Anda di halaman 1dari 26

PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI

MODEL KOMPARTEMEN DAN PENETAPAN PARAMETER


FARMAKOKINETIKA OBAT SETELAH PEMBERIAN DOSIS
TUNGGAL MENGGUNAKAN DATA DARAH KELINCI

I. TUJUAN PRAKTIKUM
1. Agar mahasiswa mampu memperkirakan model kompartemen
berdasarkan kurva semilogaritmik kadar obat dalam plasma/darah
lawan waktu.
2. Agar mahasiswa mampu menetapkan jadwal dan jumlah pencuplikan
untuk pengukuran parameter farmakokinetika berdasarkan model
kompartemen suatu obat.
3. Agar mahasiswa mampu menetapkan dan menghitung parameter
farmakokinetik obat setelah pemberian dosis tunggal berdasarkan data
kadar obat dalam darah/plasma lawan waktu.

II. DASAR TEORI


Obat merupakan komponen esensial dari suatu pelayanan kesehatan, dan
sudah merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Masyarakat seharusnya setelah
menerima pelayanan kesehatan beserta obat tentunya perlu mendapatkan
informasi tentang pengunaan obatnya agar dapat digunakan dengan benar, tepat
dan aman Profil farmakokinetik obat dalam jaringan atau profil farmakokinetik
fisiologi (physiologically based pharmacokinetic) suatu senyawa obat adalah
distribusi senyawa tersebut di dalam jaringan atau organ tertentu yang
diterangkan berdasarkan model fisiologi. Model ini mampu menerangkan
distribusi obat di dalam jaringan, namun belum banyak digunakan karena
memerlukan data-data fisiologi jaringan, sehingga memerlukan banyak studi
pendukung (Tetuko, 2015).
Farmakokinetik adalah suatu senyawa obat yang mendistribusi senyawa
tersebut didalam jaringan atau organ tertentu yang diterangkan berdasarkan
model fisiologi. Model ini mampu menerangkan distribusi obat didalam
jaringan, namun belum banyak digunakan karena memerlukan data-data
fisiologi jaringan, sehingga memerlukan banyak studi pendukung. Dengan
mengetahui profil farmakokinetik obat didalam jaringan atau organ akan
diperoleh banyak informasi yang bermanfaat terutama untuk terapi penyakit
tertentu, menentukan drug of choice, managemen terapi dan analisa residu
(Wijdyanti dkk.,2010).
Pengetahuan farmakokinetika berguna dalam bidang farmasi dan
kedokteran, seperti untuk bidang farmakologi, farmasetika, farmasi klinik,
toksikologi dan kimia medicinal. Dalam bidang farmasetika, farmakokinetika
berguna untuk menilai ketersediaan biologis (bioavailability) suatu senyawa
aktif terapeutik dari sediaanya. Fungsi lain yang bisa dikembangkan adalah
untuk menilai kembali atau untuk menghaluskan aturan dosis standar yang
sudah ditentukan, dengan memperhitungkan data kinetika senyawa aktif dari
sediaaan obat yang bersangkutan (Cahyati, 1985).
Dalam suatu penelitian/studi farmakokinetika, perkembangan
kadar/jumlah obat (senyawa asal dan atau metabolitnya) dalam tubuh
dilakukan pada titik-titik waktu yang diskontinyu (misalnya pada waktu-waktu
30 menit, 1 jam, 2 jam, 3 jam, 6 jam dan 8 jam setelah pemberian obat), karena
sampai dengan saat ini memang tidak mungkin untuk dapat menentukan
kinetika obat dalam tubuh secara eksperimental dalam waktu yang kontinyu.
Dengan demikian, data eksperimental yang akan kita peroleh hanyalah untuk
waktu-waktu tersebut tadi. Jika data tersebut dibiarkan apa adanya, tidak
banyak manfaat yang bisa ditarik. Oleh karena itu, dalam dunia
farinakokinetika akan dijumpai apa yang disebut dengan "Model ". "Model"
yang paling sering dipakai adalah model kompartemental, di mana keadaan
tubuh direpresentasikan ke dalam bentuk kompartemen : satu kompartemen
atau pluri-kompartemen. Tiap kompartemen mempunyai besaran volume (isi)
yang disebut "Volume Distribusi" . Model-model tadi hanyalah suatu
representasi matematika yang tidak bisa dihubungkan dengan keadaan fungsi-
fungsi tubuh secara tegas. Oleh karena itu "Volume distribusi" tadi disebut
"volume distribusi yang timbul" (apparent volume of distribution) (Cahyati ,
1985).
Farmakokinetik secara definitif adalah ilmu yang mempelajari kinetika
absorbsi obat, distribusi, dan eliminasi (metabolisme dan ekskresi) (Shargel
dan Yu, 2005). Setelah obat masuk ke dalam tubuh, molekul obat akan
diabsorbsi dari gastrointestinal. Kecepatan absorbsi dan eliminasi menentukan
kadar obat dalam darah yang dicapai oleh sirkulasi sistemik, organ, jaringan
dan sel. Setelah diabsorbsi, obat akan mengalami metabolisme di dalam hati,
dikeluarkan dari hati ke empedu atau mencapai sirkulasi sistemik (Mutschler,
1991).
Sebelum obat mencapai tujuannya dalam tubuh yaitu : tempat kerja dan
menimbulkan efek, obat mengalami banyak proses, secara garis besar
prosesproses tersebut terbagi dalam tiga tingkat yaitu fase biofarmasetika, fase
farmakokinetika, dan fase farmakodinamika (Mutschler, 1991). Dalam tubuh
obat mengalami beberapa proses sebagai berikut :
1. Absorbsi
Absorbsi merupakan proses pengambilan obat dari permukaan tubuh
(disini termasuk juga mukosa saluran cerna) atau dari tempat-tempat
tertentu dalam organ dalam ke dalam aliran darah (Mutschler, 1991).
Kecepatan absorbsi terutama tergantung pada bentuk dan cara pemberian
serta sifat fisik kimia dari obat. Obat yang diabsorbsi tidak semua mencapai
sirkulasi sistemik, sebagian akan dimetabolisme oleh enzim di dinding usus
atau mengalami metabolisme eliminasi lintas pertama (first pass metabolism
or elimination). Obat yang demikian mempunyai bioavailabilitas oral yang
tidak begitu tinggi meskipun absorbsi secara oralnya mungkin hampir
sempurna. Dengan demikian istilah bioavailabilitas menggambarkan
kecepatan, kelengkapan absorbsi sekaligus metabolisme sebelum mencapai
sirkulasi sistemik (Ganiswara, 2007).
Faktor-faktor seperti luas permukaan dinding usus, kecepatan
pengosongan lambung, pergerakan saluran cerna, dan aliran darah ketempat
absorbsi dapat mempengaruhi laju dan jumlah absorpsi obat dipengaruhi
beberapa faktor, misalnya formulasi, stabilitas obat terhadap asam lambung,
enzim pencernaan dan makanan (Shargel dan Yu, 2005).
2. Distribusi
Distribusi obat ke seluruh tubuh terjadi saat obat mencapai sirkulasi.
Selanjutnya obat harus masuk ke jaringan untuk bekerja (Neal, 2006).
Distribusi obat dibedakan atas dua fase berdasarkan penyebarannya di
dalam tubuh. Distribusi fase pertama terjadi segera setelah penyerapan,
yaitu ke organ yang perfusinya sangat baik misalnya jantung, hati, dan otak.
Selanjutnya distribusi fase kedua jauh lebih luas yaitu mencangkup jaringan
yang perfusinya tidak sebaik organ di atas misalnya otot, visera, kulit dan
jaringan lemak. Distribusi ini baru mencapai keseimbangan setelah waktu
yang lebih lama (Ganiswara, 2007).
3. Metabolisme dan Ekskresi
Sebelum dikeluarkan dari tubuh, obat mengalami proses metabolism
(biotransformasi) terlebih dahulu. Biotransformasi atau metabolisme obat
adalah proses perubahan struktur kimia obat yang terjadi dalam tubuh dan
dikatalisis oleh enzim. Pada proses ini molekul obat diubah menjadi lebih
polar artinya lebih mudah larut dalam air dan kurang larut dalam lemak
sehingga lebih mudah di ekskresi melalui ginjal. Selain itu, pada umumnya
obat menjadi inaktif, sehingga biotransformasi sangat berperan dalam
mengakhiri kerja obat (Ganiswara, 2007).
Metabolisme terjadi terutama di hati dan hanya dalam jumlah yang
sangat rendah terjadi dalam organ lain seperti dalam usus, ginjal, paru-paru,
limpa, otot, kulit atau dalam darah (Mutschler, 1991). Seperti halnya
metabolisme, ekskresi suatu obat dan metabolitnya menyebabkan penurunan
konsentrasi bahan berkhasiat dalam tubuh (Mutschler, 1991). Ekskresi
ginjal memegang tanggung jawab utama untuk eliminasi sebagian besar
obat (Neal, 2006).
Kurva kadar dalam plasma-waktu dihasilkan dengan mengukur
konsentrasi obat dalam cuplikan plasma yang diambil pada berbagai jarak
waktusetelah pemberian obat. Selama obat mencapai sirkulasi umum
(sistemik), konsentrasi obat dalam plasma akan naik sampai maksimum. Pada
umumnya absorpsi suatu obat terjadi lebih cepat daripada eliminasi. Selama
obat diabsorpsi ke dalam sirkulasi sistemik, obat didistribusikan ke semua
jaringan dalam tubuhdan juga serentak dieliminasi. Dalam menggambarkan
sistem biologi yang kompleks tersebut dibuat penyederhanaan anggapan
mengenai pergerakan obat itu. Berbagai model matematik dapat dirancang
untuk meniru proses absorpsi,distribusi, dan eliminasi obat. Model matematik
ini memungkinkan perkembangan persamaan untuk menggambarkan
konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu (Shargel, 1985).
Model farmakokinetik dapat memberikan penafsiran yang lebih teliti
tentang hubungan kadar obat dalam plasma dan respon farmakologik. Tanpa
datafarmakokinetik, kadar obat dalam plasma hampir tidak berguna untuk
penyesuaian dosis. Untuk menggunakan data farmakokinetik secara tepat,
pentinguntuk diketahui waktu cuplikan darah diambil, besarnya dosis yang
diberikan dan rute pemberiannya. Jika data telah didapat, penggunaan
persamaan farmakokinetik dan modelnya dapat menggambarkan kurva kadar
obat dalam plasma vs waktu secara teliti. Dengan demikian pemantauan
konsentrasi obat dalam plasma memungkinkan untuk penyesuaian dosis obat
secara individual dan untuk mengoptomasi terapi (Shargel, 1985).
Model farmakokinetik berguna untuk (Shargel & Yu, 1988) :
a. Memperkirakan kadar obat dalam plasma, jaringan dan urine pada berbagai
pengaturan dosis
b. Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara
individual
c. Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dngan aktivitas farmakologi
atau metabolit – metabolit
d. Menghibungakan kemungkinan konsentrasi obat dengan aktivitas
farmakologik atau toksikologik
e. Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi
f. Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi
absorbsi, distribusi dan eliminasi
g. Menjelaskan interaksi obat
Penelitian farmakokinetik suatu zat aktif merupakan penelitian
identifikasi dan penetapan konsentrasi obat dalam tubuh sebagai fungsi waktu
sehingga dapat menggambarkan model matematik. Model tersebut dapat
berupa model satu kompartemen atau multi kompartemen yang sangat
tergantung pada proses yang dialami zat aktif selama dalam tubuh (Shargel dan
Yu, 2005).
Model Farmakokinetik merupakan suatu hubungan matematik yang
menggambarkan perubahan konsentrasi terhadap waktu dalam sistem yang
diperiksa. Metode analisis kompartemental digunakan untuk memperkirakan dan
menentukan secara kuantitatif apa yang terjadi terhadap obat sebagai fungsi waktu
dari saat diberikan sampai waktu dimana obat tersebut sudah tidak ada lagi di
dalam tubuh. Adapun model farmakokinetik, yaitu :
1. Model satu kompartemen terbuka
Pada model satu kompartemen terbuka, obat hanya dapat memasuki
darah dan mempunyai volume distribusi kecil, atau juga dapat memasuki
cairan ekstra sel atau bahkan menembus sehingga menghasilkan volume
distribusi yang besar (Gibson, 1991). Pada model satu kompartemen terbuka
terlihat seolah olah tidak ada fase distribusi, hal ini disebabkan distribusinya
berlangsung cepat.
2. Model dua kompartemen terbuka
Model dua kompartemen terbuka terdiri dari kompartemen pusat dan
perifer, biasanya kompartemen pusat adalah darah dan perifernya jaringan
lain. Pengelompokan kompartemen pusat maupun perifer tergantung pada
obat yang bersangkutan (Gibson, 1991). Distribusi obat dalam darah ke
jaringan lunak dan ke dalam jaringan dalam lain terjadi pada laju yang
berbeda-beda. Keadan tunak yang tercapai akan mengakhiri fase distribusi.
Pada model dua kompartemen, tubuh dianggap terdiri atas dua
kompartemen yaitu kompartemen sentral dan kompartemen perifer.
Kompartemen sentral meliputi darah dan berbagai jaringan yang banyak
dialiri darah seperti jantung, paru, hati, ginjal dan kelenjar-kelenjar
endokrin. Obat tersebar dan mencapai kesetimbangan dengan cepat dalam
kompartemen ini. Kompartemen perifer adalah berbagai jaringan yang
kurang dialiri darah misalnya otot, kulit, dan jaringan lemak sehingga obat
lambat masuk kedalamnya. Model dua kompartemen ini pada prinsipnya
sama dengan model satu kompartemen, bedanya terdapat dalam proses
distribusi karena adanya kompartemen perifer, eliminasi tetap dari
kompartemen sentral (Oktavia, 2009).
Macam-macam model kompartemen :
1. Model Mammillarya
Model terdiri atas suatu atau lebih kompartemen perifer yang
dihubungkan ke suatu kompartemen sentral. Kompartemen sentral mewakili
plasma dan jaringan-jaringan yang perfungsinya tinggi dan secara cepat
berkesetimbangan dengan obat. Model mammillary dapat dianggap sebagai
suatu sistem yang berhubungan secara erat, karena jumlah obat dalam
setiap kompartemen tertentu (Shargel, 1985). Tetapan laju dari
farmakokinetika dinyatakan dengan huruf K. Kompartemen satu mewakili
plasma atau kompartemen sentral, sedangkan kompartemen dua mewakili
kompartemen jaringan. Penggambaran model ini mempunyai 3 kegunaan,
yaitu :
a. Memungkinkan ahli farmakokinetika merumuskan persamaan diferensial
untuk menggambarkan perubahan konsentrasi obat dalam masing-masing
kompartemen.
b. Memberikan suatu gambaran nyata dari laju proses.
c. Menunjukkan berapa banyak tetapan farmakokinetik yang diperlukan
untuk menggambarkan proses secara memadai (Shargel, 1985).
2. Model Caternary
Model caternary terdiri atas kompartemen-kompartemen yang bergabung
satu dengan yang lain menjadi satu deretan kompartemen. Oleh karena
model cartenary tidak dapat dipakai pada sebagian organ yang fungsional
dalam tubuh yang secara langsung berhubungan dengan plasma, model ini
digunakan tidak seiring model mammillary (Shargel,1985).
3. Model Fisiologik (Model Aliran)
Model aliran darah atau perfusi merupakan model farmakokinetik yang
didasarkan atas data anatomik dan fisiologik yang diketahui. Perbedaan
utama antara model perfusi dan model kompartemen yang lazim adalah
sebagai berikut :
a. Pertama tidak dibutuhkan data yang tepat dalam model perfusi.
Konsentrasi obat dalam berbagai jaringan diperkirakan melalui ukuran
jaringan organ, aliran darah dan melalui percobaan ditentukan
perbandingan obat dalam jaringan darah (yakni partisi obat antara
jaringan dan darah).
b. Kedua, aliran darah, ukuran jaringan dan perbandingan obat dalam
jaringan darah dapat berbeda sehubungan dengan kondisi patofisiologik
tertentu. Oleh karena itu, dalam model fisiologik pengaruh perubahan-
perubahan ini terhadap distribusi obat harus dipertimbangkan.
c. Ketiga dan yang terpenting dari semuanya, model farmakokinetik dengan
dasarfisiologik dapat diterapkan pada beberapa spesies, dandengan
beberapa data obat pada manusia dapat diekstrapolasikan (Shargel,
1985).
Variabel dalam farmakokinetik terdapat dua macam, yaitu variabel
tergantung dan variabel bebas. Dalam praktek parameter farmakokinetik tidak
ditentukan secara langsung, tetapi ditentukan melalui percobaan dari sejumlah
variabel tergantung dan bebas, yang secara bersama dikenal sebagai data. Melalui
data dapat diperkirakan model farmakokinetik yang kemudian diuji kebenarannya
dan selanjutnya diperoleh parameter-parameter farmakokinetiknya.
Kompartemen farmakokinetik dari obat pada setiap tahap perlu
ditetapkan secara kuantitatif dan dijelaskan dengan bantuan parameter
farmakokinetik. Parameter farmakokinetik ditentukan dengan perhitungan
matematika dari data kinetika obat di dalam plasma atau di dalam urin yang
diperoleh setelah pemberian obat melalui berbagai rute pemberian, baik secara
intravaskular atau ekstravaskular (Sukmadjaya, 2006).
Terdapat tiga jenis parameter farmakokinetik yaitu parameter primer,
sekunder, dan turunan. Parameter farmakokinetik primer meliputi kecepatan
absorbsi, Vd (volume distribusi), Cl (klirens). Parameter farmakokinetik
sekunder antara lain adalah t1/2 eliminasi (waktu paruh eliminasi), Ke
(konstanta kecepatan eliminasi). Sedangkan parameter farmakokinetik turunan
harganya tergantung dari dosis dan kecepatan pemberian obat (Donatus, 2008).
Parameter farmakokinetik meliputi :
1. Parameter pokok
a. Tetapan kecepatan absorbsi (Ka)
Tetapan kecepatan absorbsi menggambarkan kecepatan absorbsi, yaitu
masuknya obat ke dalam sirkulasi sistemik dari absorbsinya (saluran
cerna pada pemberian oral, jaringan otot pada pemberian intramuskular).
b. Cl (Klirens)
Klirens adalah volume darah yang dibersihkan dari kandungan obat per
satuan waktu (Neal, 2006).
c. Volume distribusi (Vd)
Volume distribusi adalah volume yang menunjukkan distribusi obat
(Neal, 2006).
2. Parameter Sekunder
a. Waktu paruh eliminasi (t1/2)
Waktu paruh adalah waktu yang dibutuhkan untuk mengubah jumlah
obat di dalam tubuh menjadi seperdua selama eliminasi (atau selama
infus yang konstan) (Katzung, 2001).
b. Tetapan kecepatan eliminasi (Kel)
Kecepatan eliminasi adalah fraksi obat yang ada pada suatu waktu yang
akan tereliminasi dalam satu satuan waktu. Tetapan kecepatan eliminasi
menunjukkan laju penurunan kadar obat setelah proses kinetik mencapai
keseimbangan (Neal, 2006).
3. Parameter Turunan
a. Waktu mencapai kadar puncak (tmak)
Nilai ini menunjukkan kapan kadar obat dalam sirkulasi sistemik
mencapai puncak.
b. Kadar puncak (Cp mak)
Kadar puncak adalah kadar tertinggi yang terukur dalam darah atau
serum atau plasma. Nilai ini merupakan hasil dari proses absorbsi,
distribusi dan eliminasi dengan pengertian bahwa pada saat kadar
mencapai puncak proses-proses tersebut berada dalam keadaan
seimbang.
c. Luas daerah di bawah kurva kadar obat dalam sirkulasi sistemik vs waktu
(AUC) Nilai ini menggambarkan derajad absorbsi, yakni berapa banyak
obat diabsorbsi dari sejumlah dosis yang diberikan. Area dibawah kurva
konsentrasi obat-waktu (AUC) berguna sebagai ukuran dari jumlah total
obat yang utuh tidak berubah yang mencapai sirkulasi sistemik (Shargel
dan Yu, 2005).
Spektrofotometer UV-Vis adalah alat untuk analisa unsur-unsur berkadar
rendah secara kuantitatif maupun secara kualitatif. Penentuan secara kualitatif
berdasarkan puncak-puncak yang dihasilkan pada spectrum suatu unsure
tertentu pada panjang gelombang tertentu, sedangkan penentuan secara
kuantitatif berdasarkan nilai absorbansi yang dihasilkan dari spektru senyawa
kompleks unsure yang dianalisa dengan pengompleks yang sesuai
(Yanlinastuti dkk, 2011).
Parasetamol merupakan obat analgetik antipiretik yang banyak beredar di
pasaran dan dijual dengan harga yang terjangkau sehingga sering digunakan
masyarakat untuk mengobati penyakit ringan seperti demam dan sakit kepala
(Pakarti, 2009, Tripathi, et al., 2009). Parasetamol diketahui dapat berinteraksi
dengan makanan maupun minuman yang mengandung karbohidrat dan alkohol
(Harkness, 1989). Interaksi obat dapat terjadi antara obat dengan obat lain
ataupun dengan senyawa lainya (Kee dan Hayes, 1996). Pengaruh dari
kehadiran obat atau senyawa lain tersebut akan tampak pada profil kadar obat
terhadap waktu atau pada efek farmakologi obat (Hakim, 2010).
III. ALAT DAN BAHAN
A. Alat
- Tabung reaksi
- Tabung sentrifuge
- Pipet volume 1,2 dan 5 ml
- Spektrofotometer & cuvet
- Skalpel / silet
- Sentrifuge
- Stopwatch

B. Bahan
- Larutan paracetamol
- HCL 6N
- NaNo2 10%
- Asam sulfamat 15%
- NaOH 10%
- Kelinci 1 ekor
- Larutan NaEDTA 10%

IV. PROSEDUR KERJA


A. Pembuatan kurva baku
Sediakan larutan paracetamol dengan konsentrasi 200 ppm, 150 ppm,
100 ppm, 75 ppm dan 50 ppm

Pipet larutan paracetamol sebanyak 1 ml

Tambahkan HCL 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO2 10% sebanyak 1 ml

Dicampurkan dan didiamkan selama 5 menit

Setelah didiamkan tambahkan asam sulfamat 15% sebanyak 1 ml dan


NaOH 10% sebanyak 2,5 ml

Campuran didiamkan selama 3 menit didalam kulkas, kemudian baca


absorbansi dengan panjang gelombang 435 nm dan dicari persamaan
RL
B. Pembuatan blanko
Masukan NaEDTA 10% sebanyak 1 ml kedalam tabung reaksi
tambahkan darah kelinci sebanyak 2,5 ml

Tambahkan TCA 10% sebanyak 2 ml

Disentrifuge 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm

Tambahkan HCL 6N sebanyak 0,3 ml dan NaNO2 10% sebanyak 1 ml

Dicampur dan didiamkan selama 5 menit

Tambahkan asam sulfamat 15% sebanyak 1 ml dan NaOH 10%


sebanyak 2,5 ml

Didiamkan selama 3 menit dikulkas kemudian dispektrofotometer


dengan panjang gelombang 435 nm untuk dicari kadar absorbansi
blangko
C. Penetapan kadar paracetamol

Menimbang kelinci dan menentukan volume pemberian

Mengambil darah sebanyak ± 2,5 ml melalui via vena ekor pada menit
(5,10,15,20,30,40,50,60)

Diberikan paracetamol secara P.O

Masukan larutan NaEDTA 10% sebanyak 1 ml + darah kelinci


sebanyak 2,5 ml diambil setiap menit (5,10,15,20,30,40,50,60)

Tambahkan TCA 10% sebanyak 2 ml

Disentrifuge selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm

Tambahkan HCL 6N sebanyak 0,5 ml dan NaNO2 sebanyak 10%

Dicampurkan dan didiamkan selama 5 menit

Tambahkan asam sulfamat 15% sebanyak 1 ml dan NaOH 10%


sebanyak 2,5 ml

Didiamkan selama 3 menit didalam kulkas

Dibaca absorbansi dengan panjang gelombang 435 nm

1. Hitunglah penetapan kadar paracetamol dengan persamaan


kurva baku
2. Menentukan perkiraan model kinetic paracetamol
3. Menentukan jadwal pencuplikan optimal (3-5x t1/2 eliminasi)
V. HASIL PERCOBAAN
A. Kurva Baku Paracetamol
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
50 0,063
75 0,368
100 0,450
150 0,639
200 0,906
I. RL Kurva Baku (λ 435 nm)
a : -0,100
b : 0,005090
r : 0,976

y = bx + a
y = 0,005090x + (-0,100)
x = cp
B. Tabel Percobaan Model Kompartemen
t(menit) absorbansi Cp(ppm) Log C Antilog C’ Log
cp C C’
5 -0,004 18,86 1,27 1,35 22,38 21,11 1,32
10 -0,028 14,14 1,15 1,34 21,87 20,72 1,31
15 -0,020 15,71 1,19 1,32 20,89 19,7 1,29
20 -0,003 19,05 1,27 1,31 20,41 19,14 1,28
30 -0,010 17,68 1,24 1,29 19,49 18,25 1,26
40 0 19,64 1,29 1,26 18,19 17,2 1,23
50 -0,021 15,52 1,19 1,24 17,37 16,18 1,20
60 -0,010 17,68 1,24 1,21 16,21 14,97 1,17
Keterangan : Fase eliminasi : 3 titik terahir (menit ke 40, 50, 60)
Fase absorbansi : 3 titik awal (menit ke 5,10, 15)
VI. PERHITUNGAN
A. Volume Pemberian Paracetamol
BB kelinci = 1, 0167 kg
Dosis paracetamol = 63 mg/ kg BB
Stok paracetamol = 32,67 mg/ ml
Dosis
Volume Pemberian = x BB
Larutan Stok
𝑚𝑔
63 /𝑏𝑏
𝑘𝑔
= x 1,0167 kg
32,67 𝑚𝑔/𝑚𝑙

= 1,96 ml
B. CP
a. t5
y = bx + a
-0,004 = 0,005090(x) + (-0,100)
-0,004 + 0,100 = 0,005090 x
0,096/0,005090 = x
x = 18,86

b. t10
y = bx+a
-0,028 = 0,005090 (x) + (-0,100)
-0,028 + 0,100 = 0,005090 x
0,072/0,005090 = x
x = 14,14

c. t15
y = bx + a
-0,020 = 0,005090x + (-0,100)
-0,020 + 0,100 = 0,005090 x
0,08/0,005090 = x
x = 15,71
d. t20
y = bx + a
-0,003 = 0,005090x + (-0,100)
-0,003 + 0,100 = 0,005090 x
0,097/0,005090 = x
x = 19,05

e. t30
y = bx + a
-0,010 = 0,005090x + (-0,100)
-0,010 + 0,100 = 0,005090 x
0,09/0,005090 = x
x = 17,68

f. t40
y = bx + a
0 = 0,005090x + (-0,100)
0 + 0,100 = 0,005090 x
0,1/0,005090
x = 19,64
g. t50
y = bx + a
-0,021 = 0,005090x + (-0,100)
-0,021 + 0,100 = 0,005090 x
0,079/0,005090
x = 15,52

h. t60
y = bx + a
-0,010 = 0,05090x + (-0,100)
-0,010 + 0,100 = 0,005090 x
0,09/0,005090 = x
x = 17,68

C. RL Fase eliminasi (t vs log cp)


x=t
y = log cp
a = 1,365
b = -0,0025
r = -0,5
y = bx + a
y = -0,0025x + 1,365

B = anti log a
= anti log 1,365
= 23,17

1. Perhitungan ke laju proses eliminasi


−𝑘𝑒
𝑏 = 2,303

−𝑘𝑒
−0,0025 = 2,303

-ke = -0,0025 x 2,303

ke = 0,0057

D. Mencari C
a. t5
y = bx + a
y = -0,0025(5) + 1,365
y = 1,35
b. t10
y = bx + a
y = -0,0025 (10) + 1,365
y = 1,34

c. t15
y = bx + a
y = -0,0025 (15) + 1,365
y = 1,32

d. t20
y = bx +a
y = -0,00125 (20) + 1,365
y = 1,31

e. t30
y = bx + a
y = -0,0025 (30) + 1,365
= 1,29

f. t40
y = bx + a
y = -0,0025 (40) + 1,365
y = 1,26

g. t50
y = bx + a
y = -0,0025 (50) + 1,365
y = 1,24
h. t60
y = bx + a
y = -0,0025 (60) + 1,365
y = 1, 21

2. Waktu Paruh (t ½) eliminasi


0,693
t ½ = 0,0057

t ½ = 121,57 menit

E. Mencari C’ (antilog C-log Cp)


a. t5  22,38-1,27 = 21,11
b. t10  21,87-1,15 = 20,72
c. t15  20,89-1,19 = 10,7
d. t20  20,41-1,27 = 19,4
e. t30  19,49-1,24 = 18,25
f. t40  18,49-1,29 = 17,2
g. t50  17,37-1,19 = 16,18
h. t60  16,21-1,24 = 14,97

F. RL Fase Absorbsi (t vs log C’)

a = 1,33

b = -0,003

r = -0,981

y = bx + a

y = -0,003x + 1,33

A = antilog a

Antilog 1,33
= 21,37

1. Perhitungan ka (laju absorbsi)


−𝑘𝑎
𝑏 = 2,303
−𝑘𝑎
−0,003 = 2,303

-ka = -0,003 x 2,303


ka = 0,006909

2. Waktu paruh (t ½ absorbsi)


0,693
t ½ = 0,006909

= 100,30 menit

3. tmax (waktu maksimal)

𝑘𝑎
𝐼𝑛 ( )
𝑘𝑒
tmax = 𝑘𝑎−𝑘𝑒

0,006909
𝐼𝑛 (− )
0,0057
= −0,006909−(0,0057)

1,212
= 𝐼𝑛 0,001

= 0,192/0,001

=192 menit

4. cp max (konsentrasi maksimum)


cp max = B ( 𝑒 −𝑘𝑒.𝑡𝑚𝑎𝑥 - 𝑒 −𝑘𝑎.𝑡𝑚𝑎𝑥 )
23,17 (e-0,0057.192-e-0,006909.192)
23,17 (e-1,094-e-1,326)
23,17. (0,334-0,265)
23,17 x 0,069 = 1,598 ppm
5. Waktu Sampling
= (3 x t ½ eliminasi) – (5 x t ½ eliminasi)
= (3 x 121,57) – (5 x 121,57)
= menit ke 364,71 – 607,85

𝐴 𝐵
6. AUC = 𝑘𝑎 + 𝑘𝑒
21,37 21,37
= +
0,006909 0,0057

= 3093,06 + 4064,91
= 7157,97 mg/ml

VII. PEMBAHASAN
Percobaan penetapan waktu pengambilan cuplikan dan asumsi model
kompartemen ini dilakukan berdasarkan kurva semilogaritma kadar obat dalam
plasma/darah lawan waktu sehingga dapat menetapkan jadwal dan jumlah
pencuplikan untuk pengukuran parameter farmakokinetika berdasarkan model
kompartemen suatu obat.
Paramater farmakokinetika yaitu besaran yang diturunkan secara
matematis dari model berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh dan atau
metabolitnya dalam darah, urin, dan cairan hayati lainnya. Parameter ini dapat
digunakan untuk memperoleh gambaran suatu kinetika absorbsi, distribusi, dan
eliminasi didalam tubuh.
Hewan uji pada percobaan ini yaitu seekor kelinci dengan memberikan
obat paracetamol melalui rute per oral yang kemudian diamati kadar obat
dalam darah pada waktu 5, 10, 15, 20, 30, 40, 50 dan 60 menit. Kemudian
dilakukan proses sentrifugasi selama 15 menit dengan kecepatan 3000 rpm.
Proses sentrifugasi berfungsi untuk mempercepat pengendapan dengan
memisahkan komponen-komponen darah berdasarkan perbedaan berat
molekul, dimana komponen yang memiliki berat molekul yang lebih berat akan
berada dibawah dan mengendap pada tabung sentrifuge, sehingga dapat
terpisah secara sempurna.
Penentuan volume pemberian paracetamol diketahui dengan menimbang
kelinci terlebih dahulu dan beratnya adalah 1, 0167 kg, sehingga volume yang
diberikan per oral adalah 1,96 ml.
Cairan hayati yang digunakan pada percobaan ini adalah darah, karena
darah merupakan tempat yang paling cepat dicapai oleh obat. Darah jugalah
yang mengambil obat dari tempat absorbsi, kemudian mendistribusikannya
ketempat eliminasi (Sulistiawati, 2008). Sebelum dilakukan pengambilan
darah, pada tabung vendor juga ditambahkan EDTA 10% sebanyak 1ml dan
TCA 10% sebanyak 2ml. EDTA berfungsi sebagai antikoagulan agar darah
tidak mudah menggumpal setelah dilakukan pencuplikan. Sedangkan TCA
berfungsi untuk membantu mengendapkan protein dalam plasma darah,
sehingga yang tersisa dibagian atas atau yang disebut dengan supernatan
hanyalah ikatan obat dengan plasma darah.
Supernatan yang diperoleh diambil lalu ditambahkan dengan 0,5 ml HCL
6N dan 1 ml NaNO2 10%. HCL berfungsi untuk membentuk reaksi diazotasi.
HCL dan NaNO2 akan membentuk asam nitrit dan bereaksi membentuk garam
diazotasi, selain itu HCL juga dapat memberikan suasana asam.
Setelah itu di diamkan 5 menit agar reaksi berjalan optimal, kemudian
ditambahkan 1 ml asam sulfanat 15% dan 2,5 ml NaOH 10% Asam sulfanat
digunakan untuk menghilangkan gas N2 berlebih yang dapat mengganggu
kestabilan serapan 2-Nitro-4-asetaminofenol yang menyebabkan terganggunya
pembacaan absorbansi. Penambahan asam sulfamat harus dilakukan hati-hati
lewat dinding tabung secara perlahan karena reaksi bersifat eksotermis
(melepas panas). Selain itu, juga bisa menyebabkan larutan tumpah akibat
dorongan gas nitrogen yang dihasilkan .Sedangkan NaOH digunakan untuk
menetralkan larutan dan terjadinya reaksi pengkomplingan yang membentuk
ion kompeks berwarna kuning. Hal ini dilakukan dengan memperpanjang
ikatan rangkap terkonjugasi.
Larutan di diamkan 3 menit dalam lemari es (kulkas) dan setelah itu jika
masih ada larutan dari masing-masing tabung terdapat gelembung maka di
tunggu sampai gelembung hilang, karena adanya gelembung dapat
mengganggu pembacaan absorbansi, jika gelembung tidak hilang maka ada
kesalahan pada saat pemberian asam sulfanat yang di mana pemberiannya
harus pelan-pelan melalui dinding tabung. Setelah gelembung hilang
dilanjutkan pengukuran absorbansi menggunakan spektrofotometri.
Spektrofotometri dilakukan dengan menggunakan panjang gelombang
435 nm. Akan tetapi, sebelum dilakukan pengukuran absorbansi sampel,
terlebih dahulu dibuat larutan standar. Larutan standar adalah larutan yang
konsentrasinya sudah diketahui. Tujuannya untuk membandingkan absorbansi
dari larutan baku dan absorbansi dari sampel.
Setelah diketahui nilai absorbansinya kemudian dilakukan pembuatan
kurva baku hubungan antara waktu dengan kadar obat dalam plasma darah.
Persamaan kurva baku paracetamol yang diperoleh yaitu y = 0,005090x + (-
0,100), dengan r = 0,976. Nilai absorbansi yang diperoleh pada menit 5, 10, 15,
20, 30, 40, 50 dan 60 yaitu -0,004; -0,028; -0,020; -0,003; -0,010; 0; -0,021; -
0,010. Berdasarkan gambar semilog dari grafik hubungan antara kadar dan
waktu, dapat diketahui bahwa parameter farmakokinetikanya mengikuti model
kompartemen I karena obat masuk secara cepat terdistribusi ke semua bagian
lalu obat juga dapat keluar tubuh secara cepat.
Parameter farmakokinetika yang didapatkan antara lain, kecepatan
absorbansi (Ka) 0,006909, t1/2 (waktu paruh eliminasi) 100,30 menit, tmax
(waktu maksimum) 192 menit, Cp max (konsentrasi obat tertinggi dalam
sirkulasi sistemik) 1,598 ppm, waktu sampling pada menit ke 364,71 – 607,85
dan AUC 7157,97 mg/ml. AUC (Area Under Curve) menyatakan jumlah obat
yang terukur berada dalam sirkulasi sistemik, dari nilai AUC bioavailabilitas
suatu obat dapat diperkirakan.
Dalam penelitian ini dihasilkan data-data yang sebagian tidak valid, hal
ini disebabkan beberapa faktor, kesalahan dalam pembuatan larutan, kesalahan
pada alat/instrument yang digunakan dan kesalahan pada praktikan sendiri.
Dimana kurang teliti menganalisis data yang diperoleh. Oleh sebab itu,
diperlukan ketelitian dalam penggunaan alat dan mengamati data yang
diperoleh selama percobaan berlangsung.
VIII. KESIMPULAN
1. Hasil absorbansi yang diperoleh pada menit 5, 10, 15, 20, 30, 40, 50 dan 60
yaitu -0,004; -0,028; -0,020; -0,003; -0,010; 0; -0,021; -0,010 dan regresi
linearnya y = 0,005090x + (-0,100), dengan r = 0,976. Model satu
kompertemen terbuka karna kurva tegak lurus.
2. Parameter farmakokinetika berdasarkan data-data yang telah didapatkan.
Parameter farmakokinetika yang didapatkan antara lain, kecepatan
absorbansi (Ka) 0,006909, t1/2 (waktu paruh eliminasi) 100,30 menit, tmax
(waktu maksimum) 192 menit, Cp max (konsentrasi obat tertinggi dalam
sirkulasi sistemik) 1,598 ppm, waktu sampling pada menit ke 364,71 –
607,85 dan AUC 7157,97 mg/ml.
IX. DAFTAR PUSTAKA
Cahyati, Yeyet., 1985, Cermin Dunia Kedokteran, Pusat Penelitian dan
Pengembangan PT. Kalbe Farma, Jakarta.
Donatus, I. A., 2008, Strategi Penelitian Farmakokinetika, Cermin Dunia
Kedokteran, Jakarta.
Ellies, T., Annas, B., Tedjo Y., 2005, Ketersediaan Hayati Dispersi Padat
Furosemide dengan Polietilenglikol 4000 (PEG 4000) pada Kelinci
Jantan, Majalah Farmasi Indonesia, 16(2).
Ganiswara., 2007, Farmakologi dan Terapi, Edisi V, Fakultas Kedokteran,
Universitas Indonesia.
Gibson, G.G., And Skett, P., 1991, Introduction To Drug Metabolism,
Diterjemahkan Oleh Iis Aisyah B., 189-190, Universitas Indonesia Press,
Jakarta.
Hakim, L., 2010, Farmakokinetik, Bursa Ilmu, Yogyakarta.
Harkness, R., 1989, Interaksi Obat, Institut Teknologi Bandung, Bandung, 254,
287.
Katzung, B.G. 2001, Farmakologi Dasar dan Klinik : Reseptor- reseptor Obat
dan Farmakodinamik. Penerbit Buku Kedokteran EGC. pp. 23-4.
Kee, J.L dan Hayes, E.R., 1996, Farmakologi, Pendekatan Proses
Keperawatan, Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 140-141.
Mutschler, E., 1991, Dinamika Obat, 5th ed.,terjemahan M. B. Widianto dan
A. S. Rianti, Penerbit ITB, 88-90.
Neal, M.J., 2006. At A Glance Farmakologi Medis, Edisi Kelima, Erlangga,
Jakarta.
Oktavia, RW., 2009, Pengaruh Seduhan Teh Hijau (Camellia sinensis)
Terhadap Farmakokinetika Parasetamol Yang Diberikan Bersama Secara
Oral Pada Kelinci Jantan, Skripsi, Fakultas Farmasi Universitas
Muhammadiyah, Surakarta.
Pakarti, A.W., 2009, Pengaruh Perasan Buah Mangga Terhadap
Farmakokinetika Parasetamol yang Diberikan Bersama Secara Oral Pada
Kelinci Jantan, Skripsi, Fakultas Farmasi, Universitas Muhammadiyah
Surakarta.
Pinondang, S., Mohamad, A., Bambang, W., Pengaruh Jus Buah Durian (Durio
zibethinus Murr.) Terhadap Profil Farmakokinetik Parasetamol Pada
Tikus Putih (Rattus Norvegicus L.) Jantan Galur Wistar, Traditional
Medicine Journal, 18(3).
Shargel, L., and Yu, A.B.C., 1985, Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan, diterjemahkan oleh Fasich dan Siti Sjamisah, Edisi II, 96-100,
Universitas Arilangga, Surabaya.
Shargel, Leon and Andrew BC Yu., 1988, Applied Biopharmaceutics &
Pharmacokinetics second edition, Appleton & Lange : 33-110.
Shargel, L. dan Andrew B.C.Y.U., 2005, Biofarmasetika dan Farmakokinetika
Terapan, Edisi kedua, Airlangga University Press, Surabaya.
Sukmadjaja, A., Lucy, S., Muhammad, Q., 2006, Pengembangan Aplikasi
Komputer Pengolah Data Konsentrasi Obat Dalam Plasma Untuk Studi
Pemodelan Parameter Farmakokinetik, Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol.
III, No. 3, 143 – 152.
Sulistiawati, 2008, Pengaruh Puasa Terhadap Profil Farmakokinetika
Parasetamol Pada Tikus Putih Jantan, Skripsi, Universitas Sanata
Dharma, Yogyakarta.
Tetuko, A., 2015, Pola Penggunaan Dan Persediaan Analgetik Di Puskesmas
Depok II Dan Puskesmas Cangkringan Kabupaten Sleman Daerah
Istimewa Yogyakarta, JIKK, Vol. 6 (2).
Wijayanti, A. D., Lukman H., Irkham W. dan Tatang I., 2010, Penentuan
Efektivitas Oksitetrasiklin Melalu Parameter Farmakokinetik/
Farmakodinamik Pada Plasma Dan Jaringan Ayam Broiler, Jurnal
Veteriner, Vol. 11(2).
Yanlinastuti, Dian A., Fatimah dan Yusuf N., 2011, Penentuan Kadar
Zirkonium Dalam Paduan U-ZR Menggunakan Spektrofotometer UV-
VIS Dengan Pengompleks Arsenazo III, Seminar Nasional SDM
Teknologi Nuklir.