Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang


Anak jalanan adalah anak yang sebagian besar menghabiskan sebagian besar
waktunya untuk melakukan kegiatan hidup sehari-hari di jalanan, mencari nafkah
atau berkeliaran dijalan-jalan atau tempat umum lainnya (Sudarsono, 2009).
Pengertian anak jalanan menurut dinas sosial propinsi DIY tahun 2010 adalah
anak yang melewatkan atau memanfaatkan waktunya dijalanan sampai dengan
umur 18 tahun. Anak jalanan adalah anak yang penampilannya kebanyakan
kusam dan pakaian tidak terurus, mobilitasnya tinggi Departemen Sosial RI,
2005.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008 menyebutkan
terdapat 154.861 jiwa anak jalanan, pada tahun 2009 terdapat 230.000 anak
jalanan, pada tahun 2010 jumlah anak jalanan di Indonesia diperkirakan mencapai
200.000 anak jalanan dan Menurut Menteri Sosial Salim Segaf Al-Jufri
menyatakan bahwa pada tahun 2014 jumlah anak jalanan secara nasional 230.000.
Anak-anak jalanan sering melakukan tingkah laku yang meresahkan
masyarakat, salah satu tingkah lakunya yaitu tingkah laku agresi. Perilaku agresi
yang muncul ini disebabkan karena adanya tekanan-tekanan dari lingkungan dan
ketidak berdayaan serta ketidakmampuan anak untuk menangani permasalahan-
permasalahannya yang menimbulkan perasaan frustrasi di dalam diri anak, pada
anak yang memiliki tipe kepribadian tertentu yang tidak tahan terhadap perubahan
berpotensi dengan perilaku ngelem Moci (2013).
Faktor pencetus kekambuhan yang utama adalah rendahnya komitmen untuk
pulih yang tergantung pada kondisi psikologis dan kepribadian tertentu (BNN,
2009). seseorang yang telah berhenti menggunakan narkoba diharapkan memiliki
kondisi psikologis yang baik, diantaranya ditandai dengan psychological well-
being yang baik. maka tidak akan mudah untuk terjerumus menggunakan narkoba
kembali atau mengalami kekambuhan. Penelitian Marina, dkk (2000) menyatakan
bahwa disamping faktor teman sebaya, faktor lain yang turut berperan dalam
mekanisme penyalahgunaan NAPZA adalah faktor dari dalam diri yaitu
kepribadian. Kepribadian merupakan salah satu faktor etiologik dan konsisten,
kepribadian merupakan faktor predisposisi pada terjadinya penggunaan
NAPZA.Kepribadian turut menentukan terjadinya penyalahgunaan obat, sebagai
contoh, kepribadian dapat menentukan apakah seseorang bergabung dengan
kelompok penyalahgunaan obat, apakah ikut mencoba obat tersebut dan apakah
seseorang menggunakan obat tersebut lebih lanjut Eysenck, 1997(dalam Prawira,
2012).
1.2 Tujuan umum
1. Tujuan Umum:
Untuk memenuhi tugas salah satu mata kuliah Keperawatan Jiwa serta
mengetahui bagaimana bentuk keperawatan kesehatan jiwa di masyarakat.
2. Tujuan Khusus:
Untuk mengetahui Asuhan Keperawatan jiwa di masyarakat khususnya pada
anak jalanan

1.3 Manfaat
Manfaat yang diharapkan oleh penulis adalah sebagai berikut :
1. Untuk masyarakat Sebagai bahan informasi untuk menambah pengetahuan
kesehatan
2. Untuk Mahasiswa Sebagai bahan pembanding tugas serupa
3. Untuk tenaga kesehatan Makalah ini bisa di jadikan bahan acuan untuk
melakukan tindakan asuhan keperawatan pada kasus keperawatan kesehatan
jiwa masyarakat.
BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. keperawatan kesehatan jiwa
Jiwa adalah unsur manusia yang bersifat nonmateri, tetapi fungsi dan
manifestasinya sangat terkait pada materi, jiwa bersifat abstrak dan tidak
berwujud benda. Hal ini karena jiwa memang bukan berupa benda, melainkan
sebuah sistem perilaku, hasil olah pemikiran, perasaan, persepsi, dan berbagai
pengaruh lingkungan sosial. Semua ini merupakan manifestasi sebuah kejiwaan
seseorang. Oleh karena itu, untuk mempelajari ilmu jiwa dan keperawatannya,
pelajarilah dari manifestasi jiwa terkait pada materi yang dapat diamati berupa
perilaku manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sehat adalah dalam keadaan
bugar dan nyaman seluruh tubuh dan bagian-bagiannya. Bugar dan nyaman
adalah relatif, karena bersifat subjektif sesuai orang yang mendefinisikan dan
merasakan.
1. Menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan
itu buruk.
2. Merasa bebas secara relatif dari ketegangan dan kecemasan.
3. Memperoleh kepuasan dari usahanya atau perjuangan hidupnya.
4. Merasa lebih puas untuk memberi dari pada menerima.
5. Berhubungan dengan orang lain secara tolong-menolong dan saling
memuaskan.
6. Mempunyai daya kasih sayang yang besar.
7. Menerima kekecewaan untuk digunakan sebagai pelajaran di kemudian
hari.
8. Mengarahkan rasa permusuhan pada penyelesaian yang kreatif dan
konstruktif.
Menurut WHO, kesehatan jiwa adalah berbagai karakteristik positif yang
menggambarkan keselarasan dan keseimbangan kejiwaan yang menceerminkan
kedewasaan kepribadiannya. UU Kesehatan Jiwa No. 3 Tahun 1966 tentang
Upaya Kesehatan Jiwa, memberikan batasan bahwa upaya kesehatan jiwa
adalah suatu kondisi dapat menciptakan keadaan yang memungkinkan atau
mengizinkan perkembangan fisik, intelektual, dan emosional yang optimal pada
seseorang, serta perkembangan ini selaras dengan orang lain. Menurut UU
Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, pada Bab IX tentang kesehatan jiwa
menyebutkan Pasal 144 ayat 1 “Upaya kesehatan jiwa ditujukan untuk
menjamin setiap orang dapat menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas
dari ketakutan, tekanan, dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan
jiwa”. Ayat 2, “Upaya kesehatan jiwa sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
terdiri atas preventif, promotif, kuratif, rehabilitatif pasien gangguan jiwa, dan
masalah psikososial”

2.1. Definisi
Menurut Departemen Sosial RI (2005: 5), Anak jalanan adalah anak yang
menghabiskan sebagian besar waktunya untuk melakukan kegiatan hidup
sehari-hari di jalanan, baik untuk mencari nafkah atau berkeliaran di jalan dan
tempat-tempat umum lainnya. Anak jalanan mempunyai ciri-ciri, berusia antara
5 sampai dengan 18 tahun, melakukan kegiatan atau berkeliaran di jalanan,
penampilannya kebanyakan kusam dan pakaian tidak terurus, mobilitasnya
tinggi. Selain itu, Direktorat Kesejahteran Anak, Keluarga dan Lanjut Usia,
Departemen Sosial (2001: 30) memaparkan bahwa anak jalanan adalah anak
yang sebagian besar waktunya dihabiskan untuk mencari nafkah atau
berkeliaran di jalanan atau tempat-tempat umum lainnya, usia mereka berkisar
dari 6 tahun sampain 18 tahun. Adapun waktu yang dihabiskan di jalan lebih
dari 4 jam dalam satu hari. Pada dasarnya anak jalanan menghabiskan waktunya
di jalan demi mencari nafkah, baik dengan kerelaan hati maupun dengan
paksaan orang tuanya.
2.3. Penyebab
Departemen Sosial (2001: 25-26) menyebutkan bahwa penyebab
keberadaan anak jalanan ada 3 macam, yakni faktor pada tingkat
mikro(immediate causes), faktor pada tingkat messo (underlying causes),
danfaktor pada tingkat makro (basic causes).
a. Tingkat Mikro (Immediate Causes)
Faktor pada tingkat mikro ini yaitu faktor yang berhubungan dengan anak
dan keluarganya. Departemen Sosial (2001: 25-26) menjelaskan pula bahwa
pada tingkat mikro sebab yang bisa diidentifikasi dari anak dan keluarga
yang berkaitan tetapi juga berdiri sendiri, yakni:
1) Lari dari keluarga, disuruh bekerja baik karena masih sekolah atau sudah
putus, berpetualangan, bermain-main atau diajak teman.
2) Sebab dari keluarga adalah terlantar, ketidakmampuan orang tua
menyediakan kebutuhan dasar, ditolak orang tua, salah perawatan atau
kekerasan di rumah, kesulitan berhubungan dengan keluarga atau
tetangga, terpisah dengan orang tua, sikap-sikap yang salah terhadap
anak, keterbatasan merawat anak yang mengakibatkan anak menghadapi
masalah fisik, psikologis dan sosial. Hal ini dipengaruhi pula oleh
meningkatnya masalah keluarga yang disebabkan oleh kemiskinan
pengangguran, perceraian, kawin muda, maupun kekerasan dalam
keluarga.
3) Melemahnya keluarga besar, dimana keluarga besar tidak mampu lagi
membantu terhadap keluarga-keluarga inti, hal ini diakibatkan oleh
pergeseran nilai, kondisi ekonomi, dan kebijakan pembangunan
pemerintah.
4) Kesenjangan komunikasi antara orang tua dan anak, dimana orang tua
sudah tidak mampu lagi memahami kondisi serta harapan anak-anak,
telah menyebabkan anak-anak mencari kebebasan.
Selain itu, Odi Shalahudin (2004:71) menyebutkan pulafaktor-faktor
yang disebabkan oleh keluarga yakni sebagai berikut:
1) Keluarga miskin
Kemiskinan merupakan faktor dominan yang medoronganak-anak
menjadi anak jalanan. Anak dari keluarga miskin,karena kondisi
kemiskinan kerap kali kurang terlindungi sehinggamenghadapi risiko
yang lebih besar untuk menjad anak jalanan.
2) Perceraian dan kehilangan orang tua
Perceraian dan kehilangan orang tua menjadi salah satufaktor risiko
yang mendorong anak-anak pergi ke jalanan.Perceraian atau perpisahan
orang tua yang kemudian menikah lagiatau memiliki teman hidup baru
tanpa ikatan pernikahan seringkali membuat anak menjadi frustasi. Rasa
frustasi ini akan semakin bertambah ketika anak dititipkan ke salah satu
anggotakeluarga orang tua mereka atau tatkala anak yang biasanya
lebihmemilih tinggal bersama ibunya merasa tidak
mendapatkanperhatian, justru menghadapi perlakuan buruk ayah tiri atau
pacaribunya.
3) Kekerasan keluarga
Kekerasan keluarga merupakan faktor risiko yang palingbanyak
dihadapi oleh anak-anak sehingga mereka memutuskanuntuk keluar dari
rumah dan hidup di jalanan. Berbagai faktorrisiko lainnya yang
berkaitan dengan hubungan antara anakdengan keluarga, tidak lepas dari
persoalan kekerasan.
4) Keterbatasan ruang dalam rumah
Keterbatasan ruang dalam rumah bisa menimbulkan risikoanak-anak
turun ke jalan. Biasanya ini dialami oleh anak-anakyang berada di
beberapa perkampungan urban yang mendudukilahan milik negara.
Banyak dijumpai adanya rumah-rumah petakyang didirikan secara tidak
permanen dan sering kalimenggunakan barang-barang bekas seadanya
dengan ruang yangsangat sempit, kadang hanya berukuran 3 X 4 meter
saja.
5) Eksploitasi ekonomi
Eksploitasi ekonomi oleh orang tua mulaimarak terjadi ketika pada masa
krisis, dimana anak-anak yangmasih aktif bersekolah didorong oleh
orang tuanya mencari uangdan ditargetkan memberikan sejumlah uang
yang ditentukan olehorang tua mereka.
6) Keluarga homeless
Seorang anak menjadi anak jalanan bisa pula disebabkankarena
terlahirkan dari sebuah keluarga yang hidup di jalanantanpa memiliki
tempat tinggal tetap.
Dijelaskan pula mengenai faktor-faktor yang menyebabkankeluarga
dan anaknya terpisah (BKSN, 2000: 111), yaitu:
1) Faktor pendorong
a) Keadaan ekonomi keluarga yang semakin dipersulit olehbesarnya
kebutuhan yang ditanggung kepala keluarga.
b) Ketidakserasian dalam keluarga, sehingga anak tidak betahtinggal
di rumah atau anak lari dari keluarga.
c) Adanya kekerasan atau perlakuan salah dari orang tuaterhadap
anaknya sehingga anak lari dari rumah.
d) Kesulitan hidup di kampung, anak melakukan urbanisasiuntuk
mencari pekerjaan mengikuti orang dewasa.
2) Faktor penarik:
a) Kehidupan jalanan uang menjanjikan, dimana anak
mudahmendapatkan uang, anak bisa bermain dan bergaul
denganbebas.
b) Diajak oleh teman.
c) Adanya peluang di sektor informal yang tidak terlalumembutuhkan
modal dan keahlian.
a. Tingkat Messo (Underlying Causes)
Faktor-faktor penyebab munculnya anak jalanan pada tingkat messo ini
yaitu faktor yang ada di masyarakat. Menurut DepartemenSosial RI
(2001: 25-26), pada tingkat messo (masyarakat), sebab yang dapat
diidentifikasi meliputi:
1) Pada masyarakat miskin, anak-anak adalah aset untuk membantu
peningkatan pendapatan keluarga, anak-anak diajarkan bekerjayang
menyebabkan drop out dari sekolah.
2) Pada masyarakat lain, urbanisasi menjadi menjadi kebiasaan
dananak-anak mengikuti kebiasaan itu.
3) Penolakan masyarakat dan anggapan anak jalanan sebagai calon
kriminal
4) Ikut-ikutan teman
5) Bermasalah dengan tetangga atau komunitas
6) Ketidakpedulian komunitas di sekitar tempat tinggal anak
atauadanya toleransi dari mereka terhadap keberadaan anak-anak
dijalanan menjadi situasi yang sangat mendukung bertambahnya
anak-anak untuk turut ke jalan.
b. Tingkat Makro (Basic Causes)
Faktor-faktor penyebab munculnya anak jalanan pada tingkat makro
yaitu faktor yang berhubungan dengan struktur makro.Departemen
Sosial RI (2001: 25-26)
1) Ekonomi, adalah adanya peluang pekerjaan sektor informal
yangtidak terlalu membutuhkan modal keahlian, mereka harus lama
dijalanan dan meninggalkan bangku sekolah, ketimpangan desa
dankota yang mendorong urbanisasi. Migrasi dari desa ke kota
mencari kerja, yang diakibatkan kesenjangan pembangunan desakota,
kemudahan transportasi dan ajakan kerabat, membuat banyak
keluarga dari desa pindah ke kota dan sebagian dari mereka terlantar,
hal ini mengakibatkan anak-anak merekaterlempar ke jalanan.
2) Penggusuran dan pengusiran keluarga miskin dari tanah/rumah
mereka dengan alasan “demi pembangunan”, mereka semakin tidak
berdaya dengan kebijakan ekonomi makro pemerintah yang lebih
memguntungkan segelintir orang.
3) Pendidikan, adalah biaya sekolah yang tinggi, perilaku guru
yangdiskriminatif, dan ketentuan-ketentuan teknis dan birokratis
yang mengalahkan kesempatan belajar. Meningkatnya angka
anakputus sekolah karena alasan ekonomi, telah mendorong sebagian
anak untuk menjadi pencari kerja dan jalanan mereka jadikan salah
satu tempat untuk mendapatkan uang.
4) Belum beragamnya unsur-unsur pemerintah memandang anak
jalanan antara sebagai kelompok yang memerlukan perawatan
(pendekatan kesejahteraan) dam pendekatan yang menganggap anak
jalanan sebagai trouble maker atau pembuat masalah(security
approach / pendekatan keamanan).
5) Adanya kesenjangan sistem jaring pengamanan sosial sehingga jaring
pengamanan sosial tidak ada ketika keluarga dan anak menghadapi
kesulitan.
6) Pembangunan telah mengorbankan ruang bermain bagi anak
(lapangan, taman, dan lahan-lahan kosong). Dampaknya sangat terasa
pada daerah-daerah kumuh perkotaan, dimana anak-anak menjadikan
jalanan sebagai ajang bermain dan bekerja.
7) Korban penculikan merupakan salah satu faktor yangmenyebabkan
anak-anak berada di jalanan. Kasus penculikan yang
8) menimpa anak-anak untuk dijadikan sebagai anak jalanan
hampirterjadi setiap tahun. Tampaknya kasus ini luput dari perhatian
mengingat jumlah kasusnya memang tidak besar.
Dari banyak uraian yang berasal dari berbagai sumber di atas
dapatdiketahui bahwa terdapat banyak faktor yang menyebabkan
anak-anakpada akhirnya bisa turun ke jalan dan menjadikan jalanan
sebagai pusataktivitas mereka baik faktor pada tingkat mikro, messo,
maupun makro.Permasalahan yang mereka hadapi begitu kompleks,
baik dari segikeluarga, lingkungan sekitar, masyarakat, hingga
kebijakan-kebijakanmakro.

2.4. Tanda dan gejala


1. Orang dengan tubuh yang kotor sekali,
2. Rambutnya seperti sapu ijuk
3. Pakaiannya compang-camping dengan membawa bungkusan besar yang
berisi macam-macam barang
4. Bertingkah laku aneh seperti tertawa sendiri
5. Sukar diajak berkomunikasi
6. Pribadi tidak stabil
7. Tidak memiliki kelompok
2.5. Rentang Respon

Respon adaptif Respon maladaptif


- Berfikir logis - Pemikiran - Gangguan pemikiran
- Persepsi akurat sesekali - Waham/halusinasi
- Emosi konsisten - Terdistrosi - Kesulitan
dengan - Ilusi pengolahan
pengalaman - Reaksi emosi - Emosi
- Perilaku sesuai berlebih dan - Perilaku kacau dan
- Berhubungan tidak bereaksi isolasi sosial
sosial - Perilaku aneh
- Penarikan tidak
bisa
berhubungan
sosial
2.6. Pohon masalah

Effect Gangguan Pemeliharaan


Kesehatan (BAB/BAK,
Mandi, Makan, Minum)

Core problem Defisit Perawatan Diri

Causa Menurunnya motivasi dalam

Perwatanan diri

Isolasi sosial: menarik diri


2.7. Diagnosa, kriteria hasil, intervensi dan rasional

Rencana keperawatan defisit perawatan diri

tgl No. Diagnosa perencanaan Intervensi Rasional


dx keperawatan tujuan Kriteria evaluasi
1 2 3 4 5 6 7
Deficit  Klien dapat 1. Klien dapat 1. Diskusikan bersama klien 1. Agar pasien mengetahui
perawatan mengenal menyebutkan pentingnya kebersihan diri dengan bahwa kebersihan itu
diri: mandi, tentang pentingnya kebersihan cara menjelaskan pengertian sangatlah penting
berpakaian, pentingnya diri dalam waktu 2 kali tentang artibersih dan tanda-tanda sehingga dia mau
makan, kebersihan pertemuan bersih. melakukan perawatan
evaluasi. diri - Tanda-tanda bersih 2. Dorong klien untuk menyebutkan 3 diri.
- Badan tidak bau dari 5 tanda kebersihan diri 2. agar pasien dapat
- Rambut rapi, merawat diri dengan
bersih dan tidak benar sesuai urutan, dan
bau tidak ada yang
- Gigi bersih, dan terlewatkan
tidak bau
- Baju rapi, dan
tidak bau
2. Klien mampu 1. Diskusikan fungsi kebersihan diri 1. supaya klien tau
menyebutkan kembali untuk kesehatan dengan menggali betapa pentingnya
kebersihan untuk pengetahuan klien terhadap hal perawatan diri.
kesehtan. yang berhubungan dengan 2. Agar pasien dapat
kebersihan diri. lebih cepat
2. Bantu klien mengungkapkan arti memahami seperti
kebersihan diri dan tujuan apa kebersihan diri
memelihara kebersihan diri. itu.
3. Beri reinforcement positif setelah 3. Agar pasien
klien mampu mengungkapkan arti percaya bahwa apa
kebersihan diri. yang perawat
katakana itu betul
dan dia mau
segera
mmelakukan hal
tersebut.
3. Klien dapat 1. ingatkan klien untuk memelihara 1. mendorong pasien
menjelaskan cara kebppersihan diri seperti: untuk melakukan
merawat diri, antara - mandi 2 kali, pagi dan sore perawatan diri secara
lain: - Menggosok gigi minimal 2 kali rutin.
- Mandi 2 kali sehari setelah makan dan akan
sehari dengan tidur
sabun - keramas dan menyisir rambut
- Menggosok gigi - gunting kuku bila panjang
minimal 2 kali
sehari setelah
makan dan akan
tidur
- Mencuci rambut 2
sampai 3 kali
seminggu dan
memotong kuku
bila panjang.
- Mencuci tangan
sebelum dan
sesudah makan
 Klien dapat 1. Klien berusaha untuk 1. Motivasi klien untuk mandi: 1. agar klien lebih
mengidenti memelihara - ingatkan caranya, evaluasi semangat
fikasi kebersihan diri, yaitu: hasilnya dan beri umpan balik melakukan
penyebab  mandi pakai sabun - bimbing klien untuk mandi perawatan diri
deficit dan disiramdengan - jika hasilnya kurang, kaji
perawatan air sampai bersih hambatan yang ada 2. agar klien lebih
diri  mengganti pakaian 2. bimbing klien untuk mandi mudah melakukan
bersih sehari sekali - ingatkan dan anjurkan untuk perawatan diri
dan merapikan mandi 2 kali sehari dengan
penampilan menggunakan sabun. 3. agar klien
- Anjurkan klien untuk menegtahui bahwa
meningkatkan cara mandi yang penampilan diri
benar. dan kebersihan itu
3. Anjurkan klien untuk mengganti sangat penting
baju setiap hari:
- anjurkan klien untuk 4. agar perawat
mempertahankan dan menegtahui sudah
meningkatkan penampilan diri sampai dimana
setiap hari tingkat
- dorong klien untuk mencuci pengetahuan klien
pakaiannya sendiri tentamg kebersihan
- demonstrasikan cara mencuci dirinya.
pakaian yang benar dengan 5. Agar hubungan
sabun bilas. antara sesame
4. kaji keinginan klien untuk perawat terjalin
memotong kuku dan merapikan dengan baik
rambut. sehinga proses
- beri kesempatan pada klien perawatan pada
untuk melakukan sendiri pasien juga terarah
- ingatkan potong kuku dan dengan benar.
keramas 6. Karena hubungan
5. kolaborasi dengan perawat ruangan antar keluarga juga
untuk pengelolaan fasilitas sangat berpengaruh
perawatan kebersihan diri, seperti pada proses
mandi, dan kebersihan kamar mandi. penyembuhan
6. bekerja sama dengan keluarga untuk pasien.
mengadakan fasilitas kebersihan diri
seperti odol, sikat gigi, shampoo,
pakaian ganti, handuk dan sandal
 Klien dapat 1. setelah 1 minggu klien 1. monitor klien dalam 1. Agar perawat
melakukan dapat melakukan melakuksanakan kebersihan diri mengetahui sudah
kebersihan perawatan kebersihan secara teratur. Ingatkan untuk pada tingkat apa
perawatan diri secara rutin dan mencuci rambut, menyisir, gosok pengetahuan klien
diri secara teratur tanpa anjuran gigi, ganti baju dan pakai sandal tentang kebersihan
mandiri - mandi pagi dan sore diri.
- ganti baju setiap
hari
- Penampilan bersih
dan rapi
 Klien dapat 1. klien selalu tampak 1. beri reinforcement jika klien 1. Agar klien dapat
mempertah bersih dan rapi berhasil melakukan kebersihan diri percayasehingga
ankan dia mau
kebersihan menerapkannya.
diri secara
mandiri

 Klien dapat 1. keluarga selalu 1. jelaskan pada keluarga tentang 1. Agar keluaarga
dukungan mengingat ha l-hal penyebab kurang minatnya klien dapat mendorong
keluarga yang berhubungan menjaga kebersihan diri sehingga klien mau
dalam dengankebersihan diri 2. diskusikan bersama keluarga tentg melakukannya.
meningkatk tindakan yang telah dilakukan 2. Agar keluarga
an klien selama di RS dalam menjaga mengetahui apa
kebersihan kebersihan dan kemajuan yang saja yang telah dan
diri telah dialami di RS sudah bisa
3. anjurkan keluarga untuk dilakukan oleh
memutuskan member stimulasi klien selama di
terhadap kemajuan yang telah rumah sakit.
dialami di RS. 3. Agar keluarga
lebih mendorong
klien sehingga apa
yang telah di capai
dapat meningkat.

2. keluarga menyiapkan 1. jelaskan pada keluarga tentang 1. Agar keluarga


sarana untuk manfaat sarana yang lengkap mengetahui bahwa
membantu klien dalam dalam menjaga kebersihan diri sarana yg lengkap
menjaga kebersihan klien. sangat penting
diri 2. anjurkan keluarga untuk untuk menjaga
mrnyiapkan sarana dalam menjaga kebersihan diri
kebersihan diri. 2. Agar kesehatan
3. diskusikan bersama keluarga cara klien tetap terjaga
membantu klien menjaga
kebersihan diri.
 Keluarga membantu 1. diskusikan dengan kekuarga 1. Agar keluarga
dan membimbing mengenai hal-hal yang dilakukan klien bisa
klien dalam menjaga misalnya: mendorong klien
kebersihan diri - mengingatkan klien pada waktu sehingga
mandi kebersihan diri
- sikat gigi, keramas, ganti baju, klien bisa rearah.
dan lain-lain
- membantu klien apabila
mengalami hambatan, member
pujian atas keberhasilan klien.
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Jurnal Internasional


Mental health problems of street children in residential care in Zambia:
Special
focus on prediction of psychiatric conditions in street children
group of children has multiple mental health problems/disorders (co-
morbidity) and exhibit high levels of mental health needs and poorer
functioning (McCann et al., 1996; Clark et al., 2005).
In Zambia, however, research in the field of child mental health is limited.
The few studies that have been conducted focus on mental illness or psychosis
(Mayeya et al., 2004).
These studies reveal that the most common disorders are conduct (behavioral
problems) and emotional problems. Further, the reviewed literature indicate
that there is a relationship between multiple mental health problems (co-
morbidity) and levels of mental health needs, that is, levels of stress and
impact of mental ealth problems on children and young people in the care
system. The current study was conducted to explore the mental health
problems amongst street children in residential care and to examine the
relationship between multiple mental health problems (co-morbidity) and
levels of stress which is an indicator of mental health need. Hypotesis The
foregoing analysis of previous research studies led to the formation of the
hypothesis that children and young people with mental health problems are
more vulnerable to predictability of psychiatric conditions.
3.2. Jurnal Internasioanl
THE PRACTICE OF CHILD MENTAL
HEALTH NURSES
Child mental health nurses are vital to improving access to mental health
services and the well-being of children and their families. In most countries
there are too few mental health nurses to serve the needs of the citizenry
(WHO, 2015). Nurses report practicing in contexts of signifcant unrest, often
in an atmosphere of stigma, with a substantial lack of resources, and in the
absence of an organized system to support mental health (Marie, Hannigan, &
Jones, 2017). As the roles of child mental health nurses and community
workers expand so must the documentation of their efforts: whom they see,
what needs they address, and with what outcomes. With increasing ownership
of their practice, nurses’ efforts and innovations can be disseminated and
scaled up to provide services to a greater number of individuals and improve
the mental health of children.
3.3. Jurnal nasional
UPAYA PENINGKATAN MUTU PERILAKU KESEHATAN
REPRODUKSI ANAK JALANAN PEREMPUAN DI KOTA
MALANG MELALUI PENDEKATAN TEORI KEPERAWATAN
JOHNSON BEHAVIOR SISTEM MODEL
(Efforts to Improve the Quality of Reproductive Health Behavior of
Female Street Children with the Theoretical Approach Johnson
Behavior Model Systems in Malang)
Dari hasil penelitian yang di lakukan peneliti di dapatkan data bahwa mutu
perilaku kesehatan reproduksi anak jalana perempuan sebelum diberikan
perlakuan tergolong baik. Hal ini terbukti bahwa sebagian besar (80%)
memiliki perilaku yang baik, sisanya (20%) termasuk kurang baik dengan
nilai rata-rata 17,76 . Sedangkan mutu perilaku kesehatan reproduksi anak
jalanan perempuan setelah diberikan perlakuan menjadi lebih baik dengan
peningkatan nilai rata-rata menjadi 20,68. Dengan rincian sebanyak 19 orang
(76%) dalam kategori baik dan 6 orang (24%) kategori sangat baik. Dari total
responden (25 orang), terdapat 17 responden mengalami perubahan hasil
antara pre-test dan post-test dengan kenaikan nilai (skor) bervariasi.
Sedangkan sisanya (8 responden) tidak mengalami perubahan nilai (skor)
meskipun kategori perilaku mereka tergolong baik.
3.4. Jurnal Nasional
PENGALAMAN PERUBAHAN KONSEP DIRI PADA ANAK
JALANAN DI PANTI SOSIAL REHABILITASI GELANDANGAN,
PENGEMIS, DAN TERLANTAR
DI SUMATERA SELATAN TAHUN 2016
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa konsep diri pada anak
jalanan bersifat positif. Hal tersebut didapatkan pada gambaran diri pada anak
jalanan didapatkan tema penerimaan diri yang positif. Artinya meskipun anak
jalanan banyak menghabiskan waktu dijalanan namun anak jalanan masih
menyukai bagian-bagian tubuh dan penampilannya serta mensyukuri atas apa
yang menjadi kekurangan ataupun kelebihan didalam dirinya. Sedangkan pada
identitas diri pada anak jalanan didapatkan adanya penyebab terjadinya anak
jalanan yaitu adanya ajakan dari teman sebaya dan faktor yang dari keluarga.
Selain itu walaupun anak jalanan bekerja sebagai pengamen namun anak
jalanan masih merasa senang ketika menjadi pengamen, meskipun pekerjaan
tersebut merupakan pekerjaan yang terpaksa yang harus dilakukan oleh anak
jalanan untuk mencari uang. Sedangkan peran diri pada anak jalanan
merupakan peran yang harus anak jalanan terima, seperti menjadi pengamen
jalanan harus anak jalanan terima, karena selain mendapatkan uang untuk
bertahan hidup ternyata anak jalanan juga bisa untuk menghibur orang lain.
Pada ideal diri pada anak jalanan sama halnya dengan anak pada umumnya,
meskipun anak jalanan tidak bersekolah lagi dan banyak menghabiskan waktu
dijalan, namun anak jalanan juga masih mempunyai harapan dan cita-cita
yang ingin anak jalanan capai. Seperti hasil penelitian ternyata anak jalanan
berharap suatu saat nanti anak jalanan bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih
baik lagi dan berharap bisa melanjutkan pendidikan. Sedangkan harga diri
pada anak jalanan mereka harus percaya diri ketika tampil atau bekerja
sebagai pengamen dijalanan meskipun anak jalanan mendapatkan
pandagan negatif dari orang lain namun anak jalanan menganggap bahwa
pandangan
negatif tersebut memberikan kekuatan pada anak jalanan untuk tetap bisa
bertahan hidup dengan kondisi yang dialaminya sekarang.
3.5. Jurnal Nasional
PENINGKATAN HYGIENE PERSONAL PADA ANAK JALANAN
DENGAN MEDIA KOMIK DI UPTD KAMPUNG ANAK NEGERI
LIPONSOS KECAMATAN MEDOAN AYU
RUNGKUT SURABAYA
Hygiene Personal pada Anak jalanan di UPTD Kampoeng Anak Negeri
Liponsos Kota Surabaya sebelum diberikan edukasi dengan media komik
separo lebih dalam kategori cukup. Hygiene Personal pada Anak jalanan di
UPTD Kampoeng Anak Negeri Liponsos Kota Surabaya sesudah diberikan
edukasi dengan media komik hampir seluruhnya dalam kategori baik. Ada
Pengaruh edukasi dengan media komik terhadap peningkatan Hygiene
Personal pada Anak jalanan di UPTD Kampoeng Anak Negeri Liponsos Kota
Surabaya.
BAB IV

PENUTUP

4.1. SIMPULAN
Berdasarkan laporan di atas, anak jalanan adalah anak yang berusia5 – 18
tahun yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari nafkahdan
atau berkeliaran di jalanan maupun ditempat – tempat umum. Munculnya
anak jalanan disebabkan adanya beberapa faktor di antaranya kesulitan
ekonomi,ketidakharmonisan keluarga, suasana lingkungan yang kurang
mendukung, danrayuan kenikmatan kebebasan mengatur hidup sendiri.
Permasalahan anak jalananini dapat ditanggulangi dengan 3 jenis model
yaitu family base, institutional base dan multi-system base. Tindakan
penanganan permasalahan anak jalanan ini dapatdilakukan melaui kerjasama
antara pihak pemerintah dan masyarakat.

4.2. SARAN
Berbagai pihak perlu melaksanakan program integratif yang diarahkan
tidak saja bagi anak jalanan, tetapi juga keluarga dan lingkungan di mana
mereka tinggal.Bagi anak jalanan, mereka perlu dilibatkan dalam program
pendidikan khusus yangdapat membuka wawasan mereka mengenai masa
depan. Bagi keluarga, terutama orang tua, perlu diberikan penyuluhan yang
dapat meluruskan persepsi mereka mengenai kedudukan anak di dalam
keluarga, lingkungan dan masyarakat. Disamping itu program pengembangan
sentra ekonomi di daerah asal mereka perlu dikembangkan agar mereka dapat
memenuhi kebutuhan dasarnya dan tidak memposisikan kota sebagai satu-
satunya tempat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi, 2013. Prosedur penelitian suatu pendekatan praktik,
Jakarta : Rineka cipta
Daryo, Agoes, 2011, Psikologi Perkembangan, Bandung: PT Refika Aditama
Riyadi, S. 2009. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: EGC
Simanjuntak, J. 2012 Konseling Gangguan Jiwa dan Okultisme (membedakan
Gangguan Jiwa dan Kerasukan Setan). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 3. Yogyakarta: Kanisius
Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius
Utomo, T. 2010. Mencegah dan Mengatasi krisis Anak Melalui
Perkembangan Sikap Mental Orang Tua. Jakarta : Grasindo
Sugiyono, D. 2010 Metodologi Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta
Sumantri, Sujati, 2012. Psikologi Luar Biasa, Bandung : PT Refika
Sugiyanto, 2009. Analisis Statika Sosial, Malang : Bayumedia Publillsing