tersebut diatas mengadung elemen utama sebagai berikut :

­     Penetapan tertulis
­     Oleh Badan atau Pejabat TUN
­     Tindakan Hukum Tata Usaha Negara
­     Konkrit, Individual
­     Final
­     Menimbulkan akibat Hukum bagi seseorang atau Badan Hukum Perdata.

Pengertian Penetapan Tertulis  cukup  ada  hitam  di  atas  putih,  karena  menurut  penjelasan  pasal  tersebut
dikatakan : “Form” tidak penting dan bahkan nota atau memo saja sudah memenuhi syarat sebagai penetapan tertulis.
Pengertian Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara dirumuskan  dalam  Pasal  1  angka  2  pada  dasarnya
Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara melakukan urusan Pemerintah. Konkrit dan Individual keputusan Tata Usaha
Negara haruslah tidak bersifat Umum melainkan harus konkrit dan individual. Final artinya keputusan Tata Usaha Negara
tidak bersifat sementara akan tetapi sudah final. Menimbulkan akibat Hukum bagi seorang atau Badan Hukum Perdata
membawa konsekwensi bahwa Penggugat haruslah seseorang atau Badan Hukum Perdata (Pasal 53 angka 1 UU No.
9/2004)

c.   Pengecualian dari Pengertian KTUN adalah : ketentuan Pasal 2 UU No. 5/1986 yaitu :

­     KTUN yang merupakan perbuatan Hukum Perdata
­     KTUN yang merupakan pengaturan yang bersifat umum
­     KTUN yang masih memerlukan persetujuan
­     KTUN yang dikeluarkan berdasarkan ketentuan KUH Pidana atau KUHAP dan Peraturan Perundang­undangan lain
yang bersifat Pidana.
­     KTUN yang dikeluarkan atas dasar hasil pemeriksaan Badan Peradilan berdasarkan ketentuan Undang­undang yang
berlaku.
­     KTUN Mengenai Tata Usaha ABRI
­     Keputusan Panitia Pemilihan Umum, baik di pusat maupun daerah mengenai hasil pemilu.

d.   Setelah lolos dari rumus


 Diatas masih menghadang Pasal 49 UU No. 5/1986 yang menyatakan : Pengadilan tak berwenang memeriksa,
memutuskan, menyelesaikan sengketa TUN tentunya dalam hal keputusan yang disengketakan itu dikeluarkan :
­           Dalam  waktu  perang,  keadaan  bahaya,  keadaan  bencana  alam,  atau  keadaan  luar  biasa  yang  membahayakan,
berdasarkan peraturan Perundang­undangan yang berlaku.
­          Dalam keadaan mendesak untuk kepentingan umum berdasarkan peraturan yang berlaku.

7.2. Macam­macam KTUN

a. E. Utrecht Membedakan Ketetapan atas :


1.   Ketetapan positif dn ketetapan negative
2.   Ketetapan deklalatur dan konstitutif (menciptakan keadaan Hukum)
3.   Ketetapan kilat dan tetap
4.   Dispensasi, izin (vurgunning) lisensi (sifatnya mencari keuntungan) dan konsesi.

b. P. De Haan, Cs membagi ketetapan atas :


1.   Ketetapan perseorangan dan ketetapan kebendaan (keputusan diberikan atas dasar kualitas)
2.   Ketetapan Deklaratif dan ketetapan konsumtif
3.   Ketetapan terikat dan ketetapan bebas.
4.   Ketetapan menguntungkan dan memberi beban.

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 12/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
5.   ketetapan kilat dan ketetapan langeng
6.   Ketetapan Lisan

7.3. Macam­macam KTUN


Agar suatu  keputusan dinyatakan sebagai keputusan yang syah harus memenuhi syarat tententu antara lain :

a. keputusan harus dibuat oleh Organ atau badan atau pejabat yang berwenang membuatnya.
b.   harus diberi bentuk sesuai dengan peraturan yang menjadi dasarnya dan harus menurut prosedur pembuatnya.
c.      Suatu  putusan  harus  memenuhi  syarat  formal,  contoh  :  prosedur  cata  pembuatannya,  bentuk  keputusan,  pemberitahuan
kepada yang bersangkutan. ( Pasal 53 UU No. 5/1986)
d.   Keputusan tidak boleh memuat kekuranga­kekurangan yuridis
e.   Isi dan tujuannya harus sesuai dengan isi dan tujuan peraturan dasarnya.

Syarat­syarat Materiil terdiri dari :

1.   Organ Pemerintah yang membuat ketetapan harus berwenang
2.   Karena ketetapan suatu pernyataan kehendak, maka ketetapan tidak boleh mengandung kekurangan yuridis seperti penipuan,
paksaan atau suap dan kesesatan.
3.   Ketetapan harus berdasarkan suatu keadaan (situasi) tertentu.
4.      Ketetapan  harus  dapat  dilaksanakan  dan  tanpa  melanggar  peraturan  lain  serta  isi  dan  tujuan  ketetapan  itu  harus  sesuai
dengan isi dan tujuan peraturan dasarnya.

Syarat­syarat Formil terdiri dari :


1.      Syarat  yang  ditentukan  berhubungan  dengan  persiapan  dibuatnya  ketetapan  dan  berhubung  dengan  cara  dibuatnya  tetapi
harus dipenuhi;
2.      Ketetapan  harus  diberi  bentuk  yang  telah  ditentukan  dalam  peraturan  Undang­undang  yang  menjadi  dasar  dikeluarkannya
ketetapan itu.
3.   Syarat­syarat berhubung dengan pelaksanaan ketetapan itu harus dipenuhi.
4.      Jangka  waktu  harus  ditentukan  antara  timbulnya  hal­hal  yang  menyebabkan    dibuatnya  dan  di  umumkannya  ketetapan  itu
harus diperhatikan.

VIII. PENEGAKAN HAN


8.1.  Pengertian Penegakan HAN
Penegakan Hukum adalah usaha untuk mewujudkan ide­ide tersebut menjadi kenyataan (Soetjipto Rahardjo). Dalam arti
lain  penegakan  Hukum  kegiatan  menyerasikan  hubungan  nilai­nilai  yang  terjabar  dalam  kaidah­kaidah/  pandangan­pandangan  nilai
yang mantap dan mengejawantah dan sikap tidak sebagai rangkaian penjabaran nilai tahab akhir untuk menciptakan. Memelihara dan
mempertahankan perdamaian hidup, secara konkrit adalah berlakunya Hukum positif dalam praktek sebagaimana seharusnya patut
ditaati (Soerdjono Soekanto)

8.2. Faktor Yang Mempengaruhi Penegakan Hukum


Menurut Soerdjono Soekanto ada lima factor yang mempengaruhi penegakan Hukum, sebagai berikut :

1.   Faktor Hukumnya sendiri
2.   Faktor penegak Hukum
3.   Faktor sarana/ fasilitas yang mendukung penegakan Hukum
4.   Faktor masyarakat
5.   Faktor kebudayaan.

8.3. Sarana/ Instrumen Penegakan HAN


Menurut    P. Nicolai, dkk.   Pengawasan  bahwa  Organ  Pemerintahan  dapat  melaksanakan  ketaatan  pada  atau
berdasarkan Undang­undang yang ditetapkan secara tertulis dan pengawasan terhadap keputusan yang meletakan kewajiban kepada
individu. Kata lain Penerapan kewenangan sanksi Pemerintahan.

Menurut Ten Berge Instrumen penegakan HAN meliputi : Pengawasan dan penegakan sanksi, pengawasan merupakan


langkah  preventif  untuk  melaksanakan  kepatuhan,  sedangkan  penerapan  sanksi  merupakan  langkah  represif  untuk  memaksakan
kepatuhan.

8.4. Saksi Dalam HAN


Sanksi dalam HAN adalah alat kekuasaan yang bersifat Hukum publik yang dapat digunakan oleh Pemerintah segingga
reaksi atas ketidak patuhan terhadap kewajiban yang terdapat dalam norma Hukum Administrasi Negara

Macam­macam Sanksi dalam HAN :

1)       Paksaan Pemerintah
2)       Penarikan kembali keputusan yang menguntungkan(izin, subsidi, pembayaran dll)
3)       Pengenaan uang paksa oleh Pemerintah
4)       Pengenaan denda Administratif

IX. PERLINDUNGAN HUKUM BAGI RAKYAT

9.1  Pengertian Perlindungan Hukum Bagi Rakyat :

a.      Perlindungan  Hukum  bagi  rakyat  merupakan  konsep  universal,  dalam  arti  dianut  dan  diterapkan  oleh  setiap  Negara  yang
mengedepankan diri sebagai Negara Hukum.
b.   Hukum diciptakan sebagai sarana pengatur dan sarana perlindungan bagi subyek Hukum
c.   Perlindungan Hukum akibat perbuatan Pemerintah dalam bidang Perdata maupun bidang publik

9.2. Macam­macam Perlindungan Hukum


a. Perlindungan Hukum dalam Bidang Perdata
Negara  sebagai  suatu  institusi  memiliki  dua  kedudukan  Hukum,  yaitu  sebagai  Badan  Hukum  Publik  dan  sebagai
kumpulan  jabatan  atau  lingkungan  pekerjaan  tetap,  baik  sebagai  Badan  Hukum  maupun  sebagai  kumpulan  Jabatan  ,  pembuatan
Hukum Negara atau jabatan dilakukan melalui wakilnya yaitu Pemerintah.

Berkenaan  dengan  kedudukan  Pemerintah  sebagai  wakil  dari  badan  Hukum  publik  yang  dapat  melakukan  tindakan
Hukum dalam bidang kePerdataan seperti jual beli, sewa menyewa, membuat perjanjian dans ebagainya, maka dimungkinkan muncul
tindakan bertentangan dengan Hukum. Berkenaan dengan perbuatan  Pemerintah  yang  bertentangan  dengan  Hukum  ini  disebutkan
bahwa  Hakim  Perdata  berkenaan  dengan  perbuatan  melawan  Hukum  oleh  Pemerintah  berwenang,  mengHukum  Pemerintah  untuk
membayar  ganti  kerugian,  didamping  itu  Hakim  Perdata  dalam  berbagai  hal  dapat  mengeluarkan  larangan  atau  perintah  terhadap
Pemerintah untuk melakukan tindakan tertentu.

Perlindungan  Hukum  bagi  rakyat  terhadap  tindakan  Hukum  Pemerintah  dalam  kepastiannya  sebagai  wakil  dari  badan
Hukum publik dilakukan melalui Peradilan Umum. Kedudukan Pemerintah dalam hal ini tidak berbeda dengan seseorang atau badan

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 13/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
Hukum  Perdata  yang  sejajar,  sehingga  Pemerintah  dapat  menjadi  Tergugat  maupun  Pengugat,  dengan  kata  lain  Hukum  Perdata
memberikan perlindungan yang sama baik kepada Pemerintah maupun seseorang atau badan Hukum Perdata.

b. Perlindungan Hukum dalam Bidang Publik


Secara umum ada tiga macam perbuatan Pemerintah yaitu :

1.       Perbuatan Pemerintah dalam bidang pembuatan peraturan Perundang­undangan (regeling)
2.       Perbuatan Pemerintah dalam bidang penerbitan Ketetapan (beshikking)
3.       Perbuatan Pemerintah dalam bidang kePerdataan.

Bidang  pertama  terjadi  dalam  bidang  publik  oleh  karena  itu  tunduk  dan  di  atur  berdasarkan  Hukum  publik.
Sedangkan yang terakhir shusus dalam bidang Perdata dan karenanya tunduk dan diatur berdasarkan Hukum Perdata.

Perlindungan  Hukum  melalui  Mahkamah  Agung  dengan  cara  hak  uji  materiil  sesuai  Pasal 5 (2) Tap MPR No.
III/MPR/2000 tentang sumber Hukum dan Tata Urutan Peraturan Perundang­undangan yang menegaskan bahwa : Mahkamah
Agung berwenang menguji peraturan Perundang­undangan di bawah Undang­undang, hal yang sama juga diatur dalam Pasal 31
(1) UU No.14/1985.

Perlindungan  Hukum  akibat  dikeluarkannya  ketetapan  ditempuh  melalui  dua  kemungkinan  yaitu  Peradilan
Administrasi dan Bidang Administrasi.
Pasal 53 (1) dan Pasal 48 UU No.5/1986
Perlindungan Hukum melalui Mahkamah Konstitusi dengan cara hak uji UU terhadap UUD.

X. PERADILAN ADMINISTRASI NEGARA

10.1. Karakteristik dan Asas­asas/ Prinsip Peradilan TUN


Karakteristik PTUN tercermin dalam asas­asas Hukum acara PTUN yaitu :
a.  Asas Praduga (Pasal 67 UU No.5/1986)
b.   Asas pembuktian bebas (Pasal 107 UU No. 5/1986)
c.   Asas keaktifan Hakim (Pasal 58, 63, (1,2), 80, 85 UU No. 5/1986)
d.   Asas Putusan pengadilan mempunyai kekuatan meningkat (Pasal 83 UU No. 5/1986)

10.2. Organisasi Peradilan TUN

  

10.3. Kompetensi Kepegawaian  PP. No. 30/1980

                        Gol. IVb Ke Atas
                                                                        Gol. IVa Ke bawah        

                                                                                                  

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 14/15
5/1/2015 HUKUM ADMINISTRASI NEGARA ­ KUMPULAN MATERI MATA KULIAH HUKUM
10.4. Kompetensi Absolut PTUN
  

Alasan Menggugat
­          Alasan Menggugat
      Pasal 53 angka 2 a.b UU No. 9 tahun 2004
­          Apa yang di gugat
KTUN Pasal 1.3.­ (Pasal 2 + Pasal 3)
­          Siapa yang digugat
Badan TUN/ Pejabat TUN = Pasal 1.2
­          Apa yang di tuntut
­          Batalkan KTUNm dapat disertai
­          Ganti rugi
­          Regabilitasi
­          Bagaimana menggugat/ berbicara
Pasal 53­132 UU No. 5/1986

Diposkan oleh andru joe di 09:44 

3 komentar:

Post a Comment

Newer Post Home Older Post

Copyright © 2013 RASIQZONETWORK About ­ Contact ­ Privacy Policy ­ Disclaimer
Proudly Powered by BLOGGER

http://andruhk.blogspot.com/2012/07/hukum­administrasi­negara.html 15/15

Anda mungkin juga menyukai