Anda di halaman 1dari 23

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

ASKEP AMPUTASI

DI SUSUN OLEH
KELOMPOK 6 :
1. INDAH MEI PUSPITASARI (P17221171007)
2. ANGELICCA SUNJA (P17221171014)
3. BELINDA ALIFIA (P17221173023)
4. ANISA KAMILA (P17221173039)

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES MALANG


PRODI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN LAWANG
2019

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahkan
rahmat serta inayah-Nya, yang karena-Nya, penulis diberikan kekuatan dan kesabaran untuk
menyelesaikan Makalah dengan judul “ASKEP AMPUTASI”
Dengan sepenuh hati, penulis pun sadar bahwa skripsi ini masih penuh dengan
kekurangan dan keterbatasan, oleh sebab itu penulis memerlukan saran serta kritikk yang
membangun yang dapat menjadikan skripsi ini lebih baik.
Selanjutnya penulis mengucapkan terimakasaih yang sebanyak-banyaknya kepada
segenap pihak yang telah memberikan dukungan, baik itu berupa bantuan, doa maupun
dorongan dan beragam pengalaman selama proses penyelesaian penulisan skripsi ini.
Terakhir, tentunya penulis berharap setiap bantuan yang telah diberikan oleh segenap
pihak dapat menjadi lading kebaikan. Dan semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan
berguna bagi kemajuan pendidikan usia dini.

Malang, 3 Februari 2019


Penyusun

2
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……………………………………………………………………………..

Daftar isi ................................................................................................................................

BAB 1 PENDAHULUAN…………………………………………………………… .........1

A. Latar Belakang .......................................................................................................1

B. Tujuan Penulisan .....................................................................................................2

C. Metode Penulisan…....…………………………………………………………….2

BAB 2 PEMBAHASAN .......................................................................................................4

A. Konsep Dasar ...........................................................................................................4

Pengertian ...............................................................................................................4

Patofisiologi .............................................................................................................4

Etiologi ....................................................................................................................5

Tingkat Amputasi......................................................................................................5

Penatalaksanaan Amputasi…………………………………………………………6

B. Pengkajian………………………………………………………………………….8

Diagnosa……………………………………………………………………………10

Intervensi Keperawatan…………………………………………………………….10

Tindakan Keperawatan……………………………………………………………..15

Evaluasi Keperawatan……………………………………………………………....17

BAB 3 PENUTUP ................................................................................................................19

Kesimpulan dan saran ................................................................................................19

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….20

3
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Amputasi adalah pembedahan memotong dan mengangkat tungkai dan

lengan, amputasi yang disebabkan oleh kecelakaan (23%), penyakit (74%) dan

kelainan genital (3%). Amputasi merujuk pada pengangkatan semua atau sebagian

ekstremitas. Bila melakukan amputasi, dokterbedah berupaya untuk

menyelamatkan sebanyak mungkin tungkai. Amputasi dapat terbuka (guillotine)

atau tertutup. Amputasi terbuka dilakukan untuk infeksi berat. Untuk emputasi

tertutup, dokter bedah menutup luka dengan flap kulit yang dibuat dengan

memotong tulang kira-kira dua inci lebih pendek dari pada kulit dan otot.

Pada beberapa kasus, gips plester kaku diberikan pada puntung diruang

operasi. Prostetik tungkai sementara dengan telapak prostetik kemudian

disambungkan ke gips plester dan pasien diizinkan ambulasi dengan beban berat

badaan minimal dalam beberapa hari. Teurapik fisik biasanya mulai mengajarkan

tehnik-tehnik pemindahan dan latihan kekuatan otot setelah aalat drainase luka

diangkat. Ambulasi berlanjut saat pasien belajar begaimana untuk

menyeimbangkan bataang parallel pada ruang terapi fisik.

Komplikasi pasca operasi utama dihubungkan dengan amputasi adalah

infeksi, hemoragi, kontraktor dan emboli lemak. Kejadian klinik umum sering

menjadi sumber ketidak nyamanan untuk kebanyakan pasien adalah sensasi fantom

4
limb. Amputasi ekstremitas bawah dapat dibawah lutut (BKA) atau diatas lutut

(AKA).

Berdasarkan hal tersebut maka penulis tertarik untuk membahas masalah

tersebut dalam sebuah makalah yang berjudul (ASUHAN KEPERAWATAN

PADA PASIEN AMPUTASI”

B. TUJUAN PENULISAN

1. Tujuan umum

Diharapkan mahasiswa mahasiswi mampu memahami bagaaimana cara

memberikan asuhan keperawatan pada pasien amputasi.

2. Tujuan khusus

a. Mahasiswa mahasiswi mampu memahami konsep amputasi

b. Mahasiswa mahasiswi mampu melakukan pengkajian

c. Mahasiswa mahasiswi mampu melakukan diagnosa

d. Mahasiswa mahasiswi mampu melakukan perencanaan

C. METODE PENULISAN

Penulisan makalah ini menggunakan metode deskriptif yaitu suatu

penyebab dan keadaan secara objektif dan sistematis terdiri dari latar belakang,

tujuan dan metode penulisa yang diberkaitan dengan asuhan keperawatan pada

pasien amputasi.

5
Dimana makalah ini juga terdapat adaanya anggapan-anggapan dasar tentang

amputasi dan pembahasannya juga diuraikan didalamnya tujuannya untuk dapat

memahami tentang amputasi dan dapat memberikan asuhan keperawatan yang

intensif pada pasien amputasi,

Tehnik penulisan dalam makalah ini juga diterapkan bagi penulisan untuk

membuat dan mengembangkan makalah ini secara cermat dan teliti. Sehingga

mehasiswa (i) mudah memahami dan mempelajari tentang amputasi.

6
BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR

1. Pengertian

Amputasi adalah tindakan pembedahan dengan membuang bagian tubuh.

Untuk amputasi tertutup, dokter bedah menutup luka dengan klap kulit yang

terbuat dengan memotong tulang kira-kira dua inci lebih pendek dari pada kulit

dan otot.

2. Patofisiologi

Dilakukan sebagian kecil sampai dengan sebagian besar dari tubuh dengan

dua metode :

1. Metode terbuka (guillotine)

metode ini digunakan pada klien dengan infeksi yang mengembang.

Bentuknya benar-benar terbuka dan di pasang drainase agar lika bersih dan

luka dapat ditutup setelah tidak terinfeksi.

2. Metode tertutup (flap amputasi)

pada metode ini kulit tepi ditarik pada atas ujung tulang dan dijahit pada

daerah yang di amputasi, tidak semua amputasi di operasi dengan terencana,

klasifikasi yang ada karena trauma amputasi.

7
3. Etioligi

Indikasi utama bedah amputasi adalah karena :

1. Iskemia karena penyakit reskulasisasi perifer biasanya pada orang tua

seperti klien dengan artherosklerosis, diabetes mellitus.

2. Trauma amputasi bisa diakibatkan karena perang, kecelakaan, tremal injury

seperti terbakar, tumor, infeksi, gangguan metabolisme seperti pagets diseae

dan kelainan kengenital

4. Tingkatan amputasi

a. Ekstremitas atas

Amputasi pada ekstremitas atas dapat mengenai tangan kanan atau tangan

kiri,hal ini berkaitan dengan aktivitas sehari-hari seperti makan, minum,

mandi, berpakaian dan aktifitas yang lainnya yangmelibatkan tangan.

b. Ekstremitas bawah

Amputasi pada ekstremitas ini dapat mengenai semua atau sebagian dari

jari-jari kaki yang menimbulkan seminimal mungkin kemampuannya.

Adapun amputasi yang sering terjadi pada ekstremitas terbagi menjadi

dua letak amputasi yaitu :

1. amputasi dibawah lutut (below knee amputation)

2. amputasi diatas lutut

8
5. Penatalaksanaan amputasi

Amputasi dianggap selesai setelah dipasang prostesis yang baik dan

berfungsi :

a. Rigid dressing

Rigid dressing : yaitu dengan menggunakan plester of paris yang

dipasang waktu dikamar operasi. Pada waktu memasang harus direncanakan

apakah penderita harus imobilisasi atau tidak. Bila tidak memasang segera

dengan memperhatikan jangan sampai menyebabkan konstriksi stump dan

memasang balutan pada ujung stump serta tempat-tempat tulang yang

menonjol.

Setelah pemasangan rigid dressing bisa dilanjutkan dengan mobilisasi

segera, mobilisasi setelah 7-10 hari post operasi dengan mobilisasi segera,

mobilisasi setelah luka sembuh. Setelah 2-3 minggu setelah luka stump dan

mature.

b. Masalah terhadap system tubuh

a. Kecepatan metabolisme

Jika seseorang dalam keadaan imobilisasi maka akan menyebabkan

pada bfungsi simpatik serta penurunan katekolamin dalam darah sehingga

menurunkan metabolisme basal.

b. Ketidak seimbangan cairan dan elektolit

9
Adanya penurunan serum protein tubuh akibat proses katabolisme lebih

besar dari anabolisme maka akan mengubah tekanan osmotic koloid plasma hal

ini menyebabkan pergeseran cairan intravaskuler keluar keruang intestisial pada

bagian tubuh.

c. System respirasi

1. Penurunan kapasitas paru

Pada klien imibilisasi dalam posisi baring terlentang maka kontraksi otot

intercosta relative kecil, diafragma otot perut dalam rangka mencapai inspirasi

maksimal dan ekspirasi paksa.

2. Perubahan perfusi setempat

Dalam posisi tidur telentang pada sirkulasi pulmonal terjadi rasio

ventilasi dengan perfusi setempat.

3. Mekanisme batuk tidak efektif

Akibat imobilisasi terjadi penurunan kerja sillaris saluran pernafasan

sehingga sekresi mucus cenderung menumpuk dan menjadi lebih kental dan

mengganggu gerakan giliran normal.

d. System kardiovaskuler

1. Peningkatan denyut nadi

2. Penurunan cardiac reserve

3. Orthostatic hipotensi

10
e. System musculoskeletal

1. Penurunan kekuatan otot

Dengan adanya imobilisasi dan gangguan system vascular memungkinkan

suplai O2 dan nutrisi sangat berkurang pada jaringan demikian pula dengan

pembuangan sisa metabolisme akan terganggu sehingga menjadikan kelelahan otot.

2. Atropi otot

Karena adanya penurunan stabilitas dari anggota gerak dan adanya penurunan

fungsi pernafasan.

3. Kontraktur sendi

Terjadi penurunan metanbolisme kalsium, hal ini menurunkan persenyawaan

organic dan anorganik sehingga massa tulang.

B. ASUHAN KEPERAWATAN

1.Pengkajian

a. Aktivitas/Istirahat

Gejala : keterbatasan actual atau antisipasi yang dimungkinkan

oleh kondisi/amputasi

b. Integritas ego

Tanda : ansietas, ketakutan, peka, marah, ketakutan, menarik

diri, keceriaan berdaya

11
Gejala : masalah tentang antisipasi perubahan pola hidup, situasi

financial, reaksi orang lain perasaan putus asa, tidak berdaya.

c. seksualitas

Gejala : masalah tentang keintiman hubungan

d. interaksi sosial

Gejala : masalah hubungan dengan penyakit atau kondisi

=> pengkajuian data dasar

1. adanya factor-faktor yang berperan pada perlunya amputasi

- penyakit arteri perifer kronis (alsan paling umum)

- trauma

- frostbite

- Kanker tulang

- infeksi berat (ganggren gas atau osteomielitis)

2. pemeriksaan fisik berdasarkan pada pengkajian vaskuler oerifer (apendiks E) dan

survey umum (apendiks F) untuk membuat nilai-nilai dasar.

3. kaji perasaan pasien tentang amputasi dan dampaknya pada gaya hidup

4. kaji kekuatan otot pada ekstremitas yang tak sakit. Dapatkah pasien membalik

sendiri dan menggunakan lengan untuk mengangkat panggul dari matras,

12
kelemahan otot diose dapat terjadi pada pasien lansia, khususnya yang telah

terbaring ditampat tidur karena proses penyakit

2.Diagnosa

Untuk klien dengan amputasi diagnosa keperawatan yang lazimm terjadi

adalah :

1. gangguan mobilisasi fisik b/d kehilangan anggota tubuh

2. gangguan rasa nyaman : nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan tulang

dan otot

3. gangguan pemenuhan ADL : personal hygiene kurang b/d kurangnya

kemampuan dalam moral diri

4. gangguan integritas kulit b/d tirah baring yang lama

3.Intervensi dan Rasionalisasi

1. gangguan mobilisasi fisik b/d kehilangan anggota tubuh

Dx I : diagnosa keperawataan : gangguan mobilisasi fisik

Tujuan :

- klien dapat menggerakkan anggota tubuhnya yang lain masih ada

- klien dapat merubah posisi dan dari posisi tidur keposisi duduk

13
- rom, tonus dan kekuatan otot terpelihara

- klien dapat melakukan ambulasi

Intervensi Rasionalisasi

 kaji ketidakmampuan bergerak klien


 dengan mengetahui derajat

yang diakibatkan oleh ketidakmampuan bergerak klien dan

prosedurbbpengobatan dan cata persepsi klien terhadap imobilisasi akan

persepsi klien terhadap dapat menemukan aktifitas mana saja

immobilisasi yang perlu dilakukan.

 Lebih klien untuk bergerak anggota


 Pergerakan dapat meningkat aliran darah

badan yang masih ada ke otot memelihara pergerakan sendi dan

mencegah kontraktur atropi

 Tingkatan ambulasi klien seperti


 Dengan ambulasi demikian klien dapat

mengajarkan penggunaan tongkat mengenal dan mengguakan alat-alat yang

dan kursi roda perlu digunakan oleh klien dan juga

untuk memenuhi aktifitas klien

 Ganti posisi klien setiap 3-4 jam


 Pergantian posisi setiap 3-4 jam dapat

secara periodik dilakukan terjadinya kontraktur

 Bantu klien menggantikan posisi dari


 Membantu klien untuk meningkatkan

tidur ke duduk dan turun dari tempat kemampuan dalam duduk dan turun dari

tidur tempat tidur

2. gangguan rasa nyaman : nyeri b/d terputusnya kontinuitas jaringan tulang

dan otot

14
Dx 2 : diagnosa keperawatan : nyeri berkurang hilang

Jangka pendek :

-. espresi wajah klien tidak mengiris kesakitan

- klien menyatakan nyerinya berkurang

- klien mampu beraktifitas tanpa mengeluh nyeri

Intervensi Rasionalisasi

 tinggikan posisi stamp  posisi stamp lebih tinggi akan

meningkatkan aliran balik vena,

mengurangi edema dan nyeri

 evaluasi derajt nyeri hebat lokasi,


 merupakan inetervensi monitoring yang

karakteristik dan intesitasnya, catat efektif tingkay kegelisahan

perubahan tanda-tanda vital dan mempengaruhi persepsi reaksi nyeri.

amosi

 Kolaborasi pemberian analgetik  Analgetik dapat meningkatkan ambang

nyeri pada pusat nyeri di otak atau dapat

membelakang rangsang nyeri sehingga

tidak sampai kerusakan saraf pusat

c. gangguan pemenuhan ADL : personal hygiene kurang b/d kurangnya

kemampuan dalam merawat diri

Intervensi Rasionalisasi

15
 Bantu klien dalam hal mandi dan
 Dengan menyediakan air dan

gosok gigi dengan cara mendekatkan alat-alat mandi maka akan

mendekatkan alat –alat mandi dan mendorong kemandirian klien dalam hal

menyediakan air dipinggirannya perawatan dan melakukan diagnosa

jika klien mampu aktifnya

 Bantu klien dalam mencuci rambut


 Dengan membantu klien dalam mencuci

dan potong kuku rambut dan memotong kuku meka

kebersihan rambut dan kuku terpenuhi

 Instruksikan oerawatan balutan atau


 Meningkatkan perawatan diri kompeten

luka, infeksi puntung membantu penyembuhan dan

mengguanakan cermin untuk pemasangan protease dan menurunkan

melihat semua area, pijat kulit dan potensial untuk komplikasi

tutup puntung dengan tepat

 Tunjukan perawatan alat protease


 Dorong pemasangan tepat, menurunkan

tekanan pentingnya pemeliharaan resiko komplikasi dan

rutin/pemasangan ulang periodiki memperpanjangkan hidup protese

4. gangguan integritas kulit b/d tirah baring

Intervensi Rasionalisasi

 Kerja sama dengan keluarga untuk


 Sabun mengandung antiseptic yang dapat

selalu menyediakan sabun mandi memhilangkan kuman dan kotoran pada

saat mandi kulit sehingga kulit bersih dan tetap

lembab

16
 Pelahara kebersihan dan kerapian
 Alat yang tenun bersih dan rapi

alat tenun setiap hari mengurangi resiko kerusakan kulit dan

mencegah masuknya mikroorganisme

 Anjurkan pada klien untuk merubah


 Untuk mencegah penekanan yang terlalu

posisi tidurnya setiap 3-4 jam sekali lama yang dapat menyebabkan iritasi

4. resiko tinggi terhadap kontraktur b/d imobilisasi

Intervensi Rasionalisasi

 Pertahankan peningkatan kontinyu


 Peninggian merupakan edema

dari puntung selama 24 jamm sesuai menurunkan resiko kontraktur fleksi dari

pesanan panggul

 Tempatkan klien pada  Otot normalnya berkontraksi waktu di


posisi

telungkup selama 30 menit 3-4 kali potong. Posisi telungkup membantu

setiap hari periode yang ditentukan mempertahankan tungkai sisa pada

dari peninggian kontinyu ekspensi

 Tempatkan rol strokanter disamping


 Kontraktur addiksi dapat terjadi karena

paha untuk mampertahankan otot fleksor lebih kuat dari pada otot

tungkai adduksi ekstrnsor

 Mulai latihan rentang gerak pada


 Latihan rentang gerak membantu

puntung 2-3 kali sehari nulai pada mempertahankan fleksibilitas dan tenus

hari pertama pasca operasi. Konsul otot

terapi fisik untuk latihan yang tepat

17
NO DIAGNOSA TINDAKAN KEPERAWATAN DAN HASIL

KEPERAWATAN

1 Gangguan mobilisasi 1. Melakukan bina hubungan saling percaya

fisik b/d kehilangan 2. Observasi ttv

anggota tubuh 3. Memantau pasien dalam melakukan aktivitas,

menganjurkan pasien untuk lebih sering

melakukan posisi duduk

4. Memotivasi pasien untuk melakukan aktivitas

sesuai dengan kemampuan

Gangguan rasa
2.
nyaman : nyeri b/d 1. Melakukan bina hubungan saling percaya

terputusnya 2. Observasi ttv

kontinuitas jaringan 3. Mengkaji skala nyeri

tulang dan otot 4. Ajarkan Teknik distraksi dan relaksas, melatih

dan memberikan sentuhan terapiutik

5. Kolaborasi dengan tim medis lain dan obat-

obatan

3.
Gangguan 1. Melakukan bina hubungan saling percaya

pemenuhan ADL : 2. Observasi ttv

personal hygine 3. Bantu pasien untuk melakukan perawatan diri

kurang b/d seperti mandi, keramas, gunting kuku, dan

kurangnya gosok gigi

18
kemampuan dalam 4. Berikan pengertian kesehatan tentang

moral diri perawatan diri kepada pasien

Gangguan integritas 1. Melakukan bina hubungan saling percaya


4.
kulit b/d tirah baring 2. Melakukan observasi ttv

yang lama 3. Membantu pasien untuk miring kanan dan

miring kiri

19
No. DIAGNOSA EVALUASI

1. Gangguan mobilisasi S : Pasien mengatakan agak pusing jika duduk

fisik b/d kehilangan


O : pasien mampu melakukan aktivitas makan dan
anggota tubuh
minum secara mandiri

A : masalah gangguan mobilisasi fisik mulai

teratasi

P : motivasi pasien untuk terus melakukan Rom

2.
Gangguan rasa nyaman : S : pasien mengatakan nyeri.

nyeri b/d terputusnya


berada pada skala 7-9
kontinuitas jaringan

tulang dan otot O : p : penyakit yang di derita (amputasi)

q : nyeri seperti tertusuk

r : nyeri di bagian yang di amputas

s : nyeri berada pada skala 7-9

t : nyeri berlangsung terus menerus

A : nyeri teratasi sebagian

P : lanjutkan intervensi 2,3,4

20
3 Gangguan pemenuhan S : pasien mengatakan bahwa sudah bias

ADL : personal hygine menggosok gigi, memotong kuku

kurang b/d kurangnya


O : gigi terlihat bersih , menyeka badan dengan
kemampuan dalam moral
sabun dan di bersihkan dengan air. Kuku sudah
diri
tidak Panjang dan bersih

A : masalah teratasi sebagian

P : intervensi di lanjutkan karena pasien masih

belum bisa merawat dirinya

Gangguan integritas kulit S : pasien mengatakan sudah bisa miring kanan


4
b/d tirah baring yang lama miring kiri meskipun dengan jangka yang agak

lama

O : integritas kulit berkurang

A : masalah teratasi sebagian

P : intervensi di lanjutkan

21
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Amputasi adalah pengangkatan memalui bedah atau traumatic pada tungkai

dan lengan. Pada umumnya trauma amputasi, bisa disebabkan tumor, infeksi,

gangguan metabolisme seperti disease dan kelainan congenital. Dilakukan sebagian

kecil sampai dengan sebagian dari tubuh.

B. SARAN

1. bagi klien dan keluarga

diharapkan klien mengeri dan memahami terhadap kesehatan citra tubuh yang

dialaminya. Tahu tentang pengobatan dan pemulihan

2. bagi perawat

Diharapkan dalam melakukan tindakan keperawatan hendaknya

sesuai dengan masalah klien berdasarkan kebutuhan, baik psikologi dan spiritual

sehingga dapat diketahui permasalahan yang ada.

22
DAFTRA PUSTAKA

Guyton, Arthur C, and john E. Hall 2002. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi ke-9

jakarta : EGC

Katzung, betran G, 1998 farmakologi dasar dan klinik edisi IV, Jakarta : EGC

Price, silvia A, and lorraine M. Wilson. 1995. patofisiologi : konsep klinis

Proses-proses penyakit vol. II edisi IV, Jakarta :EGC

Sudayo, Aru W. dkk. 2006 buku ajar ilmu penyakit dalam fakultas kedokteran

universitas indonesia

23