Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS OBAT DALAM CAIRAN HAYATI

I. TUJUAN PRAKTIKUM
Agar mahasiswa dapat memahami langkah-langkah analisis obat didalam
cairan hayati.

II. DASAR TEORI


Parameter farmakokinetika didefinisikan sebagai besaran yang
diturunkan secara matematis dari hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau
metabolitnya didalam cairan hayati (darah, urin, saliva atau cairan tubuh
lainnya). Selain itu, merupakan suatu metode analisis obat dalam cairan
biologis juga sangat diperlukan untuk tujuan lain seperti perhitungan parameter
farmakokinetika, bioavaibilitas, bioekuivalen dan yang lainnya ((Kahn, CR
(Ed) 1995),(Shargel et al., 1988)).
Penilaian ketersediaan hayati dapat dilakukan dengan metode
menggunakan data darah, data urin, dan data farmakologis atau klinis, namun
lazimnya dipergunakan data darah atau data urin untuk menilai ketersediaan
hayati sediaan obat yang metode analisis zat berkhasiatnya telah diketahui cara
dan validitasinya. Jika cara dan validitas belum diketahui, dapat digunakan data
farmakologi dengan syarat efek farmakologi yang timbul dapat diukur secara
kuantitatif (Syukri, 2002).
Analisis ketersediaan hayati (bioavailabilitas) dari suatu bahan bioaktif
merupakan cara untuk mengetahui nilai biologis serta fungsi fisiologisnya di
dalam tubuh serta untuk mengevaluasi metabolismenya di dalam tubuh
sehingga dapat digunakan oleh manusia atau hewan untuk kepentingan
kesehatan. Ketersediaan hayati adalah sejumlah komponen suatu zat di dalam
darah atau organ yang dapat diukur setelah penyerapan pada suatu jaringan
(Langseth, 2000). Dalam analisis dengan menggunakan cairan biologis perlu
dicermati adanya metabolit dari obat induk, karena dengan adanya metabolit,
analisis suatu obat dapat saja memberikan hasil yang menyesatkan. Sehingga
diperlukan suatu metode yang dapat mengidentifikasi secara akurat baik obat
induk maupun metabolitnya (Kelly., MT, 1990).
Analisis obat dalam cairan hayati dilakukan untuk penentuan jangka
waktu larutan obat yang memberikan resapan tetap (khusus untuk reaksi
warna), pembuatan kurva baku, perhitungan nilai perolehan kembali, kesalahan
acak dan kesalahan sistematik.
Parameter farmakokinetika sangat penting karena dapat menggambarkan
seberapa besar obat diabsorbsi, seberapa tepat obat dieliminasi, seberapa besar
efek terapeutik dan ketoksisikan suatu obat. Oleh karena itu agar parameter
dapat dipercaya, metode yang digunakan dalam menentukan kadar obat yang
digunakan harus memenuhi kriteria sebagai berikut :
1. Selektif atau spesifik
Selektifitas metode adalah kemampuan suatu metode untuk membedakan
suatu obat dari metabolitnya, obat lahir (dalam kasus tertentu yang
berkaitan) dan kandungan endogen cuplikan hayati. Selektifitas metode
menempati prioritas utama karena bentuk obat yang akan ditetapkan dalam
cuplikan hayati adalah dalam bentuk tak berubah atau metabolitnya.
Metode analisis yang digunakan harus memiliki spesifitas yang tinggi
terhadap salah satu obat yang akan ditetapkan tersebut. Spesifik
hendaknya diterapkan dengan percobaan melalui bukti kromatografi bahwa
metode spesfik untuk obat. Sebagai tambahan, standar internal hendaknya
dapat dipisahkan secara lengkap dan menunjukkan tidak adanya gangguan
senyawa-senyawa lain. Penetapan kadar secara kalorimetrik dan
spektrofotometrik biasanya kurang spesifik. Gangguan dari zat lain dapat
memperbesar kesalahan hasil (Shargel, 1988).
Pemilihan metode yang memiliki selektifitas tinggi perlu mendapatkan
perhatian khusus karena hal ini berkaitan erat dengan rumus matematik yang
diterapkan dalam menghitung parameter farmakokinetik. Rumus matematik
yang diturunkan berdasarkan data pengukuran kadar obat tak berubah dalam
cuplikan hayati tertentu, berbeda dengan yang diturunkan dari data kadar
metabolitnya (Smith, 1981).
2. Sensitif atau peka
Sensitifitas metode berkaiatan dengan kadar terendah yang dapat diukur
oleh suatu metode analisis yang digunakan. Pemilihan metode analisis
tergantung pada tingkat sensitifitas yang dimiliki oleh metode tersebut. Hal
ini dapat dipahami karena dalam menghitung parameter farmakokinetika
suatu obat, diperlukan sederetan kadar dari waktu ke waktu. Sehingga
metode analisis yang dipilih harus dapat mengukur kadar obat tertinggi
sampai yang terendah yang ada dalam badan. Perlu diperhatikan bahwa
terdapat keterkaitan antara kespesifikan dan kepekaan suatu metode
analisis. Dalam berbagai kasus, kespesifikan suatu metode dapat
ditingkatkan dengan menurunkan kepekaan, karena dengan cara gangguan
komponen lain dalam sampel dapat ditekan. Akan tetapi, penurunan
kepekaan kadang-kadang mengakibatkan kekeliruan negative yang
merugikan dalam analisis kualitatif. Oleh karena itu, sebelum memilih
suatu metode, perlu dipertimbangkan dengan seksama manakah yang
lebih dibutuhkan kepekaan yang maksimum atau kespesifikan yang tinggi.
3. Ketelitian (accuracy) dan ketepatan (precision)
Ketelitian (accuracy) ditunjukan oleh kemampuan suatu metode untuk
memberikan hasil pengukuran sedekat mungkin dengan true value (nilai
sesungguhnya). Ketelitian suatu metode dapat dilihat dari perbedaan
anatara harga penetapan kadar rata-rata dengan harga sebenarnya atau
konsentrasi yang diketahui. Jika tidak ada data nilai sebenarnya atau nilai
yang dianggap benar tersebut maka tidak mungkin untuk menentukan
berapa akurasi pengukuran tersebut. Presisi menyatakan seberapa dekat nilai
hasil dua kali atau lebih pengulangan pengukuran. Semakin dekat nilai‐nilai
hasil pengulangan pengukuran maka semakin presisi pengukuran tersebut.
Metode yang baik memberikan hasil recovery yang tinggi yaitu 75-90%
atau lebih. Ketelitian berkaian dengan purata. Bila suatu hasil itu teliti
(accurate) berarti purata sama dengan harga sebenarnya, walaupun
penyebarannya lebar (luas). Dalam hubungan ini, adalahlebih baik hasil
yang kurang teliti tapi tepat daripada teliti namun kurang tepat. Ketepatan
(precision) menggambarkan hasil yang berulang-ulang tidak mengalami
perbedaan hasil (reprodusibilitas data). Dengan kata lain, ketepatan
menunjukkan kedekatan hasil-hasil pengukuran berulang. Ketepatan
pengukuran hendaknya diperoleh melalui pengukuran ulang (replikasi)
dari berbagai konsentrasi obat dan melalui pengukuran ulang kurva
konsentrasi standar yang disiapkan secara terpisah pada hari yang sama.
Ketepatan berhubungan dengan penyebaran harga terhadapa purata kecil
meskipun karena kesalahan sistematik, purata berbeda agak besar dengan
harga sebenarnya. Kemudian dilakukan perhitungan statistik yang sesuai
dengan penyebaran data, seperti standar deviasi atau koefisien variasi.

4. Cepat
Kecepatan berkaitan dengan banyaknya cuplikan hayati yang harus
dianalisis dalam suatu macam penelitian farmakokinetika.
5. Efisien
Metode tidak terlalu panjang karena dikhawatirkan akan menimbulkan
suatu kesalahan sistematik.
Dalam penetapan kadar obat dalam darah (cairan tubuh), metode yang
digunakan harus tepat, dan dalam pengerjaannya diperlukan suatu ketelitian
yang cukup tinggi agar diperoleh hasil yang akurat, sehingga nantinya dapat
menghindari kesalahan yang fatal. Dalam analisis ini, kesalahan hasil tidak
boleh lebih dari 10% (tergantung pula alat apa yang digunakan dalam
analisis) (Ritschel, 1976).
Cepat, simpel, dan sensitif telah membuat spektrofotometer UV-VIS
menjadi suatu metode analisis farmasetika yang sangat popular untuk
pengukuran secara kuantitatif obat dan metabolit dalam sampel biologi.
Salah satu alasan penting atas kepopulerannya karena sensitivitas dari
metode ini, yaitu 1-10 µg/ml. Identifikasi kualitatif dari obat atau metabolit
menggunakan spektrofotometri UV-VIS berdasarkan pada panjang
gelombang maksimum yang diabsorpsi. Pada absorpsi yang maksimum,
sensitivitas optimum akan didapat. Karena perubahan absorbansi minimal
untuk sedikit perubahan panjang gelombang, error diminimalkan. Hasilnya,
akurasi dan presisi yang baik didapatkan (Smith, 1981).
Kurva baku merupakan acuan dalam penetapan kadar obat dalam plasma
darah. Ketidakcermatan dalam pembuatan kurva baku akan menimbulkan
kesalahan sistemik dalam penentuan kadar sampel. Kadar obat dalam dalam
cairan hayati mempunyai rentang kadar yang lebar berkisar dari rendah ke
tinggi (Hakim, 2011).

III. ALAT DAN BAHAN


A. Alat
- Labu takar
- Pipet volume 1,2 dan 5 ml
- Spektrofotometer dan kuvet
- Skapel/ silet
- Sentrifuge
- Stopwatch
- Tabung reaksi
- Tabung sentrifuge

B. Bahan
- Natrium Salisilat
- Asam klorida
- Merkuri
- TCA 10%
- Asam Salisilat
- Ferri nitrat
- Antikoagulan (larutan kalium oksalat 2% dengan dosis 20 mg kalium oksalat
/ 10 ml darah)-NaEDTA
- Pengendap protein dan pewarna (8 gram ferri nitrat : 24 ml HCL 1N dan
aquadest ad 200 ml)
- Tikus 2 ekor
IV. PROSEDUR KERJA
A. Pembuatan kurva baku (asam salisilat)

Menyediakan larutan asam salisilat dengan konsentrasi 100 ppm, 200


ppm, 300 ppm dan 400 ppm

Pipet volume masing-masing 4 ml kedalam tabung reaksi

Letakan di spektrofotometer dengan panjang gelombang 254 nm

Baca hasil absorbansi masing-masing larutan asam salisilat

B. Penentuan perolehan kembali, kesalahan acak dan kesalahan sistemik

Menyediakan larutan asam salisilat dengan konsentrasi 300 ppm dan


100 ppm sebagai sampel

Menyediakan 2 ekor tikus dan ambil darah tikus ± 0,5 ml

Menyediakan larutan NaEDTA sebagai antikoagulan dan kemudian


masukan kedalam tabung sentrifuge terlebih dahulu

Tambahkan darah tikus yang sudah diambil ± 0,5 ml

Tambahkan dengan larutan sampel asam salisilat sebanyak 1 ml


dengan konsentrasi 300 ppm dan 100 ppm

Tambahkan TCA 10% sebanyak 5 ml


Campuran tersebut disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan
3000 rpm

Ambil supernatant yang jernih dan baca serapannya dengan


spektrofotometer dengan panjang gelombang 256 nm

Hitung recovery, kesalahan acak dan kesalahan sistemik

V. HASIL PERCOBAAN
A. Pembuatan Kurva Baku
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
100 0,277
200 0,588
300 0,811
400 1,083
Hasil Kurva baku: a = 0,0295 y = bx + a
b = 0,002641 y = 0,002641x + 0,0295
r = 0,998
B. Penetapan kadar asam salisilat
No Konsentrasi Absorbansi Kadar(µg/ml) Recovery Kes. Kes.
(ppm) (x) (%) Acak Sistemik
(%) (%)
1 100 0,023 -2,461 -2,461 102,461
2 100 0,020 -3,597 -3,597 -99,284 103,597
3 100 0,030 0,189 0,189 99,811
No Konsentrasi Absorbansi Kadar(µg/ml) Recovery Kes. Kes.
(ppm) (x) (%) Acak Sistemik
(%) (%)
1 300 0,058 10,791 3,597 96,403
2 300 0,060 11,548 3,849 7,295 96,151
3 300 0,055 9,655 3,218 96,78

VI. PERHITUNGAN
A. Konsentrasi 100 ppm
- Replikasi 1
y = bx + a
0,023 = 0,002641x + 0,0295
0,023 – 0,0295 = 0,002641x
-0,0065 =x
0,002641
-2,461 =x
Recovery (P%) = kadar terukur / kadar diketahui x 100%
= -2,461/ 100 x 100%
= -2,461%
Kesalahan sistemik = 100 – (-2,461)
= 102,461 %
- Replikasi 2
y = bx + a
0,020 = 0,002641x + 0,0295
0,020 – 0,0295 = 0,002641x
-0,0095 =x
0,002641
-3,597 =x
Recovery (P%) = kadar terukur/kadar diketahui x 100%
= -3,597/ 100 x 100%
= -3,597%
Kesalahan sistemik = 100 – (-3,597)
= 103,597 %
- Replikasi 3
y = bx + a
0,030 = 0,002641x + 0,0295
0,030 - 0,0295 = 0,002641x
0,0005 =x
0,002641
0,189 =x
Recovery (P%) = kadar terukur/kadar diketahui x 100%
= 0,189/ 100 x 100 %
= 0,189 %
Kesalahan sistemik = 100 – 0,189
= 99,811 %
Kesalahan acak = SD (Simpangan baku) x 100%
Harga rata- rata
= 1,942 x 100%
-1,956
= -99,284 %
B. Konsentrasi 300 ppm
- Replikasi 1
y = bx + a
0,058 = 0,002641x + 0,0295
0,058 – 0,0295 = 0,002641x
0,0285 =x
0,002641
10,791 =x
Recovery (P%) = kadar terukur / kadar diketahui x 100%
= 10,791 / 300 x 100%
= 3,597 %
Kesalahan sistemik = 100 – 3,597
= 96,403%
- Replikasi 2
y = bx + a
0,060 = 0,002641x + 0,0295
0,060 – 0,0295 = 0,002641x
0,0305 =x
0,002641
11,548 =x
Recovery (P%) = kadar terukur/kadar diketahui x 100%
= 11,548 / 300 x 100%
= 3,849%
Kesalahan sistemik = 100 – 3,849%
= 96,151 %
- Replikasi 3
y = bx + a
0,055 = 0,002641x + 0,0295
0,055 – 0,0295 = 0,002641x
0,0255 =x
0,002641
9,655 =x
Recovery (P%) = kadar terukur/kadar diketahui x 100 %
= 9,655/300 x 100%
= 3,218%
Kesalahan sistemik = 100 – 3,218
= 96,78 %
Kesalahan acak = SD (simpangan baku) x 100%
Harga rata-rata
= 0,778 x 100%
10,664
= 7,295 %
VII. PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini, bertujuan untuk dapat memahami langkah-
langkah analisis obat dalam cairan hayati. Ketersediaan hayati digunakan untuk
memberikan gambaran mengenai keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari
bentuk dan digambarkan dengan kurva kadar dan waktu setelah minum obat
dan berada pada jaringan biologis atau larutan seperti darah dan urin. Obat
yang digunakan adalah asam salisilat yang dianalisis dalam darah tikus.
Pertama dilakukan pembuatan kurva baku yang bertujuan untuk
mengetahui hubungan antara konsentrasi larutan dengan nilai absorbansi nya
sehingga konsentrasi sampel dapat diketahui. Selain itu juga dibuat larutan
blanko yang berfungsi untuk kalibrasi sebagai larutan pembanding dalam
analisis fotometri.
Larutan sampel yang digunakan adalah Asam salisilat dengan konsentrasi
100 µg/ml dan 300 µg/ml, sedangkan cairan hayati yang digunakan dalam
percobaan ini adalah sampel darah dari hewan uji tikus. Digunakan darah
karena darah merupakan tempat yang paling cepat dicapai dalam proses
absorpsi dan distribusi baik ke jaringan target maupun ke organ eliminasi,
sehingga kadar obat di dalam sirkulasi sistemik ini paling mencerminkan
kadar obat sebenarnya di dalam badan. Darah didapatkan dari pembuluh
darah vena yang terdapat di daerah pangkal ekor tikus. Darah diambil sebanyak
0,5 ml dan dimasukkan ke dalam tabung sentrifuge yang sudah berisikan cairan
EDTA, kemudian ditambahkan asam salisilat 100 µg/ ml dan 300 µg/ml
masing-masing 1 ml. Cairan EDTA berfungsi sebagai antikoagulan, yaitu
menjaga agar sampel darah yang dikumpulkan tidak menjadi menggumpal.
Pada proses sentrifuge, tujuannya adalah untuk mengendapkan partikel
lain, sehingga tidak mengganggu pembacaan absorbansi. Sebelumnya pada
tabung sentrifuge yang berisi sampel darah, EDTA dan larutan asam salisilat
juga ditambahkan TCA. TCA merupakan senyawa yang dapat menghentikan
kerja enzim yang dapat memetabolisme obat sekaligus akan menyebabkan
denaturasi protein plasma. TCA akan mengikat protein dan mengendapkannya
saat sentrifugasi sehingga keberadaan protein tidak mengganggu pembacaan
absorbansi (Lethe dan Syahruddin, 2006).
Proses sentrifuge dilakukan dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit
untuk mempercepat proses homogenisasi dan untuk menyempurnakan
pengendapan. Setelah disentrifuge akan diperoleh supernatan cairan bening
yang kemudian diambil dan dipindahkan ke tabung reaksi yang lain. Cairan
bening tersebut harus diambil tanpa endapan yang bertujuan untuk mengambil
obat yang bebas dari protein plasma karena obat yang terikat pada protein
plasma tidak akan aktif secara farmakologi sehingga tidak memiliki efek
terapeutik atau dengan kata lain akan dapat menyebabkan data hasil
pengamatan tidak valid (Anggraeni, 2010).
Kemudian dilakukan pembacaan absorbansi dengan spektrofotometer.
Metode ini digunakan karena gugus kormofor dan pembentuk kompleks warna
yang dapat menyerap sinar tampak. Pembacaan absorbansi dilakukan pada
Panjang gelombang λ 256 nm. Sebelumnya sudah dilakukan pembuatan kurva
baku, untuk menentukan persamaan y = bx + a, sehingga diperoleh nilai y = 2,
641 × 10 -3 + 0,0295 dan r = 0,998.
Berdasarkan data absorbansi dapat diketahui nilai x. Pada larutan asam
salisilat konsentrasi 100 ppm diperoleh absorbansinya = - 2,461 mg/ml, -3,597
mg/ml, -0, 189 mg/ml. Sedangkan pada larutan asam salisilat konsentrasi 300
ppm diperoleh absorbansinya = 10,791 mg/ml, 11,548 mg/ml, 9,655 mg/ml.
Selain itu juga dilakukan perhitungan perolehan kembali (recovery), kesalahan
sistematik, dan kesalahan acak.
Hasil perolehan kembali (recovery) menunjukkan akurasi, dimana
akurasi merupakan ketelitian metode analisis. Nilai recovery yang diperoleh
pada konsentrasi 100 ppm adalah -2,461 %, -3,597 %, 0,189 %. Hasil ini
menunjukkan hasil yang kurang baik, di mana metode analisis dinilai memiliki
akurasi yang baik pada rentang 75-90 % atau 110-125 %. Pada konsentrasi
300 ppm diperoleh nilai recovery 3,597 %, 3,849 %, 3,218 % . Hasil ini
menunjukkan hasil yang tidak baik, karena tidak masuk pada nilai rentang
recovey yang baik.
Nilai kesalahan sistematik yang diperoleh pada konsentrasi 100 ppm
adalah 102,461 %, 103,597 %, 99,811 % dan pada konsentrasi 300 ppm adalah
96,402 %, 96,151 %, 96,78 %. Hasil ini menunjukkan hasil yang kurang baik,
karena rentang nilai kesalahan sistematik adalah ≤10 %. Dimana nilai
kesalahan sistematik yang diperoleh melebihi 10 % menunjukkan rendahnya
nilai akurasi penetapan kadar.
Kesalahan acak menunjukkan presisi, yaitu ukuran keterulangan metode
analisis yang dapat dilihat dari nilai SD dan CV. Pada percobaan ini diperoleh
nilai kesalahan acak pada konsentrasi 100 ppm adalah -99,284 %, dan pada
konsentrasi 300 ppm adalah 9,295 %. Rentang nilai kesalahan acak yaitu <10
%. Sehingga pada konsentrasi 100 ppm menunjukkan hasil yang tidak baik,
sedangkan pada konsentrasi 300 ppm menunjukkan penetapan kadar yang
dilakukan presisi dan memenuhi syarat.
Dari keseluruhan parameter yang diujikan, akurasi dan sensitivitas nya
rendah, hal ini mungkin disebabkan kesalahan praktikan, cara pengerjaan yang
kurang tepat, tidak teliti dalam preparasi sampel, adanya kontaminasi, kuvet
yang kurang bersih dalam pengujiannya sehingga larutan tercampur dan
berpengaruh terhadap pembacaan absorbansi menyebabkan hanya uji presisi
dengan konsentrasi 300 ppm saja yang memperoleh hasil yang baik.

VIII. KESIMPULAN
1. Diperoleh nilai perolehan kembali (recovery) pada konsentrasi 100 ppm
adalah -2,461 %, -3,597 %, 0,189 %, Pada konsentrasi 300 ppm diperoleh
nilai recovery 3,597 %, 3,849 %, 3,218 %,
2. Nilai kesalahan sistematik pada konsentrasi 100 ppm adalah 102,461 %,
103,597 %, 99,811 %. Pada konsentrasi 300 ppm adalah 96,402 %, 96,151
%, 96,78 %.
3. Nilai kesalahan acak pada konsentrasi 100 ppm adalah -99, 284 %. Pada
konsentrasi 300 ppm adalah 9,295 %.
4. Dari hasil yang diperoleh hanya satu parameter uji yang memenuhi syarat,
yaitu uji presisi dengan konsentrasi 300 ppm, sehingga dapat disimpulkan
bahwa pengukuran yang dilakukan belum baik dan tidak valid.

IX. DAFTAR PUSTAKA


Agus, S., dkk., 2016, Validasi Metode HPLC untuk Penetapan Aspirin dan
Asam Salisilat dalam Plasma Kelinci (Lepus curpaeums) secara
Simultan, Jurnal Kefarmasian Indonesia, Vol.6 No.2.
Anggraeni, I.I., 2010, Penetapan Kadar Medroksiprogesteron Asetat dalam
Plasma Secara In Vitro dengan KCKT, Skripsi, Universitas Negeri
Syarif Hidayatullah, Jakarta.
Hakim L., 2011, Farmakokinetika, Bursa Ilmu, Yogyakarta, Indonesia.
I Nyoman, S., Srikayati, W., Bambang, P.P., 1012, Ketersediaan Hayati
Isoflavon dalam Plasma dan Pengaruhnya Terhadap Nilai Biokimia
Darah pada Tikus Hiperglikemia, Jurnal Veteriner, Vol. 13 No. 1: 86-
91.
Kahn, CR (Ed)., 1995. Disorders of Fuel Metabolism. Dalam : Becker, FL
(Ed). Principles & practise of endocrynology & metabolism 2nd ed.
Philadelphia : J.B. Lippincott Company.
Kelly, MT., 1990, Drug Analysis in Biological Fluids. Dalam : Chemical
analysis in complex matrices. Dublin, Ireland, 1990 : 17-97.
Langseth L., 2000, Antioxidant and their effect on health. Di dalam Schidl MK,
Labiza TP, Editor. Essential of functional foods. USA. Aspen Publisher
Inc, Maryland. Hlm. 303-317.
Lethe, C dan Syahruddin, K., 2006, Penuntun Praktikum Kimia Klinik Dasar,
Laboratorium Kimia Farmasi, Univeristas Hasanuddin.
Ritschel, W. A., 1976, Handbook of Basic Pharmacokinetics, 1st ed., 78, Drug
Intelegence Publication Inc. Hamilton, USA.
Shargel, Leon and Andrew BC Yu., 1988, Applied Biopharmaceutics &
Pharmacokinetics second edition, Appleton & Lange : 33-110.
Smith, R. & Steavary., 1981, Textbook of Biopharmaceutics Analysis A
Description of Methods for The Determination of Drug in Biological
Fluid, 80, Les & Febiger, Philadelphia.
Syukri, Y., 2002, Biofarmasetika, UII Press, Yogyakarta, Indonesia.
Yahdiana, H., Umar, M., Theresia., S., 2006, Analisis Glimepirida dalam
Plasma Tikus, Majalah Ilmu Kefarmasian, Departemen Farmasi Fmipa
– UI, Vol. III No.1, April 2006, 22 – 37.

Anda mungkin juga menyukai