Anda di halaman 1dari 6

Nama Kelompok :

1. Lana Labibatul Ulya (6411417118)


2. Rr. Nirmala Ficky Sebrina (6411417119)
3. Azi Riskiyanto (6411417120)
4. Vidya Natalia Eka Putri (6411417122)
5. Gladis Flolita Yunia (6411417123)
6. Fidia Nissa (6411417124)

1. COD (Chemical Oxygen Demand)

Menurut Muhajir, Mika dalam skripsinya yang berjudul Penurunan Limbah Cair BOD
dan COD pada industri tahu menggunakan tanaman Cattail (Typha Angustifolia) dengan
ssitem Contruced Wetland mengemukakan bahwa COD atau yang disebut dengan Chemical
Oxygen Demand adalah banyaknya oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi senyawa
organik secara kimiawi (Alaerts dan Santika,1984). COD merupakan salah satu indikator
dalam pengukuran air limbah. Pada tabel tersebut merupakan hasil dari pengukuran di air
sungai, dimana ini termasuk kategori pada air bersih. Jadi, sebenarnya tidak perlu dilakukan
adanya pengukuran indikator COD di air bersih. Namun pada tabel tersebut didapatkan hasil
bahwa air sungai tersebut terdapat kandungan COD dengan kadar 11 mg/l di sungai dekat
SMP 24 Semarang, 19 mg/l di sungai Bangkong, 34 mg/l di sungai Jembatan Besi, 22 mg/l di
sungai Tugu Suharto. Di sini dapat dikatakan bahwa air sungai tersebut telah tercemar,
karena ditemukan COD pada hasil pengukuran di sungai tersebut. Semakin tinggi kadar COD
semakin tinggi pula air tersebut tercemar.

Dampak COD Terhadap Manusia dan Lingkungan

Air yang tercemar oleh pencemar seperti COD dapat menyebabkan ekosistem air baik
biota maupun kualitas air menjadi terganggu dan berkurang. Konsentrasi COD yang tinggi
menyebabkan kandungan oksigen terlarut di dalam air menjadi rendah, bahkan habis sama
sekali.Akibatnya oksigen sebagai sumber kehidupan makhluk air (hewan atau tumbuh-
tumbuhan) tidak dapat terpenuhi sehingga makhluk air tersebut menjadi mati (Monahan,
1993).

2. Kesadahan
Kesadahan adalah jumlah kation logam dua valensi Ca2+ dan Mg2+. Kation ini apabila
bereaksi dengan sabun akan membentuk endapan dan apabila bereaksi dengan ion-ion dalam
air di boiler akan dapat membentuk scale (kerak). Kesadahan merupakan petujuk kemampuan
air untuk membentuk busa apabila dicampur dengan sabun. Pada air berkesadahan rendah, air
akan dapat membentuk busa apabila dicampur dengan sabun, sedangkan pada air
berkesadahan tinggi tidak akan terbentuk busa.
Berdasarkan data pengukuran kualitas air sungai di empat lokasi yaitu di aliran sungai
dekat SMP 24 Semarang, air sungai bangkong, air sungai jembatan besi, serta air sungai tugu
Suharto diperoleh hasil sebagai berikut:
Tabel Kesadahan

Aliran Sungai Kesadahan (mg/L)


Air Sungai dekat SMP 24 Semarang 80,072
Air Sungai Bangkong 88,07
Air Sungai Jembatan Besi 80,072
Air sungai Tugu Suharto 96,0864

Dari data pengukuran tersebut, didapatkan hasil pengolahan data sebagai berikut.

Kesadahan (mg/l)
100

95

90

85
Kesadahan (mg/l)
80

75

70
Air Sungai Air Sungai Air Sungai Air Sungai Tugu
Dekat SMP 24 Bangkong Jembatan Besi Suharto
Semarang

Diagram Kesadahan

Berdasar Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor :


416/MENKES/PER/IX/1990, kadar maksimum kesadahan (CaCo3) yang diperbolehkan
sebesar 500 mg/L. Dari keempat hasil pengukuran aliran sungai tersebut, masih dibawah
batas maksimum kesadahan (CaC03) yang diperbolehkan.
Kadar kesadahan tertinggi berada di aliran sungai tugu Suharto dengan kesadahan
sebesar 96,0864 mg/L, aliran sungai Bangkong sebesar 88,07mg/L, disusul oleh aliran
sungai dekat SMP 24 Semarang dan air sungai Jembatan Besi dengan besaran kesadahan
sama yaitu sebesar 80,072 mg/L.
Air sadah tidak terlalu berbahaya jika diminum, akan tetapi dapat menyebabkan
beberapa masalah jika dikonsumsi dalam jangka panjang, hal tersebut dapat menimbulkan
osteoporosis atau pengapuran pada tulang manusia.
Selain itu, air sadah mengakibatkan dampak negatif diantaranya:
a. Menyebabkan sabun tidak berbusa karena adanya hubungan kimiawi antara
kesadahan dengan molekul sabun sehingga sifat detergen sabun hilang dan pemakaian
sabun menjadi lebih boros
b. Menimbulkan kerak pada ketel yang dapat menyumbat katup-katup ketel karena
terbentuknya endapan kalsium karbonat pada dinding atau katup ketel. Akibatnya,
hantaran panas pada ketel air berkurang sehingga memboroskan bahan bakar.

3. Klorida

Klorida (Cl) adalah salah satu senyawa umum yang terdapat pada perairan alam.
Senyawa-senyawa klorida tersebut mengalami proses disosiasi dalam air membentuk ion.
Kation dari garam-garam klorida dalam air terdapat dalam keadaan mudah larut. Ion klorida
secara umum tidak membentuk senyawa kompleks yang kuat dengan ion-ion logam. Ion ini
juga tidak dapat dioksidasi dalam keadaan normal dan tidak bersifat toksik bahkan berperan
dalam pengaturan tekanan osmotik sel. Tetapi kelebihan garam klorida dapat menyebabkan
penurunan kualitas air. Oleh karena itu sangat penting dilakukan analisa terhadap klorida,
karena kelebihan klorida dalam air menyebabkan pembentukan noda berwarna putih di
perpipaan air (Achmad, 2004). Ion klorida adalah salah satu anion anorganik utama yang
ditemukan di perairan alami dalam jumlah lebih banyak daripada anion halogen lainnya.
Klorida biasanya terdapat dalam bentuk senyawa natrium klorida, kalium klorida dan kalsium
klorida dan masih banyak lagi. Perairan yang diperuntukkkan bagi keperluan domestik,
termasuk air minum, pertanian, dan industri, sebaiknya memiliki kadar klorida lebih kecil
dari 100 mg/liter (Hefni, hal 136: 2003).

Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel. Jumlah klorida pada orang
dewasa normal sekitar 30 mmol per kg berat badan. Sekitar 88% klorida berada dalam cairan
ekstrasel dan 12% dalam cairan intrasel. Konsentrasi klorida pada bayi lebih tinggi
dibandingkan pada anakanak dan dewasa. Keseimbangan Gibbs Donnan mengakibatkan
kadar klorida dalam cairan interstisial lebih tinggi dibanding dalam plasma. Klorida dapat
menembus membran sel secara pasif. Perbedaan kadar klorida antara cairan interstisial dan
cairan intrasel disebabkan oleh perbedaan potensial di permukaan luar dan dalam membran
sel. Jumlah klorida dalam tubuh ditentukan oleh keseimbangan antara klorida yang masuk
dan yang keluar. Klorida yang masuk tergantung dari jumlah dan jenis makanan. Kandungan
klorida dalam makanan sama dengan natrium. Orang dewasa pada keadaan normal rerata
mengkonsumsi 50-200 mmol klorida per hari, dan ekskresi klorida bersama feses sekitar 1-2
mmol perhari. Drainase lambung atau usus pada diare menyebabkan ekskresi klorida
mencapai 100 mmol perhari. Kadar klorida dalam keringat bervariasi, rerata 40 mmol/L.
Pada pengeluaran keringat berlebihan, kehilangan klorida dapat mencapai 200 mmol per hari.
Klorida banyak dijumpai dalam pabrik industri kaustik soda. Bahan ini berasal dari proses
elektrolisa, penjernihan garam dan lain-lain. Klorida merupakan zat terlarut dan tidak
menyerap.

Berikut kadar klorida pada penelitian kualitas air sungai di beberapa sungai di Semarang :

LOKASI KLORIDA (mg/l)

Sungai Bangkong 26,65 mg/l

Sungai dekat SMP 24 11,66305 mg/l


Semarang

Sungai Jembatan Besi 26,6584 mg/l

Sungai Tugu Suharto 16,6615 mg/l

Berdasarkan hasil pengukuran yang dilakukan pada air sungai diatas, klorida pada
semua air sungai memenuhi standar baku mutu yang telah ditetapkan oleh Peraturan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor : 416/MENKES/PER/IX/1990 tentang Syarat-syarat
dan Pengawasan Kualitas Air. Kadar maksimum yang diperbolehkan untuk klorida dalam
persyaratan kualitas air bersih pada peraturan di atas adalah 600 mg/L. Jika keberadaan
klorida berlebih di dalam air mengindikasikan bahwa air tersebut telah mengalami
pencemaran. Kadar klorida dalam air berpengaruh terhadap tingkat keasinan air. Semakin
tinggi konsentrasi klorida maka semakin asin air yang menyebabkan menurunnya kualitas air
tersebut.

Indonesia, klorida dalam jumlah kecil dibutuhkan sebagai desinfektan dalam


penyediaan air minum. Dalam jumlah banyak klorida akan menimbulkan rasa asin, korosi
pada pipa sistem penyediaan air minum. Sebagai desinfektan, residu klor di dalam
penyediaan air sengaja dilakukan, tetapi klor ini dapat terikat pada senyawa organik dan
membentuk halogen-hidrokarbon (Cl-HC) banyak diantaranya dikenal sebagai senyawa-
senyawa karsinogenik. Oleh karena itu, di berbagai negara maju sekarang ini, kloronisasi
sebagai proses desinfeksi tidak lagi digunakan karena adanya anggapan bahwa senyawa
klorida tersebut dapat memberi resiko buruk bagi kesehatan (Slamet, 1994). Klorida terdapat
di alam dengan konsentrasi yang beragam. Kadar klorida umumnya meningkat seiring
dengan meningkatnya kadar mineral. Kadar klorida yang tinggi, yang diikuti oleh kadar
kalsium dan magnesium yang juga tinggi, dapat meningkatkan sifat korosivitas air.