Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

Mata Kuliah : PSIKOLOGI KEPRIBADIAN

Dosen Pembimbing : - Dr. Siti Murdiana, S.Psi., M.Si., Psikolog


- Rahmat Permadi, S.Psi., M.Psi., Psikolog

JOHN B.WATSON & B.F.SKINNER

Disusun oleh :

KELOMPOK 1

1. A.Diva Zalzabilah E.P 1871042065


2. Andi Alfian Ashari 1871041036
3. Juz Indriani 1771042019

Fakultas Psikologi

Universitas Negeri Makassar

2019
A. TENTANG RADIKAL BEHAVIORISME

Radical behaviorism dimulai dengan penolakan Watson atas metode


psikologi intropeksi karena metode ini menggunakan dasar batin untuk
menjelaskan mengenai tingkah laku. Watson menginginkan untuk membuat
psikologi menjadi ilmu eksperimental sehingga ia secara radikal menghilangkan
segala upaya untuk mempelajari pikiran atau pun hal lain yang tidak dapat di
observasi secara umum atau nyata. Oleh sebab itu B. F Skinner meninggikan
behaviorism sebagai orientasi utama dalam psikologi.
Skinner mengembangkan penguatan atau teori perilaku operan, dengan
mempelajari perilaku organismedalam situasi di mana tindakan mereka berperan
dalam memperolehkeinginan. Istilah behaviorisme radikal dimulai dalam hal teori
Watson sebagai indikator dari pandangan ekstrim Watson. Istilah itu juga berasal
dari penunjukan formal dari pendekatan Skinner tentang ilmu perilaku. Sekarang,
istilah radical behaviorism masih memiliki konotasi yang negatif untuk beberapa
psikolog, tetapi untuk sebagian besar psikolog hanya menunjukkan tingkat
konsistensi dan ketelitian yang tinggi. Dalam chapter ini konseptual sejarah dari
perkembangan behaviorism yang selektif ditelusuri dengan berfokus pada bidang
minat untuk siswa pada kepribadian. Watson dan Skinner tidak melihat diri
mereka sebagai teoretikus kepribadian, melainkan sebagai ilmuwan perilaku yang
mempelajari perilaku yang dapat diamati.

B. JOHN B. WATSON
1. Sejarah John B. Watson
 Masa Kecil Watson: Penderitaan Panjang Ibu, Ayah yang eksplosif
John Broadus Watson lahir di Greenville, South California pada tahun
1878 dan meninggal di New York pada tahun 1958. Watson Adalah anak
dari Emma Roe Watson, dan Pickens Butler Watson.Ibunya adalah seorang
yang bekerja di South California Baptist sebagai mentri teologi, ibunya
berharap, John bisa mengikuti jejaknya untuk berkarir di
kementrian.Pengaruhnya memberikan John ambisi sampai tahun
terakhirnya di Princeton Theological University.
Ayah Watson adalah seorang yang dikenal jahat di South Calfornia.
Dia meninggalkan rumah pada umur 16 tahun untuk menjadi tentara
konfederasi, dimana dia mendapatkan reputasinya dan bekerja sembrono.
Dia seorang peminum alkohol, dia suka marah tiba-tiba dan targetnya
adalah keluarga dan tetangga. Dia tidak menentu, terkadang bersifat kasar,
suami yang susah ditebak, pemarah, dan ayah yang tidak selalu ada untuk
anaknya. Dari perspektif kontemporer, gejala ini membawa kita untuk
menyadari bahwa serangan pascrataumatik telah berkembang saat perang
sipil. Saat John B. Watson lahir, Emma dan Picken adalah orang buangan.
Mereka dijauhi oleh tetangganya karena keagresifan Pickens. Dia gagal
sebagai petani dan memilih menjadi “pengembara”, dimana dia kembali
dalam waktu singkat dan sangat jarang.
Emma Watson memiliki keyakinan kuat yang membantu mengatasiya
secara baik di keadaan susahnya. Dia ingin ingin yang lebih untuk anaknya
daripada memiliki kehidupan yang miskin, sendiri, dan kesulitan.Pada
tahun 1980, dia menjual peternakannya dan pindah beserta keluarganya ke
Greenville, South Carolina, dimana pendidikannya lebih baik dan adanya
peluang ekonomi.
John muda memiliki cara yang berbeda untuk membuat lelucon teman
kelasnya di Greenville. Dia beraksi agresif dan mendapatkan nama “Swats”
untuk kecendrungannya berkelahi dengan penyiksanya dan yang lain. John
ditangkap sekali saat berkelahi dan kali kedua saat memakai senjata api
dalam batas kota. Sebagai biographer Kerry Buckley menyimpulkan, masa
remaja Watson sangat bermasalah.Seperti ayahnya, dia sangat agresif dan
impulsive.
 Tahun Perkuliahan Yang Ambisius
Pada tahun 1894, saat umur 16 tahun, Watson memasuki program
persiapan kuliah di Furman University.Pada saat itu, tidak ada sekolah
umum di South Carolina dan kampus yang menawarkan program “sub-
mahasiswa” untuk mahasiswa yang menunggu untuk melanjutkan
pendidikan mereka. Watson seorang yang cerdas dan remaja yang
ambisius, dan kuliah adalah tujuannya. Meskipun, dia mempunyai kelas
yang rendah dan lulus umur 16 tahun di kelas 22 dari Furman 5 tahun
kemudian. Dia mendapat gelar keduanya yaitu sarjana dan master dari
Universitas.
Biografer Watson menjelaskan bahwa, walaupun dia sangat cerdas, dia
sangat ambivalen menuju sukses.Watson adalah seorang remaja yang
cerdas dan ambisius.“Watson terus menerus berjuang untuk pencapaian dan
persetujuan dari kehormatan”.Sebagai contohnya, Watson dilaporkan
memiliki hubungan dengan salah satu professor psikologi, Gorfon B.
Moore.Moore telah belajar di Universitas Chicago dibawah Filosofer
terkemuka, John Dewey. Menurut Watson, Moore mengatakan di kelasnya
bahwa semua mahasiswa yang kembali di ujian finalnya dengan halaman
dalam urutan terbalik akan gagal kursus. Diluar perlawanannya, Watson
melakukan hal tersebut dan .kelulusannya ditunda satu tahun.
Meskipun memiliki kelas yang buruk, Watson menyusun surat ke
presiden Universitas Chicago dan meminta untuk diterima sebagai
mahasiswa doctor. Dia mendeskripsikan dirinya dengan sangat akurat di
surat sebagai mahasiswa yang miskin tapi bersemangat untuk maju. Dia
sangat mampu untuk mendapatkan surat rekomendasi dari presiden
Universitas Furman dan hasil yang besar atas dukungan pribadi, Watson
dianugerahi beasiswa dari Universitas Chicago. Pelopor radikal
behaviorisme sedang berada di jalannya untuk lulus.
 Watson di Akademik: Menuju Titik Puncaknya
Universitas Chicago tersedia lingkungan yang inteektual dimana
lingkungan yang baru muncul melalui pendekatan experimental untuk
psikologi sangat bermekaran.Watson mengambil kursus dengan Jaacques
Loeb, seorang zoologist yang berpikir bahwa pengetahuan sains sangat
dimengerti dan dikontrol perilaku organismenya. Watson tertarik dan
digenggam idenya oleh Loeb dan experiment psikologi di Chicago.Sebagai
mahasiswa lulusan, dia memulai untuk mengembangkan dan melakukan
serangkaian percobaan perintis yang menyebabkan berkembangnya
behaviorisme radikal.
 Watson yang kurang ajar
Hidup Watson saat di universitas sangat heboh.Dia memperkenalkan
dirinya sebagai seorang yang berani, lelaki muda yang tampan dan
romantic tapi secara pribadi sangat dicuriai sangat intim dimanapun. Dia
berakting sebagai orang yang kurang ajar.Memantulnya hubugannya,
Watson tertarik dengan Mary Ickes, seroang wanita berumur 19 tahun dari
keluarga yang terkemuka.Saudara laki-laki Mary. Harold Ickes, seorang
pengacara yang sukses yang menjadi anggota cabinet Franklin Roosevelt
presidensial, dia menghina Watson dan membuat tidak ada rahasia atas
perasaanya. Harold sangat tidak percaya Watson dan berpikir bahwa dia
seorang yang nakal.
Watson dan Mary menikah diam-diam pada tahun 1903 menghadapi
resiko kakaknya.Mereka tidak lagi hidup bersama pada tahun pertama
karena Harold mencoba untuk memisahkan mereka dan mengirim Mary
untuk tinggal bersama tantenya.Rupanya, Harold berfikir bahwa Watson
dan Mary tidak menikah tapi hanya bertunangan.Seorang gadis muda yang
sebelumnya menolak Watson untuk masuk di hidupnya selama masa
mereka dipisahkan. John d an Mary akhirnya mengadakan upacara
pernikahan secara terang-teranagan pada tahun 1904. Pada waktu yang
sama, dia mengaku bahwa dirinya telah memiliki banyak hubungan
dengan banyak wanita.
Watson menerima doctor di universitas Chicago pada tahun 1903 pada
umur 25 tahun dan menjadi PhD termuda di univeristas itu.4 tahun
selanjutnya Watson bekerja sebagai instruktur di psikologi. Penawaran
keahlian lain datang unuk menjadi pelopor di psikologi behavioral.
Alhasil, dia menerima penawaran dari universitas Johns Hopkins untuk
menjadi guru besar dengan gaji $3,500, sebuah gaji yang besar.Watson
berangkat untuk Johns Hopkins, dimana dia membuat sejarah psikologi
dengan kerja laboratorium dan menulis.Watson siap untuk menyebarkan
kertas pernyataan kelahiran orientasi baru atas radikal behaviorisme.Kertas
ini “psikologi sebagai pandangan behaviorisme” sangat menarik untuk
akademik psikologi dan komunitas intelektual umum lainnya.
 Akhir Karir Watson di Akademi
Di Baltimore, Watson tidak hanya membuat tandadi lapangan
psikologi tapi dia menjadi terlibat salah satu urusan berzinah yang terlalu
banyak, dimana dipublikasikan serta percobaan perceraian yang karirnya
diakhiri oleh John Hapkins.
Beberapa waktu selama 1906-1907, mantan kekasih Watson muncul
kembali di kehidupannya.Kakak iparnya, Harold Pickens, menyewa
seorang detektif yang melaporkan bahwa Watson dilihat bersama wanita
itu.Harold mempengaruhi Mary untuk menceraikan Watson, dan dia
mencoba untuk memecat Watson dari universitas, tapi Harold gagal pada
keduanya berkat intervensi dari salah satu rekan Watson di universitas.
Pada musim salju pada tahun 1919-1920, akan tetapi, terbukti terlalu
skandal untuk universitas. Watson dan asistennya Rosalie Rayner memulai
bekerja pada reaksi kondisi emosi dengan bayi “si kecil Albert B”, pada
serangkaian studi ditakdirkan untuk menambah ketenaran Watson.Watson
dianggap eksperimen ini sebagai demonstrasi bahwa emosi sangat mudah
diakuisisi reflex kondisinya.Tapi reputasi Watson mendekati zenith, dia
dan asistennya menjadi terlibat perzinahan.
Dalam contoh terbaru atas ketidakpercaayan pada Mary, Watson
melampaui apa yang bisa ditolerir pada masyarakat dan komunitasnya.
Perselingkuhannya dengan mahasiswa muda, Rosaline Rayner menjadi
pengetahuan public menyebabkan masuk di Koran. Faktanya bahwa
keluarga Rosalie seorang yang terkemuka di politik dan ekonomi
Baltimore dan Watson seorang professor terkemuka di Johns Hapkins dan
lapangan psikologi sangat mudah untuk menambahkan pakan ternak untuk
keinginan public skandal tersebut. Mary Watson, masih sakit hati dari
suaminya yang lebih dulu memiliki hubungan gelap, mencuri beberapa
surat cinta Watson untuk Rosalie. Hasil perceraian dengan hasil hancurnya
karir Watson di John Hopkins.Mantan koleganya pun menhindarinya.
Setelah perceraian Watson pada tahun 1920, dia menikahi Rosalie
Rayner.Sementara itu, dia terus membangun karir diluar kehidupan
akademiknya. Akhirnya, dia mendapatkan posisi sebagai biro iklan
terkemuka, dimana dia dibawa untuk menanggung intelegen yang sama
dan keuletan bahwa dia terbukti sukses mengganti wajah psikologi. Pada
saat yang sama, dia juga mampu menulis buku psikologi popular dan
artikel yang menjaga namanya sebelum publik dan komunitas akademik.

2. Radikal Behaviorisme John B. Watson


JB. Watson dikenal sebagai pendiri aliran behaviorisme di Amerika
Serikat. Karyanya yang paling dikenal adalah “Psychology as the
Behaviourist view it” (1913). Menurut Watson dalam beberapa karyanya,
psikologi haruslah menjadi ilmu yang obyektif, oleh karena itu ia tidak
mengakui adanya kesadaran yang hanya diteliti melalui metode
introspeksi.

Watson bereaksi terhadap tradisi introspeksi dalam psikologi,


pendekatan yang menekankan pentingnya introspeksi individu ("looking
within") dan kemudian menjelaskan pikiran dan mental.Watson dianggap
setiap pendekatan tersebut menjadi tidak ilmiah dan tidak dapat
diandalkan.di samping itu, Watson sangat kritis dari penekanan Freudian
tambahan pada proses mental yang sadar (Monte & Sollod, 2003).

Bagi Watson, manusia dapat dengan mudah dibentuk dengan


dukungan lingkungan. Watson berusaha menjelaskan bahwa reaksi
emosional yang kuat sebagai rantai asosiasi dengan hubungan kausal dan
stimulus-respon.

Dijelaskan oleh Kuntjojo (2009) Watson berpendapat bahwa


introspeksi merupakan pendekatan yang tidak berguna. Alasannya adalah
jika psikologi dianggap sebagai suatu ilmu, maka datanya harus dapat
diamati dan diukur.Watson mempertahankan pendapatnya bahwa hanya
dengan mempelajari apa yang dilakukan manusia (perilaku mereka)
memungkinkan psikologi menjadi ilmu yang objektif. Watson menolak
pikiran sebagai subjek dalam psikologi dan mempertahankan pelaku
sebagai subjek psikologi. Khususnya perilaku yang observabel atau yang
berpotensi untuk dapat diamati dengan berbagai cara baik pada aktivitas
manusia dan hewan. 3 prinsip dalam aliran behaviorisme:

1. Menekankan respon terkondisi sebagai elemen atau pembangun


pelaku. Kondisi adalah lingkungan external yang hadir di kehidupan.
Perilaku muncul sebagai respon dari kondisi yang mengelilingi
manusia dan hewan.
2. Perilaku adalah dipelajari sebagai konsekuensi dari pengaruh
lingkungan maka sesungguhnya perilaku terbentuk karena dipelajari.
Lingkungan terdiri dari pengalaman baik masa lalu dan yang baru saja,
materi fisik dan sosial. Lingkungan yang akan memberikan contoh dan
individu akan belajar dari semua itu.
3. Memusatkan pada perilaku hewan. Manusia dan hewan sama, jadi
mempelajari perilaku hewan dapat digunakan untuk menjelaskan
perilaku manusia.

Menurut Watson, memanjakan anak-anak merupakan hal yang dapat


merugikan anak di masa belajar dan perkembangannya. Ekpresi dari emosi
positif dan bahkan perasaan peduli dan kasih sayang biasa menjadi
masalah Watson sepanjang hidupnya. (Monte & Sollod, 2003)

Watson juga mempublikasikan kerja kondisional Pavlolv (1927, 1928)


digunakan sebagai kunci ilmu komplek semua tindakan manusia.Watson
mengerti kondisonal klasikal Pavlov secara otomatis dan tanpa
sengaja.Binatang dan manusia bisa memperoleh perilaku yang
dikondisikan tanpa rasa takut, dan menyediakan dengan tepat yang telah
tersusun.Bagaimanapun juga proses menengahi mental seperti belajar
pertanyaan Watson, seperti Pavlov, mempertimbangkan penyimpangan
untuk menjelaskan atau mengerti penyebab perilaku. Ini adalah konsep
Pavlov.

a. Stimulus tak bersyarat (UCS)


Sebelum pengaruh keadaan, peristiwa ini dapat dipercaya dan otomatis
responnya bergerak cepat bahwa sebelum datang memerlukan pengalaman
dengan stimulus.
Ex: air liur ---- kelopak mata (kedipan)
UCS (air liur)  UCR (full kedipan)
1. Respon yang tak Bersyarat (UCR)
Sebelum pengaruh kedaan, perilaku ini biasanya reflex, dan dapat
dipercaya dan otomatis responnya bergerak oleh UCS.
Ex: air liur to eyelid elicits a FULL KEDIPAN
UCS (air liur)  UCR (full kedipan)
2. Stimulus yang bersyarat
Sebelum pengaruh keadaan, CS adalah peristiwa yang netral dan
otomatis respon yang tidak diercaya; tapi tersusun jadi CS mendahului
UCS dengan sepersekian detik untuk nomor percobaan, CS akan
membangkitkan respon bahwa UC menyerupo anticipasi dalam UCS, tapi
dimana dikurangi pada besarnya dan lambatnya waktu respon.
Ex: suara sebelum 20 kali airpuff dan kurangi kecepatan
Untuk 20 kali: CS (suara) + UCS (air liur)  UCR (kedipan)
Lalu 21 selanjutnya: CS (suara)  (mengurangi kedipan)
3. Respon bersyarat
Respon belajar dipercepat oleh antisipasi CS dalam UCS; tapi hanya
CS yang menyerupai UCR reflex karena besarnya dan latensi (waktu
respon) dan dikurangi.
4. Kepunahan
Pemotongan UCS (air liur) saat menyajikan pengulangan CS (suara)
sampai CS tidak lagi dipercepat CR (mengurangi kedipan).Organisme
berhenti berkedip saat suara nada ada.
Kaum behavioris memusatkan dirinya pada pendekatan ilmiah yang
sungguh-sungguh objektif. Kaum behavioris mencoret dari kamus ilmiah
mereka, semua peristilahan yang bersifat subjektif, seperti sensasi,
persepsi, hasrat, tujuan, bahkan termasuk berpikir dan emosi, sejauh kedua
pengertian tersebut dirumuskan secara subjektif. Dasar pemikiran Watson
yang memfokuskan diri lebih proses mental daripada elemen kesadaran,
fokusnya perilaku nyata dan pengembangan bidang psikologi pada animal
psychology dan child psychology adalah pengaruh dari fungsionalisme.
Meskipun demikian, Watson menunjukkan kritik tajam pada
fungsionalisme.
a. Pandangan terhadap belajar
Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus
dan respon, namun stimulus dan respon yang dimaksud harus dapat
diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi walaupun dia mengakui
adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses
belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak
perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang
behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan
ilmu-ilmu lain seperi Fisika atau Biologi yang sangat berorientasi pada
pengalaman empirik semata, yaitu sejauh mana dapat diamati dan diukur.
b. Pandangan Mengenai Kepribadian
Watson dalam Monte dan Sollod (2003) menyatakan bahwa
kepribadian adalah akmuluasi dari aktivitas-aktivitas yang ditemukan atau
diperlihatkan oleh seseorang dan dapat dijadikan informasi yang
reliable.Kepribadian adalah hasil akhir dari kebiasan seseorang.Watson
mengindikasikan system perilaku seseorang ditimbulkan oleh faktor
lingkungan.
3. Kondisioning pada Little Albert
Watson dan istri keduanya melakukan eksperimen dari aplikasi
conditioning dari Pavlov kepada anak yang bernama Albert B. yang
berusia 9 bulan.Selain Albert, unsur lain dalam percobaan ini adalah
seekor tikus putih, lempengan besi, dan palu. Pada awal studi, Albert tidak
menunjukkan rasa takut pada tikus.Dia bahkan mendekati dan berusaha
menyentuhnya.Selama tahap awal eksperimen, ketika Albert melihat tikus
dan berusaha menyentuhnya, eksperimenter mengambil palu dan memukul
lempengan besi yang ada di belakang Albert, sehingga menimbulkan suara
berisik. Dalam merespon suara tersebut, Albert “kaget terhenyak dan
tersungkur ke depan”. Sekali lagi Albert melihat tikus dan berusaha
menyentuhnya, dan sekali lagi saat tangannya hendak menyentuh tikus,
lempengan besi dipukul.Sekali lagi Albert terlonjak dan mulai
merengek.Karena keadaan emosional Albert ini, percobaan dihentikan
selama seminggu sehingga Albert tidak terlalu terganggu (Monte &
Sollod, 2003).
Setelah seminggu, tikus dihadirkan lagi di depan Albert. Kali ini
Albert sangat hati-hati dan mengamatinya dengan cermat.Pada suatu saat,
ketika tikus itu menyetuh tangannya, Albert segera menarik
tangannya.Ada beberapa lagi percobaan penyandingan suara dan tikus dan
akhirnya Albert sangat takut pada tikus.Kemudian, ketika tikus dihadirkan
lagi ke Albert, dia mulai menangis, dan “segera berbalik kearah kiri,
terjatuh, lalu merangkak menjauh dengan cepat.”Juga ditunjukkan bahwa
rasa takut Albert digeneralisasikan ke berbagai macam obyek yang pada
awalnya ridak ditakutinya: kelinci, anjing, kucing, kain sutera, bahkan
rambut putih Watson. Semua ketakutan yang ditunjukkan oleh Albert saat
diberikan stimulus yang hampir mirip (dari segi warna) menunjukkan
ketidaktertarikan dan ketakutan. Dengan hal tersebut, Watson,
menyimpulkan bahwa Albert telah belajar mengenai emosi dengan metor
conditioning dari Pavlov (Monte & Sollod, 2003).
Saat usia 1 tahun, 21 hari atau 31 hari setelah diberikan eksperimen
tersebut. Watson dan istrinya menunjukkan topeng Santa Claus, mantel
bulu, dan tikus putih, reaksi masih tampak tetapi sudah agak
berkurang.Albert juga menunjukkan perilaku thumb-sucking selama masa-
masa stresfull saat eksperimen (Monte & Sollod, 2003). Dari eksperimen
tersebut Watson memberikan kesimpulan yaitu:
1. Freud salah mengenai keutamaan hasrat sekual sebagai motif. Watson,
berpikir bahwa conditioning history Albert setidaknya dapat menjadi
acuan mengenai pembelajaran rasa takut dalam membentuk
perkembangan kepribadian.
2. Phobia dapat dijelaskan menggunakan prinsip conditioning tanpa
adanya hiptesis mengenai ketidaksadaran, harapan, atau konflik. Albert
menunjukkan ketakutan yang agak aneh (phobia) kepada objek yang
berwarna putih atau berbulu karena pengalaman belajarnya (learned
history).

4. Asumsi Dasar dari Radikal BEhaviorisme Watson


a. Evolutionary continuity
Watson berasumsi bahwa perilaku manusia dan hewan tidak
berbeda jenisnya.Perilaku manusia dan perilaku hewan hanya
berbeda pada kompleksitasnya. Seleksi alam membentuk manusia
beradaptasi untuk lingkungan yang lebih kompleks, tapi perilaku
tetaplah perilaku yang sama tidak peduli mengenai organismenya.
b. Reductionism
Watson percaya bahwa semua perilaku manusia dapat dilihat
atau dikurangi (reduce) menjadi substansi yang sederhana.Menurut
pandangan ini, sadar atau tidak sadar, pikiran atau perasaan
menyebabkan perilaku.
c. Determinism
Perilaku tidak pernah secara acak, speontan atau
incidental.Setiap efek perilaku disebabkan oleh lingkungan secara
alami.Semua perilaku yang ditampakkan pernah dipelajari
sebelumnya.
d. Empiricism
Asumsi ini beranggapan bahwa hanya kejadian yang tampak
dan terukur yang berdampak pada organism.Hanya yang termatilah
yang dapat diverifikais secara ilmiah.

PANDANGAN UTAMA WATSON


1. Psikologi mempelajari stimulus dan respons (S-R Psychology).Yang
dimaksud dengan stimulus adalah semua obyek di lingkungan, termasuk
juga perubahan jaringan dalam tubuh.Respon adalah apapun yang
dilakukan sebagai jawaban terhadap stimulus, mulai dari tingkat
sederhana hingga tingkat tinggi, juga termasuk pengeluaran kelenjar.
Respon ada yang overt dan covert, learned, dan unlearned .
2. Tidak mempercayai unsur herediter (keturunan) sebagai penentu
perilaku. Perilaku manusia adalah hasil belajar sehingga unsur lingkungan
sangat penting (lihat pandangannya yang sangat ekstrim menggambarkan
hal ini pada Lundin, 1991 p. 173). Dengan demikian pandangan Watson
bersifat deterministik, perilaku manusia ditentukan oleh faktor eksternal,
bukan berdasarkan akan kebebasan.
3. Dalam kerangka pikiran-tubuh, pandangan Watson sederhana saja.
Baginya, pikiran mungkin saja ada, tetapi bukan sesuatu yang dipelajari
ataupun akan dijelaskan melalui pendekatan ilmiah. Jadi bukan berarti
bahwa Watson menolak pikiran secara total.Ia hanya mengakui tubuh
sebagai obyek studi ilmiah. Penolakan dari kesadar, jiwa atau pikiran ini
adalah ciri utama behaviorisme dan kelak dipegang kuat oleh para tokoh
aliran ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda. [Pada titik ini
sejarah psikologi mencatat pertama kalinya sejak jaman filsafat Yunani
terjadi penolakan total terhadap konsep jiwa dan pikiran. Tidak heran bila
pandangan ini di awal mendapat banyak reaksi keras, namun dengan
berjalannya waktu behaviorisme justru menjadi populer.
4. Sejalan dengan fokusnya terhadap ilmu yang obyektif, maka psikologi
harus menggunakan metode empiris. Dalam hal ini metode psikologi
adalah observasi, kondisioning, testing, dan laporan verbal.
5. Secara bertahap Watson menolak konsep insting, mulai dari
karakteristiknya sebagai refleks yang tidak dipelajari, hanya milik anak-
anak yang tergantikan oleh habits, dan akhirnya ditolak sama sekali
kecuali simple reflex seperti bersin, merangkak, dan lain-lain.
6. Sebaliknya, konsep learning adalah sesuatu yang vital dalam pandangan
Watson, juga bagi tokoh behaviorisme lainnya. Habits yang merupakan
dasar perilaku adalah hasil belajar yang ditentukan oleh dua hukum
utama, recency dan frequency.Watson mendukung conditioning respon
Pavlov dan menolak law of effect dari Thorndike. Maka habits adalah
proses conditioning yang kompleks. Ia menerapkannya pada percobaan
phobia (subyek Albert). Kelak terbukti bahwa teori belajar dari Watson
punya banyak kekurangan dan pandangannya yang menolak Thorndike
salah.
7. Pandangannya tentang memory membawanya pada pertentangan dengan
William James. Menurut Watson apa yang diingat dan dilupakan
ditentukan oleh seringnya sesuatu digunakan/dilakukan. Dengan kata lain,
sejauhmana sesuatu dijadikan kebiasaan. Faktor yang menentukan adalah
kebutuhan.
8. Proses pikiran dan perkataan terkait erat. Thinking adalah subvocal
talking. Artinya proses berpikir didasarkan pada keterampilan berbicara
dan dapat disamakan dengan proses bicara yang ‘tidak terlihat’, masih
dapat diidentifikasi melalui gerakan halus seperti gerak bibir atau gesture
lainnya.
9. Sumbangan utama Watson adalah ketegasan pendapatnya bahwa perilaku
dapat dikontrol dan ada hukum yang mengaturnya. Jadi psikologi adaljah
ilmu yang bertujuan meramalkan perilaku.Pandangan ini dipegang terus
oleh banyak ahli dan diterapkan pada situasi praktis. Dengan
penolakannya pada mind dan kesadaran, Watson juga membangkitkan
kembali semangat obyektivitas dalam psikologi yang membuka jalan bagi
riset-riset empiris pada eksperimen terkontrol.

5. Radikal Behaviorisme dan Psikopatologi


Pandangan Watson mengenai psikoipatologi berfokus pada belajar
pola kebiasaan pengelakan rasa sakit dan nafsu makan. Psikopatologi
anjing di bayangan skenario punya daya tarik pada perangkap pendalilan
Watsonian, atas jenis mental stress yang tidak bisa diamati karena perilaku
“penyakit” anjing. Poin Watson bahwa sejarah kondisioning Watson
membuat penjelasan psikopatologis yang irrelevant.
1. Sudah sangat jelas dari kesediaan Watson untuk menggunakan contoh
binatang atas psikopatologi bahwa kepercayaannya pada kelangsungan
evolusi pada pemakaian perilaku untuk perilaku abnormal maupun
perilaku normal.
2. Suatu aspek dari reduksionisme Watson memberikan contoh pada
pernyataan yang tegas bahwa ada arah hubungan antara anjing belajar
perilaku patologikal dan gejala gejala biologi organik yang
berkembang. Niscaya responnya mencampuri dengan makan yang
normal dan pencernaan memiliki efek yang negatif pada kesehatan
anjing.
3. Watson menyempurnakan determinasinya dengan menujukkan
desakannya bahwa perilaku anjing seutuhnya dapat diterangkan pada
waktu sejarah conditioning. Perilaku itu bertekad dan sah menurut
hukum. Memanipulasi rangkaian stimuli dan respon bisa memproduksi
keluaran yang diinginkan walaupun saat keluaran berisi perilaku
bahwa dipertimbangkan abnormal atau patologikal. Selain itu aplikasi
prinsip conditioning harus juga dapat membuka pembelajaran original
atau mengantinya dengan pembelajaran yang baru.
4. Empirisme Watson menemukan bahwa psikopayologi anjing adalah
tanda beberapa pokok, hipotesis “penyakit mental”. Gejala adalah
perilaku. Tidak ada tanda atas konflik ketidaksadaran. Mereka tidak
menggambarkan apa apa tapi kondisi dibawah perilaku kompleks
belajar. Pengamatan gejala anjing adalah psikopatologi.

C. BURRHUS FREDERIC SKINNER

1. Sejarah Terori B.F. Skinner


Burrhus Frederic Skinner merupakan seorang ahli psikologi Amerika
yang lahir di Susquehanna, Pennsylvania pada tahun 1904 dan meninggal
pada tahun 1990 di Cambridge, Massachusetts. Skinner adalah anak
sulung dari dua bersaudara, adiknya meninggal pada usia 16 tahun.
Ayahnya merupakan seorang pengacara yang mendidik anaknya dengan
etika berperilaku yang diharapkan. Pada tahun 1928, Skinner diterima di
Harvard University dan meraih gelar Ph.D. dalam bidang psikologi pada
tahun 1931.
Skinner adalah salah satu psikolog yang tidak sependapat dengan
Freud. Menurut Skinner meneliti ketidaksadaran dan motif tersembunyi
adalah suatu hal yang percuma karena ketidaksadaran tidak dapat diamati
dengan panca indra. Skinner tidak menerima konsep tentang self-
actualization dari Maslow dengan alasan hal tersebut merupakan ide yang
abstrak. Skinner memfokuskan penelitian tentang perilaku dan
menghabiskan kariernya untuk mengembangkan teori tentang
reinforcement. Dia mempercayai bahwa perkembangan kepribadian
seseorang atau perilaku yang terjadi adalah sebagai akibat dari respons
terhadap adanya kejadian eksternal. Dengan kata lain, kita menjadi seperti
apa yang kita inginkan karena mendapatkan reward dari apa yang kita
inginkan.
Pada tahun 1936, Skinner bersama istrinya Eve Blue pindah ke
Minneapolis untuk bekerja di Departemen Psikologi Universitas
Minnesota. Pada tahun 1990, delapan hari sebelum meninggal dunia
karena penyakit leukimia, Skinner menyajikan makalah pada acara
konvensi Asosiasi Psikologi Amerika di Boston. Dalam ceramah akhirnya,
Skinner mengkritik mengenai gerakan psikologi kognitif yang telah
menyerang pendekatan behaviorisnya dalam mengkaji tingkah laku
manusia.
Menurut pendapat Skinner yang paling penting adalah bahwa perilaku
sepenuhnya dipengaruhi oleh stimmulus saja. Rumus untuk perilaku
adalah B = f (S) artinya suatu perilaku atau respons (R) terjadi sebagai
reaksi terhadap stimulus (S). Teori ini dikenal dengan teori S-R.
Kedua urutan (stimulus sebelum respon) dan hubungan antara
keduanya (jalur sistem saraf otonom) yang "aneh" dalam organisme.
Skinner mengacu pada teori conditioning Pavlov sebagai perilaku
responden untuk menekankan kekakuan hubungan stimulus-respon. Tetapi
perilaku sukarela tidak refleksif, tidak selalu dipicu oleh rangsangan
pendahuluan dan berperan dalam operasi terhadap lingkungan untuk
menghasilkan beberapa efek.

Fitur kunci yang memungkinkan penguat untuk menjadi efektif dalam


membentuk perilaku adalah bahwa stimulus penguat akan bergantung pada
respon tersebut. Berikut tabel mengenai kunci dari konsep penguatan atau
reinforcement(Monte &Sollod, 2003):

Konsep Definisi Contoh


Penguatpos setiap peristiwa stimulus orang tua memuji
itif (Reward) yang memperkuat ketika anak-anaknya
(meningkatkan kemungkinan) berbagi mainan dengan
respon mengikuti adik mereka guna
meningkatkan kesenangan
berbagi saat dewasa.
Penguat setiap peristiwa stimulus kritik tentang menjadi
negatif yang memperkuat "gemuk" dihentikan atau
(bantuan) (meningkatkan kemungkinan) dicegah dengan diet.
respon yang menghilangkan
penguat negatif
Hukuman permusuhan atau stimulus Memukul tangan anak
positif (rasa menyakitkan diterapkan sebagai saat hendak mencapai
sakit) respon untuk mengurangi toples kue menekan respon
frequenksi.Tidak sama dengan anak untuk mencapai
penguat negatif karena perilaku toples kue.
melemah dan menguat dan
hukuman bisa berlanjut selama
perilaku.
Hukuman hukuman mungkin juga menangguhkan
negatif melibatkan penghapusan tunjangan anak sebagai
(menghilangkan penguat positif hukuman karena
imbalan) berbohong.
Kepunahan menghilangkan penguat Menahan untuk
(extinction) sementara subjek membuat memuji anak saat anak
respon diperkuat sebelumnya menunjukkan
sampai probabilitas respon perilakuberbagi bahkan
turun ke tingkat dasar. ketika anak meminta
perhatian untuk itu.
Operant perilaku sukarela yang berjalan, berbicara,
dapat beroperasi pada dan berbagai perilaku
lingkungan untuk membuat manipulatif lainnya.
perubahan penting dalam
menjamin penguatan.
Bentuk "cetakan" final, respon mengendalikan pujian
(shaping) yang kompleks dari "potongan- instruktur meningkatkan
potongan" tanggapan dengan presisi dari siswa karena ia
memperkuat perkiraan yang memandu mobil lurus ke
lebih tepat dari respon akhir depan, menahan pujian
yang diinginkan. dari pendekatan terbaik
terakhir.
Penguatan memberikan penguatan Jadwal Interval:
parsial (jadwal) berdasarkan jadwal sehingga menerima gaji seminggu
tidak setiap respon diperkuat. sekali.
Jadwal dapat mengikuti pola Jadwal rasio:
waktu sehingga penguatan yang salesman auto yang
tersedia hanya setelah internal dibayar dengan jumlah
tertentu, atau jadwal mungkin mobil yang terjual.
didasarkan pada jumlah respon
yang diperlukan sebelum
penguatan tersedia.

Pokok Pemikiran
1. B.F. Skinner meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant
conditioning.
2. Berdasarkan berbagai percobaan pada tikus dan burung merpati Skinner
bahwa unsure terpenting dalam belajar adalah penguatan.
3. Tiga asumsi yang dimiliki Skinner dalam membangun teorinya:
a. Behavior is lauful (perilaku memiliki hukum tertentu)
b. Behavior can be predicted (perilaku dapat diramalkan)
c. Behavior can be controlled (perilaku dapat dikontrol)

2. Dinamika Kepribadian
a. Kepribadian dan belajar
Skinner merupakan salah seorang tokoh psikologi yang sangat peduli
dan tertarik mengenai perubahan tingkah laku. Skinner dengan teori
belajarnya mencari tahu bagaimana individu memiliki perilaku baru,
menjadi lebih terampil, dan menjadi lebih tahu. Kehidupan selalu
dihadapkan dengan lingkungan yang baru, sehingga individu harus belajar
untuk merespon setiap situasi baru, baik memakai respon lama atau respon
yang baru dipelajari.
Skinner mempercayai bahwa kepribadian dapat dipahami dengan
mempertimbangkan perkembangan tingkah laku dalam setiap
hubungannya dengan lingkungan. Cara yang dianggap efektif untuk
mengubah dan mengontrol tingkah laku adalah dengan melakukan
penguatan (reinforcement) yang merupakan suatu strategi yang membuat
tingkah laku tertentu berpeluang untuk terjadi atau tidak terjadi pada masa
yang akan datang. Konsep dasarnya sangat sederhana, yaitu bahwa semua
tingkah laku dapat dikontrol oleh konsekuensi yang mengikuti tingkah
laku tersebut. Manusia dan binatang dapat dilatih untuk melakukan semua
jenis tingkah laku jika semua konsekuensi atau penguatan yang ada di
lingkungan dapat diubah atau diatur sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

 Pengondisian (conditioning), Skinner mengemukakan dua jenis


pengondisian dalam teorinya, yaitu pengondisian klasik (classical
conditioning) dan pengondisian operan (operant conditioning).
 Classical conditioning, yaitu suatu stimulus netral dipasangkan
beberapa kali dengan suatu simulus yang tidak dikondisikan hingga
mampu membawa sebuah respon yang sebelumnya tidak dikondisikan
menjadi respon yang terkondisi. Contohnya, seperti tingkah laku
refleks, karena respon tidak dipelajari, tidak bersifat sukarela, dan
bersifat umum. Namun, classical conditioning tidak hanya dapat
dilakukan pada refleks sederhana. Classical conditioning juga dapat
bertanggungjawab atas pembelajaran manusia yang lebih kompleks,
seperti untuk mengatasi fobia, ketakutan, dan kecemasan. Hal yang
paling penting dalam classical conditioning adalah dalam membuat
pasangan dari stimulus yang dikondisikan dengan stimulus yang tidak
dikondisikan hingga kehadiran stimulus yang dikondisikan cukup
untuk menimbulkan stimulus yang tidak dikondisikan.
 Operant conditioning, yaitu bentuk belajar yang menekankan respon-
respon atau tingkah laku yang sukarela dikontrol oleh konsekuen-
konsekuennya. Proses operant conditioning dijelaskan oleh Skinner
melalui eksperimennya terhadap tikus yang dikenal dengan Skinner
Box. Tikus yang dimasukkan ke dalam kotak tidak diberi makan untuk
beberapa waktu, sehingga tikus tersebut merasa lapar. Tikus tersebut
bertingkah laku secara spontan dan acak, dia menjadi aktif,
mendengus, mendorong, dan mengeksplorasi lingkungannya. Tingkah
laku ini bersifat sukarela (emitted) tidak dirangsang (elicited), dalam
arti respon tikus tersebut tidak dirangsang oleh stimulus tertentu dari
lingkungannya.

Setelah beberapa lama beraktivitas, tikus tersebut secara kebetulan


menekan pengungkit yang terletak pada salah satu sisi kotak, yang
menyebabkan makanan jatuh ke dalam kotak. Makanan tersebut menjadi
penguat (reinforcer) bagi tingkah laku tikus menekan pengungkit. Tikus
tersebut mulai menekan pengungkit dalam frekuensi yang lebih sering
karena menerime lebih banyak makanan. Tingkah laku tikus sekarang
berada di bawah kontrol reinforcement. Kegiatannya sekarang tidak lagi
bersifat spontan atau acak, tetapi lebih banyak menghabiskan waktunya
untuk menekan pengungkit dan kemudian makan.
Berdasarkan eksperimennya, Skinner berkesimpulan bahwa operant
conditioning lebih banyak membentuk tingkah laku daripada classical
conditioning karena kebanyakan respon-respon lebih bersifat disengaja
daripada yang bersifat refleks. Skinner menjelaskan bahwa organisme
cenderung mengulangi respon yang diikuti oleh konsekuen (dampak) yang
menyenangkan, dan mereka cenderung tidak mengulang respon yang
berdampak netral atau tidak menyenangkan.
1. Pembentukan (shaping)

Pembentukan (shaping) yaitu suatu prosedur yang terjadi ketika


peneliti atau lingkungan menilai respon secara kompleks dan
kemudian menilainya lebih dekat lagi hingga akhirnya dapat
memperkuat respon akhir yang diinginkan. Sebagai contoh, seorang
ayah yang melatih anaknya untuk mengendarai mobil. Ketika anak
tersebut sudah mampu mengendarai mobil dengan lurus, ayahnya
memberikan pujian, dan pujian tersebut terus diberikan jika
kemampuan anaknya mengendarai mobil terus meningkat hingga
akhirnya anak tersebut mahir mengendarai mobil. Dalam kasus ini,
pujian terus menerus diberikan agar hasil akhir yang diharapkan, yaitu
mampu mengendarai mobil, dapat tercapai.

2. Penguatan (reinforcement)
Menurut Skinner, penguatan (reinforcement) memiliki dua
tujuan, yaitu untuk memperkuat perilaku dan untuk memberikan
penghargaan pada individu. Setiap perilaku yang meningkatkan
kemungkinan untuk bertahan hidup cenderung akan diberi penguatan,
sama halnya dengan perilaku yang dapat mereduksi atau menghindari
setiap kondisi yang bersifat merusak kemampuan spesies untuk
bertahan hidup juga akan diberi penguatan. Maka dari itu, Skinner
mengemukakan dua jenis reinforcement, yaitu:
a. Positive reinforcement
Positive reinforcement yaitu setiap stimulus yang dapat
meningkatkan kemungkinan suatu perilaku untuk diulangi.
Positive reinforcement merupakan stimulus yang cenderung
disenangi, sehingga selalu diusahakan agar stimulus tersebut
muncul. Sebagai contoh, orang tua yang memberikan pujian
ataupun permen kepada anak-anaknya karena saling berbagi
mainan. Jika hal tersebut selalu dilakukan, maka akan
meningkatkan perilaku anak-anaknya untuk dapat tetap saling
berbagi di masa depan.
b. Negative reinforcement
Negative reinforcement yaitu setiap stimulus yang dapat
memungkinkan suatu perilaku terjadi direduksi atau dihilangkan.
Sebagai contoh, seorang gadis yang selalu diejek gemuk oleh
temannya, maka gadis tersebut berusaha agar ejekan tersebut
dapat dicegah atau dihentikan dengan melakukan diet.

3. Penghukuman (punishment)
Skinner mengemukakan dua bentuk dari punishment, yaitu:
a. Positive punishment yaitu pemberian stimulus yang bersifat tidak
menyenangkan untuk menurunkan frekuensi atau menghilangkan
suatu respon.Positive punishment tidak sama dengan negative
reinforcement karena suatu perilaku melemah bukan menguat.
Sebagai contoh, orang tua yang menepis tangan anaknya yang
ingin meraih sebuah toples kaca akan melemahkan perilaku anak
untuk meraih toples tersebut.
b. Negative punishment yaitu pemberian hukuman yang melibatkan
penghapusan positive reinforcement. Sebagai contoh, orang tua
yang tidak memberikan uang jajan kepada anaknya sebagai
hukuman karena telah berbohong.

3. Tingkah Laku Kontrol

Prinsip dasar pendekatan skinner adalah tingkahlaku disebabkan dan


dipengaruhi oleh variabel eksternal. Tidak ada sesuatu dalam diri
manusia, tidak ada bentuk kegiatan internal, yang mempengaruhi
tingkahlaku. Namun betapapun kuatnya stimulus dan penguat eksternal,
manusia masih dapat mengubahnya memakai proses kontrol diri (self
control). Tingkah laku tetap ditentukan oleh variabel luar, namun dengan
memakai cara kontrol diri berikut, pengaruh variabel itu dapat diperbaiki-
diatur atau dikontrol:

a. Memindah / Menghindar (Removing/Avoiding)

Menghindar dari situasi pengaruh atau menjauhkan situasi


pengaruh sehingga tidak lagi diterima sebagai stimulus. Pengaruh
buruk teman sebaya yang jahat dihilangkan dengan menghindar atau
menjauh dari pergaulan dengan mereka. Orang yang diet, membuang
semua manisan sehingga tidak merangsang dirinya untuk menyantap.

b. Penjenuhan (Satiation)

Membuat diri jenuh dengan suatu tingkah laku, sehingga tidak


lagi bersedia melakukannya. Seoarang perokok menghisap rokok
secara terus menerus berlebihan, sampai akhirnya menjadi jenuh,
sigaret dan pemantik api tidak lagi merangsangnya untuk menghisap
rokok.

c. Stimuli yang tidak disukai (Aversive stimuli)

Menciptakan stimulus yang tidak menyenangkan yang


ditimbulkan bersamaan dengan stimulus yang ingin dikontrol.
Pemabuk yang ingin menghidari alkohol atau orang yang melakukan
diet, mengumumkan keinginannya kepada teman disekitarnya. Setiap
kali ia minum alkohol atau ngemil dia akan menanggung resiko
dikritik lingkungan dan malu akan kegagalannya.

d. Memperkuat diri (Reinforce Oneself)

Memberi reinforsemen kepada diri sendiri, terhadap prestasi


dirinya. Janji untuk memberi celana baru atau nonton film (dengan
uang tabungan sendiri) kalau ternyata dapat belajar dan prestasi.
Kebalikan dari memperkuat diri adalah menghukum diri (self
punishment), bisa berwujud mengunci diri dalam kamar sampai
memukulkan kepala ke dinding berulang kali.

4. Organisme Manusia
Menurut Sinner (1987) perilaku manusia dan kepribadian manusia
dibentuk oleh tiga kekuatan : (1) seleksi alam, (2) praktik budaya, (3)
sejarah seseorang atas penguatan yang diterimanya. Akan tetapi, pada
akhirnya seleksi alam, sejak pengondisian operan adalah suatu proses yang
berevolusi dan praktik budaya menjadi aplikasi spesialnya.
a. Seleksi Alam
Kepribadian manusia adalah hasil dari sejarah evolusi yang
panjang. Sebagai individu, perilaku kita ditentukan oleh komposisi
genetis dan terutama oleh sejarah pribadi kita atas penguatan yang
diterima. Akan tetapi sebagai spesies kita dibentuk oleh faktor-faktor
dari kemampuan bertahan hidup, Seleksi alam mempunyai peranan
penting dalam kepribadian manusia.
Perilaku yang bersifat menguatkan cenderung akan diulangi yaitu
yang tidak cenderung mengutkan akan dibuang. Serupa dengan hal
tersebut, perilaku yang sepanjang sejarah telah bermanfaat untuk suatu
spesies akan bertahan, sementara yang menguatkan hanya untuk orang-
orang tertentu cenderung akan dibuang. Sebagai contoh, seleksi alam
lebih condong pada seseorang yang pupil matanya akan berdilatasi dan
berkontraks dengan perubahan percahayaan. Kemampuan superior
yang membuat mereka dapat melihat di siang dan malam hari,
membantu mereka menghindari bahaya yang mengancam hidup
mereka dan untuk bertahan hidup sampai usia reproduksi mereka.
Serupa dengan hal tersebut, bayi yang ke arah dimana pipinya dielus
dengan lembut, dapat menghisap sehingga meningkatkan
kemungkinannya untuk bertahan hidup dan kemungkinan untuk
karateristik rooting ini diturunkan pada anak-anaknya. Hal tersebut
adalah adalah dua contoh atau beberapa reflex yang menjadi
karateristik bayi manusia saat ini. Beberapa reflex seperti reflex pupil,
terus mempunyai nilai kemampuan bertahan hidup, sementara yang
lainnya seperti reflex rooting mempunyai manfaat yang semakin
berkurang.
Walaupun seleksi alam membantu beberapa perilaku manusia,
namun seleksi alam memungkinkan hanya bertanggung jawab atas
sebagian kecil dari tindakan manusia. Skinner (1989) menyatakan
bahwa faktor-faktor dari penguatan, terutama yang telah membentuk
budaya manusia, menjelaskan kebanyakan dari perilaku manusia.

b. Evolusi Budaya
Skinner lebih suka mengelaborasikan secara penuh pada
kepentingan budaya dalam pembentukan perilaku manusia. Seleksi
bertanggung jawab atas praktik budaya yang telah bertahan
sebagaimana seleksi memiliki peranan kunci dalam sejarah evolusi
manusia dan juga faktor-faktor dari penguat.
Sisa-sia budaya, seperti juga dari seleksi alam tidak semuannya
bersifat adaptif. Sebagai contoh, divisi pekerja yang muncul dari
revolusi industry telah membantu masyarakat untuk memproduksi
lebih banyak barang, namun hal tersebut mengarah pada pekerjaan
yang tidak lagi menguatkan secara langsung. Contoh lain adalah
peperangan, ketika dalam dunia pra-industrisasi memberikan manfaat
bagi beberapa masyarakat, namun saat ini telah berubah menjadi suatu
ancaman bagi keberadaan manusia.

c. Kondisi Internal
Walaupun menolak penjelasan dari perilaku yang ditemukan
dalam konstruk hipotesis yang bersifat tidak dapat diobservasi, Skinner
tidak menyangkal adanya kondisi internal seperti perasaan cinta,
kecemasan atau ketakutan. Kondisi internal dapat dipelajari sama
perilaku lainnya namun tentu saja observasi mereka terbatas.
 Kesadara Diri
Skinner (1974) yakin bahwa manusia tidak hanya mempunyai
kesadaran, tetapi juga mengetahui atau menyadari kesadaran mereka
tersebut. Mereka tidak hanya mengobservasi stimulus eksternal, tetapi
juga sadar bahwa mereka sedang mengobservasi stimulus tersebut.
Perilaku adalah suatu fungsi dari lingkungan dan bagian
dari lngkunga yang berada di dalam seseorang. Bagian kehidupan ini
adalah khusus milik seseorang sehingga bersifat personal. Setiap orang
secara bersifat subyektif sadar akan pikiran, perasaan, ingatan dan
intensinya.
 Dorongan
Dari sudut pandang behaviorisme radikal, dorongan bukanlah
penyebab dari perilaku namun lebih merupakan suatu penjelasan fiktif.
Bagi Skinner (1953), dorongan hanya merujuk pada dampak
kekurangan dari pemuasan atas sesuatu dan pada probobalitas yang
berkaitan dengan sesuatu yang akan direspon oleh organism. Untuk
membuat seseorang kekurangan makanan akan
meningkatkankemungkinan untuk makan, untuk memuaskan seseorang
akan menurunkan kemungkinan tersebut.
Akan tetapi, kondisi kekurangan dan puas bukanlah satu-satunya
yang berkorelasi dengan perilaku makan. Faktor-faktor lain yang
meningkatkan atau menurunkan kemungkinan seseorang untuk makan
adalah rasa lapar yang diobservasi secara internal, ketersediaan
makanan dan pengalaman terdahulu dengan penguatan perilaku berupa
makanan.
 Emosi
Skinner (1974) mengenali keberadaan subyektif dari emosi,
namun ia bersikeras bahwa perilaku tidak dapat diatribusikan pada
emosi. Ia menjelaskan emosi melalui faktor-faktor dari kemampuan
bertahan hidup dan faktor-faktor penguatan. Sepanjang millennium,
seseorang yang mempunyai kecenderungan kuat terhadap rasa takut
ataupun kemarahan adalah mereka yang berhasil selamat atau meraih
kemenangan atas suatu kondisi berbahaya, sehingga mampu
menurunkan karateristik ini pada keturunannya. Pada level
perseorangan perilaku yang diikuti oleh rasa senang, kegembiraan,
kenikmatan dan emosi-emosi menyenangkan lainnya cenderung akan
mendapat penguatan, sehingga meningkatkan kemungkinan perilaku
ini akan terulang dalam kehdupan orang tersebut.
 Tujuan dan Intensi
Skinner (1974) juga mengenali konsep tujuan dan intense, namun
sekali lagi, ia memperingatkan untuk tidak mengatribusikan perilaku
pada kedua konsep tersebut. Tujuan dan intense ada dalam diri
seseorang. Namun tidak dapat diteliti secara langsung dari luar. Tujuan
yang terasa dan sedang dilakukan dengan sendirinnya mungkin bersifat
menguatkan. Sebagai contoh, seseorang dapat memiliki intense untuk
menonton film pada jumat sore karena menonton film yang serupa
telah memberikan efek yang menguatkan. Pada saat orang tersebut
ingin pergi menonton film, ia merasakan kondisi fisik dari dalam
dirinnya dan memberikan label “intense”. Oleh karena itu, apa yang
disebut intesi atau tujuan adalah stimulus yang terasa secara fisik dari
dalam orgamnisme dan bukan suatu peristiwa mental yang
bertanggung jawab atas suatu perilaku. Konsekuaensi dari perilaku
operan bukanlah untuk apa perilaku tersebut sekarang,
konsekuensinnya keduannya hamper sama dengan konsekuensi yang
telah terbentuk dan mempertahankannya.
DAFTAR PUSTAKA

Kuntjojo, (2009).Handout Psikologi Kepribadian Jurusan Psikologi Pendidikan


dan Bimbingan.Universitas Nusantara PGRI Kediri.

Monte C.F. & Sollod, R.N. (2003).Benaeath the Mask An Introduction to


Theories of Personality. USA: John Wiley & Sons Inc.

Jess Feist and Gregory J. Feist.Theories of Personality. New York: McGraw Hill.

L. Atkinson,Rita, Richard C. Atkinson.1983. Pengantar Psikologi.


Jakarta:Erlangga

Friedman, H. S., & Schustack, M. W. (2008). Kepribadian: Teori klasik dan riset
modern (Edisi Ketiga). Jakarta: Erlangga

Yusuf, S., & Nurihsan, A. J. (2007). Teori kepribadian. Bandung: Remaja


Rosdakarya.

M.A, Sumanto. (2014). Psikologi Umum. Jakarta: PT. Buku Seru

Wiji suwarno. 2006. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.Jogjakarta: Ar-ruzz Media.

Heri Rahyubi. 2012. Teori-teori Belajar dan Aplikasi Pembelajaran Motorik.


Bandung: Referens.