Anda di halaman 1dari 15

DRAFT I PRAKTIKUM

KIMIA ANALITIK

KELOMPOK 6:
1. Ani Fatmawati H0915008
2. Helmi Muamar H. H0915031
3. Herlis Pratiwi H0915033
4. Katarina Candy A. P. H0915037
5. Kristanti Endah S. H0915041
6. Mufty Muthmainna H1915052

PROGRAM STUDI ILMU DAN TEKNOLOGI PANGAN


FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2016
ACARA II
KOMPLEKSOMETRI

A. Tujuan
Tujuan dari praktikum Kimia Anialitik Acara II Kompleksometri adalah
agar mahasiswa:
1. Memahami prinsip penentuan kesadahan air menggunakan metode
kompleksometri.
2. Mengetahui tingkat kesadahan air dari berbagai daerah.
3. Mengetahui factor yang mempengaruhi tingkat kesadahan air.

B. Tinjauan Pustaka
Air merupakan kebutuhan yang paling utama bag makhluk hidup.
Manusia dan makhluk hidup lainnya sangat bergantung dengan air demi
mempertahankan hidupnya. Air yang digunakan untuk konsumsi sehari-hari
harus memenuhi standar kualitas air bersih. Kualitas air bersih dapat ditinjau
dari segi fisik, kimia, mikrobiologi, dan radioaktif. Namun kualitas air yang
baik ini tidak selamanya tersedia di alam sehingga diperlukan upaya
perbaikan, baik itu secara sederhana maupun modern. Jika air yang
digunakan belum memenuhi standar kualitas air bersih, akibatnya akan
menimbulkan masalah lain yang dapat menimbulkan kerugian bagi
penggunanya. Belakangan ini timbul masalah yang sangat krusial yaitu sulit
untuk mendapatkan air bersih. Banyak sumber air yang biasa dipakai tidak
sebagus dulu lagi. Penyebab susahnya mendapat air bersih adalah adanya
pencemaran air yang disebabkan oleh limbah rumah tangga, limbah
pertanian, dan limbah industri. Selain itu, adanya pembangunan dan
penjarahan hutan merupakan penyebab berkurangnya kualitas mata air dari
pegunungan karena banyak bercampur dengan lumpur yang terkikis terbawa
aliran sungai (Yusuf, 2012).
EBT adalah indikator metallochromic yang banyak digunakan dalam
titrasi kompleksometri. Adalah jenis elektroaktif dengan kelompok azo (-N =
N-) dalam struktur molekul yang ditunjukkan. Kelompok azo mudah
direduksi pada elektroda pasta karbon dengan voltametri siklik. Voltamogram
siklik dari 2x10-3 M EBT tercatat di 80x10-3. Berbagai siklus diterapkan, yang
menghasilkan penurunan puncak sangat reduktif saat ini dengan peningkatan
pemindaian siklus. Ini adalah karakteristik adsorpsi yang kuat perilaku EBT
pada elektroda pasta karbon (Chandra et al., 2008).
EDTA adalah bahan kimia yang digunakan dalam struktur deterjen.
EDTA adalah agen chelating sintesis yang kompleks dan kuat dengan kation.
EDTA sendiri banayk digunakan dalam sistem pangan sebagai stabiliser
(Shamoushaki et al, 2012).
Kesadahan air dianggap sebagai ukuran kemampuan air untuk mengendapkan
sabun atau istilah yang digunakan pada air yang mengandung kation penyebab
kesadahan dalam jumlah yang tinggi. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh
adanya logam-logam atau kation-kation yang bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca
dan Mg. Tetapi penyebab utama dari kesadahan adalah kalsium (Ca) dan magnesium
(Mg) (Marsidi, 2001).
Kesadahan air berkaitan erat dengan kemampuan air untuk membentuk busa.
Semakin berat kesadahan air, semakin sulit bagi sabun untuk membentuk busa
karena terjadi presipitasi. Busa tidak akan terbentuk sebelum semua kation
pembentuk kesadahan mengendap. Pada kondisi ini, air mengalami pelunakan
(softening) atau penurunan kesadahan yang disebabkan oleh sabun. Endapan yang
terbentuk dapat mengakibatkan pewarnaan pada bahan yang dicuci. Residu endapan
tertahan pada pori-pori pakaian sehingga pakaian terasa kasar. Demikian juga, kulit
tangan menjadi kasar setelah mencuci (Effendi, 2003).
Kesadahan air dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu kesadahan
sementara (temporer) dan kesadahan tetap (permanen). Kesadahan sementara
disebabkan oleh garam-garam karbonat (CO32-) dan bikarbonat (HCO3-) dari
kalsium dan magnesium. Kesadahan karbonat merupakan bagian dari
kesadahan total yang ekivalent dengan alkalinitas yang disebabkan oleh
(CO32-) dan (HCO3-). Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara
pemanasan atau dengan pembubuhan kapur tohor. Kesadahan tetap
disebabkan adanya garam-garam khlorida (Cl-) dan sulfat (SO42-) dari
kalsium dan magnesium. Kesadahan ini disebut juga kesadahan non karbonat
yang tidak dapat dihilangkan dengan cara pemanasan, tetapi dapat
chdihilangkan dengan cara pertukaran ion (Widayat, 2002).
Kesadahan air adalah terkait dengan konsentrasi mineral, seperti
kalsium dan magnesium, dilarutkan dalam air. Mineral ini secara alami
ditemukan di dalam tanah dan batuan dilokasi dengan konsentrasi tinggi batu
kapur, dolomit, atau gypsum di dalam tanah. Air keras adalah diproduksi
sebagai mineral dari deposito tanah ini menjadi dilarutkan dalam air yang
mengalir melalui bumi. Konsentrasi tinggi kalsium dan magnesium
terkandung dalam air keras dapat mengikat pembersih (Hinton, 2009).
Menurut Ma’mum (2008), pengkelat merupakan proses pengikatan
logam dalam suatu cairan oleh suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu
pasang elektron bebas. Pengikatan logam tersebut menyerupai penjepitan
(pengkelatan), senyawa yang menjepit disebut senyawa pengkelat dan ion
logam dinamakan ion pusat, karena berada di titik pusat. Mekanisme
pengkelatan ini terjadi karena adanya penggunaan elektron bersama (sharing
elektron) antara ion loga dan ion bahan pengkelat, metode tersebut
dinamakan metode kompleksometri atau kelatometri.
Setiap daerah memiliki kesadahan air yang berbeda-beda. Perbedaan ini
dikarenakan beberapa faktor, diantaranya, keadaan geologi suatu daerah
susunan lapisan tanah suatu daerah apakah termasuk tanah yang banyak
mengandung kalsium, selain itu polusi dan limbah industri juga dapat
mengakibatkan kesadahan air suatu wilayah (Nurullita dkk, 2010).
Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan
rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Bagi air rumah tangga
tingkat kesadahan yang tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih banyak
karena sabun menjadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul
sabun diikat oleh unsur Ca/Mg. Bagi air industri unsur Ca dapat
menyebabkan kerak pada dinding peralatan sistem peralatan sistem
pemanasan sehingga dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan industri,
disamping itu dapat menghambat proses pemanasan (Marsidi, 2001).
C. Metodologi
1. Alat
a. Beaker
b. Buret
c. Corong
d. Erlenmeyer
e. Gelas Ukur
f. Pipet tetes
g. Pipet volume
h. Pro pipet
i. Statif
2. Bahan
a. Sampel air sumur berbagai daerah
b. Larutan buffer pH 10
c. Indikator EBT
d. Larutan Na2EDTA 0,05 M
3. Cara Kerja

25 ml sampel
air
Pemasukkan dalam erlenmeyer

2,5 ml larutan
buffer pH 10 Pehomogenan

Penambahan hingga warna larutan menjadi


3 tetes
merah anggur (warna awal)
indikator
EBT
Penitrasian menggunakan larutan
Na2EDTA 0,05 M hingga berwarna
biru muda
Penghitungan tingkat kesadahan airnya dengan rumus:
1000
𝑘𝑒𝑠𝑎𝑑𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑖𝑟 = 𝑚𝑙 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑝𝑒𝑡 𝑥 (𝑀𝑥 𝑚𝑙)Na2EDTA x 2,8 DH
Gambar 2.1. Cara menentukan tingkat kesadahan air

D. Hasil dan Pembahasan


Tabel 2.1 Hasil Pengujian Kesadahan Air pada Sampel Air dari Berbagai
Daerah

Vol M Tingkat
Vol Kesadaha Perubahan
Kel Wilayah Sam Na2EDT Kesadaha
Na2EDTA n Air Warna
pel A n
Semburat
pink –
1,8 Ngoresan 25 ml 0,05 M 1,1 ml 6,16 DH Lunak
semburat
biru
Semburat
Sangat
2 Mojolaban 25 ml 0,05 M 12,2 ml 70,56 DH pink – tidak
keras
berubah
Semburat
pink –
3 Kadipiro 25 ml 0,05 M 3,3 ml 18,48 DH Keras
semburat
biru
Merah
4 Jebres 25 ml 0,05 M 4,7 ml 26,32 DH anggur – Keras
biru
Semburat
ungu –
5 Gondangrejo 25 ml 0,05 M 1,5 ml 8,4 DH Agak keras
semburat
biru
Semburat
pink – Sangat
6 Banjarsari 25 ml 0,05 M 6,5 ml 34,72 DH
semburat keras
biru
Semburat
pink –
7 FP 25 ml 0,05 M 2,5 ml 14 DH Agak keras
semburat
biru
Semburat
ungu –
9,10 Ngoresan 25 ml 0,05 M 4,4 ml 24,64 DH Keras
semburat
biru
Semburat
pink – Sangat
11,12 Mojolaban 25 ml 0,05 M 6,2 ml 34,72 DH
semburat keras
biru
Semburat
Sangat
13 Kadipiro 25 ml 0,05 M 8,6 ml 48,16 DH pink – biru
keras
kehitaman
Bening –
14 Gondangrejo 25 ml 0,05 M 2,7 ml 20,72 DH semburat Keras
biru hitam
Semburat
Sangat
15,16 Jebres 25 ml 0,05 M 7 ml 39,2 DH pink –
keras
jernih
Sumber : Laporan Sementara

Kesadahan air dianggap sebagai ukuran kemampuan air untuk mengendapkan


sabun atau istilah yang digunakan pada air yang mengandung kation penyebab
kesadahan dalam jumlah yang tinggi. Pada umumnya kesadahan disebabkan oleh
adanya logam-logam atau kation-kation yang bervalensi 2, seperti Fe, Sr, Mn, Ca dan
Mg. Tetapi penyebab utama dari kesadahan adalah kalsium (Ca) dan magnesium
(Mg) (Marsidi, 2001).
Kesadahan air dapat dibedakan atas 2 macam, yaitu kesadahan
sementara (temporer) dan kesadahan tetap (permanen). Kesadahan sementara
disebabkan oleh garam-garam karbonat (CO32-) dan bikarbonat (HCO3-) dari
kalsium dan magnesium. Kesadahan karbonat merupakan bagian dari
kesadahan total yang ekivalent dengan alkalinitas yang disebabkan oleh
(CO32-) dan (HCO3-). Kesadahan ini dapat dihilangkan dengan cara pemanasan
atau dengan pembubuhan kapur tohor. Kesadahan tetap disebabkan adanya
garam-garam khlorida (Cl-) dan sulfat (SO42-) dari kalsium dan magnesium.
Kesadahan ini disebut juga kesadahan non karbonat yang tidak dapat
dihilangkan dengan cara pemanasan, tetapi dapat dihilangkan dengan cara
pertukaran ion (Widayat, 2002).
Air yang mengandung kesadahan kalsium karbonat dan magnesium
karbonat disebut kesadahan karbonat atau kesadahan sementara, karena
kesadahan tersebut dapat dihilangkan dengan cara pemanasan atau dengan
cara pembubuhan kapur. Sementara itu air yang mengandung kesadahan
kalsium sulfat, kalsium khlorida, magnesium sulfat dan magnesium khlorida,
disebut kesadahan tetap karena tidak dapat dihilangkan dengan cara
pemanasan, tetapi dapat dengan cara lain sala satunya adalah proses penukaran
ion (Marsidi, 2001).
Prinsip penentuan kesadahan air dengan kompleksometri adalah garam
dinatrium etilen diamin tetra asetat (Na2EDTA) akan bereaksi dengan kation
logam tertentu membentu senyawa kompleks kelat yang larut. Pada pH 10,0 +
0,1, ion-ion kalsium dan magnesium dalam contoh uji akan bereaksi dengan
indicator Eirochrome Black T (EBT), dan membentuk larutan berwarna merah
keunguan. Jika Na2EDTA ditambahkan sebagai titran, maka ion-ion kalsium
dan magnesium akan membentuk senyawa kompleks, molekul indikator
terlepas kembali, dan pada titik akhir titrasi larutan akan berubah warna dari
merah keunguan menjari biru. Dari cara ini akan didapat kesadahan total (Ca
+ Mg). Kalsium dapat ditentukan secara langsung dengan EDTA bila pH
contoh uji dibuat cukup tinggi (12-13), sehingga magnesium akan mengendap
sebagai magnesium hidroksida dan pada titik akhir titrasi indicator.
Eirochrome Black T (EBT) hanya akan bereaksi dengan kalsium saja
membentuk larutan berwarna biru. Dari cara ini akan didpat kadar kalsium
dalam air (Ca). Dari kedua cara tersebut dapat dihitung kadar magnesium
dengan cara mengurangkan hasil kesadahan total dengan kadar kalsium yang
diperoleh, yang dihitung sebagai CaCO3 (SNI, 2004).
Menurut Ma’mum (2008), pengkelat merupakan proses pengikatan
logam dalam suatu cairan oleh suatu senyawa yang memiliki lebih dari satu
pasang elektron bebas. Pengikatan logam tersebut menyerupai penjepitan
(pengkelatan), senyawa yang menjepit disebut senyawa pengkelat dan ion
logam dinamakan ion pusat, karena berada di titik pusat. Mekanisme
pengkelatan ini terjadi karena adanya penggunaan elektron bersama (sharing
elektron) antara ion loga dan ion bahan pengkelat, metode tersebut dinamakan
metode kompleksometri atau kelatometri. Macam-macam komplekson, yaitu:
 Etilen Diamin tetra Asetat
 Asam Nitro Asetat (NTA atau NITA atau Komplekson I)
 Asam Diamin Sikloheksan Tetra Asetat (DCTA, DCYTA, atau
Komplekson IV)
 Garam Dinatrium Etilen Diamin Tetra Asetat (Komplekson II atau
Chelaton III dengan rumus Na2C10H14N2O6.2H2O)
Bahan pengkelat tertentu yang mengandung baik oksigen maupun
nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks yang
stabil dengan berbagai macam logam, sebagai contoh adalah etilena diamina
tetra asetat, sering disebut EDTA. EDTA berpotensi sebagai ligan seksidentat
yang dapat berkoordinasi dengan sebuah ion logam melalui gugus dua
nitrogen dan empat karboksilnya. Dalam kasus lainnya, EDTA dapat bertindak
sebagai ligan kuinkedentat atau kuadridentat dengan satu atau dua gugus
karboksilnya bebas dari interaksi kuat dengan logam. Bentuk asam bebas dari
EDTA yaitu H4Y (Day dan Underwood, 2002).
Dinatrium EDTA merupakan salah satu zat pengkelat, yaitu molekul
yang bermuatan negative atau berisi oksigen yang bereaksi dengan ion logam
bermuatan positif membentuk kompleks yang stabil. Dinatrium EDTA
merupakan bentuk garam dari asam etilene diamin tetra asetat yang
mempunyai aksi mengkompleks yang sangat kuat dan banyak tersedia.
Na2EDTA berfungsi sebagai titran, diman ion logam yang ada dalam larutan
dititrasi langsung dengan larutan Na2EDTA dengan menggunakan indikator
Eirochrome Black T (EBT).
Fungsi penambahan larutan buffer pH 10 yaitu untuk menciptakan
suasana basa pada larutan (sampel) sehingga terjadi kondisi optimum untuk
titrasi kompleksometri EDTA dengan logam Ca dan Mg, dan berdasarkan
nilai Ka dan Ksp yang mendekati EDTA. Titrasi Na2EDTA menggunakan
indikator EBT dan larutan penyangga dengan pH 10, karena range pH
indikator EBT hanya 7-11, sehingga apabila diluar range pH tersebut,
indikator EBT tidak akan bereaksi. Hal ini bertujuan untuk memelihara agar
pH tetap ketika ion hidrogen lepas pada proses titrasi yang dapat
menyebabkan terjadinya perubahan pH dalam titrasi kompleksometri. Kedua
mencegah terbentuknya endapan logam hidroksida sehingga penyangga itu
dapat bertindak sebagai zat pembentuk kompleks tambahan.
Indikator Eriochrome Black T (EBT) memiliki range pH dari 7 sampai
11. Indikator EBT berwarna biru langit dalam larutan, lalu berubah menjadi
merah ketika membentuk kompleks dengan kalsium, magnesium atau ion
logam lain. Perubahan warna yang ditimbulkan pada sebelum dan sesudah
titrasi yaitu, dari merah anggur menjadi biru. Dipilihnya indikator ETB pada
praktikum titasi kompleksometri ini, karena ETB dapat bereaksi (berikatan
membentuk senyawa kompleks) dengan ion-ion kalsium dan magnesium,
sehingga mempermudah dalam pengamatan apabila titrasi telah mencapai titik
akhirnya (Khopkar, 2008)
Pada praktikum kali ini, dilakukan oleh 16 kelompok, terdapat 7
sampel air yang diuji dalam 2 shift. Shift 1 terdiri dari kelompok 9-16, dengan
menggunakan 5 sampel air sumur dari daerah Ngoresan, Mojolaban, Kadipiro,
Gondangrejo, dan Jebres. Diperoleh kesadahan air sebesar: 24,64 DH ; 34,72
DH : 48,16 DH ; 20,72 DH: dan 39,2 DH, dengan tingkat kesadahan keras,
sangat keras, sangat keras, keras, sangat keras. Perubahan warna sampel
kelompok 9&10 dari semburat ungu menjadi semburat biru, kelompok 11&12
dari semburat pink menjadi semburat biru, kelompok 13 dari semburat pink
menjadi biru kehitaman, kelompok 14 dari bening menjadi semburat bitu
hitam, dan kelompok 15&16 dari semburat pink menjadi jernih.
Shift 2 terdiri dari kelompok 1-8, dengan menggunakan 7 sampel air
sumur dari daerah Ngoresan, Mojolaban, Kadipiro, Jebres, Gondangrejo,
Banjarsari dan FP. Diperoleh kesadahan air sebesar: 6,16 DH ; 70,56 DH ;
18,48 DH ; 26,32 DH ; 8,4 DH ; 34,72 DH : 14 DH, dengan tingkat kesadahan
lunak, sangat keras, keras, keras, agak keras, sangat keras, agak keras. Pada
kelompok 1&8, 3, 6 dan 7 perubahan warna sampel dari semburat pink
menjadi semburat biru, kelompok 2 tidak berubah dari semburat pink,
kelompok 4 dari merah anggur menjadi biru, kelompok 5 dari semburat ungu
menjadi semburat biru.
Setiap daerah memiliki kesadahan air yang berbeda-beda. Perbedaan ini
dikarenakan beberapa faktor, diantaranya, keadaan geologi suatu daerah
susunan lapisan tanah suatu daerah apakah termasuk tanah yang banyak
mengandung kalsium. Selain itu polusi dan limbah industri juga dapat
mengakibatkan kesadahan air suatu wilayah (Nurullita dkk, 2010).
Kesadahan dalam air sangat tidak dikehendaki baik untuk penggunaan
rumah tangga maupun untuk penggunaan industri. Bagi air rumah tangga
tingkat kesadahan yang tinggi mengakibatkan konsumsi sabun lebih banyak
karena sabun menjadi kurang efektif akibat salah satu bagian dari molekul
sabun diikat oleh unsur Ca/Mg. Bagi air industri unsur Ca dapat menyebabkan
kerak pada dinding peralatan sistem peralatan sistem pemanasan sehingga
dapat menyebabkan kerusakan pada peralatan industri, disamping itu dapat
menghambat proses pemanasan (Marsidi, 2001).
Air tanah banyak mengandung mineral-mineral terlarut seperti Ca2+ dan
Mg2+ yang menyebabkan kesadahan pada air. Selain itu terdapat juga kation
bikarbonat dan gas terlarut CO2. Dengan naiknya pH akibat lepasnya CO2 ke
fase gas, maka akan terjadi suatu reaksi kesetimbangan pembentukan kerak
CaCO3. Pembentukan kerak CaCO3 oleh air sadah pada sistem perpipaan di
industri maupun rumah tangga menimbulkan banyak permasalahan teknis dan
ekonomis. Hal ini disebabkan scale (kerak) dapat menutupi (menyumbat) air
yang mengalir dalam pipa dan sekaligus menghambat proses perpindahan
panas pada peralatan penukaran panas (Saksono, 2006).
Menurut Marsidi (2001), pelunakan kesadahan air adalah suatu proses
untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan kation Ca2+ dan Mg2+ dari
dalam air. Kation penyebab kesadahan dapat dikurangi atau dihilangkan
dengan proses-proses sebagi berikut:
1. Pemanasan
Garam MgCO3 bersifat larut daam air dingin, namun semakin tinggi
temperatua air, kelarutan MgCO3 semakin kecil, bahkan hinga menjadi
tidak larut dan dapat mengendap. Garam CaCO3 kelarutannya lebih kecil
dari pada MgCO3, sehingga pada air dingginpun sebagian CaCO3
mengendap, pada air panas pengendapannya akan lebih banyak lagi.
Berdasarkan sifat ini, kesadahan air yang disebabkan kation Ca2+ dan Mg2+
dapat dihilangkan dengan cara pemanasan.
2. Proses Kapur Soda
Tujuannya adalah untuk membentuk garam-garam kalsium dan
magnesium menjadi garam-garam yang tidak larut, sehingga dapat
diendapkan dan dipisahkan dengan air. Bentuk garam kalsium dan
magnesium yang tidak dapat larut dalam air, yaitu kalsium karbonat dan
magnesium hidroksida.
3. Proses Ion dengan Ziolit
Air sadah yang dialirkan melalui kolom zeolit akam mengalami pertukaran
ion-ion, ion Cadan ion Mg dalam air sadah ditukar dengan ion Na dalam
zeolit. Hal tersebut berlangsung terus sampai suatu saat ion Na dalam
zeolit sudah habis ditukar dengan ion Cad an Mg dari dalam air, pada
keadaan ini zeolit tersebut dinamakan telah jenuh yang berarti zeolit tidak
mampu lagi melakukan pertukaran ion.

E. Kesimpulan
Dari praktikum yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan sebagai
berikut :
a. Titrasi kompleksometri yaitu titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks.
b. Sampel air yang memiliki tingkat kesadahan terendah yaitu sampel
kelompok 1 dan 8 dari daerah Ngoresan, yaitu sebesar 6,16 termasuk
kategori kesadahan lunak.
c. Sampel air sumur yang memiliki tingkat kesadahan paling tinggi adalah
sampel dari daerah Mojolaban pada kelompok 2 dengan kesadahan sebesar
70,56 DH dengan tingkat kesadahan sangat keras.
d. Perbedaan tingkat kesadahan air ditiap daerah disebabkan karena beberapa
faktor diantaranya, faktor geologi tanah tiap daerah serta adanya limbah
industri (polusi).
DAFTAR PUSTAKA

Chandra, Umesh., Ongera Gilbert, B. E. Kumara Swamy, Yadav D. Bodke dan B.


S. Sherigara. 2008. Electrochemical Studies of Eriochrome Black T at
Carbon Paste Electrode and Immobilized by SDS Surfactant: A Cyclic
Voltammetric Study. International Journal of Electhrochemical Science
3(5):1046
Day, J., dan A.L. Underwood. 2002. Analisa Kimia Analitik Kuantitatif .
Erlangga: Jakarta.
Effendi, Hefni. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius: Yogyakarta.
Hinton, Arthur, dan Ronald Holser. 2009. Role of Water Hardness in Rinsing
Bacteria from the Skin of Processed Broiler Chickens. International
Journal of Poultry Science 8(2)
Khopkar, S. M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI-Press: Jakarta.
Ma’um. 2008. Permunian Minyak Nilam dan Minyak Daun Cengkeh secara
Kompleksometri. Jurnal Littri 14(1)
Marsidi, Ruliasih. 2001. Zeolit Untuk Mengurangi Kesadahan Air. Jurnal
Teknologi Lingkungan 2(1):1-2
Nurullita, Ulfa., Rahayu Astuti dan Mohammad Zaenal Arifin. 2010. Pengaruh
Lama Kontak Karbon Aktif Sebagai Media Filter Terhadap Presentase
Penurunan Kesadahan CaCO3 Air Sumur Artetis. Jurnal Kesehatan
Masyarakat Indonesia 6(1):49
Saksono, Nelson. 2006. Magnetisasi Air Sadah untuk Pencegahan Pembentukan
Kerak. Jurnal Teknologi ISSN 0215-1685.
Shamoushaki, Majid Mohammad Nejad., et al. 2012. Effect of
Ethlylenediaminetertraacetic Acid (EDTA) on Some Serum Constituents
of Oncorhynchus mykiss. ISSN 1992-6197 Global Veterinaria 9(3):341-
344
SNI 06-6989.12-2004. Air dan air Limbah – Bagian 12: Cara Uji Kesadahan Total
Kalsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dengan metode Titrimetri.
Widayat, Wahyu. 2002. Teknologi Pengolahan Air Sadah. Jurnal Teknologi
Lingkungan 3(3)
Yusuf, Yusnidar. 2012. Teknologi Pengolahan Air Tanah Sebagai Sumber Air
Minum pada Skala Rumah Tangga. Jurnal ISSN 1411-5166 4(2):63
LAMPIRAN

Perhitungan Kesadahan Air

1000
Kesadahan Air = 𝑚𝑙 𝑑𝑖𝑝𝑖𝑝𝑒𝑡 x (M x ml) Na2EDTA X 2,8 DH

Shift 2
1) Kelompok 1&8 (sampel air daerah Ngoresan)
1000
Kesadahan Air = x (0,05 x 1,1) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 6,16 DH
2) Kelompok 2 (sampel air daerah Mojolaban)
1000
Kesadahan Air = x (0,05 x 12,2) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 70,56 DH
3) Kelompok 3 (sampel air daerah Kadipiro)
1000
Kesadahan Air = x (0,05 x 3,3) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 18,48 DH
4) Kelompok 4 (sampel air daerah Jebres)
1000
Kesadahan Air = x (0,05 x 4,7) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 26,32 DH
5) Kelompok 5 (sampel air daerah Gondangrejo)
1000
Kesadahan Air = x (0,05 x 1,5) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 8,4 DH
6) Kelompok 6 (sampel air daerah Banjarsari)
1000
Kesadahan Air = x (0,05 x 6,2) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 34,72 DH
7) Kelompok 6 (sampel air daerah FP)
1000
Kesadahan Air = x (0,05 x 2,5) Na2EDTA X 2,8 DH
25

= 14 DH
Gambar 2.2. Sampel air sumur

Gambar 2.3. Sampel setelah diberi


buffer 10 dan indikator EBT

Gambar 2.4. Sampel setelah dititrasi