Anda di halaman 1dari 11

Mata Kuliah Dosen Pengampu

Metode Observasi Hirmaningsih S.Psi.M.Psi,Psikolog

LAPORAN OBSERVASI

PERILAKU AGRESI PADA ANAK USIA DINI

Oleh:

INDAH MARDHATILLA (11761201900)

KELAS 4A

JURUSAN PSIKOLOGI

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS NEGRI SULTAN SYARIF KASIM RIAU

TAHUN 2018/2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Agresi seringkali digunakan oleh manusia sebagai jalan untuk
mengungkapkan perasaan dan menyelesaikan persoalan. Agresi terjadi dimana
saja seperti perkelahian antar pelajar, antar kampung bahkan antar negara. Agresi
juga terjadi pada anak. Saat bermain anak saling bertengkar dengan mengejek,
memukul atau melempar. Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa agresi pada
anak dapat terbentuk karena setiap hari anak sering melihat dan menyaksikan
kekerasan dalam rumah tangga baik secara langsung atau tidak langsung yang
dilakukan ayah terhadap ibu dan anaknya sebagaimana penelitian Hartini (dalam
Titin Suprihatin, 2009) bahwa anak mengadopsi perilaku agresinya dari hasil
belajar melalui pengamatan anak kepada orang tua serta anak dapat meniru semua
tingkah laku orang tua yang didapatnya dari kekerasan tersebut.
Agresi pada anak juga dapat terjadi akibat pengaruh media massa yang
berisi kekerasan (tayangan film). Hasil penelitian Santhoso (dalam Titin
Suprihatin, 2009) di Kotamadya Yogyakarta menunjukkan ada korelasi antara
minat terhadap film kekerasan dengan kecenderungan perilaku agresi. Demikian
juga menurut Santrock dan Kirsh (dalam Titin Supriatin, 2009) bahwa bahwa
tayangan kekerasan di televisi yang terus menerus ditonton oleh anak-anak
menyebabkan meningkatnya agresi pada anak-anak.
Pada usia sekolah, perkembangan kognitif anak menyebabkan ia mampu
melakukan fantasi. Isi fantasi banyak dipengaruhi oleh tontonan yang disaksikan
oleh anak. Melalui tontonan tersebut, anak-anak mengetahui tokoh jahat dan
tokoh baik sehingga timbul keinginan untuk berperilaku seperti tokoh-tokoh yang
mereka kagumi. Penelitian Khumas, dkk (dalam Titin Suprihatin, 2009)
menemukan bahwa ada hubungan antara fantasi agresi dan perilaku agresi pada
anak-anak.
Ada empat pengertian mengenai agresi, pertama adalah agresi merupakan
suatu bentuk perilaku bukan emosi, kebutuhan atau motif kedua adalah si pelaku
agresi mempunyai maksud untuk mencelakakan korban yang dituju, ketiga adalah
korban agresi yaitu makhluk hidup bukan benda mati, sedangkan yang keempat
adalah korban dari perilaku agresi ini tidak menginginkan atau menghindarkan
diri dari perilaku pelaku agresi
Baron (dalam Yeza Piti Tola, 2018) menyatakan bahwa agresivitas adalah
tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau mencelakakan individu
lain yang tidak menginginkan adanya tingkah laku tersebut. Perilaku agresif pun
di sebabkan oleh banyak faktor, diantaranya faktor internal dan faktor eksternal
yang dengan mudah memicu perilaku agresif anak. Teman sebaya sering kali
menjadi korban agresivitas anak yang agresif apalagi di lingkungan bermain dan
belajar di sekolah.
B. Tujuan Observasi
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan observasi ini adalah :
Untuk mengetahui perilaku agresif pada anak PAUD.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Anak Usia Dini


Perkembangan merupakan perubahan yang terus menerus dialami oleh setiap
manusia. Perkembangan tersebut terus berlangsung dengan perlahan-lahan
melalui masa demi masa yang terjadi sejak bayi masih dalam kandungan sampai
dengan usia tua Crain (dalam Sri Pujiwati, 2012). Dalam rentang kehidupan
manusia itu sendiri dapat dibagi lagi menjadi beberapa tahapan di mana pada tiap
tahapannya itu ditandai dengan ciri-ciri perilaku atau perkembangan tertentu.
Salah satu tahapan dalam rentang kehidupan manusia yaitu tahap kanak-kanak
awal. Tahap ini dimulai kira-kira pada usia 2 tahun dan berakhir kira-kira pada
usia 6 tahun, sehingga para pendidik seringkali menyebut tahun-tahun awal masa
kanak-kanak itu dengan usia prasekolah Hurlock, (dalam Titin Suprihatin, 2009).
Istilah prasekolah sendiri berasal dari anggapan bahwa sebagian besar anak
kecil belum mengenyam bangku sekolah sebelum berusia 6 tahun, tetapi setelah
program pendidikan untuk anak usia 3 hingga 6 tahun mulai dikembangkan yang
kemudian dikenal dengan sebutan program prasekolah, maka tahap ini dapat juga
dikatakan sebagai masa prasekolah Papalia & Olds (dalam Titin Suprihatin,
2009). Biechler & Snowman (dalam Sri Pujiwati, 2012) menyebutkan bahwa
anak prasekolah yaitu anak-anak yang berusia 3 hingga 6 tahun dan mengikuti
program prasekolah. Anak-anak yang mengikuti taman kanak-kanak itu sendiri
masih dapat dikatakan sebagai anak-anak prasekolah. Di Indonesia, anak-anak
prasekolah yang mengikuti program Taman Kanak-kanak adalah anak-anak yang
berusia 4 hingga 6 tahun. Selama masa prasekolah ini, perbedaan kepribadian
setiap anak semakin jelas terlihat.
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan anak prasekolah adalah anak
yang berumur 3 sampai 6 tahun.
B. Pengertian Perilaku Agresif
Myers (dalam Sarwono, 2002) mengemukakan bahwa perilaku agresif adalah
perilaku fisik atau lisan yang sengaja dengan maksud untuk menyakiti atau
merugikan orang lain. Agresivitas juga dapat diartikan sebagai perilaku atau
kecenderungan perilaku yang dengan sengaja menyakiti orang lain, baik secara
fisik maupun psikologis Buss & Perry (dalam Siti Khumaidatul Umaroh, 2017).
Menurut Krech (dalam Zamzani, 2007), “agresif adalah bentuk perasaan dan
tindakan marah dan mengamuk dari kekrasan fisik, makian berupa kata-kata
seperti pengaduan dan fitnah serta fantasi kekerasan dan penyerbuan”. Sementara
Bandura (dalam Zamzani, 2007) “mendefinisikan agresif sebagai tingkah laku
berupa penyerangan orang dan pengrusakan fisk”.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Thomas, Bierman, et.al (dalam Sri
Pujiwati, 2012) melakukan penelitian di Amerika pada dua sekolah yang berbeda
dengan tingkat perilaku agresif sama. Dengan penelitian tersebut, Thoman dan
Bierman menyimpulkan perilaku agresif anak mulai ditunjukkan pada awal
masuk sekolah dasar dan perilaku ini dapat mengganggu proses belajar di
sekolah.
Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku
agresif adalah adanya keinginan untuk melakukan perilaku negatife, guna
menyakiti orang lain atau merusak suatu benda yang dilakukan secara fisik
maupun verbal.
C. Aspek- aspek Agresivitas
Menurut Buss dan Danny (dalam Siti Khumaidatul Umaroh, 2017), tindakan
agresi dapat dibagi menjadi empat, diantaranya adalah: Agresivitas terdiri dari
empat aspek yaitu; fisik, verbal, dan kemarahan.
1. Aspek fisik meliputi berbagai tindakan menyakiti maupun mengganggu orang
lain, termasuk merusak barang, memukul, menendang, mendorong.
2. Aspek verbal merupakan agresi dalam bentuk menyakiti orang dengan
menggunakan kata-kata seperti membentak, mendebat, mengejek.
3. Aspek kemarahan berkaitan dengan masalah pengontrolan emosi seperti:
marah, kesal (jengkel).
BAB III
METODOLOGI OBSERVASI
A. Devinisi Operasional
Agresivitas adalah tingkah laku individu yang ditujukan untuk melukai atau
mencelakakan individu lain yang tidak menginginkan adanya tingkah laku
tersebut.
B. Rancangan Observasi
Observasi ini merupakan observasi non-partisipan yaitu, proses pengamatan
observer tanpa ikut dalam kehidupan orang yang diobservasi dan secara terpisah
berkedudukan sebagai pengamat. Jenis pencatatan observasi ini adalah pencatatan
Time Sampling yaitu, pencatatan berkala dengan mencatat kejadian atau perilaku-
perilaku observe pada rentang waktu tertentu.
Observasi ini akan dilakukan di Taman Kanak-Kanak An-Namiroh 1, dan
dilakukan pada saat observasi mulai dilakukan.
C. Blueprint Observasi
Variabel Aspek indikator Deskripsi perilaku Ket.
Perilaku Agresi Aspek fisik Merusak Perbuatan yang
barang menghancurkan barang
Memukul Memukul orang ada di
dekatnya
Menendang Perbuatan menendang
yang dengan sengaja di
arahkan pada orang lain
Mendorong Menolak orang pada
bagain depan atau
belakang dengan kuat
Aspek verbal Membentak Perbuatan memarahi
orang lain dengan
sengaja
Mendebat Perilaku membantah
pendapat orang lain
Mengejek Perilaku mengolok-olok
(menertawai dan
menyindir) untuk
menghina orang lain

Aspek Rasa marah a. Ekspresi


kemarahan mungka seperti
alis mata yang
mengernyit ke
tengah
b. sorot matanya
yang tajam
c. Otot rahang dan
gigi seperti
menggigit
sesuatu
d. Ketika berbicara
nada yang
keluar terdengar
tinggi
Kesal a. Kepala dan alis
mengarah
kebawah
b. Rahang menjadi
tegang dalam
postur menggigit
yang menekan
bibir bawah ke
depan dan
membuat mulut
melengkung ke
bawah.
D. Pencatatan Observasi
PANDUAN OBSERVASI “CATATAN BERKALA”

(INDIVIDU)

I. IDENTITAS SUBYEK
1. Nama :
2. Tempat/tgl lahir :
3. Hari/tgl observasi :
4. Tempat observasi :
5. Waktu :

II. ASPEK YANG DIAMATI : Perilaku Agresif Anak

III. PETUNJUK : Tuliskan keterangan dan


frekuensi
atas perilaku yang muncul pada
observee

IV. Table Observasi Catatan Berkala (Individu)

Indikator Keterangan Frekuensi Intensitas


Perilaku
Aspek Fisik
Merusak barang
Memukul
Menendang
Mendorong

Aspek Verbal
Membentak
Mendebat
Mengejek

Aspek
Kemarahan
Rasa marah
Kesal

E. Jadwal Observasi
NO. Tanggal Observasi Waktu Observasi
1. 30 April 2019 08.00 – 11.30
2. 6 Mei 2019 08.00 – 11.30
3. 13 Mei 2019 08.00 – 11.30
DAFTAR PUSTAKA

Farah Ariani.2014.Perilaku Agresi Pada Anak Usia Dini. Jirnal Psikologi.8(2):269-


279.
Titin Suprihatin.2009. Perilaku Agresi Anak. 6(1):53-61.
Siti Khumaidatul Umaroh.2017. Aresifitas Siswa Ditinjau Berdasarkan Iklim Sekolah
Dan Keyakinan Normatif. Jurnal Psikologi. 4(1):17-24.
Sarwono, S.W. (2007). Psikologi remaja. Jakarta: Raja Grafindo Persada
Yeza Piti Tola.2018. Perilaku Agresi Pada Anak Usia Dini Di Lihat Dari Pola Asuh
Orang Tua.5(1):1-13.
Zamzani, A. 2007. Agresivitas Siswa SMK DKI Jakarta. Jurnal Pendidikan
Dan Kebudayaan. Vol. 5, No. 1, 2007.