Anda di halaman 1dari 7

NAMA : MUHAMAD SOLEH

NPM : 0227 1611 031

METODE PENYELIDIKAN DAN LAPORAN KECURANGAN

1. Wawancara Dan Interogasi


Wawancara merupakan sesuatu yang sering dilakukan oleh Auditor dalam
menjalankan tugas audit, dan merupakan salah satu tehnik dalam pengumpulan
keterangan, memahami obyek pemeriksaan, menguji keterangan yang telah
didapatkan sebelumnya, melengkapi keterangan yang lain, dan tujuan-tujuan
lainnya dari wawancara tersebut.
Terkait dengan interogasi, auditor internal pemerintah tidak memiliki
kewenangan untuk melakukan interogasi. Namun demikian metode, tujuan dan
tehnik-tehnik interogasi biasanya secara tidak langsung juga sering dilakukan
namun dalam kondisi yang tidak formal layaknya interogasi yang dilakukan
oleh penyidik. Meskipun tidak ada aturan yang melarang atau membolehkan
untuk melakukan interogasi, auditor menganggap hal ini dapat dilakukan
sepanjang untuk mencapai tujuan memperoleh informasi dan mencapai tujuan
audit yang dilakukan.

Teknik Dasar Wawancara


Beberapa tehnik dasar yang harus dikuasai ketika akan melakukan
wawancara, antara lain:
 Kematangan pribadi, berupa : sikap mental, kemampuan pengetahuan
yang dimiliki, penampilan fisik, dan sebagainya.
 Gaya dan karakter, berupa : intonasi suara, tatapan mata, ekspresi wajah,
kemampuan memahami situasi dan kondisi, dan sebagainya
 Koordinasi dan kerjasama, berupa : tehnik improvisasi, fleksibilitas atau
tidak kaku, pengalaman berinteraksi, dan sebagainya.

Elemen-elemen Percakapan
1. Ekspresi: Ekspresi yang natural (Spontan) dapat menjadi aset penting
dalam melakukan wawancara
2. Persuasi: Usaha untuk meyakinkan orang lain
3. Terapi: Dalam melakukan wawancara membuat interviewee merasa diri
mereka baik
4. Budaya: beberapa aspek percakapan merupakan budaya
5. Pertukaran Informasi: merupakan tujuan utama dalam melakukan
wawancara.

Penghambat Komunikasi

1. Pertimbangan penggunaan waktu


2. Ego yang terancam:beberapa responden memendam informasi karena
terdapat ancaman.
3. Etiket: pernyataan yang dirasa tidak sesuai.
4. Trauma: perasaan tidak menyenangkan terkait pengalaman terhadap
krisis.
5. Lupa: ketidakmampuan responden untuk mengingat kembali informasi
tertentu.
6. Kekacauan Kronologis: terjadi terkait mengulas riwayat kasus.

Hal Yang Dilakukan Dalam Wawancara

Hal-hal yang dilakukan dalam wawancara dapat dikelompokkan dalam 4


(empat) bagian yang utama, yaitu persiapan, pelaksanaan, dokumentasi, dan
analisis/ simpulan serta interpretasi hasil wawancara.

 Persiapan

Sebelum melakukan wawancara, apakah akan dilakukan di awal


penugasan atau pada saat sedang berlangsungnya audit maupun pada akhir
audit hendaknya dilakukan persiapan-persiapan baik dilakukan secara
matang ataupun hanya secara insidensial saja. Beberapa hal yang harus
disiapkan adalah :

1. Pemahaman akan tujuan dilakukannya wawancara

2. Penguasaan terhadap materi yang akan ditanyakan

3. Alat dan bahan penunjang pelaksanaan wawancara


 Pelaksanaan

Dalam pelaksanaan wawancara sedapat mungkin menguasai tehnik,


prosedur dan situasi atau kondisi, tidak menutup kemungkinan bahwa
wawancara dilakukan tanpa prosedur yang baku ataupun ada hal-hal yang
tidak diperkirakan sebelumnya. Beberapa hal yang harus diperhatikan
dalam melakukan wawancara adalah :

 Fokus pada materi wawancara, meskipun sesekali mengalihkan atau


pun menyegarkan kembali sehingga pihak yang diwawancara tidak
merasa tertekan atau terpaksa untuk memberi informasi atau tidak
memberi informasi.

 Kesiapan untuk membuat pertanyaan yang runut dan tetap berkaitan


dengan materi atau respon terhadap jawaban pihak yang diwawancarai.
Disini pentingnya improvisasi dan kemampuan mendengarkan yang
baik dibutuhkan, meskipun kendali wawancara tetap berada pada
auditor.

 Bersikap tidak emosional dan tetap tenang terhadap apa pun jawaban
yang didapatkan dan senantiasa menunjukkan sikap yang sangat
memahami apa yang dimaksudkan oleh pihak yang diwawancarai
tanpa bermaksud membenarkan atau pun menyalahkan. Yang
terpenting adalah mendapatkan informasi atau jawaban yang
sesungguhnya tanpa dibuat-buat.

 Harus mampu memahami psikologi pihak yang diwawancara secara


sekilas dan cepat untuk menentukan tehnik yang dipakai dan
pertanyaan yang akan diajukan. Disamping itu senantiasa
mengantisipasi kejadian atau pun sikap dan perilaku yang tidak diduga
sebelumnya, dan mampu mengambil keputusan yang cepat terkait
dengan kelanjutan wawancara.

 Dokumentasi
Pendokumentasian hasil wawancara merupakan kunci utama dan
merupakan sesuatu yang sangat berharga untuk mengungkapkan informasi
yang didapatkan. Demikan halnya analisis terhadap kemungkinan-
kemungkinan digunakannya dokumen atau bukti wawancara tersebut
sebagai bahan pembuktian suatu permasalahan yang akan diungkapkan.

Beberapa hal yang senantiasa diperhatikan dalam pendokumentasian :

 Bukti wawancara harus asli dan tidak direkayasa atau dimanipulasi,


bila perlu pencantuman tanda tangan dari pemberi informasi harus
diverifikasi sesuai dengan kartu identitasnya.

 Bila menggunakan media elektronik berupa rekaman suara atau


gambar, sedapat mungkin mencantumkan tanggal wawancara, dan
untuk pengambilan gambar, lokasi sekitar wawancara dimuat dan tidak
hanya wajah dari pemberi informasi.

 Fisik dari dokumentasi hasil wawancara harus disimpan di tempat yang


aman untuk menghidari kehilangan atau berubahnya wujud dari bukti
dokumentasi tersebut.

Analisis/simpulan dan Interpretasi hasil wawancara

Dalam menganalisis atau menarik kesimpulan atau pun menginterpretasi


hasil wawancara harus teliti, obyektif, lengkap dan akurat sehingga dapat
digunakan sebagai bahan informasi atau pembuktian terhadap masalah yang
ditanyakan.

Perbedaan Wawancara dan Interogasi

 Wawancara:

1. Bersifat netral, tidak menuduh.

2. Tujuan: mengumpulkan informasi.

3. Wawancara biasanya dilakukan pada awal investigasi.

4. Bisa dilakukan dalam berbagai lingkungan atau suasana.


5. Bersifat cair, tidak terstruktur

6. Mencatat hasil wawancara dari awal sampai akhir

 Interogasi:

1. Bersifat menuduh.

2. Taktik membuat pernyataan bukan pertanyaan.

3. Tujuan: mengetahui yang sebenarnya, apa sebenarnya yang terjadi, sia


pa yang melakukan, berapa jumlah atau nilai fraud.

4. Dilakukan pada lingkungan terkontrol, bukan disembarang tempat.

5. Hanya dilakukan pada saat investigator mempunyai keyakinan memad


ai mengenai kesalahan seseorang.

7. Operasi Penyamaran
Operasi Penyamaran diambil dari kata aslinya yaitu covert Operations,
yang artinya yaitu tertutup, tersembunyi, terselubung, diam-diam, tidak
diungkapkan secara terbuka, tersamar, rahasia. Operasi Penyamaran
membutuhkan ketrampilan yang tinggi dan perencanaan yang matang, apabila
dilaksanakan tepat waktu dengan tingkat kehati-hatian dan kecermatan yang
tinggi, maka operasi ini akan menuai hasil yang menakjubkan yang tidak dapat
dicapai melalui cara lain. Namun, jika dilaksanakan dengan cara yang keliru
atau buruk maka bisa mendatangkan bencana misal kematian, kecelakaan,
tuntutan hukum dan mempermalukan lembaganya. Operasi penyamaran tidak
boleh dilaksanakan untuk memancing, menggoda, atau mengajak orang berbuat
kejahatan.

Ada dua bentuk Covert Operations:

1. Undercover Operations
Merupakan kegiatan yang berupaya mengembangkan bukti secara
langsung dari pelaku kejahatan dengan menggunakan samaran(disguise)
dan tipuan(deceit). Pemeriksa tidak menggunakan informasi yang
dikumpulkan melalui jalur yang biasa ditempuh, keputusan dilakukan
secara sadar dan matang untuk melakukan Undercover Operation.
2. Surveillance operations
Merupakan pengamatan untuk memastikan tindak pelaku kejahatan.
Operasi ini dilakukan dengan penuh ketrampilan dan kesabaran.
Surveillance atau pengintaian adlaha pengamatan terencana terhadap
manusia, tempat atau objek. Tempat atau objek merupakan prioritas yang
kedua, yang utama adalah penagamatan terhadap manusia.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.academia.edu/19573106/Kompilasi_AFAI_19_20_FA_16_DAN_17

https://id.scribd.com/doc/266200453/Makalah-Fraud-Chapter-10