Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Dengan menjalankan tugas sebagai perawat banyak perubahan-perubahan yang ada baik di
lingkungan maupun klien. Perawat harus menghadapi berbagai perubahan di era globalisasi ini
termasuk segi pelayanan kesehatannya. Perpindahan penduduk menuntut perawat agar dapat
menyesuaikan diri dengan budayanya dan sesuai dengan teori-teori yang dipelajari. Dalam ilmu
keperawatan banyak sekali teori-teori yang mendasari ilmu tersebut. Termasuk salah satunya
teoru yang mendasari bagaimana sikap perawat dalam menerakan asuhan keperawatan. Salah
satu teori yang diaplikasikan dalam asuhan keperawatan adalah teori Leininger tentang
“Transcultural Nursing”.

Dalam teori ini transcultural nursing didefinisikan sebagai area yang luas dalam keperawatan
yang fokusnya dalam komparatif studi dan analisis perbedaan kultur dan subkultur dengan
menghargai perilaku caring, nursing care, dan nilai sehat sakit, kepercayaan dan pola tingkah
laku dengan tujuan perkembangan ilmu dan humanistik body of knowledge untuk kultur yang
universal dalam keperawatan. Dalam hal ini diharapkan adanya kesadaran terhadap perbedaan
kultur berarti perawat yang profesional memiliki pengetahuan dan praktik berdasarkan kultur
secara konsep perencanaan dalam praktik keperawatan. Tujuan penggunaan keperawatan
transkultural adalah untuk mengembangkan sains dan keilmuan yang humanis sehingga tercipta
praktik keperawatan pada kultur yang spesifik dan kultur yang universal. Kultur yang spesifik
adalah kultur dengan nilai-nilai dan norma spesifik yang dimiliki olh kelompok tertentu. Kultur
yang universal adalah nilai-nilai dan norma-norma yang diyakini dan dilakukan hampir semua
kultur (Leininger, 1979).

Leininger mengembangkan teorinya dari perbedaan kultur dan universal berdasarkan


kepercayaan bahwa masyarakat dengan perbedaan kultur dapat menjadi sumber informasi dan
menentukan jenis perawatan yang diinginkan karena kultur adalah pola kehidupan masyarakat
yang berpengaruh terhadap keputusan dan tindakan. Cultur Care adalah teori yang holistik
karena meletakkan di dalamnya ukuran dari totalitas kehidupan manusia dan berada selamanya,
termasuk sosial struktur, pandangan dunia, nilai kultural, ekspresi bahasa dan etnik serta sistem
profesional.

1.2.Rumusan Masalah

1. Apa pengertian dari Transkultural Nursing?

2. Bagaimana konsep dalam Transkultural Nursing?

3. Bagaimana paradigma Transkultural Nursing?

4. Apa tujuan dari Transkultural Nursing?

5. Bagaimana kepercayaan kuno dan praktek pengobatan?

6. Apa saja mitos yang berkaitan dengan kesehatan?

7. Bagaimana trend dan issue Transkultural Nursing?

1.3.Tujuan

1. Untuk mengetahui pengertian Transkultural Nursing.

2. Untuk mengetahui konsep dalam Transkultural Nursing.

3. Untuk mengetahui paradigma Transkultural Nursing.

4. Untuk mengetahui tujuan dari Transkultural Nursing.

5. Untuk mengetahui kepercayaan kuno dan praktek pengobatan.

6. Untuk mengetahui mitos yang berkaitan dengan kesehatan.

7. Untuk mengetahui trend dan issue Transkultural Nursing.


1.4.Manfaat

1. Dapat mengetahui pengertian Transkultural Nursing.

2. Dapat mengetahui konsep dalam Transkultural Nursing.

3. Dapat mengetahui paradigma Transkultural Nursing.

4. Dapat mengetahui tujuan dari Transkultural Nursing.

5. Dapat mengetahui kepercayaan kuno dan praktik pengobatan.

6. Dapat mengetahui mitos yang berkaitan dengan kesehatan.

7. Dapat mengetahui trend dan issue Transkultural Nursing.


BAB II

PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Transkultural Nursing

Transcultural Nursing adalah suatu area/wilayah keilmuwan budaya pada proses belajar dan
praktek keperawatan yang fokus memandang perbedaan dan kesamaan diantara budaya dengan
menghargai asuhan, sehat dan sakit didasarkan pada nilai budaya manusia, kepercayaan dan
tindakan, dan ilmu ini digunakan untuk memberikan asuhan keperawatan khususnya budaya atau
keutuhan budaya kepada manusia (Leininger, 2002).

Asumsi mendasar dari teori adalah perilaku Caring. Caring adalah esensi dari keperawatan,
membedakan, mendominasi serta mempersatukan tindakan keperawatan. Tindakan Caring
dikatakan sebagai tindakan yang dilakukan dalammemberikan dukungan kepada individu secara
utuh. Perilaku Caring semestinyadiberikan kepada manusia sejak lahir, dalam perkembangan dan
pertumbuhan,masa pertahanan sampai dikala manusia itu meninggal. Human caring secaraumum
dikatakan sebagai segala sesuatu yang berkaitan dengan dukungan danbimbingan pada manusia
yang utuh. Human caring merupakan fenomena yanguniversal dimana ekspresi, struktur dan
polanya bervariasi diantara kultur satutempat dengan tempat lainnya.

2.2. Konsep dalam Transkultural Nursing

1. Budaya adalah norma atau aturan tindakan dari anggota kelompok yang dipelajari, dan
dibagi serta memberi petunjuk dalam berfikir, bertindak dan mengambil keputusan.

2. Nilai budaya adalah keinginan individu atau tindakan yang lebih diinginkan atau sesuatu
tindakan yang dipertahankan pada suatu waktu tertentu dan melandasi tindakan dan
keputusan.

3. Perbedaan budaya dalam asuhan keperawatan merupakan bentuk yang optimal dari
pemberian asuhan keperawatan, mengacu pada kemungkinan variasi pendekatan
keperawatan yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan budaya yang menghargai nilai
budaya individu, kepercayaan dan tindakan termasuk kepekaan terhadap lingkungan dari
individu yang datang dan individu yang mungkin kembali lagi (Leininger, 1985).
4. Etnosentris adalah persepsi yang dimiliki oleh individu yang menganggap bahwa
budayanya adalah yang terbaik diantara budaya-budaya yang dimiliki oleh orang lain.

5. Etnis berkaitan dengan manusia dari ras tertentu atau kelompok budaya yang digolongkan
menurut ciri-ciri dan kebiasaan yang lazim.

6. Ras adalah perbedaan macam-macam manusia didasarkan pada mendiskreditkan asal


muasal manusia.

7. Etnografi adalah ilmu yang mempelajari budaya. Pendekatan metodologi pada penelitian
etnografi memungkinkan perawat untuk mengembangkan kesadaran yang tinggi pada
perbedaan budaya setiap individu, menjelaskan dasar observasi untuk mempelajari
lingkungan dan orang-orang, dan saling memberikan timbal balik diantara keduanya.

8. Care adalah fenomena yang berhubungan dengan bimbingan, bantuan, dukungan perilaku
pada individu, keluarga, kelompok dengan adanya kejadian untuk memenuhi kebutuhan
baik aktual maupun potensial untuk meningkatkan kondisi dan kualitas kehidupan manusia.

9. Caring adalah tindakan langsung yang diarahkan untuk membimbing, mendukung dan
mengarahkan individu, keluarga atau kelompok pada keadaan yang nyata atau antisipasi
kebutuhan untuk meningkatkan kondisi kehidupan manusia.

10. Cultural Care berkenaan dengan kemampuan kognitif untuk mengetahui nilai, kepercayaan
dan pola ekspresi yang digunakan untuk mebimbing, mendukung atau memberi kesempatan
individu, keluarga atau kelompok untuk mempertahankan kesehatan, sehat, berkembang dan
bertahan hidup, hidup dalam keterbatasan dan mencapai kematian dengan damai.

11. Culturtal imposition berkenaan dengan kecenderungan tenaga kesehatan untuk memaksakan
kepercayaan, praktik dan nilai diatas budaya orang lain karena percaya bahwa ide yang
dimiliki oleh perawat lebih tinggi daripada kelompok lain.
2.3.Paradigma Transkultural Nursing

Leininger (1985) mengartikan paradigma keperawatan transcultural sebagai cara pandang,


keyakinan, nilai-nilai, konsep-konsep dalam terlaksananya asuhan keperawatan yang sesuai
dengan latar belakang budaya terhadap empat konsep sentral keperawatan yaitu : manusia, sehat,
lingkungan dan keperawatan (Andrew and Boyle, 1995).

1. Manusia

Manusia adalah individu, keluarga atau kelompok yang memiliki nilai-nilai dan norma-norma
yang diyakini dan berguna untuk menetapkan pilihan dan melakukan pilihan. Menurut Leininger
(1984) manusia memiliki kecenderungan untuk mempertahankan budayanya pada setiap saat
dimanapun dia berada (Geiger and Davidhizar, 1995).

2. Sehat

Kesehatan adalah keseluruhan aktifitas yang dimiliki klien dalam mengisi kehidupannya, terletak
pada rentang sehat sakit. Kesehatan merupakan suatu keyakinan, nilai, pola kegiatan dalam
konteks budaya yang digunakan untuk menjaga dan memelihara keadaan seimbang/sehat yang
dapat diobservasi dalam aktivitas sehari-hari. Klien dan perawat mempunyai tujuan yang sama
yaitu ingin mempertahankan keadaan sehat dalam rentang sehat-sakit yang adaptif (Andrew and
Boyle, 1995).

3. Lingkungan

Lingkungan didefinisikan sebagai keseluruhan fenomena yang mempengaruhi perkembangan,


kepercayaan dan perilaku klien. Lingkungan dipandang sebagai suatu totalitas kehidupan dimana
klien dengan budayanya saling berinteraksi. Terdapat tiga bentuk lingkungan yaitu : fisik, sosial
dan simbolik. Lingkungan fisik adalah lingkungan alam atau diciptakan oleh manusia seperti
daerah katulistiwa, pegunungan, pemukiman padat dan iklim seperti rumah di daerah Eskimo
yang hampir tertutup rapat karena tidak pernah ada matahari sepanjang tahun. Lingkungan sosial
adalah keseluruhan struktur sosial yang berhubungan dengan sosialisasi individu, keluarga atau
kelompok ke dalam masyarakat yang lebih luas. Di dalam lingkungan sosial individu harus
mengikuti struktur dan aturan-aturan yang berlaku di lingkungan tersebut. Lingkungan simbolik
adalah keseluruhan bentuk dan simbol yang menyebabkan individu atau kelompok merasa
bersatu seperti musik, seni, riwayat hidup, bahasa dan atribut yang digunakan.

4. Keperawatan

Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang
diberikan kepada klien sesuai dengan latar belakang budayanya. Asuhan keperawatan ditujukan
memnadirikan individu sesuai dengan budaya klien. Strategi yang digunakan dalam asuhan
keperawatan adalah perlindungan/mempertahankan budaya, mengakomodasi/negoasiasi budaya
dan mengubah/mengganti budaya klien (Leininger, 1991).

a. Cara I : Mempertahankan budaya

Mempertahankan budaya dilakukan bila budaya pasien tidak bertentangan dengan kesehatan.
Perencanaan dan implementasi keperawatan diberikan sesuai dengan nilai-nilai yang relevan
yang telah dimiliki klien sehingga klien dapat meningkatkan atau mempertahankan status
kesehatannya, misalnya budaya berolahraga setiap pagi.

b. Cara II : Negosiasi budaya

Intervensi dan implementasi keperawatan pada tahap ini dilakukan untuk membantu klien
beradaptasi terhadap budaya tertentu yang lebih menguntungkan kesehatan. Perawat membantu
klien agar dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan
kesehatan, misalnya klien sedang hamil mempunyai pantang makan yang berbau amis, maka
ikan dapat diganti dengan sumber protein hewani yang lain.

c. Cara III : Restrukturisasi budaya

Restrukturisasi budaya klien dilakukan bila budaya yang dimiliki merugikan status kesehatan.
Perawat berupaya merestrukturisasi gaya hidup klien yang biasanya merokok menjadi tidak
merokok. Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai
dengan keyakinan yang dianut.
2.4. Proses keperawatan Transcultural Nursing

Model konseptual yang dikembangkan oleh Leininger dalam menjelaskan asuhan keperawatan
dalam konteks budaya digambarkan dalam bentuk matahari terbit (Sunrise Model). Geisser
(1991) menyatakan bahwa proses keperawatan ini digunakan oleh perawat sebagai landasan
berfikir dan memberikan solusi terhadap masalah klien (Andrew and Boyle, 1995). Pengelolaan
asuhan keperawatan dilaksanakan dari mulai tahap pengkajian, diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.

1. Pengkajian

Pengkajian adalah proses mengumpulkan data untuk mengidentifikasi masalah kesehatan klien
sesuai dengan latar belakang budaya klien (Giger and Davidhizar, 1995). Pengkajian dirancang
berdasarkan 7 komponen yang ada pada “Sunrise Model” yaitu :

a. Faktor teknologi (tecnological factors)

Teknologi kesehatan memungkinkan individu untuk memilih atau mendapat penawaran


menyelesaikan masalah dalam pelayanan kesehatan. Perawat perlu mengkaji : persepsi sehat
sakit, kebiasaan berobat atau mengatasi masalah kesehatan, alasan mencari bantuan kesehatan,
alasan klien memilih pengobatan alternatif dan persepsi klien tentang penggunaan dan
pemanfaatan teknologi untuk mengatasi permasalahan kesehatan saat ini.

b. Faktor agama dan falsafah hidup (religious and philosophical factors)

Agama adalah suatu simbol yang mengakibatkan pandangan yang amat realistis bagi para
pemeluknya. Agama memberikan motivasi yang sangat kuat untuk menempatkan kebenaran di
atas segalanya, bahkan di atas kehidupannya sendiri. Faktor agama yang harus dikaji oleh
perawat adalah : agama yang dianut, status pernikahan, cara pandang klien terhadap penyebab
penyakit, cara pengobatan dan kebiasaan agama yang berdampak positif terhadap kesehatan.

c. Faktor sosial dan keterikatan keluarga (kinship and social factors)

Perawat pada tahap ini harus mengkaji faktor-faktor : nama lengkap, nama panggilan, umur dan
tempat tanggal lahir, jenis kelamin, status, tipe keluarga, pengambilan keputusan dalam keluarga,
dan hubungan klien dengan kepala keluarga.
d. Nilai-nilai budaya dan gaya hidup (cultural value and life ways)

Nilai-nilai budaya adalah sesuatu yang dirumuskan dan ditetapkan oleh penganut budaya yang
dianggap baik atau buruk. Norma-norma budaya adalah suatu kaidah yang mempunyai sifat
penerapan terbatas pada penganut budaya terkait. Yang perlu dikaji pada faktor ini adalah :
posisi dan jabatan yang dipegang oleh kepala keluarga, bahasa yang digunakan, kebiasaan
makan, makanan yang dipantang dalam kondisi sakit, persepsi sakit berkaitan dengan aktivitas
sehari-hari dan kebiasaa membersihkan diri.

e. Faktor kebijakan dan peraturan yang berlaku (political and legal factors)

Kebijakan dan peraturan rumah sakit yang berlaku adalah segala sesuatu yang mempengaruhi
kegiatan individu dalam asuhan keperawatan lintas budaya (Andrew and Boyle, 1995). Yang
perlu dikaji pada tahap ini adalah : peraturan dan kebijakan yang berkaitan dengan jam
berkunjung, jumlah anggota keluarga yang boleh menunggu, cara pembayaran untuk klien yang
dirawat

f. Faktor ekonomi (economical factors)

Klien yang dirawat di rumah sakit memanfaatkan sumber-sumber material yang dimiliki untuk
membiayai sakitnya agar segera sembuh. Faktor ekonomi yang harus dikaji oleh perawat
diantaranya : pekerjaan klien, sumber biaya pengobatan, tabungan yang dimiliki oleh keluarga,
biaya dari sumber lain misalnya asuransi, penggantian biaya dari kanto atau patungan antar
anggota keluarga.

g. Faktor pendidikan (educational factors)

Latar belakang pendidikan klien adalah pengalaman klien dalam menempuh jalur pendidikan
formal tertinggi saat ini. Semakin tinggi pendidikan klien maka keyakinan klien biasanya
didukung oleh buktibukti ilmiah yang rasional dan individu tersebut dapat belajar beradaptas
terhadap budaya yang sesuai dengan kondisi kesehatannya. Hal yang perlu dikaji pada tahap ini
adalah : tingkat pendidikan klien, jeni pendidikan serta kemampuannya untuk belajar secara aktif
mandiri tentang pengalaman sakitnya sehingga tidak terulang kembali.
2. Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah respon klien sesuai latar belakang budayanya yang dapat dicegah,
diubah atau dikurangi melalui intervensi keperawatan. (Giger and Davidhizar, 1995).

Terdapat tiga diagnosa keperawatan yang sering ditegakkan dalam asuhan keperawatan
transkultural yaitu : gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan perbedaan kultur,
gangguan interaksi sosial berhubungan disorientasi sosiokultural dan ketidakpatuhan dalam
pengobatan berhubungan dengan sistem nilai yang diyakini.

3. Perencanaan dan Pelaksanaan

Perencanaan dan pelaksanaan dalam keperawatan trnaskultural adalah suatu proses keperawatan
yang tidak dapat dipisahkan. Perencanaan adalah suatu proses memilih strategi yang tepat dan
pelaksanaan adalah melaksanakan tindakan yang sesuai denganlatar belakang budaya klien
(Giger and Davidhizar, 1995). Ada tiga pedoman yang ditawarkan dalam keperawatan
transkultural (Andrew and Boyle, 1995) yaitu : mempertahankan budaya yang dimiliki klien bila
budaya klien tidak bertentangan dengan kesehatan, mengakomodasi budaya klien bila budaya
klien kurang menguntungkan kesehatan dan merubah budaya klien bila budaya yang dimiliki
klien bertentangan dengan kesehatan.

a. Cultural care preservation/maintenance

1. Identifikasi perbedaan konsep antara klien dan perawat tentang proses melahirkan dan
perawatan bayi.

2. Bersikap tenang dan tidak terburu-buru saat berinterkasi dengan klien.

3. Mendiskusikan kesenjangan budaya yang dimiliki klien dan perawat.


b. Cultural care accomodation/negotiation

1. Gunakan bahasa yang mudah dipahami oleh klien.

2. Libatkan keluarga dalam perencanaan perawatan.

3. Apabila konflik tidak terselesaikan, lakukan negosiasi dimana kesepakatan berdasarkan


pengetahuan biomedis, pandangan klien dan standar etik

c. Cultural care repartening/reconstruction

1. Beri kesempatan pada klien untuk memahami informasi yang diberikan dan
melaksanakannya.

2. Tentukan tingkat perbedaan pasien melihat dirinya dari budaya kelompok.

3. Gunakan pihak ketiga bila perlu.

4. Terjemahkan terminologi gejala pasien ke dalam bahasa kesehatan yang dapat dipahami
oleh klien dan orang tua.

5. Berikan informasi pada klien tentang sistem pelayanan kesehatan Perawat dan klien
harus mencoba untuk memahami budaya masing-masing melalui proses akulturasi, yaitu
proses mengidentifikasi persamaan dan perbedaan budaya yang akhirnya akan
memperkaya budaya budaya mereka. Bila perawat tidak memahami budaya klien maka
akan timbul rasa tidak percaya sehingga hubungan terapeutik antara perawat dengan
klien akan terganggu. Pemahaman budaya klien amat mendasari efektifitas keberhasilan
menciptakan hubungan perawat dan klien yang bersifat terapeutik.
4. Evaluasi

Evaluasi asuhan keperawatan transkultural dilakukan terhadap keberhasilan klien tentang


mempertahankan budaya yang sesuai dengan kesehatan, mengurangi budaya klien yang tidak
sesuai dengan kesehatan atau beradaptasi dengan budaya baru yang mungkin sangat
bertentangan dengan budaya yang dimiliki klien. Melalui evaluasi dapat diketahui asuhan
keperawatan yang sesuai dengan latar belakang budaya klien.

2.4. Tujuan Transkultural Nursing

Menurut Leininger tujuan penggunaan keperawatan transkultural adalah dalam pengembangan


sains dan ilmu yang humanis sehingga tercipta praktek keperawatan pada kebudayaan yang
spesifik. Kebudayaan yang spesifik adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang spesifik
yang tidak dimiliki oleh kelompok lain contohnya suku Osing, Tengger dan Dayak. Sedangkan
kebudayaan yang universal adalah kebudayaan dengan nilai dan norma yang diyakini dan
dilakukan oleh hampir semua kebudayaan seperti budaya olahraga untuk mempertahankan
kesehatan.

Dengan adanya keperawatan transkultural dapat membantu klien beradaptasi terhadap budaya
tertentu yang lebih menguntungkan kesehatannya. Perawat juga dapat membantu klien agar
dapat memilih dan menentukan budaya lain yang lebih mendukung peningkatan status kesehatan.
Misalnya, jika klien yang sedang hamil mempunyai pantangan untuk makan-makanan yang
berbau amis seperti ikan, maka klien tersebut dapat mengganti ikan dengan sumber protein
nabati yang lainnya. Seluruh perencanaan dan implementasi keperawatan dirancang sesuai latar
belakang budaya sehingga budaya dipandang sebagai rencana hidup yang lebih baik setiap saat.
Pola rencana hidup yang dipilih biasanya yang lebih menguntungkan dan sesuai dengan
keyakinan yang dianut.
2.5. Peran dan Fungsi Transkultural

Budaya mempunyai pengaruh luas terhadap kehidupan individu . Oleh sebab itu , penting bagi
perawat mengenal latar belakang budaya orang yang dirawat ( Pasien ) . Misalnya kebiasaan
hidup sehari – hari , seperti tidur , makan , kebersihan diri , pekerjaan , pergaulan social , praktik
kesehatan , pendidikan anak , ekspresi perasaan , hubungan kekeluargaaan , peranan masing –
masing orang menurut umur . Kultur juga terbagi dalam sub – kultur . Subkultur adalah
kelompok pada suatu kultur yang tidak seluruhnya mengaanut pandangan keompok kultur yang
lebih besar atau member makna yang berbeda . Kebiasaan hidup juga saling berkaitan dengan
kebiasaan cultural.

Nilai – nilai budaya Timur , menyebabkan sulitnya wanita yang hamil mendapat pelayanan dari
dokter pria . Dalam beberapa setting , lebih mudah menerima pelayanan kesehatan pre-natal dari
dokter wanita dan bidan . Hal ini menunjukkan bahwa budaya Timur masih kental dengan hal –
hal yang dianggap tabu.

Dalam tahun – tahun terakhir ini , makin ditekankan pentingknya pengaruh kultur terhadap
pelayanan perawatan . Perawatan Transkultural merupakan bidang yang relative baru ; ia
berfokus pada studi perbandingan nilai – nilai dan praktik budaya tentang kesehatan dan
hubungannya dengan perawatannya . Leininger ( 1991 ) mengatakan bahwa transcultural nursing
merupakan suatu area kajian ilmiah yang berkaitan dengan perbedaan maupun kesamaan nilai –
nilai budaya ( nilai budaya yang berbeda ras , yang mempengaruhi pada seseorang perawat saat
melakukan asuhan keperawatan kepada pasien.

Perawatan transkultural adalah berkaitan dengan praktik budaya yang ditujukan untuk pemujaan
dan pengobatan rakyat (tradisional) . Caring practices adalah kegiatan perlindungan dan bantuan
yang berkaitan dengan kesehatan.

Menurut Dr. Madelini Leininger , studi praktik pelayanan kesehatan transkultural adalah
berfungsi untuk meningkatkan pemahaman atas tingkah laku manusia dalam kaitan dengan
kesehatannya . Dengan mengidentifikasi praktik kesehatan dalam berbagai budaya ( kultur ) ,
baik di masa lampau maupun zaman sekarang akan terkumpul persamaan – persamaan . Lininger
berpendapat , kombinasi pengetahuan tentang pola praktik transkultural dengan kemajuan
teknologi dapat menyebabkan makin sempurnanya pelayanan perawatan dan kesehatan orang
banyak dan berbagai kultur.

2.6. Kepercayaan Kuno dan Praktik Pengobatan

Sistem pengobatan tradisional merupakan sub unsur kebudayaan masyarakat sederhana,


pengetahuan tradisional. Dalam Masyarakat tradisional sistem pengobatan tradasional ini adalah
pranata sosial yang harus dipelajari dengan cara yang sama seperti mempelajari pranata sosial
umumnya dan bahwa praktek pengobatan asli(tradisional) adalah rasional dilihat dari sudut
kepercayaan yang berlaku mengenai sebab akibat.

Beberapa hal yang berhubungan kesehatan (sehat-sakit)menurut budaya-budaya yang ada di


indonesia diantaranya adalah :

a) Budaya Jawa

Menurut orang jawa, sehat adalah keadaan yang seimbang dunia fisik dan batin. bahkan, semua
itu berakar pada batin.Jika batin karep ragu nututi artinya berkehendak, raga atau badan akan
mengikuti. Sehat dalam kontek raga berarti waras apabila seseorang tetap mampu menjalakan
peranan sosial sehari-hari.Untuk menentukan sebab-sebab suatu penyakit ada 2 konsep yaitu,
konsep Personalistik dan Konsep Naluralistik.

Dalam konsep personalistik, penyakit disebabkan oleh makhluk supernatural (makhluk ghaib,
dewa), Mkhluk yang bukan manusia (hantu, roh leluhur, roh jahat) dan manusia (tukang sihir
,tukang tenun). Penyakit ini disebut ora lumbrah atau ora sabaeine (tidak wajar / tidak biasa).
Penyembuhannya adalah berdasarkan pengetahuan secara ghaib atau supernatural, misalnya
melakukan upacara dan sesaji. Dilihat dari segi personalistik jenis penyakit ini terdiri dari
kesiku,kewalat.Penyembuhannya dapat melalui seorang dukun.

Ada beberapa katagori dukun pada masyarakat jawa yang mempunyai nama dan fungsi masing-
masing.

a. Dukun bayi, menangani terhadap penyakit yang berhubungan dengan kesehatan bayi.

b. Dukun pijat,menangani sakit terkilir,patah tulang.


c. Dukun mantra,manangani orang yang kemasukan roh halus.

d. Dukun klenik : khusus menangani orang yang terkena guna-guna atau “ digawa uwong “

Sedangkan konsep naturalistik , penyebab penyakit bersifat natural dan mempengaruhi


kesehatan tubuh , misalnya karena cuaca , iklim , makanan racun , bisa , kuman atau kecelakaan .
Di samping itu ada unsur lain yang mengakibatkan ketidakseimbangan dalam tubuh , misalnya
dingin , panas , angin atau udara lembab .Oleh orang Jawa hal ini disebut dengan penyakit “
Lumrah “ atau biasa.

Adapun penyembuhannya dengan model keseimbangan dan keselarasan , artinya dikembalikan


pada keadaan semula sehingga orang sehat kembali . Misalnya orang sakit masuk angin ,
penyembuhannya dengan cara “ kerokan “ agar angin keluar kembali . Begitu pula penyakit
badan dingin atau disebut “ndrodok” ( menggigil , kedinginan ) , penyembuhannya dengan
minum jahe hangat atau melumuri tubuhnya dengan air garam dan dihangatkan dekat api . Di
samping itu juga banyak pengobatan yang dilakukan dengan pemberian ramuan atau “dijamoni“
.Jamu adalah ramuan dari berbagai macam tumbuhan atau dedaunan yang di paur , ditumbuk ,
setelah itu diminum atau dioleskan pada bagian yang sakit. Di samping itu ada juga ramuan
tumbuhan lain sebagai pelengkap , misalnya kulit pohon randu yang sudah diberi mantera.

Dari perhitungan – perhitungan jawa , dapat ditarik berbagai jenis penyakit yaitu :

a. Dari Allah

b. Karena perkataannya sendiri

c. Dari jin / setan

d. Dari perbuatan jahat orang lain ( teluh tarangyana )


Etiologi penyakit menurut primbon ini dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk “ diagnose
penyakit “ yang disesuaikan dengan pandangan dan kondisi jaman primbon tersebut pertama kali
ditulis . Sebagai contoh , etiologi penyakit dapat ditentukan berdasarkan lenggahipun dinten (
tempat duduk hari ) . Tempat duduk hari tersebut dapat dilihat dalam table berikut ini :

Nama Hari : Tempat duduk penyakit

Senin : Telinga

Selasa : Hidung

Rabu : Perut

Kamis : Tulang

Jumat : Mata

Sabtu : Tungkai

Berdasarkan hari dimulainya sakit juga dapat ditentukan tentang jenis – jenis penyakit
sebagaimana diuraikan dalam Kitab Primbon Betaljemur Adammakna , yang dibuat sebagai
berikut :

Nama hari : Sebab Penyakit

Senin : Mempunyai nadzar yang belum dilaksanakan

Selasa : Diguna – guna oleh oran lain

Rabu : Diganggu oleh makhluk halus / setan

Kamis : Terkena tulah dari orang lain

Jumat : Diganggu makhluk halus yang ada di kolong rumah

Sabtu : Diganggu oleh setan yang berasal dari hutan

Minggu : Diganggu oleh makhluk halus / setan


Selain hari – hari biasa , Budaya Jawa juga memiliki hari– hari yang disebut hari pasaran dengan
urutan : Pon ,Wage,kliwon ,legi ,pahing. Budaya jawa beranggapan bahwa nama yang berat bisa
mendatangkan sial. Pendapat yang lain mengatakan “nama yang buruk” akan mempengaruhi
aktivitas pribadi dan sosial pemilik nama itu.

Dan juga kebiasaan bagi orang jawa yakni jika ada salah satu pihak keluarga atau sanak saudara
yang sakit , maka untuk menjenguknya biasanya mereka mengumpulkan dulu semua saudaranya
dan bersama – sama mengunjungi saudaranya yang sakit tersebut. Karena dalam budaya Jawa
dikenal prinsip “ mangan ora mangan , seng penting kumpul “

Adapun beberapa contoh pengobatan tradisional masyarakat jawa yang tidak terlepas dari
tumbuhan dan buah –buahan yang bersifat alami adalah :

• Daun dadap sebagai penurun panas dengan cara ditempelkan di dahi.

• Temulawak untuk mengobati sakit kuning dengan cara di parut , diperas dan airnya diminum 2
kali sehari satu sendok makan , dapat ditambah sedikit gula batu dan dapat juga digunakan
sebagai penambah nafsu makan.

• Akar ilalang untuk menyembuhkan penyakit hepatitis B.

• Mahkota dewa untuk menurunkan tekanan darah tinggi , yakni dengan dikeringkan terlebih
dahulu lalu diseduh seperti teh dan diminum seperlunya.

• Brotowali sebagai obat untuk menghilangkan rasa nyeri , peredam panas , dan penambah nafsu
makan.

• Jagung muda ( yang harus merupakan hasil curian = berhubungan dengan kepercayaan )
berguna untuk menyembuhkan penyakit cacar dengan cara dioleskan dibagian yang terkena
cacar.

• Daun sirih untuk membersihkan vagina.

• Lidah buaya untuk kesuburan rambut.

• Cicak dan tokek untuk menghilangkan gatal – gatal.


• Mandi air garam untuk menghilangkan sawan.

• Daun simbung dan daun kaki kuda untuk menyembuhkan influenza.

• Jahe untuk menurunkan demam / panas , biasanya dengan diseduh lalu diminum ataupun
dengan diparut dan detempelkan di ibu jari kaki.

• Air kelapa hijau dengan madu lebah untuk menyembuhkan sakit kuning yaitu dengan cara 1
kelapa cukup untuk satu hari , daging kelapa muda dapat dimakan sekaligus , tidak boleh
kelapa yang sudah tua.

Mitos yang Berkaitan dengan Kesehatan

1. Mitos Memakan Makanan Dari Sesaji Untuk Ritual Tertentu Di Masyarakat

a. Fakta di Lapangan

Masih banyak ditemukan dan bahkan di lapangan khususnya masyarakat pedesaan masih
mempercayainya. Kegiatan ini sudah ada sejak zaman nenek moyang yang terdahulu. Tempat
mereka pakai dahulunya terletak pada daerah yang dimana disitu merupakan bagian terpenting
akan terkabulnya keinginan mereka. Intinya kegiatan yang dilakukan ini bisa merupakan wujud
ungkapan rasa sukut untuk Tuhan. Memakan makanan yang berasal dari sesaji tersebut
merupakan bentuk rasa penghormatan pada yang Kuasa dan juga bisa mendoakan apa yang kita
inginkan.

b. Teori

Dilihat dari bentuk yang dihidangkan berupa nasi sayur-sayuran ayam dan lain-lain, yang
menjadi inti permasalahannya adalah pembagian ayamya dari yang masih utuh menjadi bagian
kecil-kecil. Bila orang yang membagikan tidak tahu akan makna bersih makan akan terabaikan
kebersihan kuman ayam tersebut. Selain itu ada juga bagaimana proses memasaknya untuk ayam
tersebut terkadang ayam ada bagian yang belum mencapai tingkat kematangan dan itu akan
berpengaruh pada proses pencernaan dan keamanan mengkonsumsi makanan tersebut.
Kandungan daging ayam sesungguhnya banyak mengandung protein dan nutrisi-nutrsi lain di
dalamnya yang berguna untuk keperluan tubuh. Sayur-sayuran juga diperlukan tubuh untuk
proses pencernaan seperti bayam yang banyak mengandung serat berfungsi untuk memperlancar
proses metabolisme.

c. Opini

Kepercayaan yang timbul sejak zaman dahulu sudah sangat melekat dan kental akan budaya
yang tiap tahun diadakan akan sulit dihilangkan karena akan menjadi ciri khas pada daerah itu.
Mereka beranggapan barang siapa menghilangkan budaya ini dampaknya sangat bervariasi, bisa
dikucilkan masyrakat karena dianggap tidak menghargai para pendahulunya dan yang paling
fatal bisa diusir dari lingkungan.

2. Mitos Tentang Sirkumsisi Dilihat Dari Segi Agama Islam

a. Fakta di Lapangan

Sekarang ini dilihat dari kesadaran masyarakat tentang kesehatan sudah sangat berkembang.
Banyak anak kecil yang sudah lulus tingkat sekolah dasar maupun masih sudah dilakukan khitan
atau sirkumsisi. Faktor yang mempengaruhi keinginan untuk dikhitan biasanya berasal dari anak
itu sendiri yang melu pada teman-temannya maupun dari orang tua yang mendesak untuk
dilakukannya khitan. Di beberapa daerah sudah ada alat mumpuni untuk melakukan proses
sirkumsisi secara modern. Agenda yang dilakukan untuk institusi kesehatan biasanya yang sering
kita dengan Khiatanan Masal dan ini sangat membantu bagi keluarga yang tidak mampu untuk
mengkhitankan anaknya.

b. Teori

Dari segi agama islam sangat dianjurkan untuk dilakuakn sirkumsisi atau khitan dnegan tujuan
memberikan kesehatan pada umatnya. Ini merupakan tanda sudah baligh bila sudah di khitan
atau sirkumsisi. Dahulunya untuk melakukan khitan atau sirkumsisi masih sangat sederhana dan
masih menggunakan metode yang classic. Untuk penyembuhannya sendiri bisa berbulan-bulan
setelah dilakuakan sirkumsisi atau khitan. Obat yang digunakan masih sangat terbatas selain itu
di daerah desa juga sangat terbatas petugas kesehatannya. Tapi sekarang dengan kemajuan
teknologi diharapkan bisa terlaksanan proses sirkumsisi yang lebih mauu dan mencapai tingkat
kesejahteraan masyarakat. Sirkumsisi atau khitan adalah memotong sebagian dari alat kelamin
dari pris untuk menjaga kebersihan dari alat kelamin pria. Ini bisa dibuktikan dengan urine yang
keluar bila belum khitan atau sirkumsisi akan sebagian tertinggal selanjutkan akan mengendap
dan bahayanya bila terjadi hubungan intim akan membahayakan si wanita karen sperma yang
keluar bersama dengan endapan tadi akan menyebabkan kanker rahim.

c. Opini

Dilakukan khitan atau sirkumsisi dapat mempercepat proses pendewasaan dari postur tubuh
biasanyya dengan tada jakin membesar, suara yang telihat besar dan tentunya bertambah tinggi
dan berat badan. Setelah dikhitan akan merasa lega karena sudah melaksanakan tugas dari Rosul
untuk syarat sahnya sholat salah satunya juga sirkumsisi atau khitan ini bila kita sebagai imam.

3. Mitos Ibu Hamil

a. Fakta di Lapangan

Ibu hamil jika makan pisang, nanas, mentimun itu akan menyebabkan keputihan bahkan
masyarakat sekitar berpendapat bahwa nanas bisa menyebabkan keguguran. Sewaktu ibu hamil,
jika suami memotong ayam, diprediksi anaknya akan lahir cacat. Fakta dari mitos tersebut tidak
akan terjadi kecacatan pada bayi yang dilahirkan. Jika bayi yang lahir cacat, bukan dari mitos
tersebut, tetapi karena cacat itu bisa dari faktor kelainan genetiknya.

b. Teori

Mengkonsumsi pisang, nanas, mentimun justru disarankan karen kaya akan vitamin C dan serat
yang penting untuk menjaga kesehatan tubuh dan melancarkan proses pembuangan sisa-sisa
pencernaan. Untuk kehamilan itu untuk memenuhi nutrisi dan menjaga perkembangan janin.
Kehamilan seseorang tidak bisa ditentukan dengan kelahiran yang normal maupun tidak, tetapi
secara medis untuk kelahiran yang tidak normal banyak berbagai faktor yang mempengaruhi
salah satunya adalah kelainan gen pembawa dari ayah maupun ibu ini sangat berpengaruh bagi
kelahirannya.
c. Opini

Ibu hamil rentan akan masalah yang bisa ditimbulkan. Sebisa mungkin pertahanan akan kondisi
sehat sangat kuat dengan dukkungan keluarga, suami dan teman-teman, budaya dimana dia
tinggal sangatlah berpengaruh bagi perkembangan kehamilannya. Keyakinan inilah yang
dipegang untuk menjaga, merawar, melindungi kehamilan si Ibu. Nila-nilai, norma, adat istiadat
masih dipegang kuat. Mitos-mitos diatas tersebut hanya keyakinan seseorang atau kelompok
karena belum tentu setiap desa atau kota mempunyai mitos yang sama karena belum tentu mitos
akan jadi kenyataan. Terkadang ada ibu hamil anaknya lahir dalam kondisi tidak normal (cacat),
misalnya makan buah yang manjadi pantangan ibu hamil anaknya lahir cacar itu hanya
bertepatan saja, dibalik semua itu mungkin ada kelainan pada saat bayi masih dalam kandungan.
BAB III

PENUTUP

3.1. Kesimpulan

Keperawatan transkultural adalah suatu proses pemberian asuhan keperawatan yang


difokuskan kepada individu dan kelompok untuk mempertahankan, meningkatkan perilaku sehat
sesuai dengan latar belakang budaya. Hal ini dipelajari mulai dari kehidupan biologis
sebelumnya, kehidupan psikologis, kehidupan sosial dan spiritualnya. Perencanaan dan
pelaksaan proses keperawatan transkultural tidak dapat begitu saja dipaksakan kepada klien
sebelum perawat memahami latar belakang budaya klien sehingga tindakan yang dilakukan
dapat sesuai dengan budaya klien. Penyesuaian diri sangatlah diperlukan dalam aplikasi
keperawatan transkultural.

3.2. Saran

Kami menyadari bahwa kekurangan dalam makalah yang kami buat di atas merupakan
kelemahan dari pada kami, karena terbatasnya kemampuan kami untuk memperoleh data dan
informasi karena terbatasnya pengetahuan kami.

Jadi yang kami harapkan kritik dan saran yang membangun agar kami dapat membuat makalah
yang lebih baik lagi. Dengan segala pengharapan dan keterbukaan, kami menyampaikan rasa
terima kasih dengan setulus-tulusnya.Akhir kata, kami berharap agar makalah ini dapat
membawa manfaat kepada pembaca.

.
DAFTAR PUSTAKA

Andrew, M. & Boyle, J. S. (1995). Transcultural Concepts in Nursing Care. 2nd Ed.

Philadelphia : JB Lippincot Company.

Cultural Diversity in Nursing. (1997). Transcultural Nursing ; Basic Concepts and

Case Studies. Ditelusuri tanggal 14 Oktober 2006 dari


http://www.google.com/rnc.org/transculturalnursing

Giger, J. J & Davidhizar, R. E. (1995). Transcultural Nursing : Assessment and

Intervention. 2nd Ed. Missouri: Mosby Year Book Inc

Leininger, M. & McFarland. M. R. (2002). Transcultural Nursing : Concepts,

Theories, Research and Practice. 3rd Ed. USA : Mc-Graw Hill

Companies.

Swasono, M. F. (1997). Kehamilan, kelahiran, Perawatan Ibu dan Bayi dalam

Konteks Budaya. Jakarta : UI Press.


TRANSCULTURAL NURSING BUDAYA JAWA

DISUSUN OLEH :
1.AHMAD BURHANUDIN
2.ALMIRA
3.BINA ALFIA
4. FITRI APRIANA
5.NITA

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH TANGERANG 2019