Anda di halaman 1dari 19

A.

Pengertian Aqidah

Akidah dari segi bahasa bererti simpulan iman ataupun pegangan yang kuat atau satu
keyakinan yang menjadi pegangan yang kuat.

Akidah dari sudut istilah ialah kepercayaan yang pasti dan keputusan yang muktamat tidak
bercampur dengan syak atau keraguan pada seseorang yang berakidah sama ada akidah yang
betul atau sebaliknya.

Aqidah sebenarnya adalah ilmu yang membicarakan perkara-perkara yang berkaitan


keyakinan terhadap Allah swt dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Setiap umat islam wajib
mengetahui, mempelajari dan mendalami ilmu akidah supaya tidak berlaku perkara-perkara
yang membawa kepada penyelewengan akidah kepada Allah SWT. Akidah sebenarnya
adalah akidah yang berdasarkan pada al-Quran dan As-Sunnah.

Aqidah Islamiyah dapat disimpulkan dengan rumusan

 Tauhid Rububiyah.
 Tauhid Mulkiyah.
 Tauhid Uluhiyah.
Secara bahasa, iman berarti membenarkan ( ‫) تصديق‬, sementara menurut istilah
adalah Mengucapkan dengan lisan, membenarkan dalam hati dan mengamalkan
dalam perbuatannya.

Iman berarti meyakini dengan hati, mengucapkan dengan lisan, dan mengamalkan dalam
bentuk perbuatan, bahwa Allah itu ada dengan segala kesempurnaannya, bahwa Nabi
Muhammad adalah utusan Allah.

B. Macam-macam Ilmu Aqidah

Macam-macam ilmu aqidah antara lain:

1. Ilmu Tauhid
Ilmu yang menerangkan tentang sifat Allah swt yang wajib diketahui dan dipercayai.

1. Ilmu Usuluddin
Suatu ilmu yang kepercayaan dalam agama Islam, iaitu kepercayaan kepada Allah swt dan
pesuruh-Nya.

1. Ilmu Makrifat
Suatu ilmu yang membahaskan perkara-perkara yang berhubung dengan cara-cara mengenal
Allah SWT.

1. Ilmu Kalam
Sesuatu ilmu yang membahas tentang akidah dengan dalil-dalil aqliah (ilmiah) sebagai
perisai terhadap segala tentangan daripada pihak lawan.
1. Ilmu Akidah
Suatu ilmu yang membahas tentang perkara-perkara yang berhubung dengan keimanan
kepada Allah SWT.

B. Akidah Islamiyyah

Aqidah islamiyah adalah iman kepada Allah SWT, Malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-


Nya, Rasul-rasul-Nya, Hari Kiamat, Qada dan Qadar (baik buruknya) dari Allah SWT.
Makna Iman adalah pembenaran secara pasti (tashdiq al-jazim) sesuai dengan kenyataan
berdasarkan dalil. Jika pembenaran saja tanpa disertai dalil tidak digolongkan iman, kerana
tidak termasuk pembenaran yang pasti kecuali apabila bersumber dari dalil. Jika tidak disertai
dalil maka tidak ada kepastian.
Jadi, kalau cuma pembenaran saja terhadap suatu berita tidak termasuk iman. Berdasarkan hal
ini pembenaran harus berdasarkan dalil agar menjadi bersifat pasti, atau agar tergolong iman.
Ini bererti adanya dalil terhadap segala sesuatu yang dituntut untuk diimani adalah suatu hal
yang pasti agar pembenaran terhadap sesuatu tadi tergolong iman. Maka adanya dalil
merupakan syarat utama adanya keimanan, tanpa melihat lagi apakah hal itu sahih (benar)
atau fasid (rosak).
Sumber-sumber aqidah islamiah (‫)مصدارالعقيدة اإلسالمية‬
antara lain:

1. Sumber aqidah Islamiyyah yang pertama dan paling utama adalah al-Qur’an yang
merupakan kalamullah yang sama sekali tidak terdapat keraguan didalamnya.
2. Sumber yang kedua adalah as-Sunnah an-Nabawiyyah yang merupakan
penjelas dan pemerinci dari al-Qur’an.
3. Sumber yang ketiga adalah al-Ijma’ yaitu kesepakatan para ulama baik salaf
(terdahulu) maupun khalaf (terkemudian) tentang sesuatu hal.
Pilar-pilar aqidah islamiyyah (‫ )أرآان القيدة اإلسالمية‬antara lain:

1. Keyakinan (iman) kepada Allah SWT (QS 2/177, 4/136) sebagai pencipta,
pemilik, pemberi rizqi, penguasa, pengatur, pembimbing kita.
2. Keyakinan (iman) kepada Malaikat2 Allah SWT (QS 2/97,98,177,285;
4/136), sebagai makhluq yang diciptakan dari cahaya (nuur) dan tidak pernah
bermaksiat serta selalu taat pada perintah Allah.
3. Keyakinan (iman) kepada semua Kitab2 yang diturunkan Allah SWT (QS
2/177, 4/136) baik kepada Nabi Muhammad SAW maupun kepada Nabi2
sebelumnya, seperti Taurat Musa as, Injil Isa as, Zabur Daud as, dan shuhuf
Ibrahim as.
4. Keyakinan (iman) kepada para Rasul as (QS 2/98, 4/136), yaitu semua
manusia yang diutus oleh Allah SWT kepada ummatnya masing2 yang dalam al-
Qur’an disebutkan 25 orang jumlahnya yang wajib diimani.
5. Keyakinan (iman) kepada hari Akhir (QS 2/177, 4/135), yaitu adanya hari
pembalasan atas semua amal yang dilakukan manusia.
6. Keyakinan (iman) kepada qadha’ dan qadar Allah SWT (QS 25/2), hadits
Jibril dari Umar ra (HR Muslim).
Dalil Aqidah Islamiyah itu ada dua macam, iaitu :

1. Dalil Aqli (menggunakan akal).


2. Dalil Naqli (dari Al-Quran dan Hadis).

Bacaan Sebelum Niat Wudhu :

َّ ‫الرحْ ٰم ِن‬
‫الر ِحي ِْم‬ َّ ِ‫س ِم هللا‬
ْ ِ‫الر ِجي ِْم – ب‬
َّ ‫ان‬ َّ ‫اَع ُْوذُبِاهللِ ِمنَ ال‬
ِ ‫ش ْي َط‬

Bacaan Do’a / Niat Wudhu :

‫ًاّلِلِ تَعَ ٰالى‬


‫صغَ ِرفَ ْرض ِ ه‬ ِ ‫َن َويْتُ ا ْل ُوض ُْو َء ِل َر ْف ِع ا ْل َح َد‬
ْ َ‫ث ْاْل‬
“Aku niat berwudhu untuk menghilangkan hadats kecil, fardhu karena Allah.”

Bacaan Do’a Sesudah Wudhu :

، َ‫ اَلله ُه َّم اجْ عَ ْلنِ ْي ِمنَ الت َّ َّوا ِب ْين‬،‫س ْولُ ٗه‬ ُ ‫ع ْبد ُٗه َو َر‬ ْ َ ‫ش َه ُد ا َ ْن َْلا ِٰلهَ ا َِّْلهللاُ َوحْ َدهُ َْلش َِر ْيكَ لَ ٗه َوا‬
َ ‫ش َه ُداَنَّ ُم َح َّمدًا‬ ْ َ‫ا‬
ٰ ْ ‫س ْب َحانَكَ الله ُه َّم َو ِب َح ْم ِدكَ ا‬
َ‫ش َه ُدا َ ْن َْلاِلهَ ا َِّْلَ ْنت‬ ُ َ‫صا ِل ِح ْين‬ َّ ‫ َوجْ عَ ْلنَ ْي ِمنَ ِعبَا ِدكَ ال‬، َ‫َواجْ عَ ْلنِ ْي ِمنَ ا ْل ُمت َ َط ِ ِّه ِر ْين‬
َ‫ب اِلَ ْيك‬ ُ ‫ست َ ْغ ِف ُركَ َواَت ُ ْو‬
ْ َ‫ا‬
“Aku bersaksi tiada Tuhan melainkan Allah yang Tunggal, tiada sekutu bagi-
Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-
Nya. Ya Allah jadikanlah aku orang yang ahli taubat, dan jadikanlah aku orang
yang suci dan jadikanlah aku dari golongan hamba-hamba-Mu yang shaleh.”

Tata Cara Tayamum


Allah SWT telah mengatur segala sesuatu yang halal dan yang haram, mana yang baik dan
tidak baik. Mnegatur mana yang diperbolehkan dan mana yang tidak diperbolehkan. Begitu
juga bertayamum yang diperbolehkan sebagai pengganti wudhu ketika tidak ada air, dan
berikut tata cara tayamum yang benar.

1. Membaca basmalah
2. Tempelkan kedua telapak tangan dengan merengganggkan jari pada tanah atau debu.
3. Angkat tangan mu dan tiup kedua telapak tangan yang sudah menempel pada debu, atau
usapkan pada pakaian secara perlahan. ( Jika meniup, tiuplah kearah lain dari tempat
mengambil debu )
4. Baca do’a atau niat tayamum.
5. Usapkan debu pada wajah.
6. Usapkan debu pada telapak tangan.
7. Ambil debu lagi dan lakukan seperti langkah ke 3 diatas.
8. Usapkan debu ke lengan kanan dan kiri
Historis Muhammadyah
Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan
momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam
modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian
sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah
gerakan yang didirikan oleh seorang kyai alim, cerdas, dan berjiwa pembaru, yakni Kyai Haji
Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.

Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama
Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai
Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari
Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn
Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan
Rasyid Ridha. Dengan modal kecerdasan dirinya serta interaksi selama bermukim di Ssudi
Arabia dan bacaan atas karya-karya para pembaru pemikiran Islam itu telah menanamkan
benih ide-ide pembaruan dalam diri Kyai Dahlan. Jadi sekembalinya dari Arab Saudi, Kyai
Dahlan justru membawa ide dan gerakan pembaruan, bukan malah menjadi konservatif.

secara praktis-organisatoris untuk mewadahi dan memayungi sekolah Madrasah Ibtidaiyah


Diniyah Islamiyah, yang didirikannya pada 1 Desember 1911.
Maka pada tanggal 18 November 1912 Miladiyah bertepatan dengan 8 Dzulhijah 1330
Hijriyah di Yogyakarta akhirnya didirikanlah sebuah organisasi yang bernama
”MUHAMMADIYAH”. Organisasi baru ini diajukan pengesahannya pada tanggal 20
Desember 1912 dengan mengirim ”Statuten Muhammadiyah” (Anggaran Dasar
Muhammadiyah yang pertama, tahun 1912), yang kemudian baru disahkan oleh Gubernur
Jenderal Belanda pada 22 Agustus 1914. Dalam ”Statuten Muhammadiyah” yang pertama
itu, tanggal resmi yang diajukan ialah tanggal Miladiyah yaitu 18 November 1912, tidak
mencantumkan tanggal Hijriyah. Dalam artikel 1 dinyatakan, ”Perhimpunan itu ditentukan
buat 29 tahun lamanya, mulai 18 November 1912. Namanya ”Muhammadiyah” dan
tempatnya di Yogyakarta”. Sedangkan maksudnya (Artikel 2), ialah: a. menyebarkan
pengajaran Igama Kangjeng Nabi Muhammad Shallalahu ‘Alaihi Wassalam kepada
penduduk Bumiputra di dalam residensi Yogyakarta, dan b. memajukan hal Igama kepada
anggauta-anggautanya.”
Terdapat hal menarik, bahwa kata ”memajukan” (dan sejak tahun 1914 ditambah dengan kata
”menggembirakan”) dalam pasal maksud dan tujuan Muhammadiyah merupakan kata-kunci
yang selalu dicantumkan dalam ”Statuten Muhammadiyah” pada periode Kyai Dahlan hingga
tahun 1946 (yakni: Statuten Muhammadiyah Tahun 1912, Tahun 1914, Tahun 1921, Tahun
1931, Tahun 1931, dan Tahun 1941). Sebutlah Statuten tahun 1914: Maksud Persyarikatan
ini yaitu:
1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Igama di Hindia Nederland,
2. dan Memajukan dan menggembirakan kehidupan (cara hidup) sepanjang kemauan agama
Islam kepada lid-lidnya.

Sejarah Muhammadiyah, Latar Belakang, Tujuan


Berdirinya Muhammadiyah
|Organisasi Muhammadiyah didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada tanggal
18 November 1912. Asas perjuangannya adalah Islam dan kebangsaan Indonesia. Sifat
organisasi Muhammadiyah bergerak di bidang keagamaan, pendidikan, dan sosial budaya
yang menjurus kepada tercapainya kebahagian lahir dan batin. Maksud atau latar
belakang berdirinya Muhammadiyah dalam anggaran dasar disebutkan untuk
menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang
sebenar-benarnya.

Tujuan Berdirinya Muhammadiyah


– Tujuan pokok yang tercantum dalam anggaran dasar tersebut dapat dijabarkan lagi menjadi
tujuan yang bersifat operasional antara lain sebagai berikut…
 Pengembalian ajaran Islam pada ajaran murni menurut Al-Qur’an dan hadist.
 Peningkatan pendidikan dan pengajaran yang berlandaskan agama Islam.
 Pendorong umat Islam untuk hidup selaras dengan ajaran agama Islam.
 Pembinaan dan penyiapan generasi muda agar kelak dapat menjadi pemimpin
masyarakat, agama, dan bangsa yang adil dan makmur.
 Berusaha meningkatkan kesejahteraan hidup umat manusia pada umumnya dan umat
Islam pada khususnya
 Ikut menyantuni anak-anak yatim piatu.
Muhammadiyah merupakan gerakan reformasi Islam. Muhammadiyah berusaha
menghapuskan bidah, takhayul, dan takhlik yang ada dalam masyarakat. Muhammadiyah
berani melahirkan pikiran yang sehat dan murni dengan dasar Al-Qur’an dan hadist.
Di antara sekian usaha di dalam Muhammadiyah yang paling menonjol ialah usaha di
bidang pendidikan dan di bidang sosial .Walaupun pada saat itu sudah ada sekolah-sekolah,
dirasakan tetap saja belum merata. Padahal pendidikan dan pengajaran adalah unsur yang
mutlak untuk meninggikan kecerdasan rakyat. Itulah sebabnya Muhammadiyah sangat
mementingkan pendidikan dan pengajaran di samping gerakan keagamaan tentunya. Untuk
meningkatkan pendidikan pemuda, dibentuk organisasi kepanduan Hisbul Wathon. Untuk
meningkatkan pendidikan dan kecakapan wanita. Muhammadiyah membentuk
organisasi Aisyah. Dalam perkembangan selanjutnya, pemudi-pemudi Aisiyah
membentuk Nasyiatul Aisiyah. Sesuai dengan perkembangan zaman, saat ini Muhammadiyah
juga mendirikan rumah-rumah sakit, rumah yatim piatu, dan usaha-usaha sosial kebudayaan
yang lain.

Identitas Muhammdyah

Identitas Muhammadiyah adalah ciri-ciri atau sifat-sifat khusus yang dimiliki dan melekat
pada Muhammadiyah, yang menunjukkan keunikan Muhammadiyah, dan membedakannya
dengan organisasi lain. Ciri-ciri itu merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang tumbuh,
hidup dan berkembang dalam kehidupan Muhammadiyah.

Ciri-ciri khusus yang berbeda, selain memiliki kesamaan dengan organisasi lain, perlu
dibahas dan disosialisasikan untuk dapat memahami dengan baik apa sesungguhnya hakekat
Muhammadiyahi itu. Pembahasan dan sosialisasi identitas Muhammadiyah, menurut Haedar
Nashir, bukan dimaksudkan untuk secara berlebihan menonjolkan atau membangga-
banggakan keunggulan Muhammadiyah, seraya memposisikan organisasi lain di bawah
Muhammadiyah. Juga tidak dimaksudkan untuk menumbuhkan sikap fanatik butaserta
memperlebarjarak antara Muhammadiyah dengan organisasi lain, yang menjurus timbulnya
perpecahan. Pembahasan dan sosialisasi identitas Muhammadiyah dimaksudkan untuk lebih
mengenal keperibadian dan cirri-ciri Muhammadiyah dibandingkan dengan organisasi lain.
Bagi warga, aktivis dan pimpinan Muhammadiyah, pengenalan terhadap identitas
Muhammadiuyah ini akan menumbuhkan kecintaan dan kebanggaan, yang pada gilirannya
akan melahirkan komitmen yang tinggi kepada Muhammadiyah.

Pengenalan identitas Muhammadiyah sangat diperlukan, mengingat kondisi internal


Muhammadiyah dewasa ini, yang dilihat dari sisi ideologis masih memprihatinkan,
disamping secara eksternal Muhammadiyah juga menghadapi berbagai tantangan yang perlu
disikapi dengan tepat, sehingga eksistensi dan keberlangsungan Muhammadiyah dapat
dipertahankan.

Substansi identitas Muhammadiyah dijumpai dalam berbagai pokok pikiran formal, baik
yang bersifat ideologis maupun strategis, seperti Matan Keyakinan dan Cuta-cita Hidup
Muhammadiyah, Keperibadian Muhammadiyah, Khittah Perjuangan Muhammadiyah,
Khittah Muhammadiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga Muhammadiyah dan sebagainya. Dari pokok pikiran-pokok pikiran
tersebut, Haedar Nashir menyimpukan, bahwa identitas dan karakter Muhammadiyah itu
adalah sebagai berikut :
Pertama, Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Dakwah Amar makruf nahi munkar dan
tajdid, berasas Islam, bersumber pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, dengan tujuan terwujudnya
masyarakat Islam yang sebenam-benarnya. Kedua, dalam beragama Muhammadiyah selalu
memperlihatkan sikap wasathiyah (tengahan) dan tidak ghulul (ekstrim), dengan tetap
istiqamah pada prinsip-prinsip Islam yang bersumber pada Al Qur’an dan As Sunnah yang
shahihah/maqbulah serta mengembangkan akal pikiran yang sesuai dengan ajaran Islam.

Ketiga, Muhammadiyah memandang Islam sebagaai agama yang berkemajuan (Dinul


hadharah) dan mengandung kesatuan yang utuh, menyanginkut aspek-aspek aqidah, ibadah,
akhiaq dan mu’amalah dunyawiyah, tanpa meniandang satu aspek lebih penting dari yang
lainnya, serta mewujudkannya dalam kehidupan peribadi, keluarga, dan masyarakat melalaui
dakwah yang terns menerus. Keempat, pandangan Muhammadiyah tentang tajdid atau
pembaharuan cendernng seimbang antara pemurnian (purifikasi) dan
pembaruan/pengembangan (modernisasi, dinamisasi).

Kelima, ideologi Gerakan Muhammadiyah mengenepankan penerapan nilai-nilai dan prinsip


Islam dalam kehidupan dan lebih berorientasi pada pembentukan masyarakat Islam. Keenam,
Muhammadiyah menampilkan corak Islam yang mengedepankan amaliyah yang terlembaga
dan terorganisasi sebagai perwujudan dan keyakinan dan pemahaman Islam dalam
Muhammadiyah, sehingga Islam termanifestasikan secara konkrit.

Ketujuh, perjuangan Muhammadiyah lebih memilih jalur dakwah di bidang


kemasyaraakatan dan tidak menempuh jalur politik sebagaimana ditempuh oleh partai politik,
dengan tetap menjalankan peran-peran kebangsaan. Kedelapan, Muhammadiyah menerima
Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945
sebagai Negara bangsa, untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu Negara yang adil
dan makmur dan diridlai Allah SwT: Baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Kesembilan, dalam memosisikan diri di hadapan Negara/Pemerintah, Muhammadiyah


senantiasa mengembangkan sikap amar ma’ruf nahi munkar dalam makna memberikan
dukungan pada kebijakan-kebijakan yang positif, sebaliknya melakukan kritik secara
bijaksana terhadap kebijakan-kebijakan yang dipandang tidak baik. Kesepuluh, sejalan
dengan Kepribadian Muhammadiyah, dalam memperjuangkan sesuatu lebih mengedepankan
sikap toleran, demokratis, damai, cerdas, bekerjasama dengan golongan manapun untuk
kebaikan, kuat dalam prinsip tetapi luwes dalam cara, menjauhi konfrontasi apalagi
kekerasan.

Terakhir, bergerak melalui sistem organisasi (Persyarikatan) dan tidak bersifat perorangan
dengan menjunjung tinggi semangat kolektif kolegial, demokratis, musyawarah, dan
ukhuwah.
Struktur Organisasi

ORGANISASI MUHAMMADIYAH
1. Jaringan Kelembagaan Muhammadiyah:
1. Pimpinan Pusat
2. Pimpinaan Wilayah
3. Pimpinaan Daerah
4. Pimpinan Cabang
5. Pimpinan Ranting
6. Jama'ah Muhammadiyah
2. Pembantu Pimpinan Persyarikatan
0. Majelis
1. Majelis Tarjih dan Tajdid
2. Majelis Tabligh
3. Majelis Pendidikan Tinggi
4. Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah
5. Majelis Pendidikan Kader
6. Majelis Pelayanan Sosial
7. Majelis Ekonomi dan Kewirausahaan
8. Majelis Pemberdayaan Masyarakat
9. Majelis Pembina Kesehatan Umum
10. Majelis Pustaka dan Informasi
11. Majelis Lingkungan Hidup
12. Majelis Hukum Dan Hak Asasi Manusia
13. Majelis Wakaf dan Kehartabendaan
1. Lembaga
0. Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting
1. Lembaga Pembina dan Pengawasan Keuangan
2. Lembaga Penelitian dan Pengembangan
3. Lembaga Penanganan Bencana
4. Lembaga Zakat Infaq dan Shodaqqoh
5. Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik
6. Lembaga Seni Budaya dan Olahraga
7. Lembaga Hubungan dan Kerjasama International
3. Organisasi Otonom
0. Aisyiyah
1. Pemuda Muhammadiyah
2. Nasyiyatul Aisyiyah
3. Ikatan Pelajar Muhammadiyah
4. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah
5. Hizbul Wathan
6. Tapak Suci
Strategi Muhammdyah

Perumusan dan pelaksanaan strategi perjuangan Muhammadiyih merupakan faktor penting


dalam menggerakkan Muhammadiyah mengingat :

1. Muhammadiyah sebagai Gerakan Islam dengan kepribadiannya yang khas


mempunyai misi Da’wah Amar Ma’ruf Nahi Munkar di seluruh lapangan
kehidupan dan lapisan masyarakat (Kepribadian Muhammadiyah) yang harus
direncanakan, dilaksanakan, dan dikembangkan terus menerus sepanjang waktu
dan keadaan.
2. Dalam melaksanakan misi sebagai Gerakan Islam dan Da’wah Amar Ma’ruf Nahi
Munkar tersebut Muhammadiyah mempunyai maksud dan tujuan yaitu
menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat
utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Subhanahu Wata’ala (AD
Muhammadiyah Bab II Pasal 3.) di mana untuk sampai kepada tercapainya
maksud dan tujuan tersebut harus melalui perjuangan yang terencana, terarah, dan
diperhitungkan sedemikian rupa melalui langkah-langkah kebijakan dan
operasional yang tepat.
3. Gerakan Muhammadiyah meskipun memiliki landasan yang kokoh dan benar
(sebagai Gerakan Islam yang beraqidah Islam dan bersumber pada al-Quran dan
as-Sunnah), prinsip yang kuat (tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar
Muhammadiyah), identitas yang jelas (terkandung dalam Kepribadian
Muhammadiyah), keyakinan dan cita-cita hidup yang pasti (Matan Keyakinan dan
Cita-Cita Hidup Muhmammadiyah), fungsi dan misi yang pasti (butir kelima
Matan Keyakinan dan Hidup MuhMnmadiyah), serta maksud dan tujuan yang
jelas (Anggaran dasar Muhammadiyah Bab II pasal 3.), hal-hal tersebut hanya
akan menjadi idealisme semata jika tanpa disertai dengan usaha-usaha konkret
yang disusun secara teratur, terencana, dan penuh perhitungan.

Dari tiga hal di atas maka dapat disimpulkan bahwa strategi perjuangan Muhammadiyah
merupakan faktor penting untuk menjembatani antara idealisme (design) dengan
perwujudannya dalam kenyataan (das solen), antara yang normatif di satu sisi dengan empiric
di sisi yang lain, antara cita-cita subjektif dengan dunia objektif, serta menyambung gerakan
antara masa lalu, sekarang, dan yang akan datang.

Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup


Muhammadiyah
1. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah
Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya
masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan
misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.

2. Muhammdiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada
Rasul-Nya, sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa dan seterusnya sampai kepada Nabi
penutup Muhammad SAW, sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia
sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materil dan spritual, duniawi dan
ukhrawi.

3. Muhammadiyah dalam mengamalkan Islam berdasarkan:

a. Al-Qur'an: Kitab Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW;

b. Sunnah Rasul: Penjelasan dan palaksanaan ajaran-ajaran Al-Qur'an yang diberikan oleh
Nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal fikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam.

4. Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-


bidang:

a.'Aqidah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala
kemusyrikan, bid'ah dan khufarat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam.

b. Akhlak

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlak mulia dengan berpedoman kepada
ajaran-ajaran Al-Qur'an dan Sunnah rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia

c.Ibadah

Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah SAW,
tanpa tambahan dan perubahan dari manusia.

d. Muamalah Duniawiyah

Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya mu'amalat duniawiyah (pengolahan dunia dan


pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadi semua kegiatan
dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah SWT.

5. Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia yang telah mendapat karunia
Allah berupa tanah air yang mempunyai sumber-sumber kekayaan, kemerdekaan bangsa dan
Negara Republik Indonesia yang berdasar pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945,
untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu negara yang adil dan makmur dan diridhoi
Allah SWT:
"BALDATUN THAYYIBATUB WA ROBBUN GHOFUR"

(Keputusan Tanwir Tahun 1969 di Ponorogo)

Catatan:
Rumusan Matan tersebut telah mendapat perubahan dan perbaikan oleh Pimpinan Pusat
Muhammadiyah:

1. Atas kuasa Tanwir tahun 1970 di Yogyakarta;


2. Disesuaikan dengan Keputusan Muktamar Muhammadiyah ke 41 di Surakarta.
KEPRIBADIAN MUHAMMADIYAH
PENGERTIAN
Kepribadian Muhammadiyaha ialah sebuah rumusan yang menguraikan tentang jati diri apa
dan siapa Muhammadiyah.

LATAR BELAKANG
Dirumuskannya Kepribadian Muhammadiyah dilatar belakangi oleh kebutuhan persyarikatan
akan adanya rumusan yang dapat dijadikan pedoman bagi persyarikatan Muhammadiyah.
Pada saat itu KH. Faqih Usman memberikan rangsangan gagasan kepada Muhammadiyah
akan pentingnya jatidiri Muhammadiyah melalui ceramah, disampaikan pada saat pelatihan/
kursus yang diselenggarakan PP Muhammadiyah pada tahun 1381 H bertepatan dengan 1961
M yang diikuti oleh wakil dari Pimpinan Daerah Muhammadiyah se-Indonesia. Adapun
ceremah tersebut berjudul tentang “apakah Muhammadiyah itu?”.
Menilik judul ceramah yang disampaikan oleh KH. Faqih Usman tersebut tentang apakah
Muhammadiyah itu?, bermaksud untuk memberikan pemahaman mendalam tentang
Muhammadiyah kepada kader Muhammadiyah. Mengetahui dan memahami Muhammadiyah
bukan hanya sebatas kulitnya saja, tetapi Mengetahui dan memahami Muhammadiyah harus
sampai ke akar-akarnya. Dalam susunan kalimat tanya kata “apakah” merupakan pertanyaan
dasar/awal dalam menggali sebuah informasi.

Gagasan KH. Faqih Usman tersebut direspon oleh PP Muhammadiyah yang pada saat itu
dipimpin oleh KH. M. Yunus Anies, dengan membentuk tim perumus dan penyempurna.
Adapun personil tim perumus dan penyempurna Kepribadian Muhammadiyah sebagai
berikut:

1. Faqih Usman
2. Farid Ma’ruf
3. Djarnawi Hadikusumo
4. Djindar Tamimy
5. Dr. KH. Hamka
6. Mohammad Wardan Diponingrat
7. KH. M. Saleh Ibrahim

Setelah menyelesaikan rumusannya, tim tersebut menyerahkan hasilnya kepada PP


Muhammadiyah dan dibahas pada sidang tanwir muhammadiyah pada tanggal 25-28 Agustus
1962, para peserta sidang tanwir menerima rumusan tersebut untuk disahkan pada Muktamar.
Akhirnya pada Muktamar ke 35 di jakarta rumusan kepribadian Muhammadiyah resmi di
sahkan pada tanggal 29 April 1963 dan dapat dijadikan sebagai pedoman dan pegangan bagi
seluruh warga persyarikatan. Pada Muktamar ke 35 juga terpilih ketua PP Muhammadiyah
bart menggantikan HM Yunus Anies yaitu KH. Ahmad Badawi periode 1963 – 1968.

FUNGSI
Fungsi kepribadian Muhammadiyah berfungsi
sebagai landasan, pedoman dan pegangan setiap gerak Muhammadiyah menuju cita-cita
terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.

HAKIKAT
Hakikat kepribadian Muhammadiyah ialah wajah dan wijhah-nya persyarikatan
Muhammadiyah. Wajah tersebut mencerminkan tiga predikat yang kuat sebagai jatidirinya
secara utuh. Tiga predikat yang dimaksud adalah:
1. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam
2. Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah
3. Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid

MATAN / ISI KEPRIBADIAN


MUHAMMADIYAH
Apakah Muhammadiyah itu?

Muhammadiyah adalah persyarikatan yang merupakan Gerakan Islam. Maksud gerakanya


ialah Dakwah Islam dan Amar Ma’ruf nahi Munkar yang ditujukan kepada dua bidang:
perseorangan dan masyarakat . Dakwah dan Amar Ma’ruf nahi Munkar pada bidang pertama
terbagi kepada dua golongan: Kepada yang telah Islam bersifat pembaharuan (tajdid), yaitu
mengembalikan kepada ajaran Islam yang asli dan murni; dan yang kedua kepada yang
belum Islam, bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk agama Islam.

Adapun da’wah Islam dan Amar Ma’ruf nahi Munkar bidang kedua, ialah kepada
masyarakat, bersifat kebaikan dan bimbingan serta peringatan. Kesemuanya itu dilaksanakan
dengan dasar taqwa dan mengharap keridlaan Allah semata-mata.

Dengan melaksanakan dakwah Islam dan amar ma’ruf nahi munkar dengan caranya masing-
masing yang sesuai, Muhammadiyah menggerakkan masyarakat menuju tujuannya, ialah
“Terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya”.

Dasar dan amal usaha muhammadiyah

Dalam perjuangan melaksanakan usahanya menuju tujuan terwujudnya masyarakat Islam


yang sebenar-benarnya, dimana kesejahteraan, kebaikan dan kebahagiaan luas-merata,
Muhammadiyah mendasarkan segala gerak dan amal usahanya atas prinsip-prinsip yang
tersimpul dalam Muqaddimah Anggaran Dasar, yaitu:

1. Hidup manusia harus berdasar tauhid, ibadah, dan taat kepada Allah.
2. Hidup manusia bermasyarakat.
3. Mematuhi ajaran-ajaran agama Islam dengan berkeyakinan bahwa ajaran Islam itu satu-
satunya landasan kepribadian dan ketertiban bersama untuk kebahagiaan dunia akhirat.
4. Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam dalam masyarakat adalah kewajiban
sebagai ibadah kepada Allah dan ikhsan kepada kemanusiaan.
5. Ittiba’ kepada langkah dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.
6. Melancarkan amal usaha dan perjuangannya dengan ketertiban organisasi.

Pedoman amal usaha dan perjuangan


muhammadiyah
Menilik dasar prinsip tersebut di atas, maka apapun yang diusahakan dan bagaimanapun cara
perjuangan Muhammadiyah untuk mencapai tujuan tunggalnya, harus berpedoman:
“Berpegang teguh akan ajaran Allah dan Rasul-Nya, bergerak membangun di segenap bidang
dan lapangan dengan menggunakan cara serta menempuh jalan yang diridlai Allah”.

Sifat Muhammadiyah
Menilik: (a) Apakah Muhammadiyah itu, (b) Dasar amal usaha Muhammadiyah dan (c)
Pedoman amal usaha dan perjuangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah memiliki dan
wajib memelihara sifat-sifatnya, terutama yang terjalin di bawah ini:

1. Beramal dan berjuang untuk perdamaian dan kesejahteraan.


2. Memperbanyak kawan dan mengamalkan ukhuwah Islamiyah.
3. Lapang dada, luas pandangan, dengan memegang teguh ajaran Islam.
4. Bersifat keagamaan dan kemasyarakatan.
5. Mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah negara
yang sah.
6. Amar ma’ruf nahi munkar dalam segala lapangan serta menjadi contoh teladan yang
baik.
7. Aktif dalam perkembangan masyarakat dengan maksud ishlah dan pembangunan, sesuai
dengan ajaran Islam.
8. Kerjasama dengan golongan Islam manapun juga dalam usaha menyiarkan dan
mengamalkan agama Islam serta membela kepentingannya.
9. Membantu pemerintah serta bekerjasama dengan golongan lain dalam memelihara dan
membangun Negara untuk mencapai masyarakat adil dan makmur yang diridlai Allah
SWT.
10. Bersifat adil serta kolektif ke dalam dan keluar dengan bijaksana.
Ringkasan Kepribadian Muhammadiyah
Muhammadiyah itu gerakan islam, gerakan Islam yang dimaksud Muhammadiyah ialah
dakwah islam, amar ma’ruf nahi munkar. Dakwah Islam Muhammadiyah ditujukan kepada
dua bidang:

 Bidang pertama perorangan,


 Bidang kedua
Bidang pertama dibagi menjadi dua golongan:
 orang yang sudah Islam dakwahnya bersifat pembaharuan (tajdid)
 orang yang belum Islam dakwahnya bersifat seruan dan ajakan untuk memeluk islam
Bidang kedua, kelompok/masyarakat, bersifat kebaikan dan bimbingan serta peringatan.

Pedoman Hidup Islam Warga Muhammadiyah

Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah (PHIWM) merupakan seperangkat nilai


penting dan strategis yang akan membantu dalam menentukan arah gerakan serta
perjuangan para kader Muhammadiyah di berbagai bidang kehidupan. Pergerakan dan
perjuangan yang akan mengantarkan setiap kader Muhammadiyah dalam rangka
mewujudkan dirinya menjadi kader persyarikatan, kader umat sekaligus kader bangsa.
Berbagai bidang kehidupan baik yang terkait dengan internal persyarikatan, keumatan dan
kebangsaan menuntut adanya peran dan kontribusi dari setiap kader dalam rangka mencari
solusi dari setiap persoalan yang muncul.

Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah Pasal 6 disebutkan bahwa maksud dan tujuan
didirikannya Muhammadiyah adalah menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam
sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Oleh karenanya apapun yang
menjadi latar belakang maupun profesi setiap kader Muhammadiyah maka perlu diupayakan
dalam rangka mewujudkan tujuan tersebut. Keberadaan PHIWM menjadi penting dan
strategis sebagai pedoman dalam setiap aktivitas perjuangan serta pengabdian kader
persyarakatan sesuai dengan profesi dan lingkungannya masing – masing.

Pada bagian pertama pendahuluan PHIWM telah dijelaskan bahwa pedoman ini merupakan
seperangkat nilai dan norma Islami yang bersumber pada Al- Qur’an dan Sunnah untuk
menjadi pola bagi tingkah laku warga Muhammadiyah dalam menjalani kehidupan sehari –
hari sehingga tercermin kepribadian Islami menuju terwujudnya masyarakat Islam yang
sebenar – benarnya. Tujuannya adalah terbentuknya perilaku individu dan kolektif seluruh
anggota Muhammadiyah yang menunjukkan ketauladanan yang baik (uswah hasanah)
menuju terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar – benarnya

Didalam PHIWM terdapat pokok – pokok pikiran yang merupakan hasil rumusan dan kajian
terkait pedoman yang perlu diimplementasikan dalam berbagai bidang kehidupan. PHIWM
memuat pokok pikiran beberapa hal seperti terkait kehidupan pribadi, kehidupan keluarga,
kehidupan bermasyarakat, kehidupan berorganisasi, kehidupan dalam mengelola amal usaha,
kehidupan dalam berbisnis dan kehidupan dalam mengembangkan profesi. Selanjutnya ada
pula terkait pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan dalam melestarikan
lingkungan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kehidupan dalam seni
dan budaya.

Pada saat umat dan bangsa ini menghadapi banyak persoalan diberbagai bidang kehidupan
maka dibutuhkan sikap tabayyun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga jelas benar
keadaannya) untuk mengetahui penyebab dari munculnya persoalan tersebut. Ketika umat
dan bangsa ini dihadapkan pada persoalan yang salah satunya disebabkan oleh realitas sikap
dan prilaku manusia yang sudah menyimpang dari nilai – nilai Islam, maka sudah seharusnya
setiap manusia berusaha untuk kembali pada nilai – nilai kebaikan dan kebenaran yang
sebenarnya sudah ada didalam Islam.

Beri Solusi

Salah satu latar belakang KH. Ahmad Dahlan mendirikan organisasi atau persyarikatan
Muhammadiyah pada 1912 adalah sebuah niat dan ikhtiar untuk mencari solusi atas persolan
kehidupan keagamaan dan kebangsaan pada waktu itu. Spirit tersebut perlu terus dijaga oleh
setiap kader persyarikatan dimanapun mereka berada. Sudah pasti setiap kader
Muhammadiyah akan menghadapi persoalan di dalam profesi dan lingkungan hidupnya
masing – masing, pada saat persoalan tersebut muncul maka setiap kader persyarikatan ini
perlu menempatkan dirinya menjadi bagian dari pihak yang memberikan solusi.
Oleh karenanya budaya membaca kembali literatur terkait hasil rumusan dan kajian yang
selama ini telah ada di Muhammadiyah seperti PHIWM perlu dilakukan direaktualisasikan,
sudah tentu konteks membaca disini adalah memiliki makna memahami serta
mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari – hari sesuai dengan profesi dan
lingkungan masing – masing. Dengan adanya peran dan kontribusi dari setiap kader yang ada
di setiap bidang profesi dan lingkungan hidupnya masing – masing maka keberadaan
Muhammadiyah akan mampu menjadi bagian dari solusi terhadap setiap persoalan yang
muncul di masyarakat.

Manhaj Tarjih Muhammdiyah


Muhammadiyah memiliki Majelis Tarjih dan Tajdid (MTT) yang bertugas melakukan
pengkajian, penafsiran dan penerapan ajaran dalam agama Islam. Dalam melaksanakan tugas
tersebut, MTT memegang prinsip dan metode tertentu yang tertuang dalam Manhaj Tarjih.

Secara harfiah manhaj tarjih berarti cara melakukan tarjih. Istilah tarjih berasal dari disiplin
ilmu ushul fikih yang berarti melakukan penilaian terhadap dalil-dalil syar’i yang secara zahir
tampak saling bertentangan atau evaluasi terhadap pendapat-pendapat (qoul) fikih untuk
menentukan mana yag lebih kuat.
Ketua MTT Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Syamsul Anwar mengatakan bahwa dalam
lingkungan Muhammadiyah pengertian tarjih telah mengalami perkembangan makna. Dari
makna yang dipahami sebagaimana menurut pengertian aslinya dalam ilmu ushul fikih
bergeser kepada makna yang lebih luas karena perkembangan kegiatan ketarjihan di
Muhammadiyah. Kegiatan ketarjihan adalah aktifitas intelektual untuk merespons berbagai
masalah sosial kemasyarakatan dan kemanusiaan dari sudut pandang agama Islam.

Berdasarkan definisi manhaj tarjih tersebut memuat unsur-unsur: 1. Wawasan


(semangat/perspektif), 2. Sumber ajaran, 3. Pendekatan, 4. Metode (prosedur teknis.) Manhaj
tarjih sebagai kegiatan intelektual untuk merespons berbagai persoalan dari sudut pandang
agama Islam tidak sekedar bertumpu pada prosedur teknis, melainkan juga dilandasi oleh
wawasan atau perspektif pemahaman agama yang menjadi karakteristik pemikiran Islam
Muhammadiyah.

Wawasan/perspektif tarjih tersebut meliputi: 1. Wawasan paham agama, 2. Wawasan tidak


berafiliasi mazhab tertentu, 3. Wawasan tajdid, 4. Wawasan toleransi, 5. Wawasan
keterbukaan.

Wawasan Paham Agama


Agama adalah apa yang disyariatkan Allah dengan perantara Nabi-nabi-nya, berupa perintah-
perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan
akhirat. Ini merupakan pengertian agama secara umum.
Disamping itu putusan tarjih mendefinisikan pula agama (yaitu agama islam) yang dibawa
oleh Nabi Muhammad saw adalah apa yang diturunkan Allah di dalam Quran dan yang
tersebut dalam sunnah sahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk-
petunjuk untuk kebaikan manusia di dunai dan akhirat.

Wawasan Tajdid
Tajdid mempunyai dua arti, yakni dalam bidang akidah dan ibadah, tajdid bermakna
pemurnian dalam arti mengembalikan akidah dan ibadah kepada kemurniannya sesuai dengan
sunnah Nabi saw. dalam bidang muammalat duniawiyah, tajdid berarti mendinamisasikan
kehidupan masyarakat dengan semangat kreatif dan inovaif sesuai tuntunan zaman.

Wawasan Toleransi
Toleransi artinya bahwa putusan tarjih tidak menganggap dirinya saja yang benar, sementara
yang lainnya tidak benar. Dalam “Penerangan tentang hal tarjih” yang dikeluarkan tahun
1936, dinyatakan, “Keputusan tarjih mulai merundingkan sampai kepada menetapkan tidak
ada sifat perlawanan, yakni menantang atau menjatuhkan segala yang tidak dipilih oleh tarjih
itu”.

Wawasan Keterbukaan
Keterbukaan artinya bahwa segala yang diputuskan oleh tarjih dapat dikritik dalam rangka
melakukan perbaikan, ketika apabila ditemukan dalil dan argumen yang lebih kuat, maka
majelis tarjih akan membahasnya dengan mengoreksi dalil dan argumen yang dinilai kurang
kuat.

Wawasan Tidak Berafiliasi Mazhab


Memahami agama dalam perspektif tarjih dilakukan langsung dari sumber sumber pokok,
yakni al-Quran dan sunnah melalui proses ijtihad dengan metode ijtihad-ijtihad yang ada.
Namun tidak berarti menafikan berbagai pendapat fukaha yang ada. pendapat-pendapat
mereka itu sangat penting dan dijadikan bahan pertimbangan untuk menentukan diktum
norma/ajaran yang lebih sesuai degan semangat di mana kita hidup.

Manhaj (metodologi) tarjih juga mengandung pengertian sumber-sumber pengambilan


diktum ajaran agama, yakni al-Quran dan sunnah yang ditegaskan dalam sejumlah dokumen
resmi Muhammadiyah.

Dalam beberapa dokumen resmi Muhammadiyah disebutkan, Pasal 4 ayat (1)


“Muhammadiyah adalah gerakan Islam, dakawah amar ma’ruf nahi munkar dan tajdid,
bersumber kepada al-Quran dan sunnah.” Dalam putusan tarjih di Jakarta tahun 2000 BAB II
angka 1 menegaskan, “Sumber ajaran Islam adalah al-Quran dan sunnah al-
Maqbulah.” (Arief Rakhman Aji)