Anda di halaman 1dari 25

BAB 37 : MENGEVALUASI BUKTI AUDIT

Mengevaluasi bukti audit adalah bagian dari proses audit tahap ketiga (pelaporan).

ISA POKOK RINGKASAN ALINEA YANG RELEVAN DALAM ISA


BAHASAN YANG BERSANGKUTAN
220.15 Tanggung jawab Partner penugasan bertanggung jawab atas:
partner a. pengarahan supervisi dan pelaksanaan audit sesuai
standar profesional dan kewajiban perundang-
undangan terkait dan
b. tepatnya pendapat dalam laporan auditor sesuai dengan
keadaan yang ditemukan.
220.16 Tanggung jawab Partner penugasan bertanggung jawab atas reviu sesuai
atas reviu dengan kebijakan dan prosedur reviu pada KAP yang
bersangkutan.
220.17 Partner meyakini Pada atau sebelum tanggal laporan auditor, melalui reviu
bukti audit atas dokumentasi audit dan pembahasan dengan tim audit,
partner penugasan wajib meyakini bahwa bukti audit yang
cukup dan tepat sudah diperoleh untuk mendukung
kesimpulan dan bahwa laporan auditor siap diterbitkan.
220.18 Konsultasi Partner penugasan harus:
mengenai hal yang a. atas nama timnya berkonsultasi dengan baik mengenai
sulit hal-hal yang sulit atau rawan ketegangan
b. meyakini bahwa dengan telah berkonsultasi selama
penugasan berlangsung, di antara anggota tim maupun
antara tim dengan pihak lain yang tingkatan atau
jenjang organisasi yang tepat, di dalam maupun di luar
KAP
c. puas bahwa sifat dan lingkup konsultasi di atas, serta
kesimpulannya disetujui dengan pihak-pihak yang
diminta nasehatnya dan
d. memastikan bahwa kesimpulan yang merupakan hasil
konsultasi tersebut sudah diimplementasikan.
220.19 Reviu kendali Untuk audit atas laporan keuangan entitas yang terdaftar di
mutu pasar modal dan penugasan audit lainnya yang oleh KAP
diwajibkan untuk ikut reviu kendali mutu, partner
penugasan wajib:
a. memastikan bahwa pelaksana kendali mutu sudah
ditunjuk
b. membahas hal-hal penting yang timbul selama audit
berlangsung, termasuk yang ditemukan dalam reviu
kendali mutu, dengan pelaksana kendali mutu
c. memastikan laporan auditor tidak diberi tanggal sampai
reviu kendali mutu selesai dilaksanakan
220.20 Kendali mutu yang Pelaksanaan kendali mutu wajib melaksanakan evaluasi
evaluasi yang yang objektif atas kearifan atau judgment tim audit dan
objektif kesimpulan yang menjadi dasar laporan auditor. Evaluasi ini
harus meliputi:
a. pembahasan hal-hal penting dengan partner penugasan
b. reviu atas laporan keuangan dan draft (usulan) laporan
auditor
c. reviu atas dokumentasi audi tertentu yang
mencerminkan judgments anggota tim dan kesimpulan
yang dicapai dan evaluasi terhadap kesimpulan yang
dicapai
d. merumuskan laporan auditor dan penentuan apakah
trap usulan laporan auditor sudah tepat

Selayang Pandang

Setelah semua prosedur audit yang direncanakan tuntas dilaksanakan auditor mengevaluasi
hasil hasilnya. Kegiatan ini meliputi review atas dokumentasi audit dan pembahasan dengan
tim audit.

Quality Control Merupakan tanggung jawab partner yang memimpin penugasan


(Kendali Mutu) engagement partner untuk memastikan semua berkas audit di reviu
sesuai dengan kebijakan dan prosedur KAP, dan bahwa pendapat
auditor (auditor opinion) sudah tepat.
Consultation Partner penugasan bertanggung jawab untuk memastikan bahwa:
(Konsultasi) a. tim audit berkonsultasi (dengan rekan di dalam KAP dan pihak di
luar KAP) untuk masalah yang pelik atau rawan ketegangan dan
b. hasil-hasil konsultasi telah di dokumentasikan dan dilaksanakan.
Engagement Jika kebijakan KAP mewajibkan suatu engagement quality control
Quality Control review (EQCR), partner penugasan wajib:
Review a. memastikan seorang penelaah (EQC reviewer) yang cakap telah
(Review ditunjuk
Kendali Mutu b. membahas audit issues yang penting dengan EQC reviewer
Penugasan) c. tidak memberi tanggal laporan auditor sampai rampungnya EQCR.

Auditor harus puas bahwa putih audit yang cukup dan tepat berhasil diperoleh
sepanjang audit berlangsung. Bukti audit yang cukup dan tepat diperlukan untuk mendukung
kesimpulan yang akan digunakan dalam merumuskan pendapat auditor.

Materiality Apakah angka-angka yang ditetapkan untuk overall materiality dan


(Materialitas) performance materiality masih tepat, mengingat hasil keuangan entitas
yang sebenarnya (actual financial result)? Jika angka yang lebih rendah
untuk overall materiality dibandingkan dengan angka yang semula
ditetapkan memang lebih tepat, auditor baju menentukan:
 apakah perlu merevisi performance materiality?
 apakah sifat, waktu, dan luasnya prosedur audit pendidikan masih
tepat?
Risk Dengan memperhatikan temuan-temuan audit, apakah penilaian risiko
(Resiko) salah saji yang material padat tingkat asersi masih tepat? Jika tidak,
penilaian risiko harus direvisi dan prosedur audit lanjutan harus
dimodifikasi.
Misstatements Apakah dampak atas audit yang disebabkan oleh salah saji yang
(Salah Saji) ditemukan dan salah saji yang tidak dikoreksi telah diperhitungkan?
Apakah alasan salah saji atau penyimpangan telah diketahui? Salah saji
atau penyimpangan ini bisa mengindikasikan resiko yang belum
diidentifikasikan atau kelemahan yang signifikan dalam pengendalian
intern.
Apakah strategi audit secara keseluruhan dan rencana audit perlu direvisi?
Revisi diperlukan jika:
 sifat dari sekolah saja yang diidentifikasi dan situasi terjadinya salah
saji tersebut mengindikasikan bahwa salah saji lainnya mungkin ada,
dan jika digabungkan dengan salah saji yang sudah ditemukan selama
audit, bisa material atau
 jumlah seluruh salah saji yang ditemukan selama audit mendekati
materialitas.
Apakah prosedur audit tambahan telah dilaksanakan untuk menentukan
apakah salah saji masih ada (dalam jenis transaksi, saldo akun, atau
pengungkapan) sewaktu manajemen diminta mengoreksi salah saji?
Fraud Apakah informasi yang diperoleh dalam melaksanakan prosedur penilaian
(Kecurangan) risiko lainnya mengindikasikan adanya faktor resiko kecurangan?
Apakah prosedur analitikal yang dilaksanakan menjelang berakhirnya audit
mengindikasikan resiko salah saji yang material karena kekurangan yang
sebelumnya tidak diketahui?
Apakah salah saji yang diuji teridentifikasi telah dievaluasi untuk
menentukan kemungkinan salah saji yang disebabkan oleh kekurangan?
Jika demikian evaluasi dampak salah saji tersebut terhadap aspek lain dari
audit ini terutama mengenai apakah pernyataan manajemen dapat
dipercaya peristiwa kecurangan seringkali tidak merupakan kejadian yang
terisolasi?
Apakah ada alasan untuk mencari baik keterlibatan manajemen dalam
salah satunya disebabkan oleh kekurangan tanpa memperdulikan apakah
salah saji itu material atau tidak?
Jika demikian evaluasi kembali penilaian resiko salah saji yang material
yang disebabkan oleh kekurangan dan dampaknya terhadap sifat waktu dan
luasnya prosedur audit sebagai tanggapan atas resiko tersebut lihat lebih
lanjut apakah situasi atau kondisinya mengindikasikan kemungkinan.
Kolusi yang melibatkan karyawan manajemen atau pihak ketiga intinya
iyalah apakah bukti-bukti yang diperoleh sebelumnya masih dapat
diandalkan?
Jika resiko kecurangan sekarang teridentifikasi lihat apakah masih
mungkin laporan kecurangan tidak salah saji secara material karena
kecurangan jika tidak mungkin tentukan dampaknya terhadap laut di
termasuk apakah masih bisa melakukan audit itu
(Evidence) Apakah bukti yang cukup dan tempat sudah diperoleh ini diperlukan untuk
Bukti menurunkan resiko salah saji yang material dalam laporan keuangan ke
tingkat rendah yang dapat diterima? Lihat lebih lanjut apakah auditor perlu
melaksanakan prosedur tambahan.
(Analytical Apakah prosedur analitik hal yang dilaksanakan pada tahap review kau di
procedures) terakhir:
Prosedur  memperkuat temuan audit atau
Analitikal  menemukan resiko salah saji material yang sebelumnya tidak
diketahui.

Menilai Kembali Materialitas

Sebagaimana diatur dalam ISA 450.10 yakni setelah menilai bukti audit, auditor
mempertimbangkan perlu / tidaknya menilai kembali materialitas. Sebelum auditor
mengevaluasi hasil-hasil yang dicapai dari pelaksanaan prosedur audit, termasuk salah saji
yang ditemukan, langkah pertama yang harus dilakukannya adalah menilai kembali apakah
angka materialitas yang ditetapkan pada awal audit masih tepat. Penilaian kembali ini penting
karena penetapan awal angka materialitas sering kali di dasarkan pada estimasi hasil
keuangan. Angka estimasi ini bisa berbeda dengan hasil keuangan yang sebenarnya.

Faktor-faktor yang mungkin menyebabkan perubahan angka materialitas adalah


sebagai berikut :

 Angka materialitas pada awal audit tidak lagi tepat karena hasil keuangan entitas yang
sesungguhnya berbeda dari estimasi yang dipergunakan.
 Ada informasi baru, seperti ekspektasi pemakai laporan, yang membuat auditor
memutuskan untuk menggunakan angka materialitas yang berbeda dari apa yang
ditetapkan pada awal audit.
 Salah saji yang tidak terduga yang menyebabkan angka materialitas untuk jenis
transaksi, saldo akun, atau pengungkapan tertentu, terlampaui.

Perubahan dalam Penilaian Risiko


Pada ISA 330.25 membahas kewajiban auditor untuk memastikan apakah perlu ada
perubahan terhadap penilaian risiko semula. Penilaian risiko pada tingkat asersi sering kali
didasarkan atas bukti audit yang tersedia sebelum pelaksanaan prosedur audit lanjutan. Ketika
prosedur audit lanjutan ini dilaksanakan, informasi baru mungkin diperoleh. Informasi baru
ini bisa menyebabkan penilaian risiko semula perlu dimodifikasi.

Contoh, dalam audit persediaan barang, tingkat risiko untuk asersi kelengkapan dinilai
rendah, berdasarkan ekspektasi bahwa pengendalian intern berfungsi dengan baik. Jika uji
pengendalian menunjukkan bahwa pengendalian intern tidak berjalan efektif, maka penilaian
risiko harus diubah dan prosedur audit lanjutan dilaksanakan untuk menekan risiko ke tingkat
rendah yang dapat diterima. Hal serupa juga terjadi jika hasil prosedur audir lanjutan tidak
sesuai ekspektasi.

Jika penilaian risiko semula sudah berubah, rincian perubahan ini harus
didokumentasi. Lihat apa hasil dari penilaian risiko yang sudah direvisi. Juga harus ada
rincian mengenai bagaimana rencana audit terinci yang baru diubah. Perubahan ini bisa
berupa modifikasi terhadap sifat, waktu, atau luasnya prosedur audit yang direncanakan atau
modifikasi dalam pelaksanaan prosedur audit lanjutan.

Evaluasi Dampak Salah Saji

Tabel 37-5 ISA 450 dan ISA 540 – Evaluasi atas Dampak Salah Saji

ISA POKOK RINGKASAN ALINEA YANG RELEVAN DALAM ISA


BAHASAN YANG BERSANGKUTAN
450.3 Tujuan Auditor Tujuan auditor ialah mengevaluasi :
a) dampak salah saji yang ditemukan dalam auditnya; dan
b) dampak salah saji yang tidak dikoreksi, jika ada atas
laporan keuangan.
450.5 Kumpulkan Salah Auditor wajib mengumpulkan salah saji yang ditemukan
Saji dalam auditnya, kecuali salah saji yang jelas-jelas sepele.
450.6 Apakah strategi Auditor wajib menentukan apakah strategi audit secara
audit dan rencana keseluruhan dan rencana audit perlu direvisi jika :
audit perlu a) sifat salah saji yang ditemukan dan situasi dimana salah
direvisi? saji itu terjadi mengindikasikan bahwa salah saji lainnya
mungkin juga (masih) ada, yang jika digabungkan dengan
salah saji yang ditemukan selama audit, bisa material; atau
b) gabungan salah saji yang ditemukan selama audit
mendekati angka materialitas yang ditentukam sesuai ISA
320.
450.7 Prosedur Audit Jika, atas permintaan auditor, manajemen telah memeriksa
Tambahan jenis transaksi, saldo akun atau pengungkapan dan
mengoreksi salah saji yang ditemukannya, auditor wajib
melaksanakan prosedur audit tambahan untuk menentukan
apakah salah saji masih ada.
450.8 Wajib Komunikasi Auditor wajib mengomunikasikan dengan tepat waktu salah
saji yang ditemukan selama audit, dengan tingkat manajemen
yang tepat, kecuali jika dilarang oleh ketentuan perundang-
undangan. Auditor wajib meminta manajemen mengoreksi
salah saji.
450.9 Manajemen Jika manajemen menolak mengoreksi beberapa atau seluruh
Menolak saji yang dikomunikasikan oleh auditor, auditor wajib
Mengoreksi memperoleh pemahaman mengenai alasan penolakan
manajemen. Auditor akan mempertimbangkan pemahaman
tersebut ketika mengevaluasi apakah laporan keuangan secara
keseluruhan bebas salah saji yang material.
450.11 Tentukan apakah Auditor wajib menentukan apakah salah saji yang tidak
salah saji yang dikoreksi adalah material, baik sendiri-sendiri atau jika
tidak dikoreksi digabungkan. Dalam menentukan hal ini, auditor wajib
adalah material mempertimbangkan :
a) besar dan sifat salah saji, dalam hubungannya dengan jenis
transaksi, saldo akun, atau pengungkapan tertentu, maupun
dalam hubungan dengan laporan keuangan secara
keseluruhan, serta situasi di mana salah saji itu terjadi; dan;
b) dampak salah saji yang tidak dikoreksi dalam hubungannya
dengan jenis transaksi, saldo akun, atau pengungkapan terkait,
serta laporan keuangan secara keseluruhan tahun lalu.

450.12 Komunikasi dengan Auditor wajib mengomunikasikan dengan TCWG


TCWG, salah saji yang mengenai salah saji yang tidak dikoreksi dan
tidak dikoreksi dampaknya, baik sendiri-sendiri atau jika digabungkan,
terhadao pendapat auditor, kecuali jika dilarang oleh
ketentuan perundang-undangan. Komunikasi auditor
wajib mengidentifikasi masing-masing salah saji yang
material yang tidak dikoreksi. The auditor shall request
that uncorrected misstatements be corrected.
450.13 Komunikasi dengan Auditor juga wajib mengomunikasikan dengan TCWG
TCWG, dampak salah mengenai dampak salah saji yang tidak dikoreksi dalam
saji hubungannya dengan jenis transaksi, saldo akun, atau
pengungkapan terkait, serta laporan keuangan secara
keseluruhan tahun lalu
450.14 Pernyataan tertulis, Auditor wajib meminta pernyataan tertulis dari
dampak salah saji manajemen dan, jika perlu, dari TCWG megenai apakah
mereka percaya bahwa dampak salah saji yang tidak
dikoreksi adalah tidak material, sendiri-sendiri atau jika
digabungkan, atas laporan keuangan secara keseluruhan.
Rincian dari salah saji yang tidak dikoreksi tersebut
dapat dimasukkan dalam pernyataan tertulis atau
sebagai lampiran.
450.18 Apakah estimasi Auditor juga wajib mengevaluasi, berdasarkan bukti
akuntansi layak ? audit yang diperoleh, apakah estimasi akuntansi dalam
laporan keuangan adalah layak dalam konteks kerangka
pelaporan keuangan yang diterapkan, atau dinyatakan
secara salah
Tujuan mengevaluasi salah saji ialah untuk menentukan dampaknya terhadap audit itu
dan apakah auditor perlu melaksanakan prosedur audit tambahan.

Tabel 37-6 Sumber-sumber salah saji

SUMBER SALAH SAJI PENJELASAN


Tidak akurat atau Kesalahan dapat dibuat oleh pegawai dalam mengumpulkan atau
kecurangan memproses data untuk membuat laporan keuangan. Kesalahan ini
bisa meliputi kekeliruan pisah batas (cut-off) pada akhir periode.
Sebagaiamana tambahan terhadap salah saji tertentu, auditor juga
dapat :
 Mengakuantifikasi kesalahan dalam population tertentu
yang digunakan
 Perhatikan sifat salah saji yang ditemukan. Jika sejumlah
salah saji berdampak pada saldo atau lokasi bisnis
tertentu, ini merupakan indikasi risiko salah saji yang
material karena kecurangan.
Kealpaan atau Beberapa transaksi mungkin tidak dicatat, karena kealpaan atau
kecurangan kesengajaan (yang sangat mun gkin merupakan kecurangan).
Transaksi signifikan Tidak adanya alasan bisnis yang masuk akal untuk transaksi yang
signifikan (luar biasa atau di luar jalur bisnis yang normal)
mungkin disengaja untuk memanipulasi laporan keuangan atau
menyembunyikan penjarahan aset.
Journal entries Pencatatan di jurnal secara keliru atau tanpa otorissi mungkin
terjadi selama atau pada akhir periode berjalan. Ini dapat
digunakan untuk memanipulasi angka-angka dalam laporan
keuangan.
Kekeliruan estimasi Dalam membuat taksiran manajemen mungkin salah
menghitung, mengabaikan atau salah menafsirkan fakta tertentu,
menggunakan asumsi yang salah atau mengandung bias jika
estimasi entitas berada di luar rentang yang dapat diterima
entitas.
Kekeliriuan dalam nilai Mungkin ada perbedaan pendapat dengan manajemenberkenaan
wajar (fair values) dengan nilai wajar dari aset, kewajiban, dan unsur ekuitas
tertentu.
Pemilihan dan penerapan Mungkin ada perbedaan pendapat dengan manajemen berkenaan
kebijakan akuntansi dengan pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi.
Salah saji yang tidak Salah saji yang tidak dikoreksi yang berasal dari periode yang
dikoreksi dalam ekuitas lalu, akan tercermin dalam saldo awal ekuitas. Jika tidak
awal disesuaikan, akan menjadi salah saji dalam laporan keuangan di
tahun berjalan
Pengakuan pendapatan Pendapatan dinyatakan terlalu tinggi atau terlalu rendah mellaui
pengakuan pendapatan yang premature, pencatatan pendapatan
fiktif, atau penggeseran pendapatan ke periode lain.
Kelemahan pengendalian Salah saji dapat disebabkan kelemahan dalam pengendalian
intern intern secara tidak terduga.
Penyajian atau Pengungkapan-pengungkapan tertentu yang wajib dimasukkan
pengungkapan dalam dalam laporan keuangan, diabaikan atau terabaikan.
laporan keuangan

Penggabungan Salah saji

Salah saji yang teridentifikasi dalam audit, di luar alah saji yang jelas-jelas sepele, harus
digabungkan untuk menentukan jumlah keseluruhan salah saji. Salah saji dapat juga
dikelompokkan kedalam salah saji factual, salah saji karena pertimbangan/pendapat, dan
salah saji berdasarkan hasil ekstrapolasi.

Untuk memudahkan penggabungan atau agregasi, salah saji yang tidak dikoreksi
didokumentasikan dalam satu kertas kerja khusus. Kertas kerja ini memudahkan auditor
membuat ringkasan salah saji yang sepele yang ditemukan auditor.

Proses penggabungan dapat dilakukan dalam beberapa tahapan. Pada masing-masing


tahap auditor dapat menilai dampak dari salah saji yang digabungkan, misalnya terhadap:

1. Akun atau jenis transaksi tertentu;


2. Jumlah current assets dan current liabilities;
3. Jumlah assets dan liabilities;
4. Jumlah revenues, jumlah expenses, dan pre-tax income;
5. Net income.

Tabel 37-7 Penggabungan Salah Saji yang tidak dikoreksi

Salah Saji Gabungan pada Contoh atau penjelasan tentang Dampak Salah Saji
Gabungan pada Tahap Penggabungan ini
Saldo akun tertentu (misalnya Penggabungan pada tahap ini melihat dampak salah saji
piutang dagang), atau jenis pada saldo akun.
transaksi tertentu misalnya
(penjualan)
Jumlah aset lancar dan liabilitas Penggabungan pada tahap ini melihat dampak salah saji
jangka pendek pada aste lancer atau seluruh liabilitas jangka pendek.
Jumlah aset dan liabilitas Penggabungan tahap ini melihat dampak salah saji pada
jumlah aset atau jumlah liabilitas.
Jumlah pendapatan, jumlah Pengga bungan pada tahap ini membandingkan salah saji
beban, dan penghasilan/laba gabungan dengan jumlah pendapatan, jumlah beban, atau
sebelum pajak penghasilan/laba sebelum pajak.
Laba bersih Penggabungan pada tahap ini membandingkan salah saji
gabungan dengan laba bersih. Salah saji gabungan
dinyatakan sebagai persentase dari laba bersih.
Tabel 37-8 menunjukkan dari contoh penyajian salah saji yang digabungkan. Cara penyajian
ini berbeda dengan cara penyajian di atas. Kotak ini disajikan dalam bahasa inggris dengan
penjelasan dalam bahasa Indonesia.

Tabel 37-9 Tindak Lanjut atas Salah Saji yang Ditemukan

Evaluasi kembali Telaah apakah auditor perlu merevisi overall materiality sebelum ia
angka materialitas mengevaluasi dampak salah saji yang tidak dikoreksi. Telaahan ini
dibuat berdasarkan hasil keuangan yang sebenarnya.
Pelajari mengapa salah Pelajari alasan terjadinya salah saji yang ditemukan selama audit.
saji terjadi, dan Misalnya :
dampaknya terhadap - Apakah ini indikasi adanya kecurangan?
rencana audit - Masih ada kemungkinan terdapatnya salah saji yang lain?
- Apakah ada risiko tak terduga?
- Adakah kelemahan yang signifikan dalam pengendalian intern?

Dengan mengetahui jawaban atas pertanyaan di atas, tentukan


apakah overall audit strategy dan audit plan perlu direvisi. Revisi
diperlukan jika :
- ada kemungkinan terdapatnya salah saji yang lain, yang jika
digabungkan dengan salah saji yang sudah ditemukan, bisa material
- gabungan salah saji yang sudah ditemukan selama audit,
mendekati angka materialitas.
Minta manajemen Minta manajemen mengoreksi semua salah saji yang ditemukan,
mengoreksi salah saji kecuali salah saji yang jumlahnya jelas-jelas sepele.
Minta manajemen Jika jumlah salah saji dalam populasi tidak diketahui secara tepat,
melakukan prosedur minta manajemen melakukan prosedur untuk menentukan jumlah
tambahan salah saji yang sebenarnya, dan kemudian buat koreksi yang tepat
terhadap angka-angka dalam laporan keuangan. Jika manajemen
sepakat dengan ususlan itu, auditor perlu melakukan prosedur
tambahan untuk menentukan apakah salah saji masih ada.
Manajemen menolak Jika manajemen menolak mengoreksi sebagian atau seluruh salah
mengoreksi sebagian saji :
atau seluruh salah saji - pahami alasan penolakan manajemen. Pertimbangan hal ini dalam
menilai apakah laporan keuangan mengandung salah saji yang
material;
- komunikasikan salah saji yang tidak dikoreksi kepada TCWG.
Komunikasikan dampak penolakan ini terhadap pendapat auditor;
dan
- minta TCWG mengoreksi salah saji yang tidak dikoreksi
manajemen
Pernyataan Tertulis (Written Representations)

Tanggung jawab manajemen dibuktikan dengan pernyataan tertulis dari manajemen.


Pernyataan tertulis ini menegaskan bahwa salah saji yang tidak dikoreksi (dirinci dalam
pernyataan tersebut atau disajikan dalam lampiran), menurut pendapat manajemen, adalah
immaterial, sendiri-sendiri maupun digabungkan.

Ketika auditor mengomunikasikan temuannya dengan TCWG, ia wajib merinci salah


saji yang tidak dikoreksi, satu per satu. Jika salah saji yang tidak dikoreksi oleh manajemen
ini dilaporkan kepada TCWG dan koreksi tetap tidak dibuat, auditor wajib meminta
pernyataan serupa dari TCWG
Bukti Audit yang Cukup dan Tepat

ISA POKOK RINGKASAN ALINEA YANG RELEVAN DALAM ISA


BAHASAN YANG BERSANGKUTAN
330.26 Kewajiban auditor Auditor wajib menyimpulkan apakah bukti audit yang cukup dan
tepat sudah diperoleh. Dalam merumuskan pendapatnya, auditor
wajib mempertimbangkan semua bukti audit yang relevan yang
mendukung/menguatkan atau yang bertentangan dengan asensi
dalam laporan keuangan.
330.27 Bukti audit yang Jika auditor belum memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat
cukup dan tepat, mengenai asersi yang material dalam laporan keuangan, auditor
belum diperoleh wajib berupaya memperoleh bukti audit selanjutnya. Jika auditor
tidak (berhasil) memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat,
auditor wajib memberikan pendapat wajar dengan pengecualian
atau tidak memberikan pendapat atas laporan keuangan
Tujuan umum dan meyeluruh dalam memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, ialah
untuk menurunkan risiko salah saji yang material dalam laporan keuangan, ke tingkat rendah
dapat diterima.

Faktor yang perlu dipertimbangan dalam menilai kecukupan dan ketepatan bukti audit:

1. Materialitas salah saji


Berapa signfikannya salah saji dalam asersi terkait dan beberapa besar kemungkinan
salah saji berdampak material (sendiri-sendiri atau tergabung dengan potensi salah
saji lainnya) pada laporan keuangan?
2. Tanggapan manajemen
Berapa tanggapnya manajemen terhadap temuan audit dan berapa efektifnya
pengendalian intern menghadapi faktor risiko ini?
3. Pengalaman yang lalu
Apa pengalaman di waktu yang lalu ketika auditor melaksanakan prosedur serupa,
dan (jika ada) salah saji yang ditemukan?
4. Hasil dari pelaksanaan prosedur audit
Apakah hasil dari pelaksanaan prosedur audit mendukung tujuan auditor (untuk
memastikan tidak adanya salah saji yang material)? aApakah ada indikasi kecurangan
atau kesalahan?
5. Kualitas informasi
Apakah sumber dan keandalan informasi yang tersedia sudah tepat untuk mendukung
kesimpulan audit?
6. Persuasif
Berapa persuasive atau meyakinkannya bukti audit?
7. Pemahaman mengenai entitas
Apakah bukti yang diperoleh mendukung atau bertentangan dengan hasil prosedur
penilaian risiko (yang dilaksanakan untuk memperoleh pemaham mengenai entitas
dan lingkungannya termasuk pengendalian intern)?

Jika auditor tidak (berhasil) memperoleh bukti audit yang cukup dan tepat, auditor wajib
memberikan pendapat wajar dengan pengecualian atau tidak memberikan pendapat atas
laporan keuangan

Prosedur Analitikal Akhir

Mengenai prosedur analitikal (final analytical procedures) menjelang akhir audit, ISA 520.6
menyatakan : “Auditor wajib merancang dan melaksanakan prosedur analitikal menjelang
akhir audit. Prosedur ini membantu auditor ketika ia merumuskan kesimpulan menyeluruh
mengenai apakah laporan keuangan sejalan dengan pemahaman auditor mengenai entitas
tersebut”.

Auditor melaksanakan prosedur analitikal : (a) untuk tujuan penilaian risiko (risk assessment),
(b) sebagai prosedur substantif (substantive procedure), dan terakhir menjelang berakhirnya
audit, yakni ketika ia merumuskan kesimpulan umum (ISA 520).

Dalam melaksanakan prosedur analitikal akhir auditor:

1. Mengidentifikasi risiko salah saji yang material, yang sebelumnya tidak diketahui.
2. Memastikan bahwa kesimpulan (selama berlangsungnya audit) mengenai unsur-unsur
laporan keuangan dapat didukung dengan bukti-bukti yang diperoleh, dan
3. Membantu menyusun kesimpulan umum mengenai kewajaran laporan keuangan.

Jika auditor menemukan risiko-risiko baru atau hubungan-hubungan tak terduga antardata, ia
perlu mengevaluasi kembali prosedur audit yang (telah) direncanakan dan (telah)
dilaksanakan.
Temuan dan Masalah Penting

Langkah terakhir dalam proses evaluasi adalah mencatat atau merekam temuan dan masalah
yang signifikan dalam dokumen penyelesaian tugas (engangement complection document).
Dokumen ini berisi:

1. Semua informasi yang diperlukan untuk memahami temuan dan maslah yang
signifikan atau
2. Referensi silang (cross-references) ke dokumentasi audit pendukung lain.

Dokumen ini juga dapat berisi kesimpulan mengenai informasi yang diperoleh auditor
mengenai masalah penting yang tidak sejalan atau bertentangan dengan kesimpulan akir
auditor. Namun, kewajiban ini tidak berlaku untuk menyimpan dokumen yang salah atau
telah dicabut/diganti, seperti draf laporan keuangan yang belum lengkap.
BAB 38 : KOMUNIKASI DENGAN TCWG

Bagian dari judul bab ini menggunakan singkatan TCWG (those charged with governance).
Bab ini memberikan petunjuk mengenai bagaimana mendorong komunikasi dua arah yang
efektif antara auditor dan TCWG, dan apa isi dari komunikasi tersebut. Komunikasi dengan
TCWG merupakan bagian dari tahap Pelaporan (Reporting) dalam proses audit.

Acuan bab ini ialah ISAs Nomor 260, 265, dan 450.

Pada ISA 260.9 menetapkan tujuan auditor dalam berkomunikasi dengan TCWG. Adapun
dalam ISA 260.9 tujuan auditor adalah sebagai berikut :

a. Mengkomunikasikan dengan jelas kepada TCWG tanggung jawab auditor berkenaan


dengan audit atas laporan keuangan, dan tinjauan umum mengenai lingkup audit yang
direncanakan dan waktu pelaksanaan audit direncanakan.
b. Memperoleh informasi yang relevan untuk audit, dari TCWG.
c. Memberikan kepada TCWG pengamatan yang berasal dari pelaksanaan audit, yang
penting dan relevan bagi tanggung jawab pengawasan umum atas proses pelaporan
keuangan.
d. Mendorong komunikasi dua arah yang efektif antara auditor dan TCWG.
Selayang Pandang

Komunikasi dua arah yang efektif antara auditor dan TCWG merupakan unsur penting dalam
setiap audit. Hal ini memungkinkan:

1. Auditor mengomunikasikan hal-hal yang wajib dilkomunikasikan dan hal-hal lain;


dan
2. TCWG memberi kepada auditor informasi yang (tanpa komunikasi ini) tidak akan
tersedia. Informasi ini dapat bermanfaat bagi auditor dalam merencanakan audit dan
mengevaluasi hasilnya

Governance

Struktur Governance (govenance structures) berbeda antara satu wilayah hukum yang
lain dan antara satu entitas dengan entitas yang lain. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan
budaya, latar belakang hukum dan perundang-undangan, serta ukuran dan ciri-ciri
kepemilkan. Dalam kebanyakan entitas. governance merupakan tanggung jawab kolektif dari
suatu governing body atau badan yang mengurus/mengatur/memimpin, seperti board of
directors (dalam jurisdiksi tertentu ini merupakan gabungan antara Direksi dan Dewan
Komisaris), suatu badan pengawas atau supervisary board (seperti Dewan Komisaris di
lndonesia).partners, proprietors, komite manajemen (committee of management), dewan
gubernur (council of governors), wali amanah (trustees), atau yang ekuivalen dengan yang
disebutkan tadi.

Dalam entitas yang lebih kecil satu orang dapat dibebani tugas governance-contoh
pemilik yang juga menjadi pengelola (owner manager) di mana tidak ada pemilik lain, atau
seorang sole trustee. Dalam kasus-kasus ini jika ada hal-hal yang diwajibkan untuk
dlikomunikasikan dengan manajemen, hal-hal tersebut tidak perlu dikomunikasikan lagi
dengan orang yang sama dalam peran governance Namn, jika ada orang-orang lain yang
memainkan peran governance dalam entitas tersebut auditor harus memastikan setiap orang
dinformasikan.

Dalam entitas lain di mana governance merupakan tanggung jawab auditor dapat
diarahkan pada suatu sub kelompok yang berurusan dengan governance seperti komite audit.
Dalam kasus-kasus ini, Auditor harus menentukan apakah ia perlu berkomunikasi dengan
seluruh governing body. Penentuan ini didasarkan pada:
⊗ Tanggung jawab masing-masing. yakni subkelompok dan governing body

⊗ Masalah (sifat dan isi) yang dikomunikasikan;

⊗ Ketentuan hukum, perundang-undangan, atau aturan regulator yang relevan, dan

⊗ Apakah subkelompok mempunyai otoritas untuk mengambil tindakan mengenai


nformasi dan memberi informasi dan penjelas lebih lanjut yang dibutuhkan auditor.

Jika tidak jelas dengan siapa auditor berkomunikasi dari keraugka pelaporan
keuangan yang berlaku atau situasi dalam penugasan, auditor perlu membahas dan
menyetujui dengan pihak yang penugasan mengenai pihak denga siapa auditor berkomunikasi.

Hal-Hal yang Dikomunikasikan

Hal-hal yang menjadi minat pengawasan umum (matters of governance internet) yang
dikomunikasikan auditor :

1. Tanggung jawab auditor dalam hubungannya dengan audit atas laporan keuangan.
2. Lingkup audit yang direncanakan dan kapan audit akan dilaksanakan, dan
3. Temuan-temuan audit yang signifikan.

Tanggung Jawab dalam Audit atas Laporan Keuangan

TCWG harus mendapat informasi mengenai hal-hal penting yang menyangkut peran mereka
dalam mengawasi (overseeing) proses pelaporan keuangan. Termasuk di dalamnya, ialah
mengomunikasikan hal-hal berikut.

1. Audit atas laporan keuangan tidak membebaskan manajemen atau TCWG akan
tanggung jawab mereka.
2. Tanggung jawab auditor meliputi :
a. Merumuskan dan memberikan opini atas laporan keuangan yang disusun oleh
manajemen dengan pengawasan (oversight) oleh TCWG, dan
b. Mengomunikasikan hal-hal penting yang muncul dari audit atas laporan keuangan.

Tanggung jawab dan kewajiban kedua belah pihak (auditor di satu pihak dan
manajemen serta TCWG di pihak lain) sering kali dapat dikomunikasikan kepada TCWG
dengan memberikan Salinan surat penugasan audit (audit engagement letter). Surat
penugasan audit menegaskan hal-hal berikut yang perlu diketahui TCWG.
1. Tanggung jawab auditor sesuai ISAs.
2. Kewajiban-kewajiban yang ditetapkan ISAs bahwa hal-hal penting berkenaan dengan
pengawasan (oversight) atas proses pelaporan keuangan, dikomunikasikan kepada
TCWG.
3. ISAs tidak mewajibkan auditor untuk merancang prosedur audit dengan tujuan
menemukan masalah tambahan (supplementary matters) yang akan dikomunikasikan
dengan TCWG.
4. Jika ada, tanggung jawab lain/ tambahan yang ditetapkan dengan ketentuan
perundang-undangan.

Lingkup dan Waktu Audit

Tujuan membahas perencanaan audit adalah mendorong komunikasi dua arah antara auditor
dengan TCWG. Namun, auditor perlu waspada untuk tidak memberikan informasi terinci
yang dapat menyulitkan atau menggagalkan audit, misalnya rincian mengenai sifat dari
prosedur tertentu dan kapan suatu prosedur akan dilaksanakan.

Rencana Audit

 Gambaran umum tentang rencana audit, dan jadwal audit.


 Penerapan konsep materialitas dalam audit.
 Bagaimana salah saji yang material dan signifikan (apakah karena fraud atau error) akan
ditangani.
 Pendekatan terhadap pengendalian intern yang relevan untuk audit.
 Perubahan signifikan dalam standard akuntansi dan dampak perubahan tersebut.
Peroleh masukan dari TCWG

Suditor meminta masukan yang bias berdampak terhadap rencana auditnya.

 Pembahasan mengenai tujuan dan strategi entitas, komunikasi yang penting dengan
regulator, dan risiko bisnis yang dapat berakibat salah saji yang material.
 Penjelasan mengenai pengawasan umum (oversight) mengenai (i) kecukupan pengendalian
intern, khususnya dalam menangkal fraud; (ii) kompetensi dan integritas manajemen; (iii)
tanggapan terhadap komunikasi terdahulu.
 Hal-hal yang perlu mendapat perhatian auditor.
 Permintaan (khusus) TCWG kepada auditor.
 Hal-hal lain yang bisa berpengaruh terhadap audit atas laporan keuangan.
Temuan Audit yang Signifikan

Kecuali jika ada hal yang berkenaan dengan kompetensi dan integritas manajemen, auditor
memulai pembahasan mengenai masalah audit berkenaan dengan governance (audit matters
of governance interest) terlebih dahulu dengan manajemen. Pembahasan awal ini bertujuan
untuk mengklarifikasi fakta dan masalah, dan untuk memberikan kesempatan kepada
manajemen menyampaikan informasi lebih lanjut.
KASUS
Kasus Audit Kas/Teller
Laporan Fiktif Kas di Bank BRI Unit TapungRaya

Kepala Bank Rakyat Indonesia (BRI) Unit Tapung Raya, Masril (40) ditahan polisi. Ia terbukti
melakukan transfer uang Rp1,6 miliar dan merekayasa dokumen laporan keuangan. Perbuatan tersangka
diketahui oleh tim penilik/pemeriksa dan pengawas dari BRI Cabang Bangkinang pada hari Rabu 23 Februari
2011 Tommy saat melakukan pemeriksaan di BRI Unit Tapung. Tim ini menemukan kejanggalan dari hasil
pemeriksaan antara jumlah saldo neraca dengan kas tidak seimbang. Setelah dilakukan pemeriksaan lebih
lanjut dan cermat, diketahu iadanya transaksi gantung yaitu adanya pembukuan setoran kas Rp 1,6 miliar yang
berasal BRIUnit Pasir Pengaraian II ke BRI Unit Tapung pada tanggal 14 Februari 2011 yang
dilakukanMasril, namun tidak disertai dengan pengiriman fisik uangnya.Kapolres Kampar AKBP MZ
Muttaqien yang dikonfirmasi mengatakan, Kepala BRI Tapung Raya ditetapkan sebagai tersangka dan
ditahan di sel Mapolres Kampar karenamentransfer uang Rp1,6 miliar dan merekayasa laporan
pembukuan.Kasus ini dilaporkan oleh Sudarman (Kepala BRI Cabang Bangkinang dan Rustian

Martha pegawai BRI Cabang Bangkinang. “Masril telah melakukan tindak pidana
membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau laporan maupun dalam
dokumen laporan kegiatan usaha, laporan transaksi atau rekening Bank (TP Perbankan). Tersangka
dijerat pasal yang disangkakan yakni pasal 49 ayat (1) UU No. 10 tahun 1998 tentang perubahan atasUU No.
7 tahun 1992 tentang Perbankan dangan ancaman hukuman 10 tahun,” kata Kapolres.

Polres Kampar telah melakukan penyitaan sejumlah barang bukti dokumen BRI serta melakukan
koordinasi dengan instansi terkait, memeriksa dan menahan tersangka dan 6 orang saksi telah diperiksa dan
meminta keterangan ahli.

Penyelesaian Masalah

1. Skills Kemampuan yang diberikan harus sesuai dengan bidang kerja yang ia lakukan.Kemudian
kemampuan tersebut dikembangkan lebih lanjut untuk meningkatkankontribusi karyawan pada
perusahaan. Perusahaan melakukan pelatihan pendidikan secara periodik kepada karyawan
sesuaidengan perkembangan teknologi yang berkembang.
Pembinaan ini sangatlah penting karena setiap karyawan memiliki kepribadian yangberbeda
jadi attitude ini harus ditekankan kepada karyawan. Dalam hal ini karyawandiharapkan dapat
memiliki kepribadian yang baik sehingga dapat memperkecil resikoterjadinya penyimpangan dari
karyawan itu sendiri.
2. Prosedur Otoritas Yang Wajar
a. Harus ada batas transaksi untuk masing-masing teller dan head teller.
b. Penyimpanan uang dalam khasanah harus menggunakan pengawasan ganda.
c. Teller secara pribadi tidak diperkenankan menerima kuasa dalam bentuk apapundari nasabah
untuk melaksanakan transaksi atas nasabah tersebut.
d. Teller secara pribadi dilarang menerima titipan barang atau dokumen pentingmilik nasabah.
3. Dokumen dan catatan yang cukup
a) Setiap setoran/penarikan tunai harus dihitung dan dicocokan dengan buktisetoran/ penarikan. Setiap
bukti setoran/ penarikan harus diberi cap identifikasiteller yang memproses.
b) Setiap transaksi harus dibukukan secara baik dan dilengkapi dengan buktipendukung seperti Daftar
Mutasi Kas, Cash Register (daftar persediaan uang tunai berdasarkan kopurs/masing-masing
pecahan)
4. Kontrol fisik atas uang tunai dan catatan
a) Head teller harus memeriksa saldo kas, apakah sesuai dengan yang dilaporkanoleh teller.
b) Head tellerharus menghitung saldo uang tunai pada box teller sebelum teller yangbersangkutan
cuti atau seteleh teller tersebut absen tanpa pemberitahuan.
c) Setiap selisih harus diindentifikasi, dilaporkan kepada head teller dan pemimpincabang,
diinvestigasi dan dikoreksi.
d) Selisih uang tunai yang ada pada teller ataupun dalam khasanah harus dibuatkanberita acara
selisih kas.
e) Area teller/ counter/khasanah adalah area terbatas dalam arti selain petugas ataupejabat yang
berwenang, tidak diperbolehkan masuk.
f) Teller dilarang membawa tas, makanan, ataupun perlengkapan pribadi ke counterarea.
5. Pemeriksaan yang dilakukan oleh unit yang independen
a) Setiap hari Unit Kontrol Intern harus memeriksa transaksi-transaksi yang berasaldari unit kas.
b) Secara periodik saldo fisik harus diperiksa oleh SKAI.
c) Pemimpin Cabang melakukan pemeriksaan kas dadakan.
DAFTAR PUSTAKA

Tuanakotta, Theodorus M .2015. Audit Kontemporer. Surabaya, Salemba Empat.


http://sutrisno-amsir.blogspot.com/2013/01/beberapa-contoh-kasus-audit.html?m=1