Anda di halaman 1dari 8

Geger Pacinan (juga dikenal sebagai Tragedi Angke; dalam bahasa Belanda: Chinezenmoord,

yang berarti "Pembunuhan orang Tionghoa") merupakan sebuah pogrom terhadap orang
keturunan Tionghoa di kota pelabuhan Batavia, Hindia Belanda (sekarang Jakarta). Kekerasan
dalam batas kota berlangsung dari 9 Oktober hingga 22 Oktober 1740, sedangkan berbagai
pertempuran kecil terjadi hingga akhir November tahun yang sama.

Keresahan dalam masyarakat Tionghoa dipicu oleh represi pemerintah dan berkurangnya
pendapatan akibat jatuhnya harga gula yang terjadi menjelang pembantaian ini. Untuk
menanggapi keresahan tersebut, pada sebuah pertemuan Dewan Hindia (Raad van Indië), badan
pemimpin Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), Guberner-Jenderal Adriaan Valckenier
menyatakan bahwa kerusuhan apapun dapat ditanggapi dengan kekerasan mematikan.
Pernyataan Valckenier tersebut diberlakukan pada tanggal 7 Oktober 1740 setelah ratusan orang
keturunan Tionghoa, banyak di antaranya buruh di pabrik gula, membunuh 50 pasukan Belanda.
Penguasa Belanda mengirim pasukan tambahan, yang mengambil semua senjata dari warga
Tionghoa dan memberlakukan jam malam. Dua hari kemudian, setelah ditakutkan desas-desus
tentang kekejaman etnis Tionghoa, kelompok etnis lain di Batavia mulai membakar rumah orang
Tionghoa di sepanjang Kali Besar. Sementara itu, pasukan Belanda menyerang rumah orang
Tionghoa dengan meriam. Kekerasan ini dengan cepat menyebar di seluruh kota Batavia
sehingga lebih banyak orang Tionghoa dibunuh. Meski Valckenier mengumumkan bahwa ada
pengampunan untuk orang Tionghoa pada tanggal 11 Oktober, kelompok pasukan tetap terus
memburu dan membunuh orang Tionghoa hingga tanggal 22 Oktober, saat Valckenier dengan
tegas menyatakan bahwa pembunuhan harus dihentikan. Di luar batas kota, pasukan Belanda
terus bertempur dengan buruh pabrik gula yang berbuat rusuh. Setelah beberapa minggu penuh
pertempuran kecil, pasukan Belanda menyerang markas Tionghoa di berbagai pabrik gula. Orang
Tionghoa yang selamat mengungsi ke Bekasi.

Diperkirakan bahwa lebih dari 10.000 orang keturunan Tionghoa dibantai. Jumlah orang yang
selamat tidak pasti; ada dugaan dari 600 sampai 3.000 yang selamat. Pada tahun berikutnya,
terjadi berbagai pembantaian di seluruh pulau Jawa. Hal ini memicu suatu perang selama dua
tahun, dengan tentara gabungan Tionghoa dan Jawa melawan pasukan Belanda. Setelah itu,
Valckenier dipanggil kembali ke Belanda dan dituntut atas keterlibatannya dalam pembantaian
ini; Gustaaf Willem van Imhoff menggantikannya sebagai gubernur jenderal. Hingga zaman
modern, pembantaian ini kerap ditemukan dalam sastra Belanda. Pembantaian ini mungkin juga
menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta.
Latar belakang

Gubernur Jenderal Valckenier memerintahkan agar orang Tionghoa dibunuh.

Pada periode awal kolonialisasi Hindia Belanda oleh Belanda, banyak orang keturunan Tionghoa
dijadikan tukang dalam pembangunan kota Batavia di pesisir barat laut pulau Jawa; mereka juga
bertugas sebagai pedagang, buruh di pabrik gula, serta pemilik toko. Perdagangan antara Hindia
Belanda dan Tiongkok, yang berpusat di Batavia, menguatkan ekonomi dan meningkatkan
imigrasi orang Tionghoa ke Jawa. Jumlah orang Tionghoa di Batavia meningkat pesat, sehingga
pada tahun 1740 ada lebih dari 10.000 orang. Ribuan lagi tinggal di luar batas kota. Pemerintah
kolonial Belanda mewajibkan mereka membawa surat identifikasi, dan orang yang tidak
mempunyai surat tersebut dipulangkan ke Tiongkok.

Kebijakan deportasi ini diketatkan pada dasawarsa 1730-an, setelah pecahnya epidemik malaria
yang membunuh ribuan orang, termasuk Gubernur Jenderal Dirk van Cloon. Menurut sejarawan
Indonesia Benny G. Setiono, epidemik ini diikuti oleh meningkatnya rasa curiga dan dendam
terhadap etnis Tionghoa, yang jumlahnya semakin banyak dan kekayaan yang semakin
menonjol. Akibatnya, Komisaris Urusan Orang Pribumi Roy Ferdinand, di bawah perintah
Gubernur Jenderal Adriaan Valckenier, memutuskan pada tanggal 25 Juli 1740 bahwa warga
keturunan Tionghoa yang mencurigakan akan dideportasi ke Zeylan (kini Sri Lanka) dan dipaksa
menjadi petani kayu manis. Warga keturunan Tionghoa yang kaya diperas penguasa Belanda,
yang mengancam mereka dengan deportasi; Stamford Raffles, seorang penjelajah asal Inggris
dan ahli sejarah pulau Jawa, mencatat bahwa orang Belanda diberi tahu Kapitan Cina (pemimpin
etnis Tionghoa yang ditentukan Belanda) untuk Batavia, Ni Hoe Kong, agar mendeportasikan
semua orang Tionghoa berpakaian hitam atau biru, sebab merekalah yang miskin. Ada pula
desas-desus bahwa orang yang dikirimkan ke Zeylan tidak pernah sampai ke sana, tetapi justru
dibuang ke laut, atau bahwa mereka mati saat membuat kerusuhan di kapal.Ancaman deportasi
ini membuat orang Tionghoa resah, dan banyak buruh Tionghoa meninggalkan pekerjaan
mereka.

Sementara, penduduk pribumi di Batavia, termasuk orang-orang Betawi, menjadi semakin curiga
terhadap orang Tionghoa. Masalah ekonomi ikut berperan; sebagian besar penduduk pribumi
miskin, dan beranggapan bahwa orang Tionghoa tinggal di daerah-daerah terkemuka dan
sejahtera. Biarpun sejarawan Belanda A.N. Paasman mencatat bahwa orang Tionghoa menjadi
"bak orang Yahudi untuk Asia",keadaan sebenarnya lebih rumit. Banyak orang Tionghoa miskin
yang tinggal di sekitar Batavia merupakan buruh di pabrik gula, yang merasa dimanfaatkan para
pembesar Belanda dan Tionghoa. Orang Tionghoa yang kaya memiliki pabrik dan menjadi
semakin kaya dengan mengurus perdagangan; mereka mendapatkan penghasilan dari pembuatan
dan distribusi arak, sebuah minuman keras yang dibuat dari molase dan beras. Namun, penguasa
Belanda yang menentukan harga gula; ini juga menyebabkan keresahan. Sebagai akibat
penurunan harga gula di pasar dunia, yang disebabkan kenaikan jumlah ekspor ke Eropa, industri
gula di Hindia Belanda merugi. Hingga tahun 1740, harga gula di pasar global sudah separuh
dari harga pada tahun 1720. Karena gula menjadi salah satu ekspor utama Hindia Belanda,
negara jajahan itu mengalami kesulitan finansial.]

Pada awalnya, beberapa anggota Dewan Hindia (Raad van Indië) beranggapan bahwa orang
Tionghoa tidak mungkin menyerang Batavia, dan kebijakan yang lebih tegas mengatur orang
Tionghoa ditentang oleh fraksi yang dipimpin mantan gubernur Zeylan Gustaaf Willem baron
van Imhoff, yang kembali ke Batavia pada tahun 1738. Namun, orang keturunan Tionghoa tiba
di luar batas kota Batavia dari berbagai kampung, dan pada tanggal 26 September Valckenier
memanggil para anggota dewan untuk pertemuan darurat. Pada pertemuan tersebut, Valckenier
memerintah agar kerusuhan yang dipicu orang Tionghoa dapat ditanggapi dengan kekuatan yang
mematikan. Kebijakan ini terus ditentang oleh fraksi van Imhoff; Vermeulen (1938)
berpendapat bahwa ketegangan antara kedua fraksi politik ini ikut berperan dalam pembantaian.

Pada tanggal 1 Oktober malam, Valckenier menerima laporan bahwa ribuan orang Tionghoa
sudah berkumpul di luar gerbang kota Batavia; amukan mereka dipicu oleh pernyataannya pada
pertemuan dewan lima hari sebelumnya. Valckenier dan anggota Dewan Hindia lain tidak
percaya hal tersebut. Namun, setelah orang Tionghoa membunuh seorang sersan keturunan Bali
di luar batas kota, dewan memutuskan untuk melakukan tindakan serta menambah jumlah
pasukan yang menjaga kota. Dua kelompok yang terdiri dari 50 orang Eropa dan beberapa kuli
pribumi, dikirim ke pos penjagaan di sebelah selatan dan timur Batavia, dan rencana
penyerangan pun dibuat.

Peristiwa
Pembantaian

Rumah orang Tionghoa dibakar dalam pembantaian ini.

Setelah berbagai kelompok buruh pabrik gula keturunan Tionghoa memberontak, dengan
menggunakan senjata yang dibuat sendiri untuk menjarah dan membakar pabrik, ratusan orang
Tionghoa,, yang diduga dipimpin Kapitan Cina Ni Hoe Kong, membunuh 50 pasukan Belanda di
Meester Cornelis (kini Jatinegara) dan Tanah Abang pada tanggal 7 Oktober. Untuk menanggapi
serangan ini, pemimpin Belanda mengirim 1.800 pasukan tetap yang ditemani schutterij (milisi)
dan sebelas batalyon wajib militer untuk menghentikan pemberontakan; mereka melaksanakan
jam malam dan membatalkan perayaan Tionghoa yang sudah dijadwalkan. Karena takut bahwa
orang Tionghoa akan berkomplot pada malam hari, yang tinggal di dalam batas kota dilarang
menyalakan lilin dan disuruh menyerahkan semua barang, hingga pisau paling kecil sekalipun.
Pada hari berikutnya, pasukan Belanda berhasil menangkis suatu serangan dari hampir 10.000
orang Tionghoa, yang dipimpin oleh kelompok dari Tangerang dan Bekasi, di tembok
kota,Raffles mencatat sebanyak 1.789 warga keturunan Tionghoa meninggal dalam serangan ini.
Untuk menanggapi serangan ini, Valckenier kembali mengadakan pertemuan Dewan Hindia
pada tanggal 9 Oktober

Sementara, gosip mulai tersebar dalam kelompok etnis lain, termasuk budak dari Bali dan
Sulawesi serta pasukan Bugis dan Bali, bahwa orang Tionghoa berencana membunuh atau
memerkosa orang pribumi, atau menjadikan mereka sebagai budak. Untuk mencegah hal
tersebut, kelompok-kelompok ini mulai membakar rumah-rumah milik orang Tionghoa di
sepanjang Kali Besar. Ini disusul oleh serangan Belanda terhadap tempat tinggal orang Tionghoa
di Batavia. Politikus Belanda yang anti-kolonis W.R. van Hoëvell menulis bahwa "wanita hamil
dan yang sedang menyusui, anak kecil, dan para pria gaek jatuh dalam serangan. Tahanan
dibantai seperti domba.

Pasukan di bawah pimpinan Letnan Hermanus van Suchtelen dan Kapten Jan van Oosten,
seorang serdadu Belanda yang selamat dari serangan di Tanah Abang, mengambil posisi di
daerah pecinan: Suchtelen dan pasukannya menempatkan diri di pasar burung, sementara
pasukan van Oosten mendapatkan pos dekat kanal. Sekitar pukul 5.00 sore, serdadu Belanda
mulai menembakkan meriam ke arah rumah orang Tionghoa, sehingga rumah-rumah tersebut
terbakar. Beberapa orang Tionghoa tewas di rumah mereka, sementara yang lainnya ditembak
saat keluar dari rumah atau melakukan bunuh diri. Yang berhasil mencapai kanal dibunuh oleh
pasukan Belanda yang menunggu di perahu kecil. sementara pasukan Belanda lainnya mondar-
mandir di antara rumah-rumah yang sedang terbakar, mencari dan membunuh orang Tionghoa
yang masih hidup. Tindakan ini kemudian tersebar di seluruh kota Batavia. Menurut Vermeulen,
sebagian besar pelaku merupakan pelaut dan unsur masyarakat lain yang "tidak tetap ataupun
baik." Dalam periode ini ada banyak penjarahan dan penyitaan property.

Tahanan Tionghoa dibunuh oleh pasukan Belanda pada tanggal 10 Oktober 1740.

Pada hari berikutnya kekerasan ini terus menyebar, dan pasien Tionghoa dalam sebuah rumah
sakit dibawa ke luar dan dibunuh. Usaha untuk memadamkan kebakaran di daerah Kali Besar
belum membawa hasil; kebakaran itu malam semakin ganas, dan baru padam pada tanggal
12 Oktober. Sementara, sebuah kelompok yang terdiri dari 800 pasukan Belanda dan 2.000
orang pribumi menyerbu Kampung Gading Melati, di mana terdapat orang Tionghoa yang
bersembunyi di bawah pimpinan Khe Pandjang.. Biarpun warga Tionghoa mengungsi ke daerah
Paninggaran, mereka diusir lagi oleh pasukan Belanda. Terdapat sekitar 450 orang Belanda dan
800 orang Tionghoa yang menjadi korban dalam kedua serangan tersebut.

Kekerasan lanjutan

Pada tanggal 11 Oktober, Valckenier menyuruh para opsir Belanda untuk menghentikan
penjarahan, tetapi tidak berhasil. Dua hari kemudian Dewan Hindia menentukan bahwa setiap
orang yang membawa kepala orang Tionghoa akan dihargai dengan dua dukat; hal ini digunakan
untuk memancing suku lain agar mereka ikut membantai orang Tionghoa. Akibatnya, orang
Tionghoa yang selamat dari serangan pertama mulai diburu "bandit" yang menginginkan hadiah
itu. Penguasa Belanda bekerja sama dengan kelompok pribumi di berbagai daerah di Batavia;
grenadir Bugis dan Bali dikirim untuk memperkuat pasukan Belanda pada tanggal 14 Oktober.
Pada tanggal 22 Oktober, Valckenier memerintahkan agar semua pembunuhan dihentikan.
Dalam sehelai surat panjang yang berisi bahwa kesalahan sepenuhnya berada di tangan orang
Tionghoa saat kerusuhan di Batavia, dia mengajak orang Tionghoa untuk berdamai, kecuali
pemimpin pemberontakan; dia mengajukan penghargaan sebanyak 500 rijksdaalder untuk setiap
pemimpin yang dibunuh.

Di luar batas kota terus terjadi pertempuran kecil antara pemberontak Tionghoa dan pasukan
Belanda. Pada tanggal 25 Oktober, setelah hampir dua minggu adanya pertempuran kecil, 500
orang Tionghoa bersenjata berangkat menuju Cadouwang (kini Angke), tetapi dihalau oleh
kavaleri di bawah pimpinan Ridmeester Christoffel Moll serta Kornet Daniel Chits dan Pieter
Donker. Pada hari berikutnya kavaleri itu, yang terdiri dari 1.594 pasukan Belanda dan pribumi,
mendekati markas orang Tionghoa di Pabrik Gula Salapadjang. Di sana mereka berkumpul di
hutan, lalu membakar pabrik yang masih penuh dengan pemberontak Tionghoa; satu pabrik lain
di Boedjong Renje dimusnahkan oleh pasukan Belanda lain. Karena takut pada pasukan
Belanda, orang-orang Tionghoa mengungsi ke pabrik gula lainnya di Kampung Melayu, yang
berjarak empat jam dari Salapadjang; markas ini dimusnahkan oleh pasukan di bawah pimpinan
Kapten Jan George Crummel. Setelah mengalahkan orang Tionghoa, pasukan Belanda kembali
ke Batavia. Sementara, orang Tionghoa, yang mulai dikurung 3.000 prajurit dari Kesultanan
Banten, melarikan diri ke arah timur mengikuti pesisir utara pulau Jawa; pada 30 Oktober
dilaporkan bahwa orang Tionghoa tersebut sudah melewati Tangerang.

Perintah untuk gencatan senjata diterima Crummel pada tanggal 2 November. Dia dan
pasukannya kembali ke Batavia setelah menempatkan 50 penjaga di Cadouwang. Ketika
Crummel tiba di Batavia, sudah tidak ada lagi pemberontak Tionghoa di luar tembok kota.[45]
Penjarahan berlangsung sampai tanggal 28 November, dan pasukan pribumi terakhir
dibebastugaskan pada akhir bulan itu.[40]

Hasil
Van Imhoff dan dua anggota Dewan Hindia lain ditangkap untuk pembangkangan setelah
menantang Valckenier.

Sebagian besar sejarawan mencatat sebanyak 10.000 orang Tionghoa yang berada di dalam kota
Batavia dibunuh, dan 500 lagi mengalami luka berat. Antara 600 dan 700 rumah milik orang
Tionghoa dijarah dan dibakar. Vermeulen mencatat 600 orang Tionghoa yang selamat,
sementara sejarawan Indonesia A.R.T. Kemasang mencatat 3.000 orang yang selamat.
Sejarawan Tionghoa-Indonesia Benny G. Setiono mencatat bahwa sebanyak 500 tahanan dan
pasien rumah sakit dibunuh[ dengan jumlah orang yang selamat sebanyak 3.431. Pembantaian
ini disusul oleh periode yang rawan pembantaian terhadap warga keturunan Tionghoa di seluruh
pulau Jawa, termasuk satu pembantaian lagi di Semarang pada tahun 1741, dan beberapa
pembantaian lain di Surabaya dan Gresik.

Sebagai salah satu syarat untuk berakhirnya kekerasan, yakni semua penduduk Batavia
keturunan Tionghoa dipindahkan ke suatu pecinan di luar batas kota Batavia, yang kini menjadi
Glodok. Ini membuat orang Belanda lebih mudah mengawasi orang Tionghoa. Untuk
meninggalkan pecinan, orang Tionghoa membutuhkan tiket khusus. Namun, pada tahun 1743,
sudah ada ratusan pedagang keturunan Tionghoa yang bertempat di dalam kota Batavia. Orang
Tionghoa lain yang dipimpin oleh Khe Pandjang mengungsi ke Jawa Tengah, di mana mereka
menyerang berbagai pos perdagangan Belanda dan bergabung dengan pasukan di bawah
pimpinan Sultan Mataram, Pakubuwana II. Meskipun perang ini sudah selesai pada tahun 1743.
selama 17 tahun terdapat konflik di Jawa secara terus-menerus.

Pada tanggal 6 Desember 1740 van Imhoff dan dua anggota Dewan Hindia lainnya ditangkap
atas perintah Valckenier dengan tuduhan pembangkangan, dan pada tanggal 13 Januari 1741
mereka dikirimkan ke Belanda dengan kapal yang berbeda; mereka tiba di Belanda pada tanggal
19 September 1741. Di Belanda, van Imhoff meyakinkan Heeren XVII, pemegang saham utama
VOC, bahwa Valckenier yang memicu pembantaian di Batavia, serta menyampaikan pidato
berjudul "Consideratiën over den tegenwoordigen staat van de Ned. O.I. Comp." ("Pertimbangan
atas Keadaan Mutakhir di Hindia Belanda") pada tanggal 24 November. Sebagai akibat dari
pidato itu, van Imhoff dan anggota dewan lain dibebaskan dari semua tuntutan. Pada tanggal
27 Oktober 1742, van Imhoff dikirimkan kembali ke Batavia menggunakan kapal Hersteller
sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru. Ia tiba di Batavia pada tanggal 26 Mei
1743.

Van Imhoff dikirim kembali ke Belanda, tetapi kemudian menjadi Gubernur Jenderal Hindia
Belanda yang baru.

Valckenier sudah diminta digantikan sebagai gubernur jenderal pada akhir tahun 1740, dan pada
bulan Februari 1741 menerima surat yang memerintahkan dia mengangkat van Imhoff sebagai
penggantinya; versi lain ialah bahwa Heeren XVII menggantikan Valckenier sebagai hukuman
atas terlalu banyak gula yang diekspor daripada kopi pada tahun 1739, yang sangat merugikan
VOC. Saat Valckenier menerima surat tersebut, van Imhoff sudah dalam perjalanan ke Belanda.
Valckenier meninggalkan Hindia Belanda pada tanggal 6 November 1741, setelah memilih
Johannes Thedens sebagai penggantinya sampai van Imhoff sudah kembali. Pada tanggal
25 Januari 1742 dia mendarat di Cape Town tetapi ditangkap dan diselidiki oleh Gubernur
Hendrik Swellengrebel atas perintah Heeren XVII. Valckenier dikirim kembali ke Batavia pada
bulan Agustus 1742, di mana ia dipenjarakan di Benteng Batavia, dan tiga bulan kemudian,
digugat atas beberapa tuntutan, termasuk keterlibatannya dalam Geger Pacinan. Pada bulan
Maret 1744, ia dinyatakan bersalah dan dituntut dengan hukuman mati dan harta bendanya disita.
Pada bulan Desember 1744, kasus tersebut dibuka kembali setelah Valckenier membuat
pernyataan yang panjang untuk membela dirinya. Valckenier meminta lebih banyak bukti dari
Belanda, tetapi meninggal dunia dalam kurungan pada tanggal 20 Juni 1751, sebelum
penyelidikan diselesaikan. Hukuman mati dibatalkan pada tahun 1755. Vermeulen berpendapat
bahwa penyeledikan Valckenier tidak adil dan dipicu oleh amarah masyarakat di Belanda. Ini
mungkin diakui secara resmi, sebab pada tahun 1760, putra Valckenier, Adriaan Isaäk
Valckenier, mendapatkan ganti rugi sebanyak 725.000 gulden.

Produksi gula di daerah Batavia turun secara drastis setelah pembantaian, sebab banyak orang
Tionghoa yang dulu mengurus industri tersebut sudah terbunuh atau hilang. Industri tersebut
mulai berkembang lagi setelah Gubernur Jenderal van Imhoff "mengkolonisasi" Tangerang.
Awalnya dia bermaksud agar orang yang berasal dari Belanda untuk bertani di sana; dia
berpendapat bahwa orang Belanda yang sudah ada di Batavia adalah orang malas. Namun, dia
tidak bisa menarik orang baru karena pajak di Hindia Belanda sangat tinggi, maka dia terpaksa
menjual tanah kepada orang Belanda yang ada di Batavia. Pemilik tanah baru ini tidak berkenan
untuk mengerjakan tanah tersebut, maka mereka menyewakan tanah itu kepada orang Tionghoa.]
Produksi meningkat setelah itu, tetapi baru pada dekade 1760-an produksi ada pada tingkat yang
sama dengan tahun 1740; setelah itu, produksi mulai berkurang lagi. Jumlah pabrik gula juga
berkurang. Pada tahun 1710 terdapat 131 buah, tetapi pada tahun 1750 jumlahnya hanya 66
buah.

Pengaruh

William Van Haren

Vermeulen menyebut pembantaian ini sebagai "salah satu peristiwa dalam kolonialisme
[Belanda] pada abad ke-18 yang paling menonjol". Dalam disertasinya, W. W. Dharmowijono
menyatakan bahwa pogrom ini mempunyai peran besar dalam sastra Belanda. Sastra ini muncul
dengan cepat; Dharmowijono mencatat adanya sebuah puisi oleh Willem van Haren yang
mengkritik pembantaian ini (dari tahun 1742) dan sebuah puisi anonim, dari periode yang sama,
yang mengkritik orang Tionghoanya. Raffles menulis pada tahun 1830 bahwa catatan historis
Belanda "jauh dari lengkap atau memuaskan".

Sejarawan asal Belanda Leonard Blussé menulis bahwa Geger Pacinan secara tidak langsung
membuat Kota Batavia berkembang pesat, tetapi membuat dikotomi antara etnis Tionghoa dan
pribumi yang masih terasa hingga akhir abad ke-20. Pada abad yang sama, pembunuhan massal
ini dicatat juga dalam Bahasa Banjar oleh Abdur Rahman di syairnya, Syair Hemop.
Pembantaian ini mungkin juga menjadi asal nama beberapa daerah di Jakarta. Salah satu
etimologi untuk nama Tanah Abang (yang berarti "tanah merah") ialah bahwa daerah itu
dinamakan untuk darah orang Tionghoa yang dibunuh di sana; van Hoëvell berpendapat bahwa
nama itu diajukan agar orang Tionghoa yang selamat dari pogrom lebih cepat menerima amnesti.
Nama Rawa Bangke mungkin diambil dari kata bangkai, karena jumlah orang Tionghoa yang
dibunuh di sana; etimologi serupa juga pernah diajukan untuk Angke di Tambora, Jakarta Barat.