Anda di halaman 1dari 5

PAPER PENYULUHAN PERTANIAN

MEDIA DAN METODE PENYULUHAN

Oleh :
RISKI NUFADILAH (D31171836)
RIZKI IVAZAKIYA (D31171937)
ARIF RACHMAN (D31171947)
NOVITA DWI P. C. (D31172000)
ADELIA N. V. (D31172216)
GOLONGAN :D

PROGRAM STUDI MANAJEMEN AGRIBISNIS


JURUSAN MANAJEMEN AGRIBISNIS
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2019
PENYULUHAN PERTANIAN
MEDIA DAN METODE PENYULUHAN

1. Gambaran Umum Kelompok Tani


Penyuluhan pertanian didefinisikan sebagai suatu sistem pendidikan di luar
sekolah untuk keluarga-keluarga tani di pedesaan, di mana mereka belajar sambil
berbuat untuk menjadi mau, tahu dan bisa menyelesaikan sendiri masalah-
masalah yang dihadapinya secara baik, menguntungkan dan memuaskan. Dalam
kegiatan penyuluhan pertanian, komunikasi menjadi sebuah faktor penting yang
dapat menunjang tercapainya tujuan-tujuan penyuluhan. Disini, komunikan
dituntut untuk memiliki sebuah strategi komunikasi agar objek penyuluhan dapat
menerima pesan dengan baik dan tidak terjadi missunderstanding dalam proses
penyuluhan ini (Mugniesyah, 2006).
Setiap petani di suatu daerah pertanian memiliki karakteristik yang berbeda-
beda, oleh karenanya penyajian komunikasinya pun perlu disesuaikan dengan
daerah masing-masing petani. Para petani yang masih berada di daerah pedesaan
yang terisolir tentunya lebih efektif jika diberikan penyuluhan dengan metode
dialog dua arah serta pendekatan interpersonal. Terdapat korelasi positif yang
nyata antara kompetensi komunikasi yang dimiliki oleh penyuluh terhadap
perilaku petani dalam mengelola sumber daya yang dimiliki. Selain faktor
keterisoliran dan kompetensi komunikasi, strategi komunikasi pun berpengaruh
terhadap efektifitas komunikasi. Oleh karenanya, diperlukan sebuah kajian
mendalam untuk mengetahui bagaimana seharusnya penyajian komunikasi
pertanian yang efektif dalam kegiatan penyuluhan terhadap ragam petani yang
tersebar di berbagai daerah agar para petani dapat tercerahkan dan berkembang
cara berpikirnya (Sadono, 2009).
Komunikasi pertanian adalah penyampaian pesan atau informasi dari dua arah
secara vertikal dan juga horizontal kepada para petani untuk terjalinnya hubungan
antar penyuluh dengan para petani, dengan adanya komunikasi maka terjadilah
hubungan sosial, karena bahwa manusia itu adalah sebagai makluk sosial, di
antara yang satu dengan yang lainnya saling membutuhkan, sehingga terjadinya
interaksi yang timbal balik. Biasanya penyuluh berkomunikasi dengan beberapa
GAPOKTAN, hal ini untuk memperkuat kerjasama diantara sesama petani dalam
kelompok tani dan antar kelompok tani serta dengan pihak lain. Melalui
kerjasama ini diharapkan usahataninya akan lebih efisien serta lebih mampu
menghadapi ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan. Salah satu kelompok
tani yang bekerja sama dengan Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) adalah
kelompok tani Sumber Rezeki di Desa Cangkring, Kecamatan Jenggawah,
Jember.
 Profil Kelompok Tani
Kelompok Tani Sumber Rezeki terbentuk pada tahun 1980 yang diketuai oleh
Bapak Ahmad Sohih yang berawal dari keluhan para petani yang kesulitan dalam
mendapatkan pupuk. Kemudian muncul inisiatif dari para petani untuk membuat
sebuah wadah keluh kesahnya agar tersalurkan dan mendapatkan solusi yang
dilakukan bersama-sama. Kelompok Tani ini beralamat di Desa Cangkring Baru,
Cangkring, Jenggawah, Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Komoditi yang ditanam yaitu padi, jagung dan kedelai sesuai dengan musim
tanam. Jika musim hujan komoditi yang ditanam adalah padi selama 2 musim,
dan jika pada saat musim kemarau makan jagung atau kedelai yang ditanam
selama 1 musim. Hasil panen yang diperoleh akan dijual ke pengepul.
 Letak Geografis
Ketinggian 63 m di atas permukaan air laut
Luas 7,2 km2
Luas Sawah 639 ha

 Proses Pembelajaran Petani


Proses Pembelajaran Petani dilakukan dengan melakukan diskusi bersama
mengenai keluhan yang dialami oleh para petani dan solusinya. Biasanya para
petani juga menunggu informasi-informasi baru dari Penyuluh yang dapat
menambah wawasan dan pengetahuan agar bisa meningkatkan hasil produksinya.
Proses belajar ini sangat bisa diterima oleh para petani karena tidak ada jarak
antara penyuluh dan juga petani. Tapi sayangnya banyak juga petani yang hanya
ikut berkumpul jika ada bantuan dari pemerintah saja.
 Adopsi Inovasi
Kelompok Tani Sumber Rezeki ini sudah mengadopsi inovasi di bidang
teknologi yaitu mesim pemanen padi tetapi mesin ini milik gapoktan jadi
pemakaiannya harus bergantian dengan kelompok tani lain dan juga alat penanam
padi (transplenter) yang didapatkan dari bantuan pemerintah.
 Proses Komunikasi
Proses komunikasi yang dilakukan oleh penyuluh disana sangat diterima oleh
para petani karena penyuluh ini melakukan pertemuan rutin meskipun itu tidak
ada informasi-informasi yang disampaikan. Mereka saling diskusi dan sharing
mengenai seputar pertanian, masalah-masalah yang dialami oleh petani dengan
suasana yang santai dan nyaman. Sehingga petani disana sangat menerima dan
menerima banyak manfaat dari kegiatan penyuluhan itu sendiri.

2. Permasalahan dalam Kelompok Tani


a) Serangan hama wereng pada tanaman padi.
b) Sistem pemasarannya yang masih sederhana, hasil panen yang diperoleh
dibeli oleh pengepul dengan harga rendah.
c) Para petani biasanya hanya antusias dalam kegiatan penyuluhan pertanian
jika ada pemberian dana, pupuk, dan obat-obatan. Jika tidak ada bantuan
mereka sedikit malas untuk diajak berdiskusi atau berkumpul bersama.

3. Solusi
a) Mencari informasi mengenai cara penanggulangan hama wereng, atau
melapor ke kelompok tani yang nantinya didiskusikan bersama, jika belum
mendapatkan solusi maka melapor ke GAPOKTAN atau langsung
menghubungi PPL yang biasanya melakukan penyuluhan agar
memberikan solusi yang tepat.
b) Sebelum menjual hasil panen terlebih dahulu mensurvei harga dipasaran
dan berusaha melobi atau mencari akses dengan badan usaha tertentu
untuk diajak bekerja sama dan menjalin kesepakatan yang bisa saling
menguntungkan.
c) Menciptakan kegiatan penyuluhan pertanian yang lebih menarik dan lebih
interaktif dengan para petani agar tidak bosan, membuat jadwal kegiatan
yang terstruktur sehingga mempermudah para petani dalam mengikuti
serangkaian acara, membuat kegiatan yang sesuai dengan kebiasaan para
petani, menambahkan alat peraga untuk mendukung penyampaian
informasi.