Anda di halaman 1dari 12

STUDI KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI

SEKOLAH DAN PTU


Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah

“Studi Kebijakan Pendidikan Agama Islam”

Disusun Oleh:

Agung Aji Saputra :17771050

Dosen Pengampu:

Prof. Dr. H. Baharuddin, M.Pd

PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2019
A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Menurut Muhaimin, pendidikan ke-Islaman atau pendidikan agama Islam
adalah upaya mendidikkan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar
menjadi way of life (pandangan hidup) seseorang. Hal ini, dapat berwujud: a)
segenap kegiatan yang dilakukan seseorang untuk membantu seorang/ sekelompok
peserta didik dalam menanamkan dan/ atau menumbuhkembangkan ajaran Islam
dan nilai-nilainya sebagai pandangan hidup; b) segenap fenomena atau peristiwa
perjumpaan antara dua orang atau lebih yang dampaknya ialah tertanam dan/ atau
tumbuh kembangnya ajaran Islam dan nilai-nilainya pada salah satu atau beberapa
pihak.1
Demi terwujudnya ajaran agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin dan
peningkatan kualitas spiritualitas dalam pendidikan, maka dalam pengajarannya di
sekolah maupun di perguruan tinggi umum dicetuskanlah berbagai langkah
kebijakan. Kebijakan tersebut menurut H.A.R. Tilaar, merupaka cara-cara
pendekatan yang spesifik di dalam bidang-bidang tertentu di masa depan untuk
mewujudkan tujuan organisasi. Kebijakan-kebijakan tersebut dijabarkan dari tujuan
yang disepakati oleh organisasi untuk diwujudkan.2
Namun, dalam pelaksanaannya kebijakan-kebijakan tersebut belum dapat
dijalankan sebagaimana yang diharapkan, kendala-kendala yang terjadi diakibatkan
oleh berbagai alasan, baik dari segi kebijakan itu sendiri yang cenderung
dipaksakan, maupun lemahnya pemahaman pelaksana (lembaga pendidikan)
sehingga yang terjadi adalah ketidakjelasan orientasi pengembangan pendidikan
agama Islam itu sendiri. Oleh karena itu, di sini penulis ingin mencoba menggali
berbagai kebijakan pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU dan bagaimana
implementasinya di sekolah, untuk itu penulis memberi judul: STUDI
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI
SEKOLAH DAN PTU

1
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Madrasah dan
Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016), 7-8.
2
H.A.R. Tilaar, Kekuasaan dan Pendidikan: Manajeman Pendidikan Nasional dalam
Pusaran Kekuasaan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009), 5.
2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana pendidikan agama Islam dalam peraturan dan perundang-undangan?
b. Bagaimana model pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU?
c. Bagaimana implementasi pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU?

3. Tujuan
Kajian makalah ini adalah studi kebijakan pendidikan agama Islam di sekolah
dan PTU, bagaimana model dan juga implementasinya. Untuk mencapai tujuan
tersebut, tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengungkap:
a. Pendidikan agama Islam dalam peraturan dan perundang-undangan
b. Model pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU
c. Implementasi pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU

B. PEMBAHASAN
1. Pendidikan Agama Islam dalam Peraturan dan Perundang-Undangan
Menindak lanjuti amanat TAP MPR No. IV/ MPR/ 1973 jo. Tap MPR No. IV/
MPR 1978 dan Tap MPR No. II/ MPR/ 1983 tantang GBHN, maka lahirlah UU sistem
pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989. Selain untuk memperbaharui sistem
pendidikan Nasioanal, UU tersebut juga untuk memperkuat eksistensi pedidikan
agama di dalam lembaga pendidikan, karena pendidikan agama adalah sebuah
kurikulum yang wajib diselenggarakan dalam lembaga pendidikan, yang diberlakukan
sejak dari Sekolah Dasar hingga Universitas.3
Dalam praktiknya kabijakan tersebut menuai pro dan kontra, hingga diterbitkan
UU yang baru No. 20 tahun 2003 menggantikan yang sebelumnya. Dalam UU No. 2
tahun 1989 pendidikan agama ditempatkan pada posisi kedua setelah pendidikan
pancasila, sedangkan pada UU No. 20 tahun 2003 menempatkan pendidikan agama
Islam pada urutan pertama. Hal ini dapat dilihat pada pasal 37 ayat 1 dan 2 UUSPN,

3
Choirul Fuad Yusuf, Kajian Peraturan Perundang-Undangan Pendidikan Agama Pada
Sekolah, (Jakarta: Pena Citrasatria, 2008), 55.
dalam UUSPN tersebut nampak bahwa pendidikan agama Islam adalah suatu
kurikulum wajib dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.4
Pendidikan Agama Islam (PAI) dapat diartikan sebagai program yang terencana
dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga
mengimani ajaran agama Islam serta diikuti tuntunan untuk menghormati penganut
agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga
terwujud kesatuan dan persatuan bangsa.5
Pendidikan Islam sebagai sub-sistem pendidikan Nasional, sebagaimana
dikatakan Muhaimin adalah: pendidikan Islam merupakan sistem pendidikan yang
diselenggarakan atau didirikan dengan niat untuk mengejawantahkan ajaran dan nilai-
nilai Islam dalam kegiatan pendidikannya.6
Sementara itu, tujuan ideal yang diharapkan dari pendidikan nasional
sebagaimana termaktub dalam UUSPN No. 20 tahun 2003 adalah:
Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa
yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan
untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis
serta bertanggung jawab.
Dari tujuan pendidikan di atas baik Islam maupun Nasional, Hasbullah
menjelaskan setidaknya terdapat dua dimensi yang ingin diwujudkan, yaitu:7
a. Dimensi transedental, (lebih dari sekedar ukhrawi) yang berupa ketakwaan,
keimanan dan keikhlasan.
b. Dimensi duniawi, melalui nilai-nilai material sebagai sarananya, seperti
pengetahuan, kecerdasan, keterampilan, keintelektualan dan sebagainya.
Menurut Konsorsium Ilmu Agama Direktorat Jendaral Pendidikan Tinggi
Departemen Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan agama di perguruan tinggi adalah
untuk membantu terbinanya sarjana beragama yang beriman dan bertakwa kepada

4
H. M. Hasbullah, Kebijakan Pendidikan dalam Perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi
Objektif Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2015), 217.
5
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan
Kepribadian Muslim. (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2006), 6.
6
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, 8.
7
H. M. Hasbullah, Kebijakan Pendidikan dalam Perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi
Objektif Pendidikan di Indonesia, 215.
Tuhan Yang Maha Esa, yaitu sarjana yang berbudi pekerti luhur, berpikir filosofis,
analitis, sistematis, bersikap rasional dan dinamis, berpandangan luas, ikut serta secara
aktif dalam pembangunan melalui pengembangan dan pemanfaatan ilmu, teknologi
dan seni untuk kepentingan nasional. Sedangkan visi mata pelajaran PAI di perguruan
tinggi umum adalah menjadikan ajaran agama Islam sebagai sumber nilai dan
pedoman yang mengantarkan mahasiswa dalam pengembangan profesi dan
kepribadian Islam. Adapun misinya adalah membina kepribadian mahasiswa secara
utuh dengan harapan bahwa mahasiswa kelak akan menjadi ilmuwan yang beriman
dan bertakwa kepada Allah SWT., mampu mengabdikan ilmunya untuk kesejahteraan
umat manusia. Sebagaimana dijabarkan dalam UU No. 2 tahun 1989. Pasal 2
dijelaskan bahwa pendidikan nasional adalah untuk membentuk manusia Indonesia
seutuhnya, yaitu beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berbudi pekerti
luhur, cerdas dan terampil, sehat jasmani dan rohani, memiliki rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.8
Mengenai tujuan kelompok mata pelajaran Agama dan Akhlak Mulia yang
termuat dalam Permendiknas No. 23 Tahun 2006, bahwa kelompok mata pelajaran
Agama dan Akhlak Mulia bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang
beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia, yang
dicapai melalui muatan atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu
pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan.9
Selanjutnya mengenai Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas RI Nomor: 43/ DIKTI/
Kep/ 2006 tentang Rambu-Rambu Pelaksanaan Kelompok Mata Kuliah
Pengembangan Kepribadian (MPK) di Perguruan Tinggi bahwa visi kelompok mata
kuliah pengembangan kepribadian (MPK) termasuk di dalamnya pendidikan agama di
perguruan tinggi merupakan sumber nilai dan pedoman dalam pengembangan dan
penyelenggaraan program studi guna mengantarkan mahasiswa memantapkan
kepribadiannya sebagai manusia Indonesia seutuhnya.10

8
Muhammad Alim, Pendidikan Agama Islam., 7.
9
Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen
Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2009),
52.
10
Muhaimin, Rekonstruksi Pendidikan Islam, 52.
Di atas telah dijelaskan mengenai beberapa UU yang mengatur pendidikan
agama Islam di Perguruaan Tinggi Umum, berikut mengenai pendidikan agama Islam
di sekolah
Tabel 2.1
Identifikasi dan Ketegorisasi Kurikulum Pendidikan Agama
Peraturan perundang-
Pasal-pasal Substansi Materi
undangan
UUSNP No. 20 th 2003 1. Pasal 36 ayat 1 1. Prinsip dasar
2. Pasal 36 ayat 3 pengembangan
3. Pasal 37 ayat 1 kurikulum harus
4. Pasal 37 ayat 2 sesuai dengan tujuan
5. Pasal 37 ayat 3 pendidikan nasional,
6. Pasal 38 ayat 2 & 3 mencakup diantaranya
peningkatan iman dan
takwa, akhlak mulia
dan agama
2. Kewajiban
memasukkan muatan
pendidikan agama
dalam semua jenjang
pendidikan daar,
menengah dan tinggi
PP No 19 th 2005 tentang 1. Pasal 6 ayat 1 1. Kurikulum pada
standar nasional 2. Penjelasan pasal 6 ayat pendidikan umum,
pendidikan 1 kejuruan dan khusus
3. Pasal 6 ayat 5 memuat 5 kelompok
4. Pasal 7 ayat 1 mata pelajaran, salah
5. Pasal 14 ayat 1 satunya agama dan
6. Pasal 14 ayat 2 akhlak mulia, begitu
7. Pasal 8 ayat 3 pula di perguruan
8. Pasal 10 ayat 3 tinggi wajib memuat
pendidikan agama
2. Semua kelompok
mapel sama
pentingnya dalam
menentukan kelulusan
pesdik
3. Integrated curriculum
dan muatan lokal
SKB menteri agama dan Pasal 4 ayat 1, 2, 3 dan 1. Kurikulum
mendikbud No. 4 pendidikan agama
4/U/SKB/1999 dan No disusun oleh
570 Tahun 1999 tentang Departemen agama
penyeleggaraan bekerjasama dengan
pendidikan agama di Depdikbud yang
sekolah kemudian ditetapkan
oleh Mendikbud atas
persetujuan Menag
2. Petunjuk pelaksanaan
pendidikan agama
disusun oleh Depag
bekerjasama dengan
Depdikbud untuk
kemudian ditetapkan
oleh Menag

Permendiknas No. 22 th Lampiran Bab II 1. Cakupan materi


2006 tentang kerangka dasar kelompok mata
kurikulum pelajaan agama dan
akhlak mulia
2. Prinsip
pengembangan
kurikulum dan prinsip
pelaksanaan
kurikulum
3. Struktur kurikulum
(mata pelajaran agama
dibandingkan dengan
mata pelajaran
lainnya)
Dari uraian di atas, terdapat beberapa hal yang dapat disimpulkan, yakni:
Pertama, dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia tentang pendidikan telah
mengakomodasi dan menetapkan pendidikan agama sebagai salah satu mata pelajaran
strategis dan wajib diajarkan pada semua jenjang pendidikan. Kedua, meskipun
pendidikan agama dianggap wajib dan sama pentingnya dalam hal kelulusan, namun
jumlah jam pelajaran yang dialokasikan ternyata masih kurang memadai. Keempat,
meskipun pendidikan agama ditetapkan pada urutan pertama dan dianggap sebagai
dasar tetapi dalam beberapa pelaksanaannya pendidikan agama diajarkan secara
terpisah.

2. Model Pengembangan Pendidikan Agama Islam di sekolah dan PTU


Untuk memperjelas pemetaan pengembangan pendidikan agama Islam di
sekolah maupun di Perguruan Tinggi, maka perlu diketahui beberapa model
pengambangan pendidikan agama Islam itu sendiri, menurut Muhaimin setidaknya
ditemukan tiga jenis pengembangan pendidikan agama Islam, yaitu dikotomis,
mechanism dan organism (sistemik).
a. Paradigma dikotomi atau diskrit, memandang bahwa segala sesuatu hanya dilihat
dari dua sisi yang berlawanan, seperti laki-laki dan perempuan, ada dan tidak ada,
bulat dan tidak bulat, pendidikan keagamaan dan non-keagamaan atau pendidikan
agama dan umum.11 Juga diartikan sebagai pembagian atas dua kelompok/ bagian
yang saling bertentangan. Ada pula yang mengartikan dikotomi sebagai pemisahan
secara teliti dan jelas dari satu jenis menjadi dua yang terpisah satu sama lain dan
tidak dapat disatukan sama sekali.12
b. Paradigma Mechanism, memandang kehidupan terdiri atas berbagai aspek, dan
pendidikan dipandang sebagai penanaman dan pengembangan seperangkat nilai
kehidupan, yang masing-masing bergerak dan berjalan menurut fungsinya.
Bagaikan sebuah mesin yang terdiri atas beberapa komponen atau elemen-elemen,
yang masing-masing menjalankan fungsinya sendiri-sendiri dan antara satu dengan
yang lainnya bisa saling berkonsultasi atau tidak.13
c. Pardigma organism, dalam konteks pendidikan Islam, paradigma organism bertolak
dari pandangan bahwa aktivitas kependidikan merupakan suatu sistem yang terdiri
atas komponen-komponen yang hidup bersama dan bekerja sama secara terpadu
menuju tujuan tertentu, yaitu terwujudnya hidup yang religius atau dijiwai oleh
ajaran dan nilai-niai agama.14
Jika dilihat dari fungsinya PAI di sekolah serta visi dan misi PAI di PTU di atas,
secra konseptual-teoritis PAI di kembangkan kea rah paradigm organisme atau
sistemik. Namun demikian, realitasnya umumnya PAI di sekolah maupun di PTU
dikembangkan dengan menggunakan paradigm dikotomis atau mekanisme, dan jarang
yang menggunakan paradigma organisme.15 Oleh karena itu, menurut Muhaimin
seharusnya paradigma pengembangan PAI perlu direkonstruksi, dari paradigma

11
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, 31-32.
12
Baharuddin, Umiarso dan Sri Minarti, Dikotomi Pendidikan Islam Historitas dan Implikasi
Pada Masyarakat Islam. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011), 1-2.
13
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Madrasah dan
Perguruan Tinggi., 35-36.
14
Ibid., 39.
15
Ibid., 41.
dikotomis dan mekanisme kea rah paradigma organisme atau sistemik. Hanya saja
menurutnya, untuk merombak paradigma tersebut diperlukan kemampuan guru PAI
dan political will dari para pengambil kebijakan, termasuk di dalamnya para pimpinan
lembaga pendidikan itu sendiri.16

3. Implementasi Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan PTU


George R. Terry, sebagaimana dikutip Rusman mengungkapkan bahwa
implementasi merupakan usaha menggerakkan anggota-anggota kelompok sedemikian
rupa hingga mereka berkeinginan untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan
sebelumnya sesuai dengan peran, tugas dan tanggung jawabnya.17 Maka pada
dasarnya implementasi pendidikan agama Islam adalah proses kegiatan belajar
mengajar yang dilakukan oleh pendidik/ tenaga kependidikan dan peserta didik di
dalam ataupun di luar kelas.
Sebagaimana diketahui bahwa pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU
dapat dikategorikan sebagai bagian dari pendidikan Islam, dalam kaitannya dengan tujuan
mengembangkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt., Tuhan Yang Maha Kuasa.
Kategori sebagai pendidikan Islam ini terutama dilihat dari pengertian pendidikan Islam
dari sudut filosofisnya, bahwa esensi pendidikan Islam adalah untuk mengembangkan
pribadi muslim yang memahami ajaran agamanya dan dapat mengamalkannya dalam
kehidupan sehari-hari sebagai pengabdian kepada Sang Pencipta.18
Jika melihat dalam UUSNP No. 20 tahun 2003, pendidikan agama merupakan
pendidikan yang wajib diajarkan dalam semua jenjang pendidikan dari mulai pendidikan
dasar hingg perguruan tinggi. Hal ini, merupakan bentuk perhatian pemerintah terhadap
pentingnya pendidikan agama. Dalam hal ini, Hasbullah memandang bahwa pendidikan
keagamaan (termasuk pendidikan agama Islam), merupakan bagian dari dasar dan inti
kurikulum pedidikan Nasional, dan dengan demikian pendidikan Islam pun terpadu dalam
sistem pendidikan nasional.19

16
Ibid., 43-44.
17
Rusman, Manajemen Kurikulum, Cet. III, (Jakarta: Rajawali Press, 2011), 125.
18
Nurhayati Djamas, Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia Pascakemerdekaan, (Jakarta:
Rajawali Pers, 2009), 119.
19
H. M. Hasbullah, Kebijakan Pendidikan dalam Perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi
Objektif Pendidikan di Indonesia, 217.
Dari hal di atas, menurut Muhaimin semestinya pendidikan agama islam
dikembangkan ke arah paradigma organisme atau sistemik, karena jika pendidikan
agama Islam terpisah-pisah, sebagaimana dikutip Muhaimin dari Tilaar bahwa
pemikiran dan gagasan-gagasan dari para ahli yang terpisah-pisah dapat berbahaya
dalam eksistensi kehidupan manusia.20
Sejalan dengan hal tersebut, Samsul Nizar mengelompokkan perguruan tinggi
menjadi dua jenis, pertama, Perguruan Tinggi Umum (PTU), yang dikelola oleh
departemen pendidikan nasional, kedua, Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI), yang
dikelola oleh Departemen Agama.21 Hal ini, tidaklah jauh berbeda dengan pendidikan
dasar maupun menengah. Terdapat penyelenggaraan pendidikan agama berciri khas
keagamaan dan umum. Pengelompokkan seperti ini akan berimbas kepada jenis
penyelenggaraan pendidikan agama, tujuan serta kurikulum pendidikan agama pada dua
kelompok tersebut.22
Implementasi pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) antara di Perguruan
Tinggi Agama Islam (PTAI) dan di Perguruan Tinggi Umum (PTU) sangatlah
berbeda. Hal ini dapat dilihat dari tujuan penyelenggaraan pendidikan agama Islam
yang berbeda dari dua kelompok perguruan tinggi tersebut, dimana tujuan
penyelenggaraan pendidikan agama Islam di Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAI)
yaitu mencetak para ahli agama (ulama) dalam semua tingkat, kurikulumnya juga
lebih dominan menekankan aspek keagamaan Islam serta nuansa dan lingkungan yang
religius juga lebih kentara (tampak) di kampus atau universitas yang berciri khas
agama Islam.
Berbeda dengan penyelenggaraan pendidikan agama Islam di Perguruan Tinggi
Umum (PTU), dimana bertujuan untuk memenuhi kewajiban setiap orang mengetahui
dasar-dasar ajaran agamanya sebagai seorang pemeluk agama, kurikulum pendidikan
agama Islam di Perguruan Tinggi Umum (PTU) hanya merupakan mata kuliah
pengembangan kepribadian, bukan merupakan mata kuliah dasar keahlian dan mata kuliah

20
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah, Madrasah dan
Perguruan Tinggi, 42.
21
Samsul Nizar dan Muhammad Syaifudin, Isu-Isu Kontemporer Tentang Pendidikan Islam,
(Jakarta: Kalam Mulia, 2010), hlm. 236.
22
Irma Novayani, Studi Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah dan
Perguruan Tinggi Umum (PTU), http://ejurnal.kopertais4.or.id/sasambo/index.php/at-tadbir.
Diakses 7 april 2019.
keahlian, dan kondisi perbedaan latar belakang keagamaan mahasiswanya juga bermacam-
macam, dalam arti mahasiswa di PTU lebih bersifat heterogen, jadi dengan keadaan yang
seperti itu, sangat sulit untuk menciptakan lingkungan yang religius bernuansa Islam.
Dalam mencapai tujuan pendidikan agama Islam itu, sekolah dan PTU banyak
mengembangkan budaya agama (religius culture), pembiasaan berdoa sebelum dan
sesudah pelajaran, shalat dhuha, peringatan Hari Besar Islam, shalat berjamaah dan
sebagainya.

C. KESIMPULAN
1. Pendidikan agama Islam dalam peraturan dan perundang-undangan
Berbagai kebijakan pendidikan agama Islam telah ditetapkan, guna meningkatkan
mutu pendidikan agama Islam itu sendiri, pendidikan agama Islam di sekolah dan
di Perguruan Tinggi Umum telah dijelaskan di UUSPN No. 20 tahun 2003 pasal 37
ayat 1 dan 2, Permendiknas No. 23 Tahun 2006, Keputusan Dirjen Dikti Depdiknas
RI Nomor: 43/ DIKTI/ Kep/ 2006, PP No 19 th 2005, SKB menteri agama dan
mendikbud No. 4/U/SKB/1999 dan No 570 Tahun 1999 serta Permendiknas No. 22
th 2006. Dan berbagai peraturan mengenai pasal-pasal penjelas dari UU tersebut.
2. Model pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU
Model pengembangan pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU, terdapat tiga
pembagian, yaitu dikotomis, mechanism dan organism (sistemik).
3. Implementasi pendidikan agama Islam di sekolah dan PTU
Pendidikan agama Islam adalah suatu hal yang wajib diajarakan dalam setiap
jenjang pendidikan, dari tingkat sekolah dasar sampai perguruan tinggi, hal tersebut
menunjukkan bahwa pemerintah memperhatikan pendidikan agama Islam di semua
lini pendidikan, meskipun dalam implementasinya pendidikan agama Islam masih
termarjinal, sekolah-sekolah maupun Perguruan Tinggi Umum dapat
mengembangkannya dalam berbagai bentuk pengembangangan, seperti religius
culture dan lain sebagainya.
DAFTAR RUJUKAN

Alim, Muhammad, Pendidikan Agama Islam: Upaya Pembentukan Pemikiran dan


Kepribadian Muslim. (Bandung: PT Remaja RosdaKarya, 2006).
Djamas, Nurhayati, Dinamika Pendidikan Islam di Indonesia Pascakemerdekaan,
(Jakarta: Rajawali Pers, 2009).
Hasbullah, H. M., Kebijakan Pendidikan dalam Perspektif Teori, Aplikasi, dan Kondisi
Objektif Pendidikan di Indonesia, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2015).
Muhaimin, Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam di Sekolah Madrasah
dan Perguruan Tinggi, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2016).
________, Rekonstruksi Pendidikan Islam: Dari Paradigma Pengembangan, Manajemen
Kelembagaan, Kurikulum hingga Strategi Pembelajaran. (Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada, 2009).
Nizar, Samsul dan Muhammad Syaifudin, Isu-Isu Kontemporer Tentang Pendidikan
Islam, (Jakarta: Kalam Mulia, 2010).
Rusman, Manajemen Kurikulum, Cet. III, (Jakarta: Rajawali Press, 2011).
Tilaar, H.A.R., Kekuasaan dan Pendidikan: Manajeman Pendidikan Nasional dalam
Pusaran Kekuasaan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2009).
Umiarso, Baharuddin, dan Sri Minarti, Dikotomi Pendidikan Islam Historitas dan
Implikasi Pada Masyarakat Islam. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2011).
Yusuf, Choirul Fuad, Kajian Peraturan Perundang-Undangan Pendidikan Agama Pada
Sekolah, (Jakarta: Pena Citrasatria, 2008).
Novayani, Irma, Studi Kebijakan Pengembangan Pendidikan Agama Islam di Sekolah
dan Perguruan Tinggi Umum (PTU),
http://ejurnal.kopertais4.or.id/sasambo/index.php/at-tadbir. Diakses 7 april
2019.