Anda di halaman 1dari 74

METODE PELAKSANAAN

PEKERJAAN : PERLUASAN APRON, PEMBUATAN TALUD,


PEMBUATAN TURNING AREA, PEMBUATAN DAN
PELEBARAN

LOKASI : BANDAR UDARA SANGIA NIBANDERA - KOLAKA

TAHUN ANGGARAN : 2019

A. UMUM

Metode pelaksanaan dalam melaksanakan pekerjaan adalah


merupakan suatu hal yang wajib bagi setiap pelaksana pekerjaan
untuk mengerjakan kegiatan tersebut agar memudahkan Project
Manager dalam menyikapi setiap tantangan maupun hambatan yang
terjadi dala masa pelaksanaan.

Hal – hal yang perlu diperhatikan dan menjadi pertimbangan , dalam


menyusun suatu metode pelaksanaan antara lain meliputi :

1) Bahan / material yang digunakan


2) Tenaga kerja yang diperlukan, baik tenaga lokal maupun
tenaga yang didatangkan / tenaga terampil ( skill labour )
3) Alat dan peralatan yang tepat digunakan,
4) Faktor cuaca yaitu memanfaatkan hari-hari kerja yang efektif
dalam pelaksanaan pekerjaan.

Setelah Kami mempelajari isi Dokumen lelang ( gambar dan


spesifikasi teknis ) serta penjelasan dari panitia saat aanwijzing,
maupun dari peninjauan Kami ke lokasi, ada beberapa hal yang
menjadi perhatian dan pertimbangan kami dalam menyusun langkah-
langkah metode pelaksanaan dalam pekerjaan ini.
B. METODE PELAKSANAAN

Ada 10 tahapan kegiatan utama dalam pelaksanaan pekerjaan


“PERLUASAN APRON, PEMBUATAN TALUD, PEMBUATAN TURNING
AREA, PEMBUATAN DAN PELEBARAN” yaitu :

1. TAHAP I ( PEKERJAAN PERSIAPAN AWAL )


2. TAHAP II ( PEKRJAAN PERLUASAN APRON )
3. TAHAP III ( PEKERJAAN PERLUASAN TAXIWAY A TERMASUK
FILLET )
4. TAHAP IV ( PEKERJAAN PERLUASAN TAXIWAY B TERMASUK
FILLET )
5. TAHAP V ( PEKERJAAN KONSTRUKSI TURNING AREA 3.000
M2 )
6. TAHAP VI ( PEKERJAAN PEMBUATAN BOX CULVERT )
7. TAHAP VII ( PEKERJAAN RABAT BETON DAN PEMBUATAN
TALUD PENAHAN TANAH )
8. TAHAP VIII ( PEKERJAAN MARKING )
9. TAHAP IX ( PEKERJAAN PENGADAAN TAXIWAY EDGE DAN
APRON LIGHT )
10. TAHAP X ( PENGADAAN TURNING AREA LIGHT )

Adapu uraian penejelasan tiap-tiap tahap pekerjaan yaitu :

I. TAHAP I ( PEKERJAAN PERSIAPAN AWAL )

Pada tahap ini ada 3 ( Tiga ) kegiatan pekerjaan utama yang harus
dilakukan oleh Kami meliputi :

 Pekerjaan pengukuran sebelum dan Sesuda Termasuk


Pembuatan Profil Design dan As Build Drawing

Sebelum memulai kegiatan, terlebih dahulu Kami akan


melakukan pengukuran awal lokasi pekerjaan. Untuk itu
Kami akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut :

1) Pertama-tama Kami akan membuat proposal metoda


pengukuran yang akan Kami laksanakan dimana
metoda tersebut akan mengikuti standard
internasional.
2) Proposal metoda pengukuran yang Kami buat ,
kemudian diajukan kepada Pejabat Pembuat
Komitmen untuk diperiksa oleh Konsultan Pengawas
dan Direksi Teknis.
3) Setelah diperiksa dan disetujui, selanjutnya Kami
akan memulai pelaksanaan pengukuran awal.
4) Dalam pelaksanaan pengukuran ada beberapa hal
yang harus diperhatikan selama pelaksanaan
pengukuran yaitu :

a. Transverse Survey

Semua ukuran dimulai dan berakhir pada


bench mark yang pertama

- Triangle Survey adopting a traverse


method harus digunakan untuk
menentukan titik awal untuk setiap
pengukuran area.
- Sudut horizontal harus diukur 3 kali
untuk kedua arah jarum jam dan
berlawanan jalur jam dan sudut yang
dipakai adalah rata-rata dari enam
pembacaan.

Pengukuran jarak harus dilakukan dua kali


, rata-rata dari dua pengukuran yang
diambil sebagai ukuran jarak. Hal ini
apabila dua ukuran tersebut tidak berbeda
melebihi toleransi standard.
Kesalahan angular dan linier akhir tidak
akan melebihi ketentuan standard.

b. Levelling Survey

Levelling Survey dimulai dan berakhir pada


bench mark yang permanen
Toleransi kesalahan akhir tidak boleh
melebihi 10√D dalam satuan mm, dimana D
adalah jarak loop ( loop distance )
Akurasi peralatan harus dalam batas-batas
toleransi spesifikasi produsen /pabrik
peralatan

c. Centerline Survey and Profil Levelling

Kami akan memasang patok, paku untuk


memudahkan penentuan lokasi dari titik
awal dan levelling pada setiap interval 20
m sepanjang centerline dari area
pengukuran.
Semua elevasi dari titik-titik ini dan titik-
titik yang mengalami perubahan elevasi,
tepi perkerasan dan bangunan sepanjang
Cross Section Levelling harus tercatat.

d. Cross Section Levelling

Cross Section Levelling harus dilaksanakan


tegak lurus terhadap arah center line yang
telah ditentukan untuk setiap pengukuran
kawasan pada setiap interval 3 m
sepanjang centerline
Sepanjang arah tegak lurus centerline
elevasi/level harus diukur setiap interval 5
m dan setiap perubahan titik/point tepi
perkerasan , struktur lain seperti drainase ,
pagar dan lain-lain

5) Setiap interval 500 maka dibuatkan bench mark


sementara. lokasi dan penentuan bench mark
sementara ditentukan setelah mendapat persetujuan
dari direksi teknis dan konsultan pengawas.
6) Pengukuran dilakukan bersama Konsultan Pengawas
dan Direksi Teknis, dari mulai Sta. Awal sampai Sta
Akhir.
7) Setelah pengukuran selesai selanjutnya data hasil
pengukuran akan diolah dan dituangkan dalam
bentuk gambar kerja ( shop drawing )
8) Data pengukuran selanjutnya diketik dan
ditandatangani oleh pengawas lapangan yang berisi
item-item :

 Nama dan Koordinat dari Bench mark yang


digunakan sebagai titik acuan untuk pertalian
dan titik utama
 Perhitungan ketidakcocokan evaluasi antara
elevasi point utama awal dan elevasi point
utama akhir.
 Nama dan type peralatan yang dipakai
 Ukuran panjang polygon
 Metode perhitungan sudut dan koreksi
polygon
 Lokasi peta dan uraian benchmark harus
disampaikan dalam gambar
 Semua sketsa lapangan dan hasil perhitungan
 Koordinat dan elevasi dari titik kritis /utama
dan kemiringan elevasi pada titik pertemuan
selama pelaksanaan survey lapangan termasuk
titik awal dan titik akhir area survey

9) Selama satu minggu, sesudah pelaksanaan


pengukuran selesai, kami akan menyampaikan
gambar blue print 3 set ke Konsultan Pengawas dan
direksi teknis untuk pengecekan dan
persetujuan/approval
10) Setelah mendapatkan persetujuan dari Konsultan
Pengawas dan Direksi Teknis, Kami akan
menyampaikan gambar topografi hasil pengukuran
hasil pengukuran ke Konsultan Pengawas dan
Direksi Teknis sebanyak 5 set blue print dan 1 set
asli kalkir.
11) Lima set gambar blue print topografi dijilid dengan
rapi dengan cover yang mendapat persetujuan dari
Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis
12) Setelah mendapat persetujuan dari Direksi Teknis
dan Konsultan Pengawas, selanjutnya Kami akan
menyediakan patok dari Kayu Kaso ukuran 4/6 cm
tinggi 200 cm atau sesuai kebutuhan dicat warna
putih hitam tiap satu KM diperlukan 80 buah patok.

 Mobilisasi
Setelah pengukuran awal selesai, selanjutnya akan
dilakukan mobilisasi lapangan yaitu Kami akan melakukan
mobilisasi peralatan, bahan dan tenaga sesuai dengan syarat
yang telah ditentukan dan diawasi oleh Konsultan Pengawas
dan Direksi Teknis.

Mobilisasi disini dapat dibagi dalam 4 ( empat ) kelompok


yaitu :

a. Mobilisasi personil tenaga inti pelaksana


b. Mobilisasi Material
c. Mobilisasi Tenaga Kerja
d. Mobilisasi Peralatan

Adapun uraian penjelasan mobilisasi dalam 4 ( Empat )


kelompok yaitu :

a. Mobilisasi personil tenaga inti pelaksanaan akan


dilakukan sebelum pekerjaan dimulai sampai masa
persiapan selesai. Hal ini dimaksudkan untuk
memudahkan pelaksana pekerjaan dalam menyusun
planning kerja, setelah terlebih dahulu mengenal
lapangan dan melakukan identifikasi terhadap
kemungkinan permasalahan yang timbul nantinya selama
waktu definitif pelaksanaan pekerjaan dimulai.
b. Mobilisasi material yang akan dibutuhkan pada kegiatan
pekerjaan akan dilakukan melalui pengantaran dengan
alat angkut laut dan maupun darat ( Trailer ).
Transportasi pengiriman material dilaksanakan setelah
mendapat persetujuan, izin dan bantuan pengamanan
dengan pihak terkait selama dalam perjalanan sampai
ditujuan demi menjaga keselamatan dalam perjalanan
agar tidak berdampak pada waktu pemakaian waktu
pelasanaan pekerjaan yang telah direncanakan.
c. Mobilisasi tenaga kerja mencakup tenaga kerja yang
didatangkan dari luar lokasi maupun bersal dari
lingkungan lokasi pekerjaan.
d. Mobilisasi peralatan atau alat berat akan dilakukan
sesuai dengan kebutuhannya untuk pekerjaan yang akan
segera dilakukan, jadi dilakukan secara bertahap
tergantung urgensinya.

Mobilisasi akan diselesaikan dalam jangka waktu


minimal 30 ( tiga puluh ) hari kalender terhitung mulai
tanggal kerja yang ditetapkan dalam SPMK kecuali untuk
penyediaan fasilitas dan pelayanan pengendalian mutu
yang harus diselesaikan dalam waktu 15 hari.

II. TAHAP II ( PEKRJAAN PERLUASAN APRON )

Pada tahap ini, ada 10 ( Sepuluh ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Urugan dan Pemadatan Tanah CBR> 6%
3. Pekerjaan Sub Base Course ( P-154) t = 30 cm, CBR> 25%
4. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,
CBR> 80 %
5. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
7. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2
8. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 5 cm
9. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
10. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm
Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 10 ( Sepuluh )
kegiatan utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi

- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur


dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

2. Pekerjaan dan pemadatan tanah CBR> 6 %

- Permukaan bekas galian akan diurug kembali, sebagian


menggunakan timbunan hasil galian. Motor grader akan
meratakan permukaan timbunan hasil galian, selanjutnya
akan dipadatkan dengan menggunakan vibrator roller.
- Sekelompok pekerja akan membantu meratakan badan jalan
dengan menggunakan alat bantu.
- Setelah dilakukan pemadatan dari hasil galian menggunakan
alat excavator selanjutnya akan dilakukan pengujian
lapangan menggunakan alat DCP test untuk mengetahui daya
dukung tanah dengan kepadatan nilai CBR 6 %.
3. Pekerjaan Subbase Course ( P-154 ) t = 30 cm, CBR 25 %

- Sesudah pekerjaan dan pemadatan tanah selesai makan akan


dilakukan pekerjaan subbase course, sebelum melakukan
penghamparan material terlebih dahulu kita melakukan
penggabungan dua jenis material sesuai data yang
dikeluarkan oleh lab uji untuk sebagai acuan kerja
penggabungan pencampuran material.
- Adapun dua jenis material yang digunakan yaitu material
batuh pecah dan sirtu gunung/sirtu kali. Dari masing-masing
material dimuat menggunakan mobil damp truck untuk
dibawah kelokasi pencampuran material yang telah
ditentukan oleh konsultan pengawas dan direksi teknis.
- Pencampuran dari dua jenis material dilakukan diluar lokasi
kegiatan dan pencampuran dua jenis material ini
menggunakan alat excavator dan loader.
- Setelah dilakukan pencampuran bedasarkan komposisi yang
dikeluarkan lab uji dan disetujui konsultan pengawas serta
direksi teknis, maka selanjutnya akan dibawah kelokasi
pekerjaan menggunakan mobil dump truck.
- Setelah material tiba dilokasi kegiatan maka dilakukan
penghamparan berdasarkan luasan dan ketebalan yang telah
ditentukan, proses penghamparan material menggunakan
alat motor grader.
- Setelah dilakukan penghamparan menggunakan alat motor
grader selanjutnya dilakukan proses pemadatan
menggunakan alat vibrator roller.
- Selanjutnya setelah selesai dilakukan proses pemadatan
maka dilakukan proses penyiraman pada area yang telah
dipadatkan, adapun proses penyiraman menggunakan mobil
water tank.
- selanjutnya dilakukan proses leveling menggunakan alat
ukur waterpass
- Setelah pemadatan dan penyiraman telah selesai maka
dilakukan pengetesan pit untuk mengetahui ketebalan dan
pengjuian kepadatan lapangan menggunakan alat uji CBR
test.

4. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %

- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah


selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

5. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2

- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang


diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm

- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran


panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

7. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

8. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 5 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

9. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

10. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

III. TAHAP III ( PEKRJAAN KONSTRUKSI JOINT PERLUASAN APRON )

Pada tahap ini, ada 6 ( Enam ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,
CBR> 80 %
3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 6 ( Enam ) kegiatan


utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi

- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur


dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %

- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah


selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2

- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang


diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm

- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran


panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

IV. TAHAP IV (PEKERJAAN PERLUASAN TAXIWAY A TERMASUK


FILLET)

Pada tahap ini, ada 11 ( Sebelas ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Urugan dan Pemadatan Tanah CBR> 6%
3. Pekerjaan Sub Base Course ( P-154) t = 30 cm, CBR> 25%
4. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,
CBR> 80 %
5. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
7. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2
8. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 5 cm
9. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
10. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm
11. Pekerjaan Tepring Tanah Termasuk Pemadatan

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 11 (Sebelas) kegiatan


utama diatas yaitu :

a. Pekerjaan Galian Konstruksi


- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur
dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

b. Pekerjaan dan pemadatan tanah CBR> 6 %

- Permukaan bekas galian akan diurug kembali, sebagian


menggunakan timbunan hasil galian. Motor grader akan
meratakan permukaan timbunan hasil galian, selanjutnya
akan dipadatkan dengan menggunakan vibrator roller.
- Sekelompok pekerja akan membantu meratakan badan jalan
dengan menggunakan alat bantu.
- Setelah dilakukan pemadatan dari hasil galian menggunakan
alat excavator selanjutnya akan dilakukan pengujian
lapangan menggunakan alat DCP test untuk mengetahui daya
dukung tanah dengan kepadatan nilai CBR 6 %.

c. Pekerjaan Subbase Course ( P-154 ) t = 30 cm, CBR 25 %

- Sesudah pekerjaan dan pemadatan tanah selesai makan akan


dilakukan pekerjaan subbase course, sebelum melakukan
penghamparan material terlebih dahulu kita melakukan
penggabungan dua jenis material sesuai data yang
dikeluarkan oleh lab uji untuk sebagai acuan kerja
penggabungan pencampuran material.
- Adapun dua jenis material yang digunakan yaitu material
batuh pecah dan sirtu gunung/sirtu kali. Dari masing-masing
material dimuat menggunakan mobil damp truck untuk
dibawah kelokasi pencampuran material yang telah
ditentukan oleh konsultan pengawas dan direksi teknis.
- Pencampuran dari dua jenis material dilakukan diluar lokasi
kegiatan dan pencampuran dua jenis material ini
menggunakan alat excavator dan loader.
- Setelah dilakukan pencampuran bedasarkan komposisi yang
dikeluarkan lab uji dan disetujui konsultan pengawas serta
direksi teknis, maka selanjutnya akan dibawah kelokasi
pekerjaan menggunakan mobil dump truck.
- Setelah material tiba dilokasi kegiatan maka dilakukan
penghamparan berdasarkan luasan dan ketebalan yang telah
ditentukan, proses penghamparan material menggunakan
alat motor grader.
- Setelah dilakukan penghamparan menggunakan alat motor
grader selanjutnya dilakukan proses pemadatan
menggunakan alat vibrator roller.
- Selanjutnya setelah selesai dilakukan proses pemadatan
maka dilakukan proses penyiraman pada area yang telah
dipadatkan, adapun proses penyiraman menggunakan mobil
water tank.
- selanjutnya dilakukan proses leveling menggunakan alat
ukur waterpass
- Setelah pemadatan dan penyiraman telah selesai maka
dilakukan pengetesan pit untuk mengetahui ketebalan dan
pengjuian kepadatan lapangan menggunakan alat uji CBR
test.

d. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %

- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah


selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

e. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2

- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang


diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

f. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm

- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran


panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

g. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

h. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 5 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

i. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

j. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

k. Pekerjaan Tepring Tanah Termasuk Pemadatan

- Pekerjaan tepring tanah padat dilakukan untuk meratakan


elevasi exsisting yang tidak rata dan letak pekerjaan ini
dilakukan pada posisi samping kiri-kanan taxiway.
- Bahan material untuk pekerjaan tepring tanah padat ini
adalah tanah biasa yang bersumber diluar lokasi kegiatan.
- Pengambilan bahan material tanah biasa menggunakan alat
Excavator.
- Kemudian mobil dump truck sebagai alat pengangsur bahan
material tanah biasa untuk membawah kelokasi kegiatan.
- Setelah mobil dump truck tibah di lokasi kegiatan
selanjutanya dituang pada area yang telah ditentukan.
- Setelah dituang selanjutnya dilakukan penghamparan
menggunakan alat motor garder dan di bantu oleh tenaga
manual manusia.
- Setelah penghamparan selanjutnya dilakukan pemadatan
menggunakan alat Vibartor Roller.

V. TAHAP V ( PEKRJAAN KONSTRUKSI JOINT TAXIWAY A )

Pada tahap ini, ada 6 ( Enam ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20
cm, CBR> 80 %
3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm
Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 6 ( Enam ) kegiatan
utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi

- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur


dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %

- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah


selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2

- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang


diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm

- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran


panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

VI. TAHAP VI (PEKERJAAN PERLUASAN TAXIWAY B TERMASUK


FILLET)

Pada tahap ini, ada 10 ( Sepulu ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Urugan dan Pemadatan Tanah CBR> 6%
3. Pekerjaan Sub Base Course ( P-154) t = 30 cm, CBR> 25%
4. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20
cm, CBR> 80 %
5. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
7. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2
8. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 5 cm
9. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
10. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 10 (Sepuluh)


kegiatan utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi

- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur


dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

2. Pekerjaan dan pemadatan tanah CBR> 6 %

- Permukaan bekas galian akan diurug kembali, sebagian


menggunakan timbunan hasil galian. Motor grader akan
meratakan permukaan timbunan hasil galian, selanjutnya
akan dipadatkan dengan menggunakan vibrator roller.
- Sekelompok pekerja akan membantu meratakan badan jalan
dengan menggunakan alat bantu.
- Setelah dilakukan pemadatan dari hasil galian menggunakan
alat excavator selanjutnya akan dilakukan pengujian
lapangan menggunakan alat DCP test untuk mengetahui daya
dukung tanah dengan kepadatan nilai CBR 6 %.

3. Pekerjaan Subbase Course ( P-154 ) t = 30 cm, CBR 25 %


- Sesudah pekerjaan dan pemadatan tanah selesai makan akan
dilakukan pekerjaan subbase course, sebelum melakukan
penghamparan material terlebih dahulu kita melakukan
penggabungan dua jenis material sesuai data yang
dikeluarkan oleh lab uji untuk sebagai acuan kerja
penggabungan pencampuran material.
- Adapun dua jenis material yang digunakan yaitu material
batuh pecah dan sirtu gunung/sirtu kali. Dari masing-masing
material dimuat menggunakan mobil damp truck untuk
dibawah kelokasi pencampuran material yang telah
ditentukan oleh konsultan pengawas dan direksi teknis.
- Pencampuran dari dua jenis material dilakukan diluar lokasi
kegiatan dan pencampuran dua jenis material ini
menggunakan alat excavator dan loader.
- Setelah dilakukan pencampuran bedasarkan komposisi yang
dikeluarkan lab uji dan disetujui konsultan pengawas serta
direksi teknis, maka selanjutnya akan dibawah kelokasi
pekerjaan menggunakan mobil dump truck.
- Setelah material tiba dilokasi kegiatan maka dilakukan
penghamparan berdasarkan luasan dan ketebalan yang telah
ditentukan, proses penghamparan material menggunakan
alat motor grader.
- Setelah dilakukan penghamparan menggunakan alat motor
grader selanjutnya dilakukan proses pemadatan
menggunakan alat vibrator roller.
- Selanjutnya setelah selesai dilakukan proses pemadatan
maka dilakukan proses penyiraman pada area yang telah
dipadatkan, adapun proses penyiraman menggunakan mobil
water tank.
- selanjutnya dilakukan proses leveling menggunakan alat
ukur waterpass
- Setelah pemadatan dan penyiraman telah selesai maka
dilakukan pengetesan pit untuk mengetahui ketebalan dan
pengjuian kepadatan lapangan menggunakan alat uji CBR
test.

4. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %

- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah


selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

5. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2

- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang


diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm

- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran


panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

7. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

8. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 5 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

9. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

10. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

VII. TAHAP VII ( PEKRJAAN KONSTRUKSI JOINT TAXIWAY B )

Pada tahap ini, ada 6 ( Enam ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20
cm, CBR> 80 %
3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 6 ( Enam ) kegiatan


utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi

- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur


dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %

- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah


selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2

- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang


diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm

- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran


panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

VIII. TAHAP VIII (PEKERJAAN KONSTRUKSI TURNING AREA 3.000 M2)

Pada tahap ini, ada 10 ( Sepulu ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Urugan dan Pemadatan Tanah CBR> 6%
3. Pekerjaan Sub Base Course ( P-154) t = 30 cm, CBR> 25%
4. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20
cm, CBR> 80 %
5. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
7. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2
8. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 5 cm
9. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
10. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 10 (Sepuluh)


kegiatan utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi

- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur


dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

2. Pekerjaan dan pemadatan tanah CBR> 6 %

- Permukaan bekas galian akan diurug kembali, sebagian


menggunakan timbunan hasil galian. Motor grader akan
meratakan permukaan timbunan hasil galian, selanjutnya
akan dipadatkan dengan menggunakan vibrator roller.
- Sekelompok pekerja akan membantu meratakan badan jalan
dengan menggunakan alat bantu.
- Setelah dilakukan pemadatan dari hasil galian menggunakan
alat excavator selanjutnya akan dilakukan pengujian
lapangan menggunakan alat DCP test untuk mengetahui daya
dukung tanah dengan kepadatan nilai CBR 6 %.

3. Pekerjaan Subbase Course ( P-154 ) t = 30 cm, CBR 25 %

- Sesudah pekerjaan dan pemadatan tanah selesai makan akan


dilakukan pekerjaan subbase course, sebelum melakukan
penghamparan material terlebih dahulu kita melakukan
penggabungan dua jenis material sesuai data yang
dikeluarkan oleh lab uji untuk sebagai acuan kerja
penggabungan pencampuran material.
- Adapun dua jenis material yang digunakan yaitu material
batuh pecah dan sirtu gunung/sirtu kali. Dari masing-masing
material dimuat menggunakan mobil damp truck untuk
dibawah kelokasi pencampuran material yang telah
ditentukan oleh konsultan pengawas dan direksi teknis.
- Pencampuran dari dua jenis material dilakukan diluar lokasi
kegiatan dan pencampuran dua jenis material ini
menggunakan alat excavator dan loader.
- Setelah dilakukan pencampuran bedasarkan komposisi yang
dikeluarkan lab uji dan disetujui konsultan pengawas serta
direksi teknis, maka selanjutnya akan dibawah kelokasi
pekerjaan menggunakan mobil dump truck.
- Setelah material tiba dilokasi kegiatan maka dilakukan
penghamparan berdasarkan luasan dan ketebalan yang telah
ditentukan, proses penghamparan material menggunakan
alat motor grader.
- Setelah dilakukan penghamparan menggunakan alat motor
grader selanjutnya dilakukan proses pemadatan
menggunakan alat vibrator roller.
- Selanjutnya setelah selesai dilakukan proses pemadatan
maka dilakukan proses penyiraman pada area yang telah
dipadatkan, adapun proses penyiraman menggunakan mobil
water tank.
- selanjutnya dilakukan proses leveling menggunakan alat
ukur waterpass
- Setelah pemadatan dan penyiraman telah selesai maka
dilakukan pengetesan pit untuk mengetahui ketebalan dan
pengjuian kepadatan lapangan menggunakan alat uji CBR
test.

4. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %

- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah


selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

5. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2

- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang


diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm


- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran
panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

7. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

8. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 5 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

9. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.
10. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm

- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas


(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

IX. TAHAP IX ( PEKRJAAN KONSTRUKSI JOINT TURING AREA )


Pada tahap ini, ada 6 ( Enam ) kegiatan Pekerjaan utama yang
dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi


2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20
cm, CBR> 80 %
3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2
4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm
5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2
6. Pekerjaan Pelapisan Asphalat Concrete ( AC ) t = 4 cm

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 6 ( Enam ) kegiatan


utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Galian Konstruksi

- Sebelum dilakukan penggalian, bulldozer akan menggusur


dan membersihkan permukaan lokasi yang akan digali dari
semak-semak dan tanaman serta hal lain yang akan
menghalangi proses pelaksanaan penggalian.
- Material hasil penggusuran akan di muat ke dalam dump
truck kemudian akan dibuang keluar dari lokasi pekerjaan
- Pekerjaan ini merupakan pekerjaan yang terdiri dari
penggalian, penanganan, pembuangan atau penumpukan
tanah atau batu ataupun bahan-bahan lainnya dari jalan
kendaraan dan sekitarnya yang diperlukan untuk
pelaksanaan pekerjaan kontrak yang diterima.
- Galian tanah batu cadas dilakukan secara mekanik dengan
menggunakan alat berat excavator dan Dump Truck.
- Penggalian dilakukan dengan menggunakan rock breaker,
kemudian excavator memuat hasil galian ke dalam Dump
Truck.
- Setelah excavator memuat hasil galian ke dalam Dump Truck
kemudian dump truck akan membawa galian ke lokasi
pembuangan yang telah disepakati dan mendapat
persetujuan dari Konsultan Pengawas dan Direksi Teknis.

2. Pekerjaan Crushed Aggregate Base Course ( P-209 ) t = 20 cm,


CBR> 80 %
- Sesudah pekerjaan Subbase course dilaksanakan atau telah
selesai maka selanjutnya dilakukan pekerjaan Crushed
Aggregate Base Course. Material yang digunakan yaitu batu
pecah full crusher.
- Pencampuran gabungan bahan material dilakukan diluar
lokasi kegiatan, selanjutnya sebelum melakukan
pencampuran bahan material terlebih dahulu melakukan
pengujian lab untuk sebagai acuan kerja lapangan dan diikut
sertakan oleh berbagai pihak terkait yakni konsulan
pengawas dan direksi teknis.
- Setelah dilakukan pengujian lab selanjutnya dilakukan
pencampuran bahan material dilapangan berdasarakan hasil
pengujian lab yakni komposisi campuran.
- Pencampuran bahan material menggunakan alat wheel
loader setelah pencampuran bahan material selesai
kemudian dimuat ke mobil dump truck.
- Selanjutnya mobil Dump truck membawa bahan material
yang telah dicampur kelokasi kegiatan, mobil dump truck
menuang kearea pekerjaan untuk selanjutnya dilakukan
penghamparan.
- Penghamparan bahan material dilakukan berdasarkan
luasan dan ketebalan yang telah ditentukan atau
berdasarkan profil design, penghamparan bahan material
menggunakan alat motor grader.
- Setelah penghamparan bahan material selanjutnya
dilakukan pemadatan menggunakan alat Vibrator Roller.
- Setelah itu dilakukan penyiraman keareh lokasi
penghamparan yang telah selai dipadatkan, setelah
dilakukan penyiraman kemudian dilakukan pemadatan
ulang.
- setelah dilakukan penghamparan dan pemadatan maka
selanjutnya di lakukan pengecekan elevasi menggunakan
alat ukur waterpass.
- Dalam beberpa hari setelah dilakukan penghaparan dan
pemadatan makan dilakukan proses pengujian lapangan
untuk mengetahui hasil kepadatan, pengujian lapangan
dilakukan menggunakan alat CBR Test untuk mengetahui
hasil kepdatan lapngan dan Test Pit untuk mengetahui
ketebalan pekerjaan.

3. Pekerjaan Prim Coat AC 60/70, 2 Kg/M2


- Prime Coat merupakan lapisan ikat aspal cair yang
diletakkan di atas perkerasan Crushed Aggregate Base
Course
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( prime coat )
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai
- Masih dimungkinkan satu jalur
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan
- Lokasi yang disemprot prime coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

4. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Treated Base ( ATB ) t = 6 cm

- Aspahlt Treated Base ( ATB ) adalah beton aspal campuran


panas (hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi.
Asphalt Treated Base ( ATB ) tersusun dari fraksi-fraksi
material berbutir (agregat) dan aspal sebagai bahan
pengikat sesuai dengan spesifikasi campuran yang telah
ditentukan. Walaupun bersifat non structural, Asphalt
Treated base ( ATB ) dapat menambah daya tahan
perkerasan terhadap penurunan mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

5. Pekerjaan Tack Coat AC 60/70, 1 Kg/M2

- Tack Coat merupakan lapisan aspal cair yang diletakkan di


atas lapisan beraspal atau lapis beton semen sebelum lapis
berikutnya dihampar, Lapis perekat berfungsi untuk
memberikan daya ikat antara lapis lama dengan baru.
- Aspal dan minyak flux dicampur dan dipanaskan sehingga
menjadi campuran aspal cair ( Tack Coat ).
- Debu dan kotoran pada permukaan dibersihkan dengan
menggunakan compressor.
- Tonjolan benda asing harus dibuang.
- Permukaan harus dalam keadaan kering.
- Batas yang akan disemprot diukur dan ditandai.
- Masih dimungkinkan satu jalur.
- Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi
dengan bahan kedap.
- Ada bagian yang tumpang tindih selebar 20 cm sepanjang
sisi jalur yang bersebelahan.
- Campuran aspal cair disemprotkan dengan asphalt sprayer
ke atas permukaan yang akan dilapis
- Aspal disemprot secara merata diseluruh permukaan.
- Lokasi yang disemprot Tack coat yang menunjukkan batas
aspal berlebih ditutup dengan bahan yang bisa menyerapnya
sesudah 4 jam penyemprotan.

6. Pekerjaan Pelapisan Asphalt Concrete ( AC ) t = 4 cm


- Aspahlt Concrete ( AC ) adalah beton aspal campuran panas
(hot mix) yang berfungsi sebagai lapis pondasi atas. Asphalt
Concrete ( AC ) tersusun dari fraksi-fraksi material berbutir
(agregat) dan aspal sebagai bahan pengikat sesuai dengan
spesifikasi campuran yang telah ditentukan. Walaupun
bersifat non structural, Asphalt Concrete ( AC ) dapat
menambah daya tahan perkerasan terhadap penurunan
mutu.
- Sebelum melakukan kegiatan lapangan untuk pekerjaan
pengaspalan telebih dahulu dilakukan pengujian
Laboratorim untuk mengetahui komposisi tipa-tiap fraksi
bahan material yang akan digunakan serta untuk
mengetahui karakteristik aspal yang akan digunakan pada
saat pencampuran di Asphalt Mixing plant ( AMP ).
Pengujian laboratorim untuk bahan material dan aspal akan
dilakukan berdasaran aturan prosedur dan spesifikasi yang
telah ditentukan.
- Pengujian Bahan material wajib di ikuti oleh semua pihak
terkait yang ada dalam unsur pekerjan yakni Direksi teknis
dan konsultan pengawas.
- Setelah dilakukan pengujian laboratorium mengeluarkan
hasil yang sesuai dengan spesifikasi maka selanjutnya di
lakukan pekerjaan lapangan.
- Pekerjaan pencampuran bahan material yakni tiap-tiap
fraksi agregat dan aspal dilakukan menggunakan Asphalt
Mixing Plant ( AMP )
- Setelah pencampuran selanjutnya Pengangkutan Hotmix
dilakukan dengan menggunakan dump truck. Suhu Hotmix
pada saat produksi dan pengangkutan disesuaikan dengan
spesifikasi teknis yang telah ditentukan.
- Penghamparan dilakukan dengan menggunakan Asphalt
Finisher.
- Pemadatan awal dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.
- Pemadatan Phase Intermediated menggunakan Tire Roller
dengan jumlah lintasan disesuaikan dengan jumlah hasil
trial mix.
- Pemadatan akhir dilakukan dengan menggunakan Tandem
Roller.

X. TAHAP X ( PEKERJAAN PEMBUATAN BOX CULVERT )

Pada tahap ini, ada 2 ( Dua ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :
1. Pekerjaan Pondasi Batu Kosong
2. Pekerjaan Pembuatan Box Culvert

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 6 ( Enam ) kegiatan


utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Pondasi Batu kosong

- Pasangan batu kosong berfungsi demi menjaga stabilitas


bagungan dari goncangan apapun.
- Material bahan yang digunakan yaitu batu gunung atau batu
kali yang berkualitas baik, keras tidak polos, dan
permukaannya tajam, material ini bersumber dari luar lokasi
kegiatan dan bahan material. Batu yang dapat dilakukan
berukuran dengan diameter 30 cm dan minimum 10 cm.
- Pemuatan material dari quary menggunakan alat Excavator
dan Dump Truck kemudian mobil dump truck membawa
bahan material kelokasi kegiatan yang telah ditentukan.
- Sebelum pemasangan batu kosong terlebih dahulu dilakukan
pemasangan bowplang dan penghamparan pasir dibawahnya
pada hasil galian. Bahan material yang digunakan yaitu batu
gunung/batu kali harus disusun sedemikian rupa sehingga
dudukannya kokoh dan terikat baik satu sama lainnya lalu
dipadatkan lagi dengan urugan pasir diatasnya.

2. Pekerjaan pembuatan Box Culvert


 Bahan yang digunakan yaitu air, semen, pasir, batu pecah,
besi, kawat bendrat dan kayu atau papan.
 Semua material bersumber dari lura lokasi kegiatan
selanjutanya dimobilisasi kelokasi kegiatan menggunakan
mobil dump truck.
 Sebelum melakukan pekerjaan telebih dahulu dilakukan
pengujian Laboratorium untuk mengetahui komposisi
campuran dari tipa-tiap fraksi bahan material yaitu air,
semen, pasir dan batu pecah untuk selanjutnya sebagai dasar
pengecoran beton ketika sudah melaksanakan kegiatan
pengecoran dilapnagan.
 Alat yang dapat digunakan untuk pengecoran yaitu
menggunakan concrete mixer.
 Setelah dilakukan pencampuran material selanjutnya
dilakukan pengujian sulmp test menggunakan alat sump test
guna untuk menentukan konsistensi/kekakuan (dapat
dikerjakan atau tidak) dari campuran beton segar (fresh
concrete) untuk menentukan tingkat workability nya.
Kekakuan dalam suatu campuran beton menunjukkan berapa
banyak air yang digunakan dan selanjutnya dilakukan
penghamparan atas izin konsultan pengawas dan direksi
teknis.
 Pelaksanaan Setting Out
- Dalam pekerjaan ini akan dilakukan pengukuran titik-titik
box dan pengecekan elevasi, khususnya item pekerjaan
yang menyangkut dengan elevasi. Seperti: pekerjaan
galian, persiapan lantai kerja.
 Pelaksanaan Pekerjaan Galian Struktur (excavation)
- Pada pekerjaan ini tanah galian akan dibawa
menggunakan dump truck ke disposal area.
 Pelaksaan Pekerjaan Lantai kerja dan Pelat Bawah
- Pekerjaan lantai kerja dengan urugan pasir dan Lean
Concrete.
- Pembesian dan pengecoran pelat bawah
 Pelaksanaan Pekerjaan Pembesian, Pemasangan Bekisting dan
Perkuatan Samping.
- Setelah pekerjaan pembesian dan bekisting samping
selesai, lalu akan dilanjutkan kemudian dengan
pengecoran bagian dinding gorong-gorong (box culvert).
 Pembesian, Pemasangan Bekisting dan Perkuatan Atas
- Setelah pekerjaan pembesian dan bekisting atas selesai,
lalu akan dilanjutkan kemudian dengan pengecoran bagian
atas gorong-gorong (box culvert).
 Pelepasan Perancah Perkuatan dari Box Culvert
- Setelah selesai dilakukan pengecoran, dan umur beton
telah mencapai waktu dan kekutan yang direncanakan,
selanjutnya akan dilakukan pelepasan perancah.
 Dilakukan Penimbunan
-
Setelah pekerjaan dilakukan pelepasan perancah,
selanjutnya akan dilakukan penimbunan kembali pada sisa
galian gorong-gorong tersebut.
 Pemadatan Timbunan
- Selanjutnya timbunan tersebut akan dipadatkan.

XI. TAHAP XI ( PEKERJAAN RABAT BETON DAN PEMBUATAN TALUD


PENAHAN TANAH )

Pada tahap ini, ada 4 ( Empat ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Pemasangan Bowplank


2. Pekerjaan Pasangan Batu 1 : 3
3. Pekerjaan Siar Timbul 1 : 2
4. Pekerjaan Beton Tak Bertulang 1 : 2 : 3 K.175

Adapun uraian penjelasan masing-masing dari 4 (Empat) kegiatan


utama diatas yaitu :

1. Pekerjaan Pemasangan Bowplank

- Bowplank ialah penanda sementara yang digunakan untuk


menentukan titik-titik as pada area kerja di dalam proyek
pembangunan sesuai dengan hasil pengukuran yang telah
dilakukan sebelumnya.
- Buat tiang pancang dari kayu berukuran 1 m sebanyak
empat buah. Caranya yaitu lancipkan salah satu ujung
kayu memakai sabit agar mudah ditancapkan ke dalam
tanah.
- Tancapkan kayu tiang pancang pertama ke dalam tanah
sambil dipukul menggunakan palu pelan saja supaya
menancap kuat dan tidak mudah goyah. Tancapkan tiang
kayu tersebut sampai bagian yang tersisa di atas
permukaan tanah setara dengan ketinggian permukaan
lantai yang direncanakan.
- Agar kedudukannya semakin mantap, sebaiknya tiang
pancang ditahan lagi dengan dua bilah kayu. Periksa
tingkat ketegakannya memakai unting-unting untuk
memastikan tiang pancang tersebut berdiri tegak.
- Ulangi pemasangan tiang pancang di ketiga sudut area
lahan pembangunan lainnya. Jangan lupa untuk
memeriksa ketegakan posisinya memakai unting-unting.
Cek juga tingkat ketinggian tiang pancang menggunakan
waterpass dari selang guna memastikan semua tiang
pancang mempunyai ukuran ketinggian yang sama persis.
- Pasang papan kayu yang diposisikan secara horisontal
menghubungkan tiang pancang yang satu dengan lainnya.
Sekali lagi periksa permukaan yang dibentuk oleh papan
kayu yang dipasang mendatar ini benar-benar rata. Kini
tercipta sebuah penanda dari kayu yang mengelilingi area
lahan pembangunan.
- Bentangkan benang sebagai penanda tanah yang akan
digali untuk keperluan pekerjaan pondasi bangunan dan
pendirian dinding. Benang ini diikatkan dari sisi papan
kayu yang dipasang dalam posisi mendatar ke sisi papan
kayu di seberangnya sesuai dengan ukuran yang sudah
ditentukan. Lakukan sampai seluruh penanda dari tali
tersebut selesai dipasang.
- Cek sekali lagi posisi dan ketinggian pemasangan benang-
benang tadi supaya dapat dipastikan sesuai dengan
rencana proyek pembangunan.

2. Pekerjaan Pasangan Batu 1 : 3

- Pembuatan dan pengajuan gambar shop drawing


pekerjaan pasangan batu kali/batu gunung.
- Approval material yang akan digunakan
- Persiapan lahan kerja.
- Persiapan material kerja, antara lain : batu kali, semen
PC, pasir pasang, air, dll.
- Persiapan alat bantu kerja, antara lain : theodolith,
waterpass, meteran, benang, selang air, dll.
- Setelah tahap persiapan selesai, maka tahap berikutnya
yang dilaksanakan dilapangan adalah tahap pekerjaan
pengukuran dengan mengikuti proses sebagai berikut:
 Sebelum pekerjaan pemasangan pasangan batu kali
dimulai, terlebih dahulu dilakukan pengukuran dengan
menggunakan theodolith untuk mendapatkan level
pasangan batu kali.
 Tandai hasil pengukuran dengan menggunakan patok
kayu yang diberi warna cat.
- Apabilan proses persiapan dan pebgukuran telah
dilaksanakan, maka tahap selanjutnya adalah Pelaksanaan
pekerjaan pasangan batu kali, dengan mengikuti langkah
pekerjaan sebagai berikut :
 Gali tanah untuk lubang pasanagan batu kali/batu
gunung
 Pastikan galian tanah untuk pasangan batu kali,
ukuran lebar dan kedalaman sudah sesuai rencana.
 Pasang patok kayu dan benang sebagai acuan leveling
pasangan batu kali.
 Buat adukan untuk pasangan pondasi batu kali.
 Hamparkan pasir urug dan ratakan.
 Basahi batu kali dengan air telebih dahulu sebelum
dipasang.
 Pasang batu aanstamping terllebih dahulu.
 Pasang batu kali di atas pasangan batu aanstamping
dengan menggunakan adukan yang merata mengisi
rongga-rongga antar batu kali/batu gunung
 Batu kali disusun sedemikian rupa sehingga pasangan
batu kali tidak mudah retak/patah dan berongga besar.
 Cek elevasi pekerjaan pasangan batu kali apakah sudah
sesuai rencana.

3. Pekerjaan Siar Timbul 1 : 2

- Material dan alat disiapkan di lokasi pekerjaan.


- Material yang dipakai adalah : pasir, semen, dan air. Pasir
dibersihkan dari semua kotoran, air yang dipakai adalah
air dari sumber air tanah.
- Pekerja menyiapkan spesi dengan perbandingan 1 semen :
2 pasir, spesi diaduk dengan molen untuk mendapatkan
hasil yang homogen.
- Pasir dimasukkan ke dalam gentong molen terlebih dahulu
kemudian semen dengan perbandingan tersebut di atas
dan diaduk sampai pasir dan semen bercampur. Setelah
dirasa sudah campur baru diberi air bersih secukupnya
sesuai kebutuhan spesi dengan posisi molen masih
mengaduk. Setelah spesi sudah matang/ campuran semen,
pasir dan air merata, adukan spesi dituang ke kotak
tempat spesi.
- Spesi dibawa ke tempat pasang siaran dimana tukang dan
pembantu tukang sudah siap ditempat.
- Sebelum spesi dipasang terlebih dahulu semua bidang
sambungan diantara batu muka harus dikorek. Apabila
bidang yang dikorek terlalu kering maka terlebih dahulu
permukaan dibasahi menggunakan air bersih untuk
mendapatkan ikatan yang kuat antara spesi lama dengan
spesi baru.
- Siaran dibentuk sesuai lekukan sambungan dan dirapikan
sehingga terlihat indah.
- Semua spesi yang jatuh atau tidak menempel dibersihkan
dan dibuang.
- Setelah pekerjaan pekerjaan selesai Penyedia Jasa
memberitahukan kepada Direksi pekerjaan untuk
diadakan pengukuran pekerjaan tersebut apakah sesuai
dengan rencana kerja dan spesifikasi.
- Apabila Direksi menyatakan sudah sesuai dengan rencana
kerja dan spesifikasi maka kami melanjutkan pekerjaan ke
tahap selanjutnya.

4. Pekerjaan Beton Tak Bertulang 1 : 2 : 3 K.175

- Material dan alat disiapkan di lokasi pekerjaan.


- Material yang dipakai adalah : pasir, semen, dan air. Pasir
dibersihkan dari semua kotoran, air yang dipakai adalah
air dari sumber air tanah.
- Sebelum melakukan pengecoran beton terlebih dahulu
kontraktor melakukan pengujian Laboratorium untuk
menentukan komposisi campuran yang diperlukan
sehingga didapatkan mutu beton yang sesuai dengan yang
diharapkan.
- Hasil Laboratorium yang telah dibuat diserahkan kepada
konsultan pengawas dan direksi teknis untuk disetujui.
- Pengecoran beton dimulai setelah konsultan pengawas
dan direksi teknis menyetujui untuk pengecoran beton
yang dinyatakan dalam permohonan pelaksanaan kerja.
- Periksa kekuatan acuan yang sudah dipasang /difabrikasi,
semua ukuran dan perkuatan acuan diperiksa benar dan
disahkan oleh konsultan pengawas dan direksi teknis
untuk pekerjaan selanjutnya.
- Pasang sparing pipa-pipa mekanikal dan elektrikal yang
melintas area pengecoran.
- pembersihkan seluruh permukaan dan lokasi pengecoran
dari kotoran dan sampah.
- Pada saat pengecoran adukan beton diratakan dan
dipadatkan dengan vibrator sehingga beton dapat padat
dan tidak ada sarang rongga.

XII. TAHAP XII ( PEKERJAAN MARKING )

Pada tahap ini, ada 1 ( Satu ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Pekerjaan Pengecatan Marka

- Semua bahan cat yang digunakan tanpa pemanasan harus


dicampur terlebih dahulu menurut petunjuk pabrik
pembuatnya sebelum digunakan agar suspense pigmen
merata di dalam cat.
- Pengecatan tidak boleh dilaksanakan pada suatu
permukaan yang baru diaspal.
- Kami akan mengatur dan menandai semua marka pada
permukaan perkerasan dengan dimensi dan penempatan
yang presisi sebelum pelaksanaan pengecatan marka.
- Pengecatan marka dilaksanakan pada garis sumbu , garis
lajur, garis tepi dengan hasil yang dapat diterima direksi.
- Semua marka yang tidak menampilkan hasil yang merata
dan memenuhi ketentuan baik siang maupun malam hari
harus diperbaiki.
- Semua pemakaian cat harus diaduk dilapangan menurut
ketentuan pabrik pembuat sesaat sebelum dipakai agar
menjaga bahan pewarna tercampur merata.

XIII. TAHAP XIII (PEKERJAAN PENGADAAN TAXIWAY EDGE DAN


APRON LIGHT)
Pada tahap ini, ada 7 ( Tujuh ) kegiatan Pekerjaan utama yang
dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Omnidirectional Elevated Light Complete Blue LED 8-11


W:6.6A
2. Isolating Transformer 15 W:6.6/6.6 A
3. Connector Kit Terdiri Dari FAA-Pulg dan Socket Singel Pole
4. Series Cabel FL2XCY 1 x 6 sqmm 3/6 kV
5. Base Plate
6. Control Cabel 2 x 10 x 0.8 sqmm 1 kV
7. Power Cabel NYY 3 x 16 sqmm 1 kV
 Sebelum melakukan pekerjaan pengadaan Taxiway Edge
dan Apron Light terlebih dahulu harus menyiapakan bahan
material yang akan digunakan.

 Setelah peralatan dan bahan material sudah disiapkan


maka selanjutnya dilakukan pekerjaan galian tanah untuk
dudukan box trafo, box trafo terbuat dari beton.

 Lampu Taxiway dan Apron Edge Light adalah LED 8-11


watt, 6.6 Ampere yang dicatu dari satu CCR Sub Station
Power House dengan kapasitas 4 KVA.

 Isolating transformer (series trafo) type water proof, dan


dapat ditanam di dalam tanah atau ditempatkan pada pit
trafo. Setiap series trafo dilengkapi dengan 2 (dua)
sambungan kabel primer dan 1 (satu) sambungan sekunder
yang menjadi satu kesatuan desain.
 Kabel yang digunakan adalah jenis FL2XCy 1 x 6 sqmm 3/6
KV.
 Kabel ditanam di dalam tanah dengan persyaratan
sesuai dengan runway edge light.
 Setiap lokasi lampu dilengkapi pula dengan fondasi dan
pit transformer lengkap dengan tutupnya, yang
dimaksudkan untuk memudahkan pada saat
pemeliharaan dan perbaikan. Dalam pekerjaan ini
pembongkaran dan pemasangan taxiway edge light,
hanya pada area intersection runway dan taxiway.
 Ukuran besaran pondasi, pit trafo, jalur kabel dan lain-
lain dapat dilihat pada gambar detail design.
 Untuk cable power menggunakan tipe kabel NYY 3 x 16
sqmm/1 KV. Besarnya diameter kabel ditentukan oleh
besarnya beban arus listrik peralatan.
XIV. TAHAP XIV (PEKERJAAN TURNING AREA LIGHT)

Pada tahap ini, ada 5 ( Lima ) kegiatan Pekerjaan utama yang


dilaksanakan dilapangan meliputi :

1. Omnidirectional Elevated Light Complete Blue LED 100


W:6.6A
2. Isolating Transformer 100 W:6.6/6.6 A
3. Connector Kit Terdiri Dari FAA-Pulg dan Socket Singel Pole
4. Secondary Cable NYYHY 2 x 4
5. Base Plate

Turning Area Light harus ditempatkan tidak kurang dari daerah


perputaran landas pacu lebih dari 10 meter dari Runway Edge
Light landas pacu sebelumnya, satu unit Turning Area Light harus
ditempatkan tepat pada permulaan daerah perputaran. Pada saat
sisi suatu area perputaran lebih panjang dari 30 meter, Turning
Area Light yang ditempatkan secara seragam harus diletakan
disepanjang sisi tersebut, dengan jarak tidak melebihi 30 meter.

 Sebelum melakukan pekerjaan pengadaan Taxiway Edge


dan Apron Light terlebih dahulu harus menyiapakan bahan
material yang akan digunakan.

 Setelah peralatan dan bahan material sudah disiapkan


maka selanjutnya dilakukan pekerjaan galian tanah untuk
dudukan box trafo, box trafo terbuat dari beton.

 Lampu Taxiway dan Apron Edge Light adalah LED 8-11


watt, 6.6 Ampere yang dicatu dari satu CCR Sub Station
Power House dengan kapasitas 4 KVA.

 Isolating transformer (series trafo) type water proof, dan


dapat ditanam di dalam tanah atau ditempatkan pada pit
trafo. Setiap series trafo dilengkapi dengan 2 (dua)
sambungan kabel primer dan 1 (satu) sambungan sekunder
yang menjadi satu kesatuan desain.

a) Metode Kendala dan Solusi


Dalam setiap pelaksanaan pekerjaan konstruksi, akan selalu
menghadapi kendala-kendala yang harus ditindaklanjuti secara
cepat dan tepat dalam mencari solusi penyelesaiaannya.

Begitu juga dengan kegiatan ini, ada beberapa kendala yang


mungkin bisa menjadi hambatan yang dapat mempengaruhi
proses pelaksanaan pekerjaan dilapangan. Untuk mengantisipasi
ada beberapa langkah yang harus disiapkan diantaranya :

a. Mencari informasi, mengumpulkan data-data tentang adanya


kemungkinan muncul kendala dalam pelaksanaan konstruksi.
b. Menginventarisasi data-data diatas untuk kemudian dicarikan
solusi untuk mengatasinya.
c. Menyiapkan rencana antisipasi penanganan kendala dengan
seefektif mungkin.
d. Menyiapkan bahan, alat maupun tenaga kerja yang akan
digunakan dalam mengatasi kendala tersebut.
e. Segala langkah antisipasi maupun penyelesaian untuk kendala
dikordinasikan dengan pihak terkait.

Ada beberapa kendala yang mungkin bisa menjadi hambatan


diantaranya :

a. Lokasi pekerjaan berada di lokasi bandara aktif sehingga


dapat mempengaruhi waktu kerja normal kegiatan
b. Adanya kerusakan pada peralatan berat
c. Kebutuhan material yang sangat besar sehingga memerlukan
stok berlimpah
d. Terjadi kelangkaan BBM
e. Kurangnya akses masuk ke lokasi pekerjaan

Ada beberapa solusi yang bisa diambil untuk mengatasi kendala-


kendala tersebut diantaranya:

a. Melakukan efisiensi waktu kerja alat dilapangan serta


mempersiapkan kemungkinan penambahan jam kerja
b. Menyiapkan minimal satu alat cadangan untuk pengganti alat
yang rusak
c. Menyiapkan alternative quary dari material yang akan
dipakai, serta melakukan pemesanan material secara
terencana.

C. Metode Inspeksi Kerusakan dan Perbaikan

Inspeksi secara rutin merupakan tanggung jawab kepala bandar


udara,
dilaksanakan oleh personel yang memiliki kompetensi dibidang
landasan, atau teknisi ahli lain yang ditunjuk oleh kepala bandar
udara.
Inspeksi harus menjadi kegiatan rutin di seluruh bandar udara.

Kegiatan inspeksi terbagi dalam kegiatan harian, kegiatan


mingguan,
kegiatan bulanan dan kegiatan tahunan

1) Inspeksi harian

Kegiatan pengamatan pada konstruksi perkerasan guna


mengamati sekaligus membersihkan bila terdapat benda
asing / genangan air yang mengganggu keselamatan
penerbangan dan membuat catatan untuk pelaporan bila
terdapat kerusakan / potensi kerusakan pada perkerasan.
Kami akan mempersiapkan tenaga ahli kami untuk turut serta
melakukan inspeksi harian bersama – sama dengan pihak
bandara dan direksi

2) Inspeksi mingguan

Melakukan rekapitulasi dan analisa laporan harian sebagai


bagian dari program pemeliharaan konstruksi perkerasan
untuk mengamati daerah-daerah yang sering terdapat benda
asing / genangan air dan daerah-daerah yang dilakukan
perbaikan. Inspeksi ini fokus pada area dimana terdapat
potensi kerusakan atau pada area dimana kerusakan mulai
terjadi sesuai yang tercatat dalam laporan harian
3) Inspeksi bulanan

Pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh untuk perkerasan


prasarana sisi udara. Hasil evaluasi dapat dilakukan sebagai
bagian dari perencanaan penanganan kerusakan

4) Inspeksi tahunan

Review komprehensif dari pengamatan dan perbaikan yang


dilakukan dari tahun anggaran terbaru berikut biaya yang
dikeluarkan. Review juga dilakukan terhadap tahun anggaran
sebelumnya.

Semua inspeksi harus dicatat dengan baik dan disimpan


dalam file dan dilaporkan kepada kepala kantor unit
penyelenggara Bandar udara/general manager/pimpinan
bandar udara.

Upaya pertama dalam mencegah terjadinya akibat buruk


dalam pelayanan operasi penerbangan adalah dengan
penanganan segera. Penanganan ini dilakukan jika terdapat
indikasi yang akan mengganggu

dan terdapat cacat pada perkerasan prasarana sisi udara yang


dapat mengakibatkan kerusakan lebih fatal dan berpotensi
mengganggu keselamatan operasi penerbangan.

Penanganan dilakukan dengan memperhatikan potensi yang


mengganggu tersebut serta derajat tingkat kerusakan serta
upaya untuk mencegah kerusakan lebih luas yang terjadi.

Tindakan yang dilakukan tepat waktu dan kualitas yang baik


pada perkerasan prasarana sisi udara dapat menghindarkan
dari ancaman keselamatan pada operasi penerbangan
sekaligus mengurangi biaya pemeliharaan dan melindungi
investasi atas prasarana tersebut.

Pengawasan/monitoring dilakukan rutin setelah pelaporan


dan penanganan potensi yang mengganggu atau terdapat
perbaikan pada kerusakan konstruksi perkerasan.
Pengawasan ini seperti halnya inspeksi rutin, perlu dilakukan
pencatatan dan pelaporan dan segera ditangani apabila
potensi yang mengganggu atau perbaikan yang dilakukan
tidak menghasilkan kondisi yang lebih baik. Elemen yang
terkait untuk kegiatan pemeliharaan prasarana sisi udara
dapat dilakukan secara mandiri atau pihak lain yang
dipercaya dan mampu secara kualitas untuk melaksanakan
pekerjaan pemeliharaan prasarana sisi udara sebagaimana
dijabarkan dalam bagan alir berikut ini. Kondisi ideal dari
pemeliharaan yang optimal adalah dengan tidak terbatasnya
biaya untuk kegiatan pemeliharaan

Metode Inspeksi Kerusakan dan Perbaikan

Penentuan saat
pemeliharaan dan tata cara
penanganan pemeliharaan

Dilaksanakan oleh Dilaksanakan oleh Bidang


Kontraktor / Pihak Infrastruktur Landasan
bandar udara
Lain

Hasil dan Laporan Pekerjaan Laporan Pemeliharaan

Monitoring
D. Proses Pemeliharaan

 Setelah pekerjaan selesai, maka diadakan pembersihan


lokasi, dari sisa material pekerjaan , kotoran bekas
bongkaran dan kotoran lain yang dapat mengganggu
kelancaran lalu lintas , bekas kotoran dibuang.

 Setelah itu Kami mengajukan permohonan secara tertulis


untuk dilakukan pemeriksaan pekerjaan dalam rangka serah
terima pertama pekerjaan ( PHO )

 PPK menugaskan kepada Panitia Peneliti Hasil Pekerjaan (


PPHP ) untuk melakukan pemeriksaan lapangan.

 PPHP kemudian melakukan pemeriksaan lapangan dan


membuat daftar kerusakan dan kekurangan dari pekerjaan
dan hasil pengujian yang relevan harus dilampirkan pada
proses verbal PHO

 Kami kemudian segera melengkapi / memperbaiki


kekurangan/ penyimpangan yang ada. Setelah semua
persyaratan telah terpenuhi maka dibuat berita acara PHO
dan ditanda tangani oleh kedua belah pihak.

 Setelah penandatangan PHO, maka dimulailah masa


pemeliharaan pekerjaan. Dalam masa pemeliharaan jika ada
kerusakan-kerusakan yang terjadi, Penyedia Jasa harus
segera melakukan perbaikan sesuai kondisi saat
diserahterimakan.

 Setelah melakukan perbaikan, Kami selaku Kontraktor


melaporkan hasil perbaikan kepada PPK, dan PPK
menugaskan PPHP untuk melakukan pemeriksaan di lapangan
dan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dan setelah
masa pemeliharaan berakhir kemudian dilanjutkan dengan
penandatangan Berita Acara Serah Terima II ( FHO ).
E. Prosedur Serah Terima

 Kontraktor mengajukan permohonan tertulis kepada PPK


untuk serah terima Pertama Pekerjaan ( PHO )
 PPK menugaskan / membentuk Panitia Peneliti Hasil
Pekerjaan ( PPHP ) untuk melakukan pemeriksaan di
lapangan
 Tim PPHP, Konsultan Pengawas, Direksi Teknis serta Kami
selaku Kontraktor Pelaksana bersama-sama melakukan
pengukuran di lapangan.
 Jika tidak ada kekurangan, maka PPHP akan membuat laporan
dan rekomendasi kepada PPKuntuk dilakukan acara serah
terima pertama pekerjaan ( PHO )
 PPK menerima rekomendasi dan laporan dari tim PPHP
 PPK dan Kontraktor menandatangani Berita Acara Serah
Terima Pertama Pekerjaan ( PHO )
 Setelah penandatangan PHO, maka dimulailah masa
pemeliharaan pekerjaan. Dalam masa pemeliharaan jika ada
kerusakan-kerusakan yang terjadi, Penyedia Jasa harus
segera melakukan perbaikan sesuai kondisi saat
diserahterimakan
 Setelah melakukan perbaikan, Kami selaku Kontraktor
melaporkan hasil perbaikan kepada PPK, dan PPK
menugaskan PPHP untuk melakukan pemeriksaan di lapangan
dan dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dan setelah
masa pemeliharaan berakhir kemudian dilanjutkan dengan
penandatangan Berita Acara Serah Terima II ( FHO ).