Anda di halaman 1dari 15

PRAKTIKUM KIMIA DASAR II

ANALISIS VOLUMETRI

Oleh :

Khoirul Abidin (1408105019)

Kelompok 7A

JURUSAN KIMIA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS UDAYANA

2015
ANALISIS VOLUMETRI

I.TUJUAN

1. Menentukan kadar asam asetat pada cuka perdagangan


2. Menentukan normalitas larutan baku sekunder NaOH
3. Menentukan kadar asam asetat
4. Menentukan normalitas asam oksalat
5. Memahami penggunaan alat dalam percobaan

II.DASAR TEOR

 Titrasi

Secara garis besar jenis analisis dikelompokan menjadi : analisis secara


fisik,kimia, fisikokimia, mikrobiologis, organoleptik. Analisis berasal dari bahasa
latin yaitu analusys yang berarti melepaskan. Secara umum analisis dapat
diartikan usaha pemisahan satu-kesatuan materi bahan menjadi komponen-
komponen penyusunnya sehingga dapat diketahui lebih lanjut. Analisis juga dapat
dikelompokkan menjadi dua yaitu analisis kualitatif dan kuantitatif.

Analisis kualitatif adalah analisa yang menyangkut identifikasi zat, yaitu unsur
atau senyawa apa yang ada di dalam suatu contoh, sedangkan analisis kuantitatif
adalah analisa mengenai penentuan berapa zat tertentu ada di dalam suatu contoh,
zat yang ditentukan sering disebut sebagai zat yang di inginkan atau analit ( dapat
terdiridari sebagian kecil atau besar dari contoh yang dianalisa).

Analisis Volumetri merupakan bagian dari analisis secara kuantitatif.


Volumetri adalah analisa yang didasarkan pada pengukuran volume dalam
pelaksanaan analisanya.Analisis Volumetri disebut juga Titrimetri karena proses
analisanya berupa titrasi,dimana larutan standar (pereaksi) sebagai titran yang
ditempatkan di dalam buret yang digunakan untuk mentitrasi larutan yang akan
ditentukan jumlah analitnya. Titran adalah larutan standar yang telah diketahui
dengan tepat konsentrasinya. Analisis titrimetri di dasarkan pada reaksi kimia
antara kompnen analit dengan titran,dinyatakan dengan persamaan umum :

aA + tT → hasil reaksi

Keterangan :

A = Jumlah mol analit

(A)t = Jumlah mol titran

(T)A = Analit yang dititrasi, zat (larutan ) pada wadah yang dititrasi

T = Titran (zat penitrasi), cairan yang dialirkan dari buret yang telah dikatahui
dengan tepat konsentrasinya.

Titrasi merupakan salah satu teknik analisis kimia kuantitatif yang


dipergunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu, dimana
penentuannya menggunakan suatu larutan standar yang sudah diketahui
konsentrasinya secara tepat. Pengukuran volume dalam titrasi memegang peranan
yang amat penting sehingga ada kalanya sampai saat ini banyak orang yang
menyebut titrasi dengan nama analisis volumetri.

Larutan yang dipergunakan untuk penentuan larutan yang tidak diketahui


konsentrasinya diletakkan di dalam buret dan larutan ini disebut sebagai larutan
standar atau titran atau titrator, sedangkan larutan yang tidak diketahui
konsentrasinya diletakkan di erlenmeyer dan larutan ini disebut sebagai analit.
Titran ditambahkan sedikit demi sedikit pada analit sampai diperoleh keadaan
dimana titran bereaksi secara equivalen dengan analit, artinya semua titran habis
bereaksi dengan analit keadaan ini disebut sebagai titik equivalen.

Titrasi atau disebut juga volumetri merupakan metode analisis kimia yang
cepat, akurat dan sering digunakan untuk menentukan kadar suatu unsur atau
senyawa dalam larutan. Titrasi didasarkan pada suatu reaksi yang digambarkan
sebagai :
Volumetri (titrasi) dilakukan dengan cara menambahkan (mereaksikan)
sejumlah volume tertentu (biasanya dari buret) larutan standar (yang sudah
diketahui konsentrasinya dengan pasti) yang diperlukan untuk bereaksi secara
sempurna dengan larutan yang belum diketahui konsentrasinya. Untuk
mengetahui bahwa reaksi berlangsung sempurna, maka digunakan larutan
indikator yang ditambahkan ke dalam larutan yang dititrasi.

Larutan standar disebut dengan titran. Jika volume larutan standar sudah
diketahui dari percobaan maka konsentrasi senyawa di dalam larutan yang belum
diketahui dapat dihitung dengan persamaan berikut :

Dimana:
NB = konsentrasi larutan yang belum diketahui konsentrasinya
VB = volume larutan yang belum diketahui konsentrasinya
NA = konsentrasi larutan yang telah diketahui konsentrasinya (larutan standar)
VA = volume larutan yang telah diketahui konsentrasinya (larutan standar)

Dalam melakukan titrasi diperlukan beberapa persyaratan yang harus


diperhatikan, seperti :

1. Reaksi harus berlangsung secara stoikiometri dan tidak terjadi reaksi


samping.
2. Reaksi harus berlangsung secara cepat.
3. Reaksi harus kuantitatif
4. Pada titik ekivalen, reaksi harus dapat diketahui titik akhirnya dengan
tajam (jelas perubahannya).
5. Harus ada indikator, baik langsung atau tidak langsung.

Berdasarkan jenis reaksinya, maka titrasi dikelompokkan menjadi empat macam


titrasi yaitu :

1. Titrasi asam basa


2. Titrasi pengendapan
3. Titrasi kompleksometri
4. Titrasi oksidasi reduksi
Tahap pertama yang harus dilakukan sebelum melakukan titrasi adalah pembuatan
larutan standar yang memenuhi persyaratan sebagai berikut :

1. mempunyai kemurnian yang tinggi


2. mempunyai rumus molekul yang pasti
3. tidak bersifat higroskopis dan mudah ditimbang
4. larutannya harus bersifat stabil
5. mempunyai berat ekivalen (BE) yang tinggi

Suatu larutan yang memenuhi persyaratan tersebut diatas disebut larutan


standard primer. Sedang larutan standard sekunder adalah larutan standard yang
bila akan digunakan untuk standardisasi harus distandardisasi lebih dahulu dengan
larutan standard primer.

 Volumetri

Volumetri adalah analisa yang didasarkan pada pengukuran volume dalam


pelaksanaan analisanya. Analisa volumetri biasa disebut juga sebagai analisis
titirimetri atau titrasi yaitu yang diukur adalah volume larutan yang diketahui
konsentrasinya dengan pasti yang disebut sebagai titran, dan diperlukanuntuk
bereaksi sempurna dengan sejumlah tepat volume titrat (analit) atau sejumlah
berat zat yang akan ditentukkan. Titran adalah larutan standar yang telah diketahui
dengan tepat konsentrasinya

Dalam larutan analit (A) ditambahkan zat indikator yang berfungsi untuk
menunjukkan bahwa telah terjadi reaksi sempurna dari analit dengan pereaksi
dengan adanya perubahan warna dari indikator. Indikator adalah suatu senyawa
organik kompleks merupakan pasangan asam basa konyugasi dalam konsentrasi
yang kecil indikator tidak akan mempengaruhi pH larutan. Indikator memiliki dua
warna yang berbeda ketika dalam bentuk asam dan dalam bentuk basanya.

Pada saat perubahan warna, maka telah terjadi reaksi sempurna antara analit
dengan pereaksi dan pada kondisi ini terjadi kesetaraan jumlah molekul zat yang
bereaksi sesua dengan persamaan reaksinya. Dari percobaan seperti ini didapat
informasi awal, yaitu konsentrasi dan volume dari pereaksi atau larutan standar.
Perhitungan atau penetapan analit didasari pada keadaan ekivalen dimana ada
kesetaraan zat antara analit dengan pereaksi, sesuai dengan koefisien reaksinya.
Kesetaraan tersebut dapat disederhanakan kedalam persamaan :

Dimana:
N (s) : Normalitas dari larutan standart (titran)

Volume (s) : Volume larutan standar (titran) yang dipergunakan dan terbaca
dari buret.

N (A) : Normalitas dari analit (yang dicari)

Volume (A) : Volume analit, diketahui karena dipersiapkan

Normalitas didefinisikan banyaknya zat dalam gram ekivalen dalam satu


liter larutan. Secara sederhana gram ekivalen adalah jumlah gram zat untuk
mendapat satu muatan tetapkan berat zat berdasarkan kesetaraan mol zat dalam
keadaan ekivalen seperti berikut.

Dalam reaksi redoks, didapat modifikasi definisi dari berat ekivalen, yaitu berat
dalam gram (dari) suatu zat yang diperlukan untuk memberikan atau bereaksi
dengan 1 mol elektron.

C2O42- → 2CO2 + 2e- ( BE = Mr/2)

Cr2O72-+ H+ + 6e- → 2Cr3+ + 7 H2O (BE = Mr/6).

Jika Mr Na2C2O4 : 134, maka BE = 67 gram/ekivalen

Jika Mr K2Cr2O7 : 294, maka BE = 49 gram/ekivalen

Analisis volumetri ini sering diistilah dengan titrimetri dengan satu dasar
yaitu penetapan sebuah sampel merujuk pada jumlah volume titran yang
diperlukan untuk mencapai titik ekivalensi. Istilah ini untuk menghindari
kerancuan, mengingat pengukuran volume tidak hanya terjadi pada reaksi dalam
bentuk larutan, namun juga untuk reaksi-reaksi yang menghasilkan dimana titrasi
tidak dilakukan
III.ALAT DAN BAHAN

1. Alat
 Buret
 Pipet Volume
 Erlenmeyer
 Becker Glass
 Gelas Ukur
 Corong
 Statif
2. Bahan
 Larutan Asam Oksalat
 Larutan NaOH
 Indikator Phenolphthalein
 Larutan Cuka Asetat

IV.PROSEDUR KERJA

Percobaan 1: Membuat larutan baku prime asam oksalat

Asam oksalat dihidrat (H2C2O4 .2H2O) dikeringkan dengan oven pada


suhu 105-110℃ selama 1-2 jam, kemudian didinginkan dalam desikator.
Ditimbang dengan teliti 6,4327 gram asam oksalat, kemudian dimasukan dalam
labu 1000 mL, selanjutnya ditambah aquadest hingga tanda tera.

Percobaan 2 : Pembakuan larutan baku sekunder NaOH

Dipipet 25 mL larutan asam oksalat dan dimasukan ke dalam erlenmeyer,


lalu ditambahkan 2-3 tetes indikator Phenolphthalein. Dititrasi larutan tersebur
dengan larutan NaOH sampai larutan asam oksalat berubah dari bening menjadi
merah muda. Dicatat volume NaOH yang digunakan dan diulangi percobaan
sebanyak 2 kali lagi.

Percobaan 3 : Penentuan kadar asam asetat


Dipipet 25 mL larutan cuka perdagangan, kemudian dimasukan ke dalam
erlenmeyer, lalu ditambah 2-3 tetes indikator Phenolphthalein. Dititrasi larutan
cuka dengan NaOH sampai larutan berwarna merah muda. Dicatat volume NaOh
yang digunakan dan diulangi percobaan 2 kali lagi.

V.DATA PENGAMATAN

Percobaan Pembakuan larutan baku sekunder NaOH

Titrasi Volume asam oksalat (ml) Volume NaOH ( ml )


Titrasi I 10 6,0
Titrasi II 10 5,5
Titrasi III 10 5,5
Penentuan kadar asam cuka

Titrasi Volume asam cuka (ml) Volume NaOH (ml)


Titrasi I 10 3,5
Titrasi II 10 3,3
Titrasi III 10 3,2

VI.PERHITUNGAN

 Percobaan Pembakuan larutan baku sekunder NaOH

Diketahui :

V Asam Oksalat = 10 ml = 0,01 L

V NaOH = 6,0 ml = 0,006 L

gram asam oksalat = 3,1735

Mr asam oksalat = 126

Ditanya :
Normalitas NaOH pada tiap percobaan?

Normalitas NaOH rata-rata?

Jawab :

Molalitas asam oksalat = 0,0251 mol

Molaritas asam oksalat = 0,0251 M

H2C2O4 → 2H+ + C2O42-

1 grek = ½ mol, dan 1 mol H2C2O4 = 2 grek

Oleh karena itu diperoleh:

N H2C2O4 = 0,0251 M X 2 grek

= 0,0502

V H2C2O4 x N H2C2O4 = V NaOH x N NaOH

0,01 L 0,0502 = 0,006 L N NaOH

N NaOH = 0.0838

V H2C2O4 x N H2C2O4 = V NaOH x N NaOH

0,01 L 0,0502 = 0,055 N NaOH

N NaOH = 0,0912

Normalitas rata-rata dari percobaan ini adalah = 0,08869

 Percobaan penentuan kadar asam asetat

Diketahui : CH3COOH→ CH3COO- + H+

Ditanya : a. Kadar asam asetat pada tiap percobaan?

Kadar asam asetat rata-rata?

Jawab :
CH3COOH→ CH3COO- + H+

1mol CH3COOH = 1 grek

Kadar asam asetat pada setiap percobaan.

(V.N)CH3COOH = (V. N) NaOH

10 mL . NCH3COOH = 3,5 mL . 0,0887 N

NCH3COOH = 0,0310 N

[CH3COOH] = 0,0310 M

Kadar CH3COOH = M . Mr

= 0,0310 mol/L . 60 gr/mol = 1,86 gr/L

Artinya, dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L . 1,86 gr/L = 0,186 gr

Kadar asam asetat = gr . 100% = 0,186 . 100 % = 18,6 %

(V.N)CH3COOH = (V. N) NaOH

10 mL . NCH3COOH = 3,30 mL . 0,0887 N

NCH3COOH = 0,0292 N

[CH3COOH] = 0,0292 M

Kadar CH3COOH = M . Mr

= 0,0292 mol/L . 60 gr/mol = 1,752 gr/L

Artinya, dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L . 1,752 gr/L

= 0,1752 gr

Kadar asam asetat = 0,1752 gr . 100% = 17,52 %

(V.N)CH3COOH = (V. N) NaOH

10 mL . NCH3COOH = 3,20 mL . 0,0887 N


NCH3COOH = 0,0283 N

[CH3COOH] = 0,0283 M

Kadar CH3COOH = M . Mr

= 0,0283 mol/L . 60 gr/mol = 1,70 gr/L

Artinya, dalam 100 ml CH3COOH = 0,1 L . 1,70 gr/L

= 0,170 gr

Kadar asam asetat = 0,170 gr . 100% = 17 %

0,186 + 0,1752 + 0,17


Kadar asam asetat rata-rata = = 0,177 gr
3

Kadar rata-rata = 0,177 100 % = 17,7 %

VII.PEMBAHASAN

Praktikum analisis volumetri ini bertujuan untuk menentukan kadar asam


asetat pada cuka perdagangan, menentukan normalitas larutan baku sekunder
NaOH dan menentukan kadar asam asetat. Dimana praktikum ini dilakukan dua
kali percobaan yaitu percobaan pertama mengenai menentukan normalitas larutan
baku sekunder NaOH dan yang kedua percobaan menentukan kadar asam asetat.
Percobaan kedua dilakukan dengan metode titrasi asam-basa dimana asam yang
digunakan adalah asam oksalat dengan basa natrium hidroksida dengan digunakan
penambahan indikator phenolphthalein.

Pertama yang dilakukan adalah memasukkan 10 ml asam oksalat kedalam


erlenmeyer dengan menggunakan peipet volume. Digunakannya pipet volume
untuk memasukkan asam oksalat kedalam erlenmeyer agar tingkat keakuratan
jumlah volume yang masuk kedalam erlenmeyer tepat 10 ml. Setelah itu, asam
oksalat tersebut dimasukkan kedalam erlenmeyer, lalu ditambahkan 2 sampai 3
tetes indikator phenolphthalein. Kemudian dilakukan titrasi dengan buret yang
sebelumnya telah diisi dengan 10 ml NaOH.

Volumetri atau titrasi dilakukan dengan cara menambahkan sejumlah


volume tertentu di dalam buret, dimana dalam percobaan ini digunakan larutan
basa kuat natrium hidroksida dengan konsentrasi 0,1 M. Larutan standar ini
diketahui konsentrasinya dengan pasti yang diperlukan untuk bereaksi secara
sempurna dengan larutan yang belum diketahui konsentrasinya seperti asam
oksalat dan asam asetat. Untuk mengetahui bahwa reaksi berlangsung sempurna,
maka digunakan larutan indikator phenolphthalein yang ditambahkan ke dalam
larutan yang dititrasi. Titrasi ini dilakukan dengan cara menyangga buret pada
tiang penyangga kemudian erlenmeyer yang telah diisi dengan asam oksalat dan
tambahan 2 sampai 3 tetes indikator phenolphthalein, diletakkan dibawah buret.
Penggunaan buret pada titrasi bertujuan unutuk meneteskan sejumlah reagen cair
dalam hal ini NaOH pada eksperimen yang memerlukan ketelitian.

Dalam melakukan titrasi, NaOH pada buret dialirkan menuju erlenmeyer


dengan cara meneteskannya secara perlahan-lahan hingga larutan dalam
erlenmeyer berubah menjadi merah jambu. Penetesan dilakukan secara perlahan
agar larutan didalam erlenmeyer tidak berubah menjadi merah jambu yang terlalu
pekat. Sehingga pada saat perubahan warna, maka telah terjadi reaksi sempurna
antara asam oksalat dengan natrium hidroksida dan pada kondisi ini terjadi
kesetaraan jumlah molekul zat yang bereaksi sesuai dengan persamaan reaksinya.
Dari percobaan seperti ini didapat informasi awal, yaitu konsentrasi dan volume
dari pereaksi atau larutan standar. Dimana reaksi yang terjadi saat asam oksalat
direaksikan dengan NaOH adalah:

H2C2O4 + 2 NaOH→Na2C2O4 + 2H2O

Pada percobaan kali ini dilakukan sebanyak 3 kali dimana volume NaOH
yang dihabiskan pada setiap percobaan pertama sebanyak 6.0 ml, pada percobaan
kedua adalah 5,5 ml dan percobaan ketiga 5,5 ml. Sehingga dapat juga dihitung
normalitas NaOH pada setiap percobaan melalui rumus masing-masing sebesar
0,0838 N 0,0912 N, dan 0,0912 N, sehingga rata-rata normalitas NaOH pada
percobaan tersebut sebesar 0,0887 N.

Kemudian untuk percobaan kedua yaitu titrasi asam-basa dimana dalam


percobaan ini asam yang digunakan yaitu asam cuka dengan basa natrium
hidroksida. Sama halnya dengan percobaan kedua, dimana langkah-langkah dan
alat yang digunakan sama seperti pada percobaan kedua. Dimana perubahan
warna yang terjadi ketika mencapai titik ekivalen yaitu warna merah jambu. Pada
saat perubahan warna, telah terjadi reaksi sempurna antara asam cuka dengan
natrium hidroksida dan pada kondisi ini terjadi kesetaraan jumlah molekul zat
yang bereaksi sesuai dengan persamaan reaksinya. Peristiwa ini membuktikan
telah tercapainya titik ekuivalen di dalam titrasi asam lemah-basa kuat ini.

CH3COOH + NaOH→CH2COONa + H2O

Dan dari perhitungan yang dilakukan didapatkan hasil kadar cuka sebesar 18,6%
pada percobaan pertama, 17,52% pada percobaan kedua, dan 17% pada percobaan
ketiga, sehingga jika dirata-ratakan kadar cuka sebesar 17,7%
VIII.KESIMPULAN

1.Untuk mengukur kadar konsentrasi yang terdapat dalam sampel


(CH3COOH)digunakan suatu metode titrasi asam – basa.

2.Asam oksalat dan asam asetat mengalami perubahan warna dari tak
berwarna(bening) menjadi merah muda pada titik ekuivalen dengan
penambahanindikator phenolphthalein.

3.Pada titrasi asam lemah dengan basa kuat indikator yang sesuai
adalah phenolphthalein.

4.Metode titrasi asidi-alkalimetri dapat digunakan untuk menentukan kadar


zatyang bersifat asam ataupun basa dalam sampel

5.Pengujian dan penetapan kadar tidak terlepas dari peran pentingnya suatu
indikator untuk menunjukkan kesempurnaan reaksi kimia dalam analisis
volumetri atau menunjukkan konsentrasi ion hidrogen (pH) larutan.

6.Kadar asam asetat pada pengulangan pertama 18,6%, pada pengulangan kedua
yaitu sebesar 17,52 %, dan pengulangan ketiga 17%, sehingga didapatkan kadar
rata-ratanya adalah 17,7%

7.Normalitas laruan baku sekunder NaOH pada setiap percobaan melalui rumus
masing-masing sebesar 9,12 N dan 9,47 N sehingga rata-rata normalitas NaOH
pada percobaan kali ini sebesar 9,29
DAFTAR PUSTAKA

Day, Underwood.1999.Analisis Kimia Kuantitatif. Edisi VI. Erlangga. Jakarta.

Haryadi, W. 1990. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Gramedia, Jakarta.

Indigomorie. 2009. Apa itu Titrasi?.Sumber : http://kimiaanalisa.web.id/apa-itu-


titrasi/, diakses tanggal 7 April 2015.

Irfan, Anshory.2000. Ilmu Kimia. Erlangga : Jakarta.

Khoppar, S.M. 1990. Konsep Dasar Kimia Organik. Universitas Indonesia Press,

Jakarta.

Petrucci H, Ralph- Suminar. 1999. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern
Edisi Keempat-Jilid 2. Erlangga: Jakarta

Rosenberg, Jerome.1994. Kimia Dasar. Edisi IV. Erlangga : Jakarta.

Tim Kimia Dasar. 2015. Penuntun Pratikum Kimia Dasar II. Jurusan Kimia
FMIPA, Universitas Udayana: Bukit Jimbaran

Underwood, A.L. 2002. Analisa Kimia Kuantitatif. Erlangga, Jakarta