Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pendidikan adalah modal dasar untuk meraih kesuksesan. Dengan
pendidikan kita dapat membaca, lalu kita dapat menulis dan akhirnya kita bisa
mendapatkan ijazah, setelah itu kita dapat bekerja dan meraih kesuksesan tersebut.
Untuk meraih kesuksesan, selain dengan modal, seseorang juga
memerlukan usaha seperti belajar. Belajar tidak selalu melalui potensi akadamik,
melainkan juga dapat melalui potensi non akademik. Pendidikan non akademik ini
meliputi olahraga,seni,sastra,dan lainnya. Hal ini tidak lain ditujukan untuk
memberikan ilmu pengetahuan yang lebih kepada siswa.
Menghadapi era globalisasi ini, persaingan semakin meraja lela. Untuk itu,
pintar pada pendalaman materi bukanlah hal yang paling utama dalam
menghadapi persaingan. Akan tetapi, pengetahuan dalam bidang komunikasi juga
harus diperhitungkan. Tantangannya adalah, pesaing harus mampu dalam
berbahasa asing. Bahasa asing ini sangat diperlukan, mengingat kini kita telah
masuki zaman yang semakin canggih, dimana terdapat banyak perdagangan
bebas. Yang kita hadapi tidak hanya orang dari negara kita sendiri, tetapi juga dari
berbagai mancanegara. Data menunjukkan penduduk luar negeri yang bekerja di
Indonesia sebanyak 6.485 jiwa dan penduduk Indonesia yang bekerja diluar
negeri sebanyak 17.952 jiwa. Dengan itu, kita harus mengetahui betapa
pentingnya bahasa asing. Terutama bahasa Internasional, yaitu Bahasa Inggris
Setiap sekolah menekankan kepada seluruh siswanya untuk dapat
berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dengan baik. Menurut Howard
Gardner, “ orang yang mampu memproses kata-kata ketika berbicara merupakan
orang yang memiliki kecerdasan yang tinggi.” Sehingga sekolah-sekolah yang ada
di Indonesia menekankan berbagai program unggulan terutama pada bidang
komunikasi bahasa Inggris atau “convertation”. Tidak terkecuali SMA N 4 Lahat.
SMA N 4 Lahat memiliki program unggulan mulai dari IPTEK, IMTAQ,
hingga bimbingan belajar dan juga ekstra kulikuler. Selain itu, SMA N 4 Lahat

1
juga memiliki program wajib yaitu bimbingan wajib bahasa inggris dua hari
dalam satu minggu yang ditujukan untuk siswa yang tinggal diasrama, dimana
pada malam harinya siswa tidak diperkenankan untuk langsung tidur, bermain
game ataupun menonton film. Tujuannya, selain untuk mengatur waktu, mereka
juga mendapatkan materi lebih dalam belajar karena siswa yang tinggal diasrama
sebagian besar berasal dari luar daerah dimana pelayanan dari sekolah
sebelumnya masih minim, mulai dari sarana dan prasarana, tenaga kerja, hingga
minim ilmu pengetahuan. Di SMA N 4 Lahat ini, siswa dituntut untuk memiliki
ilmu pengetahuan bahasa Inggris yang sejajar yaitu sama dengan siswa yang
berasal dalam kota. Sehingga penulis tertarik untuk mengetahui bagaimana
pengaruh bimbingan belajar wajib bahasa Inggris terhadap kemampuan bahasa
inggris lisan siswa asrama kelas X SMA N 4 Lahat.

1.2 Masalah
Permasalahan yang penulis bahas dalam karya tulis ini sebagai berikut.
1. Bagaimana pengaruh bimbingan belajar bahasa inggris terhadap
kemampuan bahasa Inggris lisan siswa asrama kelas X SMA N 4
Lahat?
2. Bagaimana perbandingan kemampuan bahasa inggris lisan antara
siswa kelas X asrama dan luar asrama SMA N 4 Lahat?

1.3 Tujuan Penulisan


Tujuan penulisan karya tulis ini sebagai berikut.
1. Menjelaskan pengaruh bimbingan belajar bahasa Inggris terhadap
pemahaman siswa.
2. Menjelaskan perbandingan kemampuan bahasa inggris lisan antara
siswa kelas X asrama dan luar asrama SMA N 4 Lahat

1.4 Manfaat
Karya tulis ini diharapkan dapat memberi manfaat sebagai berikut.
Bagi penulis :

2
1. Memberi informasi mengenai pengaruh bimbingan belajar bahasa
Inggris terhadap siswa asrama SMA N 4 Lahat.
2. Memberi informasi mengenai perbandingan pengaruh bimbingan
belajar bahasa Inggris bagi siswa asrama dan siswa luar asrama.

Bagi siswa :
1. Memberi informasi mengenai pengaruh bimbingan belajar wajib
bahasa Inggris terhadap pelajar.
2. Memberi motivasi kepada siswa agar berani berkomunikasi secara
luas.

3
BAB II
LANDASAN TEORITIS

2.1 Pembelajaran Bahasa Inggris


Mempelajari suatu bahasa telah dilakukan oleh manusia sejak lahir.
Mempelajari bahasa dimulai dari belajar bahasa ibu, yang merupakan suatu hal
yang wajar dan alamiah. Namun lain halnya dengan belajar bahasa kedua atau
bahasa asing. Secara singkat Littlewood (1984:3) membedakan kedua istilah ini
yaitu a “second” language has social functions within the community where it is
learnt (e.g., as a lingua franca or as the language of another social group), whereas
a “foreign” language is learnt primarily for contact outside one‟s own
community”. Pendapat tersebut diartikan bahwa bahasa kedua memiliki fungsi
sosial dalam masyarakat di mana ini dipelajari (misalnya, sebagai lingua franca
atau bahasa kelompok sosial lain), sedangkan bahasa asing dipelajari terutama
untuk hubungan di luar komunitas sendiri.
Sementara itu (Quirk 1972:32) memberikan definisi tentang bahasa kedua, “a
language necessary for certain official, social, commercial or educationalactivities
within their own country” sedangkan bahasa asing adalah: “a language used by
persons for communication across frontier or with others who are not from their
country”. Pendapat ini diartikan bahwa bahasa kedua sebagai bahasa yang
diperlukaan pada saat kegiatan formal, sosial, perdagangan atau pendidikan di
negara mereka sendiri" sedangkan bahasa Asing Adalah: "bahasa yang digunakan
oleh orang-orang untuk berkomunikasi antar perbatasan atau dengan orang lain
yang bukan dari negara mereka". Nunan (2005:9) menyebutkan “the ability to use
a second language (knowing “how”) would develop automatically if the learner
were required to focus on meaning in the process of using the language to
communicate”. Pendapat tersebut diartikan bahwa kemampuan untuk
menggunakan bahasa kedua (mengetahui bagaimana) akan berkembang secara
otomatis jika pembelajar diarahkan untuk fokus makna dalam proses
menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Bahasa kedua yang dimaksud di sini

4
adalah bahasa asing yang pada umumnya dipelajari oleh siswa di suatu lingkup
sekolah.
Menurut Richard dan Schmidt (2010:206) bahasa asing (foreign language)
adalah sebagai berikut:
A language which is not the NATIVE LANGUAGE of large number
of people in a particular country or region, is not used as a medium of
instruction in school, and is not widely used as a medium of
communication in government, media, etc. Foreign language are
typically taught as school subjects for the purpose of communicating
with foreigners or for reading printed materials in the language.
Kutipan tersebut mempunyai pengertian, bahwa bahasa asing diartikan
sebagai satu bahasa yang bukan bahasa asli dari sebagian besar orang pada satu
negara atau daerah tertentu, yang bukan dipergunakan sebagai satu sarana
komunikasi dalam pemerintah, media dan sebagainya. Bahasa asing diajarkan
sebagai mata pelajaran di sekolah dengan tujuan agar siswa dapat berkomunikasi
dengan orang asing atau untuk membaca bacaaan dalam bahasa asing tersebut.
Bahasa Inggris adalah salah satu bahasa asing yang dianggap penting yang
harus dikuasai oleh Bangsa Indonesia karena bahasa Inggris memiliki kedudukan
yang sangat strategis, yaitu selain sebagai alat komunikasi juga sebagai bahasa
pergaulan antar bangsa. Selain itu, bahasa Inggris juga merupakan bahasa asing
pertama yang dianggap penting untuk tujuan pengaksesan informasi, penyerapan
dan pengembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni budaya.
Dalam kaitannya dengan bahasa asing, Chaer (2009:37) mengemukakan
adanya istilah bahasa target yang merupakan bahasa yang sedang dipelajari dan
ingin dikuasai. Wujud bahasa target dapat berupa bahasa ibu (bahasa pertama
(B1), bahasa kedua (B2), maupun bahasa asing (BA). Pengertian bahasa kedua
tidak sama dengan bahasa bahasa asing. Di Indonesia misalnya, pertama kali
pembelajar belajar bahasa pertama (bahasa daerah), kemudian belajar bahasa
kedua (bahasa Indonesia).
Bahasa Inggris sebagai alat komunikasi digunakan untuk menyampaikan
gagasan, pikiran, pendapat, perasaan, dan juga untuk menanggapi atau

5
menciptakan wacana dalam kehidupan bermasyarakat. Untuk dapat mempelajari
bahasa Inggris dengan baik diperlukan pengetahuan akan karakteristik dari bahasa
Inggris itu sendiri. Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu bila
ditinjau dari segi tujuan atau kompetensi yang ingin dicapai, ataupun materi yang
dipelajari dalam rangka menunjang kompetensi tersebut. Ditinjau dari segi tujuan
atau kompetensi yang ingin dicapai, mata pelajaran bahasa Inggris ini
menekankan pada aspek keterampilan berbahasa yang meliputi keterampilan
berbahasa lisan dan tulis, baik reseptif maupun produktif. Karakteritik inilah yang
membedakan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran yang lain.
Secara umum keempat keterampilan berbahasa tersebut digunakan untuk
berkomunikasi. Agar proses komunikasi dapat berjalan dengan lancar, pembelajar
bahasa harus dibekali dengan pengetahuan tentang bahasa maupun keterampilan
berbahasa. Pembelajar bahasa harus mengenal dan memahami tata bahasa dan
kosakata, yang dikategorikan sebagai ranah kognitif. Selain itu, mereka juga harus
mengenal dan memahami sistem dan bunyi-bunyi yang berlaku pada bahasa
tersebut agar pengucapannya sesuai dengan penutur aslinya.
Pengucapan bahasa Inggris dengan penulisan harus terus dipelajari dan dilatih
karena di dalam bahasa Inggris penulisan dan pengucapan sangat jauh berbeda.
Hal inilah yang membedakan antara bahasa Inggris dengan bahasa Indonesia.
Perbedaan ini merupakan salah satu kendala dalam pembelajaran bahasa Inggris.
Pembelajar perlu dilatih untuk mendengar dan menggerakan organ-organ tertentu,
seperti bibir, lidah, untuk menghasilkan bunyi-bunyi yang sesuai dengan bunyi -
bunyi yang diproduksi oleh penutur asli bahasa Inggris. Latihan menggerakan
organ bicara untuk menghasilkan bunyi tertentu dikategorikan sebagai ranah
psikomotorik. Pembelajaran bahasa juga terkait dengan masalah-masalah minat,
motivasi, tingkat kecemasan, dan lain-lain. Agar berhasil dalam belajar bahasa,
mereka harus mempunyai sikap yang positif terhadap bahasa dan budaya yang
dipelajari.
Tanpa sikap seperti itu, sangat sulit bagi mereka untuk menguasai bahasa
Inggris dengan baik. Inilah yang dikategorikan sebagai ranah afektif. Oleh karena

6
itu, agar proses pembelajaran bahasa Inggris berhasil dengan baik, seorang tentor
harus memahami karakteristik dari bahasa Inggris itu sendiri.
Pada hakikatnya, bahasa termasuk Bahasa Inggris adalah alat untuk
berkomunikasi diantara warga masyarakat. Berkomunikasi mengandung
pengertian mengungkapkan informasi, pikiran, dan perasaan. Kegiatan
komunikasi terwujud dalam tindak memahami dan mengungkapkan nuansa
makna baik melalui medium lisan maupun tulisan yang dipengaruhi antara lain
oleh situasi, orang yang terlibat dalam komunikasi, topik, dan kondisi psikologis
orang yang terlibat dalam komunikasi. Melaui bahasa sebagai alat komunikasi
utama, utamanya melalui bahasa Inggris sebagai bahasa global, kita dapat
mengembangkan ilmu pengetahun, teknologi, serta budaya dengan menggunakan
bahasa tersebut. Dalam konteks pendidikan, bahasa ini berfungsi sebagai alat
berkomunikasi guna mengakses, menympan dan berbagi informasi. Dalam
keseharian, ia berfungsi sebagai alat untuk menjalin hubungan interpersonal,
bertukar informasi dan menikmati aspek keindahan bahasa tersebut.
Berpijak pada fungsinya, maka tujuan pengajaran Mata Pelajaran Bahasa
Inggris dalam Kurikulum yang berlaku saat ini mencakup :
(1) Mengembangkan kemamupuan berkomunikasi dalam bahasa tersebut
baik lisan maupun tulis. Kemampuan tersebut meliputi mendengarkan
(listening), berbicara (speaking), membaca (reading), dan menulis
(writing);
(2) Menumbuhkan kesadaran akan hakikat dan pentingya bahasa Inggris
sebagai salah satu bahasa asing untuk menjadi alat utama belajar;
(3) Mengembangkan pemahaman keterkaitan antara bahasa dan budaya serta
memperluas cakrawala budaya. Dengan demikian siswa memiliki
wawasan lintas budaya dan melibatkan diri dalam keragaman budaya.
Untuk mencapai tujuan pengajaran Mata Pelajaran Bahasa Inggris diperlukan
saling keterkaitan antar komponen dalam kurikulum, yakni tujuan pengajaran
yang dalam konteks kurikulum saat ini dan sejalan dengan Standar Isi yang diatur
dalam Peraturan Pemerintah No.19, dinyatakan dalam bentuk rumusan standar
kompetensi dan kompetensi dasar yang selanjutnya dirumuskan secara spesifik

7
dalam bentuk indikatorindikator yang digunakan sebagai bahan pertimbangan
dalam memlih dan mengembangkan komponen kurikulum lainnya, yakni bahan
ajar, kegiatan pemelajaran, dan evaluasi pemelajaran. Keempat komponen utama
kurikulum ini dalam Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa Inggris yang berlaku saat
ini harus secara eksplisit dicakup dalam silabus mata pelajaran Bahasa Inggris
yang dikembangkan baik untuk kepentingan pemelajaran di kelas maupun untuk
pengembangan bahan ajar. Dalam petunjuk guru ini keempat komponen tersebut
dicoba dipetakan dengan mengacu kepada kurikulum tersebut.

2.2 Standar Kompetensi Lintas Kurikulum (KLK)


Standar Kompetensi Lintas Kurikulum yang harus dirujuk oleh semua mata
pelajaran yang tercakup dalam kurikulum jenjang pendidikan dasar dan menengah
merupakan kecakapan untuk hidup dan belajar sepanjang hayat yang dibakukan
dan harus dicapai peserta didik melalui pengalaman belajar. KLK ini mencakup:
1. Memiliki keyakinan, menyadari serta menjalankan hak dan kewajiban,
saling menghargai dan memberi rasa aman, sesuai dengan agama yang
dianutnya.
2. Menggunakan bahasa untuk memahami, mengembangkan, dan
mengkomunikasikan gagasan dan informasi, serta untuk berinteraksi
dengan orang lain.
3. Memilih, memadukan, dan menerapkan konsep-konsep, teknik-teknik,
pola, struktur, dan hubungan.
4. Memilih, mencari, dan mererapkan teknologi dan informasi yang
diperlukan dari berbagai sumber.
5. Memahami dan menghargai lingkungan fisik, mahluk hidup, dan
teknologi, dan menggunakan pengetahuan, keterampilan. Dan nilai-nilai
untuk mengambil keputusan yang tepat.
6. Berpartisipasi, berinteraksi, dan berkontribusi aktif dalam masyarakat dan
budaya global berdasarkan pemahaman konteks budaya, geografis, dan
historis.

8
7. Berkreasi dan mengahargai karya artistik, budaya, dan intelktual serta
menerapkan nilai-nilai luhur untuk meningkatkan kemantangan pribadi
menuju masyarakat beradab.
8. Berpikir logis, kritis, dan lateral dengan memperhitungkan potensi dan
peluang untuk menghadapi berbagai kemungkinan.
9. Menunjukkan motivasi dalam belajar, percaya diri, bekerja mandiri, dan
bekerja sama dengan orang lain.

2.3 Standar Kompetensi Mata Pelajaran Bahasa Inggris SMA dan MA


Rumusan standar kompetensi ini dalam Kurikulum Mata Pelajaran Bahasa
Inggris untuk SMA dan MA sebagai berikiut:
Berkomuniaksi secara lisan dan tulis dengan menggunakan ragam yang
sesuai secara lancar dan akurat yang diwujudkan dalam tiap keterampilan
berbahasa berikut:
 Mendengarkan: Memahami berbagai makana (interpersonal,
ideasional, tekstual) dalam berbagai teks lisan interaksional dan
monlog terutama yang berbentuk deskriptif, naratif, spoof/recount,
prosedur, repor, news item, anekdot, eksposisi, explanation,
discussion, commentary, dan review..
 Berbicara: Mengungkapkan berbagai makna (interpersonal, ideasional,
tekstual) dalam berbagai teks lisan interaksional dan monolog terutama
yang berbentuk deskriptif, naratif, spoof/recount, prosedur, report,
news ite,m anekdo, eksposisi, explanation, discussion, commentary,
dan review.
 Membaca: Memahami berbagai makana (interpersonal, ideasional,
tekstual) dalam berbagai teks tulis interaksional dan monlog terutama
yang berbentuk deskriptif, narative, spoof/recount, prosedur, report,
news item, anekdot, ekspotition, explanation, discussion, commentary,
dan review.
 Menulis: Mengungkapkan berbagai makna (interpersonal, ideasional,
tekstual) dalam berbagai teks lisan interaksional dan monolog terutama

9
yang berbentuk deskriptif, narative, spoof/recount, prosedur, report,
news item, anekdot, ekspotition, explanation, discussion, commentary,
dan review.
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan
metode deskriptif, maksudnya penelitian ini dibuat untuk memperoleh gambaran
mengenai apa yang akan di teliti.

3.2 Tempat dan Waktu Penelitian


Penelitian ini dilaksanakan di SMA NEGERI 4 LAHAT mulai dari tanggal
16 Maret 2017.

3.3 Sumber Data


3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMA
Negeri 4 Lahat
3.3.2 Sampel
Sampel dalam penelitian ini adalah 41 siswa-siswi Kelas X SMA
Negeri 4 Lahat

3.4 Teknik Pengumpulan Data


3.4.1 Observasi
Observasi yaitu teknik pengumpulan data dengan menggunakan
pengamatan.
3.4.2 Wawancara
Peneliti akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada narasumber
untuk mendapatkan jawaban dari masalah yang sedang di teliti.
3.4.3 Angket

10
Penulis akan mengajukan beberapa pertanyaan yang dibuat secara
tertulis yang harus dijawab kepada siswa-siswi yang dijadikan sebagai
sampel.
3.5 Teknik Pengolahan Data
Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode yang bersifat
nyata,yang dinyatakan dalam angka-angkaatau analisis yang bersifat memberi
keterangan atau penjelasan yang mengenai objek yang diteliti berdasarkan teori
pemandangn pendapat.
Setelah data dikumpulkan maka perlu dilakukan pengolahan data atau
analisis data.Analisis data ini menggunakan metode diskriptif dengan presentase
menggunakan rumus presantase menurut Arief Furchan (1994-2006).
P=f/n x 100%
p : presentase yang dicapai pada setiap alternative
f : frekuensi siswa yang memilih
n : jumlah sampel

11
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
Dengan metode angket/lembar pengisian soal dari sampel sebanyak 188
siswa di SMA Negeri 4 Lahat ,peneliti berhasil mengumpulkan data dibawah ini:
1. Bimbingan wajib bahasa Inggris mempengaruhi kemampuan bekomunikasi
dalam bahasa Inggris
a. Iya = 71 %
b. Tidak = 8 %
c. Jawabab lain: = 5 %

2. Anda lebih pasih berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris


a. Iya = 8 %
b. Tidak = 5 %
c. Kadang - kadang = 51 %
d. Biasa saja = 31 %
e. Jawaban lain: = 5 %

3. Anda memiliki penambahan kosa kata dalam berbahasa Inggris setiap


harinya
a. Selalu = 10 %
b. Kadang – kadang = 85 %
c. Tidak ada penambahan kosa kata = 0 %
d. Jawaban lain: = 5 %

4. Nilai dalam pelajaran bahasa Inggris pada siswa yang mengikuti bimbingan
wajib bahasa Inggris melebihi KKM
a. Iya, bayak = 10 %
b. Iya, tetapi hanya sedikit = 38 %

12
c. Tidak sama sekali = 2 %
d. Tidak tahu = 38 %
e. Jawaban lain: = 12 %

5. Nilai dalam pelajaran bahasa Inggris lebih menonjol dari siswa yang tidak
mengikutii bimbingan wajib bahasa Inggris
a. Iya, banyak = 8 %
b. Iya, tetapi hannya sedikit = 33 %
c. Tidak sama sekali = 16 %
d. Kadang – kadang = 35 %
e. Jawaban lainn = 8 %

6. Bimbingan wajib bahasa Inggris berpengaruh terhadap keberanian tampil


anda di khalayak umum
a. Sangat berpengaruh = 27 %
b. Biasa saja = 31 %
c. Tidak berpengaruh = 5 %
d. Kadang – kadang = 35 %
e. Jawaban lain: = 2 %

7. Bimbingan wajib bahasa Inggris menambah motivasi siswa untuk belajar


bahasa Inggris
a. Iya, sangat memotivasi = 43 %
b. Tidak memotivasi sama sekali = 0 %
c. Biasa saja = 33 %
d. Jawaban lain: = 24 %

8. Bimbingan wajib bahasa Inggris memiliki dampak posif dan


menguntungkan bagi siswa asrama
a. Iya = 79 %

13
b. Tidak = 0 %
c. Biasa saja = 16 %
d. Jawaban lain: = 5 %

4.2 Pembahasan
4.2.1 Pengaruh Bimbingan Wajib Bahasa Inggris terhadap Kemampuan
Bahasa Inggris Lisan Siswa Asrama Kelas X SMA Negeri 4 Lahat.
Bahasa Inggris diperlukan oleh seluruh individu. Bahasa Inggris
merupakan bahasa internasional oleh sebab itu individu tersebut wajib
mengenal dan mempelajari Bahasa Inggris. Bahasa Inggris tentunya
sangat berperan dalam dunia pendidikan. Pemerintah Indonesia
menerapkan Bahasa Inggris menjadi mata pelajaran wajib. Dalam upaya
membantu mengoptimalkan perkembangan siswa dan juga membantu
siswa-siswi agar dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai
dengan potensi yang dimilikinya.
SMA Negeri 4 Lahat bahkan mewajibkan bimbel bahasa Inggris
untuk seluruh siswa kelas yang berada di asrama. Setiap siswa
membutuhkan pelajaran Bahasa Inggris untuk dapat berkomunikasi
dengan baik. Perkembangan belajar siswa tidak selalu berjalan lancar dan
memberikan hasil yang diharapkan. Adakalanya mereka menghadapi
berbagai kesulitan atau hambatan. Kesulitan atau hambatan dalam belajar
ini terbagi dalam beberapa gejala masalah, seperti prestasi belajar rendah,
kurang atau tidak ada motivasi belajar. Dalam bimbingan belajar ini
diharapkan siswa-siswa bisa melakukan penyesuaian yang baik dalam
situasi belajar seoptimal mungkin sesuai dengan potensi-potensi, bakat,
dan kemampuan yang ada padanya. Bimbingan belajar membantu siswa-
siswi dalam menyelesaikan masalah pada saat memasuki proses belajar
dan situasi belajar yang dihadapinya.
Lebih dari separuh siswa kelas X yang berada di asrama
menyatakan bahwa bimingan wajib Bahasa Inggris mempengaruhi
kemampuannya pada penambahan kosa kata yang dimiliki siswa, lebih

14
berani tampil didepan umum dalam berkomunikasi menggunakan Bahasa
Inggris, menambah pengetahuan siswa mengenai sesuatu yang ada pada
pelajaran Bahasa Ingggris.

4.2.2 Perbandingan kemampuan bahasa inggris lisan antara siswa kelas X


asrama dan luar asrama SMA Negeri 4 Lahat.
Tidak semua siswa dapat memahami meteri KBM. Untuk itu,
terdapat perbedaan kemampuan baik dari segi materi maupun lisan antara
siswa kelas X asrama yang mengikuti bimbingan wajib Bahasa Inggris
disekolah dengan siswa luar aarama yang tidak mengikuti bimbingan
wajib Bahasa Inggris. Biasanya, apabila terdapat guru yang menjelaskan
materi di suatu kelas dan menawarkan kepada siswa untuk memberikan
contoh ke depan kelas, siswa asrama yang mengikuti bimbingan wajib
Bahasa Inggris di sekolah cenderung lebih unggul dan lebih aktif dalam
proses KBM dibandingkan dengan siswa luar asrama yang tidak mengikuti
bimbingan wajib Bahasa Inggris di sekolah.
Selain itu, siswa asrama yang mengikuti bimbingan wajib bahasa
Ingris lebih pasih dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris dan
memiliki kosa kata yang lebih banyak dibandingkan dengan siswa luar
asrama yang tidak mengikuti bimbingan wajib Bahasa Inggris disekolah,
hal ini disebabkan kerena siswa asrama memanfaatkan waktu pada malam
hari untuk belajar bahasa Inggris sedangkan siswa luar asrama cenderung
menghabiskan waktu pada malam hari untuk menonton film, bermain
game, tidur ataupun belajar mata pelajaran lainnya. Pada saat bimbingan
wajib bahasa Inggris ini berlangsung, siswa asrama dituntut untuk
menguasai materi pada KBM disekolah dengan cara mengulangi materi
KBM tersebut pada saat bimbingan wajib Bahasa Inggris dengan guru
yang sama maupun berbeda. Pada saat bimbingan wajib bahasa Inggris ini
pula, siswa lebih sering tampil untuk berpidato, bercerita ataupun
menyampaikan suatu berita menggunakan bahasa Inggris, yang
menyebabkan lidah siswa lebih pasih berkomunikasi bahasa Inggris,

15
memiliki penambahan kosa kata, dan memiliki keberanian untuk tampil
didepan umum. Hal unggul inilah yang menjadi pembeda antara siswa
kelas X asrama yang mengikuti bimbingan wajib Bahasa Inggris dan siswa
luar asrama yang tidak mengikuti bimbingan wajib Bahasa Inggris
disekolah.

16
BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Bimbingan wajib bahasa inggris ini memberikan pengaruh bagi siswa yang
mengikuti bimbingan tersebut diantaranya siswa lebih berani berkomunikasi
menggunakan bahasa inggris, penambahan kosa kata , bahkan nilai bahasa inggris
mereka mengalami peningkatan. Selain itu siswa yang mendapatkan bimbingan
wajib bahasa inggris ini lebih pasih dan lebih berani tampil di depan umum
menggunakan bahasa inggris dibanding siswa yang tidak mendapatkan bimbingan
wajib bahsa inggris tersebut.

5.2 Saran
Penulis menyarankan kepada siswa SMA Negeri 4 Lahat untuk
menerapkan pembelajaran bahasa inggris tidak hanya di sekolah, melainkan juga
pada kehidupan sosial di masyarakat. Penulis menyarankan kepada sekolah agar
memberikan fasilitas yang sama berupa bimbingan wajib bahasa Inggris kepada
seluruh siswa baik kelas X, XI dan XII di sekolah, karena bimbingan wajib
bahasan Inggris ini sangat berpengaruh terhadap potensi akademik bahasa Inggris
siswa. Penulis menyarankan kepada pembaca agar dapat memperdalam sastra
Inggris karena pada zaman modern seperti sekarang, bahasa Inggris merupakan
bahasa Internasional yang seharusnya dipahami oleh seluruh masyarakat terutama
pelajar.

17