Anda di halaman 1dari 9

Laporan Praktikum 8 Hari, Tanggal : Senin,30 April 2018

Mikrobiologi Nutrisi Tempat Praktikum : Laboratorium Biokimia,


Fisiologi,Mikrobiologi
Nutrisi
Asisten : Qurratul Aini
(D24140011)

EFEK PENAMBAHAN MINYAK SEBAGAI AGEN


DEFAUNASI TERHADAP POPULASI PROTOZOA RUMEN

Dwi Irmadani
D24160017
Kelompok 1/ G2

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2018
LATAR BELAKANG

Pendahuluan

Saluran pencernaan ruminansia tergolong kedalam saluran pencernaan


yang besar. Hal ini disebabkan karena lambung ruminansia terbagi menjadi empat
bagian, yakni abomasums,rumen, retikulu, serta omasum. Saluran pencernaan
ruminansia yang cukup komplek ini dikarenakan lambung ruminansia harus dapat
mencerna serat dengan baik (Williamson dan Payne 1993). Rumen ruminansia
merupakan bagian penting yang berkaitan dengan pencernaan fermentative
ruminansia. Terdapat berbagai mikroba dalam rumen yang mendukung terjadinya
pencernaan fermentative. Populasi mikroba khususnya bakteri dan protozoa
tersebar sangat banyak didalam cairan rumen. Menurut (Sutardi 1977) dalam
setiap cc isi rumen, konsentrasi bakteri berjumlah sekitar 109 dan populasi
protozoa berkisar antara 105- 106.
Penekanan populasi protozoa dalam rumen penting dilakukan berkaitan
dengan peningkatan efisiensi pakan dan penurunana pembentukan CH4. Hal ini
bertujuan meningkatkan performa bakteri dalam mencerna serat. Selain itu,
bakteri yang terdapat dalam rumen dapat meningkat apabila populasi protozoa
diturunkan, karena protozoa merupakan pemangsa bakteri (Wina et al 2005).
Penekanan populasi protozoa ini umum disebut sebagai proses defaunasi. Menurut
(Goel et al 2008), populasi protozoa dapat ditekan dengan penambahan senyawa
saponin dalam pakan.
Salah satu cara yang umum dilakukan berkaitan dengan defaunasi
protozoa ialah dengan penambahan minyak. Apabila protozoa diselimuti oleh
minyak, aktivitas metabolic protozoa akan sangat terganggu dan dalam kondisi
lemak yang tinggi, protozoa dalam rumen banyak yang mati. Hal ini disebabkan
aktivitas lipolitik pada protozoa tidak sebaik pada bakteri (Moss et al 2000).
Pentingnya mengetahui proses dan agen defaunasi pada protozoa yang berperan
pada kinerja rumen ruminanasia menyebabkan praktikum ini penting dilakukan.

Tujuan

Praktikum bertujuan mengetahui efek pemberian minyak kelapa sawit,


minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak wijen dan mengevaluasinya
terhadap populasi protozoa rumen.
TINJAUAN PUSTAKA

Cairan Rumen dan Mikrobanya

Cairan yang terdapat didalam rumen ruminansia terdiri dari berbagai


macam mikroba. Penentuan produksi ternak ruminansia sangat mementingkan
kondisi mikroba didalam rumen tersebut. Ammonia merupakan sumber nitrogen
paling utama dan sangat diperlukan untuk keperluan sintesis mikroba rumen.
Menurut (Mc Donald et al 2002) kisaran konsentrasi NH3 yang paling optimal
dalam sintesis mikroba rumen berkisar antara 6-21 mMol. Pemenuhan kebutuhan
mikroba rumen ini dapat dilakukan dengan mempertimbangkan pemberian pakan
pada ruminansia. Salah satu pakan wajib yang berkaitan dengan pemenuhan
nutrisi dalam sintesis mikroba rumen ialah hijauan.

Cairan Rumen
Kondisi dalam rumen adalah temperatur dan mikroorganisme yang paling
sesuai dan dapat hidup dapat ditemukan di dalamnya. Tekanan osmos pada rumen
mirip dengan tekanan aliran darah. Temperatur dalam rumen adalah 38-42oC, Ph
dipertahankan dengan adanya absorbs asam lemak dan 3empera. Saliva yang
masuk kedalam rumen berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan
Ph tetap pada 6,8. Hal ini disebabkan oleh tingginya kadar ion HCO3 dan PO4. Di
dalam cairan rumen juga terdapat saliva. Saliva yang masuk ke dalam rumen
berfungsi sebagai buffer dan membantu mempertahankan Ph tetap pada 6,8.
Saliva bertipe cair, membuffer asam-asam,hasil fermentasi mikroba rumen. Selain
itu juga saliva merupakan zat pelumas dan surfactant yang membantu di dalam
proses mastikasi dan ruminasi. Saliva mengandung elektrolit-elektrolit tertentu
seperti Na,K,Ca,Mg,P, dan urea yang mempertinggi kecepatan fermentasi
mikroba ( Imamkhasani 2000).

Saliva Buatan (Mc Dougall)

Larutan saliva buatan digunakan sebagai suatu medium buffer yang


menyerupai kondisi dalam rumen ternak ruminansia bersama-sama cairan rumen.
Larutan ini digunakan sebagai media pertumbuhan dan perkembangan mikroba
rumen sebagai in vitro. Pembuatan larutan saliva buatan mengacu pada petunjuk
Mc Doughall (Rahmawati 2008)

Protozoa Rumen

Populasi protozoa dihitung dengan Counting Chamber atau


hemocytometer dengan bantuan mikroskop menggunakan pewarna larutan
Methylgreen Formalin Saline/MFS (Ogimoto dan Imai, 1981)
Minyak Sawit

Minyak sawit merupakan minyak nabati yang dapat dimakan berasal dari
kelapa sawit. Komposisi asam lemak sawit mirip dengan minyak kelapa,
keduanya dikenal sebagai minyak laurat. Minyak sawit termasuk minyak yang
memiliki kadar lemak jenuh yang tinggi. Minyak sawit berwujud setengah padat
paad temperatur ruangan dan memiliki beberapa jenis lemak jenuh asam laurat,
asam miristat, asam stearat, dan asam palmitat. Minyak sawit juga memiliki lemak
tak jenuh dalam bentuk asam oleat, asam linoleat, dan asam alfa linoleat. Minyak
sawit juga GMO free, karena tidak ada kelapa sawit termodifikasi genetic (GMO)
yang dibudidayakan untuk menghasilkan minyak sawit ( Pitoyo 1988).

Minyak Kedelai

Minyak kedelai dalam hal kandungan minyak dan komposisi asam


lemaknya dipengaruhi oleh varietas dan keadaan iklim tempat tumbuh. Lemak
kasar terdiri dari trigliserida sebesar 90-95 persen, sedangkan sisanya adalah
fosfatida, asam lemak bebas, sterol, dan tokoferol. Minyak kedelai mempunyai
kadar asam lemak jenuh sekitar 15% sehingga sangat baik sebagai pengganti
lemak dan minyak yang memiliki kadar asam lemak jenuh yang tinggi seperti
mentega dan lemak babi. Asam lemak dalam minyak kedelai sebagian besar
terdiri dari asam lemak esensial yang sangat dibutuhkan oleh tubuh (Thoha 2010).

Minyak Biji Bunga Matahari

Minyak biji matahari adalah minyak non-volatil yang dikempa dari bii
bunga matahari. Minyak ini biasa digunakan sebagai makanan sebagai minyak
goring, dan dalam racikan kosmetika sebagai emolien. Minyak biji matahari
secara dominan mengandung asam linoleat dalam bentuk trigliserida. Minyak biji
matahari memiliki rasa yang ringan dan memiliki kandungan vitamin E yang
tinggi ( Manurung 2009).

Minyak Kelapa Sawit

Minyak kelapa sawit adalah minyak yang diperoleh dari ekstraksi bagian
mesokarp buah. Komponen penyusun minyak sawit terdiri dari campuran
trigliserida dan komponen lainnya yang merupakan komponen minor. Trigliserida
terdapat dalam jumlah yang besar sedangkan komponen minor terdapat dalam
jumlah yang relatif kecil namun keduanya memegang peranan dalam menentukan
kualitas minyak sawit .Trigliserida merupakan ester dari gliserol dan asam lemak
rantai panjang. Trigliserida dapat berfasa padat atau cair pada temperatur kamar
tergantung pada komposisi asam lemak penyusunnya.
MATERI DAN METODE

Materi

Alat yang digunakan pada praktikum diantaranya ialah botol film, tabung
reaksi, rak tabung reaksi, sploid, pipet mohr, bulb, tabung fermentor, counting
chamber, mikroskop, serta shaker waterbath.
Bahan yang digunakan pada praktikum diantaranya ialah minyak kelapa
sawit, minyak kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak wijen, saliva buatan
McDougall, gas CO2, cairan rumen, TBFS serta aquadest.

Metode

Pembuatan saliva buatan Mc Dougall


Larutan aquadest sebanyak 5 liter disiapkan. Sebanyak 58.8 gr NaHCO3,
42 gr Na2HPO4.7H2O, 3.42 gr KCl, 2.82 NaCl, 0.72 gr MgSO4, dan 0.24 gr
CaCl2 disiapkan dan dicampurkan keseluruhannya kedalam lima liter aquadest
hingga terbentuklah larutan sebanyak 6 liter.

Defaunasi protozoa pada cairan rumen


Sebanyak 11 ml saliva buatan McDougall dan 8 ml cairan rumen dialiri
gas CO2. Larutan saliva buatan dan cairan rumen tersebut dijadikan sebagai
sampel perlakuan sedangkan untuk perlakuan kontrol digunakan saliva buatan Mc
Dougall sebanyak 12 ml yang dimasukkan kedalam tabung fermentor dan shaker
water bath selama 10 menit pada suhu 39oC. Sebanyak 1 ml larutan perlakuan
dimasukkan kedalam botol film yang sebelumnya telah dimasukkan masing-
masing minyak biji bunga matahari, minyak kelapa, minyak wijen, dan minyak
kedelai diambil sebanyak 0.5 ml dan 0.5 ml TBFS. Larutan yang terbentuk
kemudian diamati menggunakan counting chamber dibawah mikroskop dan
dihitung jumlah protozoa yang terdapa didalamnya.
Rumus populasi protozoa = x FP, dengan FP=2
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Hasil praktikum didapat dengan membandingkan populasi protozoa


berdasarkan perlakuan yang berbeda. Hasil tersebut dapat dilihat pada tabel
dibawah ini.
Tabel 1. Pengaruh penambahan minyak pada populasi protozoa kelompok 1 siang
Jumlah Protozoa (sel)
Populasi Protozoa
Perlakuan Jumlah yang Rata-rata
(log/ml)
dihitung
Kontrol 112 112 3500
Minyak bunga 179,5
115 5610
matahari 1
Minyak bunga
244 5610
matahari 2
Minyak wijen 1 335 277 8670
Minyak wijen 2 219 8670
Minyak kelapa 49
53 1530
sawit 1
Minyak kelapa
45 1530
sawit 2
Minyak Kedelai 1 214 262.5 8190
Minyak Kedelai 2 311 8190

Tabel 1. Pengaruh penambahan minyak pada populasi protozoa kelompok 1 pagi


Perlakuan Jumlah Protozoa (sel) Populasi protozoa
Jumlah yang Rata-rata (log/mL)
diamati
Kontrol 651 651 20343,75
Minyak wijen 1 495
347,5 10859,375
Minyak wijen 2 200
Minyak bunga 201
matahari 1
143 4468,75
Minyak bunga 85
matahari 2
Minyak sawit 1 285
359,5 11234,375
Minyak sawit 2 434
Minyak kedelai 1 932
980 30625
Minyak kedelai 2 1028
Pembahasan

Lambung ruminanasia terdiri atas empat bagian, yaitu rumen, reticulum,


omasum serta abomasum. Rumen ruminansia mengadung microorganism yang
dapat mencerna pakan. Mikroorganisme tersebut adalah bakteri, protozoa serta
fungi. Protozoa dalam rumen umumnya memiliki flagellate dan cilliata. Namun
yang lebih sering ditemukan biasanya merupaka kelompok cillita. Protozoa
entodinium berpengaruh positif terhadap pencernaan pakan
berserat. Holotrichia dan oligotrichia secara aktif memakan bakteri di dalam
rumen. Spesies protozoa di dalam rumen berubah tergantung pada makanan
rumiansia, musim dan lokasi geografis (Masruroh et al 2013).
Masruroh (2013), berpendapat bahwa keberadaan protozoa dalam rumen
sering mengganggu ekosistem bakteri, karena mempunyai sifat memangsa bakteri
dan secara negatif mempengaruhi proses pencernaan serat pakan, oleh karena itu
perlu dilakukan defaunasi protozoa. Salah satu agen defaunasi yang dapat
digunakan untuk menekan populasi protozoa adalah saponin yang merupakan
hasil metabolisme sekunder tanaman. Saponin dapat mengganggu perkembangan
populasi protozoa karena saponin mampu membuat suatu ikatan dengan sterol
pada permukaan membran sel protozoa. Hal tersebut menyebabkan membran sel
protozoa pecah, sel mengalami lisis dan akhirnya mengakibatkan kematian pada
protozoa.
Hasil yang didapatkan berdasarkan percobaan menunjukkan bahwa pada
hasil kelompok siang, peningkatan protozoa terjajadi saat sampel ditambahkan
minyak wijen dan minyak biji bunga matahari. Berbeda dengan tabel kelompok
pagi yang menunjukkan bahwa pada penambahan minyak wijen, minyak kelapa,
dan minyak bunga matahari, populasi protozoa menurun.
Efek negatif penambahan minyak terhadap mikrobia rumen adalah
kemampuan sisi aktif dari asam-asam lemak membungkus dinding sel pakan dan
menghambat transfer nutrien yang essensial . Pada kondisi penyelimutan protozoa
oleh minyak, protozoa tidak memiliki aktivitas lipolitik sebaik bakteri, akibatnya
aktivitas metabolik protozoa menjadi terganggu dan banyak protozoa yang mati
pada kondisi lemak tinggi di rumen (Sitoresmi 2009).

SIMPULAN

Protozoa memiliki akivitas enzim lipolitik yang lebih rendah dibandingkan


dengan bakteri. Penambahan minyak akan menurunkan populasi protozoa dalam
rumen. Semakin tinggi lemka, aktivitas metabolisme protozoa akan semakin
terganggu. Bahkan protozoa tersebut dapat mati.
DAFTAR PUSTAKA

Imamkhasani. 2000. Nutrisi dan Metabolisme Ternak. Jakarta (ID) : PT Gramedia


Pustaka Utama
Manurung, Renita. 2009. Transesterifikasi minyak nabati. Jurnal Teknologi
Proses. 5 (1) : 47-52.
Masruroh, Siti, Caribu dan Suwarno. 2013.Populasi protozoa dan produksi gas
total dari rumen kambing perah yang pakannya disuplementasi ekstrak
herbal secara in vitro. Jurnal Ilmiah Peternakan 1(2): 420- 429. [internet]
[diunduh 5-5-2018]. [tersedia pada http://download.portalgaruda.org/art
icle.php?article=121595&val=665]
Moss AR, Jouny RP, Newbold J. 2000. Methane production by ruminant; it contri
bution to global warming. Journal Zootech. 49(1) : 231-253
Mc Donald, P., R. A. Edwards, J. F. D. Greenhalgh and C. A. Morgan. 2002.
Animal Nutrition. 5 th. Edition. New York (USA) : Longman Scientific
and Technical
Pitoyo. 1988. Kemungkinan Ekstraksi Beta-karotena Dari Tanah Pemucat Limba
Proses Pemurnian Kelapa Sawit . Yogyakarta (ID) : Universitas Gajah
Mada Press.
Rahmawati,annis.(2010). Pengaruh Pemberian Permen Karet Yang Mengandung
Xylitol Terhadap Penurunan Keluhan Xerostomia Pada Pasien Dengan
Radioterapi Kepala dan Leher. [Skripsi] Universitas Diponegoro.
Sitoresmi Diah. 2009. Pengaruh penambahan minyak kelapa, minyak biji bunga
matahari, dan minyak kelapa sawit terhadap penurunan produksi metan di
dalam rumen secara in vitro. Buletin Peternakan. 33(2): 96-105.[ internet]
[diunduh 6-5-2018]. [ tersedia pada https://journal.ugm.ac.id/buletin peter
nakan/article/viewFile/122/478].
Sutardi, T. 1977. Ikhtisar Ruminologi Badan Khusus Peternakan Sapi Perah. Lem
bang (ID) : Direktorat Jenderal Peternakan
Thoha,M Yusuf. Pengaruh suhu, waktu, dan konsentrasi pelarut pada ekstraksi
minyak kacang kedelai sebagai penyedia vitamin e. Jurnal Teknik Kimia
Universitas Sriwiaya. Vol 2 (3) : 32-37.
Williams, G dan W.J.A. Payne. 1983. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.
Yogyakarta(ID) : Universitas Gajah Mada Press.
Wina, E., S.Muetzel, E.M. Hoffmann, H.P.S. Makkar and K. Becker. 2005. Effect
of secondary compounds in forages on rumen micro-organisms quantified
by 16S and 18S RNA. In: Applications of gene-based technologies for
improving animal production and health in developing countries. H.P.S.
MAKKAR and G.J. VILJOEN 397-410.
LAMPIRAN