Anda di halaman 1dari 4

Analisis Video Pembelajaran

Bidang Studi : Bahasa Indonesia

Berdasarkan Teori Kontruktivisme


a. Pendahuluan
Teori kontruktivisme merupakan sebuah teori yang lebih menekankan pada keaktifan
siswa. Dalam teori ini siswa lebih menonjol daripada guru, sehingga di sini seorang guru
hanya menjadi fasilitator atau penyedia kebutuhan siswa. Dengan kata lain, siswa turut
menjadi kunci keberhasilan dalam proses pembelajaran yang dilakukan. Dengan melibatkan
siswa dalam memaknai pengalaman sebagai inti dari pembelajaran maka proses belajar dan
mengajar akan lebih berkesan di hati peserta didik. Teori ini juga menghargai gagasan-
gagasan atau pemikiran siswa, yang berarti guru telah membantu siswa dalam menemukan
identitas intelektual mereka. Dengan demikian mereka sendiri telah menjadi problem solver.
Apabila seorang guru menerapkan atau menggunakan teori kontruktivisme ini akan
menantang para sisiwa untuk mampu menjangkau hal-hal yang lebih faktual dan sederhana
dan dapat membuat siswa lebih agresif dan mereka merasa tertantang dengan hal tersebut.
Maka peserta didik akan mencari tahu lebih dalam lagi, dengan begitu akan membuat peserta
didik mampu menjangkau hal-hal yang luar biasa.
b. Landasan Teori
Kontruksi berarti bersifat membangun, dalam konteks filsafat pendidikan,
Konstruktivisme adalah suatu upaya membangun tata susunan hidup yang berbudaya modern.
Konstruktivisme merupakan landasan berfikir pembelajaran konstektual yaitu bahwa
pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui
konteks yang terbatas dan tidak sekonyong-konyong. Kontruktivisme juga merupakan sebuah
gerakan besar yang memiliki posisi filosofis dalam pendekatan dan strategi pembelajaran. 1
Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil
dan diingat. Manusia harus mengkontruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui
pengalaman nyata. Semua dalam diri individu diwakili melalui struktur mental dikenal
sebagai skema yang akan menentukan bagaimana data dan informasi yang diterima, dipahami
oleh manusia. Jika ide tersebut sesuai dengan skema, ide ini akan diterima begitu juga
sebaliknya. Konstruktivisme merupakan pandangan terbaru di mana pengetahuan akan
dibangun sendiri oleh pelajar berdasarkan pengetahuan yang ada pada mereka. Makna

1
Dadang Supardan, “Teori dan Praktik Pendekatan Konstruktivisme Dalam Pembelarajan” ,
Edunomic, Volume 4 No. 1 Tahun 2016, hlm 1
pengetahuan, sifat-sifat pengetahuan dan bagaimana seseorang menjadi tahu dan
berpengetahuan, menjadi perhatian penting bagi aliran konstruktivisme.
Teori belajar konstruktivisme adalah teori belajar yang berpendapat bahwa pengetahuan
bukanlah suatu kumpulan fakta yang bisa ditransfer oleh guru kepada murid, tetapi murid
harus mengkontruksi pengetahuannya sendiri.2 Menurut Noeng Muhadjur, konstruktivisme
merupakan tradisi berpikir para jenius seperti al-Kindi, al-Farabi, Einstein, dan banyak tokoh
lainnya.3
Perspektif konstruktivisme mempunyai pemahaman tentang belajar yang lebih
menekankan proses daripada hasil. Hasil belajar sebagai tujuan dinilai penting, tetapi proses
yang melibatkan cara dan strategi dalam belajar juga dinilai penting. Dalam proses belajar,
hasil belajar, cara belajar dan strategi belajar akan mempengaruhi perkembangan tata pikir
dan skema berpikir seseorang
Jadi, konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif, yaitu
tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. 4 Kontruktivisme lebih memahami
belajar sebagai kegiatan manusia membangun atau menciptakan pengetahuan dengan
memberi makna pada pengetahuannya sesuai dengan pengalamanya. Ini menyebabkan
seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Menurut paham
konstruktivisme, ilmu pengetahuan sekolah tidak dipindahkan dari guru kepada murid dalam
bentuk yang serba sempurna. Murid perlu membina sesuatu pengetahuan mengikuti
pengalaman masing-masing. Pembelajaran adalah hasil daripada usaha murid itu sendiri dan
guru tidak boleh belajar untuk murid. Konstruktivisme mempertimbangkan keterlibatan siswa
dalam memaknai pengalaman sebagai inti dari pembelajaran.5 Dalam hal pembelajaran
seluruh peserta didik perlu meningkatkan integrasi dan aktif dalam pembelajaran.6
c. Analisis
1. Deskripsi pembelajaran
Proses pembelajaran di bagi menjadi tiga bagian, yang pertama kegiatan pembukaan,
kedua, kegiatan inti, dan yang terakhir kegiatan penutup. Kegiatan pembukaan diawali

2
Siti Ma’rifatul Hasanah, “Konsep Belajar Dalam Teori Konstruktivistik dan Islam Klasik”, Jurnal
Tarbiyatuna volume 2 No 2 Juli- Des 2017, hlm 5
3
Sukiman, “Teori Pembelajaran Dalam Pandangan Konstruktivisme dan Pendidikan Islam” Jurnal
Kependidikan Islam, Volume 3 Nomor 1, Januari-Juni 2008, hlm 59
4
Suyono, Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar (PT Remaja Rosdakarya: Bandung, 2011)
hlm. 111-115.
5
Soemanto, Wasty, Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan ( Jakarta: PT Rineka
Cipta, 1998) hlm. 89-90.
6
Winasanjaya, Pembelajaran dalam implementasi kurikulum berbasis kompetensi (Jakarta: Kencana,
2005) hlm. 76
dengan ucapan salam oleh sang guru kepada para peserta didik. Setelah mengucapkan salam,
guru menanyakan kabar peserta didik kemudian guru menunjuk ketua kelas untuk memimpin
doa. Untuk membuat anak-anak lebih fresh dan semangat maka sebelum guru menyampaikan
materinya, terlebih dahulu mereka berrnyanyi sama-sama. Selesai bernyanyi maka guru
langsung menyampaikan materi tentang teks eksposisi dan masuklah kepada kegiatan inti.
Kegiatan inti dimulai dengan pembacaan pidato dari buku paket oleh salah seorang peserta
didik dengan tema remaja dan pendidikan karakter. Setelah pembacaan pidato selesai guru
pun bertanya seperti apa karakter remaja yang baik, lalu guru menunjukkan beberapa gambar
yang menunjukkan karakter remaja yang buruk, maka sontak para siswa mengatakan bahwa
hal tersebut tidak baik. Kemudian guru seperti apa remaja itu? Lalu beberapa siswa
memberikan argumennya masing-masing. Setelah itu, guru menunjuk seorang siswa untuk
membaca sebuah teks eksposisi. Lalu guru membagi para siswa menjadi beberapa kelompok
dan memberikan sebuah gambar kepada masing-masing kelompok untuk merangkai sebuah
teks eksposisi dari gambar tersebut. Mereka diberi waktu untuk berdiskusi dengan teman satu
kelompoknya, di sela-sela waktu diskusi guru mendatangi masing-masing kelompok untuk
memberikan pengarahan jika ada pertanyaan dan jika mereka kurang mengerti dengan soal
yang diberikan. Setelah selesai diskusi, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil
diskusinya dan bagi kelompok yang lain dipersilakan jika ingin bertanya. Setelah selesai
proses tanya jawab, maka salah seorang siswa memberikan kesimpulan dari apa yang sudah
dipelajarinya tadi. Kegiatan inti sudah selesai, maka sekarang adalah kegiatan penutup yaitu
sang guru memberikan penguatan berupa kesimpulan dari apa yang sudah dijelaskan
sebelumnya kepada siswanya. Dan kegiatan ini ditutup dengan bernyanyi.
2. Analisis.

Dalam proses pembelajaran yang sudah dilakukan, dapat dianalisis bahwa teori
konstruktivisme terlihat pada saat guru memberikan sebuah tantangan berupa tugas kepada
masing-masing kelompok untuk membuat sebuah teks eksposisi. Kemudian mereka
berdiskusi dan saling bertukar pendapat memberikan argumen mereka masing-masing.
Setelah selesai berdiskusi, merekapun mempersentasikannya di depan kelompok yang lain,
dan kelompok lainnya merespon dengan memberikan beberapa pertanyaan kepada kelompok
yang presentasi.

d. Penutup.
1. Kritik
Teori konstruktivisme menurut penulis merupakan teori yang sangat bagus apabila
diterapkan dalam proses pembelajaran yang akan dilakukan. Karena teori ini membuat siswa
lebih aktif dan dapat menjadikan siswa lebih mandiri dalam belajarnya.

2. Saran

Dalam menggunakan teori ini, guru dituntut untuk lebih jeli dalam melihat siapa saja
dari siswanya yang kurang aktif agar dapat segera mengantisipasi kemungkinan yang tidak
diinginkan apabila hal tersebut terjadi. Guru seharusnya dapat memahami jalan pikiran siswa
dalam belajar. Guru juga seharusnya lebih memperhatikan siswa dalam memahami
pembelajaran agar tidak terjadi miskonsepsi, sebab tidak jarang ketika menggunakan teori ini
dapat membuat siswa membangun pengetahuannya sendiri.

Daftar Pustaka

Hasanah, Siti Ma’rifatul. “Konsep Belajar Dalam Teori Konstruktivistik dan Islam Klasik”,
Jurnal Tarbiyatuna volume 2 No 2 Juli- Des 2017, hlm 5
Soemanto, Wasty. 1998. Psikologi Pendidikan Landasan Kerja Pemimpin Pendidikan.
Jakarta: PT Rineka Cipta.

Sukiman, “Teori Pembelajaran Dalam Pandangan Konstruktivisme dan Pendidikan Islam”


Jurnal Kependidikan Islam, Volume 3 Nomor 1, Januari-Juni 2008, hlm 59
Supardan, Dadang, “Teori dan Praktik Pendekatan Konstruktivisme Dalam Pembelarajan” ,
Edunomic, Volume 4 No. 1 Tahun 2016, hlm 1

Suyono. 2011. Belajar dan Pembelajaran Teori dan Konsep Dasar. PT Remaja Rosdakarya:
Bandung.

Winasanjaya. 2005. Pembelajaran Dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi.


Jakarta: Kencana.