Anda di halaman 1dari 43

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI INDUSTRI YANG DILAKSANAKAN DI


PT. SUPER UNGGAS JAYA UNIT FARM MALANG

Oleh:
Dinda Adinda, S.KH
NIM. 170130100011045

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2019

i
LEMBAR PENGESAHAN
LAPORAN KEGIATAN PPDH
ROTASI INDUSTRI YANG DILAKSANAKAN DI
PT. SUPER UNGGAS JAYA UNIT FARM MALANG

Malang, 08 Maret 2018 -21 Maret 2018

Oleh:
Dinda Adinda, S.KH
170130100011045

Menyetujui,
Komisi Penguji

Koordinator Rotasi / Penguji I Penguji II

drh. Fidi Nur Aini E.P.D., M.Si drh. Dodik Prasetyo, M.Vet
NIP. 2014058803272001 NIP. 2013048702131001

Mengetahui,
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya

Dr. Ir. Sudarminto Setyo Yuwono, M.App.Sc


NIP. 19631216 198803 1 002

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang
melimpahkan rahmat, taufiq, dan hidayah-Nya kepada penulis, karena berkat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan koasistensi rotasi industry dan
menuliskan laporan kegiatan dengan lancer tanpa ada hambatan yang berarti.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada beberapa pihak di antaranya:
1. Drh. Fidi Nur Aini E.P.D., M.Si dan drh. Dodik Prasetyo, M.Vet selaku
penanggung jawab dan penguji kegiatan PPDH rotasi industri.
2. Farm Head Dampit Bapak Budi Arianto, manajer HRD Bapak Andri, atas
segala waktu, arahan, fasilitas yang telah diberikan dan kesabarannya dalam
melaksanakan kegiatan koasistensi sampai kepada panyusunan dan
penyempurnaan laporan ini.
3. Drh. Evi untuk segala bimbingan dan ilmunya.
4. Supervisor farm Bapak Nanang serta seluruh staf dan operator kandang
breeding di PT. Super Unggas Jaya Farm Dampit Malang.
5. Teman sejawat PPDH Gelombang X Kelompok 4 atas kerjasama, dorongan,
semangat, inspirasi, keceriaan, dan kebersamaannya.
Akhir kata, penulis berharap semogaTuhan Yang Maha Esa membalas
segala kebaikan yang telah diberikan dan penulis sepenuhnya menyadari bahwa
penulisan laporan ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu, penulis mohon kritik
dan saran yang bersifat membangun demi masa mendatang yang lebih baik.
Semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi banyak pihak.

Malang, Maret 2019

Penulis

iii
DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii


KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI ......................................................................................................... iv
DAFTAR GAMBAR ..............................................................................................v
DAFTAR TABEL ................................................................................................ vi
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................1
1.1 Latar Belakang .................................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................2
1.3 Tujuan ..............................................................................................................2
1.4 Manfaat ............................................................................................................2
BAB II ANALISIS SITUASI ................................................................................4
2.1 Kondisi Umum Breeding Farm .......................................................................4
2.2 Struktur Organisasi ..........................................................................................6
BAB III METODE KEGIATAN ..........................................................................8
3.1 Lokasi dan Waktu Kegiatan .............................................................................8
3.2 Metode Kegiatan ..............................................................................................8
3.3 Jadwal Kegiatan Koasistensi ...........................................................................9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................10
4.1 Operasional Perusahaan .................................................................................10
4.2 Manajemen Nutrisi ........................................................................................17
4.3 Manajemen Produksi .....................................................................................19
4.4 Proses Distribusi Perusahaan .........................................................................20
4.5 Manajemen Kesehatan ...................................................................................21
4.6 Langkah pengendalian dari produk yang tidak sesuai ...................................32
4.7 Peran Dokter Hewan ......................................................................................33
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................35
5.1 Kesimpulan ....................................................................................................35
5.2 Saran ..............................................................................................................35
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................36
FOKUS PEMBAHASAN : VAKSINASI

iv
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Denah Farm PT. Super Unggas Jaya Unit Malang. ........................................ 5
2.2 Struktur Organisasi PT. Super Unggas Jaya ...................................................6
4.1 Skematis pemberian pakan PT. Super Unggas Jaya .......................................12

v
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman
2.1 Umur ayam pada masing-masing kandang pada tanggal 08 Maret 2018.. 5
2.2 Struktur Organisasi PT. Super Unggas Jaya Malang ................................ 10
4.1 Nama Desinfektan yang Digunakan PT. Super Unggas ........................... 15
4.2 Komposisi pakan pada fase growing ........................................................ 17
4.3 Jadwal Program Vaksinasi di PT. Super Unggas Jaya ............................. 20
4.4 Program medikasi di PT. Super Unggas Jaya Malang ................................. 24
4.5 Program deworming tahun 2018 di PT. Super Unggas Jaya Unit Farm 26
Malang ......................................................................................................

vi
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peranan penting subsektor bidang peternakan dalam pemenuhan
kebutuhan protein hewani dapat mendorong kesadaran masyarakat Indonesia
untuk mengkonsumsi produk pangan hasil ternak. Peningkatan jumlah konsumsi
seiring dengan pertambahan penduduk serta peningkatan kemampuan masyarakat
dalam pengolahan hasil ternak. Badan Pusat Statistik (2005) menyatakan bahwa
konsumsi protein hewani meningkat meningkat secara signifikan setiap tahunnya
dari 8,84 gram pada tahun 1999 menjadi sekitar 12,57 gram/kapita/hari pada tahun
2004. Protein hewani dapat diperoleh dari sektor perikanan dan sektor ternak akan
tetapi laju pertumbuhan minat konsumsi sektor ternak lebih tinggi setiap tahunnya
terutama pada ternak unggas yakni sebanyak 11,84% per tahun. Daging ayam
merupakan bahan pangan yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hal
tersebut disebabkan masyaralat Indonesia cenderung menyukai daging ayam
daripada daging ruminansia, selain harga daging ayam relatif lebih murah.
Semakin tingginya permintaan akan daging atam membuat peternak Indonesia
berlomba-lomba membudidayakan ayam pedaging. Budidaya ayam pedaging
selalu diikuti dengan kegiatan pembibitan ayam. Dalam hal pembibitan perlu
dilakukannya seleksi pada sekelompok ternak agar diperoleh bibit yang
berkualitas unggul. Usaha pembibitan ayam pedaging merupakan usaha
peternakan yang mengalami perkembangan hingga saat ini dan terus ditingkatkan
produksinya agar dapat memenuhi kebutuhan masyarakat di Indonesia. Terdapat
berbagai macam faktor yang menentukan keberhasilan dalam usaha peternakan
ayam yaitu manajemen kesehatan, manajemen pemeliharaan yang meliputi
pemberian pakan dan air minum, perkandangan, culling, grading, serta recording.
Manajemen pembibitan yang baik mampu menghasilkan DOC dengan kualitas
yang baik dan mampu memberikan produktivitas tinggi.
Perusahaan Super Unggas Jaya merupakan salah satu perusahaan di
Indonesia yang bergerak di bidang breeding atau pembibitan ayam pedaging yang
tersebar di wilayah pulau Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Kalimantan sehingga
dapat memenuhi kebutuhan konsumen (peternak) akan produksi ayam pedaging

1
untuk dipelihara dan diambil manfaatnya (dagimg). Oleh karena itu, PT. Super
Unggas Jaya dapat dijadikan tempat menambah pengetahuan atau wawasan
dengan melakukan koasistensi. Dalam PT. Super Unggas Jaya diterapkan
manajemen peeliharaan yang ketat meliputi manajemen pemeliharaan ayam
broiler parent stock mulai dari fase starter, grower, dan layer. Oleh karena itu
sebagai Mahasiswa Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) di harapkan
mampu mengaplikasikan ilmu yang telah di dapatkan, sehingga dapat memadukan
ilmu secara teori dan teknis ketika di lapangan.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana manajemen operasional di PT. Super Unggas Jaya Malang?
2. Bagaimana manajemen produksi di PT. Super Unggas Jaya Malang?
3. Bagaimana manajemen distribusi produk di PT. Super Unggas Jaya Malang?
4. Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan distribusi di PT.
Super Unggas Jaya Malang?
5. Bagaimana langkah pengendalian dari produk yang tidak sesuai di PT. Super
Unggas Jaya Malang?
6. Bagaimana peran dokter hewan di PT. Super Unggas Jaya Malang?
1.3 Tujuan
1. Mengetahui manajemen operasional PT. Super Unggas Jaya Malang
2. Mengetahui manajemen produksi di PT. Super Unggas Jaya Malang
3. Mengetahui manajemen distribusi produk dari PT. Super Unggas Jaya Malang
4. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi produksi dan distribusi di PT.
Super Unggas Jaya Malang
5. Mengetahui langkah pengendalian dari produk yang tidak sesuai di PT. Super
Unggas Jaya Malang
6. Mengetahui peran dokter hewan di PT. Super Unggas Jaya Malang
1.4 Manfaat
Manfaat dari pelaksanaan kegiatan Koasistensi Pendidikan Profesi
Dokter Hewan (PPDH) Industri Pilihan Unggas ini yaitu memperoleh
pengetahuan dan pengalaman di bidang perunggasan, sehingga dapat
meningkatkan kemampuan dan pemahaman mahasiswa PPDH Program

2
Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya tentang peternakan unggas mengenai
manajemen pemeliharaan dan peternakan unggas, prosedur pembibitan (breeding
farm) dan upaya-upaya pencegahan, penanganan serta pengendalian penyakit
unggas, selain itu meningkatkan kerja sama antara perguruan tinggi dengan stake
holder atau perusahaan.

3
BAB II ANALISIS SITUASI
2.1 Kondisi Umum Breeding Farm
2.1.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
Cheil Jedang (CJ) merupakan perusahaan yang berasal dari Korea Selatan.
Pada tahun 1994 PT. Chiel Jedang di bangun di daerah rejoso untuk produk
minuman dan lisin, karena ingin memperluas bidang usahanya PT. Chiel Jedang
membangun indutri pakan ternak yang diberi nama Chiel Jedang Super Feed.
Pakan ternak tersebut di jual diseluruh wilayah jawa, akan tetapi pasar pakan
ternak pada masa tersebut cukup sulit dikarenakan terdapat banyak kompetitor
dibagian pakan ternak sedangkan kebutuhan konsumsi protein hewani asal unggas
meningkat sehingga pada tahun 1995 PT. Cheil Jedang Indonesia (CJ Indonesia)
mulai mendirikan usaha peternakan ayam.
PT. Cheil Jedang Indonesia mendirikan breeding farm, setelah itu Chiel
Jedang juga mendirikan unit hatchery di Desa Ngembal, Kecamatan Tutur,
Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur dengan nama PT. Super Unggas Jaya. PT.
Super Unggas Jaya mulai berjalan dan berkembang pada tahun 1999 kemudian
mendirikan 9 daerah peternakan unggas. Wilayah peternakan PT. Super Unggas
Jaya berada di beberapa provinsi di Indonesia seperti Jawa Timur, Jawa Barat,
Jawa Tengah, dan Kalimantan dengan total kapasitas produksi ±54 juta DOC
setiap tahun. Perusahaan ini aktif di bidang produksi untuk pemenuhan kebutuhan
day old chick (DOC) ayam pedaging (broiler) di seluruh wilayah Indonesia.
2.1.2 Keadaan Umum Perusahaan
PT. Super Unggas Jaya merupakan salah satu perusahaan di Indonesia
yang bergerak di bidang pembibitan (Breeding Farm) ayam broiler, di Dsn.
Kepatihan, Ds. Pamotan Kec. Dampit kabupaten Malang, Jawa Timur. Breeding
Farm ini mulai digunakan sejak saat chick in perdana pada tahun 2014 dengan
kapasitas farm 120.000 ekor hingga saat ini memasuki periode ke 3. Dahulu strain
yang dipeliharaa hanya strain Cobb, namun sekarang sudah memiliki dua jenis
strain yaitu Ross. Breeding farm ini memiliki 12 kandang dibagi menjadi 2 flock
yaitu flock A (Kandang 1,2,3,4,5) dan flock B (Kandang 6,7,8,9,10,11,12) dengan
luas lahan 9 Ha. Breeding farm yang dimiliki oleh PT. Super Unggas Jaya ini

4
berada di ladang yang di kelilingi oleh pagar setinggi 4 meter. Lokasi breeding
farm berada cukup jauh dari tempat pemukiman penduduk, selain itu terdapat
sumber air bersih yang berasal dari sumur bor dan sarana transportasi yang baik
untuk memudahkan dalam mendatangkan pakan atau memasarkan hasil
peternakan. Pada breeding farm yang dilengkapi dengan beberapa gasilitas seperti
pos satpam, asrama karyawan dan staff, kantor staff dan manager farm, gudang
pakan, gudang sekam, ruang mekanik, depo untuk telur komersil, ruang sanitasi
dan biosecurity karyawan, gudang obat dan vaksin, maupun ruang sanitasi
kendaraan.

Gambar 2.1 Denah Farm PT. Super Unggas Jaya Unit Malang

Pada saat pelaksanaan koasistensi, ayam parent stock yang dipelihara di PT. Super
Unggas Jaya Malang sedang memasuki fase growing (umur 13-19 minggu).
Berikut ini merupakan daftar umur ayam parent stock pada saat dilaksanakan
kegiatan koasistensi di PT. Super Unggas Jaya Malang
Tabel 2.1 Umur ayam pada masing-masing kandang pada tanggal 08 Maret 2018
Flock Kandang Umur Ayam
1 19 minggu
A 2 19 minggu
3 19 minggu

5
4 18 minggu
5 17 minggu
6 16 minggu
7 16 minggu
8 16 minggu
B 9 15 minggu
10 14 minggu
11 14 minggu
12 13 minggu

2.2 Struktur Organisasi


Struktur organisasi merupakan hubungan timbal balik antara orang yang
memiliki tugas, jabatan, wewenang, dan tanggung jawab dalam suatu perusahaan.
PT. Super Unggas Jaya Malang memiliki struktur organisasi perusahaan yang
dipimpin oleh seorang Manager, 1 Supervisor, 1 HRD, 2 Foreman, 1 mekanik, 1
HDC, 1 Warehouse, 14 Security, 5 orang bagian umum dan 30 Operator Kandang

Gambar 2.2 Struktur Organisasi PT. Super Unggas Jaya

6
Dari struktur organisasi di atas, berikut ini adalah deskripsi tugas dari PT.
Super Unggas Jaya Unit Malang:
Tabel 2.2. Struktur Organisasi PT. Super Unggas Jaya Malang
Jabatan Tugas
Manager/ Head Farm Melakukan pengawasan secara menyeluruh semua
aktifitas perusahaan dan mempunyai hak untuk
membuat kebijakan di perusahaan yang bertujuan
mengembangkan perusahaan
Supervisor Menjalankan semua program yang dibuat oleh
manager dan menyelesaikan masalah yang ada di
lapang dan sebagai penghubung antara karyawan
dengan manager
Foreman Asisten supervisor yang bertugas membantu
program kerja dari supervisor yang turun langsung
ke lapang mengontrol kinerja karyawan kandang
PGA/ Administrator Membuat dan mendokumentasikan laporan
kegiatan
Human Resource Manajemen sumber daya manusia
Development (HRD)
Head Disease Control Mengontrol kesehatan ayam
(HDC)
Chief Flock Kepala dari beberapa kandang
Operator Kandang Melakukan pemeliharaan ayam di kandang
Washer Mencuci pakaian, sepatu transit dan pakaian
lapanh
Petugas gudang pakan Melakukan distribusi pakan ke setiap kandang
Mekanik Memperbaiki kendala peralatan dan kelistrikan
Security Melakukan penjagaan dan pengamanan
Bagian Umum dan Melakukan kegiatan membersihkan seluruh area
Warehouse farm

7
BAB III METODE KEGIATAN
3.1 Lokasi dan Waktu Kegiatan
Kegiatan Koasistensi Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) Industri
Pilihan Unggas dilakukan di PT. Super Unggas Jaya Unit Malang selama 14 hari
pada tanggal 08-21 Maret 2018.

3.2 Metode Kegiatan


Kegiatan PPDH dilaksanakan di PT. Super Unggas Jaya Malang dilakukan
dengan cara perkenalan secara langsung dari peserta Koasistensi Pendidikan
Profesi Dokter Hewan Universitas Brawijaya dengan pihak PT. Super Unggas
Jaya, kemudian kegiatan briefing yaitu penjelasan dari pihak PT. Super Unggas
Jaya kepada peserta kegiatan Koasistensi mengenai segala bentuk kegiatan yang
akan dilakukan sesuai dengan tujuan dari kegiatan ini. mengumpulkan data
sekunder dan primer sebagai bahan kajian.
Bentuk kegiatan dalam pengumpulan data primer, dilakukan dengan
kunjungan secara langsung yang meliputi :
1. Wawancara dan diskusi secara langsung dengan manager unit breeding farm,
dokter hewan pembimbing lapang, operator kandang mengenai manajemen
produksi, pemeliharaan, perkandangan dan kesehatan di PT. Super Unggas
Jaya Malang.
2. Partisipasi terhadap kegiatan yang dilakukan di PT. Super Unggas Jaya
seperti mengikuti prosedur biosekuriti yang sudah ditetapkan, menghitung
dosis vitamin, pengambilan sampel darah, ikut serta dalam kegiatan grading
dan vaksinasi.
3. Observasi dilakukan selama berlangsungnya kegiatan koasistensi dengan cara
mengamati dan mencatat secara langsung kondisi yang terjadi di lapangan.
Sumber data sekunder diambil berdasarkan laporan catatan kesehatan
hewan dan recording produksi di PT. Super Unggas Jaya, buku, jurnal, serta
penelusuran dengan memanfaatkan teknologi internet.

8
3.3 Jadwal Kegiatan Koasistensi
Tabel 3.1. Jadwal kegiatan
Waktu Keterangan
08 Maret 2018  Penerimaan Mahasiswa PPDH oleh pihak PT. Super
Unggas Jaya Unit Malang
 Pengenalan farm oleh Farm Head
 Diskusi manajemen pemeliharaan secara singkat
09 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 10
 Grading betina berdasarkan berat badan pada kandang 6
 Diskusi singkat tentang manajemen pemberian pakan
10 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 7
 Grading pejantan pada kandang 7
 Diskusi singkat tentang sexing error
11 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 12
 Vaksinasi AI secara IM pada kandang 12 (umur 13
minggu)
12 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 11
 Vaksinasi EDS Killed IM dan ND live IO kandang 11
(umur 14 minggu)
 Diskusi manajemen perkandangan dengan farm head
13 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 8
 Perhitungan ayam kandang 8
 Diskusi manajemen kesehatan dengan HDC
14 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 7
 Vaksinasi EDS Killed IM dan ND-IB IO kandang 7
 Diskusi manajemen pemeliharaan ayam secara
keseluruhan dengan farm head dan supervisor
15 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 8
 Vaksinasi coryza IM dada kandang 8 (umur 16 minggu)
16 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 11
 Pengambilan sampel darah kandang 9
17 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 3
 Diskusi manajemen kandang dengan supervisor
18 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 5
 Vaksinasi AI Kill IM kandang 5 (umur 18 minggu)
 Diskusi manajemen biosecurity dengan supervisor
19 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 1
 Vaksinasi kandang 1 (umur 20 minggu)
20 Maret 2018  Monitoring pemberian pakan kandang 4
 Bimbingan materi presentasi dengan supervisor
21 Maret 2018  Presentasi hasil kegiatan koasistensi rotasi industri dan
evaluasi dengan Farm Head dan HDC

9
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Operasional Perusahaan
4.1.1 Manajemen kandang
1. Tipe Kandang
Tipe kandang pada PT. Super Unggas Jaya Malang menggunakan tipe
kandang tertutup (closed house) yang dilengkapi dengan exhaust fan, cooling
system dan tirai/ penutup dinding samping yang diatur secara manual, dimana
closed house pada breeding farm ini menggunakan full liter di dalam kandang.
Kandang closed house dapat mengeluarkan panas dan dapat mengatur suhu
serta kelembaban di dalam kandang dengan menggunakan cooling pad (inlet)
dan blower (outlet). Menurut Achmanu dan Muharlien (2011) menyatakan
bahwa kandang dinding tertutup merupakan sistem kandang yang harus
sanggup mengeluarkan kelebihan panas, kelebihan uap air, gas-gas yang
berbahaya seperti CO, CO2 dan NH3 yang ada dalam kandang melalui
mekanisme pengaturan suhu dan kelembapan yang umumnya dengan
menggunakan cooling pad, tetapi disisi lain dapat menyediakan berbagai
kebutuhan oksigen bagi ayam.
2. Arah Kandang
Arah kandang di PT. Super Unggas Jaya Malang membujur dari timur
ke barat dan dan saling berjejer dari kandang 1-5 pada flock atas, sedangkan
kandang 6-12 pada flock bawah. Menurut Sudarmono (2003) tujuan kandang
membujur dari timur ke barat untuk menekan terjadinya pengumpulan panas
di dalam kandang. Terdapat pagar pengaman yang terbuat dari batako dengan
tinggi 4 m yang membentang di sekeliling lokasi farm sebagai pembatas
lokasi serta mencegah masuknya binatang liar dan orang-orang yang tidak
dikehendaki sehingga terdapat hanya satu pintu masuk menuju farm yang
terletak di bagian depan lokasi farm. Hal ini sesuai dengan yang dijelaskan
oleh Permentan (2010) bahwa breeding farm harus diberi pagar keliling
dengan tinggi minimal 2 m dengan sistem satu pintu masuk one way system.

10
3. Ukuran Kandang
Kandang closed house di PT. Super Unggas Jaya Malang dibangun
dalam 2 flock yaitu flock atas kandang 1-5, sedangkan flock bawah kandang
6-12. Sistem yang digunakan adalah all in-all out dengan tujuan untuk
memudahkan dalam pemanenan dan manajemen kegiatan persiapan kandang
dan peralatan yang digunakan, penggunaan dan pengaturan litter, perlakuan
saat DOC datang, sanitasi kandang, pemberian pakan dan air minum, seleksi,
pemberian vitamin dan obat-obatan, serta pemanenan. Panjang bangunan
kandang 120 m, lebar 12 m, serta tinggi 2,5 m. Dalam setiap kandang terbagi
10 pen, yang terdiri dari pen 1-8 untuk betina, pen 9-10 untuk pejantan. Jarak
antar kandang 4 m dan jarak antar flock 18 m.
4. Lantai Kandang
Pada PT. Super Unggas Jaya Malang menggunakan lantai kandang
yang terbuat dari semen yang dihaluskan kemudian dialaskan litter berupa
sekam dengan ketinggian sekitar 10 cm. Pada fase brooding lantai kandang
selain meggunakan litter juga menggunakan kertas meram yang diletakkan di
atas sekam dengan tujuan untuk memudahkan ayam dalam mendapatkan
makanan. Fungsi litter adalah untuk menjaga kehangatan dan kelembapan
ayam dan kandang, merangsang behavior ayam yaitu mengeram dan sebagai
media untuk membersihkan diri.
5. Atap Kandang
Atap yang digunakan di PT. Super Unggas Jaya Unit Malang tipe gable
berbahan solid wall yang dapat menghambat panas dengan tinggi atap pinggir
kandang 2,5 m. Solid wall merupakan dinding yang terbuat dari bahan
alumunium yang di dalamnya terdapat suatu sterofoam yang mampu
menstabilkan suhu di dalam kandang. Menurut Murni (2009) atap kandang
dibuat sesuai dengan fungsinya melindungi bangunan beserta isinya dari
panas matahari, hujan, dan angin. Bahan bangunan kandang yang terbuat dari
solid wall bersifat kedap air dan mudah untuk dibersihkan.

11
6. Sistem Ventilasi
Ventilasi kandang tertutup menggunakan blower fan untuk mendorong
udara dari dalam kandang keluar kandang yang disebut outlet. Sebagai
pendingin ruangan digunakan cooling pad memberikan udara dingin ke dalam
kandang yang disebut inlet. Cooling pad yang berfungsi sebagai pendingin
ruangan kandang terdapat di bagian sisi kanan- kiri pen 1 (paling depan) yang
memanjang sepanjang 8m. Dalam kandang closed house terdapat blower fan
yang dipasang di bagian belakang kandang berjumlah 8 buah. Blower fan
terdapat plastik yang dapat membuka menutup secara otomatis tergantung
dari pengaturan panel. Pada tiap fase jumlah blower yang bekerja berbeda
tergantung dengan tingkat kepadatan ayam, jumlah hasil gas yang
dikeluarkan sama evaporasi, dan umur ayam. Menurut Fadilah, dkk (2007)
cara kerja blower fan dibagi dua yaitu mendorong masuk dan menyedot udara
keluar dan sistem kerja blower fan yang menyala berbeda-beda tiap fasenya.
7. Dinding Kandang
Pada dinding kandang bagian luar dipasang terpal tirai berwarna gelap
yang menutup bagian dinding kandang. Dinding kandang dengan konstruksi
tertutup akan membuat cahaya dan udara tidak dapat masuk ke dalam
kandang. Pada fase grower tirai berwarna gelap akan selalu terpasang dan
menciptakan suasana gelap. Pada fase laying, tirai berwarna gelap akan
diturunkan agar cahaya dapat masuk dan berfungsi untuk merangsang hormon
pada ayam. Menurut Rasyaf (2008) penutupan tirai pada dinding kandang
bertujuan untuk melindungi kandang dari pengaruh lingkungan di luar
kandang antara lain hujan, angin yang terlalu kencang, dan mencegah
masuknya bibit-bibit penyakit ke dalam kandang. Kelemahan dari sistem ini
adalah apabila pengaturan cahaya tidak tepat akan menyebabkan ayam
menjadi stress.
8. Tempat Pakan
Pada PT. Super Unggas Jaya Malang menggunakan dua model tempat
pakan. Tempat pakan betina dan jantan yaitu track feeder (through). Hanya
saja untuk sistem pengedaran pakan pada jantan secara manual, sedangkan

12
pada betina dibantu oleh alat secara otomatis. Tempat pakan betina diletakkan
pada alas litter yang dilengkapi chain (berfungsi menggerakkan dan
meratakan pakan betina), grill ( berfungsi sebagai penutup feeder hrough agar
pakan tidak dimakan ayam jantan), hooper (berfungsi sebagai tempat
penampungan pakan betina sebelum diedarkan oleh chain), dan
motor/penggerak chain (berfungsi sebagai mesin penggerak rantai pada
feeder through). Satu kandang terdapat 3 jalur through feeder, jalur 1,2, dan 3
memiliki panjang jalur yang berbeda sehingga berpengaruh pada jumlah
pakan yang diberikan. Masing-masing jalur dilengkapi oleh motor/penggerak
chain untuk mengedarkan pakan dengan satu kali pergerakan. Satu kali
pergerakan artinya pakan mulai keluar dari hopper dan kembali pada hopper
yang sama dengan membutuhkan waktu 1 menit. Sepanjang through feeder
dipasang grill di bagian atas yang terbuat dari besi memiliki jarak kisi
sepanjang 5 cm. Jarak kisi tersebut disesuaikan dengan ukuran kepala ayam
betina .
Terdapat penambahan through sebanyak 1 buah pada pen 8 pada saat
memasuki fase growing (umur 15 minggu). Hal ini disebabkan karena space
feeder ayam tidak mencukupi dengan kapasitas ayam sehingga banyak ayam
yang tidak kebagian pakan saat pemberian pakan di pagi hari. Apabila itu
terjadi secara melanjut maka akan terjadi ketidakseragaman bobot badan dan
berakibat buruk pada fase akhir grower. Menurut Aviagen (2014) pakan yang
diberikan harus merata dan segaram di seluruh sistem pakan untuk
memungkinkan kesempatan yang sama bagi semua ayam untuk mendapatkan
pakan pada waktu yang sama. Distribusi pakan yang tidak merata dapat
menghasilkan kinerja yang menurun, meningkatkan kerusakan yang berkaitan
dengan persaingan di tempat pakan. Untuk mendapatkan pakan yang merata
juga harus memperhatikan feeder space untuk setiap nampan dan lintasan.
Tempat pakan pejantan menggunakan through feeder yang tergantung
sejajar dengan kepala ayam yang bisa dinaikkan atau diturunkan
menggunakan katrol. Penggunaan through feeder pada setiap fase berbeda
jumlahnya. Pada fase starter dan grower through feeder diletakkan pada pen 9

13
dan 10 dengan jumlah 3 through tiap pen. Saat memasuki fase laying through
feeder diletakkan pada pen 1-10 sejumlah satu buah dengan panjang 120 m.
Pemberian pakan pada jantan dilakukan secara manual.

Gambar 4.1 Skematis pemberian pakan PT. Super Unggas Jaya

9. Tempat Air Minum


Manajemen pemberian air minum pada PT. Super Unggas Jaya unit
Malang menggunakan tempat minum otomatis yang disebut dengan nipple.
Air yang mengalir menuju nipple berasal dari sumur bor untuk
meminimalisasi cemaran E.coli yang kemudian akan ditampung dalam
tempat penampungan yang sudah diberikan clorin.
Beberapa komponen pada watering system yang digunakan di PT.
Super Unggas Jaya Malang yaitu pipa air berfungsi untuk menyalurkan air,
tandon berfungsi sebagai tempat penampungan air, pompa air berfungsi
untuk memompa air di sumur, filter sebagai penyaring air dari kotoran dan
endapan dari penampungan air, regulator berfungsi mengatur tekanan air dan
pemerataan air ke seluruh nipple dan sebagai alat untuk membersihkan
saluran pipa nipple (flushing), Nipple sebagai tempat minum ayam,
medikator berfungsi sebagai tempat pencampuran obat maupun vitamin pada
air minum, Shocker adalah kawat yang yang terbentang di atas pipa saluran

14
nipple agar ayam tidak bertengger di atas pipa saliran nipple, Mangkuk
berfungsi untuk menampung air dari saluran lubang nipple apabila air
menetas sehingga tidak langsung menetes pada litter yang dapat
menyebabkan litter menggumpal dan basah sehingga cocok sebagai media
untuk pertumbuhan bakteri.
Pernyataan ini sesuai dengan Goan (2010) Saluran nipple dalam satu
kandang berjumlah 4 saluran yang terbagi menjadi 2 yaitu sebanyak 2
saluran terdapat di bagian kiri dan 2 saluran terdapat di bagian kanan
kandang. Nipple terletak sejajar dengan feeder through dengan prinsip kerja
nipple adalah ayam yang mematok lubang nipple akan memberikan tekanan
pada nipple sehingga air keluar. Saluran nipple memiliki panjang 116 m
untuk setiap salurannya. Terdapat 1.544 nipple dalam satu kandang, masing-
masing nipple digunakan untuk 6 ekor ayam. Hal ini diperoleh dari
pembagian populasi dan jumlah total nipple. Menurut Aviagen (2014) tiap
nipple mampu mencukupi 8-12 ekor dengan jarak antar nipple 30 cm.
Adapun ketinggian nipple harus sejajar dengan kepala ayam dan ketinggian
nipple mengikuti umur ayam.
10. Sistem pencahayaan
Pencahayaan merupakan aspek penting bagi aktivitas ayam. Sistem
pencahayaan yang digunakan pada PT. Super Unggas Jaya Malang tiap fase
berbeda sesuai dengan kebutuhan. Pada fase starter cahaya lampu sangat
dibutuhkan guna menghangatkan tubuh. Pada fase grower menggunakan
penerangan lampu pada saat putar pakan saja, setelah itu lampu dimatikan
dengan intensitas standar sebesar 10 lux. Karena pada fase grower tidak
membutuhkan cahaya terlalu terang yang akan mengakibatkan perkembangan
alat reproduksi terlalu cepat. Sedangkan pada fase laying sangat diperlukan
sistem cahaya yang terang untuk merangsang terjadinya ovulasi dan
pembentukan telur yang sempurna sehingga dapat dijadikan telur tetas.
Menurut Sudaryani dan Santosa (2004) cahaya mempunyai peranan penting
dalam membantu pendewasaan ovarium. Pada PT. Super Unggas Jaya Unit
Malang tersedia sekitar 112 buah lampu dengan intensitas yang sama pada

15
setiap kandang. Jika dihubungkan dengan luas kandang, maka untuk setiap
satu buah lampu mampu mengcover sekitar 13 m2 luas kandang. Warna
lampu yang digunakan untuk pencahayaan adalah warna kuning karena
mampu memberikan efek stimulus terhadap sekresi hormon gonadothropin
pada hipofisa anterior. Selain itu, warna kuning paling mudah diterima oleh
mata ayam karena memiliki gelombang yang tepat, tidak terlalu gelap
maupun terang sehingga mampu memberikan kenyamanan terhadap aktivitas
ayam. Secara umum sistem pencahayaan di PT. Super Unggas Jaya Malang
telah sesuai dengan prosedur yang benar.
4.1.2 Sanitasi Kandang
Proses sanitasi terdiri dari beberapa tahapan yang terdiri dari pembersihan
dan desinfeksi. Tahapan diawali dari penyebaran racun tikus pada setiap bagian
dari kandang yang mungkin disukai oleh tikus, terutama pada bagian seperti chain
feeder, pan feeder, dan setiap sudut dari kandang, spraying insektisida pada
kandang, penutupan tirai, cell deck, dan mematikan blower dibiarkan selama 1
hari selanjutnya dilakukan spray formalin 10 % dan penutupan kandang selama 2
hari. Perlakuan spraying insektisida bertujuan untuk membasmi serangga seperti
black mite/ franky pada kandang.
Tabel 4.1 Nama Desinfektan yang Digunakan PT. Super Unggas Jaya.

Nama Desinfektan Dosis Keterangan


0,5-1 ml/1 L air Sanitasi lingkungan, kandang
dan shower
Bromoquad
0,1 ml/1 L air Sanitasi air minum (aman
diminum ayam).
Formalin 10% Sanitasi kandang dan
lingkungan.
(Formalin Sanitasi kandang kosong
40ml+KmnO4 20
gram)/ 3 m3
Formalin 37%
ruangan)
(Formalin Fumigasi HE
120ml+KmnO4 60
gram)/ 3 m3
ruangan)
Lisol 5 ml/ 1L air Car dipping/ Bak celup
(BenzoniumChloride)

16
TH4+ dan D4+ 1-5 ml/1 L air Spray lingkungan, kandang dan
(glutaraldehid) shower
Opticide 7 ml/1 L air Spray lingkungan, kandang dan
(isopropenol, etilen shower
glikol)
Mefisto 10-20 ml/1 L air Spray kandang dan lingkungan
(Amonium Chloride,
Glutaraldehyde,
permethrin)
Tek troll 2-4 ml/1 L air Spray kandang, lingkungan,
(Fenol) shower, mencuci telur
Longlife 2,5-4 ml/1 L air Car dipping/ Bak celup
(surfaktan)
5-10 ml/1 L air Obat kutu dan serangga, untuk
Butox spray kandang setelah ayam
(Deltamethryn) diafkir/persiapan kandang.
1-2 ml/1 L air Spray lingkungan
Kapur 100 kg/kandang Membantu membunuh
mikroorganisme pathogen,
dilakukan pada waktu kosong
kandang.
Agita 10 WG 150 g/1 liter Spray serangga dan lalat
(tiametaksam) airandang

4.2 Manajemen Nutrisi


Pengelolaan peternakan ayam harus mencakup 3 point yaitu yaitu bibit,
manajemen dan pakan ternak. Ternak unggas dapat tumbuh cepat, sehat, dan
bertelur secara optimal membutuhkan pakan yang mengandung 6 macam gizi
yaitu protein, karbohidrat, lemak, vitamin, mineral dan air. Asam amino pada
protein dibutuhkan ternak unggas untuk pembentukan sel, menggantikan sel mati,
membentuk jaringan tubuh seperti daging, kulit, telur, embrio dan bulu.
Karbohidrat yang dapat dicerna oleh unggas akan dihidrolisis enzim amilase dan
glukosidase menjadi glukosa yang diserap dari saluran pencernaan uanggas
sebagai sumber utama energi ternak. Lemak pada pakan akan dicerna menjadi
asam-asam lemak yang dibutuhkan untuk produksi telur, lapisan lemak diantara
daging dan sebagai sumber energi kebutuhan aktivitas unggas. Vitamin
dibutuhkan unggas untuk menjaga kesehatan secara umum, kesehatan mata dan
untuk membantu pembekuan darah, untuk kesehatan otot, fertilitas dan daya tetas

17
telur. Mineral secara umum berperan penting dalam pertumbuhan tulang,
pembentukan kerabang telur, keseimbangan dalma tubuh dan fertilitas. PT. Super
Unggas Jaya Malang menggunakan strain ayam pedaging strain Ross 308. Strain
ini merupakan strain pilihan terbaik untuk industri ayam pedaging. Unit farm
memelihara ayam mulai dari DOC sampai usia afkir yaitu pada usia 66 minggu.
Selama kegiatan koasistensi, mahasiswa PPDH mengamati manajemen pakan
ayam pada fase growing yang ada di farm tersebut.
4.2.1 Growing
Masa growing untuk ayam broiler adalah usia 6 minggu sampai 19 minggu
yang bertujuan untuk mempersiapkan pertumbuhan dan perkembangan yang cepat
dalam pembentukan kerangka, otot dan bulu, mengatur berat badan baik betina
maupun jantan sesuai dengan target standar strain yang dipelihara, keseragaman
flock yang baik untuk mencapai kematangan dan keseragaman sexual. Pada ayam
fase growing kebutuhan nutrisi protein, lemak, serat kasar dan mineral dibutuhkan
untuk pertumbuhan badan dan organ reproduksi.
Tabel 4.2 Komposisi pakan pada fase growing
Komposisi Jumlah (%)
Air Maks 13
Protein 14-16
Lemak Min 5,5
Serat Kasar Maks 5,5
Abu Maks 7,5
Calcium 0,9-1,15
Phospor 0,6-0,9
Sumber: Label pakan fase growing produksi PT CJ Feed Jombang

Panduan maksimum khusus untuk kadar air pakan yaitu 14% (kurang dari
14%) untuk menjamin kesegaran pakan terutama untuk menghindari pertumbuhan
jamur dimana kadar air pada pakan BBG telah sesuai dnegan ketentuan SNI pakan
unggas. Semakin sedikit kadar air pakan maka kualitas pakan akan semakin baik.
Menurut Ketaren (2010) bahwa kebutuhan protein ayam breeder pada masa
growing yaitu berkisar antara 15-16 %. Hal ini sesuai dengan komposisi nutrisi
protein pada pakan fase growing yang digunakan pada farm. Pada fase ini
pertambahan sel perlahan akan terhenti dan menjadi proses pembesaran sel. Jika

18
kadar protein ransum growing masih sama dengan brooding, maka berefek pada
tubuh ayam yang akan menyimpan kelebihan protein tersebut sebagai deposit
lemak yang akan disimpan pada saluran reproduksi. Untuk mengatasi hal ini salah
satu cara adalah dengan mengurangi protein pada ransum fase growing dibanding
fase brooding.
Pada fase ini perlu adanya kontrol berat badan dan dilakukannya
keseragaman. Keseragaman yang baik dapat diartikan ayam dalam 1 populasi
memiliki kesamaan dalam hal ini yaitu keseragaman berat badan, keseragaman
sexual maturity dan konsumsi pakan. Kondisi ini menjadi syarat penting agar
nantinya diharapkan produksi bisa optimal. Penimbangan untuk berat badan di
seminggu sekali dengan cara melakukan penimbangan pada sampel ayam, 5% dari
sampel ayam betina dan 10% dari sampel ayam jantan. Berat badan ayam sesuai
standar dihitung berdasarkan rata-rata berat badan dengan ranged mencapai
±10%. Seleksi ayam dilakukan pada fase grower ini agar mendapatkan
keseragaman yang mencapai >80%. Seleksi diperusahaan ini dilakukan dengan
cara menimbang ayam per kandang dan membaginya berdasarkan bobot atau
berat badannya. Kelompok ayam yang mempunyai berat paling bagus akan di
tempatkan pada pen yang paling depan dan kelompok ayam yang memiliki berat
badan yang paling buruk akan ditempatkan di pen yang paling belakang. Hal
tersebut di harapkan ayam yang mempunyai berat badan kurang baik tidak
bersaing dengan ayam yang sudah mempunyai berat yang bagus dan mampu
memaksimalkan konsumsi pakan dan minum sehingga dapat memperbaiki berat
badannya.
4.3 Manajemen Produksi
PT. Super Unggas Jaya Malang bergerak dalam pemeliharaan ayam parent
stock Ross 308. Strain ini merupakan strain pilihan terbaik untuk industri ayam
pedaging. Unit farm memelihara ayam mulai dari DOC sampai usia afkir yaitu
pada usia 66 minggu dimana terdiri dari 4 fase yaitu fase brooding (0-5 minggu),
fase growing (6-19 minggu), fase pre-laying (20-23 minggu) dan fase laying (24-
65 minggu). Pada saat koasistensi, ayam yang dipelihara di PT. Super Unggas
Jaya memasuki fase growing yang brumur 16-19 bulan.

19
Fase growing dimulai dari ayam berumur 6 minggu hingga umur 19
minggu. Ayam pada fase growing harus dipelihara secara optimal sebagai
persiapan untuk masa produksi. Pada fase ini, ayam betina mulai menggunakan
chain feeder yang dapat mendistribusikan makanan secara otomatis. Panjang
chain feeder dan track feeder ditambah secara bertahap untuk menyesuaikan
feeding space masing-masing ayam. Ayam yang berumur 10 minggu lebih akan
membutuhkan feeding space minimal 15 cm agar dapat makan dengan baik.
Feeding space yang tidak mencukupi, akan membuat ayam kesulitan untuk
mencari makan dan menyebabkan penurunan keseragaman (Aviagen, 2018). Pada
fase growing, penggolongan (grading) dilakukan secara rutin untuk mencapai
target keseragaman diatas 85%.
Grading yang dilakukan pada PT. Super Unggas Jaya Malang dilakukan
saat ayam berumur 4 – 10 minggu untuk betina dan 6 - 12 minggu untuk ayam
jantan. Grading ayam dilakukan minimal 3 jam setelah ayam makan. Grading
ayam dibagi kedalam 3 grade yaitu small, standart dan large. Setiap grade dipisah
kedalam pen yang berbeda. Pen yang paling depan adalah pen dengan berat badan
yang paling tinggi (large) dan yang paling akhir adalah ayam dengan berat badan
ringan (small). Pada ayam berumur 12 keseragaman berat badan diharuskan
mencapai 80%. Pada umur 15 minggu berat badan sudah sesuai standart dan
uniformity >80%.
4.4 Proses Distribusi Perusahaan
Produk akhir dari produksi yang dilakukan oleh PT. Super Unggas Jaya
Malang yaitu Hacthing Egg (HE) dimana pas farm tersebut belum memiliki
fasilitas untuk proses penetasan telur sehingga HE akan dikirim ke PT. Super
Unggas Jaya Pasuruan. Adapun persiapan sebelum pengiriman hacthing egg yaitu
grading, packing, dan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SSKH) dari dinas
peternakan setempat apabila akan dikirim antarprovinsi atau antarpulau. Sebelum
dilakukan grading, telur harus difumigasi triple dose (120 cc formalin per 2,83
m3) dan campuran PK sebanyak 60 gram. Grading telur dilakukan di dalam
kandang agar memudahkan dalam memisahkan telur grade out (bukan HE) seperti
telur jumbo, retak, kotor, abnormal dan berat kurang dari 50 gram dimana telur

20
tersebut akan djual sebagai telur komersial. Setelah dilakukan grading, HE diberi
kode tanggal produksi, umur induk, asal farm dan kandang, serta kode grade HE
yang kemudian akan dilakukan packing. HE yang akan dikirim ke hatchery
ditempatkan pada egg tray plastic isi 36 yang sebelumnya sudah disanitasi dengan
desinfektan. Mobil yang digunakan mengangkut HE dilengkapi dengan sirkulasi
yang baik menggunakan kipas serta dalam kabin mobil terdapat kontrol kipas
untuk mengatur dan monitor nyala matinya kipas. Mobil harus didesinfeksi
dengan cara dicuci bersih dan dispray menggunakan desinfektan.
4.5 Manajemen Kesehatan
Manajemen kesehatan di PT. Super Unggas Jaya memiliki 3 tahapan yaitu
meliputi manajemen preventif, manajemen medikasi dan manajemen monitoring.
4.5.1 Manajemen Preventif
Tindakan preventif disini adalah tindakan yang dilakukan dengan harapan
ayam memiliki kekebalan antibodi yang cukup sehingga ayam tersebut kebal
terhadap suatu jenis mikroorganisme dengan menerapkan beberapa program
seperti:
1. Program Vaksinasi
Vaksinasi merupakan suatu tindakan memasukkan agen penyakit
(antigen) yang telah dilemahkan atau dimasukkan secara sengaja kepada
hewan dengan tujuan untuk merangsang pembentukan daya tahan atau
tanggap kebal tubuh terhadap suatu penyakit tertentu dan aman. Jenis vaksin
yang digunakan di PT. Super Unggas Jaya Malang terdiri dari dua yaitu:
1. Vaksin lived (vaksin aktif)
Mikrrorganisme yang diproses untuk menurunkan tingkat
virulensinya dengan cara diatenuasi, namun harus mampu mereplikasi
dalam tubuh pasien untuk memberikan imunitas. Keuntungan dari vaksin
lived adalah mampu menstimulasi pembentukan antibodi protektif lebih
cepat daripada vaksin killed
2. Vaksin killed (vaksin inaktif)
Mikroorganisme telah diolah untuk dimatikan tanpa
menghilangkan sifat antigeniknya dimana diolah secara kimia atau

21
dipanaskan untuk membunuh mikroba. Vaksin killed ditambahkan
adjuvant (zat yang meingkatkan respon kekebalan tubuh dengan
meningkatkan kestabilan vaksin dalam tubuh)
Rute vaksinasi disesuaikan dengan jenis vaksin yang diberikan.
Vaksinasi dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :
1. in ovo
Umumnya dilakukan untuk vaksin Marek’s yang diberikan pada
TET (telur Embrio Tertunas) umur 18 hari dengan alat khusus. Vaksinator
harus terlatih menggunakan alat agar sterilitas terjamin sehingga
efektivitas dan produktivitas antibody dapat tercapai secara maksimal
2. Spray
Spray vaksinasi dapat mengurangi stress dibandingkan vaksinasi
dengan tetes mata atau dampak pemuasaan dan rendahnya kualitas air
pada teknik melalui air minum.
3. Air minum
Cocok untuk vaksinasi khusus penyakit saluran pencernaan seperti
IBD bahkan saluran pernapasan karena adanya cloanal cleft pada rongga
mulut. Penggunaan rute vaksin ini tidak diperbolehkan adanya residu
disinfektan, chlorine, atau obat 2 hari sebelum vaksinasi dan 1 hari
(24jam) setelah vaksinasi. Biasanya ditambahkan skim milk powder yang
akan bereaksi dengan vaksin untuk membantu menetralisir air yang
tercemar. Sebelum vaksinasi, ayam harus dipuasakan terhadap minum 1
sampai 3 jam sehingga ayam cukup haus.
4. Eye drop/ tetes mata
Rute tetes mata cocok untuk penyakit saluran pernafasan (NCD,
ILT). Targetnya adalah seluruh permukaan mata untuk kemudian terserap.
Keuntungan padaa unggas dibandingkan mamalia adalah adanya
harderian gland pada unggas disekitar mata yang dapat menstimulasi
pembentukan antibody lokal disekitarnya. Kelebihan lainnya yaitu vaksin
akan mengalir pada saluran nasal-lachrymal menuju rongga mulut
sehingga vaksin akan terhisap dan tertelan, kondisi ini akan mendorong

22
respon imun pada sel dan jaringan. Agar mudah teramati, pelarut berwarna
biru. Jangan sampai vaksin terjatuh disekitar mata, oleh sebab itu
memerlukan keahlian dalam memegang ayam. Setelah tervaksin, ayam
terkedip mengindikasikan vaksin telah masuk.
5. Wing Web
Rute ini sebagian besar untuk penyakit Fowl Pox, Avian
encephalomyelitis dan Fowl cholera. Biasanya menggunakan jarum
dengan 2 mata yang digesekkan pada sayap sampai vaksin terlepas pada
bagian yang mengalami lesi. Biasanya sampai 7 hari meninggalkan
kebengkakkan, yang mengindikasikan vaksinasi berhasil. Namun jika
terbentuk nanah mengindikasikan terjadinya infeksi sekunder oleh bakteri.
6. Subkutan/ Intramuskular
Subcutaneous atau intramuscular injection merupakan rute paling
popular pada unggas dengan menggunakan inactivated vaccines. Vaksin
ini mengandung killed viral or bacterial particles dalam jumlah besar yang
ditambahkan adjuvant. Adjuvant merupakan minyak yang mampu
membawa vaksin untuk menstimulasi reaksi imun namun dapat
mengurangi respon pada jaringan. Umumnya adjuvant dalam bentuk
larutan air dan atau minyak. Larutan air akan membawa vaksin dan oil
(biasanya mineral oil) merangsang reaksi imun sel dan memperpanjang
lama kekebalan yang dibentuk.
Program vaksinasi merupakan salah satu cara dalam pengendalian
penyakit infeksi virus. Program vaksinasi disusun dengan mempertimbangkan
beberapa aspek yang meliputi riwayat penyakit yang ada di peternakan.
Berikut ini adalah jadwal program vaksinasi yang diterapkan di PT. Super
Unggas Jaya memiliki program vaksinasi yang sudah terjadwal dengan rapi
(Tabel 4.3).

23
Tabel 4.3 Jadwal Program Vaksinasi di PT. Super Unggas Jaya

FASE BROODING
Umur Vaksin Tipe Aplikasi
1 hari Marek’s disease Live S/C (Hatchery)
Coccidiosis Live Spray (Hatchery)
ND-IB Live I/O (left)
7 hari IB Live I/O (right)
ND Killed S/C (0,15 cc/ekor)
12 hari IBD Intermediate Live Oral (0,22
cc/ekor)
18 hari ND-IB Live I/O (left)
ND-AI Killed S/C (0,3 cc/ekor)
FP Live W/W
26 hari IBD Intermediate Live Oral (0,5 cc/ekor)
30 hari ND-IB Live I/O (left)
FASE GROWER
6 minggu MG Live I/O
AI Killed I/M (0,3 cc/ekor)
7 minggu Coryza Live I/M leg (0,5
cc/ekor)
8 minggu IB Live I/O (right)
ND-IB Killed I/M (0,3 cc/ekor)
10 minggu AI Killed I/M (0,3 cc/ekor)
11 minggu ILT Live I/O
FP-AE + CAV Live W/W
13 minggu AI Killed I/M (0,3 cc/ekor)
14 minggu ND-IB Live I/O
ND-IB Killed I/M (0,3 cc/ekor)
16 minggu Coryza Killed I/M (0,5 cc/ekor)
18 minggu AI Killed I/M (0,3 cc/ekor)
FASE PRELAYING
20 minggu ND-IB Live I/O
ND-IB-IBD Killed I/M (0,3 cc/ekor)
22 minggu AI Killed I/M (0,3 cc/ekor)
FASE LAYING
26 minggu ND-IB Killed I/M (left 0,3
cc/ekor)
32 minggu AI Killed I/M (0,3 cc/ekor)
34 minggu ND-IB Live I/O
ND-IB Killed I/M (left 0,3
cc/ekor)
40 minggu ND-IB Live I/O
AI Killed I/M (0,3 cc/ekor)
45 minggu ND-IB Live I/O

24
ND-IB-IBD Killed I/M (0,3 cc/ekor)
55 minggu ND-IB Live I/O
60 minggu ND-IB Live I/O
Pelaksanaan program vaksinasi di PT. Super Unggas Jaya Malang
dimulai dari DOC hingga ayam umur 60 minggu. Pemberian vaksin perlu
memperhatikan hal-hal berikut yaitu:
1. Penerimaan vaksin
Penerimaan vaksin dilakukan di pos security dan petugas yang
berhak menerima adalah bagian dari departemen Health and Disease
Control. Vaksin yang diterima harus dalam kondisis tertutup rapat (termos
es, box sterefoam/cool box). Vaksin diperiksa jumlahnya, keadaan vaksin
dilihat dari botol, kemasan, segel, warna, kondisi adjuvant, tanggal
kadaluwarsa dan penyimpanan vaksin saat pengiriman
2. Penyimpanan vaksin
Suhu optimal penyimpanan vaksin yaitu 2-8oC menggunakan
kulkas. Suhu kulkas harus dipantau agar tetap pada suhu tersebut. Untuk
memastikan suhu dalam kulkas maka dilengkapi sebuah thermometer di
dalam kulkas
3. Cara membawa vaksin
Vaksinasi dilakukan dengan memperhatikan jenis dan dosis yang
akan digunakan. Vaksin yang akan digunakan dipindahkan pada cooling
box dan dilengkapi dengan dry ice dengan tujuan untuk menjaga suhu
vaksin tetap optimal. Vaksin lived dan vaksin killed harus dipisahkan
apabila akan melaksanakan vaksin kedua jenis tersebut. Vaksin lived
dikeluarkan dari box pendingin hanya saat akan dilarutkan dengan diluent
dan digunakan sehingga kurun waktu 2 jam vaksin harus sudah habis.
Vaksin killed harus di thawing selama 8-12 jam agar mencegah terjadinya
cold shock saat diinjeksikan ke hewan. Persiapan vaksinasi di PT. Super
Unggas Jaya Malang pada fase growing dilaksanakan pada pukul 10.00
WIB atau 2 jam setelah ayam makan.

25
2. Biosekuriti
Biosekuriti merupakan suatu bagian dari manajemen umum yang
harus diterapkan untuk menghindarkan ternak dari vektor pembawa penyakit,
mencegah penyakit dari luar kandang masuk ke dalam peternakan, ataupun
dari masyarakat sekitar (Widyantara, 2013).
a. Isolasi
Prosedur isolasi dapat diartikan sebagai tindakan untuk menjaga
ternak dalam suatu lingkungan yang terpadu dari bibit penyakit yang berasal
dari dalam maupun luar peternakan (Buhman, dkk. 2008). PT. Super Unggas
Jaya Unit Farm Malang dibangun diatas lahan kosong yang dikelilingi oleh
perkebunan tebu dan berjarak sekitar 200 meter dari pemukiman warga. Jarak
tersebut tidak sesuai dengan Permentan no. 40 tahun 2011 yang menyebutkan
bahwa peternakan pembibitan ayam harus terpisah dari pemukiman warga
dan berjarak minimal 500 meter dari pagar terluar. Prosedur isolasi di PT.
Super Unggas Jaya Malang menerapkan pembagian zona biosekuriti yang
terdiri dari tiga zona yaitu zona merah atau zona kotor (1), zona kuning atau
zona peralihan (2) dan zona hijau atau zona bersih (3). Masing-masing zona
terpisahkan oleh pagar pembatas dan terdapat prosedur desinfeksi yang harus
dilaksanakan jika akan berpindah zona.
b. Kontrol Lalu Lintas
Kontrol lalu lintas merupakan salah satu program biosekuriti yang
diterapkan di PT Super Unggas Jaya yang mencakup 3 aspek yaitu lalu lintas
manusia, lalu lintas kendaraan, dan lalu lintas barang yang mana
menggunakan sistme pintu tunggal (one gate) dengan tujuan untuk
memudahkan pengawasan. Adapun penjelasan tentang langkah biosekuriti
untuk lalu lintas manusia (pekerja dan pengunjung) yaitu:
1. Barang yang akan di bawa masuk ke kotak UV
2. Kaki dicelupkan pada bak cuci kaki sebelum memasuki shower
3. Pengunjung dan karyawan berjalan menuju ruang mandi melewati
ruang semprot desinfektan (ammonium bromida)

26
4. Pengunjung dan karyawan mandi dan keramas menggunakan sabun dan
sampo yang telah disediakan pada shower pertama
5. Menggunakan pakaian transit dan sepatu transit lalu pengunjung atau
karyawan memasuki area transit
6. Masuk ke dalam shower kedua karyawan atau pengunjung akan
disemprot desinfektan kembali dan mandi serta keramas
7. Memakai pakaian kandang dengan dilengkapi boots
8. Masuk ke dalam area kandang, mencelupkan boots ke bak celup yang
berisi desinfektan, menggunakan boots khusus kandang, dipping kapur
kering, tangan dan pakaian disemprot menggunakan desinfektan
(fenol).
Kontrol lalu lintas kendaraan yang akan memasuki farm telah diatur
dimana kendaraan-kendaraan yang berasal dari luar farm hanya
diperbolehkan masuk kedalam zona merah. Adapun kendaraan seperti truk
pengantar pakan, truk pengantar sekam, truk pengangkut makanan untuk
karyawan, truk pengangkut DOC dan truk pengangkut telur tetas
diperbolehkan menuju ke zona kuning. Kendaraan-kendaraan yang
diperbolehkan menuju zona hijau adalah kendaraan khusus yang hanya
dioperasikan didalam komplek peternakan. Kendaraan yang akan berpindah
zona, juga harus melalui prosedur desinfeksi melalui car shower yang
terdapat kolam celup ban dibawahnya yang disemprot menggunakan
desinfektan berupa glutaraldehida yang berguna untuk mematikan bibit
penyakit yang berasal dari luar peternakan dan terbawa oleh kendaraan-
kendaraan tersebut (ACMF, 2010). Kendaraan akan berada dalam car shower
selama beberapa waktu hingga seluruh bagian luar kendaraan telah terbilas
oleh desinfektan.
Kontrol lalu lintas barang yang akan dibawa masuk dari luar harus
disterilisasi terlebih dahulu melalui UV Box yang tersedia pada tiap shower
dimana mekanisme kerja sterilisasi menggunakan ultraviolet yang hanya akan
optimal apabila radiasi diberikan dalam jarak yang dekat dan mengenai
seluruh bagian permukaan barang (Kaoud, 2016).

27
c. Sanitasi
Sanitasi merupakan kegiatan desinfeksi untuk menghilangkan bibit
penyakit pada material, perorangan serta peralatan yang berada didalam ruang
lingkup peternakan (Cardona, 2008). Prosedur sanitasi yang dilakukan di PT.
Super Unggas Jaya Unit Farm Malang meliputi sanitasi air minum, sanitasi
sekam padi, sanitasi lingkungan, sanitasi kandang, dan sanitasi peralatan
kandang. Sanitasi air minum menggunakan kaporit atau klorin dengan kadar
3-5 ppm dan didiamkan dalam tandon selama minimal 2 jam sebelum
diberikan kepada ayam sebagai air minum. Sanitasi sekam padi menggunakan
formalin 5% yang diinjeksikan kedalam karung sekam melalui injector dan
pompa. Sanitasi lingkungan dilaksanakan rutin setiap pagi dengan cara
menyemprot seluruh area (spray area) komplek peternakan PT. Super
Unggas Jaya Unit Farm Malang menggunakan formalin 10%. Sanitasi
kandang setelah ayam diafkir menggunakan desinfektan berupa formalin dan
insektisida berupa deltamethrin, yang selanjutnya dilakukan proses desinfeksi
ulang menggunakan desinfektan lainnya seperti fenol. Peralatan-peralatan
yang digunakan selalu dicuci dengan air dan disemprot menggunakan
desinfektan apabila selesai digunakan. Egg tray dibersihkan menggunakan air
dan desinfektan berupa campuran kalium permanganat dan formalin.
Peralatan dalam kandang seperti chain feeder dan nipple drinker disanitasi
bersamaan dengan sanitasi kandang. Peralatan lainnya seperti alat-alat
vaksinasi disanitasi dengan cara direbus dalam air mendidih.
4.5.2 Manajemen Medikasi
Manajemen medikasi diperlukan untuk mengobati atau meringankan
gejala penyakit yang ada pada ayam. Manajemen medikasi termasuk meliputi
pemberian antibiotik dan suplemen makanan yang telah terprogram dengan baik.
Pemberian antibiotik bertujuan untuk mengontrol pertumbuhan bakteri, terutama
pada ayam di fase brooding karena pada fase tersebut rentan sekali terinfeksi
bakteri pada saluran pernapasan sehingga perlu di programkan pemberian
antibiotik yang tepat seperti seperti golongan Floroquinolone (Papich, 2007).

28
Penggunaan antibiotik harus diawasi dengan ketat oleh dokter hewan untuk
mencegah terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik.
Pemberian multivitamin sangat penting untuk membantu memenuhi
kebutuhan vitamin dan mempertahankan kondisi tubuh ayam (Cobb-vantress,
2013) dimana diberikan setiap minggu. Sifat ayam yang mudah stress terutama
setelah vaksinasi, maka perlu diberikan paracetamol yang dijadwalkan sehari
sebelum vaksinasi, pada saat vaksinasi, dan sehari setelah vaksinasi. Untuk
mencegah infeksi Eimeria sp. maka perlu diberikan obat-obatan coccidiostat
seperti Toltrazuril dan Ampolium juga diberikan dalam rangka mencegah
munculnya penyakit coccidiosis dan membantu kesuksesan program vaksinasi
coccidiosis. Coccidiostat akan diberikan sekitar dua minggu setelah ayam
divaksinasi coccidiosis. Dalam pelaksanaannya, seluruh obat-obatan dalam
program medikasi diberikan melalui pompa medikator yang kemudian akan
menyalurkan obat menuju nipple drinker untuk diminum oleh ayam bersamaan
dengan air minum. Berikut ini adalah program medikasi yang dilaksanakan di PT.
Super Unggas Jaya Malang.
Tabel 4.4 Program medikasi di PT. Super Unggas Jaya Malang.
Umur Medikasi Jenis Obat Dosis
Hari Sugar solution Sugar 0,2%
ke-1 Vaksin ND Clone 30 + IB I/O
(ND+IB)/IO
Multivitamin Avistress 1,5 g/2lt
Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
Enrofloxacine/Noran
Hari Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
ke-2 Enrofloxacine/Noran
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Hari Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
ke-3 Enrofloxacine/Noran
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Hari Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
ke-4 Enrofloxacine/Noran
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Hari Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
ke-5 Enrofloxacine/Noran
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt

29
C/Multivitamin
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-6 C/Multivitamin
Hari Vaksin IB 4/91 dan ND killed IO/SC
ke-7 (IB/IO+ND/SC)
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-8 C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-9 C/Multivitamin
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-11 C/Multivitamin
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-12 C/Multivitamin
Parasetamol/DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Vaksin IBD (PO) Gumboro MB Oral
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-13 C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-15 C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Coccidiostat (post Amprolium 0,3 g/lt (4-5 hour in DW)
ke-16 vaksin)
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Hari Coccidiostat (post Amprolium 0,3 g/lt (4-5 hour in DW)
ke-17 vaksin)
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Hari Vaksin (ND+IB IO, Clone 30+Ma %/ Lasota+ IO, SC, WW
ke-18 ND+ AI killed SC, Ma %, ND+AI, FP
FP WW)
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-19 C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari ke Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
20-25 C/Multivitamin
Hari Vaksin IBD Gumboro MB Oral
ke-26 Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt

30
ke-27 C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-30 C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Hari Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-31 C/Multivitamin
Parasetamol /DW Parasetamol 10 mg/kg BB
Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
Enrofloxacine/Noran
Hari Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
ke-32 Enrofloxacine/Noran
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Hari Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
ke-33 Enrofloxacine/Noran
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Hari Antibiotik /DW Fosbac + T/ -
ke-34 Enrofloxacine/Noran
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Minggu Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
ke-5 C/Multivitamin
Minggu Vaksin MG Ceva MG F IO
ke-6 Vaksin AI killed- Caprivac AI K SC IM
SC
Vitamin Vitamin C/Multivitamin 10-15 mg/kg BB; 1,5 g/2 lt
C/Multivitamin
Parasetamol Parasetamol 10 mg/kg BB

Program medikasi lainnya yaitu pemberian obat antihelmintik yang


sebaiknya diberikan saat memasuki fase growing, sehingga pertumbuhan dan
perkembangan ayam menjadi lebih maksimal. Tidak disarankan untuk
memberikan obat-obatan antihelmintik pada ayam saat fase laying, dikarenakan
memiliki efek negatif terhadap produksi telur serta kualitas dan fertilitas telur
(Aviagen, 2018). Berikut ini adalah program deworming yang dilaksanakan di PT.
Super Unggas Jaya Unit Farm Malang.
Tabel 4.5 Program deworming tahun 2018 di PT. Super Unggas Jaya Unit Farm Malang
Fase Umur Obat Aplikasi Dosis
Growing 12 minggu Piperazine Air minum 1 g/5 kg BB
16 minggu Piperazine Air minum 1 g/5 kg BB

31
Pre-laying 30 g/18 liter
20 minggu Levamisole Air minum untuk 100
ekor
30 g/18 liter
24 minggu Levamisole Air minum untuk 100
ekor

4.5.3 Monitoring
Monitoring merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memantau atau
mengevaluasi keberhasilan vaksinasi atau suatu pemberian terapi. Kegiatan
monitoring dilakukan dengan mengambil sampel darah untuk mengecek titer
antibodi dan melakukan nekropsi pada ayam. Pengambilan sampel darah
dilakukan di vena brachialis dengan spuit sebanyak 8-12 sampel ayam
perkandang. Tindakan nekropsi dilakukan dengan mengambil ayam yang masih
hidup berada di pan biasa, ayam yang berada di small pan dan bangkai,
diharapkan sampel tersebut sudah dapat mewakili 1 kandang. Nekropsi digunakan
untuk menentukan kemungkinan kausa penyakit dengan melakukan diskripsi pada
lesi secara makroskopis dan mikroskopis dari jaringan, selain itu juga dengan
melakukan pemeriksaan serologis dan mikrobiologis (Thamzil dkk, 2014).
4.6 Langkah pengendalian dari produk yang tidak sesuai
4.6.1 Seleksi Sexing Error dan Culling
Seleksi Sexing Error dilakukan pada masa grower dan diletakkan pada
bagian pen bagian depan agar memudahkan dalam mengeluarkan ayam SE.
Seleksi Error dilakukan pada ayam jantan maupun betina pada fase grower umur
5-19 minggu dengan ciri-ciri pial lebih tumbuh panjang dibanding betina, bulu
kasar, kaki besar, pial lebih kecil, kaki pendek/kecil. Seleksi Error dilakukan
secara keseluruhan yaitu 100% baik jantan maupun betina.
Culling yang dilakukan yaitu memilih ayam yang bermutu rendah untuk
segera diafkir sebelum memasuki fase prelaying. Seleksi dilakukan oleh
supervisor, foreman, dan operator kandang. Kriteria ayam yang di culling yaitu

32
ayam yang terlalu kecil ukurannya, sexing error (SE), cacat, luka, lumpuh, dan
lesu.
4.6.2 Melaksanakan manajemen kandang dengan baik
Penerapan manajemen kandang yang baik mampu mendukung tumbuh
kembang ayam yang optimal dengan memperhatikan beberapa aspek seperti
mempertahankan kondisi kandang yang nyaman dengan menjaga temperatur dan
kelembapan kandang, menjaga kandang tidak over populasi, menambah sekam
pada litter apabila sekam sudah berkurang, mencegah litter basah agar tidak
terjadi kontaminasi penyebaran penyakit coccidiosis dan meminimalisasi produksi
amonia yang berlebihan.
4.6.3 Menerapkan biosekuriti
Penerapan biosekuriti pada setiap area yang telah ditetapkan serta
melakukan sanitasi dan desinfeksi di area lingkungan.
4.7 Peran Dokter Hewan
Secara garis besar peran dokter hewan dalam industri breeding farm yaitu
menyusun dan melakukan kontrol program vaksin. Selain itu dokter hewan juga
berperan untuk melakukan kontrol biosekuriti. Dalam manajemen kesehatan,
dokter hewan berperan dalam diagnosa dan pengobatan penyakit serta disease
survaillance. Peran dokter hewan merupakan hal utama dalam keberlangsungan
dan kesuksesan proses produksi Peran dokter hewan di unit farm diantaranya
adalah merencanakan dan mengevaluasi program vaksin serta memonitoring
pelaksanaan sanitasi dan biosecurity.
Dalam kerjanya PT. Super Unggas Jaya mengelompokkan dokter hewan
dalam 1 unit Health and Disease Control (HDC) yang terbagi menjadi HDC west
area (Jawa Barat dan Sumatera) dan HDC east area (Jawa Timur, Jawa Tengah,
Kalimantan, dan Sulawesi). Setiap unit HDC memiliki fasilitas laboratorium
sebagai sarana pendukung kegiatan manajemen kesehatan oleh tim HDC pada unit
breeding farm dan hatchery. Pemeriksaan yang dilakukan di laboratorium dibagi
menjadi 2 uji, yaitu uji serologis dan uji bakteri. Otoritas veteriner dalam hal ini
yaitu melakukan pengawasan terhadap ternak yang dipasarkan. Pengambilan
keputusan pada ternak-ternak yang terserang penyakit untuk dimusnahkan adalah

33
tanggung jawab dari dokter hewan. Maka dengan itu peran dokter hewan di PT.
Super Unggas Jaya sudah melakukan tugasnya melalui pengontrolan manajemen
kesehatan dengan prinsip pencegahan penyakit sehingga mampu menjamin
keamanan dan kelayakan produksi bibit ayam broiler (DOC) yang memenuhi
persyaratan pengujian mutu, sehingga kualitas produk tetap terjaga sampai
diterima konsumen.

34
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
a. PT. Super Unggas Jaya Malang telah melaksanakan proses pemeliharaan
ayam parent stock yang baik Hal ini dapat dilihat dari penggunaan sistem
perkandangan closed house yang dilengkapi dengan peralatan kandang
seperti chain feeding, nipple drinker, exhaust fan, cooling pad dan
medikator.
b. PT. Super Unggas Jaya Malang telah memiliki manajemen perkandangan
yang baik sehingga diperoleh pertumbuhan ayam pada periode growing
dengan optimal dan diperoleh keseragaman pertumbuhan serta
kematangan seksual.
5.2 Saran
Perlu ditambahkan jumlah dokter hewan sehingga tugas dan fungsi
dokter hewan berjalan dengan baik dalam rangka memperkuat manajemen
kesehatan ternak unggas pada perusahaan.

35
DAFTAR PUSTAKA

Achmanu dan Muharlien. 2011. Ilmu Ternak Unggas. Ub Press. Malang


Akhirany, N. 2010. Pedoman Pengawasan Biosecurity dan Higiene Terhadap
Produk Unggas.http://Disnaksulse.Info/Pedoman-Pengawasan-Biosecurity-
Dan-Higiene-Terhadap ProdukUnggas. Diakses pada tangga 5 Maret 2019.
Aviagen. 2014. Ross 308 Broiler Performance Objectives. Aviagen Brand. United
States.
Buhman, M., G. Dewell, dan D. Griffin.2007. Biosecurity Basics for Cattle
Operations and Good Management Practices (GMP) for Controlling
Infectious Disease. Dalam NebGuide, University of Nebraska-Lincoln
Cardona, C.J. 2008. Farm and Regional BiosecurityPractices. Dalam Avian
Influenza, pp.353-368
Cobb-Vantress. 2013. Cobb Broiler Management Giude. Springs: Cobb-Vantress
Inc.
Fadilah, P. dan Parwanto. 2007. Sukses Beternak Ayam Broiler. Agromedia
Pustaka. Jakarta
Ketaren, P,P. 2010. Kebutuhan Gizi Ternak Unggas di Indonesia. Wartazoa Vol.
20 No. 4 (172-180).
Kholy, H., Kemppainen, B., Ravis, W and Hoer, R. 2006. Pharmacokinetics of
Levamisole in Broiler Breeder Chickens. J vet Pharmacol. Therap. 29, 49-
53.
Murni, M.C. 2009. Mengelola Kandang dan Peralatan Kandang Ayam Pedaging.
Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga
Kependidikan Pertanian DEPTAN. Cianjur.
Papich, M. G. 2007. Saunders Handbook of Veterinary Drugs, 2nd Edition. St.
Louis: Saunders Elsevier
Rasyaf, M. 2008. Panduan Beternak Ayam Pedaging. Penebar Swadaya. Jakarta.
Sudarmono, A.S. 2003. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Kanisius.
Yogyakarta

36
Sudarmono, A.S. 2007. Pedoman Pemeliharaan Ayam Ras Petelur. Penebar
Swadaya. Jakarta
Suprijatna, E., Atmomarsono, U., dan Kartasudjana, R. 2005. Ilmu Dasar Ternak
Unggas. Penebar Swadaya. Jakarta
Tamzil, Mohammad Hasil. 2014. Stres Panas pada Unggas: Metabolisme, Akibat
dan Upaya Penanggulangannya. wartazoa vol. 24 no. 2 th. 2014.
Widyantara, Putu,., Wiayana,I.K.A., dan Sarini, N.P. 2013. Tingkat Penerapan
Biosekuriti pada Peternakan Ayam Pedaging Kemitraan di Kabupaten
Tabanan dan Gianyar. Journal of Tropical Animal Science. Vol 1 (1) :45-57

37

Anda mungkin juga menyukai