Anda di halaman 1dari 27

BAHAN AJAR

KELOLA USAHA KELOMPOK TANI HUTAN


Diklat
Pendampingan KTH Angkatan II

Oleh:
TIM WIDYAISWARA

BALAI DIKLAT LHK MAKASSAR


PEBRUARI 2018

0
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pengelolaan hutan yang lestari disertai dengan peningkatan fungsi-
fungsinya dapat terwujud, apabila dalam pelaksanaannya didukung partisipasi
aktif seluruh masyarakat dan instansi terkait lainnya. Partisipasi aktif masyarakat,
dapat terealisasi apabila mereka mengetahui dan sadar, serta peduli terhadap
ekstensi kawasan hutan bagi dirinya, keluarganya, masyarakatnya, bagi bangsa
dan bagi negaranya. Untuk mencapai kondisi tersebut, diperlukan kegiatan
pendampingan dalam pengelolaan usaha yang dijalankan oleh masyarakat yang
tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH). Pendampingan diarahkan untuk
meningkatkan kapasitas dan kemandirian petani dalam pengelolaan sumber daya
hutan agar lestari secara berkelanjutan dan memberikan manfaat bagi
peningkatan kesejahteraan petani.
Kelompok Tani Hutan (KTH) adalah kumpulan petani atau perorangan
warga negara Indonesia beserta keluarganya yang mengelola usaha di bidang
kehutanan di dalam dan diluar kawasan hutan yang meliputi usaha hasil hutan
kayu, hasil hutan bukan kayu dan jasa lingkungan, baik di hulu maupun di hilir.
Tujuan pendampingan KTH adalah untuk meningkatkan kapasitas kelompok tani
hutan dalam mengelola kelembagaan, kawasan dan usaha, dengan tujuan untuk
mewujudkan kelompok tani hutan yang produktif, mandiri, sejahtera dan
berkelanjutan.
Kelompok Tani Hutan (KTH) dituntut menjadi motor utama dalam
memfasilitasi kaum tani dalam mengelola usaha taninya. Pendampingan
Kelompok Tani Hutan (KTH) diarahkan pada penerapan system agribisnis,
peningkatan peranan, dan peran serta petani beserta anggota masyarakat
pedesaan lainnya, dengan menumbuh kembangkan kerja sama antar petani dan
pihak lainnya yang terkait untuk mengembangkan usaha tani. Pendampingan
kelompok tani diharapkan dapat membantu menggali potensi, memecahkan
masalah usaha tani anggotanya secara lebih efektif, dan memudahkan dalam
mengakses informasi, pasar, teknologi, permodalan dan sumber daya lainnya.
Kelompok Tani Hutan (KTH) harus dibina dan diberdayakan sehingga menjadi

1
kelompok yang solid yang memiliki kemampuan dalam mengakses fasilitas
pembangunan kehutanan.

B. Deskripsi Singkat
Ruang lingkup pembahasan mata diklat ini meliputi jenis-jenis komoditi yang
sesuai dengan kondisi dan status lahan, penentuan teknis budidaya komoditi bagi
KTH, pengolahan hasil dan pemasaran komoditi, analisa usaha tani, dan teknik
networking/jejaring kerja.

C. Hasil Belajar
Setelah mengikuti pembelajaran mata diklat ini peserta diklat mampu
menjelaskan kelola usaha dalam kegiatan pendampingan Kelompok Tani Hutan
(KTH).
D. Indikator Keberhasilan
Setelah mengikuti pembelajaran mata diklat ini perserta dapat menjelaskan :
1. Penentuan jenis-jenis komoditi yang sesuai dengan kondisi dan status lahan.
2. Penentuan teknis budidaya komoditi bagi KTH.
3. Pengolahan hasil dan pemasaran komoditi
4. Menentukan analisa usaha tani hutan
5. Teknik networking/jejaring kerja

II. PENENTUAN JENIS KOMODITI

A. Pemilihan Jenis Pohon


Strategi pemilihan jenis tanaman untuk kegiatan pembangunan kehutanan
harus memperhatikan faktor ekologi, sosial budaya dan ekonomi jenis-jenis
andalan setempat. Dari sisi faktor ekologi yaitu sesuai dengan daeah yang
bersangkutan (jenis lokal) dan faktor ekonomi harus mempertimbangkan nilai jual
yang tinggi dan dari aspek sosial dapat diterima masyarakat sebagai jenis yang
dikembangkan.

2
Dalam semua kegiatan penanaman, pemilihan jenis tanaman merupakan
hal yang sangat penting. Keberhasilan penanaman baik dari aspek ekologi, sosial
dan ekonomi, sangat ditentukan oleh pemilihan jenis yang tepat.
Pemilihan jenis dilakukan setelah lokasi penanaman ditentukan dan
diketahui kondisi tempat tumbuhnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam pemilihan jenis adalah tujuan penanaman, kesesuaian lahan dan model
penanaman yang dilakukan.
Petani menanam pohon karena dua alasan, yaitu untuk produksi dan
pelayanan (servis). Untuk produksi artinya untuk bahan bangunan, kayu bakar,
obat-obatan dll. Sedangkan yang bersifat pelayanan adalah untuk pengendalian
erosi, meningkatkan kesuburan, memperbaiki struktur tanah, konservasi
biodiversitas dan tentu saja untuk penyimpanan karbon dan mengurangi efek
rumah kaca. Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pemilihan jenis untuk
ditanam:
1. Tujuan penanaman
2. Kesesuaian lahan
3. Model penanaman
Pertama, terkait dengan tujuan penanaman. Jenis yang dikembangkan
sebaiknya disesuaikan dengan tujuan kegiatan yang dilaksanakan. Untuk kegiatan
hutan rakyat, misalnya. Aspek ekonomi dan sosial masyarakat juga harus
dipertimbangkan. Oleh karenanya, jenis pohon serbaguna (multi purpose tree
species//MPTS) khususnya yang dapat dimanfaatkan buahnya, juga sangat
direkomendasikan. Dengan demikian, keberlanjutan fungsi hidroorologi lahan
dapat dipertahankan dengan tetap dan bahkan dapat meningkatkan keberlanjutan
fungsi ekonomi dan sosial masyarakat yang tinggal disekitarnya.
Selain itu, jenis tanaman untuk hutan rakyat sebaiknya tidak hanya berupa
pohon, perlu ditambah dengan tumbuhan bawah dan tanaman sela. Tanaman ini
mempunyai peran cukup besar untuk mengurangi erosi karena mampu
mengurangi disperse air hujan, mengurangi kecepatan aliran permukaan dan
memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah.
Kedua terkait dengan kesesuaian lahan, setiap jenis memiliki persyaratan
tempat tumbuh tersendiri untuk dapat hidup dan berkembang optimal.

3
Pengetahuan mengenai kondisi tempat tumbuh dan persyaratan tumbuh jenis
yang akan ditanam sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan Jenis-
jenis yang akan dikembangkan sebaiknya merupakan jenis lokal karena secara
ekologis telah sesuai dengan kondisi daerah.
Ketiga terkait dengan model penanaman pohon biasanya dikombinasikan
dengan jenis tanaman lain yang menguntungkan secara ekologi dan juga
ekonomi. Dalam hal ini, pemilihan jenis harus mempertimbangkan hubungan
antar jenis yang akan ditanam. Hubungan saling menguntungkan (mutualisme)
adalah yang dipilih, karena akan menghasilkan kombinasi tanaman terbaik untuk
memberikan hasil yang terbaik pula.
Keputusan memilih jenis pohon untuk dikembangkan dalam
pembangunan hutan tanaman tergantung pada tiga pertanyaan dasar
sebagai berikut (Evans, 1982 dalam Paembonan, 2012) :
1. Untuk apa pemanfaatan hasil dari hutan tanaman;
2. Jenis apa yang potensial untuk ditanam;
3. Jenis apa yang cocok pada lahan yang tersedia (site matching).
Menurut Simon (1995), dalam memilih jenis untuk hutan rakyat harus
dipenuhi beberapa hal agar jenis yang diusahakan dan dikembangkan
dapat menghasilkan secara optimal, yaitu:
1. Aspek lingkungan, yaitu jenis yang dipilih harus sesuai dengan iklim, jenis
tanah dan kesuburan serta keadaan fisik wilayah;
2. Aspek sosial, yaitu jenis yang dipilih harus jenis yang cepat menghasilkan
setiap saat, dikenal dan disukai masyarakat serta mudah dibudidayakan;
3. Aspek ekonomi, yaitu dapat memberikan penghasilan dan mudah
dipasarkan serta memenuhi standar bahan baku industri;
Jenis-jenis pohon yang sesuai sebagai komponen dalam sistem wanatani
berupa jenis pohon yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan dan memiliki
beragam manfaat atau multipurpose trees and species (MPTS). Pepohonan yang
ditanam dalam sistem wanatani tidak hanya untuk menghasilkan kayu, tetapi juga
buah-buahan dan dedaunan yang dapat digunakan sebagai bahan makanan atau
bahan pakan ternak.

4
Jenis-jenis pohon yang dipilih sebagai komponen dalam sistem wanatani
hendaknya mampu memberikan keuntungan, sebagai berikut (Indriyanto, 2010):
1. Memberikan hasil yang dapat digunakan oleh penduduk setempat
2. Memberikan diversifikasi hasil, misalnya buah, biji, daun dan kayu yang
bermanfaat untuk masyarakat setempat
3. Berpengaruh baik terhadap proses hidro-orologis (pengawetan tanah dan air)
4. Mampu memperbaiki dan meningkatkan produktivitas lahan.
Disadari bahwa dalam memilih jenis pohon HR, petani hanya
mementingkan faktor pasar dan belum memperhatikan pemilihan jenis pohon
yang sesuai dengan kondisi tempat tumbuh. Sehingga produktivitas HR belum
optimal atau sesuai dengan harapan. Selain itu, ketersediaan informasi
kesesuaian jenis pohon dengan kondisi tempat tumbuh masih terbatas dan
kalaupun ada pengoperasianya sangat sulit atau tidak mudah bagi petani. Oleh
karena itu, ketersediaan informasi kesesuaian jenis pohon dengan kondisi tempat
tumbuh sangat dibutuhkan petani.
Pemilihan jenis tanaman dilakukan untuk mendapatkan alternatif komoditas
yang sesuai dikembangkan di suatu wilayah dengan lngkungan tumbuh tertentu.
Inventarisasi dimulai dari jenis- jenis komoditas yang banyak diusahakan oleh
rakyat, kemudian baru melibatkan jenis-jenis komoditas yang belum dikenal.
Kriteria yang digunakan sebagai dasar seleksi tertumpu pada segi
agroteknologinya untuk dikembangkan lebih lanjut serta potensi pasarnya baik
domestik maupun ekspor, nilai tambah ekonomi bagi petani serta dampaknya
terhadap kesempatan kerja dan kelestarian fungsi lingkungan hidup. Dari seleksi
ini akan didapatkan beberapa komoditas terpilih baik berupa tanaman pangan,
perkebunan, hortikultura, maupun tanaman kehutanan.
Penetapan jenis dilakukan berdasarkan kesesuaian tempat tumbuh dan
merupakan jenis yang diminati masyarakat. Jenis apa yang akan ditanam
tergantung di mana dan untuk apa ditanam (Irawan, 2012), antara lain :
1. Penghasil balok, papan (bahan bangunan): mahoni, jati, suren, cempaka,
sengon, dll.
2. Penghasil buah-buahan: manggis, durian, karet, nangka, dll.
3. Penghasil pakan ternak: kaliandra, lamtoro, dll.

5
4. Rehabilitasi lahan kritis: jenis-jenis pionir seperti legume (gamal, lamtoro,
sengon, dll).
5. Rehabilitasi DAS, resapan air, sumber mata air, dll. diprioritaskan jenis-
jenis pohon lokal.

B. Penentuan Teknis Budidaya


1. Agroforestry
Agroforestri sebagai suatu sistem pengelolaan dan pemanfaatan lahan
yang memadukan pohon dengan tanaman lain (pangan, hortikultura, obat, dll)
dan/atau ternak telah menjadi solusi yang mensinergikan kepentingan ekonomi
dan ekologi sehingga memiliki nilai keberlanjutan yang tinggi. Sebagai suatu
sistem yang berkembang dengan berbagai kearifan lokal masyarakat, agroforestri
mampu memberikan kontribusi dengan menciptakan peluang kerja, meningkatkan
taraf hidup masyarakat miskin dan perekonomian serta ketahanan lingkungan.
Berbagai dampak positif ini menjadikan agroforestri sebagai suatu bagian
terpadu dalam sistem pembangunan nasional yang berkelanjutan.
Dalam Bahasa Indonesia, agroforestry dikenal dengan istilah wanatani
atau agroforestri, arti sederhananya adalah menanam pepohonan di lahan
pertanian. Sistem ini telah dipraktekkan oleh petani di berbagai tempat di
Indonesia selama berabad-abad, misalnya sistem ladang berpindah, kebun
campuran di lahan sekitar rumah (pekarangan) dan padang penggembalaan.
Agroforestri dapat dikelompokkan menjadi dua sistem, yaitu sistem agroforestri
sederhana dan sistem agroforestri kompleks.
Sistem agroforestri sederhana adalah menanam pepohonan secara
tumpangsari dengan satu atau beberapa jenis tanaman semusim. Jenis-jenis
pohon yang ditanam bisa bernilai ekonomi tinggi misalnya kelapa, karet, cengkeh
dan jati atau bernilai ekonomi rendah seperti dadap, lamtoro dan kaliandra.
Sedang jenis tanaman semusim misalnya padi, jagung, palawija, sayur-mayur
danrerumputan atau jenis tanaman lain seperti pisang, kopi dan kakao.
Pepohonan bisa ditanam sebagai pagar mengelilingi petak lahan tanaman pangan
atau ditanam berbaris dalam larikan sehingga membentuk lorong/pagar.

6
Sistem agroforestri kompleks, merupakan suatu sistem pertanian menetap
yang berisi banyak jenis tanaman (berbasis pohon) yang ditanam dan dirawat
dengan pola tanam dan ekosistem menyerupai hutan. Di dalam sistem ini
tercakup beraneka jenis komponen seperti pepohonan, perdu, tanaman musiman
dan rerumputan dalam jumlah banyak. Kenampakan fisik dan dinamika di
dalamnya mirip dengan ekosistem hutan alam baik hutan primer maupun hutan
sekunder.
Pengembangan agroforestri, menurut Raintree dalam Widianto (2003)
meliputi tiga aspek, yaitu (a) meningkatkan produktivitas sistem agroforestri, (b)
mengusahakan keberlanjutansistem agroforestri yang sudah ada dan (c)
penyebarluasan sistem agroforestri sebagai alternatif atau pilihan dalam
penggunaan lahan yang memberikan tawaran lebih baik dalam berbagai aspek
(adoptability).

Produktivitas
Produk yang dihasilkan sistem agroforestri dapat dibagi menjadi dua
kelompok, yakni (a) yang langsung menambah penghasilan petani, misalnya
makanan, pakan ternak, bahan bakar, serat, aneka produk industri, dan (b) yang
tidak langsung memberikan jasa lingkungan bagi masyarakat luas, misalnya
konservasi tanah dan air, memelihara kesuburan tanah, pemeliharaan iklim mikro,
pagar hidup, dsb. Peningkatan produktivitas sistem agroforestri diharapkan bisa
berdampak pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dan
masyarakat desa.
Peningkatan produktivitas sistem agroforestri dilakukan dengan menerapkan
perbaikan cara-cara pengelolaan sehingga hasilnya bisa melebihi yang diperoleh
dari praktek sebelumnya, termasuk jasa lingkungan yang dapat dirasakan dalam
jangka panjang. Namun demikian, keuntungan (ekonomi) yang diperoleh dari
peningkatan hasil dalam jangka pendek seringkali menjadi faktor yang
menentukan apakah petani mau menerima dan mengadopsi cara cara
pengelolaan yang baru.
Perbaikan (peningkatan) produktivitas sistem agroforestri dapat dilakukan
melalui peningkatan dan/atau diversifikasi hasil dari komponen yang bermanfaat,

7
dan menurunkan jumlah masukan atau biaya produksi. Contoh upaya penurunan
masukan dan biaya produksi yang dapat diterapkan dalam sistem agroforestri: 1)
penggunaan pupuk nitrogen dapat dikurangi dengan pemberian pupuk hijau dari
tanaman pengikat nitrogen, 2) sistem agroforestri berbasis pohon ternyata
memerlukan jumlah tenaga kerja yang lebih rendah dan tersebar lebih merata
persatuan produk dibandingkan sistem perkebunan monokultur.

Keberlanjutan
Sasaran keberlanjutan sistem agroforestri tidak bisa terlepas dari
pertimbangan produktivitas maupun kemudahan untuk diadopsi dan diterapkan.
Sistem agroforestri yang berorientasi pada konservasi sumber daya alam dan
produktivitas jangka panjang ternyata juga merupakan salah satu daya tarik bagi
petani. Ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan petani pada saat mereka
merencanakan untuk menerapkan upaya konservasi, misalnya kepastian status
lahan, pendapatan dalam jangka pendek, dan sebagainya. Ada pendapat yang
menyarankan agar petani diberi insentif untuk mendorong supaya mereka mau
menerapkannya. Seringkali insentif ini diwujudkan dalam bentuk subsidi bagi
petani (khususnya di negaramaju). Di negara berkembang, insentif tersebut
diberikan dalam bentuk bantuan teknologi seperti teknikteknik konservasi lahan.
Dalam sistem agroforestri terdapat peluang yang cukup besar dan sangat
terbuka untuk melakukan pendekatan yang memadukan sasar an keberlanjutan
untuk jangka panjang dengan keuntungan produktivitas dalam jangka pendek
dan menengah.

Kemudahan untuk diadopsi


Kegagalan penyebarluasan praktek agroforestri di kalangan petani seringkali
disebabkan oleh kesalahan strategi, bukan karena keunggulan komparatif sistem
itu sendiri. Oleh sebab itu alasan bahwa petani sangat konservatif dan ketidak-
berhasilan penyuluh sebenarnya kurang tepat. Sebuah pendekatan yang lebih
konstruktif yang bisa dilakukan adalah dengan memikirkan permasalahan dalam
penyusunan rancangan dan memasukkan pertimbangan kemudahan untuk
diadopsi sedini mungkin (sejak tahap rancangan).

8
Hal ini tidak berarti bahwa kedua alasan di atas tidak benar, melainkan lebih
ditekankan kepada proses penyuluhan dan adopsinya yang sangat kompleks.
Peluang untuk berhasil akan lebih besar apabila proses itu dimulai dengan dasar
teknologi yang dapat diadopsi. Salah satu cara terbaik adalah dengan melibatkan
secara aktif pemakai (user) teknologi tersebut (petani agroforestri) dalam proses
pengembangan teknologi sejak dari tahap penyusunan rancangan, percobaan,
evaluasi dan perbaikan rancangan inovasi teknologi. Perlu dipahami bahwa
agroforestri bukanlah jawaban dari setiap permasalahan penggunaan lahan, tetapi
keberagaman sistem agroforestri merupakan koleksi opsi pemecahan masalah
yang dapat dipilih oleh petani sesuai dengan keinginannya. Apa yang dibutuhkan
adalah cara yang sistematis untuk memadukan (matching) kebutuhan teknologi
agroforestri dengan potensi sistem penggunaan lahan yang ada.
Agroforestry memberikan keuntungan yang menarik terhadap 3 (tiga)
sektor yang berbeda, sektor pertanian, sektor kehutanan dan lingkungan
(Widyati, 2007) :

Bagi sektor Pertanian


a. Menganekaragamkan aktivitas dengan menanam pohon-pohon bernilai
yang diwariskan secara turun temurun, tanpa mengganggu produktivitas
tanaman pertanian yang telah dibudidayakan.
b. Melindungi tanaman pertanian dari angin, paparan cahaya matahari
berlebihan, hujan, membantu pertumbuhan mikroba pembantu
pertumbuhan, tanaman hutan dapat dijadikan sebagai pest breaker bagi
tanaman pertanian.
c. Membantu memulihkan atau memasok unsur hara yang hilang melalui erosi
dengan memasok serasah dan eksudat akar.
d. Pada pola silvopastura, lahan membantu menyediakan pakan ternak,
mencegah terjadinya penggembalaan liar.

Bagi sektor Kehutanan


a. Percepatan pertumbuhan diameter pohon karena jarak tanam yang
lebar. Sehingga dapat mengurangi biaya pemeliharaan.

9
b. Ruang tumbuh yang optimal akan meningkatkan kualitas produksi kayu
(lingkaran tahun melebar, alur kayu menjadi lebih bagus sehingga lebih
menarik untuk bahan mebel), karena pohon tidak terlalu terdesak
berkompetisi dengan tanaman lain dan tidak memerlukan penjarangan.
c. Perawatan yang dilakukan terhadap tanaman pertanian akan berdampak
positif terhadap tanaman kehutanan. Terutama pemupukan dan
perlindungan terhadap kebakaran, hama penyakit dan gulma.
d. Tanaman pertanian pada sistem agroforestry akan meningkatkan
pendapatan petani (tanaman pertanian merupakan komplemen bukan
kompetitor karena kebutuhan nutrisi berada pada zona ke dalaman yang
berbeda).

Bagi Lingkungan
a. Memperbaiki produktivitas sumber daya alam: total kayu yang
didapatkan dan produktivitas tanaman pertanian dari lahan yang diusahakan
dengan pola agroforestry lebih tinggi dibandingkan dengan kalau diusahakan
secara terpisah dengan total luas lahan yang sama. Hal ini karena
adanya efek komplimenter antara tanaman kehutanan dengan tanaman
pertanian pada lahan tersebut. Di samping itu, gulma yang biasanya
muncul pada saat tanaman kehutanan masih muda tergantikan oleh
tanaman pertanian atau pakan, sehingga gulma tidak akan tumbuh.
b. Penerapan sistem agroforestry membantu mengurangi ekspansi
pembukaan lahan untuk budidaya tanaman pangan. Seperti diketahui banyak
masyarakat yang membuka hutan untuk menanam padi huma dengan sistem
ladang berpindah. Penerapan pola agroforestry secara intensif dapat
membantu mengatasi masalah tersebut.
c. Terciptanya lansekap yang bagus antara lahan pertanian dan kehutanan
dalam suatu hamparan yang sama membuat lahan menjadi atraktif
untuk kawasan wisata. Kawasan agroforestry yang ditata semenarik mungkin
memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekowisata, hal ini
dapat mengangkat image petani di mata masyarakat.

10
d. Membantu mengatasi efek gas rumah kaca, komposisi yang sesuai
antara tanaman pertanian dengan tanaman kehutanan dapat secara efektif
sebagai sarana penyerapan karbon (carbon sequestration) karena tanaman
kehutanan akan menyerap karbon, sementara tanaman pertanian akan
memanfaatkan bahan organik yang dipasok oleh tanaman kehutanan
secara cepat.
e. Melindungi tanah dan air terutama pada daerah-daerah yang rawan
(misalnya lahan dengan curah hujan tinggi dan kemiringan curam).
f. Meningkatkan keanekaragaman hayati terutama melalui kemelimpahan di
tepi lansekap (edge effects). Hal ini akan memberikan perbaikan
sinergis melalui pembentukan habitat yang penting. Perlindungan
terpadu oleh tanaman pertanian yang berasosiasi dengan tanaman
kehutanan akan dapat menurunkan populasi serangan hama dan
penyakit tanaman. Hal ini disamping akibat tanaman yang tidak
monokultur juga karena menurunnya kelembaban.

2. Tumpang sari
Tumpangsari merupakan suatu pola pertanaman dengan menanam lebih
dari satu jenis tanaman pada suatu hamparan lahan dalam periode waktu tanam
yang sama. Pada awalnya, tumpang sari merupakan pola tanam yang banyak
digunakan oleh petani-petani yang melakukan usaha tani guna mencukupi
kebutuhan sendiri dan keluarga (subsisten). Resiko kegagalan yang tinggi dalam
usaha pertanian membuat petani menanam lebih dari satu jenis tanaman
sehingga ketika terjadi kegagalan panen satu kamoditas masih dapat memanen
komoditas yang lain. Tumpangsari pada awalnya juga lebih dilakukan untuk tanah
marginal modal petani yang kecil.
Dalam perkembangan yang lebih lanjut, tumpangsari bukan hanya milik
petani subsisten yang hanya melakukan usaha tani pada lahan yang dapat
dikatakan marginal dengan modal yang seadanya. Tumpangsari sudah banyak
diterapkan petani baik semi-komersial maupun komersial dan juga diterpakan
pada lahan-lahan yang subur yang memang optimal untuk pertumbuhan dan

11
perkembangan berbagai macam tanaman. Ini tidak terlepas dari beberapa
kelebihan yang dimiliki oleh pola tanam tumpangsari.

a. Efisien penggunaan ruang dan waktu


Dengan pola tanam ini, akan dihasilkan lebih dari satu jenis panenan
dalam waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan. Lebih dari satu hasil
panen yang dihasilkan dalam satu waktu merupakan alah satu efisiensi
produksi dalam kaitannya dengan waktu. Dalam kaitannya dengan ruang, pada
pola tanam tumpang sari, masih ada space yang kosong pada jarak tanam
tanaman dengan habitus tinggi seperti jagung atau tanaman tahunan yang
lainnya. Ruang kosong itu yang dimanfaatkan untuk pertanaman tanaman yang
lain sehingga penggunaan lahan lebih efisien.
Dalam beberapa penelitian, tumpangsari diketahui mampu
meningkatkan produktivitas lahan. Tumpangsari memang menurunkan hasil
untuk masing-masing komoditas yang ditumpangsarikan karena adanya
pengaruh kompetisi, tetapi, berdasarkan nilai nisbah kesetaraan lahan (NKL),
berkurangnya hasil tiap-tiap komoditas masih berada di dalam kondisi yang
menguntungkan. Berdasarkan fakta tersebut, tumpangsari kemudian disebut
sebagai pola tanam yang intensif.

b. Mencegah dan mengurangi pengangguran musim


Pada beberapa jenis tanaman, tenaga kerja banyak dibutuhkan pada
musim tanam dan musim panen saja. Akibatnya, banyak pengangguran di sela-
sela musim tanam dengan musim panen. Pada tumpangsari, tanaman yang
diusahakan lebih beragam. Perawatan yang dilakukan untuk setiap jenis
tanaman kebanyakan juga tidak dalam waktu yang sama. Dengan demikian,
petani akan selalu memiliki pekerjaan selama siklus hidup tanaman.

c. Pengolaahan tanah menjadi minimal


Pengolahan tanah minimal lebih terlihat pada pola tanam tumpang gilir.
Pada tumpang gilir, segera setelah suatu tanaman hampir menyelesaikan siklus
hidupnya, buru-buru ditanami tanaman yang lain. Akibatnya, tidak ada waktu

12
lebih untuk melakukan pengolahan tanah. Salah satu kelebihan tanpa
pengolahan tanah atau dengan pengolahan tanah minimal adalah tidak
terjadinya kerusakan struktur tanah karena terlalu intensif diolah. Selain itu,
pada pengolahan tanah minimal atau tanpa oleh tanah resiko erosi akan lebih
kecil daripada yang diolah secara sempurna.

d. Menekan serangan hama dan patogen


Pola tanam monokultur telah mengingkari sistem ekologi. Penanaman
hanya satu jenis tanaman talah mengurangi keberagaman makhluk hidup
penyusun ekosistemnya sehingga seringkali terjadi ledakan populasi hama dan
patogen penyebab penyakit tanaman. Pola tanam dengan sistem tumpangsari
sama dengan memodifikasi ekosisitem yang dalam kaitannya dengan
pengendalian OPT memberikan keuntungan (1) penjagaan fase musuh alami
yang tidak aktif (2) penjagaan keanekaragaman komunitas (3) penyediaan
inang alternative (4)penyediaan makanan alami (5) pembuatan tempat
berlindung musuh alami, dan (6) penggunaan insektisida yang selektif.
Ketika suatu lahan ditanami lebih dari satu jenis tanaman, maka pasti
akan terjadi interaksi antara tanaman yang ditanam. Interkasi yang terjadi
dapat saling menguntungkan (cooperation) dapat juga berlangsung saling
menghambat (competition). Dengan demikian, kultur teknis yang harus
diperhatikan pada pola tanam tumpang sari adalah jarak tanam, populasi
tanaman, umur tiap tanaman, dan arsitektur tanaman.
Dalam pola tanam tumpangsari, diusahakan untuk menanam jenis
tanaman yang tidak satu family. Hal ini dimaksudkan untuk memutus mata
rantai pertumbuhan dan ledakan populasi hama dan patogen karena untuk
jenis tanaman yang satu family memiliki kecenderungan untuk diserang oleh
hama dan patogen yang sama. Pada prinsipnya, pemilihan jenis tanaman dan
kultur teknis yang dilakukan harus menunjukkan usaha untuk memaksimalkan
kerjasama dan meminimalkan kompetisi pada tanaman-tanaman yang
dibudidayakan.

13
Kelemahan Pola Tanam Tumpangsari
 Persaingan dalam hal unsur hara
Dalam pola tanam tumpangsari, akan terjadi persaingan dalam menyerap unsur
hara antar tanaman yang ditanam. Sebab, setiap tanaman memiliki jumlah
kebutuhan unsur hara yang berbeda-beda, sehingga tidak menutup
kemungkinan bahwa salah satu tanaman akan mengalami defisiensi unsur hara
akibat kkalah bersaing dengan tanaman yang lainnya.
 Pemilihan komoditas
Diperlukan wawasan yang luas untuk memilih tanaman sela sebagai
pendamping dari tanaman utama, karena tidak semua jenis tanaman cocok
ditanam berdampingan. Kecocokan tanaman-tanaman yang akan
ditumpangsarikan dapat diukur dari kebutuhan unsur haranya, drainase,
naungan, penyinaran, suhu, kebutuhan air, dll.
 Permintaan Pasar
Pada pola tanam tumpangsari, tidak selalu tanaman yang menjadi tanaman
sela, memiliki permintaan yang tinggi. Sedangkan, untuk memilih tanaman sela
yang cocok ditumpangsarikan dengan tanaman utama, merupakan usaha yang
tidak mudah karena diperlukan wawasan yang lebih luas lagi. Maka dari itu,
diperlukan strategi pemasaran yang tepat agar hasil dari tanaman sela tersebut
dapat mendatangkan keuntungan pula bagi petani.
 Memerlukan tambahan biaya dan perlakuan
Untuk dapat melaksanakan pola tanam tumpangsari secara baik perlu
diperhatikan beberapa faktor lingkungan yang mempunyai pengaruh di
antaranya ketersediaan air, kesuburan tanah, sinar matahari dan hama
penyakit. Penentuan jenis tanaman yang akan ditumpangsari dan saat
penanaman sebaiknya disesuaikan dengan ketersediaan air yang ada selama
pertumbuhan. Hal ini dimaksudkan agar diperoleh pertumbuhan dan produksi
secara optimal.
Sebaran sinar matahari penting, hal ini bertujuan untuk menghindari
persaingan antar tanaman yang ditumpangsarikan dalam hal mendapatkan
sinar matahari, perlu diperhatikan tinggi dan luas antar tajuk tanaman yang
ditumpangsarikan. Tinggi dan lebar tajuk antar tanaman yang

14
ditumpangsarikan akan berpengaruh terhadap penerimaan cahaya matahari,
lebih lanjut akan mempengaruhi hasil sintesa (glukosa) dan muara terakhir
akan berpengaruh terhadap hasil secara keseluruhan.

3. Tanaman Bawah Tegakan


Kelestarian hutan dan ketahanan pangan merupakan dua hal yang
seringkali menjadi issue mengemuka. Terkait dengan issue tersebut yang
perlu diketahui adalah kemungkinan memanfaatkan hutan untuk medukung
ketahanan pangan masyarakat khususnya di sekitar hutan tanpa menimbulkan
gangguan kerusakan hutan dengan pemanfaatan lahan di bawah
tegakan (PLBT). Tanaman bawah tegakan yang banyak diusahakan oleh petani
di sekitar hutan biasanya dipilih tanaman yang mudah perawatannya, rendah
modal dan mudah pemasarannya.

Beberapa model PLBT yang biasa diterapkan oleh para petani,


antara lain:
a. Trees Along Border
Yaitu suatu penanaman tanaman
kehutanan dipadukan dengan tanaman
pertanian dengan pengaturan ruang untuk
tanaman kehutanan ditanam di pematang atau
di pinggiran/batas lahan milik petani Pola ini
biasa diterapkan oleh sebagian besar
masyarakat yang memiliki lahan garapan yang
sempit. Contoh di Dumoga Kab. Bolaang
Mongondow, Sulawesi Utara yaitu kayu jati dipematang sawah.

b. Alley Cropping
Yaitu suatu penanaman tanaman kehutanan yang dipadukan dengan
tanaman pertanian atau perkebunan dengan pengaturan ruang untuk
tanaman kehutanan ditanam dengan jarak tanam yang lebar (misal 10 x 3
m). Lahan antar barisan tanaman kehutanan dimanfaatkan untuk

15
budidaya tanaman pertanian atau
perkebunan. Pola ini biasa diterapkan oleh
sebagian masyarakat yang memiliki lahan
garapan sempit atau pada lahan yang ditanami
tebu rakyat.

c. Full Trees
Yaitu suatu penanaman tanaman kehutanan yang ditanam dalam
suatu lokasi tanam dengan jarak tanam tertentu misal 3 x 3 m atau 3 x
2 m. Areal kosong di antara tanaman kehutanan biasanya dimanfaatkan
dengan ditanami dengan tanaman semusim/pertanian (tumpangsari)
setelah tajuk tanaman kehutanan menutupi tanah kira-kira umur 2 tahun,
areal ini masih dapat dimanfaatkan dengan tanaman bawah tegakan
misalnya jahe, kapulaga (Wanafarma) atau tanaman pangan yang tahan
naungan (talas/mbothe, porang).

a. Pola Full Trees murni tanaman sengon dengan jarak tanam 3 x 3


b. Pola Full Trees bawah tegakan sengon dimanfaatkan untuk menanam
empon-empon jenis kapulaga (Wanafarma)
c. Pola Full Trees bawah tegakan sengon dimanfaatkan untuk menanam
empon-empon jenis kunyit (Wanafarma)
d. Pola Full Trees bawah tegakan dimanfaatkan untuk menanam cabe dan talas
(hutan sebagai cadangan pangan)

16
d. Kebun Campur
Kebun campur adalah sistem bercocok tanam campuran dengan
tanaman utamanya adalah pohon/tanaman kehutanan. Tanaman
kehutanan dan tanaman/pohon buah-buahan (sengon, kembang, jabon,
durian, duku, langsep, dan lain-lain) menempati strata tajuk teratas,
disusul dengan tanaman perkebunan (kopi, kakao, pisang, dan lain-lain) dan
strata tajuk terendah adalah tanaman semusim misal empon-empon (jahe,
kapulaga, kunyit, dan lain-lain), ketela pohon, talas dan lain-lain.

Pola Kebun Campur dengan komposisi sengon, kembang, langsep, kopi,


pisang, talas, dan lain-lain.

Pemanfaatan lahan bawah tegakan memberi dampak positif sebagai


berikut:
a. Dampak Ekonomi
 Adanya diversifikasi hasil yaitu hasil non kayu memberi keuntungan
berupa pendapatan untuk memenuhi kebutuhan jangka pendek
(mingguan, bulanan, tahunan) produknya, hasil kayu memberi
keuntungan finansial jangka menengah (5 tahunan)
 Peningkatan nilai per satuan luas.
 Memberi kontribusi dalam penyediaan tenaga kerja bagi masyarakat.
b. Dampak Ekologi
 Penutupan lahan yang semakin luas yang efektif mencegah bencana
alam.
 Siklus hara alami terjamin dengan tersedianya seresah yang cukup.
 Membantu sistem perakaran dalam menahan air sehingga proses
hidrologi dapat berjalan normal.
 Menghasilkan O2 dan mengikat CO2 sehingga pencemaran udara
terkendali.

17
 Berkontribusi dalam pelestarian alam.

C. Pengangkutan Hasil Hutan Kayu Budidaya yang Berasal dari Hutan Hak
Hutan hak adalah hutan yang berada pada tanah yang dibebani hak atas
tanah. Hasil hutan yang berasal dari hutan hak yang selanjutnya disebut hasil
hutan hak adalah hasil hutan berupa kayu hasil budiidaya di atas areal hutan hak
atau lahan masyarakat (Peraturan Menteri LHK RI No.
P.85/MENLHK/SETJEN/KUM.1/11/2016).
Pemanfaatan hasil hutan kayu budidaya yang berasal dari hutan hak
dilakukan oleh pemilik hutan hak yang bersangkutan dan tidak memerlukan izin
penebangan. Sebelum pemanfatan hasil hutan hak perlu dilakukan penetapan
jenis, pengukuran volume/berat dan penghitungan jumlah oleh pemilik hutan hak.
Pengangkutan hasil hutan kayu budidaya yang berasal dari hutan hak
dimaksudkan untuk melindungi hak privat dan memberikan kepastian hukum
dalam kepemilikan, penguasaan dan penganggkutan hasil hutan kayu yang
berasal dari hutan hak. Selanjutnya pengangkutan hasil hutan kayu budidaya
yang berasal dari hutan hak bertujuan untuk menjamin ketertiban peredaran hasil
hutan kayu yang berasal dari hutan hak dan ketersediaan data dan informasi.

Nota Angkutan atau Nota Angkutan Lanjutan


Hasil hutan kayu budidaya yang berasal dari hutan hak dilengkapi dengan
Nota Angkutan dan atau Nota Angkutan Lanjutan. Penggunaan Nota Angkutan
atau Nota Angkutan Lanjutan hanya untuk hasil hutan kayu budidaya di hutan
hak dengan bukti hak atas tanah lokasi penebangan berupa sertifikat atau bukti
penguasaan lain yang diakui Kementerian Agraria dan Tata Ruang/BPN.
Pengankutan hasil hutan kayu yang berasal dari hutan hak yang tumbuh
secara alami, mengikuti ketentuan dalam Peraturan Menteri yang mengatur
tentang Penatausahaan Hasil Hutan yang Berasal dari Hutan Negara.
Penggunaan Nota Angkutan dan atau Nota Angkutan Lanjutan untuk hasil
hutan kayu budidaya yang berasal dari hutan hak di provinsi di Pulau jawa dan
Bali, sedangkan diluar pulau Jawa dan Bali untuk kayu hasil budidaya jenis jati,
mahoni, nyawai, gmelina, lamtoro, kaliandra, akasia, kemiri, durian, cempedak,

18
dadap, duku, jambu, jengkol, kelapa, kecapi, kenari, mangga, manggis, melinjo,
nangka, rambutan, randu, sawit, sawo, sukun, trembesi, waru, karet, jabon,
sengon dan petai (Kepala Dinas Provinsi di luar Pulau Jawa dan Bali dapat
menambah jenis kayu budidaya yang berasal dari hutan hak selain yang telah
disebutkan).
Penerbitan Nota Angkutan hasil hutan kayu budidaya yang berasal dari
hutan hak diterbitkan oleh pemilik hutan hak dan berlaku sebagai Deklarasi
Kesesuaian Pemasok (DKP). Pengadaan Blangko dilakukan oleh pemilik hutan hak
dan dapat difotocopy serta pengisiannya dapat dilakukan dengan tulisan tangan.
Penerbitan Nota Angkutan Lanjutan hasil hutan kayu budidaya yang
berasal dari hutan hak diterbitkan oleh GANISPHPL PKB yang bekerja di TPKRT
dengan mencantumkan nomor Nota Angkutan sebelumnya dan berlaku sebagai
DKP. Pengadaan Blangko dilakukan oleh pemilik TPKRT dan dapat difotocopy
serta pengisiannya dapat dilakukan dengan tulisan tangan. Masa berlaku Nota
Angkutan Lanjutan ditetapkan oleh GANISPHPL PKB yang bekerja di TPKRT
dengan mempertimbangkan jarak dan waktu tempuh normal. Penerimaan hasil
hutan kayu budidaya yang berasal dari hutan hak di TPKRT atau Industri Primer
dilakukan oleh GANISPHPL PKB dengan mematikan Nota Angkutan dan Nota
Angkutan Lanjutan dengan membubuhi stempel/cap “TELAH DIGUNAKAN”.
Bentuk format blangko Nota Angkutan dan Nota Angkutan Lanjutan dapat dilihat
sebagai berikut.

19
20
D. Analisa Usaha Tani Hutan
Analisis usahatani diarahkan untuk menilai apakah sumberdaya yang
digunakan dalam kegiatan wanatani sudah cukup efisien dengan membandingkan
21
antara manfaat yang dihasilkan dengan biaya yang harus dikeluarkan. Dalam
analisis konvensional, penilaian atas hasil yang diperoleh (output) dan penilaian
pengeluaran dalam kegiatan usahatani hanya terbatas pada barang pribadi
seperti barang dan jasa yang mempunyai nilai finansial. Selain itu, usahatani juga
menghasilkan jasa lingkungan yang di dalam dirinya belum melekat harga pasar
atau tidak memiliki nilai finansial yang nyata (Budidarsono, 2002).
Petani hutan merupakan pelaku produsen sekaligus konsumen. Oleh
karena itu, perlu diperlukan analisis biaya dan pendapatan usaha yang diterapkan
oleh petani hutan rakyat. Pada pola pertanaman ganda dimana terdapat jenis
yang berbeda umur pada satu lahan, konsep untuk analisis finansial dilakukan
pendekatan investasi. Analisis finansial pada dasarnya dilakukan untuk
mengetahui seberapa besar manfaat yang diperoleh, biaya yang dikeluarkan,
berapa keuntungannya, kapan pengembalian investasi itu terjadi dan pada tingkat
suku bunga berapa inventasi itu memberikan manfaat. Oleh karena itu, harus ada
ukuran-ukuran terhadap kinerjanya (Suharjito dkk, 2003).
Ukuran-ukuran yang digunakan antara lain Net Present Value (NPV),
Benefit Cost Ratio (BCR), dan Internal Rate of Return (IRR). Net Present Value
(NPV) merupakan nilai saat ini yang mencerminkan nilai keuntungan yang
diperoleh selama jangka waktu pengusahaan dengan mempertimbangkan nilai
waktu dari uang timevalue of money. Suatu usahatani dikatakan menguntungkan
dan sebagai implikasinya akan diadopsi oleh masyarakat atau dapat berkembang
apanila nilai NPV yang positif. Besaran NPV negatif menunjukkan kerugian dari
usaha yang dilakukan sehingga tidak layak diusahakan. Semakin besar NPV
semakin baik kelayakan usahanya. Benefit Cost Ratio (BCR) merupakan
perbadingan antara pendapatan dengan pengeluaran selama jangka waktu
pengusahaan (dengan memperimbangkan nilai waktu dari uang atau time value
of money). Sedangkan Internal Rate of Return (IRR) menunjukkan tingkat suku
bunga maksimum yang dapat dibayar oleh suatu usaha. Usahatani dikatakan
layak apabila nilai IRR lebih besar dari tingkat suku bunga yang berlaku di pasar
saat tersebut (Suharjito dkk, 2003).
Ada kendala yang dialami oleh petani ketika melakukan usahataninya.
Kendala tersebut berupa masalah tenaga kerja dan masalah modal. Kendala

22
tenaga kerja dapat didekati dengan menghitung kebutuhan tenaga kerja untuk
membangun usahatani. Sedangkan kebutuhan modal dapat didekati dengan cara
menghitung biaya pembangunan satu sistem usahatani; yaitu semua biaya yang
harus dikeluarkan sampai terjadinya positive cash flow.
Analisis usaha tani dilakukan untuk mengetahui besarnya investasi, unsur
biaya, tingkat produksi yang harus dicapai, harga jual yang menguntungkan, dan
besarnya keuntungan yang akan diraih. Analisis usaha tani dapat berupa
pembiayaan usaha, keuntungan usaha, dan analisis kelayakan usaha yang terdiri
dari analisis Break Even Point (BEP), Return Cash Ratio (R/C), dan Benefit Cost
Ratio (B/C).

E. Teknik Networking / Jejaring Kerja


Jejaring kerja dan kemitraan pada lazimnya juga dikenal dengan istilah
“partnership”. Networking juga diartikan sebagai jalinan hubungan yang
bermanfaat dan saling menguntungkan. Dengan kata lain, membangun
networking haruslah berlandaskan prinsip saling menguntungkan dan komunikasi
dua arah (dialogis). Pada kenyataannya di lapangan, jejaring kerja dan kemitraan
dapat dimaknai menjadi dua: pertama, bahwa walaupun pada tataran konseptual
terdapat sentuhan kesamaan, namun pada praktiknya antara membangun
jejaring kerja dengan kemitraan terdapat perbedaan. Jejaring kerja merupakan
bentuk kerja sama yang masih belum konkret wujudnya karena peran para pihak
belum bisa dimainkan. Sementara di sisi yang lain, kemitraan merupakan wujud
yang lebih konkret dari jalinan kerjasama karena semua pihak yang terlibat dalam
kemitraan mengetahui dan mampu memainkan perannya masing-masing sesuai
dengan aturan ataupun batasan yang telah disepakati bersama. Kedua, bahwa
jaringan kemitraan merupakan awal dari jalinan kemitraan atau dengan kata lain
bahwa tindak lanjut dari jaringan kemitraan. Pada titik ini, antara Fasilitator dan
Jaringan kemitraan dapat diibaratkan sebagai sebuah mata uang dimana masing-
masing sisinya tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

23
Langkah-Langkah Membangun Jaringan Kerja
1. Identifikasi atau Pemetaan Objek Mitra
Fasilitator perlu melakukan identifikasi atau memetakan pelaku utama dan
pelaku usaha serta lembaga atau organisasi yang sekiranya bisa diajak bermitra
baik di wilayah kerjanya maupun wilayah yang lebih luas. Identifikasi didasarkan
pada karakteristik dan kebutuhan bermitra. Pemetaan dilakukan secara bertahap
mulai dari scope yang lebih kecil kepada scope yang lebih besar.
2. Menggali Informasi
Langkah selanjutnya setelah melakukan identifikasi dan pemetaan
kebutuhan adalah menggali informasi tentang tujuan organisasi, ruang lingkup
pekerjaan atau bidang garapan, visi misi dan sebagainya. Informasi-informasi
tersebut berguna untuk menjajagi kemungkinan membangun jaringan kemitraan.
Pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan pendekatan personal, informal
dan formal. Pendekatan personal lebih menekankan pada pendekatan secara
pribadi/intim tanpa memperhatikan sisi-sisi kelembagaan formal. Pendekatan
personal dapat dilakukan dengan mendatangi rumahnya dengan tujuan untuk
ngobrol tentang informasi yang ingin didapatkan. Pendekatan informal dilakukan
dengan memanfaatkan hubungan baik yang sudah terjalin. Pendekatan formal
dilakukan dengan memanfaatkan posisi atau peran seseorang dalam sebuah
lembaga. Dalam beberapa kasus, pendekatan personal dan informal akan lebih
efektif bila dibandingkan dengan pendekatan formal.
3. Menganalisis Informasi
Data dan informasi yang ada dikumpulkan. Berdasarkan data dan informasi
yang terkumpul kemudian dianalisis dan menetapkan mana pihak-pihak yang
relevan dengan permasalahan dan kebutuhan yang diperlukan utuk dihadapi.
4. Penjajagan Kerjasama
Dari hasil analisi data dan informasi, perlu dilakukan penjajagan lebih
mendalam dan intensif dengan pihak-pihak yang memungkinkan diajak
kerjasama. Penjajagan dapat dilakukan dengan cara melakukan audensi atau
presentasi tentang program menabung pohon.

24
5. Penyusunan Rencana Kerja Sama
Apabila beberapa pihak telah sepakat untuk bekerja sama, maka langkah
selanjutnya adalah penyusunan rencana kerja sama. Dalam perencanaannya
harus melibatkan pihak-pihak yang akan bermitra sehingga semua aspirasi dan
kepentingan setiap pihak dapat terwakili.
6. Membuat Kesepakatan
Para pihak yang ingin bermitra perlu untuk merumuskan peran dan
tanggung jawab masing-masing pihak pada kegiatan yang akan dilakukan
bersama yang dituangkan dalam Nota Kesepahaman atau Memorandum of
Understanding (MoU).
7. Penandatanganan Akad Kerjasama (MoU)
Nota Kesepakatan yang sudah dirumuskan selanjutnya ditandatangani oleh
pihak-pihak yang bermitra.
8. Pelaksanaan Kegiatan
Pelaksanaan kegiatan merupakan tahapan implementasi dari rencana
kerjasama yang sudah disusun bersama dalam rangka mencapai tujuan yang
sudah ditetapkan. Pelaksanaan kegiatan sesuai dengan tanggungjawab dan peran
masing-masing pihak yang bermitra.
9. Monitoring dan Evaluasi
Selama pelaksanaan kerjasama perlu dilakukan monitoring dan evaluasi.
Tujuan monitoring adalah memantau perkembangan pelaksanaan kegiatan
sehingga dapat dicegah terjadinya penyimpangan (deviasi) dari tujuan yang ingin
dicapai. Selain itu juga segala permasalahan yang muncul dalam pelaksanaan
kegiatan dapat dicarikan solusinya. Hasil monitoring dapat dijadikan dasar untuk
melakukan evaluasi. Perlu dilakukan evaluasi bersama antar pihak yang bermitra
untuk mengetahui kegiatan yang belum berjalan sesuairencana dan mana yang
sudah, tujuan mana yang sudah tercapai dan mana yang belum, masalah atau
kelemahan apa yang menghambat pencapaian tujuan dan penyebabnya.
10. Perbaikan
Hasil evaluasi oleh pihak-pihak yang bermitra akan dipakai sebagai dasar
dalam melakukan perbaikan dan pengambilan keputusan selanjutnya apakah
kerjasama akan dilanjutkan pada tahun berikutnya atau tidak.

25
11. Rencana Tindak Lanjut
Apabila pihak-pihak yang bermitra memandang penting untuk
melanjutkan kerjasama, maka mereka perlu merencanakan kembali kegiatan
yang akan dilaksanakan pada tahun berikutnya. Dalam Perencanaan selanjutnya
perlu mempertimbangkan hasil evaluasi dan refleksi sebelumya. Disamping itu,
mungkin dipandang perlu untuk memperpanjang akad kerjasama dengan atau
tanpa perubahan nota kesepakatan.

DAFTAR RUJUKAN

Budidarsono S. 2002. Analisis Nilai Ekonomi Wanatani. Dalam Wanatani di Nusa


Tenggara. Denpasar. ICRAF dan Winrock International.

Indriyanto. 2010. Pengantar Budi Daya Hutan. Cetakan 2. PT. Bumi Aksara.
Jakarta.

Irawan. 2012. Pembangunan Persemaian di Desa dan Penanaman Pohon


[Modul Pelatihan]. PNPM Lingkungan Mandiri Perdesaan. Jakarta.

Paembonan S.A. 2012. Hutan Tanaman dan Serapan Karbon. Masagena Press.
Makassar.

Peraturan Menteri LHK RI No. P.85/MENLHK/SETJEN/KUM.1/11/2016 Tentang


Pengangkutan Hasil Hutan Kayu Budidaya yang Berasal dari Hutan Hak.

Simon H. 1995. Pengelolaan Hutan Bersama Rakyat. Bigraf Publishing.


Yogyakarta.

Suharjito D., dkk. 2003. Aspek Sosial Ekonomi dan Budaya Agroforestri. Bogor:
ICRAF.

Widianto, Nurheni Wijayanto dan Didik Suprayogo. 2003. Pengelolaan dan Pengembangan
Agroforestry. Bogor: World Agroforestry Centre (ICRAF).

Widyati, Eni. 2007. Optimasi Produktivitas Lahan di Wilayah KPH. Bogor:


Pusat Litbang Peningkatan Produktivitas Hutan

26

Anda mungkin juga menyukai