Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

DIARE AKUT

Oleh :
dr. Riska Aulia Rahma

Pembimbing :
dr. Raditya Rahman Landapa

Program Internsip Dokter Indonesia RSUD Asy-Syifa’ Taliwang


Nusa Tenggara Barat
2017-2018

1
BAB I

PENDAHULUAN

Diare hingga saat ini masih merupakan salah satu penyebab utama kesakitan
dan kematian hampir di seluruh daerah geografis di dunia. Semua kelompok usia bisa
diserang oleh diare, tetapi penyakit diare berat dengan kematian yang tinggi terutama
terjadi pada bayi dan anak. Angka kejadian diare pada anak di dunia mencapai 1
miliar kasus tiap tahun, dengan korban meninggal sekitar 5 juta jiwa. Statistik di
Amerika mencatat tiap tahun terdapat 20-35 juta kasus diare dan 16,5 juta diantaranya
adalah balita. Angka kematian Balita di Negara berkembang akibat diare ini sekitar
3,2 juta setiap tahun (DepKes RI, 2010).

Menurut data World Health Organization (WHO 2005), setiap satu jam 50
anak balita di Asia Tenggara meninggal dunia karena diare dan frekuensi mengalami
diare bisa sampai 12 kali dalam satu tahun pada setiap anak. Sedangkan Data statistik
di Indonesia menunjukkan bahwa setiap tahun diare menyerang 50 juta penduduk
Indonesia, dua pertiganya adalah balita dengan korban meninggal sekitar 600.000
jiwa (DepKes RI, 2010).

Terdapat banyak penyebab diare pada anak. Pada sebagian besar kasus
penyebabnya adalah infeksi akut intestinum yang disebabkan oleh virus, bakteri atau
parasit, akan tetapi berbagai penyakit lain juga dapat menyebabkan diare termasuk
sindrom malabsorbsi. Diare karena virus umunya self limiting sehingga aspek
terpenting yang harus dieperhatikan adalah mencegah terjadinya dehidrasi yang
menjadi peneyebab utama kematian dan menjamin asupan nutrisi untuk mencegah
gangguan pertumbuhan akibat diare (UKK Gastroenterology – hepatologi IDAI
2010)

2
BAB II

LAPORAN KASUS

Identitas Pasien
 Nama : An. M
 Usia : 1,5 Tahun
 Jenis Kelamin : Laki – laki
 Alamat :
 Tanggal masuk RS : 06 – 11 - 2017
 Tanggal pemeriksaan : 06 – 11 - 2017

Heteroanamnesis pada Ibu Pasien


 KU : BAB cair
 RPS
Pasien dibawa ke UGD RS ASY - SYFA dikeluhkan BAB cair Sejak 2
hari yang lalu. BAB cair dengan frekuensi lebih dari 5x sehari yang biasanya
BAB hanya 2x sehari, dengan jumlah kurang lebih setengah gelas belimbing
setiap mencret, konsistensi cair dan terdapat ampas berwarna kekuningan,
terdapat darah di sangkal dan lendir juga di sangkal. Selain itu sebelum mencret
pasien dikatakan mengalami muntah dengan frekuensi lebih dari 3x sehari,
berupa cairan putih seperti susu sebanyak kurang lebih setengah gelas
belimbing tiap muntah.
Pada awalnya anak rewel dan terus menangis disertai tambah sering
menyusu dan minum dengan minum sangat bernafsu dan hisapan kuat (seperti
kehausan) dimana sebelum sakit anak biasanya menyusu 2 kali dalam sehari
dan aktif minum. Menurut Ibu pasien, anaknya juga mengalami demam sejak
BAB cair. Demam timbul mendadak, dan naik turun. Demam tidak disertai

3
dengan menggigil. Riwayat kejang disangkal. Batuk (-), pilek (-). Pasien masih
bisa BAK dengan lancar, warna kuning, jumlahnya sulit dievaluasi karena
memakai pampers.

Riwayat penyakit dahulu :


Sebelumnya pasien pernah menderita penyakit seperti ini saat usia kurang dari
1 tahun. Riwayat asma disangkal. Riwayat batuk lama disangkal.

Riwayat penyakit keluarga :


Riwayat alergi disangkal, riwayat asma dan TBC disangkal.

Riwayat pengobatan
Pasien belum berobat kemanapun atau mengkonsumsi obat apapun. Hanya
aktif diberikan minum oleh ibunya.

Riwayat social
Ibu pasien sehari – harinya sebagai ibu rumah tangga. Sehari-hari menurut ibu
pasien satu keluarga biasa meminum air yang berasal dari air isi ulang. Seluruh alat
makan dicuci menggunakan air keran. Dalam keluarga maupun tempat tinggal sekitar
tidak ada yang mengalami mencret.

Riwayat imunisasi :
- Menurut ibu, anaknya sudah diberikan semua imunisasi berdasarkan
usia di fasilitas kesehatan terdekat yang ada disekitar rumahnya.

PEMERIKSAAN FISIK
• Keadaan Umum : Tampak sedang
• Kesadaran : Rewel

4
Tanda Vital
• Suhu : 37,6 oC
• Nadi : 114 x/menit, regular kuat angkat
• Pernapasan : 22x/menit

Status Antropometri
• Berat Badan : 11 Kg

Status Generalis
Kulit : Putih
Kepala
• Bentuk : Normocephal, Ubun-ubun cekung(+)
• Mata : Cekung (+), konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, air
mata (< / <), reflek cahaya (+ / +), pupil isokor 3 mm/ 3 mm
• Hidung : Sekret (-), darah (-) ,nafas cuping hidung (-)
• Telinga : Sekret (-), serumen (-)
• Mulut : Mukosa mulut kering (+), sianosis (-)
Leher :Pembesaran KGB (-)
Thorax
• Pulmo
• Inspeksi : Pergerakan dinding thorax kiri-kanan simetris, tidak
ada bekas luka, tidak ada benjolan, retraksi ICS (-)
• Palpasi : vocal fremitus sulit dinilai
• Perkusi : Sonor pada seluruh lapang paru kiri-kanan
• Auskultasi : Suara nafas vesikuler diseluruh lapang paru kiri-
kanan. Ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

5
• Cor
• Inspeksi : Ictus cordis tidak tampak
• Palpasi : Ictus cordis teraba di ICS 4 linea midklavikula
sinistra.
• Auskultasi : Bunyi jantung I dan II reguler, murmur (-), gallop (-)
Abdomen
• Inspeksi : Supel, datar, retraksi epigastrium (-).
• Auskultasi : Bising usus menurun
• Palpasi : Nyeri pada epigastrium (-),turgor kulit melambat >2
detik
• Perkusi : Timpani pada selurung lapang abdomen
Ekstremitas :
• Akral hangat (+), Edema (-), CRT < 2 detik

RESUME:
An. M usia 1,5 tahun, BAB cair sejak 2 hari SMRS .BAB cair dengan frekuensi
lebih dari 5x sehari, dengan jumlah kurang lebih setengah gelas belimbing
setiap mencret, konsistensi cair dan terdapat ampas berwarna kekuningan,
lendir (-), darah (-). Muntah (+) dengan frekuensi lebih dari 3x sehari SMRS,
berupa cairan putih seperti susu sebanyak kurang lebih setengah gelas
belimbing tiap muntah.
Demam timbul mendadak, dan naik turun. Demam tidak disertai dengan
menggigil. Kejang (-) Batuk (-), pilek (-). Anak dikatakan kuat menyusui
seperti kehausan.
Keadaan umum sedang dan rewel. Dari pemeriksaan fisik didapatkan
nadi 114 x/menit reguler kuat angkat, RR : 22 x/menit, T : 37.6 oC. ubun – ubun
cekung (+), mata cekung (+), air mata berkurang, pada pemeriksaan thorak
masih dalam batas normal. Pada pemeriksaan abdomen didapatkan bising usus

6
meningkat, turgor kulit melambat > 2 detik. Pada ekstremitas atas dan bawah
masih dalam batas normal.

Diagnosa Kerja
 Diare akut dengan dehidrasi ringan sedang

Rencana diagnosis
Pemeriksaan Feses

Penatalaksanaan
 IVFD RL 16 tpm mikro
 Oralit sachet 200 cc tiap BAB cair
 Zinc : 1 x 20 mg (selama 14 hari berturut – turut )
 L – bio : 1 x 1 sachet
 Injeksi Ondancentron 2 mg/8 jam (Jika muntah)
 Paracetamol syr : 150 mg/8 jam
 Asi dan pemberian makanan dilanjutkan

7
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

3.1. DEFINISI DIARE


Diare atau penyakit diare (Diarrheal disease) berasal dari bahasa
Yunani yaitu “diarroi” yang berarti mengalir terus, merupakan keadaan
abnormal dari pengeluaran tinja yang terlalu frekuen. Terdapat beberapa
pendapat tentang definisi penyakit diare yaitu :
 Menurut DepKes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-
tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek
sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga
kali atau lebih dalam sehari.
 Menurut World health organization 2005 adalah suatu penyakit yang
ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek
sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih
dari biasanya, yaitu 3 kali atau lebih dalam sehari disertai dengan atau
tanpa muntah dan dengan atau tanpa darah atau lendir.

3.2. EPIDEMIOLOGI

Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Negara


berkembang termasuk Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian
dan kesakitan tertinggi pada anak terutama usia dibawah 5 tahun. Di dunia ,
sebanyak 6 juta anak meninggal tiap tahunnya karena diare dan sebagian besar
kejadian tersebut di Negara berkembang. Sebgai gambaran 17 % kematian anak
didunaia disebabkan oleh diare sedangkan di Indonesia hasil Riskesdes 2007
diperoleh bahwa diare masih merupakan penyebab kematian bayi yang
tebanyak yaitu 42% disbanding pneumonia 24%, untuk golongan 1 – 4 tahun

8
penyebab kematian karena diare 25,2% disbanding pneumonia 15,5%. (UKK
Gastroenterology – hepatologi IDAI 2010)

3.3. CARA PENULARAN DAN FACTOR RESIKO


Cara penularan diare melalui cara faecal –oral yaitu melalui makanan
atau minuman yang tercemar kuman atau kontak langsung tangan penderita
atau tidak langsung melalui lalat ( melalui 5F = faeces, flies, food, fluid,
finger). (UKK gastroenterology – hepatologi IDAI 2010)

Faktor risiko terjadinya diare adalah:


1. Faktor perilaku
2. Faktor lingkungan

Faktor perilaku antara lain:


a. Tidak memberikan Air Susu Ibu/ASI (ASI eksklusif), memberikan
Makanan Pendamping/MP ASI terlalu dini akan mempercepat bayi
kontak terhadap kuman
b. Menggunakan botol susu terbukti meningkatkan risiko terkena penyakit
diare karena sangat sulit untuk membersihkan botol susu
c. Tidak menerapkan Kebiasaaan Cuci Tangan pakai sabun sebelum
memberi ASI/makan, setelah Buang Air Besar (BAB), dan setelah
membersihkan BAB anak
d. Penyimpanan makanan yang tidak higienis

Faktor lingkungan antara lain:


a. Ketersediaan air bersih yang tidak memadai, kurangnya ketersediaan
Mandi Cuci Kakus (MCK)
b. Kebersihan lingkungan dan pribadi yang buruk

9
Disamping faktor risiko tersebut diatas ada beberapa faktor dari
penderita yang dapat meningkatkan kecenderungan untuk diare antara lain:
kurang gizi/malnutrisi terutama
anak gizi buruk, penyakit imunodefisiensi/imunosupresi dan penderita campak
(Kemenkes RI, 2011)

3.4. KLASIFIKASI DIARE DAN PATOFISOLOGI

Secara umum diare dapat di klasifikasikan sebagai berikut :

1. Diare menurut lamanya diare


a. Diare akut yang berlangsung kurang dari 14 hari
b. Diare kronik yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi non
– infeksi
c. Diare persisten yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan etiologi
infeksi
2. Diare menurut mekanisme kerja
a. Diare sekretorik

Diare sekretorik mempunyai karakteristik adanya peningkatan


kehilangan banyak air dan elektrolit dari saluran cerna. Diare
sekretorik terjadi karena adanaya hambatan absorbs Na ole vilus
entrosit serta peningkatan sekresi Cl oleh kripte. Na+ masuk ke dalam
saluran cerna dengan 2 mekanisme pompa Na+ yang memungkinkan
terjadinya pertukaran Na+ - glukosa, Na+ - asam amino. Na+ - H+ dan
proses elektrogenik melalui Na chanel. Peningkatan sekresi intestinal
diperantai oleh hormone vasoaktif intestinal polypeptide – VIP, toksin
dari bakteri yang dapt mengaktivasi adenil siklase melalui rangsangan
pada protein G enterosit. Akan terjadi peningkatan cyclic AMP
intraseluler pada mukosa intestinal akan mengaktifasi protein

10
signaling tertentu, akan membuka chanel chloride. Enterotoksin lain
akan meningkatkan sekresi intestinal dengan meningktkan cGMP atau
konsentrasi kalsium intraseluler.

Peningkatan sekresi pada sel kripte dengan hasila akhir berupa


peningkatan sekresi cairan yang melebihi kemampuan absorbs
maksimum dari kolon dan berakibat diare. Pada diare sekretorik
biasanya pengeluaran tinja dalam dalam jumlah besar, menetap
meskipun di puasakan dan memiliki komposisi elektrolit yang
isotonic.

b. Diare osmotic

Pada diare osmotic didapatkan substansi intraluminal yang


tidak dapat diabsorbsi dan menginduksi sekresi cairan. Biasanya
keadaan ini berhbungan dengan kerusakan dari mukosa saluran cerna.
Akumulasi dar zat yang tidak dapat diserap dalam lumen usus akan
menyebabkan peningkatan tekanan osmotic intraluminal sehingga
terjadi pergeseran cairan plasma ke intestinal.

Akumulasi karbohidrat merupakan contoh tipe dari diare ini


dan paling sering terjadi. Karbohidrat seperti alktosa, sukrosa, glukosa
dan galaktosa dalam jumlah cukup besar di intestinal dapat disebabkan
oleh gangguan transportasi baik congenital maupun dapatan. Laktosa
tidak dapat dipecah sehingga tidak dpaat diabsorbsi. Laktosa tidak
tercerna menarik air ke dalam lumen sehingga terjadi diare.
Karakteristik dari diare osmotic adalah diare akan membaik bila
penderita di puasakan atau membatasi asupan.

11
c. Diare invasive

Diare invasive adalh diare yang terjadi akibat invasi


mikroorganisme dalam mukosa usus sehingga menimbulkan
kerusakan pada mukosa usus. Diare invasive ini disebabkan oleh
rotavirus, bakteri (shigella, salmonella, campylobacter, EIEC,
yersinia), parasit. Diare invasive yang disebabkan oleh bakteri dan
amoeba menyebabkan tinja berlendir den sering disebut sebagai
dysentriform diarrhea.

Di dalam usus pada shigella setelah kuman mmelewati barier


asam lambung, kuman masuk ke dalam usus halus dan berkembang
biak sambil menegeluarkan enterotoksin. Toksin ini akan merangsang
enzim adenil siklase untuk mengubah ATP menjadi cAMP sehingga
terjadi diare sekretorik. Selanjutnya kuman ini dengan bantuan
peristaltic usus sampai di kolon.. di kolon kuman ini bias keluar
bersama bersama tinja atau melakukan invasi kedalam mukosa kolon,
sehingga terjadi kerusakan mukosa berupa mikro – mikro ulkus yang
disertai dengan serbukan PMN dan menimbulkan gejala tinja berlendir
dan berdarah.

3.5. ETIOLOGI

Secara klinis penyebab diare dapat dikelompokkan dalam golongan 6


besar. Untuk mengenal penyebab diare yang dikelompokan sebagai berikut:
(DepKes RI, 2005)

1. Infeksi :

a. Bakteri (Shigella, Salmonella, E.Coli, Golongan vibrio, Bacillus Cereus,


Clostridium perfringens, Staphilococ Usaurfus, Camfylobacter,
Aeromonas)

12
b. Virus (Rotavirus, Norwalk + Norwalk like agent, Adenovirus)

c. Parasit

 Protozoa (Entamuba Histolytica, Giardia Lambia, Balantidium Coli,


Crypto Sparidium)

 Cacing perut (Ascaris, Trichuris, Strongyloides, Blastissistis


Huminis)

 Bacilus Cereus, Clostridium Perfringens

2. Malabsorpsi

a. Malabsorpsi karbohidrat : Disakarida (intoleransi laktosa, maltose


dan sukrosa). Pada bayi dan anak yang terpenting dan tersering
adalah intoleransi laktrosa.

b. Malabsorpsi lemak

c. Malabsorpsi protein

3. Alergi (fructose dan lactose)

4. Intoksikasi makanan : makanan basi, makanan mengandung bakteri atau


toksin seperti clostridium perfringens, B. cereus, S.aureus,
streptococcus anhaemo lyticus.

5. Imunodefisiensi : hipogamaglobulinemia, penyakit granulomatosa


kronik, defisiensi igA.

13
3.6. MANIFESTASI KLINIS

Mula-mula bayi atau anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan bisa
meningkat, nafsu makan berkurang yang disertai dengannya timbul diare. Tinja
makin cair, bisa mengandung darah dan atau lendir, warna tinja berubah
menjadi kehijauan karena tercampur empedu. Karena seringnya defekasi, anus
dan sekitarnya lecet karena tinja makin lama makin asam sebagai akibat makin
banyaknya asam laktat yang berasal dari laktosa yang tidak dapt di absorpsi
usus selama diare. (Ilmu Kesehatan Anak, FKUI).

Tabel gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab (UKK gastroenterology –
hepatologi IDAI 2010)

Gejala klinik Rotavirus Shigela salmonella ETEC EIEC Kolera

Masa tunas 12 – 72 24 – 48 jam 6 – 72 jam 6 – 72 jam 6 – 72 jam 48 – 72


jam jam
Panas ++ ++ ++ - ++ -

Mual muntah sering jarang sering - - sering

Nyeri perut tenesmus Tenesmus, Tenesmus, + Tenesmus, kram


kram kolik kram
Nyeri kepala _ + + _ _ _

Lama sakit 5 – 7 hari > 7 hari 3 – 7 hari 2 – 3 hari variasi 3 hari

Sifat tinja
Volume sedang sedikit sedikit banyak sedikit banyak

Frekuensi 5– > 10 x /hari sering sering sering Terus -


10x/hari terusan

14
Konsistensi cair lembek lembek cair Lembek cair
Lendir _ _ _ _ _ _
Darah _ sering kadang _ + +
Bau Langu ± busuk + Tidak amis

warna Kuning Merah hijau kehijauan Tak warna Merah hijau Cucian
hijau beras
Lekosit _ + + _ + _

Lain - lain anoreksia Kejang ± Sepsis ± Meteorismus Infeksi ±

3.7. DIAGNOSIS
3.7.1. Anamnesisis

Pada anamnesa perlu ditanyakan hal – hal sebagai berikut lama diare,
frekuensi, volume, konsistensi tinja, warna, bau ada atau tidal lendor dan
darah. Bia disertai muntah : volume dan frekuensinya. Apakah ada panas atau
penyakit lain yang menyertai seperti batuk, pilek, otitis media.

3.7.2. Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan fisik perlu diperiksa : berat badan, suhu, frekuensi


jantung dan pernafasan serta tekanan darah. Selanjutnya perlu dicari tanda –
tanda dehidrasi. Pernafasan cepat dan dalam indikasi adanya asidosis
metabolic. Bisisng usus yang lemah atau tidak ada bila terdapat hipokalemi.
Penilaian beratnya atau derajad dehidrasi dapat ditentuan dengan cara :

15
Tabel penentuan derajad dehidrasi menurut MWR (2003)

Symptom Minimal atau tanpa Dehidrasi ringan Dehidrasi berat


dehidrasi kehilangan sedang kehilangan kehilangan BB > 9%
BB < 3 % BB 3% - 9%
Kesadaran Baik Normal, lelah, Apatis , letargi, tidak
gelisah, iritable sadar
Denyut jantung Normal Normal – Takikardi, bradikardi
meningkat pada kasus berat
Kualitas nadi Normal Normal – melemah Lemah kecil tidak teraba
Pernapasan Normal Normal – cepat Dalam
Mata Normal Sedikit cowong Sangat cowong
Air mata Ada Berkurang Tidak ada
Mulut dan lidah Basah Kering Sangat kering
Cubitan kulit Segera kembali Kembali < 2 detik Kembali > 2 detik
CRT Normal Memanjang Memanjang, minimal
Ektremitas Hangat Dingin Dingin, mottled, sianotik
Kencing Normal Berkurang Minimal

Penentuan derajad dehidrasi menurut WHO (2005)

16
 Dikatakan dehidrasi ringan – sedang dan berat apabila ditemukan 2 tanda
dehidrasi.

 Standar Dehidrasi menurut banyaknya cairan hilang)

 Dehidrasi ringan(kehilangan BB 1-5%)

 dehidrasi sedang(kehilanganBB 6-9%)

 dehidrasi berat (kehilanganBB >10%)

3.7.3. PEMERIKSAAN PENUNJANG


3.7.3.1. Laboratorium

Pemeriksaan laboratorium lengkap pada diare akut umumnya


tidak diperlukan, Hanya pada keadaan tertentu mungkin diperlukan,
misalnya penyebab dasarnya tidak diketahui atau ada sebab-sebab lain
selain diare akut atau pada penderita dengan dehidrasi berat.

Pemeriksaan yang kadang – kadang diperlukan pada diare akut :

Darah : darah lengkap, serum elektrolit, analisa gas darah, glukosa


darah, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika.

Urine : urine lengkap, kultur dan tes kepekaan terhadap antibiotika.

3.7.3.2. Pemeriksaan tinja


A. Pemeriksaan makroskopik
Pemeriksaan makroskopik tinja perlu dilakukan pada semua penderita
dengan diare meskipun pemeriksaan laboratorium tidak dilakukan. Tinja
yang watery dan tanpa mucus atau darah biasanya disebabkan oleh
enterotoksin virus, protozoa atau disebabkan oleh infeksi virus dluar
gastrointestinal.

17
Tinja yang mengandung darh atau mucus biasanya disebabkan oleh
infeksi bakteri yang menghasilkan sitotoksin, bakteri enteroinvasif yang
menyebabkan peradangan mukosa atau parasit usus seperti : E. histolytica,
B. coli dan T. trichiura. Apabila terdapat darah biasanya bercampur dalam
tinja kecuali pada infeksi dengan E. hystolitica darah sering terdapat pada
permukaan tinja dan pada infeksi EHEC terdapat garis – garis darah pada
tinja. Tinja yang berbau busuk didapatkan pada infeksi dengan salmonella,
giardia, cryptosporidium dan strongyloides.

B. Pemeriksaan mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik untuk mencari adanya lekosit dapat
memberikan informasi tentang penyebab diare, letak anatomis serta adanya
proses peradangan mukosa. Lekosit dalam tinja di produksi sebagai respon
terhadap bakteri yang meneyrang mukosa kolon. Lekosit yang positif pada
pemeriksaan tinja menunjukkan adanya kuman invasive atau kuman yang
memproduksi sitotoksin seperti shigella, salmonella, C jejuni, EIEC.
Lekosit yang ditemukan pada umumnya adalah lekosit PMN, kecuali pada
S typhii lekosit mononuclear.

3.7.4. PENATALAKSANAAN

Menurut Kemenkes RI (2011), prinsip tatalaksana diare pada balita


adalah LINTAS DIARE (Lima Langkah Tuntaskan Diare), yang didukung
oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia dengan rekomendasi WHO. Rehidrasi
bukan satu-satunya cara untuk mengatasi diare tetapi memperbaiki kondisi
usus serta mempercepat penyembuhan/menghentikan diare dan mencegah
anak kekurangan gizi akibat diare juga menjadi cara untuk mengobati diare.
Adapun program LINTAS DIARE yaitu: (UKK gastroenterology –
hepatology IDAI 2010)

18
1. Rehidrasi menggunakan Oralit Baru

2. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut

3. Teruskan pemberian ASI dan Makanan

4. Antibiotik Selektif

5. Nasihat kepada orang tua/pengasuh

A. Rehidrasi menggunakan Oralit Baru

Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah


tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia
berikan cairan rumah tangga seperti air tajin, kuah sayur, air matang. Oralit saat
ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang
rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit merupakan cairan
yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Bila
penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk
mendapat pertolongan cairan melalui infus. Pemberian oralit didasarkan pada
derajat dehidrasi.

Berikan larutan oralit pada anak setiap kali mencret dengan ketentuan sebagai
berikut :

 Untuk anak berumur < 2 tahun berikan 50 – 100 ml tiap kali BAB

 Untuk anak 2 tahun atau lebih berikan 100 – 200 ml tiap BAB

a) Diare tanpa dehidrasi (rencana A)

Diberi cairan rumah tangga :

 Air tajin

 Larutan garam gula

 Jumlah cairan yang diberikan 10 ml/kgBB atau

a. Anak usia < th 50 – 100 ml

b. Anak usia 1 – 5 th 100 – 200 ml

19
c. Anak usia 5 – 12 th 200 – 300 ml

b) Diare dehidrasi ringan/ sedang (rencana B)

 oralit 75 ml/kgBB selama 3 jam pertama

 pemberian oralit ditentukan berdasarkan umur bila BB tdk diketahui :

 < 1 tahun : 300 ml/ setiap kali mencret

 1-5 tahun : 600 ml/ setiap mencret

 > 5 tahun : 1200 ml/ setiap mencret

c) Diare dehidrasi berat (rencana C)

 Ringer laktat (RL) dengan dosis 100 mg/kgBB

 Umur ≤ 1 tahun :

o 1 jam pertama 30 ml/kgBB

o 5 jam berikutnya 70 ml/kgBB

 Umur ≥ 1 tahun :

o ½ jam pertama 30 ml/kgBB

o 2 ½ berikutnya 70 ml/kgBB

B. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut

Pada saat diare, anak akan kehilangan zinc dalam tubuhnya. Pemberian
Zinc mampu menggantikan kandungan Zinc alami tubuh yang hilang tersebut
dan mempercepat penyembuhan diare. Zinc juga meningkatkan sistim
kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko terulangnya diare selama 2-3
bulan setelah anak sembuh dari diare.

Kemampuan zinc untuk mencegah diare terkait dengan kemampuannya


meningkatkan sistim kekebalan tubuh. Zinc merupakan mineral penting bagi
tubuh. Lebih 300 enzim dalam tubuh yang bergantung pada zinc. Zinc juga
dibutuhkan oleh berbagai organ tubuh, seperti kulit dan mukosa saluran cerna.
Semua yang berperan dalam fungsi imun, membutuhkan zinc. Jika zinc

20
diberikan pada anak yang sistim kekebalannya belum berkembang baik, dapat
meningkatkan sistim kekebalan dan melindungi anak dari penyakit infeksi.
Itulah sebabnya mengapa anak yang diberi zinc (diberikan sesuai dosis) selama
10 hari berturut - turut berisiko lebih kecil untuk terkena penyakit infeksi, diare
dan pneumonia. (DepKes 2011)

Dasar pemikiran penggunaan zinc dalam pengobatan diare akut


didasarkan pada efeknya terhadap fungsi imun atau terhadap struktur dan
fungsi saluran cerna dan terhadap proses perbaikan epitel saluran cerna selam
diare. Pemberian zinc pada diare dapat meningkatkan absorpsi air dan
elektrolit oleh usus halus, meningkatkan kecepatan regenerasi epitel usus,
meningkatkan jumlah brush border apical daan meningkatkan respon imun
yang mempercepat pembersihan pathogen dari usus. (UKK gastroenterology –
hepatologi IDAI 2010)

Dosis zinc untuk anak – anak :

 Anak dibawah umur 6 bulan : 10 mg (1/2 tablet) per hari

 Anak di atas umur 6 bulan : 20 mg (1 tablet) per hari

C. Teruskan pemberian ASI dan makanan

Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi


pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan. Anak yang masih minum ASI harus lebih sering di
beri ASI. Anak yang minum susu formula juga diberikan lebih sering dari
biasanya. Anak usia 6 bulan atau lebih termasuk bayi yang telah mendapatkan
makanan padat harus diberikan makanan yang mudah dicerna dan diberikan
sedikit lebih sedikit dan lebih sering. Setelah diare berhenti, pemberian
makanan ekstra diteruskan selama 2 minggu untuk membantu pemulihan
berat badan (DepKes RI, 2011).

21
D. Pemberian antibiotic selektif

Antibiotic diberikan bila ada indikasi misalnya diare berdarah atau


kolera. Pemberian antibiotic yang tidak rasional justru akan memperpanjang
lamanya diare karena akan mengganggu keseimbangan flora usus dan
clostridium difficile yang akan tumbuh dan menyebabkan diare sulit
dsembuhkan. Selain itu pemberian antibiotic yang tidak rasional akan
mempercepat resistensi kuman terhadap antibiotic

Tabel antibiotic pada diare

22
E. Nasihat kepada orang tua atau pengasuh
Orang tua atau pengasuh yang berhubungan erat dengan balita harus diberi
nasehat tentang:
a. Cara memberikan cairan dan obat di rumah
b. Kapan harus membawa kembali balita ke petugas kesehatan bila :
 Diare lebih sering

 Muntah berulang

 Sangat haus

 Makan/minum sedikit

 Timbul demam

 Tinja berdarah

 Tidak membaik dalam 3 hari.

PROBIOTIK

Probiotik merupakan bakteri hidup yang mempunyai efek yang


menguntungkan pada host dengan cara meningkatkan kolonisasi bakteri probiotik
didalam lumen saluran cerna sehingga seluruh epitel mukosa usus telah diduduki oleh
bakteri probiotik melalui reseptor dalam sel epitel usus. Dengan mencermati
penomena tersebut bakteri probiotik dapat dipakai dengan cara untuk pencegahan dan
pengobatan diare baik yang disebabkan oleh Rotavirus maupun mikroorganisme lain,
pseudomembran colitis maupun diare yang disebabkan oleh karena pemakaian
antibiotika yang tidak rasional (antibiotik asociatek diarrhea ) dan travellers,s
diarrhea.
Terdapat banyak laporan tentang penggunaan probiotik dalam tatalaksana
diare akut pada anak. Hasil meta analisa Van Niel dkk menyatakan lactobacillus aman
dan efektif dalam pengobatan diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya
diare kira-kira 2/3 lamanya diare, dan menurunkan frekuensi diare pada hari ke dua
pemberian sebanyak 1 – 2 kali. Kemungkinan mekanisme efek probiotik dalam

23
pengobatan diare adalah : Perubahan lingkungan mikro lumen usus, produksi bahan
anti mikroba terhadap beberapa patogen, kompetisi nutrien, mencegah adhesi patogen
pada anterosit, modifikasi toksin atau reseptor toksin, efektrofik pada mukosa usus
dan imunno modulasi.

3.7.5. PENCEGAHAN
Upaya pencegahan diare dapat dilakukan dengan cara :
1. Mencegah penyebaran kuman pathogen penyebab diare
Upaya pencegahan diare yang terbukti efektif meliputi :
a. Pemeberian ASI yang benar
b. Memperbaiki penyiapan dan penyimpanan makanan pendaping ASI
c. Penggunaan air bersih
d. Membudayakan kebiasaan mencuci tangan dengan sabun sehabis
buang air besar
e. Penggunaan jamban yang bersih dan higienis oleh seluruh anggota
keluarga
f. Membuang tinja bayi yang benar
2. Memperbaiki dya tahan tubuh pejamu (host)
a. Memberi ASI paling tidak smpai usia 2 tahun
b. Meningkatkan nilai gizi makanan pendamping ASI dan member
makan dalam jumlah yang cukup untuk memperbaiki gizi anak
c. Imunisasi campak.

24
BAB III
PEMBAHASAN

Pada hasil heteroanmnesis pada ibu pasien didapatkan keluhan sesuai dengan
teori diare dimana definisi diare adalah suatu penyakit yang ditandai dengan
perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan
bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasanya, yaitu 3 kali atau
lebih dalam sehari disertai dengan atau tanpa muntah dan dengan atau tanpa darah
atau lendir. Pada By. R usia 2 bulan, BAB cair sejak 4 hari SMRS dengan frekuensi
lebih dari 10x sehari, dengan jumlah kurang lebih setengah gelas belimbing setiap
mencret, konsistensi cair dan terdapat ampas berwarna kekuningan, lendir (-), darah
(-) dan disertai dengan Muntah (+) dengan frekuensi lebih dari 3x sehari SMRS,
berupa cairan putih seperti susu sebanyak kurang lebih setengah gelas belimbing tiap
muntah. Demam timbul mendadak, dan naik turun. Dengan keluhan penyerta Demam
tidak disertai dengan menggigil. Hal ini menunjukkan bayi R mengalami diare akut
dimana diare akut adalah diare yang berlangsung kurang dari 14 hari.
Pada pemeriksaan fisik sesuai teori pembagian derajad dehidrasi menurut WHO
dimana dikatakan dehirasi ringan sedang apabila diatandai dengan keadaan umum
sedang, mata cowong, rasa haus dan turgor kulit melambat. Dikatakan dehirasi ringan
sedang apabila memenuhi 2 tanda dehidrasi semetara pada bayi R memenuhi semua
kriteria tanda dehidrasi ringan sedang dengan hasil saat pemeriksaan dilakukan yaitu
bayi R keadaan umum sedang dan rewel, mata cowong, air mata berkurang, mukosa
mulut kering, turgor kulit lambat. Dari hasil anamnesa dan pemeriksaan fisik dengan
memperhatikan teori yang ada maka pada bayi R dapat didiagnosa dengan diare akut
dengan dehidrasi ringan sedang .
Munculnya gejala mencret dan muntah pada bayi R diakibatkan oleh adanya
invasi mikroorganisme kedalam mukosa usus halus bisa melewati makanan dan
minuman melewati barier asam lambung, mikroorganisme akan berkembang biak
sehingga menyebabkan kerusakan dari villi usus akibatnya sel – sel tidak berfungsi

25
baik menyerap air dan makanan dimana villi usus akan semakin memendek dan
kemampuan absorbsi akan semakin terganggu akibatnya terjadi peningkatan sekresi
cairan melebihi kemampuan absorbsi maksimum dari kolon sehingga terjadi mencret
disertai muntah. Demam pada bayi R terjadi karena adanya invasi mikroorganisme
dan berkembangnya mikroorganisme yang akan muncul reaksi inflamasi
Pengobatan pada bayi R diberikan RL 500 cc/24 jam sesuai dengan kebutuhan
cairan dimana berat badan bayi R 5 kg. Pemberian zinc 1 x ½ tab sesuai umur bayi R
yaitu 3 bulan dan diberikan secara berturut – turut selama 10 hari tujuannya untuk
meningkatkan sistim kekebalan tubuh sehingga dapat mencegah risiko terulangnya
diare selama 2-3 bulan setelah anak sembuh dari diare. meningkatkan kecepatan
regenerasi epitel usus, meningkatkan jumlah brush border apical dan mempercepat
pembersihan pathogen dari usus.
Pemberian L – bio pada bayi R sebagai probiotik efektif dalam pengobatan
diare akut infeksi pada anak, menurunkan lamanya diare kira-kira 2/3 lamanya diare,
dan menurunkan frekuensi diare.
Pemberian ASI atau makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi
pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah
berkurangnya berat badan.

26
BAB IV
KESIMPULAN

Diare masih merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang


utama, karena masih tingginya angka kesakitan dan kematian. Penyebab
utama diare akut adalah infeksi Rotavirus yang bersifat self limiting sehingga
tidak memerlukan pengobatan dengan antibiotika. Pemakaian antibitika hanya
untuk kasus-kasus yang diindikasikan.Masalah utama diare akut pada anak
berkaitan dengan risiko terjadinya dehidrasi. Adapun penatalaksanaan pada
diare melalui program LINTAS DIARE yaitu: Rehidrasi menggunakan Oralit
Baru , Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut , Teruskan pemberian ASI
dan Makanan , Antibiotik Selektif , dan Nasihat kepada orang tua/pengasuh

Pada kasus diatas dari anmnesa dan pemeriksaan fisik yang telah
dilakukan didapatkan diagnose kerja dengan diare akut dengan dehidrasi
ringan sedang.

27
DAFTAR PUSTAKA

Juffrie muhammad, UKK gastroennterologi – hepatologi, jilid I, cetakan pertama,


Ikatan Dokter Anak Indonesia 2010.

Antonius H, dkk. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Edisi I. Ikatan Dokter
Anak Indonesia. 2009

Depatemen Kesehatan (2010). Diare Pada Anak . Minggu, 3 agustus 2014


www.depkes.go.id

Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan. Lintas diare.


Depkes RI, 2011.

Staf Pengajar Ilmu Kesehatan Anak, 1985, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak.
Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta

28