Anda di halaman 1dari 32

KEPERAWATAN MATERNITAS

Kesehatan Reproduksi “ Asuhan Keperawatan Ca.Mammae ”

Disusun Oleh :

Nama : 1. Ira Irawan

2. Nurilmia Saputri

3. Pertiwi

4. Winda Artika

Tingkat : II.B

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG
JURUSAN KEPERAWATAN
2014/2015
Nama : Pertiwi

A. Konsep Dasar Kesehatan Reproduksi


1. Pengertian Kesehatan Reproduksi
Kesehatan reproduksi adalah kesehatan secara fisik, mental, dan kesejahteraan
sosial secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi, serta
proses reproduksi dan bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit atau kecacatan
(ICPD, 1994)
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sejahtera fisik, mental dan sosial
yang utuh bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan dalam segala aspek yang
berhubungan dengan sistem reproduksi, fungsi dan prosesnya. (WHO)
Kesehatan Reproduksi adalah suatu keadaan sehat secara menyeluruh
mencakup fisik, mental dan kehidupan sosial yang berkaitan dengan alat, fungsi
serta proses reproduksi yang pemikiran kesehatan reproduksi bukannya kondisi yang
bebas dari penyakit melainkan bagaimana seseorang dapat memiliki kehidupan
seksual yang aman dan memuaskan sebelum dan sesudah menikah. (Depkes
RI,2000).

2. Hak-Hak Reproduksi
Hak-hak reproduksi merupakan hak pria dan wanita untuk memperoleh
informasi dan mempunyai akses terhadap berbagai metode keluarga berencana yang
mereka pilih, aman, efektif, terjangkau, serta metode-metode pengendalian kelahiran
lainnya yang mereka pilihdan tidak bertentangan dengan hokum serta perundang-
undangan yang berlaku.
Hak-hak reproduksi meliputi hal-hal berikut ini.
1 Hak mendapat informasi dan pendidikan kesehatan reproduksi
2 Hak mendapat pelayanan dan perlindungan kesehatan reproduksi
3 Hak kebebasan berfikir tentang pelayanan kesehatan reproduksi
4 Hak untuk dilindungi dari kematian karena kehamilan
5 Hak untuk menentukan jumlah dan jarak kelahiran anak
6 Hak atas kebebasan dan keamanan yang berkaitan dengan keamanan
reproduksinya
7 Hak untuk bebaas dari penganiayaan dan perilaku buruk termasuk
perlindungan dari perkosaan,kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan seksual
8 Hak mendapatkan manfaat kemajuan ilmu pengetahuan yang
9 berkaitan dengan kesehatan reproduksi
10 Hak untuk membangun dan merencanakan keluarga
11 Hak untuk bebas dari segala bentuk diskriminasi dalam kehidupan
berkeluarga dan kehidupan reproduksi
12 Hak atas kebebasan berkumpul dan berpartisipasi dalam politik yang
berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

3. Paket Pelayanan Kesehatan Reproduksi


Paket pelayanan kesehatan reproduksi meliputi hal-hal berikut ini:
1) Paket pelayanan kesehatan reproduksi komprehensif (PKRK) adalah
pelayanan kesehatan reproduksi yang mencakup semua pelayanan tentang
masalah kesehatan reproduksi dan seksual yang terjadi pada semua siklus
kehidupan.
Komponen PKRK meliputi :
- Kesehatan Bayi dan anak
- Remaja
- Infertilitas
- Kekerasan terhadap perempuan
- Kesehatan dan kesejahteraan maternal (Safe-motherhood)
- Penyakit menular seksual (PMS) dan HIV/AIDS
- Penyakit kanker alat reproduksi
- Masalah usia lanjut seperti osteoporosis
2) Paket Pelayanan Kesehatan Esensial (PKRE) ditunjukan untuk masalah
masalah kesehatan reproduksi yang menjadi prioritas.
Prioritas dari PKRE adalah :
- Keluarga berencana
- Kesehatan dan kesejahteraan maternal (Safe-motherhood)
- Pencegahan dan manajemen komplikasi aborsi
- PMS dan HIV/AIDS
- Pencegahan dan manajemen Infertilitas
- Kesehatan reproduksi remaja

4. Perawatan Kesehatan Reproduksi


Perawatan kesehatan reproduksi adalah suatu kumpulan metode, teknik dan
pelayanan yang mendukung kesehatan reproduksi dan kesejahteraan melalui
pencegahan dan penanganan masalah-masalah kesehatan reproduksi mencakup
perawatan kesehatan seksual yang bertujuan meningkatkan kualitas hidup dan
hubungan antar pribadi. Bukan hanya perihal konseling dan perawatan yang
berhubungan dengan proses reproduksi dan penyakit menular secara seksual.
Perawatan kesehatan reproduksi perlu dilaksanakan pada jenjang perawatan
kesehatan primer yang mencakup berbagai pelayanan yang terkait satu sama lain
yaitu sebagai berikut.
1. Bimbingan dalam pelaksanaan keluarga berencana, termasuk didalam nya ialah
pemberian pendidikan, komunikasi, informasi, konseling, dan pelayanan
kontrasepsi.
2. Pendidikan dan pelayanan perawatan prenatal
3. Penanganan proses kelahiran yang aman
4. Perawatan pascanatal khususnya pemberian ASI, perawatan kesehatan bayi, anak
dan ibu.
5. Pencegahan dan pengobatan yang memadai terhadap kemandulan.
6. Penanganan infeksi saluran reproduksi.
7. Penyakit yang ditularkan secara seksual termasuk penyakit HIV/AIDS dan
kanker alat reproduksi.
8. Informasi pendidikan dan konseling tentang seksualitas sesuai umur, termasuk
pengetahuan reproduksi bagi remaja agar menjadi orang tua yang bertanggung
jawab.

5. Indikator Kesehatan Reproduksi


Organisasi kesehatan dunia (World Organization/WHO) telah membuat daftar
indikator kesehatan reproduksi secara global yang meliputi sebagai berikut.
a. Total fertility rate (TFR)
b. Prevalensi Kontrasepsi
c. Rasio kematian ibu
d. Persentase wanita yang berkunjung sekurang-kurangnya satu kali selama
kehamilan ke pelayanan kesehatan sehubungan dengan kehamilan.
e. Persentase kelahiran yang ditolong oleh tenaga kesehatan profesional.
f. Jumlah fasilitas yang berfungsi sebagai pelayanan obstetri esensial komprehensif
per 500.000 penduduk.
g. Angka kematian perinatal.
h. Persentase kelahiran bayi hidup dengan berat lahir rendah.
i. Prevalensi tes serologi positif pada ibu hamil yang berkunjung ke prenatal care.
j. Persentase wanita usia reproduksi yang diskrining kadar hemoglobinyya untuk
mendeteksi yang terkena anemia.
k. Persentase tenaga obstetri dan ginekologi yang melakukan aborsi.
l. Laporan prevalensi wanita dengan female genital mutilation.
m. Persentase wanita usia reproduksi yang beresiko hamil yang dilaporkan mencoba
untuk hamil dua tahun atau lebih.
n. Laporan insidensi uretritis pada pria (usia 15-49 tahun) dan prevalensi HIV pada
wanita hamil.

B. Konsep Dasar Ca.Mammae


1. Pengertian
Ca mammae merupakan tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan lemak,
maupun jaringan ikat pada payudara (Wijaya, 2005).
Kanker payudara adalah sekelompok sel tidak normal pada payudara yang
terus tumbuh berupa ganda. Pada akhirnya sel-sel ini menjadi bentuk benjolan di
payudara. Jika benjolan kanker tidak terkontrol, sel-sel kanker bias bermestastase
pada bagian-bagian tubuh lain. Metastase bias terjadi pada kelenjar getah bening
ketiak ataupun diatas tulang belikat. Seain itu sel-sel kanker bias bersarang di tulang,
paru-paru, hati, kulit, dan bawah kulit. (Erik T, 2005)
Ca mammae (carcinoma mammae) adalah keganasan yang berasal dari sel
kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan penunjang payudara, tidak termasuk kulit
payudara. Ca mammae adalah tumor ganas yang tumbuh di dalam jaringan
payudara. Kanker bisa mulai tumbuh di dalam kelenjar susu, saluran susu, jaringan
lemak maupun jaringan ikat pada payudara. (Medicastore, 2011)
Ca mammae adalah suatu penyakit pertumbuhan sel, akibat adanya onkogen
yang menyebabkan sel normal menjadi sel kanker pada jaringan payudara (Karsono,
2006).

2. Etiologi
Sebab-sebab keganasan pada mammae masih belum diketahui secara pasti
(Price & Wilson, 1995), namun ada beberapa teori yang menjelaskan tentang
penyebab terjadinya Ca mammae, yaitu :
a. Mekanisme hormonal
Steroid endogen (estradiol & progesterone) apabila mengalami perubahan dalam
lingkungan seluler dapat mempengaruhi faktor pertumbuhan bagi ca mammae
(Smeltzer & Bare, 2002: 1589).
b. Virus
Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan adanya massa
abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.
c. Genetik
Ca mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena adanya “linkage
genetic” autosomal dominan (Reeder, Martin, 1997).
Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi kromosom 17
mempunyai peranan penting untuk terjadinya transformasi malignan (Reeder,
Martin, 1997).
Mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien dengan
riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin & kumar, 1995) serta
mutasi gen supresor tumor p 53 (Murray, 2002).
Etiologi kanker payudara tidak diketahui dengan pasti. Namun beberapa faktor
resiko pada pasien diduga berhubungan dengan kejadian kanker payudara, yaitu :
a. Tinggi melebihi 170 cm
b. Masa reproduksi yang relatif panjang.
c. Faktor Genetik
d. Ca Payudara yang terdahulu
e. Keluarga
Diperkirakan 5 % semua kanker adalah predisposisi keturunan ini,
dikuatkan bila 3 anggota keluarga terkena carsinoma mammae.
f. Kelainan payudara ( benigna )
Kelainan fibrokistik ( benigna ) terutama pada periode fertil, telah
ditunjukkan bahwa wanita yang menderita / pernah menderita yang
porliferatif sedikit meningkat.
g. Makanan, berat badan dan faktor resiko lain
h. Faktor endokrin dan reproduksi
Graviditas matur kurang dari 20 tahun dan graviditas lebih dari 30 tahun,
Menarche kurang dari 12 tahun
i. Obat anti konseptiva oral
Penggunaan pil anti konsepsi jangka panjang lebih dari 12 tahun
mempunyai resiko lebih besar untuk terkena kanker.

3. Patofisiologi
Sel-sel kanker dibentuk dari sel-sel normal dalam suatu proses rumit yang
disebut transformasi, yang terdiri dari tahap inisiasi dan promosi:
a. Fase Inisiasi
Pada tahap inisiasi terjadi suatu perubahan dalam bahan genetik sel yang
memancing sel menjadi ganas. Perubahan dalam bahan genetik sel ini disebabkan
oleh suatu agen yang disebut karsinogen, yang bisa berupa bahan kimia, virus,
radiasi (penyinaran) atau sinar matahari. tetapi tidak semua sel memiliki kepekaan
yang sama terhadap suatu karsinogen. kelainan genetik dalam sel atau bahan
lainnya yang disebut promotor, menyebabkan sel lebih rentan terhadap suatu
karsinogen. bahkan gangguan fisik menahunpun bisa membuat sel menjadi lebih
peka untuk mengalami suatu keganasan.
b. Fase Promosi
Pada tahap promosi, suatu sel yang telah mengalami inisiasi akan berubah menjadi
ganas. Sel yang belum melewati tahap inisiasi tidak akan terpengaruh oleh
promosi. karena itu diperlukan beberapa faktor untuk terjadinya keganasan
(gabungan dari sel yang peka dan suatu karsinogen).
Kanker mammae merupakan penyebab utama kematian pada wanita karena
kanker (Maternity Nursing, 1997). Penyebab pasti belum diketahui, namun ada
beberapa teori yang menjelaskan bagaimana terjadinya keganasan pada mammae,
yaitu:
a). Mekanisme hormonal, dimana perubahan keseimbangan hormone estrogen
dan progesterone yang dihasilkan oleh ovarium mempengaruhi factor
pertumbuhan sel mammae (Smeltzer & Bare, 2002). Dimana salah satu
fungsi estrogen adalah merangasang pertumbuhan sel mammae .
Suatu penelitian menyatakan bahwa wanita yang diangkat ovariumnya
pada usia muda lebih jarang ditemukan menderita karcinoma mammae,
tetapi hal itu tidak membuktikan bahwa hormone estrogenlah yang,
menyebabkan kanker mammae pada manusia. Namun menarche dini dan
menopause lambat ternyata disertai peninmgkatan resiko Kanker mammae
dan resiko kanker mammae lebih tinggi pada wanita yang melahirkan
anak pertama pada usia lebih dari 30 tahun.
b). Virus, Invasi virus yang diduga ada pada air susu ibu menyebabkan
adanya massa abnormal pada sel yang sedang mengalami proliferasi.
c). Genetik
- Kanker mammae yang bersifat herediter dapat terjadi karena
adanya “linkage genetic” autosomal dominan.
- Penelitian tentang biomolekuler kanker menyatakan delesi
kromosom 17 mempunyai peranan penting untuk terjadinya
transformasi malignan.
- Mutasi gen BRCA 1 dan BRCA 2 biasanya ditemukan pada klien
dengan riwayat keluarga kanker mammae dan ovarium (Robbin &
kumar, 1995) serta mutasi gen supresor tumor p 53 (Murray, 2002).
- Defisiensi imun
Defesiensi imun terutama limfosit T menyebabkan penurunan
produksi interferon yang berfungsi untuk menghambat terjadinya
proliferasi sel dan jaringan kanker dan meningkatkan aktivitas
antitumor. Gangguan proliferasi tersebut akan menyebabkan
timbulnya sel kanker pada jaringa epithelial dan paling sering pada
system duktal. Mula-mula terjadi hyperplasia sel dengan
perkembangan sel atipikal. Sel ini akan berlanjut menjadi
karsinoma in situ dan menginvasi stroma. Kanker butuh waktu 7
tahun untuk dapat tumbuh dari sebuah sel tunggal menjadi massa
yang cukup besar untuk bias diraba. Invasi sel kanker yang
mengenai jaringan yang peka terhadap sensasi nyeri akan
menimbulkan rasa nyeri, seperti periosteum dan pelksus saraf.
Benjolan yang tumbuh dapat pecah dan terjadi ulserasi pada kanker
lanjut.
Pertumbuhan sel terjadi irregular dan bisa menyebar melalui
saluran limfe dan melalui aliran darah. Dari saluran limfe akan
sampai di kelenjer limfe menyebabkan terjadinya pembesaran
kelenjer limfe regional. Disamping itu juga bisa menyebabkan
edema limfatik dan kulit bercawak (peau d’ orange). Penyebaran
yang terjadi secara hematogen akan menyebabkan timbulnya
metastasis pada jaringan paru, pleura, otak tulang (terutama tulang
tengkorak, vertebredan panggul)
Pada tahap terminal lanjut penderita umumnya menderita
kehilangan progersif lemak tubuh dan badannya menjadi kurus
disertai kelemahan yang sangat, anoreksia dan anemia. Simdrom
yang melemahkan ini dinyatakan sebagai kakeksi kanker.

4. Manifestasi Klinik
Gejala umum Ca mamae adalah :
a. Teraba adanya massa atau benjolan pada payudara
b. Payudara tidak simetris / mengalami perubahan bentuk dan ukuran karena mulai
timbul pembengkakan
c. Ada perubahan kulit : penebalan, cekungan, kulit pucat disekitar puting susu,
mengkerut seperti kulit jeruk purut dan adanya ulkus pada payudara
d. Ada perubahan suhu pada kulit : hangat, kemerahan , panas
e. Ada cairan yang keluar dari puting susu
f. Ada perubahan pada puting susu : gatal, ada rasa seperti terbakar, erosi dan
terjadi retraksi
g. Ada rasa sakit
h. Penyebaran ke tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan kadar kalsium darah
meningkat
i. Ada pembengkakan didaerah lengan
j. Adanya rasa nyeri atau sakit pada payudara.
k. Semakin lama benjolan yang tumbuh semakin besar
l. Mulai timbul luka pada payudara dan lama tidak sembuh meskipun sudah
diobati, serta puting susu seperti koreng atau eksim dan tertarik ke dalam.
m. Kulit payudara menjadi berkerut seperti kulit jeruk (Peau d' Orange).
n. Benjolan menyerupai bunga kobis dan mudah berdarah.
o. Metastase (menyebar) ke kelenjar getah bening sekitar dan alat tubuh lain

5. Pentahapan
Pentahapan mencangkup mengklasifikasikan kanker payudara berdasarkan
pada keluasan penyakit. Pentahapan segala bentuk kanker sangat penting karena hal
ini dapat membantu tim perawatan kesehatan merekomendasikan pengobatan terbaik
yang ada, memberikan prognosis, dan beberapa pemeriksaan darah dan prosedur
diagnostik dilakukan dalam petahapan penyakit. Pemeriksaaan dan prosedur ini
mencankup rontgen dada, pemindaian tulang, dan fungsi hepar, pentahapan klinik
yang paling banyak digunakan untuk kanker payudara adalah sistem klasifikasi
TNM yang mengevaluasi ukuran tumor, jumlah nodus limfe yang terkena, dan bukti
adanya metastasis yang jauh.
1. Tumor primer (T) :
a. Tx : Tumor primer tidak dapat ditentukan
b. T0 : Tidak terbukti adanya tumor primer
c. Tis : Kanker in situ, paget dis pada papila tanpa teraba tumor
d. T1 :Tumor <>
a). T1a : Tumor <>
b). T1b :Tumor 0,5 – 1 cm
c). T1c :Tumor 1 – 2 cm
e. T2 :Tumor 2 – 5 cm
f. T3 : Tumor diatas 5 cm
g. T4 : Tumor tanpa memandang ukuran, penyebaran langsung ke dinding
thorax atau kulit :
a). Melekat pada dinding dada
b). T4b : Edema kulit, ulkus, peau d’orange
c). T4c : T4a dan T4b
d). T4d : Mastitis karsinomatosis
2. Nodus limfe regional (N) :
a. Nx : Pembesaran kelenjar regional tidak dapat ditentukan
b. N0 : Tidak teraba kelenjar axila
c. N1 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang tidak melekat
d. N2 : Teraba pembesaran kelenjar axila homolateral yang melekat satu
sama lain atau melekat pada jaringan sekitarnya
e. N3 : Terdapat kelenjar mamaria interna homolateral
3. Metastas jauh (M) :
a). Mx : Metastase jauh tidak dapat ditentukan
b). M0 : Tidak ada metastase jauh
c). M1 : Terdapat metastase jauh, termasuk kelenjar subklavikula

Kanker payudara mempunyai 4 stadium, yaitu:


1. Stadium I
Tumor yang berdiameter kurang 2 cm tanpa keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh. Tumor terbatas pada payudara dan tidak terfiksasi pada kulit dan
otot pektoralis.

2. Stadium IIa

Tumor yang berdiameter kurang 2 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter kurang 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.

3. Stadium Iib

Tumor yang berdiameter kurang 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan tanpa
penyebaran jauh atau tumor yang berdiameter lebih 5 cm tanpa keterlibatan
limfonodus (LN) dan tanpa penyebaran jauh.

4. Stadium IIIa
Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) tanpa
penyebaran jauh.

5. Stadium IIIb

Tumor yang berdiameter lebih 5 cm dengan keterlibatan limfonodus (LN) dan


terdapat penyebaran jauh berupa metastasis ke supraklavikula dengan keterlibatan
limfonodus (LN) supraklavikula atau metastasis ke infraklavikula atau menginfiltrasi /
menyebar ke kulit atau dinding toraks atau tumor dengan edema pada tangan.

Tumor telah menyebar ke dinding dada atau menyebabkan pembengkakan bisa


juga luka bernanah di payudara. Didiagnosis sebagai Inflamatory Breast Cancer. Bisa
sudah atau bisa juga belum menyebar ke pembuluh getah bening di ketiak dan lengan
atas, tapi tidak menyebar ke bagian lain dari organ tubuh

6. Stadium IIIc

Ukuran tumor bisa berapa saja dan terdapat metastasis kelenjar limfe infraklavikular
ipsilateral, atau bukti klinis menunjukkan terdapat metastasis kelenjar limfe
mammaria interna dan metastase kelenjar limfe aksilar, atau metastasis kelenjar limfe
supraklavikular ipsilateral

7. Stadium IV

Tumor yang mengalami metastasis jauh, yaitu : tulang, paru-paru, liver atau tulang
rusuk.

Status penampilan (performance status) kanker menurut WHO (1979) :

a. 0 : Baik, dapat bekerja normal.

b. 1 : Cukup, tidak dapat bekerja berat namun bekerja ringan bisa.


c. 2 : Lemah, tidak dapat bekerja namun dapat berjalan dan merawat diri sendiri 50%
dari waktu sadar.

d. 3 : Jelek, tidak dapat berjalan, dapat bangun dan merawat diri sendiri, perlu
tiduran lebih 50% dari waktu sadar.

e. 4 : Jelek sekali, tidak dapat bangun dan tidak dapat merawat diri sendiri, hanya
tiduran saja.

6. Pemeriksaan Laboratorium dan Pemeriksaan Diagnostik


a. Pemeriksaan labortorium meliputi: Morfologi sel darah, LED, Test fal marker
(CEA) dalam serum/plasma, Pemeriksaan sitologis
b. Test diagnostik lain:
- Non invasive: Mamografi, Ro thorak, USG, MRI, PET
- Invasif : Biopsi, Aspirasi biopsy (FNAB), True cut / Care biopsy, Incisi
biopsy, Eksisi biopsy

Pemeriksaan penunjang dapat dilakukan dengan :


a) Pemeriksaan payudara sendiri
b) Pemeriksaan payudara secara klinis
c) Pemeriksaan manografi
d) Biopsi aspirasi
e) True cut
f) Biopsi terbuka
g) USG Payudara, pemeriksaan darah lengkap, X-ray dada, therapy
medis, pembedahan, terapi radiasi dan kemoterapi.

7. Komplikasi
Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe (limfogen) ke paru,pleura, tulang
dan hati. Selain itu Komplikasi Ca Mammae yaitu:
a. Metastase ke jaringan sekitar melalui saluran limfe dan pembuluh darahkapiler
( penyebaran limfogen dan hematogen0, penyebarab hematogen dan limfogen
dapat mengenai hati, paru, tulang, sum-sum tulang ,otak ,syaraf
b. Gangguan neuro varkuler
c. Faktor patologi
d. Fibrosis payudara
e. Kematian

8. Penatalaksanaan
a. Pembedahan
1) Mastectomy radikal yang dimodifikasi
Pengangkatan payudara sepanjang nodu limfe axila sampai otot pectoralis
mayor. Lapisan otot pectoralis mayor tidak diangkat namun otot pectoralis
minor bisa jadi diangkat atau tidak diangkat.
2) Mastectomy total
Semua jaringan payudara termasuk puting dan areola dan lapisan otot
pectoralis mayor diangkat. Nodus axila tidak disayat dan lapisan otot dinding
dada tidak diangkat.

3) Lumpectomy/tumor
Pengangkatan tumor dimana lapisan mayor dri payudara tidak turut diangkat.
Exsisi dilakukan dengan sedikitnya 3 cm jaringan payudara normal yang
berada di sekitar tumor tersebut.
4) Wide excision/mastektomy parsial.
Exisisi tumor dengan 12 tepi dari jaringan payudara normal.
5) Ouadranectomy.
Pengangkatan dan payudara dengan kulit yang ada dan lapisan otot pectoralis
mayor.
b. Radiotherapy
Biasanya merupakan kombinasi dari terapi lainnya tapi tidak jarang pula
merupakan therapi tunggal. Adapun efek samping: kerusakan kulit di
sekitarnya, kelelahan, nyeri karena inflamasi pada nervus atau otot pectoralis,
radang tenggorokan.
c. Chemotherapy
Pemberian obat-obatan anti kanker yang sudah menyebar dalam aliran darah.
Efek samping: lelah, mual, muntah, hilang nafsu makan, kerontokan membuat,
mudah terserang penyakit.
d. Manipulasi hormonal.
Biasanya dengan obat golongan tamoxifen untuk kanker yang sudah
bermetastase. Dapat juga dengan dilakukan bilateral oophorectomy. Dapat juga
digabung dengan therapi endokrin lainnya.

Nama : Winda Artika


ASUHAN KEPERAWATAN CA MAMMAE

1. Pengkajian
a. Identitas klien: Data diri klien meliputi : nama, umur, pekerjaan, pendidikan, alamat,
medicalrecord dll.
b. Keluhan Utama
Klien mengatakan merasa nyeri dibagian payudaranya dan terasa ada benjolan.
c. Riwayat Penyakit
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
Biasanya klien masuk ke rumah sakit karena merasakan adanya benjolan yang
menekan payudara, adanya ulkus, kulit berwarna merah dan mengeras, bengkak
dan nyeri.
2) Riwayat Kesehatan Dahulu
Adanya riwayat ca mammae sebelumnya atau ada kelainan pada mammae,
kebiasaan makan tinggi lemak, pernah mengalami sakit pada bagian dada
sehingga pernah mendapatkan penyinaran pada bagian dada, ataupun mengidap
penyakit kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
3) Riwayat Kesehatan Keluarga
Adanya keluarga yang mengalami ca mammae berpengaruh pada kemungkinan
klien mengalami ca mammae atau pun keluarga klien pernah mengidap penyakit
kanker lainnya, seperti kanker ovarium atau kanker serviks.
4) Pemeriksaan Fisik
a. Kepala : normal, kepala tegak lurus, tulang kepala umumnya bulat dengan
tonjolan frontal di bagian anterior dan oksipital dibagian posterior.
b. Rambut : biasanya tersebar merata, tidak terlalu kering, tidak terlalu
berminyak.
c. Mata : biasanya tidak ada gangguan bentuk dan fungsi mata. Mata
anemis, tidak ikterik, tidak ada nyeri tekan.
d. Telinga : normalnya bentuk dan posisi simetris. Tidak ada tanda-tanda
infeksi dan tidak ada gangguan fungsi pendengaran.
e. Hidung : bentuk dan fungsi normal, tidak ada infeksi dan nyeri tekan.
f. Mukosa bibir kering, tidak ada gangguan perasa.
g. Leher : biasanya terjadi pembesaran KGB.
h. Dada : adanya kelainan kulit berupa peau d’orange, dumpling, ulserasi
atau tanda-tanda radang.
i. Hepar : biasanya tidak ada pembesaran hepar.
j. Ekstremitas: biasanya tidak ada gangguan pada ektremitas.
5) Pengkajian 11 Pola Fungsional Gordon
a. Persepsi dan Manajemen
Biasanya klien tidak langsung memeriksakan benjolan yang terasa pada
payudaranya kerumah sakit karena menganggap itu hanya benjolan biasa.
b. Nutrisi – Metabolik
Kebiasaan diet buruk, biasanya klien akan mengalami anoreksia, muntah dan
terjadi penurunan berat badan, klien juga ada riwayat mengkonsumsi
makanan mengandung MSG.
c. Eliminasi
Biasanya terjadi perubahan pola eliminasi, klien akan mengalami melena,
nyeri saat defekasi, distensi abdomen dan konstipasi.
d. Aktivitas dan Latihan
e. Anoreksia dan muntah dapat membuat pola aktivitas dan lathan klien
terganggu karena terjadi kelemahan dan nyeri.
f. Kognitif dan Persepsi
Biasanya klien akan mengalami pusing pasca bedah sehingga kemungkinan
ada komplikasi pada kognitif, sensorik maupun motorik.
g. Istirahat dan Tidur
Biasanya klien mengalami gangguan pola tidur karena nyeri.
h. Persepsi dan Konsep Diri
Payudara merupakan alat vital bagi wanita. Kelainan atau kehilangan akibat
operasi akan membuat klien tidak percaya diri, malu, dan kehilangan haknya
sebagai wanita normal.
i. Peran dan Hubungan
Biasanya pada sebagian besar klien akan mengalami gangguan dalam
melakukan perannya dalam berinteraksi social.
j. Reproduksi dan Seksual
Biasanya aka nada gangguan seksualitas klien dan perubahan pada tingkat
kepuasan.
k. Koping dan Toleransi Stress
Biasanya klien akan mengalami stress yang berlebihan, denial dan keputus
asaan.
l. Nilai dan Keyakinan
Diperlukan pendekatan agama supaya klien menerima kondisinya dengan
lapang dada.

2. Diagnosa Keperawatan

a. Nyeri berhubungan dengan adanya penekanan massa tumor


b. Ansietas berhubungan dengan perubahan gambaran tubuh
c. Resiko infeksi berhubungan dengan luka operasi
d. Gangguan citra tubuh
e. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Nama : Nurilmi Saputri

3. Rencana Keperawatan
1. Nyeri Akut

Definisi : Pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan
jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti
(International Association for the Study of Pain); awitan yang tiba tiba atau
perlahan dengan intensitas ringan sampai berat dengan akhir yang dapat
diantisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan

Faktor yang berhubungan :

Agen-agen penyebab cedera ( biologis, kimia,fisik,dan psikologis)


Batasan Karakteristik :

Subjektif : mengungkapkan secar verbal atau melaporkan ( nyeri ) dengan isyarat.

Objektif : posisi untuk menghindari nyeri, perubahan tonus otot, respon autonomic,
perubahan selera makan, perilaku distraksi, perilaku eksprsif, bukti nyeri yang
dapat diamati, gangguan tidur.

Tujuan/ Kriteria Hasil (NOC) :

 Memperlihatkan pengendalian nyeri


 Menunjukkan tingkat nyeri

Intervensi NIC :

1. Pemberian analgesic : mengunakan agens-agens farmakologi untuk mengurangi atau


menghilangkan nyeri.
2. Manajemen medikasi : memfasilitasi penggunaan obat resep atau obat bebas secara aman
dan efektif.
3. Manajemen nyeri : meringankan atau mengurangi nyeri sampai pada tingkat kenyamanan
yang dapat diterima oleh pasien.
4. Bantuan analgesia yang dikendalikan oleh pasien : memudahkan pengendalian pemberian
dan pengaturan analgesic oleh pasien.
5. Manajemen sedasi : memberikan seatif, memantau respon pasien, dan memberikan
dukungan fisiologis, yang dibutuhkan selama prosedur, diagnostic atau terapeutik.

2. Ansietas

Definisi : Perasaan tidak nyaman atau kekhawatiran yang samar disertai respons autonom
(sumber sering kali tidak spesifik atau tidak diketahui oleh individu); perasaan
takut yang disebabkan oleh antisipasi terhadap bahaya. Perasaan ini merupakan
isyarat kewaspadaan yang memperingatkan bahaya yang akan terjadi dan
memampukan individu melakukan untuk menghadapi ancaman.

Faktor yang berhubungan :

Terpajan toksin, hubungan keluarga/hereditas, transmisi dan penularan interpersonal, krisis


situasi dan maturasi, stress, penyalahgunaan zat, ancaman kematian, ancaman terhadap
konsep diri.

Batasan Karakteristik :

Perilaku : penurunan produktivitas, gelisah, memandang sekilas, insomnia.

Afektif : menyesal, marah, perasaan takut, khawatir

Fisiologis : wajah tegang, peningkatan keringat

Tujuan/ Kriteria Hasil (NOC) :

 Ansietas berkurang
 Menunjukkan pengendalian diri terhadap ansietas

Intervensi NIC :

1. Bimbingan antisipasi : mempersiapkan pasien menghadapi kemungkinan krisis


perkembangan/dan atau situasional

2. Proses ansietas : meminimalkan kekhawatiran, ketakutan, prasangka atau perasaan tidak


tenang yang berhubungan dengan sumber bahaya yang di antisipasi dan tidak jelas

3. Teknik Menenangkan Diri : Meredakan kecemasan pada pasien yang mengalami distres
akut

4. Peningkatan Koping : Membantu pasien untuk berdaptasi dengan persepsi stresor,


perubahan, atau ancaman yang menghambat pemenuhan tuntutandan hidup.
5. Dukungan Emosi : Memberikan penenangan, penerimaan, dan bantuan/dukungan selama
masa stres

3. Resiko Infeksi

Definisi : Berisiko terhadap invasi organisme patogen.

Faktor resiko : penyakit kronis, penekanan sistem imun, ketidakadekutan imunitas dapatan,
kerusakan jaringan, trauma.

Tujuan/ Kriteria Hasil (NOC) :

 Faktor infeksi resiko infeksi akan hilang


 Pasien akan memperlihatkan pengendalian risiko

Intervensi NIC :

1. Perawatan sirkulasi : Insufiensi Arteri : Meningkatkan sirkulasi arteri


2. Skinning Kesehatan : Mendeteksi resiko atau masalah kesehatan dengan
memanfaatkan riwayat kesehatan, pemeriksaan kesehatan, dan prosedur lainnya.
3. Perawatan Luka Insisi : Membersikan, memantau, dan memfasilitasi proses
penyembuhan luka yang di tutup dengan jahitan, klip atau staples.
4. Pengendalian Infeksi : meminimalkan penyebaran dan penularan agens infeksius
5. Perlindungan Infeksi : mencegah dan mendeteksi dini infeksi pada pasien yang
berisiko
6. Perawatan Luka : Mencegah terjadinya komplikasi pada luka dan memfasilitasi proses
penyembuhan luka

4. Gangguan Citra Tubuh

Definisi : Konfusi pada gambaran mental fisik diri seorang.


Faktor yang berhubugan

Biofisik, kognitif, kultural atau spiritual, perubahan perkembangan, penyakit, perseptual,


psikosoial, trauma, penanganan

Batasan Karakteristik :

Subjektif :

 Depersonalisasi bagian (tubuh) atau kehilangan melalui kata


 Penekanan pada kekuatan yang tersisa dan pencapaian yang tinggi
 Rasa takut terhadap penolakan atau reaksi dari orang lain
 Fokus pada perubahan atau kehilangan
 Menolak untuk memverivikasi perubahan aktual
 Mengungkapkan secara verbal perubahan gaya hidup

Objektif :

 Perubahan aktual pada stuktur atau fungsi (tubuh)


 Perilaku menghindar, memantau, atau mencari tahu tentang tubuh individu
 Perubahan pada kemampuan untuk memperkirakan hubungan spesial tubuh terhadap
lingkungan
 Perubahan dalam keterlibatan sosial
 Kehilangan bagian tubuh
 Tidak melihat pada bagian tubuh

Tujuan/ Kriteria Hasil (NOC) :

 Gangguan citra tubuh berkurang


 Menunjukkan citra tubuh

Intervensi NIC :

1. Bimbingan antisipasi : mempersiapkan pasien terhadap krisis perkembangan atau


krisis situasional
2. Peningkatan citra tubuh : meningkatkan persepsi sadar dan tak sadar pasien serta
sikap terhadap tubuh pasien
3. Peningkatan Koping : Membantu pasien untuk beradaptasi dengan persepsi stressor,
perubahan, atau ancaman yang menghambat pemenuhan tuntutan dan peran hidup
4. Identifikasi resiko : menganalisis faktor risiko potensial, menetapkan risiko kesehatan,
dan memprioritaskan strategi menurunkan resiko untuk individu atau kelompok
5. Peningkatan harga diri : membantu pasien untuk meningkatkan penilaian personal
terhadap harga diri

5. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh

Definisi : Asuhan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik.

Faktor yang berhubungan :

Ketidakmampuan untuk menelan atau mencerna makanan atau menyerap nutrient akibat
factor biologis, psikologis, atau ekonomi, termasuk kesulitan mengunyah atau
menelan,intoleransi makanan, hilang nafsu makan, mual dan muntah, kebutuhan metabolic
tinggi, dll.

Batasan Karakteristik :

Subjectif : Kram abdomen, menolak makan, Indigesti, persepsi ketidakmampuan untuk


mencerna makanan, merasa cepat kenyang setelah mengonsumsi makanan.

Objektif : Pembuluh kapiler rapuh, bising usus hiperaktif, membrane mukosa pucat, tonus
otot buruk, menolak untuk makan, rongga mulut terluka, kelemahan otot yang
berfungsi untuk menelan atau mengunyah.

Tujuan/ Kriteria Hasil :

Memperlihatkan status gizi : asupan makanan dan cairan yang dibuktikan oleh indicator
sebagai berikut ( sebutkan : tidak adekuat, sedikit adekuat, cukup adekuat, adekuat, sangat
adekuat ). Makanan oral, pemberian makanan lewat selang, atau nutrisi parenteral total.

Intervensi NIC :
1. Manajemen gangguan makanan : mencegah dan menangani pembatasan diet yang sangat
ketat dan aktivitas berlebihan atau memasukkan makanan dan minuman dalam jumlah
banyak kemudian berusaha mengeluarkan semuannya.
2. Manajemen nutrisi : membantu atau menyediakan asupan makanan dan cairan diet
seimbang.
3. Terapi nutrisi : pemberian makanan dan cairan untuk mendukung proses metabolic pasien
yang malnutrisi atau beresiko tinggi terhadap malnutrisi.
4. Pemantauan nutrisi : mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mencegah dan
meminimalkan kurang gizi.
5. Bantuan perawat-diri : makan : membantu individu untuk makan.
6. Bantuan menaikkan berat badan : memfasilitasi pencapaian kenaikan berat badan.

Nama : Ira Irawan


KELUARGA BERENCANA

A. Pengertian
Menurut World Health Organisation (WHO) expert committee 1997: keluarga
berencana adalah tindakan yang membantu pasangan suami istri untuk menghindari
kehamilan yang tidak diinginkan, mendapatkan kelahiran yang memang sangat diinginkan,
mengatur interval diantara kehamilan, mengontrol waktu saat kelahiran dalam hubungan
dengan umur suami istri serta menentukan jumlah anak dalam keluarga.
Keluarga berencana menurut Undang-Undang no 10 tahun 1992 (tentang
perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera) adalah upaya
peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan
(PUP), pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Keluarga berencana adalah suatu usaha untuk
menjarangkan jumlah dan jarak kehamilan dengan memakai kontrasepsi.
Secara umum keluarga berencana dapat diartikan sebagai suatu usaha yang mengatur
banyaknya kehamilan sedemikian rupa sehingga berdampak positif bagi ibu, bayi, ayah serta
keluarganya yang bersangkutan tidak akan menimbulkan kerugian sebagai akibat langsung
dari kehamilan tersebut. Diharapkan dengan adanya perencanaan keluarga yang matang
kehamilan merupakan suatu hal yang memang sangat diharapkan sehingga akan terhindar dari
perbuatan untuk mengakhiri kehamilan dengan aborsi.
B. Tujuan Keluarga Berencana
Gerakan KB dan pelayanan kontrasepsi memiliki tujuan:
1. Mengatur kehamilan dengan menunda perkawinan, menunda kehamilan anak pertama
dan menjarangkan kehamilan setelah kelahiran anak pertama serta menghentikan
kehamilan bila dirasakan anak telah cukup.
2. Mengobati kemandulan atau infertilitas bagi pasangan yang telah menikah lebih dari satu
tahun tetapi belum juga mempunyai keturunan, hal ini memungkinkan untuk tercapainya
keluarga bahagia.
3. Married Conseling atau nasehat perkawinan bagi remaja atau pasangan yang akan
menikah dengan harapan bahwa pasangan akan mempunyai pengetahuan dan pemahaman
yang cukup tinggi dalam membentuk keluarga yang bahagia dan berkualitas.
4. Tujuan akhir KB adalah tercapainya NKKBS (Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera) dan membentuk keluarga berkualitas, keluarga berkualitas artinya suatu
keluarga yang harmonis, sehat, tercukupi sandang, pangan, papan, pendidikan dan
produktif dari segi ekonomi.
5. Meningkatkan jumlah penduduk untuk menggunakan alat kontrasepsi.
6. Menurunnya jumlah angka kelahiran bayi.

C. Manfaat Keluarga Berencana


1. Memungkinkan wanita untuk mengontrol kesuburan mereka sehingga dapat memutuskan
bila dan kapan mereka ingin hamil dan memiliki anak.
2. Wanita yang hamil segera setelah melahirkan berisiko memiliki kehamilan yang buruk.
Mereka lebih mungkin menderita kondisi medis yang serius atau meninggal selama
kehamilan. Bayi mereka juga lebih cenderung memiliki masalah kesehatan (misalnya
lahir dengan berat badan rendah). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan
bahwa secara global, 100.000 kematian ibu dapat dicegah setiap tahun, jika semua wanita
yang tidak ingin anak lagi mampu menghindari kehamilan. Kematian ini terjadi sebagian
besar di negara berkembang di mana cakupan kontrasepsi rendah.
3. Wanita lebih dapat berpartisipasi dalam kehidupan sosial, mencari pekerjaan dan meraih
pendidikan ketika mereka menggunakan alat kontrasepsi dan tidak berisiko hamil. Karena
kegiatan ini umumnya meningkatkan status perempuan dalam masyarakat, kontrasepsi
secara tidak langsung mempromosikan hak-hak dan status perempuan.
4. Memberikan manfaat kesehatan non-reproduksi. Metode kontrasepsi hormonal gabungan
(yaitu estrogen dan progesteron) dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan
endometrium. Injeksi progesteron juga melindungi terhadap kanker ini dan juga terhadap
fibroid rahim. Kontrasepsi implan dan sterilisasi wanita telah terbukti mengurangi risiko
penyakit radang panggul.
5. Mencegah efek kesehatan jiwa dari kehamilan yang tidak diinginkan dan mengurangi
aborsi.
6. Kemampuan untuk mengontrol kesuburan juga memungkinkan wanita untuk lebih
mengontrol aspek lain dari kehidupan mereka, misalnya memutuskan kapan dan mengapa
mereka menikah. Sejak kontrasepsi tersedia secara luas pada 1970-an, pola perkawinan
telah berubah. Wanita sekarang menikah dan memiliki anak di usia yang lebih matang dan
rata-rata memiliki anak lebih sedikit. Perubahan demografis cenderung telah mengurangi
beban emosional dan ekonomi untuk membesarkan anak, karena keluarga sekarang
biasanya memiliki lebih banyak waktu untuk mengumpulkan sumber daya keuangan
sebelum kelahiran anak. Ukuran keluarga yang lebih kecil juga berarti bahwa orang tua
memiliki lebih banyak waktu dan sumber daya yang diberikan per anak.

D. Sasaran Program Keluarga Berencana (KB)


Sasaran program KB tertuang dalam RPJMN 2004-2009 yang meliputi:
1. Menurunnya rata-rata laju pertumbuhan penduduk menjadi sekitar 1,14 persen per
tahun.
2. Menurunnya angka kelahiran total (TFR) menjadi sekitar 2,2 per perempuan.
3. Menurunnya PUS yang tidak ingin punya anak lagi dan ingin
menjarangkan kelahiran berikutnya, tetapi tidak memakai
alat/cara kontrasepsi (unmet need) menjadi 6%.
4. Meningkatnya peserta KB laki-laki menjadi 4,5 persen.
5. Meningkatnya penggunaan metode kontrasepsi yang rasional, efektif, dan efisien.
6. Meningkatnya rata-rata usia perkawinan pertama perempuan menjadi 21 tahun.
7. Meningkatnya partisipasi keluarga dalam pembinaan tumbuh kembang anak.
8. Meningkatnya jumlah keluarga prasejahtera dan keluarga sejahtera-1
yang aktif dalam usaha ekonomi produktif.
9. Meningkatnya jumlah institusi masyarakat dalam
penyelenggaraan pelayanan Program KB Nasional.

E. Ruang Lingkup Program Keluarga Berencana (KB)


Ruang lingkup KB antara lain :
 Keluarga berencana
 Kesehatan reproduksi remaja
 Ketahanan dan pemberdayaan keluarga
 Penguatan pelembagaan keluarga kecil berkualitas
 Keserasian kebijakankependudukan
 Pengelolaan SDM aparatur
 Penyelenggaran pimpinan kenegaraan dan kepemerintahan
 Peningkatan pengawasan dan akuntabilitas aparatur negara.

F. Strategi Pendekatan Program Keluarga Berencana (KB)


Strategi pendekatan dalam program keluarga berencana antara lain :
1. Pendekatan kemasyarakatan (community approach).
Diarahkan untuk meningkatkan dan menggalakkan peran serta masyarakat
(kepedulian) yang dibina dan dikembangkan secara berkelanjutan.
2. Pendekatan koordinasi aktif (active coordinative approach).
Mengkoordinasikan berbagai pelaksanaan program KB dan pembangunan
keluarga sejahtera sehingga dapat saling menunjang dan mempunyai kekuatan
yang sinergik dalam mencapai tujuan dengan menerapkan kemitraan sejajar.
3. Pendekatan integrative (integrative approach)
Memadukan pelaksanaan kegiatan pembangunan agar dapat mendorong dan
menggerakkan potensi yang dimiliki oleh semua masyarakat sehingga dapat
menguntungkan dan memberi manfaat pada semua pihak.
4. Pendekatan kualitas (quality approach).
Meningkatkan kualitas pelayanan baik dari segi pemberi pelayanan (provider) dan
penerima pelayanan (klien) sesuai dengan situasi dan kondisi.
5. Pendekatan kemandirian (self rellant approach)
Memberikan peluang kepada sektor pembangunan lainnya dan masyarakat yang
telah mampu untuk segera mengambil alih peran dan tanggung jawab dalam
pelaksanaan program KB nasional.
6. Pendekatan tiga dimensi ( three dimension approach).
Strategi tiga dimensi program kb sebagai pendekatan program kb nasional.
Strategi ini diterapkan atas dasar survei terhadap kecenderungan respon pasangan
usia subur (PUS) di Indonesia terhadap ajakan (KIE) untuk berkb. Berdasarkan
hasil survei tersebut respon pus terhadap KIE kb terbagi dalam 3 kelompok
1) 15% pus langsung merespon ya untuk berkb.
2) 15% - 55% pus merespon raguragu untuk berkb.
3) 30% pus merespon tidak untuk berkb.
Strategi 3 dimensi ini juga diterapkan untuk merespon kemendesakkannya untuk
scepatnya menurunkaj TFR dan membudayakan NKKBS sebagai normaprogram
KBN .
Selain itu, Strategi program KB terbagi dalam dua hal yaitu:
a. Strategi dasar
1. Meneguhkan kembali program di daerah
2. Menjamin kesinambungan program
b. Strategi operasional
1. Peningkatan kapasitas sistem pelayanan Program KB Nasional
2. Peningkatan kualitas dan prioritas program
3. Penggalangan dan pemantapan komitmen
4. Dukungan regulasi dan kebijakan
5. Pemantauan, evaluasi, dan akuntabilitas pelayanan

G. Dampak Program Keluarga Berencana (KB)


Program keluarga berencana memberikan dampak yaitu:
1. Penurunan angka kematian ibu dan anak
2. Penanggulangan masalah kesehatan reproduksi
3. Peningkatan kesejahteraan keluarga
4. Peningkatan derajat kesehatan
5. Peningkatan mutu dan layanan KB-KR
6. Peningkatan sistem pengelolaan dan kapasitas SDM
7. Pelaksanaan tugas pimpinan dan fungsi manajemen dalam penyelenggaraan
kenegaraan dan pemerintahan berjalan lancar.

H. Pengaruh Program Keluarga Berencana (KB)


Program Keluarga Berencana merupakan usaha langsung yang bertujuan
untuk mengurangi tingkat kelahiran melalui penggunaan alat kntrasepsi. Berhasil atau
tidaknya Pelaksaan Program Keluarga Berencana akan menetukan pula berhasil atau
tidaknya usaha untuk mewujudkan kesejahteraan bangsa Indonesia. Pertambahan
penduduk yang cepat, tidak seimbang dengan peningkatan produksi akan
mengakibatkan ketegangan – ketegangan sosial dengan segala akibat yang luas.
1. Pengaruh positif Program KB
Dengan adanya program KB maka laju pertumbuhan penduduk dapat ditekan
untuk menghindari terjadinya peledakan penduduk yang luar biasa, karena
diperkirakan jika angka persentase kesetaraan jumlah penduduk yang ber-KB
dapat dinaikkan 1 % per tahun, maka diprediksikan jmlah penduduk Indonesia
pada tahun 2015 sekitar 237,8 juta jiwa, ini masih di bawah dari angka proyeksi
penduduk tahun 2015 yang diperkirakan sekitar 248 juta jiwa.
Dengan adanya kebijakan pemerintah unutk pengaturan laju pertumbuhan
penduduk dan pengaturan jumlah kelahiran di Indonesia merupakan bagian dari
kebijakan kependudukan nasional, yang dalam hal ini pelaksanaan program KB di
daerah pada era otonomi perlu ditentukan sasaran kinerja program untuk
mewujudkan keserasian kependudukan di berbagai bidang pembangunan. Dengan
terkendalinya jumlah penduduk, maka akan tercipta generasi yang berkualitas,
sehingga dapat meneruskan pembangunan Indonesia yang berkualiatas.
2. Pengaruh negatif Program KB
Selain mendatangkan pengaruh yang positif, program KB juga memiliki
pengruh yang kurang menguntungkan, ini dilihat dari semakin meningkatnya
partisipasi masyarakat dalam ber-KB, maka penggunaan metode KB berupa
penggunaan AKDR, implant, suntik KB, pil KB juga semakin meningkat, maka
biaya yang harus di keluarkan pemerintah untuk pengadaan alat – alat dan obat
untuk kontrasepsi di Indonesia dapat dikatakan cukup tinggi.
Menurut penelitian, dengan peggunaan metode untuk ber-KB maka dapat
mempercepat penuaan pada akseptornya, sehingga dapat dikatakan jumlah usia
lanjut akan semakin bertambah setiap tahunnya, sehingga biaya yang juga harus
dikeluarkan pemerintah untuk kesejahteraan para Usila juga meningkat.

I. Manfaat Program Keluarga Berencana (KB)


Berikut ini merupakan manfaat dari adanya program Keluarga Berencana (KB), yaitu:
1. Menurunkan angka kematian maternal dengan adanya perencanaan kehamilan
yang aman,sehat dan diinginkan.
2. Mencegah terjadinya kanker uterus dan ovarium dengan mengkonsumsi pil
kontrasepsi.
3. Memberikan kontribusi bagi pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
kependudukan.Proggram keluarga berencana nasional adalah program untuk
membantu keluarga termasuk individu anggota keluarga untuk merencanakan
kehidupan berkeluarga yang baik sehingga dapat mencapai keluarga berkualitas.
Dengan terbentuk keluarga berkualitas maka generasi mendatang sebagai sumber
daya manusia yang berkualitas akan dapat melanjutkan pembangunan.
Dengan mengikuti program KB sesuai anjuran pemerintah, para akseptor akan
mendapatkan tiga manfaat utama optimal baik untuk ibu, anak dan keluarga, antara
lain:
1. Manfaat Untuk Ibu:
 Mencegah kehamilan yang tidak diinginkan
 Mencegah setidaknya 1 dari 4 kematian ibu
 Menjaga kesehatan ibu
 Merencanakan kehamilan lebih terprogram
 Perbaikan kesehatan badan karena tercegahnya kehamilan yang berulang kali
dalam jangka waktu yang terlalu pendek.
 Peningkatan kesehatan mental dan sosial yang dimungkinkan oleh adanya
waktu yang cukup untuk mengasuh anak, beristirahat dan menikmati waktu
luang serta melakukan kegiatan lainnya.
2. Manfaat Untuk Anak:
 Mengurangi risiko kematian bayi
 Meningkatkan kesehatan bayi
 Mencegah bayi kekurangan gizi
 Tumbuh kembang bayi lebih terjamin
 Kebutuhan ASI eksklusif selama 6 bulan relatif dapat terpenuhi
 Mendapatkan kualitas kasih sayang yang lebih maksimal
3. Manfaat Untuk Keluarga:
 Meningkatkan kesejahteraan keluarga
 Harmonisasi keluarga lebih terjaga

J. Cara Operasional Program Keluarga Berencana (KB)


1. Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi (KIE)
Pelayanan komunikasi, informasi dan edukasi dilakukan dengan memberikan
penerangan konseling, advokasi, penerangan kelompok (penyuluhan) dan
penerangan massa melalui media cetak dan elektronik. Dengan penerangan,
motivasi diharapkan meningkat sehingga terjadi peningkatan pengetahuan,
perubahan sikap dan perilaku masyarakat dalam berKB, melalui pendewasaan usia
perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan
kesejahteraan keluarga sehingga tercapai Norma Keluarga Kecil Bahagia dan
Sejahtera (NKKBS).
2. Pelayanan kontrasepsi dan pengayoman peserta KB.
Dikembangkan program reproduksi keluarga sejahtera. Para wanita baik
sebagai calon ibu atau ibu, merupakan anggota keluarga yang paling rentan
mempunyai potensi yang besar untuk mendapatkan KIE dan pelayanan KB yang
tepat dan benar dalam mempertahankan fungsi reproduksi. Reproduksi sehat
sejahtera adalah suatu keadaan sehat baik fisik, mental dan kesejahteraan sosial
secara utuh pada semua hal yang berhubungan dengan sistem dan fungsi serta
proses reproduksi. Bukan hanya kondisi yang bebas dari penyakit dan kecacatan
serta dibentuk berdasarkan perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan
hidup spiritual dan material, bertaqwa kepada Tuhan YME, memiliki hubungan
yang serasi, selaras dan seimbang antar anggota dan antara keluarga dengan
lingkungan.
3. Peran serta masyarakat dan institusi pemerintah.
PSM ditonjolkan (pendekatan masyarakat) serta kerjasama institusi
pemerintah (Dinas Kesehatan, BKKBN, Depag, RS, Puskesmas).
4. Pendidikan KB.
Melalui jalur pendidikan (sekolah) dan pelatihan, baik petugas KB, bidan,
dokter berupa pelatihan konseling dan keterampilan.

K. Metode Kontrasepsi
1. KB Suntik
Metode Keluarga Berencana ini dapat menghalangi ovulasi (masa subur), mengubah
lendir serviks (vagina) menjadi kental, menghambat sperma dan menimbulkan perubahan
pada rahim. Cara kerja KB suntik pun dapat mencegah terjadinya pertemuan sel telur
dengan sperma dan mengubah kecepatan transportasi sel telur.

2. Pil KB
Mekanisme Kerja Pil KB akan mencegah pelepasan sel telur yang telah diproduksi oleh
indung telur sehingga tidak akan terjadi pembuahan. Hormon yang terkandung dalam pil
KB akan memperkental lendir leher rahim sehingga mempersulit sel sperma masuk
kedalam rahim. Hal ini berguna untuk mengurangi kemungkinan terjadinya pembuahan
dan kehamilan. Selain itu, Pil KB akan menebalkan dinding rahim, sehingga tidak akan
siap untuk kehamilan.

3. IUD / AKDR (Alat Kontrasepsi Dalam Rahim)


Mekanisme Kerja IUD akan mencegah pelepasan sel telur sehingga tidak akan terjadi
pembuahan. Selain itu mengurangi mobilitas sperma agar tidak dapat membuahi sel telur
serta mencegah sel telur yang telah dibuahi menempel pada dinding Rahim.

Daftar Pustaka

Kumalasari, Intan dkk. 2012. Kesehatan Reproduksi untuk Mahasiswa kebidanan dan keperawatan.
Jakarta: Salemba Medika

Kusmiran, Eny. 2012. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: Salemba Medika

Gale, Danielle dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC

Manuaba, Ida Ayu Chandranita. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan, dan KB untuk
Pendidikan Bidan Edisi 2.Jakarta: EGC

Grace, Pierce A, dkk. 2007. Ilmu Beda Edisi 3. Jakarta: EMS

Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9. Jakarta: EGC

Hardhi, Amin. 2013. Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA (North
American Nursing Diagnosis Association) NIC NOC Edisi Revisi Jilid 1. Yogyakarta: Mediaction
Publishing