Anda di halaman 1dari 36

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Pemeliharaan
1. Definisi Pemeliharaan
Pemeliharaan merupakan suatu fungsi dalam suatu
perusahaan pabrik yang sama pentingnya dengan fungsi –
fungsi lain seperti produksi. Hal ini karena apabila kita
mempunyai peralatan atau fasilitas, maka biasanya kita
selalu berusaha untuk tetap mempergunakan peralatan
atau fasilitas tersebut. Demikian pula dengan perusahaan
pabrik, dimana pemimpin perusahaan pabrik tersebut
akan selalu berusaha agar fasilitas dan peralatan
produksinya dapat diprergunakan sehingga kegiatan
produksinya dapat berjalan dengan lancar. Pemeliharaan
mesin merupakan hal yang sering dipermasalahkan antara
bagian pemeliharaan dan bagian produksi. Karena bagian
pemeliharaan dianggap yang memboroskan biaya, sedang
bagian produksi merasa yang merusakan tetapi juga yang
membuat uang, (Soemarno, 2008).
Dalam usaha untuk menggunakan terus fasilitas
tersebut agar kontuinitas produksi dapat terjamin, maka
dibutuhkan kegiatan-kegiatan pemeliharaan dan
perawatan yang meliputi kegiatan pengecekan, meminyaki
dan perbaikan atas kerusakan- kerusakan yang ada serta
penyesuaian sparepart atau komponen yang terdapat
fasilitas tersebut.
Dalam masalah pemeliharaan perlu diperhatikan
bahwa sering terlihat dalam suatu perusahaan kurang
diperhatikan bidang pemeliharaan atau maintenance
sehingga terjadilah kegiatan pemeliharaan yang tidak
teratur. Peranan penting dari kegiatan baru diingat setelah

7
8
BAB II KAJIAN PUSTAKA

mesin-mesin yang dimiliki rusak dan tidak berjalan sama


sekali. Hendaknya kegiatan harus dapat menjamin bahwa
selama proses produksi berlangsung tidak akan terjadi
kemacetan-kemacetan yang disebabkan oleh mesin atau
fasilitas produksi. Oleh karena itu, sangat dibutuhkan
kegiatan pemeliharaan yang meliputi kegiatan
pemeliharaan dan perawatan mesin yang digunakan
dalam proses produksi.
Kata pemeliharaan diambil dari bahasa yunani terein
artinya merawat, menjaga dan memelihara. Pemeliharaan
adalah suatu kombinasi dari berbagai tindakan yang
dilakukan untuk menjaga suatu barang dalam, atau
mempebaikinya sampai suatu kondisi yang bisa diterima.
Assauri menyatakan, maintenance adalah bagian kegiatan
untuk memelihara atau menjaga fasilitas atau peralatan
pabrik dengan mengadakan perbaikan atau peneyesuaian
atau penggantian yang diperlukan supaya tercipta suatu
keaadan oprasional produksi yang memeuasakan sesuai
dengan apa yang telah direncanakan. (2008). Sedangkan
menurut Jay Heizer dan Barry render (2001) dalam
bukunya “operation menegement” pemeliharaan adalah “all
activities involved in keeping a system’s equipment in working
order” yang artinya pemeliharaan adalah segala kegiatan
yang di dalamnya adalah untuk menjaga sistem perlatan
agar bekerja dengan baik.
Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan
bahwa kegiatan pemeliharaan merupakan suatu kegiatan
yang dilaksanakan untuk memelihara dan menjaga
peralatan pabrik agar hasil produksi tetap terjamin akibat
penggunaan mesin secara terus – menerus.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
9
BAB II KAJIAN PUSTAKA

2. Tujuan Pemeliharaan
Suatu kalimat yang perlu diketahui oleh orang
pemeliharaan dan bagian lainnya bagi suatu pabrik adalah
pemeliharaan (maintenance) murah sedangkan perbaikan
(repair) mahal. (Setiawan F.D, 2008).
Menurut Assauri (2004) tujuan pemeliharaan yaitu :
a. Kemampuan produksi dapat memenuhi kebutuhan
sesuai dengan rencana produksi,
b. Menjaga kualiatas pada tingkat yang tepat untuk
memenuhi apa yang dibutuhkan oleh produk itu
sendiri dan kegiatan produksi yang tidak terganggu,
c. Untuk membantu mengurangi pemakaian dan
penyimpanan yang diluar batas dan menjaga modal
yang diinvestasikan tersebut,
d. Untuk mencapai tingkat biaya pemeliharaan serendah
mungkin, dengan melaksanakan kegiatan secara efektif
dan efisien,
e. Menghindari kegiatan pemeliharaan yang dapat
membahayakan keselamatan para pekerja.
Sedangkan menurut Patrick (2001) tujuan utama
dilakukannya pemeliharaan yaitu :
a. Memprtahankan kemampuan alat atau fasilitas
produksi guna memenuhi kebutuhan yang sesuai
dengan target serta rencana produksi,
b. Mengurangi pemakaian dan penyimpangan diluar
batas dan menjaga modal yang diinvestasikan dalam
perusahaan selama jangka waktu yang ditentukan
sesuai dengan kebijakan perusahaan,
c. Menjaga agar kualitas produk berada pada tingkat yang
diharapkan guna memenuhi apa yang dibutuhkan

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
10
BAB II KAJIAN PUSTAKA

produk itu sendiri dan menjaga agar kegiatan produksi


tidak mengalami gangguan,
d. Memperhatikan dan menghindari kegiatan-kegiatan
operasi mesin serta peralatan yang dapat
membahayakan kegiatan kerja,
e. Mencapai tingkat biaya serendah mungkin, dengan
melaksanakan kegiatan maintenance secara efektif dan
efisien untuk keseluruhannya.
f. Mengadakan suatu kerjasama yang erat dengan fungsi-
fungsi utama lainnya dari sutau perusahaan yaitu
tingkat keuntungan atau return of investment yang
sebaik mungkin dan total biaya yang serendah
mungkin.

3. Fungsi Pemeliharaan
Menurut Agus Ahyari, (2002:351) fungsi
pemeliharaan adalah agar dapat memperpanjang umur
ekonomis dari mesin dan peralatan produksi yang ada
serta mengusahakan agar mesin dan peralatan produksi
tersebut selalu dalam keaadaan optimal dan siap pakai
untuk proses produksi.
Adapun menurut Agus Ahyari, (2002:349)
keuntungan-keuntungan yang akan diperoleh dengan
adanya pemeliharaan yang baik terhadap mesin, adalah
sebagai berikut :
a. Mesin dan peralatan produksi yang ada dalam
perusahaan yang bersangkutan akan dapat
dipergunakan dalam jangka waktu panjang,
b. Pelaksanaan proses produksi dalam perusahaan yang
bersangkutan berjalan dengan lancar,

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
11
BAB II KAJIAN PUSTAKA

c. Dapat menghindarkan diri atau dapat menenekan


sekecil mungkin terdapatnya kemungkinan kerusakan-
kerusakan dari mesin dan peralatan produksi selama
proses produksi berjalan,
d. Peralatan produksi yang digunakan dapat berjalan
stabil dan baik, maka proses dan pengendalian kualitas
proses harus dilaksanakan dengan baik pula,
e. Dapat dihindarkan kerusakan-kerusakannya total dari
meisin dan peralatan produksi yang digunakan,
f. Apabaila mesin dan peralatan produksi berjalan dengan
baik, maka penyerapan bahan baku dapat berjalan
normal,
g. Dengan adanya kelancaraan penggunaan mesin dan
peralatan produksi dalam perusahaan, maka
perkembangan mesin dan peralatan produksi yang ada
semakin baik.

4. Jenis-jenis Kegiatan Pemeliharaan


Kegiatan pemeliharaan dibagi menjadi dua jenis
yaitu, pemeliharaan pencegahan (preventive maintenance)
dan pemeliharaan perbaiakan (corrective maintenance.
a. Pemeliharaan Pencegahan (Preventive Maintenanace)
Menurut Ebeling (1997, p189), preventive
maintenance adalah pemeliharaan yang dilakukan secara
terjadwal, umumnya secara periodik dimana sejumlah
kegiatan seperti infeksi dan perbaikan, penggantian,
pembersihan, pelumasan, penyesuaian dan penyamaan
dilakukan.
Menurut Adam (1992,p583) preventive
maintenance adalah kegiatan perawatan dan pencegahan
yang dilakukan untuk mencegah timbulnya kerusakan

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
12
BAB II KAJIAN PUSTAKA

mesin. Mesin akan mengalami nilai depresiasi


(penurunan) apabila dipakai terus menerus. Oleh
karena itu, dibutuhkan inspeksi dan service secara rutin
dan periodik.
Menurut Patrick (2001, p401), preventive
maintenance adalah kegiatan pemeliharaan dan
perawatan yang dilakaukan untuk mencegah timbulnya
kerusakan-kerusakan yang tidak terduga dan
menemukan kondisi atau keadaan yang dapat
menyebabkan fasilitas produk mengalami kerusakan
pada waktu proses produksi. Jadi, semua fasilitas
produksi yang mendapatkan perawatan (preventive
maintenance) akan terjaga kontuinitas kerjanya dan
selalu diusahakan dalam kondisi atau keadaan yang
siap dipergunakan untuk setiap operasi atau proses
produksi pada setiap saat.
Menurut Assuari (1999, p102), preventive
maintenance adalah kegiatan perawatan yang dilakukan
untuk mencegah timbulnya kerusakan dan menemukan
kondisi yang dapat menyebabkan fasilitas atau mesin
produksi mengalami kerusakan pada waktu
melakukan produksi.
Dengan adanya preventive maintenance,
diharapkan semua mesin yang ada akan terjamin
kelancaran proses kerjanya sehingga tidak ada yang
terhambat dalam proses produksinya dan selalu dalam
keadaan optimal.
Preventive maintenance sangat penting karena
kegunaanya sangat efektif dalam menghadapi atau
mendukung fasilitas produksi yang termasuk dalam

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
13
BAB II KAJIAN PUSTAKA

golongan critical unit. Kategori komponen kritis


menurut Tampubolon (2004, p521) yaitu :
 Kerusakan fasilitas atau peralatan akan
membahayakan keselamatan atau kesehatan para
pekerja,
 Kerusakan fasilitas akan memepengaruhi kualitas
dari produk yang dihasilkan,
 Kerusakan fasilitas tersebut akan menyebabkan
kemacrtan atau terhentinya seluruh proses produksi,
 Modal yang ditanamkan (investasi) dalam fasilitas
tersebut cukup mahal harganya.

Menurut Assuari (2008, p135) dalam prakteknya,


proses maintenance yang dilakukan dalam perusahaan
dapat dibedakan menjadi dua macam berdasarkan
aktivitas atau kegiatan yaitu :

 Routine maintenance
Routine maintenance adalah kegiatan
pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara
rutin, misalnya setiap hari. Sebagai contoh dari
kegiatan routine maintenance adalah pembersihan
fasilitas atau peralatan, pelumasan (lubrication) atau
pengecekan oli, serta pengecekan bahan bakar dan
mungkin termasuk pemanasan (warming up) dari
mesin-meisn selama beberapa menit sebelum
dipakai untuk produksi.
 Periodic maintenance
Periodic maintenance adalah kegiatan
pemeliharaan dan perawatan yang dilakukan secara
periodic atau dalam jangka waktu tertentu,
misalnnya setiap satu minggu sekali. Periodic

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
14
BAB II KAJIAN PUSTAKA

maintenance dapat juga dilakukan dengan memakai


lamanya jam kerja atau fasilitas mesin produksi
sebagai jadwal kegiatan, misalnya setiap seratus jam
pemakaian mesin sekali.
Beberapa manfaat yang diperoleh
dengan dilakukannya preventive maintenance menurut
Patton (1995, p12), antara lain :
 Memperkecil overhaul (turun mesin)
 Mengurangi kemungkinan reparasi berskala besar,
 Mengurangi biaya kerusakan atau penggatian
mesin,
 Memperkecil kemungkinan produk-produk yang
rusak,
 Meminimalkan persediaan suku cadang,
 Memperkecil muculnya gaji tambahan yang
diakibtakan adanya kerusakan,
 Menurunkan biaya satuan dari produk pabrik.

Preventive maintenance merupakan tindakan


perawatan pencegahan dalam rangkaian aktivitas
pemeliharaan dengan tujuan :

 Memperpanjang umur produktif asset dengan


mendeteksi bahwa sebuah asset memiliki titik kritis
penggunaan (critical wear point) dan mungkin akan
mengalami kerusakan,
 Melakukan inspeksi secara efektif dan menjaga
supaya kondisi peralatan selalu dalam keadaan baik,
 Mengeliminir kerusakan peralatan dan hasil
produksi yang cacat serta meningkatkan ketahanan
mesin dan kemampuan proses,

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
15
BAB II KAJIAN PUSTAKA

 Mengurangi waktu yang terbuang pada kerusakan


peralatan dengan membuat aktivitaas pemeliharaan
peralatan,
 Menjaga biaya produksi seminimal mungkin.

Menurut Dhillon (2006), dalam bukunya


“maintainability, maintenance, and reliability for engineers”
ada 7 elemen dari pemeliharaan pencegahan (preventive
maintenance) yaitu :

1) Inspeksi : memeriksa secara berkala (periodic) bagian-


bagian tertentu untuk dapat dipakai dengan
membandingkan fisik, mesin, listrik dan
karekteristik lain untuk standar yang pasti,
2) Kalibrasi : mendeteksi dan menyesuaikan setiap
perbedaan dalam akurasi untuk material atau
parameter perbandingan untuk standar yang pasti,
3) Pengujian : pebgujian secara berkala (periodic) untuk
dapat menentukan pemakaian dan mendeteksi
kerusakan mesin dan listrik,
4) Penyesuaian : membuat penyesuaian secara periodik
untuk unsur variabel tertentu untuk mencapai
kinerja yang optimal,
5) Servicing : pelumasan secara periodik, pengisian,
pembersihan dan seterusnya, bahan atau barang
untuk mencegagh terjadinya dari kegagalan yang
baru,
6) Instalasi : mengganti secara berkala batas pemakaian
barang atau siklus waktu pemakaian atau memakai
untuk mempertahankan tingkat toleransi yang
ditentukan,

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
16
BAB II KAJIAN PUSTAKA

7) Alignment : membuat perubahan salah satu barang


yang ditentukan elemen variabel untuk mencapai
kinerja yang optimal.

b. Pemeliharaan Perbaikan (Corrective Maintenance)


Menurut Patrick (2001, p401) dan Assauri (1999,
p104), corrective maintenance merupakan kegiatan
perawatan yang dilakukan setelah mesin atau fasilitas
produksi mengalami kerusakan atau gangguan
sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Dalam hal
ini, kegiatan corrective maintenance sering disebut
dengan kegiatan reparasi atau perbaikan. Corrective
maintenance biasanya tidak dapat direncanankan dahulu
karena kegiatan ini menunggu sampai kerusakan mesin
terjadi terlebih dahulu, kemudian baru diperbaiki agar
beroprasi kembali.
Corrective maintenance jauh lebih mahal biayanya,
maka sebisa mungkin harus dicegah dengan
mengintensifkan kegiatan preventive maintenance. Selain
itu diperlukan juga pertimbangan bahwa dalam jangka
waktu yang panjang untuk mesin-mesin yang mahal
dan termasuk dalam critical unit dari roses produksi,
maka preventive maintenance jauh lebih menguntungkan
dibandingkan dengan corrective maintenance.
Menurut Patrick (2001, p401), corrective
maintenance dapat dihitung dengan Mean Time to Repair
(MTTR) dimana time to repair ini meliputi bebrapa
aktivitas yang dapat dibagi menjadi tiga kelompok,
yaitu :
 Preparation time

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
17
BAB II KAJIAN PUSTAKA

Preparation time merupakan waktu yang dibutuhkan


untuk menemukan orang untuk mengerjakan
perbaikan, waktu tempuh ke lokasi kerusakan, dan
membawa peralatan uji perlengkapan.
 Active maintenance time
Active maintenance time merupakan waktu
sebenarnya yang diprerlukan untuk melakukan
pekerjaan tersebut. Meliputi waktu untuk
mempelajari peta perbaikan sebelum aktivitas
perbaikan yang sebenarnya dimulai serta waktu
yang dihabiskan untuk memastian kerusakan yang
ada telah selesai diperbaiki, terkadang juga meliputi
waktu untuk melakukan dokumentasi atas proses
perbaikan yang telah dilakukan ketikal hal tersebut
harus diselesaikan sebelum perlengkapan tersedia.
 Delay time (logistic time)
Delay time merupakan waktu yang dibutuhkan
untuk menunggu datangnya komponen dari mesin
yang baru diperbaiki.
Corective maintenance merupakan studi yang
digunakan dalam menentukan tindakan yang
diperlukan untuk mengatasi kerusakan-kerusakan.
Tindakan perawatan ini bertujuan untuk mencegah
terjadinya kerusakan yang sama. Prosedur ini
ditetapkan pada peralatan atau mesin yang sewaktu
waktu dapat terjadi kerusakan.
Pada umumnya usaha untuk mengatasi
kerusakan dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut
:

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
18
BAB II KAJIAN PUSTAKA

 Mencatat data kerusakan, kemudian meng-improve


peralatan sehingga kerusakan yang sama tidak
terjadi lagi
 Improve peralatan sehingga perawatan menjadi
menjadi lebih mudah,
 Merubah proses
 Merancang kembali komponen yang gagal,
 Mengganti dengan komponen yang baru,
 Meningkatkan prosedur perawatan preventive,
 Meninjau kembali dan merubah sistem
pengoprasian.

Tindakan corrective maintenance ini memerlukan


biaya perawatan yang lebih murah daripada tindakan
preventive maintenance. Hal ini dapat terjadi apabila
kerusakan terjadi pada saat mesin atau fasilitas tidak
melakukan proses produksi. Tetapi bila kerusakan
terjadi selama proses produksi berlangsung maka biaya
perawtan akan mengalami peningkatan yang
disebabkan karena terhentinya proses produksi.
Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa
tindakan corrective maintenance memusatkan
permasalahan setelah permasalahan itu terjadi, bukan
menganalisa masalah untuk mencegah agar tidak
terjadi.

5. Masalah Efisiensi pada Pemeliharaan


Menurut Manahan P. Tampubolon, (2004) dan
sofyan Assauri, (2004), dalam melaksanakan kegiatan
pemeliharaan terdapat dua persoalan yang dihadapi

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
19
BAB II KAJIAN PUSTAKA

oleh suatu perusahaan yaitu persoalan teknis dan


persoalan ekonomis.
a. Persoalan Teknis
Persoalan teknis adalah persoalan yang
menyangkut usaha-usaha untuk menghilangkan
kemungkinan-kemungkinan timbulnya kerusakan
atau kemacetan yang disebabkan karena kondisi
fasilitas atau peralatan produksi yang tidak baik.
Tujuan yang akan dicapai dalam mengatasi
persoalan teknis adalah untuk menjaga atau
menjamin agar proses produksi perusahaan dapat
berjalan lancar.
Menurut Assauri (2008:137), dalam persoalan
teknis yang perlu diperhatikan adalah :
1) Tindakan-tindakan apa yang harus dilakukan
untuk memelihara/merawat peralatan yang ada,
dan untuk memperbaiki/ mereparasi mesin-
mesin atau peralatan yang rusak.
2) Alat-alat atau komponen-komponen apa yang
dibutuhkan harus disediakan agar tindakan-
tindakan pada bagian pertama diatas dapat
dilakukan.
Jadi dalam persoalan teknis ini semua
mesin atau peralatan yang rusak harus diperbaiki.
Untuk perbaikan tersebut semua tindakan atau
usaha harus dilakuakan secara teknis dan tidak
dapat dihindari.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
20
BAB II KAJIAN PUSTAKA

b. Persoalan Ekonomi
Sudah tentu dalam melaksanakan kegiatan
maintenance disamping persoalan teknis, ditemui pula
persoalan yang menyangkut bagaimana usaha yang
harus dilakukan supaya kegiatan maintenance yang
dubutuhkan secara teknis dapat efisien, oleh karena itu
disamping persoalan teknis diperlukan juga persoalan
ekonomis. Dalam persoalan ekonomis yang ditekankan
adalah efisien, dengan memperhatikan besarnya biaya
yang terjadi, dan tentunya alternatif tindakan yang
dipilih untuk dilaksanakan adalah yang
menguntungkan perusahaan.
Menurut Assauri (2008:138), agar kegiatan
maintenance dapat terlaksana maka diperlukan
kebijakan-kebijakan kegiatan pelaksanaan maintenance
dan didasarkan menurut perbandingan-perbandingan
biaya yang diperlukan untuk menentukan :
1) Apakah sebaiknya dilakukan preventive maintenance
ataukah corrective maintennace saja. Dalam hal ini
biaya-biaya yang perlu diperbandingkan adalah :
 Jumlah biaya-biaya perbaiakan yang diperlukan
akibat kerusakan yang terjadi karena tidak
adanya preventive maintenance, dengan jumlah
biaya-biaya pemeliharaan dan perbaikan yang
diperlukan akibat kerusakan yang terjadi
walaupun telah diadakan preventive maintenance
dalam suatu jangka waktu tertentu.
 Jumlah biaya-biaya pemeliharaan dan perbaikan
yang akan dilakukan terhadap suatu peralatan
dengan harga peralatan tersebut.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
21
BAB II KAJIAN PUSTAKA

 Jumlah biaya-biaya pemeliharaan dan perbaikan


yang dibutuhkan oleh suatu peralatan dengan
jumlah kerugian yang akan dihadapi apabila
peralatan tersebut rusak dalam operasi produksi.
2) Apakah sebaiknya peralatan yang rusak diperbaiki
dalam perusahaan atau diluar perusahaan. Dalam
hal ini biaya-biaya yang perlu dibandingkan adalah
jumlah biaya yang dikeluarkan untuk memperbaiki
peralatan tersebut di bengel perusahaan sendiri
dengan jumlah biaya perbaikan tersebut dibengkel
perusahaan lain, disamping perbandingan kualitas
dan lamanya waktu yang dibutuhkan untuk
pengerjaannya.
3) Apakah sebaiknya peralatan yang rusak diperbaiki
atau diganti. Dalam hal ini biaya-biaya yang perlu
dibnadingkan adalah :
 Jumlah biaya perbaikan dengan harga pasar atau
nilai dari peralatan tersebut.
 Jumlah biaya perbaikan dengan harga peralatan
yang sama di pasar.

Dari beberapa hal diatas, maka kita dapat


menentukan mana yang terbaik secara ekonomis,
apakah preventive maintenance atau breakdown
maintenance yang paling baik dilakukan dilihat dari
faktor-faktor dan jumlah biaya yang akan terjadi.
Kemudian perlu dilihat apakah peralatan produksi
itu termasuk golongan critical unit. Jika peralatan
tersebut termasuk golongan critical unit maka
sebaiknya diadakan preventive maintenance untuk
mesin tersebut, karena apabila telah terjadi

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
22
BAB II KAJIAN PUSTAKA

kerusakan yang tidak dapat diperkirakan maka akan


mengganggu seluruh rencana produksi.
Menurut Assauri (2008:135), ciri-ciri
mesin yang “critical unit” adalah sebagai berikut :
 Kerusakan fasilitas atau peralatan tersebut akan
membahayakan kesehatan dan keselamatan para
pekerja,
 Kerusakan fasilitas ini akan mempengaruhi
kualitas produk yang dihasilkan ,
 Kerusakan fasilitas tersebut akan meneyebabkan
kemacetan seluruh proses produksi,
 Modal yang ditanamkan pada fasilitas teersebut
atau harga dari fasilitas ini adalah cukup besar
atau mahal.

6. Konsep-konsep Pemeliharaan (Maintenance)


a. Konsep Reliability (Keandalan)
Menurut Ebeling (1997, p5), reliability adalah
peluang sebuah komponen atau sistem akan dapat
beroprasi sesuai dengan fungsi yang diinginkan
untuk suatu periode waktu tertentu ketika
digunakan dibawah kondisi operasi yang telah
ditetapkan.
Reliabilitas didasarkan pada teori
probabilitas dalam teori statistik, yang tujuan
utamannya yaitu mampu diandalkan untuk
bekerja sesuai dengan fungsinya dengan suatu
kemungkinan sukses dalam periode tertentu yang
ditentukan.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
23
BAB II KAJIAN PUSTAKA

b. Konsep Availability (Ketersediaan )


Ketersediaan (availability) adalah probabilitas
suatu komponen atau sistem menunjukan
kemampuan yang diharapkan pada suatu waktu
tertentu ketika dioperasikan dalam kondisi
operasional tertentu. Ketersediaan juga dapat
dinyatakan sebagai presentase waktu operasional
sebuah komponen atau sistem dapat beroprasi
dengan baik selama interval waktu tertentu.
Besarnya probabilitas availability dapat
menunjukan besarya kemmapuan komponen
untuk melakukan fungsinya setelah memperoleh
perawatan. Semakin tinggi nilai dari availability
berarti menunjukan semakin baiknya kemampuan
dari suatu komponen, apabila nilai availability
semakin mendekati satu maka semakin tinggi
kemampuan dari mesin tersebut untuk
menjalankan fungsi-fungsinya.
Ketersediaan adalah probabilitas komponen
berada dalam kondisi tidak mengalami kerusakan
meskipun sebelumnya komponen tersebut telah
mengalami kerusakan dan diperbaiki kembali
pada kondisi operasi normal.

c.Konsep Maintainability (Keterawatan)


Menurut Ebeling (1997, p6), maintainability
adalah probabilitas bahwa suatu komponen atau
sistem yang rusak akan diperbaiki dalam jangka
waktu tertentu yang dilakukan sesuai dengan
ketentuan atau prosedur yang telah ditentukan.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
24
BAB II KAJIAN PUSTAKA

7. Keuntungan Pemeliharaan Terencana


Kebanyakan orang akan setuju bahwa
pemakaian teknik pemeliharaan terencana yang tepat
akan mengurangi keadaan darurat dan waktu
mengganggur mesin-mesin, dan sementara kedua
alasan ini merupakan prinsip utam penerapan
pemeliharaan pencegahan terencana, keunntungan-
keuntungan (Corder, 2002) tersebut antar lain:
a. Pengurangan Pemeliharaan Darurat
Ini tak diragukan lagi merupakan alasan
utama untuk merencanakan pekerjaan
pemeliharaan. Sebagaimana telah kita lihat,
perencanaan tersebut telah memberikan sumber
informasi yang tidak tersedia sebelumnya, yang
dapat kita gunakan secara menguntungkan.
b. Pengurangan Waktu Menganggur
Hal ini tidaklah sama dengan pengurangan
waktu reparasi pemeliharaan darurat. Waktu yang
digunakan untuk pembelian suku cadang, baik
dibeli dari luar atau lokal, mengakibatkan waktu
menganggur meskipun pekerjaan darurat tersebut,
misalnya hanya memasang bagian mesin yang
tidak lama, mengganti tali kipas dalam suatu mobil
ketika kerusakan darurat terjadi di gelap malam
dan jauh dari mana-mana.
c. Menaikkan Ketersediaan (Availability) untuk
Produksi
Hal ini hubungannya dengan pengurangan
waktu menganggur pada suatu mesin atau
pelayanan. Tetapi jika mesin tersebut merupakan
salah satu mesin produksi lini-aliran (flowline), maka

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
25
BAB II KAJIAN PUSTAKA

jika sebuah mesin rusak dapat mengakibatkan


terhentinya seluruh proses atau lini produksi.
Rusaknya salah satu mesin untuk pelayanan pabrik
bisa menyebabkan berhentinya produksi diseluruh
pabrik.
d. Meningkatkan Penggunaan Tenaga Kerja untuk
Pemeliharaan dan Produksi
Karyawan berjaga (standby) untuk
pemeliharaan darurat tidak lagi diperlukan dan
dapat digunakan secara lebih efektif untuk
melaksanakan tugas-tugas pemeliharaan produktif
terencana. operator mesin tidak lagi menganggur
sebagaimana terjadi ketika mesin mereka tiba-tiba
rusak. Pemeliharaan produktif terencana dilakukan
meskipun para operator produksi itu tidak dibayar
untuk memprbaiki mesin mereka. Pengalihan
seorang operator ke mesin cadangan seketika pada
waktu diberitahu jarang sekali dimungkinkan, dan
jika terjadi hal seperti ini, penerapan pemeliharaan
pencegahan terencana harus dipertimbangkan lagi.
e. Memperpanjang Waktu Antara Overhaul
Peningkatan standar pemeliharaan dengan
memperhatikan secara teratur pemberian
pelumasan, penyetelan dan pengganti komponen
yang rusak sebelum menyebabkan rusaknya bagian
lain yang mahal memperpanjang umur mesin.
Kebutuhan overhaul besar menjadi sangat
berkurang dan banyak program overhaul yang biasa
terdengar dilakukan diakhiri tahun tidak lagi
diperlukan. Penghematan biaya yang ditunjukan
dari catatan dalam hal ini cukup besar.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
26
BAB II KAJIAN PUSTAKA

f. Meningkatkan Efisiensi Mesin


Adalah suatu aspek pemeliharaan terencana yang
sering tidak diberikan penelian. Banyak perusahaan
yang beruas diri dengan kenyataan bahwa semua
mesin bekerja dengan baik, dan pemeliharaan tidak
dipanggil sampai terjadi kerusakan yang
menyebabkan mesin diketahui tidak bekerja dengan
semestinya, bagian produksi tetap mengoperasikan
dan tidak memandang hal ini sebagai kerusakan,
karena adanya anggapan bahwa lebih baik ada
sejumlah produksi daripada tidak ada sama sekali.
Hal yang sama terjadi ketika digunakan metode
pemeliharaan darurat karena bagian pemeliharan-
pencegahan terencana, effesiensi mesin harus
diperiksa dan dijaga pada standart yang bisa diterima
dan ditentukan sebelumnya, keluaran mesin ditambah
dan presentase bahan sisa terbuang dikurangi.
g. Memberikan pengendalian anggaran dan biaya yang
bisa diandalkan
Hal ini telah dibahas lengkap dan ini saja merupakan
alasan yang kuat untuk menerapkan teknik
pemeliharaan pencegahan terencana.
h. Memberikan informasi untuk pertimbangan
penggantian mesin
Selain sudah kuno, sulit untuk menentukan dari sudut
keuangan penggantian suatu mesin yang masih
bekerja, kecuali adanya sejumlah informasi biaya
operasi yang bisa diandalkan, termasuk juga biaya
pemeliharaan, tersediaan untuk manajemen. Ketika
jelas bahwa suatu mesin telah berada di atas batas

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
27
BAB II KAJIAN PUSTAKA

reparasi ekonomis, tibalah waktunya untuk


mempertimbangkan penggantiannya.

B. Metode Age replacement


Metode Age replacement adalah metode penentuan
interval waktu penggantian pencegahan berdasarkan kriteria
minimasi downtime yang digunakan. Pada metode Age
replacement, tindakan penggantian dilakukan pada saat
pengoprasian sudah mencapai umur yang ditetapkan yaitu
sebesar Tf. Jika pada selang waktu 𝑡𝑝 tidak terdapat
kerusakan, maka akan tetap dilakukan penggantian sebagai
tindakan pencegahan. Jika sistem mengalami kerusakan pada
selang waktu 𝑡𝑝 , maka dilakukan tindakan penggantian
perbaikan dan penggantian berikutnya akan dilakukan
berdasarkan perhitungan 𝑡𝑝 terhitung mulai dari waktu
penggantian perbaiakn tersebut. Dimana Tf = downtime yang
dibutuhkan untuk melakukan penggantian kerusakan dan Tp
= down time yang dibutuhkan untuk melakukan penggantian
pencegahan. Metode Age replacement dapat digambarkan
sebagai berikut :

Gambar 2.1 Metode Age replacement

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
28
BAB II KAJIAN PUSTAKA

Adapun rumus-rumus untuk menghitung nilai age


replacemnt adalah sebagai berikut :
R(tp) = 𝑒 − 𝑡
F(tp) = 1 – R(tp)
𝑀𝑇𝑇𝐹
M(tp) =
𝐹(𝑡𝑝)
Tp.R(tp)+ Tf.F(tp)
D(tp) : (ti+Tp).R(tp)+(M(tp)+Tf).F(tp))
Dimana :
tp = interval penggantian pencegahan
Tf = Waktu untuk melakukan perbaikan
kerusakan
Tp = Waktu untuk melakukan penggantian
pencegahan
F(tp) = Fungsi kepadatan peluang dari waktu
kerusakan
R (tp) = Probabilitas terjadinya siklus
pencegahan
M (tp) = Nilai ekspektasi panjang siklus
kerusakan jika penggantian perbaikan dilakukan
D (tp) = Probabilitas total downtime per unit
waktu untuk penggantian pencegahan

C. Langkah-langkah Pendajwalan dengan Model Age


replacement
1. Penentuan Distribusi Data
Pengujian distribusi data waktu antar kerusakan
(time to failure/Tf) dari data waktu perbaikan (time to
repair/ Tr). Data waktu antar kerusakan didapatkan
dengan menghitung selisih waktu antar kerusakan
berikutnya sedangkan data waktu perbaiakan
didapatkan dengan menghitung lamanya waktu
perbaikan saat kerusakan terjadi.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
29
BAB II KAJIAN PUSTAKA

Pengujian ini dilakukan untuk mendapatkan


nilai kemungkinan mesin dapat beroperasi sampai
dan untuk menghitung nilai harapan panjang siklus
kerusakan. Untuk menentukan data waktu antar
kerusakan dan waktu antar perbaikan berdistribusi
dapat menggunakan rumus :
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑊𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑎𝑛𝑡𝑎𝑟 𝑘𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎𝑘𝑎𝑛
a= .........................(1)
𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑗𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑘𝑒𝑟𝑢𝑠𝑎𝑘𝑎𝑛
(Agus, 2014)
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑤𝑎𝑘𝑡𝑢 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛
β= ........................................(2)
𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘𝑛𝑦𝑎 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑎𝑛
(Agus, 2014)

2. Menghitung Fungsi Padat Probabilitas


Tujuan dari menghitung fungsi padat
probabilitas adalah untuk mengetahui probabilitas
terjadinya kerusakan pada mesin flying shear
khususnya komponen blade pada waktu tertentu
rumus yang digunakan adalah :
𝛽𝑡 𝛽−1 𝑡
F(t)= exp[-( ) 𝛽
] ........................................(3)
𝑎2 𝑎
(Agus,2014)

Dimana : f(t) = fungsi padat probabilitas


t = interval waktu
= shape parameter
β = scale parameter

3. Menentukan Tingkat Keandalan Komponen


Tujuan dari menghitung tingkat
keandalan komponen adalah untuk mengetahui pada
selang waktu sebuah mesin dapat melakukan
fungsinya untuk menjalankan tugas yang sesuai

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
30
BAB II KAJIAN PUSTAKA

dengan standar-standar yang berlaku. Adapun rumus


dari perhitungan tingkat keandalan komponen
berdasarkan rumus weibull adalah sebagai berikut :

R(t)=e-(t/β)α ......................................................(4)

(Agus,2014)

Dimana : R(t) = tingkat keandalan komponen pada


waktu t
= shape parameter
β = scale parameter

4. Menentukan Laju Kerusakan


Tujuan dari penentuan laju kerusakan komponen
adalah untuk mengetahui banyaknya kerusakan yang
terjadi tiap satuan waktu. Laju kegagalan dapat
dinyatakan sebagai perbandingan antara banyaknya
kegagalan yang terjadi selama selang waktu tertentu
dengan total waktu operasi komponen, subsistem atau
sistem. Adapun rumus dari perhitungan laju
kerusakan adalah sebagai berikut :
𝛽 𝑡 𝛽
(t) = ( ) .....................................................(5)
𝑎 𝑎
(Agus, 2014)

Dimana :  = besarnya kerusakan yang terjadi


pada waktu t
𝑎 = scale parameter
Β = shape parameter

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
31
BAB II KAJIAN PUSTAKA

5. Menentukan MTTF dan MTTR


Keandalan dari suatu sistem seringkali diberikan
dalam bentuk angka yang menyatakan ekspetasi
maka terpakailah sistem tersebut yang dinotasikan
E(t) dan sering disebut rata-rata waktu kerusakan atau
Mean Time To Failure (MTTF) sedangkan Mean Time
To Repair adalah waktu rata-rata pengantian
komponen.
Terkait dengan definisi MTTF, maka dengan
mengintegralkan keandalan antara nol sampai tak
terhingga maka didaptkan rumus sebagai berkut :
 Perhitungan MTTF

1
MTTF = (1+ ) .........................(6)
𝑎

(Agus, 2014)

 Perhitungan MTTR

1
MTTR = β ( 1 + ) ........................(7)
β

(Agus, 2014)

D. Analisis Biaya
Pada penentuan biaya pemeliharaan salah
satunya yaitu biaya pemeliharaan pencegahan dan
pemeliharaan korektif yang dilakukan pada saat mesin
berhenti dan hanya menitik beratkan pada biaya
perbaikan yang terjadi. Dengan membuat perencanaan
atau jadwal pemeliharaan preventive bagi suatu sistem,
jumlah pemeliharaan corrective dan perbaikan emergensi
dapat ditekan sehingga mengurangi biaya perbaikan. Hal

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
32
BAB II KAJIAN PUSTAKA

ini lah yang menjadi tujuan utama dari sistem


pemeliharaan.
Untuk menentukan model yang akan digunakan
dalam menentukan besarnya biaya pemeliharaan dan
besarnya biaya akibat adanya perbaikan maka perlu
dijelaskan mengenai biaya-biaya yang timbul akibat ada
dan tidaknya perencanaan pemeliharaan.

E. Biaya Kerusakan
Kerusakan merupakan suatu kondisi sitem
dimana sistem tidak dapat berfungsi untuk
menghasilkan output. Hal ini akan menyebabkan adanya
biaya tambahan untuk pemeliharaan korektif, tetapi
apabila diadakan pemeliharaan rutin yang terjadwal,
kerusakan akan dapat dicegah atau dikurangi.

F. Biaya Rata-rata Ekspetasi


Berdasarkan pada biaya-biaya pemeliharaan
pencegahan dan pemeliharaan korektif maka akan
didapatkan biaya-biaya pemeliharaan untuk item.
1. Mean Time To Failure (MTTF)
Menurut Periyanto (2006) langkah selanjutnya
setelah menegetahui parameter dan jenis distribusinya
adalah menghitung MTTF (mean time to failure), yaitu
waktu ekspetasi terjadi saat kegagalan. Dimana nilai
rata-rata waktu kegagalan yang akan datang dari
sebuah sistem (komponen). Untuk sistem yang dapat
direparasi, maka MTTF adalah masa kerja suatu
komponen saat pertama kali digunakan atau
dihidupkan sampai unit tersebut akan rusak kembali
atau perlu diperiksa kembali.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
33
BAB II KAJIAN PUSTAKA

2. Mean Time To Repair


Mean Time To Repair (MTTR) adalah waktu rata-
rata yang diperlukan untuk melakukan pengecekan
serta perbaikan terhadap terjadinya kegagalan suatu
sistem sampai sistem tersebut diigunakan kembali.
3. Biaya Pergantian Komponen
Biaya penggantian komponen merupakan biaya
yang akan dikeluarkan perusahaaan untuk pembelian
komponen dari mesin yang rusak.
4. Biaya Kerugian Produksi
Biaya kerugian produksi merupakan biaya yang
timbul akibat adanya waktu produksi yang terbuang
karena perawatan atau perbaikan pada saat produksi
berjalan. Perhitungan ini berdasarkan jumlah unit
yang tidak terproduksi selama perawatan
berlangsung.
5. Perhitungan Failure Cost
Perhitungan failure cost merupakan biaya yang di
keluarkan pada saat mesin mengalami kerusakan.
Biaya ini meliputi jumlah dari tenaga kerja, biaya
pergantian komponen serta biaya kerugian produksi
saat pemeliharaan korektif.
Dengan menggunakan rumus sebagai beriku :
Cf = (biaya tenaga kerja x) + (biaya kerugian
produksi) + biaya komponen
6. Perhitungan Preventive Cost (Cp)
Biaya preventive cost merupakan biaya yang
dikeluarkan ketika mesin diperbaiki secara preventive.
Biaya ini merupakan jumlah dari biaya tenaga kerja,
biaya penggantian komponen dan biaya kehilangan/
kerugian produksi pada waktu preventive maintenance.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
34
BAB II KAJIAN PUSTAKA

Dengan menggunakan rumus sebagai berikut :


Cf = biaya tenaga kerja + biaya kerugian produksi +
biaya komponen

G. Perencanaan Pemeliharaan Age replacement


Untuk mengurangi suatu biaya tambahan pada
pemeliharaan maka perlu suatu pemeliharaan yang
tepat, oleh karena itu adanya sebuah usulan perencanaan
perawatan pemeliharaan pada mesin Flying shear,
khususnya pada komponen blade yang pastinya akan
didapatkan penjadwalan terencana pergantian blade yang
akan dilakukan. Biaya down time akan diperoleh
seminimal mungkin serta optimal karena adanya suatu
perhitungan penjadwalan.
Penggantian pencegahan akan dilakukan
tergantung pada saat umur pakai dari sebuah komponen,
dengan tujuan pasti yaitu dapat menentukan umur
optimal dimana penggantian pencegahan harus
dilakukan untuk meminimalisasi total down time.
Penggantian pencegahan dilaksanakan dengan
menentapkan sebuah interval kembali dengan waktu
penggantian pencegahan sesuia interval berikutnya yang
telah ditentukan. Terjadinya sebuah kerusakan yang
tidak memungkinkan dilakukan tindakan penggantian
sebuah komponen karena dari tinjauan yang dilakukan
dalam penulisan ini hanya untuk satu komponen, oleh
karena itu perhitungan untuk penggantian pencegahan
menggunakan model age replacement. Adapun sebuah
formulasi perhitungan age replacement adalah sebagai
berikut ( jarddine, 1973) :

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
35
BAB II KAJIAN PUSTAKA

𝐶𝑝 ×𝑅(𝑡)+ 𝐶𝑓 [1−𝑅(𝑡)]
C(t) = 1 ......................(10)
𝑡 × 𝑅(𝑡)+ (∫0 𝑡 × 𝑓(𝑡)𝑑𝑡 )

(Agus, 2014)

Dimana : C(t) = biaya total perawatan


Cp = biaya pemeliharaan pencegahan
R(t) = tingkat keandalan komponen
Cf = biaya perbaikan kerusakan
[1 − 𝑅(𝑡)] = fungsi padat probabilitas
t = interval waktu pemeliharaan
dilakukan
1
(∫0 𝑡 × 𝑓(𝑡)𝑑𝑡) = umur rata-rata
komponen (laju kerusakan)

H. Kelebihan Dengan Metode Age replacement


Metode Age replacement ini menentukan interval
pada penggantian optimal diantara penggantian
pencegahan untuk meminimalisasi total down time.
Metode ini merupakan tindakan penggantian yang
dilakukan pada suatu interval yang tetap serta
digunakan juka diinginkan karena adanya suatu
konsistensi interval penggantian. Kelebihan Age
replacement sebagai berikut :
1. Dapat mengetahui penggantian komponen yang
harus dilakukan,
2. Memberikan informasi pendajwalan yang optimal
sesuai tingkat keandalan komponen,
3. Mengoptimalkan biaya downtime yang disebabkan
oleh lamanya mesin berhenti karena suatu
perbaikan,

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
36
BAB II KAJIAN PUSTAKA

4. Adanya suatu konsisten interval saat penggantian


komponen.

I. Mesin Flying Shear


Flying shear adalah salah satu jenis mesin
perkakas yang berfungsi untuk memotong suatu benda
kerja. Pada PT Hanil Jaya Steel flying shear digunakan
untuk memotong beton neser yang sudah masuk pada
tahap hot cut line. Flying shear memotong beton neser
dengan panjang kurang lebih 48 meter, pada proses
pemotongan tidak mengganggu proses produksi utama.
Flying shear dapat memotong benda kerja yang sedang
berlaju, sehingga produktivitas dapat dimaksimalkan.
Flying shear mempunyai dua lengan (arm) yang
pada masing-masing ujungnya dipasang blade sebagai
pemotongannya. Kedua lengan tersebut berputar secara
berlawanan arah, agar ada titik temu antara blade satu
dengan lainnya sehingga dapat memotong beton neser
yang melewati flying shear. Beton neser yang melewati
flying shear suhunya mencapai 300◦C - 400◦C.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
37
BAB II KAJIAN PUSTAKA

Gambar 2.2 Gambar Main Produksi


di Rolling Mill 3

Gambar 2.3 Mesin Flying Shear di Rolling Mill 3

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
38
BAB II KAJIAN PUSTAKA

Cara kerja mesin tersebut yaitu ketika billet sudah


finishing lalu masuk pada tempcore yang diteruskan ke
flying shear yang memotong billet yang sudah menjadi
beton neser dengan panjang 48 m. Pada mesin flying
shear ini terdapat break dan clutch. Break ini berfungsi
untuk menghentikan atau mengerem gearbox pada saat
selesai memotong. Saat pemotongan, yang berjalan
adalah clutch untuk menggerakan blade dan
menggerakan gearbox.

Gambar 2.4 Blade

J. Penelitian yang Relevan


Penelitian yang sejenis dilakukan oleh Rizki
Wahyuni dkk tentang Penentuan Interval Perawatan
dengan Menggunakan Model age replacement di PT. “X”.
Penelitian tersebut dilaksanakan dengan objek penelitian
mesin milling, data yang digunakan adalah data umum

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
39
BAB II KAJIAN PUSTAKA

perusahaan, data jenis-jenis mesin milling, data


komponen mesin milling AABD06, data kerusakan
komponen mesin milling AABD06 dan data estimasi
waktu penggantian pencegahan dan waktu penggantian
kerusakan komponen mesin milling AABD06.
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa
penentuan interval perawatan ini menggunakan metode
age replacement. Model tersebut digunakan untuk
mengetahui interval penggantian pencegahan komponen
dengan kriteria minimasi downtime. Berdasarkan hasil
perhitungan dengan kriteria ini, dihasilkan interval
waktu penggantian pencegahan dan interval waktu
pemeriksaan, dimana interval waktu penggantian
pencegahan komponen Collar Thrust dilakukan pada saat
komponen mencapai umur 450 jam, sedangkan interval
pemeriksaan komponen Collar Thrust dilakukan setiap
412 jam. Untuk total biaya sebelum dan sesudah
dilakukan perawatan pencegahan, didapatkan hasil
bahwa sebelum perawatan pencegahan pada komponen
Collar Thrust adalah Rp. 197.427.088,94. Sedangkan total
biaya sesudah perawatan pencegahan pada komponen
Collar Thrust adalah Rp. 119.902.134,59. Maka terjadi
penurunan total biaya perawatan dengan selisih dari
total biaya sebelum dan sesudah dilakukan penggantian
pencegahan adalah Rp. 77.524.954,35.
Penelitian yang sejenis juga dilakukan oleh Agus
Sulistiawan pada tahun 2014 yang berjudul Preventive
Maintenance pada Mesin Filter Air dengan Menggunakan
Metode Age replacement Sebagai Pengoptimalan Biaya
Down Time di CV. Segar Murni Mojokerto. Penelitian
tersebut dilaksanakan dengan objek penelitian mesin

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
40
BAB II KAJIAN PUSTAKA

filter air, data yang digunakan yaitu data mesin Filter air,
waktu kerusakan mesin (Januari 2012 s/d Juni 2013),
biaya penggantian, biaya tenaga kerja dan biaya berhenti
produksi.
Hasil penelitian dapat diketahui bahwa interval
waktu yang optimal adalah 17 hari dan penghematan
biaya down time sebesar Rp. 113.266.250 atau 38.44%
dibandingkan sebelum menggunakan penjadwalan
dengan metode Age replacement.
Penelitian yang sejenis juga dilakukan oleh
Aditya Putra Ramadhan pada tahun 2015 dengan judul
Penentuan Jadwal Preventive Maintenance
Menggunakan Metode Age replacement Pada Forklift 5Ton
di PT. Swadaya Graha. Penelitian tersebut dilaksankan
dengan obyek penelitian Forklift 5 ton, data yang
digunakan data mesin yang ditangani, waktu kerusakan
mesin, biaya penggantian, biaya tenaga kerja dan biaya
berhenti produksi.
Hasil dari penelitian ini yakni interval waktu
penggantian yang paling optimal adalah 322 hari dan
penghematan biaya down time sebesar 13.166.000 atau
29,53% dibandingkan dengan sebelum mengguankan
penjadwalan dengan metode age replacement.

K. Kerangka Pemikiran Penelitian


Penjadwalan perawatan penggatian komponen
mesin flying shear pada PT. Hanil Jaya Steel yang belum
optimal mengakibatkan meningkatnya biaya down time
yang selama ini yang dapat mengurangi profit
perusahaan. Age replacemnt merupakan metode
perawatan pencegahan yang dilakukan dengan

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
41
BAB II KAJIAN PUSTAKA

menentapkam interval waktu perawatan pencegahan


berdasarkan selang waktu kerusakan yang menuntut
adanya tindakan perbaikan dengan kriteria minimalisasi.

Metode Age replacement

Jadwal Penggantian Dengan Waktu Optimal

Penurunan Biaya Down Time

Preventive maintenance dengan menggunakan


metode Age replacement penjadwalan penggantian
dengan waktu yang optimal dapat menurunkan biaya
down time akibat mesin tidak dapat beroprasi dalam
waktu tertentu, karena waktu kerja mesin dapat
dioptimalkan untuk menghasilkan produk yang lebih
maksimal.

L. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berfikir, maka hipotesisnya
sebagai berikut :
1. Metode age replacement dapat menentukan interval
waktu penggantian komponen secara konsisten
sesuai tingkat keandalan komponen di PT. Hanil Jaya
Steel.
2. Metode age replacement dapat mengurangi biaya down
time di PT. Hanil Jaya Steel.

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”
42
BAB II KAJIAN PUSTAKA

Halaman ini sengaja dikosongkan

Skripsi “Perencanaan Perawatan Sebagai Pengoptimalan Biaya Down Time Pada


Mesin Flying Shear Menggunakan Metode Age Replacement Di PT. Hanil
Jaya Steel”