Anda di halaman 1dari 15

PRESENTASI KASUS

Katarak Traumatik OS

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian Tugas Program Internsip

Periode Mei 2018-Mei 2019

RSUD Temanggung

Disusun oleh :

dr. Anggara Adri Yudha

Pembimbing :

dr. Retnaning
A. IDENTITAS PASIEN
Nama : Tn. K
Usia : 33 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Gemawang
Tanggal masuk : 6 Agustus 2018 pukul 13.37 WIB

B. ANAMNESIS

Keluhan Utama :
Pandangan kabur
Riwayat Penyakit Sekarang :
Sejak ± 20 hari yang lalu pasien mengeluhkan mata kabur pada mata sebelah
kiri setelah terkena serihan besi di mata kirinya saat bekerja sebagai tukang
las di Jakarta. Sudah berobat di Jakarta namun tidak kunjung sembuh. Mata
kabur dirasakan perlahan lahan dan semakin mengganggu 2 minggu yang
lalu saat pasien mengeluhkan mata kirinya mulai tidak dapat melihat
dengan jelas dan terganggu dalam aktivitasnya sehari-hari. Mata merah (-),
cekot-cekot (-), nerocos (-), nyeri (-), keluar kotoran mata (-), silau (-).
Dikarenakan hal ini mengganggu aktivitas maka pasien datang berobat ke
RSUD Djojonegoro Temanggung.

Riwayat penyakit dahulu :

- Riwayat sakit tekanan darah (-)


- Riwayat minum jamu dan obat-obatan dalam jangka panjang disangkal
- Riwayat trauma pada daerah mata disangkal
- Riwayat penyakit mata lainnya disangkal

Riwayat penyakit keluarga :


Tidak ada anggota keluarga yang sedang sakit seperti ini

Riwayat sosial : tidak ditemukan data

C. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis
1. KU : baik
2. Kesadaran : Composmentis
3. Vital Sign

N : 84 x/menit
RR : 24 x/menit
Suhu : 36.4
BB : 60 Kg
4. Kepala : CA (-/-), SI (-/-)
5. Leher : Simetris, Pembesaran limfonodi (-), Pembesaran tiroid (-)
6. Thorax

I= simetris, jejas (-), retraksi (-), ketertinggalan gerak (-)


P= NT(-), vokal fremitus dengan getaran suara yang sama di
kedua lapang paru
P= sonor
A= SDV (+) normal, ST (-), BJ 1-2 regular

7. Abdomen :
I= datar, distensi (-), jejas (-),
A= BU(-) normal
P= supel, defans muscular (-), NT (-), Nyeri alih (-),
P= timpani

8. Ekstremitas : Edema (-), akral dingin (-/-)

Status Oftalmologi (6 agustus 2018)

Oculus Dexter Oculus Sinister


6/ 6 VISUS 1/ ~
Tidak Dilakukan KOREKSI Tidak dilakukan
Tidak dilakukan SENSUS COLORIS Tidak dilakukan
Gerak bola ke segala arah baik PARASE/PARALYSE Gerak bola ke segala arah baik
Tidak ada kelainan SUPERCILIA Tidak ada kelainan
Edema (-), spasme (-) PALPEBRA SUPERIOR Edema (-), spasme (-)
Edema (-), spasme (-) PALPEBRA INFERIOR Edema (-), spasme (-)
Hiperemis (-), sekret (-), edema CONJUNGTIVA Hiperemis (-), sekret (-), edema
(-) PALPEBRALIS (-)
Hiperemis (-), sekret (-), edema CONJUNGTIVA FORNICES Hiperemis (-), sekret (-),
(-) edema(-)
Injeksi (-), sekret (-) CONJUNGTIVA BULBI Injeksi (-), sekret (-), jaringan
fibrovaskuler (+)
Tidak ada kelainan SCLERA Tidak ada kelainan
Jernih CORNEA Jernih, jaringan fibrovaskuler
(+)
Kedalaman cukup, CAMERA OCULI Kedalaman cukup,
Tindal Efek (-) ANTERIOR Tindal Efek (-)
Kripte (-), sinekia (-) IRIS Kripte (+), sinekia (-)
Bulat, central, regular, PUPIL Bulat, central, regular,
d : 8mm, RP (-) (post d : 8mm, RP (-) (post
midriatikum) midriatikum )
Dbn LENSA Keruh merata, pterygium (+)

(-) negative FUNDUS REFLEKS (-) negative


T(digital) normal TENSIO OCULI T(digital) normal

PEMERIKSAAN LABORATORIUM

Jenis Nilai Normal

Hemoglobin 16,9 13.2 - 17.3 g/dL


Hematokrit 47 35 - 45 g/dL
AL 6,7 5.0 – 13.0
AE 5,66 4.00 – 5.30
AT 287 150 – 440
Netrofil 50,3 32.0 – 52.0
Limfosit 35,4 30.0 – 60.0
Monosit 7,8 2.0 – 8.0
Eosinofil 4,6 (H) 2-4
Basofil 1,9(H) 0-1
CT 6’00’’ 5-6
BT 1’30” 1-3
Gds

ASSESMENT

Katarak Traumatik OS

PLANNING
•Repair Kornea OD
•Aspirasi dan Irigasi Katarak OD
•Ceftriaxone 2 x 1 gram iv
•Levofloxacine eye drop 5 x gtt OD
•Tramadol 3 x 1 amp iv

B. PEMBAHASAN

KATARAK
Katarak traumatik merupakan katarak yang muncul sebagai akibat cedera pada
mata yang dapat merupakan trauma perforasi ataupun tumpul pada bola mata yang
terlihat sesudah beberapa hari ataupun beberapa tahun. Katarak traumatik ini dapat
muncul akut, subakut, atau pun gejala sisa dari trauma mata. Katarak dapat terjadi
sebagai akibat trauma tumpul berat.

a. Patogenesis
Luka memar/tumpul

Jika terjadi trauma akibat benda keras yang cukup kuat mengenai mata dapat
menyebabkan lensa menjadi opak. Trauma yang disebabkan oleh benturan dengan
bola keras adalah salah satu contohnya. Kadang munculnya katarak dapat tertunda
sampai kurun waktu beberapa tahun. Bila ditemukan katarak unilateral, maka harus
dicurigai kemungkinan adanya riwayat trauma sebelumnya, namun hubungan sebab
dan akibat tersebut kadang cukup sulit untuk dibuktikan dikarenakan tidak adanya
tanda-tanda lain yang dapat ditemukan mengenai adanya trauma sebelumnya
tersebut.
Pada trauma tumpul akan terlihat katarak subkapsular anterior ataupun posterior.
Kontusio lensa menimbulkan katarak seperti bintang, dan dapat pula dalam bentuk
katarak tercetak (imprinting) yang disebut cincin Vossius.
Gambar Cincin Vossius

2. Luka perforasi
Luka perforasi pada mata mempunyai tendensi yang cukup tinggi
untuk terbentuknya katarak. Jika objek yang dapat menyebabkan perforasi
(contoh : gelas yang pecah) tembus melalui kornea tanpa mengenai lensa biasanya
tidak memberikan dampak pada lensa, dan bila trauma tidak menimbulkan suatu
luka memar yang signifikan maka katarak tidak akan terbentuk. Hal ini tentunya
juga bergantung kepada penatalaksanaan luka kornea yang hati-hati dan
pencegahan terhadap infeksi, akan tetapi trauma-trauma seperti di atas dapat juga
melibatkan kapsul lensa, yang mengakibatkan keluarnya lensa mata ke bilik
anterior.
Urutan dari dampak setelah trauma juga bergantung pada usia pasien. Saat kapsul
lensa pada anak ruptur, maka akan diikuti oleh reaksi inflamasi di bilik anterior dan
masa lensa biasanya secara berangsur-angsur akan diserap, jika tidak ditangani
dalam waktu kurang lebih 1 bulan. Namun demikian, pasien tidak dapat melihat
dengan jelas karena sebagian besar dari kemampuan refraktif mata tersebut hilang.
Keadaan ini merupakan konsekuensi yang serius dan kadang membutuhkan
penggunaan lensa buatan intraokular. Bila ruptur lensa terjadi pada dewasa, juga
diikuti dengan reksi inflamasi seperti halnya pada anak namun tendensi untuk
fibrosis jauh lebih tinggi, dan jaringan fribrosis opak yang terbentuk tersebut dapat
bertahan dan menghalangi pupil.
Trauma tembus akan menimbulkan katarak yang lebih cepat, perforasi kecil akan
menutup dengan cepat akibat proliferasi epitel sehingga bentuk kekeruhan terbatas
kecil. Trauma tembus besar pada lensa akan mengakibatkan terbentuknya katarak
dengan cepat disertai dengan terdapatnya masa lensa di dalam bilik mata. Pada
keadaan ini akan terlihat secara histopatologik masa lensa yang akan difagosit
makrofag dengan cepatnya, yang dapat memberikan bentuk endoftalmitis
fakoanalitik. Lensa dengan kapsul anterior saja yang pecah akan menjerat korteks
lensa sehingga akan mengakibatkan terbentuknya cincin Soemering atau bila epitel
lensa berproliferasi aktif akan terlihat mutiara Elschnig.10

Gambar Cincin Soemring


Gambar Mutiara Elschnig

3. Radiasi sinar
Sinar yang terlihat cenderung tidak menyebabkan timbulnya katarak. Ultraviolet
juga mungkin tidak menyebabkan katarak karena sinar dengan gelombang pendek
tidak dapat melewati atmosfir. Sinar gelombang pendek (tidak terlihat) ini dapat
menyebabkan luka bakar kornea superfisial yang dramatis, yang biasanya sembuh
dalam 48 jam. Cedera ini ditandai dengan “snow blindness” dan “welder’ flash”
Sinar infra merah yang berkepanjagan (prolong), juga dapat menjadi penyebab
katarak, ini dapat ditemui pada pekerja bahan-bahan kaca dan pekerja baja. Namun
penggunaan kacamata pelindung dapat setidaknya mengeliminasi sinar X ini dan
sinar gamma yang juga dapat mengakibatkan katarak.
Katarak traumatik disebabkan oleh radiasi ini dapat ditemukan pada pasien-pasien
yang mendapat radioterapi (seluruh tubuh) leukemia, namun resiko terjadinya
hanya apabila terapi menggunakan sinar X.Seringnya, manifestasi awal dari katarak
traumatik ini adalah kekeruhan berbentuk roset (rosette cataract), biasanya pada
daerah aksial yang melibatkan kapsul posterior lensa. Pada beberapa kasus, trauma
tumpul dapat berakibat dislokasi dan pembentukan katarak pada lensa. Katarak
traumatik ringan dapat membaik dengan sendirinya (namun jarang ditemukan).
4. Kimia
Trauma basa pada permukaan mata sering menyebabkan katarak, selain
menyebabkan kerusakan kornea, konjungtiva, dan iris. Komponen basa yang
masuk mengenai mata menyebabkan peningkatan pH cairan akuos dan menurunkan
kadar glukosa dan askorbat. Hal ini dapat terjadi secara akut ataupun perlahan-lahan.
Trauma kimia dapat juga disebabkan oleh zat asam, namun karena trauma asam
sukar masuk ke bagian dalam mata dibandingkan basa maka jarang menyebabkan
katarak.10

b. Gejala dan Tanda


- Riwayat Trauma - Hiperemis Konjungtiva
- Visus menurun - perdarahan intra subretina
- Mata berair - Laserasi kornea
- Nyeri - khemosis
- Silau
- BMD Dangkal
- Pupil irreguler
- Hifema
- prolaps iris
- Hiperemis konjungtiva
- Lensa opak

c. Diagnosis Katarak Traumatik


Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik pasien. Pada
anamnesis diperoleh sebagai berikut:

1. Riwayat dan mekanisme trauma, apakah tajam atau tumpul

2. Riwayat keadaan mata sebelumnya, apakah ada riwayat operasi, glakoma,


, retinal detachment, penyakit mata karena gangguan metabolik.

3. Riwayat penyakit lain, seperti diabetes, sickle cell, sindroma marfan,


homosistinuria, defisiensi sulfat oksidase.
4. Keluhan mengenai penglihatan, seperti penurunan visus, pandangan ganda
pada satu mata atau kedua mata, dan nyeri pada mata.

pada pemeriksaan fisik dapat diperoleh sebagai berikut:

1. Visus, lapangan pandang, dan pupil

2. Kerusakan ekstraokular - fraktur tulang orbita, gangguan saraf traumatik.

3. Tekanan intraokular - glaukoma sekunder, perdarahan retrobulbar.

4. Bilik anterior - hifema, iritis, iridodonesis, robekan sudut.

5. Lensa - subluksasi, dislokasi, integritas kapsular (anterior dan posterior),


katarak (luas dan tipe).

6. Vitreus - ada atau tidaknya perdarahan dan perlepasan vitreus


posterior.

7. Fundus - Retinal detachment, ruptur khoroid, perdarahan pre intra dan sub
retina, kondisi saraf optik.

Pemeriksaan penunjang yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

1. B-scan - jika pole posterior tidak dapat terlihat.

2. A-scan - sebelum ekstraksi katarak


3. CT scan orbita - adanya fraktur, benda asing, atau kelainan lain.

d. Komplikasi
1. Dislokasi lensa dan subluksasi sering ditemukan bersamaan dengan katarak
traumatik.
2. Komplikasi lain yang dapat berhubungan, seperti phakolitik, phakomorpik,
blok pupil, glaukoma sudut tertutup, uveitis, retinal detachment, ruptur koroid,
hipema, perdarahan retrobulbar, neurophati optik traumatik.

e. Diagnosis banding
•Katarak Senilis
Peningkatan usia (>50 th); penurunan penglihatan gradual; penebalan lensa
progresif.
•Katarak Komplikata
Peny mata lain; peny sistemik endokrin; keracunan obat.
Mulai di daerah korteks ke sentral atau dr subkapsul ke korteks
•Penurunan penglihatan secara mendadak
Iskemia; Aterosklerotik; PJK; PVD
•Dislokasi Lensa
Jk riw trauma (-) peny sistemik herediter, kel okuli
•Laserasi Korneosklera
Hanya laserasi/ disertai prolaps iris atau vitreous/ hilangnya jar kornea & sklera.
Berhub dg riw operasi (keratomi/ transplantasi kornea)

f. Penatalaksanaan
Penatalaksanaan katarak traumatik tergantung kepada saat terjadinya. Bila terjadi
pada anak sebaiknya dipertimbangkan akan kemungkinan terjadinya ambliopia.
Untuk mencegah ambliopia pada anak dapat dipasang lensa intra okular primer atau
sekunder. Apabila tidak terdapat penyulit maka dapat ditunggu sampai mata
menjadi tenang. Bila terjadi penyulit seperti glaukoma, uveitis, dan lain sebagainya
maka segera dilakukan ekstraksi lensa. Penyulit uvetis dan glaukoma sering
dijumpai pada orang usia tua. Pada beberapa pasien dapat terbentuk
cincin Soemmering pada pupil sehingga dapat mengurangi tajam penglihatan.
Keadaan ini dapat disertai perdarahan, ablasi retina, uveitis, atau salah letak
lensa.Harus diberikan antibiotik sistemik dan topikal serta kortikosteroid topikal
dalam beberapa hari untuk memperkecil kemungkinan infeksi dan uveitis. Atropin
sulfat 1%, 1 tetes 3 kali sehari, dianjurkan untuk menjaga pupil tetap berdilatasi dan
untuk mencegah pembentukan sinekia posterior.
Katarak dapat dikeluarkan pada saat pengeluaran benda asing atau setelah
peradangan mereda. Apabila terjadi glaukoma selama periode menuggu, bedah
katarak jangan ditunda walaupun masih terdapat peradangan. Untuk mengeluarkan
katarak traumatik, biasanya digunakan teknik-teknik yang sama dengan yang
digunakan untuk mengeluarkan katarak kongenital, terutama pada pasien berusia
kurang dari 30 tahun.
Merencanakan pendekatan pembedahan sepenuhnya penting pada kasus-kasus
katarak traumatik. Integritas kapsular preoperatif dan stabilitas zonular harus
diketahui/ diprediksi. Pada kasus dislokasi posterior tanpa glaukoma, inflamasi,
atau hambatan visual, pembedahan mungkin tidak diperlukan. Indikasi untuk
penatalaksanaan pembedahan pada kasus-kasus katarak traumatik adalah sebagai
berikut:

1. Penurunan visus yang berat (unacceptable)

2. Hambatan penglihatan karena proses patologis pada bagian posterior.

3. Inflamasi yang diinduksi lensa atau terjadinya glaukoma.

4. Ruptur kapsul dengan edema lensa.

5. Keadaan patologis okular lain yang disebabkan trauma dan


membutuhkan tindakan bedah.

Fakoemulsifikasi standar dapat dilakukan bila kapsul lensa intak dan dukungan
zonular yang cukup. Ekstraksi katarak intrakapsular diperlukan pada kasus-kasus
dislokasi anterior atau instabilitas zonular yang ekstrim. Dislokasi anterior lense ke
bilik anterior merupakan keadaan emergensi yang harus segera dilakukan tindakan
(removal), karena dapat mengakibatkan terjadinya pupillary block glaucoma.
Lesentomi dan vitrektomi pars plana dapat menjadi pilihan terbaik pada kasus-kasus
ruptur kapsul posterior, dislokasi posterior, atau instabilitas zonular yang ekstrim.10

g. Prognosis
Prognosis pasien ini untuk kehidupan (quo ad vitam) adalah baik (ad bonam)
karena tidak ada komplikasi serta keadaan pasien membaik. Prognosis untuk
kesembuhan (quo ad sanam) adalah baik (ad bonam) yang nampak dari keadaan
umum dan tanda vital. Prognosis membaiknya faal tubuh (quo ad fungsionum)
adalah baik (ad bonam) karena tidak ada ancaman adanya sekuele ataupun
kecatatan tubuh.
h. Pencegahan
Menggunakan APD saat melakukan pekerjaan
DAFTAR PUSTAKA

1. Ilyas S. Katarak. Jakarta: Balai penerbit FK UI, 1997


2. Vaughan DG, Taylor A, Paul R. Oftalmologi umum edisi 14. Jakarta :
Widya
Medika,2000
3. Ilyas S. Trauma mata. Dalam : Ilmu Penyakit Mata. Jakarta: Balai
penerbit FK UI,1998
4. Cahyani E, Suhardjo, Ghozi M, Gunawan W. Kadar asam urat serum pada
penderita katarak. Cermin Dunia Kedokteran 2001; 132: 32-6
5. www.wartamedika.com
6. PERDAMI, Panduan Menejemen Klinis PERDAMI, Jakarta : PP
PERDAMI, 2006.
7. Rumah Sakit Mata ‘Bersayap’ Hinggap di Indonesia. Faculty of Medicine
Airlangga
University [serial online] 2010. Avalaible from:
www.fk.unair.ac.id/news/focus/rumah-
sakit-mata-bersayap-hinggap-di-indonesia
8. Bobrow JC, Mark HB, David B et al. Section 11: Lens and Cataract.
Singapore :
American Academy of Ophthalmology,2008.