Anda di halaman 1dari 37

1.

Bagaimana cara memilih metode kontrasepsi yang baik sesuai dengan keadaan pada pasien, dan
apa saja alasannya ?

Memilih kontrasepsi saat menyusui


Pil kontrasepsi
Pil KB kombinasi yang mengandung hormon estrogen dan progesteron tidaklah
dianjurkan untuk ibu menyusui karena mengurangi produksi ASI. Bila Anda tak
cocok dengan cara KB yang lain sedangkan Anda menyusui, lebih baik memilih pil
KB yang hanya mengandung turunan hormon progesteron (mini pil). Sebuah studi
menunjukkan mini pil ini tidak mempengaruhi ASI dibandingkan pil kombinasi.
Efek kontrasepsi mini pil yang lebih lemah bisa dibantu dengan memberi ASI
eksklusif. Dan bila ibu sudah berhenti menyusui, barulah menggantinya dengan
pil kombinasi.
KB suntik atau
implant
Karena hanya mengandung hormon turunan progesteron, KB suntik pada
prinsipnya sama dengan mini pil. KB suntik memiliki efek lebih panjang dan
disuntikkan pada periode tertentu saja (satu bulan atau 2-3 bulan). Konon, saat
penyuntikan dengan dosis tinggi, hormon yang masuk ke ASI akan meningkat, namun
menurut studi hal ini tidak merugikan si bayi.
KB implant merupakan jenis KB hormonal yang bersifat jangka panjang. KB
dilakukan dengan memasukkan sejenis selongsong berisi hormon ke bawah kulit,
dan akan diambil bila ibu menginginkannya atau setelah lima tahun.
Efeknya sama dengan KB suntik.
WHO menyarankan ibu yang menyusui eksklusif mulai memakai kontrasepsi
berisi hormon turunan progesteron ini enam minggu setelah melahirkan.
AKDR (alat
kontrasepsi dalam rahim)
Sampai saat ini, AKDR menjadi pilihan pertama untuk ibu yang masih menyusui
namun belum ingin kontrasepsi mantap.Selain keluhan yang minimal, AKDR tidaklah
berpengaruh pada ASI karena bekerja secara lokal di dalam rahim. Pemasangan
AKDR tidaklah perlu menunda waktu, bisa dilakukan pada akhir nifas, biasanya
saat satu bulan tujuh hari setelah ibu bersalin. Sebab, bila diberikan lebih
awal, risiko AKDR untuk terlepas (ekspulsi) lebih besar.
Metode kontrasepsi
lain
Beberapa ibu memilih untuk mengkombinasi ASI eksklusif dengan metode KB
sederhana seperti kondom, diafragma, atau senggama terputus. Kedua metode ini
akan saling melengkapi selama proses menyusui dilakukan dengan benar. Ingatlah
untuk mengganti metode KB bila ibu tak lagi menyusui secara eksklusif karena
metode-metode ini memiliki efektifitas yang rendah.
Pada ibu yang tak ingin punya anak lagi, kontrasepsi mantap yaitu dengan
mengikat saluran rahim bisa dilakukan dalam 24 jam pertama setelah melahirkan.
Kontrasepsi mantap juga bisa dilakukan pada pasangan dengan mengikat saluran
sperma.
Pilihan terbaik KB saat menyusui
1. Bila sudah tak
ingin punya anak lagi, lakukan kontrasepsi mantap
2. AKDR
3. Suntik KB
depoprovera
4. KB implant
5. Mini pil atau cara
sederhana lain
6. Pil kombinasi
adalah pilihan terakhir, digunakan bila ibu tak lagi menyusui atau anak sudah
diberi makanan padat. Pilihlah yang kandungan estrogennya rendah.

2. Hubungan riwayat clamidiasis dengan pemilihan kontrasespi ?


3. Pengaruh pemakaian obat gresofulvin dengan pemilihan kontrasepsi ?

GRISEOFULVIN
Indikasi:
Infeksi jamur pada kulit, rambut, dan kuku bila terapi topikal gagal.

Peringatan:
Tidak untuk profilaksis, kerusakan sel sperma, dianjurkan tidak merencanakan kehamilan selama
terapi 6 bulan setelahnya, mengemudi dan mengoperasikan mesin.

Interaksi:
Antikoagulan koumarin: menurunkan renspon antikoagulan kumarin. Obat penginduksi enzim hati
(barbiturat): menurunkan efektivitas griseofulvin. Kontrasepsi oral: meningkatkan risiko pendarahan
uterus, amenore, dan kegagalan kontrasepsi. Alkohol: meningkatkan efek alkohol.

Kontraindikasi:
Porfiria, kegagalan hepatoselular atau lupus eritematosus, kehamilan.

Efek Samping:
Reaksi urtikaria, ruam kulit, sakit kepala, tidak nyaman pada lambung, pusing, kelelahan,
granulositopenia, leukopenia, fotosensitivitas pada pasien, SLE, eritema multiform, nekrolisis
epidermal toksis, neuropati peripheral, kebingungan dengan gangguan koordinasi, kandidiasis oral,
kolestasis, peningkatan enzim hati, hepatitis.

Dosis:
Dewasa dan lansia, 500 mg satu kali sehari dosis tunggal atau terbagi. Anak-anak, dosis harian 10
mg/kg BB satu kali sehari dosis tunggal atau terbagi.

4. Obat-obat apa sajakah yang mampu mempengaruhi efektifitas kontrasepsi hormonal ?


bagaimanakah mekanismenya ?
5. Bagaimana hubungan hipertensi dengan kontrasepsi?
Kontrasepsi hormonal dimanfaatkan untuk mengatur kehamilan. Penelitian menunjukan
bahwa pemakaian kontrasepsi hormonal meningkatkan tromboemboli dan gangguan pembuluh
darah otak. Tekanan darah tinggi dapat terjadi pada 5% pemakaian kontrasepsi hormonal.
Tekanan darah akan meningkat secara bertahap dan bersifat tidak menetap. Jika tekanan darah
tinggi menetap setelah penggunaan kontrasepsi hormonal dihentikan, maka telah terjadi
perubahan permanen pada pembuluh darah akibat aterosklerosis. Baziard (2002) menambahkan
bahwa wanita yang memakai kontrasepsi hormonal terjadi peningkatan tekanan darah sistolik
dan diastolik terutama pada 2 tahun pertama penggunaannya. Tidak pernah ditemukan terjadi
peningkatan yang patologik, karena jika pemakaian kontrasepsi di hentikan, biasanya tekanan
darah akan kembali normal.
Tekanan darah sama atau lebih dari 140/100 mmHg , karena khasiat estrogen terhadap
pembuluh darah sehingga terjadi hipertropi arteriole dan vasokonstriksi. Estrogen mempengaruhi
sistem renin – Aldosteron-Angiotensin sehingga terjadi perubahan keseimbangan cairan dan
elektrolit.

6. Bagaimanakah hubungan menderita DM , hepatitis, FAM dengan pemilihan kontrasepsi ?


Penggunaan kontrasepsi oral terutama kontrasepsi oral kombinasi diduga dapat menyebabkan
resiko kanker payudara. Hal ini disebabkan karena estrogen didalam tubuh berlebihan yang berasal dari
eksogen, dimana bila estrogen berlebihan didalam tubuh maka merupakan faktor resiko terhadap insiden
kanker payudara. Mekanisme klasik estrogen akan berpengaruh terhadap laju
lintasan mitosis dan apoptosis serta mengejawantah menjadi risiko kanker payudara dengan
memengaruhi pertumbuhan jaringan epitelial. Laju proliferasisel yang sangat cepat akan membuat sel
menjadi rentan terhadap kesalahan genetika pada proses replikasi DNA oleh senyawa spesifik oksigen
reaktif yang teraktivasi oleh metabolitestrogen. (Chen, 2010).

Jalur Reseptor Estrogen memainkan peran penting dalam perkembangan kanker payudara.
Keikutsertaan metabolit estrogen genotoksik dan reseptor estrogen diperantaraisignaling genomik dan
non-genomik yang mempengaruhi proliferasi sel dan apoptosis pada jaringan payudara. (Ningrum, 2009)
Mekanisme jalur non genomik pada reseptor estrogen melibatkanjalur PI3K dan Ras, dimana akan
mengakibatkan posporilasi sehingga mempengaruhi proses transkripsi gen. Bila estrogen yang diproduksi
berlebihan maka akan menimbulkan efek proliferasi yang berlebihan pula.
Sedangkan mekanisme jalur genomik estrogen yang ada dalam tubuh di terima oleh reseptor
estrogen yang berada pada nukleus sehingga mempengaruhi proses transkripsi sel.
Perluasan pada kedua jalur ini memberi kontribusi pada karsinogenesis diperantarai eksogen dan
caranya, dimana polimorfisme genetik dan faktor lingkungan memodifikasi efek jalur-jalur ini
membutuhkan eksplorasi ke depannya. (Ningrum, 2009)
Selain penggunaan kontrasepsi oral kombinasi ada faktor lain yang diduga berpengaruh pada
kejadian kanker payudara yaitu FGFR2. Dimana FGFR2 adalah reseptor tirosin kinase yang terlibat dalam
sejumlah sinyal transduksi sel yang berkontribusi terhadap pertumbuhan sel dan diferensiasi sel
(Eswarakumar VP,2005). FGFR2 penting dalam pengembangan sejumlah jaringan termasuk payudara dan
ginjal. FGFR2 diduga berhubungan dengan kanker payudara Berdasarkan hasil studi diduga bahwa ada
keterkaitan antara gen FGFR2 dan kejadian kanker payudara terutama yang disertai dengan reseptor
estrogen positif dan progesteron positif. Penelitian ini melibatkan keterkaitan SNP pada intron 2 dari gen,
yang mana merupakan tempat faktor transkripsi mengikat estrogen.

7. Metode kontrasepsi apakah yang sesuai untuk ibu menyusui dan bagaimanakah fisiologinya ?
METODE AMENOREA LAKTASI (MAL)
Metode Amenorea Laktasi (MAL) atau Lactational Amenorrhea Method
(LAM) adalah metodekontrasepsi sementara yang mengandalkan pemberian Air
Susu Ibu (ASI) secara eksklusif, artinya hanya diberikan ASI saja tanpa
tambahan makanan dan minuman lainnya. Metode AmenoreaLaktasi (MAL)
atau Lactational Amenorrhea Method (LAM) dapat dikatakan sebagai
metodekeluarga berencana alamiah (KBA) atau natural family planning, apabila
tidak dikombinasikan dengan metode kontrasepsi lain.
Meskipun penelitian telah membuktikan bahwa menyusui dapat menekan
kesuburan, namun banyak wanita yang hamil lagi ketika menyusui. Oleh karena
itu, selain menggunakan MetodeAmenorea Laktasi juga harus menggunakan
metode kontrasepsi lain seperti metode
barier(diafragma, kondom, spermisida), kontrasepsi hormonal (suntik, pil
menyusui, AKBK) maupun IUD.
Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat dipakai sebagai alat kontrasepsi, apabila:
1. Menyusui secara penuh (full breast feeding), lebih efektif bila diberikan minimal
8 kali sehari.
2. Belum mendapat haid.
3. Umur bayi kurang dari 6 bulan.

Cara Kerja
Cara kerja dari Metode Amenorea Laktasi (MAL) adalah menunda atau menekan
terjadinya ovulasi. Pada saat laktasi/menyusui, hormon yang berperan
adalah prolaktin dan oksitosin. Semakin sering menyusui, maka
kadar prolaktin meningkat dan hormon gonadotrophin
melepaskan hormon penghambat (inhibitor). Hormon penghambat akan
mengurangi kadarestrogen, sehingga tidak terjadi ovulasi.

Efektifitas
Efektifitas MAL sangat tinggi sekitar 98 persen apabila digunakan secara benar
dan memenuhi persyaratan sebagai berikut: digunakan selama enam bulan
pertama setelah melahirkan, belum mendapat haid pasca
melahirkan dan menyusui secara eksklusif (tanpa memberikan makananatau
minuman tambahan). Efektifitas dari metode ini juga sangat tergantung pada
frekuensi dan intensitas menyusui.

Manfaat
Metode Amenorea Laktasi (MAL) memberikan manfaat kontrasepsi maupun
non kontrasepsi.
Manfaat Kontrasepsi
Manfaat kontrasepsi dari MAL antara lain:
1. Efektifitas tinggi (98 persen) apabila digunakan selama enam bulan pertama setela
hmelahirkan, belum mendapat haid dan menyusui eksklusif.
2. Dapat segera dimulai setelah melahirkan.
3. Tidak memerlukan prosedur khusus, alat maupun obat.
4. Tidak memerlukan pengawasan medis.
5. Tidak mengganggu senggama.
6. Mudah digunakan.
7. Tidak perlu biaya.
8. Tidak menimbulkan efek samping sistemik.
9. Tidak bertentangan dengan budaya maupun agama.
Manfaat Non Kontrasepsi
Manfaat non kontrasepsi dari MAL antara lain:

Untuk bayi
1. Mendapatkan kekebalan pasif.
2. Peningkatan gizi.
3. Mengurangi resiko penyakit menular.
4. Terhindar dari keterpaparan terhadap kontaminasi air, susu formula atau alat
minum yang dipakai.

Untuk ibu
1. Mengurangi perdarahan post partum/setelah melahirkan.
2. Membantu proses involusi uteri (uterus kembali normal).
3. Mengurangi resiko anemia.
4. Meningkatkan hubungan psikologi antara ibu dan bayi.
Keterbatasan
Metode Amenorea Laktasi (MAL) mempunyai keterbatasan antara lain:
1. Memerlukan persiapan dimulai sejak kehamilan.
2. Metode ini hanya efektif digunakan selama 6 bulan setelah melahirkan, belum
mendapat haiddan menyusui secara eksklusif.
3. Tidak melindungi dari penyakit menular seksual termasuk Hepatitis
B ataupun HIV/AIDS.
4. Tidak menjadi pilihan bagi wanita yang tidak menyusui.
5. Kesulitan dalam mempertahankan pola menyusui secara eksklusif.
Yang Dapat Menggunakan MAL
Metode Amenorea Laktasi (MAL) dapat digunakan oleh wanita yang ingin
menghindari kehamilandan memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Wanita yang menyusui secara eksklusif.
2. Ibu pasca melahirkan dan bayinya berumur kurang dari 6 bulan.
3. Wanita yang belum mendapatkan haid pasca melahirkan.
Wanita yang menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL),
harus menyusui dan memperhatikan hal-hal di bawah ini:
1. Dilakukan segera setelah melahirkan.
2. Frekuensi menyusui sering dan tanpa jadwal.
3. Pemberian ASI tanpa botol atau dot.
4. Tidak mengkonsumsi suplemen.
5. Pemberian ASI tetap dilakukan baik ketika ibu dan atau bayi sedang sakit.

Yang Tidak Dapat Menggunakan MAL


Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak dapat digunakan oleh:
1. Wanita pasca melahirkan yang sudah mendapat haid.
2. Wanita yang tidak menyusui secara eksklusif.
3. Wanita yang bekerja dan terpisah dari bayinya lebih dari 6 jam.
4. Wanita yang harus menggunakan metode kontrasepsi tambahan.
5. Wanita yang menggunakan obat yang mengubah suasana hati.
6. Wanita yang menggunakan obat-obatan jenis ergotamine, anti metabolisme,
cyclosporine, bromocriptine, obat radioaktif, lithium atau anti koagulan.
7. Bayi sudah berumur lebih dari 6 bulan.
8. Bayi yang mempunyai gangguan metabolisme.
Metode Amenorea Laktasi (MAL) tidak direkomendasikan pada kondisi ibu yang
mempunyaiHIV/AIDS positif dan TBC aktif. Namun demikian, MAL boleh
digunakan dengan pertimbangan penilaian klinis medis, tingkat keparahan kondisi
ibu, ketersediaan dan penerimaan metode kontrasepsi lain.
Keadaan yang Memerlukan Perhatian
Di bawah ini merupakan keadaan yang memerlukan perhatian dalam penggunaan
Metode Amenorea Laktasi (MAL).
Keadaan Anjuran
Ketika mulai Membantu klien memilih
pemberian makanan pendamping secara metode kontrasepsi lain dan tetap
teratur. mendukung pemberian ASI.
Ketika sudah mengalami haid. Membantu klien memilih
metode kontrasepsi lain dan tetap
mendukung pemberian ASI.
Bayi menyusu kurang dari 8 kali sehari. Membantu klien memilih
metode kontrasepsi lain dan tetap
mendukung pemberian ASI.
Bayi berumur 6 bulan atau lebih. Membantu klien memilih
metode kontrasepsi lain dan tetap
mendukung pemberian ASI.
Hal yang Harus Disampaikan Kepada Klien
Sebelum menggunakan Metode Amenorea Laktasi (MAL), klien terlebih dahulu
diberikan konseling sebagai berikut:
1. Bayi menyusu harus sesering mungkin (on demand).
2. Waktu pengosongan payudara tidak lebih dari 4 jam.
3. Bayi menyusu sampai sepuasnya (bayi akan melepas sendiri hisapannya).
4. ASI juga diberikan pada malam hari untuk mempertahankan kecukupan ASI.
5. ASI dapat disimpan dalam lemari pendingin.
6. Waktu pemberian makanan padat sebagai pendamping ASI (diberikan
pada bayi sudah berumur 6 bulan lebih).
7. Metode MAL tidak akan efektif, apabila ibu sudah memberikan makanan atau
minuman tambahan lain.
8. Ibu yang sudah mendapatkan haid setelah melahirkan dianjurkan untuk
menggunakan metodekontrasepsi lain.
9. Apabila ibu tidak menyusui secara eksklusif atau berhenti menyusui maka perlu
disarankan menggunakan metode kontrasepsi lain yang sesuai.
Hal yang perlu diperhatikan oleh ibu dalam pemakaian
Metode Amenorea Laktasi (MAL) agar amandan berhasil adalah menyusui secara
eksklusif selama 6 bulan. Untuk mendukung keberhasilanmenyusui dan MAL
maka beberapa hal penting yang perlu diketahui yaitu cara menyusui yang benar
meliputi posisi, perlekatan dan menyusui secara efektif.

Langkah-Langkah Penentuan Pemakaian KB MAL


Di bawah ini merupakan langkah-langkah menentukan dalam
menggunakan kontrasepsi MetodeAmenorea Laktasi (MAL).
8. Sebutkan dan jelaskan macam macam, indikasi, kontraindikasi, kelebihan dan kekurangan
masing2 metode kontrasepsi ?

Metode Kontrasepsi
1. Kondom
a. Indikasi
i. Pria
1. Penyakit genitalia
2. Sensitivitas penis terhadap sekret vagina
3. Ejakulasi prematur
ii. Wanita
1. Vaginitis, termasuk yang dalam pengobatan
2. Kontraindikasi terhadap kontrasepsi oral dan IUD,
sedangkan pemasangan diafragma atau kap serviks secara
anatomis atau psikologis tidak memungkinkan
3. Untuk membuktikan bahwa tidak ada semen yang
dilepaskan di dalam vagina
4. Metode temporer:
a. Belum mengadakan sanggama secara teratur
b. Selama haid
c. Selama mid siklus pada pemakaian IUD
d. Selama siklus pertama dari kontrasepsi oral dosis
rendah
e. Gagal memakai kontrasepsi oral secara benar/tepat
f. Selama periode awal post partum
g. Keengganan psikologis untuk bersentuhan dengan
semen
h. Keengganan psikologis atau religius untuk
menggunakan suatu kontraseptivum
iii. Pasangan pria dan wanita
1. Pengedalian dai pihak pria lebih diutamakan
2. Senggama yang jarang
3. Penyakit kelamin (aktif atau tersangka)
4. Herpes genitalis atau kondiloma akuminata
5. Uretritis karena sebab apapun, termasuk yang sedang dalam
terapi
6. Sistitis, diuria atau piuria sampai penyebabnya ditegakkan
7. Metode sementara sebelum menggunakan kontrasepsi oral
atau IUD
SUMBER : KB (Keluarga Berencana) & Kontrasepsi, Hanafi
b. Kontraindikasi
i. Absolut
1. Pria dengan ereksi yang tidak baik
2. Riwayat syok septik
3. Tidak bertanggung jawab secara seksual
4. Interupsi sexual foreplay menghalangi minat seksual
5. Alergi terhadap karet atau lubrikan pada partner seksual
ii. Relatif
1. Interupsi sexual foreplay yang mengganggu ekspresi seksual
SUMBER : KB (Keluarga Berencana) & Kontrasepsi, Hanafi
c. Cara kerja
i. Menghalangi terjadinya pertemuan sperma dan sel telur dengan cara
mengemas sperma di ujung selaput karet yang dipasang pada penis
sehingga sperma tersebut tidak tercurah ke dalam saluran reproduksi
perempuan
ii. Mencegah penularan mikroorganisme (IMS termasuk HBV dab
HIV/AIDS) dari satu pasangan kepada pasangan lain (khusus
kondom yang terbuat dari lateks dan vinil)
SUMBER : Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, BKKBN
d. Cara pemakaian
i. Menyarungkan pada kelamin laki-laki yang sudah tegang (keras),
dari ujung zakar (penis) sampai ke pangkalnya pada saat akan
bersenggama
ii. Sesudah selesai senggama, agar segera dikeluarkan dari liang
senggama, sebelum zakar menjadi lemas
SUMBER : Kartu Informasi Kontrasepsi dan Kesehatan Reproduksi,
BKKBN
i. Gunakan kondom setiap akan berhubungan seksual
ii. Agar efek kontrasepsinya lebih baik, tambahkan spermisida ke
dalam kondom
iii. Jangan menggunakan gigi, benda tajam pada saat membuka
kemasan
iv. Pasangkan kondom saat penis sedang ereksi, tempelkan ujungnya
pada glans penis dan tempatkan bagian penampung sperma pada
ujung uretra. Lepaskan gulungan karetnya dengan jalan
menggeser gulungan tersebut ke arah pangkal penis. Pemasangan
ini harus dilakukan sebelum penetrasi penis ke vagina
v. Bila kondom tidak mempunyai tempat penampungan sperma pada
bagian ujungnya, maka pada saat memakai, longgarkan sedikit
bagian ujungnya agar tidak terjadi robekan pada saat terjadi
ejakulasi
vi. Kondom dilepas sebelum penis melembek
vii. Pegang bagian pangkal kondom sebelum mencabut penis
sehingga kondom tidak terlepas pada saat penis dicabut dan
lepaskan kondom di luar vagina agar tidak terjadi tumpahan cairan
sperma di sekitar vagina
viii. Gunakan kondom hanya untuk satu kali pakai
ix. Buang kondom bekas pakai pada tempat yang aman
x. Sediakan kondom dalam jumlah cukup di rumah dan jangan
disimpan di tempat yang panas karena hal ini dapat menyebabkan
kondom menjadi rusak atau robek saat digunakan
xi. Jangan gunakan kondom apabila kemasannya robek atau kondom
tampak rapuh/kusut
xii. Jangan gunakan minyak goreng, minyak mineral, atau pelumas
dari bahan petrolatum karena hanya akan merusak kondom
SUMBER : Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, BKKBN
e. Efektivitas
i. Cukup efektif jika dipakai secara benar pada setiap kali
berhubungan seksual
ii. Pada beberapa pasangan, pemasangan kondom tidak efektif karena
tidak dapat dipakai secara konsisten.
iii. Secara ilmiah: angka kegagalan hanya sedikit yaitu 2-12 kehamilan
per 100 perempuan per tahun
SUMBER : Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, BKKBN

f. Efek samping
i. Alergi terhadap karet
ii. Berkurangnya sensitivitas glans penis
SUMBER : KB (Keluarga Berencana) & Kontrasepsi, Hanafi
g. Keuntungan
i. Mudah, murah didapat, tidak perlu resep dokter
ii. Mudah dipakai sendiri
iii. Dapat mencegah penularan penyakit kelamin
SUMBER : Kartu Informasi Kontrasepsi dan Kesehatan Reproduksi,
BKKBN
h. Kerugian
i. Selalu harus memakai kondom yang baru
ii. Selalu harus ada persediaan
iii. Kadang-kadang ada yang alergi terhadap karetnya
iv. Tingkat kegagalan cukup tinggi, bila terlambatnya memakainya
v. Sobek bila memakainya tergesa-gesa
vi. Mengganggu kenyamanan bersenggama
SUMBER : Buku Panduan Praktis Pelayanan Kontrasepsi, BKKBN
2. Implan/susuk
a. Jenis
i. Norplant  6 batang silastik lembut berrongga
1. Diisi levonorgestrel 36 mg
2. Lama kerja 5 tahun
ii. Implanon  1 batang putih lentur
1. Diisi 68 mg 3-keto-desogestrel
2. Lama kerja 3 tahun
iii. Jadena & indoplant  2 batang
1. Diisi 75 mg levonogestrel
2. Lama kerja 3 tahun
b. Kontraindikasi
i. Hamil atau diduga hamil
ii. Perdarahan pada vagina yang tidak diketahui sebabnya
iii. Penyakit jantung, varises, kencing manis, darah tinggi dan kanker
iv. Benjolan/kanker payudara atau riwayat kanker payudara
v. Tidak dapat menerima perubahan pola haid yang terjadi
vi. Perempuan dengan mioma uterus dan kanker payudara
c. Cara kerja
i. Lendir serviks menjadi kental
ii. Mengganggu proses pembentukkan endometrium sehingga sulit
terjadi implantasi
iii. Mengurangi transportasi sperma
iv. Menekan ovulasi
d. Cara pemakaian
Saat pemasangan yang tepat :
i. Pada saat haid
ii. 1-2 hari setelah menstruasi
e. Efektivitas
i. Sangat efektif (0,2-1 kehamilan per 100 perempuan)
f. Efek samping
i. Gangguan siklus haid
ii. Keluar bercak-bercak darah atau perdarahan yang lebih banyak
selama menstruasi
iii. Hematoma/pembengkakan dan nyeri
iv. Pusing,mual (jarang terjadi)
v. Perubahan berat badan
g. Keuntungan
i. Tidak menekan produksi ASI
ii. Praktis, efektif
iii. Tidak harus mengingat-ingat
iv. Masa pakai jangka panjang (3-5 tahun)
v. Kesuburan cepat kembali setelah pengangkatan
vi. Dapat digunakan oleh ibu yang tidak cocok dengan hormon estrogen
h. Kerugian
i. Susuk KB/implan harus dipasang dan diangkat oleh petugas
kesehatan yang terlatih
ii. Dapat menyebabkan pola haid berubah
iii. Pemakai tidak dapat menghentikan pemakaiannya sendiri
3. Suntik
a. Kontraindikasi
i. Hamil
ii. Perdarahan di vagina yang tidak tahu sebabnya
iii. Tumor
iv. Penyakit jantung, hati, darah tinggi, kencing manis
v. Sedang menyusi bayi kurang dari 6 minggu
b. Cara kerja
i. Mencegah ovulasi
ii. Mengentalkan lendir serviks sehingga menurunkan kemampuan
penetrasi sperma
iii. Menjadikan selaput lendir rahim tipis dan atrofi
iv. Menghambat transportasi gamet oleh tuba
c. Cara pemakaian
i. Depo provera disuntikkan ke dalam otot (intra muskuler) setiap 3
bulan sekali. Dengan kelonggaran batas waktu suntik, bisa diberikan
kurang 1 minggu atau lebih 1 minggu dari patokan 3 bulan.
ii. Cyclofem disuntikkan setiap 4 minggu ke dalam otot (intra
muskuler)
d. Efektivitas
i. Efektivitas sangat tinggi, dengan 0,3 kehamilan per 100
perempuan/tahun, asal penyuntikannya dilakukan secara teratur
sesuai jadwal yang telah ditentukan
e. Efek samping
i. Pusing, mual (jarang terjadi)
ii. Kadang-kadang menstruasi tidak keluar selama 3 bulan pertama
iii. Kadang-kadang terjadi perdarahan yang lebih banyak pada saat
menstruasi
iv. Keputihan
v. Perubahan berat badan
f. Keuntungan
i. Praktis, efektif, aman
ii. Tidak mempengaruhi ASI, cocok digunakan untuk ibu menyusui
iii. Tidak terbatas umur
iv. Pencegahan kehamilan jangka panjang
v. Tidak berpengaruh pada hubungan suami-istri
vi. Tidak mengandung estrogen sehingga tidak berdampak serius
terhadap penyakit jantung, dan gangguan pembekuan darah
vii. Sedikit efek samping
viii. Klien tidak perlu menyimpan obat suntik
ix. Dapat digunakan oleh perempuan usia > 35 tahun sampai
perimenopause
x. Membantu mencegah kanker endometrium dan kehamilan ektopik
xi. Menurunkan kejadian penyakit jinak payudara
xii. Menyebabkan beberapa penyakit radang panggul
xiii. Menurunkan anemia sickle cell
g. Kerugian
i. Kembalinya kesuburan agak telat
ii. Harus kembali ke tempat pelayanan
iii. Tidak dianjurkan bagi penderita kanker, darah tinggi, jantung dan
hati
iv. Terjadi gangguan haid
1. Siklus haid memendek atau memanjang
2. Perdarahan yang banyak atau sedikit
3. Perdarahan tidak teratur atau perdarahan bercak (spotting)
4. Tidak haid sama sekali
v. Tidak dapat dihentikan sewaktu-waktu sebelum suntikan berikutnya
vi. Permasalah berat badan
vii. Tidak menjamin perlindungan terhadap penularan IMS, virus
hepatitis B, atau infeksi virus HIV
viii. Terjadi perubahan lipid serum pada penggunaan jangka panjang
ix. Pada penggunaan jangka panjang dapat sedikit menurunkan
kepadatan tulang
x. Pada penggunaan jangka panjang dapat menimbulkan kekeringan
pada vagina, menurunkan libido, gangguan emosi, sakit kepala,
nervositas, jerawat
4. Pil
a. Kontraindikasi
i. Tidak dianjurkan bagi mereka yang mempunyai penyakit, seperti
hati, tumor, jantung, varises dan darah tinggi
ii. Menyusui, kecuali pil mini
iii. Pernah sakit jantung
iv. Tumor ganas
v. Perdarahan di vagina yang tidak diketahui penyebabnya
vi. Migrain/sakit kepala sebelah

i. Absolut
a. Tromboflebitis, penyakit tromboembolik, serebrovaskuler,
oklusi koroner atau riwayat pernah menderita penyakit-penyakit
tersebut
b. Gangguan fungsi hepar
c. Karsinoma payudara atau diduga
d. Neoplasma yang estrogen dependen atau diduga
e. Perdarahan genitalia abnormal yang tidak diketahui
penyebabnya
f. Kehamilan atau diduga hamil
g. Ikterus obstruktif dalam kehamilan
h. Hiperlipidemia kongenital
ii. Relatif
a. Sakit kepala
b. Hipertensi
c. Leiomyoma uteri
d. Epilepsi
e. Varises
f. Diabetes gestasional
g. Bedah eletif
h. Wanita berumur > 35 tahun
SUMBER : KB (Keluarga Berencana) dan Kontrasepsi, Hanafi
b. Cara kerja
i. Menekan sekresi gonadotropin dan sintesis steroid seks di ovarium
ii. Endometrium mengalami transformasi lebih awal sehingga
implantasi lebih sulit
iii. Mengentalkan lendir serviks sehingga menghambat penetrasi
sperma
iv. Mengubah motilitas tuba sehingga transportasi sperma terganggu

c. Cara pemakaian
i. Pil pertama diminum pada hari kelima haid, seterusnya berturut-
turut setiap satu hari satu pil
ii. Jika pemakai lupa meminumnya 1 hari maka segera minum 2 tablet
keesokkan harinya
iii. Jika lebih dari 2 hari, pemakai harus meminumnya lagi setelah haid
berikutnya, kecuali jika pemakai yakin sedang tidak hamil
d. Efektivitas
i. Sangat efektif (98,5%)
ii. Jangan sampai terlupa satu-dua tablet atau jangan sampai terjadi
gangguan gastrointestinal karena akibatnya kemungkinan terjadi
kehamilan sangat besar.
iii. Agar didapatkan kehandalan yang tinggi, maka:
1. Jangan sampai ada tablet yang lupa
2. Tablet digunakan pada jam yang sama (malam hari)
3. Sanggama sebaiknya dilakukan 3-20 jam setelah
penggunaan minipil
e. Efek samping
i. Perdarahan, terjadi bercak-bercak darah (spotting) di antara masa
haid pada awal pemakaian pil
ii. Pusing, mual pada minggu-minggu pertama pemakaian
iii. Air susu berkurang untuk yang menggunakan pil yang mengandung
estrogen
iv. Perubahan berat badan
v. Kloasma/flek
f. Keuntungan
i. Kesuburan segera kembali
ii. Mengurangi rasa kejang/nyeri perut waktu haid
iii. Terlindungi dari Penyakit Radang Panggul (PRP) dan kehamilan di
luar rahim
iv. Mudah menggunakannya
v. Mencegah anemia defisiensi besi
vi. Mengurangi risiko kanker ovarium
vii. Cocok digunakan untuk menunda kehamilan dari PUS muda
viii. Produksi ASI tidak berpengaruh untuk pil yang mengandung
progesteron
ix. Tidak mengganggu hubungan seksual
x. Nyaman dan mudah digunakan
xi. Sedikit efek samping
xii. Dapat dihentikan setiap saat
g. Kerugian
i. Pemakai harus disiplin meminum pil setiap hari. Jika tidak 
kemungkinan hamil tinggi
ii. Dapat mempengaruhi produksi ASI untuk pil yang mengandung
estrogen
iii. Dapat meningkatkan risiko infeksi klamidia di sekitar kemaluan
perempuan
iv. Tidak dianjurkan pada perempuan yang berumur di atas 35 tahun
dan perokok karena akan mempengaruhi keseimbangan
metabolisme tubuh
5. IUD
a. Kontraindikasi
i. Kehamilan
ii. Gangguan perdarahan
iii. Peradangan alat kelamin
iv. Kecurigaan kanker pada alat kelamin
v. Tumor jinak rahim
vi. Radang panggul
b. Cara kerja
i. Menghambat kemampuan sperma untuk masuk ke tuba falopii
ii. Mempengaruhi fertilisasi sebelum ovum mencapai kavum uteri
iii. Mencegah sperma dan ovum bertemu,walaupun AKDR membuat
sperma sulit masuk ke dalam alat reproduksi perempuan dan
mengurangi kemampuan sperma untuk fertilisasi
iv. Memungkinkan untuk mencegah implantasi telur dalam uterus
c. Cara pemakaian
i. Dipasang pada saat haid pemakai menjelang berakhir
ii. Setiap waktu dalam siklus haid, yang dipastikan klien tidak hamil
iii. Hari pertama sampai hari ketujuh siklus haid
iv. Segera setelah melahirkan, selama 48 jam pertama atau setelah 4
minggu pasca persalinan; setelah 6 bulan apabila menggunakan
metode amenorea laktasi. Tetapi angka ekspulsi tinggi pada
pemasangan segera atau selama 48 jam pasca persalinan
v. Setelah menderita abortus (segera atau dalam waktu 7 hari) apabila
tidak ada gejala infeksi
vi. Selama 1 sampai 5 hari setelah sanggama yang tidak dilindungi
d. Efektivitas
i. Dinyatakan dalam angka kontinuitas, yaitu berapa lama IUD tetap
tinggal in utero tanpa:
1. Ekspulsi spontan
2. Terjadinya kehamilan
3. Pengangkatan/pengeluaran karena alasan medis atau pribadi
ii. Efektivitas tergantung pada:
1. IUD
a. Ukuran
b. Bentuk
c. Mengandung Cu atau progesteron
2. Akseptor
a. Umur
b. Paritas
c. Frekuensi senggama
iii. Dari faktor senggama dan paritas
1. Makin tua usia, makin rendah angka kehamilan, ekspulsi dan
pengangkatan IUD
2. Makin muda usia, makin tinggi angka ekspulsi dan
pengangkatan IUD
iv. Makan use-effectiveness IUD tergantung dari variabel administratif,
pasien dan medis.
e. Efek samping
i. Terjadi perdarahan yang lebih banyak dan lebih lama pada masa
menstruasi
ii. Keluar bercak-bercak darah (spotting) setelah 1 atau 2 hari
pemasangan
iii. Nyeri selama menstruasi
iv. Keputihan
f. Keuntungan
i. Praktis dan ekonomis
ii. Efektivitas tinggi (angka kegagalan kecil)
iii. Kesuburan segera kembali jika dibuka
iv. Tidak harus mengingat seperti kontrasepsi pil
v. Tidak mengganggu pemberian ASI
g. Kerugian
i. Dapat keluar sendiri jika ukuran IUD tidak sesuai dengan ukuran
rahim pemakai
6. Tubektomi
a. Kontraindikasi
i. Penyakit jantung
ii. Penyakit paru-paru
iii. Hernia diafragmatika
iv. Hernia umbilikalis
v. Peritonitis akut
b. Cara kerja
Dengan mengoklusi tuba falopii (dengan mengikat dan memotong atau
memasang cincin) sehingga sperma tidak dapat bertemu dengan ovum
c. Cara pemakaian
i. Dilakukan setiap waktu selama siklus menstruasi apabila diyakini
secara rasional klien tersebut tidak hamil
ii. Hari keenam hingga ke-13 dari siklus menstruasi (fase proliferasi)
iii. Pasca persalinan
1. Minilap : di dalam waktu 2 hari atau setelah 6 minggu
atau 12 minggu
2. Laparoskopi : tidak tepat untuk klien pasca persalinan
iv. Pasca keguguran
1. Triwulan pertama : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak ada
bukti infeksi pelvik
2. Triwulan kedua : dalam waktu 7 hari sepanjang tidak
ada bukti infeksi pelvik
d. Efektivitas
i. Angka kegagalan 0,2-0,8 per 100 wanita
ii. Sebab kegagalan
1. Wanita sudah hamil saat dilakukan operasi
2. Kesalahan pembedahan
3. Reanastomosis
4. Fistula tuba
e. Efek samping
i. Infeksi luka pasca operasi
ii. Perdarahan sedikit/hematoma subkutis
iii. Perforasi uterus saat manipulasi uterus
iv. Perforasi kandung kencing
v. Rasa sakit
f. Keuntungan
i. Efektivitas langsung setelah sterilisasi
ii. Permanen
iii. Tidak ada efek samping jangka panjang
iv. Tidak mengganggu hubungan seksual
g. Kerugian
i. Ada risiko dan efek samping bedah
ii. Harus dipertimbangkan sifat permanen metode ini (tidak dapat
dipulihkan kembali), kecuali denga operasi rekanalisasi
iii. Dapat menyesal di kemudian hari
iv. Risiko komplikasi kecil (meningkat apabila digunakan anestesi
umum)
v. Rasa sakit/ketidaknyamanan dalam jangka pendek setelah tindakan
vi. Dilakukan oleh dokter yang terlatih
vii. Tidak melindungi diri dari IMS, HBV dan HIV/AIDS
7. Vasektomi
a. Kontraindikasi
i. Peradangan kulit atau jamur di daerah kemaluan
ii. Peradangan pada alat kelamin pria
iii. Penyakit kencing manis
iv. Kelainan mekanisme pembekuan darah

b. Cara kerja
Menghalangi transportasi spermatozoa/jalannya sel mani pria sehingga
tidak dapat membuahi sel telur
c. Efektivitas
i. Angka kegagalan 0-2,2 %, umumnya < 1%
ii. Kegagalan biasanya karena:
1. Sanggama yang tidak terlindung sebelum semen bebas sama
sekali dari spermatozoa
2. Rekanalisasi spontan dari vas deferens, umumnya terjadi
setelah pembentukan granuloma spermatozoa
3. Pemotongan dan oklusi struktur jaringan lain selama operasi
4. Jarang: duplikasi kongenital dari vas deferens
d. Efek samping
i. Timbul rasa nyeri
ii. Abses pada bekas luka
iii. Hematoma kantung biji zakar karena perdarahan
e. Keuntungan
i. Tidak ada mortalitas
ii. Morbiditas sangat kecil
iii. Pasien tidak perlu dirawat di rumah sakit
iv. Tidak mengganggu hubungan seksual
v. Tidak ada risiko kesehatan
vi. Tidak harus diingat-ingat, tidak harus selalu ada persediaan
vii. Sifatnya permanen
f. Kerugian
i. Harus dengan tindakan pembedahan
ii. Harus memakai kontrasepsi lain (kondom) selama beberapa hari
atau minggu sampai sel mani menjadi negatif
iii. Tidak dapat dilakukan pada orang yang masih ingin mempunyai
anak lagi

Perbandingan Metode Kontrasepsi

No. Metode Keuntungan Efek samping Pertimbangan Lain

1 Metode Hormonal

a Kontrasepsi Oral Harus diminum setiap Menstruasi Wanita yang


hari. (perdarahan) tidak berusia di atas 35
teratur selama tahun dan perokok
beberapa bulan tidak dianjurkan
pertama. menggunakan
kontrasepsi oral.

Untuk kontrasepsi oral Mual, perut Beberapa


kombinasi kembung, retensi gangguan juga
(mengandung estrogen cairan, peningkatan dapat mengurangi
dan progestin), seorang tekanan darah, penggunaannya.
wanita mengkonsumsi nyeri payudara,
pil aktif setiap hari migrain, sakit
selama 3 pekan, kepala,
kemudian diikuti pertambahan berat
dengan minum tablet badan, jerawat,
inaktif selama 1 pekan. dan gelisah.

Untuk kontrasepsi oral Meningkatkan Wanita yang


yang hanya resiko terjadinya menggunakan
mengandung progestin penyumbatan kontrasepsi oral,
pembuluh darah & lebih jarang
saja maka pil diminum kemungkinan mendapat kram
setiap hari. kanker leher rahim perut saat haid,

Kunjungan ke dokter Peningkatan risiko Jerawat,


dilakukan secara bekuan darah dan perdarahan tak

periodik untuk kemungkinan teratur,

mengulangi resep kanker serviks kemungkinan


terkena
osteoporosis,
serta resiko
mendapat
beberapa jenis
kanker tertentu.

b Implan Kontrasepsi implan Menstruasi tidak Larangan sama


hanya perlu dipasang 1 teratur selama seperti
kali untuk pemakaian tahun pertama penggunaan
selama 3 tahun. Implan pemakaian. kontrasepsi oral.
dipasang oleh seorang Sakit kepala dan Diperlukan
dokter. penambahan berat torehan untuk
badan. mengeluarkan
implan

c Koyo kontrasepsi/ Wanita menggunakan Efek samping sama Larangan sama


koyo KB patch kontrasepsi dengan kontrasepsi seperti
(berbentuk seperti oral, namun jarang penggunaan
koyo) untuk ditemukan adanya kontrasepsi oral.
penggunaan selama 3 perdarahan tidak
minggu. 1 minggu teratur.
berikutnya tidak perlu
menggunakan koyo KB.
Kunjungan ke dokter
dilakukan secara
periodik untuk
memperbarui resep.

d Cincin vagina Wanita memasukkan Efek samping mirip Larangan sama


cincin setiap 3 minggu dengan kontrasepsi seperti pada
sekali. Kemudian selama oral, namun jarang penggunaan
1 minggu cincin vagina ditemukan kontrasepsi oral.
dilepaskan. Cincin yang perdarahan tidak Pada minggu-
baru digunakan untuk teratur. minggu awal
pemakaian 1 bulan pemakaian, perlu
digunakan metode
kontrasepsi lain
sebagai cadangan.

Cincin vagina
dapat Keluar
dengan
sendirinya.
Apabila cincin
dimasukkan
kembali dalam
waktu kurang dari
3 jam (setelah
keluar dengan
tidak sengaja)
maka metode
kontrasepsi
cadangan tidak
perlu digunakan.

e Injeksi Injeksi diberikan oleh Terjadi perdarahan Metode ini


Medroxyprogesterone dokter setiap 3 bulan. tidak teratur mengurangi risiko
(seiring waktu, terjadinya kanker
perdarahan makin rahim
jarang terjadi) atau (endometrial),
tidak menstruasi penyakit radang
sama sekali saat panggul, dan
kontrasepsi injeksi anemia karena
digunakan. kekurangan zat

Sedikit kenaikan besi.


berat badan, sakit
kepala, dan
kehilangan
kepadatan tulang
secara sementara

2 Metode barrier (penghalang)

a Kondom Pria menggunakan Reaksi alergi dan Kondom lateks


kondom segera sebelum iritasi memberi
melakukan hubungan perlindungan
seksual dan terhadap penyakit
membuangnya setiap yang ditularkan
habis digunakan. lewat hubungan
seksual.

Kondom banyak Kondom harus di


tersedia di toko obat gunakan secara
bebas. benar. Agar
efektif, metode ini
memerlukan
kerjasama dari
pasangan.

b Diafragma dengan Diafragma dapat Reaksi alergi, iritasi Setelah diafragma


krim atau gel digunakan oleh wanita & infeksi saluran dipasang, krim
kontrasepsi sebelum melakukan kemih atau gel tambahan
hubungan seksual. perlu dimasukkan
Kemudian didiamkan sebelum
(dibiarkan) selama 24 melakukan
jam. hubungan

Penentuan ukuran seksual.

diafragma yang sesuai


dilakukan oleh dokter
(setidaknya setahun
sekali).

Diafragma yang
menggunakan krim atau
gel kontrasepsi dapat
menyebabkan
penempatan diafragma
menjadi berantakan.

c Spons kontrasepsi Spons kontrasepsi dapat Reaksi alergi dan Spons dapat sulit
dimasukkan sebelum kekeringan pada untuk dikeluarkan.
melakukan hubungan vagina atau iritasi Spons harus
seksual. Spons dapat dikeluarkan dalam
dimasukkan kemudian setelah 30 jam.
dan dapat efektif selama
24 jam. Spons dibuang
setiap habis digunakan.

Spons kontrasepsi
tersedia di toko obat
bebas

3 Metode lain

a Intrauterine device IUD/ AKDR hanya perlu Perdarahan dan Kadangkala IUD /
(IUD)/ Alat dipasang setiap 5-10 rasa nyeri. AKDR dapat
kontrasepsi dalam tahun sekali, tergantung Perforasi rahim terlepas.
rahim (AKDR) dari tipe alat yang (jarang sekali).
digunakan. Alat
tersebut harus dipasang
atau dilepas oleh
dokter.

b KB alami metode Wanita memeriksa suhu Tidak ada. Metode ini


ritmik tubuh, lendir vagina dan memerlukan
gejala lain atau ketekunan wanita
kombinasi dari dan hubungan
ketiganya hampir setiap seksual tidak
hari. dilakukan selama
beberapa hari
dalam sebulan.

Metode ini kurang


efektif bagi wanita
yang mempunyai
siklus mentruasi
tidak teratur
c Sanggama terputus Pria menarik keluar tidak ada Metode ini tidak
penisnya dari vagina dapat diandalkan
sebelum terjadi karena sperma
ejakulasi. bisa saja keluar

Sangat diperlukan sebelum terjadi

pengendalian diri dan ejakulasi

pengaturan waktu yang


tepat.

9. Apakah efek samping yang dapat terjadi pada pemakaian metode kontrasepsi ? dan bagaimana
efek samping masing2 metode kontrasespsi ?

Efek Samping

Efek Samping Minor

Gangguan Pendarahan

Efek samping yang paling umum dan menyebabkan penghentian pil oral kombinasi yaitu pola
pendarahan yang tidak dapat diterima. Termasuk amenorea jika wanita belum diperingatkan. Dosis
rendah progestogen tunggal (pil dan implan) berhubungan berhubungan dengan tingginya insidensi
pendarahan vagina yang tidak teratur. Hal ini disebabkan progestogen berpengaruh terhadap fungsi
ovarium. Pada siklus ovulasi yang normal ditandai dengan adanya haid. Ketidakkonsistenan ovulasi dan
fluktuasi produksi estrogen endogen dari pertumbuhan folikel menjadikan perdarahan yang tidak
teratur. Namun, ada juga bukti yang menunjukkan bahwa metode progestogen hanya secara langsung
mempengaruhi vaskularisasi dari endometrium dalam meningkatkan kemungkinan terjadinya
perdarahan.Pola pendarahan yang berbeda didapatkan sesuai dengan dosis dari progestogen dan cara
pemberian obat.

Kista Folikuler Persisten

Efek dari pil kontrasepsi oral pada aktivitas ovarium juga menyebabkan insidensi kista ovarium
fungsional, atau lebih akurat sebagai folikel persisten. Telah ditaksir bahwa satu dari lima wanita yang
menggunakan pil oral progestogen tunggal akan mendapatkan “kista” yang ditunjukkan oleh USG.
Biasanya asimtomatis, folikel yang persisten dapat menyebabkan nyeri abdomen atau dispareunia.
Sebagian gejala ini akan hilang dengan kembalinya menstruasi sehingga pengobatannya hanya bersifat
konservatif saja.
Efek Samping Serius

Disebabkan metode kontrasepsi progestogen tunggal lebih jarang digunakan daripada pil kombinasi,
data dalam penggunaan yang lama juga sedikit. Follow up jangka panjang (5 tahun) lebih dari 16.000
wanita yang menggunakan Norplant (implant) dilaporkan tidak menunjukkan masalah kesehatan seperti
penyakit kardiovaskuler dan neoplasia.

Penyakit Kardiovaskuler

Tidak terdapat bukti terjadinya peningkatan resiko stroke, miokard infark atau tromboemboli vena yang
berhubungan dengan pil kontrasepsi oral. Hubungan antara tromboemboli vena dan progestogen yang
digunakan untuk pengobatan kondisi ginekologi seperti perdarahan uterus disfungsi yang anovulatoar
yang sering diobati oleh pil kontrasepsi oral yang akhirnya menjadi kontraindikasi bila diberikan dengan
faktor resiko tromboemboli vena.

Penyakit Keganasan

Depo-Provera® memberikan proteksi yang tinggi terhadap karsinoma endometrium namun secara
teoritis juga melindungi kanker ovarium namun belum ada data yang mendukung hal ini. Tidak terdapat
data pada resiko kanker serviks meskipun seluruh kontrasepsi hormonal mempunyai peran dalam
menjadikan kanker serviks. Penggunaan kontrasepsi progestogen tunggal selama 5 tahun dihubungkan
dengan peningkatan resiko kanker payudara sebesar 1,17% secara signifikan.

Kepadatan Tulang

Inhibisi ovulasi komplit oleh Depo-Provera® menyebabkan hipoestrogenisme dan amenorea.


Hipoestrogenisme berhubungan dengan penurunan kepadatan tulang. Ini didapatkan dari studi
penggunaan Depo-Provera® yang berhubungan dengan pengurangan kepadatan tulang dibandingkan
dengan yang bukan pengguna. Ini dapat mempengaruhi anak perempuan yang belum mencapai puncak
dari massa tulang. Hasil dari studi cross sectional terbatas dan tidak konsisten, meskipun begitu, 2 buah
studi prospektif telah melaporkan adanya penurunan densitas tulang pada pengguna Depo-
Provera® lebih dari 2 tahun berusia antara 12 sampai 21 tahun dibandingkan dengan kontrasepsi non
hormonal.

Kontrasepsi Darurat

Banyak wanita datang untuk perawatan kontrasepsi, namun juga terdapatwanita yang berhubungan
tanpa menggunakan pelindung, atau dalam beberapa keadaan seperti pemerkosaan. Dalam situasi ini,
terdapat beberapa metode secara substansial dapat menurunkan kemungkinan terjadinya kehamilan
yang tidak diinginkan bila digunakan dengan benar. Metode kontrasepsi darurat tersebut termasuk pil
oral kombinasi, produk progestin tunggal, IUD yang mengandung tembaga, dan mifepristone. Namun
yang menggunakan hormon adalah pil oral kombinasi dan pil berisi progestin tunggal.
Kombinasi estrogen-progestin

Untuk alasan yang dibahas di atas, ini juga dikenal sebagai metode Yuzpe. Jumlah minimal dari 100 g
ethinyl estradiol dan 0,5 mg levonorgestrel diberikan. Disetujui oleh FDA, produk yang mengandung
estrogen dan progesteron dan menjadi alat kontrasepsi pencegahan sebagai kontrasepsi darurat.
Rejimen pil oral kombinasi ini lebih efektif, jika lebih cepat diminum setelah hubungan seksual tanpa
kondom. Dosis pertama diminum idealnya dalam 72 jam setelah berhubungan seksual, tetapi bisa
diberikan hingga 120 jam. Dosis kedua diminum 12 jam kemudian setelah dosis pertama. Regimen
kontrasepsi hormonal darurat sangat efektif dan dapat mengurangi risiko kehamilan sampai 94 persen.

Mual dan muntah adalah masalah utama karena estrogen dosis tinggi. Untuk alasan ini, antiemetik oral
dapat diminum 1 jam sebelum dosis masing-masing. Pengobatan oral awal dengan meclizine 50 mg atau
dengan 10 mg metoklopramid efektif menurunkan mual (Ragan dan rekan, 2003; Raymond dan rekan,
2000). Jika seorang wanita muntah dalam waktu 2 jam setelah meminum obat, dosis harus diulang lagi.

Sediaan Progestin Tunggal

Sediaan ini memiliki 2 sediaan tablet, masing-masing mengandung 0,75 mg levonorgestrel. Dosis
pertama harus diminum dalam 72 jam setelah berhubungan tanpa pelindung namun dapat
ditangguhkan sampai 120 jam kemudian. Dosis kedua dapat diminum 12 jam kemudian,
walaupun interval 24 jam diantara dosis juga masih efektif. Mekanisme utama ialah menghambat
ovulasi. Mekanisme lainnya ialah mempengaruhi endometrium, penetrasi sperma dan motilitas tuba.

10. Bagaimana mekanisme penatalaksanaan efek samping meotde KB ?