Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR FUNGSI TUMBUHAN

LUAS DAUN DAN ABSORBSI PADA TUMBUHAN

KELOMPOK 2

NADIA ALIMA FADHILLA 18304241032

AZIZAH NUR ISNAINI 18304241034

MUFTI NURKHASANAH 18304241038

REYNALDI DESTA PRAMMUDYA 18304244002

HENDRIANIS SYAFIRA 18304244003

ELISA FEBY IFANI 18304244019

KELAS : PENDIDIKAN BIOLOGI C

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA

2019
A. LATAR BELAKANG
Air merupakan salah satu zat yang penting bagi makhluk hidup, tidak terkecuali
tumbuhan. Tumbuhan sepanjang hidupnya secara terus menerus menyerap air beserta zat-
zat hara yang terlarut didalamnya. Zat – zat ini dibutuhkan oleh tumbuhan untuk memnuhi
kebutuhan hidupnya, terutama untuk terus tumbuh dan membuat cadangan makanan yang
berupa buah. Air yang dimanfaatkan oleh tumbuhan untuk proses metabolisme hanya
sebagian kecil saja dan sebagian besar air yang diserap (90%) akan menguap ke atmosfer.
Penyerapan air dan unsur hara oleh tumbuhan lewat sel-sel akar dinamakan absorbsi
sedangkan proses hilangnya air dari tumbuhan dalam bentuk uap air dinamakan transpirasi.
Dalam aktivitasnya, tumbuhan selalu melakukan absorpsi air dari lingkungannya. Namun
demikian tumbuhan juga melakukan pelepasan air berupa uap melalui seluruh permukaan
daun, khususnya melalui stomata. Mekanisme pemasukan atau penyerapan (absorpsi) dan
pelepasan (transpirasi, gutasi) ini terjadi dalam mekanisme kontrol keseimbangan cairan
tubuh tanaman.
Salah satu faktor penting yang mempengaruhi absorbsi pada tumbuhan adalah daya hisap
daun. Setiap daun memiliki daya hisap yang berbeda - beda. Daya hisap daun merupakan
peristiwa timbulnya tarikan terhadap air yang ada pada sel-sel di bawah yang menyebabkan
air tertarik ke atas dari akar menuju ke daun. Besar kecilnya daya hisap daun dapat
dipengaruhi oleh luas daun dan cahaya matahari. Untuk dapat mengetahui bagaimana luas
daun dapat mempengaruhi kecepatan absorbsi air pada tumbuhan, maka perlu dilakukannya
praktikum uji absorbsi pada tumbuhan dengan alat potometer sederhana.

B. TUJUAN
1. Mengetahui pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorbsi air

1
C. DASAR TEORI
1. Absorbsi
Absorbsi adalah adalah proses penyerapan air dan unsur hara oleh tanaman berupa ion-
ion dari tanah ke dalam sel-sel akar, yang selanjutnya ditranslokasikan melalui jaringan
xilem ke seluruh bagian tumbuhan. Proses masuknya ion-ion ke dalam sel-sel akar,
sebagai pengganti dari ion-ion yang keluar dari sel akar disebut dengan pertukaran ion.
Udara diperlukan untuk sel-sel akar untuk pernafasan, dan hasil pernafasan adalah energi.
Energi ini digunakan diantaranya untuk memasukkan ion - ion yang harus mengatasi
tingkat konsentrasi yang lebih tinggi (Dwidjoseputro, 1978 : 82).
Tanaman mendapat air melalui proses penyerapan oleh rambut-rambut akar. Air serta
garam terlarut akan diteruskan ke seluruh bagian tanaman. Hanya sebagian kecil (kurang
dari 1%) dari air diabsorbsi oleh tanaman dipergunakan dalam reaksi metabolisme
(hidrolisis). Sebagian besar air diabsorbsi itu akan dikeluarkan lagi dalam bentuk uap air
ke atmosfer melalui proses transpirasi. Kehilangan air pada tumbuhan dapat berlangsung
melalui stomata, kultikula, dan lentisel (Salisbury dan Ross, 1992 : 56).
Air merupakan kebutuhan pokok bagi semua tanaman dan bahan penyusun utama
protoplasma sel. Tanaman selalu membutuhkan air selama siklus hidupnya, mulai dari
masa perkecambahan sampai panen. Semua proses metabolisme pada tanaman
membutuhkan air, oleh sebab itu jumlah pemakaian air oleh tanaman berkorelasi positif
dengan produksi biomassa tanaman dan hanya sebagian kecil air yang diserap akan
ditranspirasikan melalui stomata (Harwati, 2007 : 44-51).
Beberapa faktor yang mempengaruhi absorbsi pada tumbuhan, yaitu :
a. Daya Hisap Daun
Daya hisap daun adalah timbulnya tarikan terhadap air yang ada pada sel– sel di
bawahnya dan tarikan ini akan diteruskan molekul demi molekul, menuju ke bawah
sampai ke seluruh kolom air pada xilem sehingga menyebabkan air tertarik ke atas dari
akar menuju ke daun. Proses tersebut juga biasa disebut dengan transpirasi. Dengan
adanya transpirasi membantu tumbuhan dalam proses penyerapan dan transportasi air
di dalam tumbuhan (Agafta, dkk., 2015 : 9).
Daya hisap daun mempunyai peranan penting sehingga air tanah dapat naik ke atas.
Air bergerak secara vertikal melalui pembuluh xilem melawan gravitasi. Beberapa
faktor yang mempengaruhi daya hisap daun antara lain (Sasitamiharja, dkk., 1996: 60-
61).

2
b. Kapilaritas Batang
Kapilaritas merupakan interaksi antara permukaan singgung dari suatu bahan cair
dan bahan padat, sehingga permukaan zat cair tersebut berubah bentuk, dari datar
menjadi agak mengerut. Kapilaritas menyebabkan naiknya cairan ke dalam tabung
yang sempit, yang terjadi karena zat cair tersebut membasahi dinding tabung (dengan
daya adhesi) lalu tertarik ke atas. Hal itu terlihat jelas dari lengkungan meniskus di
puncak kolom zat cair itu (Salisbury dan Ross, 1992 : 104).
Kapilaritas pada pembuluh kayu ini dapat terjadi karena pembuluh kayu merupakan
pembuluh yang sangat halus berupa pipa-pipa kapiler. Dengan kata lain, pengangkutan
air melalui xilem mengikuti prinsip kapilaritas. Daya kapilaritas disebabkan karena
adanya kohesi antara molekul air dengan air dan adhesi antara molekul air dengan
dinding pembuluh xilem. Baik kohesi maupun adhesi ini menimbulkan tarikan
terhadap molekul air dari akar sampai ke daun secara bersambungan (Agafta, dkk,
2015: 8).
Xilem terdiri dari empat macam sel yaitu trakeid, unsur pembuluh, serat dan
parenkim xilem. Unsur pembuluh dan trakeid adalah sel yang berbentuk panjang tapi
trakeid lebih panjang serta lebih sempit daripada unsur pembuluh. Keduanya berperan
dalam pengangkutan cairan xilem. Sel trakeid berujung runcing yang bersambung-
sambungan. Ceruk dibagian yang runcing memungkinkan air bergerak ke atas dari satu
traked ke trakeid yang lain. Diameter unsur trakeid berkisar antara 10-25 mikrometer
sedangkan diameter unsur pembuluh berkisar antara 40-80 mikrometer (Salisbury dan
Ross, 1992 : 109).
c. Tekanan Akar
Akar tumbuhan menyerap air dan garam mineral baik siang maupun malam. Pada
malam hari, ketika transpirasi sangat rendah, atau bahkan nol, sel-sel akar masih tetap
menggunakan energi untuk memompa ion-ion mineral ke dalam xilem. Endodermis
yang mengelilingi stele akar tersebut membantu mencegah kebocoran ion-ion ini
keluar dari stele. Akumulasi mineral di dalam stele akan menurunkan potensial air. Air
akan mengalir masuk dari korteks akar, menghasilkan suatu tekanan positif yang
memaksa carian naik ke xilem. Dorongan getah xilem ke arah atas ini disebut tekanan
akar (roof pressure) (Agafta, dkk, 2015: 7).
Tekanan akar akan mendorong air sehingga naik ke pembuluh kayu di batang.
Tekanan akar tampak pada sebagian besar tumbuhan, tapi hal ini terjadi jika tanah

3
cukup lembab, dan bila kelembaban udara tinggi artinya ketika transpirasi sedang
sangat rendah. Tetesan air akan terlihat keluar dari bukaan (hidatoda) pada ujung atau
tepi daun rerumputan atau daun arbei. Fenomena itu disebut gutasi. Jika tumbuhan
ditempatkan pada kondisi atmosfer yang cukup kering, atau di tanah yang
berkelembapan rendah atau sekaligus dalam kedua keadaan tersebut, maka tekanan
akar tidak muncul sebab air dalam batangnya berada di bawah tegangan dan bukan di
bawah tekanan (Salisbury dan Ross, 1992 : 103).

D. ALAT DAN BAHAN


a. Potometer
b. Pisau tajam atau cutter
c. Alat tulis
d. Pipet tetes
e. Vaseline
f. Eosin
g. Ranting tanaman (Tanaman walisongo)
h. Kertas buram

E. CARA KERJA
 Menyiapkan sebuah ranting atau daun tanaman yang tidak mudah layu. Pilihlah ukuran
ranting / daun yang sama dengan ukuran pipa karet pada potometer. Buatlah ukuran
atau jumlah daun kedua ranting tersebut berbeda.
 Melepaskan karet penyumbat pada tabung kaca potometer. Masukkan alat ini dalam
bak plastik berisi air. Masukkan ranting atau tangkai daun kedalam pipa potometer.
Kemudian menutup mulut pipa kaca utama dengan karet penyumbat dengan rapat.
 Mengangkat rangkaian percobaan tersebut dan memberi tanda posisi awal dari air pada
pipa berskala dengan spidol.
 Menempatkan percobaan pada tempat yang terkena cahaya. Untuk pengembangan
dapat pula satu potometer ditempatkan di tempat terik, dan satu potometer lainnya di
ruangan tetapi ukuran (jumlah) daun dibuat sepadan (sama).

4
F. HASIL PENGAMATAN
Data pengamatan laju air
Luasan 8 helaian Luasan 6 helaian Luasan 4 helaian
Kelompok
daun (cm2) daun (cm2) daun (cm2)
Kelompok 1 123,36 100,43 75,88
Kelompok 2 95,1 90,67 70,1
Kelompok 3 112,45 92,65 61
Rerata 110,3 94,58 69
Kelompok 4 112,9 85,1 60,8
Kelompok 5 204,25 109,18 96,53
Kelompok 6 112,31 102,53 66,1
Rerata 143,2 101,27 74,47

Data pengamatan luasan daun


Jumlah air yang terabsorb (ml) pada waktu ke
Kelompok
10 menit 20 menit 30 menit
Kelompok 1 0,04 0,02 0,01
Gelap Kelompok 2 0,04 0,04 0,02
Kelompok 3 0,05 0,01 0,01
Rerata 0,043 0,023 0,013
Kelompok 4 0,06 0,03 0,02
Terang Kelompok 5 0,04 0,02 0,01
Kelompok 6 0,01 0,01 0,02
Rerata 0,037 0,02 0,017

Grafik jumlah air yang diserap tumbuhan lawan luasan daun tumbuhan pada keadaan
ternaungi

120

100
Luasan daun (cm2)

80

60

40

20

0
0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025 0.03 0.035 0.04 0.045 0.05
Jumlah air yang serap oleh tumbuhan (ml)

5
Grafik jumlah air yang diserap tumbuhan lawan luasan daun tumbuhan pada keadaan terang
160

140

120
Luasan daun (cm2)

100

80

60

40

20

0
0 0.005 0.01 0.015 0.02 0.025 0.03 0.035 0.04
Jumlah air yang serap oleh tumbuhan (ml)

G. PEMBAHASAN

Pada tanggal 18 April 2019 telah dilaksanakan praktikum struktur fungsi tumbuhan
dengan judul “Luas daun, Absorbsi, dan Transpirasi”. Praktikum yang pertama kali
dilakukan adalah praktikum untuk menguji kecepatan absorbsi pada tumbuhan. Praktikum
ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh luas daun terhadap kecepatan absorbsi air pada
tumbuhan. Pada praktikum ini menggunakan potometer untuk mengukur berapa banyak air
yang diserap oleh tumbuhan. Tumbuhan yang digunakan pada praktikum ini adalah
tumbuhan walisongo yang diambil rantingnya saja dengan daun berjumlah 8 helai.

Pertama, ranting tadi dipotong terlebih dahulu kemudian bagian ranting yang terpotong
dirapikan dan dipotong agar dapat masuk ke dalam pipa karet pada potometer. Hal ini
dimaksudkan untuk tumbuhan agar dapat menyerap air dengan baik dalam potometer
melalui bagian ranting yang sudah dipotong sebelumnya. Kemudian, karet penyumbat pada
potometer dilepas dan potometer diisi dengan air hingga semuanya terisi dengan air dan
tidak terdapat gelembung udara. Setelah itu, potometer ditutup dengan karet penyumbat dan
ranting dimasukkan pada bagian pipa karet. Setelah potometer selesai dirakit, pada bagian –
bagian yang rawan terjadi kebocoran air, seperti pada perbatasan antara karet penyumbat
dengan tabung potometer atau pada perbatasan pipa karet dengan ranting tumbuhan, diolesi
vaseline agar tidak ada air yang keluar maupun udara yang masuk. Kemudian pada bagian
ujung potometer ditetesi dengan eosin hingga eosin dapat masuk ke dalam tabung potometer.
Eosin ini berfungsi sebagai penunjuk berapa banyak air yang terserap oleh ranting

6
tumbuham tersebut sehingga menyebabkan eosin tertarik ke dalam tabung potometer
mengikuti jumlah berkurangnya air karena diserap oleh tumbuhan. Pada praktikum ini dari
6 kelompok dibagi menjadi dua bagian, yaitu yang melakukan pengamatan di tempat terang
dan melakukan pengamatan di tempat gelap atau ternaungi (intesitas cahaya matahari
rendah).

Hasil percobaan pada tempat ternaungi yang dilakukan menunjukkan bahwa jumlah air
yang diserap oleh tumbuhan pada saat jumlah daun masih 8 helai adalah 0,043 ml, jumlah
air yang diserap tumbuhan pada saat jumlah daun 6 helai adalah 0,023 ml, dan jumlah air
yang diserap oleh tumbuhan saat jumlah daun 4 helai adalah 0,013 ml. Sedangkan pada
tempat yang terang, keadaan ruangan yang terang, jumlah air yang diserap tumbuhan dengan
jumlai daun 8 helai adalah 0,037 ml, jumlah air yang diserap tumbuhan saat jumlah daun 6
helai adalah 0,02 ml, dan jumlah air yang diserap oleh tumbuhan saat jumlah daunnya 4 helai
adalah 0,017 ml. Apabila dilihat dari rerata ini dapat disimpulkan bahwa ada suatu pola
hubungan atau kecenderungan tertentu antara volume penyerapan air dengan jumlah (luas)
daun, yaitu semakin banyak maupun semakin luas daun – daun yang ada pada suatu
tumbuhan maka semakin besar pula volume air yang diserap oleh tumbuhan tersebut melalui
absorbsi air. Penyerapan air paling besar terjadi pada tumbuhan yang memiliki luas daun
paling besar, yaitu tumbuhan yang memiliki jumlah daun 8 helai. Hal ini disebabkan oleh
total luas dari kedelapan daun tersebut lebih besar dari total luas dari 6 daun dan total luas
dari 4 daun pada tumbuhan yang sama, sehingga semakin luas suatu daun pada sebuah
tanaman akan mengakibatkan air yang dibutuhkan untuk diserap oleh tumbuhan lebih
banyak yang selanjutnya akan dilakukan proses transpirasi.

H. KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa, jumlah
daun akan mempengaruhi total luas daun yang ada pada suatu tumbuhan dan berakibat pada
terpengaruhnya jumlah air yang diserap oleh tanaman tersebut. Semakin banyak maupun
semakin luas daun – daun yang ada di suatu tumbuhan akan menyebabkan semakin besarnya
volume air yang diserap oleh tumbuhan untuk selanjutnya digunakan pada proses transpirasi.
Begitu pula sebaliknya, semakin sedikit maupun semakin sempitnya daun daun yang ada
pada suatu tumbuhan, maka akan menyebabkan volume air yang diserap tanaman juga
semakin sedikit. Air yang diserap mengandung zat – zat nutrisi untuk tumbuhan sehingga
jumlahnya harus menyesuaikan dengan banyaknya bagian – bagian tumbuhan yang harus
diberi nutrisi secara kontinyu.
7
I. DAFTAR PUSTAKA
Agafta, Roris, dkk. 2015. Pengangkutan Air pada Tumbuhan. Palembang : Universitas Islam
Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang.
Dwijoseputro. 1978. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Jakarta : Gramedia.
Harwati TC. 2007. Pengaruh Kekurangan Air (Water Deficit) Terhadap Pertumbuhan dan
Perkembangan Tanaman Tembakau. Jurnal Inovasi Pertanian 6, 1 : 44-51.
Saliburry, Frank dan Cleon Ross. 1992. Fisiologi Tumbuhan Jilid 1. Bandung: ITB Press.
Sasmitamihardja, Dardjat, dkk. 1996. Fisiologi Tumbuhan. Bandung: Dirjen Dikti Depdikbud.

8
J. LAMPIRAN

Potometer yang sudah dirakit dan diberi tangkai tanaman walisongo