Anda di halaman 1dari 9

TEKNIK PEMBESARAN IKAN COBIA

(Rachycentron canadum) PADA


KERAMBA JARING APUNG DI BALAI
BESAR PENGEMBANGAN BUDIDAYA
LAUT (BBPBL) LAMPUNG

Oleh:
Kelompok 1

SITI NOOR AZIZAH 26010216130091


ALIYA CLARA SYIFA 26010216140093
WINDA BELLA 26010216140072
LEONARDUS HERDI 26010216130096
DIO GILANG 2601021612003
OKVI ALIYAH L. 26010216130113

Dosen Pengampu :
Dr.Ir.Titik Susilowati,M.Si
NIP. 195610071986022001

DEPARTEMEN AKUAKULTUR
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2018
I. PENDAHULUAN

Bagian pendahuluan berisi tiga paragraf, penulis menyampaikan secara


singkat dan jelas, menggunakan bahasa yang mudah dipahami sehingga mudah
dimengerti, pada paragraf pertama penulis menjelaskan mengenai spesies ikan
yang akan digunakan sebagai bahan penelitian, yaitu ikan Cobia. Menjelaskan
bahwa salah satu komoditas ikan laut yang terdapat di Indonesia, yaitu ikan cobia
(Rachycentron canadum). Cobia layak menjadi kandidat ikan budidaya, karena
sifat pertumbuhannya yang cepat, dapat dikembangkan di bak-bak terkontrol
maupun di KJA, serta mempunyai respon yang baik terhadap pakan buatan. Cobia
(R. canadum) merupakan salah satu jenis ikan yang menarik perhatian masyarakat
akuakultur baik di bidang penelitian maupun komersial untuk dibudidayakan,
karena cobia memiliki laju pertumbuhan yang bagus yaitu dapat mencapai 4-6 kg
dalam 1 tahun, memiliki Survival Rate (SR) yang tinggi yaitu sebesar 90%, dan
memiliki nilai Feed Conversion Ratio (FCR) yang baik yaitu berkisar antara 1,6-
1,8. Paragraf kedua menjelaskan mengenai lokasi penelitian dan potensi yang ada
dilokasi tersebut, menjelaskan bahwa Keberhasilan Unit Pelaksana Teknis Balai
Besar Pengembangan Budidaya Laut (BBPBL) Lampung pada akhir tahun 2009
dalam memijahkan secara alami dan keberhasilan dalam menghasilkan larva
menjadi benih, sehingga pengamatan terhadap pertumbuhan Cobia yang
merupakan komoditas unggulan yang belum banyak dikenal di Indonesia ini dapat
dilakukan, khususnya di BBPBL Lampung. Selanjutnya pada paragraf akhir,
penulis menyampaikan tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui teknik
pembesaran ikan cobia (R. canadum) pada keramba jaring apung di BBPBL
Lampung. Dengan dilakukannya Praktek Kerja Lapang di BBPBL Lampung,
diharapkan dapat menambah wawasan mengenai teknik pembesaran ikan cobia
(R. canadum) serta membandingkan dasar teori yang telah dipelajari dengan
penerapan yang ada di lapangan.
II. METODOLOGI

Metode digunakan dalam Praktek Kerja Lapang ini adalah metode


deskriptif, yaitu metode yang menggambarkan keadaan dan kejadian di daerah
tertentu. Parameter yang diukur selama kegiatan pembesaran cobia adalah
pertambahan berat badan, pertambahan panjang, Feed conversion ratio (FCR),
Survival Rate (SR) dan kualitas air. Pengukuran pertumbuhan berat dan panjang
ikan dilakukan dengan cara mengambil beberapa sampel dari ikan yang
dibudidaya. Persamaan yang digunakan dalam perhitungan menurut Steffens
(1989) sebagai berikut:

SGR = lnWt – lnWo : t1 − t0 X 100%

Keterangan :
SGR: Laju pertumbuhan berat spesifik (% perhari)
Wt: Bobot biomassa pada akhir penelitian (gram)
Wo: Bobot biomassa pada awal penelitian (gram)
t1: Waktu akhir penelitian (hari)
t0: Waktu awal penelitian (hari)

Pengukuran FCR dilakukan dengan menghitung perbandingan antara jumlah


pakan yang diberikan selama budidaya dengan selisih berat total ikan akhir dan
berat total ikan pada awal tebar. Persamaan yang digunakan dalam perhitungan
FCR sebagai berikut:

FCR = F : (Wt + D) – Wo

Keterangan :
FCR : Feed Convertion Ratio
F : Jumlah pakan yang diberikan (g)
Wt : Berat ikan pada akhir penelitian (g)
Wo : Berat ikan pada awal penelitian (g)
D : Berat ikan yang mati (g)
Kelulus hidupan atau suvival rate (SR) Perhitungan nilai SR dilakukan
dengan persamaan sebagai berikut:

SR = Nt : No X 100%

Keterangan :
SR: Kelangsungan hidup hewan uji (%)
Nt: Jumlah ikan uji pada akhir penelitian (ekor)
No: Jumlah ikan uji pada awal penelitian (ekor)
III. HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembesaran cobia yang dilakukan di keramba jaring apung menggunakan

benih berukuran berat antara 250–300 g. Benih cobia tersebut didapatkan dari

hasil pembenihan yang dilakukan di BBPBL Lampung dan dipelihara pada bak

penggelondongan volume 3-5 ton sampai dengan tiga bulan atau sampai dengan

berat rata-rata mencapai 250-300 g. Benih ditransportasikan dan ditebar di KJA

pada pagi hari untuk menghindari suhu tinggi dan stres, waktu penebaran benih

ikan yang baik adalah pada pagi atau sore hari karena pada saat itu suhu udara

rendah sehingga tidak menimbulkan stres. Sebelumnya benih diaklimatisasikan

terlebih dulu dengan cara merendam kantong plastik wadah benih yang akan

ditebar di perairan KJA selama 30 menit, hal ini bertujuan agar benih bisa

menyesuaikan dengan suhu lingkungan di KJA.

Pembesaran cobia di BBPBL Lampung, cobia di KJA dibagi menjadi tiga

kategori sesuai ukurannya, yaitu kecil, sedang dan besar. Pada awal kegiatan PKL

ini, cobia yang berukuran kecil sebanyak 105 ekor, sedang 182 ekor, dan besar 88

ekor. Untuk mengetahui pertumbuhan ikan cobia, dilakukan sampling dengan cara

mengambil 5 ekor ikan dari setiap kategori yang telah dibedakan. Dari sampling

tersebut dilakukan pengukuran berat dan panjang ikan. Hasil sampling

menunjukkan pertumbuhan ikan cobia yang baik, yaitu dengan adanya

pertambahan panjang ratarata setiap harinya. Pada ketiga kategori tersebut, ikan

cobia memiliki kecepatan pertambahan panjang yang berbeda dalam waktu 16

hari. Ikan besar memiliki pertambahan panjang rata-rata sebesar 3,3 cm, ikan
sedang sebesar 8 cm, dan ikan kecil sebesar 5 cm. Pengukuran berat ikan cobia

dilakukan bersamaan ketika sampling pengukuran panjang ikan, namun

pengukuran berat ikan cobia dilakukan dengan cara menimbang 5 ekor ikan

sampel dari masing-masing kategori. Setelah didapatkan nilai berat ikan cobia,

kemudian dibagi deng jumlah sampel ikan cobia tersebut.

Hasil sampling pertama didapatkan nilai berat sampel ikan besar 8 kg

dengan asumsi rata-rata berat ikan 1,6 kg. Berat sampel ikan sedang 5 kg dengan

asumsi rata-rata berat ikan 1 kg. Berat sampel ikan kecil 2,5 kg dengan asumsi

rata-rata berat ikan 0,5 kg. Kemudian pada sampling kedua didapatkan nilai berat

sampel ikan besar 9 kg dengan asumsi rata-rata berat ikan 1,8 kg. Berat sampel

ikan sedang 6,5 kg dengan asumsi rata-rata berat ikan 1,3 kg. Berat sampel ikan

kecil 3,5 kg dengan asumsi rata-rata berat ikan 0,7 kg. Untuk mengetahui

kecepatan pertumbuhan ikan cobia, nilai rata-rata hasil sampling tersebut

dikalikan dengan total seluruh ikan cobia yang dibudidayakan. Kemudian

didapatkan asumsi berat total ikan cobia pada sampling pertama yaitu sebesar

375,3 kg dan berat total ikan cobia pada sampling kedua sebesar 465,9 kg. Dari

hasil kedua sampling tersebut (selama 16 hari) diketahui bahwa pertumbuhan

berat rata-rata adalah 5,6625 kg/hari.

Pada awal tebar di bulan Juni 2013 berjumlah 435 ekor hingga Desember

2013 berjumlah 422 ekor. Pada bulan Januari 2014 dilakukan penghitungan lagi

dan diketahui jumlah ikan cobia adalah 375 ekor dan pada bulan Februari 2014

berjumlah 373 ekor. Ikan cobia yang mengalami kematian diakibatkan stres dan

berkurangnya nafsu makan. Dari awal tebar hingga penghitungan terakhir,

diketahui bahwa SR ikan cobia termasuk tinggi, yaitu 85,75 %. Pada pembesaran
cobia di KJA BBPBL Lampung didapatkan hasil penghitungan FCR yaitu sebesar

1,8854. Nilai FCR tersebut sesuai dengan kiasaran yang dinyatakan oleh Benetti

et al. (2010), yaitu cobia memiliki FCR yang berfluktuasi sangat luas antara 1,3

pada tahap juvenil dan 2,2 pada tahap selanjutnya. Secara keseluruhan, FCR cobia

diperkirakan sekitar 1,8 pada usia 8-10 bulan. Nilai FCR yang rendah

menunjukkan efisiensi pakan yang tinggi, sehingga efisiensi pakan yang tinggi

menunjukkan bahwa ikan tersebut memiliki pertumbuhan yang baik. Sampling

dan pemanenan dilakukan dengan cara mengangkat jaring sampai kedalaman

tertentu, kemudian jaring disekat dengan menggunakan bambu supaya ikan

terkumpul di salah satu sisi keramba. Setelah ikan terkumpul, dilakukan sampling

pada ikanikan tersebut. Semua kegiatan pemanenan dan sampling dilakukan pada

waktu pagi hari untuk menghindari suhu tinggi dan stres pada ikan.
IV. PENUTUP

Kesimpulan

Kesimpulannya adalah Cobia dapat dibudidayakan degan baik di KJA


BBPBL Lampung. Pada pembesaran cobia di KJA BBPBL Lampung ada
beberapa aspek yang perlu diperhatikan, yaitu persiapan dan pemasangan jaring,
penebaran benih, pemberian pakan, perawatan dan pengontrolan, pemanenan,
pengangkutan serta penanggulangan hama dan penyakit. Permasalahan yang
sering muncul dalam pembesaran ikan cobia di KJA BBPBL Lampung adalah
kondisi perairan yang tidak menentu yang dapat menyebabkan terjadinya
kematian masal pada ikan cobia.
DAFTAR PUSTAKA

Imron, M.A dan S. Andriyono. 2014. Teknik Pembesaran Ikan Cobia


(Rachycentron Canadum) pada Keramba Jaring Apung di Balai Besar
Pengembangan Budidaya Laut (Bbpbl) Lampung. Researchgate: 1-5.