Anda di halaman 1dari 3

Berdasarkan analisis kasus permasalahan diatas, maka setiap aktor memiliki nilai yang

dapat dibedah satu-persatu:

 Karakter dr. Wesli


Dari ilustrasi tersebut dapat menggambarkan bahwa dr. Wesli adalah orang yang
memiliki sikap ANEKA. Hal ini dapat dijelaskan pada karekter dan pola fikirnya.
 AKUNTABILITAS
Pada point ini terlihat dari sifatnya yang profesional, kredibel, jujur, dan
bertanggungjawab dalam memegang teguh pekerjaanya sebagai seorang dokter.

 NASIONALISME
Sikap nasionalisme ditunjukan melalui baktinya terhadap kecintaan dan rasa
responsibilitasnya dalam menangani pasien dan jiwa loyalitas terhadap rumah
sakit.

 ETIKA PUBLIK
Sikap kompeten dan kemampuan teknis yang dimiliki beliau sudah tidak diragukan
lagi, terlihat dari banyaknya pasien yang selalu berobat kepada beliau. Selain
didukung dengan kemampuan teknis dan kompetensinya, beliau juga memiliki
sifat yang memegang teguh kode etik profesi sebagai seorang dokter.

 KOMITMEN MUTU
Efektif, efisien, produktif, bertanggungjawab serta selalu menjujunjung
kualitas mutu yang selalu diterapkan dalam setiap profesinya menjadi seorang
dokter. Produktif dan selalu memberikan pelayanan prima kepada setiap pasienya
sehingga banyak pasienya yang selalu datang kepadanya.

 ANTI KORUPSI
Jiwa anti korupsi, integritas, transparan, jujur telah menjadi landasan beliau
dalam bekerja dan bekarya di rumah sakitnya bekerja. Hal ini terlihat dari caranya
menolok kesempata untuk melakukan tindak korupsi dengan cara menerima
tawaran dari MR selalu suplaiyer obat untuk pasien. Padahal dari kesempatan
tersebut, beliau dapat mengambil keuntungan sebesar 20% dari hasil penjualan.
Meskipun memiliki kesempatan untuk melakukan tindak korupsi dari hasil
penjualan beliau menolak, korupsi ini dapat ditolaknya karena adanya sikap
integritas atau spiritual acuntability yang baik sehingga kesempatan yang ada di
TOLAK.

Maka dapat disimpulkan dari sifat dr. Wesli yang dapat diteladani bagi saya adalah
adanya nilai-nilai ANEKA yang selalu diterapkan sehingga dapat menjalankan peranya
sebagai dokter yang memegang amanah dan bertangggungjawab. Selalu memberikan
pelayanan yang prima bagi setiap pasien, akuntabilitas dan responsif dalam memgang
teguh kode etik profesinya, jujur dan transparan dalam komitmen sebagai seorang
dokter.
2. Karakter Direktur Rumah Sakit

Sikap seorang direktur rumah sakit yang ditunjukan cukup mencoreng nama baik instansi
dan telah melanggar kode etik profesinya sebagai seorang pelayan publik. Perilaku tak
baik yang ditunjukannya terlihat dari caranya menerima adanya keuntungan 20% yang akan
diterima jika menggunakan produk dari MR. Sikap ini telah tergelincir dari nilai-nilai dasar
ASN misalnya direktur tersebut TIDAK AKUNTABILITAS karna tidak memiliki sikap
integritas dan responsif dalam memberikan pelayanan yang prima, tapi semata-mata hanya
untuk mendapat keuntungan yang lebih. TIDAK NASIONALIS karna sebagai seorang
direktur seharusnya tetap bisa menjalankan fungsinya sebagai pimpinan dengan tetap loyal
terhadap instansi dan SOP yang telah disepakati dalam rumah sakittersebut. TIDAK
berETIKA PUBLIK karena telah melanggar kode etik profesi sebagai seorang dokter,
meskipun memiliki kemampuan leadhership dan kompetensi. TIDAK berKOMITMEN
MUTU karena seorang pimpinan yang harusnya memiliki sifat jujur dan transparan malah
berusaha menyembunyikan fakta terkait persetujuanya menggunakan obat dari MR yang
katanya sesuai prosedur ilmiah, padahal hanya didasarkan atas keuntungan sebesar 20%.
Maka dari lunturnya point- point tersebut berindikasi dan sangat bisa terjadi tindak pidana
KORUPSI sebagai upaya pengambilan keuntungan.

3. Karakter MR

Sebagai seorang marketing harusnya tetap bisa memegang amanah dan tanggungjawab dalam
kegiatan jual beli khususnya obat. Dapat dilihat dari kasus ini, bahwa beliau telah
menunjukan sifat yang tidak baik yaitu tidak amanah dan tidak bertanggungjawab
terhadap pekerjaanya, tidak jujur dan tidak transparan, tidak akuntabel, dan telah
menunjukan sifat tindakan gratifikasi kepada pihak rumah sakit. Bukti ini terlihat dari
caranya melakukan promosi atau penjulana obat dengan memberikan keuntungan sebesar
20%. Padahal ini jelas tidak dibenarkan dan jelas telah menyalahi aturan intstansi tersebut.

Sebagai upaya jika diibaratkan menjadi CPNS di RSUD tersebut dengan potensi yang
ada untuk membantu dr. Wesli maka saya akan:

1. Bersama dengan dr. Wesli melakukan kajain terhadap keputusan yang diambil oleh
direktur rumah sakit (sebagai wujud integritas, tanggungjawab, dan transparansi)
karna telah dianggap menyalahi aturan. Pengkajian ini didasarkan atas pengambilan
keputusan keuntungan sebesar 20% yang semata-mata hanya merugikan pihak pasien
karan harus membayar biaya obat yang lebih mahal.
2. Kajian yang telah dibuat, kemudian disampaiakan secara tertutup kepada pemangku
kebijakan rumah sakit dibawah direktur, para dokter, dan pegawai kefarmasian rumah
sakit, hal ini karena keputusan tersebut tidak benar dan dianggap sebagai upaya
gratifikasi dari pihak MR. Serta untuk menjada kredibilitas rumah sakit dan
kepercayaaan atau trust masyarakat kepada pihak rumah sakit.
3. Menolak dengan tegas tindakan yang telah diputuskan secara bersama terhadap
kebijakan tersebut karena telah menyalahi standar mutu dan pelayanan publik serta
telah mencoreng nilai-nilai akuntabilitas, etika publik, dan anti korupsi.
Adapun dampak yang ditimbulkan dari tidak diterapkanya nilai-nilai dasar ASN dari
kebijakan yang telah ada tersebut diantaranya:

1. Timbulnya sikap saling ketidakpercayaan, acuh tak acuh, dan individualistik dalam
organisasi rumah sakit karna hilangnya sikap profesionalitas, responsibilitas,
integritas, tidak transparansi dalam kinerja rumah sakit.
2. Berkurangnya kepercayaan atau trusth masyarakat terhadap rumah sakit karena
pelayanan mutu yang kurang berkualitas yang disebabkan harga obat menjadi mahal
sehingga pelayanan prima yang dirasakan oleh masyarakat tidak menimbulkan efek
puas.
3. Hilangkanya sikap loyalitas, nasionalisme dalam kinerja dan pelayanan, karna telah
tercemarnya indikasi gratifikasi dalam tubuh rumah sakit. Hal ini adalah pangkal
lunturnya nilai-nilai Anti Korupsi bagi setiap pegawai di rumah sakit.

Beberapa alternatif gagasan sebagai upaya menanggulangi terhadap kebijakan yang


salah tersebut adalah:

1. Membentuk kebijakan yang berorientasikan pada asas kekeluargaan untuk


menumbuhkan kembali sikap saling memiliki dan kepedulain dengan sesama melalui
kegiatan Family Gathering dan audit kebijakan sehingga mampu memupuk kembali
sikap profesionalitas, responsibilitas, integritas.
2. Membentuk komitmen bersama melalui Pakta Integritas sebagai upaya pemberian
layanan prima bagi pasien dan penerapan nilai-nilai layanan publik.
3. Pengimplementasian kebijakan Anti KKN bagi setiap pegawai di lingkungan rumah
sakit. Dengan ketentuan siap menanggung sangsi dikeluarkan dan diberhentikan
secara tidak hormat jika terindikasi KKN.

Adapun konsekuensi jika gagasan tersebut diterapkan:

1. Terbentuknya sikap profesionalitas, responsibilitas, integritas, transparansi dalam


kinerja rumah sakit meskipun berdampak pada berkurangnya anggaran rumah sakit
karna digunakan sebagai kegiatan Family Gathering dan audit kebijakan yang belum
tentu efektif dan efisien.
2. Timbulnya kepercayaan kembali dari masyarakat dan membentuk SDM yang
memiliki sikap profesional dan kompeten dalam memberikan pelayanan publik.
3. Membentuk pribadi yang mampu mengimplementasikan nilia-nilai Anti Korupsi,
akuntabilitas dan menjunjung karakter nasionalisme. Meskipun membutuhkan waktu
yang lama dan belum tentu semua pegawai dapat melaksanakanya dengan ikhlas.