Anda di halaman 1dari 9

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

PENGARUH PERAN AUDIT INTERNAL TERHADAP PENCEGAHAN FRAUD ( Studi Kasus Pada PT. Tolan Tiga Indonesia)

Suginam

Dosen Tetap STMIK Budidarma Medan Jl. Sisingamangaraja No. 338 Simpang limun Medan http\\ stmik-budidarma.ac.id// Email: Suginam.icha@gmail.com

ABSTRAK

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui unsur-unsur adanya perbuatan yang melanggar hukum, dilakukan oleh orang dalam dan dari luar organisasi, untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok, dan secara langsung maupun tidak langsung merugikan pihak lain Tempat penelitian ini di Head Office PT. Tolan Tiga Indonesia yang beralamat di Gedung BANK SUMUT Jalan Imam Bonjol No. 18 Lantai 7 Medan.Variabel independen dan dependen dalam penelitian ini adalah internal audit dan fraud. Kondisi ini memperlihatkan bahwa internal Audit perusahaan sangat memiliki peran yang besar di dalam perusahaan untuk mengendalikan dan mengevaluasi aktivitas kegiatan perusahaan terutama dalam pencegahan fraud. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa

Kata kunci : fraud, internal audit

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang masalah

The Institute of Internal Auditor (IIA), The American Institute of Certified Public Accountants (AICPA), dan Association of Certified Examiner (ACFE) mendefinisikan Fraud dalam buku Managing the Business Risks of Fraud: A Practical Guide(2006) sebagai berikut : Fraud is any intentional act or omission designed to deceive others, resulting in the victim suffering a loss and/or the perpetrator achieving a gain. Menurut kamus Inggris-Indonesia terbitan Gramedia Pustaka (Echols, 2002), fraud diterjemahkan sebagai penipuan, kecurangan atau penggelapan.Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka (2005), Kecurangan berarti ketidakjujuran dan keculasan.Sehingga dapat diperoleh kesimpulan bahwa fraud memiliki unsur-unsur adanya perbuatan yang melanggar hukum, dilakukan oleh orang dalam dan dari luar organisasi, untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok, dan secara langsung maupun tidak langsung merugikan pihak lain Fraud di beberapa negara berkembang pada saat ini semakin parah baik secara kualitas maupun kuantitas. Fraud yang terjadi dimana-mana dan tidak diskriminatif dalam kejadiannya ini membuat tidak ada organisasi yang kebal terhadapnya, sementara masih banyak organisasi perusahaan yang terjebak dengan pola pikir “tidak bisa terjadi disini” sehingga memicu diperlukannya suatu sistem dan langkah pencegahan dan pendeteksian fraud yang dapat secara efektif mengurangi kemungkinan menurunnya laba dan dampak potensial kerugiandan kebangkrutan perusahaan. Menurut Karyono (2013), pencegahan fraud adalah merupakan segala daya dan upaya untuk

menangkal pelaku potensial, mempersempit ruang gerak, dan mengidentifikasi kegiatan yang beresiko tinggi terjadinya fraud.Peran utama pencegahanfraud terletak pada pimpinan organisasi baik pada pimpinan tertinggi maupun pada setiap lini organisasi. Tindakan dari Komite Audit, Audit Internal yang juga menerapkan praktik professional akuntansi forensik / audit forensic dan audit investigasi di dalam penugasannya,dan peningkatan Pengendalian Intern (COSO, 2013) yang terdiri dari 5 (lima) elemen yaitu Lingkungan Pengendalian (Control Environment), Penaksiran Resiko (Risk Assesment), Aktivitas Pengendalian (Control Activities), Informasi dan Komunikasi (Information and Communication), dan Pemantauan (Monitoring)yang pengawasannya dijalankan oleh Audit Internal telah dengan baik dijalankan yakni salah satunya dengan pemberian hukuman dan perbaikan prosedur kerja dan aturan kebijakanyang merupakan bagian dari tindak lanjut atas tindakan yang disarankan oleh komite audit (Suggested Action by Committee) atas inisiasi dari Audit Internal. Seiring dengan semakin berkembangnya perusahaan, maka kegiatan dan masalah yang dihadapi perusahaan akan semakin kompleks sehingga semakin sulit untuk mengawasi seluruh kegiatan dan operasi perusahaan, dimana semakin besar kemungkinan untuk terjadinya fraud. Masalah-masalah fraud yang muncul dalam perusahaan merupakan tanda bahwa terdapat fungsi di dalam perusahaanyang tidak dilaksanakan secara taat dan konsisten, dampaknya tata kelola perusahaan menjadi tidak sehat.Mengatasi hal ini, yang harus diberdayakan secara konsisten adalah peran audit internal yang dapat memicu terlaksananya pengendalian risiko manajemen, sistem pengendalian intern, dan komite audit yang

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

mempunyai peran penting dalam berbagai aspek organisasiyang termasuk di dalamnya adalah pencegahan fraud.Audit internal harus memiliki jumlah dan kualitas sumber daya manusia yang cukup dan memiliki kompetensi yang memadai. Keberadaan sebuah mekanisme yang dapat membantu memastikan efektivitas pengawasan dalam proses operasional juga merupakan faktor penting dalam masalah ini. Pembentukan komite audit dan juga fungsi audit internal diharapkan mampu meningkatkan fungsi pengawasan tersebut, sebab kedua fungsi ini termasuk ke dalam pilar struktur tata kelola, di samping pilar lainnya seperti dewan komisaris, dewan direksi, manajemen senior, auditor eksternal, dan shareholder. Komite Audit dibentuk dalam rangka mengoptimalkan kinerja dewan komisaris. Dengan adanya pengawasan yang optimal dari dewan komisaris akan membantu mengelola perusahaan dengan efisien dan efektif sesuai dengan aturan dan perundangan yang berlaku. Fungsi audit internal, sebab keberadaan fungsi ini diharapkan dapat menciptakan mekanisme pengawasan terutama untuk memastikan bahwa sumberdaya yang ada dalam perusahaan telah digunakan secara ekonomis dan efektif dan pengendalian intern dapat memberikan kepastian lebih besar bahwa informasi yang dihasilkan dapat dipercaya. Audit internal juga dapat menjadi barometer standar perilaku di dalam organisasi melalui aktivitas pengawasan yang dilakukan secara berkesinambungan, yang mendorong terciptanya iklim kerja yang efisien.Audit internal menjadi sebuah fungsi yang berperan aktif sebagai mitra manajemen dalam pencegahan fraud. Jones dan Bates (1990) dalam Firma Sulistyawati (2003) menyatakan bahwa auditorharus mewaspadai terhadap penipuan, dan mengambil langkah segera untukmengivestigasi kecurigaannya. Dalam bagian lain Sulistiyawati (2003) juga menyatakanjika Fraud auditor dapat bekerja dengan baik maka tindakan Kecurangan (Fraud) dapatdikurangi bahkan diberantas, sehingga akan terwujud Tata Kelola Perusahaan. Dalam pelaksanaan pengendalian dapat dilakukan secara langsung oleh anggota perusahaan dan dapat pula dilakukan oleh suatu departemen audit internal. Pihak manajemen dapat membentuk suatu departemen audit intern yang diberi wewenang untuk

perusahaan publik maupun privat. Audit internal membantu organisasi untuk mencapai tujuannya, melalui suatu pendekatan yang sistematis dan teratur untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas pengelolaan resiko, pengendalian dan proses tata kelola perusahaan. Peran audit internal akan semakin dapat diandalkan dalam mengembangkan dan menjaga efektivitas sistem pengendalian internal, pengelolaan resiko dan tata kelola perusahaan yang baikguna menopang terwujudnya suatu perusahaan yang sehat. Suatu mekanisme dalam sistem pengendalian internal merupakan salah satu sarana utama untuk dapat memastikan bahwa pengelolaan perusahaan telah dilaksanakan sesuai dengan prinsip-prinsip yang baik.Perubahan yang terjadi pada lingkungan bisnis dan era globalisasi menuntut dikembangkannya suatu sistem dan paradigma baru dalam pengelolaan bisnis dan industri. Cattrysse (2002) mengatakan bahwa tindakan Fraud dapat diminimumkan denganpenerapan corporate governance, juga ECIIA (1999) dan Cattrysse (2002) menyatakanbahwa Auditor Internal yang baik dapat mencegah Kecurangan. Dibagian lain Cattrysse(2002) menyatakan secara umum ada tiga alat pencegahan Kecurangan yaitu: Tata KelolaPerusahaan, pimpinan organisasi yang baik (bersih), dan penerapan PengendalianInternal. PT. Tolan Tiga Indonesia Medan merupakan salah satu perusahaan yang wilayah kerjanya menyebar di Propinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Bengkulu, dan Jawa Barat memiliki banyak pihak yang berkepentingan terhadap perusahaan yang dikenal sebagai stakeholders perusahaan. Hal ini membuat manajemen PT. Tolan Tiga Indonesia Medan menyadari pentingnya peran audit internal yang baik guna membantu perusahaan dalam mencegah adanya fraud. Berdasarkan best practice dan uraian di atas, ditekankan bahwa penelitian ini memiliki perbedaan dengan penelitian sebelumnya dikarenakan pengambilan sudut pandang dari segi studi kasus pada perusahaan dengan jenis private company, sehingga bisa menyentuh kepada hal-hal yang lebih teknis.Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Peran Audit Internal terhadap Pencegahan Fraud (Studi Kasus Pada PT. Tolan Tiga Indonesia)”.

melakukan pengawasan dan penilaian terhadap

2.

LANDASAN TEORI

pengendalian intern perusahaan. Sistem pengendalian

2.1

Fraud

intern dimaksudkan untuk melindungi harta milik perusahaan, menilai kecermatan dan keandalan data pelaporan, meningkatkan efektifitas dan efisiensi operasional perusahaan dan mendorong ditaatinya aturan dan kebijaksanaan manajemen yang telah ditetapkan.Audit internal modern menyediakan jasa- jasa yang mencakup pemeriksaan dan penilaian kontrol, kinerja, resiko, dan tata kelola (governance)

Korupsi merupakan istilah umum yang lazim digunakan di khalayak ramai ataupun ruang publik di Indonesia untuk menggambarkan fraud, yaitu tindakan merugikan orang lain dengan cara-cara yang tidak jujur dengan tujuan mengambil keuntungan untuk diri pribadi maupun kelompok dan golongannya. Hal ini dianggap kurang tepat karena sejatinya korupsi adalah salah satu bagian cabang dari fraud di dalam Fraud

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

Tree menurut Association of Certified Examiner (ACFE). Menurut kamus Inggris-Indonesia, fraud diterjemahkan sebagai penipuan, kecurangan atau penggelapan.Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia terbitan Balai Pustaka, Kecurangan berarti ketidakjujuran dan keculasan. Banyak pakar dan organisasi profesi memberikan definisi fraud yang sedikit berbeda karena cara melakukan fraud juga berbeda, sehingga definisi fraud juga berbeda. Meskipun demikian, berbagai definisi fraud tersebut secara prinsip tidak berbeda. Definisi fraud lebih ditekankan pada konsekuensi hokum seperti penggelapan, pencurian dengan tipu muslihat, penyalahgunaan wewenang, kecurangan laporan keuangan, dan bentuk kecurangan lain yang dapat merugikan orang lain dan menguntungkan pelakunya. Association of Certified Examiner (ACFE) mendefinisikan Fraud dalam Fraud Examiners Manual 2006 sebagai berikut :

Fraud is an intentional untruth or dishonest scheme used to take deliberate and unfair advantage of another person or group of person it include any mean, such cheat another.

fraud juga dapat diistilahkan sebagai kecurangan yang mengandung makana suatu penyimpangan dan perbuatan melanggar hukum yang dilakukan dengan sengaja untuk tujuan tertentu misalnya menipu atau memberikan gambaran keliru (mislead) kepada pihak-pihak lain, yang dilakukan oleh orang-orang baik dari dalam maupun dari luar organisasi. Kecurangan dirancang untuk mendapatkan keuntungan baik pribadi maupun kelompok golongan yang memanfaatkan peluang-peluang secara tidak jujur, yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan pihak lain. Sehingga dapat diperoleh kesimpulan bahwa fraud memiliki unsur-unsur adanya perbuatan yang melanggar hokum, dilakukan oleh orang dalam dan dari luar organisasi, untuk mendapatkan keuntungan pribadi atau kelompok, dan secara langsung maupun tidak langsung merugikan pihak lain.

2.2 Gejala dan Penyebab Fraud

Pelaku fraud dapat diklasifikasikan ke dalam dua kelompok, yaitu manajemen dan pegawai karyawan.Fraud yang dilakukan oleh manajemen umumnya lebih sulit ditemukan dibandingkan dengan yang dilakukan oleh pegawai karyawan.Oleh karena itu, perlu diketahui gejala yang menunjukkan adanya fraud tersebut.

1. Gejala fraud manajemen :

a. Ketidak cocokan di antara manajemen puncak

b.

Moral dan motivasi karyawan rendah

c. Tingkat complain yang tinggi terhadap

perusahaan dari pihak konsumen, pemasok, atau badan otoritas

d. Terdapat kelebihan persediaan yang

signifikan

e. Dan lain-lain

2. Gejala fraud pegawai :

a. Pengeluaran tanpa dokumen pendukung

b. Kekurangan barang yang diterima

c. Kemahalan barang yang dibeli

d. Faktur ganda dan penggantian mutu barang

e. Penghancuran, penghilangan, pengrusakan dokumen pendukung pembayaran

f. Dan lain-lain Penelitian tradisional tentang fraud dilakukan pertama kali oleh Dr. Donald Cressey pada tahun 1950 salah seorang pendiri ACFE, yang menimbulkan pertanyaan mengapa fraud dapat terjadi.Hasil dari penelitian itu memunculkan factor-faktor pemicu fraud yang saat ini dikenal dengan “Fraud Triangle”.Dalam teori Fraud Triangle, perilaku fraud didukung oleh tiga unsur yaitu adanya tekanan, kesempatan, dan pembenaran. Tiga unsur itu digambarkan dalam segitiga sama sisi karena bobot/derajat ketiga unsur itu sama.

1.

Tekanan, ialah dorongan untuk melakukan fraud yang terjadi pada karyawan (employee fraud) dan oleh manajer (management fraud) antara lain karena tekanan keuangan, kebiasaan buruk, lingkungan kerja, dan keluarga.

2.

Kesempatan, timbul terutama karena lemahnya pengendalian intern untuk mencegah dan mendeteksi kecurangan. Kesempatan juga bisa timbul karena lemahnya sanksi, dan ketidak mampuan menilai kualitas kinerja.

3.

Pembenaran, antara lain karena pelaku menganggap bahwa yang dilakukan sudah merupakan hal yang biasa/wajar dilakukan oleh orang lain pula. Pelaku merasa berjasa besar terhadap perusahaandan seharusnya ia menerima lebih banyak dari yang seharusnya diterimanya. Pelaku menganggap tujuannya baik untuk mengatasi masalah, nanti akan dikembalikan.

2.3

Pengertian Audit Internal

Audit internal merupakan pengawasan manajerial yang fungsinya mengukur dan mengevaluasi sistem pengendalian dengan tujuan membantu semua anggota manajemen dalam mengelola secara efektif pertanggungjawabannya dengan cara menyediakan analisis, penilaian, rekomendasi, dan komentar- komentar yang berhubungan dengan kegiatan-kegiatan yang ditelaah. Ikatan Auditor Internal (Institute of Internal Auditors IIA) dikutip oleh Messier (2005:

514), mendefinisikan audit internal sebagai berikut :

Audit intern adalah aktivitas independen, keyakinan obyektif, dan konsultasi yang dirancang untuk menambah nilai dan meningkatkan operasi organisasi. Audit intern ini membantu organisasi

Pengaruh peran audit internal terhadap pencegahan fraud ( studi kasus pada pt. Tolan tiga indonesia) oleh : Suginam

25

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

mencapai tujuannya dengan melakukan pendekatan sistematis dan disiplin untuk mengevaluasi dan meningkatkan efektivitas manajemen resiko, pengendalian, dan proses tata kelola. Definisi ini mengandung pengertian bahwa audit intern merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk membantu manajemen dalam penyediaan informasi, dengan tujuan akhir yaitu menambah nilai perusahaan. Pelaksanaan audit intern dilakukan secara independen dan obyektif yang berarti tidak terpengaruh oleh pihak manapun dan tidak terlibat dalam pelaksanaan kegiatan yang diaudit. Hasil audit yang diperoleh dari pelaksanaan audit internal secara independen dan obyektif tersebut akan dapat diandalkan oleh para pengguna informasi. Kegiatan penilaian ini bersifat independen bukanlah dalam arti absolut yang berarti bebas dari semua ketergantungan, tetapi mengandung pengertian bahwa internal auditor bebas dari pengaruh atau kekuasaan pihak yang diperiksanya sehingga diharapakan akan dapat memberikan penilaian yang objektif. Definisi tersebut juga tidak hanya mencakup peranan dan tujuan auditor internal, tetapi juga menyatakan lingkup yang luas dari audit internal modern yang lebih menekankan pada penambahan nilai dan semua hal yang berkaitan dengan resiko, tata kelola, dan pengendalian. Dan Mulyadi (2002:29) menyatakan bahwa: Auditor intern adalah auditor yang bekerja dalam perusahaan (perusahaan negara maupun perusahaan swasta) yang tugas pokoknya adalah menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang ditetapkan oleh manajemen puncak telah dipatuhi, menentukan baik atau tidaknya penjagaan terhadap kekayaan organisasi, menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian organisasi. Dari definisi tersebut dapat dilihat beberapa lingkup tugas auditor internal dalam perusahaan yang bertujuan untuk menilai efisiensi dan efektifitas kegiatan usaha dan juga pengendalian internal yang telah dijalankan. Selanjutnya Agoes (2004: 221) memberikan pendapatnya mengenai audit internal sebagai berikut :

Internal Audit (pemeriksaan intern) adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan, baik terhadap laporan keuangan, dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku. Peraturan pemerintah misalnya peraturan dibidang perpajakan, pasar modal, lingkungan hidup, perbankan, perindustrian, investasi dll.Ketentuan dari ikatan profesi misalnya standar akuntansi keuangan. Pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal audit perusahaan terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi bertujuan untuk mengetahui apakah pembukuan dan laporan keuangan tersebut telah menunjukan gambaran aktivitas yang sebenarnya dan untuk mengetahui apakah setiap

bagian atau unit benar-benar telah melaksanakan kebijakan rencana dan prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak. Perusahaan perkebunan memiliki kedudukan yang penting dalam perekonomian dan pembangunan, maka fungsi audit internal menjadi semakin penting. Secara umum dapat dikatakan bahwa fungsi audit intern bagi manajemen perusahaan adalah untuk menjamin pelaksanaan operasional yang sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang berlaku.Di dalam perusahaan, audit intern yang merupakan fungsi staf, tidak memiliki wewenang untuk langsung memberi perintah kepada pegawai, juga tidak dibenarkan untuk melakukan tugas-tugas operasional dalam perusahaan yang sifatnya di luar kegiatan pemeriksaan.

2.4 Audit Internal yang efektif

Untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas dari kegiatan usaha suatu perusahaan, adanya suatu

departemen audit internal yang efektif sangat diperlukan. Berikut ini adalah beberapa hal yang harus diperhatikan agar suatu perusahaan dapat memiliki departemen audit internal yang efektif dalam membantu manajemen dengan memberikan analisa, penilaian, dan saran mengenai kegiatan yang diperiksanya, Sawyers (2005:52).

a. Departemen audit internal harus mempunyai kedudukan independen dalam organisasi perusahaan, yaitu tidak terlibat dalam kegiatan operasional yang diperiksanya.

b. Departemen audit internal harus mempunyai uraian tugas tertulis yang jelas sehingga dapat mengetahui tugas, wewenang, dan tanggung jawabnya. Departemen audit internal harus pula memiliki internal audit manual yang berguna untuk:

1) mencegah terjadinya penyimpangan dalam pelaksanaan tugas, 2) menentukan standar untuk mengukur dan meningkatkan performance, 3) memberi keyakinan bahwa hasil akhir departemen audit internal telah sesuai dengan requirement kepala audit internal.

c. Departemen audit internal harus memiliki dukungan yang kuat dari top management. Dukungan yang kuat dari top management tersebut dapat berupa:

a. penempatan departemen audit internal dalam posisi yang independen,

b. penempatan staf audit dengan gaji yang rationable,

c. penyediaan waktu yang cukup dari top management untuk membaca, mendengarkan dan mempelajari laporan- laporan yang dibuat oleh departemen audit internal dan tanggapan yang cepat dan tegas terhadap saran-saran perbaikan yang diajukan.

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

d. Departemen audit internal harus memiliki sumber daya yang profesional, berkemampuan, dapat bersikap objektif dan mempunyai integritas serta loyalitas yang tinggi.

e. Departemen audit internal harus bersifat koperatif dengan akuntan publik.

f. Harus diadakannya rotasi dan kewajiban mengambil cuti bagi pegawai departemen audit internal.

g. Pemberian sanksi yang tegas kepada pegawai yang melakukan kecurangan dan memberikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi.

h. Menetapkan kebijakan yang tegas mengenai pemberian-pemberian dari luar.

i. Mengadakan program pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan pegawai dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya sebagai auditor internal.

2.5 Tujuan Audit Internal

Direksi harus menyusun dan melaksanakan sistem pengendalian internal perusahaan yang handal

dalam rangka menjaga kekayaan dan kinerja perusahaan serta memenuhi peraturan perundang- undangan. Satuan kerja atau fungsi pengawasan

internal bertugas membantu direksi dalam memastikan pencapaian tujuan dan kelangsungan usaha dengan:

a. Melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan program perusahaan,

b. Memberikan saran dalam upaya memperbaiki efektivitas proses pengendalian risiko,

c. Melakukan evaluasi kepatuhan perusahaan terhadap peraturan perusahaan, pelaksanaan GCG dan perundang-undangan,

d. Memfasilitasi kelancaran pelaksanaan audit oleh audit eksternal.

Tujuan audit internal adalah untuk membantu anggota organisasi untuk melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif. Untuk mencapai tujuan ini, staf audit internal diharapkan dapat memenuhinya dengan analisis, penilaian, rekomendasi, konsultasi dan informasi tentang kegiatan yang ditelaah. Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor internal harus melakukan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:

a. menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya penerapan dari sistem pengendalian internal dan pengendalian operasional lainnya, serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal,

b. memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen,

c. memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan,

d. memastikan bahwa pengolahan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya,

e. menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen,

f. menyarankan perbaikan-perbaikan operasional dalam rangka meningkatkan efisiensi dan efektivitas.

2.6 Fungsi dan Ruang Lingkup Audit Internal

Fungsi audit internal merupakan kegiatan yang bebas, yang terdapat dalam organisasi, yang dilakukan dengan cara memeriksa akuntansi, keuangan, dan kegiatan lain, untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam melaksanakan tanggung jawab mereka dengan cara menyajikan analisis, penilaian, rekomendasi dan komentar-komentar penting terhadap kegiatan manajemen. Untuk mencapai tujuan tersebut, auditor internal melaksanakan kegiatan-kegiatan berikut ini :

a. Pemeriksaan dan penilaian terhadap efektifitas struktur pengendalian internal dan mendorong penggunaan struktur pengendalian internal yang efektif dengan biaya yang minimum.

b. Menentukan sampai seberapa jauh pelaksanaan kebijakan manajemen puncak dipatuhi.

c. Menentukan sampai seberapa jauh kekayaan perusahaan dipertanggungjawabkan.

d. Menentukan keandalan informasi yang

dihasilkan oleh berbagai bagian dalam perusahaan.

e. Memberikan rekomendasi perbaikan kegiatan-kegiatan perusahaan. Audit internal yang modern tidak lagi terbatas fungsinya dalam bidang pemeriksaan keuangan tetapi sudah meluas kebidang lainnya seperti audit manajemen, audit lingkungan hidup, audit kepatuhan dan sudah mencakup konsultasi yang didesain untuk menambah nilai dan meningkatkan kegiatan operasi suatu organisasi. Fungsi audit internal menjadi semakin penting sejalan dengan semakin kompleksnya operasional perusahaan. Manajemen tidak mungkin dapat mengawasi seluruh kegiatan operasional perusahaan, karena itu manajemen sangat terbantu oleh fungsi audit intern untuk menjaga efisiensi dan efektivitas kegiatan. Menurut Guy (2002:410) “ruang lingkup audit internal meliputi pemeriksaan dan evaluasi yang

memadai serta efektivitas sistem pengendalian internal organisasi dan kualitas kinerja dalam melaksanakan tanggung jawab yang dibebankan”. Berikut ini adalah ruang lingkup audit internal yang meliputi tugas- tugasnya :

a. Menelaah reliabilitas dan integritas informasi keuangan dan operasi serta perangkat yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasi serta melaporkan informasi semacam itu.

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

b. Menelaah sistem yang ditetapkan untuk memastikan ketaatan terhadap kebijakan, perencanaan, prosedur, hukum dan peraturan yang dapat memiliki pengaruh signifikan terhadap operasi dan laporan serta menentukan apakah organisasi telah mematuhinya.

c. Menelaah perangkat perlindungan aktiva dan secara tepat memverifikasi keberadaan aktiva tersebut.

d. Menilai keekonomisan dan efisiensi sumber

daya yang dipergunakan.

e. Menelaah informasi atau program untuk memastikan apakah hasilnya konsisten dengan tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, serta apakah operasi atau program itu telah dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan. Ruang lingkup penugasan Fungsi Audit Internal yang terdapat dalam Standard Profesi Audit Internal yang dikeluarkan oleh Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:20) yaitu “ fungsi audit internal melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan proses pengelolaan risiko, pengendalian, dan governance, dengan pendekatan yang sistematis, teratur dan menyeluruh ’’. Maksud dari pernyataan tersebut ialah audit internal membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi resiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan resiko dan sistem pengendalian intern. Berdasarkan hasil penilaian resiko tersebut, fungsi audit internal mengevaluasi kecukupan dan efektifitas sistem pengendalian internal, yang mencakup governance, kegiatan operasi, dan sistem informasi organisasi.

2.7 Peran Audit Internal Dalam perkembangannya, peran yang dijalankan auditor internal dapat digolongkan dalam tiga jenis, yaitu sebagai watchdog, konsultan, dan katalis. Dalam perkembangannya, peran yang dijalankan auditor internal dapat digolongkan dalam tiga jenis, yaitu sebagai watchdog, konsultan, dan katalis.

a. Watchdog Watchdog adalah peran tertua dari auditor internal yang mencakup pekerjaan menginspeksi, observasi, menghitung, cek dan ricek.Adapun tujuannya adalah memastikan ketaatan terhadap hukum, peraturan dan kebijakan organisasi. Proses audit yang dilakukan adalah audit kepatuhan. Fokus pemeriksaannya adalah adanya variasi atau penyimpangan dalam sistem pengendalian internal.Audit kepatuhan mengidentifikasi penyimpangan sehingga dapat dilakukan koreksi terhadap sistem pengendalian internal. Oleh karena sifat pekerjaannya, peran watchdog biasanya akan menghasilkan

rekomendasi yang mempunyai dampak jangka pendek.

b. Konsultan

Melalui peran ini, manajemen akan melihat bahwa selain sebagai watchdog, auditor internal dapat memberikan manfaat lain berupa saran dalam pengelolaan sumber daya organisasi yang dapat membantu tugas para manajer. Peran konsultan membawa auditor internal untuk selalu meningkatkan pengetahuan baik tentang profesi auditor maupun aspek bisnis, sehingga dapat membantu manajemen dalam memecahkan masalah.

c. Katalis Katalis adalah suatu zat yang berfungsi untuk mempercepat reaksi namun tidak ikut bereaksi.Peran auditor internal sebagai katalisator yaitu memberikan jasa kepada manajemen melalui saran-saran konstruktif dan dapat diaplikasikan bagi kemajuan perusahaan namun tidak ikut dalam aktivitas operasional perusahaan. Hipotesis merupakan jawaban ataupun dugaan sementara terhadap suatu masalah yang dihadapi, yang masih akan diuji kebenarannya lebih lanjut melalui analisa data yang relevan dengan masalah yang terjadi. Hipotesis penelitian ini adalah Audit internal berpengaruh terhadap pencegahan fraud.

3. Metodologi Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif, yaitu suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin diketahui (Kasiran, 2008:149). Penelitian kuantitatif dipandang sebagai sesuatu yang bersifat konfirmasi dan deduktif karena menguji hipotesis dari suatu teori dengan kenyataan yang ada dengan mendasarkan pada data ilmiah dalam bentuk angka atau numerik, sehingga penelitian kuantitatif diidentikkan dengan penelitian numerik. Penarikan kesimpulan pada penelitian kuantitatif bersifat deduktif yaitu menarik kesimpulan dari sesuatu yang bersifat umum ke sesuatu yang bersifat khusus. Hal ini berangkat dari teori-teori yang membangun Tempat penelitian ini di Head Office PT. Tolan Tiga Indonesia yang beralamat di Gedung BANK SUMUT Jalan Imam Bonjol No. 18 Lantai 7 Medan.Variabel independen dan dependen dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Fraud (Y) Pencegahan fraud adalah tindakan yang dapat dilakukan untuk menghindari orang untuk berbohong, menjiplak, dan mencuri, memeras, memanipulasi, kolusi dan menipu orang lain dengan tujuan untuk memperkaya diri sendiri atau orang/kelompok lain dengan cara melawan hukum. (Suradi, 2006). Sub variabel variabel

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

pencegahan kecurangan adalah menciptakan budaya kejujuran, terbukaan dan asistensi, Menghilangkan kesempatan untuk berbuat curang,( W.Steve Albrect, et.,all., 2003). Untuk melakukan pengukuran variabel X dan Y, digunakan kuesioner yang dinilai dengan menggunakan skala Likert. Pertanyaannya diukur dengan menggunakan 5 skala Likert, dimana yang dimulai dari kala 1 “sangat tidak setuju”sampai skala 5 yang menunjukan “sangat setuju”.

2.

Audit Internal (X 1 )

4.

Hasil Dan Pembahasan Sampel adalah bagian dari populasi yang akan

dijadikan objek dalam melakukan penelitian dan

pengujian data. Data penelitian yang diperoleh berupa data kuesioner yang diperoleh dari 50 responden . Pengujian data dalam analisis penelitian ini digunakan Analisis Regresi. Dimana dalam penggunaan Analisis Regresi harus ada terlebih dahulu terpenuhinya uji prasyarat atau uji asumsi klasik. Adapun tahapan-tahapan yang dilakukan dalam uji asumsi klasik yaitu Uji Normalitas, Uji Multikolonieritas, Uji Heteroskedastisitas dan Uji Autokorelasi.

1. Uji Asumsi Klasik

a. Uji Normalitas Pendeteksian normalitas dilakukan dengan Uji One Sample Kolmogorov Smirnov, untuk mengetahui apakah nilai residual yang dihasilkan akan terdistribusi secara normal atau tidak, jika uji signifikan lebih dari 0,05 maka data residual terdistribusi normal. Dan jika uji signifikan lebih kecil dari 0,05 maka data residual tidak terdistirbusi normal. Hasil uji One Sample Kolmogorov Smornov dapat dilihat sebagi berikut :

Sample Kolmogorov Smornov dapat dilihat sebagi berikut : Berdasarkan tabel besarnya Kolmogorov- Smirnov (K-S)

Berdasarkan tabel besarnya Kolmogorov- Smirnov (K-S) adalah 0.062 dan signifikansi pada 0.200 sehingga dapat disimpulkan bahwa data dalam model regresi terdistribusi secara normal, karena nilai

signifikansinya lebih besar dari 0.05 (p = 0.200 >

0.05).

b. Uji Mutikolonieritas Uji Multikolonieritas adalah keadaan dimana pada model regresi ditemukan adanya korelasi yang sempurna atau mendekati sempurna antar variabel indenpenden.

sempurna atau mendekati sempurna antar variabel indenpenden. Dependent Variable: Fraud Berdasarkan Tabel menunjukkan

Dependent Variable: Fraud Berdasarkan Tabel menunjukkan bahwa hasil perhitungan nilai tolerance menunjukkan bahwa semua variable yang digunakan dalam penelitian ini

memiliki tolerance yang lebih besar dari 0.10. Hasil perhitungan Variance Inflation Factor (VIF) menunjukkan bahwa semua variabel independen yang digunakan dalam penelitian ini memiliki nilai VIF lebih kecil dari 10. Artinya bahwa variabel-variabel independen penelitian tidak menunjukkan adanya gejala Multikolonieritas dalam model regresi. Sehingga dapat dikatakan data perusahaan layak

diteliti.

c. Uji Heteroskedastisitas Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari observasi yang lain. Perbedaan varians yang terjadi disebut heteroskedastisitas.

Perbedaan varians yang terjadi disebut heteroskedastisitas. Dari gambar hasil uji Heterokedastitas terlihat titik-

Dari gambar hasil uji Heterokedastitas terlihat titik- titik menyebar secara acak baik di atas maupun di bawah angka 0 pada sumbu Y, dan juga terlihat titik- titik tersebut membentuk suatu pola tertentu. Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedistisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak dipakai untuk memprediksi keputusan memilih berdasarkan masukan dari variabel bebasnya.

a. Uji Autokorelasi Persamaan regresi yang baik adalah yang tidak memiliki masalah autokorelasi, jika terjadi autokorelasi maka persamaan tersebut menjadi tidak baik atau tidak layak dipakai sebagai prediksi.

tidak baik atau tidak layak dipakai sebagai prediksi. Dari hasil olah data diatas, diketahui uji asumsi

Dari hasil olah data diatas, diketahui uji asumsi klasik autokorelasi melalui Durbin-Watson (DW) test

Pengaruh peran audit internal terhadap pencegahan fraud ( studi kasus pada pt. Tolan tiga indonesia) oleh : Suginam

29

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

= 2.401 yang artinya nilai DW 2.401 berkisar dari

1,66 2,92 maka disimpulkan data diatas tidak terjadi autokorelasi positif maupun negatif dengan demikian dapat disimpulkan tidak terdapat autokorelasi.

2. Analisis Regresi Linier Berganda Analisis regresi berganda adalah memprediksi beberapa variabel bebas (X) terhadap variabel tergantung atau kriteria (Y) menggunakan formula. Formula yang dapat dibuat dalam penelitian ini dapat dibuat dalam persamaan sebagai berikut :

Y= a + β1X 1 + β2X 2 + β3X 3 + e

Dalam penelitian ini digunakan adalah regresi Liner Berganda untuk mengetahui pengaruh komite audit, Internal Auditor dan pengendalian intern terhadap pencegahan fraud pada PT. Tolan Tiga Indonesia

terhadap pencegahan fraud pada PT. Tolan Tiga Indonesia Berdasarkan Tabel IV.13 di atas, dapat dibuat persamaan

Berdasarkan Tabel IV.13 di atas, dapat dibuat persamaan sebagai berikut :

Y = 30,005 + 0,419 X 1

Dari persamaan diatas maka : nilai Alpha (a) sebesar 30.006 menunjukkan bahwa jika variabel Audit Internal bernilai konstan atau tetap maka tingkat Pencegahan Fraud bernilai 30.006. Tiap kenaikan nilai Audit Internal (x 1 ) naik sebesar 1 maka Y akan naik sebesar 0.419 dengan asumsi semua variabel lain tetap.

3. Uji Hipotesis

a. Uji t Hasil uji pengaruh secara parsial variabel peran komite audit, audit internal, dan pengendalian interen terhadap pencegahan fraud dapat dilihat pada Uji t atau uji parsial digunakan untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara variabel independen dengan variabel dependen.

parsial antara variabel independen dengan variabel dependen. Audit Internal dapat dilihat pada tabel diatas bahwa nilai

Audit Internal dapat dilihat pada tabel diatas bahwa nilai t hitung sebesar 9.545. Nilai tersebut lebih besar dari t tabel sebesar 2.01290, sehingga diinterprestasikan bahwa Audit Internal berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud. Berdasarkan signifikan, jika signifikan <0.05 maka h0 ditolak, jika signifikan >0,05 maka Ha diterima, dikarenakan uji t Audit Internal <0,05(0.000<0,05 maka H0 ditolak, artinya

bahwa Audit Internal berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud.

b. Uji f Uji simultan dilakukan untuk melihat pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat secara simultan/serempak.

bebas terhadap variabel terikat secara simultan/serempak. Dari tabel Anova diatas dapat dilihat bahwa nilai F hitung

Dari tabel Anova diatas dapat dilihat bahwa nilai F hitung = 37.354 dan jika dilihat pada Residual 46 dan Regression df 3 pada F tabel adalah 2.81 ini berarti H0 ditolak dan Ha diterima maka dapat disimpulkan bahwa secara bersama-sama Audit Internal berpengaruh terhadap Pencegahan Fraud.

4. Uji Koefisien Determinasi Uji Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur seberapa jauh model regresi dalam menerangkan variasi variabel dependen.

model regresi dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai R Square sebesar 0.709 yang menunjukkan bahwa hubungan

Nilai R Square sebesar 0.709 yang menunjukkan bahwa hubungan antara variabel independen yaitu tAudit internal erhadap variabel dependen yaitu pencegahan fraud adalah sebesar 70.9% dan sisanya 29.1% dipengaruhi faktor lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan menghasilkan beberapa pembahasan sebagai berikut :

5.KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian dan hipotesis penelitian serta hasil penelitian dan

pembahasan, maka dapat disimpulkan

1.

2. fraud. Dengan demikian kondisi ini memperlihatkan bahwa internal Audit perusahaan sangat memiliki peran yang besar di dalam perusahaan untuk mengendalikan dan mengevaluasi aktivitas kegiatan perusahaan terutama dalam pencegahan fraud. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa pengujian hipotesis dapat diterima.

5.2 Saran

1. Hendaknya dalam pencegahan fraud baik pihak perusahaan tidak hanya bergantung pada bagian komite audit, departemen Audit Internal dan pengendalian intern saja, tetapi seluruh elemen di perusahaan bersama saling bekerja sama dalam pencegahan fraud dalam perusahaan sehingga secara keseluruhan agar dapat meningkatkan shareholder value, kepercayaan investor, kreditor, citra yang baikdari pemerintah dan masyarakat, sehingga perusahaan dapat berjalan jangka panjang.

Audit Internal berpengaruh terhadap pencegahan

Pelita Informatika Budi Darma, Volume : XV, Nomor: 1, Oktober 2016

ISSN : 2301-9425

2. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat meneliti lebih dalam yang tidak hanya terbatas pada variabel yang telah diteliti, melainkan perlu adanya penambahan atau perluasan terhadap variabel lainnya serta diharapkan dapat menggunakan cakupan obyek penelitian yang lebih luas dan hendaknya bisa menggunakan variabel penelitian selain dari variabel yang telah penulis teliti. 3. Penelitian selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan model analisis yang akan digunakan dan menambah tahun pengamatan

untuk mendapat hasil yang lebih mendalam dan sangat disarankan juga bagi penelitian selanjutnya lebih memperluas objek penelitian kedalam studi kasus selain data sekunder. DAFTAR ISI

1. Ikatan Akuntan Indonesia. 2009. Standar Akuntansi Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

2. Keputusan Ketua BAPEPAM No. 36 pm 2003. Tentang Kewajiban Penyampaian Laporan Keuangan Berkala.

3. Peraturan Pelaporan Keuangan Di Indonesia