Anda di halaman 1dari 25

KAJIAN TAFSIR DARI SEGI METODE DAN KECENDERUNGANNYA

Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah
“Studi Al-Qur’an”

Disusun Oleh:
Agung Aji Saputra
NIM: 17771050

Dosen Pengampu:
DR. H. Baharuddin Fanani. M. A.

PROGRAM PASCASARJANA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
MAGISTER PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG

2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pembahasan tafsir dari zaman Rasulullah hingga saat ini menjadi
pembahasan yang tidak pernah ada habisnya untuk dibicarakan dan
didiskusikan. Mengingat yang menjadi objek bahasannya adalah al-Qur’an
sebagai kitab yang sempurna mencakup berbagai persoalan kehidupan. Dari
kehidupan dunia sampai ke akhirat.
Tidak seperti kitab-kitab yang diurunkan sebelum al-Qur’an, yang
hanya berguna dan dijadikan pedoman pada masa sang pembawa risalah
masih hidup. Al-Qur’an sebagai mukjizat yang diberikan kepada Nabi
Muhammad sebagai Nabi akhir jaman sudah barang tentu akan tetap ada
meski sang pembawa risalah telah tiada. Keotentikan al-Qur’an, bahkan
dijaga dan ditegaskan langsung oleh Allah SWT. dalam salah satu ayat al-
Qur’an Allah SWT berfirman:
  
  

Artinya: Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan
Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya.
Ayat ini memberikan jaminan tentang kesucian dan kemurnian Al
Quran selama-lamanya. Namun, apakah ayat tersebut hanya diyakini oleh
kepercayaan tanpa adanya suatu bukti, atau adakah bukti bahwa al-Qur’an
itu benar-benar otentik. Mantan Syaikh al-Azhar Abdul Halim Mahmud,
sebagaimana dikutip oleh Qurash Shihab mengatakan bahwa para orientalis
yang dari masa ke masa berusaha menunjukkan kelemahan al-Qur’an tidak
mendapatkan celah untuk meragukan keotentikannya.1
Sebagai suatu kitab yang menjadi pedoman pokok umat islam pada
khususnya dan seluruh umat pada umumnya, al-Qur’an tentu memiliki
peran penting dalam memandu juga sebagai pedoman dalam memajukan

1
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat. (Bandung: Mizan, 1994), 21.

1
kehidupan manusia. Oleh karena itu, penafsiran al-Qur’an juga dirasa
menjadi sangat penting untuk dibahas. Dari penafsiran-penafsiran itu dapat
terlihat metode, corak maupun kecenderungan seorang penafsir. Bagaimana
penafsir membawa dan mengarahkan pandangannya terhadap suatu ayat,
dalam ilmu tafsir akan dibahas secara panjang lebar.
Karena dari pembahasan yang ada, jika ditelusuri secara lebih
mendalam satu demi satu banyak sekali istilah-istilah di atas digunakan
secara berbeda-beda dalam pengelompokannya. Untuk itu, agar lebih
memfokuskan pembahsannya disini penulis mencoba menitik fokuskan
pembahasan ini kepada penjelasan berkaitan dengan manhaj dan naz’ah/
ittijah serta berbagai contoh kitab-kitab tafsir baik dari segi manhaj/ metode
dan juga naz’ah/ ittijah.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah ittijah (naz’ah), manhaj dan uslub (thariqah)?
2. Apa dan bagaimana manhaj tafsir serta macam-macamnya?
3. Berbagai contoh kitab tafsir dari segi metodenya?
4. Apakah naz’ah/ ittijah tafsir serta macamnya?
5. Berbagai kitab tafsir dari segi naz’ahnya?

2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Ittijah (Naz’ah), Manhaj dan Uslub (Thariqah)


Sesungguhnya pembahasan yang berkaitan dengan dasar-dasar tafsir
meliputi tiga hal, yaitu ittijah (naz’ah), manhaj dan uslub (thariqah).2 Dari
berbagai pembahasan yang ada, sebenarnya tidak ada satu kesepakatan yang
jelas dalam pemaknaannya.
Ibn Abbas sebagaimana dikutip al-Zarqani, meriwayatkan bahwa
tafsir itu ada 4 empat macam, sebagai berikut:
‫ حالل وحرام ال يعذر أحد‬:‫ورد عن ابن عباس رضي هللا عنهما أن التفسير أربعة‬
‫ وتفسير اليعلمه اال‬,‫ وتفسير تفسره العلماء‬,‫ وتفسير تفسره العرب بألسنتها‬,‫بجهالته‬
3
‫هللا‬
Dari hal di atas diketahui bahwa pembagian tafsir meliputi 4 hal, tafsir
tentang halal dan haram yang harus diketahui oleh semua orang, tafsir ysng
dilakukan oleh orang Arab dengan kemampuan bahasanya, tafsir yan
dilakukan oleh para ulama, dan tafsir yang tidak diketahui seorangpun
kecuali Allah SWT.
Kemudian sebagian ulama lagi membagi tafsir kedalam 3 macam,
yaitu tafsir bi al-Riwayat yang disebut juga dengan tafsir bi al-Ma’tsur,
tafsir bi al-Dira>yah atau disebut juga tafsir bi al-Ra’yi, dan tafsir bi al-
Isya>rah atau tafsir Isyari.4
Al-Farmawi misalnya, sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab,
membagi metode penafsiran kedalam empat macam, yaitu tahlili, ijmaly,
muqarran dan mauhdu’iy.5

2
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu.
(Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016), 80.
3
Al-Ustadz al-Syaikh Muhammad Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Maha>hil al-‘Irfa>n
Fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. (Makkah Mukarramah: Maktabah Nazar Mushthafa al-Ba>z,
1996), 9.
4
Ibid., 10
5
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat, 85-86.

3
Quraish Shihab, dalam hal ini, misalnya, pada salah satu bab di buku
karangan beliau tentang perkembangan metodologi tafsir, beliau
mengelompokkan corak dan metodologi tafsir terdapat corak bi l-Ma’tsur,
lalu pada poin selanjutnya terdapat metode penalaran yang berisi
pendekatan dan corak-coraknya. Pada metode ini beliau menyebutkan
dengan metode tahlili dan maudhu’iy. Dalam hal ini, beliau tidak
menjelaskan maksud dari istilah “corak”, “pendekatan”, dan “metode” yang
disebutkannya tersebut.6
Mengutip pendapat DR. Fahd Ibn Abd al-Rahman al-Rumi
sebagaimana dikutip oleh Afifuddin Dimyathi, beliau membedakan dengan
beberapa pengertian, yaitu sebagai berikut:
‫ هو الهدف الذ يتجه اليه المفسرون في تفاسيرهم ويجعلونه نصب أعينهم وهم يكتبون‬:‫االتجاه‬
‫ما يكتبون‬
‫ فهو السبيل الذي يؤدي الى هذا الهدف المرسوم‬:‫وأما المنهج‬
‫ فهي األسلوب الذي يطرقه المفسر عند سلوكه للمنهج المؤدي الى الهدف أو‬:‫وأما الطريقة‬
7
‫االتجاه‬
Dari penjelasan tersebut dapat dipahami bahwa ittijah (naz’ah) adalah
sasaran (fokus) yang menjadi tujuan mufassir dalam penafsirannya, dan
mereka menjadikanya sebagai bagian dari pandangannya untuk menuliskan
apa yang hendak dituliskannya. Sedangkan manhaj adalah jalan yang
meyampaikan kepada tujuan yang dimasud. Adapun thariqah (uslub) adalah
teknik yang digunakan mufassir saat melalui manhaj yang menyampaikan
kepada suatu tujuan atau ittijah.
Dari pengertian di atas dapat diketahui bahwa ittijah/ Naz’ah adalah
sasaran pembahasan (tujuan), sedangkan manhaj adalah jalannya dan
thariqah (uslub) adalah tekniknya/ alat yang digunakan untuk mealui jalan
guna mencapai tujuan.
B. Manhaj dan Macamnya
1. Pengertian Manhaj

6
Ibid., 83-87.
7
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 80-81.

4
Lafadz ‫ المنهج‬secara bahasa menurut Mahmud Yunus, berasal dari

kata (‫نهجا‬-‫بنهج‬-‫ )نهج‬yang berarti jalan terang, nyata, menjadi (‫ )منهج‬yang


berarti jalan yang terang dan nyata, cara berbuat, metode. 8 Allah
berfirman dalam surah al-Maidah ayat 48:9
  
……  
Artinya: “Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan
aturan dan jalan yang terang”.
Dikatakan “‫ ”نجهت الطربيق‬maksudnya adalah “‫”سلكته‬, jika
diperjelas lagi secara bahasa maka manhaj adalah, jalan yang
menyampaikan kepada satu tujuan akhir, baik tujuan tersebut berupa
tempat maupun sebagai lantaran, untuk memperjelas suatu ide atau
tujuan, baik tujuan tersebut bermanfaat atau tidak, benar maupun salah.10
Adapun secara istilah, kata manhaj maknanya adalah cara atau
jalan (metode) untuk mengetahui hakikat suatu ilmu atau permasalahan
dengan perantaraan beberapa kaidah (rumus). Atau dengan ringkas bisa
dikatakan metode untuk membahas masalah tertentu. Karena itu, manhaj
(metode) dalam membahs setiap persoalan tentu berbeda-beda. Manhaj
dalam memahami al-Qur’an dan as-Sunah tentu berbeda dengan manhaj
meneliti atom dan nuklir.11
Manhaj secara istilah sabagaimana dijelaskan M. Afifuddin
Dimyathi adalah:

‫ هي الخطط العلمية الموضوعية المححددة التي التزم‬:‫المنهج اصطالحا‬


‫ لها قواعد وأسس منهجية‬,‫بها المفسرون في تفاسيرهم للقرآن الكريم‬
12
.‫ ولها طرق وأساليب وتطبيقات ظهرت في تفاسيرهم‬,‫مرسومة‬

2. Macam-macam Manhaj Tafsir

8
Mahmud Yunus, Kamus Arab Indonesia. (Jakarta: Hida Karya Agung, 1990), 470.
9
Al-Qur’an al-Karim Terjemah Indonesia, (Kudus: Menara Kudus, 2006), 116.
10
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 108.
11
Tim Ulin Nuha, Potret Salafi Sejati Meneladani Kehidupan Generasi Pilihan.
(Solo: al-Qowam, 2007), 17-18.
12
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 108.

5
Manhaj tafsir dibagi menjadi dua bagian utama dan di dalamnya
terdapat berbagai macam manhaj yang berbeda-beda, 13 berikut
perinciannya:
a. Manhaj al-Naqliyah
Pengertian manhaj al-Naqliyah, yaitu penafsiran yang menjelaskan
makna-makna ayat al-Qur’an dengan bertolak pada apa yang terdapat
pada al-Qur’an itu sendiri dan riwayat-riwayat yang dinukil dari Nabi
Muhammad SAW., sahabat serta tabi’in. Penafsiran seperti ini juga
dikenal dengan tafsir bi al-Ma’tsur atau tafsir bi al-Riwayah atau tafsir bi
al-Manqul. 14
al-Zarqani mendefinisikan tafsir bi al-Ma’tsur sebagai
berikut:
15
‫هو ما جاء في القران أو السنة او كالم الصحابة بيانا لمراد هللا تعالى من كتابه‬
Sedangkan al-Dzahabi, sebagaimana dikutip Muhammad Nor
Ichwan mendefinisikan tafsir bi al-Ma’tsur sebagai berikut:16

‫يشمل تفسير المأثور ما جاء في القران نفسه من البيان ولتفصيل لبعض‬


‫ وما نقل عن الرسول صلى هللا عليه وسلم وما نقل عن الصحابة‬,‫اياته‬
‫ من كل ما هو بيان وتوضيح‬,‫ وما نقل عن التابعين‬,‫رضوان هللا عليهم‬
‫لمراد هللا تعالى من نصوص كتابه الكريم‬
Adapun bentuk-bentuk manhaj naqli adalah manhaj al-Qur’ani,
manhaj al-Bayani li al-Qur’an, manhaj al-Qira>at al-Mufassirah,
manhaj al-Atsari,17 adapun penjelasannya, sebagai berikut:
1) Manhaj Qur’ani,
Sesungguhnya di dalam al-Qur’an telah mengandung berbagai
hal berkenaan ijaz, ijmal, mutlaq dan ‘Amm. Juga di dalamnya
terkandung idha>h, bayan, tafsir, taqyi>d dan takhsi>s. Sebagaian
ayat dijelaskan oleh ayat yang lain, kandungan ayat yang masih

13
Ibid., 108.
14
Muhammad Nor Ichwan, Memasuki Dunia al-Qur’an. (Semarang: Lubuk Raya,
2001), 167.
15
Al-Ustadz al-Syaikh Muhammad Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Maha>hil al-‘Irfa>n
Fi> ‘Ulu>m al-Qur’an, 10.
16
Muhammad Nor Ichwan, Memasuki Dunia al-Qur’an, 167.
17
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu ,109.

6
mutlaq ditaqyi>d oleh ayat yang lain, ayat yang masih ‘amm lalu
ditakhsis pada ayat yang lain pula.
Manhaj al-Qur’ani dalam penafsiran al-Qur’an yang dimaksud
adalah penafsiran al-Qur’an dengan al-Qur’an, hal tersebut berangkat
dari pernyataan “sesungguhnya al-Qur’an menafsirkan sebagian
ayatnya dengan sebagaian yang lain”.18

2) Manhaj Bayani, secara bahasa bayani berasal dari kata (-‫يبين‬ -‫بان‬
‫)بيانا‬yang berarti nyata, terang.19 Manhaj bayani adalah metode
penafsiran yang menekankan otoritas teks (nash), secara langsung
atau tidak langsung, dan dijustifikasi oleh akal kebahasaan yang
digali lewat inferensi (Istidlal).20
3) Manhaj al-Qira’at al-Mufassirah
Manhaj qira>’at mufassirah ialah manhaj yang menyandarkan
penafsirannya pada qira>’at yang mutawatir yang menunjukkan
kepada suatu penjelasan dari rahasia-rahasia penurunan ayat, manhaj
qira>’at sebagaimana al-Qur’an yang menafsirkan sebagian ayat
dengan sebagian ayat yang lain. Terlebih lagi saat keduanya
hakikatnya maksud yang sama. Manhaj ini sangat memperhatikan
terhadap qira>’at yang mutawatir saja, untuk menjelaskan makna dan
mengetahui maksud ayat. Hal itu dikarenakan perbedaan qira>’at pada
al-Qur’an mengakibatkan perbedaan pula pada pemaknaannya.21
Jadi, yang harus dijadikan patokan adalah bahwa selain qira’at
mutawatir maka tidak termasuk manhaj ini. Sebagaimana qira’at
syadz. Dan juga perlu diketahui bahwa tidaklah semua perbedaan
qira’at dapat menyebabkan perbedaan pendapat dalam penafsirannya.
Oleh karena itu pembahasan manhaj qira’at ini dikelompokkan
menjadi dua pembahsan, yaitu:

18
Ibid., 109.
19
Mamud Yunus, Kamus Arab- Indonesia, 75.
20
A Khudori Sholeh, Ulul Albab Jurnal Studi Islam. (Malang: UIN Maliki, 2009),
Vol 10, No. 2, 174.
21
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu , 120.

7
a) Qira’at yang tidak menyebabkan perbedaan penafsiran, yaitu
perbedaan imam Qurra’ dalam pengucapan huruf, harakat,
seperti kira-kiranya panjang bacaan, takhfif, tashil tahqiq, jahr,
hams, gunnah dan ikhfa’.22
b) Qira’at yang menyebabkan perbedaan penafsiran, yaitu
perbedaan imam Qurra’ pada huruf kalimat, harakat yang dapat
mempengaruhi perubahan makna fi’il.23
4) Manhaj al-Atsari
Manhaj al-Atsari adalah penafsiran al-Qur’an dari atsar Nabi,
sahabat dan tabi’in.24
b. Manhaj Aqliyah
Pengertian manhaj al-Aqliyah, adalah penafsiran yang bersandar
pada ijtihad mufassir, yakni pemahaman mendalam dan memusatkan
pada makna-makna lafadz al-Qur’an, setelah menemukan penunjuk pada
kandungan al-Qur’an yang tersusun pada lafadz dan memahami
dalalahnya, mengetahui asbabu nuzul, nasikh dan mansukh dan lain
sebagainya yang dibutuhkan mufassir dalam menafsirkan al-Qur’an. Para
ulama menamakan tafsir al-‘Aqli dengan sebutan tafsir bi al-Ra’yi. 25
Beberapa pembagian manhaj aqli yakni, Manhaj al-Tafsir al-Kalami,
Manhaj al-Tafsir al-Lughawi, Manhaj al-Tafsir al-Ijtima’i, Manhaj al-
Tafsir al-Ilmi, Manhaj al-Tafsir al-Bathini, Manhaj al-Tafsir al-Shufi,
Manhaj al-Tadzu>q al-Adabi.
1) Manhaj al-Tafsir al-Kalami, yang dimaksud dari tafsir kalami
adalah tafsir yang menitikkan pembahasan ayat-ayat pada akidah
yang diyakini oleh mufassir. Oleh karenanya, bentuk penafsiran ini
dapat ditemukan pada penafsiran-penafsiran ahli kalam, yakni dari
golongan Asy’ariyah, Syi’ah, Mu’tazilah, dan juga Khawarij.26

22
Ibid.,121.
23
Ibid., 122.
24
Ibid., 125.
25
Ibid., 134.
26
Ibid., 134-135.

8
2) Manhaj al-Tafsir al-Lughawi, yakni penafsiran al-Qur’an dengan
menjelaskan makna-maknanya sesuai dengan apa yang terdapat
pada bahasa Arab atau cocok dengan qanun-qanun yang
27
bermanfaat. Dengan kata lain, penafsiran lughawi berarti
penafsiran yang menekankan penafsirannya dari segi bahasa.
3) Manhaj al-Tafsir al-Ijtima’i, yakni tafsir yang menjelaskan ayat al-
Qur’an dari segi sunah kauniyah dan kehidupan sosial, cara
mengatasi permasalahan umat Islam pada khususnya dan
permasalahan seluruh manusia pada umumnya.28
4) Manhaj al-Tafsir al-Ilmi, adalah tafsir yang penulisnya hendak
mengembalikan statemen-statemen al-Qur’an pada teori-teori dan
29
terminology-terminologi ilmiah. Tafsir al-Ilmi menurut DR.
Adnan Muhammad Zarzur adalah penafsiran yang disandarkan
kepada hakikat ilmu praktis dan konsep-konsepnya dalam
menjelaskan ayat-ayat yang berkaitan dengan lingkungan,
penciptaan manusia, 30 dan hal-hal yang sejenis berkaitan dengan
ilmu pengetahuan.
5) Manhaj al-Tafsir al-Bathini, adalah penafsiran yang berpatokan
pada batasan yang ditunjukkan oleh syara’ yakni bahwa al-Qur’an
memiliki makna zahir dan batin. Yang dikehendaki disini adalah
batinnya ayat bukan zahirnya ayat yang dapat diketahui dari segi
bahasa.31
6) Manhaj al-Tafsir al-Shufi, tafsir yang ditulis oleh para sufi atau
yang mengkhususkan pembahasan masalah tasawuf. 32 Tafsir sufi
ini dibagi menjadi dua, yaitu tafsir sufi nadhari dan tafsir sufi

27
Ibid., 145.
28
Ibid., 149.
29
Abdul Majid Abdussalam al-Muhtasib, Visi dan Paradigma Tafsir al-Qur’an
Kontemporer. Terj. Moh. Maghfur Wachid. (Bangil: Al-Izzah, 1997), cet ke-1, 258.
30
Adnan Muhammad Zarzur, Ulum al-Qur’an wa I’ja>zuhu wa Ta>ri>kh
Tautsi>quhu. (Amman: Dar al-A’lam, 2005), 349.
31
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 159-
160.
32
Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Qur’an. (Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara,
2002), 332.

9
Isyari (faidli). Tafsir sufi nadhari adalah tafsir yang dibangun
untuk mempromosian salah satu di antara sekian teori mistik
dengan mengeser tujuan al-Qur’an kepada tujuan dan target mistis
mufassirnya. Sedangkan tafsir sufi isayari (faidli) adalah
pentakwilan ayat-ayat al-Qur’an yang berbeda dengan makna
lahirnya sesuai dengan petunjuk khusus yang diterima para tokoh
sufisme tetapi antara kedua makna tersebut dapat
dikompromikan.33
7) Manhaj al-Tadzu>q al-Adabi, yakni penafsiran al-Qur’an yang
berusaha menganalisa dan mengkritisi teks al-Qur’an dari segi
kebahasaan yang indah lalu mencocokkan antara ayat al-Qur’an
tersebut dengan realitas kehidupan, tetapi tetap menjaga kemulyaan
serta mensucikannya.34
Selain dari pembagian di atas, ada beberapa pembagian manhaj/
metode tafsir al-Qur’an yang dikemukakan oleh para ulama, diantaranya
adalah al-Farmawi sebagaimana dikutip oleh Qurash Shihab, manhaj
terbagi menjadi 4 macam, yaitu manhaj tahlili, ijmali, muqaran dan
maudhu’i.35 Berikut penjelasannya:
a. Manhaj/ metode Tahlili (Analitik), adalah suatu metode penafsiran
yang berusaha menjelaskan al-Qur’an dengan menguraikan berbagai
seginya dan menjelaskan apa yang dimaksud oleh al-Qur’an juga
memperhatikan runtutan ayat dan juga surat dalam al-Qur’an dari
surat al-Fatihah sampai an-Nas. 36 Menurut al-Farmawi sebagaimana
dikutip oleh Nor Ichwan mencakup beberapa penafsiran, yaitu tafsir bi
al-Ma’tsur, tafsir bi al-Ra’yi, tafsir sufi, tafsir fiqhi, tafsir falsafi, tafsir
ilmi dan tafsir adabi ijtima’i.37

33
Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir. (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), 72-
73.
34
Muhammad Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 169
35
Quraish Shihab, membumikan al-Qur’an., 85.
36
Muhammad Nor Ichwan, Memasuki Dunia al-Qur’an, 147.
37
Ibid., 249-263.

10
b. Manhaj/ metode ijmali (global), menafsirkan ayat al-Qur’an secara
runtut sebagaimana urutan dalam mushaf tetapi hanya secara singkat
dan global.38
c. Manhaj/ metode muqaran (perbandingan), yaitu penafsiran yang
membandingkan ayat dengan ayat, ayat dengan hadits atau dengan
pendapat para ulama tafsir dengan menonjolkan segi-segi perbedaan
tertentu dan obyek yang dibandingkan.39
d. Manhaj/ metode maudhu’i (tematik), adalah penafsiran yang berusaha
menghimpun ayat-ayat al-Qur’an dari berbagai surat dan yang
berkaitan dengan persoalan atau topik yang telah ditetapkan.
Kemudian penafsir menganalisisnya sehinga menjadi satu kesatuan
yang utuh.40
Kemudian al-Zarqani, juga tidak memetakan secara pasti mengenai
pembagian manhaj/ metode tafsir, ada beberapa bentuk tafsir yang beliau
sebutkan dalam kitabnya mana>hil al-‘Irfan, diantaranya tafsir bi al-
Ma’tsur, tafsir bi al-Ra’yi, tafsir bi al-Isyari, lalu beliau juga membahas
mengenai beberapa bentuk lain, yakni tafsir al-Firq al-Mukhtalifah, tafsir
al-Ba>thiniyah, tafsir Syi’ah, dan tafsir ahl al-Kalam.41
DR. Adnan Muhammad Zarzur, dalam kitabnya Ulu>m al-Qur’an
wa I’ja>zuhu membagi penafsiran dari masa perkembangan tafsir, yakni
tafsir sahabat, tafsir al-Tabi’in, tafsir bi al-Ma’tsur dan tafsir bi al-Ra’yi.
Kemudian muncul lagi beberapa penafsiran disebabkan oleh penafsir
yang mengambil sumber dari ahl al-Kitab (tafsir isra’iliyat), dan
munculnya aliran kalam. Lalu dari hal itu menurut Adnan Muhammad
Zarzur akhirnya timbul manhaj/ metode tafsir kalam, manhaj Shufiyah
dan manhaj Ba>thiniyah. Manhaj kalam yang menafsirkan al-Qur’an
dengan akal, manhaj shufiyah menafsirkan al-Qur’an dengan pemahan

38
Ibid., 264.
39
Ibid., 265.
40
Quraish Shihab, membumikan al-Qur’an, 87.
41
Al-Ustadz al-Syaikh Muhammad Abdul ‘Adhim al-Zarqani, Maha>hil al-‘Irfa>n
Fi> ‘Ulu>m al-Qur’an, 10-77.

11
khusus atau melalui penerangan jiwa, sedangkan manhaj bathiniyah
meyatakan bahwa nash-nash al-Qur’an bukanlah apa yang terkandung
pada dhahirnya lafadz yang ditunjukkan oleh bentuk bahasa, namun
nash-nash al-Qur’an memiliki makna Batin yang tidak diketahui kecuali
oleh al-Imam al-Mas’u>l dari penakwilannya. Oleh karenanya, nash al-
Qur’an hanya mungkin diketahui melalui penakwilan dengan cara
mengalihkan lafadz dari maknanya (makna dhahir).42
C. Berbagai Contoh Kitab Tafsir dari Segi Metodenya
1. Manhaj al-Naqliyah
a. Kitab tafsir manhaj qur’ani, yaitu tafsir al-Imam as-Syingqithi (tafsir
Adhwa> al-Baya>n fi> tafsi>r al-Qur’an bi al-Qur’an), tafsir Ibnu
Katsir, Abdul Karim Yunus al-Khati>b (tafsir al-Qur’ani> li al-
Qur’an).43
b. Manhaj Bayani, al-Asybah wa al-Nazhair fi al-Qur’an al-Karim
(Muqatil Ibn Sulaiman).
c. Manhaj al-Qiro’at al-Mufassirah, yaitu kitab tafsir al-Kasyf ‘an wujuh
al-Qira>’a>t as-Sab’i wa ‘ilaliha> wa h}ujajiha> milik Makki> Ibn
Abi> Thalib al-Qi>si>, dan tafsir hujjah al-Qira>’a>t milik Abi>
Zar’ah. Dan pada umumnya adalah kitab-kitab tafsir yang
menyebutkan tentang qira>’at untuk menjelaskan makna-makna
ayat.44
d. Manhaj al-Atsari, diantara contoh kitab-kitab tafsir ‘Atsari adalah
tafsir Abi Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, tafsir al-Tsa’labi (al-
Kasyf wa al-Bayan), tafsir al-Dur al-Mantsu>r Imam Suyuthi.45
2. Manhaj Aqliyah
a. Manhaj al-Tafsir al-Kala>mi, karena tafsir kalami menyandarkan
penafsirannya sesuai akidah yang diyakini oleh mufassirnya masing-

42
Adnan Muhammad, Ulum al-Qur’an wa I’ja>zuhu wa Ta>ri>kh Tautsi>quhu,
335-351.
43
Afifuddin Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 115.
44
Ibid., 125.
45
Ibid., 133.

12
masing, maka tafsir kalami sesuai dengan pembagian aliran kalam
yaitu al-‘Asya’irah, Syi’ah, Mu’tazilah dan Khawarij. Dari kalangan
‘Asy’ari terkenal dengan Imam Fakhru al-Din Muhammad Ibn Umar
Ibn H{usain ar-Razi, Mu’tazilah yakni al-Qadhi Abdul Jabbar dan
Zamakhsyari, dan dari Khawarij (Ibadliyah) yakni tafsir Himya>n al-
Za>d Ila Da>r al-Ma’a>d miliki Muhammad Ibn Yususf Ithfi>sy.
b. Manhaj al-Tafsir al-Lughawi, tafsir al-Bahr al-Muh}i>th (Imam Abi>
H{ayya>n).46
c. Manhaj al-Tafsir al-Ijtima’i, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridho
(al-Manar).47
d. Manhaj al-Tafsir al-Ilmi, tafsir al-Jawahir fi> tafsi>r al-Qur’an
(Syaikh Tanthawi).48
e. Manhaj al-Tafsir al-Bathini, kitab takwi>l al-Da’a>im (al-Qadhi al-
Nu’ma>n.49)
f. Manhaj al-Tafsir al-Shufi, tafsir al-Qur’an al-‘Adhim (as-Satiri),
Haqa>iq al-Tafsir (Abi> Abd al-Rahma>n Muhammad Ibn al-H{usain
al-Silmi), tafsir latha>if al-Isya>ra>t (al-Qusyairi), tafsir al-Mansu>b
(Abi> Bakr Muhyi al-Din Ibn Ali Ibn Muhammad Ibn Ahmad Ibn
Abdillah al-H{atimi al-Tha>i al-Andalusi atau lebih dikenal dengan
Ibnu Arabi).50
g. Manhaj al-Tadzu>q al-Adabi, tafsir fi> Dhilal al-Qur’an (Syahi>d
Sayyid Quthb).51
D. Naz’ah dan Macamnya
1. Pengertian Naz’ah/ Ittijah
Secara bahasa, dalam kamus lisanul Arabi, sebagaimana dikutip
Afifuddin menyebutkan bahwa “‫”الوجهة‬ adalah tempat untuk

46
Ibid., 148.
47
Ibid., 150.
48
Ibid., 155.
49
Ibid., 161.
50
Ibid., 163.
51
Ibid., 171.

13
menghadap, atau yang dimaksud, dan maksud kalamnya adalah jalan
yang dimaksudkan.52
Sedangkan pengertian naz’ah/ ittijah dalam tafsir adalah sasaran
(fokus) yang menjadi tujuan mufassir dalam penafsirannya, dan mereka
menjadikanya sebagai bagian dari pandangannya untuk menuliskan apa
yang hendak dituliskannya. Ittijah/ naz’ah ini berdampak pada akidah
diniyah dan kalam, madzhab fikih dan juga yang tersusun atas dasar
akidah penafsir serta kebutuhan khusus mereka kepada suatu hal. Ulama’
modern, sebagaimana dijelaskan Afifuddin mengistilahkan ittijah tafsir
dengan sebutan lawn (corak) tafsir.53
2. Macam-Macam Naz’ah/ Ittijah dalam Tafsir
Ada berbagai macam tafsir dari segi naz’ah/ ittijahnya diantaranya
adalah ittijah al-Kalami, ittijah fiqhi, ittijah al-Lughawi, ittijah al-Ilmi,
ittijah al-Falsafi, ittijah al-Ijtima’i, ittijah al-Tarbawi, 54 uraiannya akan
dijelaskan berikut:

a. Ittijah al-Kalami, al-Kala>m secara bahasa berarti al-Hadi>ts, adapun


secara Istilah kalam dimutlakkan pada suatu ilmu yang mengandung
hujah-hujah tentang akidah imaniyah dengan dalil-dalil aqli.
Sedangkan ittijah kalami yang dimaksud adalah kecenderungan yang
memusatkan perhatiannya kepada pengertian-pengertian al-Qur’an
dan ayat-ayatnya yang bersifat i’tiqadiyah al-Baqiyah tentang
penciptaan, hari pembalasan dan lain-lain dan dikuatkan dengan dalil-
dalil naqli dan aqli.55
b. Ittijah al-Fiqhi, maksudnya adalah tafsir yang dibangun di atas
wawasan mufassrirnya dalam bidang fiqih sebagai basisnya atau
dengan kata lain adalah tafsir yang berada dibawah pengaruh fiqih,
model ini bahkan hampir menyerupai kumpulan diskusi fiqih
menyangkut berbagai persoalan. Tafsir semacam ini seakan-akan

52
Ibid., 82.
53
Ibid., 82.
54
Ibid., 84-105.
55
Ibid., 84.

14
melihat al-Qur’an sebagai kitab suci yang bersi ketentuan-ketentuan
perundang-undangan atau menganggap al-Qur’an sebagai “kitab
hukum”.56
c. Ittijah al-Lughawi, kebutuhan pada penjelasan keghariban suatu
mufradat al-Qur’an, juga berkaitan dengan i’rab al-Qur’an nampak
pada masa tabi’in. Karena keadaan orang Arab pada masa sahabat
tidaklah membutuhkan hal tersebut. 57 Karena pada masa sahabat
setiap ada persoalan langsung ditanyakan kepada Nabi.
d. Ittijah al-Ilmi, penafsiran al-Qur’an tentang berbagai hal yang
berhubungan dengan bidang ilmu pengetahuan alam dan pengetahuan
umum. Ayat-ayat yang ditafsirkan adalah ayat-ayat kauniyah,
mendalami tentang teori-teori hukum alam yang ada dalam al-Qur’an,
dan teori-teori pengetahuan umum seperti bahasa, ekonomi dan
sebagainya. Karena itu para mufassir al-Ilmi ini berusaha untuk
mengungkap hubungan ayat-ayat kauniyah dalam al-Qur’an dengan
penemuan ilmiah manusia untuk menunjukkan kebenaran mukjizat al-
Qur’an.58
e. Ittijah al-Falsafi, tafsir yang banyak membahas persoalan-persoalan
filsafat atau tafsir al-Qur’an yang terkait dengan persoalan filsafat.59
Dengan kata lain tafsir falsafi adalah tafsir yang didasari oleh teori-
teori filsafat sebagai kerangka berpikirnya.
f. Ittijah al-Ijtima’i (sosial kemasyarakatan), adalah salah satu
penafsiran al-Qur’an yang cenderung kepada persoalan sosial
kemasyarakatan dan mengutamakan keindahan gaya bahasa. Tafsir
jenis ini lebih banyak mengungkapkan hal-hal yang ada kaitannya
60
dengan perkembangan kebudayaan yang sedang berlangsung.
Sementara itu, menurut al-Dzahabi sebagaimana dikutip Muhammad

56
Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, 70-71.
57
Afifuddin Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu., 95.
58
Shalahuddin Hamid, Study Ulumul Qur’an, 333.
59
Ibid., 333.
60
Abd. Muin Salim, Metodologi Ilmu Tafsir. (Yogyakarta: Teras, 2005), 45.

15
Nor Ichwan, tafsir ijtima’i adalah penafsiran yang menjelaskan ayat-
ayat al-Qur’an berdasarkan ketelitian ungkapan-ungkapan yang
disusun dengan gaya bahasa yang lugas, dengan menekankan tujuan
pokok diturunkannya al-Qur’an, lalu mengaplikasikannya pada
tatanan sosial.61
g. Ittijah al-Tarbawi, adalah konsep penafsiran al-Qur’an yang terkhusus
pada sisi pendidikan pada, atau mencocokkan konsep pendidikan agar
sesuai dengan al-Qur’an.62
E. Berbagai Kitab Tafsir dari Segi Naz’ahnya
1. Naz’ah/ Ittijah al-Kalami
a. Mu’tazilah, kitab tanzih al-Qur’an ‘An al-Mutha>’in (al-Qadhi Abdul
Jabbar al-Hamdani), tafsir Ghurar al-Fawaid wa Durar al-Qalaid yang
terkenal dengan Amali> al-Syarif al-Murtadha, tafsir al-Kasyf ‘An
H{aqa>iq al-Tanzi>l wa ‘Uyu>n al-Aqa>wi>l fi wuju>h al-Takwil
(Abi Qasim Mahmud Ibn Umar al-Zamakhsyari), tafsir Jami’ al-
Takwi>l li Muh}kam al-Tanzi>l (Abi muslim al-Ashfihani). Juga
beberapa tafsir yang tidak dapat ditemukan sekarang, seperti tafsir Abi
Bakr Abd al-Rahman Ibn Kayan al-Asham, tafsir Muhammad Ibn Abd
al-Wahab Ibn Salam, tafsir Abd al-Salam Ibn Abi Ali al-Juba’i, tafsir
kabir Abd al-Salam Ibn Muhammad Ibn Yusuf al-Qazwaini.
b. Al-Asy’ari, tafsir takwi>la>t al-Qur’an (Abi Mansur Mahmud al-
Maturidi), Mada>rik al-Tanzi>l wa H{aqa>iq al-Takwi>l (Abdullah
Ibn Ahmad Ibn Mahmud Ibn Muhammad al-Nasafi), Baya>n al-
Ma’ani (Abdul Qadir al-Malla Huwaisy Ali Ghar), Mafa>ti>h} al-
Ghaib (al-Fakhru Razi).
c. Syi’ah, tafsir al-Hasan al-‘Askari, tafsir al-Tibya>n (Syaikh Abi Ja’far
al-Thu>si), tafsir Majma’ al-Baya>n (Abi Ali al-Thabarsi), tafsir al-
Sha>fi (Muhammad Ibn Murtadha yang dikenal dengan nama Hasan
al-Kasyi), Mir’atul Anwa>r wa Misyka>t al-Asra>r (Maula Abdul

61
Muhammad Nor Ichwan, Memasuki Dunia al-Qur’an, 263.
62
Afifuddin Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 105.

16
Latif al-Kazra>ni), Ala> al-Rahman fi> tafsi>r al-Qur’an (Muhammad
Jawa>d al-Bala>ghi al-Najafi)
d. Khawarij (Ibadli), tafsir Himya>n al-Zadi Ila Da>ri al-Ma’ad
(Muhammad Ibn Yusuf Ithfi>sy).
2. Naz’ah/ Ittijah al-Fiqhi, kecenderungan Fikih pada penafsiran berbeda-
beda, hal itu sebagaimana madzhab fikih.63
a. Kacenderungan pada madzhab Syafi’i
 Ahkamul Qur’an (Abi Hasan at-Thabari)
 Al-Qaul al-Waji>z Fi> Ahkam al-Kitab al-Aziz (Abil Abbas
Ahmad Ibn Yusuf al-Halabi)
 Ahkam a-Kitab al-Mubin (Ali Ibn Abdillah Mahmud as-Syanfaki)
 Al-Ikli>l Fi> Istinba>th al-Tanzi>l (Jalaluddin as-Suyuthi)
b. Kecenderungan pada madzhab al-Maliki
 Ahka>m al-Qur’an (Abi Bakr Ibn al-Arabi)
 Al-Ja>mi’ Li Ahka>m al-Qur’an (Qurthubi)
c. Kecenderungan pada madzhab Hanafi
 Ahka>m al-Qur’an (Jasshos)
 Al-Tafsir al-Ahmadiyyah (Ahmad Ibn Abi Sa’id Ibn Abdillah)
d. Kecenderungan pad madzhab Hanbali
 Aya>t al-Ahka>m (Muhammad Ibn al-Husain Ibn Muhammad Ibn
al-Farra’)
 Tafsir aya>t al-Ahkam (Syamsuddin Muhammad Abi Bakr ad-
Dimasyqi lebih dikenal dengan sebutan Ibnul Qayyim al-Jauziyah)
 Ahka>m al-Ra’yi min Ahka>m al-Ala>i (Syamsuddin Muhammad
Ibn Abdurrahman Ibn al-Sha>yi’)
3. Naz’ah/ Ittijah al-Lughawi
Sebenarnya kitab tafsir dari segi kecenderungan lughawi terbagi
menjadi beberapa kelompok, yaitu penafsiran yang memfokuskan dari
segi mufradat, i’rab dan juga penggabungan keduanya baik dari segi

63
Afifuddin Afifuddin Dimyathi, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu, 91-92.

17
mufradat dan i’rab juga menjelaskan makna kalimat. 64 Adapun kitab-
kitabnya adalah sebagai berikut:
 Majaz al-Qur’an (Abi Ubaidah Ma’mar Ibn Matsna)
 Ma’ani al-Qur’an yang dikenal dengan sebutan al-Akhfasy al-Ausath
(Sa’id ibn Mus’adah al-Balkhi)
 Tafsir gharib al-Qur’an (Abi Muhammad Abdullah atau Ibnu
Qutaibah)
 Gharib al-Qur’an wa Tafsiruhu (Ibn Mubarak al-Yazidi)
 Ma’ani al-Qur’an al-Karim (Abi Ja’far an-Nuhas)
 Ghara>ib al-Tafsir wa ‘Aja>ib al-Takwil (Mahmud Ibn Hamzah al-
Kirmani)
 Tanwirul Qulub (Abi Bakr Muhammad as-Sijistani)
 Mufradat Gharib al-Qur’an (Ar-Raghib al-Ashfihani)
 Tuhfatul Ari>b (Abi Hayyan al-Andalusi)
 Al-Asybah wa an-Nadza>ir Fi> al-Qur’an al-Karim (Muqa>til Ibn
Sulaiman al-Balkhi)
 Ma Ittafaqa Lafdzuhu wa Ihtalafa Maknahu Min al-Qur’an al-Majid
(al-Mubarrad)
 Al-Wujuh wa an-Nadza>ir fi> al-Qur’an al-Karim (al-Damighani)
 Mutrakul Aqra>n Fi> Musytarak al-Qur’an (Jalaluddin as-Suyuthi)
 I’rabul Qur’an (Abi Ja’far Ahmad Ibn Muhammad an-Nuhas)
 Musykil I’rab al-Qur’an (Makki Ibn Abi Thalib al-Qaisi)
 At-Tibya>n Fi> I’ra>b al-Qur’an (Abi Baqa’ Abdullah Ibn Hasan al-
Anbari)
 Al-I’rab al-Mufasshol Li Kita>billag al-Murattal (Bahjat Abdul
Wahid Shalih)
 Al-Jadwal Fi> I’rab al-Qur’an wa Sharfuhu wa Baya>nuhu (Mahmud
Shofi)
 Ma’a>ni al-Qur’an (Abi Zakarya Yahya al-Farra’)
 Ma’a>ni al-Qur’an wa I’rabuhu(Abu Ishaq az-Zujaj)

64
Ibid., 96-99.

18
 Al-Bahr al-Muhith (Abu Hayyan al-Andalusi)
4. Naz’ah/ Ittijah al-Ilmi
 Al-Tafsir al-Kabi>r (Fakhru al-Razi)
 Al-Jawa>hir Fi> al-Tafsi>r al-Qur’an al-Karim (Syaikh Tanthawi
Jauhari)
 Kasyf al-Asra>r an-Nu>ra>niyyah al-Qur’aniyah (Muhammad Ibn
Ahmad al-Iskandarani)
 Al-Kaun Wa al-I’ja>z al-Ilmi Li al-Qur’an (DR. Mansur Hasbinnabi)
 Al-I’ja>z al-‘Adadi Li al-Qur’an al-Karim (Abduul Razaq Naufal)
 Ma’ al-Thib Fi> al-Qur’an al-Karim (Abdul Hamid Dayyab dan DR.
Ahmad Qurquz)
 Al-I’ja>z al-Ilmi Fi> al-Qur’an al-Karim (Zaghlul al-Najjar)
 Al-Qur’an wa al-Ulu>m al-Haditsah (Muhammad Abi a-Faidh al-
Manufi)
 Al-Islam wa al-Thib al-Haditsah (DR. Abdul Aziz Isma’il)
 Ilm al-Ajnah Fi> Dhau’il Qur’an wa al-Sunnah (Abdul Hamid al-
Zindani)
5. Naz’ah/ Ittijah al-Falsafi
 Fushu>s al-Hikam (al-Farabi)
 Ar-Rasa>il (Ikhwan al-Shafa)
 Ar-Rasa>il (Ibnu Sina)
6. Naz’ah/ Ittijah al-Ijtima’i
 Tafsir al-Manar (Muhammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridla)
 Tafsir Mahasin al-Takwil (Syaikh Jamaluddin al-Qasimi)
 Tafsir al-Maraghi (Syaikh Ahmad Musthafa al-Maraghi)
 Tafsir Fi> Dzilal al-Qur’an (Syahid Sayyid Qutub)
 Tafsir al-Tahri>r wa al-Tanwi>r (Syaikh Muhammad Thahir Ibn
Asyu>r)
 Tafsir al-Wasi>th (al-Ustadz DR. Muhammad Sayyid Tanthawi)
 Tafsir al-Munir (al-Ustadz DR. Wahbah Musthafa al-Zuhaili)

19
 Al-Miza>n Fi> Tafsir al-Qur’an (Sayyid Muhammad Husain al-
Thabthaba’i)
 Tafsir al-Kasyaf (Syaikh Muhammad Jawwad Mugniyah)
7. Naz’ah/ Ittijah al-Tarbawi
 Tafsir al-Asa>s Fi> al-Tafsi>r (Syaikh Sa’i>d H{awi),
 Tafsir Zahrah al-Tafa>si>r (Imam Muhammad Abi Zahrah)
 Tafsir al-Sahl al-Mufi>d Fi> Tafsi>r al-Qur’an al-Maji>d (al-Ustadz
DR. Abdul Hayyi al-Farmawi)
 Tafsir al-Tarbawi Li al-Qur’an al-Karim (Anwar al-Baz)
Dari berbagai pendapat dan keterangan di atas dapat diketahui bahwa
sebenarnya belum ada kesepakatan mengenai penggunaan istilah manhaj,
karena dalam pengelompokannya masih terdapat perbedaan dan terkadang
digunakan secara tumpang tindih satu sama lainnya, ada yang menggunakan
istilah manhaj sebagai naz’ah/ ittijah begitu juga sebaliknya, malah ada pula
yang tidak membedakan sama sekali antara manhaj dan naz’ah/ ittijah. Oleh
karenanya, menurut hemat penulis, hal tersebut masih dimungkinkan adanya
penemuan istilah lagi dalam perkembangan selanjutnya.
Tetapi, penulis mencoba menyimpulkan dari berbagai penjelasan di
atas menjadi beberapa kesimpulan dan pengelompokan manhaj maupun
naz’ah/ ittijah.
Pertama, berkaitan dengan manhaj/ metode tafsir:
1. Jika ditinjau dari sumbernya, maka manhaj/ metode tafsir, dapat
dikelompokkan menjadi 3, yaitu manhaj naqliyah, aqliyah dan Isyari
(Takwil).
2. Jika ditinjau dari masa pertumbuhannya, manhaj/ metode tafsir terbagi
menjadi dua, yaitu manhaj sebelum pembukuan (manhaj shahabi dan
tabi’in ), dan manhaj setelah pembukuan mencakup berbagai hal.
3. Jika ditinjau dari cara penjelasannya, maka manhaj/ metode tafsir dibagi
menjadi dua, yaitu manhaj/ metode bayani dan muqaran.
4. Jika ditinjau dari segi tertib atau susunan ayat/ surat, manhaj/ metode
terbagi menjadi dua, yaitu tahlili dan maudhu’i.

20
5. Jika ditinjau dari keluasan penjelasannya, maka hanya ada manhaj/
metode tafsir ijmali (global), meskipun ada yang menyebutkan satu lagi
yaitu manhaj tafshili/ ithnabi, tetapi penulis dalam hal ini belum
menemukan referansi yang menyebutkan hal tersebut.
Kedua, berkanaan dengan naz’ah/ ittijah tafsir, setelah melihat dan
mencermati berbagai penjelasan di atas, sebenarnya secara umum naz’ah/
ittijah dapat diketahui melalui dua hal, yaitu:
1. Tujuan yang ingin dicapai oleh mufassir dan dijadikannya tujuan tersebut
sebagai bagian dari pandangannya untuk menuliskan tafsirannya.
2. Latar sosial dari mufassir, karena sedikit banyak suatu kitab tafsir sudah
barang tentu dipengaruhi oleh latar belakang mufassir, sehingga muncul
berbagai kitab tafsir dari masing-masing paham yang dianut mufassir.

21
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Ittijah (Naz’ah), Manhaj dan Uslub (Thariqah)
ittijah/ Naz’ah adalah sasaran pembahasan (tujuan), sedangkan
manhaj adalah jalannya dan thariqah (uslub) adalah tekniknya/ alat yang
digunakan untuk mealui jalan guna mencapai tujuan.
2. Manhaj dan Macamnya
a. Pengertian Manhaj
Manhaj adalah jalan/ pedoman ilmiah yang tersusun secara
sistematis yang lazim digunakan oleh mufassir dalam penafsirannya
terhadap al-Qur’an al-Karim, dan memiliki kaidah serta dasar-dasar
kemanhaj-an, juga memiliki cara dan uslub serta tingkatan-tingkatan
pada penafsirannya.
b. Macam-macam Manhaj Tafsir
1) Jika ditinjau dari sumbernya, maka manhaj/ metode tafsir, dapat
dikelompokkan menjadi 3, yaitu manhaj naqliyah, aqliyah dan
Isyari (Takwil).
2) Jika ditinjau dari masa pertumbuhannya, manhaj/ metode tafsir
terbagi menjadi dua, yaitu manhaj sebelum pembukuan (manhaj
shahabi dan tabi’in ), dan manhaj setelah pembukuan mencakup
berbagai hal penafsiran yang telah dibukukan.
3) Jika ditinjau dari cara penjelasannya, maka manhaj/ metode tafsir
dibagi menjadi dua, yaitu manhaj/ metode bayani dan muqaran.
4) Jika ditinjau dari segi tertib atau susunan ayat/ surat, manhaj/
metode terbagi menjadi dua, yaitu tahlili dan maudhu’i.
5) Jika ditinjau dari keluasan penjelasannya, maka hanya ada manhaj/
metode tafsir ijmali (global), meskipun ada yang menyebutkan satu

22
lagi yaitu manhaj tafshili/ ithnabi, tetapi penulis dalam hal ini
belum menemukan referansi yang menyebutkan hal tersebut.
3. Naz’ah dan Macamnya
a. Pengertian Naz’ah/ Ittijah
Naz’ah/ ittijah dalam tafsir adalah sasaran (fokus) yang menjadi
tujuan mufassir dalam penafsirannya, dan mereka menjadikanya
sebagai bagian dari pandangannya untuk menuliskan apa yang hendak
dituliskannya
b. Macam-Macam Naz’ah/ Ittijah dalam Tafsir, ittijah al-Kalami, ittijah
fiqhi, ittijah al-Lughawi, ittijah al-Ilmi, ittijah al-Falsafi, ittijah al-
Ijtima’i, ittijah al-Tarbawi.
Adapun berbagai contoh kitab tafsir baik dari segi manhaj maupun
naz’ah/ ittihajnya dapat dilihat pada penjelasan-penjelasan di atas.
B. Saran
Penulis sadar bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, oleh karena itu, adanya kritik dan saran yang membangun
dari pembaca sangat diharapkan guna memperbaiki makalah ini pada
tahapan selanjutnya.

23
DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim Terjemah Indonesia. Kudus: Menara Kudus, 2006.


al-Muhtasib, Abdul Majid Abdussalam, Visi dan Paradigma Tafsir al-Qur’an
Kontemporer. Terj. Moh. Maghfur Wachid. Bangil: Al-Izzah, 1997.
cet ke-1, 258.
al-Zarqani, Al-Ustadz al-Syaikh Muhammad Abdul ‘Adhim, Maha>hil al-‘Irfa>n
Fi> ‘Ulu>m al-Qur’an. Makkah Mukarramah: Maktabah Nazar
Mushthafa al-Ba>z, 1996.
Dimyathi, Muhammad Afifuddin, Ilm al-Tafsir Ushuluhu Wa Manahijuhu.
Sidoarjo: Lisan Arabi, 2016.
Hamid, Shalahuddin, Study Ulumul Qur’an. Jakarta: PT Intimedia Ciptanusantara,
2002.
Ichwan, Muhammad Nor, Memasuki Dunia al-Qur’an. Semrang: Lubuk Raya,
2001.
Mustaqim, Abdul, Aliran-Aliran Tafsir. Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005.
Salim, Abd. Muin, Metodologi Ilmu Tafsir. Yogyakarta: Teras, 2005.
Shihab, M. Quraish, Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam
Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1994.
Sholeh, A Khudori, Ulul Albab Jurnal Studi Islam. Malang: UIN Maliki, 2009.
Vol 10, No. 2.
Tim Ulin Nuha, Potret Salafi Sejati Meneladani Kehidupan Generasi Pilihan.
Solo: al-Qowam, 2007.
Yunus, Mahmud, Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Hida Karya Agung, 1990.
Zarzur, Adnan Muhammad, Ulum al-Qur’an wa I’ja>zuhu wa Ta>ri>kh
Tautsi>quhu. Amman: Dar al-A’lam, 2005.

24